A homepage subtitle here And an awesome description here!

Selasa, 28 Juli 2020

ANTARA KAPUR TULIS DAN KUOTA

KAPUR tulis adalah nyawa. Itu dulu. Ya, paling tidak, pada zaman masa-masa SD generasi pelajar orang seusia saya sekarang. Saya tak mengerti, mengapa kenangan ini tiba-tiba muncul sekarang di “zaman kuota”. Bahkan saya menyadari, kelas menjadi hidup atau senyap dengan sebatang kapur itu. Ya, kapur benar-benar menggerakkan.

Bisa jadi, karena sebatang kapur saat itu bagi saya adalah seni pertunjukan di muka kelas. Selalu, dan selalu begitu. Ia bagai tarian yang berkisah tentang perpaduan antara peradaban, ilmu, dan seni. Liukan jari jemari terampil yang mengapitnya, meluncur seperti alur dari mula hingga akhir cerita pertunjukkan. Bunyi gesekan dari atas papan tulis dengan ujung kapur, seperti latar musik yang mengiringi setiap adegan huruf-huruf bertingkah.

Sialnya, hampir setiap guru mahir menggoreskan narasi tulisan dengan huruf sambung di atas papan tulis. Seolah-olah, guru yang tak pandai menulis dengan tulisan huruf sambung sebagai sesuatu yang tabu. Seingat saya, beberapa dari kami berlomba-lomba meniru mahakarya guru-guru itu tiap kali pelajaran usai. Saya dan beberapa murid yang bersaing, membanding-banding, goresan siapa di antara kami yang paling mirip dengan ‘papan tulis’. Itu dulu, zaman di mana kami belum mengenal kuota.

Kenangan teramat indah itu telah pergi. Zaman telah menggilasnya.|


KUOTA adalah nyawa. Ya, hari ini kenyataan ini berlaku, suka atau tidak suka. Siapakah di antara kita para guru yang bisa menghadirkan pertunjukkan kuota seperti pertunjukan kapur tulis di kelas saya dahulu? Nothing. Kelas menjadi mesin pertunjukkan, bukan lagi seni pertunjukkan. Kelas bahkan hampir kehilangan nyawa yang menggerakkan, seperti gerakkan elok jari jemari guru kami yang menari-nari saat memainkan kapur.

Beberapa hari kemarin, di beranda Facebook berseliweran narasi memilukan. Beberapa di antaranya sempat saya baca dengan sambil mengurut dada. Rasanya, seperti ada dosa pada pendidikan kita hari ini. 

Bagaimana tidak, diceritakan di sana, seorang anak pulang dari warnet karena uangnya tidak cukup untuk membayar jasa pengetikan dan print out seharga Rp24.000. Ia tak sanggup membayar ongkos titipan tugas dari gurunya karena kefakiran uang dan perangkat teknologi pendukung belajar yang tidak hadir di rumahnya. Padahal tugas itu dikaisnya dari sisa-sisa kuota internet HP milik ayahnya yang habis tepat setelah tugas itu dia salin. 

Siapa yang tak meleleh membaca cerita ini?

Seperti cerita Si Pitung atau Robin Hood saja narasi itu. Seorang pengunjung warnet memerhatikan anak itu sejak ia menyodorkan kertas tugasnya. Ia tak juga mencegahnya saat anak itu berlari pulang untuk meminta tambahan uang. Bisa jadi hatinya mengutuk. 

Siapa yang dikutuk? Sistem pendidikan? Sekolah? Atau bahkan gurunya yang memberi tugas? Saya tidak sanggup menjawab selain merasakan dengan menahan malu.

“Maaf ya, Bang. Nggak jadi. Uangnya nggak cukup. Saya mau ambil lagi tugas saya,” kata anak itu sekembalinya ia dengan berlari-lari.

Deg!

Pahit sekali rasanya belajar di era 4.0 bagi anak bangsa yang kurang beruntung saat pandemik mengepung. Ini bukan cerita rekaan atau fiksi. Kehadiran tokoh pengunjung warnet yang kemudian membayarkan biaya jasa ketik dan print out anak itu, pun bukan rekaan. Dia bukan tokoh fiksi yang hadir buat menghidupkan jalan cerita. 

“Sudah ada yang bayarin, Dek. Tunggu saja. Tugasmu sedang diketik.”

Siapa yang tak meleleh membaca adegan ini?|

Perasaan saya berkecamuk. Campur aduk antara marah, tak berdaya, dan malu. Sampai kapan kondisi ini berakhir? 

Iseng, saya tulis doa konyol di beranda Facebook saya:”Belajar dan mengajar wajib hukumnya. Ya Allah, tambahkanlah kuota. Aamiin.”

Dalam keyakinan saya, tidak ada sesuatu terjadi dengan kebetulan. Status saya direspons meskipun maksud saya sekadar mengurangi beban rasa malu yang kian menebal.
Ustadz … adakah yg kesulitan belajar dan mengajar krn kuota?
Ke warung saya aja … gratisssss wifi+ minum.
Ini respon komentar teman saya yang punya kedai kopi: Waroeng MIE CO, di Jl. Raya Citayam - Parung, Ragajaya, Kec. Bojong Gede, Bogor, Jawa Barat 16320.

Terlanjur. Saya menimpali.
Kereeen. Beneran ini kan, Uda? 
Abdul Adung beneran...insyaAllah
Tapi karena Rabu besok karyawan yg 1 pulkam jd kamis nanti baru buka siang.
Klo hari ini dan besok bisa dari pagi… dan insyaAllah senin mulai berlaku buat para siswa dgn syarat:
Menggunakan seragam sekolah, tidak main game, menggunakan masker dan protokol kesehatan lainnya.
Kita batasin 5 siswa per sesi krn cuma ada 5 meja (1 meja 1 orang)
Efektif mulai 3 agustus ya ustadz… siswa jg insyaAllagh kami berikan minuman+ sarapan 1 porsi.
Aduh, terasa merembes. 

Saya percaya, di tempat berbeda, akan ada orang-orang seperti ini. Berjiwa berbagi untuk anak bangsa. Sementara saya dalam dilema karena menjadi salah satu mata rantai kuota. Astaghfirullah. Maafkan ya Allah. Gugurkanlah jika ini adalah kesalahan kolektif dengan pengabdian pada jalan pengajaran yang kami pilih.

Perpustakaan Madrasah Pembangunan UIN Jakarta
Menjelang Ashar. Selasa, 28 Juli 2020.

Minggu, 12 Juli 2020

SOAL GOOGLE FORM ANDA BISA DIBONGKAR

Kalau guru berhenti belajar, sebaiknya berhenti mengajar.


HARI ini, saya bertemu dengan seorang kawan, guru di sebuah sekolah Islam di Kuningan, Jakarta Selatan. Kami bertemu di waroengmieco, warung kopi dengan tagline “Ngopi sepuasnya, bayar seikhlasnya” khusus untuk kopi item. Selain kopi, tersedia beragam menu asyik dan gaul.

Warung ini milik kawan saya juga. Dahulu, sewaktu buku Kiai Kocak terbitan Pustaka Al Kautsar sedang mendapatkan momentum, ia setia menemani bedah buku Kiai Kocak di panggung Islamic Book Fair di Jakarta, Surabaya, Bandung, dan beberapa forum bedah buku di kampus.

Kawan saya yang guru itu juga bukan sekadar kawan. Dia pernah mengawal dan memasilitasi bedah buku seri kedua "Kiai Kocak; Puasa Kompak Lebaran Dua Shift" yang terbit pada 2012. Kedua-dua kawan ini, boleh dibilang supporter sejak mula saya membangun tradisi menulis dan menerbitkan buku.

Kami mengobrol banyak hal. Dari soal Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), sampai berbagi trik memanfaatkan Google sebagai media pembelajaran. Begitulah, sambil ngopi, obrolan terus mengalir. Lalu, kami fokus pada mendesain soal online dengan memanfaatkan Google Form.

Sampai pada satu poin, kening saya berkerut. Kawan saya mewanti-wanti. “Hati-hati, Pak. Soal online yang di Google Form, gampang dibongkar,” katanya. Yang menjengkelkan, cara membongkarnya sangat sangat simpel.

Bapak dan Ibu Guru yang sudah memanfaatkan Google Form untuk merancang soal online Pilihan Ganda (PG) misalnya, meskipun proses perakitannya mudah, tetap saja melelahkan. Apalagi jika soal disertai gambar, grafik, film, atau berkas penyerta pokok soal. Lalu, sudah lelah-lelah kita buat soal dengan segala pernak-perniknya itu, tahu-tahu, soal kita bisa dibongkar dengan begitu mudahnya hanya dengan satu langkah yang mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Saya penasaran. Lalu, saya ambil sampel satu soal Penilaian Harian Sejarah Kebudayaan Islam Kelas 7, pelajaran yang saya ampu dari Drive saya. Saya gunakan trik pembobol yang sedang kami bicarakan. Dan, ambyar! Di layar, terbaca semua soal dan kunci jawabannya sekalian. Jadi, apa hendak dikatakan, seberapa HOTS-nya soal Pilihan Ganda yang kita buat, akan menjadi soal yang “ADEM” dengan trik sederhana ini. Seberapa sulit pun soal matematika misalnya, dengan trik ini, peserta didik SMP yang masih belum bisa menjumlah pun, bisa menjawabnya sambil “merem”.

“Bapak tahu. Saya tahu trik ini dari siapa?” Tanya teman saya. “Dari siswa saya sendiri, Pak!”

Lha? Hahahahah. Kening saya tambah berkerut.

Jadi, pada kasus ini, soal yang dibuat guru malah dibuat seperti kelinci percobaan muridnya sendiri. Akan tetapi, di lain sisi, para guru harus mengakui, bahwa terkadang, skill memanfaatkan teknologi IT, kemampuan peserta didik sudah selangkah, bahkan empat sampai lima langkah lebih maju. Karena itu, tidak ada kata “berhenti belajar” bagi seorang guru benar-benar bukan sekadar slogan. Tidak salah juga quote yang menampar kita, “Kalau guru berhenti belajar, sebaiknya berhenti mengajar.” Nyatanya, dalam bidang IT, 'saingan' terdekat guru bukan rekan sesama guru, akan tetapi peserta didiknya sendiri.

Sepanjang saya sering ngobrol dengan teman sejawat perihal merancang soal dengan Google Form, belum pernah sekalipun kami masuk pada diskusi soal pembobolan ini. Seingat saya, sama sekali belum pernah. Saya tidak tahu, mungkin dalam diskusi-diskusi terbatas sesama master teacher itu di sekolah tempat saya mengajar, terutama yang sudah sampai pada level trainer untuk teman sejawat, mungkin masalah ini sudah khatam dibicarakan. Tulisan ini, bisa jadi cukup dibaca sambil senyam-senyum.

Namun, bagi saya, tidak. Saya yang penguasaan IT masih blepotan, tentu miris dengan fakta di atas. Miris karena hari ini masih juga belum terampil merancang soal dengan Google Form. Sementara di luar sana, sudah ribuan peserta didik sanggup merancang cara membongkar soal ujian yang dibuat guru dengan Google Form. Ini zaman apa coba?

Bisa jadi, saya yang terlalu tertinggal jauh. Sebegitu jauhnya, sejak kenal pemanfaatan Google Form untuk membuat soal online, baru Ahad 12 Juli 2020 sore ini, “melek” bahwa soal semacam itu gampang dibongkar. Yang menggelikan, saya dapatkan fakta ini bukan di ruang diskusi atau pelatihan resmi, akan tetapi dalam forum ngopi santai dengan kawan setelah sekian lama tak bersua.

Diskusi berlanjut dengan memikirkan langkah solutif. Saya gali dengan pertanyaan pokok, bagaimana trik agar soal di Google Form tetap aman meskipun bisa dibongkar? Jawabannya dengan mengonversi teks soal ke dalam format gambar, bisa hasil foto dengan kamera atau hasil screenshoot. Yang kedua, selain teks dalam format gambar, soal harus diacak. Cara ini masih memberikan informasi kunci jawaban, akan tetapi tidak bisa dipastikan kunci jawaban tersebut untuk soal nomor berapa karena format soal yang diacak. Ini trik dari kawan saya yang sudah diujikan.

Sampai kemudian, saya menemukan cara sangat sederhana, lebih sederhana dari cara yang digunakan kawan saya itu. Cara ini tidak perlu mengonversi teks soal dalam bentuk gambar, tidak pula soal mesti diacak. Saat itu juga saya ujikan trik tersebut dengan kawan saya. 

Dan, berhasil. Hooray! 

Saya bisa pastikan, Anda pun sudah tahu trik yang saya maksud saat tulisan ini rampung Anda baca.

Sore yang mencerahkan.

Waroeng ME CO. 12 Juli 2010.

Sabtu, 11 Juli 2020

Trainer Dadakan di Hadapan Guru Tangguh

Salah satu fungsi teknologi itu, dia hadir untuk memangkas ruang dan waktu, bukan memperlebar jarak dan mengulur-ulur waktu. Begitulah. Menjadi bahagia itu dengan berpikir memanfaatkan teknologi sederhana yang bisa membuka jendela dunia, bukan bekerja keras agar ‘unjuk punya’ teknologi paling baru dengan manfaat terbuang sia-sia. 

KEMARIN, seakan-akan saya sudah jadi trainer beneran. Berdiri di hadapan dua belas orang guru pejuang sebuah madrasah bersahaja. Saya banyak tahu madrasah ini. Saya juga tahu latar belakang kehidupan orang tua peserta didik yang menitipkan anak-anaknya di sini. Saya tahu. Ini yang membuat saya berkata dalam hati, “Guru tangguh, masih ada di sini.”

Bertemu mereka, rasanya, saya tenggelam dalam perenungan seperti kebiasaan para sofis. Meski saya hadir diundang sebagai nara sumber, hakikatnya sayalah yang belajar. Belajar lagi soal dedikasi dan pengabdian. Belajar lagi tentang spirit, bahwa akar seorang guru tak akan rapuh bila tetap berpijak di atas semboyan “digugu dan ditiru”.

Boleh jadi, madrasah ini tidak punya kesempatan mengajak jalan-jalan para guru ke tempat wisata yang mewah. Memberikan mereka tiket pesawat atau kereta api meski di kursi kelas ekonomi. Bisa menyediakan breakfast atau dinner di restoran hotel di mana mereka diinapkan. Santai sambil ngopi-ngopi di lobi hotel sambil membicarakan bagaimana strategi pembelajaran ke depan. Atau memberi mereka sangu buat belanja-belanja sambil ngobrol ringan tentang topik meningkatkan kemampuan literasi mereka yang harus terus melejit di abad 21. Rasanya tidak.

Mungkin juga belum sanggup mengirim guru-guru terbaik belajar di kampung-kampung Spanyol atau kampung China untuk lancar ngomong ‘cas cis cus’. Apalagi bisa mengongkosi untuk studi banding ke Vietnam atau Kamboja, bisa jadi sama sekali rasanya tidak. Mereka cuma ‘mikirin’, bagaimana mengajar lebih baik dari waktu ke waktu sesuai dengan sumber daya yang mereka miliki.

Kebijakan penerapan pembelajaran di rumah pada semester ganjil tahun ini, bisa jadi tidak terlalu berat bagi madrasah dengan sumber daya yang memadai. Di atas kertas, madrasah beruntung itu sudah lebih siap menghadapi dinamika penerapan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Namun, bagi madrasah bersahaja, PJJ itu bak debt collector yang menggedor-gedor pintu di pagi buta setelah kemarin sore mereka sudah babak belur dari mencari jalan keluar untuk membayar honor guru yang tertunda. Dampak Covid 19 benar-benar menyumbang problem hampir semua sektor kehidupan. Bagi institusi pendidikan, dampak itu melilit dari hilir sampai ke hulu. Bagi madrasah bersahaja, Covid 19 seperti mantra yang mengancam hidup sampai ke atas genting madrasah, sampai periuk di dapur guru-gurunya.

Dasar mereka guru-guru tangguh, sadar akan sumber daya yang mereka miliki, tidak menyurutkan semangat untuk menambah kapasitas modal pengabdian mereka. Madrasah mereka boleh kecil, akan tetapi, mereka berusaha agar otak dan motivasi harus besar. Maka, bisa hadir di tengah-tengah para guru demikian itu, seperti musafir mendapatkan huma di tengah sahara untuk berteduh. Meski sekadar sharing memanfaatkan fasilitas Google untuk pembelajaran, seperti meneguk segelas air sejuk dari oase di atas pasir yang mengepul.

Sayalah yang lebih bahagia di antara kebahagiaan mereka. Saya bisa memastikan, saat saya tinggalkan, mereka sudah bisa memanfaatkan Google Form untuk membuat alat penilaian online. Bisa membuat shorten url dengan Bit.ly sebelum soal mereka kirim dengan WhatsApp dalam pembelajaran daring. Sudah bisa memanfaatkan Google Doc untuk menulis dengan kontrol penyimpanan data dan koreksi typo automatically. Memang, hanya sebatas itu yang bisa saya titipkan. Jatah waktu hanya lebih kurang empat jam untuk bicara PJJ, RPP, pemanfaatan WhatsApp dan Google Form untuk pembelajaran daring, rasanya memang terlalu minimize. Akan tetapi, wajah mereka semringah saat validasi soal online yang mereka buat, bisa diujikan melalui WhtasApp masing-masing. やった !

Ya, memang sederhana. Teknologi semacam itu mungkin sudah sangat umum bagi guru-guru literat di suatu madrasah. Jika masih ada beberapa person guru yang bisa masuk ruang kelas madrasah keren, namun belum familiar dengan teknologi tersebut, itu soal lain, soal pengecualian yang bisa hadir di mana tempat dengan segala kenaifannya.

Salah satu kenaifan itu, dan ini menggelikan, misalnya bertanya-tanya tentang nilai akademik peserta didik. Atau peserta didik berbondong-bondong, melewati lembah dan ngarai, menyeberangi sungai, mengayuh sampan membelah tepi danau, sambil membawa kertas kecil menghabiskan waktu, hanya untuk menanyakan nilai pada guru mapel. Bukankah madrasah sudah memberi fasilitas akun di mana setiap guru dan peserta didik dapat mengakses nilai mereka 24 jam nonstop? Fenomena apa ini? Apakah kiamat memang sudah sedemikian dekat?

Janganlah begitu. Salah satu fungsi teknologi itu, dia hadir untuk memangkas ruang dan waktu, bukan memperlebar jarak dan mengulur-ulur waktu. Begitulah. Menjadi bahagia itu dengan berpikir memanfaatkan teknologi sederhana yang bisa membuka jendela dunia, bukan bekerja keras agar ‘unjuk punya’ teknologi paling baru dengan manfaat terbuang sia-sia.

Tentu, kebahagiaan ini pasti dirasakan teman-teman literat yang telah memperkenalkan teknologi Google for Education pada saya. Teman literat tempat saya bertanya seputar Blog, Google Form, Google Slide,Google Classroom, Google Site, dan Google-google yang lain di madrasah tempat saya mengajar. Hari ini saya ingin sampaikan, “Hai para master teachers! Terima kasih. Sharing sudah saya salurkan lagi pada guru-guru tangguh di tempat lain. Semoga menjadi jariah ilmu, investasi yang tak akan pernah bangkrut di setiap lini masa.”

Alhamdulillah.
Depok, 11 Juli 2020

Sabtu, 13 Juni 2020

‘Sinisisme’ Produk Fikih Perang Salib


KITAB-kitab fikih yang kita pelajari sebetulnya produk-produk, sebagian besar produk Perang Salib. Maka itu konsep kenegaraan itu masih ada Darus Silmi, negara Islam. Kalau bukan negara Islam, berarti Darul Harb, negara musuh.




Membaca utuh berita CNN pada https://www.cnnindonesia.com/, ada tiga kata kunci sebagai poin pentingnya, yaitu produk fikih, Perang Salib, dan radikalisme. Pada paragraf awal berita, ketiga kata kunci itu sudah sangat jelas bahwa dikatakan “untuk mengkaji ulang pelajaran fikih di pondok pesantren jika hendak menangkal paham radikalisme.” Secara tidak langsung, ini sama saja ‘menuduh’ pesantren dan kitab fikih sebagai pemicu radikalisme.

Bagi para santri alumni pesantren, mungkin akan sangat mudah menjawab ‘tuduhan’ itu. Merekalah yang tahu persis tentang muatan kitab fikih yang didalami di pesantren, mengajarkannya kembali kepada para santri di tempat lain, dan tentu mengamalkannya dalam praktik ubudiyah sehari-hari. Dari sini, para santri tentu bisa mengukur apakah mereka sudah menjadi radikal karena belajar fikih di pesantren atau tidak.

Bagi kita yang bukan santri alumni pesantren, paling banter hanya menduga-duga, apa benar produk fikih dan pesantren mengarah kepada radikalisme? Bukankah pondok pesantren sudah mengakar eksistensinya di nusantara selama berabad-abad? Mengapa baru sekarang isu radikalisme dikait-kaitkan dengan fikih dan pesantren? Di luar itu –ini yang perlu juga diperhatikan– makna radikalisme itu menurut siapa?

Beberapa pihak sering menggunakan istilah intoleran dan radikal untuk menunjuk orang Islam yang bercelana cingkrang, berjanggut lebat, anti LGBT, atau menolak orang nonmuslim menjadi gubernur pun dicap radikal. Sementara, para pelaku kasus pembakaran masjid di satu wilayah NKRI pada 2015 misalnya tidak ramai dicap sebagai kelompok radikal. Jadi, makna radikal sedemikian bebasnya digunakan dan dipersempit hanya sebatas ekstrimisme untuk kepentingan tertentu. Sangat tidak adil.

Di samping itu, istilah moderat pun digiring untuk membentuk kesan yang sama. Seolah kalau tidak moderat dia pasti menjadi radikal. Ciri dari orang moderat pun dibuat menggelikan, seperti orang yang apabila agamanya dihina, dia tidak boleh marah. Orang taat menjalankan syariat, itu dianggap tidak moderat, karena syariat itu sendiri dianggap mengajarkan kekerasan. Turut mengucapkan selamat perayaan hari raya umat lain, pasti muslim moderat. Orang yang menerima konsep LGBT sebagai keadaan sah dan normal, ini juga muslim moderat plus toleran, dan lain sebagainya.

Sekarang, muncul istilah kitab fikih produk Perang Salib yang selama ini diajarkan di pesantren-pesantren. Bisa jadi, yang dimaksud adalah kitab fikih yang ditulis saat era Perang Salib berlangsung. Bisa jadi pula produk kitab fikih yang disusun pasca peristiwa Perang Salib. Entahlah. Sayangnya, kitab produk fikih Perang Salib yang diajarkan itu yang mana tidak dijelaskan. 

Pastilah bukan fikih bab thaharah, shalat, zakat, puasa, haji, i’tikaf, jual beli, wasiat, nikah, talak, jinayat, hudud, hewan sembelihan bab-bab dalam bahasan fikih yang persoalkan sebagai fikih produk Perang Salib itu. Ini pasti bab jihad yang berhubungan langsung dengan persoalan peperangan. Lebih spesifik lagi Fikih Politik. 

Umumnya, rujukan tentang Fikih Politik adalah karya Imam al-Mawardi yang wafat tahun 450 H/1059 M dengan kitabnya "al-Ahkam as-Sulthaniyah" dan karya Imam al-Haramain (Syaikh Abdul Malik An-Naisaburi) yang wafat tahun 478 H/1087 M dengan kitabnya "Ghiyats al-Umam wa at-Tabats azh-Zhulam." Hanya saja, kedua ulama besar kontemporer dan karyanya inipun hadir sebelum perang Salib berlangsung.

Bila waktu ditarik mundur ke era empat Imam Mazhab fikih –Imam Abu Hanifah (w.150 H/767 M), Imam Malik (w.179 H/789 M), Imam Syafi’i (w.204 H /820 M), dan Imam Ahmad bin Hanbal (w.241 H/855 M)– yang sudah menjadi rujukan dan pegangan mayoritas Umat Islam di dunia semenjak seabad yang lalu, masanya dengan Perang Salib pun semakin jauh. Ada selisih 241 tahun antara fikih empat Imam yang sudah mapan itu dengan Perang Salib yang baru berlangsung pada 490 H sampai 670 H/1096 M sampai 1271 M. 

Tidak mungkin pula dijawab dengan menyebut kitab “Matn al-Ghayah wa at-Taqrib” karya Syihabuddin Abu Syujak Al-Ashfahani –kitab fiqh paling populer di kalangan pesantren salaf yang dipelajari hampir di seluruh pesantren salaf di Indonesia. Namun, lagi-lagi masalah waktu dengan Perang Salib pun masih belum clear. Sudah pasti kitab ini disusun sebelum pecah Perang Salib apabila ditilik dari tahun kewafatan Abu Syujak yang wafat di Madinah pada 488 H atau 1095 M –setahun sebelum Perang Salib babak pertama mulai dikobarkan Paus Urbanus II pada pertemuan akbar di The Council of Clermont, Prancis Selatan. Maka, kitab fikih mana yang dimaksud sebagai produk Perang Salib pun masih menyisakan ‘kepo’ berkelanjutan.

Shalahuddin dan Perang Salib

NAMA lengkapnya Abul Muzhaffar Yusuf bin Najmuddin Ayyub bin Syadzi, populer dipanggil dengan Shalahuddin Al-Ayyubi. Garis keturunannya dari suku terhormat, yaitu suku Rawadiyyah atau Kurdi dari kawasan Hadzyaniyyah. Lahir pada 532 H/1137 M di benteng Tikrit, sebuah kota di tepian sungai Tigris, sekitar 140 kilometer di barat laut kota Baghdad. Ayahnya, Najmuddin bin Ayyub bersaudara dengan Asaduddin Syirkuh. Keduanya merupakan petinggi Tikrit yang mengabdi kepada Sultan Saljuk Muhammad Malik Shah.

Kiprah Shalahuddin dalam Perang Salib merupakan salah satu episode yang paling heroik dalam karir militer dan kekuasaannya. Pada Perang Salib babak kedua yang ditandai dengan bangkitnya Umat Islam merebut daerah-daerah yang telah diduduki pasukan Salib, Shalahuddin turun gelanggang bersama para tokoh kunci kemenangan. Dimulai pada 1144 M, Imaduddin Zangi, seorang gubernur Mosul, Irak melancarkan serangan terhadap posisi-posisi pasukan Salib di Aleppo dan Hamimah. Sepeninggal Imaduddin Zangi 1146 M, Nuruddin Zangi melanjutkan perjuangan ayahnya merebut kota Antioch pada 1149 M. Pada 1151 M seluruh Edessa direbut kembali.

Bangkitnya umat Islam dan keberhasilannya merebut daerah-daerah pendudukan kaum Salib, mendorong Paus Eugenius III mengobarkan Perang Salib II yang disambut dengan baik oleh raja-raja Eropa seperti Louis VII, Raja Perancis, dan Conrad III, Raja Jerman yang memimpin pasukan Salib merebut wilayah Syria. Namun, usaha mereka dapat dihalau oleh Nuruddin Zangi. Pada 1174 M Nuruddin Zangi meninggal. Pimpinan pasukan diambil alih oleh Shalahuddin Al-Ayyubi.

Pada 1187 M Shalahuddin berhasil merebut Yerusalem dan kota-kota lain dari kekuasaan pasukan Salib. Pada periode ini, pertempuran yang paling terkenal sebelum Yerusalem berhasil direbut Shalahuddin adalah pertempuran Cresson, pertempuran Tiberias, dan pertempuran Hattin yang paling banyak dikenang peminat sejarah Perang Salib. Pertempuran Hattin terjadi pada 18 Rabi'ul Tsani 583 H/ 4 Juli 1187 M yang mengantar pada puncak perang dengan dibebaskannya Al-Quds atau Baitul Maqdis pada 27 Rajab 583 H/2 Oktober 1187 M oleh Shalahuddin.

Shalahuddin berhasil mengembalikan marwah Khalifah Umar bin Khattab ra. yang dahulu membebaskan Yerusalem pada 637 M. Saat itu, Yerusalem berada di bawah tanggung jawab Pemimpin Kristiani Uskup Sophronius sebagai perwakilan Byzantium dan kepala gereja Kristen Yerusalem. Ketika pasukan Islam di bawah kepemimpinan Khalid bin Walid dan Amr bin Ash mengepung kota suci tersebut, Sophronius tetap menolak untuk menyerahkan Yerusalem kepada umat Islam kecuali jika Khalifah Umar  yang datang langsung menerima penyerahan darinya. Mendengar kabar tersebut, Khalifah Umar langsung berangkat dari Madinah menuju Yerusalem berkendara keledai ditemani satu orang pengawal. Setibanya di Yerusalem, Khalifah Umar disambut oleh Sophronius. Kunci gerbang kota diserahkan. 

Karena kelemahan barisan kaum muslimin, pada 1099 M Yerusalem direbut pasukan Salib. 88 tahun kemudian, saat kaum muslimin bersatu di bawah kepemimpinan Shalahuddindan, Yerusalem kembali ke pangkuan kaum muslimin.

Fikih Toleransi di Tengah Gelombang Perang Salib

MAKA, wajarlah kening berkerut jika radikalisme hari ini dikaitkan dengan produk fikih Perang Salib, sementara fikih mana yang dimaksud tidak jelas subjeknya. Jangan pula dilupakan, di akhir babak Perang Salib era Shalahuddin yang berkecamuk pun, Shalahuddin menampilkan sikap toleran. Ksatria muslim ini membebaskan sebagian besar kaum Kristen tanpa dendam, bahkan memberikan perlindungan kepada mereka orang Kristen itu. Perlakukan Shalahuddin ini berkebalikan 180 derajat dari kebengisan Pasukan Salib saat dahulu pada 1099 M mereka merebut Yerusalem di mana tidak kurang dari 70 ribu orang muslim kota itu dibantai dan sisa-sisa orang Yahudi digiring ke sinagog untuk dibakar.

Sejarawan Inggris, John Stuart Mill menuturkan bahwa, sejumlah orang Kristen yang sudah meninggalkan Yerusalem pergi mengungsi ke negeri Kristen Antioch usai penaklukkan, bukannya diterima dengan baik di sana. Mereka malah ditolak lalu diusir tidak diterima oleh sesama orang Kristen. Para pengungsi kemudian memutuskan pergi menuju negeri Islam di bawah kekuasaan Shalahuddin. Di sana, mereka disambut penuh kehangatan dan kemurahan. 

Tidak sampai di sini, pada saat para Uskup dan orang-orang Kristen keluar dari Yerusalem menuju kota Shur (Asshur atau Siria), kota pertahanan terakhir pasukan Salib sebab kekalahan mereka dalam perang Hittin dan direbutnya kembali kota-kota serta wilayah-wilayah yang dulu dikuasai salibis di seluruh Syam oleh Shalahuddin, para Uskup dan orang-orang kristen didampingi para pengawal dari kaum muslimin untuk melindungi dan mengantarkan mereka sampai ke Shur.

Secara pribadi, Shalahuddin pun menunjukkan simpati pada Richard The Lionheart, musuhnya di medan perang saat raja Inggris itu jatuh sakit. Shalahuddin Al-Ayyubi mengirim dokter, menghiburnya, mengirimkan buah-buahan, dan es kepadanya.

Pertanyaan pentingnya adalah, Shalahuddin itu penganut mazhab fikih apa? Jawabannya jelas, Shalahuddin dalam banyak literatur disebutkan adalah penganut mazhab Syafi’i. Shalahuddin pula yang berjasa mengembalikan mazhab Ahlussunnah di Mesir setelah sekian lama di bawah kendali Dinasti Fathimiyah (910 M hingga 1171 M) yang bermazhab Syi’ah.

Meskipun menganut mazhab Syafi’i, akan tetapi sebagai seorang Sunni, Shalahuddin mendirikan madrasah-madrasah berdasar pemahaman empat mazhab fikih. Sebelum Ayyubiyah menguasai Suriah, di wilayah itu tak ditemukan sama sekali madrasah yang mengajarkan fikih Mazhab Hanbali dan Maliki. Setelah Ayyubiyah berkuasa di kawasan itu, ditemukan 40 madrasah Syafi’i, 34 madrasah Hanafi, 10 madrasah Hanbali, dan tiga madrasah Maliki.

Shalahuddin pun sangat dekat dengan para ulama selain pengikut Mazhab Syafi’i secara personal. Beberapa di antara mereka memiliki andil besar mendampinginya dalam medan jihad, seperti An-Nashih Abdurrahman bin Najm, seorang ulama Madzhab Hanbali yang menjadi rujukan setelah Ibnu Qudamah Al-Maqdisi, Syeikh Abu Umar Al-Maqdisi saudara dari Syeikh Al-Muwaffaq Ibnu Qudamah Al-Maqdisi, juga bersama dengan sepupunya Al-Hafidz Abdul Ghani Al-Maqdisi serta saudaranya, Syeikh Imad Al-Maqdisi. Keempat ulama bersaudara itu selalu ikut serta dalam barisan Shalahuddin Al-Ayubi dalam berjihad melawan Pasukan Salib. Demikian pula Ibnu Munajjih, seorang fukaha Madzhab Hanbali yang lain yang ikut serta dalam pembebasan Al-Quds.

Darah Fikih Para Ulama dan Santri

DARAH para ulama yang tumpah saat merebut kemerdekaan republik ini bukan berbau amis, melainkan "berbau fikih” dengan semangat jihad keluar dari penjajahan. Semangat jihad mereka sama seperti dahulu semangat jihad Khalifah Umar bin Khattab ra. dan Sultan Shalahuddin saat keduanya membebaskan Al-Quds. Mustahil tanpa semangat jihad yang membara, Indonesia bisa merdeka sebagaimana Al-Quds berhasil dibebaskan.

Sekadar menyebut contoh, bangsa ini punya Kiai Subchi Parakan yang sering disebut “Kiai Bambu Runcing”. Ada pula KH Abdullah Syafi’i yang dijuluki “Singa Betawi”. Ada Kiai Abbas Buntet Cirebon, kiai rujukan dalam strategi perang kemerdekaan. Mustahil dalam diri mereka tidak mengalir darah fikih. 

Begitu juga Laskar Hizbullah (LH), tentara rintisan para ulama Ahlussunah Wal Jamaah yang juga berandil besar dalam peperangan 10 November 1945, mesti mereguk aroma fikih sebelum turun ke medan tempur. Bagaimana tidak, sebab mayoritas LH adalah para santri di bawah komando langsung KH Hasyim Asy'ari Jombang. Secara militer dipimpin KH Zainul Arifin Tasikmalaya dan KH Abbas Abdul Jamil dari Buntet Pesantren. Sebagaimana diketahui, Buntet Pesantren atau Pesantren Buntet menjadi markas latihan LH, Sabilillah, dan pasukan PETA.

KH. Ahmad Dahlan dengan gerakan Muhammadiyah-nya, juga tak kalah sengit meski tidak berada pada front mengangkat senjata di medan tempur. Jihadnya Kiai Dahlan lebih tampak pada gerakan dakwah, sosial, dan pendidikan guna mengatasi hegemoni penjajah waktu itu. Kiai Dahlan fokus pada jihad memberantas kebodohan melalui sekolah-sekolah yang didirikan, bidang sosial dengan rumah-rumah sakit, panti asuhan, dan menyantuni anak-anak yatim, serta memurnikan ajaran Islam dari syirik, khurafat, dan  bid'ah yang merajalela. Satu lagi, Kiai Dahlan concern dengan upaya membendung kristenisasi yang digawangi zending  atau Kristening Politik kolonial untuk pribumi. Sudah pasti, Kiai Dahlan juga sudah "terpapar" pemahaman fikih yang bersumber pada Al-Qur'an dan sunnah sahihah dalam menjalankan gagasan dan organisasinya.

Pekik takbir Bung Tomo masih pula bisa ditelusuri jejaknya dalam buku-buku sejarah. Resolusi jihad KH. Hasyim Asy’ari masih pula belum hilang dari dokumen sejarah. Jauh sebelumnya, pada abad ke-18, Syeikh Abdu Somad al-Palimbani, ulama dari Palembang telah menginspirasi gerakan jihad di Nusantara dalam melawan penjajah dalam kitabnya "Nasihat al-Muslimin wa Tazkirawat al-Mukminin fi Fadhail al-Jihad fi Sabilillah". Terus, salahnya fikih di mana?

Mengaitkan fikih dan pesantren dengan radikalisme rasanya lebih kepada sinisisme daripada objektivitas sejarah. Apalagi, radikalisme sudah menjadi barang jualan. Selama ini, yang paling merasa tersudut dengan istilah itu adalah umat Islam.

Allahu a’lam.|


Minggu, 17 Mei 2020

Paradoks Hari Buku

Gambar diambil dari: http://rilis.id/selamat-hari-buku-sedunia-sudah-baca-hari-ini
HARI ini, 17 Mei, momentum Hari Buku Nasional. Tidak seperti hari-hari yang ditetapkan sebagai momen penting, gaung Hari Buku Nasional memang tidak seramai Hari Kemerdekaan Indonesia, Hari Kartini, atau Hari Raya Keagamaan. Semua orang hampir tahu kapan Hari Kemerdekaan Indonesia atau Hari Raya Keagamaan diperingati dan dirayakan orang Indonesia dan umat masing-masing agama. Hari Kartini, mungkin lebih sedikit yang tahu. Namun, Hari Buku cenderung senyap. Jangan harap orang awam tahu kapan Hari Buku Nasional itu diperingati, kaum cerdik pandai belum tentu tahu, bahkan bisa jadi lebih ‘ngenes’ sekadar ketidaktahuan orang awam. Bagaimana tidak ‘ngenes’ apabila kaum cerdik pandai seperti dosen, guru, atau pendidik bertanya keheranan, “Ha? Emang ada Hari Buku?” 

Memang, tidak tahu kapan Hari Buku diperingati tidak membatalkan iman. Juga tidak mengurangi kadar nasionalisme seseorang. Akan tetapi, cukuplah itu sebagai salah satu indikasi rendahnya tingkat literasi yang masih menjadi persoalan bangsa kita. Bila persoalan umum literasi masih rendah, apalagi lebih spesifik seperti literasi perbukuan, maka, tidaklah mengherankan bila sekadar kapan Hari Buku Nasional diperingati sangat terbatas diketahui kebanyakan orang.

Memperingati Hari Buku Nasional berarti bicara soal buku. Bicara soal buku, mau tidak mau akan berhadapan dengan dua problem literasi mendasar yaitu minat baca dan menulis. Tidak ada buku bila tidak proses membaca dan menulis. Maka, eksistensi buku akan tetap lestari bila persoalan minat baca dan tradisi menulis terus tumbuh, meningkat, dan berkembang menjadi tradisi yang mapan. Apabila minat baca dan tradisi menulis telah menjadi budaya yang mapan, maka literasi perbukuan dengan sendirinya akan semarak seagaimana semaraknya merayakan Hari Raya.

Masalah menulis sebenarnya masalah keterampilan. Sayangnya, skill ini lebih banyak dikuasai para penulis profesional dan aktivis perbukuan, wartawan atau awak media, dan akademisi yang terlatih menulis saja. Guru sebagai bagian dari akademisi, termasuk yang sangat terbatas memiliki kemampuan menulis. Bila keterbatasan ini disadari, lalu ada upaya internal untuk mengatasi keterbatasan itu, ini masih baik. 

Karena menulis itu masalah keterampilan, maka ia bisa dilatih. Tiap orang bisa berlatih menjadi penulis. Asalkan mau sabar, tekun, dan konsisten, keterampilan menulis itu bukan seperti memecahkan misteri yang hanya bisa dipecahkan oleh orang yang beruntung. Memang mulanya berat, namun lama-lama menjadi ringan lalu menjadi kebiasaan. 

Pernahkah Anda membayangkan apabila keterampilan menulis melekat pada tiap pemeran kehidupan? Coba bayangkan seorang pedagang, buruh, petani, nelayan, tukang becak, sopir, kondektur, masinis, pilot, pramugari, nahkoda, anak buah kapal, sampai marbot masjid dan penjaga hutan yang terampil menulis. Apabila ini terjadi, dahsyat hasilnya. Pembaca cerdas yang ingin mendapat informasi autentik tentang dunia buruh, maka buku yang ditulis dari tangan seorang buruh masih jauh lebih tajam dari sekadar tulisan pengamat perburuhan. Bila ingin membaca novel bagaimana kondisi psikologis pengalaman menangkap ikan di laut, maka narasi yang ditulis oleh seorang nelayan akan jauh lebih sensasional daripada cerita yang sama yang ditulis juragan pemilik perahu. Begitu seterusnya.

Lepas dari kondisi zaman yang berubah, guru tetaplah profesi dengan limpahan anugerah. Melimpah ilmu, pengalaman, dan penghormatan. Guru sebagai “Sang Pencerah” punya energi sangat cukup untuk melipatgandakan daya pencerahnya tidak sebatas ruang kelas, dengan jadwal kaku kapan dia masuk dan keluar kelas, dengan materi racikan kurikulum yang baku, atau dengan beban tagihan penilaian yang berkutat dengan angka-angka. Guru bisa menjadi mercusuar ide dengan ngeblog atau menulis buku, baik buku fiksi maupun nonfiksi. 

Menghadapi ragam kesiapan belajar siswa, guru bisa menuliskannya menjadi buku inspiratif, motivasi, panduan belajar, atau novel bertema pendidikan. Bila selama mengajar menggunakan buku teks yang kaku dan membosankan dari segi tampilan, warna dan ilustrasi, guru bisa menulis buku teks sendiri yang dirancang sesuai kebutuhan. Bila “Sang Pencerah” itu mengalami kegelisahan batin dengan segala pengalaman yang kurang elok dalam pengelolaan pendidikan di sekolah tempatnya mengajar, dia bisa menumpahkannya dalam bentuk cerpen, puisi, atau menulis buku ilmiah tentang manajemen sekolah yang baik. Jadi, seorang guru bukan saja melimpah anugerah, melainkan juga melimpah topik yang bisa ditulis. Hanya saja di sini terjadi paradoks, bagaimana bisa seorang guru tumpul mata penanya?

Belum terlambat. Ayo menulis dan berlatih menulis.

Selamat Hari Buku Nasional 17 Mei 2020.

Ibtimes dan Wacana Liberalisme; Tanggapan atas Tulisan Kumaila Hakimah (2)

Menyoal akal dan kebebasan berfikir, Kumaila berkata, “Justru untuk memahami wahyu, dibutuhkan akal dan kecerdasan yang matang. Tapi tentu saja tuduhan liberal dan segala macam ini bukan hanya terjadi di masa modern seperti sekarang. Tokoh-tokoh seperti Al-Ghazzali, Al-Farabi, dan Ibnu Rusyd yang karyanya masih kita kaji hingga sekarang adalah beberapa figur cendekiawan muslim yang dicap liberal pada masanya.”

Siapa pun setuju bahwa untuk memahami wahyu dibutuhkan kesehatan akal dan kecerdasan. Namun perlu dimengerti, syarat untuk memahami wahyu harus pula didukung perangkat ilmu yang mumpuni dan tidak sembarang orang memilikinya. Lagi pula, soal akal sehat dan kecerdasan yang matang untuk memahami wahyu tidak ada kaitannya sama sekali dengan liberal atau tidak liberal. Malah yang banyak terjadi, pandangan liberal lah yang justru merusak dan menyelewengkan potensi akal. Porsi akal bukan digunakan untuk mengungkap kebenaran wahyu, tetapi malah diperalat untuk mengaburkan pesan wahyu atas nama kebebasan berpikir. Dalam kasus pendapat akal Syukron Amin yang liberal itu tentang sedekah, di mana letak kesesuaiannya dengan pesan wahyu mengenai kewajiban memelihara kehormatan?

Tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba Kumaila mengatakan bahwa Al-Ghazzali, Al-Farabi, dan Ibnu Rusyd dicap liberal pada masanya pada tulisannya di https://ibtimes.id Masa? Kata siapa?

Membaca kesimpulan ini, Ingin ketawa tapi takut dosa. Yang ada Kumaila, ilmuwan semacam Ibnu Rusyd dipaksa-paksa diproyeksikan sebagai pioneer liberalisme dan sekularisme di dunia Islam zaman ini. Oleh siapa? Oleh orang-orang yang berpaham liberal itu. Mereka kejam sekali loh, Kumaila. Masa, sampai berani-beraninya sahabat mulia Umar bin Khattab ra. pun dimasukkan dalam list pemikir liberal. Kan, ngaco. Belum lagi golongan Mu‘tazilah yang memang sudah populer disebut sebagai kelompok rasional dalam khazanah pemikiran Islam.

Ini namanya flying victim, membela liberal dengan mendudukan orang liberal sebagai korban. Hati-hati flying victim, salah-salah Anda malah mengulang kesalahan seperti yang pernah dilakukan “profesor” dari Monash yang ngetwit:
JIL adalah label yg diberikan oleh kaum sumbu pendek kpd orang yg tidak terjangkau pemikirannya akibat keawaman mereka, Kira2 begitu.
Ini kan, menggelikan. JIL (Jaringan Islam Liberal ) sewaktu masih hidup itu alamatnya jelas, Jalan Utan Kayu, No. 68H, Jakarta Timur 13120. Digawangi editor seperti Akhmad Sahal, Anick, Burhanuddin, Hamid Basyaib, Lanny Octavia, Luthfi Assyaukanie, Malja Abrar, Abd. Moqsith Ghazali, Nong Darol Mahmada, Novriantoni, Saidiman Ahmad, Taufik Damas, dan Uli Abshar Abdalla. Lha, kok malah dituduh sebagai hasil pelabelan dari orang sumbu pendek dan awam. “Kasihan” Ulil dan pasukannya kalau begini.

Baik, kembali ke Ibnu Rusyd. Ibnu Rusyd tidak pernah terjebak pada pemikiran desakralisasi terhadap al-Qur’an dan Nabi Muhammad saw, kontekstualisasi penafsiran, penghalalan zina, lesbianisme, homoseksual, atau pembenaran wanita menjadi khatib dan imam salat Jum’at dan sebagainya, topik yang banyak para pengusung liberalisme kecemplung di dalamnya. Ibn Rusyd tidak bermain-main di wilayah itu dan sangat jauh dari dituduh liberal apalagi diposisikan sebagai sosok liberal. Dahulu sewaktu belajar filsafat yang menyinggung Ibnu Rusyd, dalam soal akal dan wahyu pun, saya diberitahu bahwa tokoh asal Cardova ini berpandangan bahwa kebenaran filosofis (akliah) tidak kontradiktif dengan kebenaran ilahi (wahyu) karena keduanya bersumber dari satu sumber yang sama. Ibnu Rusyd juga percaya bahwa wahyu dan akal saling melengkapi.

Tidak ada jejak Ibnu Rusyd melakukan desakralisasi terhadap al-Qur’an dan Nabi Muhammad saw. meskipun akalnya sangat cerdas. Tidak seperti “kelewat cerdasnya” pengusung Islam Liberal semacam Guntur Romli yang pernah memosting twit:

“Oleh krn itu, Qur’an bukan kitab suci, bukan pula menyebabkan kita tabu untuk menggaulinya. Nabi Muhammad bukan pula manusia suci.”

Bagaimana ini?

Tentu ini tidak sesuai dengan asumsi Anda sendiri Kumaila, di mana Anda katakan bahwa tujuan dari kebebasan berpikir ini adalah agar kita sebagai manusia bisa menemukan kebenaran dan menyelesaikan persoalan, masih selaras dengan tujuan adanya Islam di muka bumi ini.

Terus, apa yang bisa diselesaikan dari mengatakan Al-Quran bukan kitab suci dan sosok Nabi Muhammad saw. bukan manusia suci hasil buah pikir pengusung Islam Liberal di atas? Masihkah Islam Liberal tidak berbahaya menurut Anda? Ya, semua kembali kepada pilihan Anda sendiri.

Allahu a’lam bishshawab.[]

Abdul Mutaqin
Penulis buku “Kyai Kocak VS LIberal”

Depok, Ramadhan hari ke-12.

Sabtu, 09 Mei 2020

NUZULUL QUR'AN; REFLEKTIF ATAS PERADABAN ISLAM DAN AKAR TRADISI LITERASI

O, putera pamanku. Bergembiralah, dan tabahkan hatimu. Demi Dia Yang memegang hidup Khadijah, aku berharap kiranya engkau akan menjadi Nabi atas umat ini. Sama sekali Allah takkan mencemoohkanmu; sebab engkaulah yang mempererat tali kekeluargaan, jujur dalam kata-kata, kau yang mau memikul beban orang lain, menghormati tamu, dan menolong mereka yang dalam kesulitan atas jalan yang benar.