![]() |
| Ilustrasi menjaga lisan. Sumber, https://artikula.id/ |
Pukul 06. 40 WIB pagi tadi, saya menulis status. Status ini hanya percikan dari menyimak penjelasan panjang Ustaz Ahmad Soleh Firdaus Habibi (ASFH) pada pengajian tadi malam. Terselip satu frasa Ustaz ASFH yang saya highlight soal “Omongan kagak sêmênggah” saat beliau membahas Ten Commandment-nya Nabi Musa AS dipadankan dengan pesan QS. An-Nisa [4] : 36.
Lahirlah status WA saya berikut:
Dengan bahasa Inggris sekadarnya, saya balas, bahwa “semenggah” adalah salah satu kata lama yang masih digunakan oleh orang-orang tua di desa saya. The meaning of sêmênggah is “proper, polite, and well-mannered.” Begitu kira-kira.
Mengapa saya tertarik dengan kosakata ini?
Pertama, karena kosakata “sêmênggah” sudah jarang diucapkan dalam obrolan-obrolan kecuali dalam obrolan generasi tua. Karena itu, kosakata ini perlu diawetkan dalam obrolan-obrolan generasi hari ini—Milenial / Gen Y (lahir antara 1981–1996) Awal mula era internet, Generasi Z (lahir antara 1997–2012): Penduduk asli digital (digital native), dan Generasi Alpha (2013–2024):Tumbuh bersama teknologi pintar)—supaya kosakata ini tetap hidup. Jadi, kesimpulannya, Ustaz ASFH itu generasi tua. Hahahaha.
Kedua, soal makna. Kosakata “sêmênggah” sebenarnya akan tetap awet, sebab, masih bisa dilacak jejaknya pada kamus. Dalam Kamus Bahasa Indonesia daring, “sêmênggah” artinya layak, patut, atau senonoh. Maka, frasa “kagak semenggah” artinya tidak layak, tidak patut, atau tidak senonoh. Jadi, “Omongan kagak sêmênggah” artinya omongan yang tidak layak, tidak patut, atau tidak senonoh.
Ada lagi kosakata yang bermakna kurang lebih sama dengan “sêmênggah” yaitu “sêmêdêd”. Kosakata ini sering diucapkan dalam frasa "ora sêmêdêd”. Maknanya merujuk pada sesuatu yang tidak sepadan, tidak pantas, tidak sebanding, atau kurang beres perilakunya. Baik “sêmênggah” atau “sêmêdêd” sudah terdengar sayup-sayup seakan menghilang dalam obrolan-obrolan hangat orang kampung.
Ketiga—ini yang paling penting—seorang muslim punya tanggung jawab moral dari berperilaku “ora sêmênggah” atau "ora sêmêdêd”, baik dalam perkataan, sikap, dan perbuatan. Orang muslim harus "sêmênggah” atau "sêmêdêd” agar tidak kontradiktif dengan karakter, sifat, dan perilaku layaknya seorang muslim.
Merujuk pada sebuah riwayat: “Al-muslimu man salima al-muslimūna min lisānihi wa yadihi”, bahwa, seorang muslim sejati adalah mereka yang ketika hadir di sebuah komunitas, komunitas itu akan selamat dari keburukan lisan dan tangannya. Ini memberi pesan, bahwa, berdampingan, bergaul, dan berurusan dengan seorang muslim selalu nyaman, selamat, dan membawa kebaikan. Sebaliknya, siapa saja yang berada bersama orang yang “ora sêmênggah” atau “ora sêmêdêd”, bersiaplah untuk berjuang keluar dari sakit hati, gelisah, dan ngurut dada. Begono.
Keempat, di antara anggota tubuh yang paling berpeluang menjadi manusia “ora sêmênggah” atau “ora sêmêdêd” tanpa disadari adalah lidah. Saya tidak ingin buru-buru mengutip Al-Quran atau Hadits bagaimana kedua sumber ajaran Islam ini mengajarkan manusia untuk bertutur kata yang baik atau menjaga dampak buruk dari lidah yang tidak dikendalikan. Cukuplah sepenggal syair Raja Dangdut yang berdendang:
Ciputat, 5 Oktober 2026.
Lahirlah status WA saya berikut:
Empat menit kemudian, seorang guru bahasa Inggris dalam daftar kontak saya mengirim pesan singkat merespon status WA saya ini: “Sêmênggah the meaning is ....”Ngaji tadi malam dengan Ustaz ASFH, salah satu intinya yang disampaikan: "Ngomonglah dengan omongan yang semenggah, jangan ngomong yang "tidak semenggah." Membiasakan ngomong "tidak semenggah akan jadi karakter. Bila sudah jadi karakter, omongan "tidak semenggah" meluncur seperti anak panah lepas dari busurnya dan tidak mengenal ruang dan waktu. Kadang, di tempat yang seharusnya setiap orang harus ngomong sopan dan beradab, yang keluar dari mulut tetap omongan yang "tidak semenggah".Literasi ngomong "semenggah" perlu ditanamkan sejak dini agar ...
Dengan bahasa Inggris sekadarnya, saya balas, bahwa “semenggah” adalah salah satu kata lama yang masih digunakan oleh orang-orang tua di desa saya. The meaning of sêmênggah is “proper, polite, and well-mannered.” Begitu kira-kira.
Mengapa saya tertarik dengan kosakata ini?
Pertama, karena kosakata “sêmênggah” sudah jarang diucapkan dalam obrolan-obrolan kecuali dalam obrolan generasi tua. Karena itu, kosakata ini perlu diawetkan dalam obrolan-obrolan generasi hari ini—Milenial / Gen Y (lahir antara 1981–1996) Awal mula era internet, Generasi Z (lahir antara 1997–2012): Penduduk asli digital (digital native), dan Generasi Alpha (2013–2024):Tumbuh bersama teknologi pintar)—supaya kosakata ini tetap hidup. Jadi, kesimpulannya, Ustaz ASFH itu generasi tua. Hahahaha.
Kedua, soal makna. Kosakata “sêmênggah” sebenarnya akan tetap awet, sebab, masih bisa dilacak jejaknya pada kamus. Dalam Kamus Bahasa Indonesia daring, “sêmênggah” artinya layak, patut, atau senonoh. Maka, frasa “kagak semenggah” artinya tidak layak, tidak patut, atau tidak senonoh. Jadi, “Omongan kagak sêmênggah” artinya omongan yang tidak layak, tidak patut, atau tidak senonoh.
Ada lagi kosakata yang bermakna kurang lebih sama dengan “sêmênggah” yaitu “sêmêdêd”. Kosakata ini sering diucapkan dalam frasa "ora sêmêdêd”. Maknanya merujuk pada sesuatu yang tidak sepadan, tidak pantas, tidak sebanding, atau kurang beres perilakunya. Baik “sêmênggah” atau “sêmêdêd” sudah terdengar sayup-sayup seakan menghilang dalam obrolan-obrolan hangat orang kampung.
Ketiga—ini yang paling penting—seorang muslim punya tanggung jawab moral dari berperilaku “ora sêmênggah” atau "ora sêmêdêd”, baik dalam perkataan, sikap, dan perbuatan. Orang muslim harus "sêmênggah” atau "sêmêdêd” agar tidak kontradiktif dengan karakter, sifat, dan perilaku layaknya seorang muslim.
Merujuk pada sebuah riwayat: “Al-muslimu man salima al-muslimūna min lisānihi wa yadihi”, bahwa, seorang muslim sejati adalah mereka yang ketika hadir di sebuah komunitas, komunitas itu akan selamat dari keburukan lisan dan tangannya. Ini memberi pesan, bahwa, berdampingan, bergaul, dan berurusan dengan seorang muslim selalu nyaman, selamat, dan membawa kebaikan. Sebaliknya, siapa saja yang berada bersama orang yang “ora sêmênggah” atau “ora sêmêdêd”, bersiaplah untuk berjuang keluar dari sakit hati, gelisah, dan ngurut dada. Begono.
Keempat, di antara anggota tubuh yang paling berpeluang menjadi manusia “ora sêmênggah” atau “ora sêmêdêd” tanpa disadari adalah lidah. Saya tidak ingin buru-buru mengutip Al-Quran atau Hadits bagaimana kedua sumber ajaran Islam ini mengajarkan manusia untuk bertutur kata yang baik atau menjaga dampak buruk dari lidah yang tidak dikendalikan. Cukuplah sepenggal syair Raja Dangdut yang berdendang:
Lidah senjata utamaAkhirnya, literasi “ngomong sêmênggah” perlu ditanamkan sejak dini agar generasi muslim memiliki lisan yang santun. Pembiasaan kepada mereka Qawlan Karīman, Qawlan Ma‘rūfan, Qawlan Sadīdan, Qawlan Layyinan, Qawlan Maysūran, dan Qawlan Balīghan harus hidup di tengah keluarga dan forum-forum pergaulan. Jangan sampai mereka menjadi generasi “ora sêmênggah” atau “ora sêmêdêd” di tengah zaman yang sudah kurang peduli pada akhlakul karimah di mana adab sudah dianggap fosil masa lalu yang pantas dikesampingkan.
Bagi keselamatan Anda
Pandai-pandailah menjaga
Lidahmu kala berbicara
Ciputat, 5 Oktober 2026.

0 Comments:
Posting Komentar