A homepage subtitle here And an awesome description here!

Kamis, 09 Juli 2026

Host Uji Coba

Dari kanan, Prof. Dr. Imam Subchi, M.A., Alwanih, SH., MH., CTA., CPM., CM., CPArb., Cli., dan saya. 

Saya udah bilang dari kemaren. Ini host-nya Pak Abdul. Siapin mic yang bagus!"

Dua kali panggilan tak terjawab. Jam segitu, memang saya tidak sedang memegang gawai. Jadi, pasti luput siapa pun yang memanggil. Maafkan, bukan saya tidak aware.

"Waduh, dari pejabat," keluh saya setelah membaca siapa yang menghubungi.

Ditelpon pejabat Humas itu ngeri-ngeri sedap. Hati dak-dik-duk. Takutnya, saya punya salah yang berdampak pada citra madrasah di mata publik jadi buruk. Wah, punishment, nih. Hihihi, su'uzhan di menit pertama.

Instink birokrasi pegawai memang begitu. Dia pasti terusik bila ditelpon kolega yang memegang jabatan pada lembaga tempat bekerja. Prasangka buruk pasti bermain sebelum memikirkan banyak kemungkinan yang lain-lain yang netral. Karena itu sifat bawaan, "su'uzhan thinking" menjadi absah.

Akan tetapi, saya punya argumen. Jadi, menduga bakal diberi sanksi oleh atasan, masih lebih elegan dalam konteks ini daripada "husnuzzhan thinking" menyangka akan diberi gula-gula. Hahahaha. Bukan begitu Pak Maher Zen KW3?

Maka, dengan alasan etika komunikasi, segera saya menelepon balik. Ini standar yang umum dilakukan siapa saja. Bila perlu, jangan sampai keduluan dihubungi lagi untuk kali ketiga. Bila pun harus menunggu panggilan ketiga, pastikan panggilan dijawab. Begitu etikanya kata Pak Aje,  kawan saya yang pustakawan yang pecak gurame olahan istrinya oke banget. Hihihihi.

Begitulah setelah tersambung, rupanya diberi tugas menjadi host untuk program podcast MP UIN Jakarta.

Bujug buneng! Seumur-umur, terhitung langka diminta jadi host. Kalo nulis, sering. Salah alamat ini.

Tapi, diundang oleh host, pernah. Dulu, duluuu banget, pernah diundang media broadcasting untuk siaran televisi lokal di Depok. Pernah juga diundang bedah buku Kiai Kocak on air sebuah stasiun radio swasta di daerah Jakarta Selatan. Jadi, 'gak grogi-grogi amatlah ngomong di depan kamera dan cuap-cuap di bibir mikrofon.

Tapi, ini jadi host. Ini beda mental. Diterima, gimana. 'Gak terima juga gimana. Masalahnya juga, narasumbernya bukan orang biasa. Materi podcast-nya pun materi kelas berat, sensitif pula. Apatah lagi, karena baru pulang dari Arab, mata saya lagi sensitif merem. Bawaannya ngantuuuk aja. Takutnya lagi jadi host, serangan kantuk datang dan saya tertidur. Kan, 'gak lucu.

Akhirnya, setelah memperhatikan, menimbang, memutuskan, menetapkan memerima jadi host. Bismillah, hitung-hitung nambahin portofolio buat lampiran ngelamar kerja bila sudah pensiun dari MP kelak. Qiqiqiqiqi.

Jadi, topik podcast tadi siang itu "Amanat Integrasi KMA 1543”. Bagi masyarakat umum, topik ini mungkin dianggap biasa, bahkan kurang penting. Wajar sih, karena ada keterputusan konteks dengan dinamika Madrasah Pembangunan UIN Jakarta.

Namun, tidak bagi civitas akademika Madrasah Pembangunan, wali murid, dan stakeholder yang selama ini berjalan bersama memajukan madrasah ini. Ada ruang diskusi, dialog, pembentukan yang cenderung perang opini di media lokal, bahkan seteru yang belum sepenuhnya sepi sejak diberlakukan KMA 1543 tentang integrasi Madrasah Pembangunan dengan UIN Jakarta. Apa topik ini bukan topik berat dan sensinif, eh, sensitif?

Untungnya ada bahan belajar. Saya putar dua episode podcast sebelumnya. Topiknya serupa, tapi dengan kedalaman poin of view yang berbeda. Selain sosok pembicara dan isi perbincangan, angel yang saya cermati betul-betul adalah host-nya. Ooh, begitu toh jadi host.

Gimana seorang host bisa begitu santai dan bisa membangun komunikasi perbincangan yang mengalir. Itu kuncinya. Karena alasan tertentu, tinggal punya waktu sehari setelah ditelpon, saya belum sempat pinjem kuncinya, tahu-tahu sudah hari Kamis, hari eksekusi.|

Jantung rasa mau copot. Narasumber sudah duduk manis di kursi masing-masing. Gugup saya sudah mereda. Kamera sudah siap. Lha, dua mic kagak ada kabelnya.

Saya melipir, menjauh dari narasumber. Disusul Bang Rudi dan seorang kru. Kru ini tampak kecewa berat.

"Saya udah bilang dari kemaren. Ini host-nya Pak Abdul. Siapin mic yang bagus!"

Berasa melayang. Mungkin maksudnya, dengan mic yang bagus, pembawaan saya jadi bagus. Maklum, host uji coba. Hihihihi.

Waktu terus berjalan. Lima menit, sepuluh menit, dan lima belas menit. Narasumber masih duduk manis. Saya pengen nangis, cuma 'gak jadi, malu.

"Gimana, Rud?" Tanya saya.

Rudi agak gelisah. Sempet kepikiran dua mic diganti rekaman HP saja. Kru gak setuju karena akan banyak problem saat sinkronisasi editing gambar dan suara. Bagian ini saya 'gak ngerti, blas. Mikirin gimana jadi host saja sudah klenger.

Ah, pokoknya seru, dah. Tak cukup ruang buat diceritakan di sini.

Jalan keluar datang di saat yang tepat. Tipis harapan podcast bisa berlangsung, bersemi lagi. Mic pinjaman dari media UIN jadi penyelamat. Wajah Rudi dan kru semringah. Podcast berjalan wajar. Narasumber fasih sekali menjawab pertanyaan sesuai topik. Tapi, host masih deg-degan nunggu hasil editing.

Hooray, it's time to enjoy some sleep!

Depok, 9 Juli 2026 M, di penghujung libur akhir semester.