Sabtu, 20 Juni 2026

Buya Hamka dan Pelacur di Tanah Suci

Ilustrasi karakter Buya Hamka. Sumber: Suara Muhammadiyah.id

Setiap orang hanya akan dipertemukan dengan apa yang dia cari.
Jadi, begini kisahnya. 

Satu waktu, sorang pria menemui Buya Hamka. Lalu, pria ini bercerita—dengan nada miring—bahwa ia begitu terkejut karena mendapati pelacur saat ia berada di kota suci Makkah.

Mendapati cerita pria ini, Buya Hamka tersenyum, lalu menimpali bercerita bahwa beliau pun baru saja pulang dari kota-kota besar di Amerika Serikat seperti Los Angeles dan New York. Akan tetapi, Buya Hamka mengaku tidak menemukan seorang pelacur pun di sana.

Pria itu tidak percaya dan berkata, "Mana mungkin Buya? Di Makkah saja ada, apalagi di Amerika yang bebas, pasti jauh lebih banyak!"

Lagi, Buya Hamka tersenyum. Lalu, dengan bahasa yang halus Buya menjelaskan, bahwa meskipun seseorang pergi ke tempat paling suci seperti Makkah, jika fokus pikiran dan hatinya adalah hal-hal buruk, setan akan menuntunnya ke sana. Sebaliknya, jika seseorang pergi ke tempat maksiat sekalipun dengan niat mencari kebaikan, ilmu, atau berdakwah, maka ia hanya akan dipertemukan dengan berbagai kebaikan.

Ini kisah legendaris Buya Hamka yang menghentak kesadaran tentang cara pandang dan niat setiap diri. Buya Hamka dengan bahasanya yang halus, sastrawi, dan menyentuh mengajak berpikir dengan kecerdasan qalbu bahwa setiap orang hanya akan dipertemukan dengan apa yang dia cari.

Sudah dimafhum, secara naluriah, apa yang menjadikan ketertarikan mata melihat dan melempar pandangan sering kali merupakan pantulan dari apa yang ada di dalam isi hati dan pikiran. Maka, setiap orang di mana pun dia berada, selalu dihadapkan pada pilihan untuk melihat sisi positif atau sisi negatif. Sedangkan orang yang arif lagi bijak akan selalu menyaring dan mencari segala kebaikan meskipun ia tersembunyi.

Kisah Buya Hamka ini menghentak kesadaran meskipun dikemas dengan bahasa teguran yang sangat halus. Pesan moralnya agar setiap diri selalu meluruskan niat—terutama saat melakukan perjalanan atau ibadah—agar tidak terdistraksi oleh hal-hal yang tidak baik. Jangan pula memperturutkan dalil aqli untuk menilai sesuatu dengan silogisme yang terlalu mekanis.|

Pada konteks berhaji, Abdul Aziz al-Kinani asy-Syafi'i, dalam kitabnya "Hidāyatu as-Sālik Ilā al-Madhāhib al-Arba‘ah fī al-Manāsik" halaman 296 menukil kisah Abdullah bin Umar yang patut direnungkan lagi. Satu kali, Abdullah bin Umar melihat berbagai perhiasan, kemewahan, dan tandu-tandu yang diadakan manusia saat perjalanan haji mereka. Melihat fenomena demikian itu, beliau berkata:

"Al-ḥājju qalīlun, wal-rākibu katsīrun."

"Betapa orang yang benar-benar berhaji itu sedikit, sedangkan rombongan yang bepergian itu banyak sekali."

Boleh jadi, tidak semua orang yang pergi ke Tanah Suci dan melaksanakan manasik haji memperoleh hakikat dan kemabruran haji. Orang yang benar-benar menjadi haji—diterima hajinya dan memperoleh buah spiritualnya— jumlahnya sangat sedikit, sedangkan yang hanya melakukan perjalanan dan ritual secara lahiriah jumlahnya begitu banyak.
 
Rasanya, ungkapan Abdullah bin Umar mengingatkan pentingnya keikhlasan, ketakwaan, kesederhanaan, dan kepatuhan pada tuntunan syariat dalam menunaikan ibadah haji. Sudah barang tentu, kepatuhan kepada tuntunan syariat berhaji orang harus rela menyingkirkan arogansi akal (jidal yang membawa mudharat) untuk sementara waktu.

Memang, manusia dibekali akal. Ia sumbu kecerdasan. Tapi, akal itu harus dibimbing adab agar arogansinya bisa diredam. Sebab bila tidak, disadari atau tidak, orang cenderung merasa lebih tahu segalanya, merasa lebih "jago" dari siapa pun dalam hal kecerdasan dan pemikiran.
 
Akal kecerdasan yang tidak dibimbing adab, serupa dengan frasa"Khalaqtanī min nārin wa khalaqtahu min ṭīn" yang diucapkan Iblis saat melontarkan argumen menolak perintah Allah untuk bersujud—sujud lil ihtiram, sujud penghormatan—kepada Nabi Adam Alaihissalam. "Engkau ciptakan aku dari api dan Engkau ciptakan dia dari tanah" adalah ucapan arogansi Iblis merasa lebih baik dari Adam yang diabadikan dalam QS. Al-A'raf [7]: 12 dan QS. Sad [38]: 76.
 
Atsar dari sahabat mulia Ali bin Abi Thalib radhiyaalu anhu boleh jadi cukup relevan dalam konteks ini:

Law kāna ad-dīnu bir-ra'yi lakāna asfala al-khuffi awlā bil-masḥi min a‘la qad ra'aytu Rasūlallāhi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallama yamsaḥu ‘alā ẓāhiri khuffaihi."
Andaikata agama dengan akal semata, tentu bagian bawah sepatu (khuf) lebih utama diusap daripada bagian atasnya. Namun sungguh, aku melihat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengusap bagian atas sepatunya." 

Demikian sikap menantu Rasulullah ini menilai posisi akal di sisi syariat.

Bila kisah Abdulllah bin Umar, putra Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhuma ini digabungkan dengan kisah Buya Hamka di muka, dan arogansi Iblis, maka fokus pada kebaikan diri dalam melaksanakan ibadah seyogyanya menjadi prioritas. Apatah lagi, setiap manusia akan dihisab oleh perbuatannya sendiri dan tidak diminta pertanggungjawaban amal buruk orang lain. Alaysa kadzalik?

Allāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.

Masjid Nabawi, Madinah Al-Munawwarah.
Sabtu, 5 Muharram 1448 H/20 Juni 2026 M.


0 Comments:

Posting Komentar