![]() |
| Screenshoot dari salah satu judul pada naskah psd ilustrator |
Karena itu, klaim bahwa gerakan Islam Liberal diperlukan untuk menghadirkan Islam tetap segar dan relevan dengan tuntutan zaman hanya omong kosong belaka.
Kiai Adung belum mati.
Tokoh fiksi yang dikenal pembaca buku Kiai Kocak Vs Liberal sebagai kiai kolot, jail, dan ngeyel itu masih menyimpan energi untuk melawan liberalisme. Dan, seperti biasa, Kiai Adung—karakter Kiai Kocak ini—menanggapinya dengan kocak, jail, dan logis.
Dahulu, paham liberal digaungkan secara terbuka oleh para pengusungnya melalui tema-tema seperti sekularisme, pluralisme, dan liberalisme alias paham 'Sepilis'. Gerakan ini dimotori oleh Jaringan Islam Liberal (JIL). Mereka seolah merebut mikrofon gerakan Islam lalu bernyanyi lagu dengan genre 'Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam'.
Dahulu, paham liberal digaungkan secara terbuka oleh para pengusungnya melalui tema-tema seperti sekularisme, pluralisme, dan liberalisme alias paham 'Sepilis'. Gerakan ini dimotori oleh Jaringan Islam Liberal (JIL). Mereka seolah merebut mikrofon gerakan Islam lalu bernyanyi lagu dengan genre 'Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam'.
Secara institusional, bolehlah disebut bahwa JIL kini hanya tinggal pusaranya saja. Setelah lembaga donor yang membiayai periuk nasi aktivis JIL berhenti mengucurkan dana, gaung gerakan itu perlahan menghilang dari ruang publik. Karena dasar motivasi JIL mengasong paham Islam Liberal memang mencari duit, maka ketika subsidi dicabut, ya wasalam.
Satu waktu—usai acara Bedah Buku Kyai Kocak vs Liberal di PT. LG, Cibitung, Bekasi, pada Selasa, 28 Mei 2013—seorang aktivis dakwah di perusahaan itu curhat kepada saya. Aktivis dakwah ini mengaku lulusan Fakultas Ushuluddin Jurusan Akidah Filsafat satu kelas dengan beberapa pentolan JIL Dia bilang begini:
"Mereka itu jadi liberal karena takut jadi sarjana 'Madesu' alias sarjana 'Masa Depan Suram'. Uangnya besar dari lembaga donor."
Begitulah bunyinya. Karena itu, klaim bahwa gerakan Islam Liberal diperlukan untuk menghadirkan Islam tetap segar dan relevan dengan tuntutan zaman hanya omong kosong belaka.
Mencermati perkembangan terakhir, aroma pemikiran liberal tidak lagi disuarakan oleh JIL karena jaringan ini sudah 'almarhum'. Gagasan liberal lalu berpindah tangan kepada para buzzer yang gemar memancing di air keruh sambil menempel pada kekuasaan. Beitulah cara mereka bertahan hidup.
Para buzzer ini gemar melempar isu, memancing perdebatan, serta menebar provokasi yang memecah belah anak bangsa—sering memainkan isu-isu SARA. Mereka kerap bicara soal shalat, tafsir Al-Qur'an, masalah akidah Islam secara serampangan, bahkan kerap menyerang Islam.
"Emang pantes, buzzer model si Ade Armando ngomong tafsir dan menyebut kagak ada perintah shalat lima waktu dalam Qur'an? La coba itu!"
Kiai Adung gerah dan tidak bisa lagi hanya duduk sambil menyeruput kopi menyaksikan kelakuan mereka.
"Awas lu, ye! Ini kagak bisa didiemin. Tuman!" kata Kiai Adung.
Namun, aksi Kiai Adung kali ini berbeda. Ia tampil lebih hidup, lebih greget, dan lebih visual. Jika kemarin aksi-aksi Kiai Kocak ini hanya dinikmati dalam narasi fiksi yang mampu merebut perhatian pembaca dari berbagai kalangan—bahkan hingga anak-anak sekolah dasar—kali ini Kiai Adung hadir dalam bentuk komik. Boleh jadi, respons pembaca akan jauh lebih antusias. Semoga demikian.
Komik Kiai Kocak yang akan segera hadir ini bak pengobat rindu fans Kiai Adung. Beberapa waktu ke belakang, banyak pembaca bertanya kapan seri Kiai Kocak terbaru akan terbit kembali. Semoga saja Kiai Kocak versi komik ini mengobati kerinduan mereka yang sudah lama terpendam.
Anda penasaran? Saya juga.
Pelataran Masjid Nabawi, Madinah Al-Munawwarah
Senin, 06 Muharram 1448 H/22 Juni 2026 M.






