A homepage subtitle here And an awesome description here!

Selasa, 25 Agustus 2026

Iman, Kebebasan, dan Hari Bermuhammadiyah

Kebetulan bertemu usai mengikuti pengajian Hari Bermuhammadiyah ke-10 Muhammadiyah Kota Depok dengan narasumber, Dr. H. Bachtiar Dwi Kurniawan, S.IP., M.PA. Ada kawan lama juga, Muhammad Abdul Halim Sani (paling kiri). 

Matā ista‘badtum al-nāsa, wa-qad waladathum ummahātuhum aḥrāran?
Hari ini, Selasa 12 Rabī‘ul Awwal 1447 H, bertepatan dengan 25 Agustus 2026 M warga Persyarikatan Muhammadiyah Kota Depok mengunduh pencerahan. Seberapa banyak perolehan pencerahan mereka, bergantung kesiapan daya intelektual masing-masing.

Adalah Dr. H. Bachtiar Dwi Kurniawan, S.IP., M.PA., menyampaikan kuliah umum yang cukup menarik, santai, dan bernas pada acara Hari Bermuhammadiyah Ke-10 Kota Depok. Ketua Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) PP. Muhammadiyah ini menyinggung banyak poin penting dari durasi hampir satu jam lebih beliau berbicara.

Boleh jadi, di antara para Pengurus Muhammadiyah di Cabang dan Ranting, sayalah yang paling sedikit hasil unduhannya. Bila saja hadir di Masjid At-Tanwir, Bojongsari tempat acara ini dihelat ibarat orang yang datang untuk mengunduh buah mangga yang sudah ranum di kebun, saya hanya membawa pulang satu tangkai saja ke rumah. Bukan karena di kebun mangganya sedikit, melainkan kecakapan saya memetik yang tidak cukup.

Gus Bach—panggilan akrab Pak Bachtiar—ada menyinggung bahwa dakwah Nabi Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam tidak lain untuk memerdekakan umat dari belenggu aqidah jahiliyah, sosial, politik, dan ekonomi.

Memang, begitulah juga yang dihadapi Kiai Dahlan pada awal mula mendirikan Muhammadiyah. Kata Kiai Dahlan, ”Karena itu, aku terus memperbanyak amal dan berjuang bersama anak-anakku sekalian untuk menegakkan akhlak dan moral yang sudah bengkok. Kusadari bahwa menegakkan akhlak dan moral serta berbagai persoalan Islam yang sudah bengkok memang merupakan tugas berat dan sulit.” [1]

Kebengkokan yang ingin diobati Kiai Dahlan sebenarnya sudah menyebar bagai sel kanker pada semua sendi kehidupan anak bangsa. Pendek kata, Kiai Dahlan berjuang dengan spirit tajdidnya agar umat bisa keluar dari belenggu akidah yang bengkok—karena dominasi syirik, khurafat, takhayul, dan bid’ah—pendidikan yang buruk dan dikotomis, ketimpangan sosial yang menelantarkan, dan kesehatan yang memarjinalkan orang-orang miskin.

Di sini menurut Gus Bach—seperti yang saya pahami— Muhammadiyah hadir dengan semangat dakwah untuk memerdekakan umat dari akidah yang sudah bengkok sebengkok-bengkoknya itu dengan titik tekan pada purifikasi.

Saya amat tertarik dengan poin Gus Bach yang ini. Bukan tidak tertarik pada semua poin ceramah sepanjang beliau berbicara, melainkan soal kecakapan memetik tadi. Jadi, poin ini ibarat setangkai dari buah mangga yang saya bawa pulang, mangga yang paling manis di lidah saya. Andaikata ada waktu yang cukup, saya berharap akan ada pengayaan dari poin ini dari Gus Bach di kemudian hari, agar manisnya terasa lebih marem.|

Virginia Declaration of Rights
—banyak orang bilang sangat revolusioner—memuat rumusannya yang sangat terkenal: “That all men are by nature equally free and independent and have certain inherent rights …” baru dirumuskan pada 12 Juni 1776. Akan tetapi, kalimat ini menjadi inspirasi bagi Thomas Jefferson saat ia menulis Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat, memengaruhi pembentukan United States Bill of Rights, dan menjadi acuan dokumen hak asasi manusia di negara lain, termasuk Perancis.

Namun, tahukah kita, bahwa Sayyidina ‘Umar bin al-Khattab, Khalifah Rasyidah ke-2—memerintah tahun 634–644 M/13–23 H—sudah berkata begini: “Matā ista‘badtum al-nāsa, wa-qad waladathum ummahātuhum aḥrāran?” [2].

Bahkan sebelumnya, Rasulullah sudah pula menulis Ṣaḥīfah al-Madīnah atau Piagam Madinah dalam konteks politik. Ṣaḥīfah al-Madīnah memberikan ruang bagi kelompok-kelompok berbeda untuk hidup dalam satu komunitas politik, dengan pengakuan terhadap kebebasan masing-masing. Memang, semangat pembebasan dalam dakwah Rasulullah tidak hanya tampak dalam pembebasan manusia dari penghambaan kepada selain Allah, tetapi juga dalam kehidupan sosial-politik Madinah.|

Sebuah buku yang mengulas tentang Iman, kebebasan, dan tirani yang ditulis Ḥākim al-Muṭairī berjudul Taḥrīr al-Insān wa Tajrīd al-Ṭughyān[3] menarik dibincangkan sedikit di sini. al-Muṭairī menegaskan bahwa kebebasan adalah karunia Ilahi. Ia merupakan bagian dari iman dan kebutuhan manusia.

Nilai kebebasan—dalam Islam—terletak pada ruhnya bahwa ia merupakan tujuan dari kalimat tauhid, “Lā ilāha illallāh.” Dengan beriman hanya kepada Allah dan memurnikan tauhid hanya untuk-Nya, terwujudlah kebebasan yang tidak ada sesuatu pun yang lebih tinggi dan lebih bermanfaat daripadanya. Karena itu, menurut al-Muṭairī “Al-Ḥurriyyah Rūḥ al-Tawḥīd”, bahwa kebebasan adalah ruh tauhid.

Islam juga memandang, bahwa kebebasan merupakan hak asasi yang hadir bersama manusia sejak ia dilahirkan. Bahkan, tidak ada makna kemanusiaan tanpa kebebasan, dan tidak ada nilai bagi manusia tanpa kebebasan.

Maka, menjadi sangat penting untuk memahami lagi satu poin dari ceramah Gus Bach, yaitu kalimat “Lā ilāha illallāh.” Saya menggarisbawahi, ada tiga poin penting di sini, pertama, tauhid sebagai ruh kebebasan; kedua, dakwah purifikasi Muhammadiyah yang memerdekakan umat dari akidah yang bengkok, dan; ketiga, perlunya warga Persyarikatan terus mewujudkan kemerdekaan lahiriah dan batiniah.

Konon, di negeri Konoha, makna tauhid telah direduksi. Tauhid kepada Allah dalam hal kekuasaan dan kedaulatan digantikan para penguasa tiran dan orang-orang yang sewenang-wenang. Mereka diperlakukan sebagai “rabb” bagi orang-orang yang menjadi hamba, sebagai raja bagi rakyat mereka.

Apatah lagi yang lebih mengerikan, para hamba itu tidak sedikit bergelar akademisi, intelektual, pemuka agama, politisi, dan para pejabat serta buzzer-buzzer penjilat. Na'udzubillah wa amit-amit. Semoga fenomena reduksi aqidah ini tidak terjadi di negeri ini yang katanya sudah merdeka sejak 81 tahun yang lalu.

Bagi warga Persyarikatan Muhammadiyah Kota Depok, selamat menikmati Hari Bermuhammadiyah dan anugerah kemerdekaan dari belenggu kolonialisme.|

Depok, 25 Agustus 2026 M.


-----

[1]. Anshoriy Ch, M. Nasruddin. 2010. Matahari Pembaruan: Rekam Jejak K.H. Ahmad Dahlan. Yogyakarta: Bangkit Publisher.

[2]. “Sejak kapan kalian memperbudak manusia, padahal ibu-ibu mereka telah melahirkan mereka dalam keadaan merdeka?”

[3]. Al-Mutairi, Hakim. 2009. Taḥrīr al-Insān wa Tajrīd al-Ṭughyān: Dirāsah fī Uṣūl al-Khiṭāb as-Siyāsī al-Qur’ānī wan-Nabawī war-Rāshidī. Beirut: al-Mu’assasah al-‘Arabiyyah li ad-Dirāsāt wan-Nasyr, dalam versi digital. Salah satu tema sentral buku ini adalah hubungan antara tauhid, kebebasan manusia, dan penolakan terhadap tirani (ṭughyān).

Sabtu, 08 Agustus 2026

Komik Dakwah dan Kiai Adung

 

Wajahmu. Ilustrasi komik Kyai Kocak karya Vbi_Djenggotten.


Sebuah buku—termasuk komik— bisa dikatakan bagus bila ia punya tiga daya: daya gugah, daya ubah, dan daya pikat. 
Dakwah secara mendasar merupakan seruan, ajakan, dan upaya penyampaian pesan kebaikan serta nilai-nilai keagamaan. Di era komunikasi visual saat ini, metode penyampaian dakwah tidak lagi terbatas pada mimbar tradisional, ceramah tatap muka, atau teks literatur yang tebal. Pendekatan visual menjadi kebutuhan penting agar ajaran moral dan spiritual dapat menjangkau khalayak yang lebih luas, terutama generasi muda yang terbiasa dengan konsumsi media visual cepat.

Dalam konteks ini, komik muncul sebagai salah satu media dakwah yang sangat efektif. Melalui perpaduan antara seni visual dan kekuatan narasi, komik mampu menyederhanakan gagasan-gagasan keagamaan yang kompleks menjadi sajian yang lebih renyah, intuitif, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari tanpa mengurangi substansi ajaran yang diusungnya.

Keunggulan utama komik terletak pada sinergi antara teks dan ilustrasi. Dalam komunikasi dakwah, ilustrasi visual bertindak sebagai jembatan pemahaman yang mampu memperjelas konteks dan emosi dari pesan yang ingin disampaikan.

Dari perbincangan ringan beberapa komikus yang concern dengan komik dakwah yang saya dengar, saya punya kesimpulan bahwa komik cukup efektif sebagai media penyederhana konsep. Hukum fikih yang berat, kisah sejarah kenabian (sirah) yang ‘njlimet’, hingga konsep akhlak yang abstrak dapat divisualisasikan melalui adegan dan dialog tokoh. Pendekatan ini memudahkan pembaca dari berbagai latar belakang usia untuk mencerna ajaran Islam tanpa merasa dihakimi.

Pendekatan humor dan otentisitas pesan melalui komik juga terasa natural. Humor yang cerdas dan kisah keseharian dalam komik dakwah—seperti interaksi antarwarga, persoalan kehidupan sosial, perjalanan spiritual pribadi, hingga kritik atas pemikiran keislaman yang ‘aneh-aneh’ atau menyimpang—mampu menghadirkan nuansa dakwah yang hangat, ramah, dan manusiawi (humanis).

Hal yang sangat penting dari komik—termasuk komik dakwah—adalah soal daya tarik emosional. Ekspresi wajah dan gestur karakter dalam panel komik memberi dimensi emosional yang sering kali sulit dicapai hanya dengan teks polos. sehingga nilai kepedulian, keikhlasan, dan empati lebih mudah tersampaikan.

Saya rasa, komik dan humor itu punya kesamaan karakter dan daya pikat, yakni sama-sama menghibur dan menggembirakan. Komik dan humor bisa dipertemukan untuk mengangkat karakter “Basysyirū wa lā tunaffirū”berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari/menjauh—dalam konteks dakwah.

Boleh jadi—ini baru asumsi saya—pembaca seperti sedang diajak ‘ngaji’ dengan suasana gembira melalui komik. Dalam batas-batas tertentu, ‘ngaji’ memang harus menggembirakan, meskipun tema pengajian mengulas dogma yang dianggap menakutkan seperti soal neraka. Di tangan komikus yang paham agama, skil menggambar yang keren, dan naskah humor yang apik, ‘ngaji’ tentang neraka pun jadi menyenangkan—menumbuhkan kesadaran akan siksa neraka dan gembira mengamalkan amalan yang membebaskan dari api neraka.

Meminjam book values-nya Bambang Trim, sebuah buku—termasuk komik— bisa dikatakan bagus bila ia punya tiga daya: daya gugah, daya ubah, dan daya pikat. Jadi, komik harus menggugah, mengubah, dan memikat. Karena ia komik dakwah, maka daya gugah, ubah, dan pikat-nya mengarah pada nilai-nilai Islam sebagai agama yang membawa misi keselamatan, kemaslahatan, dan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Di ranah kebudayaan populer, komik dakwah bertindak sebagai sarana counter-narrative terhadap gempuran media hiburan yang semata-mata berorientasi pada konsumerisme atau nilai-nilai yang bertolak belakang dengan etika keagamaan. Komik dakwah membuktikan bahwa konten bernilai keagamaan juga bisa dikemas secara estetis, kreatif, dan menghibur.

Asalkan konsisten pada nilai-nilai dakwah Islam, komik efektif sebagai sarana penanaman nilai sejak dini. Komik memberikan ruang yang aman dan menyenangkan bagi anak-anak serta remaja untuk belajar tentang akhlak, kejujuran, dan toleransi. Karakter-karakter ikonik dalam komik seringkali menjadi figur teladan (role model) visual bagi mereka.

Komik juga bisa menjadi jembatan generasi. Komik dakwah mampu meruntuhkan canggungnya batas komunikasi antar-generasi. Pesan moral yang disampaikan lewat media populer ini terasa lebih egaliter, santai, dan tidak menggurui.|


Pada 2013, melalui buku Kiai Kocak Vs Liberal, saya bereksperimen menulis buku counter-liberalisme dengan pendekatan humor. Kiai Adung—karakter rekaan sang Kiai Kocak—saya gambarkan sebagai kiai kolot, cerdas, tapi juga jail. Dengan kekolotan, kecerdasan, dan kejailannya, Kiai Adung menimpali logika gerombolan liberal dan membuat mereka kecele.

Meskipun Kiai Kocak Vs Liberal baru hampir termasuk buku best seller, akan tetapi, karakter Kiai Adung sempat merebut hati pembaca buku ini. Hanya saja, sejak 2017, karena kegiatan literasi menulis di perpustakaan sekolah tempat saya mengajar cukup menyita waktu, cerita fiksi Kiai Kocak Vs Liberal tidak saya teruskan.

Kiai Adung nyaris saya lupakan. Namun, karakter fiksi Kiai kolot yang cerdas dan jail ini masih melekat di dalam benak. Maka, saat Mbak Aminah Mustari, Chief Editor Salsabila—imprint dari penerbit Pustaka Al-Kautsar—mengajak berbincang menjajaki kemungkinan “menghidupkan” kembali Kiai Adung dalam versi komik, uh, rasa hati senang sekali.

Boleh jadi, Salsabila melihat peluang komik sebagai media dakwah kontemporer masih memiliki potensi yang sangat besar untuk terus berkembang. Saya juga percaya, Salsabila paham betul bahwa efektivitas komik dakwah tetap bergantung pada keberimbangan antara kreativitas artistik dan keakuratan pemahaman agama. Apalagi, penerbit ini di bawah payung Pustaka Al-Kautsar, penerbit buku-buku Islam yang cukup selektif dalam mengawal paham agama yang sahih.

Rabu kemarin, 5 Agustus 2026, pesan WA masuk mengabari.

"Assalamu alaikum Mas Abdul. Sudah terima draft naskah siap cetak Kiai Kocak kan, ya?"

Dan, saya berbinar.

Jadi, begitulah. Kiai Adung akhirnya “hidup” lagi. “Have a good wait, Abdul."


Malam Minggu, 8 Agustus 2026.

Kamis, 09 Juli 2026

Host Uji Coba

Dari kanan, Prof. Dr. Imam Subchi, M.A., Alwanih, SH., MH., CTA., CPM., CM., CPArb., Cli., dan saya. 

Saya udah bilang dari kemaren. Ini host-nya Pak Abdul. Siapin mic yang bagus!"

Dua kali panggilan tak terjawab. Jam segitu, memang saya tidak sedang memegang gawai. Jadi, pasti luput siapa pun yang memanggil. Maafkan, bukan saya tidak aware.

"Waduh, dari pejabat," keluh saya setelah membaca siapa yang menghubungi.

Ditelpon pejabat Humas itu ngeri-ngeri sedap. Hati dak-dik-duk. Takutnya, saya punya salah yang berdampak pada citra madrasah di mata publik jadi buruk. Wah, punishment, nih. Hihihi, su'uzhan di menit pertama.

Instink birokrasi pegawai memang begitu. Dia pasti terusik bila ditelpon kolega yang memegang jabatan pada lembaga tempat bekerja. Prasangka buruk pasti bermain sebelum memikirkan banyak kemungkinan yang lain-lain yang netral. Karena itu sifat bawaan, "su'uzhan thinking" menjadi absah.

Akan tetapi, saya punya argumen. Jadi, menduga bakal diberi sanksi oleh atasan, masih lebih elegan dalam konteks ini daripada "husnuzzhan thinking" menyangka akan diberi gula-gula. Hahahaha. Bukan begitu Pak Maher Zen KW3?

Maka, dengan alasan etika komunikasi, segera saya menelepon balik. Ini standar yang umum dilakukan siapa saja. Bila perlu, jangan sampai keduluan dihubungi lagi untuk kali ketiga. Bila pun harus menunggu panggilan ketiga, pastikan panggilan dijawab. Begitu etikanya kata Pak Aje,  kawan saya yang pustakawan yang pecak gurame olahan istrinya oke banget. Hihihihi.

Begitulah setelah tersambung, rupanya diberi tugas menjadi host untuk program podcast MP UIN Jakarta.

Bujug buneng! Seumur-umur, terhitung langka diminta jadi host. Kalo nulis, sering. Salah alamat ini.

Tapi, diundang oleh host, pernah. Dulu, duluuu banget, pernah diundang media broadcasting untuk siaran televisi lokal di Depok. Pernah juga diundang bedah buku Kiai Kocak on air sebuah stasiun radio swasta di daerah Jakarta Selatan. Jadi, 'gak grogi-grogi amatlah ngomong di depan kamera dan cuap-cuap di bibir mikrofon.

Tapi, ini jadi host. Ini beda mental. Diterima, gimana. 'Gak terima juga gimana. Masalahnya juga, narasumbernya bukan orang biasa. Materi podcast-nya pun materi kelas berat, sensitif pula. Apatah lagi, karena baru pulang dari Arab, mata saya lagi sensitif merem. Bawaannya ngantuuuk aja. Takutnya lagi jadi host, serangan kantuk datang dan saya tertidur. Kan, 'gak lucu.

Akhirnya, setelah memperhatikan, menimbang, memutuskan, menetapkan memerima jadi host. Bismillah, hitung-hitung nambahin portofolio buat lampiran ngelamar kerja bila sudah pensiun dari MP kelak. Qiqiqiqiqi.

Jadi, topik podcast tadi siang itu "Amanat Integrasi KMA 1543”. Bagi masyarakat umum, topik ini mungkin dianggap biasa, bahkan kurang penting. Wajar sih, karena ada keterputusan konteks dengan dinamika Madrasah Pembangunan UIN Jakarta.

Namun, tidak bagi civitas akademika Madrasah Pembangunan, wali murid, dan stakeholder yang selama ini berjalan bersama memajukan madrasah ini. Ada ruang diskusi, dialog, pembentukan yang cenderung perang opini di media lokal, bahkan seteru yang belum sepenuhnya sepi sejak diberlakukan KMA 1543 tentang integrasi Madrasah Pembangunan dengan UIN Jakarta. Apa topik ini bukan topik berat dan sensinif, eh, sensitif?

Untungnya ada bahan belajar. Saya putar dua episode podcast sebelumnya. Topiknya serupa, tapi dengan kedalaman poin of view yang berbeda. Selain sosok pembicara dan isi perbincangan, angel yang saya cermati betul-betul adalah host-nya. Ooh, begitu toh jadi host.

Gimana seorang host bisa begitu santai dan bisa membangun komunikasi perbincangan yang mengalir. Itu kuncinya. Karena alasan tertentu, tinggal punya waktu sehari setelah ditelpon, saya belum sempat pinjem kuncinya, tahu-tahu sudah hari Kamis, hari eksekusi.|

Jantung rasa mau copot. Narasumber sudah duduk manis di kursi masing-masing. Gugup saya sudah mereda. Kamera sudah siap. Lha, dua mic kagak ada kabelnya.

Saya melipir, menjauh dari narasumber. Disusul Bang Rudi dan seorang kru. Kru ini tampak kecewa berat.

"Saya udah bilang dari kemaren. Ini host-nya Pak Abdul. Siapin mic yang bagus!"

Berasa melayang. Mungkin maksudnya, dengan mic yang bagus, pembawaan saya jadi bagus. Maklum, host uji coba. Hihihihi.

Waktu terus berjalan. Lima menit, sepuluh menit, dan lima belas menit. Narasumber masih duduk manis. Saya pengen nangis, cuma 'gak jadi, malu.

"Gimana, Rud?" Tanya saya.

Rudi agak gelisah. Sempet kepikiran dua mic diganti rekaman HP saja. Kru gak setuju karena akan banyak problem saat sinkronisasi editing gambar dan suara. Bagian ini saya 'gak ngerti, blas. Mikirin gimana jadi host saja sudah klenger.

Ah, pokoknya seru, dah. Tak cukup ruang buat diceritakan di sini.

Jalan keluar datang di saat yang tepat. Tipis harapan podcast bisa berlangsung, bersemi lagi. Mic pinjaman dari media UIN jadi penyelamat. Wajah Rudi dan kru semringah. Podcast berjalan wajar. Narasumber fasih sekali menjawab pertanyaan sesuai topik. Tapi, host masih deg-degan nunggu hasil editing.

Hooray, it's time to enjoy some sleep!

Depok, 9 Juli 2026 M, di penghujung libur akhir semester.



Sabtu, 27 Juni 2026

Haji di Zaman Kamera: Antara Sertifikat Keikhlasan dan Pencitraan






Karikatur swafoto di depan Ka'bah. Foto credit: https://www.tiktok.com/discover/gambar-kartun-pasangan-di-depan-kakbah

Jadi, ini bukan soal lucu atau tidak lucu dan bukan perbandingan etik haji disepadankan dengan kursus hanya karena selembar dokumen sertifikat.

Musim Haji tahun 1447 H telah berakhir. Jemaah haji hampir sebagian besar dipastikan telah kembali ke tanah air masing-masing. Boleh jadi, rasa lega, bahagia, dan haru bercampur dengan rasa rindu agar bisa kembali lagi berhaji bila kesempatan itu datang.

Pemerintah Arab Saudi melalui Wizārat al-Ḥajj wa al-ʿUmrat as-Suʿūdiyyat (Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi) menerbitkan Syahadah (sertifikat) sebagai dokumen simbolis ucapan selamat kepada jamaah atas penyempurnaan rukun Islam yang kelima.

Kali pertama Syahadah ini diterbitkan pada musim Haji 1445 H. Sertifikat ini memuat ucapan selamat resmi dari kementerian atas terlaksananya ibadah haji dan menjadi kenang-kenangan simbolis yang terdokumentasi dari perjalanan spiritual yang dapat disimpan secara digital atau dicetak.

Penting?

Penting tidak penting, tergantung kebutuhan masing-masing jemaah. Menurut penjelasan Kementerian Haji dan Umrah, Sertifikat Penyelesaian Haji 1447 H diberikan kepada dua kelompok utama: jemaah haji (al-ḥujjāj) dan Petugas Layanan Haji (al-ʿāmilūn fī mawsim al-ḥajj).

Setiap orang yang memperoleh izin haji resmi untuk musim haji 1447 H, baik dari dalam Arab Saudi maupun melalui paket haji luar negeri lewat platform Nusuk Hajj, serta telah menyelesaikan manasik dengan baik berhak mendapat sertifikat. Demikian pula bagi para pegawai dan petugas yang bekerja di bawah pengawasannya selama musim haji sebagai bentuk penghargaan atas upaya mereka dalam melayani para tamu Allah sebagai penghargaan dan apresiasi.

Karena sifatnya hak—bukan kewajiban—maka setiap jemaah atau petugas bebas memilih haknya untuk mengambil sertifikat ini atau mengabaikannya sama sekali. Tidak pula ada keharusan untuk mengambil dan tidak pula terkena sanksi bagi yang mengabaikan. Jadi, ini bukan soal lucu atau tidak lucu dan bukan perbandingan etik haji disepadankan dengan kursus hanya karena selembar dokumen sertifikat.

Apakah sertifikat ini mengurangi keikhlasan berhaji?

Bisa ya, bisa tidak. Bila sertifikat itu dipamer-pamerkan dengan niat untuk diketahui banyak orang dan berharap pujian, boleh jadi ada unsur riya di sana. Namun, bila dokumen sertifikat itu disimpan rapi untuk diri sendiri lalu satu waktu berguna untuk syarat administrasi yang berhubungan dengan keabsahan mengikuti suatu program, bahkan sertifikat ini bisa menjadi keberkahan tersendiri.

Bila diukur dengan soal keikhlasan, ada yang lebih menohok untuk direnungkan dari sekadar penting dan tidak pentingnya sertifikat haji pemerintah Saudi. Sebuah artikel berjudul “Al-ḥajj fī zamani al-kāmīrā.. bayna al-ikhlāṣ wa al-istiʿrāḍ”: Haji di Era Kamera: Antara Keikhlasan dan Pencitraan. Rasanya, hampir tidak ada jemaah haji yang lolos dari argumentasi artikel yang dipublikasi pada 2026 oleh Muḥarrir al-Islām wa al-Ḥayāt.

Rasanya, dua paragraf pertama artikel ini saja sudah menampar wajah menjadi memerah menahan malu yang sangat. Bagi orang yang wara, boleh jadi rasa malunya di hadapan Allah jauh lebih dalam daripada rasa malu pada dirinya sendiri dan orang lain gara-gara kamera itu.

Malāyīnu aṣ-ṣuwari nutābi‘uhā ‘alā syabakāti at-tawāṣuli al-ijtimā‘iyyi liḥujjājin yu’addūna manāsikahum, baynamā fī yadi mu‘ẓamihim hātifun yusajjilu fīhi bidiqqatin kulla ḥarakah, ṣāra al-masyhadu ma’lūfan; du‘ā’un yultaqaṭu fī muwājahati al-ka‘bati aw mustadbiran iyyāhā, wa khusyū‘un yu‘ādu tartībuhu liyatanāsaba ma‘a jawdati al-maqṭa‘i, wa laḥẓatun bayna al-‘abdi wa rabbihi tataḥawwalu ilā laqṭatin qābilatin li an-nasyri, kamaqṭa‘in yu‘ādu, aw ṣūratin limilaffin syakhṣiyyin.

Inna asy-syaʿīrata allatī kāna yaḥriṣu as-sābiqūna ʿalā ikhfāʾihā, lam yaʿudi al-muslimu muktafiyan biʿaysyihā, bal aṣbaḥat qābilatan li an-nasyri, wa tubatstsu laḥẓatan bilaḥẓah, liyabruza suʾālun yajibu an yuqliqa kulla muʾaddin litilka asy-syaʿīrati al-ghāliyah: hal naʿīsyu al-ʿibādah kamā yuḥibbuhā Allāhu, am naʿriḍuhā ʿalā al-khalqi linukarrama bihā minhum?

Jutaan foto kita lihat di media sosial tentang para jamaah haji yang sedang menunaikan manasik mereka. Sementara di tangan kebanyakan dari mereka telepon genggam yang merekam setiap aktivitas dengan cermat. Pemandangan ini telah menjadi hal yang biasa: doa yang diabadikan di hadapan Ka'bah atau bahkan membelakanginya, kekhusyukan yang ditata ulang agar sesuai dengan kualitas video, dan momen antara seorang hamba dengan Tuhannya berubah menjadi gambar yang siap dipublikasikan, baik sebagai video yang diputar ulang maupun foto profil.

Sesungguhnya ibadah yang dahulu dijaga oleh generasi terdahulu untuk disembunyikan itu, kini seorang muslim tidak lagi merasa cukup hanya dengan menjalaninya, melainkan telah menjadi sesuatu yang dapat dipublikasikan dan disiarkan dari waktu ke waktu. Maka muncullah pertanyaan yang seharusnya menggelisahkan setiap pelaksana ibadah yang mulia ini: apakah kita menjalani ibadah sebagaimana yang dicintai Allah, ataukah kita mempertontonkannya kepada manusia agar memperoleh penghormatan dari mereka?
Apa hati tidak terasa remuk redam membaca narasi seperti ini?

Akan tetapi, artikel ini menjelaskan problem secara seimbang. Pada paragraf ke-10, ditulis di sana:

Hal kullu nasyrin riyāʾun?

Wa at-taʿmīmu fī kulli masʾalatin khaṭaʾun bālighun, falaysa kullu nasyrin liʿibādatin riyāʾan, fahunāka al-katsīru mina al-umūri al-makhfiyyati lā yaʿlamuhā illā Allāhu taʿālā wa ṣāḥibu al-ʿibādati nafsuhu, faqad yansyuruhā li at-tadzkīri bihā, wa qad yansyuruhā li at-tasyjīʿi ʿalayhā, wa qad takūnu musyārakatan minhu litajribatin ghayyarat min nafsihi ījābiyyan fa-aḥabba an yusyārika bihā ikhwānahu.

Apakah setiap publikasi itu riya?

Menggeneralisasi setiap persoalan adalah suatu kesalahan besar. Tidak setiap publikasi ibadah merupakan riya. Ada banyak perkara yang tersembunyi yang tidak diketahui kecuali oleh Allah Ta'ala dan pelaku ibadah itu sendiri. Seseorang mungkin mempublikasikannya untuk mengingatkan orang lain, mendorong mereka melakukan kebaikan, atau berbagi pengalaman yang telah mengubah dirinya secara positif sehingga ia ingin membagikannya kepada saudara-saudaranya.
Membangun keadaban dan peradaban sebagai salah satu sukses haji rasanya teramat berat. Beratnya seperti memindahkan gunung. Berat karena harus memelihara nilai keikhlasan berhaji di satut sisi, di sisi yang lain berat karena harus mengemban misi keadaban dan peradaban sebagai bagian dari ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. 

Keadaban dan peradaban itu hanyalah makna lain rahmatan lil alamin dari semu ritual ibadah yang dtegakkan seorang muslimIa harus tercermin dalam setiap sisi dari pribadi orang yang sudah berikrar syahadat, khusyuk dalam shalat, dawam puasa, ringan dalam zakat, dan mabrur dalam haji.

Allāhumma aʿinnī ʿalā dzikrika wa syukrika wa ḥusni ʿibādatik.
Ya Allah, tolonglah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya.

Ya Allah, jika dalam berhaji kemarin kami lalai dan lupa, maafkanlah. Jika kami sengaja, ampunkanlah. Dengan segala kedhaifan, terimalah segala amalan-amalan haji kami ini. Jadikanlah kami haji yang mabrur. Aamiin.


Depok, Sabtu, 12 Muharam 1448 H / 27 Juni 2026 M.
Menikmati hari kedua di Tanah Air.

--------
Rujukan:
https://mugtama.com/articles/الحج_في_زمن_الكاميرا_بين_ال_خلاص_والاستعراض
https://rahhal.wego.com/blog/شهادة-إتمام-الحج-1447-نسك-إلكترونيا/

Senin, 22 Juni 2026

Komik Kiai Kocak: Coming Soon

Screenshoot dari salah satu judul pada naskah psd ilustrator

Karena itu, klaim bahwa gerakan Islam Liberal diperlukan untuk menghadirkan Islam tetap segar dan relevan dengan tuntutan zaman hanya omong kosong belaka.

Kiai Adung belum mati.

Tokoh fiksi yang dikenal pembaca buku Kiai Kocak Vs Liberal sebagai kiai kolot, jail, dan ngeyel itu masih menyimpan energi untuk melawan liberalisme. Dan, seperti biasa, Kiai Adung—karakter Kiai Kocak ini—menanggapinya dengan kocak, jail, dan logis.

Dahulu, paham liberal digaungkan secara terbuka oleh para pengusungnya melalui tema-tema seperti sekularisme, pluralisme, dan liberalisme alias paham 'Sepilis'. Gerakan ini dimotori oleh Jaringan Islam Liberal (JIL). Mereka seolah merebut mikrofon gerakan Islam lalu bernyanyi lagu dengan genre 'Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam'.

Secara institusional, bolehlah disebut bahwa JIL kini hanya tinggal pusaranya saja. Setelah lembaga donor yang membiayai periuk nasi aktivis JIL berhenti mengucurkan dana, gaung gerakan itu perlahan menghilang dari ruang publik. Karena dasar motivasi JIL mengasong paham Islam Liberal memang mencari duit, maka ketika subsidi dicabut, ya wasalam.

Satu waktu—usai acara Bedah Buku Kyai Kocak vs Liberal di PT. LG, Cibitung, Bekasi, pada Selasa, 28 Mei 2013—seorang aktivis dakwah di perusahaan itu curhat kepada saya. Aktivis dakwah ini mengaku lulusan Fakultas Ushuluddin Jurusan Akidah Filsafat satu kelas dengan beberapa pentolan JIL Dia bilang begini:

"Mereka itu jadi liberal karena takut jadi sarjana 'Madesu' alias sarjana 'Masa Depan Suram'. Uangnya besar dari lembaga donor."

Begitulah bunyinya. Karena itu, klaim bahwa gerakan Islam Liberal diperlukan untuk menghadirkan Islam tetap segar dan relevan dengan tuntutan zaman hanya omong kosong belaka.

Mencermati perkembangan terakhir, aroma pemikiran liberal tidak lagi disuarakan oleh JIL karena jaringan ini sudah 'almarhum'. Gagasan liberal lalu berpindah tangan kepada para buzzer yang gemar memancing di air keruh sambil menempel pada kekuasaan. Beitulah cara mereka bertahan hidup.

Para buzzer ini gemar melempar isu, memancing perdebatan, serta menebar provokasi yang memecah belah anak bangsa—sering memainkan isu-isu SARA. Mereka kerap bicara soal shalat, tafsir Al-Qur'an, masalah akidah Islam secara serampangan, bahkan kerap menyerang Islam. 

"Emang pantes, buzzer model si Ade Armando ngomong tafsir dan menyebut kagak ada perintah shalat lima waktu dalam Qur'an? La coba itu!"

Kiai Adung gerah dan tidak bisa lagi hanya duduk sambil menyeruput kopi menyaksikan kelakuan mereka. 

"Awas lu, ye! Ini kagak bisa didiemin. Tuman!" kata Kiai Adung.

Namun, aksi Kiai Adung kali ini berbeda. Ia tampil lebih hidup, lebih greget, dan lebih visual. Jika kemarin aksi-aksi Kiai Kocak ini hanya dinikmati dalam narasi fiksi yang mampu merebut perhatian pembaca dari berbagai kalangan—bahkan hingga anak-anak sekolah dasar—kali ini Kiai Adung hadir dalam bentuk komik. Boleh jadi, respons pembaca akan jauh lebih antusias. Semoga demikian.

Komik Kiai Kocak yang akan segera hadir ini bak pengobat rindu fans Kiai Adung. Beberapa waktu ke belakang, banyak pembaca bertanya kapan seri Kiai Kocak terbaru akan terbit kembali. Semoga saja Kiai Kocak versi komik ini mengobati kerinduan mereka yang sudah lama terpendam.

Anda penasaran? Saya juga.

Pelataran Masjid Nabawi, Madinah Al-Munawwarah
Senin, 06 Muharram 1448 H/22 Juni 2026 M.

Sabtu, 20 Juni 2026

Buya Hamka dan Pelacur di Tanah Suci

Ilustrasi karakter Buya Hamka. Sumber: Suara Muhammadiyah.id

Setiap orang hanya akan dipertemukan dengan apa yang dia cari.
Jadi, begini kisahnya. 

Satu waktu, sorang pria menemui Buya Hamka. Lalu, pria ini bercerita—dengan nada miring—bahwa ia begitu terkejut karena mendapati pelacur saat ia berada di kota suci Makkah.

Mendapati cerita pria ini, Buya Hamka tersenyum, lalu menimpali bercerita bahwa beliau pun baru saja pulang dari kota-kota besar di Amerika Serikat seperti Los Angeles dan New York. Akan tetapi, Buya Hamka mengaku tidak menemukan seorang pelacur pun di sana.

Pria itu tidak percaya dan berkata, "Mana mungkin Buya? Di Makkah saja ada, apalagi di Amerika yang bebas, pasti jauh lebih banyak!"

Lagi, Buya Hamka tersenyum. Lalu, dengan bahasa yang halus Buya menjelaskan, bahwa meskipun seseorang pergi ke tempat paling suci seperti Makkah, jika fokus pikiran dan hatinya adalah hal-hal buruk, setan akan menuntunnya ke sana. Sebaliknya, jika seseorang pergi ke tempat maksiat sekalipun dengan niat mencari kebaikan, ilmu, atau berdakwah, maka ia hanya akan dipertemukan dengan berbagai kebaikan.

Ini kisah legendaris Buya Hamka yang menghentak kesadaran tentang cara pandang dan niat setiap diri. Buya Hamka dengan bahasanya yang halus, sastrawi, dan menyentuh mengajak berpikir dengan kecerdasan qalbu bahwa setiap orang hanya akan dipertemukan dengan apa yang dia cari.

Sudah dimafhum, secara naluriah, apa yang menjadikan ketertarikan mata melihat dan melempar pandangan sering kali merupakan pantulan dari apa yang ada di dalam isi hati dan pikiran. Maka, setiap orang di mana pun dia berada, selalu dihadapkan pada pilihan untuk melihat sisi positif atau sisi negatif. Sedangkan orang yang arif lagi bijak akan selalu menyaring dan mencari segala kebaikan meskipun ia tersembunyi.

Kisah Buya Hamka ini menghentak kesadaran meskipun dikemas dengan bahasa teguran yang sangat halus. Pesan moralnya agar setiap diri selalu meluruskan niat—terutama saat melakukan perjalanan atau ibadah—agar tidak terdistraksi oleh hal-hal yang tidak baik. Jangan pula memperturutkan dalil aqli untuk menilai sesuatu dengan silogisme yang terlalu mekanis.|

Pada konteks berhaji, Abdul Aziz al-Kinani asy-Syafi'i, dalam kitabnya "Hidāyatu as-Sālik Ilā al-Madhāhib al-Arba‘ah fī al-Manāsik" halaman 296 menukil kisah Abdullah bin Umar yang patut direnungkan lagi. Satu kali, Abdullah bin Umar melihat berbagai perhiasan, kemewahan, dan tandu-tandu yang diadakan manusia saat perjalanan haji mereka. Melihat fenomena demikian itu, beliau berkata:

"Al-ḥājju qalīlun, wal-rākibu katsīrun."

"Betapa orang yang benar-benar berhaji itu sedikit, sedangkan rombongan yang bepergian itu banyak sekali."

Boleh jadi, tidak semua orang yang pergi ke Tanah Suci dan melaksanakan manasik haji memperoleh hakikat dan kemabruran haji. Orang yang benar-benar menjadi haji—diterima hajinya dan memperoleh buah spiritualnya— jumlahnya sangat sedikit, sedangkan yang hanya melakukan perjalanan dan ritual secara lahiriah jumlahnya begitu banyak.
 
Rasanya, ungkapan Abdullah bin Umar mengingatkan pentingnya keikhlasan, ketakwaan, kesederhanaan, dan kepatuhan pada tuntunan syariat dalam menunaikan ibadah haji. Sudah barang tentu, kepatuhan kepada tuntunan syariat berhaji orang harus rela menyingkirkan arogansi akal (jidal yang membawa mudharat) untuk sementara waktu.

Memang, manusia dibekali akal. Ia sumbu kecerdasan. Tapi, akal itu harus dibimbing adab agar arogansinya bisa diredam. Sebab bila tidak, disadari atau tidak, orang cenderung merasa lebih tahu segalanya, merasa lebih "jago" dari siapa pun dalam hal kecerdasan dan pemikiran.
 
Akal kecerdasan yang tidak dibimbing adab, serupa dengan frasa"Khalaqtanī min nārin wa khalaqtahu min ṭīn" yang diucapkan Iblis saat melontarkan argumen menolak perintah Allah untuk bersujud—sujud lil ihtiram, sujud penghormatan—kepada Nabi Adam Alaihissalam. "Engkau ciptakan aku dari api dan Engkau ciptakan dia dari tanah" adalah ucapan arogansi Iblis merasa lebih baik dari Adam yang diabadikan dalam QS. Al-A'raf [7]: 12 dan QS. Sad [38]: 76.
 
Atsar dari sahabat mulia Ali bin Abi Thalib radhiyaalu anhu boleh jadi cukup relevan dalam konteks ini:

Law kāna ad-dīnu bir-ra'yi lakāna asfala al-khuffi awlā bil-masḥi min a‘la qad ra'aytu Rasūlallāhi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallama yamsaḥu ‘alā ẓāhiri khuffaihi."
Andaikata agama dengan akal semata, tentu bagian bawah sepatu (khuf) lebih utama diusap daripada bagian atasnya. Namun sungguh, aku melihat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengusap bagian atas sepatunya." 

Demikian sikap menantu Rasulullah ini menilai posisi akal di sisi syariat.

Bila kisah Abdulllah bin Umar, putra Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhuma ini digabungkan dengan kisah Buya Hamka di muka, dan arogansi Iblis, maka fokus pada kebaikan diri dalam melaksanakan ibadah seyogyanya menjadi prioritas. Apatah lagi, setiap manusia akan dihisab oleh perbuatannya sendiri dan tidak diminta pertanggungjawaban amal buruk orang lain. Alaysa kadzalik?

Allāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.

Masjid Nabawi, Madinah Al-Munawwarah.
Sabtu, 5 Muharram 1448 H/20 Juni 2026 M.


Minggu, 31 Mei 2026

Jam Tangan di Tenda Mina

Kau boleh kehilangan jam tangan, tapi jangan pernah kehilangan waktu!


Barang ditemukan. Capture dari WA Pak Nanang.

Waktu baru menunjukkan pukul 01.15 pagi. Beberapa jamaah sudah berdiri khusyuk. Dini hari dua malam kemarin, tenda sudah berjubel dengan jamaah yang shalat malam. Dini hari ini, tenda sudah lebih lapang, sebab jamaah yang mengambil Nafar Awwal sudah kembali ke Makkah pada 12 Zulhijjah kemarin pagi. Ini malam terakhir mabit di Mina. 

Tidak ingin kehabisan waktu mustajab kemuliaan Mina, segera bergegas untuk buang hajat, mandi, dan bersuci. Segera, sebab sebelum Subuh harus sudah berada di Jamarat untuk melontar jumrah tanggal 12. Nanti setelah shalat Subuh, menyambung melontar untuk tanggal 13 sebagai penutup rangkaian kewajiban haji di Mina bagi yang mengambil Nafar Tsani.

Alhamdulillah, kamar mandi pun terasa lapang. Tidak pula ada drama kebelet yang bikin antrean terasa tidak putus-putus, sementara saluran kencing sudah terasa mau putus. Bila sebelumnya satu kamar mandi untuk empat orang mengantre, pagi buta ini, dua kamar mandi malah yang menunggu dimasuki untuk satu orang pengantre.

Waktu yang longgar, ada space untuk sarapan kilat dengan kecepatan empat suapan per detik. Menu Armuzna berupa nasi basmati putih dan rendang ayam kemasan yang dingin masuk juga ke perut. Kebetulan, malam tadi tidak sempat makan karena tak kuat lagi melawan kantuk. Jadi, antara lapar dan doyan, meskipun dingin tandas juga menu Armuzna yang sudah mulai kebas di lidah. Yang penting, cukup untuk bahan bakar berjalan kaki pulang pergi Jamarat menempuh jarak lebih kurang 6 kilometer. Dan pada suapan terakhir, baru menyadari jam tangan tertinggal di kamar mandi di samping tenda Mina.

Tidak ingin kehilangan momen, balik ke kamar mandi lagi. Namun, saat hati bertanya-tanya kamar mandi yang mana, ya? Yang ini, yang itu, apa yang ono? Tak satu pun dari kamar mandi yang menjawab. Wwkwkwkwk. Sudahlah, tapi, masih penasaran. Coba sekali lagi menyisir. Nihil.

"Jika masih rezeki, takkan ke mana ia pergi. Bila memang bukan rezeki, boleh jadi itulah yang terbaik." Hati bergumam begitu. Bahkan, nurani turut berbisik: kau boleh kehilangan jam tangan, tapi jangan pernah kehilangan waktu!

Kembali ke tenda, separuh jamaah sudah bergerak ke Jamarat. Tidak ingin kehilangan waktu, segera mengambil tas selempang, air, dan batu yang sudah disiapkan. Lalu, bergerak membuntuti jamaah Ustaz Zainal, Pembimbing Ibadah Kloter 21 yang humble itu. Dan, jam tangan di kamar mandi pun terlupakan.

Melontar hari ini mengambil jalan berbeda dari sebelumnya pada 10 dan 11 Zulhijah kemarin. Rutenya lebih berirama dengan panorama khas gurun yang unik dan memesona di malam hari. Maka, perjalanan terasa lebih ringan, hati riang, dan sesekali mengumandangkan takbir.

Sesampainya di Jamarat, di muka pintu masuk ada marka dengan tulisan terang: al-jamaraat lil-daur al-awwal. Oh, berarti jamaah akan melontar di lantai bawah, bukan di lantai tiga seperti kemarin. Alhamdulillah, selesai melontar. 70 kerikil telah melayang membentur pilar Awal, Wustha, dan Aqabah.

@

Sepulang dari Jamarat, teringat lagi pada jam di kamar mandi. Seakan hati ini belum sepenuhnya lega melepasnya berpisah. Apatah lagi, ada kenangan khusus, ada cerita di balik jam itu melingkar di lengan kanan sampai kemarin. Harga di balik kenangan itulah yang tidak bisa ditukar meskipun dengan kelipatan harganya yang standar, atau bahkan diganti dengan merk dan harga yang sama. Itu karena kenangan manis tidak akan pernah tergantikan.

Maka, saat hendak pulang ke Makkah, sekali lagi ikhtiar menyisir satu-satu kamar mandi sebelum mengantre naik bus. Namun, hasilnya tetap nihil. 
"Bismillah, Ya Allah saya ikhlas. Inilah takdir untuk saya yang terbaik." Demikian sekali lagi hati bergumam.

Bus sudah menunggu. Suara mesinnya menderu pelan.
 
"Naik! Naik!" Seru petugas memerintah.

Saat badan ikut berjejal di muka pintu, terdengar instruksi sebaliknya.

"Ini untuk Kloter 20!"

"Naik saja!" Seru petugas kembali memberi instruksi nyaris berteriak.
 
Ragu, naik atau menunggu saja jatah bus Kloter 21. "Ah, naik saja!" kata hati memerintah. Semua orang yang mengantre juga naik. Urusan ini bus untuk Kloter 20, itu cuma soal urutan. Yang penting sampai di Misfalah, bukan di Prindavan.
 
Buru-buru bergeser ke pintu paling belakang karena pintu depan dan pintu tengah sudah sesak antrean. Bukan pula kebetulan ada kursi kosong di barisan paling belakang. Rupanya, di kursi belakang inilah plot twist dari alur cerita jam tangan di kamar mandi berakhir happy ending.

Persis di depan dari kursi tempat saya duduk, seorang jamaah sedang membuka WA. Layar HP-nya jelas mencotot dan terbaca dari tempat saya duduk. Hati berdesir seperti sedang disapa bidadari. Terpaksalah saya membuka mata lebar-lebar agar tidak salah lihat pada pesan teks dan gambar sebuah jam tangan.
assalamualaikum.. sy menemukan jam tangan di kamar mandi kloter dekat jks20 , minta tolong dishare no hp sy 08129027452, nuhun.
Ya, Allah, Engkau Mahapemurah! Speechless. Karena Kemahabaikan-Mu ya Rabb, berat rasanya hati ini dan malu untuk menulis kehilangan di grup. Namun, kebaikan-Mu ya Rabb, lebih cepat dari embusan angin sebelum rasa berat dan malu itu hilang.

Kepada Pak Nanang yang WA-nya saya intip dari kursi belakang, terima kasih sudah membuka tabir. Jujur, saya sempat berpikir dan gagal menjawab tepat saat bapak bertanya: "Jam Bapak merk apa?"
 
Saya paham, Bapak sekadar ingin memastikan bahwa saya benar orang yang kehilangan. Ini perkara standar yang tidak sulit untuk saya mengerti. Memang begitulah semestinya, meskipun tidak harus dilakukan siapapun orang baik yang bernama "Nanang". Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata "nanang" adalah kata sifat (adjektiva) yang bermakna memikirkan sesuatu dalam-dalam, merenung, atau tafakur. Dengan sifat seperti ini, boleh jadi cenderung membuat orang seperti Bapak selalu berhati-hati dalam memutuskan suatu perkara.

Akan tetapi, pertanyaan Bapak telah menyadarkan dari kelalaian tidak mengenali detail jam yang sudah menemani saya lebih dari 10 tahun. Saya hanya hafal detail fisik jam itu, tapi tidak identitasnya. Namun, sejak pertanyaan itu Bapak lontarkan, saya akan mengingatnya terus bahwa jam di lengan saya adalah Edivice Casio 126.
 
Lebih-lebih, saya perlu dan harus berterima kasih kepada Bapak Abu Bakar yang menyimpan jam saya dan mewartakannya di grup Kloter 20. Boleh jadi, otak dan hati Pak Abu Bakar kepikiran dan terbebani karena melawan instruksi: "Jangan memungut barang apa pun yang tercecer atau tertinggal di area ibadah haji."
 
Akan tetapi, jiwa "Abu Bakar" Sang Khalifah yang dermawan yang membuat Sayidina Umar pun cemburu, rupanya ada juga melekat pada pribadi Pak Abu Bakar yang ini. Allah yubarik fiik, Pak Abu Bakar.
 
Boleh jadi, Allah menggerakkan hati Pak Abu Bakar menyelamatkan jam itu bukan tanpa maksud. Allah ingin menghibur saya melalui Bapak di kursi belakang bus yang membawa kita pulang dari Mina ke Makkah, pulang dari tempat suci ke tempat yang suci pula. Ini bukan peristiwa kebetulan, ini adalah bukti Kemahamurahan Allah di Tanah Suci. Bila di tanah Khatulistiwa saja Allah Mahapemurah, apalagi di Tanah Haram. Alaysa kadzalik?
 
Misfalah, hari keempat belas. 14 Zulhijah 1447 H/31 Mei 2026 M.