A homepage subtitle here And an awesome description here!

Senin, 09 Februari 2026

Kemajuan Peradaban Pada Masa Daulah Umayyah

Masjid Umayyah, Suriah Foto: Shutter Stock

A. Kemajuan Bidang Budaya (Arsitektur, Seni, dan Bahasa)

Pada masa Daulah Bani Umayyah, kemajuan dalam bidang sosial budaya ditandai dengan kemajuan beberapa cabang seni budaya seperti seni bahasa, seni suara, seni rupa, dan seni bangunan atau arsitektur.

Kemajuan seni bahasa terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Walid bin Abdul Malik. Pada masa itu terjadi penyeragaman bahasa, terutama dalam bidang administrasi dan pemerintahan. Bahasa Arab menjadi bahasa resmi. Ini berdampak pada kemajuan bahasa Arab yang cukup berarti pada masa itu.

Seni ukir dan seni pahat merupakan bidang seni rupa yang berkembang pesat. Khat Arab (kaligrafi) menjadi motif ukiran yang sangat dominan pada tembok bangunan masjid,istana, dan gedung-gedung. Khat yang ditampilkan berupa ayat Alquran, hadis, atau syair yang dipahat dan diukir menjadi hiasan yang sangat indah. Yang taerpopuler,di antaranya, gaya Tumar, Jalil, Nisf, Sulus, dan Sulusain. Tokoh kaligrafi kenamaan Bani Umayyah adalah Qutban al-Muharrir.

Contoh kemajuan dalam bidang ini dapat dilihat pada dinding Qashr Amrah (Istana Mungil Amrah), sebuah istana musim panas yang dibangun oleh Khalifah Walid bin Abdul Malik. Terletak di daerah pegunungan, sebelah timur Laut Mati sekitar 50 mil dari kota Amman, Yordania.

Masjid Baitul Maqdis di Yerussalem, Palestina, yang terkenal dengan Kubah Sakhrah, yaitu kubah batu yang didirikan pada masa pemerintahan Khalifah Abdul Malik bin Marwan pada tahun 691 M, merupakan contoh hasil kreativitas seni arsitektur peninggalan kejayaan Daulah Bani Umayyah.

Selain Masjid Baitul Maqdis, Masjid Umawi, masjid indah dengan gaya arsitektur tinggi terdapat di Damaskus yang dibangun oleh Walid bin Abdul Malik sebagai masjid istana. Ruangan masjid ini dihiasi oleh berbagai ornament yang terbuat dari batu pualam (marmer) dengan bentuk mosaik yang indah.

B. Kemajuan Bidang Administrasi Pemerintahan

Pemerintahan Daulah Bani Umayyah berlangsung selama hampir satu abad (41-132 H/661-750 M). Sepanjang kurun itu, meskipun banyak persoalan politik dan ekonomi yang dihadapi, roda pemerintahan berjalan dengan baik dan lancar karena ditopang oleh lembaga administrasi pemerintahan yang rapi. Lembaga administrasi pemerintahan ini sekaligus merupakan bentuk kemajuan Daulah Bani Umayyah.

Sebagai bagian dari kebijakan untuk menyatukan berbagai daerah di bawah kekuasaan Islam, Khalifah Abdul Malik bin Marwan memperkenalkan koin emas Umayyah pertama sebagai mata uang pada 691M. Dalam waktu. singkat, koin-koin Islam tersebut menggantikan semua koin Sassania dan Bizantium di wilayah yang dikelola Muslim.

1. Organisasi Politik (an-Nizam as-siyasi)

Organisasi ini dibentuk untuk mendukung orientasi pemerintah pada upaya perluasan wilayah kekuasaan dan penguatan politik militer. Model yang diadopsi adalah model administrasi pemerintahan Persia, Yunani, dan Romawi menyangkut sistem penggantian pucuk pimpinan, sistem politik, militer, administrasi pemerintahan dan lain-lain. Adapun lembaga emerintahannya terdiri dari:
  • Khilafah (kepala negara)
  • Wizarah (kementerian)
  • Kitabah (kesekretariatan),
  • Hijabah (pengawal pribadi khalifah)
2. Organisasi Tata Usaha Negara (an Nizham al-Idary)

Daulah Bani Umayyah membagi kekuasaannya dalam dua wilayah pemerintahan; pemerintahan pusat dan pemerintahan daerah. Pembagian ini merupakan bentuk kemajuan dari organisasi Tata Usaha Negara. Khalifah merupakan pemegang kendali pemerintahan pusat dan semua pemerintahan wilayah atau daerah. Pemerintahan daerah atau wilayah dipegang oleh gubernur yang disebut wali. Untuk memperlancar tugas-tugas pemerintahan, dibentuk diwan:
  • Diwan al-Kharraj (departemen pajak);
  • Diwan ar-Rasail (departemen pos dan persuratan);
  • Diwan al-Musytaghilat (departemen pekerjaan umum);
  • Diwan al-Khatam (departemen arsip).
3. Organisasi Keuangan Negara (an Nizham al-Maaly)

Pengelolaan keuangan negara pada masa Bani Umayah adalah dikelola dengan lembaga-lembaga berikut:
  • Baitul Mal
  • kharraj, pajak penghasilan dari tanah pertanian;
  • jizyah, pajak pendapatan yang diperoleh dari pajak individu sebagai bentuk konkret dari perlindungan negara atas jiwa dan keluarga masyarakat, terutama masyarakat non muslim
  • ’usyur, yaitu sepersepuluh yang dikenakan kepada para pedagang asing yang mengimpor barang dagangannya ke wilayah kekuasaan Daulah Bani Umayyah.
4. Organisasi Kehakiman (an-Nizham al-qadha)

Peradilan pada masa Daulah Bani Umayyah memiliki dua ciri yang sangat penting. Pertama, hakim memutuskan perkara menurut hasil ijtihadnya sendiri dalam hal-hal yang tidak ada nash atau ijma’ dan berpedoman kepada Alquran dan As-Sunnah. Kedua, lembaga peradilan pada masa itu belum dipengaruhi oleh penguasa.

Lembaga-lembaga pewradilan terdiri sebagai berikut:
  • Al-Qadha, merupakan tugas qadhi dalam menyelesaikan perkara-perkara yang berhubungan dengan agama.
  • Al-Hisbah merupakan tugas al-muhtasib (kepala hisbah) dalam menyelesaikan perkara-perkara umum.
  • An-Nazbar fi-al-Mazbalim, merupakan mahkamah tinggi atau mahkamah banding dari mahkamah di bawahnya (al-qadha dan al-Hisbah).
5. Organisasi Ketentaraan (an-Nizham al-Harbi)

Pada masa Daulah Bani Umayyah hanya orang-orang Arab atau keturunannya yang boleh menjadi panglima tentara. Sementara orang non Arab atau keturunan Arab tidak mendapatkan kesempatan dan bahkan tidak diperbolehkan menjadi panglima tertinggi di dalam ketentaraan. Pemerintahan memberlakukan undang-undang wajib militer yang dinamakan ‘Nidhomul Tajnidil Ijbary”.

Formasi pasukan:Qolbul Jaisy, komandan pasukan.
  • Al-maimanah, yaitu pasukan sayap kanan,
  • Al-maisaroh, yaitu pasukan sayap kiri,
  • Al-mutaqaddimah, yaitu pasukan terdepan,
  • Aaqah al-Jaisyi, posisi paling belakang.
Di belakang pasukan tempur:
  • Rid, yaitu pasukan logistik;
  • Talaiyah, pasukan pengintai atau intelejen.
Pasukan tempur terdiri dari: 
  • farsan, yaitu pasukan berkuda (kaveleri)
  • Rijalah, pasukan pejalan kaki ( infanteri)
  • Ramat, yaitu pasukan pemanah.

Kemajuan Peradaban Islam Pada Masa Ayyubiyah


al-Madrasa al-Zahiriyeh: Sebuah sekolah keagamaan dan mausoleum megah. Sumber foto:https://nawafir-tours.com/al-madrasa-al-zahiriyeh/

A. Kemajuan Bidang Pendidikan

Damaskus memang memesonakan. Ibnu Battuta (1304-1368 M), penjelajah muslim ternama asal Maroko satu kali menginjakkan kakinya di Damaskus. Ibnu Batuta begitu terpesona melihat kehidupan sosial masyarakat Damaskus yang dermawan dan pemurah. Banyak lembaga amal berdiri untuk membantu masyarakat miskin. Orang-orang kaya Damaskus berlomba-lomba mewakafkan tanahnya untuk pendirian sekolah, rumah sakit serta masjid.

Penjelajah muslim lainnya, Ibnu Jubair mencatat pesatnya perkembangan ilmu di Damaskus. Saat bertandang ke kota itu pada tahun 1184 M, dia menyaksikan begitu banyak fasilitas bagi pelajar asing dan pengunjung di Masjid Umayyah karena kemakmuran dan kedermawanan masyarakat Damaskus. Tidak sedikit pelajar yang ingin meraih sukses datang ke kota ini untuk belajar karena fasilitas dan bantuan sangat melimpah.

Memang, Damaskus sudah populer menjadi pusat ilmu dan pendidikan sejak era Nizhamul Mulk ( 1064 –1092 m) penguasa Seljuk, jauh sebelum era Ayyubiyah. Sepeninggal Nizam, pada abad pertengahan, di seantero kota Damaksus bermunculan madrasah atau universitas. Tercatat ada sekitar 73 perguruantinggi, 41 universitas di Yerussalem, 40 universitas di Baghdad, 14 perguruan tinggi di Aleppo, 13 universitas di Tripoli, serta 74 perguruan tinggi di Kairo. Ada pula yang menyebutkan, sebenarnya jumlah perguruan tinggi di Damaskus pada era kejayaan Islam mencapai 150 buah. Madrasah favorit dan terbaik di dunia saat itu ada di Damaskus, yaitu madrasah Al-Nuriyyah Al-Kubra yang didirikan oleh Khalifah Nuruddin. Tidak heran, pada masa Ayyubiyah pun, Damaskus tetap menjadi pusat ilmu dan pendidikan.

Pembangunan-pembangunan madrasah menjadi contoh kemajuan bidang pendidikan masa Ayyubiyah. Lembaga-lembaga pendidikan yang dibangun bukan hanya bertujuan untuk pendidikan formal semata, melainkan juga untuk penyebaran Islam Sunni. Pembangunan madrasah terjadi di berbagai kota seperti di Aleppo, Yerussalem, Kairo dan Iskandariyah.

Bahkan, meski Ayyubiyah menganut teologi Sunni dan bermazhab Syafi’i, pemerintah juga membangun lembaga pendidikan untuk mazhab-mazhab fikih lain, seperti Hanafi, Hanbali dan Maliki. Meskipun, pembangunan lembaga pendidikan mazhab Syafi’i lebih mendominasi. Tapi hal tersebut menunjukkan bahwa Shalahuddin tidak menutup kesempatan kepada masyarakat untuk mempelajari mazhab lain.

Kesejahteraan guru dan siswa pada masa itupun sangat terjamin. Para guru selain dibayar, mereka juga diberi tempat tinggal dan hidup bersama siswa. Siswa di sana juga diwajibkan untuk tinggal di asrama yang telah disediakan. Kebijakan ini bertujuan agar siswa mendapatkan kesempatan belajar yang cukup leluasa. Mereka tidak hanya mempelajari ilmu pengetahuan, melainkan juga keterampilan lainnya bersama guru.

Intensitas pertemuan mereka dengan gurunya juga sangat banyak. Saat itu, lembaga pendidikan menjadi tempat yang sangat bergengsi. Orang-orang yang hendak bekerja di pemerintahan harus dipastikan telah lulus dari lembaga pendidikan tersebut.

Perhatian kepada guru juga sangat tinggi. Sejarah mencatat bahwa di antara waktu di mana guru mendapatkan gaji yang tidak terlalu besar adalah di masa Dinasti Ayubiyah. Hal ini karena saat itu negara sedang fokus kepada membangun angkatan perang dan program-program militer guna menghadapi pasukan salib yang menjajah sebagian wilayah kaum muslimin termasuk al Quds.

Al Imam Suyuthi rahimahullah menyebutkan, salah satu perhatian Sultan (Shalahuddin) pada masa itu kepada pendidikan adalah memberikan kepada setiap pengajar gaji sebesar 40 dinar dalam setiap bulan (sekitar 156 juta kurs rupaih) dan untuk para pengelola madrasah sekitar 10 dinar (39 juta). Lalu selain gaji pokok beliau juga memberikan tunjangan setiap harinya makanan pokok sebesar 60 rithl Mesir (kurang lebih 10 kg).

Selain madrasah-madrasah tersebut, Al-Azhar, madrasah paling berpengaruh sejak masa Dinasti Fathimiyah, seiring dengan kebijakan penyebaran paham Sunni yang dianut oleh Dinasti Ayyubiyah di bawah kepemimpinan Shalahuddin Al-Ayyubi, visi dan misi pendidikan di Al-Azhar pun ikut berubah dari Syi’ah menjadi Sunni.

Al-Azhar yang semula hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama pun terus berkembang dengan membuka kelas untuk mempelajri ilmu fisika, kimia, astronomi, biologi dan ilmu hitung. Tidak sedikit para pelajar datang dari luar negeri. Begitu juga dengan tenaga pengajarnya didatangkan dari luar negeri, seperti Abdul Latif Al-Baghdadi, seorang ahli ilmu Mantiq dan ilmu Bayan, Abu Abdullah Al-Qudha’i, ulama ahli Fikih, Hadits dan Sejarah, Al-Hufi, ahli bahasa, Abu Abdullah Muhammad bin Barakat, seorang ahli Nahwu, dan Hasan bin Khatir, ahli ilmu tafsir dan Fikih Madzhab Hanafi.

Selain membangun madrasah-madrasah, untuk menunjang pendidikan, Dinasti Ayyubiyah juga membangun banyak pasar buku. Di Mesir, pasar buku dibangunnya di sebelah timur Masjid Amr bin Ash. Di Suriah juga dibangun fasilitas penjualan buku. Buku-bukunya terkadang didatangkan dari penjuru negeri.

Perhatian kepada para pengajar pun sangat besar. Ilmuwan bernama Najmuddin Al-Khabusyani (587 H/1191 M) diberikan wewenang menangani pengajaran pada madrasah Ash-Shalahiyah, Mesir, digaji 40 dinar perbulan plus 10 dinar sebagai konselorMadrasah. Selain itu beliau juga mendapatkan tunjangan berupa roti, lauk dan air. Syekh Majduddin Muhammad bin Muhammad Al-Jini, pengajar di As-Saifiyyah, setiap bulan digaji 11 dinar serta tunjangan kehidupan lainnya.

Selain kota pendidikan, Damaskus juga terkenal sebagai kota ulama. Tidak sedikit ulama dan intelektual yang lahir, atau pernah belajar dan mukim, atau mengajar serta menorehkan karya besarnya di kota ini. Di antara mereka ada Imam Ibnu Qudamah. Nama lengkapnya Imam Al-Muwaffaq Ibn Qudamah (451-620 H/1147-1223 M). Beliau lahir di Palestina, menuntut ilmu ke Damaskus dan Bagdad, tetapi kiprah intelektual dan dakwahnya di Damaskus. Karyanya yang paling terkenal adalah Al-Mugni fii Syarh Mukhtashar Al-Khiraqi sebuah ensiklopedi hukum Islam bercorak Madzhab Hambali.Berikutnya Imam ‘Izzudin bin Abdissalam As-Syafi’i (577-660 H/1181-1262 M). Nama lengkapnya Abdul Aziz bin Abdissalam bin Abi Al-Qasim As-Sulmi Ad-Dimasyqi. Lahir dan menuntut ilmu di kota Damaskus. Gelarnya Sulthan Al-Ulama (pemuka para ulama). Beliau besar dalam tradisi fikh madrasah Syafi’i yang menjadikannya ahli di bidang fikih, ushul fikih, dan hadits. Karya-karya beliau antara lain Al-Qawa’id Al-Kubra, Al-Qawa’id Al-Shugra, Mukhtashar Shahih Muslim, Al-Fatawa Al-Mishriyah, Bidayah As-Suul fii Tafdhil Ar-Rasul, Maqashid Ar-Ri’ayah dan lain-lain.

Setelah berlalu lebih dari 50 tahun era Dinasti Ayyubiyyah, para ulama Damaksus yang fenomenal antara Syeikhul Islam Ibn Taimiyah (661-728 H/1263-1328 M), Imam Al-Hafizh Adz-Dzahabi (673-748 H/1275-1347 M), Tajuddin As-Subki (727-771 H/1327-1370 M), Ibn Qayim Al-Jawziyah (691-751 H/1292-1350 M), Imam Al-Hafizh Ibn Katsir (700-774 H-1300-1372 M), Imam Ibn Rajab Al-Hanbali (736-795 H/1336-1393 M), Imam Ibn Al-Jazari (751-833 H/1350-1429 M), Jamaludin Al-Qasimi (1283-1332 H/1866-1913 M), Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani (1332-1420 H/1914-1999 M), dan Syekh Ali Musthafa At-Thanthawi (327-1420 H/1909-1999 M).

B. Kemajuan Bidang Kesehatan

Nuruddin Zanki (1118 – 1174 M), seorang sultan di Suriah yang sangat shalih dan menyintai para ulama, di mana Ayah dan paman Shalahuddin merupakan orang-orang kepercayaan yang bekerja di bawah pemerintahan Nuruddin Zanki saat itu lebih dahulu memberikan perhatian bidang kesehatan. Nuruddin membangun Bimaristan al-Nuri di Aleppo. Secara perencanaan, rancang bangun, serta manajemen, ia sejalan dengan konsep rumah sakit di masa kini. Ibnu Abi Usaibiah (wafat 1269 M), seorang dokter dan sejarawan, pernah bekerja dan belajar di Bimaristan al Nuri. Sebagaimana dicatatnya dalam buku ‘Uyunul Athibba’ fi Thabaqatil Athibba’, ruang Bimaristan al Nuri ini dibagi menjadi tiga bagian utama: bangsal untuk ruang rawat inap pasien; ruang periksa dokter –seperti ruang poliklinik; serta ruang pendidikan dan penelitian di mana para dokter belajar dan mengajar.



Bimaristan Nur al-Din, sebuah rumah sakit dan sekolah kedokteran di Damaskus, didirikan pada abad ke-12. Saat ini bangunan tersebut menjadi Museum Kedokteran dan Ilmu Pengetahuan di Dunia Arab. Sumber foto, https://www.aramcoworld.com/articles/2017/the-islamic-roots-of-the-modern-hospital

Sedangkan kemajuan dalam bidang kesehatan dibuktikan dengan pembangunan beberapa rumah sakit dan peningkatan pelayanan kesehatan di beberapa kota. Misal, Shalahuddin membangun dua rumah sakit di Damaskus dan Kairo. Tidak hanya lembaga kesehatan untuk masyarakat, tetapi juga dibangun sekolah khusus kesehatan. Pada masanya lahirlah cendekiawan dan dokter yang juga mengabdi di rumah sakit tersebut seperti Musha bin Maimun dan Ibnu al-Baithar yang sangat masyhur itu. Beberapa dokter tidak hanya mengabdi dan bekerja di rumah sakit umum, tetapi juga ada sebagian yang mengabdi di istana dan bekerja di sana.

Selain itu, tak kurang dari delapan ruang besar yang menghadap seluruh penjuru dibangun di dalam bimaristan sebagai ruang rawat inap. Ruang rawat inap pria dan wanita dipisahkan. Ruang-ruang yang lebih kecil digunakan untuk memeriksa pasien dari ruangan atau yang datang ke bimaristan.

Aula pertemuan digunakan untuk kegiatan pertemuan dan penyuluhan, pendidikan, serta jika diperlukan, juga untuk menambah kapasitas ruang rawat. Pada dinding-dinding gedungnya— sebagaimana instruksi khalifah—dipasang kaligrafi ayat-ayat Al Quran dan hadis yang berkaitan tentang upaya pengobatan dan kesehatan.

Ada pula ruang yang berfungsi sebagai dapur umum, ruang penyimpanan obat—seperti depo farmasi di masa sekarang, serta ruang untuk sanitasi dan penampungan air untuk kebutuhan pasien—di era modern ini, semacam pusat sterilisasi alat dan bahan. Ruangan-ruangan ini mengitari satu taman besar yang disebutkan memiliki air mancur dan tetumbuhan yang diimpor dari berbagai negeri. Bimaristan al Nuri, sebagaimana disebutkan Ibnu Abi Usaibiah, bahkan sudah memberlakukan adanya bangsal khusus pasien dengan gangguan kejiwaan. Mereka ditampung di ruang besar terpisah dengan pasien di ruang rawat inap lain.

Pada masa Ayyubiyah, pembiayaan pembangunan rumah sakit diperoleh dari kas negara. Rumah sakit juga memperoleh suntikan dana dari wakaf dan hibah para kaum Muslimin. Orang-orang kaya, khususnya khalifah dan emir, memberikan hak miliknya dikelola dan hasilnya digunakan untuk merawat dan memelihara rumah sakit, wakaf-wafak itu berupa toko, tempat penggilingan tepung, dan kedai kafilah.
Prasasti di dinding Bimaristan Arghun di Aleppo, Suriah, memperingati pendiriannya oleh Emir Arghun al-Kamili pada pertengahan abad ke-14. Perawatan bagi penderita penyakit kejiwaan di tempat ini meliputi pencahayaan yang melimpah, udara segar, air mengalir, dan musik.  Sumber foto, https://www.aramcoworld.com/articles/2017/the-islamic-roots-of-the-modern-hospital

Hasil dari hibah-hibah tersebut digunakan untuk pemeliharaan rumah sakit dan biaya operasionalnya, kadang-kadang juga digunakan untuk membantu keuangan pasien yang kehilangan pekerjaan. Pasien juga diperhatikan dengan sangat baik, nama mereka ditulis dalamdaftar nama khsusu untuk mengetahui perkembangan keadaannya hari demi hari. Obat dan makanan diberikan kepada mereka secara gratis, mereka terus-menerus diperhatikan sampai benar-benar kondisi kesehatannya kembali pulih. Ketika pasien meninggalkan rumah sakit, pasien tersebut akan diberikan pakaian dan sejumlah uang untuk nafkah darurat selama masih lemah.

Adapun biaya operasional untuk bulanan dokter, perawat, asisten dokter, pembuat balai, dan pembantu diperoleh dari hasil rumah sakit yang dihitung tiap bulan. Pelayanan kesehatan untuk pasien semuanya gratis.|



Senin, 26 Januari 2026

Ayyubiyyah di Bawah Keluasaan Al-Adil dan Al-Kamil

Al-Kamil sedang dinobatkan (bertahta), dalam lukisan Scenes from the Life of St. Francis karya Benozzo Gozzoli, tahun 1452. Sumber: https://en.wikipedia.org/

Al-Malik al-‘Adil Saifuddin Abu Bakar bin Ayyub (1200-1218 M)


Al-Malik al-‘Adil Saifuddin Abu Bakar bin Ayyub adalah salah satu penguasa besar Dinasti Ayyubiyah. Ia merupakan putra Najmuddin Ayyub dan saudara kandung Sultan Shalahuddin Yusuf al-Ayyubi, dengan usia sekitar dua tahun lebih muda. Tentara Salib mengenalnya dengan julukan Saphadin. Ia lahir sekitar tahun 534 H (±1139 M), kemungkinan di Ba‘labak atau Damaskus.

Sejak kecil, Al-Malik al-‘Adil tumbuh dalam lingkungan pemerintahan dan militer. Ia dididik di bawah bimbingan Nuruddin Mahmud Zanki bersama ayah dan saudara-saudaranya. Lingkungan ini membentuknya menjadi sosok yang cerdas, hati-hati, berani, dan berpengalaman dalam urusan negara dan peperangan.

Awal Karier Politik dan Militer

Karier politik dan militer Al-Malik al-‘Adil dimulai sejak usia muda. Ia bergabung dalam ekspedisi militer ke Mesir bersama pamannya, Asaduddin Syirkuh, pada tahun 1168–1169 M. Dalam ekspedisi ini, ia diangkat sebagai salah satu pemimpin pasukan, sehingga mulai dikenal sebagai perwira yang tangguh.

Setelah wafatnya Nuruddin Zanki pada tahun 1174 M, Al-Malik al-‘Adil pernah memerintah Mesir atas nama Shalahuddin al-Ayyubi. Pada masa ini, perannya sangat besar dalam menopang kekuasaan Shalahuddin, terutama dalam menyediakan sumber daya, pasukan, dan dukungan politik untuk menguasai wilayah Syam (Suriah) serta menghadapi serangan tentara Salib antara tahun 1175–1183 M.
Pada tahun 1176 M, keperwiraannya semakin terlihat ketika ia berhasil memadamkan pemberontakan kaum Kristen Koptik di Qift, Mesir. Keberhasilan ini menambah kepercayaan Shalahuddin kepadanya.

Kepercayaan dari Shalahuddin dan Jabatan Penting

Karier Al-Malik al-‘Adil terus menanjak. Ia beberapa kali dipercaya memegang jabatan penting. Antara tahun 1183–1186 M, ia dipercaya memerintah Aleppo (Halab) sebagai gubernur. Setelah itu, ia kembali ke Mesir untuk menghadapi tentara Salib pada masa 1186–1192 M. Pada tahun-tahun berikutnya, ia juga memerintah wilayah utara Mesir hingga sekitar 1193 M.
Kedekatannya dengan Shalahuddin menjadikannya salah satu tokoh terpenting dalam pemerintahan Dinasti Ayyubiyah. Ia sering menjadi wakil Shalahuddin ketika sang sultan berada di medan perang atau di wilayah lain.

Menjadi Sultan dan Menguasai Wilayah Luas

Setelah wafatnya Shalahuddin al-Ayyubi, Dinasti Ayyubiyah sempat menghadapi berbagai konflik internal. Namun, dengan kecerdikan dan kesabarannya, Al-Malik al-‘Adil berhasil menguasai Mesir secara penuh. Pada tanggal 21 Syawal 596 H, namanya resmi disebut dalam khutbah Jumat di Kairo dan Mesir, menandai pengakuan resminya sebagai sultan.

Tidak lama kemudian, keponakannya, Al-Malik azh-Zhahir, penguasa Halab, berdamai dengannya dan mengakui kekuasaannya. Nama Al-Malik al-‘Adil disebut dalam khutbah di Halab dan wilayah sekitarnya, serta dicetak pada mata uang. Dengan demikian, Mesir, Syam, dan wilayah timur berada di bawah satu kepemimpinan.

Wilayah kekuasaannya sangat luas, meliputi Mesir, Syam, Hijaz, Yaman, Hadramaut, sebagian Jazirah Arab, Diyarbakir, dan Armenia.

Sifat Kepemimpinan dan Kebijakan

Al-Malik al-‘Adil dikenal sebagai pemimpin yang adil, bijaksana, sabar, berwibawa, dan taat beragama. Ia berusaha menghapus kezaliman, pajak yang memberatkan rakyat, minuman keras, serta berbagai perbuatan maksiat. Ia juga dikenal mencintai ilmu dan para ulama.
Perhatiannya terhadap rakyat sangat besar, terutama ketika terjadi kelaparan di Mesir. Ia banyak bersedekah dan membantu kaum miskin. Para sejarawan menggambarkannya sebagai penguasa yang mampu menahan amarah, berhati-hati dalam mengambil keputusan, dan berpikir jauh ke depan.

Hubungan dengan Tentara Salib

Dalam menghadapi tentara Salib (Frank), Al-Malik al-‘Adil tidak selalu memilih perang terbuka. Ketika keadaan menuntut stabilitas negara, ia menempuh jalan diplomasi. Pada tahun 601 H, ia menandatangani perjanjian damai dengan tentara Salib, meskipun harus menyerahkan kota Yafa serta sebagian wilayah Ludd dan Ramla.

Namun, peperangan tetap terjadi pada masa-masa berikutnya, terutama di sekitar kota Akko (Akkā). Al-Malik al-‘Adil juga beberapa kali memimpin atau mengatur pergerakan pasukan untuk menghadapi ancaman tentara Salib.

Pengakuan Khalifah dan Pembangunan

Pada tahun 604 H, setelah menetap di Damaskus, Al-Malik al-‘Adil menerima penghormatan resmi dari Khalifah Abbasiyah an-Nashir. Utusan khalifah, Syaikh Syihabuddin as-Suhrawardi, datang membawa pakaian kehormatan dan surat pengakuan kekuasaan. Upacara ini berlangsung sangat meriah dan menandai pengakuan resmi khalifah terhadap kekuasaannya.

Al-Malik al-‘Adil juga sangat memperhatikan pembangunan, khususnya pembangunan benteng pertahanan. Ia memperbaiki dan memperkuat Benteng Damaskus, serta mewajibkan setiap anggota keluarganya yang menjadi penguasa untuk membangun satu menara benteng.

Pembagian Kekuasaan kepada Anak-Anaknya

Ketika keadaan negara telah stabil, Al-Malik al-‘Adil membagi wilayah kekuasaannya kepada anak-anaknya. Al-Malik al-Kamil Muhammad memerintah Mesir, Al-Malik al-Mu‘azzam memerintah Syam, Al-Malik al-Asyraf memerintah wilayah timur, dan anak-anak lainnya memerintah daerah lain. Pembagian ini dilakukan dengan baik sehingga tidak menimbulkan perselisihan besar.
Wafat dan Warisan Sejarah

Pada tahun-tahun terakhir hidupnya, Al-Malik al-‘Adil sering berpindah antara Mesir dan Syam untuk mengurus pemerintahan dan menghadapi ancaman tentara Salib. Kesehatannya menurun seiring bertambahnya usia.

Ia wafat pada 7 Jumadal Akhir 615 H (1218 M) di sebuah desa dekat Damaskus, dalam usia sekitar 75 tahun. Jenazahnya dibawa ke Damaskus dan dimakamkan di sana.
Al-Malik al-‘Adil meninggalkan kerajaan yang luas dan stabil, serta banyak keturunan yang melanjutkan pemerintahannya. Ia dikenang sebagai pemimpin besar Dinasti Ayyubiyah yang adil, bijaksana, dan mampu menjaga persatuan kerajaan, sekaligus melanjutkan perjuangan melawan tentara Salib melalui generasi setelahnya.

Al-Kamil Muhammad al-Ayyubi (1218–1238)

Setelah wafatnya Shalahuddin al-Ayyubi pada tahun 589 H (1193 M), wilayah kekuasaan Dinasti Ayyubiyah yang luas terbagi-bagi di antara anak, saudara, dan kerabatnya. Pembagian ini menyebabkan perpecahan dan melemahnya persatuan umat Islam, karena setiap penguasa lebih mementingkan wilayah dan kekuasaannya sendiri.

Di antara keluarga Ayyubi, muncul sosok yang bijaksana dan kuat, yaitu Al-Malik al-‘Adil, adik Shalahuddin. Dengan kesabaran dan kecerdasannya, ia berhasil menyatukan kembali negara Ayyubiyah.
Untuk mengatur wilayah yang luas, Al-Malik al-‘Adil membagi kekuasaan kepada anak-anaknya:
  1. Al-Kamil Muhammad memerintah Mesir,
  2. Al-Mu‘azzam ‘Isa memerintah Damaskus,
  3. Al-Asyraf Musa memerintah Harran,
  4. sementara Al-Malik al-‘Adil tetap menjadi penguasa tertinggi.
Sultan Al-Kamil di Mesir

Ketika memerintah Mesir, Sultan Al-Kamil bin Al-Malik al-‘Adil menghadapi ancaman besar, yaitu Perang Salib Kelima.
Pasukan Salib mendarat di Damietta pada tahun 615 H (1218 M) dengan jumlah pasukan yang sangat besar.

Sultan Al-Kamil berusaha mempertahankan Mesir dengan gigih. Meskipun Damietta sempat jatuh ke tangan musuh, ia dengan cerdas memanfaatkan banjir Sungai Nil dan berhasil mengepung pasukan Salib hingga mereka menyerah total pada tahun 618 H (1221 M).

Kemenangan ini menjadi salah satu bukti kecerdikan dan kepemimpinan Sultan Al-Kamil.
Namun, setelah itu muncul konflik dengan saudaranya di Damaskus. Demi menghindari perang saudara, Sultan Al-Kamil menjalin hubungan diplomatik dengan Kaisar Frederick II dari Eropa.

Hal ini berujung pada Perjanjian Yafa (626 H / 1229 M), di mana Yerusalem diserahkan secara damai kepada pasukan Salib, meskipun Masjid Al-Aqsa tetap berada di bawah pengelolaan kaum Muslimin.

Al-Kamil Muhammad al-Ayyubi, Penguasa Mayyafariqin

Beberapa puluh tahun kemudian, muncul tokoh besar lain dari keluarga Ayyubiyah, yaitu
Al-Malik al-Kamil asy-Syahid Nashiruddin Muhammad bin Al-Malik al-Muzhaffar Ghazi, cucu Al-Malik al-‘Adil dan keturunan Shalahuddin al-Ayyubi.

Ia menjadi penguasa Mayyafariqin pada tahun 645 H. Kota Mayyafariqin terletak di wilayah yang sekarang termasuk Turki bagian timur, dekat Danau Van. Sejak muda, Al-Kamil Muhammad dikenal sebagai pemimpin yang: cerdas dan berani, berwibawa dan adil, taat beragama, dan sangat peduli kepada rakyatnya.

Ancaman Mongol dan Sikap Tegas Al-Kamil

Pada tahun 656 H, dunia Islam diguncang oleh serangan besar bangsa Mongol (Tatar) di bawah pimpinan Hulagu Khan, yang menghancurkan Baghdad dan membantai penduduknya.
Melihat bahaya besar ini, Al-Kamil Muhammad bin Ghazi mengundang para penguasa Muslim di Mosul, Aleppo, dan Damaskus untuk bersatu melawan Mongol.

Namun, ajakan ini ditolak. Banyak penguasa Muslim merasa takut dan memilih menyerah atau bersekutu dengan Mongol.

Di tengah sikap lemah para penguasa lain, Al-Kamil Muhammad berdiri teguh. Ia menyatakan jihad, menolak tunduk kepada Mongol, menguatkan iman dan semangat rakyatnya. Ia memindahkan keluarga dan penduduk ke benteng-benteng yang kuat di wilayah Amid, serta menyiapkan pertahanan kota.

Pengepungan Mayyafariqin

Hulagu Khan murka atas sikap Al-Kamil. Ia mengirim pasukan besar di bawah pimpinan putranya, Ashmut bin Hulagu, untuk mengepung Mayyafariqin. Pengepungan ini berlangsung sekitar 18–20 bulan. Selama pengepungan:
  • persediaan makanan habis,
  • wabah penyakit menyebar,
  • banyak penduduk meninggal,
  • bahkan terjadi kelaparan ekstrem.
Meski demikian, Al-Kamil tetap memimpin perlawanan secara langsung, bahkan sering keluar menghadapi musuh, sehingga pasukan Mongol merasa gentar kepadanya.

Ujian Terberat dan Kesyahidan

Dalam upaya memaksa Al-Kamil menyerah, Mongol menangkap istri dan anak-anak Al-Kamil, membawa mereka ke depan tembok kota, dan mengancam akan membunuh mereka.

Namun jawaban Al-Kamil sangat tegas: 
“Demi Allah, kalian tidak akan mendapatkan dariku kecuali pedang.”

Akhirnya, Mayyafariqin jatuh. Sekitar 7.000 pejuang Muslim gugur syahid. Al-Kamil ditemukan dalam keadaan hidup, tetapi sakit parah dan terluka, lalu dibawa menghadap Hulagu.Dengan kejam, Hulagu menyiksa Al-Kamil hingga akhirnya ia wafat sebagai syahid pada tahun 658 H, tanpa pernah menyerah atau mengkhianati imannya.

Setelah Wafat dan Makna Sejarah

Setelah wafatnya Al-Kamil, kepalanya diarak di negeri Syam, digantung di Gerbang al-Faradis di Damaskus. Ketika Sultan Baybars berkuasa, kepala tersebut diturunkan dan dimakamkan dengan hormat di sebuah masjid yang kemudian dikenal sebagai Masjid Ar-Ra’s (Masjid Kepala).

Minggu, 25 Januari 2026

Kejayaan Umayyah di Tangan Marwan, Abdul Malik, dan Al-Walid



Ilustrasi Kota Damaskus yang menjadi pusat pemerintahan Bani Umayyah dan menjadi salah satu peninggalan sejarah islam.(Wikimedia Commons)


KHALIFAH MARWAN BIN AL-HAKAM (Marwan I [64-65 H/ 683-684] M)

Marwan bin al-Hakam lahir pada tahun 2 H, dan ada pula yang mengatakan tahun 4 H, di Makkah. Saat Rasulullah  wafat, usianya sekitar delapan tahun. Karena itu, sebagian ulama menggolongkannya sebagai sahabat kecil, sementara yang lain menganggapnya termasuk tabi‘in senior. Ia memiliki riwayat hadits dalam Shahih al-Bukhari tentang Perjanjian Hudaibiyah.

Marwan bin al-Hakam khalifah keempat Daulah Bani Umayyah. Marwan pada saat itu sudah berusia lebih dari 60 tahun, dikenal bijaksana, cerdas, berani, fasih, pandai membaca Al-Qur’an, dan meriwayatkan banyak hadis dari para sahabat besar, terutama Umar bin Khattab. 

Marwan dianggap sebagai pemimpin utama Bani Umayyah di Syam. Meskipun masa pemerintahannya singkat—tidak lebih dari satu tahun—ia dianggap sebagai pendiri Dinasti Umayyah fase kedua. Melalui dirinya, kekhalifahan berpindah dari keluarga Abu Sufyan ke keluarga Al-Marwan, dan keturunannya terus memerintah Daulah Bani Umayyah hingga ke Andalusia.

Nasab dan keluarga

Ia bernama Marwan bin al-Hakam bin Abi al-‘Ash bin Umayyah bin ‘Abd Syams bin ‘Abd Manaf. Kunyahnya Abu ‘Abd al-Malik, Abu al-Qasim, atau Abu al-Hakam. Ibunya bernama Aminah binti ‘Alqamah al-Kinaniyyah. Ia memiliki beberapa istri dan anak, di antaranya ‘Abd al-Malik dan ‘Abd al-‘Aziz, yang kelak memegang peranan penting dalam pemerintahan Umayyah.

Kedudukan dan keutamaannya

Marwan memiliki kedudukan tinggi di kalangan pembesar Quraisy. Utsman bin ‘Affan sangat memuliakannya. Saat Utsman dibunuh, Marwan termasuk orang yang membelanya. Dalam Perang Jamal, ia berada di sayap kiri pasukan. Ali bin Abi Thalib pun menyukainya dan mengkhawatirkan keselamatannya ketika pasukan kalah.

Ia dikenal sebagai faqih, pembaca Al-Qur’an, tegas dalam menegakkan hukum Allah. Karena itu Muawiyah mengangkatnya sebagai gubernur Madinah. Hasan dan Husain pernah salat di belakangnya. Ia juga dikenal dermawan, bijaksana, dan selalu bermusyawarah dengan para sahabat ketika menghadapi persoalan. Beberapa ulama tabi’in meriwayatkan ilmu darinya dan majelisnya dikenal sebagai majelis ilmu.


Konflik politik dan kekhalifahan

Setelah wafatnya Muawiyah bin Yazid, Dinasti Umayyah hampir runtuh. Abdullah bin az-Zubair dibaiat di Hijaz dan banyak wilayah lain. Syam sendiri terpecah. Melalui pertemuan, konflik, dan akhirnya Perang Marj Rahith, Marwan berhasil menegakkan kembali kekuasaan Umayyah di Syam, lalu menguasai Mesir.

Kebijakannya

Marwan bin al-Hakam mencapai banyak prestasi selama masa kekhalifahannya di Madinah pada tahun 64–65 H, meskipun masa pemerintahannya singkat. Beberapa prestasinya antara lain:
  • Perhatian terhadap agama dan kesopanan umum.
  • Mengawasi pasar, termasuk perdagangan dan jual-beli, serta menghukum siapa pun yang mencoba menipu, dan memastikan takaran serta timbangan tepat.
  • Perhatian terhadap bangunan dan fasilitas umum, misalnya menurap jalan yang biasa dilalui ayahnya menuju masjid.
  • Melakukan perbaikan di bidang politik, ekonomi, dan militer.
Wafatnya

Saat bersiap merebut Irak dari tangan Ibnu az-Zubair, Marwan bin al-Hakam wafat di Damaskus pada bulan Ramadhan tahun 65 H, dalam usia 63 tahun. Ia dishalatkan oleh putranya ‘Abd al-Malik, dan dimakamkan di antara Bab al-Jabiyah dan Bab ash-Shaghir.


KHALIFAH ABDUL MALIK BIN MARWAN (65-86 H/ 684-705 M)

Kelahirannya

Abdul Malik bin Marwan  lahir pada tahun 26 H di Madinah. Sebelum menjadi khalifah khalifah kelima Dinasti Umayyah, ia dikenal sebagai ahli ibadah, faqih, dan perawi hadis. Setelah berkuasa, ia berubah menjadi negarawan ulung yang menata ulang sistem pemerintahan, administrasi, dan ekonomi negara.

Kedudukannya dan perhatiannya 

Abdul Malik bin Marwan dianggap sebagai pendiri kedua negara Umayyah. Ia naik tahta setelah wafatnya ayahnya, Marwan bin al-Hakam, pada masa dunia Islam dipenuhi fitnah dan pemberontakan. Ia harus menghadapi banyak musuh sekaligus: Abdullah bin az-Zubair, gerakan Tawwabin, dan Mukhtar ats-Tsaqafi. Namun pada akhirnya ia berhasil menguasai keadaan dan mengakhiri semua lawan politik Bani Umayyah.

Sebelum menjadi khalifah, Abdul Malik bin Marwan banyak belajar kepada para ulama dan ahli fikih di Madinah. Ia dikenal sebagai orang yang berilmu, berakhlak baik, dan sering bergaul dengan para ulama. Banyak ulama dari kalangan tabi‘in meriwayatkan ilmu darinya. Ia termasuk salah satu ahli fikih Madinah yang terkenal karena luas ilmunya dan kecerdasannya.


Abdul Malik sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Ia mendidik mereka dengan baik dan mempersiapkan mereka untuk tugas-tugas besar. Al-Walid mendapat perhatian khusus karena ia adalah putra sulung. Ia diajari ilmu pemerintahan, politik, dan keterampilan perang, serta didorong untuk menuntut ilmu.

Masa Awal Pemerintahan

Pada awal pemerintahannya, Abdul Malik menghadapi perebutan kekuasaan dari Abdullah bin Zubair dan Al-Mukhtar ats-Tsaqafi. Setelah perjuangan yang panjang dan berat, ia berhasil mengalahkan keduanya. Dalam menyatukan negara, ia banyak dibantu oleh Al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi, seorang pejabat yang pandai berpolitik, tegas dalam pemerintahan, dan berani sebagai panglima perang. Ketegasannya membantu menegakkan kekuasaan negara, meskipun sikapnya sering terlalu keras terhadap rakyat.

Setelah keadaan aman dan pemberontakan berhenti, Abdul Malik melakukan pembaruan besar dalam bidang pemerintahan. Ia menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa administrasi dan mata uang, serta memperbaiki sistem pos. Kebijakan ini membawa negara menuju kemajuan.


Karakter Kepemimpinannya

Abdul Malik menerapkan politik yang keras dan tegas dalam pemerintahannya. Ia memang adalah sosok yang memililki keinginan dan kepribadian yang kuat. Oleh sebab itu, sebagian pakar sejarah mengatakan, "Mu'âwiyah cenderung sabar, dan Abdul Malik lebih cenderung tegas." Abu Ja'far Al-Manshûr mengatakan, "Abdul Malik ibnu Marwan adalah khalifah yang paling tegas dan paling teguh menjalankan tekadnya."

Abdul Malik sangat memperhatikan 'kebersihan' orang yang bekerja di kerajaannya. Pada suatu hari, ia diberitahu bahwa salah seorang pekerjanya menerima hadiah. Ia pun segera menyuruhnya untuk menghadap. Ketika si pekerja datang, Abdul Malik bertanya padanya, "Apakah engkau pernah menerima hadiah sejak aku angkat?" Pembantunya itu berkata, "Wahai Amirul Mukminin, kerajaan Anda makmur, pajak Anda berlimpah, dan rakyat Anda dalam kondisi yang sangat baik." Abdul Malik berkata, "Tolong jawab pertanyaanku!" Si pekerja menjawab, "Iya, aku menerima hadiah." Mendengar itu, Abdul Malik pun langsung memberhentikannya.

Meskipun dikenal keras dan tegas, Abdul Malik sebenarnya memiliki perasaan yang lembut dan takut kepada Allah. Pada suatu ketika, ia berkhutbah dan berkata, "Ya Allah, sesungguhnya dosa-dosaku sangatlah besar, namun ia kecil dibanding kemaafan-Mu. Ya Allah Yang Mahamulia, ampunilah dosaku."

Perhatiannya Pada Peradaban

Abdul Malik telah menunjukkan kepiawannya dalam mengelola negara dan mengatur perangkat-perangkatnya, sebagaimana ia juga telah menunjukkan kepiawaiannya dalam mengembalikan kesatuan umat Islam. Dalam menjalankan pemerintahannya, ia mempercayai orang-orang yang telah terbukti paling mahir, paling cakap, dan paling berpengalaman, seperti Al-Hajjâj ibnu Yusuf Ats-Tsaqafi, Bisyr ibnu Marwan, dan Abdul Aziz ibnu Marwan.

Abdul Malik biasa memantau langsung keadaan masyarakatnya, memperhatikan kondisi para pekerja dan petinggi kerajaannya, serta memantau tingkah laku mereka. Ia berhasil meraih prestasi-prestasi manajerial yang luar biasa, sehingga mendorong kemajuan yang sangat berarti bagi pemerintahan Islam.

Pada masa pemerintahannya, buku-buku diterjemahkan dari bahasa Persia dan Romawi ke bahasa Arab. Hal itu dikenal dalam sejarah dengan istilah gerakan arabisasi buku-buku.

Kebijakan Penting dalam Bidang Ekonomi

Abdul Malik dikenal sebagai  orang yang pertama kali membuat koin Mata Uang Dinar dan menuliskan di atasnya ayat-ayat Al-Qur'an. Abdul Malik menulis di salah satu sisi koin: قل هو الله أحد dan di sisi lainnya menulis لا اله الا الله. Mata uang itu dihiasi dengan hiasan perak dan ditulis: "Uang ini dibuat di kota Fulan" Kemudian di luar lingkaran ditulis "محمد رسول الله أرسله بالهدى ودين الحق. Abdul Malik menyebutkan nama Rasulullah lengkap dengan tanggal/bulan serta tahun pembuatan uang dinar tersebut. 
Koin Dinar di Masa Abdul Malik bin Marwan dengan Figur Penguasa (c. 693 M)


Koin Dinar di Masa Abdul Malik bin Marwan dengan Inskripsi Islami (c. 696 M)

Jasa-jasanya

Pada masa kekhalifahannya, ia berhasil:
  • Menyatukan kembali wilayah Islam
  • Mengalahkan pemberontakan besar
  • Mencetak mata uang Islam pertama
  • Mengarabkan administrasi negara
  • Membangun Kubah Shakhrah
  • Menjadikan Dinasti Umayyah sebagai negara yang kuat dan stabil
Kewafatannya

Abdul Malik wafat pada bulan Sya‘ban tahun 86 H, dan digantikan oleh putranya al-Walid. Khalifahini wafat meninggalkan negara yang kuat dan luas wilayahnya, pemerintahan yang rapi, sumber daya yang melimpah, serta banyak pemimpin dan pasukan yang cakap. Keberhasilan ini dicapai setelah bertahun-tahun usaha dalam mengatur negara dan menyatukannya kembali.

Karena itu, ketika Abdul Malik wafat pada tahun 86 H (705 M), negara berada dalam keadaan aman dan stabil. Tugas selanjutnya berada di tangan putranya, Al-Walid bin Abdul Malik, untuk melanjutkan pembangunan, meningkatkan kemajuan negara, memperluas wilayah kekuasaan, dan membuka jalan baru bagi perkembangan Islam. Dan semua itu benar-benar berhasil ia lakukan.


KHALIFAH AL-WALID BIN BADUL MALIK (86-96 H/ 705- 714 M)
``    
Kelahiran Al-Walid bin Abdul Malik

Al-Walid bin Abdul Malik lahir pada masa kekhalifahan Muawiyah bin Abu Sufyan sekitar tahun 50 H (670 M) di Madinah. Ia adalah putra sulung Abdul Malik bin Marwan. Ketika Marwan bin al-Hakam pindah ke wilayah Syam, Al-Walid ikut bersama keluarganya. Mereka meninggalkan Madinah pada bulan Rabi‘ul Akhir tahun 64 H (Desember 683 M) setelah Abdullah bin az-Zubair menyatakan diri sebagai khalifah.

Sejak kecil, Al-Walid mencintai bahasa Arab. Ayahnya sering berkata bahwa pemimpin bangsa Arab harus menguasai bahasa Arab dengan baik. Al-Walid juga rajin membaca Al-Qur’an. Ia biasa mengkhatamkan Al-Qur’an setiap tiga hari, dan ada riwayat yang menyebutkan setiap tujuh hari. Kebiasaan ini tetap ia lakukan bahkan setelah menjadi khalifah.

Pengangkatan Al-Walid bin Abdul Malik sebagai Khalifah

Sebelum Al-Walid menjadi khalifah, Abdul Aziz bin Marwan adalah putra mahkota pada masa pemerintahan saudaranya, Abdul Malik bin Marwan. Ketika Abdul Aziz wafat pada tahun 85 H (704 M), Abdul Malik menunjuk putranya, Al-Walid, sebagai calon khalifah. Masyarakat pun membaiatnya. Al-Walid resmi menjadi khalifah setelah ayahnya wafat, yaitu pada 15 Syawal 86 H (9 Oktober 705 M).

Al-Walid menjadi khalifah saat masih muda, tetapi ia memiliki ilmu yang luas, pengalaman dalam pemerintahan, dan pemikiran yang matang. Saat ia mulai memimpin, keadaan negara sudah aman dan damai karena ayahnya telah berhasil menghentikan pemberontakan dan perang saudara.

Dalam masa pemerintahannya, Al-Walid memulai banyak perbaikan dan pembangunan. Ia juga menghidupkan kembali penaklukan Islam di wilayah timur dan barat. Dalam waktu kurang dari sepuluh tahun, ia berhasil mencapai banyak hal besar yang sulit dicapai oleh negara lain dalam waktu yang sangat lama.

Gerakan Penaklukan

Pada masa pemerintahan Al-Walid bin Abdul Malik, terjadi gerakan penaklukan Islam terbesar dalam sejarah Daulah Umayyah. Wilayah kekuasaan Islam menjadi sangat luas, bahkan mencakup daerah terluas di dunia yang dikenal saat itu. Banyak panglima hebat muncul pada masa ini. Mereka memiliki kemampuan militer yang tinggi, berani, dan rela berkorban, sehingga keberhasilan penaklukan ini mengingatkan umat Islam pada masa penaklukan di zaman Khulafaur Rasyidin.

Di wilayah timur, Al-Hajjaj ats-Tsaqafi mengirim pasukan Irak di bawah pimpinan Qutaibah bin Muslim al-Bahili untuk menaklukkan daerah Ma Wara’an-Nahr atauTransxiana. Transoxiana sebutan historis untuk wilayah di Asia Tengah, tepatnya di seberang Sungai Jihun (Amu Darya) yang mencakup wilayah Uzbekistan, Tajikistan, dan sebagian Turkmenistan saat ini. Wilayah ini merupakan pusat penting peradaban Islam dengan kota-kota utama seperti Bukhara, Samarkand, dan Merv. Penaklukan ini berlangsung selama sekitar sepuluh tahun (705–714 M). Dalam masa itu, Qutaibah berhasil menaklukkan kota Bukhara, Samarkand, hingga mencapai wilayah Kashgar yang dekat dengan perbatasan Cina.

Selain itu, Al-Hajjaj juga mengutus Muhammad bin Qasim ats-Tsaqafi untuk menaklukkan wilayah Sind di anak benua India pada tahun 707 M. Walaupun usianya belum mencapai dua puluh tahun, ia berhasil menjalankan tugasnya dengan baik. Ia menaklukkan kota Debal (di wilayah Pakistan sekarang) dan memperluas kekuasaan Islam hingga Multan di Punjab selatan.

Di wilayah barat, Musa bin Nushair dan Thariq bin Ziyad berhasil menyeberangi Laut Tengah menuju Spanyol pada tahun 711 M. Wilayah ini kemudian dikenal oleh kaum Muslimin sebagai Al-Andalus. Musa bin Nushair bercita-cita melanjutkan penaklukan hingga ke wilayah Prancis dan akhirnya sampai ke Konstantinopel, lalu kembali ke Damaskus. Namun, Khalifah Al-Walid melarang rencana tersebut dan memerintahkannya untuk kembali ke Damaskus.

Al-Walid juga terus melakukan peperangan melawan Kekaisaran Bizantium untuk menjaga keamanan perbatasan negara. Perang-perang ini banyak dipimpin oleh saudaranya, Maslamah bin Abdul Malik, dan juga diikuti oleh anak-anak Al-Walid. Sejak tahun 706 M, hampir setiap tahun dilakukan ekspedisi militer ke wilayah Romawi. Al-Walid bahkan telah mempersiapkan pasukan darat dan laut untuk menaklukkan Konstantinopel, tetapi ia wafat sebelum rencana itu terlaksana. Usaha tersebut kemudian dilanjutkan oleh saudaranya, Sulaiman bin Abdul Malik, setelah menjadi khalifah.

Masjid Umayyah


Pemandangan panorama Masjid Umayyah saat matahari terbenam.. Sumber https://unsplash.com/i

Al-Walid bin Abdul Malik dikenal sangat menyukai pembangunan dan arsitektur. Ia melakukan hal-hal yang belum pernah dilakukan oleh khalifah Bani Umayyah sebelumnya. Ia menggali sumur dan mata air, memperbaiki jalan-jalan yang menghubungkan wilayah negaranya yang luas, serta membangun masjid dan rumah sakit.

Para sejarawan memuji usaha besar Al-Walid dalam bidang pembangunan yang dilakukan hampir di seluruh wilayah negara. Ia memperbarui Ka‘bah dan memperluas Masjidil Haram. Ia juga membangun kembali Masjid Nabawi dan memperluasnya ke semua sisi hingga memasukkan kamar-kamar istri Nabi ﷺ ke dalam masjid. Tugas ini diserahkan kepada sepupunya yang juga gubernur Madinah, yaitu Umar bin Abdul Aziz. Untuk itu, Al-Walid mengirim dana, marmer, hiasan mozaik, serta sekitar delapan puluh ahli bangunan dari Romawi dan Koptik Syam.

Selain itu, Al-Walid juga memperbaiki Masjid Al-Aqsa di Palestina. Ia juga dianggap sebagai orang yang pertama memperkenalkan mihrab cekung dan menara masjid. Ia juga memerintahkan gubernurnya di Mesir untuk memperbarui Masjid Amr bin Ash.

Bangunan paling indah dan terkenal yang didirikan Al-Walid adalah Masjid Umayyah di Damaskus. Masjid ini menjadi salah satu karya terbesar dalam seni dan arsitektur Islam. Al-Walid membangunnya dengan sangat megah dan indah sebagai tanda kekuatan negara dan kemajuan peradaban Islam. Pembangunannya menghabiskan biaya yang sangat besar dan berlangsung sepanjang masa pemerintahannya. Setelah Al-Walid wafat, sebagian penyempurnaannya dilanjutkan oleh saudaranya, Sulaiman bin Abdul Malik.

Istana Al-Walid

Al-Walid membangun Qasr ‘Amrah, yaitu sebuah istana kecil yang terletak sekitar 50 mil di sebelah timur kota Amman, Yordania. Istana ini baru dikenal pada tahun 1898 M, setelah ditemukan oleh sebuah tim peneliti yang dipimpin oleh Muzil (Musil).

Istana Qasr ‘Amrah terkenal karena lukisan-lukisan indah di dindingnya. Di dalamnya terdapat gambar burung, hewan, dan hiasan tumbuhan yang dibuat dengan sangat bagus dan menarik.

Sisa-sisa Istana Qusayr Amra: https://khazanah.republika.co.id/
Penyempurnaan Arabisasi

Proses arabisasi (penggunaan bahasa Arab) berlangsung lama. Kebijakan ini dimulai oleh Abdul Malik bin Marwan dan dilanjutkan oleh Al-Walid bin Abdul Malik. Al-Walid memerintahkan gubernurnya di Mesir, Abdullah bin Abdul Malik, agar catatan pemerintahan (diwan) ditulis dalam bahasa Arab, padahal sebelumnya menggunakan bahasa Koptik.

Kebijakan ini melengkapi usaha arabisasi yang dimulai oleh Abdul Malik. Proses arabisasi baru benar-benar selesai setelah diwan di wilayah Khurasan juga menggunakan bahasa Arab pada tahun 124 H (741 M). Dengan adanya arabisasi, bahasa Arab semakin luas digunakan, terutama di kalangan non-Arab, dan menjadi bahasa ilmu dan budaya, selain sebagai bahasa agama.

Kesejahteraan Sosial

Setelah negara menjadi aman dan stabil, keuangan negara meningkat dan kas negara penuh. Al-Walid menggunakan sebagian harta tersebut untuk pembangunan, dan sebagian lagi untuk pelayanan sosial gratis.

Ia memerintahkan pembangunan rumah sakit bagi penderita penyakit menahun, memberi tunjangan kepada penyandang disabilitas seperti tunanetra dan penderita kusta, serta menyediakan pelayan bagi orang lumpuh dan penuntun bagi orang buta.

Wafatnya Al-Walid bin Abdul Malik

Selama masa kekhalifahannya yang tidak sampai sepuluh tahun, Al-Walid bin Abdul Malik berhasil membangun negara yang besar dan kuat. Rakyat hidup dalam kemakmuran, pembangunan berkembang pesat, dan kegiatan ilmu pengetahuan di masjid-masjid besar semakin maju.

Pada masa itu, negara Umayyah menjadi negara terkuat di dunia. Namun, Al-Walid tidak hidup lama. Ia wafat pada pertengahan Jumadal Akhir tahun 96 H, bertepatan dengan 25 Februari 715 M.


Selasa, 20 Januari 2026

Muawiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu Anhu (Muawiyah I. 41-60 H/661-679 M)





Iliustrasi Tentara Umayyah. Sumber: https://mawdoo3.com/

Keluarga Bani Umayyah

Bani Umayyah memiliki tokoh-tokoh dengan jasa-jasa besar bagi umat Islam sejak awal dakwah Islam. Di antara mereka yaitu Utsman bin ‘Affan al-Umawi رضي الله عنه adalah orang pertama yang menuliskan wahyu dari langit dan dialah yang mengumpulkan Al-Qur’an.

Kita juga mengenal Ummul Mukminin dari Bani Umayyah, Ummu Habibah binti Abi Sufyan رضي الله عنها yang telah mengorbankan banyak bagian dari hidupnya demi Islam. Demikian pula sahabat mulia Abu Sufyan bin Harb al-Umawi رضي الله عنه mempersembahkan kedua matanya di jalan Allah dan Rasul-Nya.

Yazid bin Abi Sufyan al-Umawi رضي الله عنه, saudara Muawiyah adalah panglima pasukan penaklukan Islam di Syam dan pembuka wilayah Lebanon. Ada pula tokoh besar Abdurrahman ad-Dakhil al-Umawi رحمه الله adalah sosok yang kembali menyatukan Andalusia.

Tidak ketinggalan nama ‘Abdurrahman an-Nashir al-Umawi رحمه الله sosok yang membangun peradaban terbesar di Andalusia, di samping Muhammad bin Umayyah al-Umawi رحمه الله adalah pemimpin pemberontakan kaum Muslimin Andalusia.

Tentu, yang paling penting dalam bahasan Daulah Bani Umayyah adalah sosok Mu‘awiyah bin Abi Sufyan al-Umawi رضي الله عنه. Ia termasuk sahabat yang dipilih oleh Rasulullah ﷺ untuk menjadi penulis wahyu.

Kelahiran Nama dan Nasab Muawiyah

Nama lengkapnya Mu‘awiyah bin Abi Sufyan bin Shakhr bin Harb bin Umayyah bin ‘Abd Syams bin ‘Abd Manaf bin Qushayy bin Kilab. Bergelar Abu ‘Abdurrahman, seorang Quraisy dari Bani Umayyah, berasal dari Makkah, dan lahir sebelum masa kenabian (bi‘tsah).

Keislaman Mu‘awiyah bin Abi Sufyan

Mu‘awiyah bin Abi Sufyan termasuk tokoh yang paling menonjol dalam proses berdirinya Daulah Bani Umayyah. Ia dilahirkan sekitar lima belas tahun sebelum hijrah (605 M). Ia telah masuk Islam sebelum ayahnya, yaitu pada saat ‘Umrah al-Qadha’, meskipun tetap merasa takut untuk menyusul Nabi ﷺ karena khawatir terhadap ayahnya. Keislamannya tidak tampak secara terbuka kecuali pada hari Fathu Makkah pada tahun ke-8 H.

Sejak masuk Islam, ia menjadi salah seorang penulis wahyu Rasulullah ﷺ. Ia ikut serta dalam banyak peperangan dan pertempuran. Ia turut bersama Rasulullah ﷺ dalam Perang Hunain, pengepungan Thaif, dan Perang Tabuk.

Kepribadiannya

Menurut sejarawan As-Shalabi, Muawiyah dikenal pribadi yang cerdas, sabar, dan diplomatis. Ia memiliki kemampuan politik tinggi. Ia sangat mengutamakan maslahat umat. Karakternya tegas tanpa meninggalkan kelembutan. Dan sebagai seorang pemimpin, ia menjaga persatuan lebih dari ambisi pribadi.

Perannya pada Masa Khilafah Rasyidah

Pada masa Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه, ia ikut serta dalam Perang melawan orang-orang murtad, termasuk Perang Yamamah. Abu Bakar mengumpulkan sebuah pasukan dan mengangkat Mu‘awiyah sebagai salah satu pemimpinnya, serta memerintahkan mereka untuk menyusul Yazid bin Abi Sufyan menuju negeri Syam. Pasukan ini merupakan pasukan pertama yang dipimpin oleh Mu‘awiyah.

Ia juga turut bersama saudaranya, Yazid, dalam penaklukan Syam dan Perang Yarmuk. Mu‘awiyah menyaksikan pembebasan Baitul Maqdis pada masa kepemimpinan ‘Umar bin Al-Khaththab رضي الله عنه, dan termasuk empat orang saksi perjanjian ‘Umariyah.

Ia memimpin penaklukan Kaisariyah melawan Romawi, mengepung musuh, dan bertempur dengan sangat sengit. Kemudian ‘Umar bin Al-Khaththab رضي الله عنه mengangkatnya sebagai gubernur Damaskus setelah wafatnya saudaranya Yazid. Ia menjaga wilayah perbatasan Syam, serta berhasil menaklukkan Asqalan dan sisa wilayah Palestina.

Tentara Bani Umayyah: Sumber: https://www.aljazeera.net/
Politikus dan Ahli Strategi Perang

Muawiyah politikus dan ahli strategi perang yang jitu. Ia menyadari pentingnya menjaga dan melindungi pesisir wilayah negara Islam dari serangan-serangan berulang Kekaisaran Bizantium. Ia bercita-cita untuk menaklukkan pesisir negeri Syam, seperti pantai Tyre (Shur), Akka, Sidon, dan Beirut, dan telah berupaya mewujudkannya sejak masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, kemudian pada masa ‘Umar bin Al-Khaththab رضي الله عنهما.

Namun, upaya tersebut menghadapi kesulitan besar karena kuatnya benteng pertahanan wilayah-wilayah pesisir tersebut, serta karena wilayah itu merupakan pangkalan armada laut Bizantium. Ketika rencana ini diajukan kepada ‘Umar bin Al-Khaththab رضي الله عنه, beliau menolaknya karena khawatir keselamatan kaum Muslimin dalam menghadapi bahaya laut.

Ketika ‘Utsman bin ‘Affan رضي الله عنه menjabat sebagai khalifah, rencana tersebut kembali diajukan dan pada awalnya juga ditolak. Akan tetapi, Mu‘awiyah terus mendesaknya hingga akhirnya beliau menyetujui dengan syarat bahwa setiap orang yang terlibat dalam pembangunan armada itu melakukannya atas dasar kerelaan, tanpa paksaan. Setelah itu, Mu‘awiyah pun memulai pembangunan armada laut Islam yang pertama. Khalifah Utsman menobatkannya sebagai Amir Al-Bahr yang memimpin penyerbuan ke kota Konstantinopel meski mengalami kegagalan.

Mendirikan Daulah Bani Umayyah

Mu‘awiyah bin Abi Sufyan mendirikan Daulah Umayyah pada tahun 41 Hijriah dan menjadikan Damaskus sebagai ibu kotanya. Wilayah kekuasaannya meluas hingga mencakup seluruh Jazirah Arab, Irak, wilayah bekas Kekaisaran Sasaniyah, Syam, Mesir, dan Tunisia (wilayah Tunisia saat ini). Setelah itu, pasukan Umayyah melanjutkan penaklukan hingga mencapai Cina di sebelah timur dan Semenanjung Iberia (Andalusia) di sebelah barat.

Perlu dicatat bahwa seluruh penaklukan tersebut bukanlah ekspansi militer semata yang bertujuan menguasai negeri-negeri, menjarah kekayaan, atau menghancurkan bangunannya. Sebaliknya, penaklukan itu merupakan pembebasan yang bersifat religius, linguistik, dan kultural, yang menitikberatkan pada penyebaran bahasa Arab dan agama Islam di wilayah-wilayah yang ditaklukkan. Negeri-negeri tersebut pun menyaksikan kebangkitan, perkembangan, serta kemajuan intelektual dan peradaban yang belum pernah mereka alami sebelumnya.

Pada masa pemerintahannya (41–60 H / 661–680 M), Daulah Islam memasuki fase stabilitas politik dan pembangunan peradaban setelah periode fitnah besar. Menurut As-Shalabi, keberhasilan Muawiyah terletak pada kemampuan manajerial, politik, dan visinya dalam membangun negara.

As-Shalabi menegaskan bahwa masa Mu‘awiyah bin Abi Sufyan merupakan masa peletakan fondasi peradaban Islam yang kuat: stabilitas politik, administrasi negara, ekonomi, dan militer. Keberhasilan ini menjadi dasar bagi kemajuan Daulah Umayyah pada masa-masa berikutnya.

Perannya dalam Peradaban Islam

Muawiyah berhasil membawa kemajuan peradaban Islam sebagai berikut:

1. Membangun Sistem Pemerintahan dan Administrasi
  • Mu‘awiyah membangun pemerintahan terpusat dengan Damaskus sebagai ibu kota.
  • Mengembangkan diwan (administrasi negara) secara rapi dan profesional.
  • Menempatkan pejabat berdasarkan kompetensi, bukan semata kekerabatan.
  • Menerapkan prinsip musyawarah, ketegasan, dan fleksibilitas politik.
2. Kemajuan Militer dan Pertahanan
  • Pembentukan angkatan laut Islam pertama yang kuat.
  • Ekspansi wilayah hingga Afrika Utara dan Asia Kecil.
  • Pertahanan negara diperkuat untuk menghadapi Bizantium.
  • Militer dikelola secara terorganisir dan berkelanjutan.
3. Perkembangan Ekonomi dan Perdagangan
  • Perdagangan internasional berkembang, khususnya dengan Bizantium.
  • Stabilitas keamanan mendorong investasi dan peredaran modal.
  • Mata uang emas dan perak beredar luas.
  • Pertanian, perdagangan, dan industri rakyat berkembang seiring stabilitas negara.
4. Pembangunan Sosial dan Infrastruktur
  • Pembangunan kota-kota besar dan fasilitas umum.
  • Jalan, pelabuhan, dan sarana komunikasi diperhatikan.
  • Kesejahteraan masyarakat menjadi prioritas negara.
5. Kebijakan Keagamaan dan Toleransi
  • Mu‘awiyah menjaga persatuan umat Islam dan menghormati perbedaan pendapat.
  • Memberikan perlindungan kepada nonmuslim (ahludz-dzimmah).
  • Tidak memaksakan agama, tetapi menjaga keadilan hukum.
Kewafatannya

Pada tahun ini (60 Hijriah), Mu‘awiyah bin Abi Sufyan wafat di Damaskus. Para ulama berbeda pendapat tentang waktu pastinya, namun mereka semua sepakat bahwa wafatnya terjadi pada tahun 60 Hijriah dan pada bulan Rajab.

***

Minggu, 18 Januari 2026

Salahuddin Yusuf Al-Ayubi






Saladin: The revered Conqueror of Jerusalem. Sumber: https://sevenswords.uk/saladin/


Daulah Ayyubiyyah

Daulah Ayyubiyah berkuasa sekitar 75 tahun, dari abad ke-12 hingga ke-13 M. Terdapat sembilan orang Sultan yang pernah memimpin Daulah Ayyubiyah, yaitu:

1. Shalahuddin Yusuf Al-Ayyubi (570-589 H/1174-1193 M)
2. Malik Al-Aziz Imaduddin (589-596 H/1193-1198 M)
3. Malik Al-Mansur Nasiruddin (595-596 H/1198-1200 M)
4. Malik Al-Adil Saifudin, pemerintahan I (596-615 H/1200-1218 M)
5. Malik Al-Kamil Muhammad (615-635 H/1218-1238 M)
6. Malik Al-Adil Saifudin, pemerintahan II (635-637 H/1238-1240 M)
7. Malik As-Shaleh Najmuddin (637-647 H/1240-1249 M)
8. Malik Al-Mu’azzam Turansyah (647 H/1249 M)
9. Malik Al-Asyraf Muzaffaruddin (647-650 H/1249-1252 M)

Dari kesembilan penguasa Daulah Ayyubiyah di atas, ada tiga pemimpin yang memiliki peran paling menonjol terhadap perkembangan Daulah Ayyubiyah yaitu;
  1. Shalahuddin Yusuf Al-Ayyubi,
  2. Malik Al-Adil Saifudin (saudara Shalahuddin), dan;
  3. Malik Al-Kamil Muhammad (keponakan Shalahuddin).
Kekuasaan Daulah Ayyubiyyah disebutkan didistribusi kepada keluarga Shalahuddin. Maka, kekuasaan Daulah Ayyubiyah memiliki cabang-cabang kekuasaan yang meliputi Kesultanan Ayyubiyah Mesir, Kesultanan Ayyubiyah Damaskus, Kesultanan Ayyubiyah Aleppo, Homs, Mayyafariqin (Yaman), Sinjar (Irak), Kafya (Irak), Yaman, dan Kesultanan Ayyubiyah Kerak (Yordania).

An-Nāshir Abū al-Muzhaffar Shalahuddin Al-Ayyubi 

An-Nāshir Abū al-Muzhaffar Shalahuddin Al-Ayyubi adalah panglima Perang Hittin, pendiri Daulah Ayyubiyah yang berhasil menyatukan Syam, Mesir, dan Hijaz di bawah panji Khilafah Abbasiyah. Allah menakdirkan melalui tangannya pembebasan Baitul Maqdis (Yerusalem).

Allah mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum Muslimin dan membersihkannya dari kekejian Yahudi. Shalahuddin adalah sosok agung di antara tokoh-tokoh besar umat Islam, yang terwujud padanya: keikhlasan niat dan tawakal kepada Allah, kecintaan pada syahid, jihad yang nyata, ilmu dan fikih, pengorbanan, serta komitmen kuat terhadap persatuan umat.

Kelahiran Shalahuddin Al-Ayyubi

Shalahuddin lahir pada tahun 530 H (1137 M) di Benteng Tikrit, Irak. Ayahnya adalah gubernur Benteng Tikrit. Ia kemudian menjadi wazir di Mesir ketika masih muda. Ia merupakan lulusan madrasah reformasi yang juga melahirkan tokoh-tokoh besar seperti Nuruddin Zanki dan Imaduddin Zanki, semoga Allah merahmati mereka semua.

Sifat-sifat Shalahuddin Al-Ayyubi

Keimanan Shalahuddin

Ia memiliki akidah yang lurus, banyak berdzikir, sangat menjaga salat berjamaah, bersemangat dalam menjalankan sunnah dan salat nawafil, terbiasa bangun malam, dan mencintai bacaan Al-Qur’an. Ia memilih sendiri imam salat, mencari orang yang bersuara indah dan berakhlak mulia. Hatinya lembut, mudah menangis karena khusyuk, sangat gemar mendengarkan hadis, mengagungkan syiar-syiar Allah, berprasangka baik kepada Allah, dan sangat bergantung kepada-Nya.

Akhlak dan Muamalah

Ia ramah dalam pergaulan, adil dan penuh kasih terhadap rakyat, pembela orang-orang yang dizalimi dan lemah. Akhlaknya lembut, majelisnya bersih, ucapannya baik, pendengarannya terjaga, lisannya suci, tulisannya bersih, serta menolak keras ghibah dan adu domba.

Keberanian

Ia sangat perkasa, tekun berjihad, bercita-cita tinggi, dan memiliki tujuan besar. Demi tujuan itu ia meninggalkan keluarga, tempat tinggal, dan tanah airnya. Ia pernah berkata dekat Akka. "Terbetik dalam pikiranku bahwa setelah Allah membukakan bagi kita sisa wilayah pesisir, aku akan membersihkan negeri ini dari kaum Nasrani, kemudian mengangkat para gubernur, lalu berlayar ke pulau-pulau mereka di Eropa dan menaklukkannya. Aku akan terus mengejar mereka di Eropa hingga tidak tersisa di muka bumi ini orang yang kafir kepada Allah, atau aku mati.”

Zuhud

Ia menjalani kehidupan sederhana di zaman yang penuh kemewahan dan pemborosan. Ia dermawan, tidak menyakiti siapa pun karena akidahnya kecuali mereka yang memeranginya. Ia tidak menyukai pembunuhan dan pertumpahan darah kecuali terhadap pengkhianat dan penyerang, serta dikenal penuh kasih terhadap setiap orang lemah.

Kondisi Umat Islam di Zaman Shalahuddin 

Negeri-negeri Islam berada dalam keadaan lemah dan tunduk kepada kaum Salibis. Maka muncul gerakan reformasi keagamaan yang dipimpin Imam Al-Ghazali dan Imam Ath-Tharthusi. Dari gerakan ini lahirlah Imaduddin Zanki, penguasa Mosul, yang menyerukan persatuan Islam dan jihad umat.

Ia berhasil menyatukan Aleppo dan membebaskan Edessa, sebelum akhirnya dibunuh secara khianat. Perjuangannya dilanjutkan oleh putranya, Nuruddin Zanki, yang mempersiapkan penyatuan Mesir dan Syam serta mengangkat para panglima besar seperti Asaduddin Syirkuh dan Najmuddin Ayyub (ayah Shalahuddin).

Shalahuddin di Mesir

Situasi Mesir kacau akibat pengkhianatan Syawar, wazir Khalifah Fatimiyah Al-‘Adhid, yang bersekutu dengan kaum Nasrani. Nuruddin mengirim pasukan di bawah Asaduddin Syirkuh, bersama Shalahuddin. Syawar terbunuh, Syirkuh diangkat sebagai wazir, dan keamanan Mesir pun pulih.

Shalahuddin sebagai Wazir Mesir

Dua bulan kemudian Syirkuh wafat. Al-‘Adhid mengangkat Shalahuddin sebagai wazir dengan gelar Al-Malik An-Nashir, mengira ia mudah dikendalikan. Namun Shalahuddin berbuat adil dan memikat hati rakyat, sehingga kekuasaannya menguat.

Penghapusan Khilafah Fatimiyah

Pada tahun 578 H (1171 M), Al-‘Adhid wafat. Shalahuddin, berkoordinasi dengan Nuruddin, menghapus Khilafah Fatimiyah yang telah berlangsung 200 tahun, mengembalikan khutbah atas nama Khalifah Abbasiyah, serta menyatukan umat di bawah satu khalifah.

Berdirinya Daulah Ayyubiyah dan Penyatuan Syam

Setelah wafatnya Nuruddin (569 H / 1174 M), wilayah Syam terpecah. Shalahuddin menyatakan diri sebagai penerusnya dan selama 12 tahun berperang melawan penguasa lokal, kaum Salibis, dan kelompok Ismailiyah, hingga berhasil menyatukan Syam dan memulai Daulah Ayyubiyah.
Benteng Karak dan Rencana Menyerang Makkah–Madinah

Benteng Karak, di bawah Renaud (Arnat), menjadi ancaman besar. Ia bahkan merencanakan penyerangan ke Makkah dan Madinah, namun rencana ini digagalkan oleh pasukan Muslim.
Perang Hittin (583 H / 1187 M)

Renaud menyerang kafilah haji Muslim. Shalahuddin membatalkan perjanjian damai. Pasukan Salib (63.000 orang) dipimpin Guy de Lusignan.

Shalahuddin memancing mereka ke Hittin, memutus akses air. Pada Jumat, 24 Rabi‘ul Akhir 583 H, terjadi pertempuran dahsyat. Angin, api, panas, dan kehausan menghancurkan pasukan Salib:
  • 30.000 tewas
  • 30.000 ditawan
  • Raja Salib ditangkap
Pembebasan Palestina dan Yerusalem

Dalam dua bulan, Shalahuddin membebaskan: Akka, Nazaret, Haifa, Nablus, Jenin, Baisan, Jaffa, Sidon, Beirut, Ramla, Bethlehem, dan Hebron.

Pembebasan Baitul Maqdis

Tahun 583 H (1187 M), Yerusalem dikepung. Setelah negosiasi, kota diserahkan dengan tebusan. Shalahuddin:
  • Memaafkan kaum lemah, wanita, dan fakir Nasrani
  • Memperbaiki Masjid Al-Aqsha dan Kubah Shakhrah
  • Menolak menghancurkan Gereja Makam Kudus, seraya berkata: Umar menetapkannya, apakah aku yang akan merobohkannya?”
Saladin: The Crusades. Sumber: https://sevenswords.uk/saladin/

Akhir Hayat Shalahuddin 

Pada tahun 589 H (1193 M), Shalahuddin wafat setelah sakit 12 hari. Ia meninggal tanpa harta, dan dunia—bahkan Eropa—menangisinya. Para penyair meratapinya dengan syair-syair yang agung.


Saladin: The Hero of Sunni.. Sumber: https://sevenswords.uk/saladin/



***
Saladin the Conqueror of Jerusalem

Sumber:
https://suwaidan.com/%D8%B3%D9%8A%D8%B1%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D9%86%D8%A7%D8%B5%D8%B1-%D8%B5%D9%84%D8%A7%D8%AD-%D8%A7%D9%84%D8%AF%D9%8A%D9%86-%D8%A7%D9%84%D8%A3%D9%8A%D9%88%D8%A8%D9%8A/


Rabu, 07 Januari 2026

Pocong dan Pohon Kecapi

Ilustari pocong dimodifikasi dari: https://blogger.googleusercontent.com/

Sebenarnya pocong itu mitologi atau entitas yang nyata sudah sangat familiar. Orang kota atau orang kampung tidak asing dengan pocong. Orang yang seumur hidup belum pernah berpapasan dengan pocong pun, pasti tahu bila sosok pocong disebut-sebut.

Namun, pocong itu identik dengan pohon kecapi, saya baru tahu pagi ini dari Ustaz Zaki Al-Hafizh yang bahkan ia ini orang kota, orang sekitar Patra, Kuningan. Jadi, pohon kecapi bagi Ustaz Zaki yang orang Kuningan itu identik dengan pohon tempat tinggal pocong. Begitulah anggapan soal pohon kecapi dan pocong bagi orang kota Ustaz keren ini. Hihihihihihi.

Lha, di kampung saya, pocong, ya pocong, pohon kecapi, ya pohon kecapi. Begitu juga di kampung Pak Jay, kampung Duren Seribu. Tidak pernah ada anggapan bahwa pohon kecapi itu tempat para pocong membangun rumah dan menetap, berkawin, beranak pinak, dan bermantu berbesan. Ustaz kita ini memang kadang-kadang. Wwkwkwkwkwk.

Tapi, ya begitulah, soal pocong dan kecapi itu soal kearifan lokal.

Sekarang, konon pocong semakin termarjinalkan seiring kampung-kampung rimbun kian gersang dan kota-kota yang teduh semakin bising. Demikian pula pohon kecapi dan buahnya, buah lokal ini sudah sukar didapatkan di kampung yang dahulu ia tumbuh melimpah ruah, apalagi di kota seperti Kuningan. Di kampung saya, buah legen yang memecahnya dengan cara digencet di antara engsel pintu ini sudah pula menjadi buah langka.

Pagi ini saya makan buah kecapi lagi. Lama sekali tidak mencicipi rasa dagingnya yang segar campuran manis dan sedikit asam. Bila saja otak tidak memiliki kemampuan merekam citarasa saat kali pertama lidah mengecapnya, pastilah saya sudah lupa bagaimana rasanya kecapi itu. Begitulah Allah Yang Maha Kuasa menciptakan lidah dengan kemampuan menerjemahkan semua cita rasa makanan dan minuman yang ada di muka bumi.

Andaikata lidah tidak memiliki kemampuan menerjemahkan setiap cita rasa dan membedakannya untuk setiap subjek— atau lidah sedang baal— manis, pahit, asam, asin, gurih, pedas, atau tawar tidak bermakna apa-apa selain sebutan saja. Maka, hilanglah kenikmatan dunia di atas meja makan, kedai kopi, teh, atau juice, jajanan pasar, dan aneka hidangan kue-kue kering di saat lebaran. Para pemabuk tidak juga merasakan sensasi perbedaan saat mereka menenggak Wine, Tequila, Vodka, Chivas Regal, Champagne, Topi Miring, Bir Bintang, Anggur Cap Orang Tua, atau miras oplosan.

Uniknya lidah, misalkan satu buah berasa manis atau asam, ia bisa membedakan manis dan asamnya kecapi dengan manis dan asamnya mangga, jamblang, jeruk, atau gandaria. Demikian juga pahitnya kopi berbeda dengan pahitnya jamu, brotowali, atau pare. Pedasnya jahe berbeda dengan pedasnya lombok, lada, atau wasabi. Demikian pula rasa umami atau gurih pada daging berbeda dengan rasa gurih pada ikan, keju, atau telur.

Halagh! Soal pohon kecapi dan pocong, kok jadi kemana-mana. Ini gara-gara Ustaz Zaki dan Pak Jay.

Rupanya, Pak Jay masih mewarisi kecapi dan membawanya pagi ini. Yang pasti, warisan kecapi Pak Jay ini tidak beserta warisan pocongnya juga seperti cerita ustaz Zaki. Qiqiqi.

Hidup kecapi!

Ciputat, 7 Januari 2026
Melengkapi rasa syukur 20 tahun mengabdi di MP dengan makan kecapi dan cerita pocong di perpustakaan.