Kamis, 12 Maret 2026

Irkab Ma‘anā dan Sekeranjang Rutob

 

Kurma Rutob. (Sumber: Halo Doc)

Sekarang kita sudah berada di perahu yang sama. Irkab ma‘anā.
Kemarin, Rabu 11 Maret 2026, acara buka puasa bersama guru dan karyawan Madrasah Pembangunan berlangsung di sela rintik hujan. Suasana puasa yang teduh, jadi tambah adem dan khidmat.

Sebelum azan berkumandang, tidak ada yang berani berbuka duluan meskipun ngumpet-ngumpet selain menyimak sambutan, wejangan, dan pengantar berbuka. Barulah setelah adzan mengalun, teh dan air putih diseruput, lontong dan kurma dieksekusi. Sesederhana itu sebuah kedisiplinan yang dibangun melalui puasa.

Akan tetapi meskipun sederhana, ini pola yang mengagumkan. Ada nilai-nilai karakter di mana kesadaran menjaga diri dari perkara yang dilarang betul-betul dijaga sampai datang waktunya ia diperkenankan. Hanya Islam yang punya aturan main ini yang diterima setiap muslim dengan sikap “sami’na wa atho'na”.

Apabila kedisiplinan ini diterjemahkan dalam lingkungan kerja, terbayang, akan luar biasa dampaknya bagi ketaatan pada regulasi, kedisiplinan dan keterbukaan penggunaan anggaran, dan sudah barang tentu kedisiplinan akan melekat pada setiap individu di lingkungan kerja masing-masing.

Dalam sambutannya sebelum berbuka, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menyinggung soal kepatuhan ini dengan istilah “profesional”. Rektor menyebut MP sebagai kapal yang jangkarnya sudah dipasang kembali di UIN sebagai induknya supaya ajeg. Secara terbuka, Rektor menyatakan tidak memasang jangkar itu di halaman rumahnya, sebab MP bukan milik individu Rektor dan kelompok orang perorang lalu disambung dengan mengutif frasa “irkab ma‘anā”. 

Wah, sebatas nalar saya yang bisa-biasa saja, rasanya, ini pesan paling lugas sepanjang sambutan Pak Rektor. Irkab ma‘anā itu, bukan perumpamaan sekadar soal perahu dan jangkar an sich. Ini soal pesan moral seorang ayah yang sangat sayang kepada anaknya.

Karena tergelitik, di rumah, iseng membuka tafsir Ibnu Katsir untuk memuaskan rasa penasaran karena kutipan Pak Rektor atas kisah Nabi Nuh dan putranya ini.

Wa hiya tajrī bihim fī maujin kal-jibāli, wa nādā Nūḥu ibnahu wa kāna fī ma‘zilin yā bunayya irkab ma‘anā wa lā takun ma‘a al-kāfirīn.

“Bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung-gunung. Nuh memanggil anaknya, sedang dia (anak itu) berada di tempat (yang jauh) terpencil, “Wahai anakku, naiklah (ke bahtera) bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir.” (QS. Hud [11]: 42)

Oleh Ibnu Katsir, ayat ini ditafsirkan sebagai: “Hādzā huwa al-ibnu ar-rābi‘u, wa-ismuhu “Yām”, wa kāna kāfiran, da‘āhu abūhu ‘inda rukūbi as-safīnah an yu’mina wa yarkaba ma‘ahum wa lā yaghraqa mitsla mā yaghraqu al-kāfirūn.”

Kira-kira, artinya sebagai berikut:” Ini adalah putra yang keempat, namanya adalah 'Yam'versi lain namanya Kan'an. Ia adalah seorang yang kafir. Ayahnya (Nabi Nuh) mengajaknya ketika hendak naik ke kapal untuk beriman dan ikut naik bersama mereka agar tidak tenggelam sebagaimana tenggelamnya orang-orang kafir."

Semula dahi berkerut. Apa iya? Saat ajakan Pak Rektor itu dilontarkan, berarti saya masih dianggap “kafir” atau “pembangkang”, dong? Kan, saya sudah salaman di kalender. Heee …

Saya ingat-ingat kembali penggalan kalimat Pak Rektor pada bagian ini. Payah juga mengurai satu-satu tumpukan memori meskipun belum 24 jam sambutan itu berlalu. 

“Sekarang kita sudah berada di perahu yang sama. Irkab ma‘anā.” 

Naaah. Dapat!

Alhamdulillah. Clear. Pak Rektor sedang menyeru saya dan yang hadir kemarin sebagai orang-orang yang sudah masuk perahu MP, “umat”nya yang sudah patuh pada khittah MP yang sekarang.

Jadi, dalam konteks kemarin, seruan Pak Rektor itu bukan ditujukan untuk yang belum naik, atau yang enggan naik perahu MP bersama Rektor, seperti Yam yang menolak saat diajak naik bahtera bersama ayahnya agar selamat. Bukan. Lagi pula dalam sambutannya kemarin, Pak Rektor tidak sekali pun menyebut: “Hai, kamu Kan’an!” 

Legalah hati ini. Apalagi THR sudah cair. Pas, memang lagi kepengen sekeranjang rutob. Mantap Pak Agung!

Semoga penumpang perahu MP semakin profesional dan sejahtera seperti harapan Pak Rektor dan kita semua. Aamiin.

-------

Kamis, 13 Maret 2026. Hari ke-23 Ramadhan bagi saya dan hari ke-22 bagi Syaikhuna Ustaz Zaki al-Hafidz dan Ustaz H. Romli yang jenaka. Ah, bahagianya menikmati harmoni dalam selisih ganjil-genap. Mohon maaf lahir batin.

0 Comments:

Posting Komentar