A homepage subtitle here And an awesome description here!

Minggu, 31 Mei 2026

Jam Tangan di Tenda Mina

Kau boleh kehilangan jam tangan, tapi jangan pernah kehilangan waktu!


Barang ditemukan. Capture dari WA Pak Nanang.

Waktu baru menunjukkan pukul 01.15 pagi. Beberapa jamaah sudah berdiri khusyuk. Dini hari dua malam kemarin, tenda sudah berjubel dengan jamaah yang shalat malam. Dini hari ini, tenda sudah lebih lapang, sebab jamaah yang mengambil Nafar Awwal sudah kembali ke Makkah pada 12 Zulhijjah kemarin pagi. Ini malam terakhir mabit di Mina. 

Tidak ingin kehabisan waktu mustajab kemuliaan Mina, segera bergegas untuk buang hajat, mandi, dan bersuci. Segera, sebab sebelum Subuh harus sudah berada di Jamarat untuk melontar jumrah tanggal 12. Nanti setelah shalat Subuh, menyambung melontar untuk tanggal 13 sebagai penutup rangkaian kewajiban haji di Mina bagi yang mengambil Nafar Tsani.

Alhamdulillah, kamar mandi pun terasa lapang. Tidak pula ada drama kebelet yang bikin antrean terasa tidak putus-putus, sementara saluran kencing sudah terasa mau putus. Bila sebelumnya satu kamar mandi untuk empat orang mengantre, pagi buta ini, dua kamar mandi malah yang menunggu dimasuki untuk satu orang pengantre.

Waktu yang longgar, ada space untuk sarapan kilat dengan kecepatan empat suapan per detik. Menu Armuzna berupa nasi basmati putih dan rendang ayam kemasan yang dingin masuk juga ke perut. Kebetulan, malam tadi tidak sempat makan karena tak kuat lagi melawan kantuk. Jadi, antara lapar dan doyan, meskipun dingin tandas juga menu Armuzna yang sudah mulai kebas di lidah. Yang penting, cukup untuk bahan bakar berjalan kaki pulang pergi Jamarat menempuh jarak lebih kurang 6 kilometer. Dan pada suapan terakhir, baru menyadari jam tangan tertinggal di kamar mandi di samping tenda Mina.

Tidak ingin kehilangan momen, balik ke kamar mandi lagi. Namun, saat hati bertanya-tanya kamar mandi yang mana, ya? Yang ini, yang itu, apa yang ono? Tak satu pun dari kamar mandi yang menjawab. Wwkwkwkwk. Sudahlah, tapi, masih penasaran. Coba sekali lagi menyisir. Nihil.

"Jika masih rezeki, takkan ke mana ia pergi. Bila memang bukan rezeki, boleh jadi itulah yang terbaik." Hati bergumam begitu. Bahkan, nurani turut berbisik: kau boleh kehilangan jam tangan, tapi jangan pernah kehilangan waktu!

Kembali ke tenda, separuh jamaah sudah bergerak ke Jamarat. Tidak ingin kehilangan waktu, segera mengambil tas selempang, air, dan batu yang sudah disiapkan. Lalu, bergerak membuntuti jamaah Ustaz Zainal, Pembimbing Ibadah Kloter 21 yang humble itu. Dan, jam tangan di kamar mandi pun terlupakan.

Melontar hari ini mengambil jalan berbeda dari sebelumnya pada 10 dan 11 Zulhijah kemarin. Rutenya lebih berirama dengan panorama khas gurun yang unik dan memesona di malam hari. Maka, perjalanan terasa lebih ringan, hati riang, dan sesekali mengumandangkan takbir.

Sesampainya di Jamarat, di muka pintu masuk ada marka dengan tulisan terang: al-jamaraat lil-daur al-awwal. Oh, berarti jamaah akan melontar di lantai bawah, bukan di lantai tiga seperti kemarin. Alhamdulillah, selesai melontar. 70 kerikil telah melayang membentur pilar Awal, Wustha, dan Aqabah.

@

Sepulang dari Jamarat, teringat lagi pada jam di kamar mandi. Seakan hati ini belum sepenuhnya lega melepasnya berpisah. Apatah lagi, ada kenangan khusus, ada cerita di balik jam itu melingkar di lengan kanan sampai kemarin. Harga di balik kenangan itulah yang tidak bisa ditukar meskipun dengan kelipatan harganya yang standar, atau bahkan diganti dengan merk dan harga yang sama. Itu karena kenangan manis tidak akan pernah tergantikan.

Maka, saat hendak pulang ke Makkah, sekali lagi ikhtiar menyisir satu-satu kamar mandi sebelum mengantre naik bus. Namun, hasilnya tetap nihil. 
"Bismillah, Ya Allah saya ikhlas. Inilah takdir untuk saya yang terbaik." Demikian sekali lagi hati bergumam.

Bus sudah menunggu. Suara mesinnya menderu pelan.
 
"Naik! Naik!" Seru petugas memerintah.

Saat badan ikut berjejal di muka pintu, terdengar instruksi sebaliknya.

"Ini untuk Kloter 20!"

"Naik saja!" Seru petugas kembali memberi instruksi nyaris berteriak.
 
Ragu, naik atau menunggu saja jatah bus Kloter 21. "Ah, naik saja!" kata hati memerintah. Semua orang yang mengantre juga naik. Urusan ini bus untuk Kloter 20, itu cuma soal urutan. Yang penting sampai di Misfalah, bukan di Prindavan.
 
Buru-buru bergeser ke pintu paling belakang karena pintu depan dan pintu tengah sudah sesak antrean. Bukan pula kebetulan ada kursi kosong di barisan paling belakang. Rupanya, di kursi belakang inilah plot twist dari alur cerita jam tangan di kamar mandi berakhir happy ending.

Persis di depan dari kursi tempat saya duduk, seorang jamaah sedang membuka WA. Layar HP-nya jelas mencotot dan terbaca dari tempat saya duduk. Hati berdesir seperti sedang disapa bidadari. Terpaksalah saya membuka mata lebar-lebar agar tidak salah lihat pada pesan teks dan gambar sebuah jam tangan.
assalamualaikum.. sy menemukan jam tangan di kamar mandi kloter dekat jks20 , minta tolong dishare no hp sy 08129027452, nuhun.
Ya, Allah, Engkau Mahapemurah! Speechless. Karena Kemahabaikan-Mu ya Rabb, berat rasanya hati ini dan malu untuk menulis kehilangan di grup. Namun, kebaikan-Mu ya Rabb, lebih cepat dari embusan angin sebelum rasa berat dan malu itu hilang.

Kepada Pak Nanang yang WA-nya saya intip dari kursi belakang, terima kasih sudah membuka tabir. Jujur, saya sempat berpikir dan gagal menjawab tepat saat bapak bertanya: "Jam Bapak merk apa?"
 
Saya paham, Bapak sekadar ingin memastikan bahwa saya benar orang yang kehilangan. Ini perkara standar yang tidak sulit untuk saya mengerti. Memang begitulah semestinya, meskipun tidak harus dilakukan siapapun orang baik yang bernama "Nanang". Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata "nanang" adalah kata sifat (adjektiva) yang bermakna memikirkan sesuatu dalam-dalam, merenung, atau tafakur. Dengan sifat seperti ini, boleh jadi cenderung membuat orang seperti Bapak selalu berhati-hati dalam memutuskan suatu perkara.

Akan tetapi, pertanyaan Bapak telah menyadarkan dari kelalaian tidak mengenali detail jam yang sudah menemani saya lebih dari 10 tahun. Saya hanya hafal detail fisik jam itu, tapi tidak identitasnya. Namun, sejak pertanyaan itu Bapak lontarkan, saya akan mengingatnya terus bahwa jam di lengan saya adalah Edivice Casio 126.
 
Lebih-lebih, saya perlu dan harus berterima kasih kepada Bapak Abu Bakar yang menyimpan jam saya dan mewartakannya di grup Kloter 20. Boleh jadi, otak dan hati Pak Abu Bakar kepikiran dan terbebani karena melawan instruksi: "Jangan memungut barang apa pun yang tercecer atau tertinggal di area ibadah haji."
 
Akan tetapi, jiwa "Abu Bakar" Sang Khalifah yang dermawan yang membuat Sayidina Umar pun cemburu, rupanya ada juga melekat pada pribadi Pak Abu Bakar yang ini. Allah yubarik fiik, Pak Abu Bakar.
 
Boleh jadi, Allah menggerakkan hati Pak Abu Bakar menyelamatkan jam itu bukan tanpa maksud. Allah ingin menghibur saya melalui Bapak di kursi belakang bus yang membawa kita pulang dari Mina ke Makkah, pulang dari tempat suci ke tempat yang suci pula. Ini bukan peristiwa kebetulan, ini adalah bukti Kemahamurahan Allah di Tanah Suci. Bila di tanah Khatulistiwa saja Allah Mahapemurah, apalagi di Tanah Haram. Alaysa kadzalik?
 
Misfalah, hari keempat belas. 14 Zulhijah 1447 H/31 Mei 2026 M.

Senin, 18 Mei 2026

Abrahah dan Spirit Internasionalisasi Haramain

Sekolah Dasar Hamzah bin Abdul Muthalib, Sekolah negeri untuk laki-laki. Terletak di kawasan At-Taqwa, perpanjangan Jalan Ibrahim Al-Khalil dekat daerah Al-Masfalah, Makkah. Foto pribadi. Diambil pagi hari dari kamera Infinix Hot 60 Pro. Foto hanya pemanis, tidak ada hubungannya dengan isi tulisan.

Tulisan singkat ruang.dialog.co cukup menghentak bagi sebagian pembaca. Misalnya, kalimat
: Sejak kapan Ka'bah diprivatisasi?

Jawaban dari pertanyaan bernuansa cemburu ini hanya satu paragraf dalam tulisan ruang.dialog.co. Juga tidak memadai dari sisi substansi. Boleh jadi karena ditulis di media sosial yang ruangnya terbatas. Akan tetapi, jawaban satu paragraf itu terkesan provokatif.

ruang.dialog.co melempar asumsi: "Saudi modern, yang secara efektif menyegel Haramain sebagai aset berdaulat milik dinasti mereka" kuat sekali aroma kecemburuannya—baca di https://www.instagram.com/p/DYMkx7Ck3lb/?igsh=emp1ZWozcDBtY3Bj.

Sebaliknya, Prof. Dr. Ahmad Zahroh, ulama kharismatik NU pernah menyampaikan tesis, "Andaikata Haramain tidak berada dalam penguasaan Ibnu Su'ud yang Wahabi, maka tiang-tiang Masjidil Haram pun bisa jadi dikeramatkan."

Lalu, gagasan "Internasionalisasi Al-Haramain" mulai disuarakan dengan alasan bahwa ibadah murni seharusnya tidak menjadi alat untuk memperkaya segelintir kaum elit atau mengukuhkan kerajaan tertentu di atas penderitaan struktural umatnya. Ini bukan sekadar cemburu, ini menggelikan. Apalagi imbauan "Mari kita baca sejarah peradaban ini dengan tajam, dan tanpa dogma yang membius pikiran," sebenarnya hanyalah sejarah yang berulang.|

Masya Allah, sejak era pra Islam, pengelolaan Haji dan Ka'bah sudah menjadi bagian dari hadiah Tuhan untuk bangsa Arab. Maka, kalimat "Sejak kapan Ka'bah diprivatisasi?" Layak juga kita selisik, apa motif di balik pertanyaan ini.

Kita semua tahu, Haji dan Ka'bah seperti dua sisi dari satu mata uang. Sejak kapan? Tentu sejak dahulu, sejak sebelum era kenabian Muhammad SAW. Lalu, siapa yang menghendaki Haji dan Ka' bah itu letaknya di Makkah?

Tentu, itu bukan kemauan Muhammad SAW, bukan hasrat suku Quraisy, bukan pula kehendak penduduk  Makkah. Ia kemauan pemilik Baitul 'Atiq sendiri, Allah SWT. Karena itu, bicara Haji dan Ka'bah tidak mungkin lepas dari persoalan dogma, persoalan teologi.

Haji dan Ka'bah menyatu dengan institusi Al-Hijabah dan Al-Siqoyah. Keduanya menjadi jabatan paling bergengsi dalam konteks ini. Dua jabatan inilah yang bersinggungan langsung dengan layanan Haji sejak era pra Islam.

Al-Hijabah, atau pemegang kunci dan penjaga pintu Ka'bah menjadi otoritas Bani Abdu al-Dar dan diteruskan oleh Bani Syaibah. As-Siqayah, penyedia air minum bagi para jamaah haji, dipegang oleh Bani Hasyim, kakek moyang Rasulullah SAW. Dan sekarang dipegang oleh pemerintah Ibnu Su'ud dalam konteks pemerintahan kerajaan modern.

Memang sejak dahulu, setiap musim Haji datang, perputaran uang di Makkah dari aktivitas dagang meningkat pesat. Uang dari jemaah Haji dari penjuru dunia terpusat di sini, bukan di kampung halaman penulis di ruang.dialog.co itu. Boleh jadi, dia sedang cemburu, lalu melontarkan pertanyaan soal privatisasi Ka'bah.

Mari kembali ke masa silam, pada akhir abad keenam menjelang kelahiran Nabi SAW. Siapa yang cemburu atas anugerah Tuhan kepada penduduk Makkah dari efek ekonomi ritual Haji dan kemuliaan Ka'bah ini? Dialah Abrahah, seorang jenderal dari Kerajaan Aksum (Ethiopia) yang menjadi penguasa di Yaman pada abad ke-6 M.

Abrahah melihat Ka'bah tidak hanya sebagai simbol teologi. Kedatangan para peziarah di setiap musim Haji dari penjuru Jazirah Arabia yang membawa keuntungan Bani Hasyim, suku Quraisy, dan penduduk Makkah menjadikan Ka'bah dilihatnya dari sisi politik dan ekonomi. Di sana ada uang dan otoritas kekuasaan.

Abrahah ingin mengalihkan perhatian para peziarah dengan membangun "Ka'bah" baru di Yaman. Dia berharap otoritas politik dan ekonomi pindah ke Yaman. Akan tetapi, "Ka'bah" baru ini tidak laku, tidak punya daya jual, baik secara politik dan ekonomi. Para peziarah tetap mengunjungi Ka'bah dan terus memberi keuntungan politik dan ekonomi kepada suku Quriasy dan penduduk Makkah di setiap musim haji.

Secara dogma, memang, siapa yang bisa mengalihkan panggilan Allah untuk berhaji mengunjungi Baitullah yang transenden dengan panggilan politik dan ekonomi yang profan?

Merasa usahanya merebut otoritas haji dan Ka'bah sia-sia, Abrahah marah. Alasan ini mendorong Abrahah mengambil langkah kekerasan. Dia dengan pasukan bergajah menginvasi Makkah untuk merebut dan menghancurkan Ka'bah. Akan tetapi, Abrahah dan pasukan bergajahnya mati mengenaskan sebelum hasrat cemburunya terpenuhi seperti dikisahkan dalam surat Al-Fiil.

Abrahah lupa, yang ingin dia rebut sebenarnya bukan otoritas Quraisy atas Haji dan Ka'bah, tapi otoritas Tuhan yang dititipkan kepada Quraisy dan penduduk Makkah. Dia tidak mau haji dan Ka'bah diprivatisasi suku Quraisy dan penduduk Makkah saat itu. Boleh jadi, karena yang ada di benak Abrahah hanya uang dan kekuasaan manusia.

Maka, ajakan "Mari kita baca sejarah peradaban ini dengan tajam dan tanpa dogma yang membius pikiran" hanyalah pikiran Abrahah yang dipindahkan ke dalam pikiran manusia di era modern. Seruan "Internasionalisasi Al-Haramain" pun, yang memisahkan dogma teologi dalam Haji dan Ka'bah kayaknya hanya meniru  style isi kepala Abrahah saja.

Hari ke-3 di Misfalah, Sektor 8. Senin, 1 Zulhijjah 1447 H/18 Mei 2026 M.