Tulisan singkat ruang.dialog.co cukup menghentak bagi sebagian pembaca. Misalnya, kalimat: Sejak kapan Ka'bah diprivatisasi?Jawaban dari pertanyaan bernuansa cemburu ini hanya satu paragraf dalam tulisan ruang.dialog.co. Juga tidak memadai dari sisi substansi. Boleh jadi karena ditulis di media sosial yang ruangnya terbatas. Akan tetapi, jawaban satu paragraf itu terkesan provokatif.
ruang.dialog.co melempar asumsi: "Saudi modern, yang secara efektif menyegel Haramain sebagai aset berdaulat milik dinasti mereka" kuat sekali aroma kecemburuannya—baca di https://www.instagram.com/p/DYMkx7Ck3lb/?igsh=emp1ZWozcDBtY3Bj.
Sebaliknya, Prof. Dr. Ahmad Zahroh, ulama kharismatik NU pernah menyampaikan tesis, "Andaikata Haramain tidak berada dalam penguasaan Ibnu Su'ud yang Wahabi, maka tiang-tiang Masjidil Haram pun bisa jadi dikeramatkan."
Lalu, gagasan "Internasionalisasi Al-Haramain" mulai disuarakan dengan alasan bahwa ibadah murni seharusnya tidak menjadi alat untuk memperkaya segelintir kaum elit atau mengukuhkan kerajaan tertentu di atas penderitaan struktural umatnya. Ini bukan sekadar cemburu, ini menggelikan. Apalagi imbauan "Mari kita baca sejarah peradaban ini dengan tajam, dan tanpa dogma yang membius pikiran," sebenarnya hanyalah sejarah yang berulang.|
Masya Allah, sejak era pra Islam, pengelolaan Haji dan Ka'bah sudah menjadi bagian dari hadiah Tuhan untuk bangsa Arab. Maka, kalimat "Sejak kapan Ka'bah diprivatisasi?" Layak juga kita selisik, apa motif di balik pertanyaan ini.
Kita semua tahu, Haji dan Ka'bah seperti dua sisi dari satu mata uang. Sejak kapan? Tentu sejak dahulu, sejak sebelum era kenabian Muhammad SAW. Lalu, siapa yang menghendaki Haji dan Ka' bah itu letaknya di Makkah?
Tentu, itu bukan kemauan Muhammad SAW, bukan hasrat suku Quraisy, bukan pula kehendak penduduk Makkah. Ia kemauan pemilik Baitul 'Atiq sendiri, Allah SWT. Karena itu, bicara Haji dan Ka'bah tidak mungkin lepas dari persoalan dogma, persoalan teologi.
Haji dan Ka'bah menyatu dengan institusi Al-Hijabah dan Al-Siqoyah. Keduanya menjadi jabatan paling bergengsi dalam konteks ini. Dua jabatan inilah yang bersinggungan langsung dengan layanan Haji sejak era pra Islam.
Al-Hijabah, atau pemegang kunci dan penjaga pintu Ka'bah menjadi otoritas Bani Abdu al-Dar dan diteruskan oleh Bani Syaibah. As-Siqayah, penyedia air minum bagi para jamaah haji, dipegang oleh Bani Hasyim, kakek moyang Rasulullah SAW. Dan sekarang dipegang oleh pemerintah Ibnu Su'ud dalam konteks pemerintahan kerajaan modern.
Memang sejak dahulu, setiap musim Haji datang, perputaran uang di Makkah dari aktivitas dagang meningkat pesat. Uang dari jemaah Haji dari penjuru dunia terpusat di sini, bukan di kampung halaman penulis di ruang.dialog.co itu. Boleh jadi, dia sedang cemburu, lalu melontarkan pertanyaan soal privatisasi Ka'bah.
Mari kembali ke masa silam, pada akhir abad keenam menjelang kelahiran Nabi SAW. Siapa yang cemburu atas anugerah Tuhan kepada penduduk Makkah dari efek ekonomi ritual Haji dan kemuliaan Ka'bah ini? Dialah Abrahah, seorang jenderal dari Kerajaan Aksum (Ethiopia) yang menjadi penguasa di Yaman pada abad ke-6 M.
Abrahah melihat Ka'bah tidak hanya sebagai simbol teologi. Kedatangan para peziarah di setiap musim Haji dari penjuru Jazirah Arabia yang membawa keuntungan Bani Hasyim, suku Quraisy, dan penduduk Makkah menjadikan Ka'bah dilihatnya dari sisi politik dan ekonomi. Di sana ada uang dan otoritas kekuasaan.
Abrahah ingin mengalihkan perhatian para peziarah dengan membangun "Ka'bah" baru di Yaman. Dia berharap otoritas politik dan ekonomi pindah ke Yaman. Akan tetapi, "Ka'bah" baru ini tidak laku, tidak punya daya jual, baik secara politik dan ekonomi. Para peziarah tetap mengunjungi Ka'bah dan terus memberi keuntungan politik dan ekonomi kepada suku Quriasy dan penduduk Makkah di setiap musim haji.
Secara dogma, memang, siapa yang bisa mengalihkan panggilan Allah untuk berhaji mengunjungi Baitullah yang transenden dengan panggilan politik dan ekonomi yang profan?
Merasa usahanya merebut otoritas haji dan Ka'bah sia-sia, Abrahah marah. Alasan ini mendorong Abrahah mengambil langkah kekerasan. Dia dengan pasukan bergajah menginvasi Makkah untuk merebut dan menghancurkan Ka'bah. Akan tetapi, Abrahah dan pasukan bergajahnya mati mengenaskan sebelum hasrat cemburunya terpenuhi seperti dikisahkan dalam surat Al-Fiil.
Abrahah lupa, yang ingin dia rebut sebenarnya bukan otoritas Quraisy atas Haji dan Ka'bah, tapi otoritas Tuhan yang dititipkan kepada Quraisy dan penduduk Makkah. Dia tidak mau haji dan Ka'bah diprivatisasi suku Quraisy dan penduduk Makkah saat itu. Boleh jadi, karena yang ada di benak Abrahah hanya uang dan kekuasaan manusia.
Maka, ajakan "Mari kita baca sejarah peradaban ini dengan tajam dan tanpa dogma yang membius pikiran" hanyalah pikiran Abrahah yang dipindahkan ke dalam pikiran manusia di era modern. Seruan "Internasionalisasi Al-Haramain" pun, yang memisahkan dogma teologi dalam Haji dan Ka'bah kayaknya hanya meniru style isi kepala Abrahah saja.
Hari ke-3 di Misfalah, Sektor 8. Senin, 1 Zulhijjah 1447 H/18 Mei 2026 M.
