
Ilustrasi Kota Damaskus yang menjadi pusat pemerintahan Bani Umayyah dan menjadi salah satu peninggalan sejarah islam.(Wikimedia Commons)
KHALIFAH MARWAN BIN AL-HAKAM (Marwan I [64-65 H/ 683-684] M)
Marwan bin al-Hakam lahir pada tahun 2 H, dan ada pula yang mengatakan tahun 4 H, di Makkah. Saat Rasulullah wafat, usianya sekitar delapan tahun. Karena itu, sebagian ulama menggolongkannya sebagai sahabat kecil, sementara yang lain menganggapnya termasuk tabi‘in senior. Ia memiliki riwayat hadits dalam Shahih al-Bukhari tentang Perjanjian Hudaibiyah.
Marwan bin al-Hakam khalifah keempat Daulah Bani Umayyah. Marwan pada saat itu sudah berusia lebih dari 60 tahun, dikenal bijaksana, cerdas, berani, fasih, pandai membaca Al-Qur’an, dan meriwayatkan banyak hadis dari para sahabat besar, terutama Umar bin Khattab.
Marwan dianggap sebagai pemimpin utama Bani Umayyah di Syam. Meskipun masa pemerintahannya singkat—tidak lebih dari satu tahun—ia dianggap sebagai pendiri Dinasti Umayyah fase kedua. Melalui dirinya, kekhalifahan berpindah dari keluarga Abu Sufyan ke keluarga Al-Marwan, dan keturunannya terus memerintah Daulah Bani Umayyah hingga ke Andalusia.
Nasab dan keluarga
Ia bernama Marwan bin al-Hakam bin Abi al-‘Ash bin Umayyah bin ‘Abd Syams bin ‘Abd Manaf. Kunyahnya Abu ‘Abd al-Malik, Abu al-Qasim, atau Abu al-Hakam. Ibunya bernama Aminah binti ‘Alqamah al-Kinaniyyah. Ia memiliki beberapa istri dan anak, di antaranya ‘Abd al-Malik dan ‘Abd al-‘Aziz, yang kelak memegang peranan penting dalam pemerintahan Umayyah.
Kedudukan dan keutamaannya
Marwan memiliki kedudukan tinggi di kalangan pembesar Quraisy. Utsman bin ‘Affan sangat memuliakannya. Saat Utsman dibunuh, Marwan termasuk orang yang membelanya. Dalam Perang Jamal, ia berada di sayap kiri pasukan. Ali bin Abi Thalib pun menyukainya dan mengkhawatirkan keselamatannya ketika pasukan kalah.
Ia dikenal sebagai faqih, pembaca Al-Qur’an, tegas dalam menegakkan hukum Allah. Karena itu Muawiyah mengangkatnya sebagai gubernur Madinah. Hasan dan Husain pernah salat di belakangnya. Ia juga dikenal dermawan, bijaksana, dan selalu bermusyawarah dengan para sahabat ketika menghadapi persoalan. Beberapa ulama tabi’in meriwayatkan ilmu darinya dan majelisnya dikenal sebagai majelis ilmu.
Konflik politik dan kekhalifahan
Setelah wafatnya Muawiyah bin Yazid, Dinasti Umayyah hampir runtuh. Abdullah bin az-Zubair dibaiat di Hijaz dan banyak wilayah lain. Syam sendiri terpecah. Melalui pertemuan, konflik, dan akhirnya Perang Marj Rahith, Marwan berhasil menegakkan kembali kekuasaan Umayyah di Syam, lalu menguasai Mesir.
Kebijakannya
Marwan bin al-Hakam mencapai banyak prestasi selama masa kekhalifahannya di Madinah pada tahun 64–65 H, meskipun masa pemerintahannya singkat. Beberapa prestasinya antara lain:
Saat bersiap merebut Irak dari tangan Ibnu az-Zubair, Marwan bin al-Hakam wafat di Damaskus pada bulan Ramadhan tahun 65 H, dalam usia 63 tahun. Ia dishalatkan oleh putranya ‘Abd al-Malik, dan dimakamkan di antara Bab al-Jabiyah dan Bab ash-Shaghir.
KHALIFAH ABDUL MALIK BIN MARWAN (65-86 H/ 684-705 M)
Kelahirannya
Ia bernama Marwan bin al-Hakam bin Abi al-‘Ash bin Umayyah bin ‘Abd Syams bin ‘Abd Manaf. Kunyahnya Abu ‘Abd al-Malik, Abu al-Qasim, atau Abu al-Hakam. Ibunya bernama Aminah binti ‘Alqamah al-Kinaniyyah. Ia memiliki beberapa istri dan anak, di antaranya ‘Abd al-Malik dan ‘Abd al-‘Aziz, yang kelak memegang peranan penting dalam pemerintahan Umayyah.
Kedudukan dan keutamaannya
Marwan memiliki kedudukan tinggi di kalangan pembesar Quraisy. Utsman bin ‘Affan sangat memuliakannya. Saat Utsman dibunuh, Marwan termasuk orang yang membelanya. Dalam Perang Jamal, ia berada di sayap kiri pasukan. Ali bin Abi Thalib pun menyukainya dan mengkhawatirkan keselamatannya ketika pasukan kalah.
Ia dikenal sebagai faqih, pembaca Al-Qur’an, tegas dalam menegakkan hukum Allah. Karena itu Muawiyah mengangkatnya sebagai gubernur Madinah. Hasan dan Husain pernah salat di belakangnya. Ia juga dikenal dermawan, bijaksana, dan selalu bermusyawarah dengan para sahabat ketika menghadapi persoalan. Beberapa ulama tabi’in meriwayatkan ilmu darinya dan majelisnya dikenal sebagai majelis ilmu.
Konflik politik dan kekhalifahan
Setelah wafatnya Muawiyah bin Yazid, Dinasti Umayyah hampir runtuh. Abdullah bin az-Zubair dibaiat di Hijaz dan banyak wilayah lain. Syam sendiri terpecah. Melalui pertemuan, konflik, dan akhirnya Perang Marj Rahith, Marwan berhasil menegakkan kembali kekuasaan Umayyah di Syam, lalu menguasai Mesir.
Kebijakannya
Marwan bin al-Hakam mencapai banyak prestasi selama masa kekhalifahannya di Madinah pada tahun 64–65 H, meskipun masa pemerintahannya singkat. Beberapa prestasinya antara lain:
- Perhatian terhadap agama dan kesopanan umum.
- Mengawasi pasar, termasuk perdagangan dan jual-beli, serta menghukum siapa pun yang mencoba menipu, dan memastikan takaran serta timbangan tepat.
- Perhatian terhadap bangunan dan fasilitas umum, misalnya menurap jalan yang biasa dilalui ayahnya menuju masjid.
- Melakukan perbaikan di bidang politik, ekonomi, dan militer.
Saat bersiap merebut Irak dari tangan Ibnu az-Zubair, Marwan bin al-Hakam wafat di Damaskus pada bulan Ramadhan tahun 65 H, dalam usia 63 tahun. Ia dishalatkan oleh putranya ‘Abd al-Malik, dan dimakamkan di antara Bab al-Jabiyah dan Bab ash-Shaghir.
KHALIFAH ABDUL MALIK BIN MARWAN (65-86 H/ 684-705 M)
Kelahirannya
Abdul Malik bin Marwan lahir pada tahun 26 H di Madinah. Sebelum menjadi khalifah khalifah kelima Dinasti Umayyah, ia dikenal sebagai ahli ibadah, faqih, dan perawi hadis. Setelah berkuasa, ia berubah menjadi negarawan ulung yang menata ulang sistem pemerintahan, administrasi, dan ekonomi negara.
Kedudukannya dan perhatiannya
Abdul Malik bin Marwan dianggap sebagai pendiri kedua negara Umayyah. Ia naik tahta setelah wafatnya ayahnya, Marwan bin al-Hakam, pada masa dunia Islam dipenuhi fitnah dan pemberontakan. Ia harus menghadapi banyak musuh sekaligus: Abdullah bin az-Zubair, gerakan Tawwabin, dan Mukhtar ats-Tsaqafi. Namun pada akhirnya ia berhasil menguasai keadaan dan mengakhiri semua lawan politik Bani Umayyah.
Sebelum menjadi khalifah, Abdul Malik bin Marwan banyak belajar kepada para ulama dan ahli fikih di Madinah. Ia dikenal sebagai orang yang berilmu, berakhlak baik, dan sering bergaul dengan para ulama. Banyak ulama dari kalangan tabi‘in meriwayatkan ilmu darinya. Ia termasuk salah satu ahli fikih Madinah yang terkenal karena luas ilmunya dan kecerdasannya.
Abdul Malik sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Ia mendidik mereka dengan baik dan mempersiapkan mereka untuk tugas-tugas besar. Al-Walid mendapat perhatian khusus karena ia adalah putra sulung. Ia diajari ilmu pemerintahan, politik, dan keterampilan perang, serta didorong untuk menuntut ilmu.
Sebelum menjadi khalifah, Abdul Malik bin Marwan banyak belajar kepada para ulama dan ahli fikih di Madinah. Ia dikenal sebagai orang yang berilmu, berakhlak baik, dan sering bergaul dengan para ulama. Banyak ulama dari kalangan tabi‘in meriwayatkan ilmu darinya. Ia termasuk salah satu ahli fikih Madinah yang terkenal karena luas ilmunya dan kecerdasannya.
Abdul Malik sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Ia mendidik mereka dengan baik dan mempersiapkan mereka untuk tugas-tugas besar. Al-Walid mendapat perhatian khusus karena ia adalah putra sulung. Ia diajari ilmu pemerintahan, politik, dan keterampilan perang, serta didorong untuk menuntut ilmu.
Masa Awal Pemerintahan
Pada awal pemerintahannya, Abdul Malik menghadapi perebutan kekuasaan dari Abdullah bin Zubair dan Al-Mukhtar ats-Tsaqafi. Setelah perjuangan yang panjang dan berat, ia berhasil mengalahkan keduanya. Dalam menyatukan negara, ia banyak dibantu oleh Al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi, seorang pejabat yang pandai berpolitik, tegas dalam pemerintahan, dan berani sebagai panglima perang. Ketegasannya membantu menegakkan kekuasaan negara, meskipun sikapnya sering terlalu keras terhadap rakyat.
Setelah keadaan aman dan pemberontakan berhenti, Abdul Malik melakukan pembaruan besar dalam bidang pemerintahan. Ia menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa administrasi dan mata uang, serta memperbaiki sistem pos. Kebijakan ini membawa negara menuju kemajuan.
Karakter Kepemimpinannya
Setelah keadaan aman dan pemberontakan berhenti, Abdul Malik melakukan pembaruan besar dalam bidang pemerintahan. Ia menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa administrasi dan mata uang, serta memperbaiki sistem pos. Kebijakan ini membawa negara menuju kemajuan.
Karakter Kepemimpinannya
Abdul Malik sangat memperhatikan 'kebersihan' orang yang bekerja di kerajaannya. Pada suatu hari, ia diberitahu bahwa salah seorang pekerjanya menerima hadiah. Ia pun segera menyuruhnya untuk menghadap. Ketika si pekerja datang, Abdul Malik bertanya padanya, "Apakah engkau pernah menerima hadiah sejak aku angkat?" Pembantunya itu berkata, "Wahai Amirul Mukminin, kerajaan Anda makmur, pajak Anda berlimpah, dan rakyat Anda dalam kondisi yang sangat baik." Abdul Malik berkata, "Tolong jawab pertanyaanku!" Si pekerja menjawab, "Iya, aku menerima hadiah." Mendengar itu, Abdul Malik pun langsung memberhentikannya.
Meskipun dikenal keras dan tegas, Abdul Malik sebenarnya memiliki perasaan yang lembut dan takut kepada Allah. Pada suatu ketika, ia berkhutbah dan berkata, "Ya Allah, sesungguhnya dosa-dosaku sangatlah besar, namun ia kecil dibanding kemaafan-Mu. Ya Allah Yang Mahamulia, ampunilah dosaku."
Abdul Malik telah menunjukkan kepiawannya dalam mengelola negara dan mengatur perangkat-perangkatnya, sebagaimana ia juga telah menunjukkan kepiawaiannya dalam mengembalikan kesatuan umat Islam. Dalam menjalankan pemerintahannya, ia mempercayai orang-orang yang telah terbukti paling mahir, paling cakap, dan paling berpengalaman, seperti Al-Hajjâj ibnu Yusuf Ats-Tsaqafi, Bisyr ibnu Marwan, dan Abdul Aziz ibnu Marwan.
Abdul Malik biasa memantau langsung keadaan masyarakatnya, memperhatikan kondisi para pekerja dan petinggi kerajaannya, serta memantau tingkah laku mereka. Ia berhasil meraih prestasi-prestasi manajerial yang luar biasa, sehingga mendorong kemajuan yang sangat berarti bagi pemerintahan Islam.
Pada masa pemerintahannya, buku-buku diterjemahkan dari bahasa Persia dan Romawi ke bahasa Arab. Hal itu dikenal dalam sejarah dengan istilah gerakan arabisasi buku-buku.
Karena itu, ketika Abdul Malik wafat pada tahun 86 H (705 M), negara berada dalam keadaan aman dan stabil. Tugas selanjutnya berada di tangan putranya, Al-Walid bin Abdul Malik, untuk melanjutkan pembangunan, meningkatkan kemajuan negara, memperluas wilayah kekuasaan, dan membuka jalan baru bagi perkembangan Islam. Dan semua itu benar-benar berhasil ia lakukan.
KHALIFAH AL-WALID BIN BADUL MALIK (86-96 H/ 705- 714 M)
``
Kelahiran Al-Walid bin Abdul Malik
Al-Walid bin Abdul Malik lahir pada masa kekhalifahan Muawiyah bin Abu Sufyan sekitar tahun 50 H (670 M) di Madinah. Ia adalah putra sulung Abdul Malik bin Marwan. Ketika Marwan bin al-Hakam pindah ke wilayah Syam, Al-Walid ikut bersama keluarganya. Mereka meninggalkan Madinah pada bulan Rabi‘ul Akhir tahun 64 H (Desember 683 M) setelah Abdullah bin az-Zubair menyatakan diri sebagai khalifah.
Sejak kecil, Al-Walid mencintai bahasa Arab. Ayahnya sering berkata bahwa pemimpin bangsa Arab harus menguasai bahasa Arab dengan baik. Al-Walid juga rajin membaca Al-Qur’an. Ia biasa mengkhatamkan Al-Qur’an setiap tiga hari, dan ada riwayat yang menyebutkan setiap tujuh hari. Kebiasaan ini tetap ia lakukan bahkan setelah menjadi khalifah.
Pengangkatan Al-Walid bin Abdul Malik sebagai Khalifah
Sebelum Al-Walid menjadi khalifah, Abdul Aziz bin Marwan adalah putra mahkota pada masa pemerintahan saudaranya, Abdul Malik bin Marwan. Ketika Abdul Aziz wafat pada tahun 85 H (704 M), Abdul Malik menunjuk putranya, Al-Walid, sebagai calon khalifah. Masyarakat pun membaiatnya. Al-Walid resmi menjadi khalifah setelah ayahnya wafat, yaitu pada 15 Syawal 86 H (9 Oktober 705 M).
Al-Walid menjadi khalifah saat masih muda, tetapi ia memiliki ilmu yang luas, pengalaman dalam pemerintahan, dan pemikiran yang matang. Saat ia mulai memimpin, keadaan negara sudah aman dan damai karena ayahnya telah berhasil menghentikan pemberontakan dan perang saudara.
Dalam masa pemerintahannya, Al-Walid memulai banyak perbaikan dan pembangunan. Ia juga menghidupkan kembali penaklukan Islam di wilayah timur dan barat. Dalam waktu kurang dari sepuluh tahun, ia berhasil mencapai banyak hal besar yang sulit dicapai oleh negara lain dalam waktu yang sangat lama.
Gerakan Penaklukan
Pada masa pemerintahan Al-Walid bin Abdul Malik, terjadi gerakan penaklukan Islam terbesar dalam sejarah Daulah Umayyah. Wilayah kekuasaan Islam menjadi sangat luas, bahkan mencakup daerah terluas di dunia yang dikenal saat itu. Banyak panglima hebat muncul pada masa ini. Mereka memiliki kemampuan militer yang tinggi, berani, dan rela berkorban, sehingga keberhasilan penaklukan ini mengingatkan umat Islam pada masa penaklukan di zaman Khulafaur Rasyidin.
Di wilayah timur, Al-Hajjaj ats-Tsaqafi mengirim pasukan Irak di bawah pimpinan Qutaibah bin Muslim al-Bahili untuk menaklukkan daerah Ma Wara’an-Nahr atauTransxiana. Transoxiana sebutan historis untuk wilayah di Asia Tengah, tepatnya di seberang Sungai Jihun (Amu Darya) yang mencakup wilayah Uzbekistan, Tajikistan, dan sebagian Turkmenistan saat ini. Wilayah ini merupakan pusat penting peradaban Islam dengan kota-kota utama seperti Bukhara, Samarkand, dan Merv. Penaklukan ini berlangsung selama sekitar sepuluh tahun (705–714 M). Dalam masa itu, Qutaibah berhasil menaklukkan kota Bukhara, Samarkand, hingga mencapai wilayah Kashgar yang dekat dengan perbatasan Cina.
Selain itu, Al-Hajjaj juga mengutus Muhammad bin Qasim ats-Tsaqafi untuk menaklukkan wilayah Sind di anak benua India pada tahun 707 M. Walaupun usianya belum mencapai dua puluh tahun, ia berhasil menjalankan tugasnya dengan baik. Ia menaklukkan kota Debal (di wilayah Pakistan sekarang) dan memperluas kekuasaan Islam hingga Multan di Punjab selatan.
Di wilayah barat, Musa bin Nushair dan Thariq bin Ziyad berhasil menyeberangi Laut Tengah menuju Spanyol pada tahun 711 M. Wilayah ini kemudian dikenal oleh kaum Muslimin sebagai Al-Andalus. Musa bin Nushair bercita-cita melanjutkan penaklukan hingga ke wilayah Prancis dan akhirnya sampai ke Konstantinopel, lalu kembali ke Damaskus. Namun, Khalifah Al-Walid melarang rencana tersebut dan memerintahkannya untuk kembali ke Damaskus.
Al-Walid juga terus melakukan peperangan melawan Kekaisaran Bizantium untuk menjaga keamanan perbatasan negara. Perang-perang ini banyak dipimpin oleh saudaranya, Maslamah bin Abdul Malik, dan juga diikuti oleh anak-anak Al-Walid. Sejak tahun 706 M, hampir setiap tahun dilakukan ekspedisi militer ke wilayah Romawi. Al-Walid bahkan telah mempersiapkan pasukan darat dan laut untuk menaklukkan Konstantinopel, tetapi ia wafat sebelum rencana itu terlaksana. Usaha tersebut kemudian dilanjutkan oleh saudaranya, Sulaiman bin Abdul Malik, setelah menjadi khalifah.
Masjid Umayyah
Para sejarawan memuji usaha besar Al-Walid dalam bidang pembangunan yang dilakukan hampir di seluruh wilayah negara. Ia memperbarui Ka‘bah dan memperluas Masjidil Haram. Ia juga membangun kembali Masjid Nabawi dan memperluasnya ke semua sisi hingga memasukkan kamar-kamar istri Nabi ﷺ ke dalam masjid. Tugas ini diserahkan kepada sepupunya yang juga gubernur Madinah, yaitu Umar bin Abdul Aziz. Untuk itu, Al-Walid mengirim dana, marmer, hiasan mozaik, serta sekitar delapan puluh ahli bangunan dari Romawi dan Koptik Syam.
Selain itu, Al-Walid juga memperbaiki Masjid Al-Aqsa di Palestina. Ia juga dianggap sebagai orang yang pertama memperkenalkan mihrab cekung dan menara masjid. Ia juga memerintahkan gubernurnya di Mesir untuk memperbarui Masjid Amr bin Ash.
Bangunan paling indah dan terkenal yang didirikan Al-Walid adalah Masjid Umayyah di Damaskus. Masjid ini menjadi salah satu karya terbesar dalam seni dan arsitektur Islam. Al-Walid membangunnya dengan sangat megah dan indah sebagai tanda kekuatan negara dan kemajuan peradaban Islam. Pembangunannya menghabiskan biaya yang sangat besar dan berlangsung sepanjang masa pemerintahannya. Setelah Al-Walid wafat, sebagian penyempurnaannya dilanjutkan oleh saudaranya, Sulaiman bin Abdul Malik.
Istana Al-Walid
Al-Walid membangun Qasr ‘Amrah, yaitu sebuah istana kecil yang terletak sekitar 50 mil di sebelah timur kota Amman, Yordania. Istana ini baru dikenal pada tahun 1898 M, setelah ditemukan oleh sebuah tim peneliti yang dipimpin oleh Muzil (Musil).
Istana Qasr ‘Amrah terkenal karena lukisan-lukisan indah di dindingnya. Di dalamnya terdapat gambar burung, hewan, dan hiasan tumbuhan yang dibuat dengan sangat bagus dan menarik.
Perhatiannya Pada Peradaban
Abdul Malik biasa memantau langsung keadaan masyarakatnya, memperhatikan kondisi para pekerja dan petinggi kerajaannya, serta memantau tingkah laku mereka. Ia berhasil meraih prestasi-prestasi manajerial yang luar biasa, sehingga mendorong kemajuan yang sangat berarti bagi pemerintahan Islam.
Kebijakan Penting dalam Bidang Ekonomi
Abdul Malik dikenal sebagai orang yang pertama kali membuat koin Mata Uang Dinar dan menuliskan di atasnya ayat-ayat Al-Qur'an. Abdul Malik menulis di salah satu sisi koin: قل هو الله أحد dan di sisi lainnya menulis لا اله الا الله. Mata uang itu dihiasi dengan hiasan perak dan ditulis: "Uang ini dibuat di kota Fulan" Kemudian di luar lingkaran ditulis "محمد رسول الله أرسله بالهدى ودين الحق. Abdul Malik menyebutkan nama Rasulullah lengkap dengan tanggal/bulan serta tahun pembuatan uang dinar tersebut.
Jasa-jasanya
Pada masa kekhalifahannya, ia berhasil:
- Menyatukan kembali wilayah Islam
- Mengalahkan pemberontakan besar
- Mencetak mata uang Islam pertama
- Mengarabkan administrasi negara
- Membangun Kubah Shakhrah
- Menjadikan Dinasti Umayyah sebagai negara yang kuat dan stabil
Kewafatannya
Abdul Malik wafat pada bulan Sya‘ban tahun 86 H, dan digantikan oleh putranya al-Walid. Khalifahini wafat meninggalkan negara yang kuat dan luas wilayahnya, pemerintahan yang rapi, sumber daya yang melimpah, serta banyak pemimpin dan pasukan yang cakap. Keberhasilan ini dicapai setelah bertahun-tahun usaha dalam mengatur negara dan menyatukannya kembali.
Karena itu, ketika Abdul Malik wafat pada tahun 86 H (705 M), negara berada dalam keadaan aman dan stabil. Tugas selanjutnya berada di tangan putranya, Al-Walid bin Abdul Malik, untuk melanjutkan pembangunan, meningkatkan kemajuan negara, memperluas wilayah kekuasaan, dan membuka jalan baru bagi perkembangan Islam. Dan semua itu benar-benar berhasil ia lakukan.
KHALIFAH AL-WALID BIN BADUL MALIK (86-96 H/ 705- 714 M)
``
Kelahiran Al-Walid bin Abdul Malik
Al-Walid bin Abdul Malik lahir pada masa kekhalifahan Muawiyah bin Abu Sufyan sekitar tahun 50 H (670 M) di Madinah. Ia adalah putra sulung Abdul Malik bin Marwan. Ketika Marwan bin al-Hakam pindah ke wilayah Syam, Al-Walid ikut bersama keluarganya. Mereka meninggalkan Madinah pada bulan Rabi‘ul Akhir tahun 64 H (Desember 683 M) setelah Abdullah bin az-Zubair menyatakan diri sebagai khalifah.
Sejak kecil, Al-Walid mencintai bahasa Arab. Ayahnya sering berkata bahwa pemimpin bangsa Arab harus menguasai bahasa Arab dengan baik. Al-Walid juga rajin membaca Al-Qur’an. Ia biasa mengkhatamkan Al-Qur’an setiap tiga hari, dan ada riwayat yang menyebutkan setiap tujuh hari. Kebiasaan ini tetap ia lakukan bahkan setelah menjadi khalifah.
Pengangkatan Al-Walid bin Abdul Malik sebagai Khalifah
Sebelum Al-Walid menjadi khalifah, Abdul Aziz bin Marwan adalah putra mahkota pada masa pemerintahan saudaranya, Abdul Malik bin Marwan. Ketika Abdul Aziz wafat pada tahun 85 H (704 M), Abdul Malik menunjuk putranya, Al-Walid, sebagai calon khalifah. Masyarakat pun membaiatnya. Al-Walid resmi menjadi khalifah setelah ayahnya wafat, yaitu pada 15 Syawal 86 H (9 Oktober 705 M).
Al-Walid menjadi khalifah saat masih muda, tetapi ia memiliki ilmu yang luas, pengalaman dalam pemerintahan, dan pemikiran yang matang. Saat ia mulai memimpin, keadaan negara sudah aman dan damai karena ayahnya telah berhasil menghentikan pemberontakan dan perang saudara.
Dalam masa pemerintahannya, Al-Walid memulai banyak perbaikan dan pembangunan. Ia juga menghidupkan kembali penaklukan Islam di wilayah timur dan barat. Dalam waktu kurang dari sepuluh tahun, ia berhasil mencapai banyak hal besar yang sulit dicapai oleh negara lain dalam waktu yang sangat lama.
Gerakan Penaklukan
Pada masa pemerintahan Al-Walid bin Abdul Malik, terjadi gerakan penaklukan Islam terbesar dalam sejarah Daulah Umayyah. Wilayah kekuasaan Islam menjadi sangat luas, bahkan mencakup daerah terluas di dunia yang dikenal saat itu. Banyak panglima hebat muncul pada masa ini. Mereka memiliki kemampuan militer yang tinggi, berani, dan rela berkorban, sehingga keberhasilan penaklukan ini mengingatkan umat Islam pada masa penaklukan di zaman Khulafaur Rasyidin.
Di wilayah timur, Al-Hajjaj ats-Tsaqafi mengirim pasukan Irak di bawah pimpinan Qutaibah bin Muslim al-Bahili untuk menaklukkan daerah Ma Wara’an-Nahr atauTransxiana. Transoxiana sebutan historis untuk wilayah di Asia Tengah, tepatnya di seberang Sungai Jihun (Amu Darya) yang mencakup wilayah Uzbekistan, Tajikistan, dan sebagian Turkmenistan saat ini. Wilayah ini merupakan pusat penting peradaban Islam dengan kota-kota utama seperti Bukhara, Samarkand, dan Merv. Penaklukan ini berlangsung selama sekitar sepuluh tahun (705–714 M). Dalam masa itu, Qutaibah berhasil menaklukkan kota Bukhara, Samarkand, hingga mencapai wilayah Kashgar yang dekat dengan perbatasan Cina.
Selain itu, Al-Hajjaj juga mengutus Muhammad bin Qasim ats-Tsaqafi untuk menaklukkan wilayah Sind di anak benua India pada tahun 707 M. Walaupun usianya belum mencapai dua puluh tahun, ia berhasil menjalankan tugasnya dengan baik. Ia menaklukkan kota Debal (di wilayah Pakistan sekarang) dan memperluas kekuasaan Islam hingga Multan di Punjab selatan.
Di wilayah barat, Musa bin Nushair dan Thariq bin Ziyad berhasil menyeberangi Laut Tengah menuju Spanyol pada tahun 711 M. Wilayah ini kemudian dikenal oleh kaum Muslimin sebagai Al-Andalus. Musa bin Nushair bercita-cita melanjutkan penaklukan hingga ke wilayah Prancis dan akhirnya sampai ke Konstantinopel, lalu kembali ke Damaskus. Namun, Khalifah Al-Walid melarang rencana tersebut dan memerintahkannya untuk kembali ke Damaskus.
Al-Walid juga terus melakukan peperangan melawan Kekaisaran Bizantium untuk menjaga keamanan perbatasan negara. Perang-perang ini banyak dipimpin oleh saudaranya, Maslamah bin Abdul Malik, dan juga diikuti oleh anak-anak Al-Walid. Sejak tahun 706 M, hampir setiap tahun dilakukan ekspedisi militer ke wilayah Romawi. Al-Walid bahkan telah mempersiapkan pasukan darat dan laut untuk menaklukkan Konstantinopel, tetapi ia wafat sebelum rencana itu terlaksana. Usaha tersebut kemudian dilanjutkan oleh saudaranya, Sulaiman bin Abdul Malik, setelah menjadi khalifah.
Masjid Umayyah
Al-Walid bin Abdul Malik dikenal sangat menyukai pembangunan dan arsitektur. Ia melakukan hal-hal yang belum pernah dilakukan oleh khalifah Bani Umayyah sebelumnya. Ia menggali sumur dan mata air, memperbaiki jalan-jalan yang menghubungkan wilayah negaranya yang luas, serta membangun masjid dan rumah sakit.
Para sejarawan memuji usaha besar Al-Walid dalam bidang pembangunan yang dilakukan hampir di seluruh wilayah negara. Ia memperbarui Ka‘bah dan memperluas Masjidil Haram. Ia juga membangun kembali Masjid Nabawi dan memperluasnya ke semua sisi hingga memasukkan kamar-kamar istri Nabi ﷺ ke dalam masjid. Tugas ini diserahkan kepada sepupunya yang juga gubernur Madinah, yaitu Umar bin Abdul Aziz. Untuk itu, Al-Walid mengirim dana, marmer, hiasan mozaik, serta sekitar delapan puluh ahli bangunan dari Romawi dan Koptik Syam.
Selain itu, Al-Walid juga memperbaiki Masjid Al-Aqsa di Palestina. Ia juga dianggap sebagai orang yang pertama memperkenalkan mihrab cekung dan menara masjid. Ia juga memerintahkan gubernurnya di Mesir untuk memperbarui Masjid Amr bin Ash.
Bangunan paling indah dan terkenal yang didirikan Al-Walid adalah Masjid Umayyah di Damaskus. Masjid ini menjadi salah satu karya terbesar dalam seni dan arsitektur Islam. Al-Walid membangunnya dengan sangat megah dan indah sebagai tanda kekuatan negara dan kemajuan peradaban Islam. Pembangunannya menghabiskan biaya yang sangat besar dan berlangsung sepanjang masa pemerintahannya. Setelah Al-Walid wafat, sebagian penyempurnaannya dilanjutkan oleh saudaranya, Sulaiman bin Abdul Malik.
Istana Al-Walid
Al-Walid membangun Qasr ‘Amrah, yaitu sebuah istana kecil yang terletak sekitar 50 mil di sebelah timur kota Amman, Yordania. Istana ini baru dikenal pada tahun 1898 M, setelah ditemukan oleh sebuah tim peneliti yang dipimpin oleh Muzil (Musil).
Istana Qasr ‘Amrah terkenal karena lukisan-lukisan indah di dindingnya. Di dalamnya terdapat gambar burung, hewan, dan hiasan tumbuhan yang dibuat dengan sangat bagus dan menarik.
Penyempurnaan Arabisasi
Proses arabisasi (penggunaan bahasa Arab) berlangsung lama. Kebijakan ini dimulai oleh Abdul Malik bin Marwan dan dilanjutkan oleh Al-Walid bin Abdul Malik. Al-Walid memerintahkan gubernurnya di Mesir, Abdullah bin Abdul Malik, agar catatan pemerintahan (diwan) ditulis dalam bahasa Arab, padahal sebelumnya menggunakan bahasa Koptik.
Kebijakan ini melengkapi usaha arabisasi yang dimulai oleh Abdul Malik. Proses arabisasi baru benar-benar selesai setelah diwan di wilayah Khurasan juga menggunakan bahasa Arab pada tahun 124 H (741 M). Dengan adanya arabisasi, bahasa Arab semakin luas digunakan, terutama di kalangan non-Arab, dan menjadi bahasa ilmu dan budaya, selain sebagai bahasa agama.
Kesejahteraan Sosial
Setelah negara menjadi aman dan stabil, keuangan negara meningkat dan kas negara penuh. Al-Walid menggunakan sebagian harta tersebut untuk pembangunan, dan sebagian lagi untuk pelayanan sosial gratis.
Ia memerintahkan pembangunan rumah sakit bagi penderita penyakit menahun, memberi tunjangan kepada penyandang disabilitas seperti tunanetra dan penderita kusta, serta menyediakan pelayan bagi orang lumpuh dan penuntun bagi orang buta.
Wafatnya Al-Walid bin Abdul Malik
Selama masa kekhalifahannya yang tidak sampai sepuluh tahun, Al-Walid bin Abdul Malik berhasil membangun negara yang besar dan kuat. Rakyat hidup dalam kemakmuran, pembangunan berkembang pesat, dan kegiatan ilmu pengetahuan di masjid-masjid besar semakin maju.
Pada masa itu, negara Umayyah menjadi negara terkuat di dunia. Namun, Al-Walid tidak hidup lama. Ia wafat pada pertengahan Jumadal Akhir tahun 96 H, bertepatan dengan 25 Februari 715 M.
Proses arabisasi (penggunaan bahasa Arab) berlangsung lama. Kebijakan ini dimulai oleh Abdul Malik bin Marwan dan dilanjutkan oleh Al-Walid bin Abdul Malik. Al-Walid memerintahkan gubernurnya di Mesir, Abdullah bin Abdul Malik, agar catatan pemerintahan (diwan) ditulis dalam bahasa Arab, padahal sebelumnya menggunakan bahasa Koptik.
Kebijakan ini melengkapi usaha arabisasi yang dimulai oleh Abdul Malik. Proses arabisasi baru benar-benar selesai setelah diwan di wilayah Khurasan juga menggunakan bahasa Arab pada tahun 124 H (741 M). Dengan adanya arabisasi, bahasa Arab semakin luas digunakan, terutama di kalangan non-Arab, dan menjadi bahasa ilmu dan budaya, selain sebagai bahasa agama.
Kesejahteraan Sosial
Setelah negara menjadi aman dan stabil, keuangan negara meningkat dan kas negara penuh. Al-Walid menggunakan sebagian harta tersebut untuk pembangunan, dan sebagian lagi untuk pelayanan sosial gratis.
Ia memerintahkan pembangunan rumah sakit bagi penderita penyakit menahun, memberi tunjangan kepada penyandang disabilitas seperti tunanetra dan penderita kusta, serta menyediakan pelayan bagi orang lumpuh dan penuntun bagi orang buta.
Wafatnya Al-Walid bin Abdul Malik
Selama masa kekhalifahannya yang tidak sampai sepuluh tahun, Al-Walid bin Abdul Malik berhasil membangun negara yang besar dan kuat. Rakyat hidup dalam kemakmuran, pembangunan berkembang pesat, dan kegiatan ilmu pengetahuan di masjid-masjid besar semakin maju.
Pada masa itu, negara Umayyah menjadi negara terkuat di dunia. Namun, Al-Walid tidak hidup lama. Ia wafat pada pertengahan Jumadal Akhir tahun 96 H, bertepatan dengan 25 Februari 715 M.



.jpg)
0 Comments:
Posting Komentar