
Saladin: The revered Conqueror of Jerusalem. Sumber: https://sevenswords.uk/saladin/
Daulah Ayyubiyyah
1. Shalahuddin Yusuf Al-Ayyubi (570-589 H/1174-1193 M)
2. Malik Al-Aziz Imaduddin (589-596 H/1193-1198 M)
3. Malik Al-Mansur Nasiruddin (595-596 H/1198-1200 M)
4. Malik Al-Adil Saifudin, pemerintahan I (596-615 H/1200-1218 M)
5. Malik Al-Kamil Muhammad (615-635 H/1218-1238 M)
6. Malik Al-Adil Saifudin, pemerintahan II (635-637 H/1238-1240 M)
7. Malik As-Shaleh Najmuddin (637-647 H/1240-1249 M)
8. Malik Al-Mu’azzam Turansyah (647 H/1249 M)
9. Malik Al-Asyraf Muzaffaruddin (647-650 H/1249-1252 M)
Dari kesembilan penguasa Daulah Ayyubiyah di atas, ada tiga pemimpin yang memiliki peran paling menonjol terhadap perkembangan Daulah Ayyubiyah yaitu;
- Shalahuddin Yusuf Al-Ayyubi,
- Malik Al-Adil Saifudin (saudara Shalahuddin), dan;
- Malik Al-Kamil Muhammad (keponakan Shalahuddin).
Kekuasaan Daulah Ayyubiyyah disebutkan didistribusi kepada keluarga Shalahuddin. Maka, kekuasaan Daulah Ayyubiyah memiliki cabang-cabang kekuasaan yang meliputi Kesultanan Ayyubiyah Mesir, Kesultanan Ayyubiyah Damaskus, Kesultanan Ayyubiyah Aleppo, Homs, Mayyafariqin (Yaman), Sinjar (Irak), Kafya (Irak), Yaman, dan Kesultanan Ayyubiyah Kerak (Yordania).
An-Nāshir Abū al-Muzhaffar Shalahuddin Al-Ayyubi
An-Nāshir Abū al-Muzhaffar Shalahuddin Al-Ayyubi adalah panglima Perang Hittin, pendiri Daulah Ayyubiyah yang berhasil menyatukan Syam, Mesir, dan Hijaz di bawah panji Khilafah Abbasiyah. Allah menakdirkan melalui tangannya pembebasan Baitul Maqdis (Yerusalem).
Allah mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum Muslimin dan membersihkannya dari kekejian Yahudi. Shalahuddin adalah sosok agung di antara tokoh-tokoh besar umat Islam, yang terwujud padanya: keikhlasan niat dan tawakal kepada Allah, kecintaan pada syahid, jihad yang nyata, ilmu dan fikih, pengorbanan, serta komitmen kuat terhadap persatuan umat.
Kelahiran Shalahuddin Al-Ayyubi
Shalahuddin lahir pada tahun 530 H (1137 M) di Benteng Tikrit, Irak. Ayahnya adalah gubernur Benteng Tikrit. Ia kemudian menjadi wazir di Mesir ketika masih muda. Ia merupakan lulusan madrasah reformasi yang juga melahirkan tokoh-tokoh besar seperti Nuruddin Zanki dan Imaduddin Zanki, semoga Allah merahmati mereka semua.
Sifat-sifat Shalahuddin Al-Ayyubi
Allah mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum Muslimin dan membersihkannya dari kekejian Yahudi. Shalahuddin adalah sosok agung di antara tokoh-tokoh besar umat Islam, yang terwujud padanya: keikhlasan niat dan tawakal kepada Allah, kecintaan pada syahid, jihad yang nyata, ilmu dan fikih, pengorbanan, serta komitmen kuat terhadap persatuan umat.
Kelahiran Shalahuddin Al-Ayyubi
Shalahuddin lahir pada tahun 530 H (1137 M) di Benteng Tikrit, Irak. Ayahnya adalah gubernur Benteng Tikrit. Ia kemudian menjadi wazir di Mesir ketika masih muda. Ia merupakan lulusan madrasah reformasi yang juga melahirkan tokoh-tokoh besar seperti Nuruddin Zanki dan Imaduddin Zanki, semoga Allah merahmati mereka semua.
Sifat-sifat Shalahuddin Al-Ayyubi
Keimanan Shalahuddin
Ia memiliki akidah yang lurus, banyak berdzikir, sangat menjaga salat berjamaah, bersemangat dalam menjalankan sunnah dan salat nawafil, terbiasa bangun malam, dan mencintai bacaan Al-Qur’an. Ia memilih sendiri imam salat, mencari orang yang bersuara indah dan berakhlak mulia. Hatinya lembut, mudah menangis karena khusyuk, sangat gemar mendengarkan hadis, mengagungkan syiar-syiar Allah, berprasangka baik kepada Allah, dan sangat bergantung kepada-Nya.
Akhlak dan Muamalah
Ia ramah dalam pergaulan, adil dan penuh kasih terhadap rakyat, pembela orang-orang yang dizalimi dan lemah. Akhlaknya lembut, majelisnya bersih, ucapannya baik, pendengarannya terjaga, lisannya suci, tulisannya bersih, serta menolak keras ghibah dan adu domba.
Keberanian
Ia sangat perkasa, tekun berjihad, bercita-cita tinggi, dan memiliki tujuan besar. Demi tujuan itu ia meninggalkan keluarga, tempat tinggal, dan tanah airnya. Ia pernah berkata dekat Akka.
Terbetik dalam pikiranku bahwa setelah Allah membukakan bagi kita sisa wilayah pesisir, aku akan membersihkan negeri ini dari kaum Nasrani, kemudian mengangkat para gubernur, lalu berlayar ke pulau-pulau mereka di Eropa dan menaklukkannya. Aku akan terus mengejar mereka di Eropa hingga tidak tersisa di muka bumi ini orang yang kafir kepada Allah, atau aku mati.”
Zuhud
Ia menjalani kehidupan sederhana di zaman yang penuh kemewahan dan pemborosan. Ia dermawan, tidak menyakiti siapa pun karena akidahnya kecuali mereka yang memeranginya. Ia tidak menyukai pembunuhan dan pertumpahan darah kecuali terhadap pengkhianat dan penyerang, serta dikenal penuh kasih terhadap setiap orang lemah.
Kondisi Umat Islam di Zaman Shalahuddin
Ia memiliki akidah yang lurus, banyak berdzikir, sangat menjaga salat berjamaah, bersemangat dalam menjalankan sunnah dan salat nawafil, terbiasa bangun malam, dan mencintai bacaan Al-Qur’an. Ia memilih sendiri imam salat, mencari orang yang bersuara indah dan berakhlak mulia. Hatinya lembut, mudah menangis karena khusyuk, sangat gemar mendengarkan hadis, mengagungkan syiar-syiar Allah, berprasangka baik kepada Allah, dan sangat bergantung kepada-Nya.
Akhlak dan Muamalah
Ia ramah dalam pergaulan, adil dan penuh kasih terhadap rakyat, pembela orang-orang yang dizalimi dan lemah. Akhlaknya lembut, majelisnya bersih, ucapannya baik, pendengarannya terjaga, lisannya suci, tulisannya bersih, serta menolak keras ghibah dan adu domba.
Keberanian
Ia sangat perkasa, tekun berjihad, bercita-cita tinggi, dan memiliki tujuan besar. Demi tujuan itu ia meninggalkan keluarga, tempat tinggal, dan tanah airnya. Ia pernah berkata dekat Akka.
Terbetik dalam pikiranku bahwa setelah Allah membukakan bagi kita sisa wilayah pesisir, aku akan membersihkan negeri ini dari kaum Nasrani, kemudian mengangkat para gubernur, lalu berlayar ke pulau-pulau mereka di Eropa dan menaklukkannya. Aku akan terus mengejar mereka di Eropa hingga tidak tersisa di muka bumi ini orang yang kafir kepada Allah, atau aku mati.”
Zuhud
Ia menjalani kehidupan sederhana di zaman yang penuh kemewahan dan pemborosan. Ia dermawan, tidak menyakiti siapa pun karena akidahnya kecuali mereka yang memeranginya. Ia tidak menyukai pembunuhan dan pertumpahan darah kecuali terhadap pengkhianat dan penyerang, serta dikenal penuh kasih terhadap setiap orang lemah.
Kondisi Umat Islam di Zaman Shalahuddin
Negeri-negeri Islam berada dalam keadaan lemah dan tunduk kepada kaum Salibis. Maka muncul gerakan reformasi keagamaan yang dipimpin Imam Al-Ghazali dan Imam Ath-Tharthusi. Dari gerakan ini lahirlah Imaduddin Zanki, penguasa Mosul, yang menyerukan persatuan Islam dan jihad umat.
Ia berhasil menyatukan Aleppo dan membebaskan Edessa, sebelum akhirnya dibunuh secara khianat. Perjuangannya dilanjutkan oleh putranya, Nuruddin Zanki, yang mempersiapkan penyatuan Mesir dan Syam serta mengangkat para panglima besar seperti Asaduddin Syirkuh dan Najmuddin Ayyub (ayah Shalahuddin).
Shalahuddin di Mesir
Ia berhasil menyatukan Aleppo dan membebaskan Edessa, sebelum akhirnya dibunuh secara khianat. Perjuangannya dilanjutkan oleh putranya, Nuruddin Zanki, yang mempersiapkan penyatuan Mesir dan Syam serta mengangkat para panglima besar seperti Asaduddin Syirkuh dan Najmuddin Ayyub (ayah Shalahuddin).
Shalahuddin di Mesir
Situasi Mesir kacau akibat pengkhianatan Syawar, wazir Khalifah Fatimiyah Al-‘Adhid, yang bersekutu dengan kaum Nasrani. Nuruddin mengirim pasukan di bawah Asaduddin Syirkuh, bersama Shalahuddin. Syawar terbunuh, Syirkuh diangkat sebagai wazir, dan keamanan Mesir pun pulih.
Shalahuddin sebagai Wazir Mesir
Dua bulan kemudian Syirkuh wafat. Al-‘Adhid mengangkat Shalahuddin sebagai wazir dengan gelar Al-Malik An-Nashir, mengira ia mudah dikendalikan. Namun Shalahuddin berbuat adil dan memikat hati rakyat, sehingga kekuasaannya menguat.
Shalahuddin sebagai Wazir Mesir
Dua bulan kemudian Syirkuh wafat. Al-‘Adhid mengangkat Shalahuddin sebagai wazir dengan gelar Al-Malik An-Nashir, mengira ia mudah dikendalikan. Namun Shalahuddin berbuat adil dan memikat hati rakyat, sehingga kekuasaannya menguat.
Penghapusan Khilafah Fatimiyah
Pada tahun 578 H (1171 M), Al-‘Adhid wafat. Shalahuddin, berkoordinasi dengan Nuruddin, menghapus Khilafah Fatimiyah yang telah berlangsung 200 tahun, mengembalikan khutbah atas nama Khalifah Abbasiyah, serta menyatukan umat di bawah satu khalifah.
Pada tahun 578 H (1171 M), Al-‘Adhid wafat. Shalahuddin, berkoordinasi dengan Nuruddin, menghapus Khilafah Fatimiyah yang telah berlangsung 200 tahun, mengembalikan khutbah atas nama Khalifah Abbasiyah, serta menyatukan umat di bawah satu khalifah.
Berdirinya Daulah Ayyubiyah dan Penyatuan Syam
Setelah wafatnya Nuruddin (569 H / 1174 M), wilayah Syam terpecah. Shalahuddin menyatakan diri sebagai penerusnya dan selama 12 tahun berperang melawan penguasa lokal, kaum Salibis, dan kelompok Ismailiyah, hingga berhasil menyatukan Syam dan memulai Daulah Ayyubiyah.
Benteng Karak dan Rencana Menyerang Makkah–Madinah
Benteng Karak, di bawah Renaud (Arnat), menjadi ancaman besar. Ia bahkan merencanakan penyerangan ke Makkah dan Madinah, namun rencana ini digagalkan oleh pasukan Muslim.
Perang Hittin (583 H / 1187 M)
Renaud menyerang kafilah haji Muslim. Shalahuddin membatalkan perjanjian damai. Pasukan Salib (63.000 orang) dipimpin Guy de Lusignan.
Shalahuddin memancing mereka ke Hittin, memutus akses air. Pada Jumat, 24 Rabi‘ul Akhir 583 H, terjadi pertempuran dahsyat. Angin, api, panas, dan kehausan menghancurkan pasukan Salib:
Setelah wafatnya Nuruddin (569 H / 1174 M), wilayah Syam terpecah. Shalahuddin menyatakan diri sebagai penerusnya dan selama 12 tahun berperang melawan penguasa lokal, kaum Salibis, dan kelompok Ismailiyah, hingga berhasil menyatukan Syam dan memulai Daulah Ayyubiyah.
Benteng Karak dan Rencana Menyerang Makkah–Madinah
Benteng Karak, di bawah Renaud (Arnat), menjadi ancaman besar. Ia bahkan merencanakan penyerangan ke Makkah dan Madinah, namun rencana ini digagalkan oleh pasukan Muslim.
Perang Hittin (583 H / 1187 M)
Renaud menyerang kafilah haji Muslim. Shalahuddin membatalkan perjanjian damai. Pasukan Salib (63.000 orang) dipimpin Guy de Lusignan.
Shalahuddin memancing mereka ke Hittin, memutus akses air. Pada Jumat, 24 Rabi‘ul Akhir 583 H, terjadi pertempuran dahsyat. Angin, api, panas, dan kehausan menghancurkan pasukan Salib:
- 30.000 tewas
- 30.000 ditawan
- Raja Salib ditangkap
Dalam dua bulan, Shalahuddin membebaskan: Akka, Nazaret, Haifa, Nablus, Jenin, Baisan, Jaffa, Sidon, Beirut, Ramla, Bethlehem, dan Hebron.
Pembebasan Baitul Maqdis
Tahun 583 H (1187 M), Yerusalem dikepung. Setelah negosiasi, kota diserahkan dengan tebusan. Shalahuddin:
Pembebasan Baitul Maqdis
Tahun 583 H (1187 M), Yerusalem dikepung. Setelah negosiasi, kota diserahkan dengan tebusan. Shalahuddin:
- Memaafkan kaum lemah, wanita, dan fakir Nasrani
- Memperbaiki Masjid Al-Aqsha dan Kubah Shakhrah
- Menolak menghancurkan Gereja Makam Kudus, seraya berkata: Umar menetapkannya, apakah aku yang akan merobohkannya?”
![]() |
Saladin: The Crusades. Sumber: https://sevenswords.uk/saladin/ |
Akhir Hayat Shalahuddin
Pada tahun 589 H (1193 M), Shalahuddin wafat setelah sakit 12 hari. Ia meninggal tanpa harta, dan dunia—bahkan Eropa—menangisinya. Para penyair meratapinya dengan syair-syair yang agung.
***
Sumber:
https://suwaidan.com/%D8%B3%D9%8A%D8%B1%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D9%86%D8%A7%D8%B5%D8%B1-%D8%B5%D9%84%D8%A7%D8%AD-%D8%A7%D9%84%D8%AF%D9%8A%D9%86-%D8%A7%D9%84%D8%A3%D9%8A%D9%88%D8%A8%D9%8A/
https://suwaidan.com/%D8%B3%D9%8A%D8%B1%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D9%86%D8%A7%D8%B5%D8%B1-%D8%B5%D9%84%D8%A7%D8%AD-%D8%A7%D9%84%D8%AF%D9%8A%D9%86-%D8%A7%D9%84%D8%A3%D9%8A%D9%88%D8%A8%D9%8A/


0 Comments:
Posting Komentar