
Iliustrasi Tentara Umayyah. Sumber: https://mawdoo3.com/
Keluarga Bani Umayyah
Bani Umayyah memiliki tokoh-tokoh dengan jasa-jasa besar bagi umat Islam sejak awal dakwah Islam. Di antara mereka yaitu Utsman bin ‘Affan al-Umawi رضي الله عنه adalah orang pertama yang menuliskan wahyu dari langit dan dialah yang mengumpulkan Al-Qur’an.
Kita juga mengenal Ummul Mukminin dari Bani Umayyah, Ummu Habibah binti Abi Sufyan رضي الله عنها yang telah mengorbankan banyak bagian dari hidupnya demi Islam. Demikian pula sahabat mulia Abu Sufyan bin Harb al-Umawi رضي الله عنه mempersembahkan kedua matanya di jalan Allah dan Rasul-Nya.
Yazid bin Abi Sufyan al-Umawi رضي الله عنه, saudara Muawiyah adalah panglima pasukan penaklukan Islam di Syam dan pembuka wilayah Lebanon. Ada pula tokoh besar Abdurrahman ad-Dakhil al-Umawi رحمه الله adalah sosok yang kembali menyatukan Andalusia.
Tidak ketinggalan nama ‘Abdurrahman an-Nashir al-Umawi رحمه الله sosok yang membangun peradaban terbesar di Andalusia, di samping Muhammad bin Umayyah al-Umawi رحمه الله adalah pemimpin pemberontakan kaum Muslimin Andalusia.
Tentu, yang paling penting dalam bahasan Daulah Bani Umayyah adalah sosok Mu‘awiyah bin Abi Sufyan al-Umawi رضي الله عنه. Ia termasuk sahabat yang dipilih oleh Rasulullah ﷺ untuk menjadi penulis wahyu.
Kelahiran Nama dan Nasab Muawiyah
Nama lengkapnya Mu‘awiyah bin Abi Sufyan bin Shakhr bin Harb bin Umayyah bin ‘Abd Syams bin ‘Abd Manaf bin Qushayy bin Kilab. Bergelar Abu ‘Abdurrahman, seorang Quraisy dari Bani Umayyah, berasal dari Makkah, dan lahir sebelum masa kenabian (bi‘tsah).
Keislaman Mu‘awiyah bin Abi Sufyan
Mu‘awiyah bin Abi Sufyan termasuk tokoh yang paling menonjol dalam proses berdirinya Daulah Bani Umayyah. Ia dilahirkan sekitar lima belas tahun sebelum hijrah (605 M). Ia telah masuk Islam sebelum ayahnya, yaitu pada saat ‘Umrah al-Qadha’, meskipun tetap merasa takut untuk menyusul Nabi ﷺ karena khawatir terhadap ayahnya. Keislamannya tidak tampak secara terbuka kecuali pada hari Fathu Makkah pada tahun ke-8 H.
Sejak masuk Islam, ia menjadi salah seorang penulis wahyu Rasulullah ﷺ. Ia ikut serta dalam banyak peperangan dan pertempuran. Ia turut bersama Rasulullah ﷺ dalam Perang Hunain, pengepungan Thaif, dan Perang Tabuk.
Kepribadiannya
Menurut sejarawan As-Shalabi, Muawiyah dikenal pribadi yang cerdas, sabar, dan diplomatis. Ia memiliki kemampuan politik tinggi. Ia sangat mengutamakan maslahat umat. Karakternya tegas tanpa meninggalkan kelembutan. Dan sebagai seorang pemimpin, ia menjaga persatuan lebih dari ambisi pribadi.
Perannya pada Masa Khilafah Rasyidah
Pada masa Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه, ia ikut serta dalam Perang melawan orang-orang murtad, termasuk Perang Yamamah. Abu Bakar mengumpulkan sebuah pasukan dan mengangkat Mu‘awiyah sebagai salah satu pemimpinnya, serta memerintahkan mereka untuk menyusul Yazid bin Abi Sufyan menuju negeri Syam. Pasukan ini merupakan pasukan pertama yang dipimpin oleh Mu‘awiyah.
Ia juga turut bersama saudaranya, Yazid, dalam penaklukan Syam dan Perang Yarmuk. Mu‘awiyah menyaksikan pembebasan Baitul Maqdis pada masa kepemimpinan ‘Umar bin Al-Khaththab رضي الله عنه, dan termasuk empat orang saksi perjanjian ‘Umariyah.
Ia memimpin penaklukan Kaisariyah melawan Romawi, mengepung musuh, dan bertempur dengan sangat sengit. Kemudian ‘Umar bin Al-Khaththab رضي الله عنه mengangkatnya sebagai gubernur Damaskus setelah wafatnya saudaranya Yazid. Ia menjaga wilayah perbatasan Syam, serta berhasil menaklukkan Asqalan dan sisa wilayah Palestina.
Keislaman Mu‘awiyah bin Abi Sufyan
Mu‘awiyah bin Abi Sufyan termasuk tokoh yang paling menonjol dalam proses berdirinya Daulah Bani Umayyah. Ia dilahirkan sekitar lima belas tahun sebelum hijrah (605 M). Ia telah masuk Islam sebelum ayahnya, yaitu pada saat ‘Umrah al-Qadha’, meskipun tetap merasa takut untuk menyusul Nabi ﷺ karena khawatir terhadap ayahnya. Keislamannya tidak tampak secara terbuka kecuali pada hari Fathu Makkah pada tahun ke-8 H.
Sejak masuk Islam, ia menjadi salah seorang penulis wahyu Rasulullah ﷺ. Ia ikut serta dalam banyak peperangan dan pertempuran. Ia turut bersama Rasulullah ﷺ dalam Perang Hunain, pengepungan Thaif, dan Perang Tabuk.
Kepribadiannya
Menurut sejarawan As-Shalabi, Muawiyah dikenal pribadi yang cerdas, sabar, dan diplomatis. Ia memiliki kemampuan politik tinggi. Ia sangat mengutamakan maslahat umat. Karakternya tegas tanpa meninggalkan kelembutan. Dan sebagai seorang pemimpin, ia menjaga persatuan lebih dari ambisi pribadi.
Perannya pada Masa Khilafah Rasyidah
Pada masa Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه, ia ikut serta dalam Perang melawan orang-orang murtad, termasuk Perang Yamamah. Abu Bakar mengumpulkan sebuah pasukan dan mengangkat Mu‘awiyah sebagai salah satu pemimpinnya, serta memerintahkan mereka untuk menyusul Yazid bin Abi Sufyan menuju negeri Syam. Pasukan ini merupakan pasukan pertama yang dipimpin oleh Mu‘awiyah.
Ia juga turut bersama saudaranya, Yazid, dalam penaklukan Syam dan Perang Yarmuk. Mu‘awiyah menyaksikan pembebasan Baitul Maqdis pada masa kepemimpinan ‘Umar bin Al-Khaththab رضي الله عنه, dan termasuk empat orang saksi perjanjian ‘Umariyah.
Ia memimpin penaklukan Kaisariyah melawan Romawi, mengepung musuh, dan bertempur dengan sangat sengit. Kemudian ‘Umar bin Al-Khaththab رضي الله عنه mengangkatnya sebagai gubernur Damaskus setelah wafatnya saudaranya Yazid. Ia menjaga wilayah perbatasan Syam, serta berhasil menaklukkan Asqalan dan sisa wilayah Palestina.
Politikus dan Ahli Strategi Perang
Muawiyah politikus dan ahli strategi perang yang jitu. Ia menyadari pentingnya menjaga dan melindungi pesisir wilayah negara Islam dari serangan-serangan berulang Kekaisaran Bizantium. Ia bercita-cita untuk menaklukkan pesisir negeri Syam, seperti pantai Tyre (Shur), Akka, Sidon, dan Beirut, dan telah berupaya mewujudkannya sejak masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, kemudian pada masa ‘Umar bin Al-Khaththab رضي الله عنهما.
Namun, upaya tersebut menghadapi kesulitan besar karena kuatnya benteng pertahanan wilayah-wilayah pesisir tersebut, serta karena wilayah itu merupakan pangkalan armada laut Bizantium. Ketika rencana ini diajukan kepada ‘Umar bin Al-Khaththab رضي الله عنه, beliau menolaknya karena khawatir keselamatan kaum Muslimin dalam menghadapi bahaya laut.
Ketika ‘Utsman bin ‘Affan رضي الله عنه menjabat sebagai khalifah, rencana tersebut kembali diajukan dan pada awalnya juga ditolak. Akan tetapi, Mu‘awiyah terus mendesaknya hingga akhirnya beliau menyetujui dengan syarat bahwa setiap orang yang terlibat dalam pembangunan armada itu melakukannya atas dasar kerelaan, tanpa paksaan. Setelah itu, Mu‘awiyah pun memulai pembangunan armada laut Islam yang pertama. Khalifah Utsman menobatkannya sebagai Amir Al-Bahr yang memimpin penyerbuan ke kota Konstantinopel meski mengalami kegagalan.
Mendirikan Daulah Bani Umayyah
Mu‘awiyah bin Abi Sufyan mendirikan Daulah Umayyah pada tahun 41 Hijriah dan menjadikan Damaskus sebagai ibu kotanya. Wilayah kekuasaannya meluas hingga mencakup seluruh Jazirah Arab, Irak, wilayah bekas Kekaisaran Sasaniyah, Syam, Mesir, dan Tunisia (wilayah Tunisia saat ini). Setelah itu, pasukan Umayyah melanjutkan penaklukan hingga mencapai Cina di sebelah timur dan Semenanjung Iberia (Andalusia) di sebelah barat.
Perlu dicatat bahwa seluruh penaklukan tersebut bukanlah ekspansi militer semata yang bertujuan menguasai negeri-negeri, menjarah kekayaan, atau menghancurkan bangunannya. Sebaliknya, penaklukan itu merupakan pembebasan yang bersifat religius, linguistik, dan kultural, yang menitikberatkan pada penyebaran bahasa Arab dan agama Islam di wilayah-wilayah yang ditaklukkan. Negeri-negeri tersebut pun menyaksikan kebangkitan, perkembangan, serta kemajuan intelektual dan peradaban yang belum pernah mereka alami sebelumnya.
Pada masa pemerintahannya (41–60 H / 661–680 M), Daulah Islam memasuki fase stabilitas politik dan pembangunan peradaban setelah periode fitnah besar. Menurut As-Shalabi, keberhasilan Muawiyah terletak pada kemampuan manajerial, politik, dan visinya dalam membangun negara.
As-Shalabi menegaskan bahwa masa Mu‘awiyah bin Abi Sufyan merupakan masa peletakan fondasi peradaban Islam yang kuat: stabilitas politik, administrasi negara, ekonomi, dan militer. Keberhasilan ini menjadi dasar bagi kemajuan Daulah Umayyah pada masa-masa berikutnya.
Perannya dalam Peradaban Islam
Muawiyah berhasil membawa kemajuan peradaban Islam sebagai berikut:
Mu‘awiyah bin Abi Sufyan mendirikan Daulah Umayyah pada tahun 41 Hijriah dan menjadikan Damaskus sebagai ibu kotanya. Wilayah kekuasaannya meluas hingga mencakup seluruh Jazirah Arab, Irak, wilayah bekas Kekaisaran Sasaniyah, Syam, Mesir, dan Tunisia (wilayah Tunisia saat ini). Setelah itu, pasukan Umayyah melanjutkan penaklukan hingga mencapai Cina di sebelah timur dan Semenanjung Iberia (Andalusia) di sebelah barat.
Perlu dicatat bahwa seluruh penaklukan tersebut bukanlah ekspansi militer semata yang bertujuan menguasai negeri-negeri, menjarah kekayaan, atau menghancurkan bangunannya. Sebaliknya, penaklukan itu merupakan pembebasan yang bersifat religius, linguistik, dan kultural, yang menitikberatkan pada penyebaran bahasa Arab dan agama Islam di wilayah-wilayah yang ditaklukkan. Negeri-negeri tersebut pun menyaksikan kebangkitan, perkembangan, serta kemajuan intelektual dan peradaban yang belum pernah mereka alami sebelumnya.
Pada masa pemerintahannya (41–60 H / 661–680 M), Daulah Islam memasuki fase stabilitas politik dan pembangunan peradaban setelah periode fitnah besar. Menurut As-Shalabi, keberhasilan Muawiyah terletak pada kemampuan manajerial, politik, dan visinya dalam membangun negara.
As-Shalabi menegaskan bahwa masa Mu‘awiyah bin Abi Sufyan merupakan masa peletakan fondasi peradaban Islam yang kuat: stabilitas politik, administrasi negara, ekonomi, dan militer. Keberhasilan ini menjadi dasar bagi kemajuan Daulah Umayyah pada masa-masa berikutnya.
Perannya dalam Peradaban Islam
Muawiyah berhasil membawa kemajuan peradaban Islam sebagai berikut:
1. Membangun Sistem Pemerintahan dan Administrasi
- Mu‘awiyah membangun pemerintahan terpusat dengan Damaskus sebagai ibu kota.
- Mengembangkan diwan (administrasi negara) secara rapi dan profesional.
- Menempatkan pejabat berdasarkan kompetensi, bukan semata kekerabatan.
- Menerapkan prinsip musyawarah, ketegasan, dan fleksibilitas politik.
2. Kemajuan Militer dan Pertahanan
- Pembentukan angkatan laut Islam pertama yang kuat.
- Ekspansi wilayah hingga Afrika Utara dan Asia Kecil.
- Pertahanan negara diperkuat untuk menghadapi Bizantium.
- Militer dikelola secara terorganisir dan berkelanjutan.
3. Perkembangan Ekonomi dan Perdagangan
Pada tahun ini (60 Hijriah), Mu‘awiyah bin Abi Sufyan wafat di Damaskus. Para ulama berbeda pendapat tentang waktu pastinya, namun mereka semua sepakat bahwa wafatnya terjadi pada tahun 60 Hijriah dan pada bulan Rajab.
- Perdagangan internasional berkembang, khususnya dengan Bizantium.
- Stabilitas keamanan mendorong investasi dan peredaran modal.
- Mata uang emas dan perak beredar luas.
- Pertanian, perdagangan, dan industri rakyat berkembang seiring stabilitas negara.
- Pembangunan kota-kota besar dan fasilitas umum.
- Jalan, pelabuhan, dan sarana komunikasi diperhatikan.
- Kesejahteraan masyarakat menjadi prioritas negara.
- Mu‘awiyah menjaga persatuan umat Islam dan menghormati perbedaan pendapat.
- Memberikan perlindungan kepada nonmuslim (ahludz-dzimmah).
- Tidak memaksakan agama, tetapi menjaga keadilan hukum.
Pada tahun ini (60 Hijriah), Mu‘awiyah bin Abi Sufyan wafat di Damaskus. Para ulama berbeda pendapat tentang waktu pastinya, namun mereka semua sepakat bahwa wafatnya terjadi pada tahun 60 Hijriah dan pada bulan Rajab.
***

0 Comments:
Posting Komentar