_-_WGA10241.jpg)
Al-Kamil sedang dinobatkan (bertahta), dalam lukisan Scenes from the Life of St. Francis karya Benozzo Gozzoli, tahun 1452. Sumber: https://en.wikipedia.org/
_-_WGA10241.jpg)
Al-Malik al-‘Adil Saifuddin Abu Bakar bin Ayyub (1200-1218 M)
Al-Malik al-‘Adil Saifuddin Abu Bakar bin Ayyub adalah salah satu penguasa besar Dinasti Ayyubiyah. Ia merupakan putra Najmuddin Ayyub dan saudara kandung Sultan Shalahuddin Yusuf al-Ayyubi, dengan usia sekitar dua tahun lebih muda. Tentara Salib mengenalnya dengan julukan Saphadin. Ia lahir sekitar tahun 534 H (±1139 M), kemungkinan di Ba‘labak atau Damaskus.
Sejak kecil, Al-Malik al-‘Adil tumbuh dalam lingkungan pemerintahan dan militer. Ia dididik di bawah bimbingan Nuruddin Mahmud Zanki bersama ayah dan saudara-saudaranya. Lingkungan ini membentuknya menjadi sosok yang cerdas, hati-hati, berani, dan berpengalaman dalam urusan negara dan peperangan.
Awal Karier Politik dan Militer
Karier politik dan militer Al-Malik al-‘Adil dimulai sejak usia muda. Ia bergabung dalam ekspedisi militer ke Mesir bersama pamannya, Asaduddin Syirkuh, pada tahun 1168–1169 M. Dalam ekspedisi ini, ia diangkat sebagai salah satu pemimpin pasukan, sehingga mulai dikenal sebagai perwira yang tangguh.
Setelah wafatnya Nuruddin Zanki pada tahun 1174 M, Al-Malik al-‘Adil pernah memerintah Mesir atas nama Shalahuddin al-Ayyubi. Pada masa ini, perannya sangat besar dalam menopang kekuasaan Shalahuddin, terutama dalam menyediakan sumber daya, pasukan, dan dukungan politik untuk menguasai wilayah Syam (Suriah) serta menghadapi serangan tentara Salib antara tahun 1175–1183 M.
Pada tahun 1176 M, keperwiraannya semakin terlihat ketika ia berhasil memadamkan pemberontakan kaum Kristen Koptik di Qift, Mesir. Keberhasilan ini menambah kepercayaan Shalahuddin kepadanya.
Kepercayaan dari Shalahuddin dan Jabatan Penting
Karier Al-Malik al-‘Adil terus menanjak. Ia beberapa kali dipercaya memegang jabatan penting. Antara tahun 1183–1186 M, ia dipercaya memerintah Aleppo (Halab) sebagai gubernur. Setelah itu, ia kembali ke Mesir untuk menghadapi tentara Salib pada masa 1186–1192 M. Pada tahun-tahun berikutnya, ia juga memerintah wilayah utara Mesir hingga sekitar 1193 M.
Kedekatannya dengan Shalahuddin menjadikannya salah satu tokoh terpenting dalam pemerintahan Dinasti Ayyubiyah. Ia sering menjadi wakil Shalahuddin ketika sang sultan berada di medan perang atau di wilayah lain.
Menjadi Sultan dan Menguasai Wilayah Luas
Setelah wafatnya Shalahuddin al-Ayyubi, Dinasti Ayyubiyah sempat menghadapi berbagai konflik internal. Namun, dengan kecerdikan dan kesabarannya, Al-Malik al-‘Adil berhasil menguasai Mesir secara penuh. Pada tanggal 21 Syawal 596 H, namanya resmi disebut dalam khutbah Jumat di Kairo dan Mesir, menandai pengakuan resminya sebagai sultan.
Tidak lama kemudian, keponakannya, Al-Malik azh-Zhahir, penguasa Halab, berdamai dengannya dan mengakui kekuasaannya. Nama Al-Malik al-‘Adil disebut dalam khutbah di Halab dan wilayah sekitarnya, serta dicetak pada mata uang. Dengan demikian, Mesir, Syam, dan wilayah timur berada di bawah satu kepemimpinan.
Wilayah kekuasaannya sangat luas, meliputi Mesir, Syam, Hijaz, Yaman, Hadramaut, sebagian Jazirah Arab, Diyarbakir, dan Armenia.
Sifat Kepemimpinan dan Kebijakan
Al-Malik al-‘Adil dikenal sebagai pemimpin yang adil, bijaksana, sabar, berwibawa, dan taat beragama. Ia berusaha menghapus kezaliman, pajak yang memberatkan rakyat, minuman keras, serta berbagai perbuatan maksiat. Ia juga dikenal mencintai ilmu dan para ulama.
Perhatiannya terhadap rakyat sangat besar, terutama ketika terjadi kelaparan di Mesir. Ia banyak bersedekah dan membantu kaum miskin. Para sejarawan menggambarkannya sebagai penguasa yang mampu menahan amarah, berhati-hati dalam mengambil keputusan, dan berpikir jauh ke depan.
Hubungan dengan Tentara Salib
Dalam menghadapi tentara Salib (Frank), Al-Malik al-‘Adil tidak selalu memilih perang terbuka. Ketika keadaan menuntut stabilitas negara, ia menempuh jalan diplomasi. Pada tahun 601 H, ia menandatangani perjanjian damai dengan tentara Salib, meskipun harus menyerahkan kota Yafa serta sebagian wilayah Ludd dan Ramla.
Namun, peperangan tetap terjadi pada masa-masa berikutnya, terutama di sekitar kota Akko (Akkā). Al-Malik al-‘Adil juga beberapa kali memimpin atau mengatur pergerakan pasukan untuk menghadapi ancaman tentara Salib.
Pengakuan Khalifah dan Pembangunan
Pada tahun 604 H, setelah menetap di Damaskus, Al-Malik al-‘Adil menerima penghormatan resmi dari Khalifah Abbasiyah an-Nashir. Utusan khalifah, Syaikh Syihabuddin as-Suhrawardi, datang membawa pakaian kehormatan dan surat pengakuan kekuasaan. Upacara ini berlangsung sangat meriah dan menandai pengakuan resmi khalifah terhadap kekuasaannya.
Al-Malik al-‘Adil juga sangat memperhatikan pembangunan, khususnya pembangunan benteng pertahanan. Ia memperbaiki dan memperkuat Benteng Damaskus, serta mewajibkan setiap anggota keluarganya yang menjadi penguasa untuk membangun satu menara benteng.
Pembagian Kekuasaan kepada Anak-Anaknya
Ketika keadaan negara telah stabil, Al-Malik al-‘Adil membagi wilayah kekuasaannya kepada anak-anaknya. Al-Malik al-Kamil Muhammad memerintah Mesir, Al-Malik al-Mu‘azzam memerintah Syam, Al-Malik al-Asyraf memerintah wilayah timur, dan anak-anak lainnya memerintah daerah lain. Pembagian ini dilakukan dengan baik sehingga tidak menimbulkan perselisihan besar.
Wafat dan Warisan Sejarah
Pada tahun-tahun terakhir hidupnya, Al-Malik al-‘Adil sering berpindah antara Mesir dan Syam untuk mengurus pemerintahan dan menghadapi ancaman tentara Salib. Kesehatannya menurun seiring bertambahnya usia.
Ia wafat pada 7 Jumadal Akhir 615 H (1218 M) di sebuah desa dekat Damaskus, dalam usia sekitar 75 tahun. Jenazahnya dibawa ke Damaskus dan dimakamkan di sana.
Al-Malik al-‘Adil meninggalkan kerajaan yang luas dan stabil, serta banyak keturunan yang melanjutkan pemerintahannya. Ia dikenang sebagai pemimpin besar Dinasti Ayyubiyah yang adil, bijaksana, dan mampu menjaga persatuan kerajaan, sekaligus melanjutkan perjuangan melawan tentara Salib melalui generasi setelahnya.
Al-Kamil Muhammad al-Ayyubi (1218–1238)
Setelah wafatnya Shalahuddin al-Ayyubi pada tahun 589 H (1193 M), wilayah kekuasaan Dinasti Ayyubiyah yang luas terbagi-bagi di antara anak, saudara, dan kerabatnya. Pembagian ini menyebabkan perpecahan dan melemahnya persatuan umat Islam, karena setiap penguasa lebih mementingkan wilayah dan kekuasaannya sendiri.
Di antara keluarga Ayyubi, muncul sosok yang bijaksana dan kuat, yaitu Al-Malik al-‘Adil, adik Shalahuddin. Dengan kesabaran dan kecerdasannya, ia berhasil menyatukan kembali negara Ayyubiyah.
Untuk mengatur wilayah yang luas, Al-Malik al-‘Adil membagi kekuasaan kepada anak-anaknya:
- Al-Kamil Muhammad memerintah Mesir,
- Al-Mu‘azzam ‘Isa memerintah Damaskus,
- Al-Asyraf Musa memerintah Harran,
- sementara Al-Malik al-‘Adil tetap menjadi penguasa tertinggi.
Sultan Al-Kamil di Mesir
Ketika memerintah Mesir, Sultan Al-Kamil bin Al-Malik al-‘Adil menghadapi ancaman besar, yaitu Perang Salib Kelima.
Pasukan Salib mendarat di Damietta pada tahun 615 H (1218 M) dengan jumlah pasukan yang sangat besar.
Pasukan Salib mendarat di Damietta pada tahun 615 H (1218 M) dengan jumlah pasukan yang sangat besar.
Sultan Al-Kamil berusaha mempertahankan Mesir dengan gigih. Meskipun Damietta sempat jatuh ke tangan musuh, ia dengan cerdas memanfaatkan banjir Sungai Nil dan berhasil mengepung pasukan Salib hingga mereka menyerah total pada tahun 618 H (1221 M).
Kemenangan ini menjadi salah satu bukti kecerdikan dan kepemimpinan Sultan Al-Kamil.
Namun, setelah itu muncul konflik dengan saudaranya di Damaskus. Demi menghindari perang saudara, Sultan Al-Kamil menjalin hubungan diplomatik dengan Kaisar Frederick II dari Eropa.
Namun, setelah itu muncul konflik dengan saudaranya di Damaskus. Demi menghindari perang saudara, Sultan Al-Kamil menjalin hubungan diplomatik dengan Kaisar Frederick II dari Eropa.
Hal ini berujung pada Perjanjian Yafa (626 H / 1229 M), di mana Yerusalem diserahkan secara damai kepada pasukan Salib, meskipun Masjid Al-Aqsa tetap berada di bawah pengelolaan kaum Muslimin.
Al-Kamil Muhammad al-Ayyubi, Penguasa Mayyafariqin
Beberapa puluh tahun kemudian, muncul tokoh besar lain dari keluarga Ayyubiyah, yaitu
Al-Malik al-Kamil asy-Syahid Nashiruddin Muhammad bin Al-Malik al-Muzhaffar Ghazi, cucu Al-Malik al-‘Adil dan keturunan Shalahuddin al-Ayyubi.
Al-Malik al-Kamil asy-Syahid Nashiruddin Muhammad bin Al-Malik al-Muzhaffar Ghazi, cucu Al-Malik al-‘Adil dan keturunan Shalahuddin al-Ayyubi.
Ia menjadi penguasa Mayyafariqin pada tahun 645 H. Kota Mayyafariqin terletak di wilayah yang sekarang termasuk Turki bagian timur, dekat Danau Van. Sejak muda, Al-Kamil Muhammad dikenal sebagai pemimpin yang: cerdas dan berani, berwibawa dan adil, taat beragama, dan sangat peduli kepada rakyatnya.
Ancaman Mongol dan Sikap Tegas Al-Kamil
Ancaman Mongol dan Sikap Tegas Al-Kamil
Pada tahun 656 H, dunia Islam diguncang oleh serangan besar bangsa Mongol (Tatar) di bawah pimpinan Hulagu Khan, yang menghancurkan Baghdad dan membantai penduduknya.
Melihat bahaya besar ini, Al-Kamil Muhammad bin Ghazi mengundang para penguasa Muslim di Mosul, Aleppo, dan Damaskus untuk bersatu melawan Mongol.
Melihat bahaya besar ini, Al-Kamil Muhammad bin Ghazi mengundang para penguasa Muslim di Mosul, Aleppo, dan Damaskus untuk bersatu melawan Mongol.
Namun, ajakan ini ditolak. Banyak penguasa Muslim merasa takut dan memilih menyerah atau bersekutu dengan Mongol.
Di tengah sikap lemah para penguasa lain, Al-Kamil Muhammad berdiri teguh. Ia menyatakan jihad, menolak tunduk kepada Mongol, menguatkan iman dan semangat rakyatnya. Ia memindahkan keluarga dan penduduk ke benteng-benteng yang kuat di wilayah Amid, serta menyiapkan pertahanan kota.
Pengepungan Mayyafariqin
Hulagu Khan murka atas sikap Al-Kamil. Ia mengirim pasukan besar di bawah pimpinan putranya, Ashmut bin Hulagu, untuk mengepung Mayyafariqin. Pengepungan ini berlangsung sekitar 18–20 bulan. Selama pengepungan:
- persediaan makanan habis,
- wabah penyakit menyebar,
- banyak penduduk meninggal,
- bahkan terjadi kelaparan ekstrem.
Ujian Terberat dan Kesyahidan
Dalam upaya memaksa Al-Kamil menyerah, Mongol menangkap istri dan anak-anak Al-Kamil, membawa mereka ke depan tembok kota, dan mengancam akan membunuh mereka.
Namun jawaban Al-Kamil sangat tegas: “Demi Allah, kalian tidak akan mendapatkan dariku kecuali pedang.”
Akhirnya, Mayyafariqin jatuh. Sekitar 7.000 pejuang Muslim gugur syahid. Al-Kamil ditemukan dalam keadaan hidup, tetapi sakit parah dan terluka, lalu dibawa menghadap Hulagu.Dengan kejam, Hulagu menyiksa Al-Kamil hingga akhirnya ia wafat sebagai syahid pada tahun 658 H, tanpa pernah menyerah atau mengkhianati imannya.
Setelah Wafat dan Makna Sejarah
Setelah wafatnya Al-Kamil, kepalanya diarak di negeri Syam, digantung di Gerbang al-Faradis di Damaskus. Ketika Sultan Baybars berkuasa, kepala tersebut diturunkan dan dimakamkan dengan hormat di sebuah masjid yang kemudian dikenal sebagai Masjid Ar-Ra’s (Masjid Kepala).
0 Comments:
Posting Komentar