A homepage subtitle here And an awesome description here!

Sabtu, 27 Juni 2026

Haji di Zaman Kamera: Antara Sertifikat Keikhlasan dan Pencitraan






Karikatur swafoto di depan Ka'bah. Foto credit: https://www.tiktok.com/discover/gambar-kartun-pasangan-di-depan-kakbah

Jadi, ini bukan soal lucu atau tidak lucu dan bukan perbandingan etik haji disepadankan dengan kursus hanya karena selembar dokumen sertifikat.

Musim Haji tahun 1447 H telah berakhir. Jemaah haji hampir sebagian besar dipastikan telah kembali ke tanah air masing-masing. Boleh jadi, rasa lega, bahagia, dan haru bercampur dengan rasa rindu agar bisa kembali lagi berhaji bila kesempatan itu datang.

Pemerintah Arab Saudi melalui Wizārat al-Ḥajj wa al-ʿUmrat as-Suʿūdiyyat (Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi) menerbitkan Syahadah (sertifikat) sebagai dokumen simbolis ucapan selamat kepada jamaah atas penyempurnaan rukun Islam yang kelima.

Kali pertama Syahadah ini diterbitkan pada musim Haji 1445 H. Sertifikat ini memuat ucapan selamat resmi dari kementerian atas terlaksananya ibadah haji dan menjadi kenang-kenangan simbolis yang terdokumentasi dari perjalanan spiritual yang dapat disimpan secara digital atau dicetak.

Penting?

Penting tidak penting, tergantung kebutuhan masing-masing jemaah. Menurut penjelasan Kementerian Haji dan Umrah, Sertifikat Penyelesaian Haji 1447 H diberikan kepada dua kelompok utama: jemaah haji (al-ḥujjāj) dan Petugas Layanan Haji (al-ʿāmilūn fī mawsim al-ḥajj).

Setiap orang yang memperoleh izin haji resmi untuk musim haji 1447 H, baik dari dalam Arab Saudi maupun melalui paket haji luar negeri lewat platform Nusuk Hajj, serta telah menyelesaikan manasik dengan baik berhak mendapat sertifikat. Demikian pula bagi para pegawai dan petugas yang bekerja di bawah pengawasannya selama musim haji sebagai bentuk penghargaan atas upaya mereka dalam melayani para tamu Allah sebagai penghargaan dan apresiasi.

Karena sifatnya hak—bukan kewajiban—maka setiap jemaah atau petugas bebas memilih haknya untuk mengambil sertifikat ini atau mengabaikannya sama sekali. Tidak pula ada keharusan untuk mengambil dan tidak pula terkena sanksi bagi yang mengabaikan. Jadi, ini bukan soal lucu atau tidak lucu dan bukan perbandingan etik haji disepadankan dengan kursus hanya karena selembar dokumen sertifikat.

Apakah sertifikat ini mengurangi keikhlasan berhaji?

Bisa ya, bisa tidak. Bila sertifikat itu dipamer-pamerkan dengan niat untuk diketahui banyak orang dan berharap pujian, boleh jadi ada unsur riya di sana. Namun, bila dokumen sertifikat itu disimpan rapi untuk diri sendiri lalu satu waktu berguna untuk syarat administrasi yang berhubungan dengan keabsahan mengikuti suatu program, bahkan sertifikat ini bisa menjadi keberkahan tersendiri.

Bila diukur dengan soal keikhlasan, ada yang lebih menohok untuk direnungkan dari sekadar penting dan tidak pentingnya sertifikat haji pemerintah Saudi. Sebuah artikel berjudul “Al-ḥajj fī zamani al-kāmīrā.. bayna al-ikhlāṣ wa al-istiʿrāḍ”: Haji di Era Kamera: Antara Keikhlasan dan Pencitraan. Rasanya, hampir tidak ada jemaah haji yang lolos dari argumentasi artikel yang dipublikasi pada 2026 oleh Muḥarrir al-Islām wa al-Ḥayāt.

Rasanya, dua paragraf pertama artikel ini saja sudah menampar wajah menjadi memerah menahan malu yang sangat. Bagi orang yang wara, boleh jadi rasa malunya di hadapan Allah jauh lebih dalam daripada rasa malu pada dirinya sendiri dan orang lain gara-gara kamera itu.

Malāyīnu aṣ-ṣuwari nutābi‘uhā ‘alā syabakāti at-tawāṣuli al-ijtimā‘iyyi liḥujjājin yu’addūna manāsikahum, baynamā fī yadi mu‘ẓamihim hātifun yusajjilu fīhi bidiqqatin kulla ḥarakah, ṣāra al-masyhadu ma’lūfan; du‘ā’un yultaqaṭu fī muwājahati al-ka‘bati aw mustadbiran iyyāhā, wa khusyū‘un yu‘ādu tartībuhu liyatanāsaba ma‘a jawdati al-maqṭa‘i, wa laḥẓatun bayna al-‘abdi wa rabbihi tataḥawwalu ilā laqṭatin qābilatin li an-nasyri, kamaqṭa‘in yu‘ādu, aw ṣūratin limilaffin syakhṣiyyin.

Inna asy-syaʿīrata allatī kāna yaḥriṣu as-sābiqūna ʿalā ikhfāʾihā, lam yaʿudi al-muslimu muktafiyan biʿaysyihā, bal aṣbaḥat qābilatan li an-nasyri, wa tubatstsu laḥẓatan bilaḥẓah, liyabruza suʾālun yajibu an yuqliqa kulla muʾaddin litilka asy-syaʿīrati al-ghāliyah: hal naʿīsyu al-ʿibādah kamā yuḥibbuhā Allāhu, am naʿriḍuhā ʿalā al-khalqi linukarrama bihā minhum?

Jutaan foto kita lihat di media sosial tentang para jamaah haji yang sedang menunaikan manasik mereka. Sementara di tangan kebanyakan dari mereka telepon genggam yang merekam setiap aktivitas dengan cermat. Pemandangan ini telah menjadi hal yang biasa: doa yang diabadikan di hadapan Ka'bah atau bahkan membelakanginya, kekhusyukan yang ditata ulang agar sesuai dengan kualitas video, dan momen antara seorang hamba dengan Tuhannya berubah menjadi gambar yang siap dipublikasikan, baik sebagai video yang diputar ulang maupun foto profil.

Sesungguhnya ibadah yang dahulu dijaga oleh generasi terdahulu untuk disembunyikan itu, kini seorang muslim tidak lagi merasa cukup hanya dengan menjalaninya, melainkan telah menjadi sesuatu yang dapat dipublikasikan dan disiarkan dari waktu ke waktu. Maka muncullah pertanyaan yang seharusnya menggelisahkan setiap pelaksana ibadah yang mulia ini: apakah kita menjalani ibadah sebagaimana yang dicintai Allah, ataukah kita mempertontonkannya kepada manusia agar memperoleh penghormatan dari mereka?
Apa hati tidak terasa remuk redam membaca narasi seperti ini?

Akan tetapi, artikel ini menjelaskan problem secara seimbang. Pada paragraf ke-10, ditulis di sana:

Hal kullu nasyrin riyāʾun?

Wa at-taʿmīmu fī kulli masʾalatin khaṭaʾun bālighun, falaysa kullu nasyrin liʿibādatin riyāʾan, fahunāka al-katsīru mina al-umūri al-makhfiyyati lā yaʿlamuhā illā Allāhu taʿālā wa ṣāḥibu al-ʿibādati nafsuhu, faqad yansyuruhā li at-tadzkīri bihā, wa qad yansyuruhā li at-tasyjīʿi ʿalayhā, wa qad takūnu musyārakatan minhu litajribatin ghayyarat min nafsihi ījābiyyan fa-aḥabba an yusyārika bihā ikhwānahu.

Apakah setiap publikasi itu riya?

Menggeneralisasi setiap persoalan adalah suatu kesalahan besar. Tidak setiap publikasi ibadah merupakan riya. Ada banyak perkara yang tersembunyi yang tidak diketahui kecuali oleh Allah Ta'ala dan pelaku ibadah itu sendiri. Seseorang mungkin mempublikasikannya untuk mengingatkan orang lain, mendorong mereka melakukan kebaikan, atau berbagi pengalaman yang telah mengubah dirinya secara positif sehingga ia ingin membagikannya kepada saudara-saudaranya.
Membangun keadaban dan peradaban sebagai salah satu sukses haji rasanya teramat berat. Beratnya seperti memindahkan gunung. Berat karena harus memelihara nilai keikhlasan berhaji di satut sisi, di sisi yang lain berat karena harus mengemban misi keadaban dan peradaban sebagai bagian dari ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. 

Keadaban dan peradaban itu hanyalah makna lain rahmatan lil alamin dari semu ritual ibadah yang dtegakkan seorang muslimIa harus tercermin dalam setiap sisi dari pribadi orang yang sudah berikrar syahadat, khusyuk dalam shalat, dawam puasa, ringan dalam zakat, dan mabrur dalam haji.

Allāhumma aʿinnī ʿalā dzikrika wa syukrika wa ḥusni ʿibādatik.
Ya Allah, tolonglah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya.

Ya Allah, jika dalam berhaji kemarin kami lalai dan lupa, maafkanlah. Jika kami sengaja, ampunkanlah. Dengan segala kedhaifan, terimalah segala amalan-amalan haji kami ini. Jadikanlah kami haji yang mabrur. Aamiin.


Depok, Sabtu, 12 Muharam 1448 H / 27 Juni 2026 M.
Menikmati hari kedua di Tanah Air.

--------
Rujukan:
https://mugtama.com/articles/الحج_في_زمن_الكاميرا_بين_ال_خلاص_والاستعراض
https://rahhal.wego.com/blog/شهادة-إتمام-الحج-1447-نسك-إلكترونيا/

Senin, 22 Juni 2026

Komik Kiai Kocak: Coming Soon

Screenshoot dari salah satu judul pada naskah psd ilustrator

Karena itu, klaim bahwa gerakan Islam Liberal diperlukan untuk menghadirkan Islam tetap segar dan relevan dengan tuntutan zaman hanya omong kosong belaka.

Kiai Adung belum mati.

Tokoh fiksi yang dikenal pembaca buku Kiai Kocak Vs Liberal sebagai kiai kolot, jail, dan ngeyel itu masih menyimpan energi untuk melawan liberalisme. Dan, seperti biasa, Kiai Adung—karakter Kiai Kocak ini—menanggapinya dengan kocak, jail, dan logis.

Dahulu, paham liberal digaungkan secara terbuka oleh para pengusungnya melalui tema-tema seperti sekularisme, pluralisme, dan liberalisme alias paham 'Sepilis'. Gerakan ini dimotori oleh Jaringan Islam Liberal (JIL). Mereka seolah merebut mikrofon gerakan Islam lalu bernyanyi lagu dengan genre 'Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam'.

Secara institusional, bolehlah disebut bahwa JIL kini hanya tinggal pusaranya saja. Setelah lembaga donor yang membiayai periuk nasi aktivis JIL berhenti mengucurkan dana, gaung gerakan itu perlahan menghilang dari ruang publik. Karena dasar motivasi JIL mengasong paham Islam Liberal memang mencari duit, maka ketika subsidi dicabut, ya wasalam.

Satu waktu—usai acara Bedah Buku Kyai Kocak vs Liberal di PT. LG, Cibitung, Bekasi, pada Selasa, 28 Mei 2013—seorang aktivis dakwah di perusahaan itu curhat kepada saya. Aktivis dakwah ini mengaku lulusan Fakultas Ushuluddin Jurusan Akidah Filsafat satu kelas dengan beberapa pentolan JIL Dia bilang begini:

"Mereka itu jadi liberal karena takut jadi sarjana 'Madesu' alias sarjana 'Masa Depan Suram'. Uangnya besar dari lembaga donor."

Begitulah bunyinya. Karena itu, klaim bahwa gerakan Islam Liberal diperlukan untuk menghadirkan Islam tetap segar dan relevan dengan tuntutan zaman hanya omong kosong belaka.

Mencermati perkembangan terakhir, aroma pemikiran liberal tidak lagi disuarakan oleh JIL karena jaringan ini sudah 'almarhum'. Gagasan liberal lalu berpindah tangan kepada para buzzer yang gemar memancing di air keruh sambil menempel pada kekuasaan. Beitulah cara mereka bertahan hidup.

Para buzzer ini gemar melempar isu, memancing perdebatan, serta menebar provokasi yang memecah belah anak bangsa—sering memainkan isu-isu SARA. Mereka kerap bicara soal shalat, tafsir Al-Qur'an, masalah akidah Islam secara serampangan, bahkan kerap menyerang Islam. 

"Emang pantes, buzzer model si Ade Armando ngomong tafsir dan menyebut kagak ada perintah shalat lima waktu dalam Qur'an? La coba itu!"

Kiai Adung gerah dan tidak bisa lagi hanya duduk sambil menyeruput kopi menyaksikan kelakuan mereka. 

"Awas lu, ye! Ini kagak bisa didiemin. Tuman!" kata Kiai Adung.

Namun, aksi Kiai Adung kali ini berbeda. Ia tampil lebih hidup, lebih greget, dan lebih visual. Jika kemarin aksi-aksi Kiai Kocak ini hanya dinikmati dalam narasi fiksi yang mampu merebut perhatian pembaca dari berbagai kalangan—bahkan hingga anak-anak sekolah dasar—kali ini Kiai Adung hadir dalam bentuk komik. Boleh jadi, respons pembaca akan jauh lebih antusias. Semoga demikian.

Komik Kiai Kocak yang akan segera hadir ini bak pengobat rindu fans Kiai Adung. Beberapa waktu ke belakang, banyak pembaca bertanya kapan seri Kiai Kocak terbaru akan terbit kembali. Semoga saja Kiai Kocak versi komik ini mengobati kerinduan mereka yang sudah lama terpendam.

Anda penasaran? Saya juga.

Pelataran Masjid Nabawi, Madinah Al-Munawwarah
Senin, 06 Muharram 1448 H/22 Juni 2026 M.

Sabtu, 20 Juni 2026

Buya Hamka dan Pelacur di Tanah Suci

Ilustrasi karakter Buya Hamka. Sumber: Suara Muhammadiyah.id

Setiap orang hanya akan dipertemukan dengan apa yang dia cari.
Jadi, begini kisahnya. 

Satu waktu, sorang pria menemui Buya Hamka. Lalu, pria ini bercerita—dengan nada miring—bahwa ia begitu terkejut karena mendapati pelacur saat ia berada di kota suci Makkah.

Mendapati cerita pria ini, Buya Hamka tersenyum, lalu menimpali bercerita bahwa beliau pun baru saja pulang dari kota-kota besar di Amerika Serikat seperti Los Angeles dan New York. Akan tetapi, Buya Hamka mengaku tidak menemukan seorang pelacur pun di sana.

Pria itu tidak percaya dan berkata, "Mana mungkin Buya? Di Makkah saja ada, apalagi di Amerika yang bebas, pasti jauh lebih banyak!"

Lagi, Buya Hamka tersenyum. Lalu, dengan bahasa yang halus Buya menjelaskan, bahwa meskipun seseorang pergi ke tempat paling suci seperti Makkah, jika fokus pikiran dan hatinya adalah hal-hal buruk, setan akan menuntunnya ke sana. Sebaliknya, jika seseorang pergi ke tempat maksiat sekalipun dengan niat mencari kebaikan, ilmu, atau berdakwah, maka ia hanya akan dipertemukan dengan berbagai kebaikan.

Ini kisah legendaris Buya Hamka yang menghentak kesadaran tentang cara pandang dan niat setiap diri. Buya Hamka dengan bahasanya yang halus, sastrawi, dan menyentuh mengajak berpikir dengan kecerdasan qalbu bahwa setiap orang hanya akan dipertemukan dengan apa yang dia cari.

Sudah dimafhum, secara naluriah, apa yang menjadikan ketertarikan mata melihat dan melempar pandangan sering kali merupakan pantulan dari apa yang ada di dalam isi hati dan pikiran. Maka, setiap orang di mana pun dia berada, selalu dihadapkan pada pilihan untuk melihat sisi positif atau sisi negatif. Sedangkan orang yang arif lagi bijak akan selalu menyaring dan mencari segala kebaikan meskipun ia tersembunyi.

Kisah Buya Hamka ini menghentak kesadaran meskipun dikemas dengan bahasa teguran yang sangat halus. Pesan moralnya agar setiap diri selalu meluruskan niat—terutama saat melakukan perjalanan atau ibadah—agar tidak terdistraksi oleh hal-hal yang tidak baik. Jangan pula memperturutkan dalil aqli untuk menilai sesuatu dengan silogisme yang terlalu mekanis.|

Pada konteks berhaji, Abdul Aziz al-Kinani asy-Syafi'i, dalam kitabnya "Hidāyatu as-Sālik Ilā al-Madhāhib al-Arba‘ah fī al-Manāsik" halaman 296 menukil kisah Abdullah bin Umar yang patut direnungkan lagi. Satu kali, Abdullah bin Umar melihat berbagai perhiasan, kemewahan, dan tandu-tandu yang diadakan manusia saat perjalanan haji mereka. Melihat fenomena demikian itu, beliau berkata:

"Al-ḥājju qalīlun, wal-rākibu katsīrun."

"Betapa orang yang benar-benar berhaji itu sedikit, sedangkan rombongan yang bepergian itu banyak sekali."

Boleh jadi, tidak semua orang yang pergi ke Tanah Suci dan melaksanakan manasik haji memperoleh hakikat dan kemabruran haji. Orang yang benar-benar menjadi haji—diterima hajinya dan memperoleh buah spiritualnya— jumlahnya sangat sedikit, sedangkan yang hanya melakukan perjalanan dan ritual secara lahiriah jumlahnya begitu banyak.
 
Rasanya, ungkapan Abdullah bin Umar mengingatkan pentingnya keikhlasan, ketakwaan, kesederhanaan, dan kepatuhan pada tuntunan syariat dalam menunaikan ibadah haji. Sudah barang tentu, kepatuhan kepada tuntunan syariat berhaji orang harus rela menyingkirkan arogansi akal (jidal yang membawa mudharat) untuk sementara waktu.

Memang, manusia dibekali akal. Ia sumbu kecerdasan. Tapi, akal itu harus dibimbing adab agar arogansinya bisa diredam. Sebab bila tidak, disadari atau tidak, orang cenderung merasa lebih tahu segalanya, merasa lebih "jago" dari siapa pun dalam hal kecerdasan dan pemikiran.
 
Akal kecerdasan yang tidak dibimbing adab, serupa dengan frasa"Khalaqtanī min nārin wa khalaqtahu min ṭīn" yang diucapkan Iblis saat melontarkan argumen menolak perintah Allah untuk bersujud—sujud lil ihtiram, sujud penghormatan—kepada Nabi Adam Alaihissalam. "Engkau ciptakan aku dari api dan Engkau ciptakan dia dari tanah" adalah ucapan arogansi Iblis merasa lebih baik dari Adam yang diabadikan dalam QS. Al-A'raf [7]: 12 dan QS. Sad [38]: 76.
 
Atsar dari sahabat mulia Ali bin Abi Thalib radhiyaalu anhu boleh jadi cukup relevan dalam konteks ini:

Law kāna ad-dīnu bir-ra'yi lakāna asfala al-khuffi awlā bil-masḥi min a‘la qad ra'aytu Rasūlallāhi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallama yamsaḥu ‘alā ẓāhiri khuffaihi."
Andaikata agama dengan akal semata, tentu bagian bawah sepatu (khuf) lebih utama diusap daripada bagian atasnya. Namun sungguh, aku melihat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengusap bagian atas sepatunya." 

Demikian sikap menantu Rasulullah ini menilai posisi akal di sisi syariat.

Bila kisah Abdulllah bin Umar, putra Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhuma ini digabungkan dengan kisah Buya Hamka di muka, dan arogansi Iblis, maka fokus pada kebaikan diri dalam melaksanakan ibadah seyogyanya menjadi prioritas. Apatah lagi, setiap manusia akan dihisab oleh perbuatannya sendiri dan tidak diminta pertanggungjawaban amal buruk orang lain. Alaysa kadzalik?

Allāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.

Masjid Nabawi, Madinah Al-Munawwarah.
Sabtu, 5 Muharram 1448 H/20 Juni 2026 M.