A homepage subtitle here And an awesome description here!

Selasa, 25 Agustus 2026

Iman, Kebebasan, dan Hari Bermuhammadiyah

Kebetulan bertemu usai mengikuti pengajian Hari Bermuhammadiyah ke-10 Muhammadiyah Kota Depok dengan narasumber, Dr. H. Bachtiar Dwi Kurniawan, S.IP., M.PA. Ada kawan lama juga, Muhammad Abdul Halim Sani (paling kiri). 

Matā ista‘badtum al-nāsa, wa-qad waladathum ummahātuhum aḥrāran?
Hari ini, Selasa 12 Rabī‘ul Awwal 1447 H, bertepatan dengan 25 Agustus 2026 M warga Persyarikatan Muhammadiyah Kota Depok mengunduh pencerahan. Seberapa banyak perolehan pencerahan mereka, bergantung kesiapan daya intelektual masing-masing.

Adalah Dr. H. Bachtiar Dwi Kurniawan, S.IP., M.PA., menyampaikan kuliah umum yang cukup menarik, santai, dan bernas pada acara Hari Bermuhammadiyah Ke-10 Kota Depok. Ketua Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) PP. Muhammadiyah ini menyinggung banyak poin penting dari durasi hampir satu jam lebih beliau berbicara.

Boleh jadi, di antara para Pengurus Muhammadiyah di Cabang dan Ranting, sayalah yang paling sedikit hasil unduhannya. Bila saja hadir di Masjid At-Tanwir, Bojongsari tempat acara ini dihelat ibarat orang yang datang untuk mengunduh buah mangga yang sudah ranum di kebun, saya hanya membawa pulang satu tangkai saja ke rumah. Bukan karena di kebun mangganya sedikit, melainkan kecakapan saya memetik yang tidak cukup.

Gus Bach—panggilan akrab Pak Bachtiar—ada menyinggung bahwa dakwah Nabi Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam tidak lain untuk memerdekakan umat dari belenggu aqidah jahiliyah, sosial, politik, dan ekonomi.

Memang, begitulah juga yang dihadapi Kiai Dahlan pada awal mula mendirikan Muhammadiyah. Kata Kiai Dahlan, ”Karena itu, aku terus memperbanyak amal dan berjuang bersama anak-anakku sekalian untuk menegakkan akhlak dan moral yang sudah bengkok. Kusadari bahwa menegakkan akhlak dan moral serta berbagai persoalan Islam yang sudah bengkok memang merupakan tugas berat dan sulit.” [1]

Kebengkokan yang ingin diobati Kiai Dahlan sebenarnya sudah menyebar bagai sel kanker pada semua sendi kehidupan anak bangsa. Pendek kata, Kiai Dahlan berjuang dengan spirit tajdidnya agar umat bisa keluar dari belenggu akidah yang bengkok—karena dominasi syirik, khurafat, takhayul, dan bid’ah—pendidikan yang buruk dan dikotomis, ketimpangan sosial yang menelantarkan, dan kesehatan yang memarjinalkan orang-orang miskin.

Di sini menurut Gus Bach—seperti yang saya pahami— Muhammadiyah hadir dengan semangat dakwah untuk memerdekakan umat dari akidah yang sudah bengkok sebengkok-bengkoknya itu dengan titik tekan pada purifikasi.

Saya amat tertarik dengan poin Gus Bach yang ini. Bukan tidak tertarik pada semua poin ceramah sepanjang beliau berbicara, melainkan soal kecakapan memetik tadi. Jadi, poin ini ibarat setangkai dari buah mangga yang saya bawa pulang, mangga yang paling manis di lidah saya. Andaikata ada waktu yang cukup, saya berharap akan ada pengayaan dari poin ini dari Gus Bach di kemudian hari, agar manisnya terasa lebih marem.|

Virginia Declaration of Rights
—banyak orang bilang sangat revolusioner—memuat rumusannya yang sangat terkenal: “That all men are by nature equally free and independent and have certain inherent rights …” baru dirumuskan pada 12 Juni 1776. Akan tetapi, kalimat ini menjadi inspirasi bagi Thomas Jefferson saat ia menulis Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat, memengaruhi pembentukan United States Bill of Rights, dan menjadi acuan dokumen hak asasi manusia di negara lain, termasuk Perancis.

Namun, tahukah kita, bahwa Sayyidina ‘Umar bin al-Khattab, Khalifah Rasyidah ke-2—memerintah tahun 634–644 M/13–23 H—sudah berkata begini: “Matā ista‘badtum al-nāsa, wa-qad waladathum ummahātuhum aḥrāran?” [2].

Bahkan sebelumnya, Rasulullah sudah pula menulis Ṣaḥīfah al-Madīnah atau Piagam Madinah dalam konteks politik. Ṣaḥīfah al-Madīnah memberikan ruang bagi kelompok-kelompok berbeda untuk hidup dalam satu komunitas politik, dengan pengakuan terhadap kebebasan masing-masing. Memang, semangat pembebasan dalam dakwah Rasulullah tidak hanya tampak dalam pembebasan manusia dari penghambaan kepada selain Allah, tetapi juga dalam kehidupan sosial-politik Madinah.|

Sebuah buku yang mengulas tentang Iman, kebebasan, dan tirani yang ditulis Ḥākim al-Muṭairī berjudul Taḥrīr al-Insān wa Tajrīd al-Ṭughyān[3] menarik dibincangkan sedikit di sini. al-Muṭairī menegaskan bahwa kebebasan adalah karunia Ilahi. Ia merupakan bagian dari iman dan kebutuhan manusia.

Nilai kebebasan—dalam Islam—terletak pada ruhnya bahwa ia merupakan tujuan dari kalimat tauhid, “Lā ilāha illallāh.” Dengan beriman hanya kepada Allah dan memurnikan tauhid hanya untuk-Nya, terwujudlah kebebasan yang tidak ada sesuatu pun yang lebih tinggi dan lebih bermanfaat daripadanya. Karena itu, menurut al-Muṭairī “Al-Ḥurriyyah Rūḥ al-Tawḥīd”, bahwa kebebasan adalah ruh tauhid.

Islam juga memandang, bahwa kebebasan merupakan hak asasi yang hadir bersama manusia sejak ia dilahirkan. Bahkan, tidak ada makna kemanusiaan tanpa kebebasan, dan tidak ada nilai bagi manusia tanpa kebebasan.

Maka, menjadi sangat penting untuk memahami lagi satu poin dari ceramah Gus Bach, yaitu kalimat “Lā ilāha illallāh.” Saya menggarisbawahi, ada tiga poin penting di sini, pertama, tauhid sebagai ruh kebebasan; kedua, dakwah purifikasi Muhammadiyah yang memerdekakan umat dari akidah yang bengkok, dan; ketiga, perlunya warga Persyarikatan terus mewujudkan kemerdekaan lahiriah dan batiniah.

Konon, di negeri Konoha, makna tauhid telah direduksi. Tauhid kepada Allah dalam hal kekuasaan dan kedaulatan digantikan para penguasa tiran dan orang-orang yang sewenang-wenang. Mereka diperlakukan sebagai “rabb” bagi orang-orang yang menjadi hamba, sebagai raja bagi rakyat mereka.

Apatah lagi yang lebih mengerikan, para hamba itu tidak sedikit bergelar akademisi, intelektual, pemuka agama, politisi, dan para pejabat serta buzzer-buzzer penjilat. Na'udzubillah wa amit-amit. Semoga fenomena reduksi aqidah ini tidak terjadi di negeri ini yang katanya sudah merdeka sejak 81 tahun yang lalu.

Bagi warga Persyarikatan Muhammadiyah Kota Depok, selamat menikmati Hari Bermuhammadiyah dan anugerah kemerdekaan dari belenggu kolonialisme.|

Depok, 25 Agustus 2026 M.


-----

[1]. Anshoriy Ch, M. Nasruddin. 2010. Matahari Pembaruan: Rekam Jejak K.H. Ahmad Dahlan. Yogyakarta: Bangkit Publisher.

[2]. “Sejak kapan kalian memperbudak manusia, padahal ibu-ibu mereka telah melahirkan mereka dalam keadaan merdeka?”

[3]. Al-Mutairi, Hakim. 2009. Taḥrīr al-Insān wa Tajrīd al-Ṭughyān: Dirāsah fī Uṣūl al-Khiṭāb as-Siyāsī al-Qur’ānī wan-Nabawī war-Rāshidī. Beirut: al-Mu’assasah al-‘Arabiyyah li ad-Dirāsāt wan-Nasyr, dalam versi digital. Salah satu tema sentral buku ini adalah hubungan antara tauhid, kebebasan manusia, dan penolakan terhadap tirani (ṭughyān).

Sabtu, 08 Agustus 2026

Komik Dakwah dan Kiai Adung

 

Wajahmu. Ilustrasi komik Kyai Kocak karya Vbi_Djenggotten.


Sebuah buku—termasuk komik— bisa dikatakan bagus bila ia punya tiga daya: daya gugah, daya ubah, dan daya pikat. 
Dakwah secara mendasar merupakan seruan, ajakan, dan upaya penyampaian pesan kebaikan serta nilai-nilai keagamaan. Di era komunikasi visual saat ini, metode penyampaian dakwah tidak lagi terbatas pada mimbar tradisional, ceramah tatap muka, atau teks literatur yang tebal. Pendekatan visual menjadi kebutuhan penting agar ajaran moral dan spiritual dapat menjangkau khalayak yang lebih luas, terutama generasi muda yang terbiasa dengan konsumsi media visual cepat.

Dalam konteks ini, komik muncul sebagai salah satu media dakwah yang sangat efektif. Melalui perpaduan antara seni visual dan kekuatan narasi, komik mampu menyederhanakan gagasan-gagasan keagamaan yang kompleks menjadi sajian yang lebih renyah, intuitif, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari tanpa mengurangi substansi ajaran yang diusungnya.

Keunggulan utama komik terletak pada sinergi antara teks dan ilustrasi. Dalam komunikasi dakwah, ilustrasi visual bertindak sebagai jembatan pemahaman yang mampu memperjelas konteks dan emosi dari pesan yang ingin disampaikan.

Dari perbincangan ringan beberapa komikus yang concern dengan komik dakwah yang saya dengar, saya punya kesimpulan bahwa komik cukup efektif sebagai media penyederhana konsep. Hukum fikih yang berat, kisah sejarah kenabian (sirah) yang ‘njlimet’, hingga konsep akhlak yang abstrak dapat divisualisasikan melalui adegan dan dialog tokoh. Pendekatan ini memudahkan pembaca dari berbagai latar belakang usia untuk mencerna ajaran Islam tanpa merasa dihakimi.

Pendekatan humor dan otentisitas pesan melalui komik juga terasa natural. Humor yang cerdas dan kisah keseharian dalam komik dakwah—seperti interaksi antarwarga, persoalan kehidupan sosial, perjalanan spiritual pribadi, hingga kritik atas pemikiran keislaman yang ‘aneh-aneh’ atau menyimpang—mampu menghadirkan nuansa dakwah yang hangat, ramah, dan manusiawi (humanis).

Hal yang sangat penting dari komik—termasuk komik dakwah—adalah soal daya tarik emosional. Ekspresi wajah dan gestur karakter dalam panel komik memberi dimensi emosional yang sering kali sulit dicapai hanya dengan teks polos. sehingga nilai kepedulian, keikhlasan, dan empati lebih mudah tersampaikan.

Saya rasa, komik dan humor itu punya kesamaan karakter dan daya pikat, yakni sama-sama menghibur dan menggembirakan. Komik dan humor bisa dipertemukan untuk mengangkat karakter “Basysyirū wa lā tunaffirū”berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari/menjauh—dalam konteks dakwah.

Boleh jadi—ini baru asumsi saya—pembaca seperti sedang diajak ‘ngaji’ dengan suasana gembira melalui komik. Dalam batas-batas tertentu, ‘ngaji’ memang harus menggembirakan, meskipun tema pengajian mengulas dogma yang dianggap menakutkan seperti soal neraka. Di tangan komikus yang paham agama, skil menggambar yang keren, dan naskah humor yang apik, ‘ngaji’ tentang neraka pun jadi menyenangkan—menumbuhkan kesadaran akan siksa neraka dan gembira mengamalkan amalan yang membebaskan dari api neraka.

Meminjam book values-nya Bambang Trim, sebuah buku—termasuk komik— bisa dikatakan bagus bila ia punya tiga daya: daya gugah, daya ubah, dan daya pikat. Jadi, komik harus menggugah, mengubah, dan memikat. Karena ia komik dakwah, maka daya gugah, ubah, dan pikat-nya mengarah pada nilai-nilai Islam sebagai agama yang membawa misi keselamatan, kemaslahatan, dan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Di ranah kebudayaan populer, komik dakwah bertindak sebagai sarana counter-narrative terhadap gempuran media hiburan yang semata-mata berorientasi pada konsumerisme atau nilai-nilai yang bertolak belakang dengan etika keagamaan. Komik dakwah membuktikan bahwa konten bernilai keagamaan juga bisa dikemas secara estetis, kreatif, dan menghibur.

Asalkan konsisten pada nilai-nilai dakwah Islam, komik efektif sebagai sarana penanaman nilai sejak dini. Komik memberikan ruang yang aman dan menyenangkan bagi anak-anak serta remaja untuk belajar tentang akhlak, kejujuran, dan toleransi. Karakter-karakter ikonik dalam komik seringkali menjadi figur teladan (role model) visual bagi mereka.

Komik juga bisa menjadi jembatan generasi. Komik dakwah mampu meruntuhkan canggungnya batas komunikasi antar-generasi. Pesan moral yang disampaikan lewat media populer ini terasa lebih egaliter, santai, dan tidak menggurui.|


Pada 2013, melalui buku Kiai Kocak Vs Liberal, saya bereksperimen menulis buku counter-liberalisme dengan pendekatan humor. Kiai Adung—karakter rekaan sang Kiai Kocak—saya gambarkan sebagai kiai kolot, cerdas, tapi juga jail. Dengan kekolotan, kecerdasan, dan kejailannya, Kiai Adung menimpali logika gerombolan liberal dan membuat mereka kecele.

Meskipun Kiai Kocak Vs Liberal baru hampir termasuk buku best seller, akan tetapi, karakter Kiai Adung sempat merebut hati pembaca buku ini. Hanya saja, sejak 2017, karena kegiatan literasi menulis di perpustakaan sekolah tempat saya mengajar cukup menyita waktu, cerita fiksi Kiai Kocak Vs Liberal tidak saya teruskan.

Kiai Adung nyaris saya lupakan. Namun, karakter fiksi Kiai kolot yang cerdas dan jail ini masih melekat di dalam benak. Maka, saat Mbak Aminah Mustari, Chief Editor Salsabila—imprint dari penerbit Pustaka Al-Kautsar—mengajak berbincang menjajaki kemungkinan “menghidupkan” kembali Kiai Adung dalam versi komik, uh, rasa hati senang sekali.

Boleh jadi, Salsabila melihat peluang komik sebagai media dakwah kontemporer masih memiliki potensi yang sangat besar untuk terus berkembang. Saya juga percaya, Salsabila paham betul bahwa efektivitas komik dakwah tetap bergantung pada keberimbangan antara kreativitas artistik dan keakuratan pemahaman agama. Apalagi, penerbit ini di bawah payung Pustaka Al-Kautsar, penerbit buku-buku Islam yang cukup selektif dalam mengawal paham agama yang sahih.

Rabu kemarin, 5 Agustus 2026, pesan WA masuk mengabari.

"Assalamu alaikum Mas Abdul. Sudah terima draft naskah siap cetak Kiai Kocak kan, ya?"

Dan, saya berbinar.

Jadi, begitulah. Kiai Adung akhirnya “hidup” lagi. “Have a good wait, Abdul."


Malam Minggu, 8 Agustus 2026.