![]() |
| Wajahmu. Ilustrasi komik Kyai Kocak karya Vbi_Djenggotten. |
Sebuah buku—termasuk komik— bisa dikatakan bagus bila ia punya tiga daya: daya gugah, daya ubah, dan daya pikat.Dakwah secara mendasar merupakan seruan, ajakan, dan upaya penyampaian pesan kebaikan serta nilai-nilai keagamaan. Di era komunikasi visual saat ini, metode penyampaian dakwah tidak lagi terbatas pada mimbar tradisional, ceramah tatap muka, atau teks literatur yang tebal. Pendekatan visual menjadi kebutuhan penting agar ajaran moral dan spiritual dapat menjangkau khalayak yang lebih luas, terutama generasi muda yang terbiasa dengan konsumsi media visual cepat.
Dalam konteks ini, komik muncul sebagai salah satu media dakwah yang sangat efektif. Melalui perpaduan antara seni visual dan kekuatan narasi, komik mampu menyederhanakan gagasan-gagasan keagamaan yang kompleks menjadi sajian yang lebih renyah, intuitif, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari tanpa mengurangi substansi ajaran yang diusungnya.
Keunggulan utama komik terletak pada sinergi antara teks dan ilustrasi. Dalam komunikasi dakwah, ilustrasi visual bertindak sebagai jembatan pemahaman yang mampu memperjelas konteks dan emosi dari pesan yang ingin disampaikan.
Dari perbincangan ringan beberapa komikus yang concern dengan komik dakwah yang saya dengar, saya punya kesimpulan bahwa komik cukup efektif sebagai media penyederhana konsep. Hukum fikih yang berat, kisah sejarah kenabian (sirah) yang ‘njlimet’, hingga konsep akhlak yang abstrak dapat divisualisasikan melalui adegan dan dialog tokoh. Pendekatan ini memudahkan pembaca dari berbagai latar belakang usia untuk mencerna ajaran Islam tanpa merasa dihakimi.
Pendekatan humor dan otentisitas pesan melalui komik juga terasa natural. Humor yang cerdas dan kisah keseharian dalam komik dakwah—seperti interaksi antarwarga, persoalan kehidupan sosial, perjalanan spiritual pribadi, hingga kritik atas pemikiran keislaman yang ‘aneh-aneh’ atau menyimpang—mampu menghadirkan nuansa dakwah yang hangat, ramah, dan manusiawi (humanis).
Hal yang sangat penting dari komik—termasuk komik dakwah—adalah soal daya tarik emosional. Ekspresi wajah dan gestur karakter dalam panel komik memberi dimensi emosional yang sering kali sulit dicapai hanya dengan teks polos. sehingga nilai kepedulian, keikhlasan, dan empati lebih mudah tersampaikan.
Saya rasa, komik dan humor itu punya kesamaan karakter dan daya pikat, yakni sama-sama menghibur dan menggembirakan. Komik dan humor bisa dipertemukan untuk mengangkat karakter “Basysyirū wa lā tunaffirū”—berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari/menjauh—dalam konteks dakwah.
Boleh jadi—ini baru asumsi saya—pembaca seperti sedang diajak ‘ngaji’ dengan suasana gembira melalui komik. Dalam batas-batas tertentu, ‘ngaji’ memang harus menggembirakan, meskipun tema pengajian mengulas dogma yang dianggap menakutkan seperti soal neraka. Di tangan komikus yang paham agama, skil menggambar yang keren, dan naskah humor yang apik, ‘ngaji’ tentang neraka pun jadi menyenangkan—menumbuhkan kesadaran akan siksa neraka dan gembira mengamalkan amalan yang membebaskan dari api neraka.
Meminjam book values-nya Bambang Trim, sebuah buku—termasuk komik— bisa dikatakan bagus bila ia punya tiga daya: daya gugah, daya ubah, dan daya pikat. Jadi, komik harus menggugah, mengubah, dan memikat. Karena ia komik dakwah, maka daya gugah, ubah, dan pikat-nya mengarah pada nilai-nilai Islam sebagai agama yang membawa misi keselamatan, kemaslahatan, dan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Di ranah kebudayaan populer, komik dakwah bertindak sebagai sarana counter-narrative terhadap gempuran media hiburan yang semata-mata berorientasi pada konsumerisme atau nilai-nilai yang bertolak belakang dengan etika keagamaan. Komik dakwah membuktikan bahwa konten bernilai keagamaan juga bisa dikemas secara estetis, kreatif, dan menghibur.
Asalkan konsisten pada nilai-nilai dakwah Islam, komik efektif sebagai sarana penanaman nilai sejak dini. Komik memberikan ruang yang aman dan menyenangkan bagi anak-anak serta remaja untuk belajar tentang akhlak, kejujuran, dan toleransi. Karakter-karakter ikonik dalam komik seringkali menjadi figur teladan (role model) visual bagi mereka.
Komik juga bisa menjadi jembatan generasi. Komik dakwah mampu meruntuhkan canggungnya batas komunikasi antar-generasi. Pesan moral yang disampaikan lewat media populer ini terasa lebih egaliter, santai, dan tidak menggurui.|
Pada 2013, melalui buku Kiai Kocak Vs Liberal, saya bereksperimen menulis buku counter-liberalisme dengan pendekatan humor. Kiai Adung—karakter rekaan sang Kiai Kocak—saya gambarkan sebagai kiai kolot, cerdas, tapi juga jail. Dengan kekolotan, kecerdasan, dan kejailannya, Kiai Adung menimpali logika gerombolan liberal dan membuat mereka kecele.
Meskipun Kiai Kocak Vs Liberal baru hampir termasuk buku best seller, akan tetapi, karakter Kiai Adung sempat merebut hati pembaca buku ini. Hanya saja, sejak 2017, karena kegiatan literasi menulis di perpustakaan sekolah tempat saya mengajar cukup menyita waktu, cerita fiksi Kiai Kocak Vs Liberal tidak saya teruskan.
Kiai Adung nyaris saya lupakan. Namun, karakter fiksi Kiai kolot yang cerdas dan jail ini masih melekat di dalam benak. Maka, saat Mbak Aminah Mustari, Chief Editor Salsabila—imprint dari penerbit Pustaka Al-Kautsar—mengajak berbincang menjajaki kemungkinan “menghidupkan” kembali Kiai Adung dalam versi komik, uh, rasa hati senang sekali.
Boleh jadi, Salsabila melihat peluang komik sebagai media dakwah kontemporer masih memiliki potensi yang sangat besar untuk terus berkembang. Saya juga percaya, Salsabila paham betul bahwa efektivitas komik dakwah tetap bergantung pada keberimbangan antara kreativitas artistik dan keakuratan pemahaman agama. Apalagi, penerbit ini di bawah payung Pustaka Al-Kautsar, penerbit buku-buku Islam yang cukup selektif dalam mengawal paham agama yang sahih.
Rabu kemarin, 5 Agustus 2026, pesan WA masuk mengabari.
"Assalamu alaikum Mas Abdul. Sudah terima draft naskah siap cetak Kiai Kocak kan, ya?"
Dan, saya berbinar.
Jadi, begitulah. Kiai Adung akhirnya “hidup” lagi. “Have a good wait, Abdul."
Malam Minggu, 8 Agustus 2026.
.png)