A homepage subtitle here And an awesome description here!

Minggu, 21 Desember 2025

Dari Diksi Sampai Integrasi

Ilustrasi berbagai pelayan pribumi di rumah orang Eropa sekitar tahun 1870. Foto Gambar-gambar Nederlandsch-Indische Prenten, Leiden, 1879/ Buku Jakarta: Sejarah 400 Tahun karya Susan Blackburn. Sumber gambar: https://www.alinea.id/nasional/kekejaman-majikan-dan-para-budak-yang-memberontak-b2feM9Bfy
Jangan “membenci majikan lama-mu” takut nanti “tidak betah” atau bermasalah dg majikan baru-mu. Dunia itu seperti roda, selalu berputar kawans.
Tidak ada yang salah dengan redaksi kalimat di atas. Maknanya sangat jelas. Andaikan tidak menggunakan tanda petik dua (“…”) pada frasa “membenci majikan lama-mu” dan “tidak betah”, pun sudah cukup jelas. Rasanya, tanda petik dua (“…”) pada kalimat di atas jadi kurang efektif bila maksudnya memberi makna pada fungsi selain dimaksudkan sebagai penekanan pada frasa yang “dipetik” itu. Demikian kata putri saya.

Kata “majikan” menurut KBBI, pun jelas menguraikan. Kata ini diartikan sebagai "orang atau organisasi yang menyediakan pekerjaan untuk orang lain berdasarkan ikatan kontrak". Ini arti yang pertama dari kata “majikan”. Arti yang kedua adalah "orang yang menjadi atasan (yang kuasa memerintah bawahan)".

Begitulah soal diksi “majikan” pada redaksi kalimat yang sedang saya bincangkan. Akan tetapi, boleh jadi saya lah yang salah paham, sedang terlalu sensitif sehingga memandang segala sesuatu sedang menuding saya berlebihan.

Meskipun rajin menulis, tapi soal teknis bagaimana menempatkan tanda baca pada satu kalimat atau kata dengan tepat, saya kerap merujuk agar tidak keliru. Beruntunglah di samping saya ada Mikal, putri pertama saya yang alumnus Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Jakarta jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Dari Mikal, saya jadi lebih melek soal fungsi tanda petik dua (“…”) pada frasa di atas yang menurut Mikal lebih tepat dimaksudkan sebagai penekanan.

Penekanan menurut kamus bermakna: "menggambarkan suatu proses, cara, perbuatan menekan atau menekankan". Maka, dalam konteks “membenci majikan lama-mu” dan “tidak betah” pada frasa yang “dipetik” pada kalimat di atas dimaksudkan hal yang benar-benar harus diperhatikan sebagaimana secara alami mata sudah menyorot tanda petik dua (“…”) saat ia dibaca.

Sekali lagi, tidak ada yang salah dengan kalimat di atas. Bila pun ada, itu hanya soal rasa bahasa yang kurang elok saja. Kekurangelokan itu karena diksi “majikan”. Andaikata diksi yang digunakan adalah “atasan” atau “pimpinan”, akan lain cita rasa bahasa yang disesap pembaca.

Berikut ini saya kutip komentar seorang guru yang mengajar subjek warisan ilmuwan muslim Al-Khawarizmi.
Bahkan membaca kata majikan aja kesel banget, kasar .... jongos apa kita? 😞😭. Jadi memang selama ini memposisikan diri sebagai majikan yaaa ... pantas, wkwkwk.
Umumnya, guru pewaris ilmu Al-Khawarizmi itu jarang yang “bermental sastrawi” yang peka soal diksi dibanding guru bahasa. Boleh jadi, karena bahasa itu bukan semata soal grammar, melainkan juga soal rasa. Soal rasa ini penting dalam pola komunikasi, baik komuniasi lisan maupun tulisan.

Dari Mikal saya juga diberi tahu, bahwa “majikan” bukanlah satu-satunya kata untuk makna menurut KBBI. Kata ini banyak sinonimnya. Di sinilah bermain rasa bahasa agar ia menjadi elok didengar atau dibaca sesuai konteksnya.

Bolehlah di sini saya beri contoh sedikit saja. Kata “majikan” bisa diganti dengan diksi “atasan” untuk menggambarkan pola hubungan dengan bawahan. Ada juga diksi “bos”, namun dalam konteks pendidikan, diksi ini masih mungkin dipertimbangkan sebab relasinya lebih dekat pada anak buah. “Atasan” atau “pemimpin” lebih recommended untuk menggambarkan pola hirarkis yang bersifat edukasi.

Adapun diksi “juragan”, “majikan”, atau “tuan” umumnya dipasangkan untuk pemaknaan relasi kepada abdi, babu, bayu, bedinda, benduan, budak, bujang, hamba, jongos, kacung, kawula, khadam, peladen, pembantu, peon, pesuruh, pramuwisma, sahaya, atau tambi.

Jadi, begitulah penjelasan putri saya, tanpa saya beritahu untuk apa diksi ini saya pertanyakan.|

Beberapa hari yang lalu soal “majikan” ini hangat diperbincangkan, sebab ia hadir bukan pada ruang hampa. Saya yang hadir dalam perbincangan, merasa kalimat ini jadi menarik karena dua hal: siapa yang menulis kalimat di atas; dan sikap civitas akademika Madrasah Pembangunan terkait proses integrasi dengan UIN Jakarta yang masih berlangsung dan sedikit banyak mengganggu stabilitas yayasan yang dikelola “majikan” yang lama. 

Lebih dari itu, perbincangan bukan semata soal diksi, melainkan pada hal yang lebih penting dari soal pilihan kata. Kesimpulan dari perbincangan pun bukan pada person to person, melainkan kepada kebijakan. Taruhlah kata “benci” dan diksi “majikan” itu harus diterima dengan berat hati, namun yang perlu Tuan dan Puan pahami, bahwa yang “dibenci” bukanlah person sang “majikan”, melainkan kebijakan “majikan” lama yang selama ini banyak dipertanyakan dalam hati kami masing-masing.

Jum’at kemarin, 19 Desember 2025, sekian banyak kebijakan “majikan” lama sudah diidentifikasi. Saya memang tidak menuliskan satu butir pun keluhan. Bukan berarti tidak punya keluhan, tapi karena keluhan saya sudah diborong teman-teman. Saya sempat membaca draf mentah butir-butir itu. Ada butir-butir yang sangat krusial yang harus menjadi agenda prioritas pemangku kebijakan yang baru.

Kalaulah boleh disebut butir-butir keluhan itu sebagai “dosa-dosa” “majikan” lama, semoga teman-teman memaafkan, meskipun permaafan itu dipermaklumkan dalam diam. Bilamana Tuan dan Puan “majikan” baru membuat betah, memang itu yang diharapkan. Yang perlu ditegaskan, jangan buka pintu gejala oportunis untuk masuk agar “dosa-dosa” masa lalu tidak berulang, agar semua pihak tidak terperosok pada lubang yang sama dua kali.|

Di akhir tulisan ini, saya menggunakan diksi “pimpinan” sebagai konsekuensi dari memilih cita rasa dan selera bahasa saya meskipun masih juga saya pakai diksi “majikan” di penghujungnya.

Sikap kritis yang beretika harus mendapat ruang dalam relasi antara atasan dan bawahan. Sikap ini sangat penting, di samping agar kemaslahatan madrasah dan civitas akademika lembaga tidak menyimpang dari garis cita-cita semula yang autentik karena dikalahkan oleh kepentingan pribadi yang terhubung pada persoalan jabatan, primordialisme yang berujung pada sikap oportunisme, ia juga penting sebagai bahan refleksi dan perbaikan.

Saya punya hipotesis, gejala oportunisme memang tumbuh secara alami bila budaya kritis itu tidak diberi ruang yang wajar. Sadar atau tidak, gejala ini berdampak tidak sehat bagi relasi di antara teman sejawat. Ambil saja cara sederhana dengan membuat tabel distribusi ke mana saja aliran uang—di luar gaji pokok dan tunjangan—berbasis program atau kegiatan selama satu tahun ajaran, misalnya. Bila transparansi data pendukung memungkinkan untuk dibuka, diolah dengan cara yang benar, rasanya, persentase atau rank itu bisa didapat dalam waktu yang tidak terlalu lama. Tidak harus pula jadi analis ahli banget untuk membuat grafik persentase atau rank itu untuk dibaca dan disajikan dari angka yang paling besar sampai yang paling kecil.

Tuan dan Puan, dalam tata kerja pada sebuah sistem yang terorganisir, hampir tidak ada orang yang paling berjasa. Semuanya saling terkoneksi pada peran masing-masing yang sama penting, sama-sama menggerakkan meskipun tetap dibatasi oleh hierarki sebagai instrumen ukuran prinsip keadilan diterapkan. Maka, Insentif Beban Kerja (IBK) dalam kepanitiaan—teridentifikasi pada butir-butir keluhan—yang pernah diterapkan sebenarnya sudah cukup baik. IBK itu sistem yang mendekati keadilan dalam hal distribusi rezeki.

Rasanya, imbauan Kepala Madrasah Tsanawiyah Pembangunan kepada para guru untuk mengawal proses integrasi dalam rapat pleno, pada Senin 15 Desember 2025 kemarin harus pula dibarengi kesadaran akan kesetaraan dalam menikmati rasa keadilan dalam soal rupiah, perkara yang sensitif. Lagi-lagi, soal uang bukan semata soal sensitif, bukan soal dapat banyak atau sedikit, melainkan soal berkah atau tidak berkah rupiah itu dibelanjakan.

Harapan besar pada integrasi itu ada. Sebab, secara historis, Madrasah Pembangunan lahir dari rahim UIN—dahulu IAIN—dan Departemen Agama. Ada blog Madrasah Pembangunan jadul memuat Sejarah Madrasah Pembangunan dengan narasi cukup jernih. Bagus juga sebagai bahan rekonstruksi menemukan benang merah sebagai pembanding memahami proses integrasi ini. Bahasanya ringkas dan historical point of view-nya dapat. Blog yang saya maksud ada di alamat ini: https://mpuinjkt.wordpress.com/sejarah/. Maka—sekadar berseloroh—kata saya, proses integrasi itu seperti jalan pulang untuk mengembalikan madrasah ini dari “Ibu yang Tertukar”.

Saya—berdua dengan guru olahraga—satu kali “diajak ngobrol” seorang wali peserta didik. Ada banyak pertanyaan dan pernyataan seputar integrasi yang sedang berlangsung dilontarkan kepada kami. Sejujurnya, pertanyaan-pertanyaan wali peserta didik ini membuat kami merasa kurang nyaman. Alasannya, karena persoalan integrasi ini bukan domain guru untuk menjelaskan secara legal formal. Lagi pula, informasi yang akurat seputar proses ini sangat terbatas bagi guru biasa seperti saya. Apatah lagi banyak dari guru biasa telah mengalami tekanan psikologis menjelang Sabtu 22 November 2025. Ada juga lah sedikit trauma mengenang hal itu. Ini jadi dilema buat saya dan Pak Guru olahraga. Tidak dijawab, khawatir mengecewakan wali peserta didik sebab ia punya hak mendapatkan layanan termasuk layanan informasi. Dijawab, juga takut salah. Maka, saya jawab jugalah tipis-tipis sambil menegaskan sikap di mana kami berdua berdiri dalam perkara integrasi.

Soal beberapa pernyataan wali peserta didik ini yang menyebut bahwa dengan integrasi MP akan dinegerikan, bahwa integrasi hanyalah cara untuk menempatkan para pensiunan UIN tetap punya peran, bahwa wali peserta didik ini mengaku sebagai teman seangkatan Dirpen di UIN, dan banyak lagi yang lupa saya catat cukup menyentak jantung hati saya. Supaya tidak tampak gagap, saya menanggapi, bahwa semua itu bukan urusan guru. Saya kunci sikap saya pada tugas utama guru saja, yakni menjalankan peran untuk menjamin agar KBM tetap berlangsung kondusif dalam situasi seperti ini. Menjaga kondusivitas KBM ini merupakan amanat, baik amanat YSH maupun UIN. Apakah tanggapan saya salah?

Sekali lagi, semoga integrasi akan membawa maslahat yang signifikan bagi madrasah dan civitas akademikanya dalam semua aspek pengelolaan Madrasah Pembangunan ke depan. Menjawab pula seliweran semua keragu-raguan dan asumsi yang ngeri-ngeri sedap di kalangan guru dan Tendik selama ini. Dan, seberapa tegang pun hubungan YSH dan UIN karna integrasi, tak patut terus menerus memainkan psikologis guru dengan narasi-narasi yang saling menjatuhkan.

Allāhumma arinī al-ḥaqqa ḥaqqan wa-rzuqnī ittibā‘ahu, wa-arinī al-bāṭila bāṭilan wa-rzuqnī ijtinābahu. Āmīn.

Selamat menikmati libur semester ganjil di antara speed rinai hujan yang tinggi.|

Depok, 21 Desember 2025
Ahad, di penghujung tahun yang penuh harapan.

Jumat, 12 Desember 2025

Orang Munafik dan Kawanan Kambing

Shaun the Sheep. Gambar sekadar pemanis. Foto credit: https://hai.grid.id/


Ratusan guru dan Tendik Madrasah Pembangunan secara psikologis boleh jadi belum bersih benar dari residu proses integrasi Madrasah Pembangunan dengan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang cukup menyita perhatian. Saya yang minim resources untuk membaca fakta dan situasi madrasah yang berkembang sejak sebelum tanggal 22 November 2025, pada akhirnya menikmati setiap jengkal cerita yang sampai ke telinga saya. Apalagi menjelang tanggal 22 November itu, rupanya cerita di balik itu seru sekali. Ada tokoh antagonis dan protagonisnya, tema, alur, setting, konflik, koda, dan ending semua ada. Plot twist-nya juga banyak. Ini keren.

Jadi, bila jiwa novelis yang bersemayam di dada ini saya panggil lagi untuk duduk serius merangkai peristiwa menjelang dan sesudah Sabtu 22 November 2025 itu, ia bisa jadi novel inspiratif. Sebab, “syarat” dan “rukun” untuk membangun sebuah novel menjelang dan sesudah Sabtu 22 November 2025 sudah terpenuhi. Tokoh utamanya biar saya simpan dulu. Yang pasti, kolega-kolega saya yang hadir saat itu, pastilah akan jadi tokoh pembantu. Minimal, namanya saya sebutlah meskipun hanya sekali.

Sehari setelah Selasa 18 November 2025 dan sehari menjelang Sabtu 22 November 2025, itu isinya konflik psikologis semua. Saya percaya, siapa pun yang pada akhirnya melangkahkan kaki memasuki Aula Harun Nasution untuk memenuhi undangan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta adalah mereka yang berhasil memenangkan konflik batin mereka sendiri sebelum memilih untuk memenuhi undangan. Pilihan loh ya, bukan paksaan.

Maka, sejak hari Sabtu 22 November 2025 itu, bagi saya, setiap hari Sabtu seperti a day full of meaning and purpose. Tapi, ini hanya subjektivitas saya saja, sih. Boleh jadi, ada di antara kolega saya malah menganggap Sabtu hari itu it's meaningless.

Besok, 13 Desember 2025 adalah hari Sabtu. Ini juga Sabtu yang bukan hari tanpa risiko. Saya percaya, malam ini menjelang pagi menyingsing esok hari, ada kalkulasi-kalkulasi, perenungan-perenungan, diskusi-diskusi, atau obrolan-obrolan ringan sesama kolega. Boleh jadi, kalkulasi, perenungan, diskusi, atau obrolan itu sudah riweuh sejak dua hari lalu.

Saya adalah bagian dari orang-orang yang sudah selesai dalam konteks ini. Artinya, kalkulasi, perenungan, diskusi, dan obrolan menyikapi Sabtu esok sudah selesai sejak Sabtu 22 November 2025 yang lalu. Saya bukanlah pionir pada Sabtu 22 November 2025 saat itu. Sang pionir adalah orang yang memberi saya pemahaman logis tentang duduk perkara integrasi dengan kalkulasi dan perenungan yang pas dengan hati, otak, dan sikap sendiri.

Saya sebut Sabtu esok bukan hari tanpa risiko, karena boleh jadi ada jiwa-jiwa yang menjadi gamang pada dua hari kemarin sampai malam ini. Kalau bukan karena telah membaca dengan cermat surat edaran Plt. Direktur Badan Usaha Sekolah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta nomor B-10317/BUS/PP.00.11/12/2025, kegamangan itu bisa mengubah haluan karena hidangan upah yang disodorkan surat edaran Nomor: 152/K-YSH/12/2025 dengan segala klausul-klausulnya.

Surat edaran YSH ini memicu tafsiran liar. Bagi mereka yang kurang mempertimbangkan faktor integritas, ia akan berkata: “Ya, kalau dikasih, ya ambil.” Artinya, datang mengambil upah sesuai edaran.

Nah!

YSH—entah karena gamang atau sedang memainkan strategi mendapati anggota Grup YSH keluar beramai-ramai sejak edaran soal upah diposting—akhirnya secara otomatis membatalkan klausul-klausul dalam edaran Nomor: 152/K-YSH/12/2025 karena upah itu akhirnya ditransfer malam Sabtu ini. Dampaknya secara psikologis, transfer itu seperti ‘syubhat yang menyambar-nyambar’. Jiwa memang gampang gamang bila digoda dengan uang. Sampai ada kejelasan hukum soal transfer dan uang itu, hati-hati adalah pilihan terbaik.|

Bukan sebuah kebetulan, malam Senin kemarin saya ngaji Tafsir Ibnu Katsir ayat 143 dari QS. An-Nisa. Ayat ini menjelaskan tentang karakter orang-orang munafik yang dijelaskan Imam Ibnu Katsir sebagai “muḥayyirīna bayna al-īmāni wa al-kufri”, orang-orang yang dalam keadaan bingung antara iman dan kekafiran.

Namun, bagi saya bukan poin ini yang menohok, melainkan satu riwayat yang dikutip Imam Ibnu Katsir mengenai kambing sebagai perumpamaan orang-orang munafik. Hampir semua orang yang pernah ngaji, tahu lah karakter orang munafik itu seperti apa. Namun perumpamaan kambing untuk orang munafik, terus terang saya baru tahu dari tafsir ini.

Riwayat ini dari sahabat Ibnu Umar. Demikian kutipannya:

Perumpamaan orang munafik sama dengan seekor kambing yang mengembik sendirian di antara dua kumpulan ternak kambing. Ia melihat sekumpulan kambing di atas tempat yang tinggi, lalu ia datang kepadanya dan bergabung dengannya, tetapi ia tidak dikenal. Kemudian ia melihat sekumpulan ternak kambing yang lain di atas tempat yang tinggi, lalu ia mendatanginya dan bergabung dengannya, tetapi ia tidak pula dikenal.
Ah, tentu setiap kita tidak ingin menjadi seekor kambing yang digambarkan riwayat di atas.

Jum’at, 12 Desember 2025.
Have a nice weekend.

Sabtu, 06 Desember 2025

Membasuh Rindu Masa Kecil


Wader, Foto credit: UPT Laboratorium Kesehatan Ikan dan Lingkungan UPT PBAT Umbulan, Pasuruan, Jawa Timur, https://pbatumbulan.blogspot.com/

Meski tanpa Ustaz Budi, pertemuan kami tetap hangat. Umi, Laskar, Lintang, dan Zaki mewakili sosok Ustaz Budi yang tetap saya rindukan datang berkunjung. Apatah lagi ada oleh-oleh ikan wader masakan Umi dan buku dari laskar. Amboi sedapnya, meskipun Liukan, Liga, juga istri Laskar absen.

Ella istri saya, santri Ustaz Budi dan Umi. Mikal putri saya, juga santri Ustaz Budi dan Umi. Dua perempuan di samping saya ini melestarikan transmisi santri-kiai di antara mereka. Sedangkan saya kecipratan berkah dari hubungan mereka yang kuat.

Saya pun tahu, Ustaz Budi “sendirian” saat itu. Ia menempuh jalan sunyi.
Dahulu, Ustaz Budi orang yang “sendirian”, maksud saya sendirian menghidupkan nyala api literasi di pondok yang diasuhnya. Saya tahu pula perjuangan Ustaz Budi di komunitas pondok Muhammadiyah. Ustaz Budi pernah berupaya agar pondok-pondok Muhammadiyah bernaung dalam satu Majelis resmi seperti Majelis yang memayungi sekolah-sekolah dan universitas-universitas Muhammadiyah. Salah satu poin yang ingin dinyalakan beliau adalah literasi menulis harus hidup di pondok-pondok pesantren milik Persyarikatan.

Meskipun sendirian, upaya Ustaz Budi agar santri menaruh minat pada literasi menulis tidak pernah mati. Di Pondok Muhammadiyah Asy-Syifa, Bantul, saat ia masih menjadi pengasuh, saya sempat digandeng mewujudkan mimpinya. Saya pun tahu, Ustaz Budi “sendirian” saat itu. Ia menempuh jalan sunyi. Ya, literasi menulis memang masih dianggap tidak penting, bahkan oleh lembaga ilmu yang berpayung di bawah jargon Islam Berkemajuan sekalipun.


Kesunyian di Asy-Syifa akhirnya menjadi gegap gempita. Lahirlah satu antologi dari Asy-Syifa; Sang Juara. Saya merasakan, betapa bahagianya Ustaz Budi saat itu sebab mimpinya terwujudkan. Saya tidak tahu lagi, apakah nyala api yang ditinggalkan ustaz Budi masih menyala atau telah redup, masih menyisakan bara, atau sudah mati yang asapnya sudah tidak tersisa.


Pada ranah literasi menulis inilah saya tersambungkan dengan beliau. Maka, saya percaya, selain amal ibadahnya yang menyertai sebab beliau sudah berpulang, perhatian dan kesungguhannya menanamkan budaya menulis pada santri-santrinya dahulu akan bernilai di sisi Allah SWT, zat yang bersumpah atas nama pena dan apa yang dituliskan; Nūn wal-qalami wa mā yasṭurūn. Boleh jadi, gagasan literasi dan upayanya diabaikan di bumi pondok sendiri, tapi di atas langit cita-citanya dihargai penguasa langit dan bumi.

Laskar sudah jadi penulis. Ia menghadiahi saya buku Berburu Takjil Sampai ke Roma. Meskipun bukan buku solo, judul Berburu Takjil Sampai ke Roma saya duga diambil dari esai Laskar berjudul “Iktikaf di Roma” pada buku ini. Saya yang juga pernah menangani buku kumpulan—esai, cerpen, dan puisi—atau populer disebut antologi kerap menempuh cara ini. Tentu, mengambil salah satu judul dari sekian banyak konten sebagai judul buku antologi sudah melalui pertimbangan-pertimbangan khusus.

Sebagai buku kumpulan esai tentang puasa, Berburu Takjil Sampai ke Roma fokus mengulas pernak-pernik Ramadhan. Ada refleksi, opini, dan isi hati para penulis seputar indahnya bulan puasa di buku ini. Keren lah pokoknya. Saya kurang tahu, ini debut buku antologi ke berapanya Laskar. Yang jelas saya berbinar, Laskar meneruskan spirit menulis Ustaz Budi lewat buku ini. Eh, rupanya, buku ini besutan Mas Soleh dan Irfani. Ini kejutan kedua. Mas Soleh itu kolega saya di Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Depok.

“Pepet terus Mas Soleh, Le. Ambil skill menulis darinya.”

Laskar sudah punya modal menulis, tinggal konsisten dan terus mengasah skill dengan “jangan berhenti menulis”. Bila perlu buat agenda khusus, misal; sehari satu halaman.

Nah, ini, ikan wader hadiah dari Umi.

Umi menyambungkan masa kecil saya dengan wader. Wader—dahulu saya menyebutnya ikan benter—itu potret ikan imut yang paling saya suka. Pokoknya, benter seperti cinta pertama saya pada ikan. Bukan hanya anatomi dan warna tubuh benter yang memesona bagi saya, melainkan cita rasanya yang gurih.

Ikan ini melimpah di sawah, empang, bahkan di selokan kecil berair jernih di kampung saya dahulu. Saking jernih airnya, dari pinggir galengan, kawanan benter itu bisa dipandangi sampai hati merasa puas. Begitulah.

Zaman berganti. Masa kecil itu telah hilang. Sekarang, tak ada lagi barang seekor jua benter-benter itu berenang di selokan kecil. Ia lenyap dari air kampung saya, seiring lenyapnya sawah-sawah dan selokan yang ditimbun komplek. Bila benter-benter itu hilang karena bermigrasi, biarlah ikan favorit saya itu tetap lestari pada ekosistem sawah atau selokan yang baru. Namun, bila ia hilang karena mati terkubur adukan semen, ini musibah.

Saat Ustaz Budi masih hayat, saya pernah bercanda ingin berkunjung ke Boyolali dan minta dibuatkan wader balado. Ustaz Budi menanggapi serius. “Saya selalu bahagia dikunjungi Ustaz Abdul. Lebih bahagia saat Ustaz lahap menyantap hidangan yang kami sajikan,” begitu katanya. Karena itu, bagaimana saya bisa melupakan kebersahajaan Ustaz Budi? Allāhummaghfir lahu warḥamhu wa ‘āfihi wa‘fu ‘anhu.

Sekarang, “hutang” wader sudah dilunasi Umi. Bahkan saya dapat bonusnya; Berburu Takjil Sampai ke Roma. Duh, bahagianya dikunjungi Umi dan anak-anak Ustaz Budi. Semoga silaturahim ini bisa terus tersambung. Rindu pada masa kecilku luruh dengan Berburu Takjil Sampai ke Roma dan Wader chrispy.
Aku, Berburu Takjil Sampai ke Roma, dan Wader, Foto credit Mikal.


Sabtu, 06 Desember 2025.
Sabtu pagi yang elok dengan matahari dan suara burung yang menciap di samping balkon.


Rabu, 03 Desember 2025

Tidak Ada Pesta yang Abadi

Pesta Pasti Berakhir. Ilustrasi milik saifulianjabbar; https://www.instagram.com/p/C0fuPOevAAq/?utm_source=ig_web_copy_link


Seperti kata bibi saya, tidak ada pesta yang tidak berakhir

SORE tadi dapat kabar, bahwa beberapa unit usaha Koperasi Guru dan Karyawan (KGK) MP UIN Jakarta kembali ke khittah-nya, kembali ke pangkuan “Ibu Pertiwi” di tangan para kawula. Mendadak teringat lagu Bang Haji Rhoma; “Pesta Pasti Berakhir”.

Sebentar, bila Anda tidak suka musiknya Bang Haji, atau karena berpegang pendapat ulama yang mengharamkan musik, baca lirik “Pesta Pasti Berakhir”-nya saja. Aman, Anda tidak akan kena delik hukum fiqih keharamannya musik. Bila Anda memegang pendapat sebaliknya, silakan nikmati lirik dan musiknya sekalian sambil nyeruput kopi. Lirik lagu itu seperti “bertuah” sore ini.

Tadinya, saya kira hanya Bang Haji Rhoma yang berdendang bahwa pesta pasti berakhir. Rupanya, Agnes Davonar dalam bukunya: “Oei Hui Lan: Kisah Putri Sang Raja Gula dari Semarang” juga bicara itu. Pada Kata Pengantar buku biografi ini, Oei King Yan mewakili keluarga menulis: “Seperti kata bibi saya, tidak ada pesta yang tidak berakhir. Kalimat itulah yang membuat kami menyadari bahwa pesta kami mungkin telah usai, tapi kenangan akan pesta itu tidak akan pernah terhapus sekarang dan selamanya.”

Makna leksikal dari “pesta” adalah perjamuan makan minum (bersuka ria dan sebagainya). Maka, tidak salah bila pesta itu identik dengan kesenangan karena di sana ada perjamuan. Tidak pula mengherankan bila suatu individu atau kelompok cenderung menyukai pesta, menyukai perjamuan. Bila perlu, setiap kesempatan dikemas sebagai pesta, sebagai kesempatan menikmati perjamuan.

Pesta dan perjamuan itu mahal. Akan tetapi, sensasi, relaksasi, dan kepuasan dari sebuah pesta memang kerap diperjuangkan mati-matian segelintir orang. Karena itu, tidak ada harga yang mahal untuk sebuah perjamuan sepanjang kesempatan itu terbuka, aturan bisa dibuat, dan situasi bisa dikendalikan. Maka meskipun mahal, diongkosi juga pesta dan perjamuan itu. Toh, pada hakikatnya bukan mereka yang membayar berapa pun mahal bill yang harus dilunasi.

Sebenarnya, asalkan uang untuk membayar pesta dan perjamuan itu legal; halalan thayyiban, sah-sah saja pesta itu digelar. Lain cerita bila pesta itu digelar hanya untuk dinikmati segelintir orang dari kaum elit. Mereka mengambil hak mayoritas para kawula yang sebenarnya berpeluh-peluh guna membiayai pesta dan perjamuan mereka di hotel-hotel, di rumah-rumah makan berkelas, atau di tempat-tempat wisata yang memesona.

Bila curah pendapat yang disisipkan dalam setiap pesta dan perjamuan itu berdampak signifikan bagi kesejahteraan yang merata dirasakan manisnya bagi semua kawula, boleh jadi doa-doa terima kasih keluar dari lisan para kawula. Jangan sepelekan doa. Ia bisa tembus ke langit, memberi restu memperpanjang pesta perjamuan.

Namun, bila para kawula cuma mencium harumnya perjamuan, hanya liur yang menetes, doa-doa para kawula bisa berubah menjadi sumpah serapah. Sumpah serapah dan doa-doa kawula  yang teraniaya 
juga tembus ke langit. Ia sama manjurnya, bergantung yang mana lebih dahulu mendapatkan momentum.

“Makan-minumlah senang-senanglah
Dalam pesta kehidupan dunia
Tapi ingatlah gunakan pikir
Bahwa pesta pasti ‘kan berakhir.”


Demikian dendang Bang Haji Rhoma mengingatkan.

Chang kemudian mengatakan sesuatu pada saya.
“Kamu pernah mendengar sebuah pepatah China yang paling menyedihkan?”
“Apa itu?” ujar saya bingung.
“Tidak ada pesta yang abadi.”

Demikian kutipan dari biografi “Oei Hui Lan: kisah putri Sang Raja Gula dari Semarang”.

Hidup memang seperti pendulum.|

Depok, 03 Desember 2025.
Berbinar menyongsong sokoguru ekonomi kembali pulang.

Minggu, 30 November 2025

Hikayat Teman Ngopi yang Tertukar

Enaknya punya Teman Ngopi seorang pejabat. Ilustrasi Generate Gemini.


Di dalam KBBI, teman/te·man/ n bisa berarti: 1 kawan; sahabat: 2 orang yang bersama-sama bekerja (berbuat, berjalan); lawan (bercakap-cakap): 3 yang menjadi pelengkap (pasangan) atau yang dipakai (dimakan dan sebagainya) bersama-sama.

Ngopi tidak saya temukan penjelasannya di kamus. Yang ada mengopi/me·ngo·pi/ v minum kopi.

Jadi, Teman Ngopi itu apa artinya? Ya, ribet, ‘gak ada di KBBI soalnya. Namun, arti ngopi sendiri masih bisa dilacak di kamus lain, yaitu KBPS; Kamus Besar Perasaan Saya. Maksudnya, saya rasa, Teman Ngopi bisa diartikan sebagai orang yang sering duduk bersama-sama untuk minum kopi.

Ada makna baru dari frasa Teman Ngopi ini. Dan, sepertinya ia sudah jadi semacam metodologi. Kira-kira dua tahun ke belakang lah, saat frasa ini sering diucapkan oleh orang yang sering nongkrong dengan Teman Ngopi. Maknanya pun lebih spesifik sebagai cara atau pendekatan kepada orang yang kerap duduk bersama-sama minum kopi untuk sama-sama membicarakan hal penting.

Ada pesan penting yang tersembunyi di balik frasa Teman Ngopi di sini. Jadi, apa pun masalah yang sedang dihadapi lembaga, sekrusial apa pun masalah itu, jalan keluarnya adalah Teman Ngopi. Makanya, ia jadi semacam problem-solving methodology.

Namun, ada makna tersembunyi di balik frasa Teman Ngopi. Makna itu sangat halus, halus sekali. Sudahlah halus, tersembunyi pula dia. Karena itu, ia hanya bisa dirasa oleh orang yang sanggup membaca konteks atau rahasia di balik realitas seperti Hamdani Firman. Makna apa itu? Pertama, makna arogansi. Seolah, di tangannya semua masalah bisa selesai hanya dengan lobi kepada pejabat Teman Ngopi.

Kedua, bermakna good relationship. Menunjukkan bahwa ia orang hebat yang luas jaringan, punya koneksi, dan banyak relasi. Jadi, frasa Teman Ngopi itu semacam ajang untuk menunjukkan bahwa ia dikenal banyak kalangan di lingkungan pejabat. Untuk sekadar mengundang mereka jadi pembicara saja, cukup diundang melalui pesan What'sApp, selesai urusan.

Kasus sebuah lembaga di negara Konoha boleh jadi relevan untuk diangkat sebagai permisalan. Satu kali, lembaga di negara Konoha itu dirundung problem. Ruwet! Ruwet! Ruwet! Para pejabat berembuk mencari solusi. Buntu.

Namun, di saat semuanya menemui jalan buntu itu, salah seorang dari mereka nyeletuk.

“Siapa pejabat di bagian itu?”

“Bapak Fulan bin Fulan, Pak.”

“Lah, itu mah, Temen Ngopi saya!”

Byar! Semua lega. Wajah-wajah yang tadinya kusut masai berubah semringah.

Dua hari kemudian, wajah yang tadinya semringah kembali lagi kusut masai. Sebab, ternyata ada keliru analisis. Pada saat audiensi, ternyata pejabat itu bukan Teman Ngopi, melainkan Teman Mancing. Memang, Teman Ngopi dan Teman Mancing beda-beda tipis. Masalahnya lagi, Teman Mancing itu masih marahan gara-gara joran pancingnya dibikin patah.

Bila patah joran itu karena menahan tarikan cupang babon, mungkin pejabat itu memaafkan. Lha, ini patah gara-gara digunakan buat menggebuk kecoa. Saking takut dan panik, tak sadar dia gunakan joran Teman Mancing-nya itu buat menggebuk.

Apes memang pejabat di lembaga negara Konoha ini, kecoanya nggak mati, joran patah dua. Lebih apes lagi, ternyata, setelah ditegesin kecoanya kecoa mainan dari bahan karet. Sejak itulah Teman Mancing ini belum mau berdamai.

“Sama kecoa karet aja Bapak takut! Pejabat apaan, itu!” Hardik Teman Mancing sambil memandangi jorannya.

“Habis, mirip kecoa banget, Pak.” Jawab si pejabat lembaga.

“Diem, lu! Jawab aja!” 

Seminggu kemudian, lembaga itu disegel. Padahal, semua sumber daya sudah dikerahkan. Dari Teman Ngopi, Teman Mancing, sampai Teman Ngarit sudah dilobi. Ya, mau bagaimana lagi, ternyata Teman Ngopi, Teman Mancing, dan Teman Ngarit berbeda kubu dengan pejabat lembaga di negara Konoha.

Sekarang, semua pejabat lembaga di negara Konoha itu berpikir rasional. Pelan-pelan mereka sadar, bahwa tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan Teman Ngopi. Akan tetapi, memilih ikut barisan sama-sama berdiri pada Legal Standing yang tepat karena sudah tercerahkan.

Tahniah.

Begitulah Hikayat Teman Ngopi yang tertukar.


Depok, 30 November 2025.
Sesapan terakhir ngopi tengah malam. Pahit, tapi kaya relaksasi.

Secangkir Kopi Pahit Mengurai Salah Fatal

 

Dummy buku biografi Mualim Awab.


BUKU saya, “Matahari Terbit di Kampung Kami” dituding memuat poin-poin kesalahan oleh penulis “30 Tahun Muhammadiyah Cabang Depok (1952-1982) Asal-usul, Tantangan, dan Pengembangan”. Tudingan itu—lebih tepatnya asumsi—bahkan dilontarkan langsung kepada saya. “Ini salah fatal,” begitu katanya.

Baiklah.

Rupanya, penulis “30 Tahun Muhammadiyah Cabang Depok ...” bukan saja sekadar menginventarisir poin-poin “salah fatal dari buku saya itu. Penulis ini juga rajin sekali mewacanakan tudingan kesalahan-kesalahan itu kepada beberapa orang. Saya tahu dari informasi yang sampai kepada saya. Misalnya, saat pengajian Subuh di Masjid Nur Hidayat, Kekupu, kesalahan-kesalahan itu dibeberkan di hadapan Ketua PDM Kota Depok.

Informasi berikutnya saya dapat dari salah seorang ahli waris Mualim Awab. Saya memang sedang dekat dengan salah satu dari ahli waris Mualim Awab sejak mendapat izin menulis biografi beliau pada Desember tahun lalu. Entah dapat kabar dari siapa penulis ini tahu bahwa saya menulis biografi tokoh pembaru di Rawadenok ini. Rupanya, kepada ahli waris Mualim Awab ini, penulis “30 Tahun Muhammadiyah Cabang Depok ...” juga menyampaikan tudingan poin-poin kesalahan seperti yang disampaikannya kepada Ketua PDM Depok. Maka, saat ia tahu biografi itu saya yang menulis, ia berkata, “Buku yang kemarin saja banyak yang salah!” Pahit, sih rasanya di-jugde begitu. Tapi, ya ditelan saja.

Sebab sudah terlatih menikmati sesapan kopi pahit favorit pendamping menulis, sepahit apa pun tudingan itu, rasanya ia memang lebih pahit dari kopi saya. Pahitnya kopi saya hanya sampai di lidah, tak sampai turun ke hati. Lidah memang tajam, lebih tajam dari sembilu. Maka, pahitnya kena sayatan lidah, pahitnya bertahan lama untuk dilupakan.

Ada alasan lain mengapa sebetulnya saya malas menanggapi tudingan “salah fatal itu. Pertama, satu poin tudingan “salah fatal yakni soal H. Nipan tidak bisa dibuktikan. Sebab, setelah dalam satu kesempatan penulis ini saya pertemukan dengan narasumber saya untuk menjelaskan sosok H. Nipan ini, malah penulis inilah yang “salah fatal. H. Nipan yang dimaksud narasumber saya, berbeda dengan Nipan yang dimaksud penulis “30 Tahun Muhammadiyah Cabang Depok ...” Salah orang ternyata penulis ini. Ini seperti “Jaka Sembung naik ojek, kagak nyambung, Jek!

Lebih detail tentang jawaban saya tentang H. Nipan dan dua poin lain jawaban saya, silakan baca di sini:

https://www.adung.my.id/2025/05/h-nipan-dan-h-saprin-sorotan-tajam-buku.html

https://www.adung.my.id/2025/05/1961-sorotan-tajam-buku-matahari-terbit.html

https://www.adung.my.id/2025/05/muhasim-dan-gerakan-tani-sorotan-tajam.html

Kedua, penulis “30 Tahun Muhammadiyah Cabang Depok ...” setahu saya bukan penulis—dalam arti orang yang sejak muda memang giat menulis buku serta bukunya beredar di pasaran—melainkan ia hanya terbiasa menulis laporan rapat, notulen, atau urusan surat menyurat. Sejak muda, ia banyak mengisi posisi sebagai sekretaris, terutama di Muhammadiyah. Maka, menjadi maklum bila komposisi bahasa “30 Tahun Muhammadiyah Cabang Depok ...” terasa kaku dan menjemukan. 

Isi “30 Tahun Muhammadiyah Cabang Depok ...” memang penting, pake banget, penting banget. Akan tetapi, karena tidak disajikan dalam gaya penulisan yang apik seperti umumnya buku-buku sejarah yang ditulis oleh penulis yang paham bagaimana teknik menulis yang baik, maka “30 Tahun Muhammadiyah Cabang Depok ...” kurang sedap dibaca, kaku, dan kurang menarik. Redaksinya lebih cocok disebut laporan hasil notulen rapat, bukan buku sejarah.

Di mana-mana, orang malas membaca buku sejarah karena sejarah itu membosankan—kecuali para peminat sejarah untuk keperluan riset atau guru sejarah yang mau tidak mau harus membaca buku sumber sebelum mengajar. Selebihnya, buku sejarah jarang dibaca orang. Apalagi buku sejarah yang disajikan dengan bahasa kaku, kering dari background, korelasi yang kurang kuat antar satu peristiwa dengan peristiwa sebelum dan sesudahnya, dan miskin dari unsur cita rasa bahasa yang menarik karena keterbatasan kosakata penulisnya. Buku sejarah seperti ini, jangankan dibaca orang, dilirik saja tidak. Sudahlah kebanyakan orang malas membaca buku sejarah karena ia membosankan, apatah lagi buku sejarah yang ditulis macam laporan yang kering dari estetika bahasa. 

Ketiga, tadinya, saya enggan menanggapi lagi sebab tanggapan sudah pernah saya tulis. Tapi, kok penulis “30 Tahun Muhammadiyah Cabang Depok ...” ini makin berisik ngomongin penilaian“salah fatal” itu kepada beberapa orang. Terlebih, draft buku Biografi Mualim Awab pun disangkutpautkan dengan buku saya sebelumnya sebagai bahan menimbang kualitas draft tersebut. 

Sebelumnya, saya sudah titip pesan kepada komunikator salah seorang ahli waris, cukuplah hanya ahli waris saja dulu yang tahu supaya saya bisa konsentrasi menyelesaikan naskah ini. Tapi, ya sudahlah. Kadung sudah ada orang lain yang tahu, biarlah. Lagi pula, draft biografi ini sudah rampung. Dan sekalian saja saya promosikan di sini.

Tapi rupanya, karakter penulis “30 Tahun Muhammadiyah Cabang Depok ...” ini memang segalanya ingin tahu dan ingin mengomentari apa saja, bahkan pada hal yang belum ia tahu. Misalnya, saat tahu biografi yang saya tulis berdurasi 540-an halaman, responnya cukup menggelikan. Katanya, bukunya saja yang membahas sejarah Muhammadiyah Depok sepanjang 30 tahun hanya 150 halaman. Lah, meraba fisik draft biografi saya saja belum, sudah membandingkan dengan setipis level “30 Tahun Muhammadiyah Cabang Depok ...” Aduh, ini sama saja menelanjangi diri sendiri sebagai penulis yang tidak mengerti anatomi sebuah buku.

Di samping itu, ada yang membuat saya bertanya-tanya. Sudahlah menyatakan: “Buku yang kemarin saja banyak yang salah!” Namun, penulis “30 Tahun Muhammadiyah Cabang Depok ...” ini berkali-kali menelpon salah seorang ahli waris Mualim Awab meminta draft buku ini. Untuk apa?

Jadilah saya menaruh “buruk sangka”. Kalau bukan untuk mengorek sesuatu yang dipandangnya salah dari draft biografi itu, apa lagi coba? Feeling saya berkata, boleh jadi karena ada konflik yang diketahui penulis “30 Tahun Muhammadiyah Cabang Depok ...” dari perjalanan hidup Mualim Awab yang paling pahit sepanjang Mualim Awab bergelut di Persyarikatan yang sebaiknya tidak boleh banyak orang tahu, maka, ia merasa perlu buru-buru membaca draftnya. Namun, boleh jadi feeling saya salah. Semoga memang feeling saya salah.

Akan tetapi lebih dari itu, katakanlah, asalkan poin tudingan “salah fatal” yang ditunjukkan itu nantinya bisa diuji, dan ternyata ia benar, it’s okay. Sebagai penulisnya, saya tidak keberatan mengakui dan akan merevisi. Namun, bila ternyata tudingan “salah fatal itu malah berbalik, mau disikapi bagaimana lagi tudingan itu selain saya anggap saja sebagai angin lalu.

Baik. Saya akan beralih pada poin yang masih berhubungan dengan topik ini. Saya mulai dari hal sederhana, soal diksi (pilihan kata) “fatal”.

Saya belum bosan belajar menulis, termasuk belajar diksi. Bila merujuk kamus, fatal/fa·tal/ artinya 1 mematikan; 2 tidak dapat diubah atau diperbaiki lagi (tentang kerusakan, kesalahan); dan 3 menerima nasib (tidak dapat diubah lagi); celaka.

Ini arti dasar “fatal” menurut kamus.

Dari tiga arti di atas, arti kedua; “tidak dapat diubah atau diperbaiki lagi (tentang kerusakan, kesalahan)” mungkin bisa dipaksakan untuk dipakai memahami tudingan “salah fatal” atas buku saya; “Matahari Terbit di Kampung Kami.”

Mengapa saya sebut diksi “fatal” itu dipaksakan untuk dipakai memahami tudingan atas buku saya? Ya, karena kesalahan pada buku—baik typo, kesalahan data, informasi, atau kesalahan redaksi—bukan kesalahan fatal. Sebab, ia masih bisa diperbaiki sepanjang ada proses “revisi”. Rasa-rasanya, penulis “30 Tahun Muhammadiyah Cabang Depok ...” tidak paham penggunaan diksi “fatal”, baik dalam ucapan maupun tulisan.

Saya beri contoh penggunaan diksi “fatal” yang tepat dan tidak tepat dalam kalimat supaya tambah jelas.

Contoh 1:

Saat Budi melintas di perlintasan kereta, HP-nya jatuh. Beberapa saat kemudian, Fajar Utama Solo melintas dan melindas HP Budi. HP Budi remuk. HP Budi rusak fatal.

Diksi “fatal” pada kalimat di atas tepat, sebab HP yang remuk itu umumnya sudah tidak bisa  diperbaiki.

Contoh 2:

Informasi pesta olahraga Asian Games IV di Jakarta pada surat pengajuan proposal skripsi Saudara tertulis 1960. Ini salah fatal. Seharusnya 1962. Silakan direvisi sebelum Saudara ajukan pada fakultas.

Diksi “fatal” pada contoh 2 kurang tepat, sebab informasi tahun yang salah pada surat pengajuan skripsi masih bisa direvisi atau diperbaiki.

Jelas, ya?

Jadi, bilapun harus menuding kesalahan pada sebuah buku, ya bilang saja “salah” atau “keliru” tanpa diikuti kata “fatal”. Kalau mau, gunakan diksi “serius” untuk menunjukkan bahwa kesalahan itu memang substansial.

Lalu, apakah sebuah buku boleh dituding salah oleh seorang kritikus buku?

Boleh. Sangat boleh. Sebuah buku apabila sudah di-publish, maka ia menjadi milik publik. Publik berhak menuding, mengkritik, bahkan mengoreksi. Sambil menunjukkan poin-poin yang dinilai sebagai kesalahan, ini sangat bijak. Bilamana poin kesalahan itu terbukti valid—berdasarkan data dan fakta—bukan berdasarkan interpretasi, persepsi, atau asumsi pribadi pengkritik dengan tidak mengabaikan faktor di luar dirinya, tudingan seperti ini harus diperhatikan. 

Proses revisi merupakan langkah memerhatikan. Bahkan, dalam proses penerbitan buku, proses revisi bisa berlangsung berkali-kali. Di sinilah peran editor bekerja. Saya, beberapa kali diberi masukan untuk memperbaiki redaksi dari satu paragraf atas buku saya yang sedang diproses. Lain waktu, bahkan saya diminta mengubah alur dan menambahkan setting dari karya novel yang sudah di-ACC penerbit sebelum naik pracetak. Dan, bijaknya seorang editor, apabila saya sebagai penulis dapat menjawab dugaan kesalahan pada naskah dengan reasoning yang meyakinkan, sang editor memberikan apresiasi.

Okay, kalo begitu. Sebagai editor, saya belum menangkap pesan paragraf ini.”

Dicapailah kompromi; perlu revisi redaksi agar tidak menimbulkan mispersepsi pembaca. Saya mengerti, saran editor diperhatikan.

Baik. Sekarang, saya lanjut ke poin sederhana soal kesalahan dan proses revisi dalam sebuah buku.

Tudingan “salah fatal” saya hindari bila terpaksa harus menilai sebuah buku. Saya ambilkan contoh dari “30 Tahun Muhammadiyah Cabang Depok ...” sendiri. Saya punya dua versi. Edisi perdana yang belum ber-ISBN terbit pada 2020, diterbitkan oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Depok. Edisi kedua sudah ber-ISBN, terbit pada 2022, diterbitkan oleh Penerbit Irfani.

Dua edisi ini saya dapat dari membeli, bukan gratisan. Sebagai penulis, saya menghindari dari mendapat buku gratisan—kecuali diberi sebagai hadiah—karena saya tahu cara menghargai penulis. Dua puluh delapan buku yang sudah saya tulis, cukup memberi arti betapa menulis buku itu bukan pekerjaan sesimpel merebus mie instan untuk mengatasi kelaparan di tengah malam. Maka, membeli buku adalah bentuk penghargaan atas jerih payah seorang penulis. Meskipun begitu, saya tidak terlalu pelit buat memberi hadiah buku saya kepada beberapa sahabat yang saya pandang perlu mendapatkan tanpa harus mereka mengeluarkan uang.

Pada halaman 25 edisi perdana “30 Tahun Muhammadiyah Cabang Depok ...”, pesta olahraga Asian Games IV di Jakarta disebutkan berlangsung pada 1960. Ini jelas-jelas salah. Kesalahannya terlalu terang benderang, bahkan a historis. Rupanya, kesalahan ini disadari—entah oleh penulis atau editornya, atau kedua-duanya. Maka, pada halaman 34 edisi kedua terbitan Irfani, kesalahan ini sudah direvisi, bahwa Asian Games IV di Jakarta berlangsung pada 1962. 

Dari kasus yang paling dekat dengan “30 Tahun Muhammadiyah Cabang Depok ...” ini, tidaklah berlebihan, bahwa bagi saya tidak ada kesalahan fatal pada buku. Lebih elegan bila disebut ada kesalahan serius. Meskipun demikian, kesalahan serius ini, pun bisa diselesaikan. 

Kepada penulis “30 Tahun Muhammadiyah Cabang Depok ...” sejujurnya saya ingin mendengar, bagaimana ia menjelaskan soal Asian Games IV 1960 dan 1962 ini setajam ia menuding “salah fatal” buku saya. Tapi, tak usahlah dijawab. Saya sudah prediksi jawabannya; typo!

Tapi jangan salah, typo soal data tahun itu tidak boleh diabaikan. Apalagi menyangkut peristiwa penting yang berskala global sekelas Asian Games. Bagi saya yang memegang dua edisi “30 Tahun Muhammadiyah Cabang Depok ...” tidak akan sampai pada kesimpulan “salah fatal”. Namun, akan menjadi problem bagi pembaca kritis “30 Tahun Muhammadiyah Cabang Depok ...” yang hanya memiliki edisi perdana saja. Boleh jadi setelah pembaca ini menelusur dan menemukan data bahwa Asian Games IV berlangsung pada 1962, bukan 1960, boleh jadi dia akan menuding. Apalagi di era digital hari ini, di mana kesalahan sekecil debu saja bisa dideteksi dalam hitungan detik. Itu karena perpustakaan maya buka 24 jam nonstop. 

Sedikit menyinggung draft biografi Mualim Awab, soal nama ibu beliau. Saya menemukan fakta berbeda. Pada “30 Tahun Muhammadiyah Cabang Depok ...”, ibu Mualim Awab disebut bernama Tirah, berasal dari Kampung Kekupu. Dari perkawinan Usman dengan Tirah, lahir anak-anak; Kidin, Sidik, Imah, Jaelani, Zakaria, Awab, dan Bahrudin. Tidak ada perbedaan Informasi pada kedua edisi yang masing-masing terdapat pada halaman 17 dan halaman 23. Akan tetapi, dari wawancara dengan ahli waris Mualim Awab, ibu beliau bernama Saiah, bukan Tirah. Lha, jadi, ibu Mualim Awab itu sebenarnya siapa, Tirah atau Saiah?

Nama Tirah tetap saya cantumkan mengambil dari “30 Tahun Muhammadiyah Cabang Depok ...” sebagai sumber rujukan primer yang saya kutip. Namun, saya memberikan catatan keterangan tambahan berdasarkan informasi ahli waris sebagai narasumber yang menyebut Saiah lah nama ibu Malim Awab yang benar.

Begitulah cara saya mengkompromikan dua informasi berbeda. Saya tidak kuasa menyatakan penulis “30 Tahun Muhammadiyah Cabang Depok ...” salah fatal, atau ahli waris Mualim Awab yang salah fatal mengenai siapa nama ibu Mualim Awab. Sebab, boleh jadi Tirah dan Saiah itu adalah sosok yang sama. Kasus seperti ini banyak dijumpai dalam alam kehidupan “orang doeloe”. Sebagai contoh, kakeknya bapak saya bernama Isnaen. Satu waktu saya bertanya saat menulis buku Tarawih Terakhir.

“Pak, Isnaen itu apanya Pak Debel?” tanya saya. Saya ingin tahu, sebab dahulu —saat saya masih SMP kelas 1—ada arisan Keluarga Besar Pak Debel. Saya sering ikut bapak hadir di acara arisan ini.

“Pak Debel, ya Pak Isnaen!” Jawab bapak terkekeh.

Nah!

Keep your writing spirit alive, Abdul!

Depok, 30 November 2025.

Melepaskan rasa pahit di antara rinai hujan sore yang sejuk.

Kamis, 27 November 2025

Kavling Mufaraqah

Berjabat tangan dengan Rektor UIN Jakarta, Prof. Asep Saepudin Jahar, Ph.D. Gara-gara foto ini dibilang akrab banget sama Rektor oleh Om Faizin. Foto milik UIN Jakarta.


Saya sudah siapkan kapling mufaraqah.

Selasa, 18 November 2025, di Aula Mukti Ali, saya terkejut-kejut. Pertama, terkejut dengan sosok Ketua Yayasan. Setahu saya, Ketua Yayasan Syarif Hidayatullah bukan dia. Saya kenal wajah, postur, gaya bicara, dan pembawaan Ketua Yayasan. Rasanya, belum lama sosok ini menjabat. Tapi, kok sudah ganti orang? Ini siapa lagi?

Di aula Mukti Ali saat acara berlangsung pun, pertanyaan masih menggantung di benak saya. Karena subjek saya adalah Sejarah Kebudayaan Islam, jadi teringat sistem pergantian khalifah yang terjadi di dalam keluarga istana Daulah Bani Umayyah. Lah, kok jadi mirip suksesi khilafah Daulah Bani Umayyah ini? Batin saya mengeluh.

Ah, bodo amat. Lagian, saya bukan orang penting yang harus tahu suksesi struktural yayasan. Siapa elu, Dul? Jawab saya sendiri dalam hati.

Saya beneran ketinggalan kereta, kurang update. Teman sejawat boleh jadi sudah jauh kemana-mana, sementara saya masih duduk termangu di buritan. Kemarin—sekira seminggu berlalu—sempat samar-samar mendengar cuitan. Embusan angin mengantar cuitan itu sampai ke ujung telinga: "Ketua Yayasan yang baru, sarungan." Barulah pada hari Selasa itu saya ngeh soal "sarungan". Oh, maksudnya "pakai sarung".

Kedua, terkejut soal undangan pertemuan pada hari Selasa itu. Perihalnya jelas tertulis: “Undangan dari yayasan”. Tapi, undangannya berkop MTs Pembangunan dan ditandatangani bukan oleh Ketua Yayasan. Mata saya memicing, sekadar memicing. Loh, kok? Jadi, siapa yang mengundang? Ah, biarlah, itu soal teknis. Hal kecil seperti ini memang sering luput kecuali bagi orang yang aktif berorganisasi dan akrab dengan nomenklatur surat menyurat.

Undangan via WA di Grup kali pertama diposting pada 17 November 2025 pukul 07. 46 WIB. Ada catatan tambahan pengantar pada postingan: “mohon hadir tepat waktu dan ada daftar hadir kegiatan ini”. Undangan diulangi sehari kemudian, pada 18 November 2025 pukul 14.57 WIB. Bismillah, saya harus hadir. Pukul 15.33 WIB Aula Mukti Ali masih belum terisi separuh. Imbauan diulangi dengan bahasa foto dibubuhi caption: “Ayoo bapak dan Ibu.”

Ketiga, terkejut—lebih pasnya ‘tersengat—dengan diksi “kalian” yang digunakan Ketua Yayasan saat menyampaikan nada tegas mengenai polemik Yayasan dengan UIN yang sedang berlangsung. Diksi “kalian” ini boleh jadi tak terpikirkan bagi siapa pun. Tapi bagi saya, tidak. Saya memikirkan diksi “kalian” itu sampai malam. Boleh jadi karena setiap hari saya biasa bermain dengan diksi-diksi. Dari diksi yang bermakna sopan sampai yang kasar, dari yang mendikte sampai intimidatif, sedikit banyak saya tahu. Apalagi saya hadir saat diksi “kalian” itu digunakan di forum briefing itu.

Semula, saya menaruh harapan besar pada briefing hari itu. Pastilah ada hal mendasar dengan hadirnya sosok bersarung sebagai Ketua Yayasan yang baru. Apalagi saat isu integrasi terus menggelinding bagai bola salju, berharap sangat kehadirannya akan memberikan kesejukan agar para guru bisa tetap fokus melaksanakan tugas-tugas pokok tanpa harus berurusan dengan polemik. Sebab hemat saya, soal isu integrasi yang memicu polemik bukan domain guru, itu domain para pemangku kebijakan. Maka, saya sebagai guru—juga guru-guru di semua unit—hanya berharap semuanya berakhir dengan baik.

Akan tetapi, harapan pada briefing hari itu jauh panggang dari api. Bahkan ada sikap Ketua Yayasan yang lebih menyengat dari diksi “kalian” itu. “Saya sudah siapkan kavling mufaraqah”. Begitulah bunyinya. Kalimat itu disampaikan dengan sangat meyakinkan kepada para guru. Tentu, yang dimaksud kavling mufaraqah diperuntukkan bagi guru yang tidak tunduk pada sikap dan visi Yayasan. 

Rasanya ingin berteriak: "Emaaaak!" Hanya saja, rasanya tidak perlu. Teriakan hanya bikin gaduh. Masih ada nalar sehat dan second opinion. Saya masih menyimpannya untuk memutuskan di mana kaki harus berdiri bila benar-benar datang saatnya harus memilih.

20 tahun 5 bulan sudah mengabdi di MP, waktu yang cukup untuk menikmati harmoni di ujung karier. Namun, hati rasanya masygul—seperti perempuan hamil tua yang sedang terengah-engah menanggung beban wahnan ‘ala wahnin—diberi pilihan mufaraqah oleh orang yang ibaratnya baru “dua hari dua malam” jadi Ketua Yayasan. Otak terasa mengkeret kusut masai, hati gundah gulana, dan air muka berubah keruh mendapati informasi sedemikian rupa.

Untunglah, pada hari Sabtu, 22 November 2025 saya hadir di Aula Harun Nasution, UIN Jakarta. Saya datang dengan nalar sehat dan second opinion, dengan dada lapang, tanpa beban psikologis, tanpa intimidasi, dan tanpa dering telepon. Saya datang dengan gembira. Saya lihat, beberapa dari teman-teman ada juga memenuhi undangan Rektor dengan gembira seperti saya. Aula Harun Nasution telah mengembalikan spirit daya survive saya di MP.  

Begitu gembiranya saya datang, saya masih sempat mencandai sepasang suami istri hasil pertemuan dari kisi-kisi "Kurikulum Cinta" di Madrasah Tsanawiyah. Saya yang mengenakan masker, berseloroh kepada mereka selepas turun dari berboncengan motor. Dengan wajah yang saya serius-seriuskan, saya berujar:

"Hei, pakai masker!" Kata saya sambil membulatkan mata.

Sang istri dengan wajah melongo, mata sedikit membulat, dan mulut agak setengah terbuka memandang sang suami lalu memandang saya dengen ekspresi polos. Saya bisa membaca isi kepalanya, bahwa masker memang diperlukan saat itu untuk sedikit menutup identitas supaya tidak ketahuan. Hihihihi. Sang suami yang melihat istrinya mirip orang shock berusaha menghibur. Ini suami yang baik, ia hadir di saat istrinya membutuhkan pegangan.

"Ah, sudahlah. Nanti juga bakal ketahuan!" Kata sang suami mantap. Ini jawaban suami banget. Jawaban suami siaga.

Buhahahahahahah, kena lo gue ledekin, seru saya dalam hati. Tawa saya pecah, namun tidak berwujud sebab diredam balutan masker. Saya membayangkan di alam hayal diri saya joget-joget sambil menciumi masker melihat respons mereka berdua. 

Di aula Harun Nasution, ada juga teman saya yang tampak kurang gembira. Aura wajah mereka tegang seperti orang sedang membuka toples yang tutupnya terlalu kencang dipulir. Bahkan, ada wajah-wajah dari mereka yang seputih lobak. Boleh jadi karena mereka salah satu yang menerima dering telepon, diminta pulang meninggalkan acara sementara pantat mereka sudah leyeh-leyeh di atas kursi aula.

Bagi saya, briefing di aula Andalusia itu pada Selasa 18 November 2025 adalah sejarah. Datang pada Sabtu, 22 November di Aula Harun Nasution bertemu Rektor dan menerima SK juga sejarah. Kedatangan Rektor UIN Jakarta di Hari Guru Nasional di pelataran Madrasah Pembangunan pada Selasa, 25 November 2025 adalah juga sejarah. Dan, sejarah ini bertambah sempurna pada hari Selasa di Hari Guru Nasional. Lebih kurang 70 jam setelah saya menerima SK Rektor, para guru dan Tendik yang belum sempat mengambil SK-nya pada hari Sabtu, berbondong-bondong datang mengambil. Kata seorang kawan saya berseloroh, “Ini seperti Fathu Makkah.”

Soal hari Sabtu atau hari Selasa, itu hanya soal waktu. Bagi saya, siapa yang duluan dan belakangan itu tidak penting lagi diperdebatkan. Semuanya sudah tercatat sejarah. Tidak penting juga mendengarkan lagi narasi-narasi dukungan atau penolakan. Lebih tidak penting lagi menyediakan telinga untuk menyimak apologi meskipun mulut sang apologis berbusa-busa. Bahkan hari ini catatan sejarah bertambah satu paragraf. Kamis, 27 November 2025, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, Menteri Agama datang berkunjung menginjak latar Madrasah Pembangunan. Bukankah ini sejarah?

Hari ini bertemulah simpul nalar sehat, second opinion, dan kedatangan Pak Menteri.

Kamis, 27 November 2025.

Sambil menikmati suapan terakhir Bakmi di LAB. MIPA Jabir ibnu Hayyan Madrasah Tsanawiyah Pembangunan UIN Jakarta.



Selasa, 25 November 2025

Hari Guru dan Labirin Low Politic



Biarlah, menggunting itu tugasnya para penjahit dan tukang cukur saja, memangsa karakternya raja hutan saja. Jangan kau menggunting, jangan kau memangsa. Bila levelmu belum sampai maqom mu’allim, jadilah mudarris yang ketiadaanmu dirindukan siswa dan kehadiranmu diinginkan sejawat.

Selamat Hari Guru untuk Abdul. Ehehehehe. Sekali-sekali mengucapkan selamat untuk diri sendiri. Lucu juga, sih. Tapi, ya, mau gimana, emang saya guru. Meskipun boleh jadi belum memiliki “Jiwa Guru”. Selamat Hari Guru juga untuk kerabat; Ida Karimah, Mas Hery, Isy Karimatunnisa, Fikra Hawa, dan Mikal Zidna Fajwah. Juga untuk semua sahabat saya yang berprofesi guru. Selamat Hari Guru, ya. Semoga terus bahagia. 

Nah, Jiwa Guru ini mahal. Hanya “guru beneran” yang bisa memiliki perangkat lunak ini. Tentu, memiliki Jiwa Guru tidak bisa dibeli dengan uang, ditukar dengan gelar akademik, digadai oleh SK jabatan struktural di sekolah, atau hadiah karena koneksi sebab dekat dengan pengambil kebijakan. Bukan. Jiwa Guru itu hadir sendiri karena keikhlasan, penghayatan pada peran, dan amanah pada tanggung jawab ilmu dan pengabdian. 

Di Hari Guru 2025 ini, saya kok tertarik dengan sebuah artikel di https://www.albayan.ae/. Judulnya itu, loh: “Al-Mudarris wa Al-Mu’allim”, Pengajar dan Pendidik. Amany Fathi—sang penulis—memulai artikelnya dengan pertanyaan cukup penting. “Di mana dan bagaimana kita dapat menemukan seseorang yang melampaui tugas profesionalnya semata sebagai “pengajar (mudarris)” menuju sebutan “pendidik (mu‘allim)”? 

Fathi berpendapat, bahwa seorang pengajar pada umumnya bukanlah seorang pendidik yang berhasil. Adapun pendidik adalah “sayyidul mudarrisin”, penguasanya para pengajar. Perbedaan yang mendasar, mengajar hanya sebatas menyampaikan materi pelajaran kepada para siswa dengan cara apa pun, dan tugas ini terbatas pada studi dan pencapaian ilmiah lebih daripada aspek lainnya. Sementara pendidik adalah pengajar sekaligus pembina, pembimbing, ayah, saudara, dan sahabat—yang selalu ditemukan siswa di sisinya dalam semua situasi dan berbagai keadaan. 

“Lābudda an natakhallā fī dākhilinā ‘an waṣf al-mudarris, wa nartaqiya jamī‘an ilā musammā al-mu‘allim, wa nujassidahu qawlan wa fi‘lan, wa huwa ḥaqqan mā yaḥtājuhu al-ṭalabah.” Kata Fathi lebih tegas. Artinya lebih kurang begini: “Kita harus melepaskan dalam diri kita sebutan “pengajar (al-mudarris)” dan naik bersama menuju sebutan “pendidik (al-mu‘allim)”, serta mewujudkannya dalam ucapan dan tindakan. Itulah yang benar-benar dibutuhkan para siswa.”

Berat, berat ini.

Sependek pemahaman saya yang terbatas memahami maksud tulisan Fathi ini, boleh jadi, seorang mudarris masih akrab dengan anasir-anasir yang tidak terhubung langsung dengan kebutuhan siswa. Beda dengan mu’allim yang benar-benar fokus mendampingi siswa-siswa yang—dianggap—nakal, pemalu, lemah, tidak peduli, dan berbagai karakter di samping kecerdasan, bakat, dan minat yang berbeda-beda. 

Seorang muallim memperlakukan mereka sebagai anak-anaknya, sebagai amanah yang dipikulkan di pundak yang tak terelakkan. Boleh jadi, karena muallim ibarat memilih profesi para nabi untuk berdiri di sisi mereka. Maka, seorang muallim lah yang umumnya memiliki Jiwa Guru, sebagaimana jiwa-jiwa para Nabi yang diserap sebatas sisi manusiawinya.

Zaman terus berubah. Harus diakui, perubahan zaman itu sedikit banyak membawa pada pergeseran nilai-nilai, tidak terkecuali pada alam pendidikan. Dahulu, pendidik adalah segalanya dalam kehidupan seorang murid; ia merupakan teladan pertama, tempat kepercayaan yang tak tertandingi, dan sosok yang dihormati serta dihargai oleh semua orang. Sifat-sifat ini dibangun pendidik untuk dirinya melalui perilaku yang ia jalani dengan ketulusan, rasa tanggung jawab, dan amanah. Namun hari ini keadaan tampak berbeda, dan kita semua melemparkan kesalahan pada perkembangan dan perubahan gaya hidup, serta pada generasi masa kini. Dan hal itu benar, tetapi hanya sebagian. 

Jangan lupa, manusia tetaplah manusia; jiwa manusia masih merupakan jenis yang sama sejak Adam ‘alaihi as-salām dan tidak berubah. Perilaku manusia juga tetap serupa di seluruh dunia. Jadi, apa sebenarnya yang terjadi? Dan lagi-lagi, Fathi seperti mencabik kesadaran bahwa Jiwa Guru boleh jadi belum menyatu dalam diri saya bersamaan Hari Guru hari ini. Sebab kata Fathi, pendidik lah yang telah menanggalkan senjatanya, melepaskan perangkatnya, dan meninggalkan wibawanya. 

Maka, seharusnya betapa malu setiap kita yang diberi Selamat Hari Guru membaca artikel Fathi hari ini bilamana ia masih bermain-main dengan anasir-anasir yang memalingkan wajahnya dari tugas-tugas mendidik menjadi sekadar mengajar. Apatah lagi masuk dalam labirin “Low Politic” yang secara vulgar dan agresif menggunting dalam lipatan, “memangsa” teman sejawat. 

“Hai, Abdul! Biarlah, menggunting itu tugasnya para penjahit dan tukang cukur saja, memangsa karakternya raja hutan saja. Jangan kau menggunting, jangan kau memangsa. Bila levelmu belum sampai maqom mu’allim, jadilah mudarris yang ketiadaanmu dirindukan siswa dan kehadiranmu diinginkan sejawat.” Begitulah nurani saya bicara sendiri.

Selamat Hari Guru Nasional 2025 para guru. Bahagia dan sejahteralah dari dunia sampai akhirat. Aamiin.

Ciputat, 25 November 2025.

Laboratorium MIPA Jabir ibn Hayyan Madrasah Pembangunan UIN Jakarta.



Senin, 27 Oktober 2025

5 Alasan Santri Harus Menulis

Sharing menulis dengan santri Muhammadiyah Boarding School Ki Bagus Hadikusumo. Foto milik Media Informasi MBS.

Literasi menulis sebagai distingsi MBS Ki Bagus Hadikusumo. Ia akan menjadi pembeda dari semua MBS, bahkan dari semua pondok pesantren milik Muhammadiyah seantero negeri.

Rabu berlalu, 22 Oktober 2025 kemarin adalah Hari Santri Nasional. Bagi dunia pesantren, Hari Santri seperti “Hari Raya” meskipun tidak sesakral Idul Fitri atau Idul Adha. Akan tetapi, substansi sebagai “Hari Raya”, Hari Santri sebangun dalam ekspresi ungkapan gembira dan rasa syukur. Perlu ditegaskan, bukan dalam konsep tasyri’ yang dimaksud sebagai “Hari Raya” pada Hari Santri di sini.

SMP Muhammadiyah Boarding School (MBS) Ki Bagus Hadikusumo, Jampang, Bogor menggelar pun upacara pada Hari Santri. Boleh jadi, nuansa upacara di SMP MBS Ki Bagus Hadikusumo dan di pondok-pondok Muhammadiyah berbeda nuansanya dari pondok-pondok milik NU, PERSIS, atau pondok-pondok lain sesuai warna, dan karakter masing-masing saat Hari Santri diperingati.

Usai upacara, SMP Ki Bagus Hadikusumo menggelar seminar menulis. Ini sesuatu banget. Sebagai pondok Muhammadiyah yang mengusung tagline Berkemajuan, literasi menulis sepantasnya menjadi kebutuhan mendesak bagi santri MBS Ki Bagus Hadikusumo. Maka, mengagendakan Hari Santri Nasional dengan seminar Literasi Menulis seperti kemasan dan isi yang sangat serasi.

Sejujurnya, agak “kelabakan” diberi kesempatan menyampaikan materi seminar kamarin itu. Rasanya kurang maksimal karena waktu persiapan yang singkat. Namun, “daya tarik” dunia kepenulisan yang bikin nagih, saya penuhi juga kesediaan hadir di MBS berbekal pengalaman acara yang sama di kesempatan yang lalu-lalu di berbagai forum. Dan, mendapati tiga ratusan lebih santri mengikuti seminar ini, saya mengira-ngira, Dewan Mudir sedang mempertimbangkan literasi menulis sebagai distingsi MBS Ki Bagus Hadikusumo. Ia akan menjadi pembeda dari semua MBS, bahkan dari semua pondok pesantren milik Muhammadiyah seantero negeri. Why not, Abah?

Bila sejenak kita menengok karakteristik Peradaban Islam, ia berbicara pada akal dan hati sekaligus, membangkitkan perasaan dan pemikiran dalam waktu yang sama — dan ini merupakan keistimewaan yang tidak dimiliki oleh peradaban mana pun dalam sejarah (Al-Siba’i, 1999: 70-75). Karena itu, menulis sebagai produk akal dan hati merupakan ciri dari peradaban Islam, peradaban ilmu. Ilmu pengetahuan itu sendiri dihimpun secara sistematis dalam koleksi buku dan kepustakaan Islam sehingga peradaban Islam dapat disebut sebagai peradaban buku atau peradaban teks yang berasal dari al-Qur’an (El-Fadhl, 2020: 6).

Maka tidak heran, perpustakaan dalam peradaban Islam masa keemasan baik di Timur (Baghdad, Mesir, dan Syam) maupun di Barat (Andalusia) menyimpan koleksi buku yang sangat melimpah. Khazain al-Qushur yang dibangun Khalifah al-Aziz (Daulah Fathimiyah) punya kapasitas 40 ruangan besar dengan jumlah koleksi kepustakaan mencapai 1.600.000 (satu juta enam ratus ribu buku, dokumen, manuskrip, dan lain-lain). Dari jumlah koleksi itu, 600.000 (enam ratus ribu) di antaranya terdiri dari buku-buku teologi, tata bahasa, kamus dan ensiklopedia, kebudayaan, sejarah, geografi, astronomi, matematika, dan kimia. Khusus buku-buku mengenai matematika dan astronomi, terdapat 6.000 (enam ribu) buku. Buku-buku lainnya terdiri dari salinan (copy) dari berbagai subjek, baik salinan buku-buku keagamaan, sejarah, dan sastra (Hak, 2020: 138).

Bayt al-Hikmah (House of Wisdom), perpustakaan era Abbasiyah memiliki beragam koleksi dari berbagai bahasa seperti Arab, Yunani, Sansekerta, dan lainnya. Koleksi perpustakaan ini tercatat dalam kitab al-Fihrist dan al-Kasfī karya Hajj Khalifah. Dalam al-Fihrist karya Ibn al-Nadīm juga disebutkan bahwa jumlah koleksi Bayt al-Hikmah mencapai lebih dari 60.000 (enam puluh ribu) buku, jumlah yang sangat fantastis untuk ukuran masa itu. Bahkan penataan buku-buku di perpustakaan Bayt al-Hikmah—selain yang menjadi milik khalifah—diatur berdasarkan klasifikasi ilmu pengetahuan (subjek) yang disusun oleh Ibn al-Nadīm (Rohana dkk., 2021:15–33).

Khalifah al-Hakam II pada dekade akhir abad ke-10 M membangun perpustakaan di Cordova, Perpustakaan Khalifah al-Hakam II. Jumlah koleksinya mencapai 400.000 (empat ratus ribu) koleksi buku. Menurut Mehdi Nekosten, jumlah koleksinya lebih besar lagi, mencapai 600.000 (enam ratus ribu), diperuntukkan bagi publik. Selain bukti jumlah nominal, kebesaran dan kelengkapan perpustakaan ini digambarkan juga dengan sebuah legenda bahwa “tidak ada buku yang tidak dapat ditemukan dalam perpustakaan al-Hakim ini.”(Hak, 2020: 136).

Karena ini, saya punya alasan keharusan menulis. Alasan itulah yang saya beberkan dalam seminar singkat kemarin dengan keywords; mengapa santri harus menulis. Pertama, menulis itu melanjutkan tradisi para ulama. Ulama itu sangat dekat dengan dunia santri. Dan santri, sangat dekat dengan karya-karya tulis para ulama, bukan? Jadi, mengapa santri belum juga menggerakkan pena secara serius melanjutkan tradisi para ulama dalam khazanah peradaban Islam?

Abdul Fattah Abu Ghuddah dalam karyanya Qīmatuz-Zamani ‘inda al-‘Ulamā’, menyebut Imam Ibnu Jarir —penulis tafsir al-Thabari dan Tarikh al-Thabari—menulis setiap hari sebanyak 14 lembar. Jika dihitung jumlah hari dalam 72 tahun masa hidup beliau dikalikan dengan 14 lembar per hari beliau menulis, maka total karya yang beliau tulis mencapai sekitar 358.000 lembar (Abu Ghuddah, 2012: 78). Ajiib!

Imam al-Zuhri, bahkan menulis segala sesuatu yang ia dengar. Ketika kemudian orang-orang membutuhkan ilmunya, semua orang menyadari bahwa Imam al-Zuhri adalah orang yang paling berilmu di antara manusia. Saking gandrungnya Imam al-Zuhri menulis, sampai sedang melaksanakan thawaf pun, beliau membawa papan atau lembaran-lembaran catatan dan ditertawakan sahabat al-Zuhri  sebab kebiasaan menulisnya itu (adz-Dzahabī, 2012: juz 5, hal. 332).

Kedua, dunia santri adalah dunia ilmu, dunia belajar, sedangkan menulis memperdalam dan mengokohkan ilmu. Imam Malik menyarankan, seorang penuntut ilmu harus menulis sebagai cara mengikat ilmu yang sudah dipelajari. Kata beliau:

Al-‘ilmu ṣhaidun wa al-kitābatu qayduhu
Qayyid ṣuyūdaka bil-ḥibāli al-wāthiqah
Famina al-ḥamāqati an taṣīda ghazālah
Wa tatrukuhā bayna al-khalā’iq ṭāliqah
(Syāhīn, 2017: 259).

Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya
Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat
Termasuk kebodohan kalau engkau memburu kijang
Setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja.

Dengan kebiasaan menulis, santri tidak akan kehilangan jejak ilmu yang telah dipelajari di kala ia lupa. Bilamana suatu saat ia lupa, tulisan bisa membantu mengingat kembali.

Memang, tampak ada hubungan yang kuat antara sifat lupa manusia dan menulis. Akan tetapi, sebagaimana sering disebut banyak orang: Innahu mina an-nisyāni, wa summiya al-insānu insānan li nisyānihi—sesungguhnya (nama itu) berasal dari kata lupa (nisyān), dan manusia dinamakan insān karena sifat lupanya—secara linguistik dipertanyakan oleh Ibnu Miskawaih.

Iinsān—berasal dari kata “al-uns” yang bermakna “keakraban” atau “keserasian”. Hal itu karena manusia secara fitrahnya cenderung akrab dan bersosialisasi, bukan makhluk yang liar dan menjauh. Dari sifat itulah nama insān (manusia) diserap dalam bahasa Arab, kata penulis kitab Tahẕīb al-Akhlāq ini.

Demikian pula komentar Ibnu al-Jauziyah yang mengoreksi kata insān sebagaimana pendapat sebagian orang—berasal dari kata nisyān (lupa), dan bahwa manusia dinamakan insān karena sifat lupanya, begitu pula nās (manusia) dinamakan demikian karena mereka suka lupa”—maka pendapat ini tidaklah benar sama sekali. (Ibnu al-Qayyim, 1989: 101).

Meskipun demikian, sifat lupa yang melekat pada manusia, adalah bagian dari sunnatullah bahwa menulis itu penting terlepas dari masalah linguistik ada atau tidak hubungan antara insān dan nisyān.

Ketiga, menulis melatih berpikir kritis dan terstruktur. Sebenarnya, berpikir kritis dan terstruktur sudah menjadi pola pengajaran di pondok pesantren. Santri juga belajar Mantiq sebagai landasan berpikir kritis dan terstruktur. Hanya saja, kemampuan berpikir kritis dan terstruktur itu lebih dominan diekspresikan lewat orasi (khitobah), saat mereka muzakarah, dan menyampaikan argumentasi (istidlal) yang meyakinkan saat membahas suatu masalah dalam tradisi pesantren.

Sementara, berpikir kritis dan terstruktur melalui media tulisan masih belum tumbuh subur di kalangan santri. Seyogyanya,  santri pondok-pondok Muhammadiyah ibarat HAMKA-HAMKA muda zaman milenial meskipun pada ujungya tidak seluruh santri punya passion menulis. HAMKA adalah prototype kaum santri yang fasih lisan dan penanya. Nûn, wal-qalami wa mâ yasthurûn harusnya bukan hanya ayat suci yang menjadi slogan santri Muhammadiyah, melainkan spirit menulis yang hidup karena ujung pena mereka yang terus menari-nari.

Keempat, menulis termasuk bagian dari dakwah. Bahkan, jangkauan dakwah lewat media tulisan mampu menembus dinding-dinding primordial, batas wilayah, serta ruang dan waktu. Apalagi di era keterbukaan hari ini di mana orang bisa mengakses informasi yang nyaris tanpa tidur, kehadiran tulisan yang bermuatan dakwah amat diperlukan. Hindun binti Musthafa Syarifi menegaskan, sesungguhnya penulisan ilmu membantu para dai untuk menyebarkannya ke berbagai penjuru bumi, karena mudahnya ilmu itu dipindahkan di antara manusia—terutama pada masa modern (Syarifi, 2016). Maka, Santri dengan kemampuan dakwahnya, dengan khazanah literatur turats yang melimpah akan sangat membantu rujukan dakwah lewat tulisan. Tulisan santri di internet, nilainya akan berbeda dari tulisan seorang content creator belaka.

Kelima, menulis menjaga warisan pesantren. Banyak kearifan pesantren, kisah kyai, metode ngaji, dan nilai adab yang akan hilang jika tidak ditulis. Dengan menulis, santri mendokumentasikan sejarah dan tradisi pesantren, agar tetap hidup dan dikenal generasi berikutnya.

Ayo santri MBS Ki Bagus! Jadikan literasi menulis sebagai distingsi keunggulan santri milenial.

Di antara Ustaz Ajat Sudrajat, S.Pd.I Kepala SMP Muhammadiyah Boarding School Ki Bagus Hadikusumo dan Ustaz Restu Kurniawan Wibawa, Media Informasi MBS.  Foto milik divisi Media MBS.

Depok, 27 Oktober 2025.
Ba'da Isya yang sejuk, lewat pkl. 00.16, sedangkan mata tak jua bisa dipejamkan.


Rujukan:


Abu Ghuddah, Abdul Fattah. 2012. Qīmatuz-Zamani ‘inda al-‘Ulamā’. Beirut: Dar Al-Basyair Al-Islamiyah.
adz-Dzahabī, al-Imāmi Syamsi ad-Dīn Muḥammadi bni Aḥmadi bin ‘Uṯmān. 2012. Siyar A‘lāmi an-Nubalā’. Beirut: Muassasah Al-Risalah.
al-Jauziyah, Ibnu al-Qayyim. 1998. Tafsir Al-Mu'awwidzatain. tanpa kota: Dar al-Hadits.
Al-Siba’i, Mustafa. 1999. Min Rawa’i Hadharatina. Beirut. Dar Al-Warraq.
binti Mustafa Syarifi, Hindun. 2016. ”Al-Dakwah bi al-Kitabah”. https://www.alukah.net/sharia/0/98523/الدعوة-بالكتابة-وسيلة-الكتابة-الدعوية/. Diakses pada 24 Oktober 2025.
El-Fadl, Khalid Abou. 2002. Musyawarah Buku: Menyusuri Keindahan Islam dari Kitab ke Kitab. terj. Abu Abdullah. Jakarta: Serambi, 2002.
Hak, Dr. Nurul, M.Hum. 2020. Sains, Kepustakaan, Dan Perpustakaan Dalam Sejarah Dan Peradaban Islam (Klasik, Pertengahan, Modern). Pati. Maghza Pustaka.
Rohana, R., Lubis, L., & Ridwan, R. (2021). Gerakan Penerjemahan Sebagai Bagian Aktivitas Dakwah dan Keilmuan di Dunia Islam (Tinjauan Historis Gerakan penerjemahan pada Masa Khalifah Harun Ar-Rasyid dan Khalifah al-Ma’mun). Jurnal Ilmu Perpustakaan (Jiper), 3(2), 15–33. https://doi.org/10.31764/jiper.v3i2.4418. Diakses pada 25 Oktober 2025.
Syāhīn, Muḥammad ‘Abd as-Salām. 2017. Ḥāsyiyatu asy-Syaikh Ibrāhīm al-Bayjūrī ‘alā syarhi al-‘Allāmah Ibn al-Qāsim al-Ghazzī ‘alā matni asy-Syaikh Abī Syuja‘. Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah.