![]() |
| Shaun the Sheep. Gambar sekadar pemanis. Foto credit: https://hai.grid.id/ |
Jadi, bila jiwa novelis yang bersemayam di dada ini saya panggil lagi untuk duduk serius merangkai peristiwa menjelang dan sesudah Sabtu 22 November 2025 itu, ia bisa jadi novel inspiratif. Sebab, “syarat” dan “rukun” untuk membangun sebuah novel menjelang dan sesudah Sabtu 22 November 2025 sudah terpenuhi. Tokoh utamanya biar saya simpan dulu. Yang pasti, kolega-kolega saya yang hadir saat itu, pastilah akan jadi tokoh pembantu. Minimal, namanya saya sebutlah meskipun hanya sekali.
Sehari setelah Selasa 18 November 2025 dan sehari menjelang Sabtu 22 November 2025, itu isinya konflik psikologis semua. Saya percaya, siapa pun yang pada akhirnya melangkahkan kaki memasuki Aula Harun Nasution untuk memenuhi undangan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta adalah mereka yang berhasil memenangkan konflik batin mereka sendiri sebelum memilih untuk memenuhi undangan. Pilihan loh ya, bukan paksaan.
Maka, sejak hari Sabtu 22 November 2025 itu, bagi saya, setiap hari Sabtu seperti a day full of meaning and purpose. Tapi, ini hanya subjektivitas saya saja, sih. Boleh jadi, ada di antara kolega saya malah menganggap Sabtu hari itu it's meaningless.
Besok, 13 Desember 2025 adalah hari Sabtu. Ini juga Sabtu yang bukan hari tanpa risiko. Saya percaya, malam ini menjelang pagi menyingsing esok hari, ada kalkulasi-kalkulasi, perenungan-perenungan, diskusi-diskusi, atau obrolan-obrolan ringan sesama kolega. Boleh jadi, kalkulasi, perenungan, diskusi, atau obrolan itu sudah riweuh sejak dua hari lalu.
Saya adalah bagian dari orang-orang yang sudah selesai dalam konteks ini. Artinya, kalkulasi, perenungan, diskusi, dan obrolan menyikapi Sabtu esok sudah selesai sejak Sabtu 22 November 2025 yang lalu. Saya bukanlah pionir pada Sabtu 22 November 2025 saat itu. Sang pionir adalah orang yang memberi saya pemahaman logis tentang duduk perkara integrasi dengan kalkulasi dan perenungan yang pas dengan hati, otak, dan sikap sendiri.
Saya sebut Sabtu esok bukan hari tanpa risiko, karena boleh jadi ada jiwa-jiwa yang menjadi gamang pada dua hari kemarin sampai malam ini. Kalau bukan karena telah membaca dengan cermat surat edaran Plt. Direktur Badan Usaha Sekolah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta nomor B-10317/BUS/PP.00.11/12/2025, kegamangan itu bisa mengubah haluan karena hidangan upah yang disodorkan surat edaran Nomor: 152/K-YSH/12/2025 dengan segala klausul-klausulnya.
Surat edaran YSH ini memicu tafsiran liar. Bagi mereka yang kurang mempertimbangkan faktor integritas, ia akan berkata: “Ya, kalau dikasih, ya ambil.” Artinya, datang mengambil upah sesuai edaran.
Nah!
YSH—entah karena gamang atau sedang memainkan strategi mendapati anggota Grup YSH keluar beramai-ramai sejak edaran soal upah diposting—akhirnya secara otomatis membatalkan klausul-klausul dalam edaran Nomor: 152/K-YSH/12/2025 karena upah itu akhirnya ditransfer malam Sabtu ini. Dampaknya secara psikologis, transfer itu seperti ‘syubhat yang menyambar-nyambar’. Jiwa memang gampang gamang bila digoda dengan uang. Sampai ada kejelasan hukum soal transfer dan uang itu, hati-hati adalah pilihan terbaik.|
Bukan sebuah kebetulan, malam Senin kemarin saya ngaji Tafsir Ibnu Katsir ayat 143 dari QS. An-Nisa. Ayat ini menjelaskan tentang karakter orang-orang munafik yang dijelaskan Imam Ibnu Katsir sebagai “muḥayyirīna bayna al-īmāni wa al-kufri”, orang-orang yang dalam keadaan bingung antara iman dan kekafiran.
Namun, bagi saya bukan poin ini yang menohok, melainkan satu riwayat yang dikutip Imam Ibnu Katsir mengenai kambing sebagai perumpamaan orang-orang munafik. Hampir semua orang yang pernah ngaji, tahu lah karakter orang munafik itu seperti apa. Namun perumpamaan kambing untuk orang munafik, terus terang saya baru tahu dari tafsir ini.
Riwayat ini dari sahabat Ibnu Umar. Demikian kutipannya:
Perumpamaan orang munafik sama dengan seekor kambing yang mengembik sendirian di antara dua kumpulan ternak kambing. Ia melihat sekumpulan kambing di atas tempat yang tinggi, lalu ia datang kepadanya dan bergabung dengannya, tetapi ia tidak dikenal. Kemudian ia melihat sekumpulan ternak kambing yang lain di atas tempat yang tinggi, lalu ia mendatanginya dan bergabung dengannya, tetapi ia tidak pula dikenal.Ah, tentu setiap kita tidak ingin menjadi seekor kambing yang digambarkan riwayat di atas.
Jum’at, 12 Desember 2025.
Have a nice weekend.

0 Comments:
Posting Komentar