![]() |
| Pesta Pasti Berakhir. Ilustrasi milik saifulianjabbar; https://www.instagram.com/p/C0fuPOevAAq/?utm_source=ig_web_copy_link |
Seperti kata bibi saya, tidak ada pesta yang tidak berakhir.
SORE tadi dapat kabar, bahwa beberapa unit usaha Koperasi Guru dan Karyawan (KGK) MP UIN Jakarta kembali ke khittah-nya, kembali ke pangkuan “Ibu Pertiwi” di tangan para kawula. Mendadak teringat lagu Bang Haji Rhoma; “Pesta Pasti Berakhir”.
Sebentar, bila Anda tidak suka musiknya Bang Haji, atau karena berpegang pendapat ulama yang mengharamkan musik, baca lirik “Pesta Pasti Berakhir”-nya saja. Aman, Anda tidak akan kena delik hukum fiqih keharamannya musik. Bila Anda memegang pendapat sebaliknya, silakan nikmati lirik dan musiknya sekalian sambil nyeruput kopi. Lirik lagu itu seperti “bertuah” sore ini.
Tadinya, saya kira hanya Bang Haji Rhoma yang berdendang bahwa pesta pasti berakhir. Rupanya, Agnes Davonar dalam bukunya: “Oei Hui Lan: Kisah Putri Sang Raja Gula dari Semarang” juga bicara itu. Pada Kata Pengantar buku biografi ini, Oei King Yan mewakili keluarga menulis: “Seperti kata bibi saya, tidak ada pesta yang tidak berakhir. Kalimat itulah yang membuat kami menyadari bahwa pesta kami mungkin telah usai, tapi kenangan akan pesta itu tidak akan pernah terhapus sekarang dan selamanya.”
Makna leksikal dari “pesta” adalah perjamuan makan minum (bersuka ria dan sebagainya). Maka, tidak salah bila pesta itu identik dengan kesenangan karena di sana ada perjamuan. Tidak pula mengherankan bila suatu individu atau kelompok cenderung menyukai pesta, menyukai perjamuan. Bila perlu, setiap kesempatan dikemas sebagai pesta, sebagai kesempatan menikmati perjamuan.
“Makan-minumlah senang-senanglah
Dalam pesta kehidupan dunia
Tapi ingatlah gunakan pikir
Bahwa pesta pasti ‘kan berakhir.”
Demikian dendang Bang Haji Rhoma mengingatkan.
Chang kemudian mengatakan sesuatu pada saya.
“Kamu pernah mendengar sebuah pepatah China yang paling menyedihkan?”
“Apa itu?” ujar saya bingung.
“Tidak ada pesta yang abadi.”
Demikian kutipan dari biografi “Oei Hui Lan: kisah putri Sang Raja Gula dari Semarang”.
Hidup memang seperti pendulum.|
Depok, 03 Desember 2025.
Berbinar menyongsong sokoguru ekonomi kembali pulang.
Sebentar, bila Anda tidak suka musiknya Bang Haji, atau karena berpegang pendapat ulama yang mengharamkan musik, baca lirik “Pesta Pasti Berakhir”-nya saja. Aman, Anda tidak akan kena delik hukum fiqih keharamannya musik. Bila Anda memegang pendapat sebaliknya, silakan nikmati lirik dan musiknya sekalian sambil nyeruput kopi. Lirik lagu itu seperti “bertuah” sore ini.
Tadinya, saya kira hanya Bang Haji Rhoma yang berdendang bahwa pesta pasti berakhir. Rupanya, Agnes Davonar dalam bukunya: “Oei Hui Lan: Kisah Putri Sang Raja Gula dari Semarang” juga bicara itu. Pada Kata Pengantar buku biografi ini, Oei King Yan mewakili keluarga menulis: “Seperti kata bibi saya, tidak ada pesta yang tidak berakhir. Kalimat itulah yang membuat kami menyadari bahwa pesta kami mungkin telah usai, tapi kenangan akan pesta itu tidak akan pernah terhapus sekarang dan selamanya.”
Makna leksikal dari “pesta” adalah perjamuan makan minum (bersuka ria dan sebagainya). Maka, tidak salah bila pesta itu identik dengan kesenangan karena di sana ada perjamuan. Tidak pula mengherankan bila suatu individu atau kelompok cenderung menyukai pesta, menyukai perjamuan. Bila perlu, setiap kesempatan dikemas sebagai pesta, sebagai kesempatan menikmati perjamuan.
Pesta dan perjamuan itu mahal. Akan tetapi, sensasi, relaksasi, dan kepuasan dari sebuah pesta memang kerap diperjuangkan mati-matian segelintir orang. Karena itu, tidak ada harga yang mahal untuk sebuah perjamuan sepanjang kesempatan itu terbuka, aturan bisa dibuat, dan situasi bisa dikendalikan. Maka meskipun mahal, diongkosi juga pesta dan perjamuan itu. Toh, pada hakikatnya bukan mereka yang membayar berapa pun mahal bill yang harus dilunasi.
Sebenarnya, asalkan uang untuk membayar pesta dan perjamuan itu legal; halalan thayyiban, sah-sah saja pesta itu digelar. Lain cerita bila pesta itu digelar hanya untuk dinikmati segelintir orang dari kaum elit. Mereka mengambil hak mayoritas para kawula yang sebenarnya berpeluh-peluh guna membiayai pesta dan perjamuan mereka di hotel-hotel, di rumah-rumah makan berkelas, atau di tempat-tempat wisata yang memesona.
Bila curah pendapat yang disisipkan dalam setiap pesta dan perjamuan itu berdampak signifikan bagi kesejahteraan yang merata dirasakan manisnya bagi semua kawula, boleh jadi doa-doa terima kasih keluar dari lisan para kawula. Jangan sepelekan doa. Ia bisa tembus ke langit, memberi restu memperpanjang pesta perjamuan.
Namun, bila para kawula cuma mencium harumnya perjamuan, hanya liur yang menetes, doa-doa para kawula bisa berubah menjadi sumpah serapah. Sumpah serapah dan doa-doa kawula yang teraniaya juga tembus ke langit. Ia sama manjurnya, bergantung yang mana lebih dahulu mendapatkan momentum.
Sebenarnya, asalkan uang untuk membayar pesta dan perjamuan itu legal; halalan thayyiban, sah-sah saja pesta itu digelar. Lain cerita bila pesta itu digelar hanya untuk dinikmati segelintir orang dari kaum elit. Mereka mengambil hak mayoritas para kawula yang sebenarnya berpeluh-peluh guna membiayai pesta dan perjamuan mereka di hotel-hotel, di rumah-rumah makan berkelas, atau di tempat-tempat wisata yang memesona.
Bila curah pendapat yang disisipkan dalam setiap pesta dan perjamuan itu berdampak signifikan bagi kesejahteraan yang merata dirasakan manisnya bagi semua kawula, boleh jadi doa-doa terima kasih keluar dari lisan para kawula. Jangan sepelekan doa. Ia bisa tembus ke langit, memberi restu memperpanjang pesta perjamuan.
Namun, bila para kawula cuma mencium harumnya perjamuan, hanya liur yang menetes, doa-doa para kawula bisa berubah menjadi sumpah serapah. Sumpah serapah dan doa-doa kawula yang teraniaya juga tembus ke langit. Ia sama manjurnya, bergantung yang mana lebih dahulu mendapatkan momentum.
“Makan-minumlah senang-senanglah
Dalam pesta kehidupan dunia
Tapi ingatlah gunakan pikir
Bahwa pesta pasti ‘kan berakhir.”
Demikian dendang Bang Haji Rhoma mengingatkan.
Chang kemudian mengatakan sesuatu pada saya.
“Kamu pernah mendengar sebuah pepatah China yang paling menyedihkan?”
“Apa itu?” ujar saya bingung.
“Tidak ada pesta yang abadi.”
Demikian kutipan dari biografi “Oei Hui Lan: kisah putri Sang Raja Gula dari Semarang”.
Hidup memang seperti pendulum.|
Depok, 03 Desember 2025.
Berbinar menyongsong sokoguru ekonomi kembali pulang.

0 Comments: