| Wader, Foto credit: UPT Laboratorium Kesehatan Ikan dan Lingkungan UPT PBAT Umbulan, Pasuruan, Jawa Timur, https://pbatumbulan.blogspot.com/ |
Meski tanpa Ustaz Budi, pertemuan kami tetap hangat. Umi, Laskar, Lintang, dan Zaki mewakili sosok Ustaz Budi yang tetap saya rindukan datang berkunjung. Apatah lagi ada oleh-oleh ikan wader masakan Umi dan buku dari laskar. Amboi sedapnya, meskipun Liukan, Liga, juga istri Laskar absen.
Ella istri saya, santri Ustaz Budi dan Umi. Mikal putri saya, juga santri Ustaz Budi dan Umi. Dua perempuan di samping saya ini melestarikan transmisi santri-kiai di antara mereka. Sedangkan saya kecipratan berkah dari hubungan mereka yang kuat.
Meskipun sendirian, upaya Ustaz Budi agar santri menaruh minat pada literasi menulis tidak pernah mati. Di Pondok Muhammadiyah Asy-Syifa, Bantul, saat ia masih menjadi pengasuh, saya sempat digandeng mewujudkan mimpinya. Saya pun tahu, Ustaz Budi “sendirian” saat itu. Ia menempuh jalan sunyi. Ya, literasi menulis memang masih dianggap tidak penting, bahkan oleh lembaga ilmu yang berpayung di bawah jargon Islam Berkemajuan sekalipun.
Kesunyian di Asy-Syifa akhirnya menjadi gegap gempita. Lahirlah satu antologi dari Asy-Syifa; Sang Juara. Saya merasakan, betapa bahagianya Ustaz Budi saat itu sebab mimpinya terwujudkan. Saya tidak tahu lagi, apakah nyala api yang ditinggalkan ustaz Budi masih menyala atau telah redup, masih menyisakan bara, atau sudah mati yang asapnya sudah tidak tersisa.
Pada ranah literasi menulis inilah saya tersambungkan dengan beliau. Maka, saya percaya, selain amal ibadahnya yang menyertai sebab beliau sudah berpulang, perhatian dan kesungguhannya menanamkan budaya menulis pada santri-santrinya dahulu akan bernilai di sisi Allah SWT, zat yang bersumpah atas nama pena dan apa yang dituliskan; Nūn wal-qalami wa mā yasṭurūn. Boleh jadi, gagasan literasi dan upayanya diabaikan di bumi pondok sendiri, tapi di atas langit cita-citanya dihargai penguasa langit dan bumi.
Laskar sudah jadi penulis. Ia menghadiahi saya buku Berburu Takjil Sampai ke Roma. Meskipun bukan buku solo, judul Berburu Takjil Sampai ke Roma saya duga diambil dari esai Laskar berjudul “Iktikaf di Roma” pada buku ini. Saya yang juga pernah menangani buku kumpulan—esai, cerpen, dan puisi—atau populer disebut antologi kerap menempuh cara ini. Tentu, mengambil salah satu judul dari sekian banyak konten sebagai judul buku antologi sudah melalui pertimbangan-pertimbangan khusus.
Sebagai buku kumpulan esai tentang puasa, Berburu Takjil Sampai ke Roma fokus mengulas pernak-pernik Ramadhan. Ada refleksi, opini, dan isi hati para penulis seputar indahnya bulan puasa di buku ini. Keren lah pokoknya. Saya kurang tahu, ini debut buku antologi ke berapanya Laskar. Yang jelas saya berbinar, Laskar meneruskan spirit menulis Ustaz Budi lewat buku ini. Eh, rupanya, buku ini besutan Mas Soleh dan Irfani. Ini kejutan kedua. Mas Soleh itu kolega saya di Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Depok.
“Pepet terus Mas Soleh, Le. Ambil skill menulis darinya.”
Laskar sudah punya modal menulis, tinggal konsisten dan terus mengasah skill dengan “jangan berhenti menulis”. Bila perlu buat agenda khusus, misal; sehari satu halaman.
Nah, ini, ikan wader hadiah dari Umi.
Umi menyambungkan masa kecil saya dengan wader. Wader—dahulu saya menyebutnya ikan benter—itu potret ikan imut yang paling saya suka. Pokoknya, benter seperti cinta pertama saya pada ikan. Bukan hanya anatomi dan warna tubuh benter yang memesona bagi saya, melainkan cita rasanya yang gurih.
Ikan ini melimpah di sawah, empang, bahkan di selokan kecil berair jernih di kampung saya dahulu. Saking jernih airnya, dari pinggir galengan, kawanan benter itu bisa dipandangi sampai hati merasa puas. Begitulah.
Zaman berganti. Masa kecil itu telah hilang. Sekarang, tak ada lagi barang seekor jua benter-benter itu berenang di selokan kecil. Ia lenyap dari air kampung saya, seiring lenyapnya sawah-sawah dan selokan yang ditimbun komplek. Bila benter-benter itu hilang karena bermigrasi, biarlah ikan favorit saya itu tetap lestari pada ekosistem sawah atau selokan yang baru. Namun, bila ia hilang karena mati terkubur adukan semen, ini musibah.
Saat Ustaz Budi masih hayat, saya pernah bercanda ingin berkunjung ke Boyolali dan minta dibuatkan wader balado. Ustaz Budi menanggapi serius. “Saya selalu bahagia dikunjungi Ustaz Abdul. Lebih bahagia saat Ustaz lahap menyantap hidangan yang kami sajikan,” begitu katanya. Karena itu, bagaimana saya bisa melupakan kebersahajaan Ustaz Budi? Allāhummaghfir lahu warḥamhu wa ‘āfihi wa‘fu ‘anhu.
Sekarang, “hutang” wader sudah dilunasi Umi. Bahkan saya dapat bonusnya; Berburu Takjil Sampai ke Roma. Duh, bahagianya dikunjungi Umi dan anak-anak Ustaz Budi. Semoga silaturahim ini bisa terus tersambung. Rindu pada masa kecilku luruh dengan Berburu Takjil Sampai ke Roma dan Wader chrispy.Sabtu, 06 Desember 2025.
Sabtu pagi yang elok dengan matahari dan suara burung yang menciap di samping balkon.
Dahulu, Ustaz Budi orang yang “sendirian”, maksud saya sendirian menghidupkan nyala api literasi di pondok yang diasuhnya. Saya tahu pula perjuangan Ustaz Budi di komunitas pondok Muhammadiyah. Ustaz Budi pernah berupaya agar pondok-pondok Muhammadiyah bernaung dalam satu Majelis resmi seperti Majelis yang memayungi sekolah-sekolah dan universitas-universitas Muhammadiyah. Salah satu poin yang ingin dinyalakan beliau adalah literasi menulis harus hidup di pondok-pondok pesantren milik Persyarikatan.
Saya pun tahu, Ustaz Budi “sendirian” saat itu. Ia menempuh jalan sunyi.
Meskipun sendirian, upaya Ustaz Budi agar santri menaruh minat pada literasi menulis tidak pernah mati. Di Pondok Muhammadiyah Asy-Syifa, Bantul, saat ia masih menjadi pengasuh, saya sempat digandeng mewujudkan mimpinya. Saya pun tahu, Ustaz Budi “sendirian” saat itu. Ia menempuh jalan sunyi. Ya, literasi menulis memang masih dianggap tidak penting, bahkan oleh lembaga ilmu yang berpayung di bawah jargon Islam Berkemajuan sekalipun.
Kesunyian di Asy-Syifa akhirnya menjadi gegap gempita. Lahirlah satu antologi dari Asy-Syifa; Sang Juara. Saya merasakan, betapa bahagianya Ustaz Budi saat itu sebab mimpinya terwujudkan. Saya tidak tahu lagi, apakah nyala api yang ditinggalkan ustaz Budi masih menyala atau telah redup, masih menyisakan bara, atau sudah mati yang asapnya sudah tidak tersisa.
Pada ranah literasi menulis inilah saya tersambungkan dengan beliau. Maka, saya percaya, selain amal ibadahnya yang menyertai sebab beliau sudah berpulang, perhatian dan kesungguhannya menanamkan budaya menulis pada santri-santrinya dahulu akan bernilai di sisi Allah SWT, zat yang bersumpah atas nama pena dan apa yang dituliskan; Nūn wal-qalami wa mā yasṭurūn. Boleh jadi, gagasan literasi dan upayanya diabaikan di bumi pondok sendiri, tapi di atas langit cita-citanya dihargai penguasa langit dan bumi.
Laskar sudah jadi penulis. Ia menghadiahi saya buku Berburu Takjil Sampai ke Roma. Meskipun bukan buku solo, judul Berburu Takjil Sampai ke Roma saya duga diambil dari esai Laskar berjudul “Iktikaf di Roma” pada buku ini. Saya yang juga pernah menangani buku kumpulan—esai, cerpen, dan puisi—atau populer disebut antologi kerap menempuh cara ini. Tentu, mengambil salah satu judul dari sekian banyak konten sebagai judul buku antologi sudah melalui pertimbangan-pertimbangan khusus.
Sebagai buku kumpulan esai tentang puasa, Berburu Takjil Sampai ke Roma fokus mengulas pernak-pernik Ramadhan. Ada refleksi, opini, dan isi hati para penulis seputar indahnya bulan puasa di buku ini. Keren lah pokoknya. Saya kurang tahu, ini debut buku antologi ke berapanya Laskar. Yang jelas saya berbinar, Laskar meneruskan spirit menulis Ustaz Budi lewat buku ini. Eh, rupanya, buku ini besutan Mas Soleh dan Irfani. Ini kejutan kedua. Mas Soleh itu kolega saya di Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Depok.
“Pepet terus Mas Soleh, Le. Ambil skill menulis darinya.”
Laskar sudah punya modal menulis, tinggal konsisten dan terus mengasah skill dengan “jangan berhenti menulis”. Bila perlu buat agenda khusus, misal; sehari satu halaman.
Nah, ini, ikan wader hadiah dari Umi.
Umi menyambungkan masa kecil saya dengan wader. Wader—dahulu saya menyebutnya ikan benter—itu potret ikan imut yang paling saya suka. Pokoknya, benter seperti cinta pertama saya pada ikan. Bukan hanya anatomi dan warna tubuh benter yang memesona bagi saya, melainkan cita rasanya yang gurih.
Ikan ini melimpah di sawah, empang, bahkan di selokan kecil berair jernih di kampung saya dahulu. Saking jernih airnya, dari pinggir galengan, kawanan benter itu bisa dipandangi sampai hati merasa puas. Begitulah.
Zaman berganti. Masa kecil itu telah hilang. Sekarang, tak ada lagi barang seekor jua benter-benter itu berenang di selokan kecil. Ia lenyap dari air kampung saya, seiring lenyapnya sawah-sawah dan selokan yang ditimbun komplek. Bila benter-benter itu hilang karena bermigrasi, biarlah ikan favorit saya itu tetap lestari pada ekosistem sawah atau selokan yang baru. Namun, bila ia hilang karena mati terkubur adukan semen, ini musibah.
Saat Ustaz Budi masih hayat, saya pernah bercanda ingin berkunjung ke Boyolali dan minta dibuatkan wader balado. Ustaz Budi menanggapi serius. “Saya selalu bahagia dikunjungi Ustaz Abdul. Lebih bahagia saat Ustaz lahap menyantap hidangan yang kami sajikan,” begitu katanya. Karena itu, bagaimana saya bisa melupakan kebersahajaan Ustaz Budi? Allāhummaghfir lahu warḥamhu wa ‘āfihi wa‘fu ‘anhu.
Sekarang, “hutang” wader sudah dilunasi Umi. Bahkan saya dapat bonusnya; Berburu Takjil Sampai ke Roma. Duh, bahagianya dikunjungi Umi dan anak-anak Ustaz Budi. Semoga silaturahim ini bisa terus tersambung. Rindu pada masa kecilku luruh dengan Berburu Takjil Sampai ke Roma dan Wader chrispy.
Sabtu pagi yang elok dengan matahari dan suara burung yang menciap di samping balkon.

0 Comments:
Posting Komentar