A homepage subtitle here And an awesome description here!

Rabu, 06 Juli 2022

SI EASY GOING YANG MENGUDARA

Fathan Naufal Setiawan, Alumnus MTS. Pembangunan UIN Jakarta. Video Credit, Fatan Naufal Setiawan.


DAHULU, keberhasilan belajar selalu diukur dengan ranking. Ia bak panggung selebrasi, semacam mimbar kehormatan bagi juara kelas. Maksudnya baik, sebagai motivasi belajar. Akan tetapi, kenyataannya tidak selamanya demikian. Bagi sebagian orang, ranking seperti ketok palu putusan hakim pengadilan; kamu pintar atau kamu bodoh.

Ranking seperti bola liar yang menggelinding ke mana-mana. Ia jadi topik pembicaraan keluarga besar di forum arisan, konten berita saat kumpul lebaran, atau pengumuman dari mulut ke mulut saat acara kondangan pernikahan sepupu.

Maka, dalam forum silaturahim yang baik itu, ada wajah-wajah semringah, bercahaya, dan berbinar-binar. Ada pula yang muram, kecut, dan kusut masai. Yang semringah, semua tahu siapa mereka. Yang muram, kecut, dan kusut masai, semua pun tahu. Semua beralih rupa karena 'tuah' 7 huruf: ranking.|

PROSES belajar seperti membakar roti dalam oven dengan api kecil, tapi konsisten. Memang, roti akan lama matangnya, tapi hasilnya baik, kematangannya merata, tidak ada bagian yang mentah, setengah matang, terlalu matang, atau gosong. Perfetto.

Hanya saja, kematangan roti bisa didapat dalam sekali proses pembakaran. Sementara kematangan proses pembelajaran harus melewati banyak jenjang, butuh kesabaran, terus menerus dinyalakan, dan konsisten.

Kesabaran dan konsistensi itulah yang seringkali dikorupsi oleh ranking secara tidak disadari. Orang tua, bahkan guru sendiri seperti kehilangan kesabaran hanya karena membaca peringkat. Keduanya sama-sama menyangka bahwa mereka telah berhasil dan gagal dalam waktu yang bersamaan di atas selembar kertas leger. Padahal jalan panjang proses belajar belum usai, seperti panjangnya jalan kehidupan.|

SEJAK kemarin saya bahagia sekali. Tuah tujuh huruf yang berbunyi: ranking itu telah pupus. Semakin yakin lah saya, seharusnya ranking tidak lagi disimpan berlama-lama di dalam benak orang tua dan guru sampai 'diberhalakan' bagai mantra di forum-forum keluarga dan di ruang-ruang kelas. Semua karena Fathan Naufal Setiawan. Saya percaya, pasti di lain hari, bukan hanya satu Fathan yang memvibrasi kebahagiaan sejak kemarin itu, tapi oleh 'Fathan-Fathan' yang lain.

Bagaimana saya tidak bahagia sekaligus tercengang?

Fathan, siswa saya yang kecil imut, tidak pernah lepas peci saat di sekolah, senyumnya lebar, dalam beberapa kesempatan terseok mengejar remedial Bahasa Inggris, ternyata sempat sekolah di Amerika. Lha, sekolah di Amerika, warga sekolahannya ngomongnya pasti bahasa Inggris, kan. Piye iki?

Fathan bocah easy going, kebangetan easy going malah waktu itu. Seakan, dia tidak punya masalah apa pun. Hari-harinya di sekolah dijalani dengan senyumnya yang lebar.

Pada awal-awal pertengahan semester di kelas tujuh, daftar remedial Fathan membuat saya dan mamanya 'meriang'. Gawat ini. Sebagai Wali Kelas, bahkan saya merasa 'gagal'. Mamanya juga demikian. Tapi si Fathan cuma cengar-cengir. Ngeselin, kan? Hahahahah.

Saya harus tarik napas panjang, relaksasi, dan memupuk kepercayaan diri bahwa masalah Fathan hanya dia belum menemukan pola belajar yang tepat saja. Fathan masih asyik dengan dirinya sendiri, tanggung jawab belajarnya belum tumbuh, dan harus dibangunkan dari ke-easy going-annya saja.|

FATHAN dan mamanya membuka memori interaksi saya yang elegan dengan wali peserta didik, pada orang tua Fathan 14 tahun lalu. Sayang, jika memori itu hanya saya nikmati sendiri. Saya membagikannya di sini.

Mamanya Fathan orang yang mengerti betul kemampuan Fathan. Karena itu, ia tak sungkan membuka ruang komunikasi yang sehat pada saya sebagai Wali Kelas.

Saya menyampaikan capaian akademik Fathan berdasarkan data, catatan BK, dan informasi guru tiap mata pelajaran. Tidak ada yang saya tutup-tutupi, tidak ada rasa gula-gula untuk menyenangkan orang tua Fathan, juga tidak membiarkan orang tua Fathan gelisah sendirian.

Sementara, tak sepatah pun orang tua membela dengan puji-puji bahwa di rumah Fathan begini-begitu, tak sepatah pula pun menyalahkan guru-guru Fathan, melainkan ia bertanya, "Apa yang harus kita lakukan untuk Fathan, Pak?"

Apa yang harus kita lakukan untuk Fathan, merupakan ekspresi dari orang yang memiliki kesadaran bahwa proses belajar menjadi tanggung jawab bersama. Orang tua Fathan tidak mengatakan, apa yang harus saya lakukan untuk Fathan. Atau, 
Apa yang akan Bapak lakukan untuk Fathan? Ya, very wise.


Komunikasi yang baik dan terbuka, pendampingan proses belajar anak, dan saling memberi kepercayaan antara sekolah dan orangtua, rasanya menjadi kesimpulan saya atas orangtua Fathan dengan apa yang dicapai Fathan hari ini. Bahwa belajar merupakan proses panjang yang harus dibangun bersama, dalam kesadaran yang sama, dan saling percaya pada peran masing-masing untuk menjadikan anak sesuai bakat dan kecerdasannya. Semoga saya tidak keliru.|


Fathan bersama instruktur terbang: Sheik Amir setelah lulus ujian akhir sekolah penerbangan Wayman Aviation. Foto Credit, Fathan Naufal Setiawan.


FATHAN menghabiskan waktu 2,5 tahun di Amerika. Ia belajar di sekolah pilot, belajar Commercial Single Engine di Mazzei Flying Service, di Fresno, California. Melanjutkan belajar Commercial Multi Engine di Wayman Aviation, di Pembroke Pines, Florida, pada akhir 2014 sampai 2017. Sekarang, Fathan berkarir di 
AirAsia Indonesia. 

Fathan di ruang kemudi pesawat Airbus A320, saat penerbangan menuju Bandar Udara Internasional Kualanamu di Medan dari Bandar Udara Internasional Jogjakarta di Kulon Progo. Foto Cedit, Fathan Naufal Setiawan.


Mata saya berair mendapati kiriman foto anak yang dahulu nilainya membuat saya meriang itu di Madrasah Pembangunan. Bahkan Fathan tak melupakan tradisi baik Madrasah Pembangunan sampai ia sudah menjadi pilot sekali pun. Kenangan Fathan menjadikan saya speechless. Alhamdulillah.


Swafoto Fathan dalam pesawat latihan Piper Tomahawk PA-38 saat terbang cross country ke Fresno Yosemite International Airport, di Fresno dari Oceano County Airport di Oceano, California saat sekolah pilot.


Tetap menjadi santun dan membumi ya, Fathan, meskipun tiap hari kamu berada di ketinggian. Capaian terbaikmu bukan sekadar seorang pilot, tapi Pilot yang Salih.|


Garut, Racik Desa, menuju Sampireun. Rabu, 6 Juli 2022.


Senin, 04 Juli 2022

RASAKAN BEDANYA!

Untuk sukses, kadang kita butuh kesalahan. Foto Credit, the blowup, on unsplash. com

Soft Skill Menulis

MENYAJIKAN narasi yang enak dibaca, mengalir, koheren, argumentatif, dan runut termasuk soft skill menulis. Ini bisa dipelajari dan dilatih. Asalkan tekun dan giat berlatih, siapa saja bisa menguasai soft skill menulis yang baik itu.

Sebentar. Tekun dan giat berlatih menulis belum cukup. Ada satu lagi, punya reviewer. Tentu reviewer yang saya maksud reviewer yang punya keahlian menyunting. Reviewer me-review draft tulisan sebelum diterbitkan. Jika draft belum lolos dari tangan reviewer, perbaiki dahulu.

Saya punya reviewer. Ia guru bahasa Indonesia, editor profesional pemegang lisensi dari Lembaga Sertifikasi Profesi Penulis dan Editor Profesional (LSPPEP) dan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Namanya, Dani Wahyudi. Saya menyapanya dengan sapaan “Pak Dani”. 

Pak Dani selalu membaca draft tulisan saya sebelum diterbitkan di majalah sekolah yang kami asuh; Majalah Al-Ashri. Meskipun posisi saya di Majalah Al-Ashri kala itu sebagai Pemimpin Redaksi, tapi saya belum puas jika draft saya belum "melewati" meja Pak Dani. 

Pak Dani ini reviewer saya sejak saya aktif menulis. Saya kerap memintanya membaca draft tulisan saya meskipun sekadar tulisan opini sebelum saya terbitkan pada blog pribadi saya. Untuk beberapa buku dan novel saya yang sudah diterbitkan, Pak Dani bahkan menjadi editor di sana.

Mengapa reviewer itu penting?

Seorang reviewer bisa mendeteksi dengan cepat kesalahan ringan maupun kesalahan berat sebuah naskah di tangannya. Salah tik (typo) biasanya yang paling mudah diketahui reviewer. Kesalahan berat seperti ketidaktepatan pilihan kata (diksi), susunan redaksi yang tidak logis, kalimat tidak efektif, pun tidak luput dari jangkauan mata reviewer.

Reviewer ini semacam editor. Ia memberi masukan, saran, dan perbaikan sebelum naskah diterbitkan. Seorang reviewer begitu jeli untuk sekadar memberi masukan soal ketepatan penggunaan kata. Misalnya, kapan harus menggunakan kata pada atau kepada. Kapan harus menggunakan kata adalah, ialah, merupakan, yakni, dan yaitu, masing-masing dan tiap-tiap, antara kata dan lain-lain dan kata dan sebagainya.

Nah, di situlah mengapa reviewer itu penting. Kita bisa belajar menilai, apakah tulisan kita sudah tepat atau belum, naskah kita sudah layak di-publish atau belum. Jadi, dari reviewer, kita bukan saja belajar bagaimana menulis yang baik, tapi juga belajar melakukan pekerjan swasunting.|

Penggunaan Kata

SEPERTI menerapkan rumus matematika, begitu pula menerapkan rumus penggunaan kata. Seperti poin yang sudah disinggung di awal tulisan, kapan harus menggunakan kata pada dan kepada. Bagi seorang reviewer, dua kata itu menjadi objek sorotan.

Mengutip Bambang Trim, kata pada digunakan untuk merujuk objek kata atau frasa yang berunsur bukan orang. Kata kepada digunakan untuk merujuk objek kata atau frasa yang berunsur orang. Jadi, menempatkan dua kata ini ada rumusnya meskipun terkesan sama saja.

Baiklah, mungkin contoh berikut dapat memperjelas pemakaian kedua kata tersebut: (1) Dompet ini harus dikembalikan kepada yang berhak. Kata “yang berhak”, itu unsur orang. (2) Semua orang harus taat pada aturan. Kata “aturan”, bukan unsur orang. Nah, pada kata atau frasa berunsur orang atau bukan berunsur orang itulah kata kepada dan pada digunakan.

Demikian pula penggunaan dan lain-lain versus dan sebagainya sering tidak tepat karena dikira sama saja. Padahal, kata dan lain-lain digunakan untuk menyebutkan sebagian pada unsur-unsur tidak sejenis. Adapun kata dan sebagainya digunakan untuk penyebutan contoh sebagian pada unsur-unsur sejenis. Contoh: 
Bibi membeli beras, terigu, sayur-mayur, arang batok dan lain-lain. 
Paman membeli peralatan listrik, yaitu stop kontak, saklar, kabel, dan lain sebagainya. 
Kata adalah, ialah, merupakan, yakni, dan yaitu lebih merepotkan penggunaannya bila tidak cermat memahami fungsi kata itu digunakan. Dikira sama, padahal tidak. Adalah digunakan untuk menjelaskan hubungan subjek yang ‘identik dengan’, ‘sama halnya dengan’, atau ‘termasuk ke dalam golongan’. Contoh:
Presiden RI ke-2 adalah Soeharto.
Kamus adalah buku referensi yang berisi kata dan makna.
Saya adalah pengagum Buya HAMKA.
Kata ialah digunakan untuk menguraikan sebuah pengertian yang dimulai dengan kata benda (nomina). Contoh:
Presiden ialah kepala pemerintahan negara republik.
KBBI ialah kamus ekabahasa yang diterbitkan Badan Bahasa.
Kata merupakan digunakan untuk menguraikan pengertian tentang rupa atau wujud dari sesuatu. Contoh:
Korupsi merupakan bahaya laten bagi ketahanan ekonomi bangsa.
Kesantunan merupakan sifat yang semakin hilang dalam pergaulan saat ini.
Kata yaitu/yakni digunakan apabila unsur yang menguraikan pengertian dimulai dengan kata bukan nomina. Contoh:
Merokok yaitu menghisap racun yang berbayar.
Cukuplah beberapa kata di atas sekadar contoh penggunaan kata. Tentu, seorang reviewer dengan kemahiran menyunting, kompleksitas penggunaan kata di atas bukan persoalan seperti umumnya penulis yang enggan melakukan swasunting. Meskipun penulis yang baik adalah penyunting yang baik, tapi dalam praktiknya, tidaklah selalu demikian. Maka dari itu, percayakan draft tulisan pada reviewer sebelum di-publish.|

Panjang dan Bernas

BERNAS menurut KBBI online berarti a 1 berisi penuh (tentang butir padi, susu, bisul, dan sebagainya): buah padi --; 2 ki banyak isinya (tentang pidato, petuah, ceramah, dan sebagainya); 3 dapat dipercaya: janjinya selalu --. Dari makna ini, tulisan bernas berarti tulisan yang padat isinya.

Tulisan dengan paragraf dan kalimat yang panjang belum tentu bernas. Sering terjadi, paragraf dengan kalimat panjang malah sukar dimengerti apa pesan di balik paragraf itu. Panjang kalimatnya hanya tumpahan ide mentah. Ia belum diolah menjadi kalimat efektif dalam satu atau beberapa paragraf yang koheren, logis, dan efektif. Alih-alih ingin menjelaskan persoalan secara panjang lebar, malah membuat pusing pembaca berkepanjangan. 

Tulisan bernas bukan berisi penuh dengan kosa kata, tapi kosong pada efektivitas makna yang disampaikan. Tulisan bernas itu enak dibaca, mengalir, koheren, argumentatif, runut, serta bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. 

Ada teori menulis yang menarik saya dapat dari seorang kawan. Saya mengenalnya sejak 2007. Kami sama-sama alumni UIN. Ia dari Fakultas Dakwah, saya Tarbiyah. Saya banyak belajar teknik menulis darinya. Ia jurnalis Anadolu Agency untuk wilayah Asia Pasifik. Kata kawan ini, menulis untuk media online berbeda dengan menulis buku. Kalimat dalam satu paragraf untuk media online sebaiknya tidak lebih dari tujuh kata. Maksimal sepuluh kata. Saya lalu menyelisik tulisan-tulisan saya di blog. Saya jadi tahu, ada beberapa paragraf tulisan saya kalimatnya jelas masih “kegendutan”. Kalimat-kalimat itu masih bisa disusun dalam dua atau tiga kalimat ringkas.

Saya tergoda. Paragraf itu saya susun ulang dengan kalimat lebih ringkas. Yey! Benar! Kalimat yang ringkas enak dibaca, tidak bikin capek, dan menjadi bernas. Rupanya, tulisan bernas tidak harus dengan susunan kalimat panjang. Sebaliknya, kalimat yang panjang-panjang hanya membuat napas seakan putus di tengah kalimat saat ia dibaca.|

DI tangan penulis tertentu, ide sederhana bisa menjadi tulisan berbobot. Kata kuncinya terletak pada penguasaan teknik menulis. Bisa jadi paragrafnya hanya susunan kalimat-kalimat pendek yang tidak lebih dari tujuh sampai sepuluh kata saja. Akan tetapi diksinya bagus, penggunaan katanya tepat, ejaannya benar, komposisi kalimatnya padu, dan alur berpikir tiap kalimat dalam satu paragraf saling menjelaskan. Tentu saja, kebenaran isi tiap susunan kalimatnya dapat dipertanggungjawabkan. Poin ini saya kira yang paling penting dari pesan sebuah paragraf.

Berlatih membuat paragraf dengan kalimat pendek yang mudah dipahami, jauh lebih baik daripada mahir menulis paragraf dengan kalimat panjang, tapi membuat dahi berkerut-kerut. Contoh:
Bu Fitri yang seorang manajer sebuah perusahaan asing sekaligus sering nyambi sebagai guru matematika di sebuah madrasah terkenal dan mahal di Ciputat yang merupakan tempat kuliah anak-anak artis ibukota, memiliki dua orang anak yang juga bersekolah di madrasah di mana ia mengajar.
Apa yang Anda rasakan saat membaca kalimat di atas? Capek bukan? Lalu, apakah pesan kalimat itu bisa segera Anda mengerti? Kasus tulisan seperti ini banyak dijumpai dalam artikel atau opini pada media online.

Bandingkan bila susunan kalimatnya dipecah menjadi lebih ringkas seperti ini:
Bu Fitri seorang manajer sebuah perusahaan asing. Ia bekerja sambilan sebagai guru matematika di sebuah madrasah terkenal dan mahal di Ciputat tempat sekolah anak-anak artis ibukota. Bu Fitri memiliki dua orang anak. Kedua anaknya bersekolah di madrasah tempatnya mengajar.
Bagaimana rasanya menikmati paragraf dengan komposisi kalimat yang lebih simpel pada contoh yang kedua? Pasti jelas perbedaannya bukan?

Ide yang padat, tidak berarti harus disusun dalam paragraf dengan barisan kalimat panjang. Ia bisa dikemas dalam paragraf dengan kalimat yang ringkas. Di samping smooth, kalimat ringkas tampak lebih smart. Rasakan bedanya!|

Rabu, 29 Juni 2022

SPEECHLESS

JIS (Jakarta International Stadium) Papanggo, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Foto Credit Instargam @aniesbaswedan.

HARI ke-2 Futsal Training caMP bertajuk “Feel The Real Training caMP” bagi enam belas peserta didik Madrasah Pembangunan bikin speechless saya. Asli speechless.

Mulanya, speechless saya sangat pragmatis. Bagaimana tidak, saya sedang reschedule wawancara dengan Dr. Andy Hadiyantyo, MA–akademisi Universitas Negeri Jakarta, pernah menjabat Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Sosial UNJ– yang beberapa kali kesempatan tertunda karena kesibukan beliau. Lha, tak disangka, Futsal Training caMP hari ke-2 dilaksanakan di UNJ, di Fakultas Ilmu Olahraga UNJ.

Kepada Pak Saroni yang punya acara saya bertanya, apakah guru SKI sah bila ikut acara? Ternyata, katanya sah dan boleh. Nah, saya speechless, dong. Memang, saya bukan murni mau mengikuti acara Futsal Training caMP-nya Pak Saroni dengan khusyuk dan khidmat. Saya hanya butuh tumpangan ke UNJ.

Segera saya kontak Dr. Andy. Duh, Pak Andy hari itu tidak sedang di UNJ. Beliau sedang ada acara di hotel Swiss-Belresidences, Kalibata. Namun, terlanjur sudah dibolehkan ikut ke UNJ dan kebaikan Dr. Andy, saya diberi waktu bertemu di Swiss Bell jam 3 sore untuk wawancara. Ah, biarlah hitung-hitung ngisi liburan murah meriah dan bisa berbincang dengan akademisi. Nanti dari UNJ, langsung ke Kalibata.|

DI UNJ, Futsal Training caMP saya kira cuma main-main. Ternyata enggak. Seluruh peserta mendapatkan pengalaman melakukan serangkaian tes dari instruktur UNJ. Ada empat item tes; Reaksi, Kelentukan, Kekuatan, dan Kelincahan. Bagi Pak Saroni, hasil tes itu bisa jadi sangat penting untuk mengetahui kualitas peserta Futsal Training caMP atau sebagai treatment saat berlatih di madrasah, tapi bagi guru SKI mungkin harus dicarikan alasan relevansinya bagi belajar sejarah.

Peserta Futsal Training caMP berpose sebelum sesi pelatihan bersama pelatih Futsal, Pak Saroni. Foto Credit Abdul Mutaqin.

Tes dilakukan di salah satu ruang Gedung Olahraga UNJ, gedung olahraga dengan fasilitas modern dan nyaman. Ada ruang Exercise Physiology Lab, Biomechanics Lab, Sports Nutrition Lab, Ruang Tunggu Wasit, 2 Ruang Sport Message, Weight Training Room, Ruang Panel, Lift, dan Ruang Ganti masing-masing untuk pria dan wanita, serta toilet. Kata Pak Sandy, toiletnya bersih dan wangi. Pantas saja, lama sekali guru Fisika itu berkunjung buat “meninggalkan jejak” di sana. Toilet pun disediakan lengkap, laki-laki, perempuan, dan toilet untuk difabel.

Peserta Futsal Training caMP sedang menerima instruksi dari instruktur UNJ. Foto Credit Abdul Mutaqin

Ngebayangin jika Madrasah pembangunan punya fasilitas olahraga kayak gitu. Rasanya, semua guru bisa menikmati fasilitas menuju “Men Sana in Corpore Sano” saban hari.|

TERNYATA, saya dapat jatah makan siang dari Futsal Training caMP. Alhamdulillah, terima kasih Pak Roni, terima kasih Pak Eko. Jadi enak dan berasa sejahtera. Semoga kalian panjang umur, murah rezeki, dan jadi pejabat. Semoga Haji Fajar mengaminkan. Aamiin.

Dan, belum selesai acara makan di UNJ, speechless berikutnya menyusul. Jakarta International Stadium (JIS) membuka pintu lebar-lebar untuk peserta Futsal Training caMP. What? Kok, bisa?

Saya mulai gamang. Masalahnya, niatan dari UNJ akan berpisah menuju Kalibata untuk wawancara mulai menipis. Apalagi, Pak Sandy berubah jadi provokator. Guru Fisika itu memprovokasi saya terus-terusan bahwa saya masih bisa ikut ke JIS dan tetap bisa wawancara. Kata dia lagi, ini kesempatan langka, dan jarak JIS-Kalibata masih bisa dikejar dalam hitungan tidak sampai satu jam.

Saya percaya, memang guru Fisika pandai sekali mengukur jarak dan waktu, juga peluang. Itu keahliannya. Saya ini siapa? Cuman remah-remah doang. Jadi, hampir tidak ada alasan untuk membantah pendapat ahli. Artinya, tidak ada alasan untuk tidak ikut ke JIS dan tetap bisa wawancara.

Buseng deh, baru kali ini saya tergoda laki-laki seperti Pak Sandy. Tahulah saya, dia itu bukan saja guru Fisika, ahli mengukur jarak waktu dan peluang, tapi juga laki-laki perayu ulung. Pak Eko saja speechless. Mungkin Pak Eko heran, mengapa saya bisa bisa berubah arah dalam hitungan sepersekian detik. Ini jarang terjadi.|

WAW! Bisa jadi, bisa jadi, tapi jangan geram dulu, ini cuma hipotesis saya.

Bisa jadi, sayalah guru SKI pertama yang menginjakkan kaki di atas rumput stadion kebanggaan Jakarta; Jakarta International Stadium. FantĂĄstico!

Jakarta International Stadium ramah lingkungan, punya daya tampung 82 ribu, dibangun oleh arsitek dan para pekerja Indonesia, menelan biaya kira-kira hampir 4,5 triliun, dan tentu berkelas internasional. Bisa menginjak rumputnya, berasa menginjak The Allianz Arena, a famous Landmark in Munich and the home of the football club FC Bayern Munich.

The Allianz Arena, Werner-Heisenberg-Alee 25, 80939, Germany. Foto Credit Suara.com

Pokoknya, speechless banget Futsal Training caMP bisa ke sini. Bisa jadi, dan moga-moga saja tahun depan Futsal Training caMP menginjak rumput Allianz Arena.

Mas Faris, orang JIS yang mendampingi tamu dari Futsal Training caMP bertanya pada saya.

“Bapak, dari mana?”

“Dari Madrasah Pembangunan, Mas,” Jawab saya, sedikit berlagak seperti pemegang otoritas futsal di MP setelah Pak Roni.

“Di mana itu?”

“Ciputat, deket UIN.”

“Oh, tahu saya. Ini keren loh, Pak. Kok, bisa masuk ke sini? Nggak bisa sembarang orang, apalagi rombongan untuk saat ini bisa masuk.” Ungkap Mas Faris heran.

Lha? Saya lebih heran. Lalu, ini saya bisa masuk ke sini atas perbuatan siapa? Apa mungkin ini hasil konspirasi Pak Eko?

Jakarta International Stadium. Video Credit Abdul Mutaqin.

Ealah, ternyata karena keberkahan terselubung. Ada rekomendasi seseorang di balik rumput JIS. Semoga ada rekomendasi kedua dari orang yang sama untuk peserta Futsal Training caMP dan pendampingnya suatu saat bisa merasakan megahnya rumput Allianz Arena di Munich. Kita doakan orang yang kasih rekomendasi itu jadi Gubernur DKI. Gus Djamal, barangkali tahu siapa dia?|

HIKS! Jarak, waktu, dan peluang tidak sesuai rumus fisika. Saya telat mengejar wawancara. Pukul 14.45, posisi saya masih di Jatinegara dari JIS menuju Swiss Bell. Tampaknya, tak akan bisa mengejar sampai jam 3 di lokasi.

Hai, guru Fisikaaaaaaaaa!

Akan tetapi, saya speechless lagi. Dr. Andy memaklumi dan memberi waktu saya untuk wawancara Kamis esok di UNJ. Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah, Engkau kirimkan orang-orang baik buat saya hari ini.

Pak Roni, kalau masih ada sisa-sisa Jersey Futsal Training caMP, bolehlah satu. Saya baru tahu dari membuka kamus, ternyata Jersey salah satu artinya “Baju Kaos”, tidak mesti kaos seragam bola tendang, basket, bulutangkis, atau kaos olahraga. Hahahah, ternyata saya masih “miskin” literasi Jersey.|

Minggu, 26 Juni 2022

JASAD YANG TAK RAPUH

Wisudawan berpose usai acara berlangsung. Foto credit Abdul Mutaqin.

BERUNTUNG selamanya dunia akhirat bagi yang menghafalkannya. Bagaimana tidak, saat ia meninggal jasadnya tetap utuh (tidak dirusak tanah)

Ya Allah, Nak. Jasad kalian saja lebih mulia dariku. Apatah lagi hati dan jiwa kalian. Asal kau ingat, akulah orang pertama yang meminta keberkahan Alquran dalam perantaraan kalian.|

HARI ini hari air mata. Bukan karena mengupas bawang di bibir retina. Bukan. Air mata ini berurai karena sebelas laki-laki dan sebelas perempuan peserta didik MTS Pembangunan UIN Jakarta kelas 9. Mereka meniupkan angin sejuk beraoma hijaiyah. Lebih dahsyat dari percikan aroma bawang. Mata terasa sejuk haru, bukan panas berair, dan lalu meleleh. Lelehannya hangat mengharukan. Ini "air mata Alquran".

Bagaimana tidak, dua puluh dua mereka telah hafal di atas 10 juz, satu orang hafal 22 juz, dan dua orang telah khatam hafal 30 juz. Hari ini mereka diwisuda, memakai mahkota tahfizh, dan melelehkan air mata orang yang menyaksikan. Sanad qira'ah mereka bersambung pada KH. Moenawar Chalil, Krapyak, Yogyakarta. Pembimbing mereka yang menyambungkan transmisi itu sampai kepada para penghafal di MTS Pembangunan. MasyaAllah.

Percaya atau tidak, bila ada pesarta didik kita fasih bernyanyi, rancak kompak ratoh jaroe, juara sain, atau apa pun prestasi yang mereka raih, tentu kita patut bersyukur, bergembira, dan terhibur. Jiwa yang lelah seketika terasa segar kembali. Akan tetapi, air mata senikmat yang merembes karena Alquran tidak kita dapatkan di sana, air mata yang sanggup membangunkan jiwa yang mati. Kepala Madrasah Tsanawiyah, Momon Mujiburrahman, MA tak urung meleleh jua air matanya saat menyampaikan kata sambutan.|

MADRASAH Tsanawiyah Pembangunan UIN Jakarta bukan madrasah khusus tahfizh. Ia hanya madrasah yang memiliki distingsi. Tahfizh salah satu disting itu. Rasanya, distingsi ini menjadi distingsi yang amat bergengsi di mata para pecinta Alquran. Boleh jadi, ia bisa dijadikan sebagai center of distinction dari distingsi-distingsi lain yang dibangun di sini.

Yang saya maksud, Alquran memang seharusnya menjadi pusat spirit pengembangan karakter, apa pun nilai karakter baik yang ingin ditanamkan pada peserta didik. Bila Alquran menjadi center of distinction, maka mulialah seluruh bangunan Madrasah Pembangunan UIN Jakarta. Pak Direktur kembali mengulang hidup mulia dengan Alquran seperti yang disampaikannya pada acara parade tahfizh beberapa waktu yang lalu.

Lalu, bolehkah Madrasah Pembangunan berkiblat pada model pendidikan luar negeri yang seharum melati itu?

Boleh saja, asalkan ruhnya tetap ruh Alquran, karakternya karakter qurani, moralnya akhlak sosok yang disebut Alquran sebagai manusia yang melekat padanya predikat "wa innaka la'ala khuluqin 'azhiim".

Ambil yang baik dari luar. Sisihkan yang tidak sejalan dengan nilai-nilai Islami dan karakter bangsa ini. Begitulah seharusnya bersikap adil menilai dunia luar, tidak menerima secara mebabi buta atau menolak secara apriori.

Memang, kadang, mata selalu silau dengan kemilau lentera orang lain. Padahal bisa jadi, lentera yang kita miliki sebenarnya lebih terang cahanya. Akan tetapi, mengapa itu terjadi?

Itu terjadi karena lentera orang lain menyala di tengah gelap gulita, sementara lentera milik kita, ia menyala di tengah pendar ruang yang bermandi cahaya. Bukankah Alquran adalah nur yang dikirim dari nur 'alannuur, cahaya di atas cahaya?

Jadi, dalam soal pendidikan, jangan sampai "rumput luar negeri tampak lebih hijau daripada rumput milik negeri sendiri". Sedangkan pendidikan Islam pernah jadi kiblat dunia di era pertangahan.|

Generasi Qurani adalah tema yang diusung Wisuda Tahfizh hari ini. Memang, tidak ada peradaban Islam bahkan peradaban dunia bisa tegak tanpa generasi qurani.

Queena Fairuz Zahura (kiri), saya, dan Raisa Madania yang menamatkan hafalan 30 juz. Foto credit Abdul Mutaqin.

Sejak era kenabian, era shabat, dan era tabi'in, bangunan peradaban adalah Alquran, bukan yang lain. Bahkan, The Golden Age yang berhasil ditorehkan sejak era kenabian sampai tabi'it tabi'in berangkat dari spirit penghayatan dan pengamalan Alquran. Boleh jadi, dunia akan tetap gelap gulita bila cahaya Alquran tidak menembusnya.

Bersyukur ada Prof. Dr. HD. Hidayat MA, wali peserta didik mengingatkan lagi hal ini dalam kata sambutan mewakili wali peserta didik wisudawan. Contoh sederhana disodorkan Prof. Hidayat; Arabic Numeric. Itu warisan perdaban Alquran, itu peradaban Islam. Kepada Alkhawarizmi (780-850 M) Arabic Numeric itu bisa dirujuk.

Bisa jadi pemikiran seperti ini dianggap terlalu utopis, tidak bisa move on dari masa lalu. Arabisme, dan berbagai tuduhan yang tidak kalah halu dari halu-nya remaja yang baru ditinggal kawin kekasihnya.

Biar saja. Toh, spirit dan nilai-nilai Alquran selalu kompatibel dengan segala zaman. Alquran tidak pernah usang, sementara para penuduh utopis itu paling hanya bertahan 60 sampai 80 tahun saja. Setelah masa itu terlewatkan, mati pula jasadnya berkalang tanah. Sementara, Alquran tetap bercahaya di atas tanah, di bawah langit dunia yang menaungi tanah.|

PENGAWAS, Hj. Azzah Zumrud Muallif, M.Pd. secara terbuka mengakui saat berbincang usai acara. Menurut beliau, Tahfizh menjadi ikon yang harus terus dikembangkan di Madrasah Pembangunan setelah literasi.

Saya "mendelik" (mendadak like) saat literasi beliau singgung. Kata beliau lagi, di saat madrasah-madrasah baru mau belajar mengembangkan literasi menulis, bahkan sukar sekali memulainya, Madrasah Pembanguna sudah jauh di depan. Literasi Madrasah Pembangunan seharusnya diadopsi madrasah-madrasah lain.
Hj. Azzah Zumrud Muallif, M.Pd dan saya menyampaikan salam literasi untuk MTS Pembangunan. Foto credit Abdul Mutaqin.

Wah, ini penting saya teruskan kepada pimpinan MTS. Biar greget literasi dikencangkan lagi di hari-hari mendatang. Bukankah iqra adalah spirit literasi Alquran yang digaungkan pertama kali sebelum Alquran dihafal?|

Mengembalikan kejayaan peradaban pendidikan, rasanya, jangan sungkan kembali pada spirit literasi Alquran.

Selamat untuk para huffazh, Pimpinan MTS, para pembimbing, para orang tua, dan orang-orang yang berharap kecipratan berkah dari mereka seperti saya.|


Kamis, 23 Juni 2022

MENYUNTING GURU LITERAT

 

Menyunting naskah. Foto Credit Avel Chuklanov, Unsplash.

SEPATUTNYA, guru belajar menyunting. Apa urgensinya? Sangat urgen. Mari kita bicarakan agak serius. Saya akan membahasnya dari pengalaman mengikuti webinar pada sore kemarin, Rabu 22 Juni 2022.Webinar ini keren, mengajak "Menjadi Guru Penyunting Andal Bersama Penyunting Profesional". Narasumbernya Ahmad San, editor Jawa Pos.

Meskipun webinar ini mengarahkan peserta pada kemahiran menyunting naskah berita, esai, artikel atau opini, bagi saya, bekal ilmu menyunting bisa diterapkan lebih spesifik pada domain pedagogik.

Selain mengajar, guru kerap melakukan aktivitas menulis; menulis kisi-kisi atau menulis soal. Nah, di sinilah urgensi kemahiran menyunting bagi guru yang saya maksud spesifik itu.

Apabila diperluas dengan keharusan menulis modul atau buku ajar, tentu bobot kepentingan mahir menyunting lebih substantif. Akan tetapi, hal ini tidak mengurangi substansi kepentingan untuk penyuntingan naskah kisi-kisi atau soal. Dan patut dicatat, penyuntingan sangat diperlukan untuk semua dokumen tertulis selain produk jurnalistik sekalipun, seperti menyunting naskah soal ujian.

Menyunting Soal

SELAIN memperhatikan kaidah penulisan soal yang baik, guru sebagai penulis soal harus memastikan tidak terjadi kesalahan tik. Kesalahan tik tidak saja mengganggu struktur kalimat, tapi merusak struktur soal. Soal menjadi sukar untuk dipahami atau maknanya menjadi ambigu.

Ketika Rasulullah menyepi di gua Hira pada Senin 17 Ramadhan 610 M, malaikat Jibril datang menyampaikan wahyu pertama surat ... ayat 1-5. Ini contoh bentuk soal melengkapi. Tidak ada salah tik. Akan tetapi, bila kata "ketika" tertulis "ketiak", apa yang Anda rasakan?

Bila guru bekerja dengan Google Drive, pilihan menggunakan layanan Google Docs akan sangat membantu proses penyuntingan ringan. Google Docs membantu mendeteksi kesalahan tik dan memberikan koreksi secara otomatis. Kata "ketiak" pada contoh soal di atas misalnya, akan bergaris bawah warna merah. Itu artinya salah tik. Bila kata "ketiak" itu diklik, Google Docs akan memunculkan kata "ketika" sebagai saran perbaikan.

Kesalahan struktur kalimat soal, kesalahan diksi, kesalahan konsep, fakta atau data soal yang disajikan, termasuk kesalahan fatal. Kesalahan fatal ini tidak bisa dideteksi Google Docs. Ia hanya bisa diketahui dan diperbaiki dengan pengetahuan tentang pokok soal dan kemahiran menyunting guru sebagai penulis soal.

Kasus soal yang diralat atau dibonuskan saat diujikan, banyak terjadi karena proses penyuntingan tidak maksimal atau bahkan tidak dilakukan. Masalahnya bermuara pada kelemahan kemampuan menyunting, terutama menyunting struktur kalimat soal.

Penelaah Soal

PENELAAH soal adalah penyunting sebelum soal diujikan. Ia bukan saja harus menguasai substansi pengetahuan, fakta, dan data rumusan soal, tapi guru yang mahir menyunting.

Maka, seorang penelaah soal adalah mereka yang kaya kosakata, mampu menyusun kalimat efektif, mengerti diksi, dan paham tata bahasa. Pendek kata, seorang penelaah soal memiliki kemampuan berbahasa tulis di atas rata-rata. Seperti itulah syarat penelaah soal yang ideal sebab ia akan menjalankan tugas penyuntingan, sebuah pekerjaan linguistik yang kompleks.

Keberadaan penelaah soal jangan terkesan sekadar ada penelaah, sekadar memenuhi tuntutan administrasi tanpa proses pembekalan kemampuan menyunting. Ini tidak efektif. Sering terjadi, setelah soal ditelaah, masih saja dijumpai kesalahan, baik kesalahan tik maupun kesalahan yang lebih substantif.

Apabila dijumpai satu sampai dua kesalahan pada soal, bolehlah dianggap wajar meskipun proses telaah bisa disebut tidak efektif. Akan tetapi, di atas lima kasus kesalahan, ini bisa disebut proses telaah tidak berjalan alias gagal. Atau, bisa jadi proses telaah memang tidak dilaksanakan.

Guru Penyunting

WEBINAR, workshop, atau pelatihan menyunting tidak sesanter webinar, workshop, atau pelatihan menulis. Apalagi, yang spesifik pada penyuntingan naskah soal, bahkan amat langka diselenggarakan sekolah-sekolah. Padahal, penulis soal yang baik adalah penyunting soal yang baik. Demikian pula berlaku sebaliknya.

Keberadaan penelaah soal, seharusnya berbanding lurus pada kemahiran menyunting. Maka, membekali kemahiran menyunting bagi penelaah soal tidak bisa dinafikan. Seorang penelaah soal bukan saja harus menguasai teknik menulis soal yang baik, tapi amat perlu menguasai teknik menyunting.

Hanya saja, kebanyakan guru seakan tidak berminat sama sekali dengan persoalan sunting menyunting. Bisa jadi, karena menyunting sudah kadung diidentikkan dengan urusan tulis menulis. Sedangkan umumnya orang, termasuk guru, masih banyak yang beranggapan bahwa menulis itu susah, apalagi ditambah menyunting. Meskipun webinar menyunting diselenggarakan tidak berbayar, amat sedikit guru yang mau bergabung belajar menyunting. Begitulah.

Menyunting memang bukan pekerjaan mudah. Barangkali, lebih mudah "menyunting" guru literat berparas rupawan.|

WEBINAR "Menjadi Guru Penyunting Andal Bersama Penyunting Profesional" kemarin sore sangat inspiratif. Webinar ini menginspirasi banyak guru literat bahwa perlu ada webinar yang khusus mengulas soal teknik menyunting naskah soal.

Siapa berani menggagas? Kita tunggu.

Salam literasi.

Selasa, 21 Juni 2022

HANDPHONE JADI MAKMUM

Flyer Canva Design. Foto Credit Abdul Mutaqin
Di rumah, aku tidak pernah mendengar suara musik, tapi hari ini, justru aku mendengar musik di rumah Allah..”

SATU kali, Imam Masjidil Haram Syaikh Abdurrahman As Sudais begitu masygul. Pasalnya, ada ponsel milik jamaah yang rupanya tidak dimatikan lalu bernyanyi saat shalat berjamaah berlangsung. Syaikh As Sudais menangis usai mengimami shalat. Lalu, sembari menghadap kepada jamaah masjid, Syaikh As Sudais berkata seperti pada kalimat pembuka tulisan ini.

Ini masalah yang terus berulang. Jujur, banyak orang mengalami dan mendapati fenomena ini. Tadi subuh, keberulangan itu berlangsung di Al-Huda. Tidak kebayang apabila ringtone yang berbunyi, misalnya lagu “Goyang Dombret”. Hanya saja, di Al Huda tidak seperti Syaikh As Sudais, Imam tidak menyampaikan keprihatinannya. Barangkali karena ringtone yang berbunyi tadi subuh itu bukan ringtone lagu. 

Di beberapa masjid, peringatan untuk mengelola handphone ponsel menjelang shalat banyak dipasang. Sebelum khutbah dan shalat Jum’at dilaksanakan, pengurus masjid bahkan mengingatkan secara verbal kepada jamaah yang membawa handphone agar dimatikan. Jadi, handphone-nya harus “dibunuh” dulu.

Harus diakui bahwa masih ada kesenjangan kecerdasan antara produk handphone dengan pribadi pengguna. Handphone sudah bermetamorfosis menjadi smartphone –telepon genggam yang cerdas–, tapi banyak dari para pengguna mengalami sedikit keterlambatan berpikir. Ini menyedihkan. Handphone-nya sudah teknologi cerdas, tapi ada sebagian penggunanya belum tuntas belajar menuju cerdas berteknologi.

Manusia yang punya jiwa, punya akal budi, dan punya hati nurani, tidak boleh tunduk pada benda mati. Meskipun handphone itu bisa hidup dengan bersuara, menampilkan gambar, dan menyajikan gambar bergerak, ia tetap saja benda mati yang harus tunduk pada jiwa yang hidup. Sudah barang tentu, manusianya yang harus mengendalikan, bukan handphone yang mengendalikan hidup manusia.

Mengendalikan handphone saat di masjid itu simpel, simpel sekali. Pertama, yang paling aman, jangan bawa handphone ke masjid. Maklum, handphone tidak wajib shalat meskipun jadi makmum, yang wajib shalat hanya pemilik handphone yang ke masjid dan saudara-saudaranya.

Kedua, jika handphone memang terpaksa harus dibawa ke masjid untuk shalat atau mengikuti kajian, relakanlah untuk sementara handphone itu “dicabut nyawanya”. Atau, pengguna bisa memanfaatkan beberapa fitur, misalnya mengaktifkan mode pesawat (flight mode) sehingga fungsi non seluler tetap berjalan, tetapi tidak dapat melakukan panggilan, tidak bisa pula dihubungi. Atau gunakan mode hening (silent mode), mengubahnya dengan mode getar (vibration mode) sehingga tidak ada suara apa pun dari handphone yang mengganggu kekhusyukkan shalat berjamaah.

Ketiga, jika sudah terlanjur handphone berbunyi, matikan saja segera. Jangan biarkan ia “gegemberan” macam kambing kelaparan sepanjang durasi waktu yang cukup panjang. 

Emang boleh? Boleh.

Ada riwayat dari Imam Ahmad, Nasa’i dan At-Tirmidzi dari Siti ‘Aisyah RA. Suatu ketika Rasulullah sedang shalat di rumah dan pintu rumah tertutup. Lalu ‘Aisyah datang hendak masuk. Beliau pun berjalan lalu membukakan pintu kemudian melanjutkan shalat di tempatnya semula. Dan, digambarkan, bahwa pintu tersebut ada di arah kiblat.

Dari riwayat istri Rasulullah ini, bisa diambil pelajaran bahwa melakukan beberapa gerakan yang tidak ada hubungannya dengan shalat dapat kita kerjakan saat shalat apabila dimaksudkan untuk menghilangkan gangguan shalat. Artinya apa? Artinya, melakukan beberapa gerakan tersebut tidak membatalkan shalat dan bahkan justru merupakan keutamaan karena diperlukan untuk meniadakan gangguan shalat.

Pada riwayat lain, Rasulullah SAW pernah kok melakukan gerakan tambahan pada saat sedang shalat karena menggendong. Seperti diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasul pernah shalat sambil menggendong Umamah, cucu beliau. Jika beliau ruku’, beliau meletakkan Umamah. Jika beliau berdiri, beliau menggendong Umamah kembali. Menurut rekaman Imam Muslim, ketika itu beliau sedang menjadi imam shalat di masjid.

Jadi, misalnya nih, ada di antara kita bawa handphone ke masjid, lalu pas shalat ia berdering karena lupa dimatikan, segera matikan, jangan tunggu ia mati sendiri. Membiarkan deringan sangat mengganggu kekhusyukan shalat. Apalagi sampai mengganggu kekhusyukan orang lain, ini bisa jadi merupakan keburukan yang bertambah-tambah.

Pelajaran juga nih, sebaiknya, jangan pasang ringtone lagu atau musik. Karena kalau handphone itu nyanyi saat shalat berlangsung karena lupa dimatikan, itu salah tempat. Khawatir kalau-kalau pas handphone itu nyanyi, Syaikh Abdurrahman As Sudais sedang mampir shalat di masjid kita, berabe. Nanti, yang tak enak hati pengurus DKM yang membatin, “ini masjid, apa panggung dangdut tujuh belasan?"

Oh, iya. Hindari juga pasang ringtone azan, ya. Sebab, tetap saja mengganggu jika handphone itu tiba-tiba mengumandangkan azan di saat imam sudah baca surat. Nanti jamaah bertanya-tanya, ini siapa lagi yang azan?

Jadi, kata kuncinya, membawa handphone ikut shalat berjamaah di masjid tidak ada larangan. Hanya saja, buat dia tidur atau mati sekalian.😊

Salam literasi digital.|

Jumat, 17 Juni 2022

RUMI DI MADRASAH PEMBANGUNAN

Tari Sema. Foto Credit Abdul Mutaqin

PARADISE 2022, Parade Tahfizh & Apresiasi Seni Islam, "Berkarya Melalui Spirit Al-Qur'an". Parade Tahfizh dan dengan besar di atas berkibar di Madrasah Pembangunan, pada Jumat berkah, 17 Juni 2022. Sebuah gelaran campur aduk haru, gembira, dan terkesima.

Alquran Mulia

Dr. Bahrissalim, MA, Direktur MP UIN mengawali sambutan dan membuka acara. Sepemahaman saya, ada tiga pesan meyakinkan Pak Direktur dalam kata sambutannya. Pertama, Alquran adalah kitab sempurna, kitab mulia. Kedua, Siapa pun yang menginginkan kesempurnaan dan kemuliaan hidup, maka mendekatlah kepada Alquran. Dan ketiga, ada tiga tipologi penghafal Alquran.

Dr. Bahris mengingatkan, jangan jadi penghafal Quran, tapi zalim. Dialah penghafal Alquran namun tidak mengamalkan pesan-pesan ayat yang dihafalnya, ini tipologi pertama. Atau menghafal Quran, tapi belum mengamalkan isinya, ini tipologi kedua. Sedangkan kesempurnaan dan kemuliaan hidup bersama Alquran adalah dengan membaca, menghafal, dan mengamalkan pesan-pesannya, ini tipologi ketiga, tipologi yang paling ideal.

Kesempurnaan dan kemuliaan Alquran sebab ia kitab mulia yang memanusiakan manusia melalui aqidah, ibadah, dan akhlak yang bersumber dari Zat Yang Mahasempurna dan Mahamulia. Aqidah yang selamat, ibadah yang sesuai tuntunan, dan akhlak yang mulia inti pokok ajaran Alquran, jalan keselamatan hidup dunia dan akhirat yang bersifat final. Tidak ada keselamatan kecuali harus mengikuti petunjuk Alquran.

Demikian inti pesan Direktur MP UIN dalam olahan benak saya yang terbatas. Pesan beliau ditutup dengan motivasi, "Kalau kita tidak bisa menghafal Alquran, maka kita mendorong anak anak kita untuk menghafal Alquran."

Parade tahfizh, tak pelak menyentuh qalbu, bukan saja qalbu para wali peserta didik yang sudah memegang janji mahkota Alquran di pelupuk mata, tapi bagi saya yang sekadar hadir juga terharu sampai air mata menitik dan tenggorokan tercekat. Padahal saya bukan siapa-siapanya para penghafal Alquran itu.|

Ada Rumi

PADA sesi pentas seni, hadroh cukup memukau. Hanya dengan tiga pemain pemukul rebana dan dua solis, gema rancak rebananya sangat memikat. Kualitas suara solisnya juga mumpuni. Adem. Sebab mereka grup hadroh tamu, semoga menjadi pemicu MP UIN punya hadroh sekelas mereka.

Ada sisipan acara cukup berani. Kepala Laboratorium, penanggung jawab PARADISE 2022 menghadirkan tarian 'Jalaluddin Rumi'. Tiga penari Tari Sema (Whirling Dervish), meliuk berputar seperti gasing. Baju gamis lebar yang mereka kenakan mengembang seperti jamur bergelombang mengikuti irama putaran.

Sema merupakan tarian kreasi Maulana Jalaluddin Rumi, dulu, pada abad ke-13 di Anatolia, Turki. Sewaktu berkesempatan berkunjung ke Istanbul sembilan tahun lalu, tak sempat saya menyaksikannya di sana. Meskipun tidak utuh, Sema malah meliuk di pelataran Madrasah Pembangunan. Di Turki tak  bertemu, di ujung periuk nasi malah berjumpa. 

Memang, bila ingin utuh menyaksikan dan menangkap ‘ruh’ Sema, Anda mesti terbang ke Turki. Saya yang awam, Sema hanyalah putaran. Sebatas itu saja, tidak lebih. Akan tetapi bagi Rumi dan murid-muridnya, Sema adalah meditasi untuk mencapai kesempurnaan iman, menghapus nafsu ego dalam penghayatan mereka para darwis.

Sebenarnya, ada empat bagian Sema ditarikan memutar. Naat dan taksim merupakan bagian pertama, berisi puji-puijan kepada Rasulullah SAW. Setalah naat dan taksim, irama flute mengalun mengiringi para penari sebagai simbol keterpisahan antara manusia dengan Tuhan.

Bagian kedua devr i veled , di mana para penari saling membungkuk satu sama lain sebagai bentuk pengakuan atas ruh yang sudah ditiupkan. Setelah itu, para penari mulai berlutut dan melepas jubah luar yang berwarna hitam.

Bagian ketiga dan terakhir, para penari mulai memberi salam lalu berputar mewakili bulan. Para penari berputar di luar syeikh atau pemimpin tarian yang mewakili matahari di mana posisi syeikh atau pemimpin tarian berada di tengah para penari.

Para penari pun mulai berputar bertumpu pada kaki sebelah kiri menyelaraskan raga dengan iringan musik. Telapak tangan kanan para penari menghadap ke atas sebagai simbol dari surga. Sedangkan tangan kiri menghadap ke bawah sebagai simbol dari tanah.

Bagi para sufi aliran Rumi, Sema menggambarkan pengenalan seseorang terhadap Tuhan, pengakuan akan keberadaan Tuhan, serta kebersatuan dengan ciptaan-Nya. Selain itu, Sema juga menggambarkan penyerahan diri dan perdamaian hati karena kesatuan Ilahi. Saat prosesi Sema selesai, seorang syeikh atau pemimpin tarian akan menutup dengan taksim membaca Alquran dan melantunkan doa.

Bukan hanya gerakan putaran tariannya saja, pakaian yang dikenakan oleh para penari Sema sarat akan makna atau simbol. Para penari Sema di Turki memakai baju putih yang dibalut dengan jubah berwarna hitam. Kain putih dan hitam adalah simbol kain kafan dan alam kubur. Simbol tersebut mempunyai makna agar manusia senantiasa mengingat kematian. Sedangkan Sikke, topi berpostur tinggi penutup kepala para penari Sema bermakna sebagai batu nisan. Tentu, kematian, alam kubur, dan batu nisan merupakan hal yang sangat dekat dengan manusia. Begitulah kira-kira ringkas filosofi Sema yang menawan itu.|

SEMOGA pesan Alquran selalu menghidupkan qalbu. Saya menaruh hormat kepada para ustaz dan ustazah yang berhasil mengantarkan peserta didik menghafal Alquran. Semoga keberkahannya sampai juga kepada saya walau hanya berdiri di atas kavling pecinta para penghafal.

Sedangkan Sema, sebagai jalan mengingat pada kefanaan dunia hanyalah gula-gula yang manisnya sesaat. Sedangkan Alquran sudah sempurna menuntun manusia pada hidup dan mati yang manisnya sepanjang hayat, di sini yang fana' dan di sana yang baqa'.

Selamat untuk para huffazh dan para wali huffazh. Selamat menikmati hidangan Alquran.|