A homepage subtitle here And an awesome description here!

Jumat, 12 Maret 2021

Gadget Lebih Penting Dari Khutbah?

Kecanduan game.(Shutterstock)


Technology is a useful servant but a dangerous master. 

Saya hampir-hampir setuju dengan quote Christian Lous Lange di atas. Bisa jadi, Anda juga demikian. Rasanya, membaca sekilas quote Lous Lange itu, kita tidak membutuhkan banyak argumen untuk menerima pendapat bahwa, “teknologi adalah hamba yang berguna, tetapi tuan yang berbahaya”.

Adalah saya secara kebetulan selama beberapa Jumat memerhatikan fenomena. Namun kali ini, apakah pembaca sepakat bahwa fenomena yang saya amati sudah melewati batas kewajaran atau tidak, itu soal kedua. Namun, yang pertama, dan ini adalah core dari kegelisahan saya, bahwa pecandu gadget seperti sudah tidak punya ruang untuk sakralitas Jumatan.

Ceritanya, saya benar-benar heran. Pada Jumatan beberapa minggu yang lewat, saya tak kuasa dari tidak terheran-heran. Seorang remaja–lebih pantasnya seperti mahasiswa–sejak awal datang dan duduk, tidak lepas dari gadget. Saya pikir, nanti ia akan berhenti saat nanti azan berkumandang. Ternyata, tidak. Ia masih asyik dengan gedgetnya. Dalam hati saya tetap berhusnuzan, bisa jadi, ia masih sempat menjawab dalam hati apa yang diucapkan muazin meskipun jari-jemarinya sibuk menari-nari di atas layar gadget. Bisa saja, kan?

Namun dugaan saya meleset. Bahkan sampai khatib membaca doa penutup pada khutbah kedua, pun ia masih asyik dengan gadgetnya. Jari-jemarinya masih sibuk scrolling mengusap ke atas dan ke bawah punggung gadgetnya. Saya begitu penasaran, sedikit mengintip, apa sih yang membuatnya sedemikian ‘hormat’ dengan gadget dan mengabaikan pahala mendengarkan khutbah?

Rupanya dia asyik membaca komik digital.

Hari ini, di tempat yang sama, remaja yang sama, dengan kelakuan yang sama pula. Bedanya, sejak datang dan duduk, dia asyik ber-Instagram, ber-WhatsApp, dan lagi; membaca komik digital. Saya tahu, karena saya mengintip dari awal sampai akhir. Lagi, dan kali ini saya harus mengelus dada. Sampai doa penutup khutbah kedua, ia tidak menghiraukan sama sekali. Ia tetap fokus pada gadgetnya. Saya akui, konsentrasi saya pun pecah dari menyimak isi khutbah tentang makna Isra dan Mikraj karena ‘gregetan’ dengan kelakuan remaja itu.

Ya Tuhan, apakah perasaan ‘gregetan’ saya dapat dibenarkan melihat kelakuan model begitu?

Fikih mengajarkan, bahwa ibadah Jumat itu sangat agung. Bahkan, untuk sampai pada taraf kesempurnaan berjumat, kaum muslimin terbiasa mengamalkan sunnah-sunnah sebelum berangkat ke masjid agar keagungan Jumat tidak berlalu begitu saja. Mandi, memotong kuku dan kumis, memakai pakaian yang bersih–lebih utama yang berwarna putih–dan memakai wangi-wangian sudah menjadi bagian dari literasi berjumat.

Sesaat kaki akan melangkah untuk berjumat pun, masih ada amalan yang akan menambah bobot pahala Jumat. Berdoa ketika keluar rumah dan disunnahkan segera menuju ke masjid dengan berjalan kaki perlahan-lahan dan tidak banyak bicara. Nanti sesampainya di masjid, ketika masuk masjid melangkah dengan kaki kanan dan membaca doa. Terus melaksanakan salat sunnah tahiyyatul masjid. Kemudian iktikaf sambil membaca Al-Qur’an, berzikir, atau bersalawat jika khatib belum naik mimbar. Jika khatib sudah naik ke mimbar, maka zikir atau bacaan Al-Qur’an pun disudahi untuk mendengarkan khutbah.

Amalan-amalan tersebut tentu bukan sekadar amalan sunnah, melainkan sebagai penghormatan akan pentingnya ibadah Jumat hingga adab-adabnya pun diajarkan secara rinci. Dan, yang perlu digarisbawahi, betapa mulianya kedudukan khutbah pada penyelenggaraan ibadah Jumat.

“Barangsiapa yang berbuat sia-sia, maka tidak ada (pahala) shalat Jumat untuknya.” Demikian bunyi sebuah riwayat dari Imam Ahmad.

Bisa jadi semua orang sepakat bahwa kesia-siaan adalah perkara buruk. Namun, kesia-siaan sebagai akibat dari tidak mengindahkan marwah ibadah Jumat bukan saja perkara buruk, melainkan sudah jatuh pada perilaku merendahkan syariat berjumat.

Sibuk bergadget ria saat khatib menyampaikan khutbah, tentu sukar diterima. Bukan saja sukar diterima dengan segudang dalil tentang kewajiban menjaga dari kesia-siaan berjumat, tapi juga atas pertimbangan standar perasaan dan akal budi. Memang, apa yang diharap dari bermain gadget saat khatib berkhutbah?  Apakah masih tak cukup waktu sibuk dengan gadget di luar masjid? Apabila pada kondisi sakral saja tidak bisa lepas dari gadget, bagaimana pada kondisi di luar itu?

Kalau Christian Lous Lange berkata, “Technology is a useful servant but a dangerous master”, Al-Quran menyitir ada manusia yang terang-terangan mempertuhankan hawa nafsu yang disembah-sembah (lihat QS. Al Furqãn [25]: 43). Secara tidak sadar, bisa jadi, bagi segelintir orang, gadget sudah menjadi ‘tuhan-tuhan’ kecil dalam kehidupan modern hari ini meskipun saat ia bersimpuh di lantai masjid.

Bolehlah kita bertanya, mengapa itu bisa terjadi?

Untuk hal ini, literasi berjumat kepada jamaah rasanya sudah tidak cukup sekadar imbauan untuk menonaktifkan HP atau alat komunikasi. Rasanya, literasi digital menjadi sangat mendesak menjadi kurikulum ibadah bagi kaum muslimin untuk disampaikan hingga ke bilik-bilik rumah tangga agar ibadah mereka tidak sia-sia karena ketidakmengertian yang tidak perlu.

Allahu a’lam.

Ciputat, 12 Maret 2021.


Sabtu, 06 Februari 2021

MISTERI KUOTA INTERNET; Sebuah Sampel Novel 9 Bab






Chapter 1

SEJAK Berlianti tidak sengaja menangkap percakapan Pak Gusnadi dengan Bu Nuril, ia seperti mendengar dialog para penyamun soal bancakan. Sepotong bait Lagu Indonesia Raya “Bangunlah jiwanya bangunlah badannya”, ia rasa sudah tidak bertuah lagi. Lagu Kebangsaan itu memang masih menggema setiap Senin pagi di sekolah itu, tapi spiritnya sudah banyak disimpan di bawah alas kaki.

“Papa lihat, sudah dua hari kamu banyak diam. Ada apa?”
“Muak, Pa.”
“Muak?”
“Berlin mau mundur saja dari madrasah.”
“Serius?”
“Budi Mulia sudah roboh, Papa. Madrasah itu sudah jadi sarang penyamun. Sudah cukup Berlin di sana.” Berlianti berkata datar, tanpa ekspresi.

Bachtiar terhenyak. Dia menatap Berlianti dengan mata menyelisik. Dia tahu persis watak putri tunggalnya itu. Dia keras seperti almarhum ibunya. Bahkan, putri biologisnya itu sudah pula naik levelnya menjadi anak ideologis sejak dia bergabung menjadi Menwa sewaktu kuliah. Apabila Berlianti sudah mengatakan sesuatu dengan pilihan kata yang lugas seperti kata “muak”, itu artinya ada sesuatu yang tidak beres di mata putrinya itu.

Bachtiar meletakkan album foto di tangannya. Nostalgia yang tengah dia kenang buyar seketika. Tadinya, mata Bachtiar menyala-nyala menatap satu demi satu foto di album itu, foto saat dia masih mengenakan seragam loreng. Sekarang, perhatiannya pindah pada Berlianti, sepenuh perhatian seorang Ayah yang sedang membimbing putri kecilnya melangkah di jalan yang terjal.

“Berlin, ada apa sebenarnya?”

Berlianti menggeleng. Dia tidak menjawab pertanyaan Papanya.

“Tak usahlah Papa tahu.”
“Baik. Lalu, kalau kamu mundur, siapa yang akan mengajar matematika anak-anak itu? Para penyamun?”
“Itu bukan urusanku lagi, Papa.”
“Itu harus jadi urusanmu sekarang.”

Berlianti menatap wibawa di mata Papanya. Itu satu-satunya tatapan mata meluluhkan yang membuat Berlianti tidak berdaya. Seakan Berlianti tersedot masuk ke dalam jiwa sang Papa melalui kornea, iris, pupil, sklera, dan konjungtiva mata sang Papa yang tak tampak sudah meredup karena ia menua. Namun, wibawa di mata itu belum redup. Ia masih menyala seperti mata prajurit sejati. Berlianti berlutut di sana.

Tatapan mata Sang Papa adalah kesetiaan bagi gadis itu. Bagaimana tidak, Bachtiar memilih tetap menduda sepanjang hidup untuk membesarkan Berlianti sendirian. Laki-laki itu tidak mau mencari pengganti Tika. Dia tidak bersedia membagi cintanya lagi setelah Tika tiada. Cintanya hanya tersisa cinta seorang Papa kepada putrinya. Maka, Bachtiar adalah segalanya bagi gadis itu. Dia bukan saja seorang Papa, tetapi sekaligus Mama baginya yang sangat dia dengar kata-katanya.|

LAGU Indonesia Raya menggema setiap upacara Senin pagi di sekolah itu. Bagi Berlianti, Indonesia Raya adalah darah yang mengalir dan tulang yang menyangga idealismenya. Lagu itulah awal mula yang memanggil jiwa Berlianti menjadi guru, tepat sebulan dia menetap di desa Makmur. Seolah, Wage Rudolf Supratman sedang berdiri di muka pintu kelas sambil tersenyum dan melambaikan tangan kepadanya saat lagu itu menggema. Di belakangnya, berdiri para perempuan. Mereka personifikasi dari Dewi Sartika, Cut Nyak Dien, Martha Christina Tiahahu, Malahayati, Cut Nyak Meutia, Nyi Ageng Serang, Maria Walanda Maramis, Nyai Dahlan, dan Kartini. Begitulah imajinasi Berlianti menghadirkan bayangan sosok-sosok permaisuri nusantara itu tiap kali upacara digelar.

Hari itu, kelompok paduan suara, siswa, guru, staf Tata Usaha, sampai penjaga sekolah dan tukang sapu khidmat menyanyikan Indonesia Raya dengan sikap sempurna. Orang-orang yang lalu lalang di muka sekolah pun berhenti sejenak. Petani yang berangkat ke sawah, ibu-ibu yang pulang dari atau menuju warung sayur, buruh yang tergesa berangkat ke pabrik, atau para kuli panggul yang hendak mengais rezeki di pasar, berdiri mematung sejenak sampai lagu Indonesia Raya berakhir. Mata mereka mengawal bendera yang dikerek tangan-tangan mungil naik ke angkasa dan berkibar mengikuti irama paduan suara. Semua ikut bernyanyi.

Belakangan, Lagu Indonesia Raya di halaman sekolah itu dinyanyikan dengan iringan musik seperti musik upacara bendera memperingati detik-detik proklamasi di Istana Negara. Sound system dan VCD player mengambil alih Lagu Kebangsaan itu jadi lebih menggelegar, melangit ke seantero desa tetangga.

Berlianti selalu menyaksikan saat upacara di sekolah itu berlangsung dari balik jendela kamarnya. Berlianti tak puas. Satu waktu, ia turun dari kamarnya. Ia melangkah mendekati sekolah itu membaur dengan para perempuan desa Makmur. Ia ikut berdiri saat bendera berkibar-kibar merangkak naik sambil menyanyikan Lagu Indonesia Raya, lagu yang selalu memanggil-manggil jiwanya kapanpun lagu itu ditangkap telinganya.

Setelah upacara selesai, Berlianti mengamati dari dekat sekolah itu. Rasanya, ia tengah menikmati hidangan cinta tanah air lewat semua rangkaian upacara bendera yang telah usai. Darahnya terasa menghangat dan dadanya bergemuruh. Matanya terasa panas karena kebanggaan yang meluap-luap. Entah mengapa, Berlianti teringat pada sosok perempuan yang paling ia kagumi saat ia berada di sana. Sosok itu seolah-olah menyampaikan pesan agar ia turut merawat pesan ibu pertiwi di sini.

Mengajar tidak pernah terbayangkan bagi seorang Berlianti. Dia bukan lulusan sekolah keguruan atau sarjana fakultas ilmu pedagogik. Idealisme patriotik lah yang mendorongnya menjalani profesi itu. Berlianti seakan menjawab lambaian para pahlawan itu dengan berdiri bersama mereka menjadi pandu ibu pertiwi untuk ikut berperang di medan pendidikan, medan perang yang asing baginya.|

“NENG orang baru, ya?” tanya seorang perempuan pada Berlianti selepas upacara usai.

Berlianti melempar senyum dan mengangguk. Lalu, dia menyapa beberapa perempuan seraya memperkenalkan diri. Beberapa dari perempuan itu mengajak Berlianti duduk di warung sekadar menikmati makanan ringan dengan teh hangat sambil berbincang. Berlianti menyambut ajakan bersahaja itu, ajakan tulus khas orang-orang desa yang lugu.

Warung itu sederhana. Akan tetapi, ia tampak bersih dan sehat. Tidak ada makanan yang terbuka. Semuanya tertutup. Sepertinya, pemilik warung itu sangat mengerti tentang kesehatan makanan. 

Pemilik warung itu seorang perempuan berbadan tambun, tapi manis dan ramah. Bu Umi namanya. Berlianti tahu nama itu dari beberapa perempuan yang menanyakan ada makanan apa saja pagi hari itu. Rupanya, beberapa dari para perempuan itu adalah orang tua siswa yang biasa mengantar anak mereka ke sekolah dan mangkal di warung Bu Umi sebelum mereka pulang.

Suasana terasa cepat sekali mencair. Berlianti yang supel segera bisa menyesuaikan diri berbincang ringan dengan mereka. Selanjutnya, sambil mereka menikmati bala-bala yang yang masih mengepul, para perempuan di warung Bu Umi menghujani Berlianti dengan pertanyaan-pertanyaan menggoda. Berlianti seperti artis yang sedang diwawancarai wartawan infotainment. Ibu-ibu itu seakan berlomba-lomba menanyakan semuanya perihal Berlianti, dari menanyakan asal Berlianti sampai mengapa wajahnya bisa secantik itu.

Bu Umi, si pemilik warung yang paling menggebu-gebu. Ia bertanya apa saja sampai pada urusan Berlianti yang bersifat pribadi. Dengan gaya berseloroh, perempuan berbadan tambun itu menyelisik, apakah Berlianti sudah punya pacar atau belum. Kalau sudah punya pacar, Bu Umi mengaku terlambat. Kalau belum, berarti ada harapan buat Bu Umi punya menantu secantik Berlianti.

“Ah, kamu kepedean, Umi.”
“Yang namanya usaha, tidak ada salahnya, Saroh.” Bu Umi menjawab tudingan seorang perempuan bernama Saroh.
“Ayo kita taruhan. Anakmu, atau anakku yang nanti berjodoh dengan Neng Berlin.” Saroh menantang.

Tawa para perempuan pecah berderai-derai. Obrolan jadi semakin riuh.

Perempuan yang lain tidak mau kalah. Merasa ada juga dari mereka yang memiliki anak perjaka, mereka lebih nekat dari Bu Umi dan Saroh. Suasana lalu berubah seperti kontes perkenalan para calon mertua di hadapan Berlianti di Senin pagi itu. Masing-masing memperkenalkan anak lelaki mereka dengan berseloroh. Ada yang mengaku anak perjakanya seganteng bintang film India, sekeren bintang drama Korea, bahkan ada yang terlalu nekat menyebut ketampanan anaknya mendekati ketampanan Nabi Yusuf.

Wajah Berlianti bersemu memerah disuguhi keluguan para perempuan desa itu. Meskipun begitu, Berlianti merasa terhibur. Ia merasakan kepolosan orang desa yang jarang ditemukan saat ia masih tinggal di Jakarta. Untuk kali pertama, Berlianti menikmati kebersahajaan itu sejak dia menetap di sini.

Bu Umi mengurai keriuhan yang dia ciptakan sendiri. Ia menegaskan pada Berlianti bahwa mereka semua hanya bercanda. Berlianti menimpali pula sambil berseloroh. Kata Berlianti, bila saja Bu Umi dan ibu-ibu itu sungguh-sungguh pun, Berlianti menyesal, mengapa baru sekarang ia pindah ke desa makmur.

“Memangnya kenapa, Neng? Kok, menyesal?”
“Sebab, ternyata di sini cowoknya keren-keren, Bu Umi. Sementara, saya sudah jatuh hati pada laki-laki lain. Kasihan kan kalau saya tinggalin laki-laki itu gara-gara ada cowok setampan Nabi Yusuf di sini?”

Tawa kembali pecah berderai.

Sementara, halaman sekolah sudah mulai sepi dari anak-anak. Hanya tampak beberapa petugas sedang merapikan peralatan upacara. Kelas-kelas mulai hidup. Suara beberapa guru terdengar jelas sudah mengajar. Akan tetapi, beberapa siswa malah keluar dari kelas menuju warung Bu Umi. Mereka membaur, memesan teh manis, mie rebus, atau memesan bala-bala yang dicacah di atas piring lalu disiram kuah sambal. Saat anak-anak itu diingatkan Bu Umi agar mereka kembali masuk kelas, mereka mengaku belum sarapan. Dalam keadaan perut kosong, mereka sukar konsentrasi. Malah, mereka mengaku konsentrasi belajar mereka pindah ke warung Bu Umi.

“Lagian, nggak ada gurunya kok,” ucap salah seorang dari mereka.
“Lha, kok setiap Senin pagi, nggak ada gurunya? Senin kemarin, nggak ada gurunya. Kemarinnya lagi, nggak ada gurunya juga. Sekarang, nggak ada gurunya lagi. Kalian bohong ya?” Bu Umi menyelisik.
“Beneran Bu Umiii,” jawab anak itu dengan nada menekan buat meyakinkan Bu Umi. “Nggak tahu, tuh. Sudah sebulan gurunya gak masuk. Kalo nggak percaya, coba aja Bu Umi masuk kelas. Terus gantiin Pak Uston ngajar matematika,” ujar anak itu lagi sambil menikmati cacahan bala-bala dengan kuah sambal.

Bu Umi cemberut mendengar jawaban lugas salah seorang dari anak-anak itu. Sekarang, giliran tawa riuh anak-anak sekolah yang mengisi warung Bu Umi. Anak-anak itu tampak amat riang. Entah, apakah riang karena guru mereka tidak hadir di kelas, ataukah karena meledek Bu Umi dengan memintanya mengajar menggantikan guru mereka.

Berlianti menikmati keluguan anak-anak itu, sama seperti dahulu ia begitu senang apabila ada guru yang tidak hadir di kelasnya. Apalagi, guru yang tidak hadir itu mengampu mata pelajaran yang tidak ia sukai, berarti itu hadiah “free time”. Rasanya, kelas seketika berubah menjadi arena bermain yang menyenangkan. Berlianti bisa ke kantin seperti yang dilakukan anak-anak itu saat ini. Lain waktu, dia bergabung ke kelas sebelah yang kebetulan guru mereka pun tidak masuk.

Di SMA, istilah “free time” bahkan menjadi brand di kelas Berlianti. Ada guru favorit karena free time-nya tak habis-habis. Guru itu hadir di sekolah, masuk kelas sebentar, lalu ia pamit, “Anak-anak! Bapak ada urusan. Sekarang free time, ya.” Dan, sekelas Berilanti bersorak kegirangan. Berlianti masih ingat betul, ia pula yang kemudian berujar, “Thank you so much Mr. Free Time! I love you full!”

Guru itu memang terkenal sibuk. Selain sibuk mengajar, ia juga sibuk ikut seminar, pelatihan, mendampingi siswa yang mengikuti lomba, dan berbagai kesibukan urusan kedinasan. Maka, free time-nya guru itu banyak sekali. Semakin senang Berlianti dan teman-teman sekelasnya tiap kali hadiah free time itu ia dapatkan.

Di lain hari, Berlianti dan teman-temannya memberi julukan guru itu sebagai “Bapak Free Time”. Saat acara reuni, Bapak Free Time lah yang paling banyak mereka bicarakan. Berlianti dan teman-temannya baru berhenti menggunakan panggilan Bapak Free Time setelah guru mereka itu wafat. Tak urung, ada perasaan bersalah menyergap Berlianti. Rasa bersalah itu muncul kembali di benak Berlianti di warung Bu Umi saat itu.

Berlianti tersenyum mendengar para siswa itu menimpali ocehan Bu Umi. Dia jadi tergoda ingin menimpali. Selain itu, Berlianti ingin menyampaikan pesan pada mereka agar benar-benar menggunakan waktu belajar untuk belajar, bukan untuk hal-hal yang tidak penting.

“Terus, kalian tidak dikasih tugas?” Berlianti bertanya sungguh-sungguh.
“Tugasnya susah. Matematika. Nggak ngerti, Kak.”
“Ada yang bawa tugasnya? Coba kakak lihat.”

Seorang dari siswa memberikan buku matematika kepada Berlianti. Di antara para siswa yang sudah mulai menikmati jajanannya, hanya anak itu satu-satunya siswa yang membawa buku matematika lengkap dengan alat tulis. Berlianti bertanya tugas mana yang harus mereka kerjakan.

Siswa tersebut menunjukkannya dengan cepat. Bahkan siswa itu sudah menandai halaman tugas yang harus dikerjakan. Berlianti menyelisik tugas pada halaman buku itu.

“Oh. Ini namanya persamaan kuadrat. Tugas kalian menyelesaikan persamaan kuadrat dengan cara faktorisasi.”

Berlianti meminjam pensil, mencorat-coret sambil menjelaskan cara penyelesaian soal latihan persamaan kuadrat di atas buku siswa itu. Para siswa menyimak sambil menikmati sarapan mereka.

Para perempuan yang tengah menyantap bala-bala di warung Bu Umi memerhatikan. Gadis Jakarta yang barusan mereka tanyai macam-macam itu, persis seperti seorang guru cantik yang sedang memecahkan soal-soal matematika di depan kelas. Anak-anak itu pun tampak senang mendapat penjelasan gratis dari seorang gadis cantik yang baru mereka kenal.

“Nah, selesai soal nomor satu. Gampang, kan?”

Berlianti menyudahi penjelasannya. Ia meneguk sisa teh manis sambil menyudahi bala-balanya yang tinggal separuh. Para siswa itu pun bergumam sambil manggut-manggut mengikuti penjelasan Berlianti yang dengan mudah dan cepat menyelesaikan soal latihan itu.

Sekarang, para siswa itu yang menyerbu Berlianti dengan berbagai pertanyaan yang tidak berhubungan dengan penjelasan Berlianti tentang persamaan kuadrat. Di antara mereka, ada pula yang sedikit “nakal” menanyakan urusan pribadi Berlianti. Bu Umi meradang.

“He! Masih kecil sudah tanya-tanya Neng Berlin sudah punya pacar atau belom!” ucap Bu Umi sambil memonyongkan bibirnya. “Udah! Cepatan makannya! Nanti Pak Murad tahu kalian ada di sini, Bu Umi yang disalahin!” Pungkas Bu Umi.

Belum kering mulut Bu Umi mengingatkan anak-anak itu, seorang laki-laki berbaju safari datang dan berdiri di depan warungnya. Rupanya itu Pak Murad, Kepala Sekolah. Pak Murad menegur siswa-siswanya dan meminta mereka segera kembali ke kelas. Anak-anak itu berhamburan, lari tunggang langgang meninggalkan jajanan mereka. Jajanan mereka pun belum sempat mereka bayar, namun Pak Murad keburu datang. Bu Umi juga tidak luput kena tegur.

“Lain kali, jangan layani mereka di saat jam belajar, Bu Umi. Nanti dilihat anak-anak kelas lain yang sedang belajar, mengganggu konsentrasi mereka.”
“Sudah saya ingatkan, Pak. Mereka bilang belum sarapan. Katanya, kelas mereka juga kosong. Emang kemana sih Pak, gurunya?” Bu Umi membela diri dengan pertanyaan menohok Pak Murad.

Pak Murad agak terkejut atas ucapan Bu Umi. Ia menatap pemilik warung itu dengan tatapan seolah kurang berkenan. Lalu, Pak Murad berganti menatap para perempuan yang balik menatap Pak Murad. Sampai tatapannya bertemu pada wajah Berlianti, Pak Murad tampak kikuk. Mungkin karena dia baru melihat wajah gadis itu pertama kali. Berlianti mengangguk, melempar senyum, dan mengucap salam.

“Iya, Bu Umi. Guru matematika mengundurkan diri. Sekolah belum punya guru pengganti. Susah cari guru matematika. Kasian juga mereka, sudah kelas sembilan, sebentar lagi Ujian Nasional. Jika Bu Umi punya kerabat yang bisa mengajar matematika, dipersilakan mengajukan lamaran,” kata Pak Murad sebeum ia kembali ke sekolah.

“Neng Berlin saja yang ngajar,” ucap Bu Umi setelah Pak Murad pergi.

Berlianti menjawab dengan berseloroh. Ia berkata tidak berbakat menjadi guru. Kalau ia jadi guru, anak-anak bukan tambah pintar, bisa jadi malah tambah tidak mengerti apa yang mereka pelajari.

Berlianti pamit. Sebelum ia meninggalkan warung, ia membayarkan semua harga jajanan Bu Umi yang nikmati ibu-ibu dan anak-anak itu. Tidak lupa, Berlianti mengundang Bu Umi dan ibu-ibu bertandang ke rumahnya.|

Bersambung.

Sabtu, 23 Januari 2021

PESTA LITERASI DI TENGAH PANDEMI

Hari ini, Sabtu 22 Januari 2021 begitu mendebarkan. Acara webinar kepenulisan yang menghadirkan tiga narasumber; Bambang Trim, Donny Dhirgantoro, dan Ratih Purnamasari sudah menguras energi. Sejak persiapan acara pada Jumat siang hingga pukul sebelas malam di studio Madrasah Pembangunan, debar-debar itu belum reda hingga beberapa menit acara berlangsung.

Bukan soal narasumber yang bikin hati berdebar itu, melainkan masalah teknis yang bisa saja membuat acara berantakan. Ini yang bikin panas dingin. Tak terbayangkan bila tiba-tiba di tengah acara berlangsung, jaringan rusak, zoom error, atau ada peralatan pendukung tiba-tiba tidak bisa dioperasikan. Nah, tamat.

Narasumber sekaliber Pak Bambang, Pak Donny, dan Uni Ratih yang sudah bergelut di dunia literasi sih, tidak akan sampai hati mengecewakan panitia Pasta Literasi dan peserta webinar. Sebab, pegiat literasi seperti mereka, paham betul bagaimana berbagi pada insan literasi yang sedang kehausan ilmu kepenulisan.

Beruntunglah, pada akhirnya acara berjalan sesuai skenario. Beberapa kemungkinan kendala teknis yang paling dikhawatirkan tidak terjadi. Plong. Saya sebagai komandan, seperti perempuan menikmati kontraksi lalu bernapas lega. Lelahnya sudah selesai dari mengejan. Di sampingnya, tersenyum dukun beranak sambil menunjukkan bayinya yang masih berlumur darah dengan tangisnya yang pecah. Lha, kok ke sono-sono? Macam beneran perempuan yang merasakan melahirkan saja.

Begitulah webinar yang digelar panitia Pesta Literasi Madrasah Pembangunan Tahun 2020 yang baru terselenggara di awal 2021 ini. Dalam timbangan panitia, acara dianggap sukses. Wabah Covid 19 menjadi alasan penundaan, sekaligus dijadikan tema Pesta Literasi dengan tajuk tetap produktif di era pandemi.

Editor Jatuh Sakit

Debar-debar belum selesai pada Sabtu hari ini. Ada hal lain yang juga membuat saya was-was. Patner saya, yang semula diplot menjadi moderator sesi webinarnya Pak Bambang Trim jatuh sakit. Semoga hanya sakit karena kelelahan dan butuh istirahat yang cukup. Saya tahu, dia kadang menjadi orang yang terakhir pulang dari madrasah saat kami sama-sama mengawal aktivitas literasi di Madrasah Pembangunan. Dia sudah menjadi sahabat literat, beririsan dengan tugas-tugas kami mengajar di Madrasah Pembangunan. Saya di Sejarah Kebudayaan Islam, dia di Bahasa Indonesia yang bertemu pada literasi dan perbukuan di Pustaka MP.



Saya pantas khawatir. Karena di tangannya, draft novel saya “Pengantin Fort van der Capellen” sedang di-review. Dia memang editor, pemegang lisensi editor profesional yang saya percayakan mengawal naskah saya itu sampai layak baca sebelum diterbitkan akhir Januari 2021 nanti. Tentu saja, kesehatan sang editor lebih berharga dari sekadar naskah saya. Biarlah beliau pulih dahulu, lalu meneruskan mengawal naskah saya sampai terbit di Pustaka MP.

Darinya saya belajar sejak menjadi redaktur sampai dipercaya menjadi Pemimpin Redaksi majalah sekolah kami, Majalah Al-Ashri selama dua periode. Dari redaksi Al-Ashri ini, gagasan-gagasan saya dalam pengembangan literasi di madrasah terus bergulir. Sampai kemudian, Direktur MP UIN, Dr. Bahrissalim, MA memberikan rumah penerbitan sekolah yaitu Pustaka MP, rumah publikasi produk literasi menulis di Madrasah Pembangunan.

Twist

Ibarat alur cerita dalam novel, hari Sabtu ini saya mendapatkan dua twist yang melengkapi kebahagiaan karena webinar yang berjalan baik. Twist ini juga menjadi pelipur dari rasa khawatir saya pada editor. Pertama twist dari Pak Sya’ban yang di sela-sela mengikuti webinar mengoprek-oprek membangun blog dengan titel “Madrasah Penulis” lalu diserahkan kepada saya.

Saya memang masih menyimpan redup harapan punya komunitas penulis di Madrasah Pembangunan. Komunitas ini yang nantinya akan menggerakkan budaya literasi menulis, menyelenggarakan event-event literasi, sampai menghasilkan produk literasi berupa karya baik fiksi maupun nonfiksi. Saat blog itu disodorkan, harapan itu menyala lagi.

Twist kedua dari Mbak Woro, editor di sebuah penerbit mayor yang memberi kabar bahwa naskah ebook saya sudah sampai pada tahap dami. Diberikan pula saya bocoran rupa dari kover buku itu. Senangnya bukan alang kepalang. Maka, makin ringanlah harapan saya terwujud bahwa di awal tahun 2021, satu buku dan satu novel saya lahir menyasar pembacanya masing-masing.




Memoar

Event webinar Pesta Literasi Madrasah Pembangunan 2020 akan memasuki skema yang kedua, yaitu Tantangan Menulis. Skema ini merupakan rangsangan bagi para peserta webinar dan masyarakat umum mulai menggerakkan pena-pena mereka untuk menjawab tantangan menulis yang disodorkan oleh panitia. Sebab pembekalannya sudah dapat dalam webinar, saatnya tiba untuk beraksi menulis.

Ada beberapa tantangan menulis yang bisa dipilih peserta, mulai dari menulis buku 5 bab, novel 9 bab, esai, cerpen, dan puisi. Panitia menyediakan apresiasi yang cukup memadai; uang dan penerbitan bagi naskah terpilih.

Begitulah, masa pandemi bukan berarti tidak menghasilkan karya. Namun, bisa menjadi kondisi yang memicu lahirnya karya yang bermanfaat. Menikmati pandemi yang paling mengasyikkan adalah menunjukkan produktivitas. Bagi peminat literasi, Pesta Literasi Madrasah Pembangunan Tahun 2020 adalah iklim yang menumbuhkan produktivitas itu. Mengapa tidak mulai dari sekarang menulis memoar, novel, esai, cerpen, atau puisi tentang PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh), blended learning, atau tentang pembelajaran online?

Ayo bergabung!




Senin, 02 November 2020

MACRON, CHARLIE HEBDO DAN KACANG LUPA KULITNYA



Tidak ada itu karikatur Nabi.
Memangnya tahu wajah Nabi spt apa?
Terus, orang lain bkin karikatur dan diklaim itu karikatur Nabi, kalian percaya? Lantas marah-marah? Penghinaan?
Sekali lagi, emangnya yg bikin 
karikatur dan kalian pada tahu
wajah Nabi spt apa?
Mbok ya mikirrrr
BAGINDA Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bukan Nabi “Pemarah”. Beliau rahmatan lil alamin. Beliau itu pemaaf, pengasih, dan penyayang.

MEMANG benar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam itu pemaaf, pengasih, dan penyayang. Jangankan pengikutnya, orang kafir Quraisy Mekah juga mengakui. Boleh jadi, kafir Quraisy lah yang paling tahu betapa pemaaf, pengasih, dan penyayangnya beliau daripada orang Islam hari ini yang seolah-olah mengambil posisi “pembela” para penista Rasulullah.

Hanya mengangkat sifat pemaaf, pengasih, dan penyayangnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah narasi timpang. Itu tidak menggambarkan keutuhan dari perilaku beliau yang agung. Tidak terelakanlah kecurigaan atas sikap membela para penista itu. Jangan-jangan, mereka memang sengaja dipasang atau memasangkan diri untuk mewartakan sifat-sifat itu di saat baginda dilecehkan.

Narasi timpang dalam menilai kepribadian Nabi shallallahu alaihi wa sallam merupakan bentuk ketidakadilan dalam ekspresi cinta kepada beliau. Sedangkan cinta yang seimbang membutuhkan penerimaan pada kelembutan dan ketegasannya sekaligus. Bukankah menyembunyikan ketegasan beliau sama saja dengan perilaku para penghina? Perbedaannya hanya soal terang-terangan menghina dan retorika saja. Para penghina secara vulgar menggambarkan beliau dengan bahasa karikatur misalnya, sementara para pembela penghina itu bermain kata, “Nabi saja pemaaf, kok.” Seolah mereka saja yang pandai bergaya bahasa model puisi.

Rahmatan lil Alamin

ISLAM dan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam adalah rahmat bagi alam semesta. Karena sebagai rahmat bagi alam semesta, Islam bersifat universal, dan beliau Nabi universal. Islam hadir untuk segala bangsa. Beliau Rasul untuk segala bangsa. Jadi, rahmatan lil alamin merupakan satu kesatuan dua karakter; karakter ajaran Islam dan karakter Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Sebagai rahmat, Islam tidak untuk membebani manusia, tetapi justru untuk menghilangkan beban, menawarkan kemudahan dan kebijaksanaan, serta membawa pada kemaslahatan. Sebagai rahmat, di sini Islam benar-benar menunjukkan wataknya yang insaniyyah. Ia diturunkan untuk manusia dan satu-satunya agama yang cocok dengan fitrah manusia. Tidak ada satu pun ajaran Islam yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Karena karakternya yang insaniyyah itu, maka Islam bersifat waqi’iyyah atau realistis dan kontekstual. Artinya, Islam merupakan agama yang ajaran-ajarannya dapat direalisir dalam kehidupan manusia sehari-hari. Islam dapat diamalkan oleh manusia meskipun mereka berbeda latar belakang dalam segala sisi; bangsa, budaya, suku, adat, warna kulit, strata sosial, gender, dan sebagainya. Watak insaniyyah dan waqi’iyyah ini sudah cukup untuk memahami mengapa Allah menjadikannya sebagai rahmatan lil alamin di samping lima karakter Islam lainnya sebagaimana dijelaskan Dr. Yusuf Qardhawi yakni; Robbaniyyah (bersumber dari Tuhan dan terjaga otentisitasnya), Syumuliyah (universal dan konfrehensif), Al Wasathiyah (seimbang), Al Wudhuh (kejelasan konsep), dan Al-am’u baina ats-Tsabat wa al-Murunnah (harmoni antara perubahan hukum dan ketetapannya).

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam adalah rahmat bagi alam semesta, pembawa penunjuk jalan keselamatan untuk umat manusia baik manusia memilih beriman atau kafir. Keselamatan adalah rahmat bagi yang mengikuti seruannya. Penundaan azab secara langsung—seperti yang pernah terjadi pada umat-umat terdahulu yang mengingkari nabi mereka—adalah rahmat bagi yang memilih tetap pada kekafiran. Inilah makna “rahmat” yang bermakna “al-riqqah wal al-ta’aththuf”, artinya "belas kasihan" dan "iba". Kehadiran Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dalam bingkai kenabian adalah wujud belas kasih Allah SWT kepada umat manusia, rahmatan lil alamin.

Sebagai rahmat bagi alam semesta, Nabi Muhammad adalah contoh sempurna, hadiah terbesar bagi umat manusia yang merindukan akhlak dan keagungan budi pekerti. “Sesungguhnya aku adalah rahmat yang dihadiahkan (untuk seluruh alam).” (HR. Bukhari). Begitu sempurna akhlak yang disandangnya, pernah satu kali beliau dimintai seorang untuk menyumpah orang-orang musyrik. “Ya Rasulullah, sumpahilah atas orang-orang musyrik.” Namun dengan lembut dan bijak, beliau menjawab: “Sesungguhnya aku tidak diutus sebagai orang yang melaknat, aku diutus hanya sebagai rahmat.”

Terlalu banyak contoh untuk dihadirkan betapa beliau adalah cerminan dari akhlak mulia yang membawa pesan sebagai rahmatan lil alamin.

Ketegasan Sang Pemaaf

TIDAK perlu diragukan akhlak Nabi Muhamad yang pemaaf, pengasih, dan penyayang. Hanya saja, pemaaf, pengasih, dan penyayang bukanlah sifat-sifat tunggal dalam diri beliau. Bila sifat-sifat itu tidak dipisahkan dari sifatnya yang juga tegas, maka keagungan akhlak beliau itu seperti yang diwartakan QS. Al-Qalam [68]: 4, bahwa kepribadian beliau adalah cermin budi pekerti yang agung. Keagungan beliau adalah padu padan warna kelembutan dan ketegasan, bahkan beliau juga bisa marah. Kesatupaduan sifat itulah yang mengantarkan dakwah Islam yang diembannya melahirkan peradaban mulia di tengah-tengah masyarakat.

Akan tetapi, apa benar Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga dapat marah?

Jika kita percaya bahwa beliau pun punya sisi manusiawi seperti manusia yang merasakan lapar, haus, ngantuk, sakit, bahkan wafat, maka tidak perlu merasa aneh jika beliau juga bisa marah. Hanya saja, ekspresi marah beliau hampir jarang berkaitan dengan persoalan pribadi yang diusik. Beliau marah bukan semata karena pribadi beliau dihinakan meski para sahabat terdekat sudah menghunus pedang buat menebus kemarahan beliau, melainkan beliau pasti marah apabila Islam dan syariah dihinakan.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga marah, tapi bukan marah “kaleng-kaleng”. Beliau marah pada perkara substansial yang apabila beliau tidak mengambil sikap tegas akan menjadi preseden buruk bagi dakwah dan wibawa Islam di belakang hari. Kasus-kasus pengusiran Kelompok Yahudi Madinah sepanjang fase dakwah setelah hijrah (622 M) menjadi contoh konkret. Akan tetapi, tentu pengusiran itu ada sebabnya. Bagaimana mungkin Nabi yang pemaaf, pengasih, dan penyayang itu mengusir orang?

Pada peristiwa Perang Badar (624 M), Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah mengampuni seorang kafir Quraisy bernama Abu Azza Jamahi yang tertawan. Karena dibebaskan, Abu Azza berjanji tidak akan bergabung lagi dengan pasukan kaum musyrikin menentang Islam. Namun dalam perang Uhud, Abu Azza terjun kembali dalam barisan kaum musyrikin dan kembali tertawan. Tak ada ampun, Nabi yang pemaaf itu menjatuhkan hukuman mati pada laki-laki itu.

Piagam Madinah sebagai rumusan hidup bernegara di Madinah yang plural itu, ada menyebutkan toleransi Islam yang amat luar biasa. “Orang-orang Yahudi hendaknya berpegang pada agama mereka, dan orang-orang Islam pun hendaknya berpegang pada agama mereka pula.” Demikian salah satu bunyi Piagam Madinah yang diabadikan Husain Haekal dalam Sejarah Hidup Muhammad. Nyatanya, isi dan praktik piagam yang setoleran itu, dikhianati kaum Yahudi. Tak pelak, Yahudi Bani Qainuqa diusir dan kemudian menetap di wilayah Syam (Suriah). Yahudi Bani Nadhir juga diusir karena mengkhianati perjanjian. Mereka tidak mau bergabung dalam Perang Uhud (625 M) untuk mempertahankan Madinah. Malah mereka memprovokasi penduduk Madinah agar tidak ikut turun dalam perang Uhud. Hukuman paling keras diberikan kepada Yahudi Bani Quraizhah sebab mereka bersekutu membangun aliansi dan menikam kaum Muslimin dari belakang dalam perang Ahzab (627 M). Setelah ditaklukkan, Bani Quraizhah memilih Sa’ad bin Mu’adz sebagai hakim untuk memutuskan hukuman buat mereka. Keputusan Sa’ad sangat tegas, “Menghukum mati seluruh laki-laki dewasa, menjadikan tawanan wanita dan anak-anak, dan merampas harta benda mereka sebagai rampasan perang.” Bagaimana sikap Nabi shallallahu alaihi wa sallam atas keputusan Sa’ad? “Sungguh, kamu telah menghukum mereka dengan hukum Allah.” Nasib Yahudi Khaibar lebih baik dari komunitas Yahudi di atas. Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak mengusir mereka dari Madinah. Mereka dibiarkan untuk merawat kebun kurma. Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga mengembalikan kitab Taurat yang menjadi bagian dari harta rampasan perang saat orang-orang Yahudi meminta Taurat itu dikembalikan.

Ketegasan Nabi yang lain, misalnya dalam kasus penghancuran masjid Dhirar (630 M) setelah peristiwa Tabuk. Masjid Dhirar dibangun atas prakarsa orang munafik bernama Abu Amir Ar-Rohib. Pada masa jahiliyah, laki-laki ini beragama Nasrani. Dia yang melobi orang-orang kafir Quraisy mengajak memerangi Rasulullah dan kaum Muslimin di Madinah sehingga pecah perang Uhud. Rasulullah SAW berkata kepada para sahabat, “Pergilah kalian ke masjid yang didirikan oleh orang-orang dzalim (masjid Dhirar), kemudian hancurkan dan bakarlah!” kata beliau waktu itu.

Fathu Makkah (Pembebasan Mekah) pada 630 M barangkali menjadi peristiwa yang paling emosional dalam konteks Nabi shallallahu alaihi wa sallam sebagai pribadi pemaaf dan tegas. Sebelum beliau memasuki Mekah, beliau telah menginstruksikan kepada para komandan pasukan untuk tidak memerangi atau membunuh kaum musyrikin kecuali dalam keadaan terpaksa. Selain itu, beliau juga menyampaikan “daftar hitam” orang musyrik yang paling memusuhi Islam untuk dibunuh meskipun mereka berlindung di bawah dinding Ka’bah. Mereka adalah Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarah, Abdullah bin Khathal, Huwairitz bin Nuqaiz, Miqyas bin Shababah, Ikrimah bin Abi Jahal, Hubar Ibnul Aswad, Sarah, Shafwan bin Umayyah, Hindun binti Utbah (istri Abu Sufyan), Harits bin Hisyam, Zubair bin Umayyah, Ka’ab bin Zuhair, Wahsyi bin Harb, dan dua orang penyanyi milik Abdullah bin Khathal.

Dari semua orang yang masuk “daftar hitam” itu, mayoritas mereka diampuni dan lolos dari hukuman mati, kecuali beberapa orang yang tingkat kejahatannya pada Islam, Nabi dan kaum Muslimin sudah sangat melampaui batas. Bukankah ini bukti keagungan Nabi shallallahu alaihi wa sallam dengan segala kelembutan dan ketegasannya?

Para Penghina di Setiap Zaman

MUHAMMAD shallallahu alaihi wa sallam akan selalu dicintai. Akan tetapi, beliau juga akan diusik para pembenci. Sejak dahulu, saat beliau menjadi rasul dan mulai berdakwah, para pembenci bermunculan. Mereka datang dari kaumnya sendiri, bahkan dari keluarga dekatnya sekalipun. Segala tuduhan dan penghinaan keji sampai pada perlakuan kasar yang menyerang fisik. Beliau dihinakan dalam narasi syair-syair, sumpah serapah, dianggap sebagai gila, dilempari batu dan kotoran, hingga akan dibunuh .

Hari ini, zaman di mana katanya perlindungan hak-hak azasi manusia lebih terbuka, penghinaan kepada pribadi beliau tetap dan terus terjadi. Era Abu Jahal dan Abu Lahab memang boleh berlalu. Keduanya pun sudah mati meninggalkan kedegilan sejarah penghinaan kepada beliau yang tidak mungkin terhapus. Akan tetapi, spirit dedengkot kafirin itu untuk menghina keagungan Muhammad shallallahu alaihi wa sallam tetap hidup. Bila dahulu Abu Jahal dan Abu Lahab melakukannya karena “kedunguan” pada nubuwwat, zaman kini melakukannya atas nama kebebasan berekspresi. Hanya saja substansinya tetap sama; ekspresi kebencian berwajah Islamophobia.

Novel karya Salman Rushdie, The Satanic Verses (Ayat-Ayat Setan) yang terbit pada 1989 adalah yang paling saya ingat setelah era jahiliyah bahwa penghinaan atas keagungan Muhammad shallallahu alaihi wa sallam tidak mengenal kata berakhir. Saat itu masa SMA, masa sudah mulai respek membaca dinamika masalah sensitif kasus yang digulirkan Abu Jahal modern seperti Salman Rushdie meskipun tidak pernah membaca novel tersebut. Namun, membaca sinopsis The Satanic Verses yang ditulis seorang kompasioner, memang membuat panas hati. Seorang muslim wajar bertanya, bagaimana seorang Salman Rushdie bisa sejahat itu menghina Islam dan pribadi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. 

Reaksi bergulir bak bola salju. The Satanic Verses banyak dibakar pada demonstrasi di Britania Raya. Novel itu juga menyulut kerusuhan di Pakistan pada tahun 1989. Fatwa bunuh untuk Salman Rushdie di mana saja dia berada dikeluarkan pemimpin Revolusi Iran Ayatollah Khomeini. Salman Rushdie dinyatakan telah murtad (keluar dari Islam). Sejak itu, Salman Rushdie hidup di pengasingan dengan nama palsu. Dia baru berhenti menggunakan nama palsu pada 11 September 2001 ketika Teheran mengatakan ancaman eksekusi padanya sudah berakhir.

Penghinaan pribadi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam tidak surut oleh reaksi kaum Muslimin pada kasus The Satanic Verses. Jyllands-Postens, surat kabar terbesar di Denmark memublikasikan 12 karikatur Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam karya kartunis Kurt Westergaard pada 30 September 2005. Organisasi Konferensi Islam (OKI) angkat bicara, memerotes keras konten penghinaan itu.

Lagi. Kali ini datang dari Belanda. Film muncul dokumenter berjudul Fitna. Film karya politisi Belanda Geert Wilders, pemimpin Partij voor de Vrijheid (PVV) dirilis. Film ini berisi pandangan negatif Wilders terhadap Islam, Al-Qur’an, dan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Film berdurasi 15 menit ini penuh dengan adegan teror berupa pengeboman, pembakaran dan pembunuhan ras kulit putih, dan Yahudi yang dikatakan dilakukan oleh umat Islam.

Saya tidak ingin mengulas konten film manipulatif yang mengundang emosi itu di sini, tetapi menutupnya dengan hadiah manis dari Allah subhanahu wa ta'alaa kepada Arnoud van Doorn, politisi Partij voor de Vrijheid (PVV), orang yang terlibat dalam pembuatan film itu masuk Islam pada 2013. Belakangan, Iskander Amien De Vrie, putra Arnoud van Doorn, akhirnya mengikuti jejak sang ayah menjadi seorang Muslim. Hidayah terus merangsek. Pada 26 Oktober 2018 giliran Joram van Klaveren, mantan orang kepercayaan Geert Wilders memilih masuk Islam. Klaveren dikenal pengikut garis keras Geert Wilders yang kerap melontarkan kalimat penistaan terhadap Islam. Klaveren lah orang yang sering menyebut “Islam adalah kebohongan”, “Muhammad adalah penjahat”, “Al-Quran adalah racun” dan tak kenal lelah mengulang-ulang Islam adalah ideologi teror, kematian, dan bencana.

Di Indonesia pun, penghinaan kepada sosok mulia Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam melalui media bukan tidak pernah terjadi. Tabloid Monitor yang pernah merilis angket "Kagum 5 Juta"pada akhir 1990 tentang siapa tokoh yang paling dikagumi, menyeret penulisnya diganjar 4 tahun penjara. Tabloid itu dianggap menghina sosok mulia orang yang paling dihormati Muslimin, mayoritas penduduk Indonesia. Hasil polling itu menempatkan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam pada pada urutan ke-11 tokoh yang paling dikagumi, satu tingkat berada di bawah permrakarsa angket itu, dan jauh di bawah Pak Harto yang berada pada urutan pertama. Belakangan, sebelum meninggal, mendiang pemrakarsa angket itu pernah menyatakan penyesalannya telah melukai umat Islam pada ANTARA News. Hasil angket dimaksud bisa Anda lihat di sini: https://id.wikipedia.org/wiki/Kontroversi_angket_Majalah_Monitor

Prancis, Charlie Hebdo dan Kacang Yang Lupa Kulitnya

LAGI, dan lagi majalah satir Charlie Hebdo memantik kemarahan. Seorang guru di Prancis tewas ditikam siswanya karena menampilkan majalah Charlie Hebdo berisi karikatur Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dengan dalih kebebasan berekspresi. Empat belas tahun yang lalu, pada 2006, Charlie Hebdo juga membuat karikatur yang sama yang menyulut gelombang protes kaum Muslimin. “Kebebasan berkespresi” sudah menjadi “agama” baru yang dijunjung tinggi Charlie Hebdo . Ia terus mengulang-ulang mengolok-olok Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam melalui karikaturnya mengabaikan perasaan kaum Muslimin dan dampak yang mungkin ditimbulkannya.

Pesan sang editor Laurent "Riss" Sourisseau pun jelas: "Kami tidak akan pernah tunduk. Kami tidak akan pernah menyerah," dalam editorial yang dipajang bersama gambar karikatur. Majalah satir itu menegaskan bahwa gambar tersebut adalah "milik sejarah, dan tidak bisa dihapus atau ditulis ulang," seperti dirilis https://www.kompas.com/global/read/2020/09/02/063755870/majalah-charlie-hebdo-umumkan-bakal-cetak-ulang-karikatur-nabi-muhammad?page=all .Belakangan, Charlie Hebdo memuat karikatur Erdogan Singkap Gaun Perempuan Berhijab. Bisa jadi, karikatur itu dirilis untuk membalas sikap pemerintah Turki yang selama ini paling keras menanggapi satir Charlie Hebdo.

Membaca pesan Laurent dan sikap resmi pemerintah Prancis atas kasus Charlie Hebdo terbaru, seakan mereka lah yang berusaha melupakan sejarah. Mungkin Laurent malu, Prancis punya hutang sejarah yang terlalu mahal untuk dibayar lunas pada Turki Utsmani. Hutang sejarah itu tetap menjadi hutang, tidak bisa dihapus atau ditulis ulang.

Pada peperangan Pavia, 24 Februari 1522 M, Raja Prancis I (1494-1547 M) ditawan Raja Jerman. Prancis merasa terhina. Tentaranya tidak dapat membebaskan sang raja dari penawanan. Ibunda sang raja lalu menulis surat kepada Khalifah Utsmaniyah, Sultan Sulaiman Al-Qanuni guna meminta bantuan buat membebaskan putranya. Prajurit yang diutus, Jean Frangipani, menyampaikan surat itu kepada Sultan Sulaiman. Surat tersebut lalu dibacakan juru terjemah.
Hingga saat ini, kami selalu berharap ada seseorang yang berkenan membantu kami menyelamatkan anak kami. Ternyata harapan-harapan itu selalu berbuah kekecewaan. Buktinya hingga saat ini anak kami hidup hina di bawah kekuasaan Raja Jerman. Seluruh dunia kenal akan kebesaran, kemuliaan, dan kehormatan Paduka. Karena itulah, kami menghaturkan surat ini kepada Paduka yang mulia untuk ikut membantu melepaskan anak kami. 
Sultan kemudian menulis dua pucuk surat; surat pertama ditujukan kepada Raja Perancis I dan surat kedua ditujukan kepada ibunda Raja Perancis. Surat Sultan yang dikirmkan kepada Raja Perancis sebagai berikut:
Kepada Yang Mulia Raja Perancis I. Kami telah menerima surat yang diberikan oleh utusan Tuan. Dari situ kami tahu bahwa musuh telah menyerang negara Tuan menyebabkan Tuan menjadi tawanan hingga saat ini. Ibunda Tuan penduduk Perancis meminta kami untuk membebaskan Tuan dari tawanan. Memang, bukan hal yang aneh bila seorang raja ditawan dan dipenjara. Karena itu, kami harap Tuan jangan bersedih. Kami akan membantu Tuan. Pedang-pedang kami senantiasa siap siaga siang dan malam. Semoga takdir baik Allah bersama kami dan Tuan.
Bukankah kebaikan Sultan Sulaiman, pendahulu Erdogan yang lebih pantas disebut sejarah yang tidak bisa dihapus dan ditulis ulang? Kebaikan macam apa yang bisa ditunjukkan Laurent dan pemerintah Prancis buat menghapus kemurahan hati penguasa Turki Utsmani dan kaum Muslimin itu? Akan tetapi, rupanya islamophobia akut yang diderita Laurent "Riss" Sourisseau atau Macron  telah menjadikannya lupa kacang pada kulitnya. Mereka membalas sejarah itu dengan olok-olok karikatur Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Muhammad Gharib Gaudah, merekam pengakuan beberapa ilmuan Barat tentang peran Islam dan dunia Arab bagi perdaban Eropa. Berikut yang dipaparkan Gaudah: 
Claude Varir, Guru Besar Fakultas Bahasa Timur di Du France College. Claude berkata: “Cukuplah seorang mengingat apa yang terjadi pada Prancis. Kalau bukan karena Islam yang proaktif, bijaksana, cerdas, dan toleran-karena Islam memiliki ini semua-niscaya kita tidak akan mendengar lagi nama Prancis sebagai negara kita.
Emmanuel Macron, presiden Prancis tak terusik dengan olok-olok Charlie Hebdo dan membela bahwa kartun itu wujud kebebasan berespresi yang dihormati di negaranya. Namun yang menggelikan, Macron marah besar pada presiden Brazil, Jail Borsonaro saat menanggapi unggahan foto di Facebook yang membandingkan penampilan istri presiden Brazil, Michelle (37 tahun) dengan Brigitte (66 tahun) istri Macron. Briggitte tampak sangat tua dibandingkan dengan Michelle yang konon disebut-sebut sebagai istri pemimpin paling cantik di dunia dalam foto itu. “Jangan mempermalukan pria itu hahahahah,” tulis Bolsonaro. Macron bereaksi mengutuk komentar Bolsonaro. Tak pelak, kasus ini meningkatkan ketegangan antara Macron dan Bolsonaro.

Ada yang tidak kalah menggelikan dari sikap Macron atas presiden Brazil. Dialah orang Islam yang menilai sikap kaum muslimin berlebihan menanggapi karikatur Charlie Hebdo. Orang Islam disuruh mikir karena tidak ada yang tahu wajah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam itu seperti apa. Jadi, maksudnya, tidak ada itu olok-olok.

Bisa jadi, orang Islam yang menilai respon berlebihan kaum Muslimin itu tampak “keren” meskipun lebih pantas dikatakan sebagai pendapat “tidak tahu diri”. Bagaimana mungkin sosok Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, sosok yang dicintai seorang muslim melebihi cintanya pada diri sendiri dijadikan sebagai bahan olok-olok dan kaum Muslimin disarankan sebaiknya jangan marah?

Memang, tidak ada orang zaman ini mengenal persis seperti apa wajah Nabi shallallahu alaihi wa sallam secara fisik. Namun bukan tidak mungkin, kartunis Charlie Hebdo yang menggambar beliau itu sudah membaca terjemahan kitab Asy-Syamail al-Muhammadiyyah karya Imam Turmudzi yang mendeskripsikan secara jelas seperti apa wajah dan ciri-ciri fisik Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.  Ayolah! Janganlah jadi orang Islam yang lupa kacang pada kulitnya, lupa kebaikan baginda Muhammad shallallahu alaihi wa sallam  Sang Penyelamat yang diharap syafaatnya di hari kiamat. Anda tidak mungkin minta syafaat pada Macron dan Charlie Hebdo, buka? Mikir!

Semoga awak Charlie Hebdo mendapat hidayah menyusul Arnoud van Doorn.

Depok, 02 November 2020.



Sabtu, 17 Oktober 2020

KUOTA DAN LUKISAN PELANGI

Rizano benar-benar seperti terlempar keluar dari planet bumi dan bergabung dengan “Suku Maya”.


RIZANO teman kecil Binar. Sejak TK sampai SMA, mereka satu sekolah. Saat TK, keduanya hobi mewarnai. Tapi, karena persoalan warna pula, Rizano kapok gara-gara ditertawakan teman sekelasnya. Pasalnya, anak itu mewarnai matahari dengan warna hitam, warna yang dianggap aneh untuk matahari. Semua teman-teman Rizano memberi warna kuning dengan sinarnya yang terang atau langit dengan warna biru. Binar termasuk yang turut menertawakan. Maka, sejak itu Rizano tak pernah mau lagi mewarnai.

“Kenapa mataharimu kamu kasih warna hitam, Zano?” Tanya Binar saat mereka keluar kelas.

“Ya terserah aku. Itu kan matahari aku,” jawab Rizano dengan muka ditekuk. Dia sebal. Teman baiknya ikut menertawakan.

“Tapi kan, yang namanya matahari, warnanya kuning.”

Rizano berhenti. Matanya menatap tajam Binar.

“Matahari aku kan, sedang gerhana. Di mana-mana, gerhana matahari kan gelap, tahu!”

Binar mengerling. Rizano berlari meninggalkan Binar yang masih mengerling.

“Zano! Tunggu!”

Rizano tak perduli. Dia terus berlari meninggalkan Binar. Dia benar-benar marah. Esoknya, marah Rizano baru reda oleh sebungkus cokelat Binar, oleh-oleh bapaknya yang baru tugas dari luar negeri. Cokelat itu lalu mengikat mereka sampai SMA. Selepas SMA, mereka baru pisah sekolah. Rizano melanjutkan kuliah menjadi guru, Binar mengambil sekolah seni. Akan tetapi, Binar tidak betah kuliah. Baru dua semester, dia hengkang.

Selanjutnya, Binar mengikuti hobinya bertualang. Meskipun anak orang kaya, dia lebih suka menggelandang dengan bekal seransel cat dan kuas. Dia bergabung dengan seniman jalanan dan berpindah-pindah. Makan dan tidurnya dari lukisan yang dia jual. Satu saat, Binar benar-benar meninggalkan rumah dan tak pernah kembali karena kecewa. Binar bahkan bersumpah tidak akan pernah meminta bantuan orang tuanya seumur hidup gara-gara Denok disebut perempuan pembawa sial bagi keluarga Binar.

“Hartaku adalah Denok, Zano.” Kata Binar saat mereka bertemu tak sengaja di Blok M, tiga tahun selepas SMA.

Rizano mengerti. Dia tahu kisah cinta Binar pada Denok sejak mereka SMA. Denok gadis panti asuhan, yatim piatu. Kecantikan fisik dan hati Denok, meluluhkan sukma anak orang kaya seperti Binar. Binar amat menyintai Denok. Cinta sejati. Begitu sejatinya, Binar lebih memilih Denok meskipun orang tuanya mengusirnya dan mengancam menghapus namanya dari hak waris. |


PELANGI menyembul di tengah senja. Ia hadir lagi ketika cahaya matahari terkena air hujan. Memang, sejak sehabis Ashar sore itu, hujan merintik belum reda. Diam-diam, pembiasan sinar matahari berlangsung, luput dari mata penikmat awam pelangi.

Rizano Sandywan tahu betul itu. Mata seorang guru sains seperti dia, kognisinya langsung bisa membaca fenomena alam, tidak seperti mata Binar yang cuma sekadar berbinar saat pelangi ada di langit kampung mereka; Kampung Utan. Maka, kuas Binar lah yang bekerja saat dia melihat pelangi. Tunggu saja beberapa saat, pelangi itu akan sempurna dia pindahkan ke atas kanvas hasil kecerdasan otak kanannya. Dan seperti biasanya, di sudut bawah sebelah kanan kanvas, ada tanda tangan yang mudah dibaca: Mataku Binar.

Binar memang bukan guru sains. Dia pelukis jalanan dengan kemampuan profesional. Karya-karyanya banyak lahir di emperan ruko pasar Blok M, Malioboro, Pasar Comboran Malang, atau emperan pertokoan Yakaya Rungkut Surabaya. Baru satu setengah tahun dia mangkal di Blok M. Maka, saat Rizano kengan pada teman kecilnya itu, dia pasti melangkah ke Blok M.

“Pelangi itu terjadi saat cahaya matahari itu dibelokkan. Berpindah arah dari perjalanan satu medium ke medium lainnya. Pelakunya adalah tetesan air yang ada di atmosfer. Perbedaan panjang gelombang dan sudut ketika sinar matahari dibiaskan, menyebabkan warna-warna pada sinar matahari menyebar dan terpisah. Di sanalah lengkungan pelangi dengan jutaan warna kau jumpai.” Rizano berkomentar panjang saat lukisan itu belum lagi kering.

“Apa pentingnya kuliahmu buatku?”

“Aku memberitahumu, seniman. Agar saat kau ditanya bagaimana pelangi itu mewujud, kau bisa menjawab. Jadi, kau tidak sekadar pandai melukisnya.”

“Di hadapan murid-muridmu, kau boleh ngoceh ilmiah, Zano. Di hadapanku, berapa pembeli berani membayar pelangiku, itu yang penting. Biar dapurku tetap mengepul.”

“Memangnya, berapa mau kau lepas?”

“Tiga bulan honormu.”

“Mahal sekali?”

“Berapa tiga bulan honormu? O, pasti tinggi, ya. Aku dengar, kabar burung sih, guru-guru di sekolahmu sejahtera. Syukurlah. Paling tidak, kawanku bukan guru nonorer yang kere.”

Rizano tersenyum kecut. Dia sadar sedang dijebak sahabatnya.

“Ah, tak perlu lah kau tahu berapa honorku.”

“Kalau begitu, carikan saja pembeli pelangiku. Kamu dapat sepuluh persen.”

“Berapa sepuluh persennya?”

Binar menyebutkan angka. Rizano terhenyak. Mahal. Bahkan sepuluh persen itu melangkahi gajinya tiga bulan.|


TEH poci masih mengepul. Hujan belum tiris sejak subuh. Padahal, hari masih pagi, masih pukul enam. Langit masih setengah gelap dan bertambah gelap karena cuaca mendung. Sepagi itu, Rizano sudah berkutat dengan tugas-tugas kelas online yang menumpuk sepanjang hujan belum reda. Matanya saja masih berat. Tadi malam, dia baru tidur pukul setengah dua belas usai memeriksa tugas fisika kelas dua belas pertemuan terakhir sebelum PTS. Jam setengah tiga dia sudah bangun lagi untuk meneruskan pekerjaan sekolah.

Sejak pandemik dan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh), Rizano lebih sibuk. Urusan sekolahnya tidak kenal bel. Laptopnya kalau bisa menyala 24 jam. WA-nya tidak pernah capek memberitahu soal keluhan siswanya meskipun dia sedang di kamar kecil. Kadang, orang tua sampai turun tangan menelepon saat dia sedang membantu istrinya menggoreng kerupuk hanya untuk memberi tahu: “Pak, tugas Si Mumut sudah saya emailkan, ya. Maaf, pake email kantor. Sekalian mao tanya, Pak. Bisa enggak sekolah tidak perlu ada PTS? Diganti tugas saja. Masalahnya, Si Mumut yang mao PTS, saya yang pusing.”

Pagi itu, setelah shalat Subuh, Rizano harus menginput nilai dan menulis laporan rencana pembelajaran pekan depan. Setelah itu, dia harus menulis modul, menyiapkan soal di google form, membuat video animasi, mengisi konten google site, dan merancang 60 butir soal persiapan Penilaian Semester. Rizano benar-benar seperti terlempar keluar dari planet bumi dan bergabung dengan “Suku Maya”.

Saraswati, istrinya menghampiri. Wajahnya tampak kelam, sekelam mendung pagi yang belum beranjak pergi. Saraswati duduk di samping suaminya. Sesaat, perempuan itu memegang bahu Rizano. Mengelusnya pelan seperti menoreh beban.

“Mas, barusan aku dikabari, Ibu dirawat. Butuh biaya rumah sakit.”

Rizano menolah. Matanya meninggalkan laptop menjumpai mata istrinya yang sembab seperti baru habis menangis.

“Inna lillahi. Pakai saja tabungan kita.”

“Jangan, Mas. Itu uang buat beli buku-buku kuliah Si Kakak.”

“Tapi, hanya itu sisa uang yang kita punya.”

“Beras di dapur juga tinggal untuk sore ini.”

“Uang honor menulis yang kemarin, masih sisa, kan?”

“Masih. Tapi, sudah aku alokasikan untuk beli kuota Si Kakak dan Jaziila seminggu ke depan. Si Kakak sudah mulai kuliah online. Jaziila sudah mulai PTS.”

“Sisa beras, bikin bubur saja, biar cukup sampai besok pagi.”

“Ibu bagaimana?”

Rizano menekur. Diseruputnya teh pocinya yang tinggal seteguk. 

Air mata Saraswati meleleh.  Saraswati terisak karena tahu suaminya bingung dari mana mendapat biaya perawatan ibunya. Persis, saat itu, kuota Rizano habis pada isakan Saraswati terakhir sebelum dia berhenti meratap. Untunglah pula hari itu hari Sabtu, hari bebas PJJ. Rizano tidak membayangkan kalau itu terjadi saat dia mengajar. Tiba-tiba wajah menghilang dari layar Zoom Meeting karena kehabisan kuota, adalah aib seorang guru saat PJJ.|


BINAR duduk memeluk lutut. Dia beranjak saat melihat kedatangan Rizano dengan dua perempuan asing berwajah Arab. Rizano memperkenalkannya pada Binar. Binar menyapanya ramah. Ramla balas menyapa sambil mengucap salam. Fathiya hanya mengangguk.

Rizano memperkenalkan Binar pada Ramla dan Fathiya. Binar hanya melongo saat Rizano bercakap dengan bahasa Arab, sesekali dengan bahasa Inggris. Binar mengerti saat Rizano, Ramla, dan Fathiya berbincang dengan bahasa Inggris. Namun, Binar sama sekali tidak tahu apa yang sedang mereka bincangkan selain na'am dan laa. Di telinga Binar, mereka bertiga terdengar seperti sedang  ratiban.

“Ramla dan Fathiya mahasiswa pascasarjana dari Mesir. Sudah setahun penelitian di sekolahku. Dua hari lagi dia balik ke Kairo.”

“Terus, apa hubungannya denganku?”

“Ramla kolektor. Dia ingin lihat lukisanmu.”

“Oh. Kau datang di saat yang tepat, Zano. Dapurku sedang sekarat. Pelangganku habis gara-gara Corona.”

“Aku bilang, kamu punya lukisan pelangi. Dia ingin melihatnya.”

“Astaga!”

“Kenapa?”

Binar menepuk jidat. Lukisan itu sudah ditukarnya seminggu yang lalu sebagai jaminan dua bulan menunggak biaya sewa kontrak rumah kepada pemilik kontrakan.

“Sebanding kira-kira sebulan honormu, Zano,” kata Binar berkelakar.

Rizano mencibir. Dia tidak suka soal honornya dibandingkan lagi dengan harga lukisan Binar. Apalagi sekarang, harganya dibanting seukuran honornya satu bulan. Lagi pula, memang Binar tahu berapa besar honornya?

“Sorry, Zano. Lupakan soal honormu. Aku punya banyak koleksi selain pelangi. Tawarkan saja. Aku kasih murah.”

“Ramla ingin yang pelangi.”

“Tak bisakah yang lain?”

“Tergantung dia.”

Rizano menawarkan lukisan Binar yang lain. Ramla menggeleng. Dia hanya menginginkan pelangi.

“Qawsun fujah, Rizano. Ghayruh, laa.” Ucap Ramla.

Rizano menelan ludah. Dia sudah kadung berharap mendapat komisi sepuluh persen seperti janji Binar sebulan yang lalu. Dia sedang butuh sekali uang itu. Namun, harapan itu pupus. Ramla hanya mau melihat lukisan pelangi itu, bukan yang lain. Lukisan pelangi itu pun, belum tentu dibeli Ramla.

“Ramla hanya ingin yang pelangi, Bin. Yang lainnya, nggak mau.”

Binar tampak kecewa.

Dalam pada itu, seorang laki-laki dan seorang perempuan paruh baya datang ke lapak Binar. Dia membawa bingkai tertutup rapat. Binar mengenal keduanya. Binar minta izin Rizano dan dua perempuan Mesir itu buat menemui keduanya. Rizano menggunakan kesempatan itu menemani Ramla dan Fathiya melihat-lihat lukisan Binar yang lain. Siapa tahu ada yang diminati Ramla atau Fathiya.

Binar memesan kopi menemani tamunya berbincang. Rupanya, orang itu adalah pemilik rumah kontrak yang Binar tempati. Esok dia akan terbang ke luar kota. Dia ditugaskan ke Kalimantan selama setahun. Dia minta tolong Binar untuk merawat rumahnya selama dia di Kalimantan. Sebagai imbalannya, Binar dibebaskan biaya sewa rumah selama setahun ke depan.

“Bin, saya tidak punya sanak saudara di Jakarta. Kamu sudah seperti keluarga saya. Saya titip rumah, ya. Kalau butuh kendaraan, pakai saja.”

Laki-laki itu lalu menyerahkan bingkai tertutup itu pada Binar.

“Taruh saja di sini. Kalau ada yang minat, jual. Ambil semua harga penjualannya.”

Binar membuka bungkus bingkai itu. Mata Binar berbinar, lalu menitik.|


PAGI masih kelam, lebih kelam dari kemarin. Rizano menunduk sedih. Saraswati tak berhenti sesenggukan selepas kabar kewafatan ibunya diterima tadi subuh. Hanya selang dua hari dikabari ibunya dirawat, kabar duka datang menyusul. Hati Saraswati remuk redam membaca kabar sebab kewafatan sang Bunda: COVID.

“Cukup Raswa. Ibu sudah tenang. Jangan lagi ditangisi. Semoga beliau dapat pahala syahid karena wabah.”

Saraswati mengelap air matanya.

Rizano menyerahkan amplop cokelat.

“Gunakan untuk membantu biaya perawatan ibu.”

“Tidak usah, Mas. Perawatan ibu sudah diurus Mas Wawan.”

“Barangkali cukup buat urusan tahlilan.”

“Tidak ada tahlilan. Tidak boleh ada kumpul-kumpul di kampung sejak kasus ibu. Mas Wawan malah transfer ke rekeningku untuk biaya kuliah si Kakak hasil panen sawah ibu tahun ini. Mas Zano kembalikan saja amplop itu.”

“Kembalikan?”

“Mas Zano pasti dapat dari pinjam, kan?”

Rizano menggeleng.

Rizano berkata amplop itu titipan dari Binar. Kemungkinan komisi sepuluh persen lukisan pelangi Binar yang dibeli Ramla. Dia sendiri belum membuka dan menghitung berapa jumlahnya.

“Hitunglah. Semoga cukup untuk urusan kuota saya, Si Kakak, dan Jaziila selama PJJ.”

Saraswati membuka amplop, menghitungnya, dan memekik.

“Sembilan juta, Mas Zano!”

Rizano menekur. Diraih HP-nya. Dikirim pesan pada Binar mengucap terima kasih. Binar membalas. Dia katakan, dialah yang harus berterima kasih. Ramla tanpa menawar berani membayar pelangi miliknya seharga 90 juta. Pelangi yang sesungguhnya sudah menjadi milik orang, kembali kepadanya.

“Kamu yang membawa Ramla padaku, kan? Oh, iya. Aku titip dua amplop. Nikmatilah rezekimu, guru honorer.”

Rizano memeriksa amplop cokelat itu. Dia tidak lagi memedulikan cap guru honorer, kelakar Binar yang sebenarnya menjengkelkan. Rizano sering memaki nasib. Sebutan guru honorer dan guru PNS dipandangnya seperti kasta Hindu kelima dan keenam. Cukuplah Brahmana, Ksatria, Waisya, dan Sudra saja. Toh, tidak ada siapa yang lebih berat timbangannya dalam tugas-tugas mengajar. Bisakah disebut "guru" saja tanpa embel-embel?

Benar saja. Ada amplop kedua. Ada tulisan tangan Binar pada secarik kertas. “Hadiah dariku untuk biaya kuliah Kalila selama dua semester. Hari ini aku semakin percaya kata-katamu saat kau meyakinkanku pada Denok. Kau bilang waktu itu, “mengurus anak yatim” Allah tak akan membiarkanmu berjalan sendirian.”

Rizano kelu. Matanya basah. Urusan kuotanya selesai di tangan Mata Binar.|

Sabtu, 19 September 2020

PETI MATI DI ATAS ROLLER COSTER

Allah ya Rabb, biarkanlah wabah ini berlalu. Mohon perlindungan-Mu Ya Rabb. Kami benar-benar seperti di atas roller coaster sambil memandangi peti mati.


INI soal rasa. Sejak akhir Agustus sampai petang ini, rasa seperti menaiki roller coaster. Jantung nyut-nyutan, pandangan rasa jungkir balik, adrenalin naik turun tidak karu-karuan. Akan tetapi, ini bukan seperti rasa roller coaster di Dufan yang histeria bahagia tegang. Ini histeris sedih tegang.

Akhir Agustus kemarin itu, dapat WA dari sahabat karib. Minta doa terbaik buat ibundanya yang sedang dirawat. Deg! WA, saya balas normatif. Doa mengalir, semoga Ibunda lekas pulih, begitu saya penuhi. Pikiran liar ke sana ke mari menunggu kabar berikutnya. Jeda hampir sepuluh menit. Dan, kecemasan terjawab. Ibundanya positif Covid.

Pukul empat pagi empat hari kemudian, WA saya terima lagi. Sahabat karib ini mengirim pesan suara. Isinya rekaman via handphone dia pada sang Bunda. Pesan suara yang sangat menyentuh:
Assalamualaikum, Ma. Ini ***. Mama jam segini, biasanya sedang tahajud, loh. Ayo, Ma, lakukan kebiasaan Mama semampunya meski hanya dengan isyarat. Dari rumah, *** bantu doa agar Mama lekas sembuh.
Setiap kalimat sapaan dalam pesan suara itu direspon sang Bunda. Tidak jelas kalimat respon apa yang diucapkannya. Hanya suara seperti dengkuran tiap kali dia disapa. Dan, jam empat pagi hari itu, air mata saya jatuh. Ingat orang tua sendiri yang sudah sepuh.

Siang harinya, hanya berselang tujuh jam, sekitar pukul sebelas, kabar duka menutup semua pesan. Ibunda berpulang. Diurus dan dimakamkan dengan protokol Covid. Inna lillahi wa inna ilayhi rajiun.

Delapan September, sahabat karib ini kembali kirim pesan. “Hasil swabnya, saya positif covid ustadz. Laa hawla wala quwwata illa billah. Klo misal sy duluan, tolong lihat²in haafidz ustadz jika lagi senggang.”

Haafidz putra sahabat karib, bocah tiga tahun. Pesan ini, rasa ingin menjerit membacanya.

Sejak saat itu, hampir setiap hari, WA saya kirimkan buat menguatkannya menjalani isolasi mandiri. Meskipun jawabannya selalu menggembirakan, “Alhamdulillah saya sehat dan kuat InsyaAllah.” Akan tetapi, dalamnya laut, siapa yang bisa mengukur. Bagaimana rasa dan warna jiwa sahabat ini, saya tidak tahu. Namun, karena kasat mata saya tahu pengamalan agamanya baik, apa yang dia katakan, itulah dirinya.

Sebelas September, teman sekelas sewaktu SD, kolega saya; Pimpinan Ormas, Ketua Kampung Siaga Covid-19, jamaah pada kajian rutin Ahad petang yang saya isi, hasil swabnya positif Covid. Duh, orang-orang dekat yang saya kenal baik, satu lagi masuk dalam daftar yang memacu detak jantung berakrobat laiknya sedang naik roller coaster.

Pukul tujuh pagi tadi, saya menemani istri membeli sayuran di dekat komplek Depok Maharaja. Saat menunggu istri, bertemu lagi teman lain sewaktu SD. Asyik sekali kami mengobrol bertukar kabar. Namun, keasyikan itu terhenti saat teman ini mengabarkan. “Keponakan saya, murid ente dulu waktu Ibtidaiyah, positif Covid. Sekarang, lagi isolasi mandiri. Semua keluarganya sementara mengungsi ke sini.”

Sejenak, wajah anak yang ganteng itu, berpostur tinggi sedang, berkulit putih, berhidung mancung, murah senyum, yang begitu hormat saat bertemu saya, berkelebat. Dalam ingatan saya sekarang, dia sedang murung. Keluarganya, pasti pula sedang gelisah dan cemas.

Allah ya Rabb.

Saya pikir sudah selesai. Telah cukup guncangan macam roller coaster itu. Belum. Pukul satu siang tadi, sahabat, guru, dan editor buku saya; Kiai Kocak VS Liberal, editor senior pada penerbit buku saya itu dirilis, positif Covid. Kabar saya terima melalui akun Facebook sahabat saya juga; Editor in Chief pada penerbit yang sama mereka bekerja. Saat ini, sang editor sedang menjalani isolasi di Wisma Atlet. Rasa benar-benar ingin menjerit.|


Saya tidak tahu, apa kita semua akan bisa bertahan atau tidak menghadapi wabah ini. Rasa cemas mengejar-ngejar bukan karena persoalan sakit dan kematian, tapi “lelah” melihat arogansi penguasa saat mula pertama wabah ini merebak. Bukan sigap menyelamatkan jiwa anak bangsa, tapi ramai-ramai melawak dengan tema Corona yang “garing”.

Dimulai dari pernyataan Presiden dengan sangat confident yang menyebut virus Corona tidak masuk ke Indonesia merespon Corona sudah merenggut korban meninggal 1.018 di Cina Daratan seperti yang disiarkan Kompas TV pada 11 Februari 2020. Pernyataan presiden ini seperti draft naskah komedi yang diturunkan menjadi dialog ketoprak humor yang diperankan para pembantu. "[Ini] guyonan sama Pak Presiden ya. Insya Allah [virus] Covid-19 tidak masuk ke Indonesia karena setiap hari kita makan nasi kucing, jadi kebal," ujar Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.

"Corona [Masuk Batam]? Corona kan sudah pergi.... Corona mobil?" ujar Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan.

"Katanya virus corona enggak masuk ke Indonesia karena izinnya susah," kata Bahlil Lahadalia, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

"Corona itu seperti istrimu, ketika kamu mau mengawini kamu berpikir kamu bisa menaklukan dia. Tapi sesudah menjadi istrimu, kamu tidak bisa menaklukkan istrimu," kata Mahfud MD.

Setali tiga uang, wakil rakyat yang menulis buku “Saya Bangga Jadi Anak PKI” juga genit, latah mengambil peran, "Itu tadi dijabarkan sama ahli paru di Metro TV kalau enggak salah saya lihat. Ini lebih bahaya MERS dan SARS dibanding itu daripada si corona, kecuali [maksudnya] 'komunitas rondo mempesona'...Bapak-bapak kalau kena korona yang itu ngeri kita. Itu korona beneran itu, korona yang membahayakan itu, komunitas rondo mempesona," ujar Anggota Komisi IX DPR RI Ribka Tjiptaning.

Apakah mereka telah kehilangan sense of disaster? Saya tidak tahu. Bisa jadi, it’s about leadership capacity, integrity. Lingkaran positif jadi makin mengecil. Begitu kata teman-teman saya dalam obrolan ringan di Telegram.

Apa mau dikata. Begitulah suara dari mulut orang-orang “berkasta” pejabat di atas yang terlanjur mereka muntahkan, polos seperti robot yang tak kenal rasa akan dosa. Bagi saya, lelucon mereka itu adalah legacy buruk sejarah bangsa ini. Entah, apakah saat ini mereka menyesalinya atau tidak, sementara korban Covid 19 terus bertumbangan setiap hari.

Lima bulan lalu, artikel bertajuk "Dying doctors. To many coffins. Indonesia late in battle against coronavirus” dimuat Los Angeles Times pada Jumat (24/4) seperti dilaporkan https://dunia.rmol.id. Sekarang, para dokter sekarat. Terlalu banyak peti mati. Indonesia terlambat berperang melawan virus corona sedang tayang di pelupuk mata.

Allah ya Rabb, biarkanlah wabah ini berlalu. Mohon perlindungan-Mu Ya Rabb. Kami benar-benar seperti di atas roller coaster sambil memandangi peti mati.

Depok, 19 September 2020.









Kamis, 17 September 2020

MUTUALISME SECANGKIR KOPI DAN SEBARIS ESAI

Bila naluri aksara sudah mulai bekerja, otak akan memerintah. Kata demi kata diurai. Antar kalimat dicarikan jodohnya. Tentu, beberapa kalimat harus diganti diksi baru. Bahkan, ada di antaranya yang tidak bisa diselamatkan. Dengan berat hati, ia harus dibuang. Kalimat utama dengan kalimat penjelasnya dipasangkan serasi. Jadilah ia paragraf sejoli yang berjalan mesra bergandengan tangan. Dan, sesapan kopi menutupnya. Sempurna.



NGOPI di perpustakaan bukan sembarang “ritual”. Bukan sekadar memenuhi selera lidah. Bukan pula hirupan relaksasi dari aromanya yang kuat an sich. Akan tetapi, ngopi di perpustakaan adalah sumber inspirasi. Imajinasi otak dan jemari. Lebih dari itu, sesapannya bagai mantra yang menggerakkan. Seduhan hasil gilingan biji dari pohon pendek berbuah kecil-kecil yang konon ditemukan pertama kali oleh penggembala kambing di Ethiopia pada abad ke-9 itu, sanggup menjadi energi buat menjadikan esai yang bisu mampu berbicara.

Pada hitungan entah yang keberapa kali, sesapannya ampuh meredakan sakit kepala. Syaraf-syaraf dan otot di sekitar leher yang kaku seakan turut pula mengendur. Mata yang seakan sudah keruh, cerah lagi. Huruf-huruf yang tampak bertumpukan di pelupuk, seolah menata sendiri posisinya di mana dia berada. Memang, obatnya bukan tablet pereda nyeri, tapi cukup secangkir kopi panas. Jari jemari lah yang kemudian mengeksekusi. Dan, lihat hasilnya. Paragraf yang semula membuat kening berkerut-kerut, menjadi bermakna meskipun sumber masalahnya hanya soal silap membubuhkan tanda baca.

Jangan ditanya bila masalahnya bukan sekadar titik dan koma. Hampir-hampir saja, secangkir kopi gagal mengurai maksud dari susunan kalimat panjang yang melelahkan. Atau pendek, tapi membingungkan. Meskipun sudah berkali-kali dibaca, pelan-pelan, tetap saja tak mengubah kejelasan. Hurufnya sama, kalimatnya pun tidak ada yang baru, tapi efeknya seperti mantra membuat lupa. Semakin ia dibaca berulang-ulang, semakin jauh tersesat tak tahu jalan pulang.

Jika sudah begitu, masalahnya bukan pada kopi, tetapi pada paragraf dan peminum kopi yang sudah kelelahan. Kopi pun ditambah dosisnya. Disesap lagi sehirupan demi sehirupan sambil mengambil jeda. Sementara, tukar suasana dulu dari meja yang kaku. Pergi sejenak buat melempar pandangan ke luar jendela. Jika pas suasana sedang hujan, itu pertanda baik. Sebab, biasanya, memandangi tetesan air dari langit itu kadang ampuh mengembalikan mood. Suara gemuruhnya jadi terapi otak yang mulai jenuh. Sejenak menikmati suasana hujan dengan gembira, bak camilan pendamping kopi. Sabar menunggu beberapa menit, sampai naluri aksara akan bekerja lagi.

Bila naluri aksara sudah mulai bekerja, otak akan memerintah. Kata demi kata diurai. Antar kalimat dicarikan jodohnya. Tentu, beberapa kalimat harus diganti diksi baru. Bahkan, ada di antaranya yang tidak bisa diselamatkan. Dengan berat hati, ia harus dibuang. Kalimat utama dengan kalimat penjelasnya dipasangkan serasi. Jadilah ia paragraf sejoli yang berjalan mesra bergandengan tangan. Dan, sesapan kopi menutupnya. Sempurna.

Esai itu singkat, ringan, dan bebas. Sesingkat merenung, seringan menikmati kopi, dan sebebas merefleksi. Hanya saja, saat ia dituliskan menjadi wacana di atas kertas, di sinilah masalah bermula. Secangkir kopi panas tidak akan bisa menolong mewujudkannya apabila belum pernah sekalipun serius menulis karangan bebas. Memang demikian. Orang boleh berkata berkali-kali bahwa menulis itu gampang, tetapi tak segampang menyeduh kopi. Gampang dalam konteks ini berlaku bagi pembelajar, yang keras berlatih, dan membiasakan menulis. Menyeduh kopi pun bila dilakukan sembarangan, bisa jadi citarasanya rusak tak senikmat hasil racikan tangan orang yang terlatih.

Esai itu tulisan gembira seperti gembiranya perasaan saat menikmati secangkir kopi. Orang dengan esainya merdeka menganalisis dari sudut pandang pribadi. Leluasa menilai sesuatu dari kearifan reflektif yang menyeruak dari pikirannya tanpa beban. Ia bukan tulisan semacam makalah, bukan pula tulisan laiknya skripsi yang bertebaran ratusan kutipan, rujukan, teori, atau bukti literatur autentik yang berbaris-baris pada catatan kaki dengan pola mekanis. Tidak, tidak demikian. Bolehlah sekali dua kali mengutip, tapi biarkan suara hati bekerja lebih sering daripada terikat dengan kutipan yang membelenggu.

Esai itu lentur. Gaya penulisannya tidak kaku. Jadi, jangan tergoda menulis yang terlalu teoretis dengan sering mengutip data-fakta atau informasi yang tidak perlu. Jika terjebak pada kutipan tak perlu, penulisan menjadi bertele-tele dan terkesan menggurui. Tulisan jadi melebar kemana-mana. Sekali lagi, esai itu tulisan opini yang sifatnya sangat subjektif. Penulisnya bebas menulis apa pun dari sudut pandang pemikiran dan pemahamannya.

Oleh karena esai adalah hasil perenungan dalam bentuk wacana, apakah penulisnya mesti merenung dulu? Betul, dan apa susahnya merenung. Adakah orang yang tidak pernah merenung seumur hidupnya? Rasanya hampir tidak ada. Manusia itu makhluk berpikir, maka setiap orang pasti pernah merenung. Meskipun sepintas saja, tetaplah disebut merenung. Memang tidak harus lama. Sesuai kadar objek yang direnungkan saja. Harap juga dibedakan antara merenung dan menghayal.

Namun, jangan berhenti hanya merenung lalu selesai sambil manggut-manggut. Duduklah yang rileks di depan piranti menulis. Tuangkanlah segera. Ikat ia dengan kata, kalimat, dan paragraf. Lalu, susun dengan alur berpikir yang menunjukkan kejelasan, keringkasan, ketepatan, kepaduan, dan ketuntasan. Syarat-syarat itu sudah cukup membuat tulisan dipahami pembaca. Nanti kalau sudah terbiasa, tambahkan lagi efeknya bukan saja sekadar pembaca mengerti, tapi buatlah pembaca terhibur.

Kata seorang maestro ilmu menulis, tulisan yang bagus itu punya tiga daya; daya gugah, daya ubah, dan daya pikat. Entah, apakah tiga daya itu bisa “dicicil” atau merupakan paket komplit di mana ketiganya menjadi syarat sebuah tulisan dikatakan bagus. Akan tetapi, karena sasaran tulisan adalah hati, pikiran, dan emosi pembaca, memang dia harus menggugah, mengubah, dan memikat, sekecil apapun daya-daya itu memengaruhi pembaca.

Kata maestro yang sama, para penulis itu sejatinya merdeka. Paling tidak pikiran dan perasaannya. Kalau belum merdeka, pasti ia sedang terbelenggu kepentingan: beras, bensin, dan benci. Para penulis itu sejatinya pejuang. Paling tidak mereka sedang memperjuangkan kebahagiaan. Kalau tidak berbahagia, berarti mereka tengah didera kepandiran.

Membaca dan memperbaiki naskah pun, butuh kemerdekaan pikiran dan perasaan. Dia juga harus bahagia. Kalau tidak merdeka dan bahagia, bagaimana nasib naskah yang diperbaikinya nanti. Jadi, bukan saja penulis yang harus bahagia, merdeka perasaan dan pikirannya, editor pun demikian. Seorang editor yang belum merdeka dan tidak bahagia, sebaiknya merdeka dan berbahagialah dahulu, baru mengedit naskah. Kemerdekaan dan kebahagiaan itu juga kadang tidak mahal, cukup dengan secangkir kopi panas dengan uapnya yang mengepul menebar aroma unik.

Kopi, menulis, dan editor kadang seperti saudara kembar—tentu, tentu saja ini berlaku bagi penulis atau editor penyuka kopi. Ia seperti membebaskan pikiran dan perasaan dari “ketakutan” menyusun kata, kalimat, dan paragraf. Memang, salah satu kendala tak mau tergerak untuk menulis adalah ketakutan: takut jelek, takut salah, dan takut dibaca orang. Apalagi jika tulisan itu dilombakan, daftar ketakutan biasanya bertambah panjang.|



Baiklah. Jadi, saya sedang bahagia. Kemarin, dami buku kumpulan tulisan dari hasil lomba menulis di lingkup Madrasah Pembangunan saya terima dan sedang saya baca ulang. Lomba ini digagas Perpustakaan Madrasah Pembangunan pada event Pesta Literasi 2019. Pesta Literasi 2019 mengangkat tema All About MP menyambut HUT Ke-46 MP. Pada mulanya, karangan yang dilombakan tulisan berbentuk esai. Akan tetapi, tulisan yang masuk lebih dari sekadar esai. Esai plus, begitulah kira-kira.

Saya berterima kasih kepada dua tokoh yang kami mintakan kesediaannya untuk menilai naskah yang kami terima; Bapak Bambang Trimansyah, Direktur Lembaga Sertifikasi Profesi Penulis dan Editor Profesional (LSP PEP) dan Dr. Tantan Hermansah, M.Si., dosen Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Ketua Bidang Inovasi dan Pengembangan Pendidikan pada Yayasan Syarif Hidayatullah Jakarta. Kedua beliau ini, sudah tidak asing dalam dunia literasi tulis menulis. Naskah Bapak dan Ibu yang memenangi lomba ini, seratus persen rekomendasi dari nilai kedua juri yang kami terima. Tidak ada campur tangan panitia lomba, apalagi kuasa buat memindah-mindah posisi siapa yang harus juara dan siapa yang harus mengalah. Dengan alasan apa pun, oleh siapa pun, dan dengan motivasi apap pun, tidak bisa. Sayembara memang mendidik kita untuk siap menang, lebih ksatria untuk siap kalah.

Ada keterlambatan rencana terbit buku ini dari jadwal semula. Sejak Covid 19 merebak, tak pelak, rencana berubah, agenda ditunda, bahkan ada agenda Perpustakaan Madrasah Pembangunan yang dibatalkan. Urusan yang lebih mendesak harus didahulukan, terutama persiapan strategi pembelajaran di masa pandemik yang banyak menyita perhatian pada persiapan penerbitan buku ini.

Sekarang, buku ini sudah ada di tangan. Jangan lupa, nikmatilah sambil minum kopi jika Anda penyuka kopi.

Salam literasi.