A homepage subtitle here And an awesome description here!

Selasa, 25 November 2025

Hari Guru dan Labirin Low Politic



Biarlah, menggunting itu tugasnya para penjahit dan tukang cukur saja, memangsa karakternya raja hutan saja. Jangan kau menggunting, jangan kau memangsa. Bila levelmu belum sampai maqom mu’allim, jadilah mudarris yang ketiadaanmu dirindukan siswa dan kehadiranmu diinginkan sejawat.

Selamat Hari Guru untuk Abdul. Ehehehehe. Sekali-sekali mengucapkan selamat untuk diri sendiri. Lucu juga, sih. Tapi, ya, mau gimana, emang saya guru. Meskipun boleh jadi belum memiliki “Jiwa Guru”. Selamat Hari Guru juga untuk kerabat; Ida Karimah, Mas Hery, Isy Karimatunnisa, Fikra Hawa, dan Mikal Zidna Fajwah. Juga untuk semua sahabat saya yang berprofesi guru. Selamat Hari Guru, ya. Semoga terus bahagia. 

Nah, Jiwa Guru ini mahal. Hanya “guru beneran” yang bisa memiliki perangkat lunak ini. Tentu, memiliki Jiwa Guru tidak bisa dibeli dengan uang, ditukar dengan gelar akademik, digadai oleh SK jabatan struktural di sekolah, atau hadiah karena koneksi sebab dekat dengan pengambil kebijakan. Bukan. Jiwa Guru itu hadir sendiri karena keikhlasan, penghayatan pada peran, dan amanah pada tanggung jawab ilmu dan pengabdian. 

Di Hari Guru 2025 ini, saya kok tertarik dengan sebuah artikel di https://www.albayan.ae/. Judulnya itu, loh: “Al-Mudarris wa Al-Mu’allim”, Pengajar dan Pendidik. Amany Fathi—sang penulis—memulai artikelnya dengan pertanyaan cukup penting. “Di mana dan bagaimana kita dapat menemukan seseorang yang melampaui tugas profesionalnya semata sebagai “pengajar (mudarris)” menuju sebutan “pendidik (mu‘allim)”? 

Fathi berpendapat, bahwa seorang pengajar pada umumnya bukanlah seorang pendidik yang berhasil. Adapun pendidik adalah “sayyidul mudarrisin”, penguasanya para pengajar. Perbedaan yang mendasar, mengajar hanya sebatas menyampaikan materi pelajaran kepada para siswa dengan cara apa pun, dan tugas ini terbatas pada studi dan pencapaian ilmiah lebih daripada aspek lainnya. Sementara pendidik adalah pengajar sekaligus pembina, pembimbing, ayah, saudara, dan sahabat—yang selalu ditemukan siswa di sisinya dalam semua situasi dan berbagai keadaan. 

“Lābudda an natakhallā fī dākhilinā ‘an waṣf al-mudarris, wa nartaqiya jamī‘an ilā musammā al-mu‘allim, wa nujassidahu qawlan wa fi‘lan, wa huwa ḥaqqan mā yaḥtājuhu al-ṭalabah.” Kata Fathi lebih tegas. Artinya lebih kurang begini: “Kita harus melepaskan dalam diri kita sebutan “pengajar (al-mudarris)” dan naik bersama menuju sebutan “pendidik (al-mu‘allim)”, serta mewujudkannya dalam ucapan dan tindakan. Itulah yang benar-benar dibutuhkan para siswa.”

Berat, berat ini.

Sependek pemahaman saya yang terbatas memahami maksud tulisan Fathi ini, boleh jadi, seorang mudarris masih akrab dengan anasir-anasir yang tidak terhubung langsung dengan kebutuhan siswa. Beda dengan mu’allim yang benar-benar fokus mendampingi siswa-siswa yang—dianggap—nakal, pemalu, lemah, tidak peduli, dan berbagai karakter di samping kecerdasan, bakat, dan minat yang berbeda-beda. 

Seorang muallim memperlakukan mereka sebagai anak-anaknya, sebagai amanah yang dipikulkan di pundak yang tak terelakkan. Boleh jadi, karena muallim ibarat memilih profesi para nabi untuk berdiri di sisi mereka. Maka, seorang muallim lah yang umumnya memiliki Jiwa Guru, sebagaimana jiwa-jiwa para Nabi yang diserap sebatas sisi manusiawinya.

Zaman terus berubah. Harus diakui, perubahan zaman itu sedikit banyak membawa pada pergeseran nilai-nilai, tidak terkecuali pada alam pendidikan. Dahulu, pendidik adalah segalanya dalam kehidupan seorang murid; ia merupakan teladan pertama, tempat kepercayaan yang tak tertandingi, dan sosok yang dihormati serta dihargai oleh semua orang. Sifat-sifat ini dibangun pendidik untuk dirinya melalui perilaku yang ia jalani dengan ketulusan, rasa tanggung jawab, dan amanah. Namun hari ini keadaan tampak berbeda, dan kita semua melemparkan kesalahan pada perkembangan dan perubahan gaya hidup, serta pada generasi masa kini. Dan hal itu benar, tetapi hanya sebagian. 

Jangan lupa, manusia tetaplah manusia; jiwa manusia masih merupakan jenis yang sama sejak Adam ‘alaihi as-salām dan tidak berubah. Perilaku manusia juga tetap serupa di seluruh dunia. Jadi, apa sebenarnya yang terjadi? Dan lagi-lagi, Fathi seperti mencabik kesadaran bahwa Jiwa Guru boleh jadi belum menyatu dalam diri saya bersamaan Hari Guru hari ini. Sebab kata Fathi, pendidik lah yang telah menanggalkan senjatanya, melepaskan perangkatnya, dan meninggalkan wibawanya. 

Maka, seharusnya betapa malu setiap kita yang diberi Selamat Hari Guru membaca artikel Fathi hari ini bilamana ia masih bermain-main dengan anasir-anasir yang memalingkan wajahnya dari tugas-tugas mendidik menjadi sekadar mengajar. Apatah lagi masuk dalam labirin “Low Politic” yang secara vulgar dan agresif menggunting dalam lipatan, “memangsa” teman sejawat. 

“Hai, Abdul! Biarlah, menggunting itu tugasnya para penjahit dan tukang cukur saja, memangsa karakternya raja hutan saja. Jangan kau menggunting, jangan kau memangsa. Bila levelmu belum sampai maqom mu’allim, jadilah mudarris yang ketiadaanmu dirindukan siswa dan kehadiranmu diinginkan sejawat.” Begitulah nurani saya bicara sendiri.

Selamat Hari Guru Nasional 2025 para guru. Bahagia dan sejahteralah dari dunia sampai akhirat. Aamiin.

Ciputat, 25 November 2025.

Laboratorium MIPA Jabir ibn Hayyan Madrasah Pembangunan UIN Jakarta.



Senin, 27 Oktober 2025

5 Alasan Santri Harus Menulis

Sharing menulis dengan santri Muhammadiyah Boarding School Ki Bagus Hadikusumo. Foto milik Media Informasi MBS.

Literasi menulis sebagai distingsi MBS Ki Bagus Hadikusumo. Ia akan menjadi pembeda dari semua MBS, bahkan dari semua pondok pesantren milik Muhammadiyah seantero negeri.

Rabu berlalu, 22 Oktober 2025 kemarin adalah Hari Santri Nasional. Bagi dunia pesantren, Hari Santri seperti “Hari Raya” meskipun tidak sesakral Idul Fitri atau Idul Adha. Akan tetapi, substansi sebagai “Hari Raya”, Hari Santri sebangun dalam ekspresi ungkapan gembira dan rasa syukur. Perlu ditegaskan, bukan dalam konsep tasyri’ yang dimaksud sebagai “Hari Raya” pada Hari Santri di sini.

SMP Muhammadiyah Boarding School (MBS) Ki Bagus Hadikusumo, Jampang, Bogor menggelar pun upacara pada Hari Santri. Boleh jadi, nuansa upacara di SMP MBS Ki Bagus Hadikusumo dan di pondok-pondok Muhammadiyah berbeda nuansanya dari pondok-pondok milik NU, PERSIS, atau pondok-pondok lain sesuai warna, dan karakter masing-masing saat Hari Santri diperingati.

Usai upacara, SMP Ki Bagus Hadikusumo menggelar seminar menulis. Ini sesuatu banget. Sebagai pondok Muhammadiyah yang mengusung tagline Berkemajuan, literasi menulis sepantasnya menjadi kebutuhan mendesak bagi santri MBS Ki Bagus Hadikusumo. Maka, mengagendakan Hari Santri Nasional dengan seminar Literasi Menulis seperti kemasan dan isi yang sangat serasi.

Sejujurnya, agak “kelabakan” diberi kesempatan menyampaikan materi seminar kamarin itu. Rasanya kurang maksimal karena waktu persiapan yang singkat. Namun, “daya tarik” dunia kepenulisan yang bikin nagih, saya penuhi juga kesediaan hadir di MBS berbekal pengalaman acara yang sama di kesempatan yang lalu-lalu di berbagai forum. Dan, mendapati tiga ratusan lebih santri mengikuti seminar ini, saya mengira-ngira, Dewan Mudir sedang mempertimbangkan literasi menulis sebagai distingsi MBS Ki Bagus Hadikusumo. Ia akan menjadi pembeda dari semua MBS, bahkan dari semua pondok pesantren milik Muhammadiyah seantero negeri. Why not, Abah?

Bila sejenak kita menengok karakteristik Peradaban Islam, ia berbicara pada akal dan hati sekaligus, membangkitkan perasaan dan pemikiran dalam waktu yang sama — dan ini merupakan keistimewaan yang tidak dimiliki oleh peradaban mana pun dalam sejarah (Al-Siba’i, 1999: 70-75). Karena itu, menulis sebagai produk akal dan hati merupakan ciri dari peradaban Islam, peradaban ilmu. Ilmu pengetahuan itu sendiri dihimpun secara sistematis dalam koleksi buku dan kepustakaan Islam sehingga peradaban Islam dapat disebut sebagai peradaban buku atau peradaban teks yang berasal dari al-Qur’an (El-Fadhl, 2020: 6).

Maka tidak heran, perpustakaan dalam peradaban Islam masa keemasan baik di Timur (Baghdad, Mesir, dan Syam) maupun di Barat (Andalusia) menyimpan koleksi buku yang sangat melimpah. Khazain al-Qushur yang dibangun Khalifah al-Aziz (Daulah Fathimiyah) punya kapasitas 40 ruangan besar dengan jumlah koleksi kepustakaan mencapai 1.600.000 (satu juta enam ratus ribu buku, dokumen, manuskrip, dan lain-lain). Dari jumlah koleksi itu, 600.000 (enam ratus ribu) di antaranya terdiri dari buku-buku teologi, tata bahasa, kamus dan ensiklopedia, kebudayaan, sejarah, geografi, astronomi, matematika, dan kimia. Khusus buku-buku mengenai matematika dan astronomi, terdapat 6.000 (enam ribu) buku. Buku-buku lainnya terdiri dari salinan (copy) dari berbagai subjek, baik salinan buku-buku keagamaan, sejarah, dan sastra (Hak, 2020: 138).

Bayt al-Hikmah (House of Wisdom), perpustakaan era Abbasiyah memiliki beragam koleksi dari berbagai bahasa seperti Arab, Yunani, Sansekerta, dan lainnya. Koleksi perpustakaan ini tercatat dalam kitab al-Fihrist dan al-Kasfī karya Hajj Khalifah. Dalam al-Fihrist karya Ibn al-Nadīm juga disebutkan bahwa jumlah koleksi Bayt al-Hikmah mencapai lebih dari 60.000 (enam puluh ribu) buku, jumlah yang sangat fantastis untuk ukuran masa itu. Bahkan penataan buku-buku di perpustakaan Bayt al-Hikmah—selain yang menjadi milik khalifah—diatur berdasarkan klasifikasi ilmu pengetahuan (subjek) yang disusun oleh Ibn al-Nadīm (Rohana dkk., 2021:15–33).

Khalifah al-Hakam II pada dekade akhir abad ke-10 M membangun perpustakaan di Cordova, Perpustakaan Khalifah al-Hakam II. Jumlah koleksinya mencapai 400.000 (empat ratus ribu) koleksi buku. Menurut Mehdi Nekosten, jumlah koleksinya lebih besar lagi, mencapai 600.000 (enam ratus ribu), diperuntukkan bagi publik. Selain bukti jumlah nominal, kebesaran dan kelengkapan perpustakaan ini digambarkan juga dengan sebuah legenda bahwa “tidak ada buku yang tidak dapat ditemukan dalam perpustakaan al-Hakim ini.”(Hak, 2020: 136).

Karena ini, saya punya alasan keharusan menulis. Alasan itulah yang saya beberkan dalam seminar singkat kemarin dengan keywords; mengapa santri harus menulis. Pertama, menulis itu melanjutkan tradisi para ulama. Ulama itu sangat dekat dengan dunia santri. Dan santri, sangat dekat dengan karya-karya tulis para ulama, bukan? Jadi, mengapa santri belum juga menggerakkan pena secara serius melanjutkan tradisi para ulama dalam khazanah peradaban Islam?

Abdul Fattah Abu Ghuddah dalam karyanya Qīmatuz-Zamani ‘inda al-‘Ulamā’, menyebut Imam Ibnu Jarir —penulis tafsir al-Thabari dan Tarikh al-Thabari—menulis setiap hari sebanyak 14 lembar. Jika dihitung jumlah hari dalam 72 tahun masa hidup beliau dikalikan dengan 14 lembar per hari beliau menulis, maka total karya yang beliau tulis mencapai sekitar 358.000 lembar (Abu Ghuddah, 2012: 78). Ajiib!

Imam al-Zuhri, bahkan menulis segala sesuatu yang ia dengar. Ketika kemudian orang-orang membutuhkan ilmunya, semua orang menyadari bahwa Imam al-Zuhri adalah orang yang paling berilmu di antara manusia. Saking gandrungnya Imam al-Zuhri menulis, sampai sedang melaksanakan thawaf pun, beliau membawa papan atau lembaran-lembaran catatan dan ditertawakan sahabat al-Zuhri  sebab kebiasaan menulisnya itu (adz-Dzahabī, 2012: juz 5, hal. 332).

Kedua, dunia santri adalah dunia ilmu, dunia belajar, sedangkan menulis memperdalam dan mengokohkan ilmu. Imam Malik menyarankan, seorang penuntut ilmu harus menulis sebagai cara mengikat ilmu yang sudah dipelajari. Kata beliau:

Al-‘ilmu ṣhaidun wa al-kitābatu qayduhu
Qayyid ṣuyūdaka bil-ḥibāli al-wāthiqah
Famina al-ḥamāqati an taṣīda ghazālah
Wa tatrukuhā bayna al-khalā’iq ṭāliqah
(Syāhīn, 2017: 259).

Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya
Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat
Termasuk kebodohan kalau engkau memburu kijang
Setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja.

Dengan kebiasaan menulis, santri tidak akan kehilangan jejak ilmu yang telah dipelajari di kala ia lupa. Bilamana suatu saat ia lupa, tulisan bisa membantu mengingat kembali.

Memang, tampak ada hubungan yang kuat antara sifat lupa manusia dan menulis. Akan tetapi, sebagaimana sering disebut banyak orang: Innahu mina an-nisyāni, wa summiya al-insānu insānan li nisyānihi—sesungguhnya (nama itu) berasal dari kata lupa (nisyān), dan manusia dinamakan insān karena sifat lupanya—secara linguistik dipertanyakan oleh Ibnu Miskawaih.

Iinsān—berasal dari kata “al-uns” yang bermakna “keakraban” atau “keserasian”. Hal itu karena manusia secara fitrahnya cenderung akrab dan bersosialisasi, bukan makhluk yang liar dan menjauh. Dari sifat itulah nama insān (manusia) diserap dalam bahasa Arab, kata penulis kitab Tahẕīb al-Akhlāq ini.

Demikian pula komentar Ibnu al-Jauziyah yang mengoreksi kata insān sebagaimana pendapat sebagian orang—berasal dari kata nisyān (lupa), dan bahwa manusia dinamakan insān karena sifat lupanya, begitu pula nās (manusia) dinamakan demikian karena mereka suka lupa”—maka pendapat ini tidaklah benar sama sekali. (Ibnu al-Qayyim, 1989: 101).

Meskipun demikian, sifat lupa yang melekat pada manusia, adalah bagian dari sunnatullah bahwa menulis itu penting terlepas dari masalah linguistik ada atau tidak hubungan antara insān dan nisyān.

Ketiga, menulis melatih berpikir kritis dan terstruktur. Sebenarnya, berpikir kritis dan terstruktur sudah menjadi pola pengajaran di pondok pesantren. Santri juga belajar Mantiq sebagai landasan berpikir kritis dan terstruktur. Hanya saja, kemampuan berpikir kritis dan terstruktur itu lebih dominan diekspresikan lewat orasi (khitobah), saat mereka muzakarah, dan menyampaikan argumentasi (istidlal) yang meyakinkan saat membahas suatu masalah dalam tradisi pesantren.

Sementara, berpikir kritis dan terstruktur melalui media tulisan masih belum tumbuh subur di kalangan santri. Seyogyanya,  santri pondok-pondok Muhammadiyah ibarat HAMKA-HAMKA muda zaman milenial meskipun pada ujungya tidak seluruh santri punya passion menulis. HAMKA adalah prototype kaum santri yang fasih lisan dan penanya. Nûn, wal-qalami wa mâ yasthurûn harusnya bukan hanya ayat suci yang menjadi slogan santri Muhammadiyah, melainkan spirit menulis yang hidup karena ujung pena mereka yang terus menari-nari.

Keempat, menulis termasuk bagian dari dakwah. Bahkan, jangkauan dakwah lewat media tulisan mampu menembus dinding-dinding primordial, batas wilayah, serta ruang dan waktu. Apalagi di era keterbukaan hari ini di mana orang bisa mengakses informasi yang nyaris tanpa tidur, kehadiran tulisan yang bermuatan dakwah amat diperlukan. Hindun binti Musthafa Syarifi menegaskan, sesungguhnya penulisan ilmu membantu para dai untuk menyebarkannya ke berbagai penjuru bumi, karena mudahnya ilmu itu dipindahkan di antara manusia—terutama pada masa modern (Syarifi, 2016). Maka, Santri dengan kemampuan dakwahnya, dengan khazanah literatur turats yang melimpah akan sangat membantu rujukan dakwah lewat tulisan. Tulisan santri di internet, nilainya akan berbeda dari tulisan seorang content creator belaka.

Kelima, menulis menjaga warisan pesantren. Banyak kearifan pesantren, kisah kyai, metode ngaji, dan nilai adab yang akan hilang jika tidak ditulis. Dengan menulis, santri mendokumentasikan sejarah dan tradisi pesantren, agar tetap hidup dan dikenal generasi berikutnya.

Ayo santri MBS Ki Bagus! Jadikan literasi menulis sebagai distingsi keunggulan santri milenial.

Di antara Ustaz Ajat Sudrajat, S.Pd.I Kepala SMP Muhammadiyah Boarding School Ki Bagus Hadikusumo dan Ustaz Restu Kurniawan Wibawa, Media Informasi MBS.  Foto milik divisi Media MBS.

Depok, 27 Oktober 2025.
Ba'da Isya yang sejuk, lewat pkl. 00.16, sedangkan mata tak jua bisa dipejamkan.


Rujukan:


Abu Ghuddah, Abdul Fattah. 2012. Qīmatuz-Zamani ‘inda al-‘Ulamā’. Beirut: Dar Al-Basyair Al-Islamiyah.
adz-Dzahabī, al-Imāmi Syamsi ad-Dīn Muḥammadi bni Aḥmadi bin ‘Uṯmān. 2012. Siyar A‘lāmi an-Nubalā’. Beirut: Muassasah Al-Risalah.
al-Jauziyah, Ibnu al-Qayyim. 1998. Tafsir Al-Mu'awwidzatain. tanpa kota: Dar al-Hadits.
Al-Siba’i, Mustafa. 1999. Min Rawa’i Hadharatina. Beirut. Dar Al-Warraq.
binti Mustafa Syarifi, Hindun. 2016. ”Al-Dakwah bi al-Kitabah”. https://www.alukah.net/sharia/0/98523/الدعوة-بالكتابة-وسيلة-الكتابة-الدعوية/. Diakses pada 24 Oktober 2025.
El-Fadl, Khalid Abou. 2002. Musyawarah Buku: Menyusuri Keindahan Islam dari Kitab ke Kitab. terj. Abu Abdullah. Jakarta: Serambi, 2002.
Hak, Dr. Nurul, M.Hum. 2020. Sains, Kepustakaan, Dan Perpustakaan Dalam Sejarah Dan Peradaban Islam (Klasik, Pertengahan, Modern). Pati. Maghza Pustaka.
Rohana, R., Lubis, L., & Ridwan, R. (2021). Gerakan Penerjemahan Sebagai Bagian Aktivitas Dakwah dan Keilmuan di Dunia Islam (Tinjauan Historis Gerakan penerjemahan pada Masa Khalifah Harun Ar-Rasyid dan Khalifah al-Ma’mun). Jurnal Ilmu Perpustakaan (Jiper), 3(2), 15–33. https://doi.org/10.31764/jiper.v3i2.4418. Diakses pada 25 Oktober 2025.
Syāhīn, Muḥammad ‘Abd as-Salām. 2017. Ḥāsyiyatu asy-Syaikh Ibrāhīm al-Bayjūrī ‘alā syarhi al-‘Allāmah Ibn al-Qāsim al-Ghazzī ‘alā matni asy-Syaikh Abī Syuja‘. Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah.



Rabu, 24 September 2025

Autentik Teacher

Berada di antara peserta didik, Asni Rusli mahasiswi IIQ peserta PLP, dan Dosen Pembimbing Eka Naelia Rahmah, MA. Foto milik Asni Rusli.

Setelah menyelesaikan kuliahmu nanti, pulanglah. Makassar butuh guru SKI seperti kamu. Kamu bukan pseudo teacher, kamu autentik teacher.
HARI ini, Rabu 24 September 2025, hari terakhir mendampingi mahasiswi IIQ (Institut Ilmu Al-Qur’an) Jakarta. Asni Rusli menyelesaikan program Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) dengan catatan kemajuan yang sangat berarti. Mumtazah.

Asni hanya salah satu mahasiswi IIQ Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama semester 7 (tujuh) dari beberapa pendahulunya yang mengambil lokasi Madrasah Pembangunan sebagai laboratorium praktik mengajar yang saya dampingi. Asni meninggalkan kesan tersendiri buat saya bahwa seorang guru seharusnya memang seorang pembelajar. Asni menunjukkan indikasi demikian.

Asni berhasil melalui proses kemajuan terampil mengajar Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) yang sangat baik. Setiap pertemuan saya catat kelebihan dan kelemahannya. Kelemahannya saya minta diperbaiki pada pertemuan berikutnya. Kelebihannya harus diperkuat dengan inovasi baru meskipun skalanya kecil semisal mengganti metode pembelajaran. Asni mampu menerjemahkan masukan-masukan itu pada kelas berikutnya.

Saya harus katakan ini. Bagaimanapun, saya pernah menjalani proses—dahulu namanya program PPL—pada 25 tahun yang lalu saat mengambil fakultas dan jurusan yang sama di UIN Jakarta. Pertama kali masuk kelas menjalani program ini, calon guru yang masih hijau —belum punya pengalaman real teaching—banjir keringat dingin sekujur dahi. Dua jam pelajaran yang hanya 80 menit seakan berlangsung berjam-jam lamanya. Akan tetapi, di tangan Guru Pamong yang smooth—seperti pamong saya dulu—semua proses bisa dijalani. Keringat dingin perlahan hilang, percaya diri tumbuh, bahkan punya tempat di hati peserta didik.

Saya tidak tahu kesan Asni saat saya mendampinginya dalam 15 kali pertemuan sebelum ia ujian. Dalam catatan saya, Asni terampil memanfaatkan berbagai pendekatan mengajar, penilaian autentik berbasis digital, dan memadukan games dan pembelajaran. Dan, ini kata kunci capaian Asni di PLP-nya. Rasanya, saya perlu banyak belajar lagi. Karena itu, Asni tidak pernah saya ditempatkan sebagai pseudo teacher di kelas saya.

Mengapa?

Umumnya, siswa menilai SKI subjek yang amat membosankan, susah, dan tidak menarik. Akan tetapi, Asni berhasil keluar dari spektrum itu dan berhasil menyajikan pembelajaran SKI dengan begitu menyenangkan. Sejak lima menit pertama ujian sampai akhir jam belajar, peserta didik masih riang, aktif dari satu aktivitas kelompok beralih menyelesaikan evaluasi berbasis games. Asni cerdik memanfaatkan jam belajar krusial dengan kecenderungan siswa seusia kelas tujuh yang umumnya menyukai games.

Apa penilaian saya pada Asni berlebihan? Tidak. Inilah pengalaman pertama saya menjadi Guru Pamong di mana pada akhir sesi, beberapa siswi menangis sebab Asni pamit bahwa hari ini adalah kesempatannya mengajar yang terakhir. Ada yang memeluk Asni, meminta tanda tangan, dan apalah lagi saya tidak tahu karena izin lebih dahulu meninggalkan kelas beberapa menit setelah bel berbunyi.

Kepada Dosen Pembimbing Asni, Eka Naelia Rahmah, MA saya sampaikan harapan agar Asni diarahkan konsentrasinya untuk mengambil SKI sebagai subjeknya nanti. Feel Asni sebagai guru SKI sudah dapat sejak ia baru mengikuti program PLP. Saya percaya, semua guru dengan mengampu subjek apa pun harus kreatif, inovatif, dan adaptif dengan perkembangan teknologi. Asni sudah cukup potensial di sini.

Eka Naelia Rahmah, MA yang juga dosen SKI, semoga melihat Asni seperti penilaian saya hari ini.

Selamat Asni. Setelah menyelesaikan kuliahmu nanti, pulanglah. Makassar butuh guru SKI seperti kamu. Kamu bukan pseudo teacher, kamu autentik teacher.

Rabu, 24 September 2025

Catatan guru SKI. Cepat sekali waktu bergulir. Rasanya usia sudah di ujung karier.



Minggu, 21 September 2025

Momen Literasi Dan Pak Tohir


Dari kiri ke kanan: Artawijaya, Pustaka Al-Kautsar (moderator), Ahmad Faris BQ (CEO ImanPath), Hikmat Kurnia (Ketua IKAPI DKI Jakarta), dan Hadi Nur Ramadhan (Founder Pusdok Tamaddun) dalam Milad & Launching Buku Otobiografi Tohir Bawazir “Menerbitkan Kebenaran”. Foto milik Artawijaya.

Bila mikroskop atau teleskop adalah perpanjangan dari penglihatan, telepon perpanjangan dari suara, maka buku “Menerbitkan Kebenaran” adalah perpanjangan ingatan dan imajinasi Pak Tohir sepanjang usianya sekarang.

PADA Kamis, 4 September 2025, permohonan wawancara melalui pesan WA masuk ke ponsel. Dikirim oleh seorang guru SMA Swasta di Depok.Wawancara dibutuhkan untuk siswa yang sedang mengikuti program Exploring Dream Career. Siswa kelas 10 di sekolah tempatnya mengajar sedang membutuhkan narasumber penulis non-fiksi.

Semula ingin menolak. Pertimbangannya sederhana, rasanya belum pantas menerima permintaan wawancara untuk tema kepenulisan. Hanya karena wawancara itu untuk membantu siswa yang sedang menggarap programnya; “Exploring Dream Career“, tak kuasa menolak. Menolaknya, seperti menolak siswa sendiri. Apatah lagi, siswa ini ingin menjadi penulis.

Rabu, 10 September 2025, di lobby Madrasah Pembangunan, wawancara berlangsung hangat. Untunglah, diizinkan pula menggunakan ruang lobby yang nyaman itu untuk sesi wawancara ini. Beberapa pertanyaan kunci dan penting susul menyusul. Beberapa di antaranya soal trik, tips, dan jadwal menulis.

Saat ditanya, apakah punya jadwal khusus menulis? Saya jawab, tidak. Menulis bisa kapan saja dan di mana saja. Di kelas, di sela-sela menunggui murid mengerjakan ulangan, itu kesempatan menulis. Di kereta atau di atas pesawat saat perjalanan jauh, “jari-jari bergerak sendiri”. Apalagi pada waktu-waktu senggang, di situlah “keyboard menulis dengan sendirinya”.

Soal ide menulis, bila badan, otak, dan hati sedang fresh apa saja bisa ditulis. Tinggal dipilih, ide mana yang paling menarik dan punya values untuk diselesaikan. Jadi, waktu dan ide menulis itu fleksibel. Adakalanya ia datang sendiri tanpa diundang, adakalanya, diundang pun ia tak datang-datang. Akan tetapi, menulisnya tidak berhenti, terus saja mengalir seperti air.

Saat ditanya, apa modal utama agar bisa jadi penulis? Saya memilih modal yang paling murah; banyak membaca, telaten mengamati dan menghayati peristiwa serta fenomena, dan pengalaman melakukan sesuatu. Buku-buku fiksi maupun non-fiksi saya lahir dari sini.

Ada satu hal yang lupa saya sebut saat wawancara; yakni tidak buta huruf. Maksud dengan tidak buta huruf adalah punya skill menulis dan mau menulis. Bila skill menulis bagus tapi tidak mau menulis, tidak akan lahir itu tulisan barang satu kalimat pun. Bila kemauan menulis begitu besar yang besarnya segede gaban pun, tapi skill menulis belum punya, yang lahir cuma pertanyaan-pertanyaan: saya mau nulis apa, ya? Mulainya dari mana, ya? Setelah ini, apa lagi, ya? Kok, gak jelas gini, ya kalimatnya? Dan seterusnya, dan seterusnya. Maka, orang harus belajar dan berlatih menulis agar punya skill yang memadai untuk mewujudkan harapan menjadi penulis.


Nuraini Razak (disamping kanan saya) dan dua rekannya mendampingi sesi wawancara, Rabu 10 September 2025. Foto milik Nur Aini Razak.

Saya hampir setuju seratus persen, bahwa menulis itu bukan bakat, melainkan keterampilan. Karena menulis itu keterampilan, maka untuk menjadi terampil menulis, orang harus tekun belajar dan berlatih. Apa perlu punya guru menulis? Perlu, meskipun dengan autodidak orang bisa menjadi penulis, seperti HAMKA misalnya. Masalahnya, tidak semua orang bisa seperti HAMKA dalam hal tulis menulis.

Sesi wawancara cukup panjang. Sepersepuluh isinya disinggung di sini. Abéng Teubri, fotografer madrasah berbaik hati mengambilkan gambar kami di akhir sesi. Bila sesi foto di tangan ahlinya, yakin, tidak ada ada foto yang “tidur” sambil berdiri.|

Sabtu, 13 September 2025, Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Depok menggelar acara “Peluncuran Buku & Workshop Konten Digital”. Buku Kumpulan esai “Menjaga Nyala Api Pembaruan” tulisan kader-kader Muhammadiyah Depok diluncurkan dan dibincangkan.

Menyumbang tulisan berjudul Hilf al-Fudhul di Tanah Jawa dalam buku ini, sejujurnya untuk menjawab tesis “organisasi adalah perkara bid'ah yang tidak ada pada masa Nabi” yang sering dituduhkan sebagian saudara dari manhaj sebelah. Faktanya, pada usia 20 tahun, Muhammad SAW sudah berorganisasi sebelum diangkat menjadi rasul dengan keterlibatan beliau dalam Hilf al-Fudhul. Hampir semua kitab-kitab sirah menyinggung Hilf al-Fudhul. Jadi, dengan pendekatan sejarah, Hilf al-Fudhul sejatinya sudah menggugurkan tesis di atas.

Hanya saja, boleh jadi karena persoalan teknis, keterbatasan waktu, dan sumber daya, saat sesi perbincangan, buku “Menjaga Nyala Api Pembaruan” hanya dibincangkan “tipis-tipis”, bahkan terlalu tipis. Lain waktu, buku ini perlu dibedah lebih fokus, agak serius, laiknya acara bedah buku di mana yang dikupas benar-benar isi buku. Buku itu dikupas seperti menguliti mangga hingga keluarlah dagingnya.

Satu hal yang merisaukan, kesadaran literasi—dalam konteks menulis dan segmentasi perbukuan—anggota Persyarikatan Muhammadiyah Depok di semua level belum menampakkan kepedulian yang berbanding lurus dengan jargon yang diperkenalkan Muhammadiyah sebagai organisasi “Gerakan Pencerahan” yang gaungnya sampai ke “langit”. Sebagai anggota majelis, kerisauan itu terasa sekali, risau rasanya memanggul jargon “Gerakan Pencerahan” sementara jarak orang Muhammadiyah Depok dengan budaya literasi begitu menganga. Sedangkan pencerahan itu adalah kawan karib literasi. Sesi Tips dan Trik Menulis Sejarah Muhammadiyah Lokal yang saya bawakan pun terasa kurang greget.|

Sabtu, 20 September 2025 kemarin, berkesempatan menghadiri undangan khusus dari Penerbit Pustaka Al-Kautsar. Acara bertajuk Milad & Launching Buku Otobiografi Tohir Bawazir “Menerbitkan Kebenaran”. Acara yang digelar di Ruang HB Jassin, Lt. 4 Taman Ismail Marzuki, Jl. Cikini Raya, Jakarta Pusat agak unik bila dilihat dari angka 3 dan 6. Angka 36 usia dan milad Pustaka Al-Kautsar, angka 63 usia dan milad Pak Tohir, owner Pustaka Al-Kautsar. Dua angka yang unik dan keren bila dibolak-balik; 36 dan 63.

Undangan dikhususkan untuk para penulis, penerjemah, komikus, dan keluarga besar Pustaka Al-Kautsar. Meskipun sejak 2017 belum menulis lagi untuk penerbit ini, dihubungi via telepon oleh Ustaz Artawijaya untuk hadir, hati rasa berkembang-kembang, artinya saya masih direken. Ustaz Artawijaya, editor buku saya “Kiai Kocak vs Liberal” masih ingat saya. Ahahaha …

Sepanjang pulang, di atas Commuterline, buku “Menerbitkan Kebenaran Memilih Jalan Tengah dalam Arus Dinamika Dakwah di Indonesia” serius saya baca. Dan, tersentaklah saya, ternyata keluarga besar Pak Tohir itu masih ada aroma-aroma Muhammadiyah-nya, kuat aroma Al-Irsyad-nya. Boleh jadi, keluarga besar dari Hadramaut, Yaman, dari etnis Masyaikh ini sangat dekat dengan pemikiran Syekh Ahmad Surkati, ideolog Al-Irsyad dan pemasok pikiran-pikiran tajdidiyah. Jadi, ada dua arus pemikiran keagamaan keluarga besar Pak Tohir; Al-Irsyad dan Muhammadiyah.

Muhammadiyah dan Al-Irsyad memang punya hubungan historis yang cukup akrab. Dikisahkan, dalam perjalanan kereta api menuju Surabaya, Syekh Ahmad Surkati tertarik untuk berkenalan dengan seorang pemuda yang saat itu sedang membaca Majalah Al-Manar. Anak muda itu adalah KH. Ahmad Dahlan. Kedua tokoh ini kemudian menjalin persahabatan.

Keduanya, bahkan sempat mendiskusikan rencana mendirikan Muhammadiyah. Diskusi mereka berlanjut pada surat resmi Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah kepada Syekh Ahmad Surkati pada Maret 1938 berisi pertanyaan tentang al-din, al-dunya, sabilillah, dan qiyas. Kalangan Irsyadi menyebut jawaban Syekh Ahmad Surkati untuk surat resmi ini sebagai “Fatwa kepada PP Muhammadiyah.” Muhammadiyah sendiri menggunakan jawaban Syekh Ahmad Surkati itu sebagai salah satu acuan dalam Sidang Tarjih 1938. Pada 1941, PP Muhammadiyah juga menulis kesannya, “… pandangan-pandangannya (Ahmad Surkati) memperkuat dan mendorong kebenaran perjuangan Muhammadiyah.”

Sebaliknya, Syekh Ahmad Surkati menyebut KH. Ahmad Dahlan sebagai wali Allah Ahmad dan Nashiruddin Dahlan. Syekh Ahmad Surkati mengatakan, “… Mereka mengembangkan hasil pemikiran KH. Ahmad Dahlan sebagai wali Allah dan pembela agama yang cerdik.” (Siaran Majelis Dakwah Al-Irsyad, No. 4, 1973, hal. 22-35; lihat juga Himpunan Putusan Tarjih, PP Muhammadiyah, Yogyakarta, 1967, hal. 275-277). Narasi ini bisa dibaca pada https://www.alirsyad.or.id/ahmad-surkati-al-irsyad-dan-muhammadiyah/.

Ayah Pak Tohir, Allahuyarham Mochamad Bawazir adalah orang yang supel dalam bergaul dengan banyak tokoh agama Cilacap, baik dari kalangan NU, Masjumi maupun Muhammadiyah dan sering mendiskusikan soal-soal agama (hal. 18). Ini menunjukkan, bahwa ayah beliau adalah sosok yang sangat terbuka dalam pemikiran keagamaan.

Lebih dari itu, paman Pak Tohir, Allahuyarham Umar Bawazir adalah aktivis Muhammadiyah Kabupaten Cilacap sejak zaman Kolonial Belanda. Umar Bawazir bahkan berinteraksi dekat dengan Panglima Besar Jenderal Sudirman, putra terbaik Muhammadiyah. Akhir hayat aktivis Muhammadiyah ini patut disebut heroik, patut disebut syahid. Umar Bawazir dituduh “ekstremis”, dituduh musuh negara. Peristiwanya berlangsung pada Agresi Belanda II kisaran 1947-1948 (hal. 12-13). Umar Bawazir dikabarkan di buku Pak Tohir ini gugur ditembus peluru Belanda sebab tuduhan “londo ireng”, alias pribumi Jawa yang berkhianat menjadi kaki tangan Belanda. Innā lillāhi wa-innā ilaihi rāji‘ūn.|

Buku “Menerbitkan Kebenaran” bukan saja enak dibaca. Bahasanya mengalir. Bangunan narasinya hidup, seakan melibatkan pembaca masuk dalam setiap peristiwa. Untuk hal ini saya tidak heran, sebagai buku otobiografi di tangan seorang dengan literasi menulis yang sangat kental, menulis bukanlah soal, meskipun Pak Tohir sendiri berkata menulis itu pekerjaan susah. Akan tetapi, pekerjaan susah di tangan orang yang tepat, ia menjadi mudah.

Menghadirkan pembicara sekelas Hikmat Kurnia (Ketua IKAPI DKI Jakarta), Hadi Nur Ramadhan (Founder Pusdok Tamaddun), dan Ust. Ahmad Faris BQ (CEO ImanPath), “Menerbitkan Kebenaran” menjadi lebih hidup. Hikmat Kurnia menyebut buku ini dengan kalimat sederhana, ”Membaca Pustaka Al-Kaustar, ya, membaca Pak Tohir. Membaca Pak Tohir, ya, membaca Pustaka Al-Kautsar”.

Buku di mata Hikmat adalah perpanjangan ingatan dan imajinasi manusia. Bila mikroskop atau teleskop adalah perpanjangan dari penglihatan, telepon perpanjangan dari suara, maka buku “Menerbitkan Kebenaran” adalah perpanjangan ingatan dan imajinasi Pak Tohir sepanjang usianya sekarang.

Sudat pandang Hadi Nur Ramadhan mengingatkan saya soal kriteria buku yang bagus menurut Bambang Trim. Meskipun Hadi beranjak dari Komik “Alam Kubur” karya Abu Mahdi—nama pena Pak Tohir—tapi kriterianya ngena banget. Hadi pernah memberikan komik itu kepada seorang perempuan di sebuah tempat. Perempuan itu mengenakan rok pendek—kata Hadi, dia tidak melihat paha perempuan itu, ia hanya tahu paha perempuan itu terbuka. Haaa, dasar anak muda.

Melihat judul komik itu, perempuan itu berujar, “Mas, judul bukunya serem, ya.” Entah apa yang ada di benak Hadi, diberikannya komik itu kepada perempuan ini. Hadi mengaku punya kebiasaan mencantumkan nomor HP pada semua koleksi bukunya. Apa yang terjadi, tiga bulan setelah itu, Hadi menerima telepon dari perempuan ini yang mengaku ia sudah mengenakan hijab, tergugah dari komik Abu Mahdi. Maka, bila saya sambungkan dengan kriteria buku bagusnya Bambang Trim, buku bagus itu punya tiga daya; daya pikat, daya gugah, dan daya ubah. Hadi mengabarkan kepada kita bahwa komik “Alam Kubur” punya daya pikat, daya gugah, dan daya ubah.

Apakah otobiografi “Menerbitkan Kebenaran Memilih Jalan Tengah dalam Arus Dinamika Dakwah di Indonesia” punya tiga kriteria tadi? Saya butuh waktu untuk menyelesaikan membacanya. Akan tetapi, daya pikat sudah tampak dari cover-nya yang artistik.


Artawijaya dan Ahmad Faris BQ dalam Milad & Launching Buku Otobiografi Tohir Bawazir “Menerbitkan Kebenaran”. Foto milik Artawijaya.

Ahmad Faris BQ, penulis buku “Letters From Turkey” terbitan Salsabila, melengkapi substansi bedah buku Pak Tohir. Faris punya Islamic Historical Style yang sangat kuat sepanjang mengisi 20 menit bicara. Boleh jadi karena saya mengampu Sejarah Kebudayaan Islam di madrasah tempat saya mengajar, menikmati betul gaya Faris hari itu. Gaya Faris bicara kemarin, plek ketiplek dengan bahasanya yang renyah dalam “Letters From Turkey”. Kecerdasan verbalnya sama persis dengan kecerdasan penanya.

Sense of humor Faris juga hidup. Saat doktor lulusan Hubungan Internasional, Universitas Ankara, Turki ini bercerita tentang dialog seorang anak pada bapaknya penganut teori Darwin dan ibunya penganut paham Adam dan Hawa perihal dari mana asal-usul mereka, seperti membawa pulang tawa dari Taman Ismail Marzuki untuk diulang di kamar tidur.


Berada di antara para penulis Pustaka Al-Kautsar pada Milad & Launching Buku Otobiografi Tohir Bawazir “Menerbitkan Kebenaran”. Foto milik Artawijaya.

Bedah buku yang berkesan di akhir pekan. Begitulah seharusnya buku dibincangkan. Alfu mabruk untuk Pak Tohir dan Pustaka Al-Kautsar. Selamat Milad ke-63 dan ke-36. Semoga bertambah berkah sebab menjaga nyala api literasi untuk mencerdaskan umat. Ini seperti momen literasi untuk saya dan Pak Tohir.|

Ahad, 21 September dengan rinai hujan yang berserak-serak.

Minggu, 31 Agustus 2025

Rindu





Ilustrasi rindu, kangen. (Gambar oleh Goran Horvat dari Pixabay)

Persaudaraan bukanlah semata-mata karena darah atau nasab, melainkan lahir dari hati yang tulus saling menaruh rindu. Ia tumbuh dari keikhlasan memberi dan menerima, dari kehangatan yang hadir tanpa syarat, seakan jiwa sudah lebih dahulu mengenal sebelum raga bertemu.

Beberapa titik di Jakarta chaos sejak demo mahasiswa di gedung DPR RI 25 Agustus 2025 berakhir ricuh. Demo berlanjut. Affan, driver OJOL yang meninggal ditabrak kendaraan Rantis Brimob saat demonstrasi berlangsung pada 28 Agustus menambah daftar catatan hitam aparat kepolisian di arena demonstrasi. Tragedi Affan menyulut kemarahan draiver OJOL bergolak-golak. Situasi chaos.

Chaos meluas ke Solo, Bandung, Surabaya, dan Yogyakarta. Beberapa kota di Indonesia Timur juga chaos. Dipicu ucapan anggota dewan dari Nasdem Ahmad Sahroni yang menyebut rakyat yang meminta DPR dibubarkan sebagai “tolol” sedunia, Uya Kuya dan Eko Patrio dari PAN yang joget-joget saat tunjangan gaji anggota dewan naik, demo bermula dan menjadi bumerang.

Sahroni, Kuya, dan Eko bukan hanya memanen hujatan. Politisi artis yang mengemis suara rakyat saat Pemilu sedang menuai badai dari angin yang dia tabur sendiri. Suara hati permintaan maaf ketiganya tidak digubris, mungkin dianggap seperti suara kentut yang semakin membuat orang marah. Rumah mereka dirusak dan dijarah rakyat. Ungkapan “salamatul insan fi hifzil lisan”, bahwa keselamatan seseorang bergantung pada sikapnya menjaga lisan sedang dibuktikan lagi oleh sejarah.

Jakarta mencekam. Beberapa titik di Jakarta; Slipi, Petamburan, Senen, dan Kwitang menjadi zona merah. Perjalanan pada Jumat sore ke Pasar Senen, 29 Agustus bikin jantungku berdetak lebih keras dari biasanya.

Sepanjang berangkat, driver Grab terus memantau situasi. Beruntung sang sopir orang Sunter, Jakarta Utara dan tahu persis peta rawan Jakarta saat ini. Hatiku berkata, mengganti rencana berangkat dari Commuterline dengan Grab berisiko sangat signifikan dalam situasi seperti ini. Benar saja, jalan utama menuju stasiun Pasar Senen diblokir. Massa sudah berkumpul dari arah Timur menuju Senen, kemungkinan massa itu akan bergerak menuju titik chaos di Mako Brimob, Kwitang malam itu.

Saat mengambil rute alternatif melalui jalan Bungur, aku berbisik, kemungkinan perjalanan ke Jogjakarta batal. Beberapa ruas jalan sudah ditutup. Yang paling aku takutkan bila belum sampai di Stasiun Senen, situasi sudah benar-benar chaos dan aku terjebak tidak bisa kembali pulang.

“Mas, turunkan saya di titik paling dekat ke Stasiun Senen. Biar kami jalan kaki saja,” kataku.

Tidak ingin mengecewakan penumpang, sang sopir mengambil risiko. Melihat masih banyak motor menuju jalan yang dibokir ke arah stasiun, ia terus melaju. Ya Tuhan, keberuntungan masih bersamaku. Sampai juga di gerbang lobi stasiun. Alhamdulillah.|

Aku, Ella, dan Miray, putri kecil kami berangkat ke Jogjakarta untuk satu keperluan penting. Rencana keberangkatan dari dua bulan sebelumnya tidak bisa ditunda lagi. Ada persaudaraan menanti di Gungungkidul, ada rindu yang tertahan di Bantul, dan ada persahabatan yang harus dihangatkan lagi setelah sekian lama terpisah.

Persaudaraan bukanlah semata-mata karena darah atau nasab, melainkan lahir dari hati yang tulus saling menaruh rindu. Ia tumbuh dari keikhlasan memberi dan menerima, dari kehangatan yang hadir tanpa syarat, seakan jiwa sudah lebih dahulu mengenal sebelum raga bertemu.

Dalam persaudaraan, ada kekuatan yang selalu hadir. Saat dekat, ia menjadi penguat yang menegakkan langkah; saat jauh, ia menjadi alasan untuk saling mencari. Jarak hanya menguji, tetapi tidak pernah benar-benar memutuskan ikatan yang sudah terjalin.

Bahkan ketika berjarak, persaudaraan membuat jiwa saling merasa kehilangan. Ada ruang kosong yang tak bisa diisi selain oleh kebersamaan yang dirindukan. Namun jiwa tetap tersambung, seakan benang tak kasat mata menjaga hubungan itu tetap hidup.

Maka beruntunglah mereka yang memelihara nilai persaudaraan. Sebab dalam ikatan ini, jiwa terpanggil untuk saling membahagiakan, bukan saling menuntut. Di situlah letak keindahan; rasa dekat tanpa harus selalu bersama.|

Sabtu 30 Agustus 2025 kemarin, aku menemukan lagi ketulusan yang membahagiakan, kebahagiaan yang tidak lapuk meski kami berjauhan. Pertama dengan keluarga Ustaz Budi Nurastowo Bintriman, Allahuyarham di Gunungkidul.

Ustaz Budi dan Umi Ipit, seperti kakak tertua bagiku. Dari mereka aku belajar cara bagaimana bersyukur supaya hidup seakan tidak ada cela yang harus diratapi sesempit apa pun ujian hidup. Seolah-olah, Ustaz Budi dan Umi Ipit tidak pernah menemui jalan buntu. Ustaz Budi tetap survive meski “takdir baik” seolah tidak pernah berpihak kepadanya. Maka, kepergian Ustaz Budi yang secepat itu menjadi sosok yang selalu kurindukan kehadirannya lagi.

Selamat beristirahat dengan bahagia Ustaz, aku akan selalu menyambungkan kebersamaan kita melalui Umi, Liukan, Laskar, Liga, Lintang, dan Zaki. Atau jika satu waktu aku lalai, aku harap salah seorang dari orang-orang tercinta Ustaz ini yang menyapaku lebih dahulu.

Lalu di Jogjakarta yang kedua, Ella istriku meluruhkan kangen dengan keluarga Bude Hartinah melalui putra dan putrinya; Mas Riyan dan Mbak Nisa. Aku peluk Riyan saat bertemu dan berpisah. Ada isak bahagia Ella saat ia memeluk Nisa, gadis Bude Hartinah dan Pakde Yamta yang makin ayu dan dewasa.

Riyan yang dahulu bila bicara seperlunya saja, malam Minggu tadi malam senyumnya selalu mengembang saat kami mengobrol. Sekarang, sudah pula ia jadi laki-laki dewasa. Sebentar lagi pun, akan jadi seorang ayah, buah hati dari pernikahannya dengan gadis Bantul; Mbak Ria yang murah senyum. Selamat ya, Mas, Mbak. Semoga bayi dan kalian berdua sehat-sehat.

Dari Bude Hartinah dan Pakde Yamta, aku belajar bagaimana seharusnya bersikap kepada tetangga. Perhatiannya kepada keluargaku melebihi perhatian lazimnya status orang yang tinggal bersebelahan rumah. Mereka kerap hadir seperti saudara kandung untuk menghibur adiknya yang sedang murung. Aku banyak tahu dari Ella, istriku yang lebih banyak bergaul dengan Bude.

Meskipun Bude Hartinah dan Pakde Yamta tidak hadir, sudah cukup memuaskan rindu sejak perpisahan empat tahun yang lalu. Aku titip salam pada Riyan dan Nisa, bagaimana pun takdir yang sedang berlaku untuk Bude dan Pakde hari ini, rasa hormat kami kepada keduanya masih seperti dahulu, tidak ada yang berubah, cinta dan rindu akan selalu ada.

Malika, putriku yang berkenalan saat ia baru berumur 12 hari dengan Buda Hartinah, menyampaikan salam dan menulis surat rindu untuknya. Kami tidak tahu isinya. Barangkali, anak ini ingin mengadukan kesannya yang diperlakukan seperti anak bontot Bude dan Pakdenya.

Minggu, 31 Agustus di atas Fajar Utama Jogja.

Senin, 18 Agustus 2025

Merdeka atau Terjajah

Ilustrasi milik: https://www.goodnewsfromindonesia.id/

Jiwa merdeka jauh lebih penting daripada kebebasan seremoni.
Beragam permainan hiburan dan lomba-lomba marak tiap kali Hari Kemerdekaan dirayakan. Boleh? Boleh —dalam bahasa agama hukumnya mubah—asalkan tidak mencederai norma, kepatutan, dan moral. Yang paling penting —sayangnya poin ini sering dilupakan—hiburan dan lomba-lomba itu punya muatan edukasi.

Islam tidak melarang secara ketat soal lomba dan hiburan selama ia tidak merusak akidah, tidak melanggar syariat, dan jelas batas-batas halal dan haramnya. Silakan menggelar lomba dan menghadirkan hiburan sepanjang ia sehat dalam timbangan syariat, norma, kepatutan, dan moral. Selesai.

Momen Hari Kemerdekaan memang identik dengan kegembiraan. Dari lapangan kampung sampai lapangan istana, semuanya gembira. Ada musik, joget-joget, dan lomba-lomba. Semuanya senang, semuanya tertawa-tawa.

Dahulu, para pejuang merebut kemerdekaan dengan derai air mata, darah yang tumpah, dan nyawa yang melayang. Lalu, pengorbanan para pahlawan itu dikenang beberapa menit saja saat “Mengheningkan Cipta” pada upacara peringatan 17 Agustus. Dikirimkanlah doa untuk mereka.

Bagi muslim, kiriman doa hening cipta kadang dengan persembahan bacaan sirr surah Al-Fatihah. Lalu, paduan suara atau alunan musik kolosal lagu Mengheningkan Cipta gubahan Truno Prawit mengiring Al-Fatihah itu. Siapa saja bolehlah sekadar bertanya, sejak kapan bacaan sirr surah Al-Fatihah atau doa untuk para syuhada diiringi dengan nyanyian atau musik instrumental? 

Sebagian kalangan, prosesi ini dinilai sebagai kearifan lokal. Bacaan sirr surah Al-Fatihah dengan iringan “Mengheningkan Cipta” adalah harmoni antara wahyu sakral dan seni dalam tata upacara. Begitulah sudut pandang masing-masing orang menilai.

Hanya saja air mata, darah, dan nyawa pahlawan itu lalu hilang dalam kenangan sesaat kiriman doa “Mengheningkan Cipta” selesai. Setelah itu, scene berpindah pada euforia. Anak bangsa tenggelam dalam sorak-sorai berbagai tradisi lomba dan pesta Agustusan yang beberapa di antaranya serba hedonis. 

Ada juga anak bangsa yang memaknai Peringatan Hari Kemerdekaan itu dengan sepi dari hiruk pikuk duniawi. Ia memulainya dengan berucap “alhamdulillah” telah merdeka lalu berkarya lagi pada masing-masing bidang pekerjaan seperti hari-hari kemarin sebelum Agustusan. Ia punya definisi sendiri atas lomba dan kegembiraan.

Lomba-lomba dalam pesta kemerdekaan layaknya bunga-bunga di pekarangan rumah. Ia dipandang perlu sebagai ornamen memeriahkan dan mempercantik rumah bangsa yang sebelumnya muram karena terjajah. Akan tetapi, ada catatan kritis bilamana lomba itu melibatkan interaksi lawan jenis, bentuk-bentuk lomba yang “berbau seksual”, atau lomba yang menimbulkan  kesan merendahkan martabat perempuan.

Catatan positif untuk panitia Agustusan yang menghadirkan lomba-lomba bernuansa edukatif, memantik kreativitas, inovasi, patriotisme, dan nalar kritis. Terutama lomba untuk anak-anak usia sekolah, usia di mana otak, hati, dan tangan mereka diberi sentuhan pendidikan, nilai-nilai sosial, menghargai perjuangan jasa-jasa para pahlawan, dan akhlak mulia. Ini lebih substantif. Tentu, lomba-lomba dengan karakter demikian itu diberi nuansa spirit islami sangat patut diapresiasi.

Satu poin lagi soal lomba, soal hadiahnya. Sedianya, lomba-lomba Agustusan itu simbol kerekatan antar sesama anak bangsa. Momen merajut kebersamaan dalam suasana gembira karena merdeka. Meskipun saling bersaing untuk berebut hadiah, hadiah itu nantinya diterima dengan gembira, dengan jiwa merdeka. Karena itu, jangan sampai persoalan hadiah malah membuka “konflik” soal remeh-temeh karena nilai hadiah dipandang tidak sepadan dengan bobot jenis lomba yang dipertandingkan. 

Jangan memindahkan “konflik” kolonialisme Belanda dan Jepang yang sudah berlalu itu ke dalam hadiah lomba kemerdekaan. Karena itu, panitia perlu menyediakan keterbukaan informasi soal jenis lomba dan besaran hadiah tiap mata lomba. Pastikan informasi itu sudah diketahui dan dipahami tiap peserta sebelum lomba digelar. Jadikan dia sebagai tafsir tunggal yang menutup pendapat penitia begini, pendapat yang menang lomba begono saat hadiah sudah diterima.

Hal yang paling panting, semeriah apa pun perayaan Hari Kemerdekaan dan segembira apa pun lomba Agustusan dihadirkan, jangan lupakan hakikat kemerdekaan. Jiwa merdeka jauh lebih penting daripada kebebasan seremoni. Bagi seorang muslim, merdeka itu leluasa menerima diri sebagai hamba Allah, bukan hamba seremoni.

“Al-’ubūdiyyatu lillāhi hiya haqīqatul hurriyyah. Fa man lam yata’abbad lahu, kāna ‘ābidan lighayrih”. Penghambaan kepada Allah itu adalah hakikat kemerdekaan. Siapa saja yang tidak menghamba kepada Allah, dia itu budak (terjajah) bagi selain-Nya. Demikian ungkapan Syaikh al-Utsaimin dalam Majmu’ Fatāwa wa Rasāil Fadhīlat al-Syaikh Al-Utsaimin.

Merdeka!!!

Sehari setelah 17 Agustus 2025.

Jumat, 15 Agustus 2025

Kyai Adung is Back?

Kyai Kocak. Narasi "Wajahmu" dalam karya komik. Komik milik Vbi_Djengotten.

Dalam panggung perbukuan, setiap masa ada tokohnya, dan setiap tokoh ada masanya. Sampai hari ini, “Kyai Kocak” masih menyepi sambil menikmati kenangan masa lalu yang yang terus bergulir menjauh.
“Buku apa yang paling menarik Anda baca?

Ini pertanyaan biasa, hampir setiap pembaca bisa menjawab. Boleh jadi jawaban tiap pembaca tidak sama, bergantung latar masing-masing. Akan tetapi, lain hal bila pertanyaannya demikian: “Buku apa yang paling menarik saat Anda tulis?”

Saya punya jawaban spesifik untuk pertanyaan kedua: “Kyai Kocak”, buku ringan dengan karakter “Kyai Adung”, tokoh fiksi yang kolot, tapi cerdas, juga jail. Dari semua buku saya yang sudah terbit, “Kyai Kocak” punya tempat tersendiri.

Setidaknya ada tiga momen yang menjadikan buku ini paling berkesan buat saya. Pertama, ini debut pertama menapaki ikhtiar menjadi penulis. “Kyai Kocak” adalah representasi isi pikiran saya merespons sekulerisme, pluralisme, dan liberalisme (Sepilis) dengan cara yang jenaka, tapi, argumentatif dalam karya buku.

Kali pertama, “Kyai Kocak” menyapa pembaca melalui “ijtihad” self-publishing, ditangani Kang Dani Ardiansyah, pemilik Indie Publishing saat itu. Dari Indie Publishing, saya berkenalan dengan Vbi_Djenggotten, nama pena komikus Veby Surya Wibawa, ikon dari komik “33 Pesan Nabi”. Saya pernah bertemu Mas Vbi sekali di Cirendeu. Kami mengobrol sambil makan sop kambing. Kata Vbi, buku “Kyai Kocak” itu “komikal” banget.

“Kyai Kocak” besutan Kang Dani sempat merebut hati pembaca. Satu waktu, saya iseng menyambangi beberapa toko buku Gramedia sekitar Jakarta Selatan dan Depok. Kepada “penunggu” Gramedia, pura-pura saya tanya-tanya soal “Kyai Kocak”. Rupanya, laku juga buku ini. Beberapa Gramedia stok “Kyai Kocak” bahkan sudah kosong.

Kedua, pertemuan saya dengan Woro Lestari di Facebook membuka jalan “Kyai Kocak” bertemu tokoh perbukuan nasional dan penulis-penulis berkelas di penerbit Pustaka Al-Kautsar. Ini adalah pengalaman mahal. Setidaknya bagi saya, penulis pemula yang belum punya bentuk bisa tersambungkan dengan Pustaka Al-Kautsar penerbit buku-buku Islam ternama dan penulis-penulis andal. Apatah lagi melalui Pustaka Al-Kautsar, “Kyai Kocak” dapat panggung Islamic Book Fair. Jadi, bertemu Pustaka Al-Kautsar adalah takdir kedua, panggung Islamic Book Fair dan royalti adalah berkahnya. 

Ketiga, forum akademisi INSISTS (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations) pernah memberi kesempatan saya mengulas buku ini dalam diskusi INSISTS Saturday Forum. INSISTS Saturday Forum itu forum ilmiah dan bergengsi. Narasumbernya cendekiawan kaliber nasional dan internasional yang getol membendung arus liberalisme. Pesertanya aktivis kampus, aktivis dakwah, dosen, dan peminat pemikiran kelas berat.

Saya memang sempat sering mengikuti forum ini sebagai peserta. Akan tetapi, diberi kursi untuk duduk sebagai narasumber di INSISTS Saturday Forum, itu “bagai memindahkan air ke bukit”. Bersyukurnya saat itu, sampai juga air itu saya pindahkan ke bukit meski dengan gemuruh dada seperti suara beduk bertalu-talu.

Begitulah dahulu “Kyai Kocak” pernah mengisi hati sebagian kecil peminat buku. Ia buku ringan yang penulisnya sempat merasakan “kursi angker” intelektual INSISTS Saturday Forum. Maka, pengalaman menarik menulis buku ini jadi dikenang lagi. Hanya saja dalam panggung perbukuan, setiap masa ada tokohnya, dan setiap tokoh ada masanya. 

^o^

Pukul 16.44 sore, Kamis 7 Agustus 2025, Mbak Aminah Mustari menyapa melalui WA. Lama sekali tidak tersambungkan dengan penulis keren di Pustaka Al-Kautsar ini. Maka dengan segera pesan saya balas. Syukur-syukur ada kabar yang melimpah berkah.

Kamis kemarin, 14 Agustus 2025 kami bertemu di bilangan Pondok Cina. Hampir satu jam kami berbincang menjajaki kemungkinan “membangunkan” “Kyai Adung” si “Kyai Kocak” yang masih semedi. Hanya saja, apakah “Kyai Kocak” masih kontekstual sebagai counter liberalism yang gaungnya mulai meredup?

Dahulu, “Kyai Kocak” turun gunung di tengah badai hiruk-pikuk liberalisme. Hari ini, angin liberalisme memang masih bertiup meski tidak sekencang 13 tahun lalu saat pertama kali “Kyai Kocak” bersilat lidah melawan liberalisme dengan caranya sendiri.

Boleh jadi, “Kyai Adung” harus dibisiki untuk menyudahi semedinya. Angin grafik liberalisme memang sudah melandai, tapi, grafik angin buzzer dan relawan pemuja tokoh politik sedang menggila dan kehilangan akal sehat. Ini realitas yang membikin gerah seperti gerahnya “Kyai Adung” kepada para pemuja Sepilis.

Sampai hari ini, “Kyai Kocak” masih menyepi sambil menikmati kenangan masa lalu yang yang terus bergulir menjauh. Lalu, akankah “Kyai Kocak” akan kembali turun gunung, Mbak Aminah?

Ciputat, Jum’at penuh berkah, 15 Agustus 2025.