A homepage subtitle here And an awesome description here!

Jumat, 10 November 2023

Marwah

Word of Honorable. https://thesaurus.plus/synonyms/honorable

Ada sahabat Facebook saya dari Surabaya; Mas Agung Prihandoko. Mas Agung merespons status WA saya hari ini. “Terungkap aja masih ngeri,” tulis Mas Agung yang dikirim ke nomor saya. Ini kali yang ke sekian Mas Agung ‘open’ dengan status WA saya.

Saya suka sekali mengoleksi keyword penting. Ia saya petik dari mendengar, menyimak, mengamati, bahkan sering saya pisahkan dari obrolan ringan dengan siapa saja. Lalu, keyword itu saya ikat jadi status WA seperti status WA saya hari ini.

Keyword dan status WA saya itu ide tulisan tersimpan. Karena status WA itu umurnya hanya 24 jam, maka sebelum status itu “mati” esok hari, saya sempatkan mengembangkannya menjadi narasi yang cukup untuk dibaca sekali duduk. Apalagi respons Mas Agung di atas jadi pemantik. Cepat-cepatlah ide itu diabadikan.

Adalah cerita Pak Tanenji; Kasubdit PAUD Yayasan Syarif Hidayatullah saat beliau menyampaikan sambutan dan membuka acara “Ngaji Bareng” di aula Masjid Andalusia Madrasah Pembangunan pada 10/11/23 selepas Jumatan. Ada dari sekian butir dari pesan beliau yang sayang bila hanya didengar lalu dilupakan.

Tentu, tidak cukup ruang dan waktu menurunkan cerita Pak Tanenji itu di sini untuk efisiensi narasi. Inti cerita Pak Tanenji adalah tidak mudahnya orang tua meluluhkan hati anak bila sudah bertemu simpul dengan guru. Bila orang tua memandang ada hal yang keliru dari anaknya dan ingin meluruskan, seringkali anak mengelak dengan bahasa kepatuhan pada gurunya, “Kata Bu guru emang begini!” Kalau sudah demikian –meminjam istilah Ustaz Zaki al-Hafiz– ruwet, ruwet.

Bila kesalahan itu substansial seperti kesalahan bacaan Alquran, boleh jadi kesalahan itu akan melekat selamanya pada jiwa anak. Maka, beruntung bila sejak awal orang menyadarinya dan kesalahan itu terungkap. Kalimat yang saya miringkan, itulah keyword Pak Tanenji yang saya gubah jadi status WA: “Bayangkan bila kesalahan itu tidak pernah terungkap…. Dalem, ngeri.”

Karena Pak Tenaneji sedang membawakan cerita faktual dan beliau ini dosen yang panjang akal, beliau memberi saran jitu pada orang tua sang anak untuk meluruskan kekeliruan itu, bukan dari mulutnya karena kemungkinan akan sia-sia. Dan, cukup lima menit saja, kekeliruan itu selesai melalui guru si anak itu sendiri. Nah, kecerdikan membangun komunikasi awal kepada guru itu untuk mengubah kesalahan persepsi anak, ini mahal.

***

Ngaji Bareng hari ini bertajuk Bacaan Gharib dan Musykilat. Saking gharib dan musykil-nya, pernah belajar, tapi karena jumlah kata-kata gharib dan musykil itu sedikit dari sebanyak 77.845 kata dalam Alquran, jadi sering lupa bila sendirian menemukan bacaan itu dalam mushaf.

Ngaji seperti ini penting pake “banget”. Apalagi bagi guru madrasah, tak peduli apakah itu guru Sains, PJOK, IPS, Bahasa Inggris, PKn, atau guru Seni dan Budaya. Membaca Alquran dengan benar memang bukan khusus untuk guru Quran Hadits, Fikih, atau guru Tahfizh. Guru vokal pun apabila dia muslim, Fardu Ain hukumnya membaca Alquran sesuai tajwid.

Nah, dari ngaji tadi siang itu, kami para guru disegarkan lagi dengan Saktah, Imalah, Isymam, Naql, Tashil, dan aneka musykilaat perubahan suara bacaan. Aduh, rasanya masih banyak hal tercecer dari Alquran yang belum dikuasai, seperti ada huruf sin dalam satu kalimat yang bisa dibaca dengan suara huruf shad dan sebaliknya. Nah, kondisi tercecer ini khususnya berlaku bagi pribadi saya.

Ngaji Bareng tadi siang ini sejuk. Jiwa terasa disiram embun oleh suara merdu narasumber saat memberi contoh perihal bacaan Gharib dan Musykil. Masya Allah. Andai orang bisa meminta suara merdu seperti itu sesaat dia “brojol” ke dunia, bolehlah saya orang pertama yang merengek diberi. Apalah daya, pita suara saya sudah bawaan pabriknya tak semerdu milik narasumber.

Suasana Ngaji Bareng juga terasa segar dengan pertanyaan-pertanyaan unik, tapi penting ala Pak Dry yang kadang terkesan Anti Mainstream. Oh, iya, suara Pak Dry juga merdu saat mengaji atau mengimami shalat Jumat. Ini valid. Kombinasi sempurna antara merdu suara dan Anti Mainstream. Usai foto-foto hendak shalat Ashar, saya candai Pak Dry. “Untung tadi Pak Dry tidak bertanya, Pak Kiai, itu nun mati, siapa yang bunuh?”

***

Beberapa hari yang lalu, di WA grup MTs dibagikan tulisan Dr Fauzan. Judulnya“Mengembalikan Marwah Pendidikan”. Ada di dalamnya disinggung karakter guru sebagai “Al-Muzakki”, yakni guru yang menunjukkan dirinya sebagai pribadi bersih, suci dari hal kemaksiatan, sosok yang selalu menjadi cermin kebaikan peserta didik. Juga karakter “Al-Muaddib” yang dapat dipahami sebagai sosok yang berperan dalam proses pembentukan nilai keadaban, budi pekerti, dan akhlak peserta didik melalui pembiasaan.

Terus terang ini berat, berat sekali. Boleh jadi, marwah pendidikan akan runtuh bila guru sendiri tidak punya marwah karena gagal menunjukkan karakter “Al-Muzakki” dan “Al-Muaddib” di hadapan peserta didik. Di sinilah bertemu koneksi cerita faktual Pak Tanenji dengan tulisan Dr Fauzan dalam persepsi saya hari ini meskipun konteksnya tidak sama.

Sedangkan marwah guru harus juga dijaga bukan hanya di hadapan peserat didik, tapi juga di hadapan sesama guru. Kalau boleh dipertegas, guru yang memegang jabatan, lebih mahal harga marwahnya dari harga marwah guru biasa dalam konteka relasi kepemimpinan pedagogik di suatu lembaga. Keduanya punya kewajiban untuk saling menjaga marwah masing-masing.

Uang sering menjadi Jebakan Batman. Marwah guru bisa terancam hilang disapu angin tergoda uang yang bertalian dengan posisi jabatan. Bila itu terjadi –seperti kasus penyelewengan dan BOS yang ramai di medosos misalnya–hilang pula marwah guru dan marwah pendidikan sebab jabatan itu sudah dijadikan sebagai mesin uang yang mencoreng marwah.

Oleh karena itu, jangan sungkan-sungkan betindak bila ada dari kolega guru sejawat mulai “miring-miring” masuk Jebakan Batman. Harus ada kolega yang mengingatkan sejawat itu agar marwah guru dan pendidikan tidak jatuh terjerembab karena ulahnya. Jangan setali tiga uang dengan membiarkan, apalagi ikut masuk Jebakan Batman karena manisnya uang yang semanis madu.

Dalam konteks ini, boleh juga dibongkar filosofi tulisan Dr Fauzan itu. Apakah tulisan beliau merupakan refleksi dari marwah pendidikan yang memang sudah hilang hingga dia harus dikembalikan. Atau sekadar warning agar guru benar-benar kuat mental mempertahankan karakter “Al-Muzakki” dan “Al-Muaddib” sebagai yang digugu dan ditiru.

Bila marwah guru telah jatuh dan marwah pendidikan telah hilang, hancurlah peradaban. Sosiolog dan pemikir Maroko Dr. Mehdi El Manjra (1933-2014) meskipun mengutip pendapat seorang Orientalis, boleh juga disinggung ungkapannya di sini karena cukup relevan, yakni soal jalan rusaknya peradaban. 

Kata Mehdi:

”Idza aradta an tahdim hadaarat, fa hunaaka tsalaatsu wasaail; hadmi al-usrah, hadmi al-ta’lim, isqaat al-qudwah.” Bila Anda ingin menghancurkan sebuah peradaban, ada tiga caranya: dengan merusak rumah tangga; merusak pendidikan, dan merusak panutan.

Di lain segmen, cerita Pak Tanenji tadi siang, mengingatkan pada kisah Iskandar Dzul Qarnain dan penghormatan Raja Agung itu pada sang guru. Dikisahkan, Iskandar Dzul Qarnain pernah ditanya mengapa dia begitu menghormati gurunya lebih dari menghormati kedua orangtuanya.

“Li anna abi anzalani min al-sama ila ‘l-ardhi, wa ustadzi yarfa’uni min al-ardhi ila ‘s-samai.” Karena orangtuaku telah menyebabkan aku turun dari langit ke bumi, sementara guruku mengangkat aku dari bumi ke langit. Demikian jawaban Iskandar Dzul Qarnain menempatkan guru sebagai orang yang patut dihormati sebagaimana menghormati orang tua. Sudah pasti, guru yang dihormati Iskandar Dzul Qarnain adalah guru dengan marwah mulia.

Ini berat, berat sekali. Semoga marwah masih tegak di pusat peradaban dibangun.| 

Minggu, 05 November 2023

Pizaro Citizen Journalism dan Palestina

Saya dan Pizaro saat launching salah satu seri buku saya "Kiai Kocak". Foto milik Lukman Hakim Sidik 

Namanya Pizaro Gozali Idrus. Saya memanggilnya Pizaro. Nama yang keren. Usianya lebih muda 10 tahun dari saya. Tapi, semua orang tahu, usia bukan ukuran lebih tua lebih berbobot. Begitu juga antara saya dan Pizaro. Bolehlah saya lebih tua darinya 10 tahun, namun kapasitas Pizaro lebih “tua” bertahun-tahun dari saya.

Awal mula kenal Pizaro dari Facebook, lalu membaca novelnya "The Brain Charger". Beberapa kali mengikuti kelasnya yang menarik; “Zionisme Internasional”, topik yang berat tapi menggemaskan. Setidaknya bagi saya begitu.

Di mata saya, Pizaro itu humble. Dia dengan rendah hati pernah bersedia membincangkan buku saya; “Kiai Kocak” di satu forum bedah buku. Padahal waktu itu, honornya sebagai pembicara kecil. Saking kecilnya, kalau sekarang saya tanya, dia pasti lupa. Wkwkwkwk.

Pada 2017, Pizaro menjadi Redaktur Anadolu Agency, kantor berita yang bermarkas di Ankara, Turki. Setahu saya, Anadolu termasuk kategori jurnalisme perang. Pizaro naik kelas lagi dengan menyandang Jurnalis Internasional.

Pizaro cerdas, itu sudah pasti. Sekarang, cerdasnya dia bikin mata saya berkunang-kunang saat membaca aktivitasnya. Dia Senior Fellow Asia Middle East Centre for Research and Dialogue, Kuala Lumpur. Juga anggota Palestine International Forum for Media. Dan, Kandidat Ph.D pada bidang Policy Research and International Studies, Universiti Sains Malaysia.

Sebagai anggota Palestine International Forum for Media, Pizaro kerap menulis tentang Palestina. Tulisannya termasuk produk jurnalistik yang paling jernih menggambarkan Palestina dan HAMAS. Tak heran, hari-hari ini, tulisan dan pembicaraannya tentang Palestina dan HAMAS sering menjadi rujukan pemerhati Palestina. Yang bukan beneran pemerhati Palestina seperti saya, pun merujuk Pizaro.

Saya termasuk yang baru tahu, bahwa agresor Israel sudah menjatuhkan 18.000 ton bom ke Gaza. Jumlah sebanyak itu setara 1,5 kali lipat lebih banyak dari bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima pada 6 Agustus 1945. Saya tahu soal ini dari salah satu status Pizaro di akun Facebooknya.

Ada salah satu tulisan Pizaro yang sangat menarik. Tulisan ini berisi guidance –utamanya menurut saya untuk Citizen Journalism– dengan istilah-istilah kunci saat mereka akan menulis tentang Palestina. Karena Citizen journalism adalah kegiatan jurnalis yang dilakukan oleh orang-orang yang bukan dari kalangan jurnalis profesional, saya memandang tulisan Pizaro penting diperhatikan Citizen Journalism mengindahkan keyword dari Pizaro supaya tidak keliru saat mendeskripsikan persoalan Palestina hari ini.

Begini kata Pizaro:

Pertama, hindari menulis kata “Konflik Palestina-Israel” karena yang terjadi di tanah Palestina bukan konflik, tapi penjajahan struktural. Istilah konflik tidak menggambarkan realitas sesungguhnya di Palestina yang mengalami kolonialisme sistematis oleh zionis. Istilah konflik tentunya juga tidak menggambarkan agresi dan ketidakadilan Israel terhadap masyarakat adat Palestina.

Kedua, media-media juga lebih memilih untuk menulis “bentrokan antara warga Palestina dan tentara Israel”. Berita-berita ini mengaburkan akar kekerasan Israel yang seolah-olah peristiwa ini hanya insiden sementara dan bukan kekerasan sistematis yang dilakukan penjajah Zionis sejak lama.

Ketiga, hindari menulis kata-kata “teroris Hamas”, “Teroris Palestina”, dan “tentara Israel”. Istilah ini mengesankan Hamas dan kelompok perlawanan Palestina lainnya adalah entitas ilegal, sedangkan Zionis adalah negara resmi dan tentara resmi. Padahal yang terjadi adalah sebaliknya. Zionis saat ini menduduki tanah curian yang menjadi hak sah bangsa Palestina.

Keempat, dalam menyebut kelompok perlawanan, langsung saja sebut Hamas. Menggunakan istilah “militan Hamas” sama saja mengabaikan fakta bahwa mereka memenangkan pemilu secara demokratis sejak tahun 2006.

Kelima, hindari menulis perlawanan bangsa Palestina tanpa konteks. Jelaskan dalam penulisan akar masalah mengapa bangsa Palestina melakukan perjuangan. Karena mereka mengalami penindasan secara panjang, tidak bebas menjalankan agamanya, hidup blokade, boikot ekonomi, kemiskinan, dll akibat penjajahan.

Keenam, pastikan konsistensi dalam menggambarkan korban Palestina sebagai “terbunuh”, bukan “meninggal/tewas”. Hindari penggunaan kalimat pasif saat mendeskripsikan peristiwa. Dalam judul, sebutkan siapa yang melakukan tindakan tersebut, bukan hanya di mana tindakan tersebut terjadi, untuk menghindari ambiguitas dalam penulisan.

Ketujuh, berikan konteks penuh terhadap peristiwa-peristiwa tersebut, termasuk peristiwa-peristiwa sebelumnya yang telah menyebabkan kekerasan. Hindari menyiratkan bahwa tanggung jawab atas kekerasan hanya ada pada bangsa Palestina. Mereka adalah “korban” bukan “pelaku”. Jangan sampai yang terjadi dalam penulisan adalah sebaliknya.

Nah, ini keren. Bila Anda adalah bagian dari Citizen Journalism dan ingin menulis tentang Palestina, guidance dari Pizaro patut diperhatikan. Yang paling penting lagi, jangan jadi Citizen Journalism corong Zionis Yahudi yang kerap menuduh HAMAS adalah Syiah dan antek Yahudi.

Terima kasih, Pizaro. One day, Palestine will be free.

Sabtu, 14 Oktober 2023

Anda Guru Tidak Pantas Untuk Pekerjaan Ini


Review kerja kelompok guru kelas 4 Workshop Asesmen Sumatif KKG MI Cipayung. Foto Credit: Suprihatiningsih

TIGA puluh satu tahun lalu menginjakkan kaki di sekolah ini. Waktu itu baru lulus Madrasah Aliyah. Masih segar, energik, dan idealis. Tiap hari jalan kaki lebih kurang 1 km pergi mengajar. Honorarium tidak seberapa. Tidak dapat uang transport, tidak uang makan, tidak pula uang tunjangan. Akan tetapi, energi selalu penuh.

Semula, tidak pernah terpikir menjadi guru. Mendengar kata orang, gaji guru itu kecil bila hanya honorer. Ia masih kalah dengan upah kuli bangunan. Di belakang hari, ada benarnya kata orang soal gaji guru itu. Jadi, sempat kaget saat menerima honor bulan pertama mengajar. Saat itu, upah minimum buruh di Jakarta saja memang baru Rp18.200 per bulan.

Ayah memberi nasihat yang menohok soal honor pertama itu. Katanya, “Bila semua orang berpikir dan berbuat seperti yang kamu pikirkan, maka tidak akan ada orang yang mau mengajar. Semua memilih jadi kuli bangunan saja. Lalu, siapa yang akan mengajar anak-anak di madrasah?”

Jleb!

Per Januari 2023, upah minimum buruh di Jakarta sudah Rp 4.901.798. Senang rasanya jadi buruh bila fokusnya pada upah. Tapi, dada terasa sesak. Kesenjangan penghasilan guru honorer di beberapa daerah pinggiran Jakarta masih sama dengan pengalaman 31 tahun lalu.

***

Sharing teknik penyusunan soal Pilihan Ganda, Isian, dan Jawaban Singkat Asesmen Sumatif KKG MI Cipayung. Foto Credit: Suprihatiningsih

HARI ini begitu bermakna. Kebermaknaan itu sebab bertemu komunitas guru madrasah yang peduli dengan kekuatan kolaborasi, sharing, dan mau belajar di madrasah tempat dahulu saya memulai karier mengajar. Mereka guru-guru yang sadar pada perubahan yang harus dijawab dengan kesadaran belajar. Seperti ingin menjawab sindiran, “Guru yang berhenti belajar, sebaiknya berhenti mengajar” mereka mengundang untuk sesi sharing pengalaman, fokus pada perencanaan asesmen, membuat indikator soal, dan merancang kisi-kisi persiapan asesmen sumatif pada Desember esok.

Penggagasnya Kelompok Kerja Guru (KKG) Madrasah Ibtidaiyah Kelurahan Cipayung, Depok. Ketua KKG-nya siswa MI saat kali pertama menjadi guru 31 tahun lalu. Siswa ini termasuk siswa cerdas saat dulu saya mengajar. Setelah tamat dari Muallimat, dia mengambil studi Jurusan bahasa Arab di UIN Jakarta. Pernah menjadi Kepala Madrasah, karier tertinggi seorang guru. Salut.

Surprised! Sekretaris KKG-nya siswa saya Jurusan Akuntansi pada 2003. Posturnya yang mungil masih saya ingat. Juga senyum serta sopan santunnya sejak di SMK tidak berubah. Ah, bahagia sekali, hari ini kedua siswa saya menjadi motor penggerak.

***

AWALUDIN, sang sekretaris KKG tak mengira akan menjadi guru. Cita-citanya ingin jadi akuntan. Namun, rencana masuk Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) kandas karena faktor ekonomi. Seperti saya yang orang kampung, Awal –begitu saya memanggilnya– lalu bekerja apa saja untuk meringankan beban hidup orang tua selepas lulus SMK. Tapi, Awal lebih gigih daripada saya soal melakukan segala pekerjaan. Hingga satu waktu, ada orang yang meminta Awal mengajar olahraga di sebuah madrasah.

Awal memang punya skill olahraga yang baik. Dia punya kecerdasan Kinestetik sangat menonjol sejak masih SMK. Kakinya begitu lincah menggocek 'si kulit bundar'. Tangannya seperti ‘bertuah’ bila sudah memegang raket. “Ha? Jadi guru olah raga badan kecil begini?” Begitu Awal bercerita berseloroh pada saya tadi siang.

Pesan sang ibu memantapkan Awal memilih profesi guru. Dia dinasihati supaya fokus mengajar saja meskipun honor tidak seberapa. Namun, Awal sempat berhenti mengajar dan melakukan apa saja pekerjaan halal asalkan punya penghasilan lebih besar dari honor mengajar. Pada akhirnya, Awal memutuskan kembali menjadi guru mendengar sindiran rekan kerja yang menohok waktu itu, “Anda guru. Tidak pantas untuk pekerjaan ini.” 

Jebred! Teringat kembali Awal pada pesan ibu.

Saya antusias mendengarkan cerita Awal sepenuh jiwa. Pada penggalan cerita bagaimana saat dia menyempatkan waktu susah payah kuliah malam mengambil gelar Sarjana Pendidikan, ada keharuan menyeruak. Awal merasa belum absah mengajar sebelum mengantongi lisensi. Dari sini saya menemukan pembuktian lagi, bahwa pada dasarnya jiwa seorang guru adalah jiwa pembelajar. Kali ini saya dapat dari siswa sendiri yang sudah setara dengan saya; sebagai guru.

***

Berpose bersama peserta usai acara Workshop Asesmen Sumatif KKG MI Cipayung. Foto Credit: Suprihatiningsih

TERSAMBUNG lagi dengan Awal bukan sebuah kebetulan. Rupanya, dia pernah mengikuti sesi workshop di Madrasah Pembangunan empat tahun ke belakang. Diajak oleh koleganya dan semringah mengetahui salah satu pembicaranya adalah gurunya sewaktu SMK.

Moderator ada menyinggung dua alasan rekomendasi sesi sharing hari ini menyasar saya. Pertama, soal di mana saya mengajar. Jadi, poin pertama ini lebih pada soal reputasi Madrasah Pembangunan. Kedua, soal literasi menulis yang saya geluti. Moderator menyebut buku-buku karya saya sebagai guru penulis.

Dua alasan ini menjadi pertimbangan KKG menghadirkan saya untuk berbagi. Saya no comment. Soal lembaga, ada banyak guru Madrasah Pembangunan yang lebih mumpuni, lebih legitimate, dan lebih kredibel dengan posisi sebagai leader yang pantas dirujuk soal asesmen daripada saya. Apalah awak ini.

Lepas dari itu semua, ada poin perbincangan Awal selepas shalat Zuhur yang saya pikirkan terus sampai tulisan ini jadi. Soal nasihat rekan kerja Awal yang berkata: “Anda guru. Tidak pantas untuk pekerjaan ini.”

Alamak! Ucapan itu sepadan dengan:

“Anda guru. Tidak pantas berpolah laku begini.”
“Anda guru. Tidak pantas berucap begini.”


Bagi saya, itu satu kalimat sejuta interpretasi makna.

Thank’s Awal, telah bebagi cerita berharga. Teruslah menjadi guru penggerak!

Depok, Sabtu ceria, 14 Oktober 2023.

Rabu, 04 Oktober 2023

Generasi Baper

Baper. Resource https://tirto.id/

SEJAK internet mendunia, smartphone jadi personal device, dan media sosial jadi diary, orang bisa membaca isi hati dan isi pikiran orang lain melalui status, notes, atau video reels yang diposting melalui akun media sosial masing-masing.

Dunia jadi lebih ramai dengan loncatan efisiensi waktu yang tidak terkira. Dalam hitungan detik, guru di sebuah sekolah di Ciputat misalnya, bisa tahu seorang temannya yang tinggal di luar Jawa sedang makan di restoran mewah menikmati menu ‘Pecak Oncom’ dari unggahan video di Instagram miliknya.

Guru di Ciputat itu terbit air liurnya sebab unggahan itu dilihatnya di saat jam makan siang. Sayangnya, dia sedang tidak punya uang untuk membeli nasi karena tanggal tua. Jadilah dia guru baper dan menganggap postingan itu ‘tidak manusiawi’. Lalu, dorongan baper itu menuntun jarinya memberi komentar : “UNFAEDAH!”. Ditulis dengan CapsLock. Di-bold pula. Diikuti tanda seru (!). 

Dan, ‘perang’ dimulai.

Unggahan Pecak Oncom itu hanya ilustrasi. Akan tetapi, begitu banyak fakta kasus serupa terjadi. Kasus baper sebenarnya, tapi kadang berujung di pengadilan. Gara-gara status, video atau foto unggahan, baper bermain, orang berkelahi di media sosial, dan berlanjut pertarungan itu di Meja Hijau. Ini baper membawa sengsara. Padahal, mental anti baper adalah salah satu saham utama literasi digital dalam transaksi di media sosial.

Orang baperan itu seperti orang yang ketakutan tidak kebagian oksigen. Otak dan dadanya jadi sempit. Orang nge-share video atau foto, disangka sedang menggurui dia. Apa pun status orang yang dia baca, seolah itu khusus ditujukan pada dirinya. Membaca quote milik teman sebelah, disangka sedang menyindir. Membaca notes yang beririsan dengan pengalaman pribadi, disangka sedang menguliti aibnya. Lha?

Jadi, apa pun unggahan orang di akun media sosial, semua dipersepsikan sebagai tengah menunjuk batang hidungnya. Semua pesan itu dijustifikasi sebagai ‘ini gue banget’ dalam konotasi negatif. Ini baper level paling kacau dalam komunitas media sosial.

Orang baperan itu lupa, setiap pengguna media sosial dengan segala konten yang mereka unggah,  itu punya kepentingan masing-masing dan sangat subjektif sifatnya. Itu hak dia, subjektivitas dia.

Hanya saja, memang, dan ini karakter dunia maya yang tanpa batas, subjektivitas itu menjadi area terbuka di mana setiap orang akan menafsirkan sesuai dengan subjektivitasnya masing-masing juga. Lha, kalo baper jadi modal analisis untuk menafsirkan status atau konten orang lain, sampai kucing berjengger pun hidup dalam komunitas medsos tidak akan pernah bisa tenang.

Akan tetapi faktanya, hari ini medsos memang selalu 'hamil' dan melahirkan jutaan generasi baper.  Perangkat teknologi jadi bukan membuat hidup mereka menjadi mudah, malah menambah susah hati, susah tidur, susah makan, susah be a be, susah napas, akhirnya susah sosialisasi.

Baperan itu tidak ada obatnya, kecuali ojo baperan. Supaya punya sikap ojo baperan, pahami saja nasihat Grand Syeikh Al-Azhar Asy Syarif, Dr. Muhammad Sayyid Thanthawi.

Kata Syaikh: ”Likulli syakhsin nazhratuh, fa laa ta’tab nafsaka lituhsina ‘inda al-aa’khariin”. Jadi, “Pada akhirnya, setiap orang memiliki pandangannya masing masing, maka tak usah berlelah-lelah agar tampak baik di mata orang lain”.

Begitu kata Syeikh Thantawi yang diangkat menjadi Mufti Negara Mesir pada 28 Oktober 1986, diangkat sebagai Syekh Universitas Al-Azhar pada 1996 menggantikan Syekh Jad al-Haq Ali Jad al-Haq, dan wafat pada Rabu pagi, 10 Maret 2010 waktu Saudi Arabia. Syeikh Thantawi wafat di Saudi dalam usia 82 tahun akibat serangan jantung.

Salam anti baper.

Ruang Guru. Rabu, 4 Oktober 2023.

Senin, 02 Oktober 2023

Refleksi Maulid for Teenager

Ilustrasi generasi milenial. Resource dari https://news.unair.ac.id/

KALI ini ada rasa ‘gregetan’ dengan penceramah undangan yang isi ceramahnya out of context. Berharap dapat pencerahan baru bagaimana meneladani akhlak Nabi shallallahu alaihi wa sallam, malah miskin dari nilai cerah. Alih-alih ingin membuat suasana segar, penceramah malah melempar pantun bernuansa dewasa. Itu konten belum cukup umur untuk peserta didik tingkat Tsanawiyah. Ini poin pertama.

Berharap dapat refleksi dari ‘orang luar’, mendatangkan penceramah sebenarnya strategi bagus. Memang harus dipilih cara ini agar anak-anak dapat nuansa baru. Kalau tiba-tiba guru mereka sendiri –misalnya Pak Abdul– yang naik panggung ceramah, bisa-bisa mereka nyeletuk, “Dia lagi dia lagi”. Jadi, meskipun values atau isi ceramah itu sama saja dengan guru mereka sendiri, kejenuhan bisa dihindarkan.

Hanya saja, bila penceramah luar itu tidak well prepare, ceramah akan tidak efektif. Sangat mungkin pada waktu yang bersamaan, peserta didik asyik ngobrol dengan kiri-kanan, penceramah asyik sendiri dengan ceramahnya. Itulah yang terjadi pada acara maulid Jumat (28/9) kemarin.

Ujung-ujungnya, tidak kurang dari 30 menit penceramah sudah turun panggung, ceramah usai, zonk values, peserta didik ‘gak dapat apa-apa. Alasan penceramah bikin geli, karena anak-anak ‘gak fokus dengerin. E, busye?

Orang yang punya sense of critical thinking tentu bertanya, mengapa anak-anak ‘gak fokus dengerin? Tentu jawaban yang paling masuk akal bukan karena anak-anak ‘gak mau dengerin, tapi karena isi ceramah tidak menarik. Ditambah lagi dengan kegagalan penceramah merebut perhatian anak-anak.

Ini risiko mendatangkan penceramah luar yang tidak populer. Lain soal bila penceramah yang diundang  sekelas Dennis Liem. Kalau sudah Dennis Liem yang turun, rasa-rasanya, dia mau ngomong apa saja, pada suka semua. Jangankan peserta didiknya, guru-guru mereka yang perempuan juga betah berlama-lama dengerin Dennis Liem ceramah. Eheheheheh. Itu karena Dennis Liem punya tiga modal yang sangat kontekstual; popularitas, ganteng, dan da’i milenial.

Akan tetapi, populer tidak populer figur penceramah bukan satu-satunya kunci ceramah menjadi menarik. Misalnya, sebelum naik panggung, penceramah harus mau melakukan riset, meskipun hanya riset kecil-kecilan. Penceramah luar –populer atau belum– wajib tahu bagaimana kebiasaan audiens, dari kelas mana mereka datang, apa umumnya hobi mereka, bagaimana kondisi jika mereka mendengarkan ceramah dari penceramah luar sebelumnya, mana yang lebih kondusif antara ceramah dengan media indoor atau outdoor.

Ini resources yang harus diolah untuk mengemas materi ceramah. Rumit, ya. Ya, memang rumit, tapi kan sepadan dengan kemampuan menghadirkan ceramah yang memikat. Lagi pula, data-data itu bisa digali dari Wakasis. Wakasis punya semuanya. Jadi, ‘gak rumit, tinggal minta bocoran saja, selesai.

Naik panggung tanpa persiapan cukup, atau menyamakan dengan audiens di tempat lain, belum tentu presisi untuk segmentasi murid sekolah. Bila nekat, ini sama saja dengan ‘bunuh diri’. Apalagi untuk audiens sekelas peserta didik Madrasah Pembangunan. Ceramah tanpa well prepare di sini, sama saja masuk medan tempur tidak bawa senjata. Ujung-ujungnya penceramah minder sendiri karena merasa ceramahnya kurang mendapat respons. Ini poin kedua.

Masih ada cara alamiah untuk mengatasi lost focus audiens. Di sini, volume jam terbang dan pengalaman sangat menentukan. Jika merasa audiens sudah tidak memberi perhatian cukup, mengapa tetap stay di panggung? Cobalah turun. Dekati mereka. Libatkan mereka dalam ceramah. Ini efektif untuk merebut perhatian audiens. Tentu, mereka akan tersentak dan lalu memberi perhatian. Tinggal, pertahankan perhatian mereka itu dengan pesan-pesan yang menyentuh. Ini jauh lebih bermakna ketimbang membiarkan mereka tidak memberi perhatian dengan tetap ngomong di atas panggung. 

Hal berikutnya adalah konten maulid yang 'sekufu' dengan usia mereka. Ada banyak bahan ceramah maulid yang bisa digali untuk peserta didik di zaman milenial ini. Bawakan saja kisah masa kecil Nabi yang sudah menggembala kambing sebagai bentuk kerja keras untuk memenuhi sedikit keperluan beliau. Ini penting untuk menanamkan karakter sabar dan kerja keras kepada anak-anak milenial atau generasi Z hari ini yang lebih suka pada hal-hal yang bersifat instan, maunya serba cepat, dan cenderung malas menjalani proses yang rumit. Kalau mengaku cinta Nabi, ya harus mau kerja keras. Itu poinnya tu.

Bawakan juga kisah masa kecil Nabi sampai beliau dewasa sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rasul yang tidak secuil pun terpengaruh tradisi jahiliyah dengan segala potret negatif cermin kemerosotan moral, etika, dan akhlak masyarakat Arab waktu itu. Bangun narasi kontekstual dengan dampak negatif dunia digital hari ini, tantangan terbesar generasi milenial dan generasi Z yang akrab dengan gadget karena begitu mudahnya mereka mengakses konten negatif melalui layar ponsel mereka. Katakan kepada mereka, sebesar apa pun bahaya era digital, seberapa sering pun menggunakan gaway, mereka tetap setia pada nilai-nilai akhlakul karimah warisan Sang Nabi. Keren, kan?

Ah, ya wis. Jangan diambil hati. Ini tulisan sembarang menunggu jam bubar sekolah.

Senin, 2 Oktober 2023.

Jumat, 29 September 2023

Bayi di Musim Bunga

Kaligrafi Muhammad. Source: https://artikula.id/

Musim Bunga

HARI pada 571 M yang silam, lahir sang pembawa rahmat bagi alam semesta, Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Beliau diutus untuk menggugah kesadaran umat manusia, mengusir kabut hitam (az-Zhulumat) peradaban jahiliyah mereka, dan mengajak hidup dalam naungan cahaya hidayah (an-Nur).

Dalam kalender Hijriyah, pada Rabu kemarin, selepas matahari tenggelam sampai Magrib di hari kamis, tepat hari itu jatuh tanggal 12 Rabiul Awwal. Pada tanggal itu baginda Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dilahirkan, bertepatan pada April 571 M.

Konon, Rabi’ berarti 'musim bunga'. Awwal, berarti 'yang pertama'. Jadi, Rabi’ul Awwal, sebagaimana lazim berlaku adalah bulan di mana bermulanya musim bunga bagi tanaman. Tiap Rabiul Awwal menjelang, di jazirah Arab buah-buahan mulai berbunga dan kemudian berbuah.

Bertepatan dengan Rabi’ul Awal saat beliau dilahirkan, berlangsung April dalam kalender Masehi. Anda pasti tahu, April adalah Spring, musim semi yang merupakan peralihan dari musim dingin kembali menuju musim panas. So, Anda juga pasti tahu pada bulan itu–April sampai Mei– bunga-bunga sedang mekar di wilayah-wilayah yang berlaku empat musim–Spring, Summer, Autumn, dan Winter. Cobalah misalnya, Anda ke Turki pada April tahun depan. Anda pasti menikmati ragam tulip yang sedang mekar memesona.

Momentum Cinta

Maka, sebagian kalangan merayakan momen Rabi’ul Awal ini dengan maulid sebagai bentuk cinta pada beliau. Momentum ini seperti harum bunga yang sedap. Dan, keharuman baginda Muhammad shallallahu alaihi wa sallam melalui syari’at Islam yang beliau sampaikan adalah keharuman yang harumnya bisa dihirup sampai ke negeri akhirat.

Ada banyak ragam ekspresi cinta kepada baginda Nabi. Asalkan ekspresi cinta itu tidak bertentangan dengan syari’at, boleh-boleh saja, bahkan menjadi keharusan, seperti bershalawat dan memperbanyaknya pada hari Jum’at.

Puncak dari ekspresi cinta Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam adalah dengan beriman kepadanya, beriman kepada syari’atnya, dan menjadikan beliau sebagai jalan untuk sampai pada derajat cinta tertinggi, yakni cinta kepada Allah.

Cinta Separuh Hina

Akan tetapi, salah satu esensi penting dari bentuk kecintaan kepada beliau adalah menjaga kehormatan. Ini tidak kalah penting dari bershalawat, sekedar pengakuan cinta Nabi, dan merayakan kelahiran beliau. Karena itu, tidak patut orang yang gemar melantunkan shalawat dan menyanjung-nyanjungnya di hari maulid, tapi di saat bersamaan merendahkan kehormatan beliau. Cela n'a aucun sens.

Karena itu, akal sehat siapa pun akan melawan bila ada orang yang mengatakan masa kecil Nabi itu ‘rembes’ –tidak terurus dengan baik– karena sempat hidup dalam asuhan kakek, Abdul Muthalib. Lebih tak elok lagi menyamakan masa kecil Nabi mulia ini dengan masa kecil anak-anak kampung nusantara yang nakal. Seandainya di negeri Arab ada pohon jambu, katanya, Nabi kecil juga ikutan nyuri jambu.

Ini apa?

Katanya sekadar guyon penyegar. Canda pelipur bosan yang monoton. Namun, pantaskah peri hidup Sang Nabi dijadikan bahan guyonan dan candaan tidak bermutu yang sekelas kaleng-kaleng?

Sekali lagi, patutkah orang yang gemar melantunkan shalawat dan menyanjung-nyanjungnya di hari maulid, tapi di saat bersamaan merendahkan kehormatan beliau sedemikian itu. Ini namanya cinta separuh hina.

Kasih Sayang Kakek

Muhammad shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah memilih sendiri dan mempersiapkan dirinya menjadi rasul. Tuhan lah yang mempersiapkan, memilih, dan menjadikannya terhormat sejak sebelum beliau lahir sebagai rasul. Adapun tuduhan yang merendahkan beliau, itu lain soal, itu urusan manusia degil.

Karena kehormatan yang absolut yang dilihat tanda-tandanya oleh sang kakek, dinamailah beliau “Muhammad”. Artinya “yang terpuji di langit dan di bumi” meskipun nama itu asing, alias tidak lazim di sekitar penduduk Makkah waktu itu.

Maka, amat sayanglah Abdul Muthalib pada sang cucu. Sang kakek hanya mau makan dan tidur bila berdampingan dengan Muhammad kecil. Kepada Ummu Ayman, budak peninggalan ayah bunda Nabi yang kemudian dimerdekakan dan sempat merawat beliau setelah Aminah wafat, Sang Kakek pernah berpesan, “Wahai Barakah! Janganlah engkau lalai menjaga anakku. Karena sesungguhnya, para Ahli kitab memperkirakan bahwa anakku akan menjadi Nabi umat ini”. Kelak, Nabi menyanjung Barakah atau Ummu Ayman sebagai perempuan ahli surga. Nabi bahkan menyebutnya sebagai ibu. “Ummu Ayman ummii ba’da ummii”, Ummu Ayman adalah ibuku sesudah ibuku, begitu kata beliau.

Abdul Muthalib bukan orang biasa. Dia orang terhormat yang amat disegani di kalangan Quraisy. Di Masjidil Haram, di dekat Ka’bah, Abdul Muthalib punya tempat istimewa, hamparan dari permadani tempat Abdul Muthalib duduk, menerima tamu, dan bercengkrama dengan anak-anak serta kerabatnya. Sebagai penghormatan kepada Abdul Muthalib, tidak ada satu pun dari mereka, termasuk anak-anak Abdul Muthalib yang berani menginjak atau duduk di sisinya di atas hamparan itu.

Satu kali, di saat Abdul Muthalib sedang berbincang kepada anak-anaknya yang meminta nasihat, Muhammad kecil datang menghampiri. Beliau ingin bergabung bersama sang kakek duduk di sisinya. Namun, sebelum beliau menginjak hamparan, anak-anak Abdul Muthalib menyambar tangan beliau, mencegahnya dari menginjak hamparan itu. Akan tetapi, bagaimana respons Abdul Muthalib. ”Da’au ibni innahu liya’tiina milkan”. Biarkan anakku ini. Sesungguhnya dia akan dianugerahi kemuliaan, kata sang kakek.

Rupanya, sedemikian besar cinta Sang kakek kepada Muhammad sejak beliau kecil. Lalu, dari mana asal-usul cerita bahwa nabi itu rembes saat diasuh Abdul Muthalib?

Manusia Terbaik

Muhammad shallallahu alaihi wa sallam adalah manusia terbaik. Pada riwayat Imam Ahmad, beliau menyebut bahwa Allah menciptakan makhluk (manusia), kemudian menjadikan beliau dalam sebaik-baik ciptaan-Nya. Allah menjadikan beberapa kabilah, lalu menjadikan beliau dari kabilah terbaik. Allah menjadikan mereka beberapa rumah, dan menjadikan beliau dari dalam rumah terbaik dan paling baik jiwanya.

Dalam riwayat Imam Muslim, beliau menegaskan bahwa Allah telah memilih Kinanah dari anak Ismail, dan memilih Quraisy dari Kinanah, kemudian memilih Hasyim dari Quraisy, dan memilih beliau dari Bani Hasyim.

Memang, beliau lahir dari tengah-tengah kaum yang suka berzina, suka mabuk, suka mencuri, merampok dan menyamun, suka mengubur bayi perempuan hidup-hidup, serta kebiasan lain-lain dari perilaku jahiliyah yang rendah. Akan tetapi, Allah memelihara jiwa beliau hingga tidak pernah bersentuhan dengan tradisi jahiliyah, tidak pula jiwa beliau dipengaruhi sekecil apa pun pengaruh jahiliyah itu. Tidak pula beliau pernah melakukan dosa sebab bersujud kepada berhala seperti yang dilakukan kaumnya kepada Laat, Manaat, Uzza, dan Hubal.

Bersih dari Pengaruh Setan

Ada kisah dada beliau dibelah Jibril. Kisah ini terjadi saat beliau berada di bawah pengasuhan perempuan dari Bani Sa’d bin Bakr bernama Halimah, sekira usia beliau 4 atau 5 tahun. Peristiwa ini direkam pada riwayat Imam Muslim. Pada riwayat itu, Jibril mengeluarkan suatu gumpalan dari dalam hati beliu seraya berkata “Hadza hazzhus syaithaani minka”. Ini adalah bagian setan yang ada padamu. Kemudian Jibril mencuci gumpalan itu dengan air zam-zam dari bejana emas, lalu mengembalikan bagian itu ke dalam dada Nabi seperti semula.

Dari riwayat ini, Muhammad kecil dari sejak usia 4 atau 5 tahun, sudah lepas jiwanya dari pengaruh setan yang dapat mendorongnya kepada perbuatan dosa (ishmah) dan tercela. Lalu, dari embusan angin apa pengandaian dibuat bila waktu itu di negeri Arab ada pohon jambu, Nabi kecil juga ikutan nyuri jambu bersama anak-anak seusianya yang umumnya bandel?

Allahul musta’an.
Allahumma shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad.


Depok, 14 Rabiul Awwal 1445 H

Minggu, 17 September 2023

Three Cycles of Certainty




Peserta Kuliah Manajemen Kematian Komplek Griya Sasmita, Serua, Depok berpose dengan narasumber. Foto credit, Mas Mono.

BISA jadi, teori kecerdasan ganda Howard Gardner dikagumi dalam kesadaran hidup. Gardner telah mengidentifikasi delapan kecerdasan: linguistik, logis-matematis, musikal, spasial, kinestetik, interpersonal, intrapersonal, dan naturalistik. Gardner juga mempertimbangkan dua kecerdasan tambahan, eksistensial dan pedagogis.

Teori Gardner banyak dibincangkan dan dipasangkan dalam teori belajar. Teori ini dianggap akademisi dan praktisi pendidikan sangat relevan dengan asumsi bahwa setiap peserta didik memiliki potensi kecerdasan berbeda tiap individu. Kecerdasan-kecerdasan di atas –sering disebut dengan multiple intelligences– di bangku sekolah dipandang penting untuk mengembangkan kecakapan hidup setiap peserta didik. Aplikasi dari teori ini berupa rancangan proses pembelajaran yang bisa menjangkau pengembangan kecerdasan paling dominan yang dimiliki peserta didik di antara delapan kecerdasan di atas.

Akan tetapi, tulisan ini tidak membicarakan teori Gardner yang bersifat profan. Tulisan ini membicarakan sisi teoretis dan praksis Mas Mono yang bersifat transenden sebab ia menawarkan kecerdasan pada kesadaran mati kepada banyak orang yang memiliki kesadaran hidup. Saya menyebut teori Mas Mono dengan “Three Cycles of Certainty” atau Tiga Siklus Kepastian; hidup, mati, dan jenazah.

Mas Mono membuka kesadaran (mindset) banyak kalangan muslim bahwa mengurus jenazah bukanlah perkara yang menakutkan, melainkan amalan menyenangkan. Sebegitu menyenangkannya, Mas Mono mengubah persepsi dari enggan menjadi semua ingin memuliakan jenazah.

Ini di luar dari kelaziman, di mana kebanyakan orang akan merasa ngeri jika sudah berhadapan dengan urusan jenazah, urusan memuliakan kematian. Memang, begitulah tabiat manusia umumnya yang menyukai kehidupan dan ingin lari menghindar dari kematian.

Mas Mono juga membalikkan teori dan kebiasaan di masyarakat di mana mereka selalu menyerahkan urusan memandikan dan mengkafani jenazah sebagai tugas Amil atau Modin. Masyarakat memahami kewajiban kifayah itu bila sudah ditangani Amil, gugurlah sudah kewajiban mereka hanya dengan berpangku tangan. Sedangkan Mas Mono menyadarkan bahwa setiap muslim adalah “Amil” bagi jenazah saudaranya. Pemahaman kifayah demikian itu lebih proprosional dalam pandangannya.

Teori Mas Mono, bahwa setiap muslim adalah “Amil” bagi jenazah saudaranya sebagai pemahaman kifayah yang lebih benar dan lebih bisa diterima. Sebab boleh jadi, akan datang masanya orang satu kampung atau satu komplek akan menjadi tergagap-gagap bila yang meninggal adalah sang Amil, sedangkan sang Amil tidak bisa memandikan dan mengkafani jenazahnya sendiri sebagaimana orang sekampung atau sekomplek itu tak satu pun yang cakap mengurus orang mati.

Teori Mas Mono ini bahkan lebih masuk akal. Mari pikirkan dengan jernih. Bila orang satu kampung atau satu komplek setiap individunya memiliki kecakapan memuliakan jenazah sesuai tuntunan syari’at, maka setiap mereka akan merasakan ketenangan menjalani hidup menunggu mati. Mereka yakin pada saat dia mati nanti, orang akan berebutan memuliakan jenazahnya, bukan berebut menghindar karena persoalan kecakapan tadi. Bukankah begitu?

Mas Mono dengan KPJ (Komunitas Peduli Jenazah)-nya aktif mengedukasi komunitas dakwah, ustaz, Amil, dan masyarakat muslim dari berbagai kalangan dan profesi melalui Institut Manajemen Kematian, salah satu sayap dakwah Masjid Raya Pondok Indah. Sebagai Direktur KPJ, Mas Mono sudah menggelar Kuliah Manajemen Kematian dengan ribuan peserta di Masjid Raya Pondok Indah dan di berbagai tempat. Karena teoretis dan praksisnya ini, Mas Mono mendapat gelar Doktor Kehormatan (Honoris Causa) Bidang Management Sciences dari Universal Institute of Professional Management-UIPM International, Kuala Lumpur, Malaysia pada 10 November 2022.|


PUKUL 10.39 hari ini, Ahad 17 September, saya baru sempat membuka WA. Pukul 08.42 sudah ada foto dan pesan masuk. “Ust salam dr Ust Rusmono.. Assalamualaikum wr wb. Lg mengisi acara di tempat kami”. Begitu isi pesannya. Yang mengirim kolega saya di Madrasah Pembangunan Jakarta, Ustaz Momon Mujiburrahman.

Saya timbang-timbang, saya putuskan meluncur ke Masjid Ashshirathal Mustaqim, Komplek Griya Sasmita, Serua, Depok, tempat acara digelar. Biarlah hanya sebentar asalkan bisa bertemu mengobati kangen dengan teman seangkatan waktu kuliah di UIN 30 tahun lalu dan dapat ilmu “Three Cycles of Certainty” yang dibawakannya di penghujung acara. Ketemu juga dengan Ustaz Mardi, sahibul masjid dan yang membawakan acara. 

Silaturrahim yang sungguh berkesan, terutama soal kopi itu. Afwan ya, Ustaz Mardi. 

Mas Mono seperti tidak berubah, masih tetap muda seperti zaman kuliah. Bicaranya lugas, apa adanya, dan tidak pernah lepas senyum saat bicara. Ia tipe orang bahagia lahir batin. Bisa jadi Mas Mono tetap muda dan bahagia karena tak henti menginspirasi banyak orang.

Mas Mono terus menginspirasi banyak muslim menjadi cerdas, secerdas menurut kriteria baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang Anshar mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Yang paling baik akhlaknya.” “Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?” ia kembali bertanya. Beliau bersabda, “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah).

Dari Mas Mono banyak orang belajar, bahwa setiap orang boleh cerdas seperti teori kecerdasan Gardner. Akan tetapi, dalam pandangan hidup muslim, kecerdasan itu tidak terlalu banyak berarti bila melupakan kecerdasan seperti pesan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam riwayat Imam Ibnu Majah di atas. Hal inilah yang di-highlight Mas Mono di masjid Komplek Griya Sasmita hari ini.

Allahul musta’an.|