A homepage subtitle here And an awesome description here!

Senin, 14 Agustus 2023

HW PRAMUKA DAN WEAVER ANT




Semut Rangrang. Foto Credit : https://www.mongabay.co.id/

Sewaktu SMA, setiap Sabtu, sering risi diledekin sebagai “Semut Rangrang”. Ledekan itu sebab warna seragam Pramuka yang saya kenakan. Memang sih, seragam Pramuka agak mirip dengan warna tubuh Weaver Ant yang gemar membentuk koloni. Gigitannya juga nyelekit. Ups! Sungguh terlalu!

Akan tetapi, jangan lupa, si Weaver Ant ini juga punya skill menganyam yang keren. Maka dari itu ia disebut “Weaver Ant”. Rumah mereka adalah anyaman dari daun di mana semut merah ini bersarang. Sarangnya adalah mahakarya seni arsitektur paling orisinal di muka bumi. Bayangkanlah karunia Tuhan pada makhluk kecil yang satu ini. Meskipun tubuhnya hanya seukuran 0,3-04 inch atau kira-kira 8-10 mm, kreativitasnya besar melampaui tubuhnya. Luar biasa.

Jadi, di samping gigitannya yang terasa nyelekit, saya pikir-pikir, keahlian menganyam ini mirip dengan skill tali-temali dan membuat simpul ala anggota Pramuka. Lha, kok mirip, ya? Ah, boleh jadi ini cuma cocoklogi saja.

14 Agustus 2023 hari ini, ingatan soal “Weaver Ant” bersemi kembali, tepat pada upacara peringatan ke-63 Hari Pramuka. And, I am the same person who looks like weaver ants dengan seragam Pramuka saya. Heheheh.|

Sebelum Pramuka lahir, ada banyak organisasi kepanduan di tanah air seperti Javanese Padvinders Organizatie (JPO), Jong Java Padvindery (JJP), Nationale Islamitische Padvindery (NIP), Hizbul Wathan (HW), Sarekat Islam Afdeling Padvindery (SIAP), dan sebagainya. Saya belum tahu persis, apakah selain HW –cikal bakalnya adalah Padvinder Muhammadiyah–masih eksis sampai hari ini atau tidak.

Padvinder Muhammadiyah didirikan pada 1918, dua tahun setelah Javaansche Padvinder Organisatie (JPO). JPO didirikan oleh Mangkunegara VII. KH. Ahmad Dahlan terinspirasi dari sini. Kiai Dahlan takjub saat melihat anak-anak JPO berpakaian seragam yang tengah berlatih baris-berbaris di halaman Mangkunegara.

Padvinder Muhammadiyah menekankan pada kepanduan Islami dengan menerapkan akidah Islam dalam setiap kegiatannya. Maka, selain berlatih baris berbaris, pertolongan pertama pada kecelakaan, dan olahraga setiap Ahad sore, pada malam Rabu, mereka diberi bekal keagamaan. Padvinder Muhammadiyah ini kemudian bermetamorfosis menjadi Hizbul Wathan (HW) pada 1920.

Meskipun HW bernuansa Islam, akan tetapi spirit nasionalismenya sangat kental. Baca saja semboyan Hizbul Wathan sejak berdiri yang: setia kepada ulil amri; sungguh berhajat akan menjadi orang utama; tahu akan sopan santun dan tidak akan membesarkan diri; boleh dipercaya; bermuka manis; hemat dan cermat; penyayang; suka pada sekalian kerukunan; tangkas, pemberani, tahan, serta terpercaya; kuat pikiran menerjang segala kebenaran; ringan menolong dan rajin akan kewajiban; dan menetapi akan undang-undang Hizbul Wathan. HW sempat dilebur ke dalam Gerakan Pramuka pada 1961. Akan tetapi, oleh Muhammadiyah HW diaktifkan kembali pada 1999 silam.

Panglima Besar Jenderal Sudirman adalah alumnus HW. Pak Dirman mengakui, HW adalah tempat melatih fisik dan membina mental, bukan tempat untuk gagah-gagahan atau aksi-aksian. Maka, dalam benak Pak Dirman kala itu, HW benar-benar diharap dapat melatihnya sebagai seorang pandu yang sangat patuh dan disiplin terhadap peraturan.

Bolehlah kita bertanya, adakah kepanduan hari ini dapat melahirkan Sudirman-Sudirman baru?|

Saat melintas di sebuah SMA Negeri di Jl. Limo Raya No.30, Meruyung pagi tadi, seperti biasa para pengendara berhenti untuk memberi akses para siswa sekolah itu menyeberang. Ada yang menarik mata saya saat itu. Di antara semua siswa berseragam Pramuka hari ini, banyak di antaranya mengenakan seragam Padvinder Muhammadiyah, HW.

Ini keren! Saya menilainya ini sebuah pengakuan.

Akan tetapi, ada yang lebih substantif dari sekadar seragam, yaitu soal spirit. Ada irisan antara Undang-Undang Pandu HW dan Dasa Darma Pramuka. Mari bandingkan:


Undang-Undang Pandu Hizbul Wathan:

Satu, Pandu Hizbul Wathan itu, dapat dipercaya;
Dua, Pandu Hizbul Wathan itu, setia dan teguh hati;
Tiga, Pandu Hizbul Wathan itu, siap menolong dan wajib berjasa;
Empat, Pandu Hizbul Wathan itu, suka perdamaian dan persaudaraan;
Lima, Pandu Hizbul Wathan itu, sopan santun dan perwira;
Enam, Pandu Hizbul Wathan itu, menyayangi semua makhluk;
Tujuh, Pandu Hizbul Wathan itu, melaksanakan perintah tanpa membantah;
Delapan, Pandu Hizbul Wathan itu, sabar dan pemaaf;
Sembilan, Pandu Hizbul Wathan itu, teliti dan hemat;
Sepuluh, Pandu Hizbul Wathan itu, suci dalam hati, pikiran, perkataan dan perbuatan.

Anggaran Rumah Tangga Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan Pasal 9 ayat 2 (Hasil Muktamar ke-3 HW tahun 2016)

Dasa Darma Pramuka.

1. Takwa kepada Tuhan yang Maha Esa.
2. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia.
3. Patriot yang sopan dan kesatria.
4. Patuh dan suka bermusyawarah.
5. Rela menolong dan tabah.
6. Rajin, terampil dan gembira.
7. Hemat, cermat dan bersahaja.
8. Disiplin, berani dan setia.
9. Bertanggung jawab dan dapat dipercaya.
10. Suci dalam pikiran, perkataan maupun perbuatan.


Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka Tahun 2009, berdasarkan Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Nomor 203 Tahun 2009.

Dari rumusan cita-cinta kedua kepanduan di atas, Baik HW dan Pramuka sepakat soal “Suci dalam pikiran, perkataan maupun perbuatan”. Hanya saja, HW memulai kesucian itu dari hati.

Boleh jadi karena karakter keislamannya, HW terinspirasi sebuah hadits yang menyebut bahwa hati adalah sumber inspirasi wujud rupa manusia. Ia menjadi cermin dari pikir, ucap, dan laku manusia. Bilamana hati manusia baik, maka baiklah seluruh jasad (pikir, ucap, dan laku). Namun, bilamana hatinya buruk, buruk jugalah seluruh jasad manusia itu.

Boleh jadi, karakter "suci" peserta didik bisa dibangun melalui kepanduan, baik melalui HW atau Pramuka. Akan tetapi, kesucian itu bukan karena seragamnya yang gagah, melainkan karena ia dipelihara, dihidupkan, dan selalu dijaga dari segala macam penyakit hati yang tersembunyi. 

Upacara Hari Pramuka, Senin 14 Agustus 2023 di Madrasah Pembangunan. Foto Credit: Gus Djamal.

Selamat Hari Pramuka para pandu. Semoga bisa menyerap spirit Pak Dirman.

Ruang Guru di Hari Pramuka, 14 Agustus 2023.



Rabu, 09 Agustus 2023

ROKOK DAN TRAGEDI KETAPEL


Ilustari ketapel: Forto Credit: https://www.kilasbali.com/

Mata kanan dikabarkan bisa cacat permanen. Bisa jadi, psikologisnya pun ‘cacat’ lebih permanen. Mata yang cacat itu bukan karena rusak dimakan penyakit, bukan pula sebab kecelakaan. Mata kanan itu rusak dan menjadi cacat karena diketapel. Miris.

Tahu ketapel?

Pada masa purba, orang menggunakan pelontar peluru dari batu dengan senjata bernama manjanik. Nah, ketapel itu semacam modifikasi dari manjanik. Orang kampung saya menyebutnya “slepetan”, peralatan tempur untuk memburu tekukur, tupai, atau kelelawar.

Adalah Zaharman, orang yang mengalami insiden slepetan itu. Zaharman boleh jadi tidak menduga mata kanannya akan berakhir cacat di lingkungan pendidikan. Ya, Zaharman seorang guru di sebuah SMA di Rejang Lebong, Bengkulu, di tempatnya mengajar.

Lalu, apa dosa Zaharman? Apakah dia korupsi dana BOS? Ketahuan jual beli kursi siswa baru yang tersingkir karena kebijakan zonasi? Atau ia tertangkap basah melakukan pelanggaran etik sehingga mata kanannya pantas dislepet?

Menurut berita, bukan dosa-dosa di atas pemicu Zaharman dislepet. Kesalahan Zaharman karena ia peduli. Ia menegur ada siswanya yang kedapatan merokok di area kantin sekolah. Berembus pula kabar, Zaharman marah dan menendang salah seorang siswanya yang lari menghindar saat ditegur.

Itulah kesalahan Zaharman. Kesalahan ini memicu kemarahan orang tua siswa bersangkutan yang kemudian datang ke sekolah seperti anak-anak kampung saya hendak berburu tekukur, tupai, atau kelelawar. Dan, sebutir peluru terlontar dari replika manjanik tepat mengenai mata Zaharman. Buk!|

Kasus yang dialami Zaharman terus berulang dalam bentuk dan motif yang berbeda-beda. Bukan sekali dua kali guru menerima perlakuan demikian. Seakan, konflik guru-siswa-orang tua seperti tak jua putus mata rantainya.

Bahkan, kasus-kasus guru diadukan ke polisi karena menegur atau bahkan sekadar mencubit siswa kerap terjadi. Orang tua tidak berkenan anaknya diingatkan atau dicubit di area pendidikan. Lalu, orangtua merasa pantas membawa polisi ke sekolah buat menggelandang dan memenjarakan guru anaknya sendiri.

Bila saja guru boleh menyerah, maka menyerah sajalah. Biarkan saja siswa merokok di sekolah atau di ruang kelas saat guru mereka menerangkan pelajaran. Bila itu tidak cukup, perintah saja guru mereka pergi ke warung. Beri guru itu selembar dua lembar 10 ribuan untuk membeli rokoknya. Lalu, minta guru itu menyalakan korek api dan menyulut ujung rokok yang sudah terselip di bibir sang murid seperti dalam cerita film-film mafia di Kuba. Biar drama soal rokok ini lebih seru disaksikan.

Biarkan saja mereka berlaku demikian. Jangan diingatkan! Jangan pula dicubit! Biarkan saja! Daripada nanti guru dilaporkan ke polisi dan masuk penjara.|

Tiap orang setuju, bahwa tidak semua guru berperilaku baik. Ada oknum guru yang berperilaku buruk. Ustaz yang bejat pun ada. Memang, sebagai “yang digugu dan ditiru”, tentu tidak elok, bahkan tidak etis apabila seorang yang menjadi teladan, namun bermoral rendah. Sebab, kerendahan moral tidak bisa diadaptasi oleh masyarakat yang masih menghormati akhlak, setia sebagai agen transformasi nilai-nilai kebaikan ke tengah-tengah masyarakat seperti masyarakat pendidikan. Maka, bilamana ada oknum guru atau ustaz yang tidak bermoral, serta merta dianggap rusaklah dunia pendidikan.

Oknum guru atau ustaz yang tidak bermoral, memang tidak cocok di sini. Teori kesusilaan Voltaire: “Hiduplah seperti apa yang kamu inginkan … dan berbuatlah terhadap sesamamu seperti yang kamu inginkan ia berbuat terhadapmu” tidak cocok diterapkan selain di Perancis sejak masa AufklĂ€rung pada awal abad ke-18 silam. Tidak pula cocok dengan retorika Rousseau yang sangat terkenal:“Manusia terlahir bebas, dan dimana-mana ia terbelenggu.” Ini berlaku di Barat.

Barat memang terinspirasi dari tradisi ilmu dan peradaban Yunani, salah satu unsur penting peradaban Barat sekarang. Di Yunani, dahulu kala, bahkan para cendekiawan sangat menghargai dunia pelacuran, seperti masyarakat Barat menghargai free sex, samen leven, dan paham kebebasan.

Demonsthenes, seorang filosof Yunani, mengungkap pandangan kaum cendekiawan yang pintar menjustifikasi amalan bejat: Kami mempunyai institusi pelacuran kelas tinggi (courtesans) untuk keseronokan (keindahan), gundik untuk kesehatan harian tubuh, dan istri untuk melahirkan anak halal dan untuk menjadi penjaga rumah yang dipercayai. Kurang apa lagi?

Jadi, sudah jatuh talak antara ilmu dan moral di Barat. Maka, di Barat, mungkin saja ada guru atau murid tidak akan dianggap tercela bila kedapatan dia mabuk alkohol, merokok, atau segala hal yang bertentangan dengan nilai-nilai ketimuran selama itu urusan privat. Tapi di sini, ilmu dan moral masih serasi berdampingan, meskipun untuk mempertahankannya dunia pendidikan semakin keteteran.|

Pada umumnya, guru di Indonesia masih memegang kuat moral etik. Bilamana ia menegur siswa yang merokok di lingkungan sekolah, bahkan terkesan kejam karena menendang siswa bersangkutan, rasanya itu belum keluar dari maksud mendidik agar moral anak didiknya terjaga. Ia ingin siswanya bukan sekadar menghindari rokok, melainkan mematuhi larangan merokok di area pendidikan. Tentu, ia tidak akan ambil pusing bila siswanya itu merokok di rumahnya sendiri bareng orang tuanya sekalian.

Bilamana di bandara, rumah sakit, stasiun kereta, atau area publik ada imbauan dilarang merokok, tentu larangan merokok di area sekolah lebih bisa diterima banyak orang. Bukan hanya siswa, orang tua pun tidak sukar memahami aturan ini. Bukankah orang tua itu pendidik yang utama bagi anaknya?

Bila ada guru karena sebab menegur siswanya yang merokok di kantin sekolah, lalu ia diketapel hingga sebelah matanya menjadi buta, memang sangat disayangkan. Itu sama saja harga sebiji mata pemberian Tuhan ditukar sebatang rokok seharga dua ribu perak.

Guru yang baik memegang nilai moral. Ia mendampingi siswanya agar teguh memegang moralitas hanya sependek waktu di sekolah. Sedangkan orang tua siswa yang baik menjadi partner guru dalam pendampingan moral setiap waktu sepanjang hidup anak-anak mereka.

Ruang Guru yang mulai sepi, 9 Agustus 2023.

Jumat, 04 Agustus 2023

TEMPAT ELIT ITU PERPUSTAKAAN


Library with hanging bulbs. Foto credit đŸ‡žđŸ‡ź Janko Ferlič, on Unsplash.

Di lingkungan sekolah, pernah berembus anggapan bahwa perpustakaan tidak lebih sebagai "tempat buangan" para guru bermasalah. Entah. Siapa yang memulai embusan anggapan itu, tidak jelas sosoknya. Apa maksudnya, pun lebih tidak jelas lagi.

Hanya saja, ketidakjelasan ungkapan dua kata di atas cukup "menyakitkan" bagi dunia literasi. Orang umum pun, hampir pasti akan berpikir bahwa maksud "tempat buangan" itu tidak pelik dimengerti, semudah menjawab pertanyaan: di mana akan diletakkan barang-barang usang yang tidak terpakai lagi?

Akan tetapi, boleh jadi ungkapan di atas justru lahir dari ruang perpustakaan. Orang dengan minat literasi yang baik, kecewa dengan wajah perpustakaan sekolah yang minim kreasi dan inovasi, khususnya kreasi dan inovasi yang memantik minat baca dan minat mencipta hasil bacaan di perpustakaan. Ia hanya ruang persegi empat tempat menyimpan koleksi. Sebatas layanan meminjam dan mengembalikan koleksi an sich!

Bila demikian, perpustakaan memang kehilangan dirinya. Ia nyaris hidup tanpa roh, tanpa jiwa. Tidak ada spirit yang menggerakkan nalar dan imajinasi di mana dunia sastra berkembang. Rasanya, ungkapan "tempat buangan" masih lebih lunak ketimbang ungkapan "ayam mati kelaparan di lumbung padi" untuk menilai perpustakaan.|

Perpustakaan itu sesungguhnya menyandang status elit, lebih elit dari coffee shop atau resto yang cukup sekadar memuaskan perut. Perpustakaan hadir pada level nalar, bukan syahwat. Perpustakaan dibangun untuk memuaskan otak, menghidupkan critical thinking, dan menggerakkan imajinasi untuk berkarya. Kealpaan peran perpustakaan pada tiga kecakapan di atas boleh jadi sebab yang membuat perpustakaan kehilangan rohnya dan dinilai cocok sebagai "tempat buangan" saja.|

Sebenarnya agak konyol bila sekadar memahami marwah perpustakaan, orang harus rela mundur ingatannya ke abad pertengahan, abad di mana Islam menjadi pusat peradaban dunia. Orang madrasah jangan sampai lupa, peradaban Islam berkembang sepanjang abad ke-7 hingga abad ke-13 M salah satunya karena dua hal; perpustakaan dan buku.

Saat itu, Eropa belum apa-apa. Masyarakat Eropa yang dipandang secara fisik sangat maju hari ini, masih hidup dalam keterbelakangan akut dan buta huruf. Meski begitu terbelakang, mereka sudah mengenal buku. Hanya saja, buku-buku itu hanya ada di gereja-gereja, sebatas buku-buku tentang ketuhanan, dan hanya dibaca oleh para pendeta.

Perpustakaan terbesar di Eropa saat itu sebuah Katedral di Konstantinopel. Perpustakaan ini memiliki koleksi buku-buku agama yang jumlahnya tidak lebih dari 354 koleksi. Di Portugis, sekitar tahun 1302 disebut-sebut sudah ada perpustakaan di gereja Bunduqiyah. Koleksinya hanya 400 buku. Raja Prancis, Carli, yang terkenal sebagai filsuf, ketika ia ingin mendirikan perpustakaan di akhir abad ke-14 M, konon ia tidak dapat mengumpulkan buku selain buku-buku kerajaan yang jumlahnya hanya 900 jilid. Sepertiga dari buku-buku itu, pun buku-buku tentang ilmu ketuhanan.

Sementara itu, peradaban Islam memiliki Baitul Hikmah, perpustakaan besar pertama di Baghdad yang mengoleksi dan mengelola kitab-kitab dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dan kitab hasil penerjemahan dari berbagai bahasa. Koleksi Baitul Hikmah sangat beragam mencakup berbagai bahasa seperti Arab, Yunani, Sansekerta, dan lain-lain. Diketahui, jumlah koleksi Baitul Hikmah mencapai lebih dari 60.000 buku. Bahkan ada yang menyatakan sekitar 400 hingga 500 ribu buku. Perpustakaan penuh dengan naskah-naskah Yunani, Persia, dan Qibti untuk diterjemahkan. Setiap karya ilmiah hasil kajian perpustakaan ditimbang dan diganti dengan emas seberat timbangan karya ilmiah tersebut.

Selain Baitul Hikmah, terdapat perpustakaan-perpustakaan pada masa kemajuan Islam. Ada Maktabah Sabur di Baghdad dengan 10.000 koleksi, Maktabah Al-Hakam di Qurthubah (Cordoba, Spanyol) dengan 400.000 koleksi, Maktabah Al-Qushur di Kairo dengan 1.600.000 koleksi, Darul Hikmah di Kairo dengan 100.000 koleksi, Maktabah Tharabulus di Syam dengan 3.000.000 koleksi, Maktabah Maraghah dengan 400.000 koleksi, dan Maktabah-Maktabah yang lain dengan koleksi tidak kurang 120.000 buah. Di antara perpustakaan-perpustakaan itu, perpustakaan sekolah menjadi bagian dari khazanah kemajuan literasi Islam pada abad pertengahan.|

Perlu dicatat, hadirnya kemewahan ilmiah dan literasi pada masa keemasan Islam karena perpustakaan menjadi pusat intelektual, pusat kreativitas, dan pusat peradaban. Inilah maksud dari perpustakaan sebagai tempat elit.

Hawanit Al-Warraqin (toko buku) saja bukan sekadar tempat berjual beli buku pada masa itu. Ia naik kelas menjadi fenomena peradaban dan kebudayaan serta kegiatan ilmu yang didatangi oleh para budayawan dan sastrawan di mana mereka mengambil bagian tempat berkumpul untuk melakukan kajian.

Di Spanyol, di bawah kekuasaan Daulah Bani Umayyah Andalusia, tradisi intelektual umat Islam mengantarkan Spanyol-Islam dari abad 9-11 menjadi salah satu pusat kebudayaan Islam dan dunia. Maka, para pelajar dari Inggris, Perancis, dan Jerman yang datang ke Cordoba sampai berpakaian Arab supaya terlihat sebagai akademisi menjadi fenomena yang biasa. Bahkan, mereka membentuk kelas sosial tersendiri yang belakangan dijuluki sebagai “Mozarab” (Arabnya; “Musta’rib”) yang berarti “Arab pendatang”.

Pendek kata, dunia perpustakaan dan buku pada masa kejayaan Islam–baik di Baghdad dan Cordova)– sangat menggairahkan. Sebegitu menggairahkan ia, para penulis tidak berhenti berkarya dalam berbagai disiplin ilmu.|

Satu waktu, perpustakaan sepakat dinilai sebagai sangat penting. Kapan? Saat akreditasi sekolah. Setelah itu, perpustakaan seperti dikembalikan pada nasibnya; wujuduhu ka adamihi, keberadaannya seperti ketiadaannya.

Akan tetapi, anggapan ini tidak berlaku bagi madrasah literat, pendidik dan tenaga kependidikan literat, peserta didik literat, pemangku kebijakan madrasah literat, dan tentu saja pustakawan literat secara lebih spesifik. Apabila bertemu semua insan literat itu dalam satu frekuensi, maka marwah perpustakaan akan kembali pada posisinya yang elit. Anggapan bahwa perpustakaan sebagai "tempat buangan" pun, patah dengan sendirinya.|

Ruang Guru, 04 Agustus 2023.

Kamis, 03 Agustus 2023

AISYAH RA DAN NARASI SELINGKUH


Ilustrasi wolf in sheep's clothing. Foto credit: https://www.pxfuel.com

1000 personel pasukan muslim yang dikerahkan dari Madinah menyisakan 700 personel. 300 personel membelot. Mereka urung berjihad di Medan Uhud (Maret 625 M). "Kalian mau mati sia-sia di Uhud?” Provokasi inilah yang memancing 300 personel itu membelot.

Saat perang Bani Musthaliq (Januari 627 M) baru saja usai, giliran kaum Anshar dan kaum Muhajirin diprovokasi. "Kalian tahu wahai kaum anshar? Kalian menolong muhajirin ini ibarat sedang memberikan makan kepada anjing. Dan anjing itu akhirnya menggigit kalian. Untuk apa kalian membantu orang muhajirin? Kalian itu anshar yang bisa lebih hebat daripada muhajirin. Dan lihatlah, kita ini orang-orang mulia dan akan mengusir orang-orang hina tersebut."

Kalimat provokasi ini sampai ke telinga Umar bin Khattab RA. Umar marah dan meminta izin kepada Nabi SAW untuk memenggal sang provokator. Namun, Nabi SAW melarang Umar dan memilih memaafkan.

Pada tahun yang sama setelah perang Bani Musthaliq, sang provokator berulah lagi. Dia menuduh Siti Aisyah RA telah selingkuh. Hampir tidak ada sahabat yang tidak percaya isu perselingkuhan tersebut. Gemparlah seluruh Madinah. Shafwan bin al-Mu'aththal, laki-laki yang menjadi sasaran penyerta fitnah itu memilih diam. Demikian pula Asiyah. Isu perselingkuhan itu baru reda saat turun QS. An-Nuur [24] :11 yang membersihkan nama Aisyah dan Shafwan.

Pelaku tiga isu di atas adalah orang yang sama; Abdullah bin Ubay bin Salul. 

Saat Nabi SAW baru pulang dari perang Tabuk (Oktober 630 M), Abdullah bin Ubay jatuh sakit yang membawa pada kematiannya. Anak Abdullah bin Ubay datang kepada Nabi SAW seraya meminta jubah beliau untuk dijadikan kain kafan ayahnya. Nabi memenuhi permintaan itu dan turut pula menyalatkan jenazah tokoh munafik ini.

Lagi-lagi Umar bin Khattab RA protes, mempertanyakan sikap Nabi SAW yang turut menyalatkan jenazah sosok yang telah begitu banyak merugikan kaum muslimin ini. Rupanya, protes Umar diapresiasi QS. At-Taubah [9]: 84. Ayat itu turun berisi koreksi yang kemudian melarang Nabi SAW menyalatkan orang munafik semisal Abdullah bin Ubay. Bahkan, berdiri untuk berdoa di atas kuburnya pun Nabi SAW dilarang.

Begitulah secuplik tentang sosok Abdullah bin Ubay bin Salul. Sungguh malang nasibnya. Bagaimana tidak, dia orang yang menjadi sebab Nabi SAW diingatkan Allah SWT karena menyalatkan jenazahnya.

Abdullah bin Ubay mati membawa kemunafikan. Dia belum sempat bertaubat, meminta maaf kepada Nabi SAW, Aisyah, dan Shafwan. Ngeri.|

Dua komunitas di Madinah era Nabi ini ada tertulis, baik dalam Alquran maupun hadits. Dua komunitas dimaksud adalah Munafik dan komunitas Yahudi.

Di beberapa kisah, golongan Munafik dan Yahudi Madinah berkomplot memusuhi Nabi SAW dan kaum muslimin. Bahkan, mereka membangun aliansi dengan Musyrikin Makkah untuk memerangi Nabi SAW dan kaum muslimin.

Satu kali, Abdullah bin Ubay meminta pembebasan kaumnya yang terlibat pada peristiwa pengusiran Yahudi Bani Qainuqa yang melanggar Perjanjian Madinah karena bergabung dengan Musyrikin Makkah pada perang Badar (Maret 624 M) dan Uhud (Maret 625 M).|

Di antara nama-nama surah dalam Alquran pun, ada terselip surah "Al Munafiqun" (surah ke-63) dan surah Al Kafirun ( surah ke-109). Informasi acak perihal dua komunitas ini juga tersebar di beberapa ayat dan surat yang berbeda-beda.

Tidak sedikit berita, baik hadits maupun atsar yang mengabarkan eksistensi keduanya dalam banyak riwayat. Pendek kata, baik golongan Munafik maupun Yahudi tertulis dalam lembaran-lembaran Alquran dan hadits.

Salah satu arti penting eksistensi keduanya disinggung Alquran dan beberapa riwayat dalam hadits adalah ibrah  untuk kaum muslimin akan bahaya dari tipu daya, makar, serta sikap permusuhan mereka. Di sini, Allah SWT dan Nabi SAW hendak mengajarkan kepada kaum muslimin agar bersikap hati-hati.|

Ada kalanya, kelompok munafik lebih berbahaya dari orang kafir. Bisa jadi, tidak lain karena karakter munafik adalah musuh dalam selimut, serigala berbulu domba. Lisannya menyatakan keimanan, tapi hatinya menyimpan kekafiran.

Hati orang munafik menyimpan nifak (sifat dari munafik). Nifak artinya "lubang". Pada lubang itulah wajah asli mereka disembunyikan. Maka, jangan heran bila mulut orang munafik berkata "putih", tapi sebenar hatinya berkata "abu-abu", "hitam", atau "cokelat".

Orang munafik gemar bersiasat. Di siang hari di hadapan Nabi SAW dia berkata "kewajiban kami hanyalah taat" (seperti disinggung pada QS. An-Nisa [4] : 81). Saat itu, mereka bersikap seperti sikap orisinal orang-orang beriman. Akan tetapi, di malam hari, sebagian mereka bertemu dan mengatur siasat. Tentu saja, siasat mereka di malam hari itu poinnya bertolak belakang dari pengakuan yang dikatakan mereka pada siang hari tadi di hadapan Nabi SAW.

Penipu. Begitulah mereka.|

Orang ramai sudah mafhum, orang munafik itu sukar dipercaya. Kata-katanya tidak bisa dipegang. Hatinya sukar ditebak. Manuvernya tak terbaca.

Nah, yang jarang diketahui banyak orang, orang munafik itu punya kecerdasan linguistik. Banyak orang terkagum-kagum pada kecerdasan linguistik mereka ini. "Dan jika mereka berkata, engkau mendengarkan tutur katanya," begitu yang disinggung QS. Al Munafiqun [63] : 4. Sampai-sampai, Nabi SAW saja sangat khawatir atas potensi kecerdasan mereka ini.

Akan tetapi, bukan soal kecerdasan linguistiknya yang dikhĂ watirkan Nabi SAW, melainkan daya rusak kecerdasan itu yang disalahgunakan mereka. Bayangkan, Aisyah RA, istri Nabi SAW, putri Abu Bakar RA, perempuan suci bergelar Ummul Mukminin saja jadi korban daya rusak kecerdasan mereka itu. “Inna akhwafa ma akhafu 'alaikum ba’di kullu munafiqin ‘alimul lisan.”Sungguh, yang paling aku khawatirkan atas kalian semua sepeninggalku adalah orang munafik yang pintar berbicara. Demikian pesan Nabi SAW menurut riwayat Imam At-Tabrani.

Wallahu a’lam bishawab.

Malam Jum’at. 3 Agustus 2023.

Minggu, 16 Juli 2023

SALAM DARI HARAMAIN


Lautan Manusia di Padang Arafah. Foto Credit: https://www.dakwatuna.com/

AKU masih dikenang. Kabar kenangan dari Haramain ini aku terima pada Rabu, 12 Juli 2023 kemarin. Yang mengenang bukan sosok biasa. Beliau dosenku di UIN (waktu itu masih IAIN) Jakarta, pengampu Mata Kuliah Ulumul Hadits. Namanya Drs. Abdul Haris, M.Ag. Eh, rupanya, istriku juga mengambil kuliah Ulumul Hadits dari beliau juga. Ya Allah, rasa hati senang tak terkira. 

Transmisi kenangan itu dari sahabatku, Ustaz Anton Rukmana. Ya, hari-hari ini, keduanya masih berkumpul di tempat paling mulia di muka bumi, di tanah kelahiran baginda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Di sana, di Haramain, Makkah al-Mukarramah sebelum mereka bertolak ke Madinah al-Munawwarah. Mendapat kabar dan salam ini, seketika, ingatanku terlempar ke masa kuliah dulu, pada mata kuliah yang diampu Pak Haris--begitu aku memanggil beliau waktu kuliah. Di tempat mulia inilah aku dibincangkan dan dipuji. Aiiih, ini pasti karena Ustaz Anton yang memulai mengulik-ngulik beliau.

Oh, iya, sedikit aku deskripsikan dosen ramah ini. Senyumnya selalu mengembang, suaranya lembut, dan perawakannya tidak tinggi juga tidak terlalu pendek. Entah, apakah hari ini perawakan beliau masih seperti itu. Sebab, perawakanku saja sewaktu masih jadi mahasiswanya sangat cungkring, sekarang sudah menjadi ‘pembesar’ alias "pemuda berbadan besar". Keh, keh, keh ….

Lepas dari itu semua, bagiku, Pak Haris bukan sekadar telah menyampaikan transmisi keilmuan sebagai seorang dosen, melainkan menyambungkan transmisi jalur-jalur hadits yang njlimet itu di benakku. Tema hadits menjadi sangat menantang dan membikin penasaran dari tugas men-takhrij hadits, tugas wajib mata kuliah yang beliau ampu. Nah, dari takhrij hadits ini pula, aku bisa merasakan kemewahan sekaligus kerumitan legacy para ilmuan dalam disiplin ilmu hadits yang amat berharga.

Sebelum dicerahkan Pak Haris soal takhrij hadits, dari bacaan atau mendengar ustaz saat ceramah, aku begitu ringan meniru ucapan menyebut kualitas sebuah hadits sebagai "sahih", "hasan", atau "dhaif". Namun, aku belum tahu betapa kompleksnya proses di balik kriteria-kriteria itu disematkan kepada sebuah hadits. Ya salam, ternyata tidak semudah sekadar menyebut "sahih", "hasan", atau "dhaif", Ferguso!

***

BOLEHLAH sedikit aku kasih tahu hasil dari pergulatan men-takhrij hadits ini. Jadi, ia adalah proses menemukan atau mengeluarkan matan dan sanad hadits secara lengkap dari sumber-sumbernya yang primer. Nah, dari men-takhrij ini, nanti akan bisa diketahui kualitas suatu hadits, baik secara langsung karena sudah disebutkan oleh kolektornya maupun melalui penelitian selanjutnya.

Ya, misi utama men-takhirj adalah menunjukkan asal suatu hadits di dalam sumber aslinya, siapa saja yang meriwayatkan hadits tersebut beserta sanad-nya, lalu menjelaskan status hadits tersebut bila memang dibutuhkan.

Problemnya, dasar penguasaan turats-ku tidak terlalu mengakar. Maka, menemukan atau mengeluarkan matan dan sanad hadits secara lengkap dari sumber-sumbernya yang primer, bagiku ini upaya “berdarah-darah”. Aku berpikir, tugas ini berat, ini sangat serius. Besar kemungkinan, untuk tugas ini aku tidak dapat nilai maksimal.

Ah, biarlah. Sanggup menyelesaikan proses men-takhrij, ini sudah menjadi pengalaman yang amat berharga. Dan, ini jauh lebih penting dari sekadar nilai akademik. Bukan begitu, Ferguso?

Sewaktu pembagian tugas, kira-kira menjelang Zuhur, dapatlah aku sepotong matan hadits yang harus aku takhrij dari Pak Haris; “Kullu mauludin”. Dan, badan mulai limbung, mata kunang-kunang, keringat dingin serasa mengembun. Rupanya, aku belum sarapan sejak pagi hari itu. Haaa, maklum ongkos kuliah pas-pasan.

***


Pak Haris dan Ustaz Anton, selfi. Foto Credit: Ustaz Anton.

ADA hal yang membuatku terhenyak saat menggarap tugas ini. Pak Haris meminta mahasiswanya merujuk salah satu sumber pokok dari beberapa kitab rujukan untuk menyelesaikan tugas takhrij, yakni Al-Mu’jam Al-Mufahras Li-Alfadz Al-Hadits Al-Nabawi.

Semula, aku menduga kitab ini susunan ilmuan muslim semisal Tahdzib al-Tahdzib karya Syihab al-Din Ahmad bin Ali bin Hajar Al-Asqalani atau Tahdzib al-Kamal fi Asma' al-Rijal karya Jamaluddin Abu Al Hajjaj Yusuf al-Mizzi yang juga harus aku rujuk. Nyatanya bukan. Al-Mu’jam yang ini terbitan Maktabah Brill, Leiden. Penulisnya Arent Jan Wensinck, orang Belanda. Ini karya orientalis, Ferguso!

Ya, terhenyaklah aku. Bukan soal pada keseriusan Wensinck yang orientalis itu telah menyusun Konkordansi Indeks Kosa Kata Alfabetis dari hadits-hadits yang terdapat dalam Kutub al-Sittah, Musnad al-Darimi, Musnad Ahmad bin Hanbal, dan Muwaththa’-nya Imam Malik. Akan tetapi, karena Wensinck juga adalah murid Christiaan Snouck Hurgronje, Penasihat Urusan Pribumi untuk pemerintah kolonial Hindia Belanda waktu nusantara masih menjadi wilayah kolonial ‘Orang Londo’ itu. Aku sedikit tahulah kelakuan Hurgronje. Dialah orang yang bertanggung jawab akhirnya Aceh bisa dijajah Belanda dan dikuasai. 

Belakangan, aku mafhum, orientalis memang punya kepentingan atas Studi Islam dan Dunia Ketimuran, terlepas dari apa motivasi mereka meneliti. Namun soal Al-Mu’jam, rasanya bolehlah sekadar aku berucap "Dank je" pada Wensinck.

***


Ustaz Anton Rukmana mendampingi Syaikh Hamid menjadi penerjemah pada sesi kajian rutin bakda shalat Jamaah di Mahbas Jin. Foto Credit: Drs. Abdul Haris, MA.g.

RELASI aku dengan Pak Haris bertambah panjang karena tersambungkan dengan sahabatku Ustaz Anton. Ustaz Anton bahkan telah menyuburkan lagi kesadaran ilmiah akan warisan ilmu yang pernah aku deras dari beliau. Aku sungguh-sungguh bersyukur telah terhubung dengan orang-orang alim, salih, masih mengenalku serta sudi menjawab salam dan mendoakanku dari Haramain. Padahal kami sudah lost contact lebih dari 23 tahun. Nikmat Tuhan mana lagi yang aku dustakan?

Kabar angin dari beranda akun Facebook Ustaz Anton, hari-hari ini, Pak Haris dan Ustaz Anton masih berada di Mahbas Jin. Mahbas Jin merupakan salah satu kawasan hotel tempat jamaah haji Indonesia bermukim selama di Makkah pada musim haji tahun ini selain kawasan Jarwal, Raudlah, Misfalah, dan Syisyah.

Alhamdulillah, ada yang tidak kalah spesial kabar dari sahabatku Ustaz Anton. Ia sempat menjadi penerjemah dadakan untuk Syaikh Hamid memenuhi permintaan Syaikh agar ada dari jamaah Indonesia menerjemahkan kuliahnya, semacam kajian rutin setelah shalat berjamaah di sebuah masjid di kawasan Mahbas Jin. Dan, Pak Haris dengan ketawaduannya, mengambil gambar Ustaz Anton saat mendampingi Syaikh. 

Masya Allah! Sungguh, semoga kabar dari Haramain ini memendar darinya cahaya keberkahan buatku juga. Juziitum kulla khair, para guru.

Di sela kepenatan mengoreksi tugas mahasiswa PPG UIN Jakarta, Depok, 16 Juli 2023.

Selasa, 11 Juli 2023

2920 HARI



Ilustrasi Perempuan Berhijab. Foro Credit https://www.islampos.com/

TIGA hari lalu, saya dan istri begitu bahagia. Kabar tentang Vera membuat kami berdua semringah. Bagaimana kami tidak bahagia, Vera sudah sah menjadi seorang ibu.

Vera sahabat istri saya, guru dari putra saya yang istimewa; Qurban Bayram Jaziila. Vera amat telaten mendampingi putra kami ini dengan segala keunikan Jaziila. Sewaktu duduk di kelas dua, sepatu melayang. Lain waktu, Vera dan Jaziila seperti rebutan tas, saling tarik. Pasalnya, Jaziila ngambek, dia tidak suka diberi PR dari Wali Kelasnya itu.

17 Juli esok, Jaziila sudah masuk SMA. Dia sudah berubah banyak. Dan, Vera diakuinya sebagai guru favorit saat ia kenang sekarang. Hanya saja, malam ini, raut wajah Jaziila tidak sesemringah seperti dia mengenang kelakuannya pada Vera semasa di SD dulu.

***

TIGA hari berlalu kemarin, saya dan istri bergegas akan menjenguk Vera. Kami ingin merasakan aura bahagia bersama, juga bersama suaminya. Maka, meskipun sedikit capek karena aktivitas sejak pagi cukup padat, selepas shalat Maghrib, kami meluncur, tak sabar ingin menyambut bayi Vera, penghuni baru muka bumi entah yang ke berapa dari cacah penduduk dunia hari ini.

Bisa jadi, bayi Vera menggenapi angka seratus sampai tiga ratusan ribu dari total kelahiran 371,504 bayi dalam sehari di seluruh dunia. Sebagai catatan, angka perkiraan UNICEF di atas berlaku pada 1 Januari 2021. Maka, tak heran, dari data real time situs World Population Review mengungkapkan, jumlah penduduk dunia pada 4 Juni 2023 saja telah mencapai 8.039.642.225 jiwa. Tentu, angka di atas sudah berubah pada hari ini, di 11 Juli 2023.

***

DELAPAN tahun penantian, boleh jadi waktu yang teramat panjang bagi Vera. Akan tetapi, Allah balas kesabaran perempuan ini dengan hadiah bak intan permata. Ya, buah hati yang dinanti-nanti guru kelas 5 SD Muhammadiyah Meruyung ini sudah "brojol" dari rahimnya. Sayang, saat kami sampai di rumahnya menjenguk, Vera masih di rumah sakit. Kami tak sempat bertemu, juga belum berjodoh melihat bayi laki-lakinya yang mungil.

Saya terheran-heran mendengar penuturan ayah Vera yang kami temui di masjid selepas shalat Isya. Kata ayahnya, Vera baru menyadari sedang mengandung di saat kandungannya sudah berusia tiga bulan. Masya Allah, padahal bila menangkap jiwa cerita istri saya, betapa Vera menginginkan kehamilan sampai pada batas mimpinya, seperti “kasih yang tak sampai”. Hanya kesabaran, ikhtiar, dukungan sahabat, saudara, dan karib kerabat yang menguatkan Vera bahwa harapan untuk punya momongan terasa sangat dekat. Benarlah harapan itu nyata adanya pada minggu pertama di bulan Juli tahun ini, di saat vera menikmati libur menjelang tahun ajaran baru.

Delapan tahun seperti tidak berarti lamanya masa yang dihabiskan Vera. Lelahnya terbayar, kesabarannya berbuah, dan penantiannya berakhir. Pastilah, dalam dekapannya di hari-hari kemarin bayi mungilnya tertidur pulas, ASI-nya mengenyangkan lapar dan dahaga dalam bahasa tangis bayi yang merdu, degup jantung mereka pun menyatu dalam belaian dan buaian Vera yang tertunda sekian lama. Ah, saya membayangkan, betapa indah dan berwarna hidup Vera kelak sebab dia sudah sempurna menjadi seorang ibu.

***

MATA saya terasa panas. Air mata istri saya jatuh. Rasanya, cita rasa dunia berubah begitu amat singkat. Vera yang dalam tiga hari kemarin kami bicarakan dalam irama bahagia penuh syukur, petang tadi berubah menjadi sedih, sepilu jiwa yang rapuh ditinggal pergi. Kabar duka kami terima, Vera berpulang. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raji'un.

Dalam batas waktu, juga dalam batas logika pendek manusia, bisa jadi Vera dianggap begitu singkat menikmati kehadiran buah hatinya setelah menghabiskan masa penantian yang panjang. Vera yang menunggu lebih dari 2920 hari lamanya, setelah mendapatkan semua harapan, Vera harus berpisah, menjemput maut meninggalkan bayinya yang masih merah.

Akan tetapi, dalam prasangka baik yang tulus, saya pribadi percaya, Vera wafat di saat ia mengecap kebahagiaan yang teramat sulit ia gambarkan tanpa jeda. Sekali lagi saya percaya, sembilan hari bagi Vera kemarin, merupakan hari-hari paling indah, paling bahagia, dan paling bermakna sampai Vera datang menghadap Rabb-nya dengan perasaan rida.

Selamat jalan Vera Permatasari. Mengingatmu sekarang, menyadarkan kami bahwa cepat atau lambat, akan tiba waktunya kami menyusul. Kesan atasmu tidak akan terhapus hanya karena kamu mendahului kami berpulang. Terima kasih telah mendampingi Jaziila dengan sabar. Nikmatilah pahala pengabdianmu sebagai guru Jaziila, juga pahala sebagai guru dari murid-muridmu yang lain yang terus mengalir. Tenanglah jiwamu, sebab di sini, ada banyak tangan yang menjaga, merawat, dan menyayangi bayimu seperti tangan ibunya sendiri. 

Semoga Allah membahagiakanmu lebih dari kebahagiaan yang kau terima menjelang akhir hayatmu. “Ya Allah, ampunilah dia, belas kasihanilah dia, sejahterakan, serta maafkanlah kesalahannya."

Aamiin.

Depok, 11 Juli 2023. Menjelang tidur di atas tikar kenangan.

Sabtu, 01 Juli 2023

DUA KOVER SATU KELAS

Kover final Antologi Puisi "Ketika Jakarta Tidak Lagi Menjadi Ibu Kota Negara". Foto Credit, Mas Wahyu Topeng

DALAM seminggu ini, tiga informasi menyapa amat menggembirakan saya. Pertama, kover antologi puisi dari KLB ( Komunitas Literasi Betawi) 4 sudah menampakkan diri. Rasanya gimana gitu. Di sana, ada satu karya puisi saya yang lolos kurasi. Ini kejutan. Saya seperti masuk "dunia lain", dunia puisi.

Sejujurnya, saya merasa amat kecil dalam antologi itu nantinya. Betapa tidak, nama-nama dari penulis puisi yang lolos kurasi adalah para senior, para penyair, mereka yang darahnya sudah menyatu dengan puisi. Begitulah yang saya tangkap dari komunikasi penghuni Grup WA menuju KLB 4, rumah maya bagi para peserta yang lolos kurasi. Sementara saya, baru merangkak dan tertatih-tatih memilih diksi, belum sampai pada jiwa yang membuat sebait dua bait puisi terasa bernyawa dan hidup.

Meski merasa kecil, saya punya harapan besar. Satu saat, bukan mustahil keinginan punya antologi puisi sendiri bisa terwujud. Dari mana? Dari hasil belajar dengan para penyair dalam antologi "Ketika Jakarta Tidak Lagi Menjadi Ibu Kota Negara", tema yang digagas KLB untuk event menulis puisi tahun ini. Dan, pagi ini masih menjadi pagi menunggu bahagia antologi itu.

Kedua, draft recover novel "Pengantin Fort van der Capellen Romansa Tanah Batavia dan Padangsche Bovenlanden" pun, sudah mewujud. Gobagsodor, agen yang menggarap perwajahan sampul novel ke-6 saya ini, membuat speechless. Gobagsodor seperti memindahkan 99,99 persen presisi imajinasi di kepala saya.


New Cover Pengantin Fort van der Capellen. Foto Credit, Gobagsodor.

"Pengantin Fort van der Capellen Romansa Tanah Batavia dan Padangsche Bovenlanden" saya tulis dalam durasi cukup panjang, hampir tiga tahun beberapa bulan. Jika bukan karena cinta pada sejarah dan sayang pada karakter dalam ceritanya, rasanya ingin menyerah saja menggarap novel berdurasi 500 halaman lebih sedikit ini.

Saya memulai membuat draft novel ini pada akhir Desember 2017 selepas berkunjung ke Sawahlunto, tambang batu bara Ombilin. Lokus ini menjadi sebagian dari latar cerita dibangun, cerita tentang pendekar dari Batavia yang dibuang Belanda pada 1896, menjadi buruh paksa atau "Urang Rantai" pada tambang emas hitam yang ditemukan insinyur Belanda Willem Hendrik de Greve pada tahun 1868. Akhirnya novel ini rampung juga pada Desember 2020 dan revisi sekitar 3 bulan sesudahnya.

Pada soft launching novel ini, pada Rabu, 28 April 2021 di MULA, Kota Tua, Jakarta, Walikota Sawahlunto hadir dalam perbincangan. "Pengantin Fort van der Capellen" dibicangkan dalam pendekatan dua budaya saat itu; Betawi dan Minang. Wali Kota Sawahlunto bertutur sebagai representasi budaya Minang sekaligus pemegang otorita tambang batu bara Ombilin, dan Bang Icoel (Muhammad Sulhi Rawi), jurnalis Betawi meniliknya dari sisi Batavia era kolonial.

Mendapat masukan setelah soft launching dari beberapa pihak, kover "Pengantin ..." yang dinilai belum utuh menggambarkan emosi cerita (asmara, agama, budaya, etnik, dan patriotisme) dengan konflik yang rumit, ia terlalu sederhana. Maka, meski dengan perasaan masih sayang pada kover lama, recover harus dipilih. Pukul 03.21 dini hari kemarin, Gobagsodor membuat mata berbinar-binar. Wajah "Pengantin ..." jadi semakin menggemaskan.

Ketiga, kabar dari Mas Dede Darmawan, kolega saya di Divisi Media dan Jurnalistik pada organisasi kami bernaung. Mas Dede yang berencana akan membuka kelas menulis mengirim pesan dan gambar. "Alhamdulillah kelas kami lengkap... Dengan Proyektor, Kursi, soundsystem, kipas, wify... Ana mau lanjutin kerjasama kelas menulis ustaz🙏😊," tulisnya.

Wah, keren! Seakan saya sudah terlempar ke ruang kelas menulis, masuk dalam gambar yang dikirim Mas Dede. Speechless lagi.

Rencana Mas Dede yang tertunda hampir 8 bulan setelah kami ngobrol di sebuah kedai kopi bernuansa etnik, tampaknya mendekati hari eksekusi. Kami akan segera punya kelas menulis dalam waktu yang tidak terlalu lama.Turunannya semisal penerbitan, workshop, pesta literasi, dan agenda membangun budaya literasi berbasis santri dan peserta didik sudah dipikirkan Mas Dede sebelumnya. Mas Dede dengan background pendidikan manajemen, tentu sangat paham soal ini. Bagian saya merancang kurikulum dan mengampu kelasnya.

Ah, belum tentu juga akan jadi seindah yang kami bayangkan. Akan tetapi, indah bayangan itu harus kami perjuangkan. Begitulah aksioma kehidupan, bahwa apa pun harus diperjuangkan, harus ada keringat yang diteteskan, otak yang diperas, ongkos yang ditanggung, dan waktu yang didermakan.

Ruang Kelas Menulis. Foto Credit, Dede Darmawan.


Berang-berang naik pangkat,
Brangkaaaaat!


Dan, pagi ini saya semringah lagi dipantik dua kover dan satu kelas menulis.

Depok, 1 Juli 2023. Di atas balkon yang belum berpagar.