A homepage subtitle here And an awesome description here!

Rabu, 17 Mei 2023

HARI BUKU DAN KONSISTENSI MENULIS


Saya, Anisa, Irwan Kelana, Pak Tris, dan Rahma satu jam menjelang launching Buku Sutrisno Muslimin Sang Inovator, Senin, 10 April 2023.

HARI ini tanggal 17 Mei, Rabu, 2023. 17 Mei diperingati sebagai Hari Buku. Bagi saya, Hari Buku Nasional bukan sekadar momen yang tepat untuk memperingati pentingnya budaya membaca buku, melainkan juga menulis, menulis buku. Seringkali disinggung dalam forum-forum literasi, budaya baca orang Indonesia masih rendah, apalagi literasi menulis, karena sejatinya menulis lebih kompleks dari sekadar membaca.

Hari Rabu itu istimewa. Di samping jatuh sebagai Hari Buku Nasional pada tahun ini, ia juga hari kelahiran saya meskipun bukan di bulan Mei. Bulan kelahiran saya jatuh pada musim bunga sedang mekar. Ya, bulan kelahiran saya bulan amat romantis. Barangkali, muatan romantisnya setara seperti saat Pak Alvian, kawan sebelah meja kerja saya, guru bahasa yang sastrawan itu mempersembahkan sekuntum mawar merah tanda cinta pada kekasihnya. Aiiih.

Balik maning nang laptop.

Memperingati Hari Buku Nasional bisa dengan beragam cara. Dari yang umum seperti membaca, atau menggelar acara yang fokus pada segala hal tentang buku dengan kemasan acara yang serius, edukatif, dan tentu mahal karena ada biaya yang dikeluarkan. Akan tetapi, asalkan acara itu bermakna dan tepat sasaran dengan tujuan Hari Buku Nasional, rasanya penting digelar sebagai bentuk investasi literasi di masa depan. Rasanya, terlalu banyak segmen literasi yang bisa diangkat dalam sebuah acara bertema literasi seperti pada Hari Buku Nasional.

Dunia pendidikan, atau spesifiknya dunia sekolah, seharusnya yang paling giat mengambil peran di sini. Sekolah jangan menafikan perannya sebagai Center of Literacy dalam arti yang unik, bukan dalam makna dasar literasi sekadar calistung di ruang kelas saja. Apalagi bila sekolah itu sudah punya koleksi buku karya siswa dan guru, keunikan itu sudah di genggaman. Tinggal selangkah lagi memeriahkan Hari Buku Nasional tidak sekadar mengucapkan “Selamat Hari Buku”.

Akan tetapi, tidak melewatkan menyampaikan ucapan “Selamat Hari Buku”, tanda penghargaan pada literasi masih ada ruhnya. Masih ada selebrasi kecil dalam bentuk flyer, tanda jantung literasi masih berdegup. Tentu, ini masih menggembirakan daripada senyap. Apalagi bila ada insan pedagogik yang berkata, “17 Mei, Hari buku. Emang?” 

Ambyar!

Menulis buku adalah salah satu cara autentik memaknai Hari Buku Nasional. Asalkan buku yang ditulis itu punya daya pikat, daya gugah, dan daya ubah pembacanya, kata Bambang Trim itu sudah cukup disebut sebagai buku yang bagus. Meskipun tidak harus best seller, buku yang bagus dalam kacamata saya seperti yang diungkapkan Nilanjana Sudeshna “Jhumpa” Lahiri, penulis kelahiran Inggris keturunan India. Nilanjana berkata dengan bahasa sastra berbau roman: 
That's the thing about books. They let you travel without moving your feet.
Saya pernah membaca sebuah blog. Pada satu tulisannya, sang blogger bercerita tentang novel “Kain Ihram Anak Kampung”. Ada satu paragraf yang saya garisbawahi, berisi kesan blogger itu tentang Istanbul. Kata blogger itu, penulis “Kain Ihram Anak Kampung” berhasil membawa dirinya terbang ke Istanbul. Penulisnya dinilai sangat ril menggambarkan kota yang dulu bernama Konstantinopel dengan sangat detail seakan-akan ia sedang berada di sana, persis seperti ungkapan Nilanjana di atas. 

Maka, terbayanglah salju yang turun di pelupuk mata kala itu, tulip yang mulai mekar di antara trotoar, dan lampu kota yang menyala terang di waktu malam saat saya membangun setting novel "Kain Ihram". Terbayang lagi hiruk-pikuknya Istiklal Caddesi di sebuah kedai kopi saya menepi.

Sayang sekali, saya tidak sempat mencatat Uniform Resource Locator (URL) blog itu untuk melacak dengan mudah web yang mengarah ke website, halaman web, atau dokumen tertentu di internet saat akan dirujuk lagi. Entah, mengapa saya melewatkan proses ini, proses yang bisa menjawab tuduhan asal ngecap. 


***

“IF there’s a book that you want to read, but it hasn’t been written yet, then you must write it.” Begitu tulis Toni Morrison untuk memantik siapa saja yang hobi membaca untuk mulai menulis. Memang, penulis selalu punya peluang mempersembahkan buku unik yang pertama hadir di dunia pada pembacanya, sementara si pembaca boleh jadi hanya orang yang ke seribu yang membaca buku itu.

Umumnya, seorang penulis adalah pembaca setia. Sebab, ia tidak akan bisa menulis sempurna bila ia tidak setia membaca. Setelah itu, ia setia menulis.

Kata orang, memelihara konsistensi itu sangat sulit. Demikian pula konsistensi menulis. Maka, saya begitu kagum dengan para penulis yang hampir setiap tahun menelurkan satu judul buku atau lebih, baik fiksi maupun nonfiksi. Apakah mereka itu tidurnya saja sambil menulis, ya?

Di Hari Buku Nasional hari ini, Rabu 17 Mei 2023, saya teringat seorang penulis berbakat. Namanya Mutiara Sya’bani, penulis KKPK (Kecil-kecil Punya Karya). Sewaktu masih menjadi Kepala UPT. Perpustakaan Madrasah Pembangunan, saya sempat mengagendakan akan menghadirkan Muti–begitu biasa penulis ini dipanggil–untuk berbagi pengalaman menulis dengan peserta didik MI (Madrasah Ibtidaiyah) Pembangunan. 

KKPK terbitan DAR! Mizan, semacam imprint yang menerbitkan sastra anak, Divisi Anak dan Remaja dari penerbit Mizan untuk karya-karya sastra yang ditulis oleh anak.KKPK di perpustakaan Madrasah Pembangunan sangat digemari, laris betul bak kacang goreng di tangan peserta didik MI Pembangunan. 

Hanya saja, niat menghadirkan Muti belum kesampaian sampai tugas tambahan saya di perpustakaan berakhir pada Februari kemarin. Semoga rencana ini diteruskan Kepala UPT Perpustakaan berikutnya.

Saya belum pernah berjumpa Muti, tapi saya kenal baik bundanya Muti. Usia Muti masih sangat belia, baru kelas 8. Ia menulis sejak kelas 1 SD. Hari ini, karyanya sudah 50 judul di KKPK, satu komik berjudul “Jagoan Komik Cilik” terbit di Pustaka Al-Kautsar pada 2020, dan satu komik berjudul “Bianglala Asa”, sebuah Kumpulan Cerpen pemenang Lomba Cerpen anak Gramedia terbitan BIP pada 2021. 

Pada April kemarin, lagi, Muti baru menyelesaikan satu naskah kumpulan cerpen; KKPK Edisi Reuni. Naskah ini diproyeksikan terbit pada pertengahan tahun 2023 ini. Hmm, makan apa anak ini? Semoga Muti bisa menjaga ritme menulisnya dari waktu ke waktu, bisa konsisten.

***

MEMELIHARA konsistensi menulis dengan memulai menulis, sukar saya bedakan rasa beratnya. Itu karena mana yang lebih berat dari keduanya, saya kurang berminat menyoal. Akan tetapi, bagaimana menjadikan menulis sebagai aktivitas rutin, itu yang lebih penting dipersoalkan. 

Umumnya orang tidak memulai menulis karena alasan takut; takut jelek, takut salah, takut bukunya tidak laku, dan ketakutan-ketakutan lain yang diciptakannya sendiri. Padahal dia punya resources yang cukup melimpah, kecuali skill menulis yang perlu dilatih. Sementara resources-nya yang lain seperti ilmu, pengalaman, ide, gagasan, serta kedudukan seperti "dibunuh" oleh ketakutan yang tidak lebih hanyalah bayang-bayang semu. 

Jika alasan tidak menulis karena takut tulisan jelek, nasihat James Whitfield Ellison, novelis ternama, penulis “Finding Forrester”, “Akeelah and the Bee”, “Master Prim” dan masih banyak lagi karyanya yang inspiratif menjadi penting direnungkan. Ellison pernah memberi tips dalam menulis “Mulailah menulis, jangan berpikir. Berpikir itu nanti saja. Yang penting menulis dulu. Tulis draft pertamamu itu dengan hati. Baru nanti kau akan menulis ulang dengan kepalamu. Kunci utama menulis adalah menulis, bukannya berpikir.”

Nah, jadi begitu.

Selamat Hari Buku, selamat memulai, dan memelihara konsistensi menulis.

Ruang Guru MTs Pembangunan, 17 Mei 2023.


Minggu, 14 Mei 2023

JADWAL PROFESOR DAN SALAM PAK MENTERI


Mausoleum of Umr ibn al-Aziz, Syiria. Foro credit: https://madainproject.com/

Hari Kamis, 11 Mei 2023, saya masih di kelas, sedang membahas Kompetensi Dasar terakhir semester genap; Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Saya memang mengampu mapel Sejarah Kebudayaan Islam di kelas VII di Madrasah Tsanawiyah Pembangunan UIN Jakarta. Ada keteladanan sangat penting dari materi hari itu, yakni soal ketaqwaan dan kezuhudan seorang khalifah.

Asal tahu saja, umumnya di madrasah, Sejarah Kebudayaan Islam kurang diminati, baik oleh guru yang mengajar, apalagi siswa yang belajar. Mapel ini selalu diasumsikan sebagai pelajaran yang sukar, membosankan, serta banyak data tahun dan tokoh yang harus dihafal. Begitulah.

Akan tetapi, saya kerap menyiasati dengan berbagai pendekatan pembelajaran. Tentu, supaya asumsi di atas tidak selalu dianggap benar. Dan, hari itu, pembelajaran saya padukan dengan menyaksikan film pendek tentang Umar.

Saat peserta didik senyap menyaksikan film tentang Umar, WA masuk ke HP saya.
Assalamualaikum, ustadz, jumat besok bisa khotib di kantor ana, itung2 gantiin jadwal antum yg dulu, kebete[u]lan, Prof Abdul Mu'ti beliau gk bisa baru ngabarin lg di malaysia.
Ngek!

Saya terhenyak. Gantiin Prof. Dr. Abdul Mu’thi, Sekretaris Umum PP. Muhammadiyah, Guru Besar UIN Jakarta. Waduh, berat ini.

Saya memang terjadwal khatib di masjid kantor kolega saya di atas, di Gatot Subroto. Beliau pula yang merekomendasikan saya masuk list dewan khatib di sana dan di dua Kantor Cabang; TB. Simatupang dan Depok.

Pada jadwal saya dua bulan kemarin, karena persoalan teknis, konfirmasi untuk kesiapan khutbah baru tersambung pada Jum’at pukul 11.30 siang. Ini bukan kesalahan kolega saya yang menghubungi, melainkan soal nomor yang dihubungi di HP saya yang sekarat.

Rasanya tidak mungkin, setengah jam terlalu mepet. Karena jarak tempuh dari Ciputat ke Gatot Subroto lumayan memakan waktu, maka dengan berat hati, saya minta dicarikan pengganti. Beruntung, porsi untuk badal khatib di kantor ini selalu ready.

Kembali ke Jum’at kemarin, soal Prof. Mu’thi, ini sesuatu. Bahkan sesuatu banget. Terus terang, ada beban psikologis meskipun sedikit. Siapa dari jamaah di kantor itu yang tidak kenal beliau? Sementara bisa dipastikan, tidak ada satu pun dari jamaah di kantor itu yang mengenal saya kecuali kolega saya tadi. Heheheheheh.

Akan tetapi, urusan khutbah Jum’at bukan persoalan Abdul Mu’thi atau Abdul Mutaqin semata, melainkan urusan syari’at. Meskipun dari sisi kapasitas saya tidak sepadan Prof. Mu’thi, tapi kedudukan khutbah Jum’at sebagaimana menurut jumhur ulama yang merupakan syarat sahnya pelaksanaan shalat jum’at tidak berubah, siapa pun yang memenuhi syarat maju menjadi khatib.

Bismillah, dah.

***


Di atas mimbar, saya bawakan keteladanan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, khalifah yang di waktu muda bergaya Al-Umariyah karena nyentriknya keturunan Umayyah ini. Pejabat negara yang
dijuluki Asyaj Bani Umayyah (yang terluka di wajahnya) ini adalah cicitnya Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu anhu dari jalur ibu. Ibunya bernama Layla binti 'Ashim bin Umar bin Khattab. Neneknya (istrinya 'Ashim) adalah gadis jujur penjual susu dalam kisah yang terkenal, di mana dia menolak mencampur dagangan susunya dengan air.

Dalam timbangan saya, meneladani khalifah ke-8 Daulah Bani Umayah Damaskus itu di atas mimbar Jum’at di Gatot Subroto, instasi di mana eselon satu di bawah Kementerian Keuangan yang berurusan dengan harta negara berkantor sangat kontekstual. Dalam peri kehidupan Umar, manajemen keuangan Daulah Bani Umayyah itu berbanding lurus dengan ketaqwaan dan kezuhudan pribadi di tangan khalifah agung ini.

Khalifah Umar sangat berhati-hati dalam membelanjakan harta Baitul Mal saat itu. Umar hanya mau membelanjakan harta negara apabila berdampak langsung bagi kesejahteraan rakyatnya. Maka, tidaklah mengherankan seorang Abu Bakr bin Hazm, wali kota Madinah saat ia melayangkan surat meminta tambahan kertas untuk mencatat dan mendokumentasikan berbagai kepentingan negara, Khalifah Umar menjawab:
Runcingkanlah penamu dan rapatkanlah tulisanmu, karena aku tidak akan suka membelanjakan harta umat Islam untuk hal yang tidak bermanfaat bagi mereka.
Bahkan, untuk keperluan pribadi dan keluarganya saja, Umar memangkas pengeluaran negara dari gaji yang berhak ia terima. Sebelum menjadi khalifah, gaji Umar tidak kurang dari 40 ribu dinar –setara dengan 9,35 miliar rupiah. Akan tetapi, setelah menjadi khalifah sepanjang 2 tahun 5 bulan 5 hari, Umar hanya menginginkan gaji 400 dinar saja –setara 880 juta rupiah. Beliau juga mengembalikan cincin pemberian al Walid bin Abdul Malik yang melingkar di jarinya ke Baitul Mal sebab merasa itu bukan lagi pemberian yang sah.

Tidak sampai di situ, Umar bahkan memilih meninggalkan istana kekhalifahan yang megah itu. Beliau pindah ke rumah miliknya dan berkantor di sana. Jangan bayangkan seberapa megah dan lengkap fasilitas di rumah itu. Ia hanya rumah sempit dengan perabot yang amat sangat sederhana. Di kamarnya, Umar hanya minta disediakan alas untuk shalat, satu bejana air untuk berwudhu, dan alat untuk menulis.

Semoga saja, sosok Umar bin Abdul Aziz dalam mengelola keuangan negara dengan jamaah di Gatot Subroto ini sangat kontekstual, meskipun soal ketaqwaan dan kezuhudan selalu relevan bagi kaum muslimin di segala instansi, di segala zaman, dan di setiap pemimpin yang punya kesediaan meneladani sang Khalifah, Khalifah agung yang wafat hanya meninggalkan harta berupa satu kursi dari kulit, empat batu merah yang diletakan di bawah kursi, satu botol minyak wangi, dan sebuah kotak terkunci. Sewaktu kotak itu dibuka, di dalamnya hanya ada zirah dan sepotong celana pendek.

Selepas melaksanakan badiyah empat rakaat, saya berucap syukur. Lega. Bagaimana tidak, ini bukan mimbar Jum’at masjid kampung, komunitas saya sendiri.

Beberapa saat berlalu, sebelum ramah tamah dengan DKM, seorang jamaah berbatik agak gelap menghampiri saya.  

“Maaf Ustaz, ada salam dari Pak Menteri.” Kata laki-laki itu berbisik menyebut Pak Menteri yang dimaksud seraya menitipkan sesuatu.

Saya terhenyak. Dua kali terhenyak, pertama karena berkesempatan mengisi jadwal Prof Mu’thi yang berhalangan, dan kedua karena salam dari Pak Menteri barusan. Kepada Allah saya kembalikan setiap kebaikan. Terima kasih juga untuk Sandy, guru Fisika, navigator, sebab saya tak cakap membaca Google Maps.

Depok, di penghujung Syawwal 1444 H yang sejuk.

Minggu, 30 April 2023

PAKE GIGI

Mengupas kelapa dengan gigi. Foto Credit : https://pekanbaru.tribunnews.com/

Muhammadiyah itu seperti gadis belia, cantik memesona. Padahal, usianya sudah tidak muda lagi, sudah satu abad lebih. Akan tetapi, semakin tua usianya, Muhammadiyah semakin menarik di mata banyak orang.

Bukan hanya orang bangsa sendiri yang terpesona pada Muhammadiyah, orang bule juga banyak yang kepincut. Sebut saja James L. Peacock, Clifford Geertz, Howard M Federspiel, dan Robert van Niel yang menyebut Muhammadiyah sebagai organisasi Islam modern-moderat. Mereka-mereka ini, selalu memasang mata dan telinga mengikuti kiprah Muhammadiyah, menuliskannya dalam jurnal, buku, dan hasil penelitian lalu mempublikasikannya. Bagi mereka, Muhammadiyah begitu menarik dicermati.

Robert Hefner, juga termasuk bule yang kepincut itu. Di mata Hafner yang Guru Besar Antropologi Boston University, Muhammadiyah merupakan organisasi masyarakat (Ormas) agama tersukses di dunia.

Demikian juga orang Asia, akademisi dan penulis bermata sipit, ada yang begitu respect pada Muhammadiyah. Prof. Mitsuo Nakamura lah orangnya. Ia sangat konsisten mengamati dan mengkaji organisasi yang berdiri pada 1912 di Kauman. Antropolog dari Universitas Chiba, Jepang ini bahkan meluangkan waktu puluhan tahun untuk mendalami Muhammadiyah. Dan jangan heran, hampir di semua perhelatan Muktamar Muhammadiyah, Nakamura selalu hadir di arena muktamar “saking” ia tertarik dengan Muhammadiyah. Bukunya, Bulan Sabit Terbit di Atas Pohon Beringin: Studi Tentang Pergerakan Muhammadiyah di Kotagede Sekitar 1910-2010 merupakan karya monumental Nakamura tentang Muhammadiyah.

Ada lagi Hyung Jun Kim, orang Korea. Menurut Guru Besar Antropologi Kangwon National University Korea Selatan ini, Muhammadiyah terlalu tawadhu walaupun Muhammadiyah sedemikian besarnya. Dalam tesisnya, Organisasi Islam besar pada umumnya membuat para pengikutnya memiliki sifat fanatik. Pandangan subjektif bahwa organisasinya adalah yang paling benar diikuti dengan kebanggaan memakai simbol atau identitas organisasi. Uniknya, menurut Kim, hal semacam ini tidak ditemukan di dalam Muhammadiyah.

Menurut kaca mata Kim, kultur rasio sangat kuat di Muhammadiyah, demokrasi, dan kesetaraan di Muhammadiyah membuat aktivis dan anggotanya tidak terjatuh dalam fanatisme kelompok. Maka, sepanjang pengamatan Kim, jarang ditemukan kasus para Pengurus Muhammadiyah yang sangat fanatik, tapi tidak menunjukkan fanatiknya itu terhadap orang dengan merayu orang lain untuk bergabung dengan Muhammadiyah.

Begitulah ketertarikan para akademisi, baik ia bule atau bermata sipit pada Muhammadiyah dalam bentuknya yang positif konstruktif. Meskipun demikian, sikap mereka itu tidak membuat Muhammadiyah menjadi jemawa, besar kepala, dan terlena-lena. Biasa saja, proporsional Muhammadiyah menanggapinya.

Di Indonesia, tempat lahir Muhammadiyah, beragam orang menilai organisasi yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan. Ada yang menilai positif, ada juga sebaliknya, negatif alias kurang senang. Orang yang menilai Muhammadiyah dalam bingkai positif bisa jadi karena ia anggota persyarikatan, para simpatisannya, atau “orang Muhammadiyah” yang punya kepentingan politik karena masa Muhammadiyah yang cukup besar dan potensial suaranya didulang.

Menjelang pemilu atau Pilkada, orang model ketiga ini banyak bermunculan. Para politisi itu “jatuh cinta” pada Muhammadiyah. Mereka ini orang partai yang sok kenal dan sok dekat dengan Muhammadiyah. Akan tetapi, ujung-ujungnya ngajak nyoblos calon dari partainya. Jadi, semacam istilah berlaku “ada udang di balik tepung”. Bersikap manis jatuh cinta pada Muhammadiyah karena ada maunya.

Orang pribumi yang “kurang senang” dengan Muhammadiyah juga tidak sedikit. Kadang, ketidaksenangan itu ditunjukkan dengan cara yang sangat naif plus agak-agak norak. Sebegitu naif dan noraknya, kapasitasnya mentereng, gelar akademis tinggi, strata 3 pula yang disandang, tapi kualitas kritiknya macam orang tidak sekolah. Kritiknya lebih mengarah pada lambe nyinyir dan bernuansa membenturkan Muhammadiyah dengan pemerintah.

Ada juga yang tidak senangnya pada Muhammadiyah ditunjukkan dengan cara membabi buta. Sampai harus menghalalkan darah dan mengeluarkan ancaman “bunuh” bagi warga Muhammadiyah. Serem.

Kelakuan seperti ini mirip karakter Marsose, serdadu bayaran Belanda, soldier of fortune yang dibentuk untuk melawan pribumi dan siapa saja yang melawan Belanda. Karena dibayar Belanda, Marsose asyik-asyik saja membunuh sesama pribumi. Marsose atau Londo Ireng itu, kadang berkelakuan lebih Belanda dari orang Belanda itu sendiri.

Meskipun demikian, Muhammadiyah menyikapinya dengan santai, tidak anarkis, dan dewasa. Muhammadiyah lebih memilih jalur hukum. Jalur hukum itu, pun ditempuh sebagai hak jawab, bukan semata menuruti permintaan “Si Marsose” sendiri. “SILAKAN LAPORKAN KOMEN SAYA DENGAN ANCAMAN PASAL PEMBUNUHAN !!! SAYA SIAP DIPENJARA” Begitu ia menantang.

Ada juga oknum Ustaz yang kurang suka dengan Muhammadiyah. Meskipun dijuluki “Ustaz”, tapi komentarnya tidak sekelas Ustaz. Muhammadiyah disebutnya sekte dan anggotanya disuruh melek dalam unggahan di sosial media miliknya. Lalu, di akhir statusnya dia berkoar “Ber-Islam lah tanpa ormas".

Di akun Facebooknya, ia menulis "Yang masih menganut sekte Muhamm*diyah segeralah bertaubat, ini sisi kesamaannya dengan Syiah. Apa yang dicari dari ormas pemecah belah ini? Berislam lah tanpa ormas," katanya lagi.

Saya jadi bertanya, menurut Ustadz itu, Muhammadiyah itu sekte atau Ormas? Lier.

Bisa jadi benar analisis Hyung Jun Kim, bahwa Muhammadiyah terlalu tawadhu di mana tidak ada kasus para Pengurus Muhammadiyah yang merayu orang lain untuk bergabung dengan Muhammadiyah. Sebaliknya, orang seperti oknum Ustaz di atas itu yang getol sekali merayu dan menarik-narik orang Muhammadiyah masuk ke dalam lingkaran dakwahnya. Mereka shalat di masjid-masjid Muhammadiyah, menggunakan fasilitas AUM Muhammadiyah, tapi memengaruhi warga Muhammadiyah untuk mengikuti cara-cara beragama ala mereka. Bahkan pada batas tertentu, mereka terang-terangan menentang kebijakan Muhammadiyah seperti soal penggunaan hisab haqiqi wujudul hilal sebagai metode penentuan awal bulan Ramadhan dan 1 Syawal yang digunakan Muhammadiyah.

Secara umum, saya pribadi, menaruh simpati dengan model dakwah harakah mana pun selama dakwahnya berpegang pada Alquran dan Sunnah. Simpati juga dengan semangat anti bid’ah mereka, sebab Muhammadiyah punya spirit yang sama dalam konteks bid'ah. Sebelum peristiwa perbedaan hari raya kemarin itu, simpati pada dakwah model oknum Ustaz di atas masih saya rawat.

Namun sekarang, rasa simpati itu mulai menurun kadarnya. Sebabnya bukan soal perbedaan pada pilihan soal hisab-rukyat, tapi karena ekses sesama warga Muhammadiyah. Ada anak dan bapak harus bersitegang, padahal sama-sama “orang penting” Muhammadiyah hanya untuk meyakinkan agar mereka tetap shalat Id bersama-sama jamaah Muhammadiyah. Lha, ini kan, aneh.

Bisa jadi pula, diam-diam ada warga Muhammadiyah dan Aisyiyah yang harus mengurut dada sebab ada dari keluarga mereka yang memilih menyempal berbeda shalat Id dan hari raya karena lebih memilih keputusan Itsbat. Bukan semata soal perbedaan pilihan dan keyakinan, sekali lagi bukan, ini soal eksesnya, ada bekas goresan di hari di mana hati harus melepaskan segala sumbatan. Warga persyarikatan, apalagi pengurus Muhammadiyah memang sepatutnya mengikuti keputusan Muhammadiyah, agar tidak ada ekses sesama mereka.

Sepuluh atau lima belas tahun lebih sedikit ke belakang, fenomena seperti di atas tidak terjadi di kalangan Muhammadiyah di sebuah kampung antah berantah. Semua warga Muhammadiyah satu barisan, berjalin berkelindan, dan gembira dalam satu shaf yang rapi di tanah lapang untuk shalat Id dan berhari raya. Andaikan terjadi perbedaan hari raya, semua tetap berdiri pada shaf shalat Id yang sama dan berhari raya di hari yang sama sebagaimana maklumat PP Muhammadiyah. Tua-muda, laki-perempuan, remaja-kanak-kanak, pengurus-simpatisan, semua gembira dalam kebersamaan raya yang khidmat. Satu harmoni yang elegan.

Sekarang tidak lagi harmoni, kurang elegan. Ada riak-riak kecil. Entah, siapa yang mula pertama menciptakan riak-riak itu. Meskipun ada yang tahu, tapi barangkali enggan untuk dikatakan. Akan tetapi, suatu hari, biarlah dituliskan saja sejarah awal mula riak kecil itu bergelombang. Biar warga Muhammadiyah di kampung itu melek.

Ber-Islam-lah tanpa Ormas!

Pernyataan seperti ini tidak salah, tapi tidak maslahat. Memang, menjadi muslim akan tetap muslim meskipun tidak bergabung pada Muhammadiyah atau Ormas mana pun. Islamnya sah. Amal salihnya sah. Kalau mati, sangat mungkin akan masuk surga dengan bekal Islam dan amal salihnya itu.

Perlu juga dimengerti, mengkultuskan sebuah Ormas Islam itu tidak baik. Menganggapnya remeh dan mengkerdilkannya juga sama tidak baiknya. Sebab, Ormas Islam atau katakanlah Muhammadiyah, itu hanya sarana, hanya alat, bukan tujuan. Muhammadiyah adalah sarana atau alat untuk menegakkan dakwah Islam amar ma’ruf nahi munkar agar terbentuk masyarakat Islam yang sebenar-benarnya menurut paham dan keyakinan Muhammadiyah di atas dasar Alquran dan sunnah.

Ibarat mengupas kelapa, orang boleh menggunakan golok agar bisa lebih mudah mengeluarkan dagingnya. Bagi yang tidak mau menggunakan golok, ia tetap bisa mengeluarkan daging kelapa itu dengan digarot misalnya, walaupun sedikit lebih menyulitkan dan bisa jadi ada gigi yang patah atau bibir pecah-pecah meskipun menggunakan gigi juga masih termasuk menggunakan alat. 

Akan tetapi, baik yang menggunakan golok atau gigi, sama-sama bertujuan mengeluarkan daging kelapa dari tempurungnya. Hanya saja, mengupas kelapa menggunakan golok lebih maslahat daripada menggunakan gigi. Itulah sisi maslahat-nya ormas, maslahat Muhammadiyah hadir di tengah-tengah umat.

Bayangkan, ada berapa rumah sakit dan klinik yang didirikan Muhammadiyah, Perguruan Tinggi, sekolah-sekolah, madrasah-madrasah, dan pondok pesantrennya, panti asuhannya, dan lebih dari 1 Triliun digelontorkan Muhammadiyah membantu pemerintah untuk penanganan Covid-19 kemarin. Bukan untuk pamer, tapi untuk menguji otak supaya otak berfungsi soal penting dan tidak pentingnya kehadiran Ormas. Semua aset yang disebutkan di atas ringan sekali didirikan Muhammadiyah karena ditanggung renteng, sama-sama bergerak dalam satu ikatan organisasi.

Sendirian? Apa sanggup seperti Muhammadiyah? Pasti sanggup. Akan tetapi, tidak sedahsyat, se-spektakuler, secepat, sebesar, dan se-maslahat yang dikerjakan Muhammadiyah.

Jadi, masih mau mengupas kelapa pake gigi? Silakan, itu pilihan. Yang pasti, Muhammadiyah memang selalu menarik dibincangkan orang.

Depok, 30 April 2023

Jumat, 17 Maret 2023

DOA UNTUK SAHABAT LITERAT

 

Tempat tidur pasien. Foto credit https://www.istockphoto.com

SAYA mengenalnya sejak kali pertama mengajar di Madrasah Pembangunan, pada 2005. Perawakannya kekar, berkumis tebal, hitam manis, dan suka humor. Senyummya khas. Saya rasa, senyumnya itu jadi daya tariknya yang memesona. Jarang orang yang punya senyum seperti dia. Ya, saya sedang bermain deskripsi seorang Rusli Ishaq. Saya memanggilnya Pak Rusli.

Pak Rusli guru karier yang yang memuncak di Madrasah Pembangunan (MP). Guru ekonomi ini pernah menjadi Kepala MTs, Kepala UPT Perpustakaan, dan Wakil Direktur pada periode Pak Dr. Ahmad sofyan, MA. Tentu, menjadi Wali Kelas pastilah ia lewati juga di MP.

Gaya bicaranya kadang ceplas-ceplos. Asyik diajak dan mengajak bercanda. Meski dalam beberapa sisi Pak Rusli tegas sekali, tapi ia tidak kehilangan sense of humor-nya. Sisi kritisnya juga kuat, menandakan ia orang yang suka berpikir dan mampu menyampaikan gagasan pemikirannya di ranah publik warga MP.

Ia juga literat, sebab banyak bersinggungan dengan dunia literasi perbukuan dan jurnalisme di MP. Menurut cerita Pak Dani, Pak Rusli termasuk yang menyemai dan membesarkan Al Ashri, majalah madrasah yang sempat ia perkenalkan ke seluruh Indonesia melalui pintu Departemen Agama bersama Pak Dani.

Di sinilah kesan pribadi saya melekat pada sosoknya di samping kumis dan senyumnya yang khas itu. Bahkan harus saya akui, karier menulis saya dimulai dari Pak Rusli saat dahulu diajak terlibat projek menulis buku Alquran Hadits untuk kelas 9. Saya lupa itu tahun berapa.

Dapat uang jutaan untuk penulis pemula waktu itu sesuatu banget. Tentu, pengalaman menulis pada kali pertama itu, dapat uang, dan buku diterbitkan meskipun dengan kontrak "Jual putus" itu mewah sekali. Memang, menikmati royaltinya hanya sekali, tapi royalti pengalamannya tetap saya nikmati sampai hari ini. Dan, ini yang mahal, tak cukup berapa pun harga untuk dikonversi.

Kalau boleh, saya mengadu, Pak. Di sini, bukan tadi saat menjengukmu tergolek lemah di bangsal rumah sakit karena saya tak sanggup berucap banyak. Saya ingin katakan, bahwa pengalaman menulis saya yang Pak Rusli semai, masih saya hidupsuburkan. Jemari saya belum berhenti menulis, menulis apa saja yang sekira saya bisa meghibur hati saya di kala penat. Syukur-syukur bila tulisan saya bisa membuat orang bahagia karena terhibur. Hilang pula penat mereka walau sesaat. Tentu, saya jadi bahagia karena tulisan saya jadi obat dan membahagiakan orang.|

HARI ini saat menjenguk, rasa hati tertusuk. Ustadz Mardi yang mengabari keadaannya usai Jum'atan sebelum menjenguk, hati sudah lebih dahulu tertusuk. Tusukan itu mengurai titik embun di pelupuk saat saya menyapa dan memberinya semangat. Sisanya hanya doa-doa lirih semoga ia segera pulih.

Perasaan saya tak nyaman menggambarkan keadaan detail Pak Rusli di sini. Biarlah itu akan jadi milik saya pribadi yang terus memantik doa- doa kebaikan untuknya sampai ia benar benar pulih dan kami bisa bercanda lagi.

Hanya saja, menyeruak juga rona bahagia dari wajah kami di antara masygul yang bergumul-gumul. Pak Rusli masih menyisakan ruang canda yang membuat saya, Pak Sandy, dan Pak Rudi tertawa lebar. Sense of humor-nya masih segar bugar. Ia tersenyum lebar, senyum khas miliknya di kala ia masih sehat. Semoga ini pertanda baik Pak Rusli akan kembali sehat seperti sedia kala. Aamiin.|

"Pak Abdul harus sehat terus, ya. Enggak enak di sini."

Dada rasanya tersedak mendengar pesan Pak Rusli ini. Meski disampaikan dengan suara yang nyaris tenggelam di dasar tenggorokannya karena sakit yang ia tahan, tapi pesan itu jelas di permukaan telinga saya. Hanya sanggup mengangguk sambil  menggenggam erat tangannya yang terbelit selang.

Pikiran pun mengembara ke mana-mana  sampai ke ujung insaf, bahwa manusia, siapa pun dia, tidak selamanya sehat. Manusia tidak selamanya bersuka cita dengan tubuh yang bugar, pikiran yang bahagia, dan jiwa yang segar. Adakalanya, satu waktu, fisik dan jiwa manusia layu karena penyakit.

Sebaliknya, yang sakit biarlah mengeluh sejenak. Itu manusiawi. Sebab, ada masanya jiwa dan raganya akan kembali sehat, seperti bunga yang baru mekar disiram embun pagi yang segar. Maka, tugas yang sehat menjenguknya, mendoakan, dan menghiburnya memerankan embun pagi yang segar itu di samping bangsal hospital.

Bagi jiwa yang melimpah iman, sehat atau sakit sama-sama ujian. Di antara keduanya ada celah menganga yang harus diisi sabar di sana. Orang beriman tidak akan membiarkan celah itu kosong, sebab akan ditempati lupa diri dan putus asa. Akan tetapi, dengan sabar, penyakit menjadi keajaiban, semuanya adalah kebaikan.

Dari Abdurrahman bin Abu Laila dari Shuhaib berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Perkara orang mu`min mengagumkan, sesungguhnya semua perihalnya baik dan itu tidak dimiliki seorang pun selain orang mu`min, bila tertimpa kesenangan, ia bersyukur dan syukur itu baik baginya dan bila tertimpa musibah, ia bersabar dan sabar itu baik baginya." (HR. Muslim)

Lekas sembuh, Pak. Doa kami semua untuk kesembuhan Pak Rusli, doa untuk sahabat literat.

Cirendeu, Pangkalan nyuci motor. Jumat 17 Maret 2023.

Minggu, 12 Maret 2023

SI CANTIK YANG GATAL

SORE INI, Ahad 12 Maret 2023 aku bertemu dengan "Si Cantik" berwajah pink, di sebuah resto di Kota Gudeg. Sungguh beruntung bertemu dengannya di saat yang tepat meski berpisah sore ini juga karena esok pagi aku sudah harus kembali ke Jakarta.

Namanya juga cantik; Cayratia Mollisima. Sekali lagi, Cayratia memang  cantik hingga aku terpesona. Saat kali pertama bertemu itu, ingin kujawil saja tubuhnya yang pink itu. Atau Kucium lembut wajahnya yang bulat atau kecup kelopak matanya saja yang jeli.

Akan tetapi, betapa aku terkejut. Ternyata, Cayratia tak secantik fisiknya. Aku pikir, cantik fisiknya yang pink itu, cantik juga buah cintanya. Nyatanya tidak. Saat aku mencari tahu pada pelayan resto yang sudah mengenal Cayratia sangat dekat beberapa saat setelah aku selesai makan malam, Cayratia ternyata "gatelan". Aku langsung menjulukinya "Si Cantik Yang Gatal". Aku kecewa.|

CAYRATIA berasal dari Singapura. Namun, ia kerap hadir di wilayah Asia Tenggara termasuk Indonesia, Malaysia, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, dan Filipina. Reputasinya sebagai "Si Cantik Yang Gatal" seperti julukan dariku rupanya ia memang suka melanglang buana.

Begitulah dia, The Bush Grape, alias si anggur semak. Dia tumbuh di pekarangan depan resto Pring****, tempat aku makan malam yang sudah aku singgung. Saat itu, dia sedang berbuah lebat, ranum, dan masak.

Akan tetapi, seranum dan semasak lazimnya jenis buah, si anggur semak tak bisa dicicip, apalagi dimakan seperti kita menikmati anggur yang lezat. Bila kita memaksa juga memakannya karena terpesona dengan tampilan fisiknya itu, maka siap-siap saja merasakan gatal di seluruh area mulut dan tenggorokan. Itu karena Cayratia menyimpan racun (kalsium oksalat ) yang tinggi.

Pernah ada tamu resto mendapati Cayratia sedang ranum. Sang tamu langsung memetik dan menikmatinya, tidak minta izin sekadar basa-basi kepada pemilik atau pelayan resto. Maka, drama dimulai. Tamu itu keracunan. Mulut dan tenggorokannya terasa gatal tanpa bisa dia garuk. Sejak itu, pemilik resto menggantung maklumat "Buah Ini Tidak Bisa Dimakan".|

Cayratia Mollisima, Si Anggur Semak. Foto Credit: Abdul

SEBENARNYA, Cayratia bukan buah yang tidak bisa dimakan. Dia bisa dimakan, hanya saja, mulut dan tenggorokan tidak bisa beradaptasi dengan efek racunnya yang kuat. Karena itu, meskipun dia sejenis anggur, tapi dia bukan anggur yang ramah seperi Pinot Noir, Concord, Moon Drops, atau berbagai jenis anggur yang lain yang sedap di mulut dan tenggorokan.

Kodrat Cayratia memang hanya sebatas dipandang. Disentuh masih boleh, asalkan dia jangan dilumat lidah, sebab mulut dan tenggorokan akan menanggung sengsara.

Allah memang menciptakan buah sesuai kodratnya masing-masing. Ada yang hanya cukup sampai di pandangan mata sebagai hiasan, ada buah yang ditakdirkan untuk kelezatan cita rasa pengecap di ujung lidah agar berfungsi ia menerjemahkan manis, kecut, pahit, atau tawar yang segar. Tugas manusia hanya sebatas  mematuhi batas-batas kodrati buah, tidak lebih. Walaupun satu saat, dengan akalnya, manusia bisa saja menghadirkan penawar racun Cayratia yang "kegatelan" itu.|

CAYRATIA Mollisima di resto itu sedang berbuah lebat dan ranum. Siapa saja yang melihatnya pasti jatuh hati, seperti aku yang klepek-klepek. Akan tetapi, ia bukan menawarkan ranum yang sedap. Ia laibun wa lahwun saja. Ia bagian dari perumpamaan dunia yang disebut Alquran sebagai "kesenangan yang menipu".

Namun begitu, Cayratia masih menampilkan sisi baik di samping fisiknya yang memesona, yaitu ibrah. Ibrahnya  sangat pas untuk kolega-kolega saya semisal Pak Eko, Alvian, Wiko, Fauzan, atau Widi yang ganteng-ganteng itu.

Dengarlah nasihat seniormu yang juga lumayan ganteng ini wahai Pak Eko dan sedulur-sedulurnya. Jangan memilih seperti Cayratia, si anggur semak yang cantik, tapi beracun. Pilihlah yang cantik seperti anggur Pinot Noir, Concord, atau Moon Drops yang manis dan aman. Tidak usahlah jauh-jauh melempar pandangan mencari-cari. Mereka dekat sekali dari meja kerjamu. Eaaaaaaa!

Gudlak!

Malioboro, malam Senin yang bersahaja, 12 Maret 2023.


DIENG DAN FILOSOFI KETINGGIAN

Puncak Botorono. Sumber foto:https://www.prodesae.com

KETINGGIAN adalah hal keadaan tinggi. Bisa juga berarti—tempat dan sebagainya—yang lebih tinggi letaknya. Itulah ketinggian.

Ketinggian itu memesonakan, seperti ketinggian Dataran Tinggi Dieng yang dijuluki orang sebagai "negeri di atas awan" di kabupaten Wonosobo. Dan saya, pun terpesona.

Jalan menuju Gunung Dieng saja sudah memesona. Boleh percaya boleh tidak,  bahkan ada yang menjuluki pemandangan di kiri kanan untuk sampai ke puncaknya bak pesona Selandia Baru; New Zealand yang jelita. Tapi, saya belum buru-buru percaya. Sebab, berkunjung ke negara yang berjuluk Negeri Kiwi itu buat membuktikannya sendiri saja tak pernah. Namun, boleh jadi penilaian itu tak jauh meleset. Ah, semoga ada keajaiban berpihak bisa membawa saya rihlah ke sana.

Ada anomali musim antara Wonosobo —khususnya di sekitar Dieng— dengan New Zealand. Anomali itu berlangsung pada Agustus.

Pada Agustus, Dieng sedang berada pada puncak musim panas. Uniknya, pada bulan ini sering muncul embun es. Suhu Dieng menjadi sangat dingin. Di pagi hari, suhu terdingin di Dieng bisa menyentuh minus 1,25 derajat Celsius.

Sementara di New Zealand, Agustus masih musim dingin. Pada 2022 kemarin, suhu rata-rata di sana mencapai 9,8 derajat Celsius dan dinilai sebagai yang terhangat dan terbasah selama musim dingin sepanjang tahun. Sebelumnya, pada 2021, suhu musim dingin menyentuh 1,3 derajat Celsius.|

SAYA tak sempat mencatat nama daerahnya, salah satu kawasan yang diapit lembah Sindoro-Sumbing yang saya lewati di jalur Parakan-Wonosobo, panorama sangat menakjubkan. Awan seperti sejajar dengan badan bus yang saya tumpangi. Bus laiknya sedang melaju terbang di atas awan. Begitulah imajinasi saya membayangkan.

Pada kawasan itu, sesekali wujud rupa  sawah terasering elok meliuk-liuk di beberapa bagian yang curam. Tumbuh rimbun di tiap keloknya itu: padi, sayur mayur, dan palawija.

Di sisi kiri bus yang melaju melambat, di antara lembah yang menggantung searah Gunung Sumbing, ada kawasan menjulang. Pada badan puncaknya, ada tulisan terbaca samar; "Botorono".  Saya duga, karena belum sarapan, "Boto" dibaca "Soto" oleh Pak Agung. Jadilah ia berbunyi  "Sotorono". Itu sekira pukul 08.15 menit, waktunya sarapan yang terlewatkan. Tentu, "Boto" menjadi "Soto" adalah sebuah distorsi.

Selain lapar, mengantuk juga bisa menjadi sebab seseorang melakukan distorsi. Tulisan "OUTLET STORE" di depan Masjid Sabilul Istiqomah di Rest Area KM 379 A Tol Batang-Semarang dibaca "TOILET STORE" oleh Pak Efron saat hendak menuju bus usai shalat Subuh. Haaaa.

"Maklum, masih ngantuk." Pak Efron berkilah sambil tertawa.

Bila saja Pak Agung dan Pak Efron sedang bersungguh-sungguh dalam lapar dan kantuknya, maka, kesimpulan saya: jangan percaya pada dua orang; orang yang sedang lapar dan orang yang masih mengantuk. Besar kemungkinan ada distorsi.|

Saat otak dan bobot tubuh membuat lelah, maka berbaringlah. Foto Credit: M. Agung Sya'ban.

DIENG memang memesona dalam ketinggian fisik. Meski orang harus berlelah-lelah untuk bisa sampai ke puncaknya, ditempuh jua meski jantung kerap bedegup kencang saat bus menanjaki tikungan tajam di sisi jurang yang menganga. Sebenarnya, mahal sekali taruhannya bila pandangan dibuang sampai ke dasar jurang.

Akan tetapi, di balik taruhan yang mahal itu, mata hati yang jernih menemukan kepuasan atas lukisan alam Mahakarya Sang Pencipta yang mengantar pada kekaguman dan tasbih; "rabbana ma khalaqta hadza bathila subhanak".

Begitulah.

Secara psikilogis, dalam bingkai filosofis, ketinggian—jabatan, karier, popularitas, uang, reputasi, bahkan ilmu dan amal— sering melenakan. Tidak jarang, ketinggian psikis dapat menjadikan pemiliknya lupa diri karena merasa di atas segala orang per orang. Ia bisa mengubah perilaku, pola pikir, dan pola hidup. Distorsi yang dihasilkannya jauh lebih merusak.

Distorsi yang paling ringan dari ketinggian psikologis adalah lupa. Orang mudah lupa bahwa tidak ada lagi tangga menuju ke atas sesudah puncak selain harus turun tersuruk ke bawah, suka atau tidak suka. Atau dalam bahasa syair Bang Haji Oma, "Pesta Pasti Berakhir".

Bila tidak mawas diri, jiwa mudah tertipu oleh ketinggian, seperti tertipunya mata dari ketinggian perspektif atas dan bawah. Bukankah saat kita sedang berada di ketinggian, umumnya akan merasa bahwa orang di bawah sana terlihat begitu kecil? Akan tetapi, sadarkah kita, bukankah orang yang berada di bawah sana, pun melihat kita begitu kecil? 

Maka, di mana pun ketinggian itu dipijak, biarkan puncaknya tetap membumi. 

Happy weekend.

Yogyakarta, Sahid Raya Hotel, 11 Maret 2023.

Jumat, 10 Maret 2023

SEPIRING RINDU GULAI PAKU


Katupek Gulai Paku. Foto Credit Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Pariaman

BILA aku kangen Bunda, aku datang ke lapak Katupek Gulai Paku, Sate Padang, atau warung Nasi Padang sekalian. Dengan cara itu aku dapat dua kepuasan; kangen yang sedikit terobati dan perut kenyang.

Pagi ini, kangen pada Bunda dan keluarga terasa kuat sekali. Ada apa, ya. Kalau sudah begini, aku cuma berharap, semoga Bunda dan Ayah sehat-sehat, anak-anak, dan sanak saudara Bunda juga sehat-sehat. Lalu, ingatan ini terbawa lagi ke Kuranji, rumah Bunda yang bersahaja.

Sambil mengantar Mikal, putri sulungku mampir ke teman kost sebelum latihan di teater kampusnya, sepintas kulihat ada warung Katupek Gulai Paku di sisi kiri jalan Kertamukti, tidak jauh dari seberang jalan depan Gedung Pascasarjana UIN Jakarta. Ah, kebetulan, pikirku. Maka, beres urusan mengantar, aku menepi.

Kali pertama aku menikmati orisinalnya Katupek Gulai Paku itu di Pasar Ateh, Bukittinggi. Aku dan seorang kawan, namanya Lukman Hakim Sidik. Waktu itu, aku dan Lukman tinggal duduk dan makan. Ayah yang traktir. Itu sarapan pagi yang sukar aku cari padanan gembiranya sampai sekarang.

Sedapnya Katupek Gulai Paku di Pasar Ateh yang aku nikmati meresap sampai ke hati. Di lidah, sedapnya kadang masih datang sendiri bila diingat lagi. Seperti pagi ini, tiba-tiba saja air liurku terbit. Ya, bagaimana tidak, sudahlah makannya ditraktir, makannya di pasar bersejarah pula kala itu.

Pasar Ateh memang bersejarah. Ia mewujud dari keringat jasa masyarakat Agam. Pada 1858 M, pemerintah kolonial Belanda mengerahkan tenaga rodi yang berasal dari Agam Tuo, Agam bagian timur untuk mendatarkan puncak tertinggi di Bukittinggi yang kemudian menjadi pasar Loih Galuang atau Pasar Ateh itu.|

AJIB, Katupek Gulai Paku di Kertamukti yang aku nikmati barusan hampir setara sedapnya dengan yang aku nikmati di Pasar Ateh. Aku tanya Uda si penjual, rupanya dia orang Pariaman.

Meski Katupek Gulai Paku merupakan makanan khas Sumatera Barat, di Kota Pariaman makanan ini termasuk urutan paling atas kuliner khas kota kabupaten ini. Kota Pariaman yang bermotto “Saiyo Sakato”, sedap Katupek Gulai Paku-nya seiya sekata dengan lidahku. Kapan waktu, ingin rasanya bisa menikmati seporsi Katupek Gulai Paku di Parit Malintang, Ibukota Kota Pariaman bersama Bunda dan Ayah. Tentu, kalau bisa bersama Pak Lukman lagi, sebab dia urusan pengadaan tiket Jakarta-Padang pulang pergi. Wkwkwkwk.

Suer, asli. Katupek Gulai Paku di Kertamukti ini sedap sekali. Aku pasti datang lagi lain waktu. Jaraknya pun tidak terlalu jauh dari tempat aku mengajar. Tinggal kontak Roni dan Sandy, kawan satu atap tempat aku mencari sesuap nasi di madrasah, gaspoll.

Pada 2017 itu, Roni dan Sandy juga ikut ke rumah Bunda. Dua orang kawan ini wajahnya pucat pasi saat mobil yang dikemudikan Ayah yang mengemudi macam Hiroshi Masuoka pereli legenda Paris-Dakar melintas di kelok Ampek Puluah Ampek. Sementara, Bunda, Adek Uti, dan Uni Santia tenang-tenang saja, seperti tak terjadi apa-apa di antara jantung tiga orang ini yang empot-empotan dan ramai macam suara bedug bertalu-talu di malam lebaran.

Aku yakin, di dalam hati, dzikir Roni dan Sandy juga tak putus-putus sepanjang kelok. Mulut Pak Lukman sendiri kulirik tak henti komat-kamit sepanjang mobil menanjak, menikung, dan menurun sebelum kami sampai di Bukittinggi. Wajah mereka baru kembali semringah saat kami sudah menikmati Puncak Lawang. Hanya aku yang tetap berusaha terlihat tenang, meskipun jantungku lebih ramai degupnya daripada degup jantungnya Roni, Sandy, dan Pak Lukman. |

Gulai paku makanan berkuah dari kaldu udang rebus yang dicampur dengan santan. Rasa gurih santan berpadu dengan pedas cabai, segarnya asam kandis, sedikit aroma dari daun jeruk purut, daun kunyit, dan batang serai yang digeprek.

Hanya saja, seporsi Katupek Gulai Paku yang aku nikmati pagi ini, kangen pada Bunda bukan malah hilang, tapi tambah merindu berat. Bermula dari kebaikan Uda si penjual yang menawarkan sebungkus Gulai pakunya untuk seorang ibu tua, seorang pengemis.

“Uda, biar gulai paku untuk si ibu saya bayar, ya.” Bisik saya, pelan-pelan.

“Tidak, Pak. Tidak usah. Saya juga mau memberi.” Si Uda membalas setengah berbisik.

Dan, aku hanya tertegun. Rindu pada Bunda, orang yang kebaikannya lestari di hatiku tak jua surut. Ia tidak luruh meski sudah aku hibur dengan seporsi gulai paku khas Pariaman.

Bunda dan Ayah, sehat-sehat, ya. Sebentar lagi Ramadhan 1444 H menjelang. Padang Jakarta terlalu jauh di pandang mata. Tapi, ia begitu dekat di hati dengan doa-doa kebaikan.

Salam sayang dari aku, istri, dan anak-anakku.

Jumat, 18 Sya’ban 1444 H/ 10 Maret 2023 M.