A homepage subtitle here And an awesome description here!

Jumat, 07 Oktober 2022

MOTEL TETANGGA MASJID

Trio Ustaz Korps Mubaligh Muhammadiyah Depok: Fathoni (jaket merah), Irfan, dan Chairil Ihsan. Foto Credit Ustaz Mahfan.

TADI malam, di warung Mie Aceh, sedikit segmen tentang Islam di Korea jadi bahan obrolan. Naratornya Ustaz Irfan. “Ustaz Korea” ini pulang kampung buat sejenak menikmati bulan madu. Enam bulan pengalaman berdakwah di Korea, wajar saja ada futur-nya, ada kangennya pada kekasih.

Dalam konteks waktu enam bulan itu penting digarisbawahi. Secara historis, ia bisa dirujuk. Dahulu, Khalifah Umar bin Khattab (khalifah pada 634-644 M) menetapkan waktu tugas bagi seluruh prajurit Muslim di medan perang tidak lebih dari enam bulan. Jadi, tak apalah kita anggap, Ustaz Irfan itu prajurit yang sedang melaksanakan fatwa Khalifah Umar untuk menemui kekasihnya setelah lelah bertempur enam bulan di medan dakwah.|

KALI pertama Islam masuk ke semenanjung Korea berlangsung pada masa Dinasti Silla. Dinasti Silla merupakan salah satu pemerintahan dari periode Tiga Kerajaan Korea yang muncul pada sekitar 57 SM. Memasuki abad ke-9 M–ada juga yang menyebut abad ke-7–melalui pedagang Muslim Arab, Cina, dan Persia, Islam bersinggungan dengan Semenanjung Korea pada saat dinasti ini berkuasa.

Nanti, pada abad 13-14 M, pada masa Dinasti Koryo (Goryeo), banyak imigran Muslim yang datang ke Semenanjung Korea kemudian menetap secara permanen dan berasimilasi ke dalam masyarakat Korea. Sejak itu, Islam di Korea mengalami pasang surut.

Islam di Korea sempat “tiarap”, dalam arti tidak bisa lagi bergerak bebas pada abad ke-15 M. Adalah Dinasti Joseon yang berkuasa saat itu mengeluarkan peraturan berupa larangan masuknya budaya asing– Politik Isolasi, di mana seluruh rakyat harus memeluk agama Konghucu. Sejak itu, Islam dan Muslim tidak bisa lagi masuk ke Korea. Kontak antara Korea dengan dunia Islam pun terputus selama hampir 500 tahun.

Islam baru bisa kembali hadir di Korea dan mengalami kebangkitan di awal abad ke-20 M. Tonggak kebangkitan itu dimulai pada 1920, saat 250 penduduk Muslim Rusia etnis Kazak Turki datang ke Korea. Mereka orang-orang sipil korban penindasan ekonomi dan politik ekses dari Revolusi Bolshevik Rusia. Di Korea mereka mendirikan pemukiman permanen dan mewarnai geliat Islam di Korea. Sayang sekali, karena gangguan sosial yang menimpa Korea pasca penarikan Jepang tahun 1945, sebagian besar pemukiman ini bermigrasi ke negara-negara lain.

Pada era modern, komunitas Muslim Korea mulai tumbuh. Fase ini dimulai ketika kedatangan pasukan tentara perdamaian Turki saat terjadi perang Korea tahun 1950-1953 M. Abdul Ghafur Kara Ismailoglu menjadi tokoh dakwah sentral pendamping tentara perdamaian asal Turki. Beliau seorang imam yang memperkenalkan dan mengawal perkembangan Islam di Korea saat itu. Hasilnya, 10 orang Korea masuk Islam di tangan Abdul Ghafur. Mereka adalah Changkyou Kim, Chansu Kim, Duyoung Yoon, Iljo Kim, Jaehee We, Jin Kyu Kim, Paikhyun Shin, Sungjao Paik, Youngkul Cho, dan Youngkyu Kim. Setelah itu menyusul beberapa rekan mereka memeluk Islam seperti Sabri Suh Jung Kil, Abdul Aziz Kim, dan Prof. Abu Bakar Kim. Beberapa Muslim generasi awal ini merupakan unsur pertama komunitas Muslim Korea yang terus bertumbuh jumlahnya.

Lalu, pada 1970-an sudah hadir organisasi masyarakat Muslim Korea, Korea Muslim Federation (KMF) yang menggerakkan dakwah Islam di Korea secara lebih teratur melalui pendidikan, media massa, dan isu-isu sosial.

Hari ini, Korea, khususnya Korea Selatan adalah rumah bagi sekitar 200.000 Muslim. 75.000 di antaranya penduduk asli Korea, para muallaf. Mereka terdiri dari guru besar (profesor), doktor, ahli hukum, ahli ekonomi, penguasa, pegawai negeri, tentara, mahasiswa dan petani. Selebihnya, sekitar 125.000 adalah para imigran Muslim yang mulai datang ke Korea Selatan sejak tahun 1990 sampai 2000-an.

Populasi Muslim secara keseluruhan di Korea memang sangat kecil. Misalnya, data Hankook Research yang melakukan survei terhadap 23.000 warga Korea (dari Januari hingga November tahun lalu) Muslim bahkan tidak diperhitungkan dalam statistik.

Menurut Federasi Muslim Korea, keberadaan Muslim berada dalam bayang-bayang populasi umat Kristen yang mencapai 20 persen, Buddha 17 persen, Katolik 11 persen, serta 50 persen tidak beragama dari populasi Korea. Muslim dilaporkan hanya mewakili 0,4 persen dari seluruh populasi Korea pada 2018.

Sebagai rahmtan lil alamin, Islam semakin mendapat tempat di Korea. Dakwah di Korea Selatan pun terus menggeliat. Salah satunya karena faktor imigran. Hari ini, Korea famous dan banyak dilirik para pekerja, wisatawan, dan mahasiswa dari berbagai negara seiring perkembangan pesat Korea dalam berbagai bidang terutama teknologi, sehingga menjadi negara maju dan diakui dunia internasional. Faktor inilah yang mengundang, khususnya imigran Muslim ke Korea baik sebagai pekerja atau mahasiswa.

Lembaga-lembaga filantropi Islam melihat ini sebagai peluang dakwah. Di samping sebagai upaya memelihara layanan keislaman para migran, tentu segmentasi dakwah Islam di Korea juga harus dilanjutkan para dai.|

OBROLAN dakwah di Korea ini menarik sebab ia pengalaman empirik. Ditambah Mie Acehnya juga gratis, tambah enak. Hahaha. Dan, Ustaz Irfan berlaku sebagai dosen sejarah yang menyampaikan kuliah Islam Korea di atas meja hidangan Mie Aceh.

Ustaz Irfan menyimpan greget, tapi bukan greget pada gadis Korea yang kata ustaz ini 
“tjakep-tjakep”. Greget itu soal niat akan menuliskan pengalaman utuh dakwah di Korea ini dalam satu buku. Wah, jika greget ini terwujud, akan jadi literasi memoar dakwah yang “tjakep”, lebih “tjakep” dari artis Drakor semisal Jang Nara dan Shin Hye Sun. Aihihihihi.

Dari menyimak cerita Ustaz Irfan, jadi memang, dunia dakwah seperti dakwah di Korea dan umumnya di negara-negara yang Muslimnya minoritas, medan dakwahnya naik turun dan penuh “gajlugan”. Tantangannya benar-benar berat. Haq-batil, surga-neraka, dan salih-kafir berhadapan vis a vis sampai ke tembok masjid. 

Saya tidak mungkin mengira Ustad Irfan hanya sekadar berkelakar soal motel yang bersebelahan dengan masjid tempat pusat dakwah Ustaz Irfan. Saban malam, suara “desahan” penghuni kamar motel sampai nyaris terdengar masuk ke ruang shalat dari balik tembok masjid. Apa ini tidak serem?

Belum lagi pengalaman ustaz lulusan Libya ini pernah "digodain" gadis Korea yang putih dengan pakaian minim khas musim panas. Mana istri jauh di kampung halaman pula. Lha, ini lebih seram, kan?

Berat, berat sekali. Jadi, dai-dai yang berani masuk rimba dakwah Korea, memang dai-dai kelas berat yang tahan banting lahir batin. Ustaz Tamami secara terbuka merespons bahwa rasanya ia belum tentu sanggup "dibanting" jika terjun ke medan dakwah seperti medan dakwah di Korea.

Tadinya, pikir nakal saya mengira ustaz ahli sembelih itu tidak sanggup soal gadis Korea-nya. Untunglah ada penjelasan belakangan bahwa ketidaksanggupan ustaz karena jauh dari istri. Saya jadi tahu pula kelemahan Ustaz Tamami ini, soal di mana baju koko buat ceramah besok, ustaz tidak tahu di mana ia disimpan karena yang tahu nyonyanya ustaz. Kan, gak mungkin ceramah pake kaos oblong, sebab di mana kaos oblong disimpan pun, ustaz juga tidak tahu. Pantas saja Ustaz Tamami uring-uringan jika jauh dari nyonya.

Memang waktunya amat terbatas. Malam Jumat pula. Jadi, kuliah Ustaz Irfan berakhir menjelang Isya, sementara rasa ingin tahu masih menagih-nagih. Saya percaya, masih banyak hal yang belum diungkap Ustaz Irfan. Tentu konten-konten dakwah substantif yang menjadi bagian dari problematika dakwah di Korea yang cukup menantang. Karena itu, kita tunggu buku Ustaz Irfan yang mengulas aktivitas dakwahnya di Korea dari hulu hingga hilir.

Bravo, Ustaz Irfan!|


Senin, 03 Oktober 2022

DAKWAH MEDIA PROFETIK




Kover Majalah Tabligh

Kewajiban Dakwah

TUGAS dakwah terus berpindah. Semula, tugas berat ini hanya diemban para Nabi, sendirian saja sebelum mendapatkan pengikut. Awalnya dengan sembunyi-sembunyi, lalu secara terbuka dan terang-terangan seiring seruan mendapatkan sambutan.

Dunia dakwah mengalami pasang surut dan berliku. Pertama karena tantangan dakwah tidak ringan. Kedua karena pendakwah bergeming pada kebenaran yang diserukan. Kedua hal ini akan terus bergelut untuk saling mengalahkan. Konsekuensinya pun ada dua kemungkinan; dakwah akan terus berlangsung karena keteguhan pendakwah, atau surut ke belakang karena tantangan semakin berat.

Keyakinan pada kebenaran menjadi kunci dakwah terus tersambung sampai sekarang. Memang begitulah janji Al-Quran apabila yang haq telah datang, maka akan hancurlah segala kebatilan (QS. Al Isra [17] : 81). Dan, karena tantangan ini, semangat dakwah bukan malah padam melainkan kian berkobar. Sebaliknya, manakala keyakinan pada kebenaran yang disampaikan itu sudah hilang, tak perlu badai besar, embusan angin kecil pun sudah cukup memadamkan seruan.

Strategi Dakwah

DAKWAH pada era Nabi SAW dan generasi terbaik sesudahnya tidak lepas dari strategi. Pada era dakwah paling awal di Makkah itu, dakwah dilakukan sembunyi-sembunyi, dengan berbisik dari mulut ke mulut, kepada keluarga dan sahabat dekat lebih dahulu. Tidak ada pilihan strategi dakwah yang lebih canggih selain cara itu. Meskipun demikian, strategi ini sangat efektif.

Strategi dakwah seperti main petak umpet ini berlangsung tiga tahun. Nabi SAW dan para sahabat berhasil merebut hati lebih dari 40 generasi Islam pertama yang militan. Mereka inilah yang dalam sejarah Islam ditulis dengan tinta emas sebagai as-Sabiqun al-Awwalun, generasi paling awal yang memeluk Islam pada kisaran 610-613 M.

Pada era dakwah terbuka dan terang-terangan yang berlangsung sejak 614 M hingga ditutup dengan peristiwa hijrah Nabi SAW dari Makkah ke Yatsrib–nama sebelum diganti menjadi Madinah– pada 622M, dakwah periode Makkah hampir sampai pada titik kritis. Aksi penyiksaan dan isolasi dari kaum Quraisy bisa saja mematahkan iman kaum muslimin yang masih sangat muda waktu itu. Akan tetapi, alih-alih mereka berbalik murtad, keteguhan hati para sahabat malah semakin mengkristal sampai pada periode dakwah Madinah yang berlangsung 10 tahun (622-632 M).

Media dan Islamophobia

DAKWAH sebagai jalan haq akan selalu berhadapan dengan kebatilan. Adakalanya yang haq bisa meluluhlantakkan yang batil atau sebaliknya. Karena itu, strategi lagi-lagi menjadi jawaban untuk memenangkan pertarungan.

Ungkapan “Al haqqu bi laa nizham yaghlibuhul baathilu bin nizham”, kebenaran yang tidak terorganisir bisa saja akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir sering ada benarnya. Boleh jadi, kebatilan yang terorganisir malah sudah menang berkali-kali tanpa disadari juru dakwah sporadis.

Hari ini, media memegang peran penting untuk memenangkan pertarungan, apa pun itu, termasuk upaya-upaya memenangkan atau “mematikan” dakwah. Dalam konteks "mematikan" dakwah, Islamophobia termasuk anasir yang terus bermetamorfosis. Islamophobia di tengah arus media digital hari ini semakin rapi daripada Islamophobia zaman jahiliyah pada era kenabian dahulu. Melalui pengorganisasian kendali media, Islamophobia disebarkan melalui media cetak, film, media online, poster, brosur, artikel, buku, bahkan hingga komik secara sangat efektif.

Asrinda Amalia dan Aidil Haris, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Riau menulis “WACANA ISLAMOPHOBIA DI MEDIA MASSA” pada Jurnal Medium Volume 7 Nomor 1, Juni 2019. Penulis mengambil sampel "tribunnews.com" dan "detik.com." Menurut Asrinda dan Aidil, 
"tribunnews.com" dan "detik.com." telah terjebak pada dimensi pewacanaan mendiskreditkan Islam dengan labeling teroris. Dari 10 sampel berita seputar teroris yang dipilih Asrinda dan Aidil, keduanya berupaya untuk menggulirkan wacana Islamophobia di Indonesia. Meski wacana yang digulirkan kedua media itu tidak melabelkan aqidah, namun simbol-simbol Islam dilarutkan dalam pemberitaan kedua media tersebut.

Ada juga Islamophobia berbasis pemikiran. Kelompok ini lebih rapi dan dan terorganisir memanfaatkan media elektronik dan cetak. Mereka mengusung dan mempropagandakan liberalisme Islam. Sangat getol melontarkan gagasan-gagasan “nyeleneh”. 

Ungkapan seperti, “Semua agama sama. Semuanya menuju jalan kebenaran. Jadi, Islam bukan yang paling benar” yang dilontarkan pentolan jaringan ini masih bisa diakses sampai hari ini di media online. Dari mereka, ada juga yang berkata: “Jilbab pada intinya adalah mengenakan pakaian yang memenuhi standar kepantasan umum (public decency)”. Pernyatan ini tendensius ingin menganulir syariat jilbab. Seolah jilbab yang bertujuan menutup aurat sebenarnya hanya persoalan budaya, dan perempuan muslimah tidak wajib berjilbab.

Persoalan ‘iddah pun diserang. Ia dikatakan sebagai konstruk budaya Arab. Salah seorang penulis liberal menyatakan “’Iddah sebagai konsep keagamaan lebih merupakan konstruk budaya dari pada ajaran agama. Sebagai konsep agama, ‘iddah berfungsi mengecek ada tidaknya kehamilan. Di sisi lain, ‘iddah merupakan penahanan istri pada wilayah domestik yang berakar dari konsep budaya yang dipakai sebagai alasan keagamaan.” Oleh sebab itu, maka konsep ‘iddah pun harus direvisi menurut sang penulis.

Surat kabar utama yang menjadi corong pemikiran kelompok liberal adalah "Jawa Pos" yang terbit di Surabaya, "Tempo" di Jakarta, dan Radio Kantor Berita 68H, Utan Kayu Jakarta. Melalui media tersebut gagasan-gagasan dan penafsiran liberal disebarkan secara masif.

Karya-karya cetak berupa buku representasi pemikiran liberal antara lain Fiqih Lintas Agama, Menjadi Muslim Liberal, Counter-Legal Draft Kompilasi Hukum Islam, Indahnya Kawin Sesama Jenis, Lubang Hitam Agama, dan banyak lagi buku serta artikel tentang Islam yang mengikuti arus utama pemikiran liberal.

Lontaran gagasan itu terkesan cerdas sebab pelakunya orang bergelar akademik mentereng. Akan tetapi, gagasan itu tidak kurang tidak lebih bentuk Islamophobia berbaju intelektual. Bagaimana bisa kawin sesama jenis dipandang indah sedangkan syariat mengharamkan hal itu? Bukankah ini bentuk phobia pada syariat?

Untuk memperjelas masalah ini, setidaknya ada enam butir produk pemikiran liberal dalam timbangan apakah pemikiran liberal sedang menunjukkan jalan kebaikan sebagaimana tujuan dakwah profetik, ataukah jalan untuk merusak syariat. Pertama, pandangan yang menyatakan bahwa kitab-kitab tafsir klasik itu tidak diperlukan lagi. Kedua, poligami harus dilarang. Ketiga, mahar dalam perkawinan boleh dibayar oleh suami atau istri. Keempat, masa iddah juga harus dikenakan kepada laki-laki, baik cerai hidup ataupun cerai mati. Kelima, pernikahan untuk jangka waktu tertentu boleh hukumnya. Keenam, perkawinan dengan orang yang berbeda agama dibolehkan kepada laki-laki atau perempuan muslim. Di luar enam butir poin di atas, masih banyak gagasan "nyeleneh" yang tidak kalah ngawur yang jelas-jelas menyelisihi syari'at. 

Dakwah Media Profetik

PARA pegiat Islamophobia dan kelompok liberal memanfaatkan media pada dasarnya adalah “dakwah” juga, dakwah dalam arti mempengaruhi pembaca dengan wacana, gagasan, dan ide-ide yang umumnya kontra dengan ajaran Islam.

Pada era dakwah kenabian, mayoritas musyrikin Arab itu penganut Islamophobia. Mereka menuduh Alquran sebagai dongeng orang-orang terdahulu (asathirul awwalin). Mereka mengatakan itu dalam rangka “dakwah” mempengaruhi masyarakat Quraisy untuk menolak Alquran, menolak mengikuti risalah Muhammad SAW. Dan di zaman ini, pengasong liberalisme Islam Indonesia ada pula menulis hal senada pada akun Twitternya: “Kekuatan Al-Quran bukan sebagai kitab sejarah, tapi kitab kisah atawa dongeng”. Apa bedanya pengasong liberal itu dengan Nadhar bin al Harits, phobia Islam musyrikin Arab yang menuduh Alquran sebagai 
asathirul awwalin?

Pada masa tertentu, didukung dana-dana asing yang kuat, pengasong liberalisme sangat leluasa memanfaatkan media sebagai sarana yang efektif menyampaikan pesan destruktif berkedok humanisme, toleransi, dan HAM. The Asia Foundation dan dana-dana domestik dari Amerika dan Eropa ditengarai sebagai mesin “ATM” untuk proyek liberalisme mereka melalui media online maupun media cetak.

Meskipun belum sepenuhnya redup, bandrol jualan liberalisme melalui media belum turun. Situs mereka masih memasang stok. Barangkali karena mereka masih punya modal dari sisa-sisa tabungan setelah lembaga donor berhenti mengucurkan uang karena menganggap liberalisme Islam di Indonesia telah gagal merebut mikrofon mimbar di masjid-masjid dan surau-surau.

Menuju Dakwah Media

DAKWAH dengan orasi yang memukau memang tetap relevan. Namun, dakwah dengan ketajaman pena melalui media juga sudah saatnya dikencangkan. Peran itu harus diambil para da’i, mubaligh, ustaz atau guru-guru agama. Tujuan utamanya menyebarkan kebaikan melalui media, baik cetak maupun elektronik, termasuk media online.

Hanya saja, problem utama dakwah media adalah keterampilan menulis. Harus diakui, menulis itu tidak mudah. Meskipun banyak pelatihan yang memotivasi bahwa menulis itu mudah, nyatanya, tetap saja susah. Ujung-ujungnya tidak pernah menulis.

Susah yang pertama merasa tidak ada ide, tidak tahu mau menulis apa. Susah kedua tidak tahu mau mulai dari mana. Susah ketiga takut tulisan jelek. Susah keempat malas memulai menulis. Susah kelima merasa tidak punya waktu cukup karena sibuk. Ini sebagian kecil problem menulis. Namun, problem pokoknya hanya satu; belum memiliki skill menulis. Itu saja.

Skill menulis tidak datang sendiri. Ia juga bukan bakat bawaan. Ia bisa dikuasai dengan berlatih, pembiasaan, dan konsisten menulis. Bila sudah dilatih, dibiasakan, dan konsisten menulis, maka keenam susah yang disinggung di atas bukan lagi masalah. Ide menulis berserakan di mana-mana, bisa dimulai dari mana saja, jelek bisa diperbaiki, dan urusan malas, shalat saja bisa datang malasnya apalagi menulis. Menulis tidak perlu berjam-jam sekali duduk. Hanya menulis lima menit untuk satu paragraf asalkan kontinyu bisa jadi kesibukan baru yang mengasyikkan.

Bila difokuskan pada dakwah media, maka skill menulis berita, artikel, opini, atau esai mau tidak mau harus dikuasai para da’i, mubaligh, ustaz, guru-guru agama, dan aktivis dakwah persyarikatan. Apalagi bila berniat mahir menulis buku yang bernuansa dakwah, ini keren. Maka, mulailah. Jangan lagi dibelenggu enam susah di atas. Jangan mau tidak menulis seumur hidup.

Jadi, kapan mulai menulis?

Selasa, 02 Agustus 2022

SANDAL JEPIT TERAKHIR

Sandal, Gembok, dan Rantai. (Sumber: http://www.gurusiana.id/)

JANGAN sepelekan sandal jepit. Setidaknya bagiku, para santri, ia berharga. Begitu berharganya, aku sudah kehilangan 17 pasang dalam satu semester. Artinya, sudah tujuh belas kali, entah siapa pelakunya, ia menjadi berharga sehingga harus dengan cara tanpa izin ia berpindah kaki.

Sekali lagi, entah siapa yang memburu sandal jepitku. Sampai hari ini masih misteri. Aku menduga, sang pemburu sejenis siluman kecoa berkepala tuyul. Atau, makhluk dari planet Mars yang turun ke bumi untuk mencari alas kaki karena sandal jepitnya juga dicuri siluman kecoa itu. Entahlah.

Aku tak yakin bila pemburu sandal jepitku santriwati sesama penghuni asrama. Tidak mungkin. Umi, pengasuh pondok putri sudah puluhan kali memberi wejangan soal hak milik. Kata Umi, memakai barang milik orang lain tanpa izin, itu sama dengan ghasab. Tak peduli barang itu senilai sandal jepit, kaus kaki, bh alias kutang yang sudah putus talinya, atau celana dalam usang yang karetnya sudah kendor sekalipun. Ghasab itu sama dengan mencuri, saudara kembarnya korupsi.

Hisabnya berat, tahu! Apa ada santriwati yang mau tertahan masuk surga gara-gara sandal jepit? Nggak, kan?

Aku lihat, saat Umi memberi wejangan soal ghasab itu, semua santriwati manggut-manggut tanda mengerti. Semuanya menyimak, tidak ada yang berani bersuara sehingga wejangan Umi bisa didengar sampai ke pojok-pojok asrama yang kedap suara.

Akan tetapi, wejangan Umi seakan tidak berefek. Malah, sekarang, menjelang akhir semester kedua, sudah genap 30 pasang sendal jepitku raib. Makin kuatlah dugaanku pelakunya siluman kecoa kepala tuyul itu. Masuk akal, sebab bisa jadi siluman kecoa berkepala tuyul atau makhluk dari planet Mars yang kuduga sebagai pelakunya tidak paham bahasa wejangan Umi. Siluman kecoa kepala tuyul mana ngerti bahasa Arab yang dipakai Umi saat wejangan itu dinarasikan?

Afwan, soal siluman kecoa dan makhluk asing dari Mars itu hanya halu aku tingkat beginner, jangan diambil hati. Dua makhluk itu aku hadirkan saking aku sudah mual-mual karena terlalu banyak ngunyah sandal jepit. Eh, maksudku, kehilangan sandal jepit. Karena hati kecilku tidak bisa menerima apabila pelaku raibnya sandal jepitku adalah makhluk keturunan Adam dan Hawa yang "cuantik" sepertiku.|

WULAN Wattiheluw, santriwati asal Indonesia Timur, teman karibku di pondok. Aku merasa cocok dengan Wulan karena beberapa hal. Seperti kebetulan yang menyenangkan, aku dan gadis Indonesia Timur itu sama-sama bernama depan "Wulan", hanya beda nama belakang. Namaku Wulan Kesuma Wardhani. Kami sama-sama lahir di bulan April, pada tanggal kelahiran yang sama pula.

Rambut kami sama-sama keriting halus, alis yang hitam pekat, punya sepasang lesung pipi, bulu mata yang lentik, dan berhidung bangir. Nah, bagaimana bukan suatu kebetulan yang menyenangkan dengan persamaan-persamaan itu?

Posturku sedikit lebih tinggi. Kulitku lebih terang. Wulan lebih tua setahun dariku. Ini sedikit perbedaan yang mencolok di antara banyak persamaan antara aku dan Wulan.

Pondok tempat aku nyantri, boleh dikata pondok NKRI. Tidak sedikit santri yang datang dari berbagai wilayah di Indonesia untuk belajar di sini. Kata Umi, visi pondok ini memang ingin menyatukan watak keislaman dan keindonesiaan dalam bingkai persaudaraan dan kemanusiaan. Bahwa Allah menciptakan manusia, kata Umi lagi, terdiri dari beragam suku, bangsa, adat istiadat, warna kulit, bahasa serta budaya yang berbeda-beda, bukanlah alasan buat yang satu merasa lebih unggul dari yang lain. Di pondok tempatku nyantri, perbedaan-perbedaan itu dijadikan perekat persaudaraan dalam keragaman atas dasar kesetaraan, keislaman, dan keindonesiaan. Bhinneka Tunggal Ika! Keren, kan?

Rasanya, aku beruntung, aku dan Wulan sama-sama merasakan nikmatnya persamaan dalam perbedaan budaya di antara kami. Sudah barang tentu, karena kami sama-sama muslimah. Kami bangga sebagai muslimah. Wahai cowok-cowok! Saksikanlah! Isyhaduu bi annaa muslimuun!

Oh iya, Wulan itu cerdik. Banyak akalnya.|

WULAN seperti sudah bisa menebak, apa yang akan aku bicarakan padanya. Ia seperti sudah membaca pikiranku.

"Siapa sih, pelakunya?”
“Soal sendal, ya?" Tanya Wulan.
Aku hanya mengangguk.
"Sudahlah. Biarkan saja barang yang sudah hilang. Tak usahlah diratapi."
"Ya, gak gitu juga Wulan Wattiheluw. Hellowwww! Itu ghasab namanya. Kata Umi, ghasab itu sama dengan nyolong, korupsi!" Aku menimpali serius.
“Oke. Kalau kamu sudah tahu pelakunya, mau diapain?"

Aku diam. Jujur, aku bingung menjawab pertanyaan Wulan. Iya juga, sih. Masa, pelakunya disuruh gigit-gigit tiang listrik beton? Atau disuruh foto selfie sama monyet terus dikasih caption, “calon suami pilihan umat” terus dipasang di depan gerbang pondok biar kapok?

Hadeeeeh.

"Paling tidak, aku gak penasaran lagi. Sudah 30 pasang sandalku di-ghasab. Lumayan, kan. Tiga puluh, dikali sepuluh ribu, itu mahal, Nona. Tiga ratus ribu!" Kataku. Akhirnya aku punya jawaban.

Wulan mengernyitkan dahi.

"Jika boleh memilih, kamu mau pilih yang mana, kehilangan sepasang sandal jepit, atau kehilangan sebelah kakimu?"
"Pertanyaan macam apa itu?" Kataku sambil melotot.
"Eits, sabar Besty! Kecilkan matamu."

Aku malah semakin melotot. Aku marah dalam hati. Ya, pastilah orang akan memilih kehilangan sepasang sandal daripada kehilangan sebelah kaki.

Harga sepasang sandal, bergantung pada kaki, kata Wulan lagi sambil menirukan gaya Umi bicara. Sandal lah yang membutuhkan kaki, bukan kaki yang membutuhkan sandal. Manusianya saja yang kadang otaknya terbalik. Mulanya pake sandal, pas ketemu jalan becek, sandalnya dilepas. Alasannya sayang karena sandalnya mahal, seharga iPhone 13 pro max 128 gb. Lha, pas kakinya nginjek paku, badannya meriang, masuk rumah sakit, sandalnya sehat-sehat saja. Gelo!

“Janganlah bergantung pada benda, Besty. Apalagi bergantung pada sandal jepit. Jangan kira 
kau sendirian menderita, merana duka. Tidak. Bahkan kau harus mengerti, negara ini pun sudah hampir habis di-ghasab para cukong dan politisi busuk.”

Wulan makin jadi. Bahasanya sudah mulai bersastra. Persis gaya bahasa para novelis bertutur dan para pujangga berpantun.

"Hah! Terserah kau lah, Nona! Aku pusing! Urusanku, urusan sandal jepit, bukan urusan negara!" Kataku kemudian sambil berlalu pergi. Perutku yang sudah lapar, makin nyaring keroncongan mendengar gaya bicara Wulan yang mulai sok puitis.
"Heh, mau ke mana?" Teriak Wulan merasa ditinggalkan.
"Makan!"
"Tapi, ini belom jam makan. Mau makan apa?"
"Makan cukong!"

Wulan mendelik.|

AKHIRNYA Wulan bertutur, bahwa dia pun sudah kehilangan 25 pasang sandal jepit dalam setahun. Selisih lima pasang lebih sedikit dari kehilanganku. Hanya saja, Wulan lebih memilih diam, tidak teriak-teriak macam orang kesurupan setan Tik-Tok.

Dalam diamnya itu, Wulan melakukan hal-hal konyol. Pada kehilangan yang keenam, Wulan menuliskan permohonan pada sandal jepitnya, “Plis! Jangan diambil lagi, ya. Sudah lima pasang sandalku hilang!” Sandal berikutnya, tulisan diubah lebih nyeleneh, “Awas! Sandal ini diawasi CCTV!” , “Sandal calon mantu Kiai!”, “Semoga yang mengambil sandal ini, pantatnya tumbuh delapan bisul!” Berikutnya, seterusnya, berganti-ganti caption sampai Wulan bosan sendiri.

Wulan ganti cara. Sandal jepitnya yang ke-25 dirantai dan digembok. Akan tetapi, ia rugi dua kali. Wulan bukan hanya kehilangan sandal, tapi juga kehilangan gembok dan rantainya sekalian. 

Wulan nyerah. Namun sejak itu, Wulan mengaku tak pernah lagi kehilangan sandal jepit. Sandal jepit ke-25 itu menjadi sandal jepitnya yang terakhir.

“Loh, kok bisa? Gimana caranya?” Tanyaku antusias.
“Simpel. Sangat simpel.”
“Iya, gimana caranya?”
“Jangan pernah beli sandal jepit seumur hidup!”
“Terus, gak punya sandal, dong? Nyeker, dong! Ngaco!”
“Lha, iya. Dengan tidak punya sandal, tak ada lagi sandal kita yang di-ghasab, tak lagi kita marah sebab kehilangan, bukan?”

Aaaarrrgghhh!

Ingin rasanya kutelan Wulan bulat-bulat.|


Perpustakaan, 02 Agustus 2022.



Senin, 01 Agustus 2022

Misread Google Map yang Berakhir Bahagia


Icebreaker; Pak Fuad sedang 'menggoda' santri peserta workshop. Video credit Ahmad Rudianto.

INI workshop yang menyenangkan. Semua pesertanya “makhluk halus”. Sekitar 250-an dari mereka berparas halus, imut, cantik, manis, ya begitulah. Mereka santriwati setingkat SMP dan SMA peserta workshop menulis bertajuk “Gemar Literasi”.

Tagline workshop ini mentereng: “Meluruskan Cakrawala Dunia Memperkuat Ujung Tombak Peradaban”. Merupakan rangkaian dari gelaran Wonderful Muharam Fest 2022. Diselenggarakan oleh Pengasuh santri putri Pondok Pesantren Modern Nurul Huda, Setu, Bekasi. Ini kali pertama acara Wonderful Muharam Fest digelar dan mengusung literasi menulis. Ada bazar buku juga. Keren.

Panitia penyelanggara di boot bazar buku-buku Pustaka MP.  Foto credit, Ahmad Rudianto.

Google Map

SEHARI sebelum workshop, tiga orang dari Tim Pustaka MP meluncur. Tim Membawa beberapa buku untuk bazar dan memastikan lokasi acara.

Pukul 09.00 pagi, Tim sudah berangkat dari Madrasah Pembangunan UIN Jakarta. Karena hari itu hari Jumat, direncanakan 45 menit sebelum Jumatan mereka harus sudah sampai. Karena itu, driver yang mengantar dipilih yang paling senior, yang kemampuan menyetirnya setara dengan pereli Paris Dakar. Paling tidak, mendekati Patrick Zaniroli, pereli asal Perancis peraih juara Paris Dakar pada 1985 dengan Mitsubishi Pajero yang dikendarainya. Bisa jadi karena ini misi penting, meskipun bukan misi rahasia. Jadi, harus dipastikan, Tim sampai di lokasi tepat waktu dan tepat lokasi. Tentu, yang paling diutamakan sampai di lokasi dengan selamat.

Jl. Setu Cisaat, Desa Cikarageman, Kec. Setu, Kab. Bekasi, Prov. Jawa Barat – 17320, inilah titik koordinat yang menjadi tanggung jawab driver mengantar Tim. 24 jam sebelum berangkat, driver sudah saya bekali dengan Share Location via WhatsApp. Maksudnya supaya jangan nyasar.

“Siap Bos, 86!” respons driver menjawab pesan saya.

Aman.

Misread Google Map

DI SINI, drama dimulai. Entah, apakah drama itu berlangsung karena misread google map, atau wrong location sharing antara saya dan driver. Tim diarahkan map ke lokasi yang unconvincing, jalan yang kian mengerucut sempit dan tak beraspal di area persawahan. Google Map, mesin pintar yang katanya memberi sinyal citra satelit, peta jalan, panorama 360°, kondisi lalu lintas, dan perencanaan rute untuk bepergian canggih itu, kenyataannya membuat driver dan Tim spaneng.

“Anda sudah sampai. Lokasi Anda ada di sebelah kanan.” Suara Google Map mengakhiri panduan dengan sangat meyakinkan.

Akan tetapi, semua melongo, sebab lokasi sebelah kanan yang dikatakan Google Map hanyalah kebun kosong. Tidak ada bangunan, apalagi bangunan sekelas pondok pesantren modern.

“Lha, kok, kebon Pak Dani. Mana pondoknya?” Ungkap driver pada ketua Tim.

“Bisa jadi, Rud. Dalam penglihatan Pak Abdul, kemarin ada Pondok pesantren di kebun itu.” Ucap Pak Dani, ketua Tim separuh berkelakar, separuh sewot.

Beberapa penduduk di area itu, pun tampak bingung melihat ada mobil tak lazim nyelonong ke situ. Mau ngapain? Barangkali di dalam benak mereka, sedang sengit berkelahi antara percaya dan tidak percaya,

“Itu ngapain orang bawa mobil masuk kebun kosong?”

“Mungkin mau mencari tempat pesugihan.”

Wkwkwkwkwk.

Saat Ketua Tim bertanya pada penduduk tentang lokasi yang hendak dituju Tim, mereka seperti orang linglung, tidak tahu lokasi yang ditanyakan. Mimik wajah mereka juga sukar digambarkan, antara curiga, heran, melas, atau bahkan seperti wajah orang yang sedang ditimpa musibah.

Saya yang disuguhi narasi detail cerita soal kesasar mereka sejak dari Madrasah Pembangunan sampai di gerbang Nurul Huda pada hari keberangkatan mengisi workshop, membayangkan, pasti isi kepala orang satu mobil itu juga kusut masai sambil meracau. “Ini maksud Pak Abdul apaan, sih? Mana hari Jumat lagi.”

Saya tidak tahu, ini tidak diceritakan, apakah Pak Dani sempat menghubungi Bu Nila atau tidak saat mereka kesasar masuk kebun kosong itu untuk minta nasihat dan petunjuk. Saya lupa pula menanyakan kepada Bu Nila di sela-sela workshop yang berjalan menurut saya very impressive.

Yang jelas, kata Pak Fuad, masalah teratasi setelah ia berpikir cepat dengan browsing. Di layar gawai miliknya muncul informasi Pondok Pesantren Modern Nurul Huda, Jl. Setu Cisaat, Desa Cikarageman, Kec. Setu, Kab. Bekasi, Prov. Jawa Barat – 17320.

Impressive Spontaneity

ANDAI saja kolaborasi spontanitas yang mengesankan pada workshop kemarin itu diulang lagi pada workshop-workshop berikutnya, rasanya saya akan punya Tim Workshop Menulis yang keren. Bisa jadi. #Cubit Pak Fuad, Pak Dani, Pak Sandy, dan Bang Rudi.#

Saya dan buku terbitan Pustaka MP untuk hadiah.  Foto credit, Ahmad Rudianto.

Beberapa waktu lalu, saya, Pak Sandy, dan Pak Firman sempat ngobrol ringan rencana menggagas acara “Writing Camp”. Selama tiga hari, di villa atau di tempat-tempat yang nyaman dan eksotik, peserta dibimbing teknik menulis sampai jadi satu naskah cerita dan dibukukan. Bila antusiasme peserta “Writing Camp” seperti antusiasme “Makhluk Halus” peserta workshop kemarin di Pondok Pesantren Nurul Huda itu, gak kebayang dahsyatnya, pasti gemuruh sepanjang hampir tiga jam workshop berlangsung akan terulang lagi. Gemuruh itu terus menggema karena sentuhan Icebreaker no. 2 di Indonesia itu, Ahmad Fu’ad Basyir.

Ayolah!


Antusiasme santri putri Pondok Pesantren Modern Nurul Huda mengikuti workshop menulis dan icebreaking. Foto credit, Ahmad Rudianto.

Pertemuan Pertama yang Mengesankan

MATERI workshop yang dibawakan Tim dan saya kemarin terhitung materi menulis paling ringan. Akan tetapi, atmosfer “mengesankan” sudah kami dapat sejak mula berbincang dengan Pak Kiai di ruang kerjanya. Kesan itu semakin kuat pada detik pertama sesi workshop sampai detik terakhir acara ditutup. Saya tidak pula menduga, Pak Kiai berkenan mengikuti sesi workshop sampai tuntas. Ngeri-ngeri sedap, sih.😅

Saya dan workshop. Foto credit, Ahmad Rudianto.

Saya berasumsi, geliat pembiasaan literasi menulis paling mungkin bisa tumbuh dari pondok pesantren. Santri memiliki banyak peluang untuk tekun mengembangkan keterampilan menulis di sini. Beberapa peluang yang saya sebut, bisa jadi terlalu sedikit. Akan tetapi, yang terlalu sedikit itu sudah cukup menjadi pemicu bahwa gerakan literasi menulis yang paling ideal bisa berkembang memang dari sini.

Ahmad Sandy Rizani, arranger acara pada sesi break materi workshop. Foto credit, Ahmad Rudianto.

Pertama, pola kehidupan santri yang teratur dengan jadwal yang tetap memungkinkan santri memasukkan agenda kegiatan menulis rutin setiap hari di asrama. Pola hidup dengan jadwal yang tetap bisa diterapkan pada pembiasaan menulis menjadi rutinitas yang tetap dan terjadwal pula.

Kedua, berada dalam pengawasan ustaz/ustazah selama 24 jam. Kebiasaan menulis bisa dimasukkan pada jadwal pola pengawasan ustaz/ustazah. Setiap saat, ustaz/ustazah bisa mengecek aktivitas menulis mereka secara berkala dan berkesinambungan. Pola ini sangat efektif untuk menjaga konsistensi menulis santri berlangsung ajeg.

Dani Wahyudi, Pimpinan Pustaka MP sedang memberikan kuiz saat workshop. Foto credit, Ahmad Rudianto.

Ketiga, kaya pengalaman. Kehidupan di pondok pasti berlangsung dengan warna yang sangat menarik dan beragam. Pola interaksi antar santri, santri dengan Kiai atau ustaz/ustazah, dan santri dengan masyarakat sekitar menjadi sumber ide menulis yang tidak akan pernah habis digali. Apalagi aktivitas individu santri sendiri dalam mengatur pola kehidupannya di asrama, dari mulai tradisi makan, mencuci, piket, masuk kelas bahasa, bangun malam, cerita santri yang tidak betah dan berusaha kabur dari asrama, atau kehilangan sandal jepit berkali-kali menjadi ide-ide yang layak mereka tulis. Bahkan bisa menjadi narasi yang unik khas santri dan khas pondok pesantren.

Keempat, kebiasaan santri menulis diary untuk menumpahkan uneg-unegnya selama di asrama, bisa dipindahkan menjadi konten tulisan produktif yang bermanfaat, menginspirasi banyak orang, dan sangat mungkin mendatangkan keuntungan finansial. Banyak para penulis memulai karier menulisnya dari kebiasaan menulis diary seperti Raditya Dika, komedian yang terkenal dengan bukunya Kambing Jantan.

Nila Maulana Nur, pembina santri putri Pondok Pesantren Modern Nurul Huda memberikan cendera mat untuk Tim workshop. Foto credit, Ahmad Rudianto.

Kelima, untuk kasus Pesantren Nurul Huda, dukungan Pak Kiai yang besar pada pengembangan literasi menjadi poin yang sangat penting. Saya kira, dukungan inilah yang akan mendorong pengembangan literasi menulis menjadi tumbuh cepat. Sebagaimana tradisi pesantren, Kiai merupakan otoritas. Kata-katanya bak titah, perilakunya patron, dan sosoknya memutuskan. Bila sosok Kiai sudah memberikan sinyal lampu hijau, selesailah urusan.

Pengasuh Pondok Pesantren Modern Nurul Huda menyampaikan kata sambutan dan membuka acara workshop. Foto credit, Ahmad Rudianto.

 Apalagi, pertemuan workshop pertama di Pondok Kiai Atok Romli kemarin sukses. Jadi, meskipun ada drama Misread Google Map hingga Tim tersesat ke kebun kosong pada hari Jumat, workshop dan layanan pondok sungguh menggoda dan mengesankan. Semuanya berakhir bahagia.

Bukan begitu, Pak Fuad?

Salam literasi.|

Jumat, 22 Juli 2022

LITERASI PLAGIARISM



Plagiarism Detector. Foto Credit https://www.educatorstechnology.com/

Banjir Resources

HARI ini, proses menulis sangat menyenangkan. Boleh dikata, penulis sangat dimanjakan. Berbagai fasilitas yang menunjang proses kreatif menulis begitu melimpah.

Hari ini, ketersediaan konten bahan tulisan bisa didapat dalam hitungan detik. Saking banyaknya bahan, penulis bisa bingung, mau nulis apa, sebab resources di internet yang di-publish mesin pencari mengular dari hulu hingga hilir.

Hari ini, misalnya, teknologi Google Doc sangat membantu editing ringan. Bila dalam susunan kalimat ada kata yang ditik kurang atau kelebihan huruf, salah tik (typo), Google Doc akan memberi garis merah. Bila kursor diletakkan pada kata bergaris merah itu dan diklik, Google Doc akan memunculkan saran perbaikan kata. Silakan Anda coba.

Hari ini, bahkan membuka kamus KBBI untuk memastikan suatu kata baku atau tidak baku tidak perlu harus beranjak menuju rak untuk merujuk buku tebal itu. Sekali klik, keraguan soal baku atau tidak baku terpecahkan. Lalu, alasan apa kita tidak atau belum mau menulis? Come on!

Orisinalitas

MENULIS konten apa pun, masalah orisinalitas sangat penting. Umumnya penulis, sangat mengerti soal ini. Sebab, kepuasan atas sebuah karya tulis, salah satunya karena ia benar-benar lahir dari ide, gagasan, atau buah pikir autentiknya. Tentu, meskipun bahan-bahan dari tulisan itu didapat dari tulisan-tulisan yang mendahuluinya, tapi dengan kemahirannya mengolah kata, hasilnya tetaplah orisinal, autentik.

Lalu, apakah tulisan orisinal bisa dibuat sementara tulisan serupa sudah banyak bertebaran di mana-mana situs yang memuat?

Bisa. Mengapa tidak?

Yang harus dimanfaatkan hanyalah kecerdasan memahami suatu teks dan mengolahnya kembali dengan komposisi kalimat yang baru, kalimat yang dibingkai oleh ide dan gagasan sendiri. Dan, kemampuan memahami suatu teks serta mengolahnya menjadi wacana orisinal bisa dilatih. 

Mengapa dilatih? 

Ya, karena menulis itu keterampilan, bukan bakat bawaan. Karena itu, ia bisa dilatih. Semakin sering dilatih, semakin terampil menulis.

Plagiat

INTERNET tak ubahnya world library. Apa saja informasi tentang dunia yang dibutuhkan, cukup diakses dari sebuah kotak kecil yang terhubung dengan internet. Orang tidak harus terbang ke Istanbul misalnya, hanya untuk mencari informasi tentang kota yang dahulu bernama Konstantinopel itu. Informasi apa saja dari kota yang dibangun Kaisar Romawi Konstantinus I itu, dari A sampai Z, bisa didapat hanya dengan menekan satu tombol. Byar! Jendela Konstantinopel terbuka lebar dari ribuan item yang bisa diakses.

Akan tetapi, kemudahan ini bukan tidak berbahaya. Melimpahnya sumber data internet yang bisa diakses kapan pun dan di mana pun, bisa menjadi jebakan plagiat (menjiplak) bila tidak hati-hati. Disadari atau tidak, plagiat mempengaruhi banyak hal dalam dunia kepenulisan.

Siapa pun Anda, apa pun konten yang Anda tulis, harus memperhatikan kejujuran ilmiah bahwa karya Anda autentik, lulus dari menjiplak meskipun tidak 100% steril dari plagiat. 

Haruskah demikian?

Harus. Bila tidak, Anda terlibat pada perilaku ketidakjujuran akademik, pelanggaran etika jurnalistik, lebih dari itu, karena plagiat adalah kejahatan penerbitan bila karya Anda dipublikasikan lalu diperkarakan.

Plagiarism Checker

HARI ini, teknologi digital menyajikan mesin pendeteksi. Ia sangat membantu memeriksa tulisan Anda untuk memastikan orisinalitas naskah, apakah mengandung unsur plagiat atau tidak. Bila ada unsur plagiat, berapa persen kandungannya.

Nama teknologi itu salah satunya ialah Plagiarism Checker. Anda bisa berkunjung ke situsnya di https://smallseotools.com/plagiarism-checker/ untuk mengenal dan menggunkannya. Alat ini memang dirancang untuk membantu mendeteksi plagiarism dalam konten berbasis teks digital apa pun dengan cermat, mudah, dan cepat. Pintar sekali.

Perlu dimengerti, plagiat mengandung konsekuensi pada tindakan hukum, restitusi atau denda, sudah tentu merusak reputasi, kehilangan kepercayaan, sanksi akademik, dan banyak lagi konsekuensi sebagai akibat yang merugikan diri sendiri dan banyak pihak. Maka, sudah sewajarnya berhati-berhati pada tindak plagiat, baik disengaja atau tidak. Plagiarism Checker bisa jadi solusi cerdas sebagai bagian dari literasi plagiat yang efektif.

Cara Kerja

CARA kerja Plagiarism Checker sangat sederhana. Pengguna tinggal memasukkan teks yang akan dianalisis unsur plagiarism pada kolom yang tersedia, lalu klik menu Check Plagiarism. Tunggu sejenak. Mesin akan bekerja. Dalam hitungan beberapa detik, hasil analisis akan terbaca pada dua informasi: Plagiarism dan Unique dengan prosentase masing-masing.

Bila ada unsur plagiat pada hasil pengecekan, mesin ini akan menunjukkan dari situs mana saja konten menjiplak itu diduga diambil. Jejak digital ini tampaknya disajikan untuk membantu merujuk  dan membandingkan naskah pada sumber pengambilan, memastikan siapa menjiplak siapa.  

Pada informasi Plagiarism akan muncul perintah: Rewrite Content to Make it Unique. Maksudnya kurang lebih perintah menulis ulang konten yang dimaksud. Tentu dengan redaksi, diksi, atau susunan kalimat yang baru, orisinal sebagai karya yang unik.

Setelah konten ditulis ulang, masukkan kembali pada kolom dan ulangi pengecekan. Bila proses menulis ulang redaksi, diksi, atau susunan kalimatnya sudah benar, hasilnya pasti akan berbeda dari sebelum ditulis ulang. Bisa jadi hasilnya akan 100% unique. Artinya, 100% konten itu orisinal dan bebas dari plagiat.

Bila Anda sedang menulis buku atau modul digital (e-book, e-modul) mesin ini sangat membantu. Anda diajak keluar dari plagiat dan dapat review cepat untuk segera memperbaiki konten.

Hmmm. Teknologi ini seperti Plagiarism Literacy Machine. Sayang jika diabaikan.

Mau coba?

Salam literasi.

Menjelang pulang. Perpustakaan Madrasah Pembangunan. Jumat, 22 Juli 2022.


Minggu, 17 Juli 2022

PENTIGRAF

 


Angka Tiga. Foto Credit https://www.psikologimimpi.com/

PENTIGRAF. Anda pernah mendengar genre karya sastra ini?

Sebagai yang terus belajar menulis, saya tertarik. Sempat sih, satu kali meski samar-samar menangkap perbincangan genre ini. Hanya saja, tak serius saya menyelisik.

Tiga Paragraf

Belakangan, Pak Hae, rekan guru saya bahkan sudah pula punya kumpulan (antologi) pentigraf. Rasanya, saya semakin tertinggal. Padahal menurut Warsono dalam http://warsono.gurusiana.id/article/2020/6/belajar-pentigraf-dari-sang-penggagas-94350?bima_access_status=not-logged, genre ini sudah diperkenalkan pada 1980. Berarti, telat sekali bagi saya mengenal sastra yang satu ini.

Kali ini, saya ingin memperkenalkan pentigraf dari dua sumber. Dari tulisan Warsono di atas dan dari Kampung Pentigraf Indonesia (KPI). Pembaca bisa merujuk ke sini: https://www.facebook.com/groups/133536197048183. Hanya dua sumber, sebenarnya belum cukup bagi saya menyerap informasi tentang pentigraf meskipun isi dua sumber di atas sudah menjelaskan soal pentigraf.

Pentigraf lekat pada Prof Dr Tengsoe Tjahjono, sastrawan dan akademisi Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Prof Tengsoe disebut-sebut sebagai penggagas yang memperkenalkan pentigraf pada khalayak, khususnya penyuka sastra pada 1980. Prof Tengsoe membuat komunitas Kampung Pentigraf Indonesia (KPI) di Facebook sebagai wadah penulis pentigraf pada April 2016.

Menurut Prof Tengsoe, karya bisa disebut pentigraf apabila memenuhi unsur sebagai berikut:

1. Panjang tulisan 3 paragraf, sekitar 210 kata.
2. Paragraf harus mengikuti pengertian paragraf yang benar. Satu paragraf, satu gagasan pokok.
3. Secara teknis penulisan di komputer: satu paragraf, satu kali ENTER.
4. Sebagai cerpen, pentigraf juga memiliki ciri-ciri narasi yaitu: a. ada alur (dalam alur ada konflik), b. ada tokoh yang menggerakkan alur, c. ada topik, persoalan yang dialami tokoh, d. ada latar (entah waktu, ruang, keadaan), entah latar fisik maupun latar rohani, d. selalu ada kejutan yang tak bisa diduga pembaca.

Nah, itulah pentigraf menurut penggagasnya.

Perlu digaris bawahi tiga kata kunci pentigraf: cerpen, tiga, dan paragraf. Inilah karakter dari pentigraf.

Cerpen atau cerita pendek merupakan bagian dari prosa. Umumnya, cerpen fokus pada peristiwa yang berdiri sendiri atau berkaitan. Karena pendek, cerpen sering diistilahkan dengan karya untuk dibaca sekali duduk.

Lalu, mengapa harus tiga paragraf?

Ada alasan di balik tiga paragraf itu. Soal alasan itu mutlak atau tidak dan bisa didiskusikan, itu soal lain. Yang jelas, sang penggagas pentigraf memberikan alasan bahwa dengan tiga paragraf, penulis akan mampu memaksimalkan kehadiran elemen-elemen cerpen. Penulis juga bisa mengatur laju alur dengan leluasa. Dan, penulis bisa menawarkan pesan moral dengan cepat, tepat, dan mudah diterima pembaca.

Batu Sandungan

Saya penasaran. Bertemulah saya pada situs https://www.gerejakalasan.org/ setelah berselancar mencari tahu. Di sana, saya temukan pentigraf karya Prof Dr Tengsoe Tjahjono. Saya turunkan utuh karya beliau sebagai contoh pentigraf paling autentik. Judulnya Batu Sandungan.
Ini terjadi di negeri antah berantah. Konon para orang kaya selalu bersekongkol dengan para petugas pajak agar tidak membayar pajak untuk negara. “Jangan laporkan seluruh harta kekayaanku agar tidak terlalu banyak pajak yang harus aku bayar,” perintahnya kepada petugas pencatat harta kekayaan. Para orang kaya itu semakin hari semakin kaya, hartanya bertimbun untuk tujuh keturunan.

Hari demi hari pemasukan negara itu menurun. Pembangunan pun mangkrak. Jalan raya, jembatan, gedung sekolah, pabrik, dan sebagainya terbengkalai. Jumlah karyawan dan pegawai negara yang dirumahkan semakin banyak, pengangguran pun meningkat. Jumlah orang miskin yang harus dibiayai negara meningkat tajam. Lalu, bagaimana dengan orang-orang kaya itu? Mereka tak bisa lagi membelanjakan uangnya sebab kebutuhan pokok sulit didapatkan. Hartanya tak bisa menyelamatkan dirinya.

“Bayarlah pajak agar kalian tak menjadi batu sandungan bagi banyak orang dan bagi kamu sendiri,” kata Sang Guru Agung. Namun, ketika itu tak banyak orang yang mau mendengarkan. Sekarang mereka baru merasakan akibatnya. Batu sandungan itu sungguh bisa menghancurkan kehidupan bersama.
Nah, sekarang, jadi terbayang, bagaimana wujud pentigraf itu dari karya penggagasnya langsung. Berani mencoba?

Ini, ada link cukup informatif. Isinya kumpulan pentigraf. Ditulis oleh Gatot Sarmidi, dosen sastra pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas PGRI Kanjuruhan Malang. Silakan meluncur ke sini: https://repository.penerbiteureka.com/publications/349121/kumpulan-pentigraf-dan-cerita-pendek-bleng-blong-rembulan-malam.

Ayolah! Mulai menulis pentigraf.


Kamis, 14 Juli 2022

BUNDA LITERAT

Gambar sampul dari "An Introduction to School Finance in Texas", TTARA Research Foundation, by Sheryl Pace, Senior Analyst Texas Taxpayers and Research Association (TTARA)

GURU biasa-biasa saja hanya bisa menceritakan. Guru yang baik mampu menjelaskan. Guru yang unggul mampu menunjukkan. Sementara guru yang hebat bisa memberikan inspirasi.

HARI ini saya dapat cerita dari pengalaman yang mengesankan, cerita menarik saat berjibaku untuk merampungkan sebuah naskah buku. Draft buku ini sebenarnya sudah cukup tebal, sudah 525 halaman bila dikonversi pada halaman layout di InDesign. Akan tetapi, ada bagian cukup detail yang harus saya masukan dalam deskripsi sesuai hasil masukan reviewer.

Narasumber berkisah kali ini seorang ibu rumah tangga. Dalam wawancara ringan melalui WA, saya menangkap ia punya sense of journalists yang terhubung dengan gurunya. Dan ia, sangat bangga dengan gurunya itu.

Cerpen anak karyanya sudah muncul di koran Republika saat ia masih duduk di bangku Madrasah Aliyah. Pernah menjuarai lomba mengarang pada event Hari Anak Nasional yang diselenggarakan Departemen Agama pada 1995. Lagi-lagi, ia mengakui, capaiannya itu masih terhubung dengan gurunya, motivator yang ia kagumi sampai saat ini, guru yang memberikan kepercayaan diri padanya untuk mengikuti lomba dan meraih juara.

Begitu kagumnya ia, ia masih hafal parafrase, sebuah motivasi menulis dari gurunya itu saat masih di Madrasah Aliyah dahulu: Penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Maka baca, baca, dan baca. Jadilah an agent of change melalui tulisan.

Ajib. Kekuatan kata-kata itu memberi pengaruh sangat signifikan terhadap passion menulis yang diminatinya. Karena itu, ia begitu semangat kelak ingin melanjutkan studi mengambil jurusan jurnalistik atas dorongan gurunya itu di saat dia sendiri gamang antara bisa melanjutkan studi atau tidak karena faktor ekonomi.

Akan tetapi, nasib membawanya sampai pula ke perguruan tinggi. Ia dapat tiket masuk jurusan Bahasa Inggris melalui jalur PMDK (Penelusuran Minat Dan Kemampuan). Sebab tidak ada jurusan jurnalistik di kampusnya saat itu, pilihan pada jurusan Bahasa Inggris pun bukan tanpa alasan. Ia memilih jurusan itu sambil menyimpan harapan tetap bisa jadi jurnalis di koran atau media berbahasa Inggris. Untuk memantapkan keinginan itu, saat kuliah, ia bergabung dengan UKM Didaktika, sebuah lembaga Pers Mahasiswa. 

Sekali lagi, perempuan ini punya guru yang hebat, seperti guru yang dideskripsikan seorang penulis; William Arthur Ward: “Guru biasa-biasa saja hanya bisa menceritakan. Guru yang baik mampu menjelaskan. Guru yang unggul mampu menunjukkan. Sementara guru yang hebat bisa memberikan inspirasi.”|

SAYA memang belum bertemu narasumber ini. Akan tetapi, dari bincang via WA untuk keperluan konten detail naskah yang sedang saya persiapkan, saya bisa merasakan ia ibu yang literat. Bagaimana tidak, ia bisa menularkan budaya literasi membaca dan menulis pada putrinya dengan amat baik.

Sejak semula, ia sudah membiasakan putri kecilnya bergaul dengan buku. Sebelum putrinya bisa membaca, ia rajin membacakan buku-buku cerita dan sering membawanya ke toko buku. Ia mulai berlangganan majalah Bobo saat putrinya sudah bisa membaca cukup lancar. Pada tahap ini, ia lebih sering mengajak putrinya ke toko buku dan mengenalkan perpustakaan umum kota Depok, tempat ia berdomisili. Buku selalu menjadi reward dan birthday gift. Jadi, putrinya sudah 'terpapar' bacaan cerita anak sejak kecil dengan mendekatkan putrinya pada literasi melalui pembiasaan.

Umur 6 tahun, diam-diam putrinya sudah mulai menulis cerita pendek. Banyak juga naskah orat-oretnya, termasuk berupa cerita bergambar seperti komik. Lalu, suatu hari ketika di toko buku, di bagian buku-buku KKPK, sang putri mengutarakan mimpinya untuk punya buku karya sendiri, buku dengan nama dia tertera di kavernya.

Di lain waktu, ia terkejut saat sang putri menunjukkan beberapa naskah karyanya. Padahal selama itu, ia tidak pernah melihat putrinya menulis. Rupanya, sang putri menulis di saat ia sedang sibuk berpeluh-peluh mengerjakan tugas rumah tangga.

Suaminya memberi ide. Ia menyarankan agar naskah-naskah itu dikirim ke penerbit Mizan pada segmen Kecil-Kecil Punya Karya (KKPK). Ayahnya memantik keberanian putri kecilnya: “Kalau Kakak berani kirim naskah-naskah ini ke penerbit, peluangnya adalah 50:50. 50% diterima 50% ditolak. Kalau tidak berani kirim naskah, peluangnya 0.”

Ini keren. Ayah yang juga literat.

Putri mereka seperti tersihir. Ya, seperti dalam sebuah riwayat Imam Bukhari: inna minal bayaani lasihran, bahwa memang sebagian dari penjelasan (kata-kata) itu laksana sihir. Ia menggerakkan, seperti energi penggugah jiwa. Maka, dengan penuh semangat, sang putri mulai belajar mengetik naskah-naskah itu.

Sebagai ibu yang literat, ia pun tergerak untuk melakukan proses pendampingan lanjutan. Ia mulai menyortir. Ia tanyakan pada sang putri, adakah dari cerita-cerita karangan putrinya ditulis dari meniru cerita orang lain? Alur dan ceritanya sama?

Sang putri mengakui, ada beberapa naskah karyanya sebagai hasil meniru, hasil kreativitas mengikuti alur cerita di majalah Bobo dengan mengganti nama tokoh. Luar biasa kejujurannya. Saya tertegun.

Yang membuat saya lebih tertegun adalah langkah perempuan ini. Ia langsung memisahkan dan mencoret naskah itu langsung di hadapan putrinya sambil pelan-pelan menjelaskan tentang plagiarisme dalam bahasa sederhana yang bisa dimengerti anak umur 7 tahun. Ini keren.|

TIGA bulan berlalu. Seolah saya turut merasakan debaran jantung mereka bertiga berirama gaduh saat itu. Menunggu jawaban naskah, memang seperti menunggu jawaban surat cinta yang diharap-harap cemas. Diterima, atau ditolak setipis kulit ari peluangnya. 

Akhirnya, masa evaluasi naskah sepanjang tiga bulan berakhir. Naskah sang putri dinyatakan layak terbit. Bravo!

Hari ini, sang putri sudah mengemas 7 karya solo, 47 buku KKPK (Kecil-Kecil Punya Karya) Penerbit Mizan, 1 buku antologi komik anak terbitan Pustaka Al Kautsar, dan 1 antologi cerpen terbitan BIP Gramedia. Novel sang putri berjudul Youtuber Cilik menjadi best seller. Dalam kurun 5 bulan, sudah 3 kali cetak ulang, 10.500 eksemplar. Ajiib!

Sang penulis cilik itu tumbuh dalam keluarga literat, dalam asuhan bunda dan ayah yang literat. Adapun sang bunda, narasumber yang hari ini bersedia saya ajak berbincang via WA, begitu mengagumi gurunya sampai sekarang, gurunya yang literat, menginspirasi, yang hari ini bergelut dalam tiga ranah kehidupan; mengajar, berdakwah, dan berpolitik.

Terima kasih, Mbak. Semoga tulisan ini menginspirasi banyak orang yang butuh kiat sederhana namun efektif menjadi seorang ibu yang literat. Mbak juga membawa pesan agar para guru; seperti saya harus belajar menjadi guru yang menginspirasi. Salam literasi.|