A homepage subtitle here And an awesome description here!

Sabtu, 19 September 2020

PETI MATI DI ATAS ROLLER COSTER

Allah ya Rabb, biarkanlah wabah ini berlalu. Mohon perlindungan-Mu Ya Rabb. Kami benar-benar seperti di atas roller coaster sambil memandangi peti mati.


INI soal rasa. Sejak akhir Agustus sampai petang ini, rasa seperti menaiki roller coaster. Jantung nyut-nyutan, pandangan rasa jungkir balik, adrenalin naik turun tidak karu-karuan. Akan tetapi, ini bukan seperti rasa roller coaster di Dufan yang histeria bahagia tegang. Ini histeris sedih tegang.

Akhir Agustus kemarin itu, dapat WA dari sahabat karib. Minta doa terbaik buat ibundanya yang sedang dirawat. Deg! WA, saya balas normatif. Doa mengalir, semoga Ibunda lekas pulih, begitu saya penuhi. Pikiran liar ke sana ke mari menunggu kabar berikutnya. Jeda hampir sepuluh menit. Dan, kecemasan terjawab. Ibundanya positif Covid.

Pukul empat pagi empat hari kemudian, WA saya terima lagi. Sahabat karib ini mengirim pesan suara. Isinya rekaman via handphone dia pada sang Bunda. Pesan suara yang sangat menyentuh:
Assalamualaikum, Ma. Ini ***. Mama jam segini, biasanya sedang tahajud, loh. Ayo, Ma, lakukan kebiasaan Mama semampunya meski hanya dengan isyarat. Dari rumah, *** bantu doa agar Mama lekas sembuh.
Setiap kalimat sapaan dalam pesan suara itu direspon sang Bunda. Tidak jelas kalimat respon apa yang diucapkannya. Hanya suara seperti dengkuran tiap kali dia disapa. Dan, jam empat pagi hari itu, air mata saya jatuh. Ingat orang tua sendiri yang sudah sepuh.

Siang harinya, hanya berselang tujuh jam, sekitar pukul sebelas, kabar duka menutup semua pesan. Ibunda berpulang. Diurus dan dimakamkan dengan protokol Covid. Inna lillahi wa inna ilayhi rajiun.

Delapan September, sahabat karib ini kembali kirim pesan. “Hasil swabnya, saya positif covid ustadz. Laa hawla wala quwwata illa billah. Klo misal sy duluan, tolong lihat²in haafidz ustadz jika lagi senggang.”

Haafidz putra sahabat karib, bocah tiga tahun. Pesan ini, rasa ingin menjerit membacanya.

Sejak saat itu, hampir setiap hari, WA saya kirimkan buat menguatkannya menjalani isolasi mandiri. Meskipun jawabannya selalu menggembirakan, “Alhamdulillah saya sehat dan kuat InsyaAllah.” Akan tetapi, dalamnya laut, siapa yang bisa mengukur. Bagaimana rasa dan warna jiwa sahabat ini, saya tidak tahu. Namun, karena kasat mata saya tahu pengamalan agamanya baik, apa yang dia katakan, itulah dirinya.

Sebelas September, teman sekelas sewaktu SD, kolega saya; Pimpinan Ormas, Ketua Kampung Siaga Covid-19, jamaah pada kajian rutin Ahad petang yang saya isi, hasil swabnya positif Covid. Duh, orang-orang dekat yang saya kenal baik, satu lagi masuk dalam daftar yang memacu detak jantung berakrobat laiknya sedang naik roller coaster.

Pukul tujuh pagi tadi, saya menemani istri membeli sayuran di dekat komplek Depok Maharaja. Saat menunggu istri, bertemu lagi teman lain sewaktu SD. Asyik sekali kami mengobrol bertukar kabar. Namun, keasyikan itu terhenti saat teman ini mengabarkan. “Keponakan saya, murid ente dulu waktu Ibtidaiyah, positif Covid. Sekarang, lagi isolasi mandiri. Semua keluarganya sementara mengungsi ke sini.”

Sejenak, wajah anak yang ganteng itu, berpostur tinggi sedang, berkulit putih, berhidung mancung, murah senyum, yang begitu hormat saat bertemu saya, berkelebat. Dalam ingatan saya sekarang, dia sedang murung. Keluarganya, pasti pula sedang gelisah dan cemas.

Allah ya Rabb.

Saya pikir sudah selesai. Telah cukup guncangan macam roller coaster itu. Belum. Pukul satu siang tadi, sahabat, guru, dan editor buku saya; Kiai Kocak VS Liberal, editor senior pada penerbit buku saya itu dirilis, positif Covid. Kabar saya terima melalui akun Facebook sahabat saya juga; Editor in Chief pada penerbit yang sama mereka bekerja. Saat ini, sang editor sedang menjalani isolasi di Wisma Atlet. Rasa benar-benar ingin menjerit.|


Saya tidak tahu, apa kita semua akan bisa bertahan atau tidak menghadapi wabah ini. Rasa cemas mengejar-ngejar bukan karena persoalan sakit dan kematian, tapi “lelah” melihat arogansi penguasa saat mula pertama wabah ini merebak. Bukan sigap menyelamatkan jiwa anak bangsa, tapi ramai-ramai melawak dengan tema Corona yang “garing”.

Dimulai dari pernyataan Presiden dengan sangat confident yang menyebut virus Corona tidak masuk ke Indonesia merespon Corona sudah merenggut korban meninggal 1.018 di Cina Daratan seperti yang disiarkan Kompas TV pada 11 Februari 2020. Pernyataan presiden ini seperti draft naskah komedi yang diturunkan menjadi dialog ketoprak humor yang diperankan para pembantu. "[Ini] guyonan sama Pak Presiden ya. Insya Allah [virus] Covid-19 tidak masuk ke Indonesia karena setiap hari kita makan nasi kucing, jadi kebal," ujar Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.

"Corona [Masuk Batam]? Corona kan sudah pergi.... Corona mobil?" ujar Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan.

"Katanya virus corona enggak masuk ke Indonesia karena izinnya susah," kata Bahlil Lahadalia, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

"Corona itu seperti istrimu, ketika kamu mau mengawini kamu berpikir kamu bisa menaklukan dia. Tapi sesudah menjadi istrimu, kamu tidak bisa menaklukkan istrimu," kata Mahfud MD.

Setali tiga uang, wakil rakyat yang menulis buku “Saya Bangga Jadi Anak PKI” juga genit, latah mengambil peran, "Itu tadi dijabarkan sama ahli paru di Metro TV kalau enggak salah saya lihat. Ini lebih bahaya MERS dan SARS dibanding itu daripada si corona, kecuali [maksudnya] 'komunitas rondo mempesona'...Bapak-bapak kalau kena korona yang itu ngeri kita. Itu korona beneran itu, korona yang membahayakan itu, komunitas rondo mempesona," ujar Anggota Komisi IX DPR RI Ribka Tjiptaning.

Apakah mereka telah kehilangan sense of disaster? Saya tidak tahu. Bisa jadi, it’s about leadership capacity, integrity. Lingkaran positif jadi makin mengecil. Begitu kata teman-teman saya dalam obrolan ringan di Telegram.

Apa mau dikata. Begitulah suara dari mulut orang-orang “berkasta” pejabat di atas yang terlanjur mereka muntahkan, polos seperti robot yang tak kenal rasa akan dosa. Bagi saya, lelucon mereka itu adalah legacy buruk sejarah bangsa ini. Entah, apakah saat ini mereka menyesalinya atau tidak, sementara korban Covid 19 terus bertumbangan setiap hari.

Lima bulan lalu, artikel bertajuk "Dying doctors. To many coffins. Indonesia late in battle against coronavirus” dimuat Los Angeles Times pada Jumat (24/4) seperti dilaporkan https://dunia.rmol.id. Sekarang, para dokter sekarat. Terlalu banyak peti mati. Indonesia terlambat berperang melawan virus corona sedang tayang di pelupuk mata.

Allah ya Rabb, biarkanlah wabah ini berlalu. Mohon perlindungan-Mu Ya Rabb. Kami benar-benar seperti di atas roller coaster sambil memandangi peti mati.

Depok, 19 September 2020.









Kamis, 17 September 2020

MUTUALISME SECANGKIR KOPI DAN SEBARIS ESAI

Bila naluri aksara sudah mulai bekerja, otak akan memerintah. Kata demi kata diurai. Antar kalimat dicarikan jodohnya. Tentu, beberapa kalimat harus diganti diksi baru. Bahkan, ada di antaranya yang tidak bisa diselamatkan. Dengan berat hati, ia harus dibuang. Kalimat utama dengan kalimat penjelasnya dipasangkan serasi. Jadilah ia paragraf sejoli yang berjalan mesra bergandengan tangan. Dan, sesapan kopi menutupnya. Sempurna.



NGOPI di perpustakaan bukan sembarang “ritual”. Bukan sekadar memenuhi selera lidah. Bukan pula hirupan relaksasi dari aromanya yang kuat an sich. Akan tetapi, ngopi di perpustakaan adalah sumber inspirasi. Imajinasi otak dan jemari. Lebih dari itu, sesapannya bagai mantra yang menggerakkan. Seduhan hasil gilingan biji dari pohon pendek berbuah kecil-kecil yang konon ditemukan pertama kali oleh penggembala kambing di Ethiopia pada abad ke-9 itu, sanggup menjadi energi buat menjadikan esai yang bisu mampu berbicara.

Pada hitungan entah yang keberapa kali, sesapannya ampuh meredakan sakit kepala. Syaraf-syaraf dan otot di sekitar leher yang kaku seakan turut pula mengendur. Mata yang seakan sudah keruh, cerah lagi. Huruf-huruf yang tampak bertumpukan di pelupuk, seolah menata sendiri posisinya di mana dia berada. Memang, obatnya bukan tablet pereda nyeri, tapi cukup secangkir kopi panas. Jari jemari lah yang kemudian mengeksekusi. Dan, lihat hasilnya. Paragraf yang semula membuat kening berkerut-kerut, menjadi bermakna meskipun sumber masalahnya hanya soal silap membubuhkan tanda baca.

Jangan ditanya bila masalahnya bukan sekadar titik dan koma. Hampir-hampir saja, secangkir kopi gagal mengurai maksud dari susunan kalimat panjang yang melelahkan. Atau pendek, tapi membingungkan. Meskipun sudah berkali-kali dibaca, pelan-pelan, tetap saja tak mengubah kejelasan. Hurufnya sama, kalimatnya pun tidak ada yang baru, tapi efeknya seperti mantra membuat lupa. Semakin ia dibaca berulang-ulang, semakin jauh tersesat tak tahu jalan pulang.

Jika sudah begitu, masalahnya bukan pada kopi, tetapi pada paragraf dan peminum kopi yang sudah kelelahan. Kopi pun ditambah dosisnya. Disesap lagi sehirupan demi sehirupan sambil mengambil jeda. Sementara, tukar suasana dulu dari meja yang kaku. Pergi sejenak buat melempar pandangan ke luar jendela. Jika pas suasana sedang hujan, itu pertanda baik. Sebab, biasanya, memandangi tetesan air dari langit itu kadang ampuh mengembalikan mood. Suara gemuruhnya jadi terapi otak yang mulai jenuh. Sejenak menikmati suasana hujan dengan gembira, bak camilan pendamping kopi. Sabar menunggu beberapa menit, sampai naluri aksara akan bekerja lagi.

Bila naluri aksara sudah mulai bekerja, otak akan memerintah. Kata demi kata diurai. Antar kalimat dicarikan jodohnya. Tentu, beberapa kalimat harus diganti diksi baru. Bahkan, ada di antaranya yang tidak bisa diselamatkan. Dengan berat hati, ia harus dibuang. Kalimat utama dengan kalimat penjelasnya dipasangkan serasi. Jadilah ia paragraf sejoli yang berjalan mesra bergandengan tangan. Dan, sesapan kopi menutupnya. Sempurna.

Esai itu singkat, ringan, dan bebas. Sesingkat merenung, seringan menikmati kopi, dan sebebas merefleksi. Hanya saja, saat ia dituliskan menjadi wacana di atas kertas, di sinilah masalah bermula. Secangkir kopi panas tidak akan bisa menolong mewujudkannya apabila belum pernah sekalipun serius menulis karangan bebas. Memang demikian. Orang boleh berkata berkali-kali bahwa menulis itu gampang, tetapi tak segampang menyeduh kopi. Gampang dalam konteks ini berlaku bagi pembelajar, yang keras berlatih, dan membiasakan menulis. Menyeduh kopi pun bila dilakukan sembarangan, bisa jadi citarasanya rusak tak senikmat hasil racikan tangan orang yang terlatih.

Esai itu tulisan gembira seperti gembiranya perasaan saat menikmati secangkir kopi. Orang dengan esainya merdeka menganalisis dari sudut pandang pribadi. Leluasa menilai sesuatu dari kearifan reflektif yang menyeruak dari pikirannya tanpa beban. Ia bukan tulisan semacam makalah, bukan pula tulisan laiknya skripsi yang bertebaran ratusan kutipan, rujukan, teori, atau bukti literatur autentik yang berbaris-baris pada catatan kaki dengan pola mekanis. Tidak, tidak demikian. Bolehlah sekali dua kali mengutip, tapi biarkan suara hati bekerja lebih sering daripada terikat dengan kutipan yang membelenggu.

Esai itu lentur. Gaya penulisannya tidak kaku. Jadi, jangan tergoda menulis yang terlalu teoretis dengan sering mengutip data-fakta atau informasi yang tidak perlu. Jika terjebak pada kutipan tak perlu, penulisan menjadi bertele-tele dan terkesan menggurui. Tulisan jadi melebar kemana-mana. Sekali lagi, esai itu tulisan opini yang sifatnya sangat subjektif. Penulisnya bebas menulis apa pun dari sudut pandang pemikiran dan pemahamannya.

Oleh karena esai adalah hasil perenungan dalam bentuk wacana, apakah penulisnya mesti merenung dulu? Betul, dan apa susahnya merenung. Adakah orang yang tidak pernah merenung seumur hidupnya? Rasanya hampir tidak ada. Manusia itu makhluk berpikir, maka setiap orang pasti pernah merenung. Meskipun sepintas saja, tetaplah disebut merenung. Memang tidak harus lama. Sesuai kadar objek yang direnungkan saja. Harap juga dibedakan antara merenung dan menghayal.

Namun, jangan berhenti hanya merenung lalu selesai sambil manggut-manggut. Duduklah yang rileks di depan piranti menulis. Tuangkanlah segera. Ikat ia dengan kata, kalimat, dan paragraf. Lalu, susun dengan alur berpikir yang menunjukkan kejelasan, keringkasan, ketepatan, kepaduan, dan ketuntasan. Syarat-syarat itu sudah cukup membuat tulisan dipahami pembaca. Nanti kalau sudah terbiasa, tambahkan lagi efeknya bukan saja sekadar pembaca mengerti, tapi buatlah pembaca terhibur.

Kata seorang maestro ilmu menulis, tulisan yang bagus itu punya tiga daya; daya gugah, daya ubah, dan daya pikat. Entah, apakah tiga daya itu bisa “dicicil” atau merupakan paket komplit di mana ketiganya menjadi syarat sebuah tulisan dikatakan bagus. Akan tetapi, karena sasaran tulisan adalah hati, pikiran, dan emosi pembaca, memang dia harus menggugah, mengubah, dan memikat, sekecil apapun daya-daya itu memengaruhi pembaca.

Kata maestro yang sama, para penulis itu sejatinya merdeka. Paling tidak pikiran dan perasaannya. Kalau belum merdeka, pasti ia sedang terbelenggu kepentingan: beras, bensin, dan benci. Para penulis itu sejatinya pejuang. Paling tidak mereka sedang memperjuangkan kebahagiaan. Kalau tidak berbahagia, berarti mereka tengah didera kepandiran.

Membaca dan memperbaiki naskah pun, butuh kemerdekaan pikiran dan perasaan. Dia juga harus bahagia. Kalau tidak merdeka dan bahagia, bagaimana nasib naskah yang diperbaikinya nanti. Jadi, bukan saja penulis yang harus bahagia, merdeka perasaan dan pikirannya, editor pun demikian. Seorang editor yang belum merdeka dan tidak bahagia, sebaiknya merdeka dan berbahagialah dahulu, baru mengedit naskah. Kemerdekaan dan kebahagiaan itu juga kadang tidak mahal, cukup dengan secangkir kopi panas dengan uapnya yang mengepul menebar aroma unik.

Kopi, menulis, dan editor kadang seperti saudara kembar—tentu, tentu saja ini berlaku bagi penulis atau editor penyuka kopi. Ia seperti membebaskan pikiran dan perasaan dari “ketakutan” menyusun kata, kalimat, dan paragraf. Memang, salah satu kendala tak mau tergerak untuk menulis adalah ketakutan: takut jelek, takut salah, dan takut dibaca orang. Apalagi jika tulisan itu dilombakan, daftar ketakutan biasanya bertambah panjang.|



Baiklah. Jadi, saya sedang bahagia. Kemarin, dami buku kumpulan tulisan dari hasil lomba menulis di lingkup Madrasah Pembangunan saya terima dan sedang saya baca ulang. Lomba ini digagas Perpustakaan Madrasah Pembangunan pada event Pesta Literasi 2019. Pesta Literasi 2019 mengangkat tema All About MP menyambut HUT Ke-46 MP. Pada mulanya, karangan yang dilombakan tulisan berbentuk esai. Akan tetapi, tulisan yang masuk lebih dari sekadar esai. Esai plus, begitulah kira-kira.

Saya berterima kasih kepada dua tokoh yang kami mintakan kesediaannya untuk menilai naskah yang kami terima; Bapak Bambang Trimansyah, Direktur Lembaga Sertifikasi Profesi Penulis dan Editor Profesional (LSP PEP) dan Dr. Tantan Hermansah, M.Si., dosen Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Ketua Bidang Inovasi dan Pengembangan Pendidikan pada Yayasan Syarif Hidayatullah Jakarta. Kedua beliau ini, sudah tidak asing dalam dunia literasi tulis menulis. Naskah Bapak dan Ibu yang memenangi lomba ini, seratus persen rekomendasi dari nilai kedua juri yang kami terima. Tidak ada campur tangan panitia lomba, apalagi kuasa buat memindah-mindah posisi siapa yang harus juara dan siapa yang harus mengalah. Dengan alasan apa pun, oleh siapa pun, dan dengan motivasi apap pun, tidak bisa. Sayembara memang mendidik kita untuk siap menang, lebih ksatria untuk siap kalah.

Ada keterlambatan rencana terbit buku ini dari jadwal semula. Sejak Covid 19 merebak, tak pelak, rencana berubah, agenda ditunda, bahkan ada agenda Perpustakaan Madrasah Pembangunan yang dibatalkan. Urusan yang lebih mendesak harus didahulukan, terutama persiapan strategi pembelajaran di masa pandemik yang banyak menyita perhatian pada persiapan penerbitan buku ini.

Sekarang, buku ini sudah ada di tangan. Jangan lupa, nikmatilah sambil minum kopi jika Anda penyuka kopi.

Salam literasi.


Sabtu, 05 September 2020

TILIK DAN LITERASI DIGITAL HARI INI

Bila dari sudut ini TILIK ditelisik, jauh-jauh hari, hiburan televisi di rumah tangga kita sudah bertabur konten gibah gila-gilaan. 

TILIK merebut perhatian banyak kalangan. Sebuah film pendek yang diproduksi pada 2018 itu menuai berbagai penilaian. Ramai di jagat medsos, TILIK dinilai dari sudut kreativitas, kebebasan berekspresi, sampai pada penilaian dari sudut moral sebuah karya sinema. Tentu, ragam penilaian itu berangkat dari standar nilai masing-masing penilai. Pada akhirnya, pro-kontra atas TILIK menjadi pertunjukkan kedua setelah Bu Tejo.

Setelah menonton TILIK, “kolom opini” di kepala saya pun muncul begitu saja. Kesimpulan saya, hampir tidak ada yang baru yang ditawarkan TILIK. Bila dipandang sebagai kreativitas, kebebasan berekspresi, bahkan dinilai dari sudut moral pun, rasa-rasanya, TILIK bukan yang pertama dan terakhir. Ambil sudut moral misalnya, TILIK tidak bisa mengelak dinilai sebagai tontonan gibah. Bila dari sudut ini TILIK ditelisik, jauh-jauh hari, hiburan televisi di rumah tangga kita sudah bertabur konten gibah gila-gilaan.

Namun, ada hal yang perlu dicermati, yakni soal literasi digital. Entah, apakah Bu Tejo dan kawan-kawannya satu truk itu memang benar-benar disetting untuk mengungkap fakta ini atau tidak, hanya Wahyu Agung Prasetyo; sang sutradara yang tahu. Akan tetapi, disetting atau tidak sama saja, fakta kelemahan literasi digital orang Indonesia sangat mengkhawatirkan.

Beberapa poin dari TILIK yang menggambarkan lemahnya literasi digital itu sangat penting untuk dikurikulumkan sebagai mata ajar kehidupan. Bahkan, bisa jadi sudah sampai pada kondisi darurat apabila kelahiran TILIK semacam bayi kembar kelahiran “buzzer pekok” yang kerap melempar informasi salah dengan maksud diterima masyarakat sebagai suatu kebenaran.

Rasanya, memang tidak ada yang berani menyangkal bahwa penemu internet mestilah orang pintar. Begitulah argumen yang dibangun Bu Tejo buat meyakinkan ibu-ibu satu truk— “kebetulan” semuanya berkerudung, kok bisa ya?— soal Dian yang mereka gosipkan. Bu Tejo menjadikan kepintaran penemu internet untuk menguatkan tesisnya bahwa informasi dari internet pasti benar karena internet buatan orang pintar.

Ini masalah pertama. Tidak perlu diperdebatkan bahwa penemu internet adalah orang pintar, namun pengguna internet tidak semuanya pintar. Pengguna internet yang pintar pun tidak semuanya lurus. Tidak sedikit pengguna internet pintar yang bermental “buzzer pekok” tadi. Di tangan mereka, informasi kebohongan dikemas sedemikian rupa menjadi berkilau-kilau. Kalau sudah begini, korbannya adalah orang-orang seperti Bu Tejo yang menganggap apa pun informasi dari internet pasti benar karena buah dari kepintaran penemunya.

TILIK memang gurih menyajikan kesalahpahaman Bu Tejo soal internet. Soal informasi internet pasti benar dikuatkannya dengan bukti konkret semisal foto atau gambar. Ini masalah kedua. 

Di zaman teknologi audio visual sudah sedemikian maju hari ini, gambar atau foto, bahkan video tidak bisa otomatis absah sebagai bukti konkret sebuah isu. Hari ini, apa pun bisa direkayasa. Jangankan cuma gambar atau foto, video, bahkan suara bisa diedit alias direkayasa. Maka foto, video, atau suara tidak serta merta menjadi bukti valid sebuah informasi dinyatakan benar dan konkret.

Masalah ketiga soal ukuran ramainya persoalan dibincangkan di medsos. Jadi, makin ramai medsos membicarakan suatu perkara, Bu Tejo meyakininya sebagai kebenaran. Bayangkan, bila ini yang terjadi, maka orang begitu mudahnya digiring memercayai kepalsuan sebagai keaslian dan keaslian sebagai kepalsuan. Yang kaya adalah si “buzzer pekok”. Semakin ramai postingan yang dilemparnya ke medsos, di-reshare dan di-like ratusan bahkan ribuan Bu Tejo, makin kaya dia. Sementara korbannya semakin miskin literasi sambil membayar kuota internet untuk konten bohong yang mereka telan. Rasanya, buzzer bayaran sudah gentanyangan sejak beberapa tahun belakangan saat kontestasi politik membutuhkan kehadiran mereka sudah jadi rahasia umum.

Masalah keempat, soal komentar dan komentator yang dianggap sebagai saksi. Jadi, makin bayak komentar, makin banyak saksi suatu peristiwa bagi Bu Tejo. Logikanya, makin banyak saksi, makin kuat sebuah isu dianggap benar.

Di medsos, dalam batas-batas tertentu komentar bersifat bebas dan sangat terbuka. Tidak ada ukuran validitas. Semua orang bebas berkomentar. Tidak penting dia mengerti atau sama sekali tidak mengerti tentang hal yang dikomentari. Semua punya kesempatan yang sama. Lagi pula, banyak komentar bisa bersumber dari satu orang yang punya seribu akun palsu. Apalagi, akun palsu itu memang sengaja diplot buat meramaikan sebuah isu di medsos. Di sini, “buzzer pekok” adalah ahlinya.  

Masalah kelima. Nah, ini yang paling krusial. 

Didasari keyakinan bahwa sumber internet pasti benar dengan didukung foto, ramai dibincangkan, dan dikomentari banyak orang, maka sharing informasi yang belum valid tidak disadari sebagai bukan kesalahan. Begitulah yang terjadi dalam keseharian di akun-akun medsos, grup-grup What’sApp, Twitter, Youtuber, atau Instagram. Orang dengan entengnya membagikan postingan yang belum jelas validitasnya atau mengambil validitas milik orang lain lalu diaku sebagai karyanya. Ini terjadi, mungkin di luar kesadaran karena kemiskinan literasi digital, bukan karena niat yang tidak baik.

Pekerjaan rumah yang cukup berat. Kita patut “berterima kasih” kepada Bu Tejo dan TILIK yang menyadarkan lagi bahwa buta literasi digital masih diidap umumnya penikmat internet. Biarlah itu diidap orang awam. Masalahnya, apabila persepsi dalam pemeran “Bu Tejo-Bu Tejo” itu berprofesi sebagai pendidik. Ini kecelakaan sejarah.

Allahu a’lam. 
Sumber gambar: https://www.bobobox.co.id/blog/tempat-wisata-cantik-yang-bisa-kamu-kunjungi-di-lokasi-film-tilik/




Jumat, 21 Agustus 2020

PAK MOKO DAN MIMPI YANG TERTUNDA

Saya sudah tidak kuat, kayaknya ini buku terakhir saya.
Ustadz Insan LS Mokoginta telah wafat. Kepergiannya menyisakan duka. Umat Islam kehilangan lagi tokoh kristolog setelah sebelumnya Kodiran bin Saiun Atmoduryo juga berpulang pada 16 April 2020. Keduanya menyusul guru para kristolog Indonesia; KH. Abdullah Wasi’an, kristolog yang disegani para pendeta dan tokoh kristen.

Ustadz Insan LS Mokoginta—Saya memanggilnya “Pak Moko”—meninggalkan kesan khusus buat saya meski hanya dua kali bertemu dan berbincang. Pertama kali bertemu di rumah beliau di Kelapa Dua, Depok, untuk silaturahim, belajar, dan membincangkan rencana menulis buku seri "Kiai Kocak". Saya terbersit ingin mengangkat isu kristenisasi untuk seri "Kiai Kocak Ronde#5". Rasanya, saya memang harus berguru langsung kepada Pak Moko untuk mendalami topik yang akan saya kemas dengan style khas Kiai Adung. Kali kedua bertemu Pak Moko di Universitas Muhammadiyah Jakarta, Cempaka Putih, saat beliau mengisi seminar kristologi. Selebihnya saya “bergaul” dengan Pak Moko melalui membaca buku-buku atau menonton rekaman perdebatannya dalam tajuk debat Islam Vs Kristen.

Pak Moko—selain dikenal sebagai dai, pendebat ulung, dan kristolog— adalah juga pegiat literasi. Beliau penulis produktif. Puluhan judul buku telah ditulisnya, terutama buku-buku bertema kristologi dan pembelaan terhadap Islam. Selain bagai “singa” di meja debat, boleh dikata, Pak Moko adalah pendekar pena di medan literasi.

Buku Pak Moko terbaru berjudul “Pembelaan Spektakuler Muallaf Untuk Islam” setebal 535 halaman menjadi best seller. Namun rupanya, seperti yang pernah dinyatakan Pak Moko, buku ini menjadi buku terakhirnya. “Saya sudah tidak kuat, kayaknya ini buku terakhir saya,” ujar Abu Mumtaz—penulis Kata Pengantar buku itu menirukan keluhan Pak Moko karena faktor kesehatan yang menurun.

Pada 20 Desember 2016, itu kali pertama saya berjumpa Pak Moko di kediamannya. Setelah bertukar pesan kapan beliau bisa menerima saya berkunjung, malam itu saya datang diantar kawan; Uda Fajri.

Saya mengabari bahwa saya sudah di depan gerbang. Pak Moko yang membukakan, menyambut, dan menyilakan masuk. Aduh, begitu rendah hati beliau. Saat menanyakan kabar, suaranya sama persis dengan suara dalam VCD-VCD debatnya. Saya hafal betul karakter suara beliau. Berarti, saya sudah benar-benar berjumpa Pak Moko.

Pak Moko lalu membawa saya ke ruang tamu. Beliau meminta saya menunggu. Rupanya sedang ada “pasien”. Pak Moko telah siap dengan presentasi berisi ulasan tentang Injil. Wah, kebetulan. Saya minta izin bergabung. Hitung-hitung kuliah kristologi. Hampir satu setengah jam saya dan Uda Fajri menikmati kuliah kristologi Pak Moko. Saya tercengang. 

Belakangan, setelah sesi gadis itu selesai, Pak Moko mengatakan bahwa gadis itu sedang goyah imannya setelah mendapat doktrin tentang keselamatan versi Injil. Tampaknya, sebatas gembira raut wajah gadis itu saat pamit pulang, presentasi Pak Moko telah mengembalikan keyakinan gadis tersebut. Allahu a’lam, bagaimana kemudian jalan hidup gadis itu, saya tak pernah tahu.

Saat mengutarakan maksud kedatangan saya, Pak Moko sangat senang. Beliau menyilakan saya untuk datang berdiskusi kapan saja saya merasa memerlukannya. Apalagi saat saya tunjukkan empat seri buku "Kiai Kocak VS Liberal" yang kemudian saya hadiahkan untuk beliau, antusiasme Pak Moko begitu terasa dari raut wajahnya. Sebenarnya Pak Moko baru pulang dari safar. Tentu masih lelah. Namun, saat isi buku "Kiai Kocak VS Liberal" saya sampaikan secara singkat, perbincangan bersambung lagi. 

Saya harus tahu diri. Saya tidak ingin berlama-lama. Sudah saatnya Pak Moko istirahat. Sudah pukul sembilan malam. Namun, Pak Moko mengajak saya ke ruang perpustakaan pribadinya sebelum saya minta diri. Waw! Perpustakaan itu penuh dengan koleksi VCD debat dan buku-buku karyanya. Lalu, Pak Moko membalas pemberian saya dengan dua buku kristologi versi komik. Entah itu bukunya yang ke berapa, saya lupa, nanti saya periksa lagi. Jadilah kami saling berbagi cenderamata.

Sekarang, pemberi cenderamata itu telah berpulang. Pada Jum’at, 2 Muharram 1442 H, 21 Agustus 2020 kemarin, Pak Moko tutup usia. Beliau wafat pada waktu, tempat, dan gerak tubuh kematian yang paling dirindukan setiap muslim. Ya, proses Pak Moko berpulang saat shalat sunnah ba'diyah Maghribnya belum lagi selesai. Rencana buku Kiai Kocak yang pernah kami bincangkan pun belum pula saya sentuh. Waktu dan kesibukan membelokkan saya pada tanggung jawab literasi yang lebih berat sampai tak ada kesempatan lagi buat saya dan Pak Moko berbincang. Kiai Kocak Ronde#5 menjadi mimpi yang tertunda. Entah sampai kapan. Lalu, kepada siapa lagi saya harus meminta ilmu?

Selamat jalan Pak Moko. Semoga Bapak sudah menikmati indahnya taman-taman surga, pengantar surga yang sesungguhnya.

Depok, 21 Agustus 2020.

Rabu, 12 Agustus 2020

CINTA SEKADAR

Soal cinta adalah soal berterima seperti air dengan air, bukan seperti air dengan minyak. 
JARANG sekali saya membaca pesan semendasar ini. Si pengirim, sahabat saya ini memang pembelajar, bukan sekali dua kali dia mengirim pesan menanyakan sesuatu. Sering pula saya yang memulai bertukar kabar, sekadar menyapa, sahut-sahutan canda, dan membicarakan hal yang enteng-enteng. Akan tetapi, kali ini tidak. Pesan yang dikirimnya sangat menyentak.

Senja sempurna baru saja pergi, naik ke langit untuk bertukar shift. Magrib menipis. Setengah jam lagi masuk waktu isya. Teh poci---ritual sore--- di mug belum pula tandas. Tilawah paman saya dari mushalla Pak Mi'in pengantar Maghrib menuju Isya masih melantun. Pada waktu demikian itulah pesan saya terima.

Pesan itu berisi soal cinta yang menggebu. Ya, sahabat saya ini bertanya soal cinta yang dirasanya sudah sukar dia kendalikan. Dia sedang jatuh cinta untuk yang kesekian kali. Bahkan cinta kali ini lebih dahsyat dari cinta-cinta yang sebelumnya, cinta yang sukar dia lupakan jika bukan karena kesadaran mumpuni bahwa soal cinta adalah soal berterima seperti air dengan air, bukan seperti air dengan minyak. Cinta kali ini benar-benar telah memperdayakannya. Rasionalitasnya seakan redup. Dia berubah naif karena begitu takut akan ditinggalkan.

Saya tak berdaya memberinya jawaban masuk akal, sebab saya juga mengalaminya. Bisa jadi saya lebih takut ditinggalkan, lebih tidak siap bila sewaktu-waktu cinta itu direnggut dari genggaman, sementara cinta itu begitu kuat mencengkram. Bahkan saat pertanyaan itu saya terima, saya sedang terlena. Saya sendiri masih menyembunyikan rasa cinta ini dari jangkauan istri saya, saya takut dia tidak siap menerima bahwa saya telah jatuh cinta lagi.

Akan tetapi, pesan sahabat saya ini teramat penting. Tidak semestinya diabaikan. Bisa jadi, ada baiknya kami saling berterus terang bahwa kami memang sedang jatuh cinta, sedang begitu takut jika tiba-tiba ditinggalkan.

Pesan itu seperti hentakkan keras yang membangunkan lamunan. Saya tersadarkan, rasa ini tidak boleh diperturutkan menjadi liar tak terkendali, hingga jika waktunya benar-benar tiba harus berpisah, jiwa akan hancur karena ketidaksiapan.

Ya, semuanya hanya titipan. Semuanya akan kembali ke asalnya. Memang, cinta adalah fitrah, naluri yang tidak bisa dibunuh. Wajar bila suatu saat rasa takut kehilangan menghantui karena cinta yang terlalu dalam.

Manusia memang lebih siap menerima---bukan tidak siap--- daripada kehilangan, manusiawi. Sebenarnya, yang demikian itu hanya harus diseimbangkan saja. Porsinya saja yang ditakar. Jiwa harus siap menerima dan kehilangan seberapapun tinggi cinta mendekapnya.

Selain Allah, semuanya adalah "Si Fana". "Si Fana" artinya, hilang, lenyap, rusak, dan semua arti yang menunjuk pada makna kenisbian. Anak-anak kita yang amat kita sayangi melebihi diri kita itu adalah juga "Si Fana". Kapan saja dia akan meninggalkan kita. Bahkan, diri kita juga adalah "Si Fana" yang akan hilang di saat anak-anak dan istri kita merasa amat takut kita tinggalkan. Jadi, antara "Si Fana" dengan "Si Fana" akan saling meninggalkan.

Ya, benar. Ini soal rasa cinta kepada anak yang kadang tidak terkendali. Lucu, menggemaskan, pintar, pewaris ketampanan atau kecantikan, benar-benar membuat cinta menggebu-gebu. Kita sadar, kita tahu betul bahwa kehadiran mereka adalah titipan. Namun, jiwa kadang terseret seakan tidak siap bila titipan itu diambil pada saatnya nanti.

Tidak ada tips untuk mengatasi rasa takut kehilangan kecuali menyintai sekadarnya cinta. Cuma harapan, ya Allah, kumpulkan saya dengan pasangan dan anak-anak saya di surgamu kelak.

Begitulah. Tidak ada yang lain lagi.

Depok, 12 Agustus 2020

Minggu, 09 Agustus 2020

HEI KITA SUDAH TUA!

Orang-orang setua kita, hanya tinggal tersisa dua stasiun hidup, yaitu kuburan dan akhirat. Masa-masa bayi, kanak-kanak, remaja, dan dewasa sudah pergi, sudah kita habiskan, kita bagi-bagi dari jatah 49 tahun yang lalu. 
"Orang-orang setua kita, hanya tinggal tersisa dua stasiun hidup, yaitu kuburan dan akhirat. Masa-masa bayi, kanak-kanak, remaja, dan dewasa sudah pergi, sudah kita habiskan, kita bagi-bagi dari jatah 49 tahun yang lalu."
36 tahun bukan waktu yang sebentar. Pada 1979, kita masuk SD. 1985 kita lulus, berpisah, dan memilih jalan sekolah atau jalan hidup masing-masing. Hari ini, kita bersua lagi setelah sekian lama dalam kebermasing-masingan. Namun, masa sepanjang itu, rasanya berlangsung dalam sekejap saat kita bertemu. Tahu-tahu, kita sudah menua.

Tanda-tanda menua begitu tampak, tapi saya tidak ingin membicarakannya. Biarlah itu menjadi semacam kekayaan hidup masing-masing Maspupah, Nuryahati, Sa’diyah, Maryamah, Napsiah, Siti Kotijah, Dayati, Azhari, Ujang, Syamsuddin, Sukardi, Muhammad Insyaf, dan Gugut Kuntari. Hanya saja, jiwa-jiwa kita masih saja merasakan muda. Mungkin, merasa semuda usia tiga belas atau empat belas tahunan saat dulu kita baru lulus SD.

Selain yang hadir hari ini, catatan memori saya masih menyimpan nama Siwi Purbandiyah, Husnul Khotimah, Ida Farida, Mardina, Syarifah, Mujahidin, M. Yamin, Nijomuddin, Mahyudin Arif, Sutisna, Rahmat Hidayat, Ahmad Sainin, Muhammad Anwar Muttaqin, Saiful Anwar, Wawan Kurniawan, Mailudin, Januar Rahman, dan Iman Istamar. Tentu, kita merindukan mereka. Hanya saja, waktu belum mengizinkan bisa bersama-sama kita hari ini. Yang penting, semoga mereka semua sehat-sehat dan melimpah berkah.

Bila tidak keliru, ada satu lagi nama yang saya ingat; Ateh. Allahyarham, guru kita, H. Muhammad SF, memberinya tambahan nama menjadi; Siti Nur Ateh. Belakangan, Ateh memang tidak menyelesaikan masa SD-nya bersama kita.

Reuni kecil hari ini seperti kantong Doraemon di rumah Dayati. Ia membawa saya berkelana menjumpai masa kanak-kanak dalam kemasan usia yang sudah menua. Ia seperti mengembalikan kesegaran memori, harta yang paling berharga untuk merekonstruksi perjalanan hidup yang tercecer. Maka, yang pertama kali saya ingat adalah hal spesial di antara alumni yang hadir.

Memang, long term memory menyimpan hal-hal spesial. Tidak ada yang bisa membantahnya. Rasanya, begitulah hukum alam berlaku, baik memori masing-masing individu, maupun memori kolektif di mana kita semua sepakat pada satu hal yang kita pandang spesial tanpa perdebatan.

Nurhayati—kami memanggilnya Yati— adalah contoh hal spesial itu. Yati mungkin tidak menyadari bahwa dia telah berhasil membuat kita semua terperangah, terpesona saat dia berlaga di lintasan lari. Kecepatannya mengayun kaki saat pelajaran Orkes (Olahraga dan Kesehatan), membuat kita sulit melupakannya. Yati yang mungil, tapi speed-nya tak terkalahkan meskipun oleh Sa'diyah yang jangkung. Sejak itu, kecepatan Yati berlari, menjadi memori kolektif kita yang permanen. Dus, Yati identik dengan kecepatan. Hari itu, saat berjumpa lagi di usia menjelang 50, yang kita kenali adalah kecepatan larinya.

Tentu, dan maafkan teman-teman, Yati saya sebut untuk melengkapi kebahagiaan kita hari ini. Tentu, kita semua menyimpan setiap hal spesial, diakui atau tidak, dikenang atau tidak, dituliskan atau tidak, itu cuma soal prosedur saja. Yang pasti, setiap ciptaan Tuhan, menyatu dengan sifat spesialnya sendiri-sendiri.

Saya sungguh beruntung ada teman yang berperan mengumpulkan alumni. Dia yang telaten melacak nomor, menemui teman yang bisa dijangkau, dan menghimpunnya dalam group WA sampai pertemuan sudah berjalan tiga kali. Semoga semuanya bisa bergabung, bisa bersua, dan yang terpenting bisa berbagi keberkahan.

Menilik umur, rasanya sudah sampai bagi kita semua untuk berpikir bahwa kita memang sudah tua. Orang-orang setua kita, hanya tinggal tersisa dua stasiun hidup, yaitu kuburan dan akhirat. Masa-masa bayi, kanak-kanak, remaja, dan dewasa sudah pergi, sudah kita habiskan, kita bagi-bagi dari jatah 49 tahun yang lalu. Sudah ada pula anak-anak, bahkan menantu dan cucu. Memang, masing-masing kita punya cara sendiri, punya penghayatan sendiri, dan punya takaran sendiri pada hidup yang kemarin, yang sudah lewat itu. Tapi sekarang, untuk dua pengalaman lagi yang sedang kita tunggu, yaitu kuburan dan akhirat, kita semua sama, sisa umur kita hanya buat “ngumpulin” bekal hidup sesudah mati.

Lha, kok, jadi bicara mati?

Ya, karena kita hidup, maka tidak mungkin tidak bicara mati. Jangan lupa, pasangan hidup yang abadi adalah mati. Hidup sudah dan sedang kita nikmati, mati akan kita “nikmati”, entah kapan. Suka atau tidak suka, dua-duanya harus diterima sebagai anugerah sebagaimana kita menikmati masa muda dan pasangannya yaitu tua, kenyang dan lapar, terang dan gelap, manis dan pahit, sehat dan sakit, dan seterusnya. Dan, di antara kita masih diberi waktu, sudah tiga alumni yang berpulang mendahului; Jaka Mardaya, Suryati, dan Dewi Sartika.

Mari lengkapi kebahagiaan hari ini dengan mengingat juga jasa guru-guru kita. Ustadz H.M. Syamsuddin (Kepala Sekolah), Pak Mad Rauf, dan Pak H. Muhammad yang sudah tiada. Doa terbaik bagi guru-guru kita itu atas jariah ilmu, aksara, dan angka yang kita terima.

"Allah ya Rabb, ampunilah mereka, sayangilah mereka, maafkanlah segala khilaf dan kelalaian mereka. Allah ya Rabb, terimalah amal-amal baik mereka selama hidup. Sampaikanlah doa-doa dari kami dan orang-orang yang menyintai mereka."

Yang tidak terlupakan, Ibu Habibah. Ibu Habibah masih sehat, hanya sudah mengundurkan diri dari mengajar karena usia. Kapan waktu, bisa kita sambung tali kasih dengan beliau. Juga guru-guru yang lain yang pernah mengajar kita yang luput saya sebut di sini.

Sehat selalu teman-teman.

Salam.
Depok, 9 Agustus 2020..

KELAS TAKHASSUS

Tidak terlalu penting juga sih mencatat nama masjid itu di benak. Masjid, ya masjid. Cukup. Yang penting bukan "Masjid Dhirar". 

Bahagia kadang begitu sederhana. Kali ini, cukup dengan bertemu kelas kecil. Memang ada air kemasan, pisang, jeruk, semangka, dan roti bolu dihidangkan di atas meja. Juga ada bakwan, tahu, dan keripik tempe lengkap dengan sejumput cabe rawit yang menggoda lidah bergoyang. Tentu, hidangan itu untuk saya nikmati. Akan tetapi, bukan itu yang membahagiakan. Bukan.
Saya sebut kelas kecil karena pesertanya hanya belasan. Mereka santri senior MBS Kibagus Hadikusumo. Tahun ini mereka lulus. Namun, mereka belum diizinkan pulang karena diharuskan mengambil Kelas Takhassus selama satu tahun.

Kelas Takhassus ini, seperti penjelasan yang saya dapat dari Abah, dipersiapkan MBS Kibagus sebagai kelas pendalaman bahasa dan turats. Tentu, sebagai lembaga pesantren, penguasaan bahasa Arab dan kitab klasik dalam berbagai disiplin, seperti akidah, tafsir, fikih, ushul fikih, hadits dan ulumul hadits, tarikh, dan tasawuf menjadi standar calon ulama. Jadi, nanti saat santri selesai mengikuti program ini, mereka sudah matang secara keilmuan.

Mengapa harus ada Kelas Takhassus? Bukankah mereka sudah menyelesaikan masa studi? Apakah masa tiga tahun belum cukup mumpuni bagi mereka menguasai ranah keilmuan di atas?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak sesederhana seperti menyantap hidangan di meja itu. Lagi pula, memang bukan porsi saya buat mengurai jawabannya di sini. Saya cukup mencerna penjelasan Abah sebagai jawaban otoritatif. Secara pribadi, penjelasan yang saya dengar itu amat logis dan argumentatif.

Lalu, mengapa ada kebahagiaan dari kelas kecil yang sedang saya bicarakan ini?

Jawabannya, karena kelas kecil itu memang kelasnya santri-santri bahagia. Jika tidak bahagia, mana mau mereka "membuang" waktu setahun lagi di pondok? Nah, bertemu, bercengkerama, dan berbagi tips pada orang-orang bahagia itu, tidak mungkin tidak bahagia. Kalau saya tidak bahagia, berarti ada yang salah pada diri saya.

Sejak berangkat dari rumah buat bertemu kelas kecil itu, saya sudah bahagia. Sempat mampir di lesehan sederhana untuk makan siang dengan menu favorit; ikan gabus kering, sayur asem, tempe dan tahu goreng, dan ini; sambal dan lalapan. Tambah sempurna rasa bahagia itu. Allah masih memberi rezeki favorit, masa tidak bahagia?

Selesai makan siang, waktu zuhur tiba. Azan mulai berkumandang. Beruntung, baru beberapa puluh meter meninggalkan lesehan, ada masjid mungil dan cukup asri di pinggir jalan. Mampir lagi. Tiba saatnya buat bersyukur dalam irama ruku dan sujud.

Saya tidak sempat membaca papan nama masjid itu. Tidak terlalu penting juga sih mencatat nama masjid itu di benak. Masjid, ya masjid. Cukup. Yang penting bukan "Masjid Dhirar". Hanya saja, kesan positif sangat dominan atas masjid itu usai menumpang shalat dan melihat-lihat sekilas kondisinya.

Sisa-sisa gerah, efek sambal bawang belum hilang di badan meskipun di bibir sudah tuntas sejak basuhan wudhu terakhir. Sekadar bermaksud merapikan pakaian, sekali lagi saya pergi ke tempat wudhu sebelum melanjutkan perjalanan ke MBS.

Saya terkesan sekali lagi, seperti kali pertama masuk. Tempat wudhunya bersih, wangi, dan tampak terawat dengan baik. Tidak ada bau-bau kurang sedap dari kamar kecil yang menyentuh hidung. Tidak ada pula keset dari kain yang basah berwarna keruh tanda belum diganti berhari-hari. Bagi orang dengan tapak kaki sensitif, menginjak keset seperti itu sudah cukup menanam kutu air sampai tiba masanya sela-sela jari kaki memutih berjamur.

Alhasil, di tempat wudhu masjid itu, tidak ada penampakkan kesan kurang bersih di semua sudutnya. Pasti, petugas di bagian belakang ini menghayati benar pesan "an nazhafatu minal iman". Begitulah pula keadaan yang saya jumpai di kamar kecil, bukan WC, lebih mirip ruang ganti pakaian.

Dalam kegerahan, melihat air jernih dan sejuk melimpah di kamar kecil itu, saya tergoda. Mata saya mencari-cari, adakah maklumat "Dilarang Mandi". Tidak ada. Yang saya jumpai maklumat bernada simpatik, "Gunakan Air Secukupnya".

Secukupnya itu, sesuai kebutuhan. Untuk wudhu, seukuran wudhu. Untuk istinja, seukuran istinja. Sekadar buat berkumur, ya seukuran untuk berkumur. Begitu pula jika hendak mandi. Pasti seukuran air cukup untuk mandi, toh?

Artinya, boleh mandi! Siapa suruh kolamnya penuh.

Mandilah saya sekadar "Mandi koboy", tapi manjur mengusir gerah, cukup menjadikan badan segar kembali. Terus, nikmat Tuhan mana lagi yang harus didustakan?

Beberapa menit tiba di MBS, kelas dimulai. Kelas berlangsung serius. Namanya juga Kelas Takhassus, meskipun bidang yang saya share tentang kepenulisan, bukan al Arabiyyah atau qira'atul kutub.

Di sinilah kelebihannya mengelola kelas kecil. Full interaktif, fokus, dan mudah dikontrol. Tujuan pembelajaran pun sangat terukur sesuai target; terampil menyusun paragraf dan produk outline calon buku mereka.

Singkat cerita, kebahagiaan itu sampai pada ujungnya. Kelas menulis usai. Beberapa paragraf untuk berlatih berhasil direkonstruksi. Separuh draft outline rampung.

Tepat pukul lima sore saya pamit. Esok atau lusa, kelas dibuka lagi. Entah, cerita apalagi yang dituturkan melengkapi kebahagiaan berbagi. Bisa jadi, bahagianya itu akan terus hadir sampai jemari tak mampu bergerak menuliskannya lagi.

Salam literasi.

Depok, 8 Agustus 2020.