A homepage subtitle here And an awesome description here!

Minggu, 16 Juli 2023

SALAM DARI HARAMAIN


Lautan Manusia di Padang Arafah. Foto Credit: https://www.dakwatuna.com/

AKU masih dikenang. Kabar kenangan dari Haramain ini aku terima pada Rabu, 12 Juli 2023 kemarin. Yang mengenang bukan sosok biasa. Beliau dosenku di UIN (waktu itu masih IAIN) Jakarta, pengampu Mata Kuliah Ulumul Hadits. Namanya Drs. Abdul Haris, M.Ag. Eh, rupanya, istriku juga mengambil kuliah Ulumul Hadits dari beliau juga. Ya Allah, rasa hati senang tak terkira. 

Transmisi kenangan itu dari sahabatku, Ustaz Anton Rukmana. Ya, hari-hari ini, keduanya masih berkumpul di tempat paling mulia di muka bumi, di tanah kelahiran baginda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Di sana, di Haramain, Makkah al-Mukarramah sebelum mereka bertolak ke Madinah al-Munawwarah. Mendapat kabar dan salam ini, seketika, ingatanku terlempar ke masa kuliah dulu, pada mata kuliah yang diampu Pak Haris--begitu aku memanggil beliau waktu kuliah. Di tempat mulia inilah aku dibincangkan dan dipuji. Aiiih, ini pasti karena Ustaz Anton yang memulai mengulik-ngulik beliau.

Oh, iya, sedikit aku deskripsikan dosen ramah ini. Senyumnya selalu mengembang, suaranya lembut, dan perawakannya tidak tinggi juga tidak terlalu pendek. Entah, apakah hari ini perawakan beliau masih seperti itu. Sebab, perawakanku saja sewaktu masih jadi mahasiswanya sangat cungkring, sekarang sudah menjadi ‘pembesar’ alias "pemuda berbadan besar". Keh, keh, keh ….

Lepas dari itu semua, bagiku, Pak Haris bukan sekadar telah menyampaikan transmisi keilmuan sebagai seorang dosen, melainkan menyambungkan transmisi jalur-jalur hadits yang njlimet itu di benakku. Tema hadits menjadi sangat menantang dan membikin penasaran dari tugas men-takhrij hadits, tugas wajib mata kuliah yang beliau ampu. Nah, dari takhrij hadits ini pula, aku bisa merasakan kemewahan sekaligus kerumitan legacy para ilmuan dalam disiplin ilmu hadits yang amat berharga.

Sebelum dicerahkan Pak Haris soal takhrij hadits, dari bacaan atau mendengar ustaz saat ceramah, aku begitu ringan meniru ucapan menyebut kualitas sebuah hadits sebagai "sahih", "hasan", atau "dhaif". Namun, aku belum tahu betapa kompleksnya proses di balik kriteria-kriteria itu disematkan kepada sebuah hadits. Ya salam, ternyata tidak semudah sekadar menyebut "sahih", "hasan", atau "dhaif", Ferguso!

***

BOLEHLAH sedikit aku kasih tahu hasil dari pergulatan men-takhrij hadits ini. Jadi, ia adalah proses menemukan atau mengeluarkan matan dan sanad hadits secara lengkap dari sumber-sumbernya yang primer. Nah, dari men-takhrij ini, nanti akan bisa diketahui kualitas suatu hadits, baik secara langsung karena sudah disebutkan oleh kolektornya maupun melalui penelitian selanjutnya.

Ya, misi utama men-takhirj adalah menunjukkan asal suatu hadits di dalam sumber aslinya, siapa saja yang meriwayatkan hadits tersebut beserta sanad-nya, lalu menjelaskan status hadits tersebut bila memang dibutuhkan.

Problemnya, dasar penguasaan turats-ku tidak terlalu mengakar. Maka, menemukan atau mengeluarkan matan dan sanad hadits secara lengkap dari sumber-sumbernya yang primer, bagiku ini upaya “berdarah-darah”. Aku berpikir, tugas ini berat, ini sangat serius. Besar kemungkinan, untuk tugas ini aku tidak dapat nilai maksimal.

Ah, biarlah. Sanggup menyelesaikan proses men-takhrij, ini sudah menjadi pengalaman yang amat berharga. Dan, ini jauh lebih penting dari sekadar nilai akademik. Bukan begitu, Ferguso?

Sewaktu pembagian tugas, kira-kira menjelang Zuhur, dapatlah aku sepotong matan hadits yang harus aku takhrij dari Pak Haris; “Kullu mauludin”. Dan, badan mulai limbung, mata kunang-kunang, keringat dingin serasa mengembun. Rupanya, aku belum sarapan sejak pagi hari itu. Haaa, maklum ongkos kuliah pas-pasan.

***


Pak Haris dan Ustaz Anton, selfi. Foto Credit: Ustaz Anton.

ADA hal yang membuatku terhenyak saat menggarap tugas ini. Pak Haris meminta mahasiswanya merujuk salah satu sumber pokok dari beberapa kitab rujukan untuk menyelesaikan tugas takhrij, yakni Al-Mu’jam Al-Mufahras Li-Alfadz Al-Hadits Al-Nabawi.

Semula, aku menduga kitab ini susunan ilmuan muslim semisal Tahdzib al-Tahdzib karya Syihab al-Din Ahmad bin Ali bin Hajar Al-Asqalani atau Tahdzib al-Kamal fi Asma' al-Rijal karya Jamaluddin Abu Al Hajjaj Yusuf al-Mizzi yang juga harus aku rujuk. Nyatanya bukan. Al-Mu’jam yang ini terbitan Maktabah Brill, Leiden. Penulisnya Arent Jan Wensinck, orang Belanda. Ini karya orientalis, Ferguso!

Ya, terhenyaklah aku. Bukan soal pada keseriusan Wensinck yang orientalis itu telah menyusun Konkordansi Indeks Kosa Kata Alfabetis dari hadits-hadits yang terdapat dalam Kutub al-Sittah, Musnad al-Darimi, Musnad Ahmad bin Hanbal, dan Muwaththa’-nya Imam Malik. Akan tetapi, karena Wensinck juga adalah murid Christiaan Snouck Hurgronje, Penasihat Urusan Pribumi untuk pemerintah kolonial Hindia Belanda waktu nusantara masih menjadi wilayah kolonial ‘Orang Londo’ itu. Aku sedikit tahulah kelakuan Hurgronje. Dialah orang yang bertanggung jawab akhirnya Aceh bisa dijajah Belanda dan dikuasai. 

Belakangan, aku mafhum, orientalis memang punya kepentingan atas Studi Islam dan Dunia Ketimuran, terlepas dari apa motivasi mereka meneliti. Namun soal Al-Mu’jam, rasanya bolehlah sekadar aku berucap "Dank je" pada Wensinck.

***


Ustaz Anton Rukmana mendampingi Syaikh Hamid menjadi penerjemah pada sesi kajian rutin bakda shalat Jamaah di Mahbas Jin. Foto Credit: Drs. Abdul Haris, MA.g.

RELASI aku dengan Pak Haris bertambah panjang karena tersambungkan dengan sahabatku Ustaz Anton. Ustaz Anton bahkan telah menyuburkan lagi kesadaran ilmiah akan warisan ilmu yang pernah aku deras dari beliau. Aku sungguh-sungguh bersyukur telah terhubung dengan orang-orang alim, salih, masih mengenalku serta sudi menjawab salam dan mendoakanku dari Haramain. Padahal kami sudah lost contact lebih dari 23 tahun. Nikmat Tuhan mana lagi yang aku dustakan?

Kabar angin dari beranda akun Facebook Ustaz Anton, hari-hari ini, Pak Haris dan Ustaz Anton masih berada di Mahbas Jin. Mahbas Jin merupakan salah satu kawasan hotel tempat jamaah haji Indonesia bermukim selama di Makkah pada musim haji tahun ini selain kawasan Jarwal, Raudlah, Misfalah, dan Syisyah.

Alhamdulillah, ada yang tidak kalah spesial kabar dari sahabatku Ustaz Anton. Ia sempat menjadi penerjemah dadakan untuk Syaikh Hamid memenuhi permintaan Syaikh agar ada dari jamaah Indonesia menerjemahkan kuliahnya, semacam kajian rutin setelah shalat berjamaah di sebuah masjid di kawasan Mahbas Jin. Dan, Pak Haris dengan ketawaduannya, mengambil gambar Ustaz Anton saat mendampingi Syaikh. 

Masya Allah! Sungguh, semoga kabar dari Haramain ini memendar darinya cahaya keberkahan buatku juga. Juziitum kulla khair, para guru.

Di sela kepenatan mengoreksi tugas mahasiswa PPG UIN Jakarta, Depok, 16 Juli 2023.

Selasa, 11 Juli 2023

2920 HARI



Ilustrasi Perempuan Berhijab. Foro Credit https://www.islampos.com/

TIGA hari lalu, saya dan istri begitu bahagia. Kabar tentang Vera membuat kami berdua semringah. Bagaimana kami tidak bahagia, Vera sudah sah menjadi seorang ibu.

Vera sahabat istri saya, guru dari putra saya yang istimewa; Qurban Bayram Jaziila. Vera amat telaten mendampingi putra kami ini dengan segala keunikan Jaziila. Sewaktu duduk di kelas dua, sepatu melayang. Lain waktu, Vera dan Jaziila seperti rebutan tas, saling tarik. Pasalnya, Jaziila ngambek, dia tidak suka diberi PR dari Wali Kelasnya itu.

17 Juli esok, Jaziila sudah masuk SMA. Dia sudah berubah banyak. Dan, Vera diakuinya sebagai guru favorit saat ia kenang sekarang. Hanya saja, malam ini, raut wajah Jaziila tidak sesemringah seperti dia mengenang kelakuannya pada Vera semasa di SD dulu.

***

TIGA hari berlalu kemarin, saya dan istri bergegas akan menjenguk Vera. Kami ingin merasakan aura bahagia bersama, juga bersama suaminya. Maka, meskipun sedikit capek karena aktivitas sejak pagi cukup padat, selepas shalat Maghrib, kami meluncur, tak sabar ingin menyambut bayi Vera, penghuni baru muka bumi entah yang ke berapa dari cacah penduduk dunia hari ini.

Bisa jadi, bayi Vera menggenapi angka seratus sampai tiga ratusan ribu dari total kelahiran 371,504 bayi dalam sehari di seluruh dunia. Sebagai catatan, angka perkiraan UNICEF di atas berlaku pada 1 Januari 2021. Maka, tak heran, dari data real time situs World Population Review mengungkapkan, jumlah penduduk dunia pada 4 Juni 2023 saja telah mencapai 8.039.642.225 jiwa. Tentu, angka di atas sudah berubah pada hari ini, di 11 Juli 2023.

***

DELAPAN tahun penantian, boleh jadi waktu yang teramat panjang bagi Vera. Akan tetapi, Allah balas kesabaran perempuan ini dengan hadiah bak intan permata. Ya, buah hati yang dinanti-nanti guru kelas 5 SD Muhammadiyah Meruyung ini sudah "brojol" dari rahimnya. Sayang, saat kami sampai di rumahnya menjenguk, Vera masih di rumah sakit. Kami tak sempat bertemu, juga belum berjodoh melihat bayi laki-lakinya yang mungil.

Saya terheran-heran mendengar penuturan ayah Vera yang kami temui di masjid selepas shalat Isya. Kata ayahnya, Vera baru menyadari sedang mengandung di saat kandungannya sudah berusia tiga bulan. Masya Allah, padahal bila menangkap jiwa cerita istri saya, betapa Vera menginginkan kehamilan sampai pada batas mimpinya, seperti “kasih yang tak sampai”. Hanya kesabaran, ikhtiar, dukungan sahabat, saudara, dan karib kerabat yang menguatkan Vera bahwa harapan untuk punya momongan terasa sangat dekat. Benarlah harapan itu nyata adanya pada minggu pertama di bulan Juli tahun ini, di saat vera menikmati libur menjelang tahun ajaran baru.

Delapan tahun seperti tidak berarti lamanya masa yang dihabiskan Vera. Lelahnya terbayar, kesabarannya berbuah, dan penantiannya berakhir. Pastilah, dalam dekapannya di hari-hari kemarin bayi mungilnya tertidur pulas, ASI-nya mengenyangkan lapar dan dahaga dalam bahasa tangis bayi yang merdu, degup jantung mereka pun menyatu dalam belaian dan buaian Vera yang tertunda sekian lama. Ah, saya membayangkan, betapa indah dan berwarna hidup Vera kelak sebab dia sudah sempurna menjadi seorang ibu.

***

MATA saya terasa panas. Air mata istri saya jatuh. Rasanya, cita rasa dunia berubah begitu amat singkat. Vera yang dalam tiga hari kemarin kami bicarakan dalam irama bahagia penuh syukur, petang tadi berubah menjadi sedih, sepilu jiwa yang rapuh ditinggal pergi. Kabar duka kami terima, Vera berpulang. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raji'un.

Dalam batas waktu, juga dalam batas logika pendek manusia, bisa jadi Vera dianggap begitu singkat menikmati kehadiran buah hatinya setelah menghabiskan masa penantian yang panjang. Vera yang menunggu lebih dari 2920 hari lamanya, setelah mendapatkan semua harapan, Vera harus berpisah, menjemput maut meninggalkan bayinya yang masih merah.

Akan tetapi, dalam prasangka baik yang tulus, saya pribadi percaya, Vera wafat di saat ia mengecap kebahagiaan yang teramat sulit ia gambarkan tanpa jeda. Sekali lagi saya percaya, sembilan hari bagi Vera kemarin, merupakan hari-hari paling indah, paling bahagia, dan paling bermakna sampai Vera datang menghadap Rabb-nya dengan perasaan rida.

Selamat jalan Vera Permatasari. Mengingatmu sekarang, menyadarkan kami bahwa cepat atau lambat, akan tiba waktunya kami menyusul. Kesan atasmu tidak akan terhapus hanya karena kamu mendahului kami berpulang. Terima kasih telah mendampingi Jaziila dengan sabar. Nikmatilah pahala pengabdianmu sebagai guru Jaziila, juga pahala sebagai guru dari murid-muridmu yang lain yang terus mengalir. Tenanglah jiwamu, sebab di sini, ada banyak tangan yang menjaga, merawat, dan menyayangi bayimu seperti tangan ibunya sendiri. 

Semoga Allah membahagiakanmu lebih dari kebahagiaan yang kau terima menjelang akhir hayatmu. “Ya Allah, ampunilah dia, belas kasihanilah dia, sejahterakan, serta maafkanlah kesalahannya."

Aamiin.

Depok, 11 Juli 2023. Menjelang tidur di atas tikar kenangan.

Sabtu, 01 Juli 2023

DUA KOVER SATU KELAS

Kover final Antologi Puisi "Ketika Jakarta Tidak Lagi Menjadi Ibu Kota Negara". Foto Credit, Mas Wahyu Topeng

DALAM seminggu ini, tiga informasi menyapa amat menggembirakan saya. Pertama, kover antologi puisi dari KLB ( Komunitas Literasi Betawi) 4 sudah menampakkan diri. Rasanya gimana gitu. Di sana, ada satu karya puisi saya yang lolos kurasi. Ini kejutan. Saya seperti masuk "dunia lain", dunia puisi.

Sejujurnya, saya merasa amat kecil dalam antologi itu nantinya. Betapa tidak, nama-nama dari penulis puisi yang lolos kurasi adalah para senior, para penyair, mereka yang darahnya sudah menyatu dengan puisi. Begitulah yang saya tangkap dari komunikasi penghuni Grup WA menuju KLB 4, rumah maya bagi para peserta yang lolos kurasi. Sementara saya, baru merangkak dan tertatih-tatih memilih diksi, belum sampai pada jiwa yang membuat sebait dua bait puisi terasa bernyawa dan hidup.

Meski merasa kecil, saya punya harapan besar. Satu saat, bukan mustahil keinginan punya antologi puisi sendiri bisa terwujud. Dari mana? Dari hasil belajar dengan para penyair dalam antologi "Ketika Jakarta Tidak Lagi Menjadi Ibu Kota Negara", tema yang digagas KLB untuk event menulis puisi tahun ini. Dan, pagi ini masih menjadi pagi menunggu bahagia antologi itu.

Kedua, draft recover novel "Pengantin Fort van der Capellen Romansa Tanah Batavia dan Padangsche Bovenlanden" pun, sudah mewujud. Gobagsodor, agen yang menggarap perwajahan sampul novel ke-6 saya ini, membuat speechless. Gobagsodor seperti memindahkan 99,99 persen presisi imajinasi di kepala saya.


New Cover Pengantin Fort van der Capellen. Foto Credit, Gobagsodor.

"Pengantin Fort van der Capellen Romansa Tanah Batavia dan Padangsche Bovenlanden" saya tulis dalam durasi cukup panjang, hampir tiga tahun beberapa bulan. Jika bukan karena cinta pada sejarah dan sayang pada karakter dalam ceritanya, rasanya ingin menyerah saja menggarap novel berdurasi 500 halaman lebih sedikit ini.

Saya memulai membuat draft novel ini pada akhir Desember 2017 selepas berkunjung ke Sawahlunto, tambang batu bara Ombilin. Lokus ini menjadi sebagian dari latar cerita dibangun, cerita tentang pendekar dari Batavia yang dibuang Belanda pada 1896, menjadi buruh paksa atau "Urang Rantai" pada tambang emas hitam yang ditemukan insinyur Belanda Willem Hendrik de Greve pada tahun 1868. Akhirnya novel ini rampung juga pada Desember 2020 dan revisi sekitar 3 bulan sesudahnya.

Pada soft launching novel ini, pada Rabu, 28 April 2021 di MULA, Kota Tua, Jakarta, Walikota Sawahlunto hadir dalam perbincangan. "Pengantin Fort van der Capellen" dibicangkan dalam pendekatan dua budaya saat itu; Betawi dan Minang. Wali Kota Sawahlunto bertutur sebagai representasi budaya Minang sekaligus pemegang otorita tambang batu bara Ombilin, dan Bang Icoel (Muhammad Sulhi Rawi), jurnalis Betawi meniliknya dari sisi Batavia era kolonial.

Mendapat masukan setelah soft launching dari beberapa pihak, kover "Pengantin ..." yang dinilai belum utuh menggambarkan emosi cerita (asmara, agama, budaya, etnik, dan patriotisme) dengan konflik yang rumit, ia terlalu sederhana. Maka, meski dengan perasaan masih sayang pada kover lama, recover harus dipilih. Pukul 03.21 dini hari kemarin, Gobagsodor membuat mata berbinar-binar. Wajah "Pengantin ..." jadi semakin menggemaskan.

Ketiga, kabar dari Mas Dede Darmawan, kolega saya di Divisi Media dan Jurnalistik pada organisasi kami bernaung. Mas Dede yang berencana akan membuka kelas menulis mengirim pesan dan gambar. "Alhamdulillah kelas kami lengkap... Dengan Proyektor, Kursi, soundsystem, kipas, wify... Ana mau lanjutin kerjasama kelas menulis ustaz🙏😊," tulisnya.

Wah, keren! Seakan saya sudah terlempar ke ruang kelas menulis, masuk dalam gambar yang dikirim Mas Dede. Speechless lagi.

Rencana Mas Dede yang tertunda hampir 8 bulan setelah kami ngobrol di sebuah kedai kopi bernuansa etnik, tampaknya mendekati hari eksekusi. Kami akan segera punya kelas menulis dalam waktu yang tidak terlalu lama.Turunannya semisal penerbitan, workshop, pesta literasi, dan agenda membangun budaya literasi berbasis santri dan peserta didik sudah dipikirkan Mas Dede sebelumnya. Mas Dede dengan background pendidikan manajemen, tentu sangat paham soal ini. Bagian saya merancang kurikulum dan mengampu kelasnya.

Ah, belum tentu juga akan jadi seindah yang kami bayangkan. Akan tetapi, indah bayangan itu harus kami perjuangkan. Begitulah aksioma kehidupan, bahwa apa pun harus diperjuangkan, harus ada keringat yang diteteskan, otak yang diperas, ongkos yang ditanggung, dan waktu yang didermakan.

Ruang Kelas Menulis. Foto Credit, Dede Darmawan.


Berang-berang naik pangkat,
Brangkaaaaat!


Dan, pagi ini saya semringah lagi dipantik dua kover dan satu kelas menulis.

Depok, 1 Juli 2023. Di atas balkon yang belum berpagar.


Minggu, 25 Juni 2023

KETIKA JAKARTA TIDAK LAGI MENJADI IBU KOTA NEGARA

Behind The Gates. Foto Credit Marcel Ardivan on Usnpalsh.

RASANYA, saya belum berhenti menikmati selebrasi sebagai pendatang baru. Seakan, hati bak bunga mekar, segar terus. Bagaimana tidak, satu karya puisi saya lolos di antara karya para penyair hebat. Ini sesuatu banget.

Bermula dari teman sejawat; Alvian Novaldi Sutisna yang mengundang saya untuk ikut menulis puisi pada satu event bertajuk “KETIKA JAKARTA TIDAK LAGI MENJADI IBU KOTA NEGARA”. Naskah yang dipandang layak, akan dimuat dalam satu buku antologi puisi setelah melewati proses kurasi.

“Puisi, ya?” Tanya saya.

Alvian mengangguk. “Ikutlah,” katanya meyakinkan.

Saya tidak yakin, alias tidak punya “keyakinan” untuk menulis puisi. Meskipun saya menyukai dunia literasi menulis, tapi menulis puisi hampir tidak pernah saya lakukan. Apalagi menulis puisi untuk diikutsertakan pada satu event, ini lebih “mengerikan”. Tak lah, saya tak berani.

Alvian terus menggoda saya, lebih tepatnya memprovokasi. Saya bergeming. Akan tetapi, saya tak tahan. Lama-lama, saya tergoda juga. Saya mulai tanya-tanya dari sisi substansi, teknik, gaya, sebekal pengetahuan saya tentang puisi yang sangat terbatas kepada Alvian. Saya lihat, Alvian tersenyum, dan saya tahu arti senyumnya. Maka dengan senang hati, Alvian “menjamu” saya soal puisi dengan semangat karena provokasinya mulai membuahkan hasil.

Alvian mencerahkan saya, secerah wajahnya yang sebentar lagi akan mengabadikan pasangan hidupnya dalam mahligai cinta yang pernuh berkah. Sedikit ilmu soal teknik menulis puisi pun dia terangkan. Alvian memang terbiasa menulis puisi dan guru Bahasa Indonesia pula di sekolah tempat kami mengajar. Saya serius menyerap penjelasan Alvian dengan saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya saat itu.

“Ah, susah lah itu,” gumam saya dalam hati.

Jadi, saya berkesimpulan, menulis puisi itu tidak gampang meskipun sedikit modal penguasaan menulis ada di genggaman. Persoalannya, menurut dugaan saya, menulis puisi begitu rumit. Unsur keterlibatan “ruh” agar bait-baitnya menjadi bernyawa sangat dominan. Saya nyerah di sini.|


SAYA terhenyak. Naskah puisi saya lolos kurasi. Alvian mengabarkan begitu. Namun, saya baru percaya saat hasil pengumuman dewan kurator di-forward ke WA saya. Sejak itu, seperti di awal saya katakan, selebrasi seperti tidak berakhir saya rasakan.

Memang, akhirnya saya putuskan ikut event ini. Dengan membaca bismilah berkali-kali, didampingi tasbih, istighfar, dan hawqalah, satu naskah puisi saya layangkan. Itu pun dibaca berkali-kali seperti dulu membaca surat dari kekasih.

Sejak itu saya gelisah. Akan tetapi, saya hibur kegelisahan itu kembali ke titik awal, bahwa ini tahap belajar, bukan tahap kontestasi bagi saya. Lolos, syukur. Tidak, juga tak apa. Lagi pula, lolos tidak lolos, itu bukan urusan saya lagi, bukan pula urusan Alvian. Urusan saya dan Alvian hanya ikhtiar, ambil bagian untuk meramaikan literasi.

Akan tetapi, embusan angin berubaha haluan. Dari gelisah, sekarang berubah tak sabar, kapan buku kumpulan puisi itu terbit. Meskipun bisa jadi, nilai karya puisi saya paling bawah dari daftar nilai yang lolos kurasi setelah diurutkan. Tak apa, itu tak terlalu saya perhatikan karena sudah terlanjur senang. Pembelajaranlah yang terpenting dari itu semua. Tentu saja, pembelajaran dari para penyair dengan karya-karya mereka yang memesona dalam buku itu nanti.

Meski sudah tergabung dalam WA Grup Menuju KLB 4 (Komunitas Literasi Betawi), yang menggagas event, saya sebatas silent reader. Namun, tiap kali membaca kabar perkembangan kapan akan antologi terbit, gemuruh di dada lebih ramai dari taluan bedug menjelang lebaran.

Aiih, biarlah tak jadi pujangga tulen, setengah pujangga pun tak apa. Bahagia menunggu buku terbit.

Depok, 25 Juni 2023. Akhir Pekan yang menyenangkan.


Rabu, 21 Juni 2023

MAS ROID NAIK HAJI


Makkah al-Mukarramah. Foto Credit https://sp.spa.gov.sa/

AKU memanggilnya Mas Roid. Nama "Roid" itu mirip karakter bintang dalam satu dua film Bollywood; "Rohid". Ah, tidak. Mas Roid yang nama penuhnya "FAROID", ini lebih keren dari sekadar nama Mithun Chakraborty.

Aku coba googling. Sepi. Jarang sekali orang memakai kata itu sebagai nama diri. Artinya, nama ini tidak pasaran. Unik. Namaku saja kalau di-googling di mesin search engine, ngampar. Artinya, namaku itu pasaran. "Mulyati", pasaran. "Rosidah", pasaran. "Slamet", juga pasaran. Apalagi "Yadi", "Ratu", atau "Yayat", lebih pasaran. Haaaa.

Yang lebih pasaran dari nama-nama pasaran di atas adalah namaku. Kerap, ia dipakai untuk nama masjid jami, musala, madrasah atau pondok pesantren, juga majelis taklim. Rasanya, di usia yang sudah kepala 5 ini, belum pernah aku menjumpai sebuah masjid tertulis di papan namanya "Masjid Jami Mulyati". Jadi, betapa pasarannya namaku, dan betapa masih uniknya nama Mulyati itu. Aih.

Akan tetapi, sebagai identitas, nama tetap mulia (seperti “Mulyati” yang bermakna “mulia) betapa pun pasarannya ia. Sebab, nama adalah doa, harapan, dan marwah pemberian orang tua. Ia harus dijaga dan dihormati oleh yang menyandang dan orang-orang yang mengenalnya. Menghormati sebuah nama, sama halnya dengan menghormati orang tua, orang yang berbinar-binar dan berseri-seri saat memberikan nama itu.

Lalu, aku menerka-nerka, boleh jadi orang tua Mas Roid ingin agar kelak putranya ini menjadi seorang yang faqih pada satu cabang ilmu yang amat penting, yaitu Ilmu Faraid. Jadi, ia diharap akan menjadi rujukan banyak orang yang tengah bingung untuk memecah-mecah harta warisan, berapa bagian yang akan diterima orang itu sebagai ahli waris. Maka, datanglah ia kepada Mas Roid. Dan, selesailah urusannya karena Mas Roid ahli Faraid.

Namun, tulisan ini bukan untuk ngomongin warisan. Lagi pula, tafsir atas nama Mas Roid datang begitu saja sekelebatan di kepalaku lalu aku tuliskan. Ini hanya narasi, sekadar coretan teman lama di atas keyboard yang sedang bahagia karena tahun ini Mas Roid akan jadi duyufurrahman, akan jadi bagian dari para tamu Allah di Tanah Suci. Mas Roid akan berhaji memenuhi panggilan Allah, menggenapkan rukun Islam yang akan menyatu dengan iman dan Islam Mas Roid untuk seumur hidup. Maka, betapa senangnya hatiku mendapati kabar perihal ini.

Andaikata jarak Depok-Purbalingga itu hanya sekelok saja, maka, subuh-subuh yang gulita, aku akan datang menyambangi rumah Mas Roid untuk melepasnya berhaji. Apatah lagi sudah lebih dari 20 tahun aku tak bersua. Kangen, dan momen pertemuan tentu membahagiakan bercampur mengharukan.

Maka, bila saja kesempatan itu ada, aku akan memeluk Mas Roid sebelum ia terbang ke tanah tandus di mana Baginda Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dilahirkan di sana, Makkah al-Mukarramah. Bukan sekadar agar luruh kangen ini, melainkan memuaskan rasa syukur bahwa Mas Roid adalah satu dari ribuan umat Islam yang akan mendapat tambahan lagi kesempatan masuk surga karena membawa haji yang mabrur.

Aku yakin, tidak ada keinginan ziarah yang paling diidam-idamkan seorang muslim melebihi idaman keinginan berhaji. Memang, Allah begitu dekat dengan hamba-Nya yang salih di mana pun ia berada. Akan tetapi, membisikan doa di pelataran Masjidil Haram, di depan Baitullah Ka'bah yang mulia, rasanya sudah tidak lagi ada jarak antara Allah dengan hamba-Nya itu yang bersusah payah mendekat sampai ke rumah-Nya. Allahu Akbar!

Wajarlah bila air mata tak lagi dapat dibendung saat wajah sudah menatap Ka'bah. Keharuan tak bisa lagi disembunyikan saat thawaf dikerjakan sehitungan tujuh putaran. Apalagi bila takdir mencium Hajar Aswad Allah berikan cuma-cuma di antara lautan manusia yang berebutan ingin menciumnya, Allahu Akbar! Sungguh-sungguh amat beruntung, meski mencium Hajar Aswad bukanlah perkara wajib.

Temanku yang lain, teman sekelas waktu kuliah dahulu yang derajatnya didekatkan dengan Ka’bah adalah Mas Mono. Mas Mono punya kedudukan sendiri yang jarang didapat banyak orang. Ilmu dan pengalamannya tentang Baitullah di atas rata-rata di antara kami teman-temannya. Bahkan, Mas Mono sudah menjadi rujukan umat dalam hal ini, juga dalam hal perkara kehidupan dan kematian. Maka, tidak ada sikap selain menaruh rasa hormat pada kawan seperti dia.

Demikianlah hari ini hatiku berbunga-bunga, semarak seperti warna-warni tulip yang mekar di bulan April di Konstantinopel. Selalu begitu tiap kali ada orang yang aku kenal akan berangkat menunaikan ibadah haji, meski tidak semua aku narasikan seperti untuk persembahanku pada Mas Roid.

Selamat menunaikan ibadah haji Mas Roid dan keluarga. Mugi-mugi jadi haji mabrur. “Allahummaj'alhu hajjan mabruro, wa sa’yan masykuro, wa tijarotan lan tabur”. 

Titip doa ya, Mas. Semoga kami yang belum berhaji segera menyusul memenuhi panggilan pemilik Baitullah ke Tanah Haram. Aamiin.

Perpustakaan, Rabu, 21 Juni 2023, menjelang mulih.


Minggu, 18 Juni 2023

SIHIR KOMUNIKASI EFEKTIF


Komunikasi. Foto credit https://www.djkn.kemenkeu.go.id

PADA Jumat, 16 Juni 2023 kemarin, MTS Pembangunan menggelar pelatihan bertajuk "Komunikasi Efektif". Pesertanya para pendidik dan tenaga kependidikan. Beberapa ada pejabat di lingkungan Yayasan Syarif Hidayatullah, Pimpinan Unit, dan Tata Usaha di forum itu.

Narasumber; Iwan Ridwan dengan pengalamannya yang segudang membawakan materi dengan apik dan menarik. Suaranya khas, intonasinya konstan, berkharisma. Mantap lah pokoknya.

Acara dibuka oleh Yayasan; Pak Tanenji, MA. Pak Nenji membuka kata sambutan dengan kasus faktual yang enteng, tapi punya kaitan yang sangat kuat dengan tajuk pelatihan hari itu. Mantap lah pokoknya.

Saya menikmati pelatihan itu, meski di akhir sesi sempat menghilang untuk persiapan naik mimbar Jumat di KPP Pajak Pancoran, TB Simatupang. Tentu, ke TB Simatupang Jumat itu, saya mendapat tambahan bekal; komunikasi efektif di atas mimbar di tengah kekhawatiran telat karena hujan yang belum juga reda hingga pukul 11.12 WIB.

Catatan ini hanya refleksi, mengambil angel yang sangat sempit dari keseluruhan isi pelatihan keren itu. Karena itu, tulisan ini subyektif sekali, ia bukan summary-nya sebagai "expressing or covering the main points briefly" yang utuh.|

DALAM khazanah pemikiran Islam, manusia sering disebut sebagai "hayawanun natiqun", hewan yang berpikir. Disebut juga sebagai "hayawanun ijtimaiyyun", atau hewan yang berkelompok, bersosialisasi. Maka, aktivitas berpikir dan berkelompok menjadi bagian dari ciri manusia yang paling dominan dalam keseharian.

Komunikasi menjadi alat untuk menjembatani proses berpikir dan berkelompok. Tanpa komunikasi, pemikiran tidak akan banyak berguna. Dan tanpa kelompok, komunikasi tidak menemukan wadahnya secara komunal.

Jadi, berpikir, berkelompok, dan berkomunikasi, melekat dalam lingkungan  sehari-hari manusia. Maka, komunikasi perlu dikemas apik agar pesan tersampaikan, nilai-nilai terserap, dan problem terpecahkan. Di sini, komunikasi menjadi sangat berarti.

Begitu berartinya komunikasi, ada orang-orang tertentu bahkan merasa perlu untuk belajar bagaimana ia mampu berkomunikasi dengan binatang. Lebih dari itu, ada pula orang yang merasa perlu memiliki kemampuan berkomunikasi kepada makhluk gaib, kepada "dunia langit".|

SEBAGAI yang kerap mengulik konten sejarah dan kebudayaan Islam, jadi teringat, dahulu, pada masa Daulah Bani Umayyah (661-750 M), sudah ada semacam sekolah yang disebut Badiah, semisal Public Speaking School. Letaknya di pedalaman, di tengah gurun terpencil. Kurikulum pokoknya kemahiran berbahasa, kefasihan, dan kepiawaian berkomunikasi dengan bahasa Arab murni. Hampir semua anak-anak khalifah, para pangeran, dan calon pejabat negara "dipaksa" belajar tata komunikasi dengan bahasa Arab fushah di sini.

Bisa jadi, keberadaan Badiah tetap dipertahankan sesudah era Daulah Umayyah berlalu karena bangsa Arab adalah bangsa yang sangat menghormati kemahiran berbahasa sejak zaman pra Islam. Sampai hari ini pun, warisan sastra Arab dan sastra Islam masih diperbincangkan di bangku-bangku akademik seakan ia tak pernah usai dinikmati keindahannya.|


DI dalam komunikasi ada "al-bayan", ada argumentasi dengan tata kalimat yang baik. Dan di dalam "al bayan", ada sihir, ada daya pikat yang memukau.

Dalam literatur hadits, Nabi SAW mengakui hal itu, seperti pada riwayat Imam al-Bukhari, "inna minal bayaani sihran" bahwa sesungguhnya sebagian dari Al-bayan (susunan kata-kata yang indah) adalah sihir”.

Karena ada unsur "sihir" inilah, komunikasi memiliki daya magis, ia punya kekuatan mempengaruhi. Karena itu, komunikasi efektif menjadi penting dikuasai dan dikelola. Tentu saja, dikuasai dan dikelola untuk tujuan yang baik.

Bagi pendidik, komunikasi efektif berguna untuk memikat peserta didik dalam proses pembelajaran di ruang-ruang kelas, untuk mengantarkan kesadaran mengapa mereka harus belajar, dan untuk menginspirasi agar hasil belajar diterapkan dalam pergaulan sehari-hari.

Komunikasi efektif juga sangat penting dalam pola komunikasi guru-murid di luar kelas. Bahkan di sini, citra seorang guru akan mudah terbaca di mata seorang murid dari pola komunikasi sang guru di ruang yang lebih bebas, lebih autentik dan natural sebab ia tidak seformil di ruang kelas. Di sinilah letaknya perbedaan paling mendasar, bahwa lidah seorang pendidik berbeda dengan lidah "tukang obat" pinggir jalan meskipun sama-sama dalam konteks berkomunikasi.

Maka, pendidik yang bijak tidak akan mengubah takdir lidahnya menjadi sekadar lidah "tukang obat" yang acapkali ia gunakan untuk menyihir orang bahwa obatnya paling manjur di kolong langit lalu obatnya laris manis terjual.

Jadi, memikat dan mengambil simpati peserta didik untuk tujuan-tujuan di luar konteks pendidikan dan pembelajaran, meski itu efektif, itu bukan takdir lidah seorang pendidik. Dengan bahasa yang lugas, kalaulah guru mendapat tanda mata buah tangan, biarlah itu karena ketulusan, bukan karena menukar lidahnya dengan lidah "tukang obat".|

ADUH, rasanya, diri ini masih jauh panggang dari api menyimak pengalaman Pak Iwan Ridwan saat ia menangani siswa yang dicap "paling nakal" menjadi siswa paling baik dan berprestasi di belakang hari.

Saya percaya, di samping kemampuan berkomunikasi yang efektif, modal untuk mengubah loyang menjadi emas seperti pengalaman Pak Iwan Ridwan adalah ketulusan. Ketulusan kadang tidak membutuhkan bumbu untuk menyihir orang. Bahkan, ketulusan kadang terlalu bisu, seperti jalan sunyi. Ia tidak membutuhkan untaian kalimat pujian mendayu untuk mempengaruhi jiwa komunikan mengambil sebuah keputusan.

Apatah lagi, sering tidak disadari banyak orang, lawan bicara sebenarnya menangkap ketulusan dan ketidaktulusan dari pola komunikasi yang sedang berlangsung. Boleh percaya, tidak pun tak apa. Yang jelas, komunikasi yang efektif sangat penting untuk menghadirkan produk berpikir dalam sebuah komunitas, apalagi komunitas pembelajaran.

Akhir pekan yang sibuk, dan happy weekend.


Kamis, 15 Juni 2023

LITERASI MARWAH



Marwah. Foto Credit: https://kbbi.lektur.id/marwah

RAPAT pleno hari ini agak berwarna. Bukan hanya soal nilai peserta didik yang diplenokan, melainkan perkenalan guru baru “diplenokan” pula statusnya. Hahahaha. Seru. Pak Eko paling sering disebut-sebut. Entahlah, barangkali Pak Eko terlalu “mempesona” untuk diabaikan begitu saja. Ehehehehe. Apalagi saat waktu berpisah dengan Bu Raisa, Bu Kamila, dan Pak Asfia. List nama yang menggema bertambah, bukan hanya Pak Eko, tapi juga Sang Pujangga; Alvian Revaldi Sutisna, dan Miss Afni. Ehehehehehe.

Entahlah, jika hati ini terasa hampa ditinggal mereka, apalagi yang bertiga itu. Wkwkwkwkwkwk. Maaf ya, kawan. Semoga mereka bertiga mendapat pengalaman berharga di madrasah tercinta ini.

Ehem. Ada persoalan substansial yang disinggung Pak Kamad saat memberi pengantar pleno. Boleh jadi, ini terlalu substansial dalam konteks relasi sesama pendidik, pendidik dengan peserta didik, dan pendidik dengan orang tua wali peserta didik. Ini menyangkut marwah atau kehormatan. Apalagi marwah pendidik. Semoga soal marwah ini tidak diabaikan peserta pleno karena tertutup oleh pesona Pak Eko. Eh …

Pendidik, peserta didik, dan orang tua wali peserta didik merupakan circle yang sangat kompleks. Meskipun relasi circle ini dibangun pada spirit mendidik, akan tetapi, disadari atau tidak, pola hubungan itu meskipun kasuistik kerap keluar dari konteks pendidikan.

Bagaimanapun, pendidik bekerja pada sebuah lembaga, berhadapan dengan aturan lembaga, dan saling berkompetisi untuk meraih jenjang karier tertentu atau posisi-posisi sebagai bentuk capaian kinerjanya. Untuk hal jenjang karier ini, berhadap-hadapan dengan kawan seiring untuk meraih posisi itu tidak bisa dihindari. Celah inilah yang rawan, di mana pola hubungan kerap keluar dari konteks pendidikan, bahkan seperti perilaku paradoksal seorang pendidik.

Sebagai pendidik, ia terikat oleh etika. Tentu tidak elok dan cenderung naif bila di belakang, ia sengaja menyampaikan informasi yang tidak sepenuhnya benar dan cenderung menjatuhkan rekan sejawat hanya untuk mengambil simpati, baik simpati peserta didik, wali peserta didik, atau bahkan pimpinan.

Efeknya besar. Bila informasi itu bocor sampai ke telinga sejawat, lalu dijadikan sebagai topik diskusi di tempat ngopi, percayalah bahwa pondasi ketidkpercayaan kepada teman sejawat itu sedang dibangun di atas lantai rumah pendidikan, paradoks.

Bayangkan, bila ada wali peserta didik mencecar wali kelas karena tidak puas dengan kinerja penanganan anak dengan bahasa yang pedas dan nyelekit. Satu dua fenomena ini terjadi saat pembagian raport berlangsung. Pemicunya sangat mungkin karena masukan dan informasi sepihak teman sejawat. Dalam kasus ini, tiga kesenjangan sudah menganga antara teman sejawat, peserta didik, dan wali peserta didik. Percayalah, saat itu etiket pendidik sudah hampir runtuh di tangan seorang pendidik.

Bayangkan juga, bila ada peserta didik curhat pada gurunya karena baru saja diajak bicara oleh guru tertentu berbagai informasi sepihak dengan nada menjatuhkan. Percayalah, fenomena membuat bingung peserta didik tentang gurunya sedang berlangsung. Persepsi peserta didik sedang diarahkan pada ambiguitas moral tentang guru-gurunya. Ini bahaya.

Apakah narasi ini narasi halu?

Bukan. Ini bukan narasi halu. Ini pernah terjadi, bahkan sangat mungkin akan terulang lagi. Potensi terulang akan tertutup bila substansi yang disinggung Pak Kamad saat memberi pengantar pleno direnungkan dalam-dalam, lalu diterjemahkan dalam pola relasi sejawat yang sehat.

Apa pun motivasinya, materi atau immateri, fenomena demikian harus diakhiri. Spirit pendidikan adalah menyehatkan; menyehatkan relasi, menyehatkan komunikasi, dan menyehatkan hubungan tiga pilar pendidikan; sekolah, orang tua, dan masyarakat.
Sebaiknya bagi orang yang berilmu, janganlah membuat dirinya sendiri menjadi hina lantaran berbuat tamak terhadap sesuatu yang tidak semestinya, dan hendaknya menjaga dari perkara yang dapat menjadikan hinanya ilmu dan para pemegang ilmu, sebaliknya, berbuatlah tawadlu (sikap tengah-tengah antara sombong dan kecil hati) dan iffah.
Ungkapan di atas mengisyaratkan bahwa orang yang berilmu adalah orang yang selalu menghindarkan diri dari segala akhlak dan perbuatan yang tercela, memelihara diri dari kenistaan (seperti sifat tamak dengan mengharap sesuatu dari orang lain secara berlebih-lebihan) sehingga tidak menimbulkan kesan yang hina terhadap ilmu dan sifat ilmuwan. Orang yang berilmu sepatutnya bersifat tawadhu (merendahkan hati tetapi tidak minder) dan iffah (memelihara diri dari beragam barang haram).

Demikian ungkapan Imam Az zarnuji dalam kitabnya “Ta'lim al-Muta’allim”, kitab yang mengulas tentang adab seorang pendidik, kitab yang sangat populer di kalangan pondok pesantren dan madrasah.

Jadi, guru mulia bukan hanya karena karya, melainkan juga karena menjaga marwah.

Selamat menyongsong tahun ajaran baru 2023/2024.

Salam literasi.

Ruang Pleno, Kamis, 15 Juni 2023.