A homepage subtitle here And an awesome description here!

Kamis, 15 Mei 2025

H. Nipan dan H. Saprin: Sorotan Tajam Buku Matahari Terbit di Kampung Kami

Matahari Terbit di Kampung Kami

Salah lu, Wi. Bukan Nipan itu yang gua maksud, tapi H. Nipan, guru ngaji, orang Cipayung, mertuanya Si Micang,” tegas M. Ma’ruf. “Nipan yang lu maksud mah bukan guru ngaji, juga belom haji,” tegas M. Ma’ruf sekali lagi.

Buku “Matahari Terbit di Kampung Kami” yang saya tulis menyertakan footnote atau catatan kaki. Footnote itu saya maksudkan sebagai keterangan tambahan, memperkuat data dan rujukan, dan mengapresiasi sumber informasi. Saya maksudkan pula untuk menghindari plagiarisme dan memberikan informasi lebih mendalam tanpa mengganggu alur teks utama buku yang saya tulis. Maka, apabila pembaca merasa kurang puas dengan narasi yang saya hadirkan di buku ini, atau kurang yakin atas informasi yang saya sajikan, pembaca bisa merujuk sumber kutipan sesuai footnote yang saya cantumkan.

Maka, poin kedua sorotan H. Nawawi pada buku “Matahari Terbit di Kampung Kami”—juga dengan bahasa “salah fatal”—yang memuat statement H. Nipan dan menurut H. Nawawi adalah statement H. Saprin bisa dikembalikan pada footnote dari mana peristiwa itu saya kutip.

Perlu saya spill sedikit tentang H. Nipan dan H. Saprin ini supaya jelas siapa mereka dalam eskalasi konflik pada awal-awal Muhammadiyah berdiri di Rawadenok dan Pulo. Kedua mereka ini tokoh Ahlussunnah wal Jamaah, penentang dakwah Muhammadiyah yang paling gigih.

Lalu, mengapa soal H. Nipan dan H, Saprin dipermasalahkan H. Nawawi dan menjadi dasar menilai pada bagian dari buku “Matahari Terbit di Kampung Kami” sebagai “salah fatal”?

Begini masalahnya.

Pada halaman 53 dan 54 buku Matahari Terbit di Kampung Kami ada narasi peristiwa yang melibatkan H. Nipan. Saya screenshot narasi tersebut dan saya turunkan di sini. Berikut screenshot-nya:




Narasi dan statement H. Nipan di atas saya kutip dari buku saya sebelumnya; “Tarawih Terakhir”. Narasi itu saya olah dari hasil wawancara dengan M. Ma’ruf. Peristiwa H. Nipan menyampaikan ceramah bernada agitasi di rumah Micang itu, diketahui M. Ma’ruf, bahkan ia hafal statement yang dilontarkan H. Nipan waktu itu.

Biar lebih jelas, saya screenshot juga narasi dari buku “Tarawih Terakhir” untuk saya turunkan di sini:



Menurut H. Nawawi, tokoh yang berceramah di rumah Micang itu bukan H. Nipan, melainkan H. Saprin. Kalimat yang dilontarkan H. Saprin pun bukan : “Kalau Orang Muhammadiyah udah lebih paham Al-Qur'an dan Hadits, kalau kita kalah dalam urusan ini, jangan diam saja. Pukulan jalanin!”, melainkan kalimat: “Antum rijalun wa nahnu rijal”.

H. Nawawi memang ada memuat peran H. Saprin sebagai sosok yang sangat keras menentang dakwah Muhammadiyah saat itu pada bukunya “30 Tahun Muhammadiyah Cabang Depok”. Pada bukunya itu, narasi ini dimuat pada halaman 55. Supaya jelas, saya lampirkan hasil jepretan halaman dimaksud di sini:



Karena persoalan ini, buku saya disebut “salah fatal”.

Oke, meskipun wajah memerah mendengar penilaian itu, tidak apa-apa. Penilaian ini malah membuat saya penasaran. Saya temui kembali narasumber saya; M Ma’ruf untuk meminta konfirmasi soal H. Nipan ini. Boleh jadi memang narasumber saya keliru mendeskripsi tokoh seperti yang dimaksud H. Nawawi.

Akan tetapi, M. Ma’ruf malah memberikan penjelasan tambahan soal H. Nipan ini. Artinya, sosok H. Nipan dalam konteks pendiriannya menentang dakwah Muhammadiyah dan menyampaikan ceramah bernada agitasi di rumah Micang yang saya tulis pada “Tarawih Terakhir” dan saya kutip untuk buku “Matahari Terbit di Kampung Kami” adalah benar, bukan H. Saprin tokoh yang dimaksud H. Nawawi.

Maka, kesimpulan saya, pertama, H. Nawawi tidak paham, atau belum paham, atau pura-pura tidak paham soal teknik footnote dan kutipan dalam sebuah buku. Di buku “Matahari Terbit di kampung Kami”, jelas sekali saya cantumkan dari mana sumber narasi H. Nipan itu saya ambil. Artinya, saya tidak mengutip buku “30 Tahun Muhammadiyah Cabang Depok” dalam konteks H. Nipan.

Kedua, penulis yang tidak mengutip —katakanlah saya tidak mengutip dari buku H. Nawawi, tapi mengutip dari sumber lain—dari satu buku di antara banyak sumber, tidak berarti penulis itu melakukan “kesalahan fatal”, meskipun kutipan itu sama substansinya. Sebab, sumber atau pelaku sejarah dalam satu peristiwa itu boleh jadi tidak tunggal. Persoalannya terletak dari sumber mana kutipan itu diambil.

Lagi pula, bunyi statement H. Nipan yang saya kutip jelas berbeda dengan bunyi statement H. Saprin meskipun maknanya sama-sama menentang dakwah Muhammadiyah. Fakta ini saja sudah cukup untuk dipahami sebagai bukan fakta yang harus dipermasalahkan H. Nawawi.

Lain ceritanya, bila bunyi statement H. Nipan sama persis dengan bunyi statement H. Saprin, lalu di buku “Matahari Terbit di kampung Kami” saya tegaskan sebagai statement H. Nipan, sementara di buku H. Nawawi; “30 tahun Muhammadiyah Cabang Depok” statement itu disampaikan H. Saprin.

Masalah ini seperti jalan buntu sebelum akhirnya terurai pada satu waktu. Satu hari, saat H. Nawawi—mungkin sengaja datang menemui saya untuk meminta kembali buku "Matahari Terbit di Kampung Kami" yang sudah ditandai sebagai kesalahan fatal yang saya minta untuk saya pelajari catatan-catatannya—saya konfrontir dengan M. Ma’ruf soal sosok H. Nipan ini. Maka, terbukalah tabir “salah fatal” itu.

Rupanya, sosok H. Nipan yang diceritakan M. Ma’ruf dan saya kutip untuk dua buku saya itu bukan Nipan yang dimaksud H. Nawawi. Bila saya tidak keliru, Nipan yang dimaksud H. Nawawi pada kesempatan konfrontir itu Nipan orang tua H. Maarif, orang Rawadenok.

“Salah lu, Wi. Bukan Nipan itu yang gua maksud, tapi H. Nipan, guru ngaji, orang Cipayung, mertuanya Si Micang,” tegas M. Ma’ruf. “Nipan yang lu maksud mah bukan guru ngaji, juga belom haji,” tegas M. Ma’ruf sekali lagi.

Karena saya yang paling berkepentingan dalam masalah ini sebab persoalan “salah fatal” itu, saya tegaskan kepada H. Nawawi saat itu, clear soal H. Nipan yang dimaksud buku saya. Jadi, permasalahannya hanya soal siapa mengutip siapa. Dalam hal ini, H. Nawawi mengutip peristiwa H. Saprin yang mengatakan: “Antum rijalun wa nahnu rijal” yang dilontarkan tokoh ini saat berpidato di rumah Micang. Sedangkan M. Ma’ruf mengutip pernyataan H. Nipan, “Kalau Orang Muhammadiyah udah lebih paham Al-Qur'an dan Hadits, kalau kita kalah dalam urusan ini, jangan diam saja. Pukulan jalanin!” yang juga disampaikannya pada saat ceramah di rumah Micang.

Boleh jadi, kemungkinan kedua tokoh ini sama-sama melontarkan statement pada waktu yang sama dan forum yang sama di rumah Micang. Boleh jadi juga, kemungkinan H. Saprin dan H. Nipan berbicara pada forum dan waktu yang berbeda meskipun peristiwanya sama-sama berlangsung di rumah Micang. Hanya saja, H. Nawawi menangkap statement H. Saprin, sedangkan M. Ma’ruf menangkap statement H. Nipan.

Pada akhirnya, setelah proses konfrontasi sumber, “kesalahan fatal” justru ada pada H. Nawawi. Pertama, ternyata, Nipan yang disangka H. Nawawi sebagai Nipan orang tua Ma’arif bukanlah sosok H. Nipan yang dimaksud M. Ma’ruf sebagai H. Nipan guru ngaji, mertuanya Micang.

Kedua, sorotan “salah fatal” atas satu bagian dari buku “Matahari Terbit di kampung Kami” karena dianggap salah mengutip H. Nipan sebagai pelaku, bukan H. Saprin sesuai buku “30 Tahun Muhammadiyah Cabang Depok” sudah kadung ditimpakan kepada saya. Sebagai kalimat menilai “salah fatal” yang telah dilontarkan dari mulut H. Nawawi, ia tidak bisa ditarik lagi.

Si cela est, que peut-on faire?|

Jakarta, 15 Mei 2025.
Siang yang lelah, di antara draft-draft baru.

Selasa, 13 Mei 2025

Kesempatan Terakhir


Ucapan bela sungkawa KMMD. Flyer milik pengurus KMMD

Kalau saya jadi Pak Mutaqin, akan saya ambil kesempatan ini. Itu sekolah bagus. Ambillah kesempatan ini!

Dua puluh tahun yang lalu, mulutku seperti menelan sekam. Tak kuasa lisan hendak berkata. Tak kuat hati hendak berterus terang.  Ya, seperti itu, karena, beliau sudah kadung menganggapku guru kesayangan. Entahlah, mungkin itu hanya rumors yang sempat sampai ke telingaku. Atau hanya perasaan ge er-ku saja saat itu.

Akan tetapi, aku harus berterus terang, meski dengan suara terbata karena rasa sungkan, rasa hormat, dan posisinya yang aku tempatkan sebagai guru. Tidak ada lagi selain perasaan itu. Maka, kukatakan juga maksudku, maksud pamit mundur dari mengajar pada yayasan yang beliau pimpin. Aku menyatakan berhenti.

Hening. Senyap. Beliau diam membisu. Aku juga diam membisu. Kami berdua, seperti berbicara dalam diam. Beliau bertanya dalam diam. Aku menjawab dalam diam.

Beberapa menit berlalu, kami masih sama-sama diam. Itu jeda waktu yang masih aku ingat sampai hari ini. Aku kenang sepanjang aku melangkah pergi dari latar rumahnya sampai aku berteduh di latar rumah yang lain. Saling diam itu seperti peristiwa seorang ayah akan melepas anaknya merantau. Atau, seorang anak akan melepas ayahnya untuk menikah lagi dengan perempuan lain setelah ibunya pergi. Rela, tapi berat, berat rasanya.

Saat beliau bertanya di sekolah mana aku berlabuh, hatiku lega, wajahku berbinar. Rasa sungkan yang beku mencair seperti gumpalan es dibakar matahari yang terik. Maka, aku bilang, setelah melalui proses seleksi yang panjang, aku diterima di sebuah yayasan untuk posisi guru Sejarah Kebudayaan Islam.

Tiada aku duga, beliau berkata lugas, “Kalau saya jadi Pak Mutaqin, akan saya ambil kesempatan ini. Itu sekolah bagus. Ambillah kesempatan ini!”

Mendengar repsonsnya, diamku semakin beku meski perlahan meleleh, hangat, dan haru. Lalu, ada bulir menitik di kelopak. Dan, kurasa beberapa saat, bola mataku jadi berkaca-kaca. Buru-buru kupalingkan muka. Aku tidak ingin mataku yang berkaca itu ditangkap mata beliau.

Dan, aku melangkah pergi dengan bahagia. Semoga, beliau juga bahagia melepasku.|

“Innalillahi wa innalillahi rajiun.. Telah berpulang ke rahmatullah Buyut, Kakek, Bapak, Guru kami Bp. H. Kastubi, BA di RS. Awal Bros, Batam pd hari Senin, 12 Mei 2025 pukul 19.30. Mohon diampuni segala dosa beliau dan berkenan memberikan doa al-fatihah yg terbaik untuk almarhum.”

Demikian bunyi pesan yang masuk di beranda gawaiku kemarin malam. Seketika ingatanku terlempar pada peristiwa saling diam dua puluh tahun yang lalu itu. Teringat lagi saat kucium tangannya sambil berpamitan, pergi meninggalkan takdir di Nurussyamsi untuk menjalani takdir yang lain. Beruntunglah waktu itu aku membawa restunya.

Hari ini, Selasa, 13 Mei 2025, saat jenazahnya tiba untuk dishalatkan, kebisuan orang tua yang lembut ini abadi. Siapa orang tua yang paling lembut bicaranya padaku sepanjang aku bergaul, belum ada gantinya selain H. Kastubi. Hari ini, lembut saat beliau bicara itu, pergi, hilang, dan fana bersamaan jasadnya dikebumikan.

Jangan lagi ditanya garis hidupnya ada di mana. Jangan lagi ditanya jejak kedermawannya pada siapa saja. Dan, jangan pula ditanya komitmennya pada Qur’an dan Sunnah. Jawaban atas semua itu terekam baik dalam memori masing-masing orang yang mengenalnya.

Aku percaya, hadir dalam mengantar jasad kematian adalah kesempatan terakhir untuk manusia yang pernah berperkara. Besar atau kecil, sengaja atau spontan, sadar atau karena lupa. Setiap orang punya salah. Ini sunnatullah fil kaun yang berlaku sampai kiamat.

Maka, gugurlah semua perkara hari ini. Aku rida, semoga beliau rida. Ya, Allah, ridailah kami semua yang hadir menyaksikan, menyalatkan, mendoakan, dan menguburkan jasadnya. Ridai juga siapa saja yang mengenalnya, mereka yang tidak berkesempatan hadir karena keterbatasan ruang dan waktu yang tidak terelakkan. Asalkan doa-doa dipanjatkan, semoga sampai juga rida-Mu kepada kami semua.

Maka, Ya Allah, semoga beliau sudah memaafkan hamba pada kali terakhir kami bertemu entah di mana. Sebab, waktu yang kejam tidak memberi kesempatan bagi hamba bersua lagi dan meminta maaf sebelum kepergiannya kemarin. Meskipun maaf itu beliau utarakan dalam diam, seperti diamnya beliau dua puluh tahun yang lalu itu, tiada mengapa, asalkan maafnya sampai ke pangkuan-Mu.

Sebagaimana kewajiban kami yang masih hidup merelakan maaf atas salah dan khilafnya, terimalah doa hamba Ya Allah, “Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘aafihi wa'fu anhu.” Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, sejahterakan dia, dan maafkanlah segala kesalahannya."

Aamiin.

Selamat jalan guru, orang tua, dan pemilik bahasa yang lembut.

Depok, 13 Mei 2025.
Sore yang sejuk dengan rinai hujan yang luruh.

Minggu, 11 Mei 2025

1961: Sorotan Tajam Buku Matahari Terbit di Kampung Kami

Matahari terbit di Kampung Kami


Buku Matahari Terbit di Kampung Kami yang saya tulis mendapat sorotan H. Nawawi Napih, tokoh Muhammadiyah, dan penulis buku 30 Tahun Muhammadiyah Cabang Depok. Sebagai diskursus, sebuah buku disorot tajam itu soal biasa. Dianggap “salah fatal” pun biasa, asalkan bangunan argumentasinya kokoh, jelas rujukannya, dan bisa diuji berdasar sumber yang dirujuk.

Buku saya sebelumnya: Tarawih Terakhir, pun tidak lepas dari sorotan H. Nawawi. Ada beberapa sorotan saya terima karena memang setelah saya tinjau materi yang saya tulis mengundang kontroversi seperti tentang sejarah Depok. Di sini, sorotan atau kritik menjadi sangat berguna untuk perbaikan.

Satu kali dalam perbincangan dengan H. Nawawi mengenai buku Tarawih Terakhir, ada dua buku —satu buku tentang Muhammadiyah dan dan satu lagi sejarah Islam Depok yang sampai ke tangannya—pun disorot, dikritik tajam, dan dijumpai poin-poin kesalahan, bahkan menurutnya salah fatal. Dua buku yang saya ingat yang menurut H. Nawawi mengandung kesalahan fatal adalah buku tulisan Muhsin MK, KH. M. Usman Perintis Muhammadiyah Depok Ulama dan Pejuang Bangsa. Buku ini terbit pada 2018.

Satu lagi, bukunya Syamsul Yakin—saya agak lupa judulnya, mungkin JEJAK LANGKAH ISLAM DI DEPOK : KEMBALI KE AKAR SEJARAH KEMBALI KE SUMBER SYARIAH. Syamsul Yakin ini doktor, dosen Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Jakarta. Buku ini pun dikritik habis H. Nawawi.

Pahamlah saya, soal menilai buku, H. Nawawi lugas sekali. Maka, ketika ada bagian dari buku Matahari Terbit di Kampung Kami disebutnya ada yang “salah fatal”, saya tidak terlalu kaget. Buku Syamsul Yakin yang seorang doktor dan dosen UIN saja dianggap banyak kekeliruan fatal, apalagi saya. Apalah saya ini.

Persoalan lain, buku apabila sudah di-publish, itu menjadi milik publik. Publik berhak membaca, menilai, memuji, bahkan berhak menjatuhkan dengan sorotan, kritik, atau bahkan membongkar isinya bila dianggap salah dengan menunjukkan letak dan poin-poin kesalahannya.

Dengan argumen ini, seorang yang berani menulis dan mem-publish bukunya, dia harus siap menghadapi risiko publik. Bukan sekadar girang menikmati pujian dari pembaca, tapi harus siap dikuliti kesalahan-kesalahan dari buku yang ditulisnya. Maka, seorang penulis itu harus siap “bertarung” mempertahankan apa yang ditulisnya. Akan tetapi, penulis juga harus legowo apabila ternyata memang yang ditulisnya itu mengandung kesalahan setelah “pertarungan” adu argumentasi usai ditengkarkan.

Sebagai yang belum bosan untuk belajar soal tulis menulis, diksi “salah fatal” itu serem. Bila merujuk ke kamus, penjelasan kata itu demikian bunyinya: fatal/fa·tal/ a 1 mematikan; 2 tidak dapat diubah atau diperbaiki lagi (tentang kerusakan, kesalahan); 3 menerima nasib (tidak dapat diubah lagi); celaka.

Ini poin pertama. Artinya diksi “fatal” kesannya terlalu berlebihan. Kesalahan fatal untuk menilai sebuah buku itu bisa diganti dengan diksi lain, misalnya “serius”. Kesalahan serius pada sebuah buku itu bisa jadi karena tidak sesuai fakta, menyalahi kebiasaan, atau bertentangan dengan sumber lain yang lebih kredibel.

Apalagi menyangkut narasi dalam sebuah buku, ia rawan mispersepsi pembaca, atau karena mengandung kesalahan berat secara substansi. Namun harus dipahami, kesalahan itu bisa diperbaiki seringan atau seserius apa pun kesalahannya. Kesalahan itu bisa jadi sekadar typo. Ini kesalahan ringan. Bisa jadi salah kutip, ini kesalahan sedang. Cukup merujuk lagi pada sumber kutipan, selesai.

Disebut sebagai kesalahan serius apabila kesalahan itu menyangkut substansi. Bentuknya bisa karena bertentangan dengan data rujukan, data sejarah, atau fakta yang sesungguhnya. Tapi, ini bukan kesalahan fatal, hanya kesalahan serius atau kesalahan berat karena masih bisa diperbaiki. Tinggal penulisnya mau atau tidak memperbaiki kesalahan narasi pada bukunya itu berdasar sumber data, rujukan, atau fakta yang sesungguhnya sebagai alat koreksi.

Sekarang saya masuk pada poin kesalahan fatal versinya H. Nawawi atas beberapa bagian dari buku Matahari Terbit di Kampung Kami. 

Tiga poin kesalahan fatal disampaikan H. Nawawi—boleh jadi lebih dari tiga kesalahan setelah acara launching yang menghadirkannya sebagai testimoni dan telah tuntas mengoreksi buku saya. Tiga poin kesalahan fatal itu diutarakan beberapa menit menjelang acara launching dan bedah buku ini di MTs. Muhammadiyah Kukusan. Rasanya, karena waktu yang mepet, sangat tidak memadai untuk saya menjawab atau memberikan klarifikasi tuduhan salah fatal itu.

Saya bahas satu poin dulu. 

Poin pertama ini, soal legalitas berdirinya Muhammadiyah Cabang Depok. Poin ini dianggap salah fatal. Tertulis pada halaman 35 buku Matahari Terbit di kampung Kami yang dipegang Pak H. Nawawi—pada edisi revisi tertera pada halaman 40 dengan redaksi sama persis, menyangkut tahun legalitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Depok. 

Berikut saya kutipkan sebagian narasi pada halaman 35 yang disebut sebagai kesalahan fatal itu:
Nanti, bersama Kamaludin, warga Muhammadiyah asal Jasinga, Kabupaten Bogor yang memimpin Kecamatan Depok, KH Usman mendirikan Cabang Muhammadiyah Depok membawahi dua ranting, yakni Ranting Muhammadiyah Kukusan dan Ranting Muhammadiyah Srengseng. Legalitas Muhammadiyah Cabang Depok ini kemudian disahkan berdasarkan Surat Keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, nomor 1514/A, tanggal 30 September 1961…
Poin kesalahan yang menurut H. Nawawi fatal adalah data tahun 1961 yang kemungkinan dipahami beliau sebagai tahun berdirinya Muhammadiyah Cabang Depok. Kata H. Nawawi, “Muhammadiyah di Depok sudah ada tahun 1952”, tegasnya.

Saya tidak mengerti, bagaimana H. Nawawi salah memahami redaksi pada paragraf di atas. “Legalitas Muhammadiyah Cabang Depok ini kemudian disahkan berdasarkan Surat Keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, nomor 1514/A, tanggal 30 September 1961”. Terang sekali, tahun 1961 adalah tahun legalisasi secara administratif dari PP Muhammadiyah sebagai bentuk pengakuan bahwa Muhammadiyah Cabang Depok telah sah, legal, bukan tahun resmi berdiri Muhammadiyah di Depok yang ditetapkan PP Muhammadiyah.

Pertanyaannya sekarang, dari mana data tahun 1961 saya ambil?

Data tahun ini saya ambil dari mengutip: PDM Kabupaten Bogor pada website http://bogor.muhammadiyah.or.id/content-3-sdet- sejarah.html. Saya akses website ini pada 09 Maret 2024. Saya cantumkan pada catatan kaki no. 54. Pada naskah revisi catatan kaki nomor 51.

Namun, sayang sekali, saat website PDM sesuai link di atas saya kunjungi lagi—11 Mei 2025—halaman sudah tidak ada, Web server is down.

Tangkapan layar website PDM Bogor saat dikunjungi pada Ahad, 10 Mei 2025.


Akan tetapi, saya menemukan jejak data yang sama pada sebuah blog. Di sini alamatnya:
https://ipmcbeji.blogspot.com/2012/05/sejarah-muhammadiyah-kota-depok.html
Data yang ditampilkan blog ini sama persis dengan website PDM Bogor. Berikut tangkapan layarnya-nya:


Tangkapan layar website IPM Beji

Sebagai orang yang pernah belajar menulis, pernah menempuh ujian dan lulus memegang lisensi penulis profesional dari LSP Penulis & Editor Profesional, saya hanya disiplin pada etika mengutip. Penulis tidak boleh mengubah data dari sumber kutipan. Data yang saya dapat dari website PDM Bogor harus saya tulis apa adanya, 1961, tidak boleh saya ubah jadi 1952.

Dalam satu kesempatan bertemu, H. Nawawi tidak menerima klarifikasi saya dan masih menyebut data itu sebagai kesalahan fatal dalam buku Matahari Terbit di Kampung Kami. Ya, sudah. Mau bagaimana lagi. Barangkali H. Nawawi memegang salinan Surat Keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, nomor 1514/A, tanggal 30 September, namun tahunnya 1952”.

Saya tidak menolak, bahwa Muhammadiyah sudah ada di Depok tahun 1952, didirikan oleh M. Usman sebagaimana informasi dari buku H. Nawawi: “30 Tahun Muhammadiyah Cabang Depok” pada halaman 18. Buku ini pun banyak saya kutip dan saya rujuk saat menulis Tarawih Terakhir dan Matahari Terbit di Kampung Kami.

Baiklah, sekarang giliran saya mengkritisi buku “30 Tahun Muhammadiyah Cabang Depok”—terutama soal tahun 1952 yang disebut H. Nawawi sebagai tahun di mana Muhammadiyah sudah ada di Depok. Kritik saya bukan pada salah atau benar 1952, tapi soal hasil analisis saya dari satu dua sumber dan keterangan selain buku “30 Tahun Muhammadiyah Cabang Depok”.

Ditulis pada halaman 18, sebagai berikut:
Sebagai seorang tokoh Muhammadiyah, M. Usman sangat dikenal dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat biasa sampai kepada para pejabat di Kecamatan Depok. Pada tahun 1952 Kecamatan Depok, dipimpin oleh Kamaludin seorang warga Muhammadiyah berasal dari Jasinga Kabupaten Bogor. Sebagai warga Muhammadiyah kedua tokoh tersebut saling berkenalan. Atas perkenalannya itu mereka berdua bersepakat mendirikan Cabang Muhammadiyah Depok. Waktu pendiriannya disaksikan oleh Kamil Jamil Konsul Muhammadiyah Daerah Bogor, bertempat di Kantor Kecamatan Depok.
Bagi H. Nawawi, narasi paragraf di atas boleh jadi tidak menimbulkan penafsiran lain dari maksud yang ditulisnya. Tapi, bagi pembaca, atau saya yang akan mengambilnya sebagai rujukan, didirikannya Muhammadiyah Cabang Depok pada 1952 pada paragraf di atas masih multitafsir. Berikut tafsiran saya atas narasi di atas:
  1. H. Nawawi secara eksplisit menyebut 1952 sebagai tahun bersamaan Kamaludin menjabat Camat Kecamatan Depok;
  2. H. Nawawi tidak secara eksplisit menyebut 1952 sebagai tahun Muhammadiyah sudah ada di Depok atau sudah didirikan di Depok;
  3. Muhammadiyah sudah ada di Depok atau sudah didirikan di Depok pada 1952 bersamaan dengan Kamaludin menjabat Camat Kecamatan Depok;
  4. Muhammadiyah sudah ada di Depok atau sudah didirikan di Depok bersamaan dengan Kamaludin menjabat Camat Kecamatan Depok. Hanya saja tahunnya belum tentu pada 1952, boleh jadi sebelum atau sesudahnya;
  5. H. Nawawi secara eksplisit hanya menyebut tahun 1952 saja, tanpa tanggal dan bulan. Tentu akan lebih meyakinkan untuk memberikan kepastian kapan sebenarnya Muhammadiyah sudah ada di Depok bila dilengkapi tanggal, bulan, dan tahun didirikan.
Andai saja redaksi paragraf di atas itu begini:
Muhammadiyah didirikan pada 1952, bersamaan dengan Kecamatan Depok dipimpin oleh Kamaludin, seorang warga Muhammadiyah yang berasal dari Jasinga Kabupaten Bogor. Sebagai sesama warga Muhammadiyah, M. Usman dan kamaludin saling berkenalan. Atas perkenalannya itu mereka berdua bersepakat mendirikan Cabang Muhammadiyah Depok. Kesepakatan itu terlaksana. Muhammadiyah Depok didirikan. Waktu pendiriannya disaksikan oleh Kamil Jamil Konsul Muhammadiyah Daerah Bogor, bertempat di Kantor Kecamatan Depok.
Nah, bila redaksinya demikian, tidak mungkin multitafsir. Dan, kecil kemungkinan timbul pertanyaan untuk mencari kepastian, “Ini tahun 1952 tahun didirikannya Muhammadiyah, atau tahun Kamaludin jadi Camat Depok?”

Maka, bagi saya tidak ada salah, apalagi salah fatal narasi pada buku Matahari Terbit di Kampung Kami pada halaman 35 soal tahun 1961. Jadi, Muhammadiyah boleh jadi sudah eksis pada 1952 di Depok, namun legalitas resminya baru tahun 1961. Inilah yang saya pahami.

Sebenarnya, bila mau disebut salah fatal dan dipersoalkan, data tahun 1953 yang saya ambil sebagai tahun berdirinya Muhammadiyah di Depok—dalam hal ini adalah Kukusan—bukan 1952 seperti yang disebut H. Nawawi. Dalam soal ini—untuk keberadaan Muhammadiyah di Depok—saya tidak mengutip buku “30 Tahun Muhammadiyah Cabang Depok”.

Di buku Matahari Terbit di Kampung Kami, tahun 1953 saya ambil sebagai tahun berdirinya Muhammadiyah Depok. Bahkan 1953 saya sebut sampai tiga kali. Satu kali pada halaman 30, dan dua kali pada halaman 34—pada edisi revisi, satu kali disebut pada halaman 35, dan dua kali disebut pada halaman 40.

Saya menganalisis sumber lain untuk mengambil data 1953.

Pertama, sumber dari Iis Muala Wati, “JEJAK KH. M. USMAN MEMBANGUN MUHAMMADIYAH DI KOTA DEPOK” yang dimuat di https://pdmdepok.com/jejak-kh-m-usman-membangun-muhammadiyah-di-kota-depok/. Pada situs ini disebutkan, pada tahun 1953, KH. M. Usman ikut menghadiri Muktamar ke-32 Muhammadiyah di Purwokerto, Jawa Tengah. Inilah titik awal berdirinya Muhammadiyah di Kota Depok. Clear, jelas sekali.

Informasi Muktamar ke-32 Muhammadiyah di Purwokerto yang berlangsung pada 1953 memang patut dipertimbangkan. Pasalnya, M. Usman menghadiri Muktamar ke-32 Muhammadiyah di Banyumas, Purwokerto, Jawa Tengah itu.

Perkembangan Muhammadiyah di bidang pendidikan, ibadah, dan sosial kesehatan dari berbagai daerah disiarkan dalam muktamar ini. Kemajuan Amal Usaha Muhammadiyah yang disiarkan saat itu sangat menggembirakan dan membuat kagum M. Usman. Makin tertariklah beliau buat mendirikan Muhammadiyah. Maka, bisa dimengerti, sepulangnya dari Purwokerto, tidak beberapa lama kemudian beliau mendirikan Muhammadiyah di Kukusan.

Sumber kedua, laman webiste https://profil.mediamu.com/kh-muthalib-usman-ulama-pejuang-dan-tokoh-pendiri-muhammadiyah-depok-jawa-barat. Pada laman website ini, secara eksplisit disebutkan M. Usman baru merintis Muhammadiyah pada 21 Juni 1953, kira-kira sebulan sebelum Muktamar di Purwokerto digelar.

Akan tetapi, bila dikatakan 1952 M. Usman sudah merintis Muhammadiyah, ini masih logis. Sebab, yang namanya merintis baru sekadar meletakkan dasar-dasar, menyiapkan segala keperluan sebelum semuanya benar-benar siap. Walaupun H. Nawawi menyebut Muhammadiyah sudah ada pada 1952, pastilah ada sumber yang dijadikan rujukan.

Dari dua data; 1952 dan 1953, keduanya bisa dianggap mendekati benar. Hanya saja, saya memilih 1953 sebagai tonggak Muhammadiyah berdiri di Depok. Data ini lebih meyakinkan saya bila dihubungkan dengan peristiwa hadirnya M. Usman pada Muktamar ke-32 yang baru berlangsung pada 9-14 Juli 1953 sebagai aktor di balik berdirinya Muhammadiyah Depok setelah pulang dari Muktamar. Maka, bila pada 21 Juni 1953 M. Usman baru merintis Muhammadiyah Depok, ini masuk akal.

Sorotan berikutnya akan saya ulas pada tulisan mendatang.

Depok, 11 Mei 2025 setelah Isya yang sejuk.

Jumat, 11 April 2025

Sudah Mirip “Syi’ah”!! Pengkritik ini Ngedebrus di YouTube Menuduh Muhammadiyah Wahabi (Bag.4)




Tangkapan layar dari Channel YouTubeAaGuruTiGarut

Atau mungkin, AGTG umrah atau hajinya ke Karbala, kota sucinyan agama Majusi yang paling keras bisa sudah berhadapan dengan Wahabi. Ahahahahahah.

Di Darul Arqam, Angga cukup “beruntung”. Dia pernah menikmati beasiswa Kennedy-Lugar Youth Exchange and Study (YES) pada 2004 ke Amerika. Kurang apa coba? Darul Arqam berjasa mengantarkan dia bisa menginjak negeri Paman Sam. Andaikan dia tidak di Darul Arqam, belum tentu juga dia bisa ke sana, atau boleh jadi lebih beruntung dari sekadar hanya ke Amerika. Faktanya, saat di Darul Arqam lah AGTG berkesempatan menikmati YES sekaligus plesir ke luar negeri.

Program YES didirikan oleh Kongres Amerika pada Oktober 2002 sebagai tanggapan atas peristiwa 11 September 2001. Bersama siswa SMA atau sederajat dari berbagai negara di seluruh dunia, Angga salah satu santri dari pondok Muhammadiyah yang berkesempatan tinggal dan belajar di sana. Lumayan, selama satu tahun ajaran di negara yang mengaku paling demokratis dan getol gembar-gembor soal HAM, Angga mereguk udara Amerika tanpa bau amis darah rakyat Palestina.

Akan tetapi, informasi ini tidak terlalu penting. Boleh jadi malah mengenaskan. Hanya setahun AGTG singgah di Amerika dia sudah memahami budaya—program YES salah satunya mengajak peserta memahami budaya Amerika—negara pendukung Zionis Israel itu. Sementara, mengaku 12 tahun berkecimpung di IRM dan Muhammadiyah, Angga hilang adabnya pada Muhammadiyah.

Sebagai lulusan pondok Muhammadiyah, saat ini Angga atau AGTG menampilkan diri sebagai “anti Muhammadiyah” dengan menyerang manhaj atau cara beragama yang dianut Muhammadiyah dengan tuduhan-tuduhan gelo melalui channal YouTubnye AaGuru TiGarut,

Dalam beberapa video—selain video kasus jamaah di Palangkaraya yang memicu tulisan tanggapan ini— arogansi Angga telanjang bulat. Maka, siapa pun yang paham pada Muhammadiyah patut bertanya atas arogansinya itu, apa salah Darul Arqam Garut dan Muhammadiyah pada bocah ini dan Mazhab Syafi’i yang dianutnya?

Dalam video https://www.youtube.com/shorts/VnX3CVdB5UY, mulai menit 0:02 AGTG dengan sangat jemawa berani menyatakan, “ini masjidnya masjid Muhammadiyah nih, masjidnya masjid salafi itu udah gak boleh Syafi’iyah itu udah gak boleh bermakmum ke Muhammadiyah itu udah gak boleh udah gak boleh udah gak sama shalatnya bermakmum ke Salafi itu eh udah gak boleh shalatnya udah enggak sama ….”

Bolehlah dia benci pada Muhammadiyah. Mungkin, memang begitu seharusnya standar sikap sebagai penganut Syafi’i. Boleh jadi, anggapan shalat Muhammadiyah beda bahkan tidak bisa bermakmum padanya karena menganut Syafi'i karena Angga hanya bocah biasa. Dia belum tuntas menelaah kitab Al-Minhāj-nya karya Al-Imām An-Nawawi, matan ringkas fikih Madzhab Syāfi'i terpenting.

Akan tetapi, benci pada Salafi atau Wahabi dikaitkan dengan tidak boleh bermakmum, ini problem memalukan daripada benci pada Muhammadiyah. Lha, nanti bila umrah atau haji dan shalat di belakang imam Salafi Wahabi baik Masjidil Haram atau Masjid Nabawi, bagaimana? Kan, kedua masjid ini semua imamnya Salafi atau Wahabi?

Oh, boleh jadi, AGTG memang belum umrah atau belum haji. Atau, sudah umrah atau sudah haji, tapi shalat sendiri di hotel, tidak ikut jamaah di dua masjid mulia itu saat di Makkah atau Madinah. Jadi, dia selamat dari bermakmum kepada imam-imam Salafi atau Wahabi. Atau mungkin, AGTG umrah atau hajinya ke Karbala, kota sucinyan agama Majusi yang paling keras bisa sudah berhadapan dengan Wahabi. Atau ke Parung tempat hajinya kaum Ahmadiyah. Ahahahahahah, just kidding!😂😂😂😂😂

Tubikontinyu …

Ciputat, Lebaran lewat sebelas hari. Jum'at, 11 April 2025.

Kamis, 10 April 2025

Sudah Mirip “Syi’ah”!! Pengkritik ini Ngedebrus di YouTube Menuduh Muhammadiyah Wahabi (Bag.3)

 

Tangkapan layar dari Channel YouTubeAaGuruTiGarut

Jadi kalo misalkan mao kentel-kentelan Muhammadiyah coba, ayo mau kentelan siapa masalah Muhammadiyah itu, ya. Saya itu dulu waktu di IRM, saya ya aktif kemudian waktu di pesantren saya itu di Darul Arqam, namanya Darul Arqom Muhammadiyah Daerah Garut itu

Dugaan saya, Angga Sugih Pragina dengan akun YouTubenya AaGuruTiGarut ( AGTG) ini santri non-Muhammadiyah yang mondok di Muhammadiyah Darul Arqam Garut. Baru dugaan, sih, tapi indikasinya cukup kuat.

Pertama, hampir tidak ada orang Muhammadiyah ashli—pake shaad—mengucap salam dengan tambahan “ta’ala” seperti yang diucapkan AGTG pada kalimat “warahmatullaahi”. Ehehehehe.

Dulu, sewaktu masih mahasiswa di satu lembaga milik NU, Dekan Fakultas Tarbiyah tiap kali menyampaikan sambutan atau orasi di hadapan mahasiswa baru, salamnya bahkan lebih panjang dari AGTG, “Assalamualaikum wa’alaikunna warahmatullaahi ta’ala wa barakatuh”. Kalimat “ta’ala”-nya sama fasihnya dengan ucapan AGTG. Ah, dugaan jenengan non-Muhammadiyah sudah bisa ditebak baru pada indikasi pertama.

Kedua, hampir tidak ada orang Muhammadiyah ashli menambahkan kata “sayyidina” saat bershalawat, baik dalam muqaddimah saat menyampaikan kata sambutan atau memulai ceramah umum, atau kajian formal dengan “allahumma shalli a’la sayyidnina Muhammadin”.

Meskipun Muhammadiyah tidak melarang menambahkan “sayyidina” sepanjang ia dilafalkan bukan dalam bacaan shalawat ketika shalat saat tasyahud atau shalawat saat berkhutbah, pujian “sayyidina” tidak digunakan. Ya, pujian demikian itu bukan brand Muhammadiyah.

Pujian dengan kata “sayyidina” itu sudah melekat di kalangan Nahdliyyin. Meskipun pujian “sayyidina” itu netral dan bisa diucapkan dari banyak kalangan, tapi ia sudah menjadi thabi’iyyah-nya Nahdliyyin di semua lokus, dari ujung barat sampai ujung timur. Dari ujung utara ke ujung selatan bumi di mana ada warga Nahdliyyin.

Ketiga, hampir tidak ada orang Muhammadiyah ashli menyebut Muhammadiyah dengan singkatan “MD”. Biasanya yang menggunakan singkatan “MD” untuk menyebut Muhammadiyah itu non-Muhammadiyah.

Di Kudus—mayoritas muslimnya warga Nahdliyyin—sering menggunakan singkatan “MD” untuk menyebut Muhammadiyah. AGTG dalam video https://www.youtube.com/watch?v=eNleCoPHajc&t=95s pada menit 6: 32 detik, ada menyebut idiom “MD” ini, lalu mengiringi sesudahnya dengan menyebut Muhammadiyah.

Ketempat, boleh jadi AGTG sudah “jadi Muhammadiyah”—enam tahun saat mondok di Arqom, enam tahun sesudahnya. Namun, setelah mengenal Asya’iroh Maturidiyah seperti yang disebutnya, AGTG seakan telah “murtad” dari Muhammadiyah, lalu kembali pada habitatnya semula. Ehehehehehe.

Maka, dengan empat indikasi ini, boleh jadi AGTG ini orang NU atau non-Muhammadiyah yang “nyasar” masuk pondok Muhammadiyah. Namun—sekali lagi—ini baru dugaan.

Etapi, dalam video tanggapannya “JAGAN MAIN2 DENGAN MUHAMMADIYAH; AKHIRNYA KENA TEGURAN TANPA REFERENSI. ‪@mimbarpersyarikatan‬”, seolah-olah dia masih Muhammadiyah dengan bahasa “hasil didikan Muhammadiyah”. Cek mulai menit ke-6: 43 dan seterusnya di: https://www.youtube.com/watch?v=29mO1X6ZBtc&t=436s

Bahkan, mulai menit ke-6:59 detik dalam video tanggapannya itu, AGTG nekat membanding-bandingkan kekentelan Muhammadiyahnya dengan @mimbarpersyarikatan.

Wa qaala AGTG : “... Jadi kalo misalkan mao kentel-kentelan Muhammadiyah coba, ayo mau kentelan siapa masalah Muhammadiyah itu, ya. Saya itu dulu waktu di IRM, saya ya aktif kemudian waktu di pesantren saya itu di Darul Arqam, namanya Darul Arqom Muhammadiyah Daerah Garut itu ….”

Ahahahahah … orang yang saya duga non-Muhammadiyah yang “nyasar” masuk pondok Muhammadiyah, baru pernah kenal Muhammadiyah 12 tahun terus kepincut Asya’iroh dan Mautridiyah, nekat adu kentel paling Muhammadiyah dengan ‪@mimbarpersyarikatan? Ini opo ora salah toh, lee, le. Ngisin-ngisini awakmu dewek.

‪@mimbarpersyarikatan itu lahir dari keluarga Muhammadiyah, sekolah dan kuliah di Universitas Muhammadiyah, pernah menjadi mahasantri Pondok Muhammadiyah Hajjah Nuriyah Shabran, pernah mengasuh dan mengajar di Pondok Muhammadiyah Darul Arqam Sawangan, mengasuh Panti Muhammadiyah, mengisi kajian-kajian di forum-forum Muhammadiyah di Boyolali, Jogja, dan sekitarnya sampai saat ini. Mbok ya, jenengan ngaca dulu toh leee, le.

Maka, menyimak narasi soal adu kentel siapa paling Muhammadiyah antara jenengan dengan @mimbarpersyarikatan, saya kok ngebayangin dongeng di dunia fabel. Jenengan itu ibarat fabel kucing yang terobsesi dan bertingkah layaknya seekor macan. Sang kucing mengaum keras menirukan auman raja hutan sambil menunjukkan taring dan kuku-kuku kakinya yang mungil di depan kerumunan warga hutan. Akan tetapi, auman itu terdengar di telinga semua warga hutan tetaplah suara kucing, “miaw! Miaw! Miaw!” Penduduk hutan pun tertawa ngakak, sedangkan si raja hutan buang angin sambil cembetut.😂

Tubikontinyu ...

Ciputat, Lebaran lewat sepuluh hari. Kamis, 10 April 2025.


Rabu, 09 April 2025

Sudah Mirip “Syi’ah”!! Pengkritik ini Ngedebrus di YouTube Menuduh Muhammadiyah Wahabi (Bag.2)

Tangkapan layar dari Channel YouTubeAaGuruTiGarut


Jadi Muhammadiyah itu sekarang sudah fanatisme, sudah fanatik, karena kalau dikasih ilmunya bagus, tidak akan jadi fanatisme seperti ini …


Tampaknya, sikap AGTG kepada mang Didi itu dia jadikan background, bangunan narasi bahwa beginilah hasil dari didikan pondoknya saat itu—kalau tidak salah pondok Muhammadiyah Darul Arqam Garut. Bahwa dirinya dahulu menjadi fanatik, sedangkan dia baru kelas 1 Aliyah.

Bangunan narasi itu kasat rasa saat AGTG dalam paparannya mengakui bahwa dalam pemahamannya yang sekarang, bacaan —kemungkinan bacaan Al-Fatihahnya Mang Didi, bukan bacaan ikhtilat ayat yang berlainan surat— dari sisi fiqih dinilainya tidak salah.

Nah, di sini “carut wal marut” otak AGTG makin kentara. Background sikapnya pada Mang Didi ini lalu ditarik pada kasus jamaah di Palangkaraya itu. Maka pada menit ke 2:33 detik, AGTG menegaskan:

“Jadi Muhammadiyah itu sekarang sudah fanatisme, sudah fanatik, karena kalau dikasih ilmunya bagus, tidak akan jadi fanatisme seperti ini …”

Nah, saya kok, ya heran. Dari tampilannya, AGTG terkesan intelek. Background videonya saja rak berjubel literatur. Tapi, pandangannya soal makna ideal tentang fanatisme tidak sekaya koleksi literaturnya.

Maka, dalam konteks ini, AGTG gagal melihat makna faktual fanatisme dengan lebih luas layaknya seorang intelek yang berpikiran luas. Masa, menilai sikap fanatik hanya sejurus, yaitu kasus jamaah di Palangkaraya itu, lalu menyeret dan memvonis Muhammadiyah sudah jadi fanatik. Semangat sekali menjadikannya sebagai konten yang menempatkan dirinya sebagai sosok yang anti intoleran.

Bos, sikap fanatik personal itu ada di mana-mana. Jenengan kira Kyai Idrus Ramli tidak fanatik pada Aswajanya? Coba jenengan lacak video-video narasinya dalam menilai Muhammadiyah. Ada banyak kok narasinya tentang Muhammadiyah itu miring laksana menara Pisa. Apalagi kalau menilai Wahabi, waduh, Kyai Idrus sungguh-sungguh fanatik.

Lalu, apa Kyai Idrus merasa sikapnya salah dalam hal ini? Ya, tidak. Kyai Idrus sedang mengekspresikan sifat fanatiknya pada Aswaja. Boleh jadi, begitulah dahulu Kyai Idrus mendapat pengajaran di pondok tempatnya menimba ilmu.

“Pirtinyiinnyi”, apakah semua Kyai Aswaja sama penilaiannya pada Wahabi seperti penilaian fanatik Kyai Idrus?

‘Gak juga. Ada juga Kyai Aswaja yang tidak fanatik meskipun sedikit. Prof. Dr. H. Ahmad Zahro misalnya. Beliau punya pandangan lebih moderat. Coba simak videonya di sini: https://www.youtube.com/watch?v=4ScKbzS7rq8

Terus, Prof. Dr. H. Ahmad Zahro apa ya salah memandang Wahabi berbeda dengan Kyai Idrus? Ya, 'gak juga, sebab beliau sedang mengekspresikan sikap moderatnya saat beliau ditanya tentang problematika umat Aswaja menyikapi Wahabi.

Boleh jadi, karena saking cinta dan fanatiknya, ada juga kok Kyai Aswaja yang spektrum fanatiknya bukan lagi pada mazhab dan firqah, bahkan pada millat. Ada loh, seorang Kyai dengan sangat terbuka menyebut bahwa “Islam kita ini Islam sejati, bukan Islam abal-abal model Timur Tengah. Ini Islam sejati Islam Nusantara ini. Serius, serius …” Coba itu, gimana pandangan jenengan, AGTG?

Oh, ya AGTG. Saya tidak menutup mata bahwa ada personal warga Muhammadiyah yang jenengan nilai fanatik. Akan tetapi, sefanatik-fanatiknya personal atau kumpulan personal fanatikus Muhammadiyah, belum ada tuh yang sampai nekat membubarkan pengajian komunitas tertentu karena dianggap isi pengajian mereka tidak sesuai dengan paham agama menurut Muhammadiyah.

Saya juga tidak menampik bahwa jamaah di Palangkaraya itu fanatik. Tapi, adakah spektrum fanatik orang Muhammadiyah yang selebar Islam Sejati vs Islam Aba-Abal itu wahai engkau AGTG anak muda yang tampak intelek?

Maka, “carut wal marut” otak AGTG pada poin ini setidaknya ada dua hal. Pertama, menilai kasus fanatik personal jamaah Palangkaraya itu seolah kasus fanatik tunggal, padahal kasus yang serupa dalam konteks berbeda bisa terjadi di kelompok mana saja.

Kedua, menilai kasus fanatik personal yang sifatnya kasuistik itu sebagai karakter atau gambaran umum bahwa Muhammadiyah itu ya, begitu, sudah fanatik. Nah, dua hal ini jelas “carut wal marut” yang tidak bisa jenengan bantah.

Tubikontinyu ...

Ciputat, Lebaran lewat seminggu lebih dikit. Rabu, 09 April 2025

Selasa, 08 April 2025

Sudah Mirip “Syi’ah”!! Pengkritik ini Ngedebrus di YouTube Menuduh Muhammadiyah Wahabi



Tangkapan layar dari Channel YouTubeAaGuruTiGarut

Saya waktu itu masih SD, masih SD, saya masih waktu itu masih, ee, apa masih mesantren, yaitu sekitar kelas 4, berarti kelas 1 Aliyah lah saya masih kelas satu Aliyahan kurang lebih terus di masjid saya …

Eheheheh … judul di atas modifikasi dari “SUDAH MIRIP WAHABI‼️WARGA MUHAMMADIYAH INI TERIAK2 DI MASJID” dari channel AaGuruTiGarut (seterusnya ditulis AGTG) (https://www.youtube.com/watch?v=eNleCoPHajc&t=95s)

Akan tetapi, meskipun judul tulisan ini modifikasi dan terkesan lucu-lucuan, ia tidak kehilangan ruh sungguh-sungguh. Sebab, dalam konteks menyejarah, Syi’ah dan Wahabi itu urusan serius. Pada ranah akidah dan politik, Syi’ah dan Wahabi sering diperhadapkan sebagai dua entitas yang berseberangan—dalam bahasa yang lebih vulgar ‘bermusuhan’ atau sukar bertemu dalam satu titik kesepahaman yang serius.

So, sekadar menyelipkan phrase, menurut Pizaro—jurnalis Anadolu Agency—bahwa Syiah memahami betul adanya sentimen anti Wahabi di kalangan Ahlussunnah. Jadi, paling tidak judul “Sudah Mirip “Syi’ah”!! Pengkritik ini Ngedebrus di YouTube Menuduh Muhammadiyah Wahabi” bisa mengimbangi judul narasi AGTG yang secara vulgar tercium bau-bau sentimen AGTG pada Muhammadiyah yang dituduhkan sebagai bukan Ahlussunnah, alias sudah mirip Wahabi. Begitu kira-kira.

Lebih dari itu, tulisan ini semacam tanggapan enteng-entengan atas narasi AGTG pada channel YouTube miliknya. Enteng-entengan maksudnya ‘gak serius-serius amat meskipun substansinya serius. Beda dengan Mimbar Persyarikatan yang punya aliran darah militansi bila sudah menanggapi persoalan seperti yang dipertontonkan AGTG.

Boleh jadi, sebagai dialektika, Mimbar Persyarikatan sudah memberikan koreksi atau tanggapan sangat rinci narasi "carut wal marut" AGTG. Lalu tanggapan itu ditanggapi lagi AGTG secara lebih "carut wal marut". Salut buat Mimbar Persyarikatan. Ahahahahah …

Saya ini penikmat narasi dengan struktur bahasa yang rapi, runut, dan logis. Sebaliknya, tak ada selera mendengar narasi dengan struktur bahasa tidak karuan kecuali terpaksa. Narasi AGTG dalam “SUDAH MIRIP WAHABI‼️WARGA MUHAMMADIYAH INI TERIAK2 DI MASJID” itu tidak karuan, tapi terpaksa ditonton dan didengerin.

Tidak karuan itu masih sopan dalam timbangan diksi saya. Sebaiknya saya pakai diksi “carut wal marut” saja untuk mengimbangi ketidaksopanan AGTG yang tidak dia sadari sedang menelanjangi kapasitas dirinya sendiri. Lagi pula, kasihan juga AGTG sudah bikin konten se-”carut wal marut” itu bila tidak dilirik walau hanya sepicing saja.

Eits, tunggu dulu! Saya tidak memaknai “carut marut” sebagai kata yang berarti perkataan keji atau kotor, atau segala jenis perkataan yang keji. Kata "carut-marut" juga bisa berarti segala coreng-moreng atau goresan yang tidak keruan arahnya. Nah, makna kedua ini yang saya maksud. Lalu supaya terkesan antik, “carut marut” saya plesetkan menjadi “carut wal marut.”

Kita mulai menanggapi “carut wal marut”-nya “SUDAH MIRIP WAHABI‼️WARGA MUHAMMADIYAH INI TERIAK2 DI MASJID”. Narasi AGTG ini menanggapi video yang banyak diunggah di Media Sosial, salah satunya dari akun https://www.youtube.com/shorts/TkNF-_R_0qo
milik @larosmediatv tentang seorang jamaah masjid yang memprotes bacaan Imam di Masjid Darul Arqam Palangkaraya pada malam 25 Ramadhan kemarin. Bacaan imam dianggap tidak sesuai tradisi Tarjih Muhammadiyah. Jamaah ini menuduh imam membawa tradisi HTI.

Tulisan ini bukan untuk membahas sikap jamaah di Palangkaraya itu. Memang, sikap jamaah itu tidak bijak. Sikap itu bukan cermin paham agama yang dianut Muhammadiyah umumnya. Hanya saja, sikap jamaah ini disimpulkan oleh AGTG sebagai paham Muhammadiyah secara umum. Nah, di sini “carut wal marut” otak AGTG dimulai sejak dari alam ide.

Saya akan mulai dari narasi AGTG pada menit ke 2.44 detik. Narasi AGTG ini dibangun untuk menjelaskan sikapnya yang pernah menghalangi Mang Didi yang hendak menjadi Imam shalat. Mang Didi ini dinilai AGTG tidak layak jadi imam di masjid kampungnya. Pasalnya, bacaan Mang Didi suka bercampur-campur antara bacaan satu ayat dalam satu surah dengan ayat yang lain jadi tidak dalam satu surah tidak runtut. Kata AGTG:

“Saya waktu itu masih SD, masih SD, saya masih waktu itu masih, ee, apa masih mesantren, yaitu sekitar kelas 4, berarti kelas 1 Aliyah lah saya masih kelas satu Aliyahan kurang lebih terus di masjid saya …”

Coba tebak, waktu kejadian menghalangi Mang Didi itu AGTG masih SD atau masih mesantren kelas 1 Aliyah?

Dugaan logis saya, AGTG ada pada masa mesantren kelas 1 Aliyah. Sebab, kecil kemungkinan anak SD sudah paham bacaan imam yang bercampur-campur ayat dalam surah yang berbeda. Anak pesantren kelas 1 Aliyah, boleh lah ia sudah paham soal ini. 

Di sini belum ada “carut wal marut” yang fatal dari narasi AGTG. Ini hanya soal ingatannya yang agak kendor mengingat kejadian perlakuannya pada Mang Didi. Dari SD ke Aliyah itu melompati masa SMP atau MTs. Bila AGTG saat itu duduk di kelas enam, durasi memory gaps-nya tiga tahun. Bila saat itu AGTG baru kelas empat atau kelas lima, wah, tambah panjang.

Akan tetapi, ini bukan substansi. Ini soal ingatan yang kurang akurat saja, agak kendor. Andaikan AGTG berkata, “ Saya waktu itu masih Aliyah, masih Aliyah, saya masih waktu itu masih, ee, apa masih mesantren, yaitu sekitar kelas 4, berarti kelas 1 Aliyah lah saya masih kelas satu Aliyahan kurang lebih terus di masjid saya …,” masih oke lah. Paham, ya?

Ah, soal memory gaps segitu saja dipermasalahkan. Nah, justru dari sini “carut wal marut” otak AGTG saling berjalin berkelindan dengan narasi pada detik-detik berikutnya. Gak percaya? Tunggu lanjutannya.

Tubikontinyu ….

Depok, Lebaran lewat seminggu. Selasa, 08 April 2025