A homepage subtitle here And an awesome description here!

Senin, 22 Januari 2024

Sinyal Nisbi di Museum Mbah Maridjan

Erupsi Merapi 2010. Foto Kompas.com
Hujan

Hujan lebat menemani perjalanan wisata akhir studi tahun ini. Sejak pukul 2 dini hari, hujan sudah tumpah dari atas langit malam yang semakin kelam sepanjang bus melaju ke Goa Pindul dan Sungai Oyo. Sampai menjelang Subuh di Klaten, curahan air langit itu masih turun meski derasnya sedikit mereda.

Lagi, tiba di destinasi Gua Pindul dan Sungai Oyo, hujan rintik menyambut kami. Rupanya, cuaca mendung dan hujan menjadi takdir hari pertama wisata. Sudah hitungan belasan jam sejak dini hari, cuaca kurang bersahabat. 

Matahari sempat bersinar sejenak memberi harapan cuaca akan cerah lepas sarapan. Rasa hati jadi gembira. Namun, ia hanya sejenak saja. Beberapa saat berikutnya, matahari menarik diri lagi. Lalu, hujan kembali turun saat peserta wisata kembali tiba dari sungai dan Gua Pindul. Bahkan, curahnya makin deras beberapa menit menjelang azan Jumat berkumandang.

Hujan memang sedang diharap-harap warga sekitar Gua Pindul. Menurut informasi, hujan belum turun-turun di wilayah ini dan baru mulai turun dua hari yang lalu. Tapi, bagi kami peserta wisata, hujan menjadi yang diharap jangan.

Akan tetapi, hujan tetaplah hujan. Ia tidak butuh izin manusia kapan ia akan mencurah ke bumi dan sampai kapan ia akan bersemayam saja bermalas-malasan bersama mendung. Maka, seharian itu, tiada wisata tanpa hujan.

Saranghaeyo 

Usai makan siang di Gua Pindul, bus melaju menuju destinasi kedua; Heha Sky View Jogja. Hujan masih setia mengguyur. Saat bus baru tiba di wilayah Gunung Kidul, bus berhenti. Sebatang pohon tumbang melintang di bahu jalan. Pak sopir yang sempat melongok ke TKP mengabarkan ada dua pengendara motor tertimpa pohon. Korban segera dievakuasi petugas untuk mendapat pertolongan medis.

Di saat bus tidak bisa bergerak, dari samping kursi saya, seorang guru, masih gadis pula mengeluh. "Pak Abdul, saya pingin be a be," bisiknya dengan suara lirih.

Aduh! Dalam benak, saya meringis, "Lha, emang saya emaknya apa?"  Hihihihih. Tapi, seketika saya turut merasakan "penderitaannya" yang sangat. Tapi, apa yang bisa saya bantu untuk mencegahnya? Itu panggilan alam. Ia jatah setiap insan yang bernyawa.

"Lha, gimana, Bu? Kanan kiri hutan," kata saya seperti membujuk gadis kecil saya yang cantik; Miray Hagia Sophia supaya tidak masuk hutan di kala hujan untuk be a be. Kan, repot bila pas lagi jongkok, tiba-tiba bahu ditepuk macan yang ngomel-ngomel, "Heh, pindah, lo! Tempat tidur gue ditimbun limbah!"

Kan, berabe.

Maka, mau tidak mau, ia harus ditahan sekuat daya dan upaya. Ibu guru ini pun berjuang mati-matian meski mata sedikit berair, muka pucat, dan perasaan gelisah menahan agar bisa menunda hajat yang semakin mendesak-desak. Dia tidak ingin mengambil dua risiko, risiko dapat tepukan di bahu bila nekat be a be di hutan yang bisa saja mengancam keselamatan jiwanya gara-gara limbah, dan risiko bila akhirnya ... Ahahahahah. 

Be a be itu fenomena alamiah, seperti hujan. Dan rasanya, antara hujan dan be a be masih satu frekuensi karena sama-sama disebut air. Oleh karena itu, bila ada orang yang keseringan be a be dalam satu waktu, orang menyebutnya dia sedang "buang-buang air". Bedanya, ba a be masih bisa ditahan-tahan meski yang menahan harus mengerahkan energi karena datang di saat yang tidak diinginkan. 

Meskipun demikian, orang tidak boleh mengutuk be a be hanya karena sinyal kedatangannya melilit-lilit bukan pada saat yang tepat. Biarkan ia datang menyapa, karena di luar sana tidak sedikit orang terpaksa merogoh kocek buat membeli pencahar supaya bisa be a be. Berapa banyak pula pasien berbaring di bangsal-bangsal rumah sakit menjalani perawatan, sebab sudah berhari-hari tidak bisa be a be karena saluran feses-nya macet seperti digembok. Tapi, keseringan be a be karena saluran feses-nya dol juga bisa masuk rumah sakit.

Tips Kuno

Bila saja tidak khawatir disebut orang kolot, ingin rasanya saya berbagi tips, sebuah cara kuno mencegah be a be kepada guru ini saat itu. Ini resep nenek moyang orang kampung saya turun-temurun. Cara ini boleh jadi sudah berusia ratusan tahun. Di kalangan orang kolot, tips ini sudah teruji meskipun tidak seratus persen manjur.

Waktu kecil, seusia SD sampai SMP akhir, saya sering mempraktikkannya jika safar atau hendak bepergian jauh. Lucu juga bila mengingat kembali pengalaman itu sekarang. Ini tipsnya:

Pertama, dengan be a be sebanyak mungkin sebelum berangkat jauh. Ini cara masuk akal dan tidak bercampur unsur khurafat.

Kedua, dengan mengantongi kerikil di saku belakang. Cukup satu buah saja, jangan satu karung. Ukurannya pun jangan sebesar bola futsal, cukup yang sebesar kelereng saja.🤣

Ketiga, nah yang ini agak sedikit konyol. Bila sudah kebelet, ucapkan mantra berikut: "pala pantat, pala pantat, pala pantat". Saat mengucapkan “pala”, peganglah pantat. Saat mengucapkan “pantat”, peganglah kepala. Begitu yang diajarkan para tetua saya.

Bila khawatir dianggap orang stress saat mengucapkan mantra itu didengar orang, ucapkan saja dalam hati. Bila dirasa kurang afdol karena takut kurang manjur, cari tempat menyepi dan ucapkan mantra itu sekeras yang diinginkan.

🤣🤣🤣🤣🤣

Karena zaman yang terus berubah, semakin banyak bergaul, semakin sering ikut ngaji, dan semakin dewasa, berubah pula persepsi saya soal kerikil dan mantara "Pala Pantat" itu. Rasanya, tips primitif itu sudah tak bertuah lagi. 

"Si Jono"

Bersyukur, di hari pertama wisata, meskipun hujan, wisata di Gua Pindul dan Sungai Oyo berjalan mengasyikkan, anak-anak senang, selamat, dan pulang ke hotel dengan sukacita. Hanya saja, kunjungan ke distinasi Heha Sky View Jogja dibatalkan karena alasan cuaca yang makin tidak bersahabat. Mayoritas peserta menginginkan langsung menuju hotel untuk istirahat.

Saat di hotel, sebelum tidur, melintas di pikiran saya, pasti ada yang sedang bermenung-menung di kamar mandi  The Victoria Hotel sambil membayangkan wajah seekor macan yang mengusirnya sambil marah-marah. Hanya saja, di kamar mandi, macan itu berubah genit. Ia dengan jempol dan telunjuknya yang "buntek-buntek" memberi isyarat "saranghaeyo" pada guru itu. Haaa.

Hari kedua wisata cuaca cerah. Ada hujan saat makan siang di kaki Taman Wisata Merapi, tapi hanya sebentar saja. Setelah shalat Zuhur dan Ashar dengan jamak takdim qashar, cuaca cerah lagi. Sesekali matahari moncer dari sela-sela ngarai pelataran taman. Ini pertanda baik. Jeep Lavatour tidak dibayang-bayangi hujan.

Nah, saat makan siang di Taman Merapi ini, ada sedikit keriuhan. Beberapa monyet Merapi mengintip rombongan mengusik kenyamanan. Primata hutan ini datang dari arah atap kedai melongok-longok. Maka, pecahlah keriuhan. Beberapa siswa perempuan histeris saat sang monyet menatapnya tajam seperti hendak memeluknya karena gemes tidak diajak makan.

Seorang pendamping yang suka nenteng-nenteng kamera, dengan wajah semringah memanggil-manggil si monyet: "Bobi! Bobi! Sini!" Dalam hati saya mau ketawa, tapi takut dosa. Ini sungguh terlalu.

Akan tetapi, saya berbaik sangka. Saya tidak menyangka, si Om pendamping ini berhati mulia dengan mengajak si monyet makan siang bersamanya. Mungkin saja karena si Om kameramen ini prihatin dan turut merasakan rasa putus asa si monyet setelah membaca maklumat pengelola wisata berikut:

 
Pengumuman Larangan Memberi Makan Monyet di Taman Wisata Merapi. Foto diambil dari kamera Galaxy A12 oleh Abdul Mutaqin

Di antara yang histeris karena aksi si monyet tadi adalah guru yang masih gadis tadi. Dia bercerita lugas, mengaku masih menyimpan trauma pernah digigit "Si Jono" waktu dia kecil. "Si Jono" adalah monyet dari Aceh, milik tetangganya. Tampaknya "Si Jono" monyet agresif, lebih agresif lagi kepada para gadis semisal guru ini.

Sayang, hidup "Si Jono" berakhir pilu, katanya. "Si Jono" tutup usia ditembak Pak RT yang marah sebab monyet itu menggigit anaknya Pak RT juga. Kasihan "Si Jono". Ia ketiban sial. Kali ini, "Si Jono" telah salah orang. Ia menggigit anak pejabat. Dan, nyawanya pun berpulang ke rahmatullah di ujung bedil pejabat kampung itu.

Erupsi

Cerita tentang "Si Jono" yang nahas bersambung pada pesan di Jeep Lavatour. Saya tidak mengira akan beroleh sakralitas kesan pada Jeep Lavatour lewat jendela metafisik yang tidak kasat mata. Tentu, bukan soal naik jeep menyusuri lokus jalur awan panas sisa-sisa erupsi Merapinya, melainkan pesan kenisbian dunia yang fana. Pesan itu terurai pada dua museum erupsi.

Di sini, di Museum Petilasan Mbah Maridjan, jiwa seakan ditarik pada alam kematian menyaksikan akhir perjalanan hidup seorang Mas Penewu Sukasohargo alias Mbah Maridjan bersama 38 korban erupsi Merapi pada 26 Oktober 2010 silam. Peristiwa itu terekam dalam gambar, narasi, dan benda-benda pribadi si Mbah dengan selimut debu erupsi masih melekat.

Ada prasasti di museum ini yang mengurai kronologi erupsi dan 39 nama korban. Kronologi itu digambarkan sebagai berikut:
26 Oktober 2010 pukul 17.30 Agus Wiarto, Pak Tutur Priyanto (relawan PMI), dan Yuniawan Wahyu Nugroho (wartawan Viva News) tiba di Kinahrejo untuk memberitahu dan membujuk warga agar turun karena telah terjadi erupsi Merapi. Sejak pukul 17.02 mulai terjadi awan panas selama 9 menit. Pukul 18.00 sampai dengan pukul 18.45 terdengar suara gemuruh dari pos pengamatan gunung merapi Jrakah dan Selo. Suara dentuman sebanyak tiga kali terjadi pada pukul 18.10, pukul 18.15, dan pukul 18.25. Pada pukul 18.21 terjadi awan panas besar selama 33 menit. Dari pos pengamatan gunung Merapi Selo terlihat nyala api bersama kolom asap membumbung ke atas setinggi 1,5 km dari puncak Merapi. Sementara luncuran awan panas mengarah ke sektor barat-barat daya dan sektor selatan-tenggara.

Pukul 18.15 sirine meraung-raung ketika warga sedang salat Maghrib. Mobil Suzuki APV menjadi satu-satunya kendaraan untuk mengevakuasi warga. Pukul 18.40 karena masih banyak yang belum terangkut, maka tutur Priyanto dan Yuniawan kembali naik untuk menyelamatkan warga.

Pukul 18.50 dalam upaya menyelamatkan lebih banyak nyawa manusia, Tutur Priyanto dan Yuniawan gugur bersama terbakarnya mobil evakuasi di halaman rumah Mbah Marijan akibat terkena awan panas.
Betapa gelisah rasanya menyaksikan sisa-sisa erupsi, pada pembacaan batin atas narasi foto-foto, dan wujud benda-benda mati milik si Mbah. Semoga ia bukan peristiwa sejarah yang berulang atas kaum-kaum ingkar terdahulu yang dibinasakan Tuhan karena keingkaran mereka semisal Kaum 'Ad, Tsamud, Madyan, atau Shodom dan Gomorah. Semoga bukan!

Museum Kenisbian

Ada pusara di pendopo Museum Petilasan Mbah Maridjan. Tapi, ia bukan kuburan Mbah Maridjan, melainkan tempat Mbah Maridjan ditemukan sudah tak bernyawa dalam posisi bersujud menurut cerita pemandu. Saya tak sempat menyelisik, apakah sujud itu sujud dalam shalat, atau sujud yang lain. Boleh jadi, itu sujud kepasrahan Mbah Maridjan menyerahkan hidupnya atas kehendak Tuhan yang ikhlas dia terima. Dalam kapasitasnya sebagai "pengasuh" Merapi, Mbah Maridjan seolah lebih memilih menadah debu panas erupsi dengan sekujur tubuh ringkihnya daripada pilihan menyingkir menyelamatkan diri. Mahabenar Allah Yang Maha Hidup dengan segala firman-Nya, "Kullu nafsin dzaaiqatul maut", bahwa yang bernyawa pasti akan merasakan mati. 

Di museum ini pula, display properti perabot rumah milik Mbah Maridjan hampir memenuhi sudut-sudut museum. Semua display menyampaikan pesan bahwa Mbah Maridjan sudah mati. Sementara, benda-benda mati miliknya seperti gamelan dan properti yang kecil-kecil seperti ceret, sendok, piring, dan pecah belah perabot dapur yang lain masih "hidup" di museumnya. 

Pada museum yang lain; di Museum Mini Sisa Hartaku, tidak saja dapat disaksikan berbagai barang perabot harta benda yang rusak diterjang erupsi, tapi juga foto-foto kisah memilukan saat korban dievakuasi. Ada foto perempuan setengah melepuh yang meringis-ringis dibopong relawan. Ada foto dua ekor sapi yang masih hidup dengan luka bakar sekujur badan. Sapi nahas itu menjadi sapi panggang yang masih berdiri bernapas melenguh. 

Dua sapi ini selamat dari derita sakaratul maut erupsi, tapi sesungguhnya kondisinya lebih menderita dari sapi-sapi lain yang mati seketika tertimbun abu erupsi. Pemandu bertutur, katanya demi rasa peri kehewanan dalam timbangan pragmatis, kedua sapi itu disuntik mati agar penderitaannya yang pedih berakhir tidak terlalu pedih. Kata si pemandu juga, salahnya sapi-sapi itu tidak mau saat akan dievakuasi. Tiap kali akan dibawa turun, sapi-sapi itu berteriak; "Emooh! Emooh! Emooh!"

Dari kedua museum ini, dari peristiwa erupsi Merapi, banyak pengunjung belajar, betapa nisbi dan fana dunia ini. Dunia dan harta benda bisa punah dalam sekejap, hilang lenyap seperti tidak pernah ada sebelumnya. Lalu, sebagai bagian dari kewaspadaan tanggap bencana, beberapa waktu sudah, wilayah di mana sekarang Museum Petilasan Mbah Maridjan dan Museum Mini Sisa Hartaku berada sudah menjadi Zona Merah. Tidak ada lagi domisili penduduk karena radiusnya sangat dekat dengan Merapi. 

Bagian dari Alquran di museum Sisa Hartaku. Tampak lembaran QS. As-Shaaf mulai ayah ke-5. Foto diambil dari kamera Galaxy A12 oleh Abdul Mutaqin 

Bagi sedikit pengunjung –semoga peserta wisata rombongan saya yang menjadi sedikit itu– dua museum itu menjadi semacam “Museum Kenisbian”. Museum yang memancar dari dalamnya ibrah bahwa kapan saja dunia ini akan punah dengan kepunahan yang lebih dahsyat dari akibat erupsi Merapi.

Maka, bijak sekali pesan pada dinding semen pada Museum Mini Sisa Hartaku yang sempat saya ambil gambarnya. Di atas pesan dindingnya, berserak tulang-belulang sapi yang mati "dimakan" abu panas erupsi.

Prasasti di Museum Sisa Hartaku. Foto diambil dari kamera Galaxy A12 oleh Abdul Mutaqin

Jeep Lavatour memberi sinyal pesan tersembunyi dari sekadar plesir yang lebih tampak senda gurau daripada kontemplasinya. Semoga sinyal pesan tersembunyi itu bisa ditangkap pada setiap mata batin peserta wisata. Sebab faktanya, manusia itu suka berlagak arogan. Padahal, yang berhak arogan cuma Tuhan. Manusia hanya kulit pembungkus daging, tulang, darah, organ, kotoran, kencing, dan kentut. Ia tidak lebih perkasa dari butiran debu erupsi. Bahkan, manusia lebih nisbi dari gamelan Mbah Maridjan yang masih utuh, hidup, dan tetap nyaring ditabuh meski pernah diterjang erupsi Merapi.

The Victoria Hotel, Yogyakarta.
20 Januari 2024.

Minggu, 10 Desember 2023

Julid Fi Sabilillaah

Ilustrasi Tentara Netizen Indonesia dari akun @mas_gunadwii 

Perang Julid

Beberapa minggu terakhir ini, ada dua segmen julid yang gencar di sosmed. Pertama, julid fi sabilillah. Kedua, julid diimokroothiyyah. Keduanya sama-sama mengganggu mental orang. Saya lebih tertarik julid yang pertama, julid fi sabilillah. Ada kepuasan melihat mental tentara Israel, politisi Israel, jurnalis Israel, atau pendukung Israel terganggu karena efek serangan pada akun-akun medsos mereka.

Julid fi sabilillah, salah satunya grup TNI (Tentara Netizen Indonesia) yang digawangi akun @mas_gunadwii. Akun ini sudah diikuti 10,6 orang. Ada tiga tujuan serangan TNI, pertama, REAKSI SI TARGET, AKUN DI PRIVATE. Kedua, TARGET BUAT TESTIMONI SERANGAN DARI KITA. Dan ketiga, AKUN TARGET HILANG. Bila salah satu atau ketiga-ketiganya terjadi, misi dinyatakan berhasil.

Efektif? Ya, efektif.

Sudah tidak terhitung akun tentara Israel, publik figur, dan pendukung Israel tumbang. Lebih banyak lagi yang di-private. Tidak sedikit dari mereka membuat testimoni dan bahkan meminta maaf kepada netizen Indonesia. Sebagai contoh presenter asal Israel, Shai Golden.

Golden menjadi bulan-bulanan warganet Indonesia usai pernyataannya yang kontroversial dan sering menghina Palestina. Akun Instagram pribadi miliknya @shaigoldenofficial diserbu dan dirujak oleh warganet yang marah.

Dengan tagar #JulidFiSabilillah, netizen Indonesia tampak memenuhi kolom komentar pada akun Instagram pribadi milik Golden. Belakangan, tak hanya akun media sosial sang presenter, netizen Indonesia menyerang akun media sosial keluarga Golden.

Mental Shai Golden down. Dia mengaku menerima lebih dari 7.000 panggilan telepon, 15.000 halaman dari seluruh media sosialnya, dan 200.000 komentar jahat dari netizen Indonesia. Bayangkan, apa ‘nggak stress?

Golden meradang mengiba, seperti pada tangkapan layar di bawah ini:

Tangkapan layar dari akun netizen Indonesia


Belakangan, gerakan julid mengganggu mental komunitas Israel ini merambah ke OmeTV. Di OmeTV, aksi julid lebih seru. Reaksi marah, down, dan histeris komunitas Israel lebih konkret, sebab OmeTV teknologi audio visual. Siapa penjulidnya, Israel yang dijulidi, gambar dan suara mereka betul-betul konkret. Puas sekali melihat muka orang Israel itu shock di depan kamera. Netizen Indonesia memang tiada dua.

Adab Perang

Beliau seorang da’i. Saya mengikuti akun Facebooknya. Menurut analisis beliau, “Julid fi Sabilillah” termasuk ranah jihad dengan pena. Status beliau soal ini, tampaknya untuk menanggapi pendapat seorang da’i yang menyatakan, "Gaboleh ngejulidin pasukan Israel, itu bukan adab kita. Senjata ampuh kita hanya doa."

Lha, kok begitu? 

Ini situasi perang. Betul, perang ada adabnya. Do’a juga bagian dari senjata perang. Namun, di balik adab dan do’a, ada siasat. Lagi pula soal adab, mana ada sepanjang perang, Israel menerapkan adab. Malah, mereka menggunakan segala siasat keji dengan membunuhi bayi, anak-anak, dan perempuan. Ini bukan lagi perang, melainkan genocide. Sebaliknya, mana ada Hamas membunuh anak-anak, bayi, dan perempuan?

Dalam perang, Hamas lebih paham, baik soal do’a dan adab-adabnya. Bahkan, Hamas tidak pernah lepas dari doa’, adab, dan siasat di medan jihad Palestina. Ikuti saja seruan dan nasihat Abu Ubaidah pada tentaranya yang berseliweran di internet. Seruan dan nasihat Abu Ubaidah sangat gamblang bagaimana seharusnya mereka berjihad di medan Gaza.

Soal siasat perang, di medan Badar, Nabi SAW juga bersiasat. Bahkan, medan Badar menjadi salah contoh konkret perpaduan seni perang antara pertempuran, doa, dan siasat. “Huwa ar-ra'yu, wa-al-harbu, wa-al-makidah” kata Nabi SAW saat menerima saran laki-laki dari Bani Sulaim agar Nabi memindahkan pasukan pada posisi yang lebih strategis dekat dengan sumber mata air Badar.

Julid dan Siasat Jihad dengan Pena

Satu riwayat dikutip di laman Facebook da’i yang mendukung “Julid fi Sabilillah”. Riwayat dimaksud dinukil dari kitab karya Ibn an-Nuhas al-Dimasyqi al-Dumyathi. Dikatakan, an-Nuhas adalah mujahid yang syahid dalam satu episode Perang Salib pada 814 H/ 1411M di kawasan Damietta (Dumyat), di utara Mesir.

an-Nuhas sempat menulis kitab beberapa tahun sebelum kesyahidannya, “Masyari’ al-'asywaq 'iilaa mashori’i al-Usysyaq”. Kitab ini berisi tentang hukum jihad, kelebihan, dan seruan melaksanakan jihad. an-Nuhas membawakan hadits dari Anas bin Malik RA, ”Jaahiduu al-musyrikiina bi-amwalikum, wa-anfusikum, wa-alsinatikum.” Perangilah kaum musyrikin itu dengan harta kalian, jiwa kalian, dan lidah kalian. an-Nuhas mengatakan, maksud dengan lidah adalah “perdengarkan kepada mereka hal yang mereka benci”, “membuat mereka tertekan berupa hija` (syair hinaan)”, atau kata-kata kasar dan semisalnya”.

Menggetarkan hati musuh termasuk strategi perang. Itu bisa dilakukan dengan menyerang secara fisik, mengancam mereka, membongkar propaganda kebohongan mereka, dan termasuk menjulidi mereka. Maka, boleh jadi, menyerang akun tentara Israel yang menjadikan mereka stress termasuk pengamalan konkret hadits ini sebagaimana pendapat an-Nuhas. Rasanya, pendapat an-Nuhas ini lebih masuk akal dan kontekstual.

Jadi, dalam jagat perang maya, “Julid fi Sabilillah” boleh jadi juga termasuk isyarat “Huwa ar-ra'yu, wal-alhrbu, wa-al-makidah” bahwa perang itu tipu muslihat seperti saran Al-Khabab bin Al-Mundzir yang mengusulkan kepada Rasulullah untuk menjalankan strategi perang Badar yang membuat pasukan Islam yang berkekuatan kecil bisa memenangkan pertempuran bersejarah ini.

Ikutan Julid

Meskipun TNI hanya menggerakkan perang maya, tapi pola pergerakannya diatur rapi, tidak sembarangan, dan satu komando. Para anggota diarahkan bagaimana menyerang, kapan serangan dilakukan, dan apa tindak lanjut sesudah melakukan serangan. Di sini @mas_gunadwii telaten sekali membimbing pasukannya, menyusun target, dan menginstruksikan penyerangan. Keren.

Bahkan @mas_gunadwii terus mengawal dan merespons setiap perkembangan di lapangan, termasuk soal adanya deteksi dari pergerakan perlawanan atau penyusup dari channel cyber operasi khusus.

Luar biasa, ini seperti perang darat di dunia nyata. Karena itu, @mas_gunadwii selalu mengingatkan agar Mujahid Cyber Army wajib bertaqwa kepada Allah, meluruskan niat, hindari perdebatan, bersabar dan terus berdoa. Tentu, ini penting sebagai bagian dari jihad meskipun mungkin nilai jihadnya tidak lebih besar dari sebutir debu yang menempel di ujung sepatu Abu Ubaidah dan para pejuang Hamas.

Malam ini, dua rudal julid saya tembakkan ke akun milik boaz_bismuth sesuai terget yang direkomendasikan @mas_gunadwii. Satu target lagi tidak bisa saya serang karena lebih dulu sudah di-privat pemiliknya, yaitu sharrenhaskel, politikus Israel. Rupanya, sharrenhaskel sudah kena mental lebih dahulu sebelum saya ikutan nyerang akunnya.

Di akun boaz-bismuth, komentar saya begini:

חשבתי שישראל נהדרת, כנראה שזה היה רק ​​צבא של סיסים שהרגו ילדים ולכדו תינוקות. אבל, אני עדיין מתפלל בשבילך, שהמלאכים יהיו איתך. מלאך המוות אני מתכוון.

Artinya kira-kira, “Kukira Israel hebat, rupanya hanya tentara para banci yang membunuhi anak-anak dan menangkapi bayi-bayi. Tapi, aku masih mendoakanmu, semoga malaikat bersamamu. Malaikat maut maksudku."

Komentar kedua

היי כלבי גיהנום! שים את החיתול שלך!

“Hei anjing neraka! Pakai popokmu!”

Setelah menyerang, saya laporkan akun boaz-bismuth, sebagai akun penyebar kebencian atau alasan lain.




Bayangkan, bila dalam satu aksi seluruh anggota TNI melakukan serangan, dalam hitungan jam, bahkan hanya hitungan menit, tentara Israel itu kena mental. Selanjutnya, mereka akan mem-private akun sehingga tidak bisa diserang lagi. Bisa jadi mereka melaporkan balik serangan. Nah, yang paling menyenangkan bila akun mereka tumbang karena diblokir Instagram.

Bila serangan berhasil, selalu ada report yang diunggah di grup Telegram milik TNI. “Mission Complete. Good Job Team. Uraaaaaaa!”

Tangkapan layar dari akun Tentara Netizen Idonesia

Julid Diimokroothiyyah

Ini julid urusan demokrasi yang kadang menjadi bumerang atas nama kebebasan berekspresi. Julid yang ini saya tidak ikutan. Di samping buang-buang waktu, julid ini kurang berfaedah. Lagi pula, hanya menambah beban psikologis target. Tidak dijulidi saja sudah kasihan lihat wajahnya. Tentu, tambah kasihan bila kapasitasnya menjadi objek julid dari Sabang sampai Merauke.

Sebelum soal asam sulfat, memang sudah banyak celah orang menjulidi sosok ini. Terutama dari mereka yang berseberangan dalam pilihan politik. Tambahan lagi, saat dia mengingatkan ibu hamil jangan sampai kekurangan asam sulfat pada satu forum dialog kaum milenial, dia dijulidi habis-habisan. Bayangkan, masa orang hamil harus dikasih asam sulfat? Itu, kan bahan kimia keras?

Entah memang kapasitas soal asam-asaman yang minim atau keseleo lidah, kontan lontaran soal asam sulfat ini menjadi ramai di jagad julid.

Tidak semua orang gampang memberi maklum. Bisa saja si masnya sedang keseleo lidah. Mungkin yang dia maksud adalah asam folat, bentuk sintetik dari vitamin B9 yang mudah larut dalam air. Vitamin B9 juga dikenal sebagai folat atau folacin.

Asam folat berperan penting dalam pembentukan sel darah merah, mendukung daya tahan tubuh, dan menunjang proses tumbuh kembang janin. Bagi ibu hamil, manfaat asam folat memang sangat penting untuk mencegah neural tube defect (cacat tabung saraf), seperti anensefali (janin tidak memiliki otak), dan spina bifida (janin tidak memiliki sumsum tulang belakang).

Sudah barang tentu, kandungan asam folat sangat penting bagi ibu hamil. Ia membantu perkembangan otak dan sumsum tulang belakang janin, membantu pembentukan plasenta, dan membantu mencegah preeklamsia, yaitu kondisi serius yang dapat terjadi pada kehamilan.

Karena itu, di samping konsumsi susu dan telur, untuk memenuhi kecukupan asam folat, ibu hamil dianjurkan mengkonsumsi sayuran hijau, buah-buahan, dan kacang-kacangan. Susu dan telur, sayuran hijau, buah-buahan, dan kacang-kacangan merupakan bahan yang banyak mengandung asam folat. Jadi, bukan H 2SO 4, alias asam sulfat yang dibutuhkan ibu hamil.

Sadisnya Netizen Indonesia

Sadisnya netizen Indonesia itu tidak ketulungan. Asam sulfat jadi menu julid paling gila sepanjang suhu pilpres semakin naik. Status, meme, dan sindiran di dunia maya seperti air bah yang susul menyusul. Gibran Rakabuming Raka, si “pencetus” asam sulfat itu menuai julid berjilid-jilid.

Dalam satu meme berjudul “Asyiknya Jadi Gibran”, ditampilkan tiga panel dengan ilustrasi gambar dan dialog. Panel pertama berisi: “Bila Gibran makan rendang yang kegigit lengkuas, BPOM segera tetapkan lengkuas berbahaya dan harus dimusnahkan”. Panel kedua berisi: “Gibran kena tilang Ganjil Genap. Ganti hari kalender jadi Minggu semua.” Panel ketiga berisi: “Nilai Matematika Gibran dapet 5. Dikbud Hapus Matematika dari kurikulum.”

Apa enggak sadis ini?

Akun Instagram dan twitter milik Gibran pun diserang. Dari sindiran yang berasa asam, asin, sampai yang pahit mampir berdesak-desakan. Boleh jadi Gibran santai-santai saja, akan tetapi, sedikit atau banyak, efek psikologisnya bagi Gibran pasti ada.

Asam folat dan asam sulfat itu terlalu jauh meskipun sama-sama disebut asam. Di era informasi terbuka seperti hari ini, perpustakaan maya terbuka 24 jam, sebenarnya tidak sukar sekadar mengulik dulu informasi sebelum bicara, apalagi bicara di forum resmi. Sebab, sekali salah bicara di dunia maya, nggak bisa di-tipe-ex. Alih-alih ingin merebut citra, malah panen julid dari netizen.

Boleh saya duga, para pengusung atau pihak yang selama ini memuji-muji Gibran pun, merasa gerah mentalnya. Gerah karena tokoh idola yang diusungnya salah ucap, dan gerah bagaimana harus menutupi soal asam sulfat itu karena sudah kadung sang pencetus diidolakan dan didukung.  

Begitulah hal yang lumrah saat ini. Namun, daripada julidin asam sulfat, lebih baik julidin Israel. Uraaaaa!

Happy weekend.

Sabtu, 09 Desember 2023

Naskah Pentigraf MTs Pembangunan 2023 yang Lolos Seleksi




MTs Pembangunan kembali menggelar event menulis. Dimulai dari rangkaian kegiatan Field Trip, kemudian dilanjutkan dengan event menulis Pentigraf. Tim Editor yang bekerja sejak akhir Oktober 2023, telah menyelesaikan 100 % proses naskah seleksi dan editing.

Pengumuman hasil seleksi telah dimuat di situs ini secara berkala setiap Sabtu, dimulai Sabtu, 09 Desember 2023 sampai dengan Sabtu, 23 Desember 2023. Hari ini, Sabtu, 23 Desember 2023 adalah pengumuman tahap terakhir naskah yang lolos seleksi. Kepada para penulis yang naskahnya belum lolos seleksi, tetap semangat menulis untuk mengikuti event-event menulis berikutnya,

Keputusan Tim editor bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

Selamat kepada penulis yang naskahnya sudah dinyatakan lolos TIM Editor berikut ini:

  1. Akbar Diawur. Judul pentigraf "Kehidupan di Masa Depan".
  2. Athaya Juneeta. Judul Pentigraf "Warisan Nenek".
  3. Binar Bening Embun. Judul Pentigraf "Mukidi".
  4. M. Akhtar Ziyad. Judul Pentigraf "02.09".
  5. Malvin Samih Rahman. Judul Pentigraf "Ibu Yang Tak Kunjug Pulang".
  6. Masogi Anugerah Kasih Rabbi. Judul Pentigraf "Burung Raksasa".
  7. Muhamad Bassel Daniyal AlFaruq. Judul Pentigraf "Pemulung".
  8. Nadira Azka Ramadhani. Judul Pentigraf "Kejutan".
  9. Queenshi. Judul Pentigraf "Teror Desa".
  10. Raja Edra Akbar. Judul Pentigraf "Faiq Si Penolong".
  11. Raisa Apna. Judul Pentigraf "Siapa Itu".
  12. Zyannisa Nabila Azzahra. Judul Pentigraf "Revolusi".
  13. Kenzie Kayana Zhafif. Judul Pentigraf "Persahabatn di Hutan yang Ajaib".
  14. Afkar Muzakky Adnan. Judul Pentigraf "Penyesalan".
  15. Muhammad Rasya Abbas. Judul Pentigraf "Rumah di Ujung Desa".
  16. Haseena Ismail Effendi. Judul Pentigraf "Melodi Cinta di Bawah Pohon Willow".
  17. Chloe Renata Putri. Judul Pentigraf "Mimpi Buruk".
  18. Arulintang Syabana. Judul Pentigraf "Misteri Lemari Es Kosong".
  19. Nasywa Alifiatama Andarieska. Judul Pentigraf "Sekolah Sepi".
  20. Fabian Akmal Muhammad. Judul Pentigraf "Berlibur ke Rumah Nenek".
  21. Jevan Atallah Vireindra. Judul Pentigraf "Insiden Bandung".
  22. Dhiya Nayla Azka. Judul Pentigraf "Kembali".
  23. Syahrazade Aqila Omar. Judul Pentigraf "Bandung dan Misterinya".
  24. Amanda Syafira Putri Feliza. Judul Pentigraf "Every Summertime".
  25. Gita Salsabillah Fitriana. Judul Pentigraf "Hotel".
  26. Sofia Latifa Diyarsyah. Judul Pentigraf "Usaha Mencari Jodoh".
  27. Akmal Khairy Hanifa. Judul Pentigraf "Dalam Ingatan".
  28. Cleophil Ayersa Fidelia Haris. Judul Pentigraf "Seblak dan Kencurnya".
  29. Almira Hana Imtinan. Judul Pentigraf "18 A".
  30. Muhammad Faiq Athallah Triatmoko. Judul Pentigraf "Peristiwa di Bandung".
  31. Adinda Fayza Mashur. Judul Pentigraf "Berlibur ke Rumah Kakek".
  32. Aisha Noor Aqeela. Judul Pentigraf "Bintangku". 
  33. Amirah Tsurayya Fauziyah. Judul Pentigraf "Hujan yang Menemani". 
  34. Aqilah Khairil Azkia. Judul Pentigraf "Hilang". 
  35. Averil Adilah Azhar. Judul Pentigraf "15 Mei 2022". 
  36. Azzahra Rachmi Khairussyifa. Judul Pentigraf "Bandung". 
  37. Dzaky Prawira Nugroho. Judul Pentigraf "Makhluk Ajaib Penjaga: Lembah Cintaku". 
  38. Erfina Syafira Ramadhani. Judul Pentigraf "Forget ".
  39. Fathan Jannatu Akbar. Judul Pentigraf "Penjaga Hutan". 
  40. Fina Nailatul Izzah. Judul Pentigraf "Sang Penjaga Hutan".
  41. Janeeta Raissa. Judul Pentigraf "Kota Bandung".
  42. M. Fadhil Alfairuzabadi. Judul Pentigraf "Kembaran Alam Ghaib".
  43. Maliq Al Rassya. Judul Pentigraf "Si Bajak Laut". 
  44. Mazaya Aleisha Vega. Judul Pentigraf "Melukis Celengan".
  45. Muhammad Fauzi Al Rasyid. Judul Pentigraf "Perjalanan ke Dunia Ajaib".
  46. Nanda Arsyad Abdurrachman. Judul Pentigraf "Field Trip ke Bandung". 
  47.  Nazhwa Aurelia Pahlevi. Judul Pentigraf "Tetap Sahabat".
  48. Prama Putra Iwara. Judul Pentigraf "Hotel Angker". 
  49. Quinta Nabila Pramidhita. Judul Pentigraf "Kesalahan di Rumah Nenek". 
  50. Radinka Rahardhika Ramadhan. Judul Pentigraf "Hutan Misterius". 
  51. Raihannah Fatihah Mecca. Judul Pentigraf "Hari Ulang Tahun". 
  52. Rasyad Ali Firmansyah. Judul Pentigraf "Maya Si Ilustrator Muda". 
  53. Sakatama Athallah Devano. Judul Pentigraf "Suara Misterius". 
  54. Sher Yardan Didier Daulat. Judul Pentigraf "Museum Geologi". 
  55. Fathan Atallah Zhafar. Judul Pentigraf "ChronoSphere". 
  56. Khanza Aira Putri. Judul Pentigraf "Kejadian Aneh di Museum". 
  57. Abdurrahman Aliy. Judul Pentigraf "Tertinggal".
  58. Aysha Cheryl Fauzi. Judul Pentigraf "Bermain Dalam Hujan". 
Disampaikan kepada peserta menulis Pentigraf 2023 MTs yang naskahnya lolos seleksi untuk mengikuti tahap kelengkapan administrasi. Kelengkapan administrasi dapat diakses di situs https://s.id/duniapentigraf

Jakarta, 23 Desember 2023.

TIM Editor

Senin, 27 November 2023

Panti Yatim Literat

Lintang Aulia Madani, salah satu kontributor Antologi Janji Surga Tertinggi dan Lezatnya Kesabaran

Menemukan quote Toni Morrison yang ini: “If there's a book that you want to read, but it hasn't been written yet, then you must write it,” jadi merenung. Kata Morrison, jika ada buku yang ingin kamu baca, tetapi belum ditulis, maka kamu harus menulisnya.

Ini gimana? Tapi, iya juga, sih.

Masalahnya, menulis itu tidak mudah. Ia bukan keterampilan cepat saji seperti memasak mie instan yang cuma butuh 2 sampai 4 menit saja mie sudah bisa dinikmati. Sedangkan menulis untuk melahirkan karya buku, prosesnya panjang dan melelahkan.

Menulis juga butuh ‘banyak’ modal; modal banyak baca, banyak jalan-jalan, banyak riset, banyak berlatih, dan banyak mengamati topik yang sedang hangat dibincangkan. Peka pada momentum juga penting sebagai modal menulis. Jadi, tidak sesederhana yang diucapkan Morrison.

Boleh jadi, bagi Morrison menulis itu sederhana, sesederhana penulis Afro-Amerika ini memasak mie instan. Wajar sih, dia memang penulis kawakan. Romannya; Beloved mengantarkannya memenangkan Pulitzer Prize pada 1988. Pada 1993, Morrison dianugerahi Hadiah Nobel dalam bidang Sastra. Ia menjadi tokoh pertama Afro-Amerika yang menerima penghargaan ini.|

Setahun lalu, pada 18 November 2022, sehari sebelum ikut hadir di arena menggembirakan Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Surakarta, saya menginap di Panti Asuhan Yatim ‘Aisyiyah 03 Banyudono, Boyolali. Bukan suatu kebetulan, ustaz dan ustazah Pengasuh panti ini dulunya berkhidmah pada Pondok Pesantren Muhammadiyah Darul Arqam, Sawangan, Depok tempat istri saya mondok.

Saya senang, Pengasuh panti menaruh perhatian besar pada literasi menulis. Beliau ingin anak-anak asuhnya melek literasi, punya skill menulis, salah satu keterampilan untuk menjawab kebutuhan abad 21. Saya pikir ini sosok Pengasuh panti yang “langka”. Gagasannya langka pula untuk dunia panti, meskipun pada panti di bawah pembinaan Muhammadiyah atau Aisyiyah. Ini sesuatu banget.

Maka, saya penuhi keinginan Pengasuh. Saya bersedia sharing tips menulis meskipun dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Jadilah small workshop menulis. Saya ajak penghuni panti memulai menulis yang enteng-enteng; cerpen dan pentigraf berbasis pengalaman keseharian. Filosofinya sederhana, yakni menulis hal-hal ringan dari pengalaman keseharian jauh lebih mudah dituangkan dalam narasi daripada murni berbasis imajinasi sebagai sifat dari karya fiksi.

Sebagaimana sudah dimaklum, Muhammadiyah dan Aisyiyah mengusung tagline “berkemajuan” dan “mencerahkan”. Tentu saja, salah satu poin dari makna di balik tagline “berkemajuan” dan “mencerahkan” adalah kemampuan berliterasi. Satu dari sekian kemampuan berliterasi itu adalah literasi menulis di samping literasi membaca.

Dari sini, bolehlah disimpulkan, bahwa salah satu ciri dari karakter berkemajuan dan mencerahkan ada pada aktivitas membaca dan menulis. Semakin intens aktivitas membaca dan menulis, semakin tampak jelas karakter berkemajuan dan mencerahkan itu. Sebaliknya, bila tidak ada aktivitas membaca menulis, bahkan terkesan senyap karena tidak menaruh perhatian sedikitpun, karakter berkemajuan dan mencerahkan seperti rasa masakan tanpa garam.

Seharusnya, geliat aktivitas membaca dan menulis dalam konteks melahirkan produk pada sekolah-sekolah dan pondok-pondok pesantren Muhammadiyah menjadi aktivitas dominan di semua tingkatan. Bila perlu, keterampilan menulisnya menjadi distingsi dan mendapat perhatian serius. Karena kita tahu, lembaga-lembaga pendidikan Muhammadiyah merupakan basis persemaian kader persyarikatan. Orang boleh kurang setuju, tapi bagi saya ini penting, bahwa kader persyarikatan harus fasih lidah dan “fasih” penanya.

Menulis itu bukan bakat, melainkan keterampilan. Keterampilan itu perlu dilatih. Semakin dilatih, semakin terampil. Karena kemampuan menulis itu sebuah keterampilan, maka siapa pun harus berlatih. Semakin intens ia berlatih menulis, semakin mahir dia menulis. Boleh jadi, benarlah tips menulis yang diberikan Kuntowijoyo. Kata budayawan Muhammadiyah ini, kunci supaya mahir menulis hanya tiga. Pertama, menulis. Kedua, menulis. Dan ketiga, menulis.|

Sebenarnya, saya menyimpan tulisan ini sejak setahun lalu, saat pulang dari Panti Asuhan Yatim ‘Aisyiyah 03 Banyudono, Boyolali itu. Bagaimanapun, saya tahu kerepotan melahirkan karya buku. Apalagi, gagasan besar ini diusung Panti Asuhan Yatim dengan segala keterbatasannya. Jadi, andaikata tidak ada karya yang lahir dari small workshop menulis dari jemari anak-anak panti, permakluman saya lebih besar dari harapan saya yang menggunung.

Rupanya, pendampingan terus dilakukan Pengasuh panti selepas saya pulang. Pengasuh selalu memompa semangat menulis anak-anak asuhnya hingga lahir karya antologi cerpen dan pentigraf perdana mereka “Lezatnya Kesabaran” dan “Janji Surga Tertinggi” dalam dua wajah pada satu format buku. Ini benar-benar mengubah stigma panti yang cenderung dipandang sebagai “mustad’afin” di beberapa lini hidup mereka.

Tentu, saya malu sendiri dengan asumsi saya di muka, bahwa keterbatasan panti akan menghambat mereka berkarya. Nyatanya tidak. Di tangan saya sekarang antologi itu bisa saya raba. Tekstur paragraf, penokohan, diksi, alur, konflik, dan ending cerita sudah saya baca separuh. Ini patut disambut gembira segembira menyandang sebutan “berkemajuan” dan “mencerahkan” dalam kumpulan narasi yang dibukukan. Adakah panti Muhammadiyah atau Aisyiyah lain yang sudah melangkah sejauh ini?|

“Lezatnya Kesabaran” dan “Janji Surga Tertinggi” lahir dari rekaman hidup yang diawetkan. Anak-anak Panti Asuhan Yatim ‘Aisyiyah 03 Banyudono, Boyolali lah yang telah mengawetkan alur hidup mereka melalui karya ini. Para penulisnya telah membuktikan diri sebagai penghuni Panti Asuhan Yatim Literat. Capaian ini belum tentu bisa digapai lembaga yang sama, baik proses maupun produknya.

Saya maklum, segala sesuatu belum akan sempurna tiba-tiba. Begitu juga sebuah cerita. Cerita yang menarik, dibangun dari ide, penokohan, alur, konflik, dan ending yang menarik. Yang tidak kalah penting adalah cara menyajikan cerita yang unik, genunie, dan natural. Jalan ke sana memang masih panjang. Akan tetapi, apabila jalan itu sudah berani diretas, setengah dari pertarungan sudah dimenangkan para pejuang.

Melahirkan karya literasi memang rumit. Namun, kerumitan itu pasti akan terurai seiring waktu, seiring banyak berlatih, seiring karya-karya berikutnya datang menyusul. Bila ritme ini bisa dipelihara Pengasuh, saya percaya, akan lahir dari anak-anak Panti Asuhan Yatim ‘Aisyiyah 03 Banyudono, Boyolali setelah “Lezatnya Kesabaran” dan “Janji Surga Tertinggi” karya berikutnya. Saya menantikannya sebagai penebus rasa bersalah menunda tulisan ini setahun berlalu.

Satu frasa dari saya untuk Panti Asuhan Yatim ‘Aisyiyah 03 Banyudono, Boyolali; “Panti ini sudah menemukan distingsinya”. Tanpa perlu meminta izin Toni Morrison, saya modifikasi quote-nya yang keren itu. “Jika ada panti yang ingin punya distingsi literasi, tetapi ia belum memulai, maka kalianlah yang telah memulainya.”

Salam literasi.
Depok, 27 November 2023.


Kamis, 23 November 2023

Gaji Guru dan Konflik di Ruang Dapur


Ilustrasi Gandum. FOTO/iStockphoto

Catatan ini berangkat dari citra guru pada era keemasan Islam. Sedikit capek menyelisik beberapa jurnal berbahasa Arab dan mengikuti ulasan seorang Kiai Muda dengan wawasan sejarah peradaban Islam yang keren, catatan ini hadir mendahului Hari Guru yang akan jatuh pada Sabtu, 25 November 2023 esok. Karena itu, catatan ini juga agak panjang. Tidak seperti catatan-catatan saya yang lain.

Tidak mengapa catatan ini mendahului Hari Guru yang substansinya juga belum jelas untuk apa. Akan tetapi, substansi dari peradaban Islam yang menempatkan guru begitu terhormat, seolah nasib guru hari ini mundur ribuan tahun. Coba simak pelan-pelan catatan ini sambil ngopi-ngopi dengan kakanda atau adinda di rumah.

Pada masa peradaban Islam, gaji guru –ini salah satu poinnya–bikin ngiler. Andaikata zaman ini bisa diputar ulang –seperti cerita sinetron Lorong Waktu-nya Deddy Mizwar– banyak guru akan menekan tombol “Masa Khilafah Islam”, terlempar dan mendarat di pusat Madinah, Baghdad, Damaskus, atau Andalusia, lalu mendaftar menjadi guru atau dosen untuk mencicipi manisnya buah peradaban yang tinggi di sana.

Berangan-angan, boleh dong. Namun boleh jadi, berangan-angan masuk ke lorong waktu untuk bisa nyicipin gaji guru di masa khilafah itu bisa dicap halu di siang bolong. Guru berprestasi bukan, malah jadi ‘guru halu’. Haaaaaa.

Akan tetapi, masih bahagia guru halu ketimbang guru ngenes. Se-halu-halu-nya guru halu, masih bisa tidur nyenyak. Guru halu masih bisa senyum meskipun itu senyum utopis. Sedangkan guru ngenes, senyumnya saja senyum breakdown, apalagi tangisannya.

Link Provokasi

Kemarin, ada teman yang berbaik hati menyodorkan link berita soal kasus guru di gorontalo.tribunnews. Saya tahu maksudnya, dia ‘mancing-mancing’ agar muncul tulisan saya ala kadarnya menanggapi. Teman ini tahu betul kelemahan saya yang mudah diprovokasi bila sudah berurusan dengan menulis.

gorontalo.tribunnews memuat akar konflik guru vs yayasan di sebuah sekolah. Seperti umumnya konflik dua entitas sekolah ini meletup, lagi-lagi pangkalnya adalah urusan kesejahteraan atau urusan honor. Ini masalah klasik. 19 tahun yang lalu saya mengalami hal ini.

Kasus-kasus seperti yang diangkat gorontalo.tribunnews ini selalu berulang. Ada yang kasusnya diekspos, ada yang disenyapkan. Boleh jadi, kasus yang disenyapkan tidak terhitung intensitasnya karena terlalu sering dan senyap.

Silakan browsing saja di internet untuk membaca lebih jelas beritanya. Ketik saja keyword “Yayasan Al-Azhar Gorontalo” pada search engine Google Chrome Anda.

Martabat Guru di Era Khalifah Rasyidah

Hampir seribu tahun lalu di era khilafah, profesi paling bergengsi adalah guru. Potensi intelektual dan aktivitas mengajar mereka benar-benar ditempatkan pada maqam terhormat. Besaran gaji mereka pada masa itu benar-benar mencitrakan guru sebagai pahlawan dengan tanda jasa.

Meskipun gaji bukanlah segala-galanya, penguasa dan masyarakat menjaga muruah guru dengan memberikan gaji yang cukup. Penguasa dan masyarakat sangat mengerti bahwa waktu guru lebih banyak untuk berkhidmat kepada ilmu dan mengajar. Maka, tidak ada penghormatan bagi guru secara materi selain memberikan mereka gaji yang cukup sebanding dengan sumbangsihnya mencerdaskan umat.

Ibnu Abi Syaibah mengisahkan soal kisaran gaji seorang guru di Madinah pada masa khulafaurrasyidin. “Di Madinah ada tiga orang guru yang mengajar anak-anak. Umar memberi masing-masing mereka gaji sebesar lima belas setiap bulan.” kata Ibnu Abi Syaibah.

15 apa? Dinar atau dirham? Kita selisik saja keduanya. Lalu timbang, yang mana yang lebih masuk akal.

Standar Dinar adalah emas, dan standar Dirham adalah perak. Satu Dinar di masa Nabi SAW setara dengan harga satu ekor kambing kualitas super. Patokan ini berdasar riwayat Imam Bukhari bahwa Nabi SAW pernah memberi Urwah satu Dinar untuk dibelikan seekor kambing.

Anggaplah hari ini seekor kambing kualitas super harganya Rp. 2.950.000. Bila harga ini dijadikan patokan Dinar, artinya gaji yang diberikan Khalifah Umar RA yang sebesar 15 Dinar kepada guru anak-anak di Madinah itu setara Rp. 44.250.000.

Ah, masa iya gaji guru untuk mengajar anak-anak sebesar itu. Boleh jadi banyak di antara kita terheran heran dan bertanya demikian. Boleh jadi pula keheranan itu lahir dari pengalaman praktis melihat atau merasakan gaji guru hari ini.

Oke lah. Mungkin gaji sebesar itu tidak rasional. Angkanya terlalu fantastis. Gaji sebesar itu, bikin guru halu bertambah halu saja. Kita konversi saja dengan ukuran 15 Dirham.

Pada masa Khalifah Umar, 1 ekor kambing kualitas super harganya 6 dirham. Bila patokan harga 1 Dirham yang dipakai adalah Rp. 491.000, berarti harga seekor kambing seharga Rp. 2.950.000. Iya, kan? Nah, bila dikalikan dengan 15 Dirham, maka besaran gaji guru anak-anak di masa Umar RA sebesar Rp.7.366.500 per bulan.

Tampaknya, angka ini lebih rasional bila dicocokkan dengan struk gaji guru di suatu madrasah di negeri antah berantah.

15 Dinar atau 15 Dirham?

kanzunqalam.com sempat menurunkan tulisan yang meluruskan kekeliruan soal gaji guru anak-anak di masa Umar RA ini. Menurutnya, yang benar bukan 15 Dinar, melainkan 15 Dirham. Namun, 15 Dinar menurut saya lebih tepat daripada 15 Dirham. Berikut alasannya.

Pertama, sudah dimaklumi, pada masa khalifah Umar RA, kebijakan perluasan wilayah Islam meraih sukses gilang gemilang. Negara di bawah khalifah Umar mencakup Jazirah Arabia, Palestina, Syria, sebagian besar wilayah Persia dan Mesir. Oleh Khalifah Umar RA, administrasi pemerintah dibagi menjadi delapan wilayah provinsi: Makkah, Madinah, Syria, Jazirah, Basrah, Kufah, Palestina dan Mesir. Konsekuensinya, wilayah Islam yang membentang sangat luas itu berpengaruh signifikan pada pendapatan negara dari berbagai sumber keuangan.

Kedua, Khalifah Umar RA adalah penguasa pertama yang menetapkan kebijakan keuangan dalam Islam. Umar lah khalifah pertama yang mengatur pendapatan dan pengeluaran keuangan, bagian-bagiannya, dan mengatur pembukuannya masing-masing.

Ketiga, khalifah Umar RA mengatur distribusi Baitul Mal kepada tiap-tiap golongan dengan besaran yang berbeda-beda, sebagai berikut:
Kepada Aisyah RA dan Abbas bin Abdul Muthalib RA masing-masing diberikan 12.000 dirham;
Para istri Nabi selain Aisyah RA masing-masing diberikan 10.000 dirham;
Ali, Hasan, Husain, dan para pejuang Badr masing-masing diberikan 5.000 dirham;
Para pejuang Uhud dan migran ke Abyssinia masing-masing diberikan 5.000 dirham;
Kaum muhajirin sebelum peristiwa Fathu Makkah masing-masing diberikan 3.000 dirham;
Putra-putra para pejuang Badr, orang-orang yang memeluk Islam ketika terjadi peristiwa Fathu Mekah, anak-anak kaum muhajirin dan anshar, para pejuang perang Qadisiyyah, Uballa, dan orang-orang yang menghadiri perjanjian Hudaibiyyah masing-masing diberikan 2.000 dirham.
Orang-orang Makkah yang bukan termasuk kaum Muhajirin mendapat tunjangan 800 dirham, warga Madinah 25 dinar, kaum muslimin yang tinggal di Yaman, Syria dan Irak memperoleh tunjangan sebesar 200 hingga 300 dirham, serta anak-anak yang baru lahir dan yang tidak diakui masing-masing memperoleh 100 dirham;
Di samping itu, kaum muslimin memperoleh tunjangan pensiun berupa gandum, minyak, madu, dan cuka dalam jumlah yang tetap. Kualitas dan jenis barang berbeda-beda di setiap wilayah.
Dengan catatan di atas, rasanya, gaji guru pada pada masa Khalifah Umar RA sebesar 15 Dinar, atau setara dengan Rp. 44.250.000 per bulan itu sangat masuk akal. Dengan kebijakan keuangan negara yang difokuskan khalifah Umar RA untuk kesejahteraan rakyat, termasuk guru, boleh jadi 15 Dinar bukan angka fantastis.

Kasus Perang Badar dan Upah Mengajar Calistung

Pada peristiwa Perang Badar –17 Ramadan 2 H/13 Maret 624 M–, 68 orang dari musyrikin Makkah menjadi tawanan perang. Nabi SAW menetapkan, harga tebusan tawanan saat itu nilainya 1.000 sampai 4.000 Dirham sesuai tingkat kekayaan masing-masing tawanan.

Yang menarik, bagi tawanan yang tidak sanggup membayar tebusan karena kemiskinan dan dia pandai baca tulis, dia dibebaskan dengan syarat. Syaratnya dia harus mengajar sepuluh anak-anak Madinah keterampilan menulis.

Catat, jika satu Dirham senilai Rp. 491.000 itu dikonversi dengan harga tebusan yang terendah yaitu 1.000 Dirham, itu artinya, harga satu tawanan Badar nilainya Rp. 491.000.000. Bila angka itu dibagi 12 sebagai ukuran gaji per bulan, nilainya Rp. 40.916.000.

Waw! Angka ini mendekati gaji per bulan mengajar menulis anak Madinah di masa Umar RA yang 15 Dinar per bulan.

Insentif Guru di Era Khilafah

Di era khalifah Umar bin Abdul Aziz, gaji guru tak ada ada obat. Cicit dari Umar bin Khattab RA, khalifah ke-8 Daulah Bani Umayyah ini pernah menginstruksikan para gubernurnya untuk mendata orang-orang yang berprofesi sebagai guru. Khalifah kemudian memerintahkan para gubernur memberikan setiap guru sebesar 100 Dinar dari kas negara. Alasan khalifah, karena guru sudah terlalu sibuk mengajar hingga tidak punya waktu banyak untuk mengurus urusan dapur mereka.

Di era Daulah Bani Abbas pada masa Harun al-Rasyid memerintah, khalifah ke-5 yang naik tahta pada usia 20 tahun menggantikan kakaknya, Abu Muhammad Musa al-Hadi (764-786 M) mengeluarkan kebijakan bikin ngiler. Guru dan ulama benar-benar dimuliakan karena aktivitas dan karya kreatif di bidang literasi ilmiah. Karya tulis guru dan ulama, baik karya sendiri maupun terjemahan ditimbang. Seberapa pun berat buku karya mereka dihargai dengan emas seberat bobot timbangan buku atau karya terjemahan mereka.

Saat Daulah Ayyubiyah berkuasa, Ayyubiyah fokus membangun angkatan perang dan program-program militer guna menghadapi pasukan salib yang menjajah sebagian wilayah kaum muslimin termasuk menguasai al-Quds. Meskipun demikian, menurut laporan Imam Suyuthi rahimahullah, Sultan Shalahuddin al-Ayyubi tetap memperhatikan pendidikan. Gaji guru pada masa itu bikin bengong sambil ngiler guru di suatu madrasah di negeri antah berantah.

Di madrasah yang didirikannya –Madrasah Ash-Shalahiyyah– Sultan memberikan gaji guru sebesar 40 dinar setiap bulan. Ini setara dengan Rp. 156.000.000. Gaji juga diberikan masing-masing sekitar 10 dinar atau sekitar Rp. 39.000.000 untuk pengelola madrasah. Selain gaji pokok, Sultan juga memberikan tunjangan makanan pokok sebesar 60 rithl Mesir – kurang lebih 10 kg– setiap hari kepada para guru dan pengelola madrasah.

Di zaman ini, gaji guru untuk mengajar anak-anak pada masa Umar RA yang sebesar Rp. 40.916.000 per bulan, itu bukan fakta yang musykil diterima. Tengoklah Austria. Gaji guru di negara yang terletak di bagian tengah Eropa Utara ini adalah gaji guru paling rendah di antara 10 negara dengan gaji guru tertinggi di dunia. Meskipun angkanya paling rendah, gaji rata-rata guru di Austria adalah US$ 50.000 per tahun atau setara Rp. 715.000.000 atau Rp. 56.500.000 per bulan.

Angka Rp. 56.500.000 gaji guru di Austria per bulan hari ini, selisihnya hanya Rp.15.584.000 lebih tinggi dari gaji yang diberikan Umar RA 1.379 tahun yang lalu.

Rasa-rasanya, Khalifah Umar RA lebih paham soal kedudukan ilmu dan kemuliaan guru daripada pemerintah Austria. Maka, 15 Dinar gaji guru untuk mengajar anak-anak di Madinah yang diberikan Umar RA menjadi masuk akal.

Rp. 44.250.000 per bulan untuk menggaji guru memang cukup berat untuk ukuran negeri antah berantah di mana tingkat korupsi dan kebocoran anggaran negaranya sangat tinggi. Apalagi, 1% orang terkaya di negeri antah berantah itu menguasai 46% kekayaan penduduk negeri. Ya, bagaimana bisa menggaji guru anak-anak bangsa Rp. 44.250.000 per bulan?

Dilema Antara Muruah dan Gaji

Mengajar yang dijalani guru di kelas lebih banyak berpaut pada urusan hati daripada urusan uang. Guru selalu senang menjalani hari-hari bersama peserta didik. Apalagi bila kehadiran guru selalu dirindukan murid, seketika itu juga batin guru sudah terpuaskan. Guru menjadi lupa, berapa angka gaji yang diterimanya tiap bulan saking bahagianya.

Akan tetapi, bila guru sudah di rumah, berkumpul dengan anak dan istri, lalu menengok dapurnya, maka urusan kepuasan hati di kelasnya tadi pagi, saat itu juga sudah dilupakan. Mengapa? Karena di tengah-tengah keluarga, jiwa guru sudah masuk dimensi materi. Urusannya bukan lagi kepuasan batin di kelas, melainkan soal isi dompet untuk menghidupi keluarga. Seindah apa pun cerita pengalaman mengajar yang menyenangkan di kelasnya tadi pagi tidak bisa dipakai untuk membeli nasi dan lauk pauk.

Maka, bila dapur guru sudah tidak mengepul karena logistik sudah habis, tidak ada pilihan, guru akan mencari pekerjaan sampingan untuk menyambung hidup. Tidak heran, ada banyak guru honorer yang nyambi jadi ‘pilot’ ojek online dan beragam pilihan pekerjaan halal meskipun batinnya meronta-ronta. Pernahkah Anda membayangkan perasaan seorang guru yang mengantar pesanan Goofood? Dan, anak remaja tanggung yang menerima pesanana itu bergumam seakan tidak percaya: "Eh, Pak Guru?"

Pada kondisi demikian, profesi guru bukan lagi menara gading yang harus dipertahankan muruahnya di tengah-tengah keterbatasan ekonomi. Saat itu, yang diperjuangkan guru adalah merebut menara pengintai untuk melihat peluang mendapatkan uang buat menambal gaji yang bertahan hanya sampai tanggal 15 tiap bulan. Di sini, konflik di ruang dapur guru akan selalu berlangsung tiap bulan. 

Tentu, problem seperti ini dialami kebanyakan guru honorer bergaji kecil. Mereka guru-guru yang tidak mendapat tunjangan jabatan, tidak pula tunjangan kesehatan, atau tunjangan beras, atau mereka guru-guru hebat yang padat dengan job kepanitiaan yang sambung menyambung. Bukan pula guru-guru dengan latar belakang finansial keluarga yang mapan. Juga bukan guru penerima sertifikasi yang tidak pernah tahu berapa saldo tunjangan profesi itu di rekeningnya karena belum pernah sekalipun dibelanjakan sejak kali pertama sertifikasi dicairkan pemerintah.

Dilema-dilema seperti di atas sering menimbulkan problem mendasar guru bergaji kecil di negeri antah berantah ini. Maklumlah, kesenjangan penghasilan masih menganga di antara mereka. Dan, problem dilematik menyedihkan seperti ini rasanya tidak dialami para guru era Khlalifah Rasyidah atau di era keemasan Islam pada abad pertengahan.

Kembali ke Jiwa Guru

Di mana pun, konflik kerap terjadi dalam skala yang berbeda-beda kadarnya. Ada konflik yang selesai dengan diam seiring waktu berjalan. Ada konflik yang diselesaikan dengan musyawarah kekeluargaan. Ada konflik yang baru bisa diatasi bila salah satu pihak mengalah lalu menarik diri. Namun, ada juga konflik yang baru bisa diselesaikan lewat jalur hukum.

Di lembaga pendidikan, tempat proses pendewasaan peserta didik berlangsung, konflik juga kerap terjadi, baik konflik ringan atau berat. Konflik seperti yang diberitakan gorontalo.tribunnews sudah termasuk konflik berat yang dipicu soal ketidakpuasan guru pada yayasan dalam pengelolaan keuangan.

Konflik yang menyangkut urusan keuangan di lembaga pendidikan sebenarnya bisa ditekan. Syaratnya cuma satu; kembali ke jiwa guru yang autentik. Guru yang autentik adalah jiwa yang lebih fokus pada proses transmisi pengetahuan, pendewasaan, dan penciptaan kesadaran belajar berkelanjutan pada peserta didik. Di situlah energi guru dihabiskan. Akan tetapi, bila jiwa autentik guru sudah berjalin berkelindan dengan urusan keuangan, dari sinilah percikan-percikan potensi konflik kerap meletup kapan saja.

Apakah ini bererti guru tidak boleh dilibatkan dalam pengelolaan keuangan sekolah?

Boleh-boleh saja asalkan ada batasannya. Batasannya itu adalah teori “asalkan”. Asalkan mencerminkan keadilan distribusi, asalkan tidak ada campur tangan leader yang terlalu jauh kepada tim yang ditugaskan mengelola satu kegiatan dalam soal pembiayaan dan fee, asalkan formulasi honorarium diberikan sesuai beban kerja, asalkan prinsip akuntabilitas dan transparansi dijalankan, dan asalkan-asalkan yang lain yang sesuai prinsip-prinsip pengelolaan keuangan. Bila teori “asalkan” ini dijalankan, meskipun gaji guru belum setara pada masa khalifah Umar RA, jiwa autentik guru akan tetap lestari. 

Selamat menjelang Hari Guru.

Ruang Guru, Kamis, 23 November 2023.

Jumat, 10 November 2023

Marwah

Word of Honorable. https://thesaurus.plus/synonyms/honorable

Ada sahabat Facebook saya dari Surabaya; Mas Agung Prihandoko. Mas Agung merespons status WA saya hari ini. “Terungkap aja masih ngeri,” tulis Mas Agung yang dikirim ke nomor saya. Ini kali yang ke sekian Mas Agung ‘open’ dengan status WA saya.

Saya suka sekali mengoleksi keyword penting. Ia saya petik dari mendengar, menyimak, mengamati, bahkan sering saya pisahkan dari obrolan ringan dengan siapa saja. Lalu, keyword itu saya ikat jadi status WA seperti status WA saya hari ini.

Keyword dan status WA saya itu ide tulisan tersimpan. Karena status WA itu umurnya hanya 24 jam, maka sebelum status itu “mati” esok hari, saya sempatkan mengembangkannya menjadi narasi yang cukup untuk dibaca sekali duduk. Apalagi respons Mas Agung di atas jadi pemantik. Cepat-cepatlah ide itu diabadikan.

Adalah cerita Pak Tanenji; Kasubdit PAUD Yayasan Syarif Hidayatullah saat beliau menyampaikan sambutan dan membuka acara “Ngaji Bareng” di aula Masjid Andalusia Madrasah Pembangunan pada 10/11/23 selepas Jumatan. Ada dari sekian butir dari pesan beliau yang sayang bila hanya didengar lalu dilupakan.

Tentu, tidak cukup ruang dan waktu menurunkan cerita Pak Tanenji itu di sini untuk efisiensi narasi. Inti cerita Pak Tanenji adalah tidak mudahnya orang tua meluluhkan hati anak bila sudah bertemu simpul dengan guru. Bila orang tua memandang ada hal yang keliru dari anaknya dan ingin meluruskan, seringkali anak mengelak dengan bahasa kepatuhan pada gurunya, “Kata Bu guru emang begini!” Kalau sudah demikian –meminjam istilah Ustaz Zaki al-Hafiz– ruwet, ruwet.

Bila kesalahan itu substansial seperti kesalahan bacaan Alquran, boleh jadi kesalahan itu akan melekat selamanya pada jiwa anak. Maka, beruntung bila sejak awal orang menyadarinya dan kesalahan itu terungkap. Kalimat yang saya miringkan, itulah keyword Pak Tanenji yang saya gubah jadi status WA: “Bayangkan bila kesalahan itu tidak pernah terungkap…. Dalem, ngeri.”

Karena Pak Tenaneji sedang membawakan cerita faktual dan beliau ini dosen yang panjang akal, beliau memberi saran jitu pada orang tua sang anak untuk meluruskan kekeliruan itu, bukan dari mulutnya karena kemungkinan akan sia-sia. Dan, cukup lima menit saja, kekeliruan itu selesai melalui guru si anak itu sendiri. Nah, kecerdikan membangun komunikasi awal kepada guru itu untuk mengubah kesalahan persepsi anak, ini mahal.

***

Ngaji Bareng hari ini bertajuk Bacaan Gharib dan Musykilat. Saking gharib dan musykil-nya, pernah belajar, tapi karena jumlah kata-kata gharib dan musykil itu sedikit dari sebanyak 77.845 kata dalam Alquran, jadi sering lupa bila sendirian menemukan bacaan itu dalam mushaf.

Ngaji seperti ini penting pake “banget”. Apalagi bagi guru madrasah, tak peduli apakah itu guru Sains, PJOK, IPS, Bahasa Inggris, PKn, atau guru Seni dan Budaya. Membaca Alquran dengan benar memang bukan khusus untuk guru Quran Hadits, Fikih, atau guru Tahfizh. Guru vokal pun apabila dia muslim, Fardu Ain hukumnya membaca Alquran sesuai tajwid.

Nah, dari ngaji tadi siang itu, kami para guru disegarkan lagi dengan Saktah, Imalah, Isymam, Naql, Tashil, dan aneka musykilaat perubahan suara bacaan. Aduh, rasanya masih banyak hal tercecer dari Alquran yang belum dikuasai, seperti ada huruf sin dalam satu kalimat yang bisa dibaca dengan suara huruf shad dan sebaliknya. Nah, kondisi tercecer ini khususnya berlaku bagi pribadi saya.

Ngaji Bareng tadi siang ini sejuk. Jiwa terasa disiram embun oleh suara merdu narasumber saat memberi contoh perihal bacaan Gharib dan Musykil. Masya Allah. Andai orang bisa meminta suara merdu seperti itu sesaat dia “brojol” ke dunia, bolehlah saya orang pertama yang merengek diberi. Apalah daya, pita suara saya sudah bawaan pabriknya tak semerdu milik narasumber.

Suasana Ngaji Bareng juga terasa segar dengan pertanyaan-pertanyaan unik, tapi penting ala Pak Dry yang kadang terkesan Anti Mainstream. Oh, iya, suara Pak Dry juga merdu saat mengaji atau mengimami shalat Jumat. Ini valid. Kombinasi sempurna antara merdu suara dan Anti Mainstream. Usai foto-foto hendak shalat Ashar, saya candai Pak Dry. “Untung tadi Pak Dry tidak bertanya, Pak Kiai, itu nun mati, siapa yang bunuh?”

***

Beberapa hari yang lalu, di WA grup MTs dibagikan tulisan Dr Fauzan. Judulnya“Mengembalikan Marwah Pendidikan”. Ada di dalamnya disinggung karakter guru sebagai “Al-Muzakki”, yakni guru yang menunjukkan dirinya sebagai pribadi bersih, suci dari hal kemaksiatan, sosok yang selalu menjadi cermin kebaikan peserta didik. Juga karakter “Al-Muaddib” yang dapat dipahami sebagai sosok yang berperan dalam proses pembentukan nilai keadaban, budi pekerti, dan akhlak peserta didik melalui pembiasaan.

Terus terang ini berat, berat sekali. Boleh jadi, marwah pendidikan akan runtuh bila guru sendiri tidak punya marwah karena gagal menunjukkan karakter “Al-Muzakki” dan “Al-Muaddib” di hadapan peserta didik. Di sinilah bertemu koneksi cerita faktual Pak Tanenji dengan tulisan Dr Fauzan dalam persepsi saya hari ini meskipun konteksnya tidak sama.

Sedangkan marwah guru harus juga dijaga bukan hanya di hadapan peserat didik, tapi juga di hadapan sesama guru. Kalau boleh dipertegas, guru yang memegang jabatan, lebih mahal harga marwahnya dari harga marwah guru biasa dalam konteka relasi kepemimpinan pedagogik di suatu lembaga. Keduanya punya kewajiban untuk saling menjaga marwah masing-masing.

Uang sering menjadi Jebakan Batman. Marwah guru bisa terancam hilang disapu angin tergoda uang yang bertalian dengan posisi jabatan. Bila itu terjadi –seperti kasus penyelewengan dan BOS yang ramai di medosos misalnya–hilang pula marwah guru dan marwah pendidikan sebab jabatan itu sudah dijadikan sebagai mesin uang yang mencoreng marwah.

Oleh karena itu, jangan sungkan-sungkan betindak bila ada dari kolega guru sejawat mulai “miring-miring” masuk Jebakan Batman. Harus ada kolega yang mengingatkan sejawat itu agar marwah guru dan pendidikan tidak jatuh terjerembab karena ulahnya. Jangan setali tiga uang dengan membiarkan, apalagi ikut masuk Jebakan Batman karena manisnya uang yang semanis madu.

Dalam konteks ini, boleh juga dibongkar filosofi tulisan Dr Fauzan itu. Apakah tulisan beliau merupakan refleksi dari marwah pendidikan yang memang sudah hilang hingga dia harus dikembalikan. Atau sekadar warning agar guru benar-benar kuat mental mempertahankan karakter “Al-Muzakki” dan “Al-Muaddib” sebagai yang digugu dan ditiru.

Bila marwah guru telah jatuh dan marwah pendidikan telah hilang, hancurlah peradaban. Sosiolog dan pemikir Maroko Dr. Mehdi El Manjra (1933-2014) meskipun mengutip pendapat seorang Orientalis, boleh juga disinggung ungkapannya di sini karena cukup relevan, yakni soal jalan rusaknya peradaban. 

Kata Mehdi:

”Idza aradta an tahdim hadaarat, fa hunaaka tsalaatsu wasaail; hadmi al-usrah, hadmi al-ta’lim, isqaat al-qudwah.” Bila Anda ingin menghancurkan sebuah peradaban, ada tiga caranya: dengan merusak rumah tangga; merusak pendidikan, dan merusak panutan.

Di lain segmen, cerita Pak Tanenji tadi siang, mengingatkan pada kisah Iskandar Dzul Qarnain dan penghormatan Raja Agung itu pada sang guru. Dikisahkan, Iskandar Dzul Qarnain pernah ditanya mengapa dia begitu menghormati gurunya lebih dari menghormati kedua orangtuanya.

“Li anna abi anzalani min al-sama ila ‘l-ardhi, wa ustadzi yarfa’uni min al-ardhi ila ‘s-samai.” Karena orangtuaku telah menyebabkan aku turun dari langit ke bumi, sementara guruku mengangkat aku dari bumi ke langit. Demikian jawaban Iskandar Dzul Qarnain menempatkan guru sebagai orang yang patut dihormati sebagaimana menghormati orang tua. Sudah pasti, guru yang dihormati Iskandar Dzul Qarnain adalah guru dengan marwah mulia.

Ini berat, berat sekali. Semoga marwah masih tegak di pusat peradaban dibangun.| 

Minggu, 05 November 2023

Pizaro Citizen Journalism dan Palestina

Saya dan Pizaro saat launching salah satu seri buku saya "Kiai Kocak". Foto milik Lukman Hakim Sidik 

Namanya Pizaro Gozali Idrus. Saya memanggilnya Pizaro. Nama yang keren. Usianya lebih muda 10 tahun dari saya. Tapi, semua orang tahu, usia bukan ukuran lebih tua lebih berbobot. Begitu juga antara saya dan Pizaro. Bolehlah saya lebih tua darinya 10 tahun, namun kapasitas Pizaro lebih “tua” bertahun-tahun dari saya.

Awal mula kenal Pizaro dari Facebook, lalu membaca novelnya "The Brain Charger". Beberapa kali mengikuti kelasnya yang menarik; “Zionisme Internasional”, topik yang berat tapi menggemaskan. Setidaknya bagi saya begitu.

Di mata saya, Pizaro itu humble. Dia dengan rendah hati pernah bersedia membincangkan buku saya; “Kiai Kocak” di satu forum bedah buku. Padahal waktu itu, honornya sebagai pembicara kecil. Saking kecilnya, kalau sekarang saya tanya, dia pasti lupa. Wkwkwkwk.

Pada 2017, Pizaro menjadi Redaktur Anadolu Agency, kantor berita yang bermarkas di Ankara, Turki. Setahu saya, Anadolu termasuk kategori jurnalisme perang. Pizaro naik kelas lagi dengan menyandang Jurnalis Internasional.

Pizaro cerdas, itu sudah pasti. Sekarang, cerdasnya dia bikin mata saya berkunang-kunang saat membaca aktivitasnya. Dia Senior Fellow Asia Middle East Centre for Research and Dialogue, Kuala Lumpur. Juga anggota Palestine International Forum for Media. Dan, Kandidat Ph.D pada bidang Policy Research and International Studies, Universiti Sains Malaysia.

Sebagai anggota Palestine International Forum for Media, Pizaro kerap menulis tentang Palestina. Tulisannya termasuk produk jurnalistik yang paling jernih menggambarkan Palestina dan HAMAS. Tak heran, hari-hari ini, tulisan dan pembicaraannya tentang Palestina dan HAMAS sering menjadi rujukan pemerhati Palestina. Yang bukan beneran pemerhati Palestina seperti saya, pun merujuk Pizaro.

Saya termasuk yang baru tahu, bahwa agresor Israel sudah menjatuhkan 18.000 ton bom ke Gaza. Jumlah sebanyak itu setara 1,5 kali lipat lebih banyak dari bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima pada 6 Agustus 1945. Saya tahu soal ini dari salah satu status Pizaro di akun Facebooknya.

Ada salah satu tulisan Pizaro yang sangat menarik. Tulisan ini berisi guidance –utamanya menurut saya untuk Citizen Journalism– dengan istilah-istilah kunci saat mereka akan menulis tentang Palestina. Karena Citizen journalism adalah kegiatan jurnalis yang dilakukan oleh orang-orang yang bukan dari kalangan jurnalis profesional, saya memandang tulisan Pizaro penting diperhatikan Citizen Journalism mengindahkan keyword dari Pizaro supaya tidak keliru saat mendeskripsikan persoalan Palestina hari ini.

Begini kata Pizaro:

Pertama, hindari menulis kata “Konflik Palestina-Israel” karena yang terjadi di tanah Palestina bukan konflik, tapi penjajahan struktural. Istilah konflik tidak menggambarkan realitas sesungguhnya di Palestina yang mengalami kolonialisme sistematis oleh zionis. Istilah konflik tentunya juga tidak menggambarkan agresi dan ketidakadilan Israel terhadap masyarakat adat Palestina.

Kedua, media-media juga lebih memilih untuk menulis “bentrokan antara warga Palestina dan tentara Israel”. Berita-berita ini mengaburkan akar kekerasan Israel yang seolah-olah peristiwa ini hanya insiden sementara dan bukan kekerasan sistematis yang dilakukan penjajah Zionis sejak lama.

Ketiga, hindari menulis kata-kata “teroris Hamas”, “Teroris Palestina”, dan “tentara Israel”. Istilah ini mengesankan Hamas dan kelompok perlawanan Palestina lainnya adalah entitas ilegal, sedangkan Zionis adalah negara resmi dan tentara resmi. Padahal yang terjadi adalah sebaliknya. Zionis saat ini menduduki tanah curian yang menjadi hak sah bangsa Palestina.

Keempat, dalam menyebut kelompok perlawanan, langsung saja sebut Hamas. Menggunakan istilah “militan Hamas” sama saja mengabaikan fakta bahwa mereka memenangkan pemilu secara demokratis sejak tahun 2006.

Kelima, hindari menulis perlawanan bangsa Palestina tanpa konteks. Jelaskan dalam penulisan akar masalah mengapa bangsa Palestina melakukan perjuangan. Karena mereka mengalami penindasan secara panjang, tidak bebas menjalankan agamanya, hidup blokade, boikot ekonomi, kemiskinan, dll akibat penjajahan.

Keenam, pastikan konsistensi dalam menggambarkan korban Palestina sebagai “terbunuh”, bukan “meninggal/tewas”. Hindari penggunaan kalimat pasif saat mendeskripsikan peristiwa. Dalam judul, sebutkan siapa yang melakukan tindakan tersebut, bukan hanya di mana tindakan tersebut terjadi, untuk menghindari ambiguitas dalam penulisan.

Ketujuh, berikan konteks penuh terhadap peristiwa-peristiwa tersebut, termasuk peristiwa-peristiwa sebelumnya yang telah menyebabkan kekerasan. Hindari menyiratkan bahwa tanggung jawab atas kekerasan hanya ada pada bangsa Palestina. Mereka adalah “korban” bukan “pelaku”. Jangan sampai yang terjadi dalam penulisan adalah sebaliknya.

Nah, ini keren. Bila Anda adalah bagian dari Citizen Journalism dan ingin menulis tentang Palestina, guidance dari Pizaro patut diperhatikan. Yang paling penting lagi, jangan jadi Citizen Journalism corong Zionis Yahudi yang kerap menuduh HAMAS adalah Syiah dan antek Yahudi.

Terima kasih, Pizaro. One day, Palestine will be free.