A homepage subtitle here And an awesome description here!

Sabtu, 16 Oktober 2021

Silaturahim di Subuh Hari



Foto kiriman dari Gugut Kuntari

Generasi Baru

Saya termasuk generasi yang lahir pada dekade 70-an. Graeme Codrington dan Sue Grant-Marshall menyebutnya “Generasi X”, generasi yang lahir tahun 1965-1980. Generasi ini lahir pada tahun-tahun awal dari penggunaan PC (personal computer), video games, tv kabel, dan internet. Oke, istilah-istilah tidak terlalu penting dalam tulisan ini.

Bila Anda juga termasuk dalam generasi ini, berarti kita sama-sama menjalani masa-masa remaja di era 90-an dan memasuki masa dewasa di era tahun 2000. Dalam catatan saya, kita cenderung tidak mengalami masa-masa “krisis ukhuwah” yang tajam. Yang saya maksud dengan masa-masa “krisis ukhuwah”, adalah renggangnya persaudaraan sesama muslim karena persoalan khilafiyah, yaitu masa-masa sesama orang Islam bersitegang hanya karena ushalli dan tidak ushalli, qunut tidak qunut, 11 atau 23 rakaat Tarawih, dan sebagainya masalah khilafiyah yang sudah masyhur.

Generasi yang mengalami “krisis ukhuwah”, kebanyakan adalah generasi Baby Boomer yang lahir tahun 1946 – 1964, atau yang lahir lebih tua dari tahun itu. Generasi ini lahir setelah Perang Dunia II. Dianggap sebagai orang lama yang mempunyai pengalaman hidup. Salah satu pengalaman hidup itu “krisis ukhuwah” yang saya sebut. Maka, bersyukurlah kita semua sebagai generasi baru.

Generasi Paling Baru

Tidak dipungkiri, orang-orang tua kita pernah mengalami “krisis ukhuwah” yang tajam itu. Setajam apa, coba tanyakan bagi yang masih bersanding dengan mereka. Hanya saja, gali informasi dari mereka tentang krisis itu bukan dengan maksud membuka luka lama. Akan tetapi, jadikanlah ibrah atau pelajaran. Bahwa krisis itu sudah terjadi, biarlah dia menjadi catatan sejarah, tidak perlu ditutup-tutupi, apalagi berusaha dihapus jejaknya. Orang bijak tidak takut pada sejarah masa lalu, sepahit apa pun. Orang bijak adalah orang yang mampu mengambil pelajaran sejarah pahit masa lalu untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Hari ini, anak-anak kita adalah mereka yang tergolong sebagai “Generasi Z”. Mereka anak-anak yang lahir tahun pada era 1995-2010. Tebak, sekarang mereka pada jenjang sekolah apa. Mereka disebut iGeneration, generasi net atau generasi internet. Mereka anak-anak yang pandai mengaplikasikan semua kegiatan dalam satu waktu seperti nge-tweet menggunakan ponsel, browsing dengan PC, dan mendengarkan musik menggunakan headset. Banyak berhubungan dengan dunia maya. Sejak kecil mereka sudah mengenal teknologi dan akrab dengan gadget.

Di bawah mereka, anak-anak “Generasi Alpha” yang lahir tahun 2011 ke atas. Generasi ini lahir sesudah "Generasi Z". Mereka generasi yang sangat terdidik karena masuk sekolah lebih awal dan banyak belajar.

Generasi mereka ini sering disebut generasi milenial, generasi paling baru. Mereka yang akan melanjutkan membangun peradaban.

Warisan Peradaban

Ciri generasi muslim hari ini memiliki cara pandang baru. Mereka sudah menyadari, mereka terikat dalam tali persaudaraan sebagai saudara seiman, apa pun latar belakangnya. Mereka memiliki karakter critical thinking, terbuka, rasional, dan berpandangan jauh ke depan.

Persoalan khilafiyah yang dahulu menjadi pangkal “krisis ukhuwah” orang-orang tua mereka karena tidak tepat dalam menyikapi persoalan tersebut, dipandang tidak ­layak lagi dipertahankan, apalagi menerima warisan krisis tersebut untuk dilestarikan. Mereka sudah sampai pada kesadaran baru, bahwa sudah bukan saatnya lagi masih memelihara sikap sinis, memelihara nostalgia hanya karena persoalan khilafiyah. Gelombang “krisis ukhuwah” sudah tamat bagi mereka, kecuali sisa-sisa dari mereka yang masih terbelakang dalam hal literasi peradaban maju.

Pihak-pihak yang memiliki kepentingan untuk mengakhiri gelombang “krisis ukhuwah” itu adalah ormas-ormas Islam. Mereka punya tanggung jawab langsung membangun sikap menerima hakikat khilafiyah.

Menerima hakikat khilafiyah yang saya maksud yaitu memahami bahwa khilafiyah akan tetap ada dan terus terjadi. Selama sebagian berpegang pada dalil atau qaul yang diyakini sebagai landasan suatu amalan ­beribadah dikerjakan, sementara sebagian yang lain tidak meyakininya demikian, maka sepanjang itu pula ­khilafiyah itu akan hidup di tengah-tengah umat.

Jadi, jangan pernah ­berandai-andai qabliyah jumat itu akan ditinggalkan selama yang mengamalkan masih berpegang pada dalil dan qaul tentang amaliyah tersebut. Atau ­sebaliknya, juga tidak mungkin memaksa yang lain supaya mengerjakan qabliyah jumat sementara mereka tidak menjadikan dalil dan qaul yang sama sebagai landasannya. Begitu juga persoalan qunut dan tidak qunut Subuh, 11 atau 23 rakaat shalat Tarawih, ushalli atau tidak usahalli, dan lain-lain masalah khilafiyah yang sudah masyhur.

Maka, yang terpenting adalah saling memberi ruang dalam ­kesadaran beramal sesuai dalil yang dipegang ­masing-masing. Selama perbedaan itu baru menyentuh masalah furu’, maka tidak layak persaudaraan dikorbankan. Itu saja.

Pendidikan, dialog, dan literasi tentang khilafiyah menjadi kunci untuk sampai pada sikap menerima hakikat khilafiyah itu. Apabila proses pendidikan, dialog, dan literasi tentang khilafiyah tidak terbangun dengan baik, maka fanatisme akan selalu berada di atas ukhuwwah sampai kapanpun.

Sinergis

Pagi ini, Masjid Al Huda Ranting Muhammadiyah Pulo menerima kunjungan. Saya percaya, kunjungan itu bukan sekadar untuk menikmati nasi uduk dan semur jengkol yang sedap kreasi ibu-ibu Aisyiyah Ranting Pulo di akhir acara. Ada hal yang paling mendasar, dan dalam timbangan hemat saya, kunjungan itu sangat penting untuk membangun dan menguatkan literasi persaudaraan warga Muhammadiyah dan Aisyiyah dengan MUI, DMI, dan pemerintah.

Forum ini sangat strategis untuk membangun kesepahaman bahwa tantangan dan bahaya umat Islam hari ini jauh lebih besar dari pada persoalan meributkan khilafiyah yang sudah basi itu. Tantangan umat Islam hari ini adalah penyakit sosial yang makin menggila (seks bebas, narkoba, miras, dan apatis atau sikap masa bodoh pada agama), pendangkalan akidah dalam wajah pemurtadan, paham Pluralisme, Liberalisme, dan Sekularisme Agama yang sudah difatwa MUI sebagai paham sesat, Syi’ah, dan problem bidang pendidikan dan ekonomi.

Yang mencengangkan dari temuan saya pada akhir-akhir ini, ternyata secara diam-diam, ada orang yang berusaha keras menyebarkan ajaran Syi’ah di Kampung Pulo. Upaya ini sudah cukup lama berjalan, lebih dari dua puluh tahun. Memang, hasilnya hampir tidak kelihatan. Boleh dikata, upaya penyebaran Syiah ini “gatot” alias gagal total. Namun, kegagalan itu bukan berarti upaya penyebaran itu harus dianggap sudah selesai atau berhenti. Belum tentu.

Ini pekerjaan rumah Muhammadiyah Ranting Pulo, NU, MUI, DMI, dan Pemerintah. Oleh karena itu, sinergitas gerakan antar elemen dakwah perlu dipikirkan, dirumuskan, dan dieksekusi. Maka, secara pribadi dan sebagai warga Muhammadiyah, saya sampaikan salam hormat kepada Ketua MUI Kecamatan Pancoran Mas, Ketua DMI Kecamatan Pancoran Mas, Pak Camat Kecamatan Pancoran Mas, dan Pak Lurah Rangkepan Jaya Lama atas silaturahim pagi ini.

Karena itu, silaturahim pada Subuh tadi sangat penting untuk merancang peta jalan dakwah bersama dalam menghadapi tantangan umat Islam akhir zaman di Pancoran Mas, Rangkepan Jaya Lama khususnya, dan lebih spesifik Kampung Pulo.

Subuh memang berat. Mata lebih lengket dari waktu lainnya. Semoga silaturahim Subuh mendatang, lebih semarak lagi. Mata sudah tidak lengket lagi. Masjid Al-Huda lebih makmur lagi. Aamiin.[]


Sabtu, 09 Oktober 2021

Seminar Menulis di Bawah Flamboyan


Flamboyan di IAIN

Siapa yang ingat flamboyan di halaman kampus IAIN (sekarang UIN) Jakarta?

Tentu, alumni IAIN tahun 1995 ke belakang pasti masih ingat. Saya termasuk alumni yang tidak bisa melupakan flamboyan itu. Apalagi saat ia mekar, merah menyala. Saya bahkan sempat menuliskan syair lagu karena begitu menikmati saat ia berbunga. Hanya saja, saya sudah lupa liriknya kecuali hanya beberapa kalimat saja. Catatannya pun, entah raib kemana.
Wahai kau burung penyanyi
jangan dulu engkau dendangkan
tunggulah sampai ia datang
memberiku seikat kembang
Wahai kau bunga flamboyan
jangan dulu gugur ke bumi
Tunggulah sampai ia datang
memberiku sekeping hati
Hemm. Terasa terlempar lagi ke masa-masa kuliah dulu.
Akan tetapi, flamboyan itu sudah tidak ada lagi. Ia hanya hidup dan berbunga di benak saya yang kian menua pada setiap musim.

Sahidup dan Program Konversi

Sahidup, kawan seiring saya di kampus. Kami sama-sama mahasiswa konversi dari program Diploma II ke jenjang Strata 1 Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam. Seingat saya, Sahidup bersama Mas Tohari, Yadi Setiadi, Mukhson, dan beberapa teman yang lain gigih memperjuangkan agar mahasiswa Diploma bisa melanjutkan ke jenjang S-1 setelah lulus nanti. Berkat lobi-lobi Dekan (waktu itu Prof. DR. Salman Harun, MA), Rektor IAIN, Prof. Dr. Quraish Shihab, MA menerbitkan Surat Keputusan yang mengizinkan mahasiswa Diploma untuk melanjutkan studi pada 1995 melalui program konversi.

Keputusan itu tentu sangat menggembirakan. Kakak kelas yang sudah lulus, merasakan berkahnya. Beberapa dari mereka kemudian ikut mendaftar mengambil program konversi ini. Sedangkan adik kelas, tinggal mengikuti tanpa mereka harus ikut tes masuk IAIN lagi. Saya sendiri tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Karena itu, bagi saya, Prof Dr. Quraish Shihab bukan saja Rektor yang mengantarkan saya bisa menikmati kuliah di program S-1, melainkan yang menyambung nasihat ayah agar saya tetap mencoba peruntungan masuk IAIN.

Pada 1993, saya keluar dari sebuah kampus setelah duduk satu semester. Saya keluar karena sejak semula memang ingin masuk IAIN. Hanya karena kampus yang saya masuki pada 1991 itu kampus baru dan menawarkan biaya murah, niat masuk IAIN tahun itu urung. Akan tetapi, apa lacur, saya tidak betah dan keluar di kampus murah itu. Dan belakangan, ternyata itu kampus abal-abal, kampus bermasalah.

Lalu, pada 1993 saya mendaftar IAIN dan ditolak. Bagian pendaftaran mengatakan, ijazah saya sudah lewat dua tahun, tidak bisa untuk mendaftar S-1, kecuali mendaftar untuk program Diploma II. Saya tidak tertarik. Saya memilih menarik berkas, sebab tujuan saya bukan kuliah program Diploma.

Pulang dengan wajah lesu membawa sesal. Menyesal, mengapa dulu saya tergiur masuk kampus baru. Akan tetapi, ayah memberi saran yang masuk akal.

“Kalau kamu ngotot ingin kuliah S-1 di sana, selamanya kamu tidak bisa masuk IAIN. Ambil saja program Diploma itu. Lagi pula, kamu sudah mengajar di MI. Ijazah Diploma, kan untuk program MI. Kalau nanti kamu diterima, ya syukuri saja, akhirnya kamu bisa kuliah di IAIN.”

Begitulah. Akhirnya, saya ambil program Diploma dan bisa konversi ke S-1. Pada 1999, saya lulus IAIN. Tahun 2000 wisuda. Sementara Sahidup, teman yang mengantarkan riset saya dan lulus, belum lulus-lulus. Beruntung, Sahidup pun akhirnya lulus. Karirnya makin moncer di kampung halaman sebagai PNS dan Kepala Sekolah.

Di Bawah Flamboyan

Sahidup, mahasiswa asal Brebes teman akrab sekelas di Kampus Pembaharu. Duduk berdekatan saat kuliah, memilih dosen S2 atau S3 untuk mata kuliah tertentu di mana ada banyak teman malah menghindar dari dosen tersebut, teman diskusi sebelum maju membawakan makalah, dan banyak hal selama kuliah. Sahidup pula yang mengongkosi riset saya ke Garut. Ini momen yang tidak bisa saya lupakan. Karena, riset itu adalah penentu studi saya selesai di IAIN.

Satu kali, di bawah pohon flamboyan, saat kami menuju ruang kelas, Sahidup menemukan sesuatu. Bukan dompet, bukan uang, atau barang berharga lainnya. Akan tetapi, Sahidup tampak sangat senang menemukannya. Diberikannya sesuatu itu pada saya.

Hanya sebuah ID Card. Bisa jadi, pemiliknya tidak sadar ID Card-nya jatuh saat melintas atau sedang terburu-buru menuju rapat atau urusan penting di kampus. Kami sama-sama beruntung menemukan sesuatu itu. Hanya saja, belakangan saya sedikit menyesal, mengapa bukan kami berdua saja yang mengantarkan kepada pemiliknya waktu itu. Kami memilih menyerahkan pada Satpam untuk disampaikan kepada sang pemilik. Padahal bisa saja, jika kami yang mengantarnya langsung dan diterima di kantornya, kami punya kesempatan untuk berbincang meskipun tentulah beliau sangat sibuk.

Saya tidak pernah melupakan nama yang tertera pada ID Card tersebut: M. Quraish Shihab.

Ke Kampus Lagi

Selasa 12 Oktober 2021 esok, saya mendapat undangan sebagai pembicara pada acara Seminar Ketrampilan Menulis Efektif dan Produktif Bagi Calon Alumni. Seminar bertema “Kiat Menulis Efektif dan Produktif di Era Pandemi” dijadwalkan mulai pukul 10.00 sampai dengan 12.00 WIB bertempat di Gedung Kemahasiswaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Ini kali kesekian saya ke kampus setelah lulus. Memang, semuanya serba berbeda dari IAIN yang dulu. Kampus ini sudah berganti nomenklatur menjadi UIN (Universitas Islam Negeri) Syarif Hidayatullah Jakarta. Gedungnya yang berubah megah, tidak lagi pantas diejek sebagai kampus yang lebih mirip “Pabrik Kaos” oleh Daoed Joesoef–seperti cerita dosen saya sewaktu kuliah–sebagai bentuk sikap memandang sebelah mata kampus Islam. Tentu saja, saya tidak akan menjumpai lagi flamboyan di sini, kecuali kenangannya yang tetap merah menyala.

Diundang almamater sebagai narasumber untuk berbagi pengalaman, tentu berbeda dari datang sebagai bekas mahasiswa yang mengurus legalisir atau urusan administrasi kampus. Bila dirasa detak jantung pelan-pelan, hari ini pun sudah terasa detaknya sedikit lebih cepat dari sebelum mendapat undangan. Sebab, saya merasa masih belum bisa move on dari flamboyan. Membayangkan menjadi pembicara tamu pada Selasa esok pun, laiknya membawakan “Seminar Menulis di Bawah Flamboyan”.

Semoga dimudahkan. Allahumma yassir wa laa tu'assir.[]

Senin, 04 Oktober 2021

Bukan Novel Biasa









Hari ini, melegakan sekali. Bukan karena pesan bombastis yang masuk ke nomor saya mengabari: “Anda mendapatkan subsidi Pemerintah Rp.180.000.000 KODE (717747)...” beneran saya terima. Belakangan, ada lebih dari sepuluh kali SMS itu masuk ke nomor saya. Duit sebanyak itu, cukuplah buat beli laptop yang kompatibel modal menulis dan layout. Bagaimana hati tidak lega?

Halagh! Bukan! Itu halu tingkat dewa. Lagipula, pemerintah mana yang mau memberi saya subsidi sebesar itu? Pemerintah Majapahit? Saya lega karena kerja tim saya di perpustakaan yang menangani Pesta Literasi hampir selesai. Selebihnya, tinggal menyisir akhir naskah, acc, naik cetak, dan launching.

Pesta Literasi Perpustakaan Madrasah Pembangunan 2020 memang sedikit telat. Apalagi, kalau bukan karena pandemi Covid-19 alasannya. Pandemi mengubah semua agenda tahunan program literasi perpustakaan yang saya inisiasi sejak 2018 itu. 

Akan tetapi, keterlambatan itu akan segera lunas terbayar dimulai dari suksesnya rangkaian acara sejak webinar penulisan, gelaran tantangan menulis, dan hasilnya, dua naskah novel terbaik tantangan menulis segera terbit. Tiga naskah terbaik tantangan menulis buku nonfiksi, akan segera menyusul proses layout.

Hari ini, dua naskah pracetak novel hasil Pesta Literasi Perpustakaan Madrasah Pembangunan ada di tangan saya. Benar-benar melegakan.

Bina Satu Hari Bersama Ayah
Kehadiran novel Bina memberikan angin segar untuk para remaja, di tengah gempuran novel remaja yang sarat dengan kehidupan pergaulan bebas. Bina membuktikan bahwa masih banyak hal-hal positif dalam kehidupan remaja yang bisa dieksplorasi menjadi sebuah novel. Jalinan kasih antara Bina dengan sang Ayah tercipta dalam dialog-dialog yang natural dan berhasil dinikmati dengan asyik. Pada akhirnya novel Bina akan mengajak kita mencintai kedua orang tua kita tanpa syarat apa pun. Selamat menikmati irisan-irisan kisah yang menghanyutkan.
Paragraf di atas milik seorang novelis hebat. Belakangan, karyanya diangkat ke layar lebar. Memang, dia benar-benar seorang novelis yang karyanya pantas difilmkan. Sebelumnya, novelis ini mengaku hampir ‘gantung pena’. Saya tak tahu alasan mengapa ia hendak mundur dari dunia menulis. Akan tetapi, niatnya itu urung. Menulis adalah dunianya.

Saat saya sodorkan padanya novel “Bina”, dengan sedikit ragu apakah dia bersedia meng-endorse, saya tidak terlalu berharap karena reputasinya itu. Akan tetapi, nama besar tidak membuat novelis ini tinggi hati. Dia bahkan bukan saja bersedia, melainkan juga memberi apresiasi lebih dari sekadar endorse; pujian dan motivasi.

Satu hal yang saya catat dari novelis ini. Dia tidak pernah mau menulis adegan tidak patut, meskipun novelnya berkisah tentang cinta, tentang asmara, layaknya novel-novel percintaan. Itulah dia, novelis dengan karakter yang sangat kuat.

Baca saja sekali lagi kalimat pertama endorse novelis ini: “Kehadiran novel Bina memberikan angin segar untuk para remaja, di tengah gempuran novel remaja yang sarat dengan kehidupan pergaulan bebas.” Ini bukan kalimat biasa; kalimat klise. Ini kalimat berkarakter yang lahir dari kebersihan worldview apa yang seharusnya ditulis seorang novelis.

Harus saya katakan, aura novel “Bina”, begitu hidup, seperti pasang surut kehidupan tokoh Bina dan Arsa dalam novel ini yang “malu-malu tapi rindu”. Apalagi, dihantarkan oleh endorsement novelis hebat.

Q Generations
Novel identik dengan bacaan yang menghibur di kala senggang. Karena memiliki nyawa seakan semua yang hadir di dalamnya terasa hidup. Sejak awal membaca novel Q-Generations–kisah perjuangan keluarga penghafal Quran, hati saya bilang "Wah ini bukan sekadar menghibur" tetapi banyak sekali muatan ilmu, semangat, dan perlu dibaca para orangtua agar bisa merasakan pergolakan emosi menghidupkan Al-Quran di hati anak anak. Salah satu kutipan dalam novel ini, yang berhasil membuat perenungan mendalam adalah, "Ingat, anda bukan sedang mengatasi masalah, anda sedang membesarkan seorang manusia." (Kittie Franz)
Saya sendiri menikmati betul “Q-Generations” selama proses editing. Sama seperti kalimat endorsement dari novelis yang pernah mendapat undangan dari Kedutaan Besar Maroko untuk Indonesia. Novelis ini bisa jalan-jalan ke Rabat, ibukota Maroko dan beberapa kota di sana, negara di Afrika yang memiliki garis pantai yang sangat panjang di Samudera Atlantik ini. Sependek yang saya tahu, novelis ini mendapat penghargaan istimewa itu karena sebuah novelnya yang sangat edukatif, sarat akan nilai kebudayaan, religiusitas, hubungan diplomatik Indonesia–Maroko dan Hubb atau cinta yang memiliki integritas. Semoga saya tidak keliru.

Saya juga harus sepakat dengan novelis ini, bahwa membaca “Q Generations” bukan sekadar menghibur. Bagi saya, ada hal yang menonjok ulu hati, betapa tokoh utama “Q Generations” seperti ‘menyentil’ para orang tua yang kadang merasa kasihan untuk membangunkan anak-anak mereka untuk shalat Subuh karena alasan masih kecil. Sementara, tokoh utama novel ini sudah membimbing anak-anaknya yang baru usia anak SD dan PAUD menjadi hafiz dan hafizah, bahkan sudah membiasakan mereka yang sekecil itu untuk bangun shalat Tahajud. Bayangkan!

Lebih dari dua keistimewaan novel di atas, saya memang benar-benar beruntung bertemu dua novelis dengan karakter rendah hati, karya mereka yang luar biasa, dan akhirnya meng-endorse, serta persahabatan yang manis.

Sebagai pembelajar, sebagai yang pernah menulis novel, saya senang atas kehadiran novel “Bina” dan “Q Generations”. Senang, karena kedua novel ini masing-masing ditulis seorang guru, seperti saya. Sebagai editornya, ada sedikit sentuhan saya dalam novel ini. Namun, bukan itu poinnya, melainkan saya bisa terus belajar dari dua penulis sehebat novelis di atas, serta novelis “Bina” dan “Q Generations”.

Bukan Novel Biasa

Toni Morrison, seorang penulis Afrika-Amerika yang Romannya “Beloved” mengantarkannya memenangkan Pulitzer pada 1988, dianugerahi Hadiah Nobel dalam bidang Sastra pada 1993, tokoh pertama Afro-Amerika yang menerima penghargaan itu, pernah berkata: “If there’s a book that you want to read, but it hasn’t been written yet, then you must write it.”

Kalau boleh saya ibaratkan, kata-kata Morrison itu dibuktikan oleh dua penulis “Bina” dan “Q Generations”. Boleh dikata, seakan Morrison memang berkata kepada mereka berdua, “Jika buku yang ingin Anda baca, tetapi belum ditulis, maka Anda harus menulisnya.”

Kedua penulis telah mendahului kita menulisnya, seperti yang dikatakan Morrison. Untuk membaca buku yang belum ditulis tentang lompatan tahun 2041 dengan alur mundur Pandemi Covid 19 seperti novel "Bina" dan cerita tentang anak PAUD dibangunkan untuk tahajud seperti dalam novel "Q Generations", maka saya dan Anda terlambat! 

Maka, bolehlah saya katakan, dua novel ini bukan novel biasa. Tunggu sampai keduanya terbit, dan nikmatilah.[]

Sabtu, 02 Oktober 2021

Madang, Ngaji, Dan Rezeki


Sepiring nasi. Bisa madang. Foto credit https://www.flickr.com/

Madang

Madang. Pasti Anda paham arti kata “madang”. Ya, di kampung saya, “madang” artinya, “makan”. Namun, menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), kata ini jauh dari arti yang menunjuk pada aktivitas makan. Dalam kamus tersebut, “madang” berarti "tidak patuh terhadap adat (Dayak-Matan)".

Kata “madang”, ternyata juga dipakai untuk nama satu kecamatan di wilayah Bogor. Namanya kecamatan Babakan Madang. Bagaimana pula arti “Babakan Madang” itu, saya tidak tahu.

Dalam tulisan ini, “madang” yang saya maksud seperti yang dimengerti orang kampung saya; “makan”. Itu pun sebatas makan nasi, bukan makan yang lain. Di kampung saya, biarpun seseorang sudah makan semangkuk bakso, sepotong roti, atau sepiring ketoprak sekalipun, itu tidak disebut madang. Akan tetapi, meskipun hanya sepiring nasi dengan garam, itu sudah disebut "madang".

Madang itu kebutuhan hidup. Orang bisa tersiksa jika seharian tidak madang. Apalagi tidak madang berhari-hari, dia bisa mati. Karena itu, setiap orang rela bekerja untuk bisa madang. Apapun pekerjaan itu, asalkan ia pekerjaan halal, dilakoni asalkan dia bisa madang. Banyak juga orang yang khilaf. Dia tidak peduli pekerjaan itu halal atau haram, yang penting dia bisa madang. Pendek kata, madang itu penting.

Akan tetapi, bagi manusia, hidup bukan hanya untuk urusan madang atau urusan mengatasi lapar tok, melainkan madang sekadar untuk bertahan hidup. Jadi, madang bukan segala-galanya, meskipun segala aktivitas bisa loyo gara-gara belum madang.

Ngaji

Ngaji sama dengan belajar atau menuntut ilmu. Dalam agama, menuntut ilmu wajib hukumnya. Dalam hadits yang sangat populer riwayat Ibnu Majah dari jalur Anas bin Malik radhiyallahu anhu Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Thalabul ilmi faridhatun ‘ala kulli muslimin”, bahwa “menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.”

Menuntut ilmu dalam riwayat di atas tidak disebut fardhu, melainkan faridhah. Kata faridhah mengikuti bentuk (wazan atau pola) fa'iilatun yang mengandung makna "mubalaghah", pengukuhan. Maka, kata faridhah maknanya bukan sekadar wajib, tapi ‘sangat wajib’. Sedangkan fardhu maknanya ‘hanya’ wajib.

Sekian banyak ayat Al-Qur’an menunjukkan pentingnya ilmu dan kemuliaan bagi penuntutnya. Sekian banyak hadits memperkuat, betapa beruntungnya fadhilah menuntut ilmu.

Sedemikian penting kedudukan menuntut ilmu, Imam Ahmad bin Hanbal menyatakan bahwa kebutuhan manusia akan ilmu lebih besar daripada kebutuhan makanan dan minumannya. Makanan dan minuman hanya dibutuhkan manusia sehari sekali atau dua kali, sementara ilmu dibutuhkan sepanjang napasnya. Maka, orang yang tidak memiliki halangan yang dapat dibenarkan meninggalkan kewajiban menuntut ilmu, dia bisa dihukumi berdosa.

Rezeki

Madang itu menikmati rezeki pemberian Allah. Sementara, mengaji merupakan cara bersyukur atas rezeki madang yang Allah berikan. Maka, sudah sepantasnya, bila orang bisa madang tiga kali sehari, seharusnya dia bersyukur bisa mengaji sekali atau dua kali dalam seminggu. Tidaklah mengherankan, bila dahulu, orang-orang tua di kampung, mati-matian cari madang supaya bisa ngaji. Seminggu dagang pager, pulang bawa uang dan bisa madang, malam Seninnya ngaji. Begitu seterusnya.

Rezeki yang melimpah, termasuk bisa madang, jangan dikira sebatas ia sampai di perut. Tidak. Nanti di akhirat, apa yang dapat dia madang sepanjang hidup itu, akan dimintakan pertanggungjawabannya. Orang-orang yang madang itu akan ditanya, bagaimana caranya dia bisa madang. Apakah dengan cara halal atau haram. Setelah madang dan kenyang, apakah energi itu disalurkan untuk kebaikan atau kejahatan. Apakah sesudah madang dia ingat Allah dan memenuhi perintah-Nya, atau justru melupakan-Nya.

Apabila sebelum, sedang, dan sesudah madang seseorang mengingat Allah, bersyukur atas rezeki, maka selamatlah dia. Akan tetapi, jika setelah madang dan kenyang dia malah lupa kepada Allah, sama saja dia melupakan zat yang sudah memberinya madang.

Ada orang yang lupa, dia lebih takut tidak bisa madang sehari saja, tapi tidak takut meninggalkan kewajiban menuntut ilmu. Ini keliru. Ini sama saja berburuk sangka kepada Allah, Tuhan yang Maha Kaya yang memberi madang hampir lima miliar lebih manusia penduduk bumi. Padahal, hewan melata sekalipun sudah disediakan rezekinya agar dia bisa madang. Jadi, kalau ada makhluk yang paling elok penciptaannya seperti manusia takut tidak bisa madang karena pergi menuntut ilmu, bisa jadi Allah kabulkan dia tidak bisa madang tiap kali akan melakukan kebaikan yang berbenturan dengan urusan mencari madang. “Ana ‘inda zhanni ‘abdi bii”. Ngeri, sebab “Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku,” demikian arti potongan hadits Qudsi di atas riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim. 

Berbaik sangkalah kepada Allah, Allah akan berikan kebaikan. Jangan sekali-kali berburuk sangka kepada Allah, bisa jadi Allah berikan keburukan sesuai persangkaan buruk itu.

Menuntut ilmu tidak akan menutup pintu rezeki. Apalagi sekadar rezeki untuk bisa madang. Yang sebenarnya, orang akan diberikan jalan kemudahan hidup, lebih dari sekadar bisa madang jika dia rajin menuntut ilmu. Imam Turmuzi ada meriwayatkan sebuah hadits, “Man salaka thariiqan yaltamisu fiihi ilman sahhalallahu lahu thariqan ilal jannah.” Artinya, “siapa saja yang meniti suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan baginya jalan ke surga.”

Surga adalah rezeki tertinggi. Orang yang menuntut ilmu, berhak mendapatkan fasilitas kemudahan sampai ke surga. Nanti di surga, dia bisa madang sepuasnya. Jadi, mengapa harus takut tidak madang bila pergi ngaji?

Wallahu a’lam bishawab.



Jumat, 03 September 2021

PAGER

Gambar diambil dari Grup Sejarah Betawi
https://www.facebook.com/


Hari ini, sejarah itu saya catat. Saya tulis dalam narasi supaya jejaknya tidak hilang. Saya takut, jejak itu akan benar-benar hilang tidak lama lagi. Sedangkan saksi sejarah yang tersisa tinggal sedikit. Itu pun sudah sepuh. Maka, andaikata tidak ada satu pun generasi yang punya waktu untuk merekamnya, akan ada jejak dari catatan saya ini meskipun samar-samar.

Benar dugaan saya, pasti ada alasan di balik waktu itu yang dipilih. Sebuah pertanyaan sederhana tentang tradisi mengaji di Ranting Muhammadiyah Pulo, mengapa ia dilaksanakan setiap malam Senin.

Sampai pada malam Senin pekan lalu–29 Agustus 2021/21 Muharram 1443 H–ia belum terjawab. Sepanjang itu, pertanyaan tetap menggantung selama hampir 20-an tahun saya menjadi bagian dari pengajian rutin malam Senin ini.

Bagi Anda, mungkin ini bukan persoalan menarik. Tapi bagi saya, ini bukan sekadar soal waktu malam Seninnya, tapi alasan di balik malam Senin itu dipilih. Sebab, saya percaya, orang-orang tua kita dahulu, selalu punya pertimbangan untuk meletakkan hal penting sebagai dasar filosofisnya. Ini alasan pertama, mengapa malam Senin itu harus dijelaskan.

Alasan berikutnya, tidak semua orang puas dengan jawaban: “emang dari sononya begitu”. Saya termasuk di antaranya. Bisa jadi, Anda juga demikian.

Mencukupkan diri dengan jawaban “emang dari sononya begitu”, memaksa nalar tetap tertidur. Orang tidak akan pernah mau tahu karena seakan dipaksa menerima tanpa perlu bersikap kritis. Apalagi jika jawaban: “emang dari sononya begitu” diiringi dengan penegasan; “yang kagak-kagak bae lu tanyain!” Selesailah perkara untuk sementara waktu.

Paradigma “emang dari sononya begitu” tidak terdengar pagi ini. Dan, malam Senin menjadi lebih terang dari biasanya.

Pager

Pasti Anda tahu soal pager. Ya, produk anyaman dari serat bambu. Pada dekade 90-an, masih ada satu dua orang Pulo yang memproduksi. Skalanya pun kecil. Sekarang, entah masih ada atau tidak orang Pulo yang menekuni usaha ini.

Pager itu istimewa. Ia punya ikatan emosional yang kuat dengan pengajian rutin malam Senin. Sebab, rata-rata, mata pencaharian orang-orang tua kita dahulu, generasi pertama Muhammadiyah Ranting Pulo berdagang pager. Dari hasil berdagang pager itu, keuangan persyarikatan dihimpun dari para anggota seperak demi seperak. Bolehlah dikatakan, saat itu, keuangan persyarikatan bisa berdenyut salah satunya karena pager.

Saya yang lahir di era tahun 70-an, masih menikmati masa-masa orang tua kita membuat pager. Sering nongkrongin mereka “ngeset”. Pernah juga mencoba belajar, tapi bukan serat bambu yang “dikeset”, malah tumit kaki kiri bagian dalam yang saya bacok. Untung saja yang kena bacok bukan mata kaki. Kapok.

“Ngeset” merupakan proses kedua pembuatan pager setelah sebelumnya bambu dipotong seukuran pager akan dianyam. Potongan bambu itu lalu dibelah menjadi bagian-bagian seukuran tiga jari. Belahan-belahan ini disebut “karagan”. Karagan itu kemudian dicacah bagian tengahnya–istilahnya disebut “nyacag”–dari ujung ke ujung. Dengan dicacah itu, karagan akan pipih dan lebih mudah saat dikeset.

Bendo, jengkok, dan talenan, adalah tiga piranti “ngeset”. Dengan tiga piranti itu, ruas-ruas karagan dikeset menjadi serat-serat bambu yang tipis dan lentur. Satu potong karagan bisa menghasilkan 5 sampai 8 lembar serat. Serat-serat itu kemudian dianyam.

“Nganam” adalah istilah proses menganyam serat-serat bambu menjadi pager atau bilik. Proses ini merupakan perpaduan dari keterampilan, kecerdasan, dan estetika. Jadi, “nganam” bukan proses biasa. Jika tidak terampil, tidak cerdas, dan tidak punya jiwa estetik, bisa saja ada posisi anyaman yang keliru, tidak bertemu pola siku dan ruas. Bila Anda pernah mendapatkan pengalaman “nganam” pager, Anda pasti paham.

Milir

Tradisi milir paling erat hubungannya dengan pengajian malam Senin. Milir merupakan kegiatan pemasaran produk pager. Orang-orang tua kita memikul lipatan-lipatan pager untuk dijual ke Jakarta berjalan kaki karena keterbatasan transportasi. Bayangkan, betapa harus bersusah-susah memikul berlembar-lembar pager dari Depok ke Jakarta. Syukur kalau cuaca sedang cerah, tapi kalau sedang hujan, bayangkan, betapa lebih berat milir itu harus dijalani. Karena itu, milir bukan perkara mudah, tapi pekerjaan yang mengucur keringat dan melelehkan air mata jika mental tidak sekuat baja.

Begitulah nasib milir. Demi mendapatkan uang untuk menghidupi keluarga dan berderma untuk persyarikatan, orang tua memeras tenaga dan pikiran. Asalkan dapur rumah tangga tetap mengepul, asalkan bisa menyisihkan untuk kas perjuangan persyarikatan tetap ada, maka pundak dan kaki menjadi kendaraan “jihad milir” mereka.

Biasanya, milir dilakukan berombongan, seperti kafilah dagang suku Quraisy dahulu. Bisa lima sampai delapan orang berangkat bersama pergi milir. Kadang beberapa hari tidak pulang sampai lembar-lembar pager habis terjual. Kadang tetap harus pulang, meskipun pager belum laku dan tidak membawa pulang uang barang seperak.

H. Sabeni, salah seorang dari generasi awal persyarikatan pernah menuturkan pada saya. Beliau pernah mengalami pahitnya derita milir. Saat itu, bulan Ramadhan. Dan, inilah salah satu karakter generasi awal persyarikatan yang taat pada syari’at. Beliau tetap berpuasa seperti kawan-kawan yang lain berpuasa.

Satu hari, sampai maghrib, tak selembar pager pun yang laku dari 10 lembar pager yang beliau jajakan. Waktu itu, selembar pager seharga 8 perak. Tak ada seperak pun uang di kantong. Beliau tertidur di sebuah langgar karena kelelahan dengan lapar dan dahaga berpuasa.

Saat bedug maghrib berbunyi, beliau terbangun. Karena tidak ada bekal apa pun untuk berbuka, beliau segera ke kolam wudu. Dan, dengan air wudu itu pula, H. Sabeni minum berbuka. Setelah itu, beliau salat Magrib lalu memutuskan pulang dengan menitipkan pagernya pada seseorang yang tinggal di sekitar langgar.

Beberapa hari berikutnya, H. Sabeni datang untuk melanjutkan milir. Tanpa beliau duga, sesampainya di tempat pager-pager itu dititipkan, semua pagernya sudah terjual. Betapa girang beliau waktu itu. Diberinyalah 8 perak orang yang telah menjualkan pagernya itu. Dan orang itu luar biasa girangnya mendapatkan 8 perak pemberian H. Sabeni.

Pengajian Malam Selasa

Meskipun hidup susah, bergantung pada pager dan keberuntungan rezeki dari milir, generasi awal tidak meninggalkan kewajiban mengaji. Setiap malam Selasa, pengajian rutin digelar di masjid Al-Huda.

Dalam setiap pengajian, arisan menyertai sebagai sarana menghimpun dana persyarikatan dari sisihan uang arisan itu. Begitu berlangsung setiap minggu. Sedikit-demi sedikit uang terkumpul untuk keperluan tabligh dan membangun. Jangan tanya, betapa beratnya tantangan membesarkan Ranting Muhammadiyah saat itu. Kalau bukan karena tekad dan keyakinan pada jalan dakwah Muhammadiyah, tentu mereka akan lebih baik memilih fokus cari uang saja, tidak perlu menambah hidup yang memang sudah susah dengan memikul beban persyarikatan yang tidak memberi mereka gaji dan penghasilan.

Hari Minggu, adalah hari generasi awal persyarikatan berkumpul dengan keluarga sepulang milir. Jika rezeki sedang bagus, hari itu mereka membawa uang dan keuntungan yang cukup untuk menutupi kebutuhan hidup beberapa hari sampai nanti harus berangkat milir lagi.

Untuk mengantisipasi uang sudah menipis sampai malam Selasa, maka digeserlah pengajian menjadi malam Senin. Alasannya sangat logis, taktis, dan cerdas. Malam Senin, rata-rata mereka masih punya uang cukup untuk arisan dan beramal. Sementara jika pengajian tetap malam Selasa, besar kemungkinan separuh laba uang milir sudah dibelanjakan. Bahkan, bila keperluan sedang banyak dan mendesak, malam Selasa uang tinggal sedikit, atau bahkan mereka sudah tidak memegang uang sama sekali. 

Begitulah kecerdikan para generasi awal persyarikatan Ranting Muhammadiyah Pulo dahulu. Mereka pandai menyiasati agar keperluan hidup rumah tangga tercukupi, dan amal untuk persyarikatan juga kebagian. Bagaimana dengan kita sekarang? 

Pengajian rutin malam Senin adalah jariah para pendahulu. Kita adalah generasi sekarang, penyambung pahala itu terus mengalir untuk kita dan mereka, atau terputus sampai di sini. Para pendahulu yang suda tiada, terus akan menikmati fasilitas pahala itu karena peninggalan baiknya dilanjutkan generasi persyarikatan hari ini. Tapi, jika kita memilih jalan berhenti melanjutkan, maka selesai pula aliran pahala itu untuk mereka.
Siapa pun orang yang mencontohkan suatu sunnah (perbuatan) yang baik yang diamalkan oleh orang lain setelahnya, maka ia mendapat pahala sebanyak pahala orang lain yang telah melakukan perbuatan baik tersebut tanpa mengurangi pahala orang-orang yang telah melakukannya. Siapa orang yang mencontohkan suatu perbuatan yang jelek, maka maka ia mendapat dosa sebanyak dosa orang lain yang telah melakukan perbuatan jelek tersebut tanpa mengurangi dosa orang-orang yang telah melakukannya. (Hadits riwayat al-Darimi).
Allaahu a’lam.

Rabu, 21 Juli 2021

Selamat Jalan Sahabat Literat

Punya banyak sahabat itu menyenangkan, namun kehadiran sahabat literat di antara para sahabat itu menyempurnakan.

Sabar


Ia penyabar. Kalau bukan karena sifatnya itu, rasanya tak cukup syarat buat ia mengajar peserta didik kelas 1 tingkat Ibtidaiyah.

Saya tak tahu persis, masa baktinya yang sudah 24 tahun di Madrasah Pembangunan, apa sejak semula memang ia mengajar di kelas 1. Bila iya, 'gak kebayang kesabarannya. Andaikan saya, oh, bisa mengibarkan bendera putih sebelum bel istirahat berbunyi.

Bolehlah disebut, siapa pun guru yang mengajar kelas-kelas awal, punya kesabaran level berlapis dibanding guru yang mengajar kelas-kelas di atasnya. Dan, ia adalah satu dari para guru yang punya kesabaran berlapis itu.

Dari tutur kata dan air muka, memang ia penyabar serta murah senyum. Hampir tidak pernah saat bertemu dengannya, ia menampakkan air muka yang keruh.

Humoris

Ia punya sense of humor. Tidak ada kesempatan berkumpul bersama berlalu tanpa joke-joke-nya yang membuat suasana jadi segar. Dan, semua orang  bisa tertawa lepas saat ia melempar joke, sementara ia sering hanya menahan tawa sambil menutup mulut. Seolah, ia sudah cukup puas dengan menyaksikan sahabat-sahabatnya terpingkal-pingkal.

Ada keceriaan saat ia hadir. Kadang, rapat-rapat redaksi yang kaku karena mengejar deadline, menjadi lentur karena joke-joke-nya ampuh mengendurkan syaraf yang tegang. Saat menjadi redaktur, juga saat menjadi Pemred Al Ashri, saya menikmati joke-jok-nya meski sepintas lalu. Akan tetapi, saya lalu setuju, waktu sangat membutuhkan sosok seperti dia dalam dunia jurnalistik yang kerap "berjudi" dengan taruhan deadline.

Literat

Ia sahabat literat. Sebagai redaktur, dedikasinya mengelola beberapa rubrik majalah Al Ashri tidak pernah terbengkalai. Meski belakangan kesehatannya tak lagi prima, tanggung jawab itu masih mampu diembannya seperti saat ia masih bugar. Bolehlah disebut, Al Ashri merupakan warisan literasi yang ia tinggalkan untuk Madrasah Pembangunan sampai titik dedikasi yang terakhir.

Kalaulah boleh sekali lagi saya dekatkan dedikasinya pada Al Ashri, ia seperti garam yang membuat taste dan aroma hidangan Al Ashri menyeruak dari dasar mangkuk. Sedapnya cita rasa itu terasa kuat sampai cicipan yang terakhir bagi yang memahami seluk-beluk kerja jurnalistik.

Punya banyak sahabat itu menyenangkan, namun kehadiran sahabat literat di antara para sahabat itu menyempurnakan.

Kesan

Kesan saya sangat terbatas pada sahabat penyabar, humoris, dan literat itu. Bisa jadi, ia hanya mewakili diri saya sendiri. Belum tentu orang yang mengenal sosoknya lebih dekat dari saya setuju sebab kesan saya belum cukup menggambarkan pribadinya lebih layak.

Akan tetapi malam ini, saat orang-orang yang mengenalnya berkumpul dalam majelis virtual bersamaan dengan jasadnya disalatkan lalu dikuburkan, semua memberi kesaksian bahwa ia orang baik, bahwa semua merasa kehilangan karena kebaikannya.

Saya percaya, semua orang punya kesan sendiri pada sosoknya. Ada banyak yang punya kesan itu, tapi tak ingin diucapkan, tak sempat pula dituliskan. Namun apa pun itu, semua sepakat bahwa doa yang terbaik untuknya malam ini dan malam-malam sesudahnya adalah jalan kesan paling berharga untuknya yang dipersembahkan pada kali terakhir. Atau, meminjam ungkapan host–maestro Ice Breaker Indonesia–sebagai persembahan terindah untuk almarhum.

Selamat Jalan


25 Juni 2021, pukul 15.48 WIB saya masih kontak. Pak Hasan memang rajin "menagih" tulisan saya untuk rubrik "Teras Literasi" Majalah Al Ashri. Tak menyangka, itu komunikasi saya yang terakhir.

Hari ini, Rabu 21 Juli 2021, pukul 06.07 pagi, ia dikabarkan kritis dan sedang membutuhkan oksigen. Melihat foto yang dilampirkan pada kabar yang menghentak perasaan itu, memang tampak kondisinya begitu lelah. Seketika saja, doa-doa terbaik memenuhi halaman WhatsApp grup di semua lini madrasah. Saya percaya, semua mencemaskannya dalam kepasrahan doa-doa yang mengiring harapan agar ia lekas sembuh, lekas kembali beraktivitas seperti sedia kala.

Akan tetapi, semua tak bisa mengelak atas takdir. Ia berpulang. Innalillahi wainnaa ilaihi raaji'uun. Purna sudah amal baktinya di Madrasah Pembangunan. Maafkan saya, maafkan kami semua bila kemarin belum sempat meminta keikhlasanmu bila ada yang membuatmu tergores. Semoga Allah memaafkan segala khilaf dan menerima semua kebaikanmu. Keluarga yang ditinggalkan menerima dengan ikhlas, sabar, dan tabah. Aamiin.

Selamat jalan Pak Hasan, selamat jalan sahabat literat.

Depok, 21 Juli 2021.

Senin, 14 Juni 2021

BUNGKUS GORENGAN


Bu Nuril keluar dari ruangan Pak Kusnadi dengan muka memerah. Pikirannya tertuju pada satu orang yang disangkanya dalang dari bocornya laporan keuangan studi wisata itu. Jari jemarinya lalu dengan cepat menekan nomor-nomor pada keyboard ponselnya.

PAK Gusnadi memanggil Bu Nuril ke ruangannya. Mukanya memerah menahan kesal.

“Mengapa bisa begini, Bu Nuril? Ibu bilang laporan keuangan aman!”

Pak Gusnadi mengingatkan Bu Nuril, bila mereka tidak bisa mempertanggungjawabkan masalah ini, bukan tidak mungkin yayasan akan mencabut mandat mereka sebagai kepala dan wakil kepala sekolah.

Bu Nuril tidak menjawab. Mau menjawab apa, sebab mereka berdua yang merancang laporan keuangan itu.

“Bisa jadi, bukan cuma jabatan kita yang akan dicopot, Bu Nuril. Bagaimana kalau kita dipecat dari Budi Mulia?”

“Tapi, selisih uang itu bukan untuk kita sendiri kan, Pak? Separuh kita distribusikan pada teman-teman panitia sesuai keringat mereka masing-masing.”

“Itu pula jawaban yang saya sampaikan kemarin.”

“Terus, apa masalahnya?”

“Masalahnya, Bu Retno bertanya, mengapa panitia tidak mengajukan tambahan honorarium saja daripada memasukan angka tidak sesuai dengan pengeluaran? Kuitansi pun sempat ditanyakan Bu Retno.”

Bu Nuril keluar dari ruangan Pak Kusnadi dengan muka memerah. Pikirannya tertuju pada satu orang yang disangkanya dalang dari bocornya laporan keuangan studi wisata itu. Jari jemarinya lalu dengan cepat menekan nomor-nomor pada keyboard ponselnya.

Bolak-balik Bu Nuril menempelkan ponsel di telinganya. Menekan kembali tombol call berkali-kali. Rupanya panggilannya tak juga dijawab. Bu Nuril tampak gusar. Lalu, jari jemarinya bergerak lagi, lebih cepat, lebih panjang dari sekadar menekan nomor kontak orang yang hendak dia hubungi. Beberapa saat kemudian, jempol Bu Nuril sudah mendahului mengirimkan pesan WhatsApp sebelum hati dan pikirannya berbicara memberi pertimbangan.

Bu, apa maksudnya ini? Inikah maksud Ibu ingin belajar membuat laporan keuangan yang aman dengan mengadu pada yayasan? Jika Ibu ingin kembali ke Budi Mulia, bukan begini caranya. Ibu pikir saya takut, terus dipecat gara-gara hal sepele ini? Tidak, Bu. Saya kenal baik dengan orang-orang yayasan.

Memang, tidak punya pekerjaan tetap itu sangat menyiksa. Saran saya, mengapa tidak berjualan sayur keliling keluar desa Makmur? Sayuran melimpah di sini. Ibu bisa ngutang dulu pada petani. Menyedihkan memang. Tapi, jangan gengsi, Bu. Meskipun Ibu sarjana computer programming, tak ada salahnya mencoba merintis jadi “pengusaha” sayuran. Oh, iya. Tolong sediakan waktu, saya ingin bertemu dan memberi pelajaran yang setimpal atas cara norak ibu mengadu pada yayasan! Saya tunggu!
Centang satu. Centang dua. Centang dua warna biru.

Bu Nuril tak berkedip memandangi layar ponselnya. Berharap ada respon. Namun, respon balasan tidak kunjung ia terima. Bu Nuril berpikir, bisa jadi karena orang yang menerima pesannya tidak punya alasan atau takut untuk merespon.

Sampai seharian, Bu Nuril tidak juga mendapat respon. Dia kesal. Ditekan kembali nomor yang sama. Lagi-lagi panggilannya tidak dijawab. Bu Nuril bertambah kesal. Beberapa saat kemudian, ada pesan masuk ke ponselnya. Bu Nuril berharap itu pesan yang dia tunggu-tunggu. Akan tetapi, lagi-lagi Bu Nuril kesal. Pesan masuk itu dari Pak Gusnadi.
Pertemuan rutin bulanan dengan yayasan mendadak dimajukan. Barusan saya dihubungi Pak Suyudi. Yayasan mengundang silaturahmi dengan seluruh guru dan karyawan Budi Mulia Sabtu depan. Bu Retno mengundurkan diri karena alasan kesehatan.
Bu Nuril menghubungi Pak Gusnadi menanyakan apa yang harus dia lakukan untuk pertemuan itu. Dia juga ingin tahu sikap akhir yayasan mengenai laporan keuangan yang kemarin dipersoalkan.
Baik, Pak.
Bu Nuril ingatkan saja semua guru, jangan sampai ada yang tidak hadir. Ini acara penting yayasan. Jangan lupa seragam. Pakai seragam batik cokelat Budi Mulia.
Kalau boleh tahu, sikap resmi yayasan soal laporan keuangan itu bagaimana?
Pak Gusnadi menarik napas.
Segala transaksi pengadaan barang kebutuhan kepanitiaan dari pihak ketiga akan ditangani langsung bendahara yayasan untuk menjaga iklim transaksi yang sehat. Panitia hanya punya wewenang mengajukan alokasi honorarium panitia. Ini berlaku untuk semester depan dan seterusnya.
Bu Nuril terdiam. Dalam diam itu, pikirannya melintas pada orang yang dia duga telah sengaja membocorkan laporan keuangan itu pada yayasan. Sekarang, dia merasa perlu masalah ini harus dibicarakan dengan Pak Gusnadi.
Maaf, Pak. Sepertinya ada orang ketiga yang membocorkan laporan keuangan itu pada yayasan. Saya tahu siapa orangnya.

Saya juga tahu.
Bu Nuril terhenyak.
Kalau begitu, sebaiknya kita selesaikan, Pak.

Tidak perlu. Masalah ini dianggap Bu Retno sudah selesai.

Syukurlah kalau masalah ini oleh yayasan sudah dianggap selesai. Tapi dengan pihak yang membocorkan laporan itu kepada yayasan, saya rasa belum. Menurut saya, orang ini sudah lompat pagar mencampuri urusan intern Budi Mulia. Dia sudah merusak reputasi kita.” Ucap Bu Nuril kesal sambil menyebut pihak ketiga yang dia maksud.

Bukan!Vendor kaus seragam studi wisata yang melaporkan.
Bu Nuril terkesiap.

Pak Gusnadi lalu mengulang cerita Bu Retno, bahwa sebelum dia diminta bertemu yayasan, pemilik konveksi menghubungi Bu Retno melalui nomor kontak yayasan yang tertera pada kop laporan. Kronologisnya bermula dari pemilik konveksi membeli gorengan. Dia terkejut mendapati informasi pada kantong kertas gorengan yang dibelinya. Ternyata itu bagian dari dokumen laporan keuangan panitia studi wisata Budi Mulia. Dalam laporan itu disebutkan nama konveksi miliknya sebagai rekanan penyedia seragam.
Ada tanda tangan kita dalam dokumen kantong gorengan itu.
Perasaan Bu Nuril berubah menjadi gelisah.

Pak Gusnadi melanjutkan penjelasannya.

Pemilik konveksi terkejut, ada selisih transaksi yang cukup besar antara harga beli dengan angka yang tertulis dalam laporan. Pemilik konveksi bukan hendak menuntut, tapi meminta penjelasan mengapa ini bisa terjadi. Sebab katanya, ini menyangkut reputasi konveksinya bertalian dengan kualitas barang dengan harga yang tidak sepadan. Harga yang tertera dalam laporan adalah harga untuk kualitas bahan eksklusif, sementara harga transaksi dengan Budi Mulia adalah kaus dengan bahan biasa.
Rasanya kok, seperti kebetulan ya, Bu Nuril. Pemilik konveksi itu kolega Bu Retno. Mereka dahulu sama-sama relawan. Dan, reputasi kita hampir benar-benar tamat gara-gara angka di balik bungkus gorengan itu.
Wajah Bu Nuril memucat. Jantungnya berdetak cepat saat Pak Gusnadi meminta Bu Nuril mencari tahu, siapa yang sudah bertindak ceroboh menjual berkas-berkas dan kertas tak terpakai Budi Mulia kepada tukang loak. Sebab, pangkal persoalan yang tengah membelit mereka berdua ada di sana.
Halo! Halo, Bu Nuril! Halo!

DALAM kata sambutannya, Bu Retno menyampaikan ucapan terima kasih kepada pengurus yayasan, karyawan, pendidik dan tenaga kependidikan yang telah membersamainya sejak Budi Mulia berdiri. Kepada pendidik dan tenaga kependidikan yang baru beberapa tahun belakangan bergabung pun, Bu Retno juga menyampaikan ucapan terima kasih yang setara.

Pada kesempatan itu pula, Bu Retno menyilakan Pak Suyudi yang dipanggilnya “Pak Yudi” untuk membacakan Surat Keputusan Yayasan Budi Mulia tentang penghargaan bagi pendidik dan tenaga kependidikan dengan masa tugas terlama. Masing-masing mendapat penghargaan satu unit rumah untuk masa pengabdian 25 tahun, haji untuk masa pengabdian 20 tahun, dan satu unit sepeda motor untuk untuk masa pengabdian 15 tahun. Seluruh tenaga pendidik dan tenaga kependidikan juga mendapat kenaikan gaji dan tunjangan yang dihitung berdasarkan rasio masa pengabdian.

Yayasan juga memberikan penghargaan kepada peserta didik, Pak Gusnadi, dan guru pembimbing yang telah mengantarkan Budi Mulia meraih peringkat kedua pada Kompetisi Sains Nasional-Provinsi (KSN-P). Pak Gusnadi mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi S-2. Sedangkan peserta didik yang tergabung pada tim KSN-P Budi Mulia mendapatkan masing-masing satu unit laptop dan gratis biaya SPP selama setahun. Sedangkan penghargaan untuk guru pembimbing KSN-P tidak disebutkan dalam surat keputusan itu.

“Hari ini saya mundur dengan hati lega.”

Dari atas podium, Bu Retno menyebutkan alasan pengunduran dirinya. Masalah kesehatan dan usia tidak memungkinkan lagi baginya memimpin yayasan. Namun, dia senang sekali karena orang yang akan menggantikannya adalah sosok yang tepat, masih muda, cerdas, dan energik untuk masa depan Budi Mulia.

Pada kesempatan itu pula, Bu Retno menyinggung soal Tika Pratiwi. Bu Retno tahu, banyak pendidik dan tenaga kependidikan Budi Mulia saat ini penasaran seperti apakah wajah Tika Pratiwi, sosok yang menginspirasi mereka bekerja di Budi Mulia.

“Saya sangat beruntung pernah mengenal Tika Pratiwi,” lanjut Bu Retno.

Bu Retno menceritakan soal Tika Pratiwi yang disebutnya sebagai sahabat yang lebih dia hormati setelah mereka sama-sama mendirikan Budi Mulia.

“Dan hari ini, melalui Pak Gusnadi, Tuhan mempertemukan saya kembali pada sahabat saya yang lain, Nida Farhana. Saya, Tika Pratiwi, dan Nida Farhana sama-sama relawan yang dikirim ke Afrika. Kami bertiga berkawan dekat. Hanya saja, saya kehilangan kontak dengan Nida setahun setelah kami kembali dari Afrika. Rupanya, Nida sibuk mengurus usaha konveksi yang dirintis bersama suaminya yang pengusaha tekstil.”

Bu Retno lalu menyambungkan cerita tentang Tika dengan memperkenalkan Pak Wahyu, suami Tika Pratiwi. Selama ini, Pak Wahyu memang tidak banyak terlibat langsung dalam mengurus yayasan. Hari ini, Pak Wahyu pun menyatakan akan mundur dari dewan pengurus harian. Dia dan Bu Retno akan duduk sebagai Dewan Pembina Yayasan Budi Mulia.

Pak Gusnadi yang semula tampak rileks, mulai tak tenang. Pikirannya kembali pada persoalan laporan keuangan gara-gara nama Nida Farhana. Beberapa kali dia membuka ponselnya sekadar mengurangi kegelisahan. Bu Nuril tampak pula mulai tak tenang.

Beberapa saat kemudian, Bu Retno menyebut nama ketua Yayasan Budi Mulia yang baru; Berlianti Kusumawardhani. Semua mata terbelalak. Apalagi saat disampaikan bahwa Berlianti Kusumawardhani tidak lain putri tunggal Tika Pratiwi.

“Jika Bapak dan Ibu ingin tahu seperti apa wajah Tika Pratiwi, lihatlah Bu Berli. Bu Berli ini copy paste Tika seusianya sekarang.” Ucap Bu Retno mengakhiri seremoni di atas podium.

Bu Nuril speechless.

Beberapa saat kemudian, Berlianti yang datang dari balik tirai langsung menuju podium dan memberi kata sambutan didampingi Bu Retno. Dalam kata sambutannya, Berlianti berkata bahwa Budi Mulia sangat beruntung memiliki para pendidik dan tenaga kependidikan berkarakter. Hadirin berdiri menyambut kata sambutan Berlianti. Tepuk tangan meriah bergemuruh.

Bu Nuril meraih ponsel dari tas di pangkuannya. Jari-jemarinya mengetik cepat. Rupanya, Bu Nuril tengah berusaha menghapus pesan WA yang dia kirim kepada guru infal beberapa waktu yang lalu sementara matanya yang nanar masih menatap podium.

Sepuluh menit kemudian, grup WA guru Budi Mulia heboh. Bu Nuril berubah pucat. Puluhan WA masuk meminta klarifikasi atas pesan yang dia kirim. Rupanya, pesan WA yang hendak dia hapus malah di-forward ke grup WA guru Budi Mulia tanpa dia sadari.|