A homepage subtitle here And an awesome description here!

Minggu, 30 Mei 2021

TIPS MENGATASI GATAL DI LIDAH


Sudah aku bilang Ayah jangan sakit, malah sakit.


Ini hari ketiga saya demam. Lumayan berat rasanya. Obat hanya membantu mengatasi selama beberapa jam. Setelah itu, demam lagi.


Ada infeksi sekitar pangkal paha sebelah kiri. Seperti bisul, tapi tidak seperti rupa bisul umumnya yang ber"mata". Tak tampak ada "mata" pada hari pertama dan kedua selain rasa nyeri. Ya sudah, saya simpulkan saja ini adalah bisul. Dari pada pusing. Melawan nyerinya saja sudah puyeng.

Pada malam salat gerhana, rasa nyeri makin berat. Apa mau dikata, tugas tak tega saya batalkan karena waktu kedatangan si bisul tak mempertimbangkan jadwal gerhana yang mepet. Kasihan panitia, mau cari pengganti ke mana. Maka, tetap maju pantang mundur. Bismillah.

Akan tetapi, kondisi fit adalah kunci setiap pekerjaan sempurna dieksekusi. Kayaknya begitu. Inilah yang tidak bisa saya persembahkan. Saat takbirratulihram rekaat pertama sampai turun dari mimbar, saya sudah kesulitan mengkompromikan antara hafalan dan rasa nyeri. Konsentrasi pecah. Sempat dua kali bacaan saya dikoreksi jamaah.

Alhamdulillah, imam memang merasa tenang jika makmum di belakangnya oke. Semoga jamaah yang membetulkan bacaan saya tidak tahu, bahwa sejak berangkat ke masjid, saya sudah meringis-ringis. Cukuplah dia tahu bahwa saya sedang silap.

Hari ini, meski rasa nyeri makin hebat dan demam masih naik turun, sudah tampak "mata" si bisul. Selama "mata" itu belum enyah, pastilah nyeri dan demam belum akan mereda. "Awas lu!" Ancam saya.

Namun, tak kurang pula nikmat yang Allah beri. Pada beberapa jeda meringis-ringis dan banyak berbaring, Uwais sering menghibur. Celotehnya memaksa saya tersenyum. Bukan soal tutur katanya yang mendekati standar KBBI dan PUEBI untuk anak usia 5 tahun, tapi kadang kala, celotehnya agak-agak 'jail'.

"Sudah aku bilang Ayah jangan sakit, malah sakit."

Ini yang dikatakan Uwais pada hari pertama saya banyak berbaring. Bahasanya rapi dan berpola umumnya bahasa tutur yang baik.

"Semoga ayah cepat sembuh."

Ini kalimat keduanya sebelum anak ini kembali bermain.

"Hai, Ayah."
"Hati-hati, Ayah. Jangan ngebut!"

Sapaan demikian saya nikmati hampir sepanjang waktu dan saat akan berangkat mengajar.

Kemarin sore, suara guruh lumayan sering selama beberapa menit. Hari mulai gelap. Bundanya belum pulang dari mencari keperluan. Uwais menanyakan ke mana bundanya pergi. Saat Bundanya tiba di rumah di saat guruh masih bersahutan, Uwais begitu senang. "Alhamdulillah." Itulah kalimat yang keluar dari mulutnya dengan semringah saat melihat Bundanya datang. Saya yang sedang berbaring di sampingnya mengulangi hamdalahnya.

Siang ini Uwais memberi tahu apabila suatu saat saya mengalami gatal-gatal di lidah. Saya serius akan menyimak. Saya pikir, ini ilmu yang entah dia dapat dari mana. Palingan dari tokoh kesukaannya "Upin dan Ipin" pikir saya.

Sebelum anak ini menyampaikan tips mengatasi gatal-gatal itu, pikiran saya menerawang. Jawabannya, pastilah ada ramuan obat herbal yang harus diminum, pil, atau tablet resep dokter. Ternyata bukan. Tipsnya sungguh simpel dan murah.

Nyeri dan demam seperti hilang sesaat karena tips Uwais cukup membuat saya geli. Benarlah, anak-anak merupakan hiburan, perhiasan dan kesenangan, di samping ujian berat di dunia.

"Digaruk pake gigi." Katanya.

Duh, Uwais. 

Jawaban ini membawa alam fiksi saya pada tokoh rekaan buku ringan yang kerjaanya mengajak pembacanya menertawai penganut SEPILIS. Tokoh yang jail, nyeleneh, kolot, dan kampungan, tapi otaknya encer.

Begitulah saya terhibur di tengah ujian. Semoga nyeri dan demam ini segera berlalu.|


Kamis, 20 Mei 2021

REUNI SPIRITUAL


Reuni Kecil. Duduk dari kiri ke kanan: Fatimah, Mulyati, Ratu Ratna Wulan, Rosyidah, Habibah, dan Khusnul Halimah. Berdiri dari kiri ke kanan: Saya (Abdul Mutaqin), Mas Amron Khasani, Mas Haji Rusmono, dan  Kang Jari Jahruddin. (Foto: Dok. Mas Haji Rusmono)


Ini reuni unik. Boleh dikata, mungkin, inilah satu-satunya reuni yang ditutup dengan kuliah tentang manajemen kematian. Narasumbernya Mas Mono, inisiator reuni dan yang merogoh kocek untuk sup gurame, gurame goreng, ayam goreng, dan lalapan penyerta makan siang yang hangat dan bersahaja. Hati saya dag dig dug seperti suara beduk lebaran sejak berangkat dari rumah. Mau bertemu 'alumni' sejak lulus 25 tahun silam, rasanya gimanaaa gitu. Maaaaaaaak!!! 

Ini catatan ringkas saya tentang reuni hari ini. Kamis, 20 Mei 2021, tepat seminggu setelah lebaran.

Pertama, bahagia sekali rasanya. Beneran, kebahagiaan itu nyaris tidak berubah seperti dahulu sejak zaman kuliah. Mas Amron lah yang memantik. Dia yang berhasil membawa alam pikir kami semua kembali ke masa itu, masa-masa masih kurus ceking, ngejar-ngejar makalah, dan ngotot supaya dapat nilai bagus. Dia terlalu vulgar, bahkan untuk menyebut ungkapan yang "secret" kepada salah seorang dari kami. Tentu, itu bukan ditujukan kepada saya, Mas Mono, atau Mas Jari yang dimaksud. Hahahaha. 

Kedua, bahwa persaudaraan itu memang autentik dan penting untuk tetap dipelihara dalam kebersamaan. Buktinya, perjumpaan kami hari ini terasa ada yang hilang, yaitu wajah-wajah yang tidak kami dapati di meja hidangan.  Meskipun tidak semua terjangkau, rasa kangen itu dipuaskan dengan video call  beberapa dari yang tidak hadir. Terobatilah sedikit rasa itu dengen telewicara dan telemeeting. Beneran, meskipun tak bersambung nasab, rasa saudara begitu kental saat pertemuan itu berlangsung.  

Ketiga, haru. Rasanya, ketidakhadiran teman-teman karena perasoalan jarak dan kesibukan masing-masing hingga tidak dapat bergabung mengurangi bahagia itu. Tiap kali sup gurami hendak disuap, terbayang wajah Sahidup, Roid, Yadi, Mukhson, Solkihudin Radio, Teh Yayat, Mbak Hilmi, Mas Tohari, Mbak Fiqoh, Murni, Mas Ansori, Pawit, Muchdi, Solehuddin, Eti Fauziyah, Riyadi Solihin, Sobah, Farida, Ali Eryanto, Marwi, Tony Latifi, Mas Slamet Tohirin, Ahmad Mukti, Nurmilah, RA. Fauzi, Mutmainnah, Murtafiah, siapa lagi saya lupa. Akan tetapi, wajah mereka semua berkelebat seakan tidak rela tidak ikut menikmati sup gurame.

Gurame Goreng Resto Situ Gintung. Kepala Gurame menghadap ke saya. Bisa jadi dia tak suka saya tatap seakan berteriak, "Ape lo!?  (Foto: Dok. Mas Haji Rusmono)

Keempat, pertemuan hari ini bukan sekadar bertemu dan mengobrol tantang hidup dan kehidupan. Tetapi kami disadarkan, bahwa suatu saat, entah siapa yang mendahului, semuanya akan berpulang. Teman kita Sri Sunarsih, sudah mendahului. Semoga lapang kuburnya dan bahagia di sisi-Nya.|

Mas Mono luar biasa. Sudah ratusan kali dia memberi kuliah tentang manajemen kematian. Menginspirasi banyak orang yang ikut kelasnya sampai pada kesadaran bahwa semua kita akan mati, sementara kebanyakan manusia lupa bahwa semua manusia akan kembali. Falsafah tentang keuntungan memandikan jenazah keluarga, meskipun singkat disampaikan, namun pesannya sampai kepada kami semua bahwa itu penting. 

Maka, reuni kecil hari ini jadi berdimensi spiritual, bukan sekadar pertemuan yang profan, nisbi, dan sesaat seperti nikmat yang sesaat hidangan Resto Situ Gintung. Satu waktu, sudah saatnya kita alumni D-2 mengikuti kelas Mas Mono di  "Kuliah Manajemen Kematian" Masjid Raya Pondok Indah.|

"Kang, masih nyukur?" Tanya Mas Jari.

Wkwkwkwkwkw.

Mas Jari memang masih seperti dahulu, lugu. Orang lagi bahagia ketemuan, eh menyingkap profesi masa lalu. Untunglah Kang Yadi orang yang paling easygoing sedunia. Dia menimpali.

"Mao nyukur?"

Qiqiqiqiqiqi.

Itulah obrolan pembuka saat reuni disambung menyambangi rumah Kang Yadi Setiadi. Seperti biasa, Kang Yadi berhasil mengocok perut kami. Ada saja cerita yang dia bawakan saat pertemuan bersambung lagi di rumah Mas Amron.

Dengan Kang Yadi, ada moment yang tidak bisa saya lupakan. Saat itu, Kang Yadi "diusir" Prof. Dr. Salman Harun, Dekan Fakultas Tarbiyah sewaktu kami mengurus administrasi konversi dari D-2 ke S-1. Pasalnya, Kang Yadi pake kaos. Prof. Salman tidak mau menerima mahasiswa yang pake kaos ke kantornya. Maka, saya harus melepas kemeja, tukeran dulu dengan Kang Yadi. Padahal seumur-umur, saya tidak pernah pake kaos saat kuliah.

Suara beduk di hati saya baru reda setelah Mas Amron berkelakar tapi melempar pesan serius. Bahwa kita semua sudah menjadi pribadi yang utuh dalam kebahagiaan yang digenggam masing-masing saat ini. Tentu, saya bahagia berjumpa semuanya hari ini dengan kebahagiaan sebagaimana yang Mas Amron katakan. Semoga Allah melanggengkan kebahagiaan teman-teman semua, baik yang hadir ataupun tidak. Selalu hidup rukun dalam rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.
  
Next, semoga niat berkunjung ke Ketanggungan bisa kesampaian. Terus bisa lanjut ke Purbalingga. Semoga.

'Ala kulli haal,
alhamdulillah. Matur suwun sanget Mas Mono telah menjadi wasilah silaturahim hari ini. Semoga Allah membalas dengan kebaikan yang berlipat ganda. Aamiin.



Senin, 17 Mei 2021

PALESTINA DAN MEME KHILAFAH





Meme Palestina. (Foto: Dok. nugrislucu)

Birruh, biddam, nabdika ya Aqsa!



DI Palestina, anak perempuan berusia delapan atau sembilan tahun mengaku tidak takut dengan bom Israel itu biasa. Atau, anak laki-laki kelas 2 SMP melempar tentara Isarel dengan batu di komplek Al-Aqsa, itupun pemandangan biasa. Menjadi martir sekalipun, rasanya bukan perkara yang mereka takutkan.

“Birruh, biddam, nabdika ya Aqsa!” Kalimat ini diucapkan anak-anak Palestina sambil menarik karet ketapel yang diarahkan ke tentara zionis yang merebut tanah mereka dan menguasai komplek Al-Aqsa. Anak sekecil itu berteriak lantang: “Dengan jiwa dan darah, kami akan membelamu wahai al-Aqsa!” Rasanya, tidak ada tempat di muka bumi ini, di mana anak anak-anak bisa seberani itu selain di Palestina.

Seolah, anak-anak itu adalah Izzuddin al-Qassam, sayap militernya HAMAS kecil atau faksi lain seperti Brigade Al-Quds. Seperti namanya, “HAMAS”; Harakah Al Muqawamah Al Islamiyah, “gerakan perlawanan Islam” bila diterjemahkan, anak-anak itu sudah sadar sedari kecil bahwa mereka adalah mujahid.

HAMAS didirikan oleh ulama kharismatik; Syaikh Ahmad Yasin rahimahullah. Bersama beberapa aktivis Islam seperti Abdul Aziz Rantisi, Shalah Syahadah, Ibrahim Yazuri, dan Isa Nashshar HAMAS dibentuk pada 14 Desember 1987. Tujuannya jelas; membebaskan seluruh bumi Palestina dari penjajah Israel tanpa syarat dan mendirikan Daulah Islamiyah di Palestina.

Batalyon Izzuddin al-Qassam dibentuk pada 1991. Nama batalyon ini mengingatkan orang yang menaruh cinta dan minat pada Palestina pada sosok mujahid, ulama sunni Palestina yang syahid pada 1935 di Jenin, di masa penjajahan Perancis.|

Palestina memang tidak sendirian, akan tetapi zionis pun banyak pendukungnya di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Sebagian mereka terang-terangan berada di pihak zionis, sebagian lagi sembunyi-sembunyi. Ada pula yang malu-malu kucing alias abu-abu. Gak jelas banget. Ucapan, tulisan, dan sikapnya seolah pro-Palestina, tapi condong pada zionis. Model yang seperti ini di Indonesia tidak sedikit, malas menyebutkannya.

Lalu, apa akar masalah konflik Palestina-Israel sampai hari ini?

Para pendukung zionis menyalahkan rakyat Palestina. Ini jelas. Rakyat Palestina ditembaki, mereka sebut sebagai tindakan membela diri karena rakyat Palestina memprovokasi mereka dengan kekerasan. Jadi, seolah mereka ingin mengatakan: “Wajar dong orang Palestina ditembak? Mereka yang mulai, sih.”

Padahal, perampasan tanah, pendudukan, pembantaian massal, blokade, penangkapan, rasialisme, dan pengusiran oleh zionis atas warga Palestina adalah akar masalah yang mereka bakar sejak 1947 sampai hari ini. Sekali lagi, ini akar masalahnya. Bukan intifadah, bukan ketapel, dan bukan lemparan batu anak-anak Palestina yang tidak berdosa. Tidak akan ada intifadah di bumi Palestina bila bangsa keturunan kera itu tidak semena-mena dan tahu caranya berterima kasih kepada muslim Palestina.

Fauzil Adhim adalah pendidik yang lembut. Akan tetapi, dia sangat gusar dalam narasinya tentang orang Yahudi Israel itu. “Dahulu monyet-monyet kudisan tanpa alas kaki dan tanpa baju ini datang dalam keadaan terusir. Tidak ada satu pun negeri di Eropa mau menerima kehadiran mereka. Satu-satunya negeri yang mau menerima mereka adalah Palestina dan menyambut hangat kehadiran mereka. Muslimin Palestina memperlakukan mereka layaknya manusia. Bukan sebagai monyet kudisan.”

Saya belum cek, apakah ini benar kalimat-kalimat Fauzhil Adhim atau bukan. Hanya saja, broadcast yang beredar di WA, jelas ada tercantum nama Adhim di akhir tulisan. Adhim seolah ingin menyaingi kegarangan Hitler dalam menilai orang-orang Yahudi yang tida tahu berterima kasih itu.

Hitler menyebut Yahudi itu sebagai “race-tuberculosis of the peoples”; ras yang menjadi sumber penyakit bagi ummat manusia seperti ganasnya tuberkolosis. Hitler memusnahkan mereka dari negerinya, tetapi ia menyisakan sebagian agar kelak dunia mengerti mengapa ia membinasakan mereka. Kata Hitler, “I would have killed all the Jews of the world, but I kept some to show the world why I killed them. (Aku akan membunuh seluruh orang Yahudi di muka bumi, tetapi aku menyisakan sebagian untuk menunjukkan mengapa aku membunuh mereka),” pungkas Adhim.|

Banyak cara untuk membela Palestina. Memang, tidak mesti harus datang ke sana sambil menenteng ketapel bergabung dengan anak-anak pemberani melempari tentara zionis dengan batu. Asalkan jangan bersikap abu-abu sudah merupakan empati, meskipun itu sekecil-kecilnya pembelaan.

Anak-anak Indonesia menyaksikan dari jauh wujud cinta Palestina. Akan tetapi, empati di antara mereka sangat dekat melihat aksi heroik anak-anak Palestina itu melalui sharing video tentang Al-Quds. Mereka punya cara sendiri khas anak SMP dalam menunjukkannya seolah mereka juga ada di sana turut menarik karet ketapel. 

Sharing video tentang Al-Quds menunjukkan mereka mau tahu sejarah dunia Islam. Ini cara elegan seorang anak usia SMP dalam menumbuhkan kesadaran sejarah dalam bingkai ukhuwwah islamiyyah sebagai pembelajaran kontekstual. Bahwa di mana pun, Muslimin terikat sebagai saudara seiman, terlepas dari apa pun ras, suku, warna kulit, bahasa, pro atau tidak pada khilafah, dan warna nasionalisme masing-masing. Semua perbedaan itu lebur dalam semangat yang sama; rasa memiliki Baitul Maqdis.

Masalah Palestina memang tidak sesederhana topik diskusi soal khilafah versus nasionalisme di meja debat yang kesimpulannya sulit dipertemukan. Karena itu, membela Palestina sambil menyindir hanya karena beda pandangan soal khilafah lewat meme, sebaiknya dihindari selama kontribusi pembelaan sendiri belum seujung kuku dibanding gigihnya khilafah terakhir membela Palestina. Alih-alih ingin menempatkan diri sebagai pro-Palestina lewat meme, yang timbul malah kesan sebaliknya.

Allahu a’lam bishawab.

Minggu, 16 Mei 2021

PELANGI

Dikunjungi alumni MIM 2 Cipayung Angkatan 1993. (Foto: Dok. Nurhikmah)


Ada kata mutiara yang berbunyi ilmu apabila tidak diamalkan seperti pohon yang tidak berbuah. Namun, percayalah buah-buah ilmu yang Bapak berikan telah saya bawa sebagai bekal kehidupan. ... Semoga lelahmu menjadi Lillah._ Ziggy.


Terus terang, kalimat di atas begitu menghentak. Dikirim oleh siswa saya yang masih sangat muda.

Saya bermenung sejenak, rasanya, pada usia yang sama saat kelas 1 SMP, sekali pun, saya tidak pernah menulis kalimat bernas untuk guru saya seperti yang saya terima dua hari kemarin persis di hari lebaran. Bisa jadi karena waktu itu saya belum mengenal teknologi Handphone.

Namun, bukan itu rasanya alasan yang jujur. Literasi saya amat terbatas. Ini alasan yang benar.

Siswa saya ini, meski baru kelas 7, tetapi literasinya memukau dari kalimat ucapan selamat lebaran yang dia kirim. Kalimatnya berhasil membuat saya speechless dan merenung hanya dengan satu paragraf saja.

Hebat anak ini. Dia berhasil keluar dari paragraf membosankan, 'mendayu-dayu', tidak efekif, dan dipuitis-puitisi hanya untuk sekadar meminta maaf lahir dan batin. Saya katakan ini, karena kerap kali saya amat boros dalam menulis semisal kalimat ucapan selamat.

Anak ini pun tidak 'tergoda' menggunakan ungkapan: "dari lubuk hati yang paling dalam", atau minta: "izinkan kami dengan segala kerendahan hati bersama keluarga dan orang sekampung untuk meminta maaf" dan semisalnya.

Mungkin ungkapan itu dipandang terlalu mainstream. Bisa jadi dia memang tidak mau mencomot dari gudang template ucapan selamat hari lebaran yang disediakan medsos.

Lepas dari itu, kata-kata memang bisa memberi warna. Membaca ucapan satu paragraf di atas, jiwa serasa sedang bertelekan di atas pelangi.|


28 tahun silam, saya mengajar mereka. Saya tak tahu kesan mereka saat dahulu saya mengajar. Biarlah itu menjadi milik mereka masing-masing.

Beberapa waktu berselang, ada sekali kesempatan bertemu mereka dalam reuni kecil. Saya dan dua orang guru berkesempatan hadir.

Ada yang masih bertahan sejak terakhir kami berinteraksi di kelas pada 1993 pada reuni itu, yaitu; takzim mereka kepada kami guru-gurunya.

Hari ini rasa bahagia seperti reuni kecil itu berulang. Mereka datang berkunjung membawa takzim yang sama, menyambung silaturahim di hari lebaran, dan mendoakan untuk kebaikan saya dan keluarga. Adakah yang lebih membahagiakan dari itu? Nothing.

Betapa saya surprise di sela-sela kami mengobrol mendapati beberapa di antara mereka mengaku sudah punya menantu. Aih, mendadak saya merasa masih sangat muda meskipun rambut ini tak bisa berdusta.|

Menerima satu paragraf ucapan selamat lebaran yang keren dan dikunjungi satu angkatan MIM 2 Cipayung tempat dahulu saya mengajar, seperti indah warna pelangi di sore yang merintik hujan.

Semoga kalian melimpah berkah. Selamat Idul Fitri 1442 H. Teruslah menciptakan pelangi dengan kata-kata dan silaturahim.| 


Jumat, 12 Maret 2021

Gadget Lebih Penting Dari Khutbah?

Kecanduan game.(Shutterstock)


Technology is a useful servant but a dangerous master. 

Saya hampir-hampir setuju dengan quote Christian Lous Lange di atas. Bisa jadi, Anda juga demikian. Rasanya, membaca sekilas quote Lous Lange itu, kita tidak membutuhkan banyak argumen untuk menerima pendapat bahwa, “teknologi adalah hamba yang berguna, tetapi tuan yang berbahaya”.

Adalah saya secara kebetulan selama beberapa Jumat memerhatikan fenomena. Namun kali ini, apakah pembaca sepakat bahwa fenomena yang saya amati sudah melewati batas kewajaran atau tidak, itu soal kedua. Namun, yang pertama, dan ini adalah core dari kegelisahan saya, bahwa pecandu gadget seperti sudah tidak punya ruang untuk sakralitas Jumatan.

Ceritanya, saya benar-benar heran. Pada Jumatan beberapa minggu yang lewat, saya tak kuasa dari tidak terheran-heran. Seorang remaja–lebih pantasnya seperti mahasiswa–sejak awal datang dan duduk, tidak lepas dari gadget. Saya pikir, nanti ia akan berhenti saat nanti azan berkumandang. Ternyata, tidak. Ia masih asyik dengan gedgetnya. Dalam hati saya tetap berhusnuzan, bisa jadi, ia masih sempat menjawab dalam hati apa yang diucapkan muazin meskipun jari-jemarinya sibuk menari-nari di atas layar gadget. Bisa saja, kan?

Namun dugaan saya meleset. Bahkan sampai khatib membaca doa penutup pada khutbah kedua, pun ia masih asyik dengan gadgetnya. Jari-jemarinya masih sibuk scrolling mengusap ke atas dan ke bawah punggung gadgetnya. Saya begitu penasaran, sedikit mengintip, apa sih yang membuatnya sedemikian ‘hormat’ dengan gadget dan mengabaikan pahala mendengarkan khutbah?

Rupanya dia asyik membaca komik digital.

Hari ini, di tempat yang sama, remaja yang sama, dengan kelakuan yang sama pula. Bedanya, sejak datang dan duduk, dia asyik ber-Instagram, ber-WhatsApp, dan lagi; membaca komik digital. Saya tahu, karena saya mengintip dari awal sampai akhir. Lagi, dan kali ini saya harus mengelus dada. Sampai doa penutup khutbah kedua, ia tidak menghiraukan sama sekali. Ia tetap fokus pada gadgetnya. Saya akui, konsentrasi saya pun pecah dari menyimak isi khutbah tentang makna Isra dan Mikraj karena ‘gregetan’ dengan kelakuan remaja itu.

Ya Tuhan, apakah perasaan ‘gregetan’ saya dapat dibenarkan melihat kelakuan model begitu?

Fikih mengajarkan, bahwa ibadah Jumat itu sangat agung. Bahkan, untuk sampai pada taraf kesempurnaan berjumat, kaum muslimin terbiasa mengamalkan sunnah-sunnah sebelum berangkat ke masjid agar keagungan Jumat tidak berlalu begitu saja. Mandi, memotong kuku dan kumis, memakai pakaian yang bersih–lebih utama yang berwarna putih–dan memakai wangi-wangian sudah menjadi bagian dari literasi berjumat.

Sesaat kaki akan melangkah untuk berjumat pun, masih ada amalan yang akan menambah bobot pahala Jumat. Berdoa ketika keluar rumah dan disunnahkan segera menuju ke masjid dengan berjalan kaki perlahan-lahan dan tidak banyak bicara. Nanti sesampainya di masjid, ketika masuk masjid melangkah dengan kaki kanan dan membaca doa. Terus melaksanakan salat sunnah tahiyyatul masjid. Kemudian iktikaf sambil membaca Al-Qur’an, berzikir, atau bersalawat jika khatib belum naik mimbar. Jika khatib sudah naik ke mimbar, maka zikir atau bacaan Al-Qur’an pun disudahi untuk mendengarkan khutbah.

Amalan-amalan tersebut tentu bukan sekadar amalan sunnah, melainkan sebagai penghormatan akan pentingnya ibadah Jumat hingga adab-adabnya pun diajarkan secara rinci. Dan, yang perlu digarisbawahi, betapa mulianya kedudukan khutbah pada penyelenggaraan ibadah Jumat.

“Barangsiapa yang berbuat sia-sia, maka tidak ada (pahala) shalat Jumat untuknya.” Demikian bunyi sebuah riwayat dari Imam Ahmad.

Bisa jadi semua orang sepakat bahwa kesia-siaan adalah perkara buruk. Namun, kesia-siaan sebagai akibat dari tidak mengindahkan marwah ibadah Jumat bukan saja perkara buruk, melainkan sudah jatuh pada perilaku merendahkan syariat berjumat.

Sibuk bergadget ria saat khatib menyampaikan khutbah, tentu sukar diterima. Bukan saja sukar diterima dengan segudang dalil tentang kewajiban menjaga dari kesia-siaan berjumat, tapi juga atas pertimbangan standar perasaan dan akal budi. Memang, apa yang diharap dari bermain gadget saat khatib berkhutbah?  Apakah masih tak cukup waktu sibuk dengan gadget di luar masjid? Apabila pada kondisi sakral saja tidak bisa lepas dari gadget, bagaimana pada kondisi di luar itu?

Kalau Christian Lous Lange berkata, “Technology is a useful servant but a dangerous master”, Al-Quran menyitir ada manusia yang terang-terangan mempertuhankan hawa nafsu yang disembah-sembah (lihat QS. Al Furqãn [25]: 43). Secara tidak sadar, bisa jadi, bagi segelintir orang, gadget sudah menjadi ‘tuhan-tuhan’ kecil dalam kehidupan modern hari ini meskipun saat ia bersimpuh di lantai masjid.

Bolehlah kita bertanya, mengapa itu bisa terjadi?

Untuk hal ini, literasi berjumat kepada jamaah rasanya sudah tidak cukup sekadar imbauan untuk menonaktifkan HP atau alat komunikasi. Rasanya, literasi digital menjadi sangat mendesak menjadi kurikulum ibadah bagi kaum muslimin untuk disampaikan hingga ke bilik-bilik rumah tangga agar ibadah mereka tidak sia-sia karena ketidakmengertian yang tidak perlu.

Allahu a’lam.

Ciputat, 12 Maret 2021.


Sabtu, 06 Februari 2021

MISTERI KUOTA INTERNET; Sebuah Sampel Novel 9 Bab






Chapter 1

SEJAK Berlianti tidak sengaja menangkap percakapan Pak Gusnadi dengan Bu Nuril, ia seperti mendengar dialog para penyamun soal bancakan. Sepotong bait Lagu Indonesia Raya “Bangunlah jiwanya bangunlah badannya”, ia rasa sudah tidak bertuah lagi. Lagu Kebangsaan itu memang masih menggema setiap Senin pagi di sekolah itu, tapi spiritnya sudah banyak disimpan di bawah alas kaki.

“Papa lihat, sudah dua hari kamu banyak diam. Ada apa?”
“Muak, Pa.”
“Muak?”
“Berlin mau mundur saja dari madrasah.”
“Serius?”
“Budi Mulia sudah roboh, Papa. Madrasah itu sudah jadi sarang penyamun. Sudah cukup Berlin di sana.” Berlianti berkata datar, tanpa ekspresi.

Bachtiar terhenyak. Dia menatap Berlianti dengan mata menyelisik. Dia tahu persis watak putri tunggalnya itu. Dia keras seperti almarhum ibunya. Bahkan, putri biologisnya itu sudah pula naik levelnya menjadi anak ideologis sejak dia bergabung menjadi Menwa sewaktu kuliah. Apabila Berlianti sudah mengatakan sesuatu dengan pilihan kata yang lugas seperti kata “muak”, itu artinya ada sesuatu yang tidak beres di mata putrinya itu.

Bachtiar meletakkan album foto di tangannya. Nostalgia yang tengah dia kenang buyar seketika. Tadinya, mata Bachtiar menyala-nyala menatap satu demi satu foto di album itu, foto saat dia masih mengenakan seragam loreng. Sekarang, perhatiannya pindah pada Berlianti, sepenuh perhatian seorang Ayah yang sedang membimbing putri kecilnya melangkah di jalan yang terjal.

“Berlin, ada apa sebenarnya?”

Berlianti menggeleng. Dia tidak menjawab pertanyaan Papanya.

“Tak usahlah Papa tahu.”
“Baik. Lalu, kalau kamu mundur, siapa yang akan mengajar matematika anak-anak itu? Para penyamun?”
“Itu bukan urusanku lagi, Papa.”
“Itu harus jadi urusanmu sekarang.”

Berlianti menatap wibawa di mata Papanya. Itu satu-satunya tatapan mata meluluhkan yang membuat Berlianti tidak berdaya. Seakan Berlianti tersedot masuk ke dalam jiwa sang Papa melalui kornea, iris, pupil, sklera, dan konjungtiva mata sang Papa yang tak tampak sudah meredup karena ia menua. Namun, wibawa di mata itu belum redup. Ia masih menyala seperti mata prajurit sejati. Berlianti berlutut di sana.

Tatapan mata Sang Papa adalah kesetiaan bagi gadis itu. Bagaimana tidak, Bachtiar memilih tetap menduda sepanjang hidup untuk membesarkan Berlianti sendirian. Laki-laki itu tidak mau mencari pengganti Tika. Dia tidak bersedia membagi cintanya lagi setelah Tika tiada. Cintanya hanya tersisa cinta seorang Papa kepada putrinya. Maka, Bachtiar adalah segalanya bagi gadis itu. Dia bukan saja seorang Papa, tetapi sekaligus Mama baginya yang sangat dia dengar kata-katanya.|

LAGU Indonesia Raya menggema setiap upacara Senin pagi di sekolah itu. Bagi Berlianti, Indonesia Raya adalah darah yang mengalir dan tulang yang menyangga idealismenya. Lagu itulah awal mula yang memanggil jiwa Berlianti menjadi guru, tepat sebulan dia menetap di desa Makmur. Seolah, Wage Rudolf Supratman sedang berdiri di muka pintu kelas sambil tersenyum dan melambaikan tangan kepadanya saat lagu itu menggema. Di belakangnya, berdiri para perempuan. Mereka personifikasi dari Dewi Sartika, Cut Nyak Dien, Martha Christina Tiahahu, Malahayati, Cut Nyak Meutia, Nyi Ageng Serang, Maria Walanda Maramis, Nyai Dahlan, dan Kartini. Begitulah imajinasi Berlianti menghadirkan bayangan sosok-sosok permaisuri nusantara itu tiap kali upacara digelar.

Hari itu, kelompok paduan suara, siswa, guru, staf Tata Usaha, sampai penjaga sekolah dan tukang sapu khidmat menyanyikan Indonesia Raya dengan sikap sempurna. Orang-orang yang lalu lalang di muka sekolah pun berhenti sejenak. Petani yang berangkat ke sawah, ibu-ibu yang pulang dari atau menuju warung sayur, buruh yang tergesa berangkat ke pabrik, atau para kuli panggul yang hendak mengais rezeki di pasar, berdiri mematung sejenak sampai lagu Indonesia Raya berakhir. Mata mereka mengawal bendera yang dikerek tangan-tangan mungil naik ke angkasa dan berkibar mengikuti irama paduan suara. Semua ikut bernyanyi.

Belakangan, Lagu Indonesia Raya di halaman sekolah itu dinyanyikan dengan iringan musik seperti musik upacara bendera memperingati detik-detik proklamasi di Istana Negara. Sound system dan VCD player mengambil alih Lagu Kebangsaan itu jadi lebih menggelegar, melangit ke seantero desa tetangga.

Berlianti selalu menyaksikan saat upacara di sekolah itu berlangsung dari balik jendela kamarnya. Berlianti tak puas. Satu waktu, ia turun dari kamarnya. Ia melangkah mendekati sekolah itu membaur dengan para perempuan desa Makmur. Ia ikut berdiri saat bendera berkibar-kibar merangkak naik sambil menyanyikan Lagu Indonesia Raya, lagu yang selalu memanggil-manggil jiwanya kapanpun lagu itu ditangkap telinganya.

Setelah upacara selesai, Berlianti mengamati dari dekat sekolah itu. Rasanya, ia tengah menikmati hidangan cinta tanah air lewat semua rangkaian upacara bendera yang telah usai. Darahnya terasa menghangat dan dadanya bergemuruh. Matanya terasa panas karena kebanggaan yang meluap-luap. Entah mengapa, Berlianti teringat pada sosok perempuan yang paling ia kagumi saat ia berada di sana. Sosok itu seolah-olah menyampaikan pesan agar ia turut merawat pesan ibu pertiwi di sini.

Mengajar tidak pernah terbayangkan bagi seorang Berlianti. Dia bukan lulusan sekolah keguruan atau sarjana fakultas ilmu pedagogik. Idealisme patriotik lah yang mendorongnya menjalani profesi itu. Berlianti seakan menjawab lambaian para pahlawan itu dengan berdiri bersama mereka menjadi pandu ibu pertiwi untuk ikut berperang di medan pendidikan, medan perang yang asing baginya.|

“NENG orang baru, ya?” tanya seorang perempuan pada Berlianti selepas upacara usai.

Berlianti melempar senyum dan mengangguk. Lalu, dia menyapa beberapa perempuan seraya memperkenalkan diri. Beberapa dari perempuan itu mengajak Berlianti duduk di warung sekadar menikmati makanan ringan dengan teh hangat sambil berbincang. Berlianti menyambut ajakan bersahaja itu, ajakan tulus khas orang-orang desa yang lugu.

Warung itu sederhana. Akan tetapi, ia tampak bersih dan sehat. Tidak ada makanan yang terbuka. Semuanya tertutup. Sepertinya, pemilik warung itu sangat mengerti tentang kesehatan makanan. 

Pemilik warung itu seorang perempuan berbadan tambun, tapi manis dan ramah. Bu Umi namanya. Berlianti tahu nama itu dari beberapa perempuan yang menanyakan ada makanan apa saja pagi hari itu. Rupanya, beberapa dari para perempuan itu adalah orang tua siswa yang biasa mengantar anak mereka ke sekolah dan mangkal di warung Bu Umi sebelum mereka pulang.

Suasana terasa cepat sekali mencair. Berlianti yang supel segera bisa menyesuaikan diri berbincang ringan dengan mereka. Selanjutnya, sambil mereka menikmati bala-bala yang yang masih mengepul, para perempuan di warung Bu Umi menghujani Berlianti dengan pertanyaan-pertanyaan menggoda. Berlianti seperti artis yang sedang diwawancarai wartawan infotainment. Ibu-ibu itu seakan berlomba-lomba menanyakan semuanya perihal Berlianti, dari menanyakan asal Berlianti sampai mengapa wajahnya bisa secantik itu.

Bu Umi, si pemilik warung yang paling menggebu-gebu. Ia bertanya apa saja sampai pada urusan Berlianti yang bersifat pribadi. Dengan gaya berseloroh, perempuan berbadan tambun itu menyelisik, apakah Berlianti sudah punya pacar atau belum. Kalau sudah punya pacar, Bu Umi mengaku terlambat. Kalau belum, berarti ada harapan buat Bu Umi punya menantu secantik Berlianti.

“Ah, kamu kepedean, Umi.”
“Yang namanya usaha, tidak ada salahnya, Saroh.” Bu Umi menjawab tudingan seorang perempuan bernama Saroh.
“Ayo kita taruhan. Anakmu, atau anakku yang nanti berjodoh dengan Neng Berlin.” Saroh menantang.

Tawa para perempuan pecah berderai-derai. Obrolan jadi semakin riuh.

Perempuan yang lain tidak mau kalah. Merasa ada juga dari mereka yang memiliki anak perjaka, mereka lebih nekat dari Bu Umi dan Saroh. Suasana lalu berubah seperti kontes perkenalan para calon mertua di hadapan Berlianti di Senin pagi itu. Masing-masing memperkenalkan anak lelaki mereka dengan berseloroh. Ada yang mengaku anak perjakanya seganteng bintang film India, sekeren bintang drama Korea, bahkan ada yang terlalu nekat menyebut ketampanan anaknya mendekati ketampanan Nabi Yusuf.

Wajah Berlianti bersemu memerah disuguhi keluguan para perempuan desa itu. Meskipun begitu, Berlianti merasa terhibur. Ia merasakan kepolosan orang desa yang jarang ditemukan saat ia masih tinggal di Jakarta. Untuk kali pertama, Berlianti menikmati kebersahajaan itu sejak dia menetap di sini.

Bu Umi mengurai keriuhan yang dia ciptakan sendiri. Ia menegaskan pada Berlianti bahwa mereka semua hanya bercanda. Berlianti menimpali pula sambil berseloroh. Kata Berlianti, bila saja Bu Umi dan ibu-ibu itu sungguh-sungguh pun, Berlianti menyesal, mengapa baru sekarang ia pindah ke desa makmur.

“Memangnya kenapa, Neng? Kok, menyesal?”
“Sebab, ternyata di sini cowoknya keren-keren, Bu Umi. Sementara, saya sudah jatuh hati pada laki-laki lain. Kasihan kan kalau saya tinggalin laki-laki itu gara-gara ada cowok setampan Nabi Yusuf di sini?”

Tawa kembali pecah berderai.

Sementara, halaman sekolah sudah mulai sepi dari anak-anak. Hanya tampak beberapa petugas sedang merapikan peralatan upacara. Kelas-kelas mulai hidup. Suara beberapa guru terdengar jelas sudah mengajar. Akan tetapi, beberapa siswa malah keluar dari kelas menuju warung Bu Umi. Mereka membaur, memesan teh manis, mie rebus, atau memesan bala-bala yang dicacah di atas piring lalu disiram kuah sambal. Saat anak-anak itu diingatkan Bu Umi agar mereka kembali masuk kelas, mereka mengaku belum sarapan. Dalam keadaan perut kosong, mereka sukar konsentrasi. Malah, mereka mengaku konsentrasi belajar mereka pindah ke warung Bu Umi.

“Lagian, nggak ada gurunya kok,” ucap salah seorang dari mereka.
“Lha, kok setiap Senin pagi, nggak ada gurunya? Senin kemarin, nggak ada gurunya. Kemarinnya lagi, nggak ada gurunya juga. Sekarang, nggak ada gurunya lagi. Kalian bohong ya?” Bu Umi menyelisik.
“Beneran Bu Umiii,” jawab anak itu dengan nada menekan buat meyakinkan Bu Umi. “Nggak tahu, tuh. Sudah sebulan gurunya gak masuk. Kalo nggak percaya, coba aja Bu Umi masuk kelas. Terus gantiin Pak Uston ngajar matematika,” ujar anak itu lagi sambil menikmati cacahan bala-bala dengan kuah sambal.

Bu Umi cemberut mendengar jawaban lugas salah seorang dari anak-anak itu. Sekarang, giliran tawa riuh anak-anak sekolah yang mengisi warung Bu Umi. Anak-anak itu tampak amat riang. Entah, apakah riang karena guru mereka tidak hadir di kelas, ataukah karena meledek Bu Umi dengan memintanya mengajar menggantikan guru mereka.

Berlianti menikmati keluguan anak-anak itu, sama seperti dahulu ia begitu senang apabila ada guru yang tidak hadir di kelasnya. Apalagi, guru yang tidak hadir itu mengampu mata pelajaran yang tidak ia sukai, berarti itu hadiah “free time”. Rasanya, kelas seketika berubah menjadi arena bermain yang menyenangkan. Berlianti bisa ke kantin seperti yang dilakukan anak-anak itu saat ini. Lain waktu, dia bergabung ke kelas sebelah yang kebetulan guru mereka pun tidak masuk.

Di SMA, istilah “free time” bahkan menjadi brand di kelas Berlianti. Ada guru favorit karena free time-nya tak habis-habis. Guru itu hadir di sekolah, masuk kelas sebentar, lalu ia pamit, “Anak-anak! Bapak ada urusan. Sekarang free time, ya.” Dan, sekelas Berilanti bersorak kegirangan. Berlianti masih ingat betul, ia pula yang kemudian berujar, “Thank you so much Mr. Free Time! I love you full!”

Guru itu memang terkenal sibuk. Selain sibuk mengajar, ia juga sibuk ikut seminar, pelatihan, mendampingi siswa yang mengikuti lomba, dan berbagai kesibukan urusan kedinasan. Maka, free time-nya guru itu banyak sekali. Semakin senang Berlianti dan teman-teman sekelasnya tiap kali hadiah free time itu ia dapatkan.

Di lain hari, Berlianti dan teman-temannya memberi julukan guru itu sebagai “Bapak Free Time”. Saat acara reuni, Bapak Free Time lah yang paling banyak mereka bicarakan. Berlianti dan teman-temannya baru berhenti menggunakan panggilan Bapak Free Time setelah guru mereka itu wafat. Tak urung, ada perasaan bersalah menyergap Berlianti. Rasa bersalah itu muncul kembali di benak Berlianti di warung Bu Umi saat itu.

Berlianti tersenyum mendengar para siswa itu menimpali ocehan Bu Umi. Dia jadi tergoda ingin menimpali. Selain itu, Berlianti ingin menyampaikan pesan pada mereka agar benar-benar menggunakan waktu belajar untuk belajar, bukan untuk hal-hal yang tidak penting.

“Terus, kalian tidak dikasih tugas?” Berlianti bertanya sungguh-sungguh.
“Tugasnya susah. Matematika. Nggak ngerti, Kak.”
“Ada yang bawa tugasnya? Coba kakak lihat.”

Seorang dari siswa memberikan buku matematika kepada Berlianti. Di antara para siswa yang sudah mulai menikmati jajanannya, hanya anak itu satu-satunya siswa yang membawa buku matematika lengkap dengan alat tulis. Berlianti bertanya tugas mana yang harus mereka kerjakan.

Siswa tersebut menunjukkannya dengan cepat. Bahkan siswa itu sudah menandai halaman tugas yang harus dikerjakan. Berlianti menyelisik tugas pada halaman buku itu.

“Oh. Ini namanya persamaan kuadrat. Tugas kalian menyelesaikan persamaan kuadrat dengan cara faktorisasi.”

Berlianti meminjam pensil, mencorat-coret sambil menjelaskan cara penyelesaian soal latihan persamaan kuadrat di atas buku siswa itu. Para siswa menyimak sambil menikmati sarapan mereka.

Para perempuan yang tengah menyantap bala-bala di warung Bu Umi memerhatikan. Gadis Jakarta yang barusan mereka tanyai macam-macam itu, persis seperti seorang guru cantik yang sedang memecahkan soal-soal matematika di depan kelas. Anak-anak itu pun tampak senang mendapat penjelasan gratis dari seorang gadis cantik yang baru mereka kenal.

“Nah, selesai soal nomor satu. Gampang, kan?”

Berlianti menyudahi penjelasannya. Ia meneguk sisa teh manis sambil menyudahi bala-balanya yang tinggal separuh. Para siswa itu pun bergumam sambil manggut-manggut mengikuti penjelasan Berlianti yang dengan mudah dan cepat menyelesaikan soal latihan itu.

Sekarang, para siswa itu yang menyerbu Berlianti dengan berbagai pertanyaan yang tidak berhubungan dengan penjelasan Berlianti tentang persamaan kuadrat. Di antara mereka, ada pula yang sedikit “nakal” menanyakan urusan pribadi Berlianti. Bu Umi meradang.

“He! Masih kecil sudah tanya-tanya Neng Berlin sudah punya pacar atau belom!” ucap Bu Umi sambil memonyongkan bibirnya. “Udah! Cepatan makannya! Nanti Pak Murad tahu kalian ada di sini, Bu Umi yang disalahin!” Pungkas Bu Umi.

Belum kering mulut Bu Umi mengingatkan anak-anak itu, seorang laki-laki berbaju safari datang dan berdiri di depan warungnya. Rupanya itu Pak Murad, Kepala Sekolah. Pak Murad menegur siswa-siswanya dan meminta mereka segera kembali ke kelas. Anak-anak itu berhamburan, lari tunggang langgang meninggalkan jajanan mereka. Jajanan mereka pun belum sempat mereka bayar, namun Pak Murad keburu datang. Bu Umi juga tidak luput kena tegur.

“Lain kali, jangan layani mereka di saat jam belajar, Bu Umi. Nanti dilihat anak-anak kelas lain yang sedang belajar, mengganggu konsentrasi mereka.”
“Sudah saya ingatkan, Pak. Mereka bilang belum sarapan. Katanya, kelas mereka juga kosong. Emang kemana sih Pak, gurunya?” Bu Umi membela diri dengan pertanyaan menohok Pak Murad.

Pak Murad agak terkejut atas ucapan Bu Umi. Ia menatap pemilik warung itu dengan tatapan seolah kurang berkenan. Lalu, Pak Murad berganti menatap para perempuan yang balik menatap Pak Murad. Sampai tatapannya bertemu pada wajah Berlianti, Pak Murad tampak kikuk. Mungkin karena dia baru melihat wajah gadis itu pertama kali. Berlianti mengangguk, melempar senyum, dan mengucap salam.

“Iya, Bu Umi. Guru matematika mengundurkan diri. Sekolah belum punya guru pengganti. Susah cari guru matematika. Kasian juga mereka, sudah kelas sembilan, sebentar lagi Ujian Nasional. Jika Bu Umi punya kerabat yang bisa mengajar matematika, dipersilakan mengajukan lamaran,” kata Pak Murad sebeum ia kembali ke sekolah.

“Neng Berlin saja yang ngajar,” ucap Bu Umi setelah Pak Murad pergi.

Berlianti menjawab dengan berseloroh. Ia berkata tidak berbakat menjadi guru. Kalau ia jadi guru, anak-anak bukan tambah pintar, bisa jadi malah tambah tidak mengerti apa yang mereka pelajari.

Berlianti pamit. Sebelum ia meninggalkan warung, ia membayarkan semua harga jajanan Bu Umi yang nikmati ibu-ibu dan anak-anak itu. Tidak lupa, Berlianti mengundang Bu Umi dan ibu-ibu bertandang ke rumahnya.|

Bersambung.

Sabtu, 23 Januari 2021

PESTA LITERASI DI TENGAH PANDEMI

Hari ini, Sabtu 22 Januari 2021 begitu mendebarkan. Acara webinar kepenulisan yang menghadirkan tiga narasumber; Bambang Trim, Donny Dhirgantoro, dan Ratih Purnamasari sudah menguras energi. Sejak persiapan acara pada Jumat siang hingga pukul sebelas malam di studio Madrasah Pembangunan, debar-debar itu belum reda hingga beberapa menit acara berlangsung.

Bukan soal narasumber yang bikin hati berdebar itu, melainkan masalah teknis yang bisa saja membuat acara berantakan. Ini yang bikin panas dingin. Tak terbayangkan bila tiba-tiba di tengah acara berlangsung, jaringan rusak, zoom error, atau ada peralatan pendukung tiba-tiba tidak bisa dioperasikan. Nah, tamat.

Narasumber sekaliber Pak Bambang, Pak Donny, dan Uni Ratih yang sudah bergelut di dunia literasi sih, tidak akan sampai hati mengecewakan panitia Pasta Literasi dan peserta webinar. Sebab, pegiat literasi seperti mereka, paham betul bagaimana berbagi pada insan literasi yang sedang kehausan ilmu kepenulisan.

Beruntunglah, pada akhirnya acara berjalan sesuai skenario. Beberapa kemungkinan kendala teknis yang paling dikhawatirkan tidak terjadi. Plong. Saya sebagai komandan, seperti perempuan menikmati kontraksi lalu bernapas lega. Lelahnya sudah selesai dari mengejan. Di sampingnya, tersenyum dukun beranak sambil menunjukkan bayinya yang masih berlumur darah dengan tangisnya yang pecah. Lha, kok ke sono-sono? Macam beneran perempuan yang merasakan melahirkan saja.

Begitulah webinar yang digelar panitia Pesta Literasi Madrasah Pembangunan Tahun 2020 yang baru terselenggara di awal 2021 ini. Dalam timbangan panitia, acara dianggap sukses. Wabah Covid 19 menjadi alasan penundaan, sekaligus dijadikan tema Pesta Literasi dengan tajuk tetap produktif di era pandemi.

Editor Jatuh Sakit

Debar-debar belum selesai pada Sabtu hari ini. Ada hal lain yang juga membuat saya was-was. Patner saya, yang semula diplot menjadi moderator sesi webinarnya Pak Bambang Trim jatuh sakit. Semoga hanya sakit karena kelelahan dan butuh istirahat yang cukup. Saya tahu, dia kadang menjadi orang yang terakhir pulang dari madrasah saat kami sama-sama mengawal aktivitas literasi di Madrasah Pembangunan. Dia sudah menjadi sahabat literat, beririsan dengan tugas-tugas kami mengajar di Madrasah Pembangunan. Saya di Sejarah Kebudayaan Islam, dia di Bahasa Indonesia yang bertemu pada literasi dan perbukuan di Pustaka MP.



Saya pantas khawatir. Karena di tangannya, draft novel saya “Pengantin Fort van der Capellen” sedang di-review. Dia memang editor, pemegang lisensi editor profesional yang saya percayakan mengawal naskah saya itu sampai layak baca sebelum diterbitkan akhir Januari 2021 nanti. Tentu saja, kesehatan sang editor lebih berharga dari sekadar naskah saya. Biarlah beliau pulih dahulu, lalu meneruskan mengawal naskah saya sampai terbit di Pustaka MP.

Darinya saya belajar sejak menjadi redaktur sampai dipercaya menjadi Pemimpin Redaksi majalah sekolah kami, Majalah Al-Ashri selama dua periode. Dari redaksi Al-Ashri ini, gagasan-gagasan saya dalam pengembangan literasi di madrasah terus bergulir. Sampai kemudian, Direktur MP UIN, Dr. Bahrissalim, MA memberikan rumah penerbitan sekolah yaitu Pustaka MP, rumah publikasi produk literasi menulis di Madrasah Pembangunan.

Twist

Ibarat alur cerita dalam novel, hari Sabtu ini saya mendapatkan dua twist yang melengkapi kebahagiaan karena webinar yang berjalan baik. Twist ini juga menjadi pelipur dari rasa khawatir saya pada editor. Pertama twist dari Pak Sya’ban yang di sela-sela mengikuti webinar mengoprek-oprek membangun blog dengan titel “Madrasah Penulis” lalu diserahkan kepada saya.

Saya memang masih menyimpan redup harapan punya komunitas penulis di Madrasah Pembangunan. Komunitas ini yang nantinya akan menggerakkan budaya literasi menulis, menyelenggarakan event-event literasi, sampai menghasilkan produk literasi berupa karya baik fiksi maupun nonfiksi. Saat blog itu disodorkan, harapan itu menyala lagi.

Twist kedua dari Mbak Woro, editor di sebuah penerbit mayor yang memberi kabar bahwa naskah ebook saya sudah sampai pada tahap dami. Diberikan pula saya bocoran rupa dari kover buku itu. Senangnya bukan alang kepalang. Maka, makin ringanlah harapan saya terwujud bahwa di awal tahun 2021, satu buku dan satu novel saya lahir menyasar pembacanya masing-masing.




Memoar

Event webinar Pesta Literasi Madrasah Pembangunan 2020 akan memasuki skema yang kedua, yaitu Tantangan Menulis. Skema ini merupakan rangsangan bagi para peserta webinar dan masyarakat umum mulai menggerakkan pena-pena mereka untuk menjawab tantangan menulis yang disodorkan oleh panitia. Sebab pembekalannya sudah dapat dalam webinar, saatnya tiba untuk beraksi menulis.

Ada beberapa tantangan menulis yang bisa dipilih peserta, mulai dari menulis buku 5 bab, novel 9 bab, esai, cerpen, dan puisi. Panitia menyediakan apresiasi yang cukup memadai; uang dan penerbitan bagi naskah terpilih.

Begitulah, masa pandemi bukan berarti tidak menghasilkan karya. Namun, bisa menjadi kondisi yang memicu lahirnya karya yang bermanfaat. Menikmati pandemi yang paling mengasyikkan adalah menunjukkan produktivitas. Bagi peminat literasi, Pesta Literasi Madrasah Pembangunan Tahun 2020 adalah iklim yang menumbuhkan produktivitas itu. Mengapa tidak mulai dari sekarang menulis memoar, novel, esai, cerpen, atau puisi tentang PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh), blended learning, atau tentang pembelajaran online?

Ayo bergabung!