A homepage subtitle here And an awesome description here!

Minggu, 30 November 2025

Hikayat Teman Ngopi yang Tertukar

Enaknya punya Teman Ngopi seorang pejabat. Ilustrasi Generate Gemini.


Di dalam KBBI, teman/te·man/ n bisa berarti: 1 kawan; sahabat: 2 orang yang bersama-sama bekerja (berbuat, berjalan); lawan (bercakap-cakap): 3 yang menjadi pelengkap (pasangan) atau yang dipakai (dimakan dan sebagainya) bersama-sama.

Ngopi tidak saya temukan penjelasannya di kamus. Yang ada mengopi/me·ngo·pi/ v minum kopi.

Jadi, Teman Ngopi itu apa artinya? Ya, ribet, ‘gak ada di KBBI soalnya. Namun, arti ngopi sendiri masih bisa dilacak di kamus lain, yaitu KBPS; Kamus Besar Perasaan Saya. Maksudnya, saya rasa, Teman Ngopi bisa diartikan sebagai orang yang sering duduk bersama-sama untuk minum kopi.

Ada makna baru dari frasa Teman Ngopi ini. Dan, sepertinya ia sudah jadi semacam metodologi. Kira-kira dua tahun ke belakang lah, saat frasa ini sering diucapkan oleh orang yang sering nongkrong dengan Teman Ngopi. Maknanya pun lebih spesifik sebagai cara atau pendekatan kepada orang yang kerap duduk bersama-sama minum kopi untuk sama-sama membicarakan hal penting.

Ada pesan penting yang tersembunyi di balik frasa Teman Ngopi di sini. Jadi, apa pun masalah yang sedang dihadapi lembaga, sekrusial apa pun masalah itu, jalan keluarnya adalah Teman Ngopi. Makanya, ia jadi semacam problem-solving methodology.

Namun, ada makna tersembunyi di balik frasa Teman Ngopi. Makna itu sangat halus, halus sekali. Sudahlah halus, tersembunyi pula dia. Karena itu, ia hanya bisa dirasa oleh orang yang sanggup membaca konteks atau rahasia di balik realitas seperti Hamdani Firman. Makna apa itu? Pertama, makna arogansi. Seolah, di tangannya semua masalah bisa selesai hanya dengan lobi kepada pejabat Teman Ngopi.

Kedua, bermakna good relationship. Menunjukkan bahwa ia orang hebat yang luas jaringan, punya koneksi, dan banyak relasi. Jadi, frasa Teman Ngopi itu semacam ajang untuk menunjukkan bahwa ia dikenal banyak kalangan di lingkungan pejabat. Untuk sekadar mengundang mereka jadi pembicara saja, cukup diundang melalui pesan What'sApp, selesai urusan.

Kasus sebuah lembaga di negara Konoha boleh jadi relevan untuk diangkat sebagai permisalan. Satu kali, lembaga di negara Konoha itu dirundung problem. Ruwet! Ruwet! Ruwet! Para pejabat berembuk mencari solusi. Buntu.

Namun, di saat semuanya menemui jalan buntu itu, salah seorang dari mereka nyeletuk.

“Siapa pejabat di bagian itu?”

“Bapak Fulan bin Fulan, Pak.”

“Lah, itu mah, Temen Ngopi saya!”

Byar! Semua lega. Wajah-wajah yang tadinya kusut masai berubah semringah.

Dua hari kemudian, wajah yang tadinya semringah kembali lagi kusut masai. Sebab, ternyata ada keliru analisis. Pada saat audiensi, ternyata pejabat itu bukan Teman Ngopi, melainkan Teman Mancing. Memang, Teman Ngopi dan Teman Mancing beda-beda tipis. Masalahnya lagi, Teman Mancing itu masih marahan gara-gara joran pancingnya dibikin patah.

Bila patah joran itu karena menahan tarikan cupang babon, mungkin pejabat itu memaafkan. Lha, ini patah gara-gara digunakan buat menggebuk kecoa. Saking takut dan panik, tak sadar dia gunakan joran Teman Mancing-nya itu buat menggebuk.

Apes memang pejabat di lembaga negara Konoha ini, kecoanya nggak mati, joran patah dua. Lebih apes lagi, ternyata, setelah ditegesin kecoanya kecoa mainan dari bahan karet. Sejak itulah Teman Mancing ini belum mau berdamai.

“Sama kecoa karet aja Bapak takut! Pejabat apaan, itu!” Hardik Teman Mancing sambil memandangi jorannya.

“Habis, mirip kecoa banget, Pak.” Jawab si pejabat lembaga.

“Diem, lu! Jawab aja!” 

Seminggu kemudian, lembaga itu disegel. Padahal, semua sumber daya sudah dikerahkan. Dari Teman Ngopi, Teman Mancing, sampai Teman Ngarit sudah dilobi. Ya, mau bagaimana lagi, ternyata Teman Ngopi, Teman Mancing, dan Teman Ngarit berbeda kubu dengan pejabat lembaga di negara Konoha.

Sekarang, semua pejabat lembaga di negara Konoha itu berpikir rasional. Pelan-pelan mereka sadar, bahwa tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan Teman Ngopi. Akan tetapi, memilih ikut barisan sama-sama berdiri pada Legal Standing yang tepat karena sudah tercerahkan.

Tahniah.

Begitulah Hikayat Teman Ngopi yang tertukar.


Depok, 30 November 2025.
Sesapan terakhir ngopi tengah malam. Pahit, tapi kaya relaksasi.

Secangkir Kopi Pahit Mengurai Salah Fatal

 

Dummy buku biografi Mualim Awab.


BUKU saya, “Matahari Terbit di Kampung Kami” dituding memuat poin-poin kesalahan oleh penulis “30 Tahun Muhammadiyah Cabang Depok (1952-1982) Asal-usul, Tantangan, dan Pengembangan”. Tudingan itu—lebih tepatnya asumsi—bahkan dilontarkan langsung kepada saya. “Ini salah fatal,” begitu katanya.

Baiklah.

Rupanya, penulis “30 Tahun Muhammadiyah Cabang Depok ...” bukan saja sekadar menginventarisir poin-poin “salah fatal dari buku saya itu. Penulis ini juga rajin sekali mewacanakan tudingan kesalahan-kesalahan itu kepada beberapa orang. Saya tahu dari informasi yang sampai kepada saya. Misalnya, saat pengajian Subuh di Masjid Nur Hidayat, Kekupu, kesalahan-kesalahan itu dibeberkan di hadapan Ketua PDM Kota Depok.

Informasi berikutnya saya dapat dari salah seorang ahli waris Mualim Awab. Saya memang sedang dekat dengan salah satu dari ahli waris Mualim Awab sejak mendapat izin menulis biografi beliau pada Desember tahun lalu. Entah dapat kabar dari siapa penulis ini tahu bahwa saya menulis biografi tokoh pembaru di Rawadenok ini. Rupanya, kepada ahli waris Mualim Awab ini, penulis “30 Tahun Muhammadiyah Cabang Depok ...” juga menyampaikan tudingan poin-poin kesalahan seperti yang disampaikannya kepada Ketua PDM Depok. Maka, saat ia tahu biografi itu saya yang menulis, ia berkata, “Buku yang kemarin saja banyak yang salah!” Pahit, sih rasanya di-jugde begitu. Tapi, ya ditelan saja.

Sebab sudah terlatih menikmati sesapan kopi pahit favorit pendamping menulis, sepahit apa pun tudingan itu, rasanya ia memang lebih pahit dari kopi saya. Pahitnya kopi saya hanya sampai di lidah, tak sampai turun ke hati. Lidah memang tajam, lebih tajam dari sembilu. Maka, pahitnya kena sayatan lidah, pahitnya bertahan lama untuk dilupakan.

Ada alasan lain mengapa sebetulnya saya malas menanggapi tudingan “salah fatal itu. Pertama, satu poin tudingan “salah fatal yakni soal H. Nipan tidak bisa dibuktikan. Sebab, setelah dalam satu kesempatan penulis ini saya pertemukan dengan narasumber saya untuk menjelaskan sosok H. Nipan ini, malah penulis inilah yang “salah fatal. H. Nipan yang dimaksud narasumber saya, berbeda dengan Nipan yang dimaksud penulis “30 Tahun Muhammadiyah Cabang Depok ...” Salah orang ternyata penulis ini. Ini seperti “Jaka Sembung naik ojek, kagak nyambung, Jek!

Lebih detail tentang jawaban saya tentang H. Nipan dan dua poin lain jawaban saya, silakan baca di sini:

https://www.adung.my.id/2025/05/h-nipan-dan-h-saprin-sorotan-tajam-buku.html

https://www.adung.my.id/2025/05/1961-sorotan-tajam-buku-matahari-terbit.html

https://www.adung.my.id/2025/05/muhasim-dan-gerakan-tani-sorotan-tajam.html

Kedua, penulis “30 Tahun Muhammadiyah Cabang Depok ...” setahu saya bukan penulis—dalam arti orang yang sejak muda memang giat menulis buku serta bukunya beredar di pasaran—melainkan ia hanya terbiasa menulis laporan rapat, notulen, atau urusan surat menyurat. Sejak muda, ia banyak mengisi posisi sebagai sekretaris, terutama di Muhammadiyah. Maka, menjadi maklum bila komposisi bahasa “30 Tahun Muhammadiyah Cabang Depok ...” terasa kaku dan menjemukan. 

Isi “30 Tahun Muhammadiyah Cabang Depok ...” memang penting, pake banget, penting banget. Akan tetapi, karena tidak disajikan dalam gaya penulisan yang apik seperti umumnya buku-buku sejarah yang ditulis oleh penulis yang paham bagaimana teknik menulis yang baik, maka “30 Tahun Muhammadiyah Cabang Depok ...” kurang sedap dibaca, kaku, dan kurang menarik. Redaksinya lebih cocok disebut laporan hasil notulen rapat, bukan buku sejarah.

Di mana-mana, orang malas membaca buku sejarah karena sejarah itu membosankan—kecuali para peminat sejarah untuk keperluan riset atau guru sejarah yang mau tidak mau harus membaca buku sumber sebelum mengajar. Selebihnya, buku sejarah jarang dibaca orang. Apalagi buku sejarah yang disajikan dengan bahasa kaku, kering dari background, korelasi yang kurang kuat antar satu peristiwa dengan peristiwa sebelum dan sesudahnya, dan miskin dari unsur cita rasa bahasa yang menarik karena keterbatasan kosakata penulisnya. Buku sejarah seperti ini, jangankan dibaca orang, dilirik saja tidak. Sudahlah kebanyakan orang malas membaca buku sejarah karena ia membosankan, apatah lagi buku sejarah yang ditulis macam laporan yang kering dari estetika bahasa. 

Ketiga, tadinya, saya enggan menanggapi lagi sebab tanggapan sudah pernah saya tulis. Tapi, kok penulis “30 Tahun Muhammadiyah Cabang Depok ...” ini makin berisik ngomongin penilaian“salah fatal” itu kepada beberapa orang. Terlebih, draft buku Biografi Mualim Awab pun disangkutpautkan dengan buku saya sebelumnya sebagai bahan menimbang kualitas draft tersebut. 

Sebelumnya, saya sudah titip pesan kepada komunikator salah seorang ahli waris, cukuplah hanya ahli waris saja dulu yang tahu supaya saya bisa konsentrasi menyelesaikan naskah ini. Tapi, ya sudahlah. Kadung sudah ada orang lain yang tahu, biarlah. Lagi pula, draft biografi ini sudah rampung. Dan sekalian saja saya promosikan di sini.

Tapi rupanya, karakter penulis “30 Tahun Muhammadiyah Cabang Depok ...” ini memang segalanya ingin tahu dan ingin mengomentari apa saja, bahkan pada hal yang belum ia tahu. Misalnya, saat tahu biografi yang saya tulis berdurasi 540-an halaman, responnya cukup menggelikan. Katanya, bukunya saja yang membahas sejarah Muhammadiyah Depok sepanjang 30 tahun hanya 150 halaman. Lah, meraba fisik draft biografi saya saja belum, sudah membandingkan dengan setipis level “30 Tahun Muhammadiyah Cabang Depok ...” Aduh, ini sama saja menelanjangi diri sendiri sebagai penulis yang tidak mengerti anatomi sebuah buku.

Di samping itu, ada yang membuat saya bertanya-tanya. Sudahlah menyatakan: “Buku yang kemarin saja banyak yang salah!” Namun, penulis “30 Tahun Muhammadiyah Cabang Depok ...” ini berkali-kali menelpon salah seorang ahli waris Mualim Awab meminta draft buku ini. Untuk apa?

Jadilah saya menaruh “buruk sangka”. Kalau bukan untuk mengorek sesuatu yang dipandangnya salah dari draft biografi itu, apa lagi coba? Feeling saya berkata, boleh jadi karena ada konflik yang diketahui penulis “30 Tahun Muhammadiyah Cabang Depok ...” dari perjalanan hidup Mualim Awab yang paling pahit sepanjang Mualim Awab bergelut di Persyarikatan yang sebaiknya tidak boleh banyak orang tahu, maka, ia merasa perlu buru-buru membaca draftnya. Namun, boleh jadi feeling saya salah. Semoga memang feeling saya salah.

Akan tetapi lebih dari itu, katakanlah, asalkan poin tudingan “salah fatal” yang ditunjukkan itu nantinya bisa diuji, dan ternyata ia benar, it’s okay. Sebagai penulisnya, saya tidak keberatan mengakui dan akan merevisi. Namun, bila ternyata tudingan “salah fatal itu malah berbalik, mau disikapi bagaimana lagi tudingan itu selain saya anggap saja sebagai angin lalu.

Baik. Saya akan beralih pada poin yang masih berhubungan dengan topik ini. Saya mulai dari hal sederhana, soal diksi (pilihan kata) “fatal”.

Saya belum bosan belajar menulis, termasuk belajar diksi. Bila merujuk kamus, fatal/fa·tal/ artinya 1 mematikan; 2 tidak dapat diubah atau diperbaiki lagi (tentang kerusakan, kesalahan); dan 3 menerima nasib (tidak dapat diubah lagi); celaka.

Ini arti dasar “fatal” menurut kamus.

Dari tiga arti di atas, arti kedua; “tidak dapat diubah atau diperbaiki lagi (tentang kerusakan, kesalahan)” mungkin bisa dipaksakan untuk dipakai memahami tudingan “salah fatal” atas buku saya; “Matahari Terbit di Kampung Kami.”

Mengapa saya sebut diksi “fatal” itu dipaksakan untuk dipakai memahami tudingan atas buku saya? Ya, karena kesalahan pada buku—baik typo, kesalahan data, informasi, atau kesalahan redaksi—bukan kesalahan fatal. Sebab, ia masih bisa diperbaiki sepanjang ada proses “revisi”. Rasa-rasanya, penulis “30 Tahun Muhammadiyah Cabang Depok ...” tidak paham penggunaan diksi “fatal”, baik dalam ucapan maupun tulisan.

Saya beri contoh penggunaan diksi “fatal” yang tepat dan tidak tepat dalam kalimat supaya tambah jelas.

Contoh 1:

Saat Budi melintas di perlintasan kereta, HP-nya jatuh. Beberapa saat kemudian, Fajar Utama Solo melintas dan melindas HP Budi. HP Budi remuk. HP Budi rusak fatal.

Diksi “fatal” pada kalimat di atas tepat, sebab HP yang remuk itu umumnya sudah tidak bisa  diperbaiki.

Contoh 2:

Informasi pesta olahraga Asian Games IV di Jakarta pada surat pengajuan proposal skripsi Saudara tertulis 1960. Ini salah fatal. Seharusnya 1962. Silakan direvisi sebelum Saudara ajukan pada fakultas.

Diksi “fatal” pada contoh 2 kurang tepat, sebab informasi tahun yang salah pada surat pengajuan skripsi masih bisa direvisi atau diperbaiki.

Jelas, ya?

Jadi, bilapun harus menuding kesalahan pada sebuah buku, ya bilang saja “salah” atau “keliru” tanpa diikuti kata “fatal”. Kalau mau, gunakan diksi “serius” untuk menunjukkan bahwa kesalahan itu memang substansial.

Lalu, apakah sebuah buku boleh dituding salah oleh seorang kritikus buku?

Boleh. Sangat boleh. Sebuah buku apabila sudah di-publish, maka ia menjadi milik publik. Publik berhak menuding, mengkritik, bahkan mengoreksi. Sambil menunjukkan poin-poin yang dinilai sebagai kesalahan, ini sangat bijak. Bilamana poin kesalahan itu terbukti valid—berdasarkan data dan fakta—bukan berdasarkan interpretasi, persepsi, atau asumsi pribadi pengkritik dengan tidak mengabaikan faktor di luar dirinya, tudingan seperti ini harus diperhatikan. 

Proses revisi merupakan langkah memerhatikan. Bahkan, dalam proses penerbitan buku, proses revisi bisa berlangsung berkali-kali. Di sinilah peran editor bekerja. Saya, beberapa kali diberi masukan untuk memperbaiki redaksi dari satu paragraf atas buku saya yang sedang diproses. Lain waktu, bahkan saya diminta mengubah alur dan menambahkan setting dari karya novel yang sudah di-ACC penerbit sebelum naik pracetak. Dan, bijaknya seorang editor, apabila saya sebagai penulis dapat menjawab dugaan kesalahan pada naskah dengan reasoning yang meyakinkan, sang editor memberikan apresiasi.

Okay, kalo begitu. Sebagai editor, saya belum menangkap pesan paragraf ini.”

Dicapailah kompromi; perlu revisi redaksi agar tidak menimbulkan mispersepsi pembaca. Saya mengerti, saran editor diperhatikan.

Baik. Sekarang, saya lanjut ke poin sederhana soal kesalahan dan proses revisi dalam sebuah buku.

Tudingan “salah fatal” saya hindari bila terpaksa harus menilai sebuah buku. Saya ambilkan contoh dari “30 Tahun Muhammadiyah Cabang Depok ...” sendiri. Saya punya dua versi. Edisi perdana yang belum ber-ISBN terbit pada 2020, diterbitkan oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Depok. Edisi kedua sudah ber-ISBN, terbit pada 2022, diterbitkan oleh Penerbit Irfani.

Dua edisi ini saya dapat dari membeli, bukan gratisan. Sebagai penulis, saya menghindari dari mendapat buku gratisan—kecuali diberi sebagai hadiah—karena saya tahu cara menghargai penulis. Dua puluh delapan buku yang sudah saya tulis, cukup memberi arti betapa menulis buku itu bukan pekerjaan sesimpel merebus mie instan untuk mengatasi kelaparan di tengah malam. Maka, membeli buku adalah bentuk penghargaan atas jerih payah seorang penulis. Meskipun begitu, saya tidak terlalu pelit buat memberi hadiah buku saya kepada beberapa sahabat yang saya pandang perlu mendapatkan tanpa harus mereka mengeluarkan uang.

Pada halaman 25 edisi perdana “30 Tahun Muhammadiyah Cabang Depok ...”, pesta olahraga Asian Games IV di Jakarta disebutkan berlangsung pada 1960. Ini jelas-jelas salah. Kesalahannya terlalu terang benderang, bahkan a historis. Rupanya, kesalahan ini disadari—entah oleh penulis atau editornya, atau kedua-duanya. Maka, pada halaman 34 edisi kedua terbitan Irfani, kesalahan ini sudah direvisi, bahwa Asian Games IV di Jakarta berlangsung pada 1962. 

Dari kasus yang paling dekat dengan “30 Tahun Muhammadiyah Cabang Depok ...” ini, tidaklah berlebihan, bahwa bagi saya tidak ada kesalahan fatal pada buku. Lebih elegan bila disebut ada kesalahan serius. Meskipun demikian, kesalahan serius ini, pun bisa diselesaikan. 

Kepada penulis “30 Tahun Muhammadiyah Cabang Depok ...” sejujurnya saya ingin mendengar, bagaimana ia menjelaskan soal Asian Games IV 1960 dan 1962 ini setajam ia menuding “salah fatal” buku saya. Tapi, tak usahlah dijawab. Saya sudah prediksi jawabannya; typo!

Tapi jangan salah, typo soal data tahun itu tidak boleh diabaikan. Apalagi menyangkut peristiwa penting yang berskala global sekelas Asian Games. Bagi saya yang memegang dua edisi “30 Tahun Muhammadiyah Cabang Depok ...” tidak akan sampai pada kesimpulan “salah fatal”. Namun, akan menjadi problem bagi pembaca kritis “30 Tahun Muhammadiyah Cabang Depok ...” yang hanya memiliki edisi perdana saja. Boleh jadi setelah pembaca ini menelusur dan menemukan data bahwa Asian Games IV berlangsung pada 1962, bukan 1960, boleh jadi dia akan menuding. Apalagi di era digital hari ini, di mana kesalahan sekecil debu saja bisa dideteksi dalam hitungan detik. Itu karena perpustakaan maya buka 24 jam nonstop. 

Sedikit menyinggung draft biografi Mualim Awab, soal nama ibu beliau. Saya menemukan fakta berbeda. Pada “30 Tahun Muhammadiyah Cabang Depok ...”, ibu Mualim Awab disebut bernama Tirah, berasal dari Kampung Kekupu. Dari perkawinan Usman dengan Tirah, lahir anak-anak; Kidin, Sidik, Imah, Jaelani, Zakaria, Awab, dan Bahrudin. Tidak ada perbedaan Informasi pada kedua edisi yang masing-masing terdapat pada halaman 17 dan halaman 23. Akan tetapi, dari wawancara dengan ahli waris Mualim Awab, ibu beliau bernama Saiah, bukan Tirah. Lha, jadi, ibu Mualim Awab itu sebenarnya siapa, Tirah atau Saiah?

Nama Tirah tetap saya cantumkan mengambil dari “30 Tahun Muhammadiyah Cabang Depok ...” sebagai sumber rujukan primer yang saya kutip. Namun, saya memberikan catatan keterangan tambahan berdasarkan informasi ahli waris sebagai narasumber yang menyebut Saiah lah nama ibu Malim Awab yang benar.

Begitulah cara saya mengkompromikan dua informasi berbeda. Saya tidak kuasa menyatakan penulis “30 Tahun Muhammadiyah Cabang Depok ...” salah fatal, atau ahli waris Mualim Awab yang salah fatal mengenai siapa nama ibu Mualim Awab. Sebab, boleh jadi Tirah dan Saiah itu adalah sosok yang sama. Kasus seperti ini banyak dijumpai dalam alam kehidupan “orang doeloe”. Sebagai contoh, kakeknya bapak saya bernama Isnaen. Satu waktu saya bertanya saat menulis buku Tarawih Terakhir.

“Pak, Isnaen itu apanya Pak Debel?” tanya saya. Saya ingin tahu, sebab dahulu —saat saya masih SMP kelas 1—ada arisan Keluarga Besar Pak Debel. Saya sering ikut bapak hadir di acara arisan ini.

“Pak Debel, ya Pak Isnaen!” Jawab bapak terkekeh.

Nah!

Keep your writing spirit alive, Abdul!

Depok, 30 November 2025.

Melepaskan rasa pahit di antara rinai hujan sore yang sejuk.

Kamis, 27 November 2025

Kavling Mufaraqah

Berjabat tangan dengan Rektor UIN Jakarta, Prof. Asep Saepudin Jahar, Ph.D. Gara-gara foto ini dibilang akrab banget sama Rektor oleh Om Faizin. Foto milik UIN Jakarta.


Saya sudah siapkan kapling mufaraqah.

Selasa, 18 November 2025, di Aula Mukti Ali, saya terkejut-kejut. Pertama, terkejut dengan sosok Ketua Yayasan. Setahu saya, Ketua Yayasan Syarif Hidayatullah bukan dia. Saya kenal wajah, postur, gaya bicara, dan pembawaan Ketua Yayasan. Rasanya, belum lama sosok ini menjabat. Tapi, kok sudah ganti orang? Ini siapa lagi?

Di aula Mukti Ali saat acara berlangsung pun, pertanyaan masih menggantung di benak saya. Karena subjek saya adalah Sejarah Kebudayaan Islam, jadi teringat sistem pergantian khalifah yang terjadi di dalam keluarga istana Daulah Bani Umayyah. Lah, kok jadi mirip suksesi khilafah Daulah Bani Umayyah ini? Batin saya mengeluh.

Ah, bodo amat. Lagian, saya bukan orang penting yang harus tahu suksesi struktural yayasan. Siapa elu, Dul? Jawab saya sendiri dalam hati.

Saya beneran ketinggalan kereta, kurang update. Teman sejawat boleh jadi sudah jauh kemana-mana, sementara saya masih duduk termangu di buritan. Kemarin—sekira seminggu berlalu—sempat samar-samar mendengar cuitan. Embusan angin mengantar cuitan itu sampai ke ujung telinga: "Ketua Yayasan yang baru, sarungan." Barulah pada hari Selasa itu saya ngeh soal "sarungan". Oh, maksudnya "pakai sarung".

Kedua, terkejut soal undangan pertemuan pada hari Selasa itu. Perihalnya jelas tertulis: “Undangan dari yayasan”. Tapi, undangannya berkop MTs Pembangunan dan ditandatangani bukan oleh Ketua Yayasan. Mata saya memicing, sekadar memicing. Loh, kok? Jadi, siapa yang mengundang? Ah, biarlah, itu soal teknis. Hal kecil seperti ini memang sering luput kecuali bagi orang yang aktif berorganisasi dan akrab dengan nomenklatur surat menyurat.

Undangan via WA di Grup kali pertama diposting pada 17 November 2025 pukul 07. 46 WIB. Ada catatan tambahan pengantar pada postingan: “mohon hadir tepat waktu dan ada daftar hadir kegiatan ini”. Undangan diulangi sehari kemudian, pada 18 November 2025 pukul 14.57 WIB. Bismillah, saya harus hadir. Pukul 15.33 WIB Aula Mukti Ali masih belum terisi separuh. Imbauan diulangi dengan bahasa foto dibubuhi caption: “Ayoo bapak dan Ibu.”

Ketiga, terkejut—lebih pasnya ‘tersengat—dengan diksi “kalian” yang digunakan Ketua Yayasan saat menyampaikan nada tegas mengenai polemik Yayasan dengan UIN yang sedang berlangsung. Diksi “kalian” ini boleh jadi tak terpikirkan bagi siapa pun. Tapi bagi saya, tidak. Saya memikirkan diksi “kalian” itu sampai malam. Boleh jadi karena setiap hari saya biasa bermain dengan diksi-diksi. Dari diksi yang bermakna sopan sampai yang kasar, dari yang mendikte sampai intimidatif, sedikit banyak saya tahu. Apalagi saya hadir saat diksi “kalian” itu digunakan di forum briefing itu.

Semula, saya menaruh harapan besar pada briefing hari itu. Pastilah ada hal mendasar dengan hadirnya sosok bersarung sebagai Ketua Yayasan yang baru. Apalagi saat isu integrasi terus menggelinding bagai bola salju, berharap sangat kehadirannya akan memberikan kesejukan agar para guru bisa tetap fokus melaksanakan tugas-tugas pokok tanpa harus berurusan dengan polemik. Sebab hemat saya, soal isu integrasi yang memicu polemik bukan domain guru, itu domain para pemangku kebijakan. Maka, saya sebagai guru—juga guru-guru di semua unit—hanya berharap semuanya berakhir dengan baik.

Akan tetapi, harapan pada briefing hari itu jauh panggang dari api. Bahkan ada sikap Ketua Yayasan yang lebih menyengat dari diksi “kalian” itu. “Saya sudah siapkan kavling mufaraqah”. Begitulah bunyinya. Kalimat itu disampaikan dengan sangat meyakinkan kepada para guru. Tentu, yang dimaksud kavling mufaraqah diperuntukkan bagi guru yang tidak tunduk pada sikap dan visi Yayasan. 

Rasanya ingin berteriak: "Emaaaak!" Hanya saja, rasanya tidak perlu. Teriakan hanya bikin gaduh. Masih ada nalar sehat dan second opinion. Saya masih menyimpannya untuk memutuskan di mana kaki harus berdiri bila benar-benar datang saatnya harus memilih.

20 tahun 5 bulan sudah mengabdi di MP, waktu yang cukup untuk menikmati harmoni di ujung karier. Namun, hati rasanya masygul—seperti perempuan hamil tua yang sedang terengah-engah menanggung beban wahnan ‘ala wahnin—diberi pilihan mufaraqah oleh orang yang ibaratnya baru “dua hari dua malam” jadi Ketua Yayasan. Otak terasa mengkeret kusut masai, hati gundah gulana, dan air muka berubah keruh mendapati informasi sedemikian rupa.

Untunglah, pada hari Sabtu, 22 November 2025 saya hadir di Aula Harun Nasution, UIN Jakarta. Saya datang dengan nalar sehat dan second opinion, dengan dada lapang, tanpa beban psikologis, tanpa intimidasi, dan tanpa dering telepon. Saya datang dengan gembira. Saya lihat, beberapa dari teman-teman ada juga memenuhi undangan Rektor dengan gembira seperti saya. Aula Harun Nasution telah mengembalikan spirit daya survive saya di MP.  

Begitu gembiranya saya datang, saya masih sempat mencandai sepasang suami istri hasil pertemuan dari kisi-kisi "Kurikulum Cinta" di Madrasah Tsanawiyah. Saya yang mengenakan masker, berseloroh kepada mereka selepas turun dari berboncengan motor. Dengan wajah yang saya serius-seriuskan, saya berujar:

"Hei, pakai masker!" Kata saya sambil membulatkan mata.

Sang istri dengan wajah melongo, mata sedikit membulat, dan mulut agak setengah terbuka memandang sang suami lalu memandang saya dengen ekspresi polos. Saya bisa membaca isi kepalanya, bahwa masker memang diperlukan saat itu untuk sedikit menutup identitas supaya tidak ketahuan. Hihihihi. Sang suami yang melihat istrinya mirip orang shock berusaha menghibur. Ini suami yang baik, ia hadir di saat istrinya membutuhkan pegangan.

"Ah, sudahlah. Nanti juga bakal ketahuan!" Kata sang suami mantap. Ini jawaban suami banget. Jawaban suami siaga.

Buhahahahahahah, kena lo gue ledekin, seru saya dalam hati. Tawa saya pecah, namun tidak berwujud sebab diredam balutan masker. Saya membayangkan di alam hayal diri saya joget-joget sambil menciumi masker melihat respons mereka berdua. 

Di aula Harun Nasution, ada juga teman saya yang tampak kurang gembira. Aura wajah mereka tegang seperti orang sedang membuka toples yang tutupnya terlalu kencang dipulir. Bahkan, ada wajah-wajah dari mereka yang seputih lobak. Boleh jadi karena mereka salah satu yang menerima dering telepon, diminta pulang meninggalkan acara sementara pantat mereka sudah leyeh-leyeh di atas kursi aula.

Bagi saya, briefing di aula Andalusia itu pada Selasa 18 November 2025 adalah sejarah. Datang pada Sabtu, 22 November di Aula Harun Nasution bertemu Rektor dan menerima SK juga sejarah. Kedatangan Rektor UIN Jakarta di Hari Guru Nasional di pelataran Madrasah Pembangunan pada Selasa, 25 November 2025 adalah juga sejarah. Dan, sejarah ini bertambah sempurna pada hari Selasa di Hari Guru Nasional. Lebih kurang 70 jam setelah saya menerima SK Rektor, para guru dan Tendik yang belum sempat mengambil SK-nya pada hari Sabtu, berbondong-bondong datang mengambil. Kata seorang kawan saya berseloroh, “Ini seperti Fathu Makkah.”

Soal hari Sabtu atau hari Selasa, itu hanya soal waktu. Bagi saya, siapa yang duluan dan belakangan itu tidak penting lagi diperdebatkan. Semuanya sudah tercatat sejarah. Tidak penting juga mendengarkan lagi narasi-narasi dukungan atau penolakan. Lebih tidak penting lagi menyediakan telinga untuk menyimak apologi meskipun mulut sang apologis berbusa-busa. Bahkan hari ini catatan sejarah bertambah satu paragraf. Kamis, 27 November 2025, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, Menteri Agama datang berkunjung menginjak latar Madrasah Pembangunan. Bukankah ini sejarah?

Hari ini bertemulah simpul nalar sehat, second opinion, dan kedatangan Pak Menteri.

Kamis, 27 November 2025.

Sambil menikmati suapan terakhir Bakmi di LAB. MIPA Jabir ibnu Hayyan Madrasah Tsanawiyah Pembangunan UIN Jakarta.



Selasa, 25 November 2025

Hari Guru dan Labirin Low Politic



Biarlah, menggunting itu tugasnya para penjahit dan tukang cukur saja, memangsa karakternya raja hutan saja. Jangan kau menggunting, jangan kau memangsa. Bila levelmu belum sampai maqom mu’allim, jadilah mudarris yang ketiadaanmu dirindukan siswa dan kehadiranmu diinginkan sejawat.

Selamat Hari Guru untuk Abdul. Ehehehehe. Sekali-sekali mengucapkan selamat untuk diri sendiri. Lucu juga, sih. Tapi, ya, mau gimana, emang saya guru. Meskipun boleh jadi belum memiliki “Jiwa Guru”. Selamat Hari Guru juga untuk kerabat; Ida Karimah, Mas Hery, Isy Karimatunnisa, Fikra Hawa, dan Mikal Zidna Fajwah. Juga untuk semua sahabat saya yang berprofesi guru. Selamat Hari Guru, ya. Semoga terus bahagia. 

Nah, Jiwa Guru ini mahal. Hanya “guru beneran” yang bisa memiliki perangkat lunak ini. Tentu, memiliki Jiwa Guru tidak bisa dibeli dengan uang, ditukar dengan gelar akademik, digadai oleh SK jabatan struktural di sekolah, atau hadiah karena koneksi sebab dekat dengan pengambil kebijakan. Bukan. Jiwa Guru itu hadir sendiri karena keikhlasan, penghayatan pada peran, dan amanah pada tanggung jawab ilmu dan pengabdian. 

Di Hari Guru 2025 ini, saya kok tertarik dengan sebuah artikel di https://www.albayan.ae/. Judulnya itu, loh: “Al-Mudarris wa Al-Mu’allim”, Pengajar dan Pendidik. Amany Fathi—sang penulis—memulai artikelnya dengan pertanyaan cukup penting. “Di mana dan bagaimana kita dapat menemukan seseorang yang melampaui tugas profesionalnya semata sebagai “pengajar (mudarris)” menuju sebutan “pendidik (mu‘allim)”? 

Fathi berpendapat, bahwa seorang pengajar pada umumnya bukanlah seorang pendidik yang berhasil. Adapun pendidik adalah “sayyidul mudarrisin”, penguasanya para pengajar. Perbedaan yang mendasar, mengajar hanya sebatas menyampaikan materi pelajaran kepada para siswa dengan cara apa pun, dan tugas ini terbatas pada studi dan pencapaian ilmiah lebih daripada aspek lainnya. Sementara pendidik adalah pengajar sekaligus pembina, pembimbing, ayah, saudara, dan sahabat—yang selalu ditemukan siswa di sisinya dalam semua situasi dan berbagai keadaan. 

“Lābudda an natakhallā fī dākhilinā ‘an waṣf al-mudarris, wa nartaqiya jamī‘an ilā musammā al-mu‘allim, wa nujassidahu qawlan wa fi‘lan, wa huwa ḥaqqan mā yaḥtājuhu al-ṭalabah.” Kata Fathi lebih tegas. Artinya lebih kurang begini: “Kita harus melepaskan dalam diri kita sebutan “pengajar (al-mudarris)” dan naik bersama menuju sebutan “pendidik (al-mu‘allim)”, serta mewujudkannya dalam ucapan dan tindakan. Itulah yang benar-benar dibutuhkan para siswa.”

Berat, berat ini.

Sependek pemahaman saya yang terbatas memahami maksud tulisan Fathi ini, boleh jadi, seorang mudarris masih akrab dengan anasir-anasir yang tidak terhubung langsung dengan kebutuhan siswa. Beda dengan mu’allim yang benar-benar fokus mendampingi siswa-siswa yang—dianggap—nakal, pemalu, lemah, tidak peduli, dan berbagai karakter di samping kecerdasan, bakat, dan minat yang berbeda-beda. 

Seorang muallim memperlakukan mereka sebagai anak-anaknya, sebagai amanah yang dipikulkan di pundak yang tak terelakkan. Boleh jadi, karena muallim ibarat memilih profesi para nabi untuk berdiri di sisi mereka. Maka, seorang muallim lah yang umumnya memiliki Jiwa Guru, sebagaimana jiwa-jiwa para Nabi yang diserap sebatas sisi manusiawinya.

Zaman terus berubah. Harus diakui, perubahan zaman itu sedikit banyak membawa pada pergeseran nilai-nilai, tidak terkecuali pada alam pendidikan. Dahulu, pendidik adalah segalanya dalam kehidupan seorang murid; ia merupakan teladan pertama, tempat kepercayaan yang tak tertandingi, dan sosok yang dihormati serta dihargai oleh semua orang. Sifat-sifat ini dibangun pendidik untuk dirinya melalui perilaku yang ia jalani dengan ketulusan, rasa tanggung jawab, dan amanah. Namun hari ini keadaan tampak berbeda, dan kita semua melemparkan kesalahan pada perkembangan dan perubahan gaya hidup, serta pada generasi masa kini. Dan hal itu benar, tetapi hanya sebagian. 

Jangan lupa, manusia tetaplah manusia; jiwa manusia masih merupakan jenis yang sama sejak Adam ‘alaihi as-salām dan tidak berubah. Perilaku manusia juga tetap serupa di seluruh dunia. Jadi, apa sebenarnya yang terjadi? Dan lagi-lagi, Fathi seperti mencabik kesadaran bahwa Jiwa Guru boleh jadi belum menyatu dalam diri saya bersamaan Hari Guru hari ini. Sebab kata Fathi, pendidik lah yang telah menanggalkan senjatanya, melepaskan perangkatnya, dan meninggalkan wibawanya. 

Maka, seharusnya betapa malu setiap kita yang diberi Selamat Hari Guru membaca artikel Fathi hari ini bilamana ia masih bermain-main dengan anasir-anasir yang memalingkan wajahnya dari tugas-tugas mendidik menjadi sekadar mengajar. Apatah lagi masuk dalam labirin “Low Politic” yang secara vulgar dan agresif menggunting dalam lipatan, “memangsa” teman sejawat. 

“Hai, Abdul! Biarlah, menggunting itu tugasnya para penjahit dan tukang cukur saja, memangsa karakternya raja hutan saja. Jangan kau menggunting, jangan kau memangsa. Bila levelmu belum sampai maqom mu’allim, jadilah mudarris yang ketiadaanmu dirindukan siswa dan kehadiranmu diinginkan sejawat.” Begitulah nurani saya bicara sendiri.

Selamat Hari Guru Nasional 2025 para guru. Bahagia dan sejahteralah dari dunia sampai akhirat. Aamiin.

Ciputat, 25 November 2025.

Laboratorium MIPA Jabir ibn Hayyan Madrasah Pembangunan UIN Jakarta.