A homepage subtitle here And an awesome description here!

Kamis, 13 Januari 2022

JANGAN REMEHKAN DIA




Foto credit diambil dari https://muhyidin.id/dan-apabila-aku-sakit-dialah-yang-menyembuhkan-aku/

ABANG saya berkelakar, menyebutnya penyakit “zaman prasejarah”. Bunda Alex menyebut penyakit yang tak dianggap oleh orang, “Tapi kita yang ngerasain setengah mati, Abdul.”

Itulah Abses, alias bisul.

Di Indonesia, ada lebih dari 150 ribu kasus bisul per tahun. Jadi, ini jenis infeksi yang umum terjadi di Indonesia. Artinya, ada banyak orang Indonesia rawan bisulan.

Abses ditandai dengan benjolan nyeri dan bernanah. Umumnya, orang Indonesia, apalagi orang kampung, sudah hafal di luar kepala soal ini. Orang kampung saya menyebut, dalam kandungan nanah itu ada matanya; mata bisul. Mata bisul ini adalah kunci, apabila ia sudah berhasil dikeluarkan setelah bisul ranum, selesai.

Umumnya, mata bisul dikeluarkan dengan cara memencet benjolan bisul. Ini fase puncak penderitaan orang bisulan setelah melawan efek nyeri dan demam. Benar kata Bunda Alex bila digabung dengan kelakar Abang saya, bahwa hanya orang yang sedang bisulan saja yang merasakan betapa berat penderitaan mereka melawan penyakit “zaman prasejarah” ini.

Karena itu please, ya. Jangan anggap remeh bisul.

Jangan Asal Pencet

Sejak Jumat di Minggu pertama Januari kemarin, saya merasakan gejala, namun belum menyadari sebagai gejala bisul sebab bukan pada tempat umumnya bisul memilih lokasi menetap. Gejala itu menyerang batang hidung bagian atas.

Mulanya ada warna sedikit gelap (merah ringan) pada hidung. Agak panas, nyeri ringan, dan area sekitar wajah menghangat. Karena sedang menangani urusan webinar Pesta Literasi Perpustakaan tempat saya bekerja dan revisi tiga buku karya guru, gejala itu tidak saya hiraukan. Barulah pada Ahad pagi saya sadar bahwa gejala yang saya rasakan dua hari kemarin itu sebagai gejala bisul. Ada titik nanah di sana.

“Yah, bisul lagi!” Begitu gumam saya.

Ya sudah, dirawat sajalah bisul itu.

Senin pagi demam mulai menyerang. Benjolan semakin membesar. Kantung mata sebelah kiri bengkak. Bentuk hidung selain bengkak, seperti bengkok. Nyerinya semakin berat.

Sementara, Senin Minggu kedua Januari, jadwal PTMT mulai berlaku. Karena satu dan lain hal, tetap masuk dan mengajar. Namun, pukul sebelas siang nyerah. Nyeri dan demam makin naik tensinya. Saya izin pamit pulang.

Pukul tiga sore, separuh area hidung ke atas semakin memerah. Mata bisul yang mencolok, bikin gregetan. Mulailah tergoda untuk mengakhiri penderitaan lebih cepat. Mata bisul harus segera dikeluarkan dengan cara dipencet.

Karena hidung saya agak tinggi, jadi, mata bisul itu seperti nantangin buat dipencet. Tapi, saya tertipu. Rupanya, mata bisul saya belum ranum, masih mentah. Meskipun sudah dipencet hingga berdarah, ia tidak bisa dikeluarkan. Lagi pula, memencet bisul di hidung, tidak sama dengan bisul di tempat lain. Memencet bisul di batang hidung, seperti memencet tiang telepon. Keras. Faktor ini pula yang menjadikan mata bisul susah keluar.

Dan, saya tidak menduga. Efek pencetan itu terasa sampai ke kepala bagian belakang. Dalam hitungan kira-kira satu menit, kepala bagian belakang nyeri sekali, agak panas, dan berat. Baru terasa reda setelah beberapa menit dibawa rebahan sambil terus menekan bagian tengkuk.

Penjelasan Dokter Bikin Bengong

Habis maghrib, si Bisul seperti ngamuk balas dendam karena dipencet. Ndilalah lagi, dokter yang biasa saya kunjungi full booked. Bertahan, tidak ingin beralih ke dokter lain, lebih baik sabar menunggu jadwal Selasa pagi. Malam Selasa itu, praktis tidak bisa tidur semalaman. Jangan tanya penderitaan saya kayak apa, rasanya seperti sakit pada “zaman prasejarah”.

Pukul tujuh di Selasa pagi, buru-buru ke dokter setelah grogi melihat nasib hidung di cermin. Bengkak, bengkok, kantung mata kiri makin besar dan menghalangi area pandang bila melirik ke bawah. Pada kondisi ini, saya enggan ambil gambarnya.

“Waduh! Kok, kayak Alien?!”

Beruntung dapat nomor antrean 23 setelah mendaftar antrean pukul 07.30. Jam praktik dokter dibuka pukul 08.00. Baru masuk diperiksa 10.35. Berangkat jam tujuh pagi, baru bisa pulang 10.55 setelah urusan menunggu obat selesai.

Saat diperiksa itulah yang bikin kalut.

“Pak Mutaqin, saya pesan, ya. Jangan sekali-kali dipencet.”

Degh!

Udah saya pencet dok, kemarin. Kata saya dalam hati.

“Ini area berbahaya. Wilayah segitiga kematian yang sangat sensitif di wajah. Areanya membentang dari sudut mulut hingga jembatan hidung. Jika ditarik garis lurus, akan membentuk segitiga. Disebutlah ia area segitiga berbahaya.”

Glek!

Sang dokter melanjutkan. Pembuluh darah yang ada di daerah "segitiga berbahaya" itu mengarah ke sinus kavernosus yang terletak di bagian otak.

"Jadi, jika ada infeksi kulit yang serius di daerah ini karena efek dipencet, kuman bisa menyebar ke otak. Secara teoritis, hal itu bisa berakibat fatal."

Degh! Glek! Allahu Akbar!

Mereda

Benar kata The New Master of Bookcreator di tempat saya mengajar, betapa yang kecil itu (baca: bisul) mampu menaklukan aktivitas dalam sekejap setelah sebelumnya sempat heran, “Subhanallaah .. bisul ampe ke dokter?” sambil menyarankan mengoles minyak butbut. Memang, efek butbut sangat bagus. Minyak ini mampu membuat bisul sangat menarik. Ia tampak mengkilap dan berkilau lalu kempes. Wkwkwkwkwwk.

Kata Pak Firman, penyakit apa pun harus diberi sugesti positif: “Sembuh! Sembuh! Sembuh! Fueh!” Begitulah, saya praktikkan juga saran Murid Si Jali ini meskipun sambil nahan geli.

Qadarullah. Mulai pukul 11.12 sampai tulisan ini belum rampung, nanah keluar dengan sendirinya tanpa bisul harus dipencet. Empat macam obat resep dokter bekerja efektif mengeluarkan nanah. Rupanya, efek obat yang saya minum diizinkan Yang Maha Menyembuhkan sedang bekerja sesuai tupoksinya.

Alhamdulillah.

Maha Benar Allah Dengan Segala Firmannya, “Wa idzaa maridhtu fahuwa yasyfiin."

Oh iya, hati-hati juga yang suka mencetin komedo di hidung. Efeknya ternyata tidak sesenang hati bisa ngeluarin butiran kacang kecil itu dari sana. 

Salam sehat selalu.

Kamis, 16 Desember 2021

Ziarah, Uang Gaib, Perdukunan, dan PANDAWA









Foto Credit: https://www.kabarmakkah.com/


HARI Minggu kemarin, 12 Desember, bertemu teman-teman alumni SD. Saya jarang sekali bertepat waktu bisa berkumpul. Selalu saja ada aral, sehingga tidak bisa hadir silaturahim setiap bulan.

Grup alumni SD ini ada WA Grup-nya. Akan tetapi, saya izin mundur dari Grup WA karena soal postingan anggota yang tidak pas dengan saya. Baik-baik saya minta diri. Kepada admin, saya janji akan tetap menjaga silaturahim. Biarlah saya tidak ada di Grup, tapi, tiap kali ngumpul bareng dijadwalkan, lalu tidak ada agenda bersamaan, saya akan hadir seperti hari Minggu kemarin itu.

Pertemuan Minggu kemarin agak berbeda. Meskipun tidak seperti "pengajian resmi", kami membahas materi layaknya kajian, namun dalam kemasan obrolan lepas. Topiknya pun cukup menghentak, gabungan dari pengalaman dan pengetahuan; ziarah, perdukunan, uang gaib, dan saham yang belakangan ramai dibicarakan: PANDAWA.

Dua teman bercerita pengalamannya ziarah. Dua-duanya mengaku diajak grup pengajian yang rutin menyelenggarakan wisata ziarah. Terkuaklah sebagian dari peziarah itu perihal motivasi di balik ziarah yang diikuti. Ada yang karena usaha warungnya sudah mulai seret, maka berangkatlah ia ziarah. Ada yang karena keponakannya sakit menahun, maka berangkat pula ia ziarah. Ada juga yang sekadar ikut-ikutan seperti dua kawan ini. Di mana, di tempat ziarah, dia kebingungan sendiri mau melakukan apa, ia tidak tahu.

Seorang lagi, yang ketiga bercerita menasihati ibunya yang hendak pergi ziarah. Sang ibu harus menjual ayam supaya punya ongkos berangkat.
 
"Mak, kalo mau ziarah, ngapain jauh-jauh. Maksa-maksa harus jual ayam segala buat ongkos. Noh, ziarah ke Kampung Taman. Kan, kuburan orang tua Emak adanya di Taman, bukan di Banten."

Akan tetapi, tak urung, berangkat juga sang Ibu ziarah. Tak apalah kata kawan ini, yang penting ia sudah berusaha mengingatkan.

Giliran saya, saya cerita pengalaman diajak makan ikan bakar di Tanjung Priok. Akan tetapi rupanya, tujuan utamanya adalah ziarah ke makam Mbah Priok. Makan ikan bakar hanya penghantar saja. Walau pada akhirnya saya tidak masuk area dan mengikuti prosesi ziarah di makam, itulah kali pertama saya ikutan ziarah.
 
Sering orang salah persepsi memandang saya "anti ziarah". Mungkin karena tahu afiliasi dari baju yang saya kenakan. Padahal tidak demikian. Pada pertemuan kemarin itu, sebatas pemahaman saya yang minim tentang hukum ziarah kubur, saya sampaikan sekilas.

Saya katakan, ziarah kubur itu baik, bahkan itu perkara sunnah. Nabi juga pernah satu malam mendatangi kuburan Baqi di Madinah untuk berziarah. Hanya saja, supaya ziarah kubur tidak menyimpang dari tujuan pokoknya, ikutilah adab dan tata cara ziarah. Jika ziarah kubur karena membawa motivasi meminta kepada penghuni kubur agar laris dagangan, enteng jodoh, penyakit menahun yang yang tidak kunjung sembuh karena diyakini kuburan yang diziarahi bukan sembarang orang, ini yang belum sepaham dengan saya.

Dalam riwayat yang cukup panjang tentang ziarah kubur, Rasulullah shallaahu 'alihi wa sallam datang malam-malam ke pekuburan Baqi di Madinah. Pada penggalan terakhir riwayat itu, Rasulullah berkata pada Aisyah radhiyallaahu anha: "Jibril berkata kepadaku, "Sesungguhnya Allah memerintahkan kepadaku untuk mendatangi penghuni makam Baqi dan memintakan ampunan bagi mereka."
 
Aisyah berkata, apa yang harus aku ucapkan untuk mereka wahai Rasulullah. Beliau menjawab:

"Ucapkanlah semoga kesejahteraan terlimpahkan kepada penghuni kubur kaum mukmin dan muslim ini. Semoga Allah melimpahkan rahmatnya kepada yang meninggal terlebih dahulu di antara kami. Ataupun yang akan meninggal belakang. Sesungguhnya kami akan menyusul kalian dengan seizin Allah (HR.Muslim).

Jadi, ziarah kubur itu perkara yang dilakukan Rasulullah, dan ini menjadi contoh. Demikianlah seharusnya kita berziarah. Jadi, jangan sampai karena niatnya salah, ziarah kubur bukan menghidupkan sunnah, tapi malah melakukan perkara yang tidak dibenarkan syari'at.

Begitulah obrolan tentang ziarah kubur yang mentradisi di masyarakat. Namun, saya percaya, tidak semua peziarah membawa motivasi seperti yang diceritakan teman pada pertemuan kemarin itu. Pastilah ada di antara rombongan peziarah yang lurus niat ziarah kuburnya.
 
Demikianlah tentang obrolan ziarah kubur. Yang lebih seru obrolan tentang uang gaib, perdukunan, dan PANDAWA. Rupanya, di antara teman ada "alumni" pemain uang gaib. Bersyukurnya ia bisa lepas karena menuruti nasihat mertuanya. Ceritanya keren. 

Depok, 16 Desember 2021.






Komentari


Bagikan





Jumat, 03 Desember 2021

KAYA KALENG KALENG MISKIN AUTENTIK

Foto credit Reza Fauzi Nazar pada https://geotimes.id/

DALAM hidup, kaya dan miskin selalu berdampingan. Di antara kaya dan miskin, stres menyelinap di tengah-tengah. Jadi jangan heran, ada orang miskin yang stres, orang kaya juga ada yang stres.

Lah, kok bisa? Bisa, sebab stres hampir menjadi milik tiap orang, tak peduli miskin atau kaya. Hanya saja, selama ini, stres dipahami sebatas fenomena orang yang sedang tertawa cekikikan sendirian, nyengir-nyengir sendirian, joged-joged di jalan sendirian, ngomong atau marah-marah sendirian, ditambah penampilan yang kusut masai.

“Bocah stres!”

Begitulah kemudian orang menilai.

Stres

STRES itu reaksi, baik reaksi secara fisik maupun emosional (mental/psikis) apabila ada perubahan dari lingkungan yang mengharuskan seseorang menyesuaikan diri. Kondisi demikian itu, lazim dihadapi semua orang dari waktu ke waktu. Bisa jadi satu kali dalam jangka pendek, bisa juga berulang kali dalam jangka panjang.

Begini contoh gampangnya: Saat Anda sedang berbelanja di supermarket, trolly sudah penuh, posisi sudah di depan kasir. Saat giliran anda membayar, dompet Anda tidak ada di tas. Sementara, semua uang dan kartu ATM ada di sana. Apa yang Anda rasakan?

Anda tentu bereaksi. Reaksi yang paling dekat adalah panik atau atau tergagap-gagap berteriak; “dompet saya hilang!” Tubuh pun bereaksi. Keringat dingin mengembun, jantung lebih cepat berdetak, wajah pucat pasi.

Pada keadaan demikian itu, Anda dituntut untuk menyesuaikan diri dengan kondisi yang berubah cepat. Anda harus berpikir keras mencari jalan keluar agar bisa menemukan dompet dan bisa membayar tagihan. Anda juga harus bisa mengatasi tatapan mata orang di sekeliling kasir. Nah, dalam upaya menyesuaikan diri itu, Anda mengalami stres.

Rupanya, dompet Anda bukan pangkal masalah. Anda lupa, dompet bukan ditaruh di dalam tas, tapi di saku celana belakang yang longgar. Masalah Anda selesai. Anda bisa menarik napas lega. Saat masalah sudah teratasi, stres Anda hilang. Ini stres jangka pendek.

Stres jangka panjang biasanya menyangkut relasi dengan orang lain, seperti menghadapi lingkungan kerja yang buruk, kehilangan pekerjaan, tidak ada lagi kecocokan dengan pasangan, atau terkena penyakit tertentu. Kondisi perubahan seperti ini membutuhkan proses penyesuaian jangka panjang. Stresnya pun lebih panjang.

Miskin dan Kaya

Kemiskinan bagi sebagian orang adalah momok, menakutkan, menyedihkan, dan setumpuk stigma buruk. Karena itu, banyak orang berusaha keluar dari kemiskinan.

Akan tetapi, ada pula orang yang tidak peduli pada cap kemiskinan. Bisa jadi, karena ia merasa kaya (baca: merasa cukup), sementara orang menilainya sebagai “orang miskin” dengan ukuran-ukuran kasat mata.

Memang, umumnya orang miskin digambarkan dengan tidak punya rumah. Walaupun punya rumah, rumahnya jelek, sempit, tidak ada perabot bagus, dan berbagai anggapan semisalnya. Atau tidak punya kendaraan, baik roda dua atau roda empat. Itulah umumnya gambaran orang miskin secara kasat mata.

Sebaliknya, bila orang punya rumah bagus dan besar, isi perabotnya mahal, kendaraan pun ada semua, maka ia disebut orang kaya.

Miskin Kaya Stres Juga?

Apakah ada orang stres karena kemiskinan? Ada. Umumnya keadaan ini dialami karena orang tidak siap hidup miskin. Atau salah persepsi tentang kemiskinan. Dikira dengan kemiskinan, hilanglah harga dirinya, lenyaplah kebahagiaannya, dan habislah hidupnya.

Jangan dikira orang kaya tidak mengalami stres. Paling tidak, stresnya orang kaya adalah kebingungan bagaimana caranya menghabiskan uang. Stresnya orang kaya yang lebih kompleks, misalnya menyangkut pengelolaan, pengembangan, dan pengamanan aset. Pendek kata, ia dibikin stres oleh uangnya sendiri.

Ini uniknya dunia stres. Orang kaya stres mikirin belanja apalagi buat menghabiskan uang, orang miskin stres tidak habis-habis hanya sekadar untuk membeli seliter dua liter beras karena tidak punya uang.

Anti Stres

Semakin pandai orang menyikapi urusan dunianya, ia semakin bijak pada kekayaan dan kemiskinan. Semakin pandai orang mengelola urusan akhiratnya, ia semakin mengerti hakikat kekayaan dan kemiskinan. Dan, semakin pandai orang mengelola kehidupan dunia dan akhiratnya, ia semakin menyadari, bahwa kekayaan dan kemiskinan sama-sama ujian. Jadi, ia paham bahwa ia sedang diuji dengan kekayaan atau sedang diuji dengan kemiskinan.

Ada banyak orang miskin yang antri stres. Ia menjalani hidup normal. Mereka tidak banyak menuntut, tapi tetap bersyukur. Tidak mengeluh, tidak juga meminta-minta meskipun ia sangat membutuhkan bantuan. Kadang malah, ia masih sanggup memberi.

Ada banyak orang kaya yang anti stres. Ini orang kaya yang autentik, kaya yang paten, asli, orisinal kaya. Lahiriyahnya dia memang kaya, jiwanya juga kaya. Jadi, ia bukan kaya “kaleng-kaleng”.

Ciri-ciri orang kaya yang autentik tidak ngaku-ngaku “saya orang kaya”, tapi orang banyak tahu bahwa ia kaya. Ia juga dicintai kaum dhuafa. Mereka, orang-orang lemah itu merasa aman, lapang, dan merasa terjamin di sampingnya. Karena itu, bukan hanya rasa cinta orang-orang dhuafa itu bersikap, tapi juga segan dan hormat kepadanya.

Ciri yang lain, orang kaya yang autentik itu pandai menjaga air muka orang miskin. Ia lebih dahulu memenuhi kebutuhan dhuafa sebelum mereka memintanya. Kadang, orang kaya macam ini menyantuni kaum dhuafa itu tidak sebatas memberinya uang atau makan, tapi membekalinya dengan skill agar kelak mereka bisa mandiri dan tidak bergantung pada orang lain lagi.

Orang Kaya Kaleng Kaleng Orang Miskin Autentik

“Gua doain ya, biar lu kaya. Kayak gua.” Kata si orang kaya pada orang yang dipandangnya miskin.
“Terima kasih, Om. Saya mah, nggak perlu kaya.” Jawab si orang yang dipandang miskin.
“Deh, biar lu nggak stres.”
“Kaya juga belum tentu tidak stres. Yang penting cukup aja saya mah.”
“Didoain kaya enggak mau.”
“Kaya juga ribet, Om. Pertanyaan malaikatnya panjang.”
“!#$%#??\\#”

Dialog imajiner di atas, rasanya penting untuk dicermati. Pertama, bisa jadi kita salah memberi identifikasi tentang kaya-miskin. Orang yang kita sangka kaya, ternyata miskin. Dan orang yang kita sangka miskin, ternyata kaya.

Kedua, kesalahan identifikasi ini terjadi karena kaya-miskin terlalu dipandang secara lahiriyah dan mengabaikan sisi batiniyah. Orang disebut kaya jika dilihat ia punya segalanya, dan disebut miskin jika tidak punya apa-apa.

Ketiga, orang kaya autentik cenderung tidak memandang dan mengaku dirinya kaya. Mereka umumnya pribadi low profile, santun, dermawan, dan merasa ia harus dekat dengan orang lemah. Kekayaan miliknya menjadi penghubung dirinya dengan orang-orang miskin. Sebaliknya, orang kaya kaleng-kaleng itu masih butuh pengakuan. Seakan, ia belum sah jadi orang kaya sampai semua tahu bahwa dia kaya. Mereka cenderung tinggi hati, hedonis, pelit dan merasa ia harus bergaul dengan komunitas sendiri yang setara dengannya. Kekayaan menjadi garis demarkasi yang memisah dirinya dengan orang-orang miskin.

Keempat, orang kaya autentik itu jelas kaya lahir batin. Sebaliknya, orang kaya kaleng-kaleng itu hakikatnya orang miskin autentik.

Kelima, stres hanya dialami bagi siapa saja yang tidak mengerti hakikat kaya dan miskin. Karena itu, orang kaya autentik cenderung sehat dan tidak mudah stres. Begitu juga orang yang merasa cukup meskipun dipandang sebagai miskin. 

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,"Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta dunia, akan tetapi kekayaan yang hakiki itu adalah kaya akan jiwa." (HR Al-Bukhari-Muslim).

Jadi, jelas bedanya bukan?

Jum'ah mubarak.

Selasa, 30 November 2021

DOORPRIZE PALING MAHAL





Doorprize Jalan Sehat Milad Muhammadiyah ke-109. Foto credit WA Grup Muhammadiyah Pulo

Doorprize Milad

MILAD Muhammadiyah ke-109 sudah berlalu lebih dari 10 hari sudah. Meriah sekali. PRM Pulo menggelar Jalan Sehat menyambut Milad itu. Ada doorprize-nya. Kulkas, mesin cuci, kipas, dan hadiah-hadiah hiburan yang menarik. 300 kupon doorprize yang disediakan panitia tidak cukup. Warga Muhammadiyah Ranting Pulo yang ikut Jalan Sehat melebihi ekspektasi Panitia. Alhamdulillah, ternyata jamaah Muhammadiyah, Aisyiyah, dan Ortom masih melimpah.

Hari pada Resepsi Milad itu, orang tua, pemuda, dan anak-anak, berbondong-bondong ikut Jalan Sehat. Ada lebih dari lima peserta balita ikut pula dari atas stroller. Tampak, semangat merayakan Milad dari yang paling muda sampai yang paling tua menyala-nyala. Semoga, bukan karena doorprize itu antusiasme jamaah Muhammadiyah tumpah ruah, tapi karena didorong oleh rasa syukur atas nikmat ber-Muhammadiyah yang tidak bisa dibendung.

Milad Effect

TIDAK disangkal, adanya reward (imbalan) memang menjadi motif melakukan sesuatu. Ia bagai suplemen yang mendorong orang jadi punya semangat berlebih untuk melakukan pekerjaan atau menjawab tantangan. Bisa jadi, saat belum dihadirkan reward, ketertarikan orang untuk melakukan pekerjaan atau menjawab tantangan hanya 50 sampai 75 %. Akan tetapi, dengan dihadirkannya reward, tingkat partisipasi bisa mencapai 80 hingga 95%.

Tampaknya, dihadirkannya doorprize bukan satu-satunya alasan PRM Pulo menggelar Resepsi Milad. Doorprize hanya sekadar alat untuk mengukur sejauh mana antusiasme warga Muhammadiyah saat ini. Selanjutnya, apakah antusiasme itu bisa ditransfer pada kegiatan-kegiatan rutin persyarikatan semisal pengajian rutin Malam Senin, kuliah Subuh, atau pengajian Aisyiyah pada setiap Selasa dan Jum’at, tampaknya masih perlu diperjuangkan.

Doorprize dan Muamalah Duniawiyah

JIKA ada angket disebar kepada peserta Jalan Sehat, dan salah satunya ada pertanyaan: “Apakah Bapak/Ibu ikhlas mengikuti Jalan Sehat?” Pasti jawabannya ikhlas. Apa dasar pertimbangannya? Tentulah doorprize. Sebab jika pertanyaan dilanjutkan: “Apakah Bapak/Ibu ikhlas jika mendapat hadiah kulkas saat kupon diundi?” Pasti jawabannya ikhlas.

Karena doorprize termasuk kategori muamalah duniawiyah atau masalah urusan duniawi, maka keikhlasan mengikuti jalan sehat ukurannya adalah kulkas, mesin cuci, kipas angin, atau magic jar. Itu sah dan tidak akan mengurangi nilai dari Milad dan Jalan sehat itu.

Lalu, apakah mengikuti Milad dan jalan sehat itu berpahala?

Tentu, apabila keikhlasan yang dibangun tidak semata-mata karena doorprize itu, melainkan diniatkan untuk syiar dakwah semakin semarak. Apa ukurannya? Dapat atau tidak dapat doorprize sama saja niatnya untuk syi’ar tidak bergeser. Dapat kulkas, itulah bonus. Tidak dapat, anggap saja belum rezeki, dan tetap bersyukur masih bisa menggembirakan syiar Milad.

Pahala dan perkara Ubudiyah

DARI Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khattab radhiyallahu anhu, dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallahu`alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena menginginkan kehidupan yang layak di dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.” (HR. Bukhari).

Shalat Subuh dan ta’lim termasuk urusan ibadah. Maka, niatnya pun sedapat mungkin harus lurus, harus lillah. Maka, shalat Subuh yang lalu dilanjutkan dengan kajian Subuh, akan bisa membelokkan niat apabila disediakan doorprize seperti doorprize Jalan Sehat. Meskipun dengan niat ingin memberi motivasi agar jamaah berbondong-bondong ikut kajian Subuh, sangat mungkin niat akan berubah dari lillah menjadi lil kulkas, lil mesin cuci, atau lil kompor gas.

Cukuplah doorprize shalat Subuh dan kajian Subuh adalah doorprize yang paling mahal. Sedemikian mahal harganya, ia tidak terbeli oleh dunia dan segala isinya. “Dua rakaat shalat sunnah Fajar lebih baik dari dunia dan seluruh isinya.” (HR. Muslim). Inilah doorprize paling mahal itu.

Doorprize dua rakaat sunnah fajar memang tidak kasat mata. Tidak bisa dilihat tampilannya. Ia hanya bisa dirasakan oleh kebeningan hati, kecerdasan akal, dan keikhlasan menjalankannya. Lagi pula, Doorprize dua rakaat sunnah fajar itu tidak diterima sekarang, tapi, nanti saat hidup sudah abadi, akhirat. Yang pasti, Doorprize dua rakaat sunnah fajar tidak dikocok. Siapa pun yang datang berbondong-bondong dengan keikhlasan, akan membawa pulang doorprize-nya masing-masing.

Doorprize dua rakaat sunnah fajar adalah urusan hamba dengan Allah subhanahu wa ta'ala. Manusia tidak bisa ikut campur dalam urusan ini. Yang bisa dilakukan hanya sebatas mengingatkan, menyeru, dan mengajak. Maka, berbahagialah bagi orang yang sudah mengingatkan, menyeru, dan mengajak agar orang berbondong-bondong meraih doorprize Shubuhnya. Berbahagialah orang yang menjawab seruan.

Pada akhirnya, tidak ada seorang muslim yang tidak menginginkan doorprize dari Allah. Setiap hari pun, Allah sudah memberikan doorprize duniawi yang begitu banyak dan mahal harganya. Bukankah hidung masih bisa menghirup udara, mata masih bisa berkedip, lidah masih bisa mengecap, mata masih bisa melihat, telinga masih bisa mendengar, tangan dan kaki masih lentur bisa difungsikan? Tanyakanlah, berapa harganya untuk tetap bisa bernapas?

Semoga Allah tidak bosan memberikan kita doorprize. Aamiin.

Sabtu, 20 November 2021

MBAK UPI; KENANGAN ATAS TUMIS PEPAYA MUDA

 

Tumis pepaya muda./Copyright cookpad.com/Christina Murni Utami

Pagi tadi, kabar duka sampai ke telinga. Mbak Upi berpulang. Memang, sudah cukup lama kehilangan kontak, sejak pertemanan di FB terputus. Saya ingat, kontak terakhir dengan almarhumah di FB itu soal tumis pepaya muda. Tumis sederhana, namun terasa mewah. Mbak Upi menimpali, “Kapan-kapan, kita ngumpul lagi Pak Abdul. Kita makan tumis pepaya bareng-bareng Pak Jabal lagi.”

Saya aminkan saja candaan itu. Namun, seakan waktu jadi belenggu. Kaki tak jua melangkah. Hingga Mbak Upi berpulang, tumis pepaya muda racikan Mbak Upi itu tak akan bisa saya nikmati lagi selamanya.

Tumis pepaya sesedap itu, salah satunya hadir dari racikan dapur rumahnya. Dari bahan sederhana dan biasa-bisa, jadi istimewa. Komposisi rasa gurih, asin, manis, dan pedasnya pas sekali. Ngena betul di lidah.

Saya tak tahu, bagaimana cara Mbak Upi mengolahnya. Apa karena sudah jam makan siang dan perut sudah minta diisi? Bisa jadi. Adakah bumbu rahasia di baliknya? Mungkin. Apa karena gratis, ya? Nah, bisa jadi juga. Sudahlah lapar, dihidangkan gratis, ya, nikmat mana lagi yang harus didustakan?

Tapi, enggak, ah. Itu bukan kali pertama menikmati tumis pepaya muda. Berkali-kali, tak terhitung. Di samping praktis dan murah, tumis pepaya muda boleh dibilang sudah jadi menu familiar orang kampung. Jadi, Mbak Upi memang punya legacy tumis pepaya muda yang oke banget. Bisa jadi, keikhlasan Mbak Upi yang selalu menyiapkan tumis pepaya itu berlebih agar bisa dinikmati bareng teman-teman Pak Jabal di kantor dahulu saat masih membersamai. Makanan yang dihidangkan dengan ikhlas, maka, cita rasanya disukai Sang Pemberi Rezeki.

“Ibun”, begitu Mbak Upi biasa disapa. Oleh anak-anak, keluarga, dan sahabat-sahabatnya. Sesedih apa ditinggal Mbak Upi, mereka-mereka yang dekat pastilah yang merasakannya melebihi saya. Beruntung, masih dapat waktu untuk berdiri menshalatkan jenazah dan mengantarnya ke pemakaman. Itu kesempatan terakhir untuk memberi rasa hormat sebelum urusan kembali pada masing-masing di hadapan Sang Khalik.|

Hari itu, di sela duka, Pak Jabal; suami Mbak Upi masih bisa tersenyum. Saya yang agak kikuk karena terbawa suasana, semula menyangka Pak Jabal tak setegar itu. Ia memang selalu hangat saat kami bertemu, bercanda, melempar joke, lalu tawa kami sama-sama pecah. Namun, itu di saat perjumpaan suka.

“Tertipu oleh Alam” dan “Kantong Macan” adalah topik candaan 16 tahun yang lalu milik kami, milik kami abadi. Sebab, tiap kali bertemu, “Tertipu oleh Alam” dan “Kantong Macan”, tidak pernah ketinggalan. Dan, hanya kami yang paham maksudnya saat keywords itu kami sebut. Biarpun demikian, simpati merasakan berat perasaan ditinggal istri, saya mengerti meski seberapa remuk redamnya hanya Pak Jabal yang merasa. Akan tetapi, “Tertipu oleh Alam” dan “Kantong Macan” masih pula ia singgung-singgung.

Saya harus katakan, persahabatan saya dengan Pak Jabal dan Mbak Upi adalah hubungan yang selalu berusaha merawat hal-hal yang baik. Sebagai manusia, saya dan beliau berdua pastilah mengerti bahwa tidak ada manusia sempurna. Mungkin saja Pak Jabal ada menyimpan kesan tak sedap tentang saya, begitu juga Mbak Upi. Beliau berdua juga pasti menyadari, ada hal yang tidak sedap yang saya simpan mengenai mereka. Itu manusiawi, manusiawi sekali. Akan tetapi, sisi-sisi manusiawi kami, lebih suka merawat dan mengenang yang baik-baik saja. Sebab dengan begitu, pasang surut persahabatan akan selalu membahagiakan.

Saya pun tidak tahu, apakah saya masuk list sahabat Pak Jabal dan Mbak Upi yang membahagiakannya atau tidak. Yang saya rasa, perkara tumis pepaya muda yang dipersembahkan Mbak Upi enam belas tahun lalu itu saja, sudah membahagiakan saya.

Kepergian Mbak Upi dan kepergian saudara kita yang lain sebenarnya sama. Kepergian mereka semua adalah pesan bagi kita yang masih hidup. Cepat atau lambat, antrian akan sampai waktunya pada diri setiap kita. Pintu loket alam barzakh terbuka 24 jam nonstop dan masing-masing kita sudah mengantongi nomor antrian. Hanya saja, jatuh pada antrian nomor berapa, tidak ada yang tahu. Bisa waktunya bersamaan, bisa tidak, di bumi mana kita masuk pintu barzakh, hari ini, besok, atau lusa, semuanya misteri.

Menunggu. Ya, menunggu. Cuma itu sekarang yang tersisa. Hanya saja, saat menunggu itu apakah setiap diri konsisten mencatat laba pahala jadi membengkak, atau malah menumpuk rugi menggunung. Tentu, setiap orang yang cerdas, akan tahu mana yang harus ia pilih.

Lazimnya, nomor antrian umat Muhammad shallallahu alaihi wa sallam itu akan sampai pada kisaran angka 60-an lebih sedikit. Jarang yang melebihi angka itu. Kalaupun ada, semoga itu tambahan keberkahan usia bagi yang mendapatkannya.

Akan tetapi, kita semua tahu, kematian keluar dari hukum angka hitungan manusia. Ia datang tidak memandang usia, tua atau masih muda, dan siap atau belum siap. Kematian itu datang sesukanya, sesuka takdir Yang Maha Pemberi Kehidupan menjatuhkan titah pada malaikal maut menjemput.

Benarlah jika kematian itu adalah pengajaran. Cukuplah ia sebagai pengingat; pengingat dari syirik kepada iman, dari lalai kepada istiqamah, dari salah menjadi salih, dari maksiat menjadi taat, dari dosa kepada taubat, dan dari semua hal yang buruk menuju pada kebaikan. Jika tidak, kerugian ditanggung masing-masing.

Kematian itu mengajarkan supaya manusia jangan terlambat seperti Namrud, Fir’aun, atau Abrahah karena singgasana, seperti Qarun karena harta, atau seperti Haman karena jabatan. Atau terlambat karena ketiganya ada di genggaman. Apalagi, harus terlambat tanpa pernah mencicipi manisnya singgasana, harta, atau jabatan berang sekejap saja.|

Sekecil apa pun kebaikan dihidangkan, mesti ada catatan timbangan beratnya di sisi Allah subhanahu wa ta'ala. Ya Allah, jika tumis pepaya muda yang membahagiakan saya itu menjadi jalan kebahagiaan Mbak Upi di sana, berikan yang terbaik untuk Mbak Upi. Apatah lagi kebaikan-kebaikannya yang lebih besar dari itu. Maafkanlah segala khilaf dan kesalahannya. Allaahummaghfir lahaa warhamha wa ‘afiha wa’fu ‘anha.

Selamat jalan, Mbak. Maafkan saya yang tak sempat memenuhi janji.

Jumat, 19 November 2021

"MISTERI" DI BALIK "TARAWIH TERAKHIR"


Draft "Tarawih Terakhir"
Kita harus mulai berpikir seperti sungai jika ingin meninggalkan warisan keindahan dan kehidupan untuk generasi mendatang." – David Brower.
INI sepenggal kisah. Kisah tentang para pemburu pasir Ciliwung dalam draft buku “Tarawih Terakhir”. Semula, rencana buku ini akan diluncurkan pada 18 November 2021 saat 95 % buku sudah siap pada Agustus 2021. 18 November adalah “waktu keramat”, tepat saat Milad Muhammadiyah ke-109. Bagi warga persyarikatan, Milad itu seperti saatnya berjumpa kekasih. Senang, bahagia, dan semringah jadi satu. Akan tetapi, karena kendala teknis, momentum Milad akhirnya tidak bisa direngkuh. Ia berlalu. Rasanya, seperti ditinggalkan sang kekasih tercinta yang pergi tanpa pesan.

Mengapa Milad?

Ya, karena buku ini punya benang merah yang kuat dengan persyarikatan Muhammadiyah Ranting Pulo. Rekaman para pejuang penggali pasir Ciliwung untuk membangun masjid yang dulunya Langgar Pak Tua Naen. Masjid yang kelak dibangun mereka susah payah harus mereka tinggalkan karena pecah kongsi.

Mungkin bagi sebagian orang, kisah ini tidak penting. Akan tetapi bagi saya, kisah ini teramat penting. Dan, ia tidak boleh terlalu lama dikubur lumpur sejarah. Sebab, semakin lama ia terkubur, semakin jauh ia terpendam dan semakin sulit ia digali. Lalu, ia lenyap dari peradaban persyarikatan karena sudah jauh dilupakan. Itulah takdir sejarah yang tidak dituliskan.

Draft buku ini sudah mulai ditulis pada 2017 sejak wawancara dimulai, bahan dikumpulkan, dokumen dicari ke sana ke mari, konfirmasi data, menafsirkan data, dan menyusunnya menjadi narasi. Editor buku ini menyebutnya “Novel Ilmiah”, sebab ia orang Bahasa dan Sastra Indonesia. Pengantar buku ini; Fikrul Hanif Sufyan, SS., M. Hum menyebutnya “Biografi” sebab ia sejarawan muda Muhammadiyah Payakumbuh, Sumatera Barat. Lalu, apa kata pembaca nanti? Saya tidak tahu.|

Para Pemburu Pasir

BAGI masyarakat Depok sekitar aliran sungai Ciliwung, Ciliwung bagai napas hidup mereka. Sedang bagi jamaah Langgar Isnaen khususnya, Ciliwung adalah napas jihad menggali dan mengangkut pasir.

Isnaen dan jamaah langgarnya mengambil pasir setiap hari Jum'at. ­Mereka orang-orang yang paling jarang absen memikul pasir. Habis subuh, atau ­paling lambat jam tujuh pagi, mereka sudah berangkat berjalan kaki ke pinggir kedung Ciliwung. Nanti, jika pasir sedang melimpah, jam sepuluh pagi, mereka sudah sampai di langgar kembali.

Kedung adalah lubang di tengah sungai seperti ­pusaran air. Pada waktu sungai banjir, air meluap keluar masuk kedung. Saat itulah pasir-pasir meluap ikut terbawa bersama luapan air. Pasir-pasir itu kemudian menepi. Saat itu, pasir-pasir seolah datang sendiri ke tepian sungai ­menjadi rezeki melimpah bagi Keluarga Isnaen dan jamaah langgarnya.

Kadang para pemburu pasir itu tidak sabar menunggu di tepian sungai. Mereka turun ke sungai menjaga jarak aman dari kedung buat menadah luapan pasir. Luapan pasir dengan sendirinya masuk ke dalam wadah. Kira-kira wadah sudah penuh, mereka menepi untuk memindahkan pasir ke tepian sungai. Begitu ­berulang-ulang, sampai keranjang, pengki, atau lengke untuk mengangkut pulang pasir-pasir itu penuh.

Di waktu air sungai surut, pasir-pasir mengendap di dasar kedung. Pasir menjadi langka. Jika sudah begitu, para pemburu pasir itu menggali pasir di tepian sungai dengan ­tangan-tangan mereka. Bisa dibayangkan, tangan-tangan mereka menjadi ­keriput karena air sungai. Kuku-kuku mereka menjadi rusak dan kusam karena pasir. Jika pasir tidak mereka dapat gratis karena sungai sedang kering, mereka membeli di pangkalan pasir. Asalkan mereka tidak pulang dengan tangan kosong, mereka rela membeli dari kocek sendiri berpatungan.

Ada tiga kedung yang menjadi buruan mereka; kedung Plangpo, kedung Jago, dan kedung Petir. Rute ke kedung Plangpo melewati Kampung Pitara, Kampung Baru, Kampung Belimbing, terus ke kedung Plangpo. Sedangkan jika hendak ke kedung Jago, rutenya melalui Kampung Ratu Jaya, Kampung Baru, terus ke kedung Jago.

Namun, yang sering disambangi mereka adalah kedung Petir. Letaknya dekat gereja paling tua di Depok. Untuk sampai ke kedung Petir, rute yang ditempuh Kampung Pitara, Kampung Sengon, pasar Depok Lama, kemudian ke arah Gereja tua, lalu ke Petir.

Petir dilintasi aliran sungai Ciliwung berjarak tujuh sampai delapan kilometer jauhnya dari Langgar Isnaen. Lelah dan letih, pundak yang terasa panas lalu menjadi kapalan karena memikul beban berat tidak mereka hiraukan. Begitulah, semangat jihad untuk sebuah masjid, sampai-sampai letih dan lelah bagaikan ­kesenangan ­menyambut pahala yang Allah janjikan. Pundak mereka yang kapalan seperti tanda pangkat derajat mereka di surga kelak. Semua itu seperti energi ajaib yang membuat pengki mereka yang penuh pasir menjadi terasa ­ringan. Begitulah apabila motivasi beramal hanya mengharap rida Allah, semua bisa dilewati tanpa beban.

Setiap Jum'at mereka berangkat ke Petir. ­Jalan kaki! Pulang pundak memikul pasir! Dan, baru berakhir saat masjid sudah berdiri.

Tentu, jalan kampung yang dilewati sampai ke kedung waktu itu belumlah seperti sekarang yang sudah beraspal, dan mulus. Semuanya masih berupa jalan tanah, sempit, becek, dan licin di kala musim penghujan, penuh rimbunan semak di kiri-kanan jalan, sepi karena jarak antara satu rumah dengan rumah yang lain masih jauh dan jarang, dan tentu masih banyak hutan.

Pendek kata, perjuangan menggali, mengumpulkan, dan memikul pasir dari sungai Ciliwung merupakan sebuah ­pengorbanan berat yang sukar dinilai saat ini. ­Hanya mereka orang-orang yang punya semangat juang yang mau melakukannya.

Sementara, mereka yang tidak punya ruh jihad, lebih memilih diam berpangku tangan sambil menonton, atau menyingkir ­tidak mau tahu seperti apa rasanya kepayahan memikul, jari-jari tangan yang keriput, kuku-kuku yang menghitam, kusam, dan rusak, serta pundak-pundak yang menjadi kapalan.

Adapun para pejuang itu, apakah mereka merasakan putus asa dan menyerah? Tidak!

Mereka sadar, merekalah yang harus berbuat. ­Merekalah yang harus mengukir sejarah. Merekalah yang harus mewujudkan cita-cita memiliki masjid itu meskipun ­biaya, tenaga, ­keringat, dan pundak-pundak mereka sebagai ­bantalan pasir-pasir itu berpindah dari Ciliwung ke langgar leluhur ­mereka menjadi taruhan. Mereka memaknai perjuangan memikul dengan gembira seakan pasir-pasir itu bahan material untuk membangun rumah-rumah ­mereka sendiri di surga.

Begitulah, pasir Ciliwung menjadi kekuatan, semacam ­energi yang membakar niat memiliki masjid tidak pernah ­padam. ­Seperti sifatnya, pasir memang memiliki kekuatan, menjadi elemen perekat bersama semen, kapur, dan batu membentuk tembok yang kokoh, menara yang menjulang, dan lantai yang sejuk.

Lalu, siapa para pejuang penggali pasir itu?|

Tarawih Terakhir

MAKA pada malam kedua Ramadan itu, apa yang ­kemudian terjadi, terjadilah. Tangan-tangan yang bersih dari bekas Pasir Ciliwung itu, tubuh-tubuh yang tidak merasakan dinginnya air ­sungai saat saudara-saudara mereka berendam di kedung Ciliwung menadah pasir itu, tangan-tangan yang tidak merasakan terkelupas oleh ­kerasnya batu Gunung Kapuran itu, tapak-tapak kaki dan betis yang tidak merasakan meluang berjalan berkilo-kilo itu, dan pundak-pundak yang tidak kapalan karena ditindih ­pikulan ­pengki, keranjang, atau lengke, menduduki tempat imam ­tarawih pada malam kedua.

Itulah Tarawih Terakhir.

Keluarga Isnaen dan orang-orang yang merasakan dinginnya air Ciliwung saat ­mengambil pasir harus angkat kaki.
Adakah air mata?
Adakah perlawanan?
Adakah penyesalan?
Adakah dendam?
Lalu, apa yang tersisa?
Tidak!
Yang tersisa adalah perjuangan baru, membuka ladang amal baru, dan membangun jalan ke surga yang baru. Akan tetapi, gesekan-gesekan perjuangan baru, makin berat tantangannya.|

Jangan Sangka

NAMUN, jangan sangka air mata tidak ­mengalir. Ia mengalir, deras mengalir, tapi hanya di dalam jiwa. Jangan sangka tidak ada isak tangis melengking. Ada, tapi diredam di dalam dada. ­Jangan sangka tidak ada keluh-kesah. Ada, tapi ditelan sendiri di alam sepi. ­Jangan pula disangka tidak ada gejolak kecewa yang menggunung. Ada, tapi dirasai sendiri-sendiri.

Catatlah! Air mata itu, isak tangis itu, keluh-kesah itu, dan gejolak kecewa itu, tidak mereka jadikan mesiu untuk membakar persaudaraan. Tidak, karena tak seorang pun yang beruntung bila sudah terperosok pada medan “Menang jadi arang, kalah jadi abu.”

Tunggu kisah lengkapnya dalam “Tarawih terakhir”, persembahan untuk mujahid penggali pasir dari saya kepada pembaca.

Salam ukhuwah.

Minggu, 14 November 2021

TEKOKAK DAN MASA LALU



Foto pribadi. Jepretan Samsung A 12

KAMPUNG ini memang sudah berubah. Sungai-sungai kecilnya tak lagi menjadi rumah bagi ikan-ikan liar. Ikan benter, cere, udang, sepat, atau mujair tak bisa lagi dijumpai di sana. Bukan karena ikan-ikan itu tidak betah lalu bermigrasi mengikuti aliran sungai lalu tidak kembali ke kampung ini, bukan. Ikan-ikan itu lenyap bersama sungai kecilnya yang ditimbun batu, pasir, dan conblock.

Kampung ini memang sudah berubah. Sawah-sawahnya yang dahulu menghampar, tak lagi menjadi lahan subur di mana tumbuh genjer dan gulma yang sedap bila ditumis. Genjer dan gulma itu, kapan saja bisa dipanen cuma-cuma kalau mau. Akan tetapi, genjer dan gulma itu ikut raib bersama ikan-ikan liar dari sungai kecil itu. Bukan karena tanah sawah-sawah itu sudah tidak subur lagi, bukan. Melainkan, sawah-sawahnya juga sudah ditimbun pasir, split, aspal, juga conblock. 

Kampung ini memang sudah berubah. Burung-burung liar yang selalu datang pagi dan petang, terbang entah kemana. Tak tampak lagi blekok yang putih, mandar dan terkoakan yang kecoklatan, atau ayam-ayaman yang hitam legam, begitu juga emprit dan peking yang ramai saat padi mulai berbiji.

Kawanan burung itu tidak punya harapan lagi di kampung ini. Katak-katak muda tak lagi dijumpai paruh panjang si blekok. Melik dan ikan-ikan kecil tak bisa dipatuk mandar dan terkowakan. Begitu juga peking dan emprit. Kawanan burung mungil ini tak mendapatkan lagi biji padi barang sebulir. 

Burung-burung itu ikut pergi, minggat sejauh sayapnya mengepak, lalu hinggap di ekosistem baru yang masih asri ribuan kilo jauhnya. Sebab, kampung ini tidak lagi menyediakan makanan buat tembolok mereka yang kempis. Lumbung ikan dan rumpun padi tak pernah muncul lagi di air dan sawahnya yang digusur bulldozer. Karena itulah mereka semua terbang dan tak sudi kembali lagi. 

Kampung ini memang sudah berubah. Orang tak bisa lagi memanen karuk saat dahan-dahan durian berkembang lebat. Tak ada lagi pohon durian tumbuh, karena setiap jengkal tanah di kampung ini didahulukan buat membangun pondasi rumah anak cucu. Lalu, karuk tinggal kenangan belaka. Makanya, tak ada lagi ritual mencari karuk. Bahkan boleh jadi, dahulu, para pencari karuk, lebih rela ketinggalan shalat subuh di masjid atau musala kampung daripada ketinggalan memungut karuk.

Kampung ini memang sudah berubah. Tak ada lagi galah asin, kasti, benteng, atau petak umpet menjelang mengaji. Semua kegembiraan, autentik, alami, murah, menyehatkan, dan menyenangkan itu telah dilupakan. Permainan kampung itu hanya tinggal dikenang tanpa dimainkan lagi. Bukan karena orang-orang kampung lupa cara memainkannya, akan tetapi, semua permainan itu tenggelam dilibas zaman smartphone. Sedih, ia dilupakan karena mengaji tidak seramai dahulu. Yang lebih menyedihkan lagi, pengajiannya mati mendahului galah asin, kasti, benteng, dan petak umpet. Pengajian lekar turut surut, istilah "uang minyak" menjadi asing. Untunglah TPA-TPA subur seperti cendawan di musim hujan.

Begitulah. Memang kampung ini sudah berubah. Namun, biarlah ia berubah mengikuti zaman asalkan nilai-nilai luhur, persaudaraan, akhlak, dan tradisi baik tidak turut punah bersama masa lalu.

Dan, di pagi yang mendung ini saya berbinar setelah mengaji. Kaki melangkah melewati sisa-sisa sungai kecil, sawah, dan entah berapa bekas-bekas pokok pohon durian yang telah tumbang. Di sana, di sisa sawah yang tertimbun tanah urug, ada pohon perdu. Ia tumbuh subur di antara bongkahan batu. Buahnya tampak menyembul dari balik dahannya yang berbulu halus. Saya sungguh senang menjumpai marga terung-terungan ini  tumbuh liar menyendiri. Berarti, kampung ini masih menyimpan kekayaan meskipun sedikit. Jika saja ia halal saya ambil, biarlah diunder saja untuk lalapan dengan sambal terasi nanti siang.


Ya, tekokak. Masih ada tekokak tumbuh di kampung ini. Melihatnya secara tidak sengaja, seperti menemukan barang yang hilang bertahun-tahun lamanya.

Ia mirip leunca. Hanya saja aroma tekokak lebih kuat. Teksturnya pun lebih keras. Namun, bagi penyuka lalapan, launca atau tekokak sama-sama nikmat bersanding nasi panas, ikan asin, sayur asem, dan tentu sambal terasi. Jangan lupa, minumnya teh aur panas tanpa gula. Rasanya, keindahan kampung ini seakan kembali seperti dahulu.

Begitulah, kadang hal kecil bisa membangkitkan nostalgia pada masa kalu kampung yang elok, seperti ingatan pada Kampung Pulo 35 tahun yang silam.

Untuk tekokak, alhamdulillah.