A homepage subtitle here And an awesome description here!

Selasa, 10 Desember 2024

Kain Ihram Anak Kampung

Cover Kain Ihram Anak Kampung. https://www.kautsar.co.id/detail/kain-ihram-anak-kampung





Penulis : Abdul Mutaqin

ISBN : 9786021695197

Cover : Soft Cover

Halaman : 376 Halaman

Berat : 500 gr

Ukuran : 13.5 x 20.5 cm


Rahadian Muhajir Yastriba, seorang anak kampung yang miskin. Meski begitu, kemiskinan tak menjadi penghalang bagi Rahadian untuk mewujudkan mimpi terbesarnya, menjadi tamu Allah di Baitullah. Lewat perantara Pak Guru Mahfudz, guru agama di sekolahnya, Rahadian mengenal setiap jengkal Baitullah melengkapi gambaran dalam impiannya. Begitu lihainya beliau menceritakan detai perjalanan yang dilakukan oleh jamaah haji dan umrah, hingga seolah-olah Rahadian bisa merasakan harumnya tanah haram, nikmatnya kalimat talbiyah, indahnya tawaf juga lezatnya air Zamzam.

Demi mewujudkan cita-citanya itu, Rahadian harus bersabar menghadapi olok-olok dan caci maki dari keempat temannya, Tatan, Sulong, Ghaafir, dan Ginanjar, juga orangtua mereka. Rupanya kekayaan yang mereka miliki saait itu telah menutup mata hati mereka sehingga dengan mudahnya memandang rendah orang lain. Tidak hanya kemiskinan Rahadian yang tak bosan-bosannya dicerca, namun impiannya juga berusaha dikoyak oleh Sulong dan ketiga temannya. Tapi Rahadian bergeming, tetap teguh menggenggam impiannya. Baginya tidak ada yang tidak mungkin selama dia berusaha dan yakin, yakin akan rahmat dan kuasa Allah.

Roda kehidupan berputar, Allah selalu bersama orang-orang yang berserah diri kepadaNya. Dua puluh delapan tahun kemudian, Rahadian bertemu kembali dengan ketiga temannya di masa lalu, Sulong, Ghaafir dan Ginanjar secara terpisah. Akankah Rahadian memaafkan kesalahan mereka di masa lalu? Peristiwa apa saja yang terjadi setelah pertemuan Rahadian dengan ketiga temannya itu? Bisakah tali persahabatan mengikat kembali Rahadian dengan ketiga temanya itu dalam indahnya ukhuwah Islam? Berhasilkah Rahadian membuktikan bahwa semua perkataan temannya itu tidak benar?

Novel tentang perjuangan meraih impian, kesabaran, keteguhan dan integritas. Mengharukan!



Depok, 10 Desember 2024

Senin, 09 Desember 2024

Pak Tris di Mataku

Aku, Mbak Anisa, Irwan Kelana, Sutrisno Muslimin, dan Rahma sebelum acara peluncuran dan bedah buku Sutrisno Muslimin Sang Inovator Pendidikan, Dakwah, dan Politik di auditorium Ki Hajar Dewantara SMP Bakti Mulya (BM) 400 Jakarta, Senin (10/4/23). Foto koleksi penulis.

Tumbuh dari bawah, matang karena pengalaman. Buku ini merekam jejak seorang pendidik yang selalu haus ilmu dan kaya kreasi. Daya dorong itu yang ingin kita pelajari dari buku ini.
_Rocky Gerung, Filsuf dan Akademisi.

TIDAK ada Orang Sentiong, bahkan sekampung kelahirannya yang menyangka, Sutrisno Muslimin–Orang Sentiong memanggilnya “Tris”–menjadi sosok ’berkilau’ dengan legacy miliknya saat ini. Kecuali ibundanya; Sopiah. Sopiah pernah membisikkan nalurinya lewat mimpi Sutrisno, bahwa kelak “Emak ngeliet elu, naik tinggii sekali. Sampe emak ‘nggak bisa liat lu lagi.” Sopiah mengatakan itu dengan segenap jiwanya yang tegar.

Siapa itu Sopiah, aku sangat mengenalnya. Bagaimana karakternya, aku juga mengenalnya meskipun pengenalanku pada Sopiah tidak sefasih Sutrisno mengenal perempuan tangguh itu. Ini pun bukan suatu kebetulan. Aku dekat dengan aksara, sedekat aku pada Sopaih dan Sutrisno Muslimin. Meskipun bukan penulis besar, aku tidak asing dengan dunia literasi, dengan dunia perbukuan. Boleh jadi karena alasan ini, jemariku diberi rangsangan buat menuliskan kisahnya, kisah Sutrisno Muslimin sebatas yang aku kenal. 

Sepanjang halaman pertama buku ini aku tulis sampai halaman terakhirnya kububuhi tanda titik, kesan pada laki-laki ini mengantarku pada tegalan, sawah, rumput, dan kegembiraan anak-anak kampung seperti kami gembira saat berebut layangan putus. Aku gagal mengalihkannya pada yang lain, apalagi pada sosok Sutrisno Muslimin yang sekarang. Meskipun kisah kesuksesan Sutrisno Muslimin sudah kuserap melalui wawancara, melalui berita yang aku baca, juga mempelajari draft buku tentang dia yang hampir naik cetak, tetap saja ingatanku kembali ke tegalan, sawah, rumput, dan berebut layangan putus. 

Di mataku, di sanalah lokus hidup Sutrisno Muslimin kecil banyak dihabiskan. Dan aku membersamainya dalam satu dua kesempatan kami mengejar layang-layang itu. Bagiku, pengalaman di tegalan, sawah, rumput, dan berebut layangan putus bersama Sutrisno Muslimin itu autentik, seperti emas 24 karat. Justru, dari lokus-lokus itulah kilau wajah Sutrisno Muslimin hari ini punya sisi autentisitasnya yang genuine.

Aku tidak akan mengulang apa yang aku tulis pada "Sutrisno Muslimin Sang Inovator Pendidikan, Dakwah, dan Politik" di sini. Buka saja, dan bacalah halaman demi halaman buku itu untuk menyelami kisahnya. Aku tidak juga bermaksud membanggakan buku ini, tidak juga membanggakan Sutrisno Muslimin. Aku hanya bahagia karena aku pernah melewati masa kecil bersama Sutrisno Muslimin dan menyaksikan dirinya menjadi seperti yang sekarang.

Bila Anda seorang pendidik dan pemegang otoritas lembaga pendidikan, buku ini sharing keberhasilan pengalaman bagaimana tangan Sutrisno Muslimin menyentuh lembaga pendidikan dan menempatkannya pada level tertentu. Bila Anda adalah siswa atau mahasiswa dengan keterbatasan ekonomi sehingga mimpi pun Anda tidak berani, buku ini akan mengubah persepsi Anda bahwa keterbatasan ekonomi bisa menjadi kekuatan meraih mimpi. Bila Anda seorang ayah atau ibu, buku ini menempatkan citra seorang ayah dan ibu mengantar asa dan doa untuk keberhasilan anaknya.

Buku berdurasi 400-an halaman ini aku selesaikan dalam tiga bulan (Februari-Maret-April 2022). Tiga bulan itu terbilang cepat untuk durasi buku setebal ini. Memang, proses pematangan naskah di tangan Tim yang menerbitkan memakan waktu cukup lama. Irwan Kelana, Mbak Anisa, Rahma, dan Irul Tim yang cukup intens berkomunikasi denganku hingga buku ini diluncurkan. Tengkyu semua. Kepada Buku Republika yang menerbitkan buku ini, tentu menoreh kesan tersendiri bagiku.

Sutrisno Muslimin Sang Inovator Pendidikan, Dakwah, Dan Politik. Tangkapan layar dari Ibrahim Aji, https://www.youtube.com/@IbrahimAjiOk

Semoga menginspirasi.

Ciputat, 09 Desember 2024.


Minggu, 08 Desember 2024

Orang Depok Logat Minang

Itiak lado Ijo Ngarai Sianok. Nikmatnya awet. Foto koleksi pribadi.

Dalam hati aku berkata, kebanyakan kita jatuh pada kesalahan karena sedikit tahu, tapi bicara banyak seolah menjangkau semua hal.

Masih diberi kesempatan menikmati sarapan itu rezeki di akhir bulan yang patut disyukuri saat dompet sudah hampir tiris. Harga sarapannya sih standar, sekira 13 ribu-an dengan menu soto Madura. Bila minta tambahan ceker atau tulangan, sedikit lebih mahal dua sampai tiga ribu rupiah bergantung sebanyak tambahan yang diminta.

Kuah soto mengepul uapnya. Aroma rempah merebak, menusuk hidung membangkitkan selera, khas sekali. Saat soto diaduk, seluruh udara seakan beraroma soto, beraroma gurih.

Perasan jeruk nipis, sedikit kecap, juga sambal, cita rasa sotonya tambah kuat. Berpadulah di atas mangkuk rasa gurih, asam, manis, dan pedas. Sarapan jadi bergairah, terasa istimewa.

Tentu, bila uang masih cukup, kerupuk menjadi penyerta sarapan makin sedap. Tekstur kerupuk yang renyah dan gurih cocok di segala hidangan. Apalagi dengan soto, hmmm. Nikmat Allah yang mana lagi yang tidak membahagiakan?

Bila sarapan pada Jum'at pagi minggu lalu itu dinikmati bersama sahabat karib, pastilah bertambah hangat. Namun tak apa, kekariban itu fleksibel sesuai arah angin berembus. Kadang dia lentur seperti karet, kadang ada masanya dia harus kaku seperti batang tusuk sate.|


Seorang laki-laki —barangkali usianya sepuluh atau dua belas tahun di atasku— menyapa sambil menunggu pesanannya dihidangkan. Wajahnya ganteng, putih. Sorot matanya tampak bersahabat. Senyumnya mengembang.

Aku merespons, balik menyapa seramah yang aku punya. Begitulah aku diajarkan orang tua untuk membalas sapaan orang sepadan dengan sapaannya. Bila dirasa perlu, balaslah dengan keramahan lebih dari yang diterima.

Sejenak, kami asyik berbincang. Kadang bertatap saat saling merespons. Entahlah, keakraban mengalir begitu saja seperti serbuk sari dipertemukan pada putik bunga oleh angin dalam anemogami.

Hingga aku agak surprise saat laki-laki ini menyebutku sebagai orang Minang. Oh, tidak.

“Saya Depok asli, Pak.”
“Betawi Depok. Tapi, logat bicaranya khas Minang.”
“O, gitu?”
“Ya. Saya puluhan tahun di Sijunjung mengurus transmigrasi,” katanya yang mengaku sangat paham logat Minang.
“Maaf, Bapak orang Minang?” tanyaku membalas.
“Bukan. Saya asli Bandung.”

Lah.|

Minang mengalihkan obrolanku pada ingatan sosok Bunda—semoga Bunda selalu melimpah berkah di Kuranji. Pada Desember tujuh tahun lalu, Bunda memberiku ruang menikmati secuil dari keelokan Sumatera Barat. Dengan bentang alamnya yang rimbun, pantainya yang indah, kulinernya yang bikin nagih, tentu keramahan Bunda dan keluarganya yang membekas sampai ke dasar hati. Pantaslah Bunda berkata, “seminggu bukan waktu yang cukup untuk menikmati keelokan Sumatera Barat, Abdul.”

Biarlah, meminjam kaidah ushul: maa laa yudroku kulluh laa yutroku kulluh. Andaikan tidak menjangkau semua, jangan tinggalkan semua dalam seminggu. Maka dalam seminggu itu, Bunda dan keluarga mengajakku menjangkau keelokan Bukittinggi: Mandeh, Ombilin, Danau Singkarak, Danau Maninjau, tentu Teh Talua-nya yang sedap, Museum Buya Hamka, Rumah Gadang, Kelok Sembilan, Lembah Harau, Rumah Gadang, Jam Gadang, dan Itiak Lado Ijo Ngarai Sianok yang mengundang keringat. Ah, sedapnya masakan Itiak itu menyisakan liur yang selalu terbit saat ia diingat-ingat lagi.

Apakah logat bicaraku menjadi agak Minang terpengaruh hanya dalam hitungan waktu tujuh hari?

Terpengaruh atau tidak itu tidak penting, tapi sejujurnya aku sangat menikmati saat berbincang dengan Bunda dengan logat Minangnya yang kental saat kami sarapan atau di waktu-waktu senggang kami berbincang di ruang tengah. Bahkan aku sudah kadung mempersonifikasikan dialog karakter Amak dalam novelku “Pengantin Fort van der Capellen" itu adalah Bunda. Itu cara paling tepat menuntunku menyelesaikan cerita asmara Urang Rantai dalam novel “Pengantin …." Nah, sebenarnya pengaruh logat Minang padaku mungkin lebih kuat terbaca pada novel ini.|

Sisa sarapanku tinggal satu dua suapan saja. Kuah soto pun sudah tinggal suam-suam kuku rasanya. Tapi, obrolan kami makin panas, naik levelnya saat laki-laki ini mengaku sebagai penyuka sejarah, sedangkan sebelumnya aku mengaku guru Sejarah Kebudayaan Islam di madrasah saat mengenalkan profesiku.

“Saya tidak paham dengan fenomena Khawarij. Empat khalifah, tiga wafat karena terbunuh,” katanya.

Deg! Wah, ribet ini.

Jadilah di penghujung sarapan soto Madura pagi itu kental dengan nuansa Sejarah Islam. Kami berbincang seputar konflik di akhir kekhalifahan Sayyidina Utsman bin Affan radhiyallahu anhu sampai akhir kekhalifahan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu meskipun hanya potongan-potongan major konflik itu dibincangkan. Tampak laki-laki itu kurang puas dengan jawaban-jawabanku.

Aku menangkap, dia cukup menguasai topik yang kami bincangkan, berbanding lurus dengan pengakuannya sebagai penyuka sejarah. Atau jangan-jangan, dia itu “Guru Besar Sejarah Islam” yang menyamar, mengaku-ngaku sebagai bekas pegawai yang mengurus urusan transmigrasi di Sijunjung. Ah, biarlah.

Aku menutup perbincangan dengan statemen bahwa kita tidak akan bisa sepenuhnya memahami konflik yang melibatkan para sahabat mulia itu lalu menyatakan bahwa mereka telah berbuat keliru. Sekali-kali tidak bisa.

“Terlalu sedikit latar belakang terjadinya konflik itu yang kita ketahui hanya dari informasi buku sejarah yang kita baca. Kita tidak hadir saat konflk itu pecah. Sementara, situasi dan peristiwa yang banyak dan tidak tertulis di baliknya boleh jadi menjadikan kita keliru dalam mengambil sebuah kesimpulan tentang mereka,” kataku.

Dalam hati aku berkata, kebanyakan kita jatuh pada kesalahan karena sedikit tahu, tapi bicara banyak seolah menjangkau semua hal.

Konflik yang melibatkan para sahabat mulia yang terjadi pada masa itu adalah fakta. Akan tetapi, larangan mencela para sahabat bukan sekadar fakta, melainkan adab kepada generasi terbaik itu yang diajarkan baginda Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Aku tatap wajah laki-laki itu. Aku lempar senyum, berusaha agar tetap meninggalkan kesan hangat di akhir perbincangan. Dia membalasnya sambil mengangguk.|

Depok, Ahad 08 Desember 2024.
Akhir pekan yang basah, sibuk, dan teringat Bunda tiap Desember hadir dengan guyuran hujan.

Rabu, 04 Desember 2024

Persahabatan dan Tragedi Moral Rousseau



Persahabatan. Ilustrasi dari : https://darussalam.id/

Meskipun begitu, Rousseau tetap dipuji sebagai tokoh besar. Begitulah nilai yang berlaku di Barat di mana kesesuaian ilmu dan akhlak pada diri seseorang bukan hal yang terlalu penting untuk dibincangkan dan dipersoalkan.

***

Teringat lagi pada satu peristiwa kecelakaan. Ditolong oleh orang yang sangat aku kenal. Waktu itu hari Sabtu, hari pengambilan raport pada pukul 08.00 pagi. Namun, ada Wali Murid minta bertemu lebih pagi dari jadwal karena ada keperluan lain. Qadarullah, karena kecelakaan itu agenda bertemua Wali Murid di sekolah dibatalkan.

Bersyukur sekali saat kecelakaan itu terjadi ditolong orang yang sangat aku kenal. Hanya saja dia yang menolong, sama sekali belum “ngeh” siapa orang yang sedang ditolongnya. Barulah setelah beberapa saat saling menatap dan aku menyapanya, dia kaget, lalu berseru sambil menyebut namaku.

“Ya Allah!“ pekiknya kemudian.

Dulu, kami satu almamater. Sama-sama punya minat pada seni tilawah. Hanya beda kelas saja. Juga beda dalam supel. Dia pandai membaur dengan siapa saja teman seangkatan, sedang orang yang ditolongnya ini agak kurang pandai.

Sejak lulus pada 1991, nyaris tidak pernah bertemu. Mungkin ada sekali dua kali pertemuan itu. Hanya saja terlupakan di mana ia berlangsung karena tertimbun kesibukan yang susul menyusul. Tapi, kebaikannya pada saat kecelakaan itu tidak bisa dilupakan. Bagaimana mungkin melupakan kebaikan orang pada diri kita apalagi kebaikan dari sahabat karib?

Rousseau pernah berkata dan dikutip banyak orang. “What wisdom can you find that is greater than kindness?” Kebijaksanaan apa yang dapat Anda temukan yang lebih besar daripada kebaikan? Demikian bila kata-kata Rousseau itu diterjemahkan soal kebijaksanaan dan kebaikan.|


Boleh jadi banyak orang mengenal bahwa Jean Jacques Rousseau (1712 - 1778) adalah seorang filsuf, penulis, dan komposer asal Republik Geneva (Swiss modern). Namun, boleh jadi belum banyak yang tahu bahwa Rousseau punya catatan kelam soal moral.

Dalam buku “Intellectuals”, Paul Johnson —dikutip Adian Husaini dalam “Wajah peradaban Barat” —menyebut Rousseau sebagai “manusia gila yang menarik” (an interesting man). Saat berusia 15 tahun, pada 1728, Rousseau rela menukar agamanya menjadi Katolik agar dapat menjadi peliharaan Madame Françoise-Louise de Warens.

Meskipun begitu, Rousseau tetap dipuji sebagai tokoh besar. Begitulah nilai yang berlaku di Barat di mana kesesuaian ilmu dan akhlak pada diri seseorang bukan hal yang terlalu penting untuk dibincangkan dan dipersoalkan.

Boleh juga disinggung sedikit siapa Françoise-Louise de Warens itu. Pada laman en.wikipedia.org, Françoise-Louise de Warens digambarkan sebagai dermawan dan kekasih dari Jean-Jacques Rousseau (mistress of Jean-Jacques Rousseau). Meskipun awalnya Warens adalah seorang guru bagi Rousseau, mereka terlibat secara seksual setelah secara terbuka Warens memperkenalkan Rousseau pada urusan cinta dan "keintiman".

Warens penganut Protestan. Pada 1726 ia memilih menjadi seorang Katolik Roma demi uang pensiun gereja. Uang pensiun itu dimanfaatkan untuk meningkatkan penyebaran Katolik Roma di sekitar Jenewa yang saat itu merupakan benteng Protestan. Sementara, Rousseau memilih menjadi Katolik untuk berkhidmat sebagai “Madam's pet man”-nya Françoise-Louise de Warens.|


Boleh jadi, ungkapan “What wisdom can you find that is greater than kindness?” terdengar kontradiktif sebab quote itu diucapkan seorang Rousseau. Akan tetapi, sulit untuk menyangkal bahwa kebaikan memang kebijaksanaan yang paling besar. Bagaimana mengukurnya?

Sederhana, putarlah memori di mana Anda pernah merasakan kebaikan orang. Adakah kebijaksanaan yang lebih besar dari nilai sebuah kebaikan yang Anda rasakan saat itu?|


Senin sore kemarin, masuk pesan WA mengabarkan ada teman sedang sakit. Terkejut juga membaca kabar soal sakitnya. Seberat itukah? Saat itu juga, ingatan pada kecelakaan sepuluh tahun lalu seperti suara bisikan di bibir telinga.

Gerimis masih belum reda. Rinai-rinai hujan yang diameternya hanya sepanjang 0.5 mm itu, tak urung pula membasahi tanah. Barangkali, tanah pun merasa nyaman dimanjakan rinai senyaman kita merasakan usapan pada punggung di kala lelah.

Angin menjelang Isya berembus mengiring titisan rinai. Rasanya ingin menarik selimut dan berkemul saja karena dingin dan titisan itu mengundang kantuk. Tapi, bayangan dia yang tergolek tidak bisa menunda untuk menjenguknya.

Maka, selepas menunaikan urusan umat, kebahagiaan pada sepuluh tahun yang lalu itu berulang saat kami bertemu meskipun malam sudah mulai larut. Dia yang terbaring dan aku duduk sama-sama merasakan bahwa persahabatan dan kebaikan itu melegakan meskipun rasanya dunia ini semakin sempit. Mungkin ada benarnya ucapan Maria Shriver: “When the world is so complicated, the simple gift of friendship is within all of our hands,” bahwa, “Ketika dunia begitu rumit, hadiah sederhana berupa persahabatan ada di tangan kita semua.”

Lekas pulih ya, Bang Ustaz sahabat saya. Biar bisa "goes" lagi. Selamat menikmati Biografi Sang Inovator, seniormu saat di Tsanawiyah dahulu. Siapa tahu jadi motivasi mempercepat kepulihanmu, harapanku dan semua sahabatmu. Aamiin.

Ciputat, Rabu, 04 November 2024.

Jumat, 01 November 2024

Hilf al-Fudhul di Tanah Jawa; Refleksi Milad Ke-122 Muhammadiyah

Tokoh Muhammadiyah, Tokoh Pergerakan, dan Pahlawan. Sumber gambar: https://www.unisayogya.ac.id/

Melintas Zaman

Pada 18 November 2024 tahun ini, Muhammadiyah genap berusia 112 tahun menurut hitungan kalender Miladiyah. Dalam perjalanan sejarah bangsa ini, Muhammadiyah sudah melintas zaman. Organisasi ini tetap kokoh seperti batu karang. Meski diterpa empasan angin politik, budaya, modernisme, dan berbagai paham yang mengepung masyarakat bangsa, Muhammadiyah bergeming dari jati dirinya yang autentik sebagai gerakan dakwah amar ma'ruf nahi munkar sepanjang usianya sekarang.

Muhammadiyah lahir di era Penjajahan dan Kolonialisme (1700-1945), terus bertumbuh pada era Pergerakan (1908-1928), tetap berkembang pada masa Pendudukan Jepang (1943-1945), semakin berkibar di era Mempertahankan Kemerdekaan (1945-1949), tidak luntur di era RIS dan Demokrasi Liberal (1949-1959), tetap istiqomah di Zaman Demokrasi Terpimpin (1959-1966), semakin menggembirakan anak bangsa di Zaman Orde Baru (1966-1998), dan tetap setia pada khittah-nya di era Reformasi dengan semangat berkemajuan yang diusungnya.

Umumnya, nama-nama besar seperti Ir. Soekarno, Jenderal Soedirman, Ir Djoeanda, KH Fachrudin, Buya Hamka, Gatot Mangkoepradja, KH Mas Mansoer, Ki Bagus Hadikoesoemo, Kasman Singodimedjo, Abdul Kahar Muzakkir, dan banyak lagi nama-nama besar itu disebut dalam sejarah Pergerakan Nasional di lingkungan Persyarikatan. Mereka membawa spirit jihad KH Ahmad Dahlan, menjadi wakaf Muhammadiyah untuk negeri yang sudah disemai pendirinya pada 1912.

Akan tetapi, tentu para da’i Muhammadiyah di garis depan tidak kalah besar perannya. Mereka turut “mengawetkan” Muhammadiyah di ranting-ranting melintas zaman. Meskipun nama-nama mereka tidak tertulis dalam lembaran sejarah pergerakan, namun militansi menjadi penghubung transmisi pergerakan Muhammadiyah sejak masa kolonialisme tidak terputus hingga sekarang. Lagi pula, tertulis atau tidak nama sendiri bukan perkara penting bagi mereka asalkan api dakwah Muhammadiyah tetap menyala.

Hilf al-Fudhul

Dalam Sirah Nabawiyah, Hilf al-Fudhul menjadi poin menarik disinggung untuk menjawab keraguan sebagian warga Persyarikatan yang menjadi korban infiltrasi dari manhaj yang mengharamkan organisasi sebab ia dianggap barang bid’ah. Alasannya simpel betul: “pada masa Nabi SAW tidak ada organisasi”. Ya, sekilas tampak betul alasan itu, betul. Akan tetapi sadarkah pikiran kita, bahwa prinsip-prinsip atau tata kerja layaknya organisasi hidup berdampingan dengan Rasulullah sepanjang era kenabian. Did the Prophet Muhammad shallallahu alaihi wa sallam not organize during the battles of Badr, Uhud, or Khandaq?

Hilf al-Fudhul semacam persyarikatan yang dibentuk kabilah dari Bani Hasyim, Bani Al-Muthalib, Bani Asad bin Abdul ‘Uzza, Bani Zuhrah bin Kilab, dan Bani Taim bin Murrah pada 591 M. Hampir tidak ada kitab sirah yang tidak menyinggung soal Hilf al-Fudhul ini. Dideklarasikan di rumah Abdullah bin Jud’an at-Taimi. Orang-orang Quraisy itu saling berjanji dan berikrar bahwa tidak akan ada seorang pun yang teraniaya di Makkah, baik penduduk asli maupun orang yang datang dari luar, kecuali mereka akan berdiri di sisinya dan mendukungnya hingga haknya dikembalikan kepadanya.

Bermula dari seorang pria asing yang datang ke Makkah membawa barang dagangan. Barang dagangan tersebut dibeli oleh Al-‘As bin Wa’il, namun al-‘As bin Wa’il menolak memberikan pembayaran yang seharusnya. Pria asing itu pun meminta bantuan penduduk Makkah; sebagian dari mereka menolongnya, sementara yang lain tidak. Mereka yang mendukungnya kemudian pergi menemui Al-‘As bin Wa’il dan mengambil kembali hak pria tersebut darinya. Setelah itu, beberapa kabilah Quraisy berkumpul di rumah Abdullah bin Jud’an dan berjanji untuk menolong siapa pun yang tertindas di Makkah, dari mana pun asalnya, dan memastikan agar keadilan ditegakkan untuk mereka.

Perjanjian ini dianggap sebagai salah satu perjanjian yang paling mulia dan terhormat yang dikenal oleh bangsa Arab. Dideklarasikan pada bulan Dzulqa’dah, salah satu bulan suci dari bulan-bulan Haram. Al-Zubair bin Abd al-Muththalib adalah yang pertama kali mengajak dan menyerukan perjanjian ini. Quraisy menamai perjanjian ini dengan nama Hilf al-Fudhul (Perjanjian Keutamaan).

Keterlibatan Nabi Muhammad SAW

Hilf al-Fudhul berlangsung sebelum bi’tsah. Muhammad berusia 20 tahun saat itu dan belum diutus sebagai rasul. Beliau hadir di rumah Abdullah bin Jud’an saat deklarasi pada 591 M. KH. Moenawar Chalil menyebut beliau menjadi anggota Hilf al-Fudhul. Bahkan, dalam buku Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad ﷺ, jilid 1 halaman 78, Kiai Chalil menyebut Hilf al-Fudhul sebagai ”Organisasi”.

Setelah era kenabian, Abdurrahman bin ‘Auf memberi kesaksian sebagaimana riwayat Imam Ahmad. Kata Nabi shallallahu alaihi wa sallam, “Aku menyaksikan hilf al-Fudhul bersama paman-pamanku sedangkan aku masih kecil. Tidaklah aku sukai bila aku mempunyai unta merah, tapi harus membatalkan sumpah ini”.

Demikian pula dalam riwayat Imam al-Baihaqi, Ibnu Katsir, dan al-Qurtubi, Nabi shallallahu alaihi wa sallam menyatakan: ”Aku menyaksikan Hilf al-Fudhul di rumah Ibnu Jud'an. Ini lebih aku sukai daripada mendapatkan unta merah. Jika aku diajak seperti itu di saat islam sudah ada, maka akan aku penuhi.”

Dari beberapa keterangan tentang Hilf al-Fudhul dari kitab-kitab sirah serta riwayat-riwayat yang diketengahkan tentang persekutuan ini di dalam sirah, maka anggapan bahwa organisasi merupakan barang bid’ah sebab pada masa Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak ada organisasi menjadi gugur dengan sendirinya.

Hilf al-Fudhul di Tanah Jawa

Muhammadiyah didirikan KH Ahmad di tanah Jawa, tepatnya Kauman, Yogyakarta. Hasil dari interaksi, renungan, dan penghayatan KH Ahmad Dahlan pada ajaran Islam yang sebenar-benarnya dalam bidang sosial melahirkan apa yang dikenal di belakang hari dengan gerakan atau Teologi Al-Maun. Gerakan Al-Ma’un yang digagas KH Ahmad Dahlan benar-benar menggerakkan jiwa sosial untuk pemberdayaan fakir miskin yang fokus pada pemeliharaan dan pendidikan pada kaum dhuafa. Kelak, tafsir-tafsir demikian itu mengkristal dalam jiwa gerakan Muhammadiyah.

Pengajaran dari tafsir gerakan Al-Ma’un KH Ahmad Dahlan saat itu bersifat aktual, aplikatif, dan kontekstual. Beliau menafsirkan makna kemiskinan tidak sebatas pada kemiskinan sandang, pangan, dan papan, tetapi juga kemiskinan ilmu, perhatian atas kasih sayang, dan kesehatan kaum dhuafa. Tafsir model ini melahirkan sistem pendidikan baru dan lembaga-lembaga pendidikan yang digagas KH Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyah-nya sejak zzaman kolonialisme. Panti-panti asuhan, rumah jompo, dan layanan kesehatan pun berdiri di bawah PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem) pada 15 Februari 1923. Sebulan sebelumnya, tepatnya pada 13 Januari 1923, Muhammadiyah lebih dahulu mendirikan rumah pelayanan bagi orang miskin dan terlantar.

HM Soedja’, salah satu murid kepercayaan KH Ahmad Dahlan adalah sosok di balik hadirnya layanan-layanan di atas. Ia menjadi capaian tertinggi peninggalan terakhir jejak pembaharuan KH Ahmad Dahlan karena tidak lama setelah itu, pada tanggal 23 Februari 1923 KH Ahmad Dahlan berpulang ke haribaan Allah Yang Maha Tinggi.

Bila di Makkah ada Al-Zubair bin ‘Abd al-Muththalib yang tidak suka pada kezaliman bangsawan Makkah yang semena-mena sehingga melahirkan Hilf al-Fudhul, di tanah jawa ada KH Ahmad Dahlan yang juga tidak bisa berpangku tangan menyaksikan dampak feodalisme di tanah Jawa dan melahirkan Muhammadiyah, 1321 tahun setelah deklarasi Hilf al-Fudhul di rumah Abdullah bin Jud’an at-Taimi di Makkah. Ada Muhammad muda saat deklarasi Hilf al-Fudhul. Sementara KH Ahmad Dahlan mengambil nama “Muhammadiyah” untuk gerakan pembaharuannya.

Maka, bolehlah Muhammadiyah itu disebut Hilf al-Fudhul di Tanah Jawa yang memiliki kesamaan cita-cita pada perlindungan orang-orang yang lemah dan terzalimi secara politik, ekonomi, dan budaya. Organisasi ini dideklarasikan Pada 18 November 1912 di sebuah rumah di Kampung Kauman yang populer disebut orang “Pendopo Tabligh”. Pendopo Tabligh sering digunakan tempat berkumpul masyarakat Kauman yang mendukung pemikiran dan gagasan-gagasan KH Ahmad Dahlan.

Hari ini, dengan daya tahan yang luar biasa, Muhammadiyah bahkan sudah menjelma menjadi Hilf al-Fudhul nusantara bahkan Hilf al-Fudhul dunia dengan lahirnya Cabang-cabang Istimewa Muhammadiyah di seantero dunia, termasuk Saudi Arabia tempat kali pertama lahirnya organisasi Hilf al-Fudhul.

Selamat Milad ke-112 Muhammadiyah.

Ciputat, 01 November 2024.
Dari Bilik Renungan Kader Biasa Saja.

Rabu, 23 Oktober 2024

Muhammadiyah School Culture

 

Muhammadiyah Australia College. Sumber gambar: https://aisyiyah.or.id/.

Menulis merupakan bagian dari perhatian Rasulullah SAW dalam aspek pendidikan dan pengajaran. Kisah tawanan perang Badar yang diminta mengajarkan keterampilan menulis anak-anak Madinah sebagai tebusan diri mereka menjadi rujukan dalam konteks ini. Sejarawan seperti Ibnu Sa’d dalam “Thabaqat”-nya dan Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad juga menyebutkan fakta ini. “Ada beberapa tawanan pada hari Perang Badar yang tidak memiliki tebusan, maka Rasulullah SAW menjadikan tebusan mereka dengan mengajarkan anak-anak Anshar menulis.” Demikian teks terjemah dari riwayat Imam Ahmad.

Rasulullah SAW bahkan menegaskan bahwa beliau tidak akan membebaskan para tawanan itu kecuali setelah mereka mengajarkan kaum Muslimin membaca dan menulis. Zaid bin Tsabit, penerjemah dan sekretaris Nabi SAW dikabarkan merupakan salah satu dari mereka yang belajar pada peristiwa ini.

Tragedi Dogma vs Ilmuan Barat

Kemajuan Eropa atau Barat hari ini dibanding peradaban Islam sebenarnya tidak autentik. Bangsa ini mengalami masa titik peradaban terendah karena perpecahan kekaisaran Romawi dan kemerosotan peradaban Greko-Romawi. Pada saat bersamaan, gereja dengan segala otoritasnya berhadap-hadapan dengan sains. Dogma gereja sampai pada titik nadir dengan mengharamkan filsafat dan ilmu pengetahuan Yunani dan menganggap keduanya sebagai sihir. Kalangan agamawan pun mengkampanyekan perang terhadap sains dan filsafat.

Tampaklah sikap gereja yang sangat keras memusuhi ilmuwan. Nicolaus Copernicus mati merana dan Galileo Galilei mati di penjara karena pengadilan iman (inkuisisi) gereja Roma. Kedua ilmuan ini dimusuhi gereja karena pendapatnya bahwa bumi itu bulat dan bukan merupakan pusat tata surya. Atau yang dialami oleh Miguel Servetto —penemu peredaran darah menukil Abu al-Hasan Ali Ibnu an-Nafis. Servetto dianggap tukang sihir, melawan doktrin gereja, dan dibakar pada tahun 1553 M.

Dominasi gereja yang sangat kuat menjadikan pendidikan di Eropa di bawah tekanan agamawan. Saat itu sekolah-sekolah ditutup, merebaknya buta huruf, dan ditinggalkannya karya sastra klasik. Gereja benar-benar mengunci peluang akal untuk mengkaji dan meneliti.

Tragedi yang terjadi pada peradaban Barat Eropa ini tidak pernah dialami ilmuan pada peradaban Islam baik di timur yang diwakili Baghdad di bawah pemerintahan Daulah Bani Abbas, maupun di Barat yang diwakili Andalusia di bawah pemerintahan Daulah Bani Umayyah II.

Cahaya Dari Timur ke Barat

Pada saat mayoritas penduduk Eropa hidup dalam kegelapan dan buta huruf ini, hampir seluruh penduduk Baghdad dan Andalusia dapat membaca dan menulis. Di bawah kekuasaan Islam, Andalusia yang posisinya di Eropa terang benderang. Kardoba dijuluki mutiara dunia karena Andalusia pada masa itu mencapai tingkat peradaban yang sangat maju. Pada masa itulah, ilmu pengetahuan muslim dari Andalusia mengalir ke negara-negara Eropa Kristen melalui kelompok-kelompok pelajar Eropa yang pernah menuntut ilmu di Universitas Cordova, Malaga, Granada, Sevilla atau lembaga-lembaga ilmu pengetahuan lainnya di Andalusia.

Peran Andalusia sangat besar dalam mengantarkan Eropa memasuki periode baru masa kebangkitan. Wilayah di semenanjung Iberia ini menjadi salah satu jalur transmisi keilmuan Islam di Eropa di samping Sisilia, dan Perang Salib.

Ketertarikan Barat Eropa pada kemajuan peradaban Islam di Andalusia ditandai dengan lawatan para sarjana Barat ke negeri-negeri muslim. Bukan sekadar lawatan, mereka menimba ilmu kemudian menjiplak beberapa bentuk kegiatan keilmuan yang dilakukan di negara-negara Islam tersebut. Para mahasiswa mereka sengaja dikirim untuk belajar di Andalusia seperti Gerard dari Cremona Italia, Johannes Hispalensis dari Seville, Dominic Gundisalvi dari Toledo, Adelard dari Bath, Campanus dari Navarra, Albert dan Daniel dari Morey. Kaum terpelajar ini menerjemahkan buku-buku karya ilmuan Islam dan menjadi motor perubahan bagi kemajuan Barat Eropa.

Para penguasanya pun tidak ketinggalan. Kemegahan peradaban yang dimiliki Andalusia menjadi daya tarik tersendiri. Pada masa Abdurrahman III —Emir (912-929) dan Khalifah Kordoba (929-961)— pendirian Madina Azzahra yang memiliki 400 kamar dengan fasilitas pendukung seperti masjid, taman, danau, pabrik senjata dan perhiasan menjadi daya yang mengundang kekaguman Barat. Beberapa duta dari Italia dan Jerman datang berkunjung untuk menikmati keindahan dan kemegahan kota tersebut. Beberapa pemimpin Lyon, Nevar/Barcelona yang membutuhkan insinyur, arsitektur, ahli bedah, dan ahli musik tidak luput mendatangi Kordoba.

Sumbangsih Pendidikan Islam untuk Dunia

“Alangkah beruntung, wahai engkau yang hidup di Andalusia, dengan air, keteduhan, sungai-sungai, dan rimbun pepohonannya.Taman surgawi hanya ada di bumi pertiwimu dan sekiranya mungkin aku memilih, niscaya akan kupilih negerimu. Janganlah takut masuk neraka kelak, sebab siapa pun yang telah mengenal surga tak akan masuk jahanam.”

Kemegahan Andalusia di atas dilukiskan oleh Claude Addas begitu indahnya. Tentu pujian itu tidak semata-mata kekaguman bersifat fisik, tapi juga sebagai bentuk terima kasih atas upaya adopsi pola dan bentuk-bentuk pengajaran, kurikulum maupun lembaga pendidikan yang dimiliki umat Islam di Andalusia oleh Barat Eropa. Adopsi itu sangat kuat pada proses transmisi ilmu pengetahuan melalui Perancis dan Italia dengan berkembangnya universitas-universitas dan kajian keilmuan.

Pengiriman pelajar dan ilmuan Barat Eropa ke Andalusia, kunjungan para pejabatnya, serta adopsi peradaban keilmuan Islam ini mendorong gerakan renaissance dan aufklarung dunia Barat. Gerakan renaissance pertama kali berlangsung di wilayah Italia yang secara geografis berdampingan dengan Peradaban Islam di Andalusia. Sejak itu, peradaban Barat Eropa memegang kendali sain dan teknologi sampai hari ini. Sementara peradaban Islam kian tertinggal di belakang mereka.

Hari ini, ada fenomena pendidikan Islam seperti minder berhadapan dengan pendidikan Barat. Padahal pendidikan Islam memiliki dasar yang kuat yang berasal dari tradisi keilmuan bersanad sebagai distingsi tradisi keilmuan Islam yang autentik. Adakah tradisi keilmuan yang sangat selektif selain dari tradisi keilmuan Islam?

Harus digarisbawahi lagi, kemajuan Barat hari ini tidak lepas dari akar tradisi keilmuan Islam. Barat justru berkembang setelah belajar dari tradisi keilmuan Islam. Seperti telah dikemukakan di awal, fakta sejarah ini tidak bisa diingkari meskipun banyak kalangan menganggap kaum muslimin terlalu utopis bila fakta ini diungkap kembali.

Ilmuan Muslim

Era Abbas Abu al-Qasim bin Firnas ilmuwan di bidang fisika, kimia, mekanik, dan sastra yang meletakkan dasar-dasar pesawat terbang telah berlalu. Karena kreativitas bin Firnas ini, manusia bisa menikmati teknologi pesawat terbang, moda transportasi udara yang memangkas jarak tempuh dan jarak waktu dari satu titik benua menuju titik di benua yang lain.

Era Abul Qasim Khalaf ibn al-Abbas al-Zahrawi, dokter muslim yang menemukan alat-alat bedah dan catgut (benang bedah) juga sudah jauh pergi. Dunia pengobatan modern hari ini berhutang budi bagaimana menangani penyakit dengan teknik operasi bedah temuannya. Caesarean section bagi ibu hamil yang tidak bisa melahirkan secara normal hari ini tidak lain merupakan pengembangan dari jasa al-Zahrawi yang dipraktikkannya pada 1.011 tahun yang lalu.

Beberapa nama ilmuan Muslim lain seperti Ismail al-Jazari —bapak mekanik, penemu jam, dan robotik menjadi dasar pengembangan kendaraan bermesin dan alat-alat robotik penopang dunia industri. Berkata jasa al-Jazari, dunia mengalami revolusi industri. Dengan bantuan mesin, barang industri bisa diproduksi massal, memangkas ongkos, dan waktu produksi yang cepat.

Ibnu al-Haytham yang dikenang dunia sebagai orang pertama yang meletakkan dasar-dasar optik fisiologis yang menyangkut prinsip optik mata dan astronomi menjadi dasar pengembangan kamera, lensa optik, dan proyektor. Dunia sinematografi hari ini menjadi segmentasi yang banyak memanfaatkan karya Ibnu al-Haytham. Dan, sudah berabad masa al-Haytham ini meninggalkan dunia yang terus berubah.

Pertanyaan mendasar yang bisa kita ajukan pada zaman ini adalah, bagaimana pendidikan Islam dirancang untuk melahirkan polymate sekaliber mereka semua yang karya-karyanya menginspirasi dunia dan peradaban modern saat ini?

Distingsi Pendidikan Muhammadiyah Abad 21

Sejak awal, Muhammadiyah sudah mengembangakan sistem pendidikan yang memecahkan kebuntuan dikotomis antara pendidikan agama dan pendidikan umum. Pendidikan agama yang terlalu bercorak ukhrawi yang mengharamkan mempelajari sain dan pendidikan umum yang sekuler yang menihilkan agama dipadukan pada sekolah-sekolah Muhammadiyah. Ini menjadi prototype distingsi kultur pendidikan Muhammadiyah yang membedakannya dari lembaga-lembaga pendidikan lainnya di Indonesia pada era kolonial.

Jadi, idealnya sekolah-sekolah Muhammadiyah itu kuat akar tradisi keilmuan Islamnya serta terbuka bagi pengembangan sain dan teknologi yang diperlukan untuk menopang peradaban maju hari ini. Maka, harapan menjadikan sekolah Muhammadiyah sebagai pusat keunggulan pendidikan di masa depan sudah memiliki pijakan yang kokoh dengan dua keyword tolok ukurnya yaitu nilai-nilai Islam dan menempatkan ilmu dalam kesatuan yang tidak dikotomis. Bila dihubungkan dengan keunggulan karakter peserta didik, maka value-nya adalah nilai-nilai Islam.

Secara sederhana, pendidikan Muhammadiyah hari ini perlu memperkuat distingsi integratif nilai-nilai Islam dan sain yang sejak semula sudah menjadi cita-cita pendidikan Muhammadiyah. Penguatan itu dengan cara mengadaptasi tantangan pendidikan kekinian pada sekolah, madrasah, dan pondok-pondok pesantrennya.

Warna 21st Century Skill harus semarak dalam proses pembelajaran di lembaga-lembaga pendidikan Muhammadiyah. Kemampuan ini harus hidup warna-warninya di ruang-ruang kelas pada setiap level sekolah, madrasah, dan pondok-pondok Muhammadiyah.

Apa saja kemampuan dari 21st Century Skill yang dimaksud?

Pertama Critical Thinking And Problem Solving Skill atau kecakapan berpikir kritis dan pemecahan masalah. Muhammadiyah sebagai organisasi dakwah telah dan akan selalu bersinggungan dengan masalah-masalah sosial. Teologi Al-Maun yang sangat populer itu lahir dari problem sosial yang dicarikan pemecahannya dalam berbagai aksi-aksi nyata membela kaum dhuafa. Maka semua lembaga pendidikannya harus sudah membekali kemampuan ini sejak dini.

Kedua, Communication Skill atau kecakapan berkomunikasi. Tentu, untuk memperkuat dakwah Muhammadiyah, lembaga pendidikannya perlu melatih kecakapan ini secara terstruktur, berjenjang, dan berkelanjutan. Bibit dai dan mubaligh Muhammadiyah sudah harus disemai dari lembaga-lembaga pendidikan secara lebih serius.

Ketiga, Creativity And Innovation Skills atau daya kreatif dan inovatif. Poin ketiga ini bisa dipadukan dengan poin keempat yaitu Collaboration Skills. Poin ketiga dan keempat ini sangat diperlukan untuk mendukung poin pertama dan kedua. Dunia dakwah hari ini sangat memerlukan daya kreatif dan inovasi untuk menjawab dakwah era disrupsi hari ini. Dakwah konvensional memang masih akan bertahan bagi kalangan tua dan komunitas Muhammadiyah di pedesaan, tapi untuk segmen dakwah anak muda dan perkotaan yang banyak bersinggungan dengan teknologi informasi, Creativity And Innovation Skills tidak bisa ditawar lagi.

Lembaga-lembaga pendidikan Muhammadiyah seharusnya sudah menerapkan teknologi dalam setiap proses pembelajaran di kelas. Tentu dasar pertimbangannya adalah menciptakan iklim belajar yang kreatif, inovatif, dan kolaboratif. Dengan memanfaatkan teknologi, ketiga kemampuan ini sangat mudah dikembangkan dalam proses pembelajaran. Pembelajaran berbasis Canva misalnya. Teknologi ini bisa dimanfaatkan untuk membangun Communication Skill dengan cara yang sangat kreatif, inovatif, dan kolaboratif seperti membuat poster Fatwa Tarjih tentang keharaman rokok, pemanfaat air secara bijak, atau fikih kebencanaan.

Literasi Menulis

Turunan dari Communication Skill yaitu writing skill tampaknya masih belum mendapatkan perhatian serius di sekolah-sekolah Muhammadiyah. Writing skill belum banyak disentuh. Prestise keterampilan ini masih di bawah marching band, musik, panahan, menari, robotik, renang, dan lain-lain.

Writing skill atau bahkan Journalistik for Student masih belum banyak dilirik sekolah-sekolah Muhammadiyah sebagai ekstrakurikuler padahal ia sangat dekat dengan literasi yang menjadi denyut nadi kehidupan sekolah. Jadi, sebenarnya sesuatu yang paradoks bila sekolah tidak punya perhatian membekali skill ini kepada peserta didik.

Sekolah itu tidak akan pernah bisa lepas dari continuous promotion yang bisa dicover oleh writing skill yang baik. Maka, bisa dibayangkan apabila prestasi yang diraih ekstrakurikuler marching band, musik, panahan, menari, robotik, atau renang misalnya dikemas dalam bentuk media jurnalistik audio visual, infografis, dan berita. Writing skill sangat berperan di sini terutama untuk mengisi laman website sekolah sebagai pangkalan informasi digital era sekarang. Writing skill bisa menjadi alat bagi continuous promotion sekolah Muhammadiyah dari waktu ke waktu.

Muatan dari writing skill yang bisa bisa dikembangkan di sekolah-sekolah Muhammadiyah mencakup tiga kompetensi yaitu; inform, support an argument with claims, dan engage and entertain. Inform lebih mengarah pada bagaimana melatih peserta didik kemampuan menulis berita sebagai jurnalis. Support an argument with claims melatih peserta didik keterampilan menulis esai, artikel, opini, feature, buku, atau karya ilmiah. Sedangkan engage and entertain diarahkan untuk mengembangkan daya imajinasi dalam bentuk karya fiksi semisal novel, cerpen, puisi, atau pantun. Tampaknya, engage and entertain juga berpeluang diarahkan pada kemampuan menulis komersial seperti untuk kebutuhan iklan atau copywriting.

Rasa-rasanya jargon “Berkemajuan” masih belum kental nuansa berkemajuannya pada lembaga pendidikan apabila sekolah-sekolah Muhammadiyah abai pada writing skill. Menjadikan sekolah Muhammadiyah sebagai pusat keunggulan rasa-rasanya perlu memberi perhatian pada bidang ini sebagai upaya menjawab 21st Century Skill bagi sekolah Muhammadiyah abad 21. Jadi, writing skill itu ibarat melanjutkan spirit Nabi SAW mencetak generasi literat semisal Zaid bin Tsabit, sang sektretais pencatat wahyu pada era kenabian.

Kata Muhbib Abdul Wahab dalam tulisannya  “Advantages of the Muhammadiyah Education System”: “Muhammadiyah is committed to advancing the nation's civilization based on the literacy movement, namely the movement to educate, enlighten and advance the national community, so that it becomes a nation of faith, knowledge, charity and civilization.” Bahwa Muhammadiyah berkomitmen untuk memajukan peradaban bangsa berdasarkan gerakan literasi, yaitu gerakan untuk mendidik, mencerahkan, dan memajukan masyarakat nasional, sehingga menjadi bangsa yang beriman, berilmu, beramal, dan berperadaban.

Nir-Bullying

Satu hal yang perlu juga digarisbawahi dan diperhatikan adalah menghadirkan karakter rahmatan lil alamin di sekolah-sekolah Muhammadiyah. Sekolah-sekolah Muhammadiyah harus ramah, menjadi lembaga praktikum rahmatan lil alamin bagi peserta didik dan semua warga sekolah, dan bersih dari berbagai bentuk kekerasan.

Bullying di sekolah kerap menjadi sorotan. Perilaku agresif yang dilakukan secara berulang-ulang dengan tujuan menyakiti atau merendahkan orang lain yang dianggap lebih lemah tidak boleh terjadi di sekolah-sekolah Muhammadiyah. There is no reason for bullying in Muhammadiyah schools.

Bullying bisa terjadi dalam bentuk bullying fisik, verbal, sosial, rasial, seksual, berbasis gender, dan yang perlu juga diperhatikan pada era digital ini adalah cyberbullying. Pada batas-batas tertentu, bullying bisa sampai pada tarap membahayakan fisik dan mengancam keselamatan jiwa. Maka ia harus menjadi perhatian serius dunia sekolah.

Bullying verbal kadang kurang mendapat perhatian memadai dari guru atau pimpinan sekolah. Bullying jenis ini paling sering terjadi di dunia sekolah mana pun sebab kadang dianggap sebagai suatu hal yang biasa. Bila seorang anak mengadu selepas pulang dari sekolah dengan wajah masam, boleh jadi dia baru saja mengalami bullying atau perundungan jenis ini. Setelah diselisik, rupanya dia sudah tidak nyaman di sekolah sebab selalu dipanggil teman-teman sekelasnya dengan panggilan nama bapak atau ibunya. Ini sudah masuk kategori bullying verbal. 

Maka, di tengah tantangan dunia pendidikan yang semakin kompleks, sudah saatnya Muhammadiyah school culture disuburkan untuk menghadirkan sekolah Muhammadiyah sebagai pusat keunggulan pendidikan Islam dan Indonesia masa depan. Bila ada banyak sekolah Muhammadiyah belum sepenuhnya siap menghadirkan layanan pendidikan inklusi, minimal menjadi sekolah nir-bullying. 

Distingsi pendidikan Muhammadiyah perlu pula diperkuat dengan menghadirkan jawaban 21st Century Skill sebagai ciri sekolah berkemajuan.

Semoga.[]

Depok, 23 Oktober 2024.
Dari balik renungan kader biasa saja.

Senin, 21 Oktober 2024

Hadiah dan Keharuman Bunga

  

Ilustrasi bingkisan cantik. Foto Credit: https://mediaindonesia.com/


حين حذق ابنه حماد سورة الحمد وهب المعلم خمسمائة درهم –وفي رواية ألف درهم– فقال المعلم : ما صنعت حتى انفذ الي هذا واحضره واعتذر له. فقال أبو حنيفة: يا هذا تستحقر ما علمت ولدي, والله لو كان معنا أكثر من ذلك لدفعناه تعظيما للقرآن.


Kalimat di atas kutipan dari Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaidi pada karyanya berjudul “Imamat al-Imam al-A’zham Abu Hanifah Radhiyallahu anhu fi al-Suluk wa al-Aqidah wa al-Hadits wa al-Fiqh”, hal. 168. Karena kutipan dari aslinya “gundul”, maka dibiarkan “gundul” alias tanpa harakat. Mau saya kasih “rambut”, belum mantap sebab masih suka keder mana mubtada muakhor, khabar muqaddam, fi’il, fail, naibul fail, maf’ul, hal, sifat maushuf, mudhaf mudhaf ilaih, dan serangkaian rumit kaidah ilmu nahwu.

Soal terjemah, ini lebih sederhana. Dengan mengintip kamus, selesai masalah. Maka, kira-kira begini arti kutipan di atas itu:

“Ketika putranya, Hammad, telah mahir membaca Surah Al-Fatihah, Abu Hanifah memberikan kepada pengajarnya 500 dirham –dalam riwayat lain disebutkan 1000 dirham. Guru itu kemudian berkata: "Apa yang telah saya lakukan sampai dia mengirimkan ini kepada saya? Saya perlu menghadirkan dan meminta penjelasannya." Lalu, Abu Hanifah berkata: "Wahai Tuan, apakah Anda meremehkan apa yang telah Anda ajarkan kepada anak saya? Demi Allah, jika kami memiliki lebih dari itu, kami akan memberikannya lebih banyak sebagai bentuk penghormatan terhadap Al-Qur'an."

Apa ini tidak salah? hanya anaknya baru bisa baca dan hafal Al-Fatihah, Imam Hanafi memberi pengajar anaknya itu hadiah 500 dirham? Bagaimana bila hafal juz 30 apalagi 30 juz?

500 dirham berapa nilainya bila dirupiahkan? Banyak itu. Bila kurang percaya, coba dihitung pelan-pelan.

Khalil Ahmad Al-Siharanfuri dalam Badzl Al-Majhud fi Hall Abi Dawud yang dikutip Nurul Irfan dalam Fiqih Jinayah, Jakarta: AMZAH, 2019, hal. 192., menyebutkan bahwa pada masa Nabi SAW, harga mata uang dirham nilainya setara dengan 1/10 dinar. 1 dinar setara dengan 4,25 gram emas murni.

Jadi, bila dihitung-hitung, 2 dirham itu sama dengan 2 x 0,425 gram emas= 0,85 gram. Andaikata 1 gram emas hari ini harganya 100.000, berarti 0,85 x 100.000 = 85.000. Lha, kalo 500 dirham dikalikan 85.000, berapa duit itu? Monggo hitung sendiri.

Lebih mencengangkan lagi pemberian Al Qadhi Abdullah bin Ghanim seperti yang diceritakan Ibnu Raqiq berikut ini:

عبد الله بن غانم القاضي كان له ابن، فجاء من عند معلمه فسأله عن سورته وحفظه، فقرأ عليه أم القرآن فأحسن في قراءته، فدفع إليه عشرين دينارا… [مواقف وأحوال – هكذا كان السلف ينفقون على تعلم أولادهم القرآن]

"Al-Qadhi Abdullah bin Ghanim mempunyai seorang anak laki-laki. Ketika anaknya pulang dari rumah gurunya, ia menanyakan apa yang barusan dipelajari dan dihafalkan dari Al-Qur’an. Maka anaknya menjawab dengan membacakan surah Al-Fatihah dengan bacaan yang bagus. Karena gembiranya, sang Qadhi mengirimkan hadiah untuk guru anaknya tersebut 20 dinar." (Lihat, http://almahajjafes.net/مواقف-وأحوال-هكذا-كان-السلف-ينفقون-على/ . Juga dalam https://www.souhnoun.com/الأولياء-و-الصالحون-في-تونس/عبد-الله-بن-غانم-القاضي/


Pengalaman Imam Abu Hanifah dan Al-Qadhi Abdullah bin Ghanim di atas apakah bisa dijadikan sandaran bolehnya orangtua memberi hadiah kepada guru yang mengajarkan anaknya sesuatu? Demikian juga, apakah dapat dijadikan argumentasi guru diperkenankan menerima hadiah pemberian orang tua murid?[]

Sebuah institusi pendidikan mengeluarkan kebijakan melarang Pendidik dan Tenaga Kependidikan menerima atau meminta hadiah dari orang tua peserta didik itu sah-sah saja. Apabila larangan itu dimaksudkan untuk membangun iklim birokrasi pendidikan yang bersih, transparan, dan akuntabel, serta bermaksud untuk merawat integritas dalam proses pendidikan, rasa-rasanya kebijakan itu memang diperlukan.

Marwah pendidikan itu ada di tangan guru, orang tua dan masyarakat, dan institusi pendidikan. Maka, tanggung jawab membangun iklim birokrasi pendidikan yang bersih, transparan, dan akuntabel ada di tangan ketiganya secara kolektif. Artinya, kesadaran bersama untuk membangun kultur pendidikan yang baik melalui kebijakan tertulis atau peraturan tidak bisa berjalan secara parsial.

Harus jujur diaku, tidak semua peraturan bisa langsung dipahami substansinya, apalagi diterima. Terlebih apabila peraturan tersebut menyangkut pembatasan atau bahkan pembatalan urusan yang menyenangkan seperti hadiah. Hadiah itu sering dimaknai sebagai rezeki “min haitsu la yahtasib”, atau “rezeki nomplok”.

Hadiah saat pembagian raport misalnya, atau saat kenaikan kelas dalam institusi sekolah itu termasuk rezeki “min haitsu la yahtasib” meskipun sudah bisa diprediksi. Sebenarnya secara psikologis, ini berdampak kepada jiwa selain guru wali kelas. Setuju atau tidak, begitulah adanya. Hanya saja, Pendidik itu etiketnya sering berjalan di depan mendahului ego. Maka, betapapun kontras ada di hadapannya ia bisa ditelan dalam diam.

Hadiah itu ibarat gula-gula, manis dan sedap rasanya. Menerima hadiah seperti mengemut gula. Karena itu, hampir tidak ada orang yang tidak suka apabila mendapat hadiah. Apalagi hukum asal hadiah dan saling memberi hadiah itu boleh. Dalam sebuah riwayat, saling memberi hadiah itu bisa memupuk sikap saling mengasihi.

Akan tetapi, meskipun hukum asal hadiah itu boleh, namun bila ia terkoneksi dengan jabatan, tugas pokok, dan institusi, boleh jadi itu tidak murni hadiah. Apalagi bila hadiah itu dikhawatirkan mengganggu pola interaksi yang bersih, prinsip transparansi, akuntabilitas, integritas lembaga, jabatan dan tugas pokok, reasoning pelarangan menerima atau meminta hadiah sebagai ucapan terima kasih bisa diterima.

Dahulu, Nabi SAW pernah menegur Ibn al-Lutbiyyah karena hadiah yang dia terima. Ibn al-Lutbiyyah ini pejabat yang mendapat tugas mengumpulkan zakat di Banu Sulaim. Ibnu al-Lutbiyyah datang kepada Nabi SAW melaporkan soal pendapatan pajak dan hadiah yang dia terima. Rupanya Nabi SAW tidak berkenan soal hadiah itu. "Kenapa Anda dulu tidak memilih untuk tetap tinggal di rumah ayah dan ibumu saja (tidak menjadi pejabat), lalu menunggu apakah Anda diberi hadiah atau tidak?" tegur Nabi SAW.

Lalu, di mana harus ditempatkan hadiah yang diterima Pendidik atau Tenaga Kependidikan dalam sebuah institusi? Rasanya, kasus Ibn al-Lutbiyyah lebih matching dipasangkan dari pada kaidah umum: “Saling memberi hadiahlah, niscaya kalian akan saling mencintai”.

Maka, boleh jadi keluhuran akhlak Imam Abu Hanifah dan Al-Qadhi bin Ghanim yang memberi hadiah kepada guru anaknya itu diberikan kepada guru privat, bukan guru yang sudah mendapatkan gaji resmi dari institusi seperti tempat guru itu mengajar. Tentu, hadiah seperti ini tidak terlalu perlu mempertimbangkan prinsip transparansi, akuntabilitas, dan integritas sebab bersifat sangat personal.[]

Peraturan yang bersifat larangan, tentu punya konsekuensi-konsekuensi. Bila larangan itu tidak dipatuhi atau dilanggar, biasanya ada sanksi yang diterapkan semisal sanksi administratif. Maka, siapa pun yang menerima atau memberi hadiah sama-sama kena sanksi. Bila tidak ada sanksi, maka larangan itu menjadi kurang bermakna untuk apa dia dihadirkan.

Kemudian, bila tujuannya adalah ingin membangun iklim birokrasi pendidikan yang bersih, transparan, dan akuntabel, serta merawat integritas dalam proses pendidikan, maka hal itu mencakup semua aktivitas. Artinya, pelarangan ini tidak hanya menyasar pada persoalan menerima atau memberi hadiah kepada wali kelas atau guru saja. Ini tidak komprehensif dan terlalu parsial.

Maka, uang “kerahiman” dari guru penerima sertifikasi atau dana hibah yang dihimpun koordinator ini bisa ditinjau kembali atau didiskusikan kembali. Demikian juga uang “kerahiman” yang dihimpun pada momen-momen tertentu seperti menjelang lebaran yang dipersembahkan kepada teman-teman yang menjadi garda terdepan sektor kebersihan sekolah sebagai tanda terima kasih.

Selama ini, pondasi bangunan alasan pemberian uang “kerahiman” itu adalah kompensasi atas tenaga membantu urusan administrasi guru atau wali kelas. Membantu dimintai tolong urusan fotocopy, jilid, bantu-bantu angkat raport wali kelas dari ruang guru ke ruang kelas, atau hal yang berhubungan baik langsung maupun tidak langsung dengan pembelajaran.

Dengan diberlakukannya edaran larangan menerima hadiah atau tanda terima kasih, maka alasan-alasan di atas tidak bisa digunakan lagi sebagai dalil kebolehan menerima hadiah atau memberi hadiah. Lain hal bila ada kebijakan tertulis yang mengatur secara legal formal yang legalitasnya setara dengan aturan soal larangan menerima hadiah.

Buntut dari pelarangan dimaksud, suka atau tidak suka akan menyentuh soal uang “kerahiman” itu. Pertama, sama seperti Pendidik, Tenaga Kependidikan sudah mendapat gaji, tunjangan, gaji ke-13, asuransi, dan THR sesuai aturan kepegawaian dari institusi. Maka, pendapatan di luar pos-pos itu bisa dikategorikan sebagai hadiah.

Kedua, tugas dan fungsi Tenaga Kependidikan fokus pada penyediaan layanan administrasi Pendidik dalam urusan administrasi kepegawaian untuk menunjang proses pembelajaran. Jadi, Tupoksi mereka memang di sana tempatnya. Sementara Tupoksi guru merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran di kelas. Memang, Tupoksi Tenaga Kependidikan dan Pendidik saling terkoneksi, namun tidak sampai pada substitusi Tupoksi.

Ketiga, Tenaga Kependidikan serta elemen penunjang tugas dan fungsi setiap bagian sama kedudukannya, sama pula dalam perlakukan kompensasi atau penghasilan yang didapat selama bekerja sesuai aturan kepegawaiannya. Karena itu, alasan “kerahiman” tidak sepenuhnya bisa diterapkan dalam tata kelola kepegawaian.

Maka, yang menjadi pertanyaan berikutnya, apakah uang “kerahiman” itu termasuk hadiah atau bukan. Bila termasuk hadiah, maka sudah sepatutnya berlaku kebijakan larangan itu. Bila bukan, dimasukkan dalam kategori apa pemberian itu.[]

Iklim birokrasi pendidikan yang sehat tidak hanya berhenti pada soal larangan menerima dan memberi hadiah. Semua aktivitas yang melibatkan keuangan institusi pun harus dijamin kebersihan, transparansi, dan akuntabilitasnya. Misalnya kepanitiaan dalam sebuah event. Pintu masuk cukup lebar ada di sini untuk bisa diuji transparansi dan akuntabilitasnya.

Soal kepanitiaan dalam sebuah event, prinsip transparansi tampak kasat mata. Siapa dan jadi apa mudah sekali dibaca setelah SK atau Surat Tugas diterima. Apabila tidak ada indikasi ada person yang dipasang “selalu ada di mana-mana” dan person yang dikunci untuk “tidak ada di mana-mana”, ini sudah memenuhi prinsip keterbukaan dan keadilan. Maka, matrik atau grafik siapa yang terlalu sering dan terlalu kering dari akumulasi event dalam satu atau dua semester berjalan bisa dibuat dalam waktu sekali duduk.

Akan tetapi, menyangkut aspek keuangan, setiap event agak tertutup. Yang dimaksud aspek keuangan dalam konteks ini adalah peluang untuk menilai pembiayaan dan sumber keuangan secara keseluruhan sebuah event. Tidak semua persona panitia punya akses yang sama. Namun demikian, bila pengelolaan keuangan dijalankan dengan sistem atau aturan yang baku di mana setiap satu rupiah dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya, maka itu transparan dan akuntabel.

Hanya saja, prinsip transparan dan akuntabel tidak berhenti di situ. Apakah distribusi keuangan kepanitiaan telah memenuhi prinsip keadilan atau belum. Memang perlu dada yang longgar menyoal isu ini selapang membaca tulisan ummi.leni.rahayu dalam akun Instagram-nya soal hadiah yang sudah di-like oleh 67. 240 orang itu.

Ambil contoh suatu event yang dilaksanakan di luar kota, memerlukan durasi dua sampai empat hari, dan harus meninggalkan keluarga serta kegiatan rutinnya di masyarakat. Bila kebijakan besar kecil distribusi honorarium panitia tidak cermat diperhatikan, misalnya selisih honorarium panitia yang umumnya wali kelas terlalu jauh nominalnya dengan honor guru yang posisinya hanya pendamping, ini bisa mengundang banyak spekulasi. Prinsip keadilan pun dipertanyakan.

Dasar argumennya sederhana. Pertama, semua event dalam konteks kegiatan itu dibiayai oleh peserta didik melalui uang kegiatan. Wali peserta didik membayar uang kegiatan itu dan tidak ada korelasinya dengan jabatan wali kelas, jabatan kepala , dan panitia pelaksana. Artinya, siapa pun yang dilibatkan dalam kepanitiaan satu event, dia berhak mendapat honorarium yang sama berkeadilan. Sebab, hakikatnya yang membayar honor panitia dan semua kegiatan itu itu uang peserta didik. Sekolah dan panitia hanya diberi mandat terbatas untuk mengelola keuangan itu.

Kedua, perbedaan besar kecilnya honorarium itu perkara wajar, asalkan bukan dikaitkan dengan jabatan wali kelas atau kepala . Mengapa? Karena kompensasi jabatan wali kelas atau kepala itu sudah ada mekanismenya sendiri, yaitu: tunjangan jabatan yang setiap bulan mereka nikmati, bukan pada gelaran event. Ada atau tidak ada event, mereka tetap menerima tunjangan setiap bulan sampai nanti jabatan itu selesai periodisasinya. Jadi, besar kecilnya honorarium rasanya lebih memenuhi rasa keadilan apabila didasarkan pada struktur kepanitiaan pada event tertentu.

Lagi pula, dalam setiap event, wali kelas akan selalu jadi panitia bergantung tingkat event tiap kelas di mana ia menjabat. Kepala sekolah bahkan selalu masuk dalam kepanitiaan hampir di seluruh tingkat. Pada event yang bersifat umum yang berlaku di semua tingkat atau pada event lintas unit atau yayasan, juga selalu ada di sana. Begitulah, privilege guru dengan tugas tambahan seperti di atas memang tidak sama dengan guru tanpa tugas tambahan apa pun. Di manapun, di setiap institusi pendidikan sekolah selalu begitu meskipun dengan kebijakan khas masing-masing.

Ketiga, selain perbedaan besaran honor karena posisi kepanitiaan, volume beban kerja juga harus menjadi dasar pertimbangan selisih honorarium. Untuk memenuhi prinsip keadilan tetes keringat, selisih ini sah. Adalah adil bila ada persona panitia yang beban tugasnya memikul 20,5 kg sound system lebih berhak menikmati selisih honor lebih besar volumenya dari yang hanya memangku bakul nasi yang seberat 2,5 kg. Jangan dibalik. Bila dibalik zalim namanya.

Setiap persona panitia juga harus fair. Bila dalam distribusi tugas kepanitiaan ada panitia yang dapat tugas memanggul 20,5 kg beban dan ada panitia dapat tugas memangku 2,5 kg beban, itu “takdir” buatan manusia. Semuanya harus legowo. Takdir pun selalu berjodoh mengikuti potensi sunnatullah, bahwa “Tuhan tidak akan memberi beban di luar batas kesanggupan manusia”. Boleh jadi yang diberi beban lebih berat karena badannya tinggi kekar dan kuat. Sementara yang bebannya ringan karena tubuhnya cungkring dan suka sesak napas.

Keempat, bila dalam event itu panitia mendapatkan fee dari pihak ketiga seperti hotel, tempat wisata, armada bus, atau restoran maka ia harus didistribusi kepada semua panitia. Boleh jadi besarannya bervariasi mengikuti pola posisi kepanitiaan dan panitia yang menangani pos-pos tersebut. Maka, di sini leadership itu diuji. Jangan cawe-cawe. Apabila dasar pertimbangan pengelolaan fee ini bertumpu jabatan struktural atau siapa punya koneksi dengan siapa, maka kecenderungannya komersialisasi. Bila sudah komersialisasi, maka yang terjadi “saya dan apa dan dapat berapa”. Ini tidak elok dipasangkan dengan semangat kolaboratif dan kebersamaan.

Event-event kepanitiaan seperti ini sebenarnya lebih krusial diperhatikan bila tujuannya untuk menciptakan iklim birokrasi pendidikan yang bersih, transparan, dan akuntabel daripada sekadar persoalan hadiah kepada Pendidik. Event-event kepanitiaan lebih krusial karena agak senyap, tapi potensi transparansi dan akuntabilitasnya dalam pengelolaan keuangan tidak sebening kaca.[]

Sebagai guru yang pernah mengajar di sekolah sangat bersahaja, kebersamaan dalam arti yang sebenarnya kami nikmati setiap hari. Pada jam istirahat misalnya, sekolah hanya sanggup menyajikan bakwan jagung dan tahu goreng plus cabe rawit. Jumlahnya tidak kurang tidak lebih. Setiap guru hanya bisa menikmati satu keping bakwan dan satu kepal tahu. Cabe rawit boleh nambah sesuka yang dimau. Itulah kompensasi untuk “uang makan” kami, tidak seperti yang biasa dinikmati para guru yang mengajar di sekolah-sekolah berkelas.

Tidak ada privilege yang mencolok. Guru biasa, wali kelas, dan kepala sekolah sama-sama menjalankan fungsi pengajaran dan pendidikan. Tidak ada tunjangan jabatan, tidak ada THR, tidak ada asuransi, tidak pula gaji ke-3, tidak ada field trip. Semua fasilitas mahal itu seperti “makhluk asing” dalam dunia idealisme mengajar yang tulus. Kami tidak mengenalnya sama sekali.

Tiap kali asesmen suamtif berakhir –waktu itu istilahnya THB, Tes Hasil Belajar– kami dikumpulkan di ruang pengawas. Semua guru jadi panitia waktu itu. Ketuanya kepala sekolah, wakilnya bendahara sekolah dibantu seorang TU. Bendahara menyampaikan kabar bahwa ada sisa uang operasional THB. Kepala sekolah menyampaikan agar sisa uang dibagi rata saja.

Lalu, bendahara berkeliling mendistribusikan uang itu di atas meja kami lembar demi lembar sampai lembaran uang di tangannya habis. Bila sisa uang tidak cukup untuk didistribusi setiap meja untuk putaran berikutnya, maka uang itu disepakati diberikan kepada kepala sekolah dan bendahara. Bila rata-rata kami menerima 60 sampai 70 ribu rupiah, kami tahu, kepala sekolah dan bendahara masing-masing dapat 90 dan 85 ribu saja.

Betapa sederhananya prinsip keadilan diterjemahkan dengan cara demikian itu. Tapi, kami semua bahagia. Uang 60 sampai 70 ribu saat itu rasanya besar sekali di banding honor kami yang bervariasi dari angka 15 ribu dan yang tertinggi 50 ribu per bulan. Namun, jangan terlalu takjub, itu berlaku pada 1994, tiga puluh tahun yang lalu, saat kita para guru belum mengenal transaksi dengan GoPay.

Rasanya kami para guru amat beruntung. Satu sama lain saling menaruh hormat, terutama kepada guru-guru yang lebih dahulu mengabdi. Tidak pernah ada “api dalam sekam”, di luar tampak adem, di dalam yang membakar cemburu. Hampir tidak ada pemantik yang menciptakan api di sana.

Iklim sekolah yang bersih, transparan, akuntabel, dan integritas para pendidik begitu menonjol. Cara menyuburkannya pun dengan pupuk sederhana yaitu kebersahajaan dan dari kesyukuran sekeping bakwan jagung dan cabe rawit, bukan dengan bungkus-bungkus artifisial bermotif batik.[]

Setiap guru punya peran mengantarkan peserta didik menyelesaikan proses belajarnya di sekolah. Bila diibaratkan buah, pada tingkat bawah peserta didik yang datang masih hijau beranjak menguning. Di tengah, kuning itu meredup menjadi kemerahan. Nanti di atas, merahnya sempurna. Tandanya dia sudah matang.

Sampailah masa wisudah digelar, toga akan disematkan di kepala mereka dengan senyum semringah, itu hasil sentuhan tangan para guru dari semua tingkat yang dilalui mereka. Namun, siapa pendidik yang paling berjasa mengantarkan toga itu?

Secara simbolik, yang paling berjasa adalah mereka yang menerima sekuntum bunga, mereka yang hari itu menghirup keharuman bunga di antara riuh gemuruh tepuk tangan wisudawan dan tamu undangan.

Banyaklah yang tepekur. Menitik air matanya menyaksikan haru membuncah. Ada yang segera beranjak pulang. Dia tak sabar ingin segera menghirup keharuman bunga. Keharuman bunga itu rupanya tidak jauh dari pelataran rumah. Ia menyeruak dari rambut anak-anaknya yang belum keramas dari habis bermain layang-layang di tegalan. Harumnya memang tidak semewah aroma setangkai mawar yang didapat di forum wisuda, tapi bau rambut anak-anak biologisnya itu autentik. Keharumannya bukan artifisial dari simbol setangkai mawar.[]

Iklim birokrasi pendidikan yang bersih, transparan, dan akuntabel serta berintegritas memang selalu dirindukan para perindu.

Ciputat, 21 Oktober 2024.
Ruang Guru