A homepage subtitle here And an awesome description here!

Senin, 14 Oktober 2024

Balada Kh*ng Gu*an Isi Rengginang

Khong Guan Rasa Rengginang. Ilustrasi dari https://www.merahputih.com/


PAK Mu’ti yang Sekum PP Muhammadiyah itu orangnya jenaka. Kadang kejenakaannya memaksa orang nyengir tapi sambil mikir serius. Seperti twitnya soal masjid dan rengginang misalnya. Saking dipikirin, boleh jadi malah bikin beberapa gelintir otak pengurus DKM Muhammadiyah “anget”.

“Masjid Muhammadiyah harus dikelola dengan baik agar tidak seperti kaleng Kh*ng Gu*an. Luarnya biskuit, dalamnya rengginang. Namanya Masjid Muhammadiyah, amaliah ibadah dan kegiatan bertentangan dengan Muhammadiyah.”https://x.com/abe_mukti

Meskipun bahasanya agak menggelikan karena jenaka, tapi cukup bikin malu. Geli, sebab mengundang tawa kecil seperti anak kecil tengah merasakan ketiaknya yang sedang digelitiki. Juga malu, sebab tidak jarang ada pengurus masjid Muhammadiyah mengabaikan masjidnya sendiri. Apa tidak malu pada kaleng Kh*ng Gu*an dan rengginang?

Sindiran Pak Mu’ti ini perlu diperhatikan, loh. Terlepas beliau serius atau sedang guyon. Tapi, rasa-rasanya beliau serius meski dibungkus guyonan serenyah rengginang. Maka, boleh jadi sebenarnya ini warning orang penting di PP Muhammadiyah yang juga Guru Besar di UIN Jakarta.

Masjidnya masjid Muhammadiyah, tapi, bila amaliah ibadah dan kegiatannya bertentangan dengan Muhammadiyah, ini insiden tidak berdarah. Pertanyaannya, kemana pengurus Muhammadiyahnya? Kemana saja Pengurus DKM-nya? Kemana saja jamaah Muhammadiyahnya? Apa mereka sudah jadi “rengginang” semua? Bila memang sudah jadi “rengginang” semua, maka tutup bukulah itu masjid Muhammadiyah.[]

MASJID meskipun dibangun oleh Muhammadiyah, itu milik umat. Maka, tidak boleh dia dibatasi untuk Muhammadiyah saja. Begitu kata sebagian kelompok. Betul, betul sekali. Tidak ada masjid Muhammadiyah ditutup untuk umat selain anggota Persyarikatan. Welcome. Ahlan wa sahlan. Bienvenue. Wilujeng sumping. Silakan ikut shalat, tidak perlu izin. Namun, bila dengan alasan masjid itu milik umat lalu berdiri mengambil “posisi imam” pada shalat-shalat maktubah, itu soal lain.

Silakan ikut kajian di masjid Muhammadiyah bila berminat karena ia milik umat. Warga Persyarikatan tidak akan menghalangi, boleh jadi itu akan jadi wasilah bagi siapa saja yang ingin memahami jam'iyyah yang sudah berusia 122 tahun ini. Tapi, bila datang untuk “merebut” mikrofon, itu soal lain.

It’s very clear![]

SETIAP orang tentu punya ciri khas dan akan mempertahankan ciri khasnya itu. Alasannya sangat sederhana, bahwa setiap pribadi ingin jadi dirinya sendiri, ingin menjadi pribadi yang autentik. Saya percaya, bila ada orang –teman akrab sekalipun– yang berusaha mengubah autentikasi dirinya supaya menjadi orang lain dia akan mikir berkali-kali. Gak mau lah tentunya. Biskuit dan rengginang saja punya ciri khas sendiri-sendiri bukan? Jadi, rengginang tetaplah rengginang meskipun rumahnya Kh*ng Gu*an.

Bila persona saja ingin punya ciri autentik, apalagi jam'iyyah seperti Muhammadiyah, tentu juga punya ciri khas dan akan dipertahankan ciri khasnya itu oleh anggotanya. Salah satu ciri, karakter, dan identitas Muhammadiyah tentu melekat pada AUM-AUM-nya, termasuk masjid. Maka, masjid Muhammadiyah pasti akan diwarnai dengan amaliyah Islam sebagaimana yang dipahami dan diamalkan warga Muhammadiyah.

Orang boleh tidak setuju dengan cita-cita, karakter, amaliyah, dan misi dakwah pembaruan Muhammadiyah sebab berbeda dengan manhaj yang dianutnya. Itu sah dan dilindungi undang-undang. Akan tetapi bila sudah offside –menuduh Muhammadiyah sebagai dakwah hizbi, sama dengan Syi’ah, melahirkan bid’ah versi modern, dan memprovokasi orang untuk berIslam tanpa Ormas– ini sudah lain cerita. Ini namanya degig.

Degig masih boleh asalkan sopan. Degig yang sopan itu seperti mengkritik Muhammadiyah, tapi tetap shalat di masjid Muhammadiyah dan tidak bikin ulah. Namun, kalau sudah mulai berani menonjolkan manhaj di rumah orang lain, apalagi meminta atau memasang circle-nya naik mimbar memegang mikrofon baik sebagai khatib dan pengisi kajian dengan pemahaman yang tidak sejalan dengan garis Persyarikatan, ini bukan degig lagi. Ini over degig.

Sudahi saja kedegigan itu. Bagaimana caranya? Simpel saja. Yakini dan pegang teguh manhaj sendiri, tapi, jangan usik manhaj Muhammadiyah. Apalagi melakukan infiltrasi ke dalam tubuh Persyarikatan. Bila tidak ingin orang bereaksi, bangun amal usaha sendiri dan silakan berekspresi sebebas-bebasnya di sana.

Kalau begitu, Muhammadiyah anti kritik, dong? Bukan, ini bukan soal anti kritik, ini soal menjaga identitas. Apa ada orang yang berpegang pada pendapat bahwa musik itu haram, lalu ada tamu berkunjung membawa gitar ke rumahnya. Lalu, tamu itu seenaknya nyanyi-nyanyi genjrang-genjreng di dalam rumahnya? Itu tamu tidak punya adab. Si tuan rumah pasti marah, bila perlu diusir itu tamu jauh-jauh.[]

OBAT agar masjid Muhammadiyah tidak jadi seperti kaleng Kh*ng Gu*an seperti guyon Pak Mu’ti juga bukan perkara teramat berat seperti beratnya memanggul gunung. Pertama, warga Persyarikatan rajinlah memakmurkan masjid dengan shalat berjamaah bila tidak ada uzur syar’i. Terutama Pengurus DKM yang diberi amanah.

Jabatan yang dipegang sebagai Pengurus DKM bukan sekadar nama yang tertera pada kertas SK yang dibubuhi tanda tangan dan dicap stempel Persyarikatan. Ia akan diminta tanggung jawabnya di hadapan Allah kelak, terutama tanggung jawab memakmurkannya dengan menghadiri shalat jamaah. Bila pengurus DKM emoh shalat jamaah, lalu siapa yang akan memakmurkan? Rengginang? Ingat, rengginang tidak kena kewajiban memakmurkan masjid, tidak juga wajib mendirikan shalat.

Kedua, warga Muhammadiyah dan Pengurus DKM rajinlah mengikuti kajian yang diselenggarakan di masjid-masjid Muhammadiyah. Bila kajian di masjid Muhammadiyah sepi karena warga Persyarikatan tidak peduli, lalu siapa yang mengikuti? Orang lain mungkin saja hadir, tapi setelah shalat mereka pulang atau melanjutkan perjalanan karena sekadar mampir.

Tentu, tidak pula dinafikan adanya upaya infiltrasi itu. Upaya itu memang riil di beberapa AUM Muhammadiyah. Dan, ini bukan rahasia lagi. Apalagi bila sudah ada indikasi pengurus DKM malah pergi mengikuti kajian di tempat lain sementara di masjid tempat dia harus berkhidmat sedang ada pengajian Ranting. Apa mau diam saja?

Jadi, wajar bila ada masjid-masjid Muhammadiyah diibaratkan seperti kaleng Kh*ng Gu*an tapi isinya rengginang. Ini bukan sepenuhnya salah orang lain, ini salah warga Persyarikatan dan Pengurus DKM-nya yang tidak open pada masjidnya sendiri, pada pengajiannya sendiri.

Ketiga, segera laksanakan instruksi PP Muhammadiyah agar semua wakaf AUM termasuk masjid diubah sertifikatnya atas nama Muhammadiyah. Masjid-masjid Muhammadiyah yang masih berstatus di bawah kekuasaan wakaf nadzir segera di-update legalitasnya. Upaya ini penting untuk menutup celah pihak-pihak yang berusaha mengkudeta masjid sebab akan berhadapan dengan Muhammadiyah yang secara hukum sangat kuat dibanding kedudukan nadzir.

PRM bisa bekerja sama dengan Majelis Wakaf sebagai majelis yang berwenang mengurus masalah ini. Bila ada nadzir yang belum paham masalah ini, beri dia paham bahwa upaya ini untuk kemaslahatan yang lebih besar. Bila nadzir tetap keukeuh dan menjadi batu sandungan, berdoa saja, semoga segera mendapat hidayah.

Jadi, begitulah soal twit Pak Mu'ti. Ia ibarat Balada Rengginang di Kaleng Kh*ng Gu*an. Konon, hari ini ada berita Pak Mu'ti dipanggil untuk diberi amanah mengurus Kemendikdasmen. Pak Mu'ti jadi menteri. Entahlah, semoga bukan prank. Bila benar jadi menteri, apakah Pak Mu'ti tetap jenaka dan suka rengginang? 

Kita tunggu.

Ciputat, 14 Oktober 2024.
Dari Balik Catatan Kader.





Rabu, 09 Oktober 2024

Enjoy In The Second Life

Aku dan sahabat sedang meresapi qoute-nya Helen Keller: "Walking with a friend in the dark is better than walking alone in the light" di Kota Bambu Selatan, Slipi, Senin 07 Oktober 2024.

Hari yang ajaib. Tubuhmu “dimatikan sementara”. Kehidupanmu dikuasai fungsinya oleh alat-alat medik. Pisau bedah merobek. Jarum dan benang menjahit. Alat-alat warisan Abul Qasim az-Zahrawi 1.011 tahun yang lalu itu menjalankan fungsinya di meja bedah.

Dokter bekerja cermat. Semua dihitung dengan akurasi amat presisi. Sebab taruhannya hidup atau mati. Aku tidak bisa menebak ada di mana titik pasrahmu saat itu bersemayam. Mungkin sudah pada maqam syatahat-nya para sufi, di mana hidup dan mati sama-sama tiada beda, sebab keduanya mengantarmu pada gerbang kebahagiaan yang dicari-cari pemburu rida Tuhan. Begitulah kamu kemarin, saat ikhtiar perobatan berhenti di ruang operasi.

Hari yang sungguh-sungguh ajaib. Saat dokter berjuang mengatasi kebocoran jantung yang kamu derita, jantung dan paru-paru sintetis mengambil alih fungsinya. Alat-alat itu bekerja persis seperti kerja jantung memompa darah dan paru-paru memompa oksigen. Tuhan tahu, dokter-dokter itu bukan sedang menyaingi Diri-Nya dengan jantung dan paru-paru buatan yang dipasang di luar tubuhmu. Tuhan tahu, dokter-dokter itu hanya sedang menyempurnakan ikhtiar hambanya yang sabar. Tuhan tidak pula cemburu sebab mahakarya-Nya diambil alih.

Manusia wajib mencari kesembuhan dari setiap penyakit. Sedangkan Tuhan, tiadalah Dia menciptakan penyakit melainkan Dia menyandingkannya dengan obat peyembuh. Bila obat penyembuh itu adalah operasi, maka Tuhan mengizinkan. Aku percaya, kamu telah mengatasi semua tekanan dari bayang-bayang operasi teramat berat dan menakutkan. Bukan lagi soal rasa sakitnya, melainkan risiko paling fatal bila operasi mengalami kegagalan.

Mataku mengembun mendengar ceritamu. Segera kualihkan wajah, menyamping sambil menatap gerbang pintu yang terbuka. Angin semilir masuk dari celah itu. Ke sana lah wajahku kuhadapkan agar embusannya segera menyapu embun di mataku agar segera kering. Aku malu bila titik air mata itu memberitahumu dan menyangka bahwa aku sedih, sementara kamu begitu pasrah saat bercerita.

Tapi jangan salah paham, itu bukan air mata sedih sahabat, bukan. Itu air mata campuran partikel-partikel haru biru, bahagia merah merona, bersyukur seputih kapas, takjub yang menjingga, dan entah apalagi warna perasaan yang menggumpal mendapati keadaanmu sekarang. Kau tahu, bila air mataku itu disiram cahaya matahari pagi di pematang bawang di kampungmu yang hangat, kau akan melihat kilau seperti kristal menari-nari di wajahku.

Sebelumnya, ada bagian dari ceritamu yang membuat aku berpikir, pantas saja banyak orang menjadi kufur sebab alat-alat canggih hari ini bisa mengambil alih fungsi hidup sehingga mereka mengingkari adanya Tuhan. Orang-orang itu menihilkan kuasa di atas segala kuasa karena meyakini kehidupan itu berjalan alami tanpa campur tangan siapa pun termasuk Tuhan. Bahkan Friedrich Nietzsche menyebut “Gott ist tot” atau “Tuhan telah mati”. Si filsuf Jerman ini terlalu durhaka. Bila durhaka Fir’aun baru sampai merampas posisi Tuhan dengan mengaku sebagai “ana rabbakum al-a'la”, Nietzsche bahkan berani terang-terangan “membunuh tuhan”.

Namun bagi kita, Allah adalah Tuhan Yang Maha Hidup. Dia pula yang pantas menyandang sebagai Yang Maha Menyembuhkan. Karena Allah lah kita menyimpan harapan yang tidak pernah kering untuk sebuah kesembuhan. Maka saat kesembuhan itu menghampiri, lupalah kita pada kesombongan manusiawi sambil berujar, “wa idzaa maridhtu fahuwa yasyfiin”. Namun, masih pula kita menyisakan terima kasih pada manusia yang membantu ikhtiar kesembuhan itu.

“Selamat, Pak. Operasi jantung Bapak sukses.” Itulah kalimat pertama yang kamu dengar dari petugas medik di saat pandangan matamu masih kabur karena efek anestesi operasi besar. Saya percaya, andaikan kamu bisa menangis saat itu, pastilah pecah tangis bahagiamu memenuhi langit-langit bangsal perawatan. Aku saja yang mendengarnya, menghangat mataku beberapa detik.

Itulah hari di mana kehidupan kedua diberikan Allah padamu. Ya, Tuhan kita ini Maha Sayang, sayang sekali. Kamu sudah “mati” berjam-jam. Namun, Allah mengembalikan ruhmu untuk melanjutkan hidup. Buhul-buhul yang mengikat tubuhmu hingga terbaring kaku di meja operasi lepas satu persatu.

Sahabat, nikmatilah kehidupan keduamu. Kamu yang rendah hati di hadapanku berkata, “Kalau bukan juga karena doa-doa teman-teman semua, aku tidak tahu bagaimana bisa melewati semua ini. Terima kasih.” Dan hatiku meleleh. Lalu, saat bekas sayatan di dadamu itu kau perlihatkan padaku, aku memejam. Aku tidak sanggup dan tidak ingin berlama-lama melihat. Entah, aku tidak bisa menafsirkan perasaanmu saat kali pertama mendapati sayatan itu. Hatiku berubah sesenggukan.

Siang ini, hatiku meleleh lagi mendapati pukul 14.05 kau kirim gambar sudah di Cirebon. Sebentar lagi sampai di muka pintu rumah. Berbahagialah, ada ibu yang sudah menanti di sana. Enjoy your second life.

Ciputat, 09 Oktober 2024.
Dari Balik Manisnya Persahabatan.

Selasa, 08 Oktober 2024

Jurusan Dunia Akhirat




Simran dan Raj dalam Dilwale Dulhaniya Le Jayenge. Foto milik https://bollywood.id/


BOLEH jadi ini sebuah kelemahan. Bila sudah fokus pada tuts alfabetik, maka ke sana lah semua perhatian tertuju. Kadang segala panggilan menguap seperti asap seduhan kopi. Jangan pula ditanya pesan WhatsApp. Paling sekadar di toleh sebentar, dibalas sekadarnya, setelah itu forgeted. Ini tidak baik sebenarnya.

Kehilangan dua handphone dalam semalam dengan nomor kontak belum sempat dipindahkan ke Google Drive itu bikin nyesek. Bukan saja kehilangan gawainya, tapi juga jeroannya yang penting-penting termasuk nomor kontak darurat yang sewaktu-waktu sangat dibutuhkan.

Maka belakangan, banyak pesan Whatsapp tidak muncul nama kontak pengirim. Tapi karena sedang mengejar deadline, pesan yang masuk dibaca sejenak, dijawab alhamdulillah dan terima kasih. Seperti pesan undangan walimah seminggu yang lalu, namun abai memeriksa siapa pengirimnya dan kapan resepsi itu akan digelar.|

Malam Minggu kemarin saya izin keluar rumah. Bukan untuk nongkrong di kedai kopi. Rasanya, hangout bukan masanya lagi buat saya, seperti anak-anak muda yang jenuh lalu membunuh waktu sambil menyesap cairan hitam Coffea Arabica. Di samping soal usia yang sudah tidak lagi muda, “umur” di dompet juga tinggal beberapa tarikan napas saja.

Keluar malam Minggu kemarin itu untuk urusan literasi. Saya perlu menemui narasumber, sumber primer. Orang ini kunci pembuka jendela informasi bahan penulisan biografi seorang tokoh agama yang sedang saya persiapkan. Dari informasi awal, narasumber memegang banyak dokumen penting yang melibatkan tokoh yang akan saya angkat. Jadi, itu acara malam Mingguan saya kemarin.|

SELESAI jamaah Isya, perasaan begitu saja berbisik soal WhatsApp. Rasanya pernah ada pesan undangan digital resepsi kira-kira seminggu sebelumnya. Akan tetapi, detail waktu, tempat, dan resepsi siapa belum sempat dibaca. Ah, nanti saja dibuka saat sudah sampai di rumah narasumber.

Rupanya, malam itu tak berjodoh dengan narasumber. Di samping mencari-cari di mana letak persis rumahnya, tidak juga bertemu orang yang bisa ditanyai. Ya sudahlah, pulang saja untuk persiapan acara Subuh esok. Lagi pula, perlu telaah materi sirah yang akan dibahas.

Sebelum pulang baca WA dulu. Scroll ke bawah. Entah di mana undangan resepsi itu terselip. Pesan sudah kadung menumpuk. Urusan nilai anak-anak, urusan kajian, urusan sapa-menyapa mengingatkan jadwal, dan banyak lagi urusan tetek bengek yang enteng-enteng. Puyeng.

Aduh! Mengapa tidak memanfaatkan search engine? Padahal dengan kecerdasan buatan fitur mesin pencari itu pesan bisa ditemukan dalam hitungan detik. Ya, ketemu! Saya baca pelan. Ee, busheng?

Terhenyak. Ini acara resepsi pernikahan putri dari seorang teman sekelas sewaktu belajar di madrasah dulu. Ya salaam. Ampun, dah.|

TIGA puluh tiga tahun silam kami bertemu, sama-sama belajar di sekolah yang tumbuh di dekatnya pohon asem. Besar dan tua pula pohon asem itu. Jangan tanya rasa buahnya; asem banget, loh. Suer.

Naik kelas dua, ada jurusan IPS dan IPA. Tapi, moyang saya bilang, “Jangan ambil jurusan itu! Itu jurusan dunia doang. Ambil jurusan dunia akhirat saja.” Entah kebetulan, kami mengambil jurusan yang sama; Jurusan Agama, Jurusan Dunia Akhirat.

Begitulah umumnya moyang kita memandang hidup dengan kacamata sederhana, tapi menghujam. Takut sekali mereka bila generasinya cakap dalam urusan dunia, tapi agamanya belepotan. Padahal belum tentu begitu. Banyak kok, siswa bengal yang waktu sekolah jurusan agama, tapi kelakuan macam orang ‘gak kenal agama. Masa, sekolah di Aliyah, bawa bekel Mension Whiskey? Minumnya mojok di warung Bang Jaya. Kan, koplak. Ha ha ha ....

Tapi, banyak juga alumnus jurusan IPS atau IPA itu pada salih dan salihah. Satu dua dari mereka tidak kalah baiknya dalam urusan agama. Dalam urusan dunia, tidak sedikit dari mereka lebih berjaya. Jadi, sudahlah agamanya baik, penghidupannya juga mapan. Kan, asik. Ini calon mantu ideal.|

SAYA dan pengirim pesan WhatsApp ini duduk di kelas yang sama. Kami tidak terlalu dekat, jaga jarak juga tidak. Biasa saja. Ngobrol sesekali bila dirasa perlu. Paling-paling ngobrolin urusan pelajaran. Itu pun bisa dihitung jari.

Mau becandain, rasanya ngeri-ngeri karena tak pandai bergurau. Apalagi dia bukan tipe “pecicilan” yang lari-lari dan jingkrak-jingkrak mulai dari barisan depan sampai baris belakang pas jam kosong sambil nyolek-nyolek temen laki-laki. Haaa …. ‘gak kebayang.

Dia ini kalem, cool. Gadis seperti ini sukar ditebak. Meskipun ada isyarat arah angin bertiup, masih juga sukar diduga condong ke arah mana sebenarnya yang dituju. Tapi, se-cool-cool-nya dia, matanya yang jeli itu kadang bikin grogi bila dia menatap. “Aduh, gua salah apa ya diliatin?” Begitu satu dua kali membatin pas tidak sengaja bertemu mata. Padahal, itu tatapan mata biasa. Cuma rasa hati saya saja yang ke-ge-er-an.

Karena tidak terlalu confidence bila urusannya teman lawan jenis, keseringan mlipir lah saya ini. Maka satu waktu, saya hanya menghabiskan kesempatan untuk diri sendiri saja. Mungkin sebab alasan ini, tempo hari teman ini meledek saya “U… z angkuh”. Ha ha ha. Boleh jadi sejak masih sekolah dulu pun, diam-diam dia sudah meledek begitu. Jangan-jangan, bukan hanya dia menganggap diri ini angkuh, yang lain juga.😂

Although she likes to tease me for being arrogant, at least she is a good friend. Dan saya tetap menghargainya sebagai teman.

Di kelas, ada banyak teman dengan segala tingkah-polah dan kecerdasan yang beragam. Rokib (semoga Allah merahmatinya), adalah teman yang paling ngocol, pandai qasidah, dan suaranya enak di telinga. Rokib selalu bisa membawa suasana menjadi jenaka.

Ada juga Zuhairi, si penyuka lagu India. Bila tidak salah ingat, di kelas Zuhairi pernah menyanyikan “Jab Hum Jawan Honge” lagu dari soundtrack film Betaab, film era 80-an. Pede sekali dia bernyanyi. Gayanya macam artis Bollywood saja saat itu. Karena distingsi Zuhairi ini, saya tidak menampik, Zuhairi meninggalkan kesan cukup apik bagi saya meskipun kami tidak terbilang akrab.

Lagu “Jab Hum Jawan Honge” ditulis oleh Anand Bhaksi. Di tangan komposer R.D Bhurman, lagu yang dibawakan Lata Mangeshkar dan Shabbir Kumar ini enak banget, apalagi diputar bila sedang kasmaran. Gara-gara Zuhairi ini, saya jadi penasaran. Pas nonton layar tancep di kampung sebelah, eh ada diputar film ini. Sejak itu jadi kenal siapa itu Sunny Deol yang tampan dan Amrita Singh yang menawan, aktor pemeran Betaab.

Lokasi syuting film ini di Lembah Betaab (Betaab Valley). Letaknya sekitar 15 kilometer dari Pahalgam, Distrik Anantnag, Kashmir. Dulunya dikenal Hagan Valley atau Hagoon. Belakangan, nama Betaab Valley lebih populer karena kawasan ini digunakan sebagai lokasi syuting Betaab.

Hamparan padang rumput nan hijau serta pegunungan dengan salju di puncaknya sangat memukau Betaab Valley. Suara gemericik dari aliran sungai Lidder dengan air yang jernih dan pepohonan yang mengelilingi lembah bikin adem. Boleh jadi, jiwa Zuhairi lebih dulu menari-nari di Betaab Valley saat ia menyanyikan “Jab Hum Jawan Honge” waktu itu dengan penuh perasaan. Jadi, badan dan aksinya ada di kelas, jiwa anak ini ada di Kashmir.

Teman dengan “kecerdasan Indiahe” mirip Zuhairi kayak gini, sebenarnya bikin was-was saat hujan turun mencurah bumi. Apalagi saat hujan itu dia sedang duduk di bangku di taman dengan koyo cabe masih menempel di kening karena meriang. Wah, bakalan menghambur, bernyanyi, dan berjoget sambil meluk-meluk tiang lampu taman dia. Zuhairi tidak peduli dengan meriangnya lagi. Dia terus saja berhujan-hujan, bernyanyi dengan bahasa terdengar mirip“tumbar miri jahe” seolah dirinya adalah Raj Malhotra yang sedang berusaha memancing perhatian Simran Singh dalam lakon Dilwale Dulhania Le Jayenge.|

INI gimana? Masa, pakaian mau kondangan macam pakaian koboi begini. Mau pulang dulu, nanti terlalu malam. Mau datang esok hari, ah enggak, di samping sudah tidak ada menu spesial, nanti malah diledek lagi sebagai “U… z angkuh”. Datang saja lah.

Ini lagi-lagi soal persepsi yang sukar saya lupakan. Di benak saya, bila dapat undangan resepsi yang kepikir: pasti acaranya hari Minggu, meskipun undangan belum dibaca. Selalu begitu.

Memang, fakta resepsi “pasti acaranya hari Minggu” sering ada benarnya. Namun, pikiran “pasti acaranya hari Minggu” ini satu dua kali sesat menyesatkan. Satu waktu saya dapat undangan dari security madrasah tempat saya mengajar. Ya, itu, dikira acaranya hari Minggu, ‘gak taunya malah hari Rabu. Melesetnya hampir dua kilometer.|

AH, saya bersyukur, masih bisa hadir memenuhi undangan teman ini meski penampilan ala kadarnya. Senang sekali melihat dia bahagia bersama sang suami. Bahagia sudah punya menantu, bentar lagi menimang cucu. Semoga selalu bahagia sampai tua.

Senang juga masih sempat bertemu satu dua teman yang lain, sisa-sisa masa lalu di sekolah. Ada teman yang mengaku sudah punya cucu, yang mengaku kaget saya ini beda banget dari yang dulu, juga ketemu teman yang sempat menyelisik, “Ente ‘gak ada di grup alumni, ya?” Et dah, gua jawab apa, kata hati ingin mengelak.

Khairu al-ashab man yadulluka ‘ala al-khair. Teman yang baik itu adalah mereka yang menunjukan kamu pada kebaikan. Begitu kata pepatah Timur Tengah.“Walking with a friend in the dark is better than walking alone in the light,” begitu kata Helen Keller (1880-1968), penulis, aktivis politik, dan dosen Amerika yang gigih mengumpulkan dana untuk orang-orang buta dan tuli ini. Kata Keller, berjalan dengan seorang sahabat di kegelapan lebih baik daripada berjalan sendirian dalam terang. Demikianlah selalu saya berharap setiap kali berkumpul bersama teman dan sahabat.

Ustazah Ruaithoh teman yang baik. Dekat dengan pengajian. Banyak mencerahkan emak-emak di majelis taklim asuhannya. Semoga selalu melimpah berkah dalam rumah tangga bersama suami. Maafkan atas salah persepsi soal waktu resepsi kalian.

Untuk Bella dan suami, selamat menempuh hidup baru. Bella, berbaktilah pada suami di kala senang dan di kala susah, nanti kamu akan merasakan cinta sejati seorang lelaki. Untuk Dimas, lindungi dan sayangi istri sampai akhir hayat, nanti kamu akan merasakan manisnya bakti seorang perempuan. Barakallahu laka wa baraka alaikuma wajama’a bainakuma fii khair.

Ciputat, 08 Oktober 2024.
Dari Balik Jendela Ingatan

Selasa, 01 Oktober 2024

Misteri Paku Seorang Muazin

Ilustrasi muazin. 

Pengumandang azan Subuh itu telah pergi. Dia meninggalkan rekaman abadi. Bukan pada pita kaset, pada keping piringan hitam, atau pada perangkat digital. Bukan. Sebab dia tak pandai pada media-media profan itu.

Suaranya yang yang khas sudah terekam dalam media buatan Tuhan. Menempel dalam memori setiap orang sekitar masjid Al-Huda, masjid Muhammadiyah yang megah di kampung kami. Apakah itu memori orang Muhammadiyah, memori orang Aswaja, bukan memori orang Muhammadiyah atau bukan pula orang Aswaja semua merekamnya.

Ayo! Kita bertaruh. Suara azannya itu bahkan terekam melekat pada memori orang Muhammadiyah atau orang Aswaja yang lupa sembahyang, lupa jalan ke masjid, atau lupa pada Tuhan seru sekalian alam. Semua merekamnya. Sebab rumah-rumah mereka yang pelupa itu hanya sejengkal saja berdiri di samping teritikan masjid, tetangga masjid, atau bahkan pengurus masjid atau musala.

Jadi, andaikata satu waktu pada tengah malam Tuhan berkehendak mengutus makhluk gaib untuk menirukan azannya sang muazin ini dari menara Masjid Al-Huda dengan suara yang persis sama, pastilah, baik yang ingat sembahyang atau yang lupa sembahyang akan bangun terperanjat lalu bergumam, “Itu azannya Bang Nasri!”[]

Muazin itu penyeru paling sabar, mengalahkan kesabaran orang yang paling sabar di kolong langit sekalipun. 
Tidak ada muazin yang mengadu kepada Allah karena kecewa panggilannya diabaikan. Dia tidak pernah ngomel-ngomel meskipun panggilan azannya diabaikan orang sekampung. Diabaikan orang se-Indonesia pun, dia tidak sakit hati. Bilal bin Rabah, atau Abdullah bin Ummi Maktum muazin kesayangan Nabi saja tidak pernah berdoa mengangkat tangan meminta, “Ya Allah, bikin saja orang yang mengabaikan azanku pada budeg semua!” karena sakit hati sebab seruannya tidak digubris.

Memang, apa hak muazin mesti sakit hati? Tuhan pemilik seruan azan itu saja tidak sakit hati kepada para pendosa yang dosanya sudah sundul ke langit. Mengapa? Karena muazin hanya penyambung lidah. Hakikatnya, Allah Yang Maha Besar lah yang sedang memanggil manusia, bukan sang muazin. 

Akan tetapi, Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah menaruh keinginan buat membakar rumah orang-orang munafik yang mengacuhkan shalat berjamaah di masjid. ”Sungguh aku berkeinginan untuk memerintahkan muazin agar didirikan (iqamah) shalat, lalu aku perintahkan seseorang untuk memimpin shalat (berjamaah), kemudian aku mengambil bara api dan membakar (rumah) orang yang tidak keluar melaksanakan shalat berjamaah di masjid (tanpa alasan yang benar).” Demikian gambaran keinginan itu yang direkam oleh perawi hadits paling otoritatif; Imam Bukhari dan Imam Muslim.[]

Percayalah, manusia yang semasa hidupnya mengacuhkan azan, akan datang masanya dia merindukan azan melebihi rindunya kekasih ingin bertemu pujaan hatinya. Kapan? Nanti saat jasadnya akan disembahyangkan, saat kesempatan untuk memenuhi panggilan apa pun sudah diblokir.

Boleh jadi kita semua belum menyadari, bahwa azan tidak diizinkan dikumandangkan meskipun untuk panggilan shalat jenazah orang salih, tidak juga untuk mayat para bajingan. Azan seperti diblokir bagi sembahyang untuk semua orang yang sudah mati. Jadi, jangankan untuk shalatnya, untuk mendengarkan azannya saja kesempatan itu sudah ditutup.

Itulah mengapa ada banyak orang minta tangguh barang sedetik saat malaikat maut datang menjemput. Dia merengek-rengek memohon agar jangan dulu dicabut nyawanya karena dia ingin sedekah dulu, ingin jadi orang salih dulu. Boleh jadi juga karena dia ingin telinganya mendengar gema azan untuk kali yang terakhir.[]

Hampir sepuluh atau lima belas tahun Bang Nasri merekam azannya di udara. Dilantunkan panggilan itu berulang-ulang menembus langit. Kalimatnya sama, iramanya sama, durasi waktunya juga sama.

Dia jarang mengeluh, kecuali keluhan atas sakit kakinya yang sewaktu-waktu kambuh. Berjalannya jadi sudah tidak gesit lagi. Langkahnya limbung ke kiri dan ke kanan saat melangkah hendak menunaikan tugasnya di masjid. Sebagai “penyambung seruan Tuhan” dia jalani peran ini sampai akhir hayat. Azan Subuh pada Jumat 27 September 2024 menjadi azan Subuh terakhirnya berkumandang.

Kepada saya, seorang kerabat Bang Nasri bercerita. Beberapa waktu kemarin Bang Nasri ingin menyerahkan kunci masjid. Saya paham, boleh jadi karena kondisi fisik semakin payah dia tahan. Bukan mustahil karena khawatir kinerjanya terus menurun dan tugas-tugasnya sebagai marbot banyak terbengkalai.

Namun, takdir seperti tidak menginginkan kunci itu diserahkan. Malah kewafatannya pada Sabtu 28 September 2024 yang meluluskan niatnya itu semasa hidup. Itu penyerahan kunci yang tidak bisa ditolak dan tidak bisa ditarik kembali.

Sebelum meninggalkan masjidnya, Bang Nasri dua kali kehilangan paku. Paku itu cantolan, tempat biasa Bang Nasri menggantung kain atau celana di balik pintu di lorong sekira dua setengah meter dari kamar kecil. Itu kebiasaannya mengurangi ribet bolak-balik membawa kain tiap kali ke masjid. Tidak ada yang tahu, ke mana perginya paku itu. Boleh jadi paku itu sengaja pergi mendahului Bang Nasri seakan tahu tuannya sebentar lagi akan meninggalkannya.[]

Nasarudin bin Amit, muazin Masjid Jami Al-Huda Pimpinan Ranting Muhammadiyah Pulo semasa hidup. Foto milik keluarg.a

Selamat jalan, Bang Nasri. Banyak orang akan merindukan azanmu. Banyak pula emak-emak tetangga Abang yang akan merindukan suaramu saat membangunkan mereka menjelang masak sahur setiap Ramadhan.

Di bulan Ramadhan, umumnya emak-emak itu bukan takut kepada para suami Bang, tapi, takut kesiangan! Sebab kalau mereka kesiangan, suaminya bisa marah, THR bisa diblokir. Karena itu, berapa banyak emak-emak terselamatkan dari marahnya suami mereka karena Abang rajin sekali membangunkan mereka. Sekarang, Abang telah pergi, pergi meninggalkan emak-emak juru masak paling andal di rumah tangga mereka masing-masing. Ramadhan esok, entah berapa banyak emak-emak yang kesiangan.

Bang, maafkan bila ada kata dan perilaku yang menggores di hati Abang semasa kita hidup dan bergaul. Mohon jangan adukan hal itu kepada Allah, tapi sampaikan kepada-Nya bahwa Abang telah memaafkan kami semua.

Sekali lagi selamat jalan. Semoga lapang kuburmu.

Ciputat, 01 Oktober 2024.
Dari meja kelas P5RA 8C Madrasah Pembangunan Jakarta.



Selasa, 24 September 2024

Pendidikan Islam Finlandia dan Lawrence Kohlberg

Tangkapan layar suasana Ngaji Pekanan Tematik Korps Mubaligh Muhammadiyah Kota Depok #143. Tangkapan layar milik kumta.id

NGAJI Pekanan Tematik Korps Mubaligh Muhammadiyah Kota Depok malam ini seri ke-143. Narasumbernya “Orang Korea”; Ustaz Irfanuddin R,Lc., M.PD.I. Tema yang diangkat “Kaidah Dasar Pendidikan Islam”. Materinya sangat substansial. Saya ingin mencuplik bagian luarnya saja, yang ringan-ringan, yang tipis-tipis.

Iman, adab, dan ilmu menjadi titik berangkat bahasan Ustaz Irfan. It's exactly. Ketiganya itu core values pendidikan Islam. Core values ini warna yang membedakan pendidikan Islam dengan pendidikan sekular. Poin ini teramat penting. Ia mendesak untuk terus dibincangkan para pendidik muslim. Pangkalnya cuma satu, yaitu bahwa iman, adab, dan ilmu selalu berhadapan dengan sekularisme yang menggerus iman dan adab.

Ada poin yang cukup menohok dari uraian narasumber, soal muatan tahfizh. Boleh jadi, poin ini menjadi trend pendidikan di beberapa lembaga pendidikan Islam. Memang ia bukan sesuatu yang keliru. Trend ini baik. Akan tetapi, bila trend muatan tahfizh itu hanya fenomena latah atau sekadar komoditas pasar yang patut dijual, sedang ramai, dan lepas dari substansi dari Al-Qur’an itu sendiri, ini perlu ditimbang kembali.

Menghafal Al-Qur'an itu penting, sebab dahulu Al-Qur'an terpelihara otentisitasnya dari hafalan dan catatan para sahabat, tabi’in, tabi'it tabi'in hingga zaman akhir kita sekarang. Akan tetapi, berakhlak sesuai Al-Quran jauh lebih penting. Tentu jauh lebih penting lagi hafal Al-Qur’an dan adabnya Qur’ani. Pendidikan Islam perlu fokus di sini. Sekali lagi, hafalan itu penting pada porsinya yang proporsional.

Dunia keilmuan Islam sangat menjunjung tinggi adab, akhlak, atau moralitas. Dalam tradisi periwayatan hadits misalnya, seseorang yang didapati bermoral jahat tidak akan dipercaya periwayatannya. Ini sangat berbeda dengan tradisi keilmuan Barat yang sekular. Ilmuan besar Barat yang menjadi rujukan keilmuan dunia internasional saat ini seperti Rousseau, Henrik Ibsen, Leo Tolstoy, Ernest Hemingway, Karl Marx, Bertrand Russel, atau Jean-Paul Sartre itu sudah menjadi rahasia umum sebagai pribadi-pribadi bermoral bejat. Dan, itu tidak masalah dalam tradisi Barat.

Dalam bukunya “Intellectuals” yang dikutip Adian Husaini, Paul Johnson menyebut Rousseau sebagai “manusia gila yang menarik” (an interesting man). Saat berusia 15 tahun, pada 1728, Rousseau rela menukar agamanya menjadi Katolik agar dapat menjadi peliharaan Madame Francoise- Louise de Warens. Ernest Hemingway, ilmuan jenius, tidak punya agama yang jelas meskipun kedua orangtuanya penganut Kristen yang taat. Hadley, istri pertamanya menyatakan hanya melihat Hemingway sembahyang dua kali, yaitu saat perkawinan dan saat pembaptisan anaknya. Untuk menyenangkan Pauline, istri keduanya, Hemingway berganti agama menjadi penganut Katolik Roma. Kata Johnson, Hemingway bukan saja tidak percaya Tuhan, bahkan menganggap “organized religion” sebagai ancaman terhadap kebahagiaan manusia. 

Bisakah perilaku demikian diterima pada pribadi seorang ulama dalam tradisi keilmuan Islam?

Saya pernah mengikuti seminar tentang pendidikan di Finlandia. Semua tahu, pendidikan Finlandia dipandang sebagai pendidikan paling baik saat ini. Finlandia menjadi model dan kiblat dunia pendidikan yang dibincangkan para guru sampai ke kedai-kedai kopi. Namun, alangkah saya terkejut saat narasumber mengisahkan sisi moralitas guru dan orang Finlandia.

Di sekolah-sekolah Finlandia, selalu ada ruang khusus yang diperuntukkan bagi guru yang sedang mabuk karena alkohol. Di ruang itu, guru yang masih teler bebas mengekspresikan kemabukannya yang bersifat kasar, brutal, atau perilaku khas orang mabuk. Selama guru itu masih berada di bawah pengaruh alkohol, dia tidak boleh masuk kelas untuk mengajar. Ia baru diizinkan masuk kelas untuk mengajar bila sudah benar-benar bebas dari pengaruh alkohol.

Dalam tradisi pendidikan Islam, guru macam apa yang begini? Apa bisa jadi panutan bagi peserta didiknya sebagaimana fungsi seorang murabbi dalam pendidikan Islam?

Ini Finlandia yang sangat paradoks sebagai negara pendidikan terbaik seperti yang diceritakan Munif Chatib, sang narasumber seminar yang saya sebut tadi. Bila musim akan berganti Polar Night–keadaan ketika matahari tidak muncul atau tidak terbit yang berlangsung selama beberapa hari– banyak orang sesama –saudara, kolega, teman, atau tetangga– berpelukan sambil berkata, “Semoga kita masih bisa berjumpa pada musim berikutnya.”

Mengapa demikian? Itu karena ada orang Finlandia yang stress menjalani hidup pada fase Polar Night. Sebagaimana kita ketahui, Finlandia adalah negara dengan malam terpanjang di dunia dengan durasi hingga 200 hari di kota Kuusamo, 2 bulan di Finlandia Utara, dan yang tersingkat hanya sehari di wilayah garis Lingkar Arktik. Dalam bahasa Finlandia malam panjang atau fenomena Polar Night ini lebih dikenal dengan nama “Kaamos”, yaitu fenomena malam kutub yang biasa terjadi pada saat musim dingin.

Hidup pada fase “Kaamos” mengganggu psikis tidak sedikit orang Finlandia. Banyak di antara mereka mengakhiri hidupnya dengan cara menabrakan diri pada kereta yang sedang melaju cepat yang melintasi stasiun-stasiun seperti Santa Claus Express, Allegro Train, VR Finnish Rail, Suonenjoen Rautatieasema, Hämeenlinnan Rautatieasema, atau Louhela Railway Station.

Kita boleh bertanya, mengapa sistem pendidikan Finlandia yang katanya terbaik itu menghasilkan banyak orang putus asa mengakhiri hidup dengan cara itu? Di mana hasil kedewasaan sebagai tujuan pendidikan yang diperkenalkan Barat selama ini?

Maka, orang Finlandia yang saling mengenal satu sama lain kembali berpelukan saat fase “Kaamos” berakhir. Mereka bahagia bisa bertemu kembali dalam keadaan masih hidup dan bersyukur bisa melewati masa-masa berat “Kaamos”.

Bila cerita Munif Chatib ini benar, maka, boleh jadi secara fisik, pendidikan Finlandia yang terbaik. Akan tetapi dari sisi kedewasaan bagaimana menyikapi fenomena alam secara kejiwaan, jauh panggang dari api.

Jadi, masih kesemsem dengan pendidikan Finlandia?

Satu lagi hal penting yang disinggung Ustaz Irfan, yaitu soal konsep pendidikan Barat yang kerap diterima tanpa kritik. Secara tidak sengaja, kadang para pendidik muslim membebek teori-teori pendidikan Barat sekular. Seperti soal larangan menggunakan instruksi “jangan” dalam interaksi pendidikan. Seolah kata “jangan” tak ubahnya barang haram yang tidak boleh disentuh. Padahal Al-Quran sebagai landasan pendidikan Islam kerap menggunakan kata “jangan” dalam konteks mendidik umat menuju kedewasaan berpikir dan bersikap.

Beberapa tahun terakhir, dunia sekolah kita dijejali oleh apa yang dikenal dengan konsep Pendidikan Karakter. Perumusnya seorang keturunan Yahudi Amerika; Lawrence Kohlberg, Profesor dalam bidang psikologi sosial di Universitas Chicago dan pakar pendidikan di zamannya. 

Soal karakter ini lebih substansial daripada sekadar larangan kata "jangan". Akan tetapi, lagi-lagi, ini  konsep pendidikan Barat sekular. Tipologi Pendidikan Karakter ala Barat itu “bebas nilai”. Substansinya, Pendidikan Karakter di Barat itu hanya membantu siswa menemukan nilainya sendiri. Mereka bebas punya nilai yang berbeda-beda sebab tidak ada norma moral yang dipegang sebagai acuan kecuali norma kebebasan.

Tidak banyak orang tahu, di penghujung hidupnya, Kohlberg jatuh sakit. Penyakitnya berhasil didiagnosa dokter pada Mei tahun 1973. Kohlberg kemudian harus menerima suatu kondisi, dimana rasa sakit, ketidakberdayaan, hingga pada tahap depresi melanda kehidupannya selama 16 tahun sebab penyakitnya tidak kunjung sembuh.

Senin, 19 Januari 1987, Kohlberg meminta cuti satu hari dari Rumah Sakit Massachusetts tempat ia dirawat. Kohlberg menghilang. Malang nian nasib Kohlberg si pencetus Pendidikan Karakter ini. Polisi hanya menemukan mobil Kohlberg terparkir di perumahan Jalan Winthrop pada 21 Januari 1987. Kohlberg berhasil ditemukan dalam keadaan sudah tidak bernyawa pada April 1987. Tepat pukul 12:30 siang, seorang polisi negara bagian menemukan jenazah Kohlberg mengapung sekitar 1.000 meter ke arah selatan pantai.

Dari hasil pemeriksaan medis, disimpulkan bahwa tenggelam adalah penyebab kematian seorang Kohlberg. Diduga, Kohlberg menenggelamkan tubuhnya ke dalam samudera bersama virus yang telah menggerogoti tubuhnya dalam waktu sekian lama. 

Sampai saat ini, kematian Kohlberg terus dirayakan oleh beberapa kalangan di Amerika. Mereka menilai Kohlberg telah mengambil pilihan hidup yang tepat bagi dirinya. Ya, persis seperti doktrin Pendidikan Karakter yang dianutnya yang “bebas nilai”, seperti kasus orang Finlandia yang bebas menabrakan dirinya pada kereta karena depresi melawan musim. 

Begitulah. So, Ngaji Pekanan Tematik Korps Mubaligh Muhammadiyah Kota Depok malam ini mencerahkan.[]

Depok, 24 September 2024, menjelang tidur.
Have a nice rest.

Senin, 09 September 2024

Senja di Stasiun Gambir

Sebelum berpisah. Foto credit, Abdul.
Mas, lebih baik, kita yang menunggu.
Segera kami berangkat setelah Asar. Putri kecil kami; Miray Hagia Sophia kami bawa serta. Saya ingin mengenalkannya pada nilai persahabatan meskipun Miray belum mengerti apa-apa selain kegembiraannya naik kereta.

Kami bersyukur, 17.10 WIB kami sampai di Gambir. Betul kata istri saya, lebih baik kami yang menunggu. Maka, Ahad sore itu, bertiga menghabiskan senja sampai kabar sahabat saya sudah berada di ruang tunggu kedatangan.|

Helen Keller (1880-1968) menyebut persahabatan itu seperti cahaya. Berjalan dengan seorang sahabat di kegelapan lebih baik daripada berjalan sendirian dalam terang,“Walking with a friend in the dark is better than walking alone in the light," begitu kata penulis, aktivis politik, dan dosen Amerika yang gigih mengumpulkan dana untuk orang-orang buta dan tuli ini.

Orang banyak pasti akan lebih memahami setelah membaca kisah hidup Helen Keller tentang apa yang dimaksudnya dengan cahaya dan persahabatan di atas. Pemenang dari Honorary University Degrees Women's Hall of Fame, The Presidential Medal of Freedom, dan The Lions Humanitarian Award memang sosok yang membutuhkan cahaya dan suara setelah mengalami buta dan tuli setelah penyakit menderanya di usia 19 bulan.

The Miracle Worker, film yang diangkat dari kisah Hellen Keller dan gurunya Annie Sullivan yang setengah buta mendapat dua piala Oscar. Saya menduga, Sullivan lah guru sekaligus sahabat Hellen Keller yang disebutnya sebagai “Walking with a friend in the dark is better than walking alone in the light" itu.

The Miracle Worker seperti mengajarkan kehidupan lewat film tentang arti seorang guru dan seorang sahabat. Anne Sullivan adalah guru dan sahabat yang menggerakkan, sosok yang menjadikan gadis buta dan tuli menemukan kehidupannya.

Membayangkan daya gerak dari seorang guru dan sahabat seperti Anne Sullivan itu mencengangkan. Di bawah asuhannya, Keller menjadi penulis dari total 12 buku dan beberapa artikel.

Pada usia 11 tahun, di bawah sentuhan Anne Sullivan, Keller menulis bukunya yang pertama; The King Frost. Pada usia 22, Keller menerbitkan autobiografinya, The Story of My Life. Pada usia 27, Keller menulis The World I Live In yang memberikan pembaca wawasan bagaimana perasaannya tentang dunia. Out of the Dark, serangkaian esai tentang sosialisme, diterbitkan Keller di usianya yang ke-37. Menginjak usia yang ke-51, Keller menerbitkan Autobiografi spiritualnya, My Religion. Autobiografi Keler ini diterbitkan kembali sebagai Light in My Darkness.|

Persahabatan yang baik itu tidak lekang oleh waktu, tidak lapuk oleh usia. Ada juga yang berkata, bahwa persahabatan itu mahal, semahal ketulusan budi yang tidak dijual seperti permata di toko-toko berlian. Tentu, persahabatan yang demikian ini persahabatan yang genuine.

Persahabatan genuine itu menggerakkan. Ia menggerakkan kaki untuk melangkah mendekat, menggerakkan lidah untuk berucap yang mengikat, dan menggerakkan pikiran untuk sekadar mengenang masa lalu. Bahkan, persahabatan mampu menggerakkan hati untuk melabuhkan doa-doa kebaikan sebab ia terpisah jarak ruang dan waktu.|

Setiap sahabat akan merasa bahwa usia masing-masing sudah merambat naik, terus naik mendekati uzur. Saya, Kang Sahidup, dan Mas Amron menyadarinya kemarin di meja makan di stasiun Gambir. Kami bertiga sudah merasa tua. 

Tapi, ada yang tidak berubah sejak 31 tahun yang lalu. Senyum Kang Sahidup masih seperti dulu. Matanya menyipit bila tertawa kecil. Wajah Mas Amron masih seperti dulu juga. Ada bias cahaya seperti "nur" yang menempel di kulitnya. Kemarin, saya lihat cahaya wajah Mas Amron makin merona saja. Ini pertanda istrinya pandai merawat suami.

Saya percaya, sahabat-sahabat kami yang lain –karena keterbatasan ruang dan waktu tidak bisa bergabung– mesti merasakan hal yang sama. Maka, alangkah indahnya persahabatan itu terpelihara di saat usia kami semua merambat naik mendekati usia ideal rata-rata umat Nabi Muhammad SAW di angka 60-an.

Persahabatan saya dengan Kang Sahidup dan semuanya yang dahulu bersama di bangku kuliah diploma memang tidak sehebat persahabat Helen Keller dan Anne Sullivan yang fana. Tapi, ketulusan dan kehangatan persahabatan kami tetap bermakna di dunia yang fana sampai ke akhirat yang baqa’.|

Bila batu-batu saja bertasbih memuji Allah, dahan dan pohon juga bertasbih, bahkan ikan-ikan di lautan juga bertasbih mengiringi kebaikan setiap orang-orang yang beriman. Maka, saya percaya semesta pun bertasbih untuk kebaikan sahabat saya yang akan menjalani operasi pada Selasa, 10 September 2024 esok.

Seperti kopi, kita menginginkan rasa yang lebih kental dan lebih kuat untuk menghangatkan tubuh saat cuaca dingin. Begitu juga persahabatan, ia lebih terasa kental dan kuat di saat sahabat kita membutuhkan selimut untuk memulihkan kesehatannya.

Ya Allah, mudahkanlah. Biarkan takdir-Mu selalu membuat kami tersenyum bahagia bersama. Aamiin.|

Senin, 09 September 2024


Kamis, 05 September 2024

Azan Misa dan Kaum Liberal

Ilustrasi Paus Fransiskus dan soal Azan Magrib. Sumber ilustrasi VIVA.co.id 

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) melalui Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Pos dan Informatika telah mengeluarkan surat permohonan terkait peniadaaan siaran Azan Magrib saat Misa bersama Paus Fransiskus.
_____________

Aku memikirkan Hagia Sophia, dan aku sangat sedih.
Siaran azan di televisi diganti dengan running text untuk menghormati Misa Paus di Indonesia hari-hari ini, ini penerapan paham liberal sekuler level paling rendah. Ini belum apa-apa, baru level warming up. Mungkin, Anda bergidik bila sempat mengikuti sekularisasi azan di Turki. Ini sekularisasi azan paling ekstrem sepanjang sejarah kaum muslimin di dunia.

Azan dan Warisan Fetih Sultan Mehmet

Konstantinopel memang unik. Dari wajahnya yang Kristen Timur menjadi Istanbul yang berwajah Islam di bawah Utsmani, lalu berwajah sekuler di tangan Mustafa Kamâl Atatürk, dan kembali mendekati Islami di tangan Adnan Menderes dan Recep Tayyip Erdoğan. Pada ketiga masa ini, azan menjadi begitu ikonik.

Pada pertengahan abad ke-15, Konstantinopel dan seluruh Kekaisaran Byzantium jatuh ke tangan Turki Utsmani. Hari bersejarah itu terjadi pada Selasa, 29 Mei 1453 M setelah 53 hari pengepungan. Bagi umat Islam, peristiwa ini menjadi pembuktian nubuwwah. Sebab, 800 tahun sebelumnya, Nabi Muhammad SAW pernah menyatakan; “Sesungguhnya Konstantinopel itu pasti akan dibuka (dibebaskan). Sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukannya," (HR Bukhari).

Nubuwwah itu terbukti di tangan pemuda 21 tahun kelahiran 30 Maret 1432, di Edirne, Turki. Mehmet adalah sultan Utsmani yang ketujuh, berkuasa pada 1444-1446 dan 1451-1481, putra dari Sultan Murad II dan Hüma Hatun. Hagia Sophia dibeli dan diubah menjadi Ayasofya Camii atau Masjid Raya Ayasofya oleh Fetih Sultan Mehmet menggenapi nubuwwah itu.

Tiga hari setelah penaklukkan, pada Jum’at 1 Juni 1453, azan berkumandang di atas langit Konstantinopel dari dalam Hagia Sophia yang megah. Itulah kumandang azan untuk shalat Jum’at kali pertama di bekas wilayah kekaisaran Byzantium.

Sebelum dimuliakan menjadi masjid, sepanjang antara 360-1453 M, Hagia Sophia –Magna Ecclesia, Gereja Besar– adalah Gereja Kalsedon, Gereja Katolik, dan Gereja Ortodoks. Pada era Byzantium, Gereja St. Sophia atau The Great Church ini, merupakan gereja terbesar di Konstantinopel, sekaligus pusat bagi keorganisasian gereja Ortodoks. Maka, saat mendengar Konstantinopel jatuh dan Hagia Sophia jadi “mualaf”, Eropa dan Vatikan meradang seperti pesakitan. Mereka tidak percaya.

Sejak itu, selama 481 tahun setelah penaklukan, kaum muslimin menikmati Hagia Sophia sebagai masjid, pusat ilmu dan peradaban, bahkan sebagai pusat pemerintahan Islam; Turki Utsmani. Tentu menikmati pula lantunan merdu azan muazin-muazin Turki.

Azan dan Nyawa Adnan Menderes

Akan tetapi, azan di Turki redup dan akhirnya hilang sejak khilafah Utsmani ditumbangkan kelompok sekuler liberal pada 1922. Turki menjadi Republik di tangan Mustafa Kamâl Atatürk (19 Mei 1881 – 10 November 1938). Bapak Turki Modern itu menjauhkan Islam dari kehidupan bangsa Turki sebagai konsekuensi sekularisme yang dianutnya. Maka, azan dan beberapa elemen syari’at Islam diberangus.

Pada 1932, sekularisasi azan diterapkan Atatürk. Orisinalitas azan yang berbahasa Arab diganti dengan bahasa Turki. 30 Januari 1932, di masjid Fatih, Istanbul, azan Turki mulai diterapkan. Hafiz Rifat Bey menjadi muazin pertama yang mengumandangkannya selama 18 tahun. Setahun kemudian, pada 1933 M, melantunkan azan dalam bahasa Arab sudah dimasukan dalam kategori pelanggaran hukum, dikategorikan sebagai kejahatan oleh pemerintah sekuler Turki.

Bukan hanya azan, bahkan, hampir saja, bacaan shalat pun hendak dibahasaturkikan oleh Atatürk. Masjid saja hendak diganti nama menjadi “Gereja Islam” modern. Inilah bentuk ekstrem sekularisme, pluralisme, dan liberalisme dalam kehidupan muslim Turki.

Azan kembali dipulihkan sampai datang Adnan Artekin Menderes, Perdana Menteri Turki periode 1950-1960. Pria Turki kelahiran tahun 1899 di Turki ini, pada masa mudanya aktif berpolitik dan bergabung dengan Republican People’s Party– dalam bahasa Turki: Cumhuriyet Halk Partisi (CHP)– yang didirikan oleh Atatürk.

Pada 1945, Menderes keluar dari partai CHP dan mendirikan Democrat Party (DP). Di sinilah Menderes mulai berjuang mengembalikan Turki Modern pada tradisi Islam yang sudah tercerabut dari akar sejarah bangsa Turki.

Menderes seperti penganut sekularisme liberalisme yang bertobat. Partainya mengusung visi Islami. Ia ingin mengembalikan azan ke dalam bahasa Arab, mengizinkan orang Turki melaksanakan ibadah haji, mendirikan sekolah untuk mengajarkan bahasa Arab, mencabut intervensi pemerintah atas pakaian wanita, dan memberikan kebebasan kepada penganut agama untuk melaksanakan keyakinan masing-masing.

Pada 1950, Menderes bersama partainya mengikuti Pemilu. Hasil pemilu mengguncang Turki. Partai Menderes merebut 318 kursi di parlemen sedangkan partai CHP Atatürk hanya mendapat 32 kursi saja. Menderes menjadi Perdana Menteri. Celal Bayar, ketua partai CP menjadi Presiden.

Setelah Pemerintahan dibentuk, Menderes mulai merealisasikan janji-janjinya. Azan kembali dikumandangkan dengan bahasa Arab di menara-menara masjid. Rakyat Turki diperbolehkan lagi melaksanakan ibadah haji setelah bertahun-tahun dilarang pemerintahan Atatürk.

Pada 1954 Menderes bertempur kembali dalam pemilu. Partainya menang telak dengan kursi lebih banyak dari pemilu sebelumnya. Dengan kemenangan mutlak ini, Menderes mulai membangun sekolah-sekolah untuk mengajarkan bahasa Arab, merenovasi 10 ribu masjid di seluruh Turki, membuka lebih dari ribuan madrasah yang sebelumnya ditutup. Menderes juga memperbaiki kembali hubungan dengan negara-negara Arab dan berani mengusir Duta Besar Israel dari Turki pada 1956.

Barat dan Israel berang. Dua entitas yang telah berjasa membantu Atatürk menumbangkan khilafah Utsmani dan menjadikan Turki negara sekuler serta menikmati hasil-hasilnya diganggu Menderes. Konspirasi militer Turki, CHP, dan Barat dibangun untuk mengkudeta pemerintahan Menderes.

Partai CHP dan sayap militer loyalis Atatürk memulainya dengan melakukan berbagai kekacauan. Puncaknya, pada Mei 1960, pimpinan militer Turki Jend. Cemal Gursel mengumumkan kudeta atas pemerintahan Adnan Menderes. Partai Demokrasi Menderes dibekukan. Menderes ditangkap dengan tuduhan melakukan kejahatan dan mengkhianati ajaran Atatürk atau Kemalisme. Sumber dakwaan atas Menderes karena ia mengembalikan azan ke dalam bahasa Arab, berusaha mengubah Turki yang sekuler menjadi negara Islam, dan berusaha untuk mengembalikan sistem khilafah.

Pada 17 September 1961 Adnan Menderes dieksekusi di tiang gantungan. Menjelang digantung, Menderes berujar, ”Saya akan mati, dan saya berharap semoga rakyat dan negara ini selalu bahagia.” Demikianlah kalimat penutup hidup Menderes. Sejarah Turki menjadi saksi seakan kehadiran Menderes menjadi Perdana Menteri hanya untuk mengembalikan muruah azan pada derajatnya yang agung.

Dari Museum Kembali ke Masjid

Atatürk telah mengkhianati Fetih Sultan Mehmet. Atatürk tak ubahnya Pasukan Salib IV yang di bawah titah suci Paus di Roma menista Hagia Sophia dengan menjarahnya, mengotori altarnya dengan pesta dan mabuk-mabukan, lalu menjadikannya sebagai kandang kuda dan kandang babi saat menduduki Konstantinopel pada 1204. Kota ini baru bisa diselamatkan dari invasi Tentara Salib pada 1261 M.

249 tahun kemudian, pada tahun penaklukkan yang sudah disinggung, Fetih Sultan Mehmet memuliakan Hagia Sophia untuk kali pertama menjadi masjid. Begitu tiba, Sang Pembebas bersujud ke arah kiblat di dekat Hagia Sophia. Sang Sultan menaburkan tanah ke atas kepalanya sebagai simbol membunuh kesombongannya. Lalu, Fetih mempermaklumkan Hagia Sophia sebagai masjid dalam kuasa pribadinya. Tidak boleh seorang pun mengusik permakluman itu.

Tapi rupanya, Atatürk bukan hanya mengkhianati Fetih dan azan di Hagia Sophia. Pada 1934, Atatürk menurunkan derajat Hagia Sophia dari masjid menjadi museum. Hagia Sophia diceraikan dari spirit Islam atas tuntutan Barat dan kaum sekuler pembenci syari’at.

Atatürk dengan tatapan mata elangnya yang keras itu menjadi presiden pengecut. Bapak Turki Modern ini bagai kerbau dicucuk hidung oleh tali kekang Barat. Ia dengan sukarela memenuhi permintaan pendiri Institut Bizantium Amerika, Thomas Whittemore, sahabat dekat Atatürk yang meminta agar Hagia Sophia dijadikan museum.

“Santa Sophia masih berupa masjid di hari saya berbincang dengannya –Atatürk. Keesokan paginya, ketika saya mendatangi masjid itu, ada sebuah tulisan di pintunya yang ditulis sendiri oleh Atatürk. Di sana tertulis, “Museum ini ditutup dalam rangka perbaikan (renovasi),” ungkap Thomas Whittemore. 

Sejak saat itu, shalat menjadi sesuatu yang terlarang di Hagia Sophia. Hilang pula kumandang azan dari menaranya. Sempurna. Atatürk telah mengkhianati azan, Hagia Sophia, dan Fetih Sultan Mehmet.

Erdoğan dan Spirit Utsmani

Erdoğan, saat ia menjadi wali kota Istanbul pada 1994 pernah berjanji, “Kami akan mengembalikan wajah Islam ke Istanbul dan Aya Sofia akan kembali menjadi masjid bagi kaum muslimin.” Demikian janji Erdoğan saat ia diwawancarai Majalah Al Mujtama’, Kuwait.

Pelan-pelan janji itu dilaksanakan Erdoğan. Pada 2006, pemerintah mengalokasikan satu ruangan khusus di kompleks Hagia Sophia untuk beribadah bagi staf museum. Langkah ini seperti langkah kecil yang kelak menjadi gelombang besar.

Pada 2013, babak baru untuk mengambalikan muru'ah sejarah penaklukkan 1453 dimulai para politisi secara terbuka dan terang benderang. Sejumlah politisi Turki dari partai pendukung pemerintah yang dianggap sebagai representasi sayap Islamis terang-terangan meminta agar Hagia Sophia dikembalikan sebagai masjid. 

Pada 2016, untuk pertama kalinya, azan dikumandangkan lagi di atas menara setelah 82 tahun raib meninggalkan kemegahan Hagia Sophia. Kemudian, pada November 2016, giliran Asosiasi Perlindungan Monumen dan Lingkungan Bersejarah, sebuah organisasi non-pemerintah mengajukan gugatan agar Hagia Sophia diubah kembali menjadi masjid. Namun, gugatan itu ditolak oleh pengadilan.

Puncaknya, pada 10 Juli 2020, Hagia Sophia benar-benar kembali menjadi masjid. Muazin mengumandangkan lagi azan berbahasa Arab dari atas menaranya. Rantai sekularisme yang membelenggu Hagia Sophia menjadi museum telah putus. Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan seperti mengembalikan spirit Mehmet, spirit Utsmani setelah hampir 86 tahun Hagia Sophia menjadi museum. Sekali lagi, Israel, Barat, dan Paus meradang.

Sakit Hati Barat dan Sekularis Turki

Pada perayaan 567 tahun penaklukan Konstantinopel dan pembacaan surah Al-Fath di Hagia Sophia, Jum'at 29 Mei 2020 Yunani mengecam acara tersebut. “Ini bukan hanya urusan orang-orang Yunani dan Kristen secara umum. Ini terkait penghinaan warisan kebudayaan dunia,” ucap Stelios Petsas, Jubir Pemerintah Yunani.

Kyriakos Mitsotakis, Perdana Menteri Yunani juga berang. Katanya, “Yunani mengecam keputusan Turki untuk mengonversi Hagia Sophia menjadi masjid. Keputusan ini telah menghina mereka yang telah mengakui monumen ini sebagai situs warisan dunia,” ujarnya.

Lina Mendoni, Menteri Kebudayaan Yunani bahkan menilai langkah nasionalisme Erdogan membuat Turki mundur 6 abad ke belakang.

Vladimir Dzhabarov, Wakil Kepala Utusan Parlemen Rusia menilai, menjadikan Hagia Sophia sebagai masjid tidak berpengaruh apa-apa bagi negara-negara muslim. Bahkan katanya, hal itu hanya akan membuat negara-negara muslim bertikai.

Josep Borrel, perwakilan Uni Eropa menyesalkan keputusan Dewan Negara Turki itu. Keputusan Presiden Erdogan yang menempatkan Hagia Sophia di bawah Direktorat Urusan Keagamaan sebagai keputusan yang sangat disesalkan di era modern.

Kekecewaan jelas-jelas dilontarkan Morgan Ortagus, Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS. “Kami kecewa atas keputusan yang diambil pemerintah Turki terkait perubahan status Hagia Sophia.”

Sementara UNESCO, meminta kepada otoritas Turki untuk membuka dialog secepatnya untuk menghindari mundurnya nilai universal dari warisan yang berharga yang kelestariannya akan direview oleh Komite Warisan Dunia pada sesi selanjutnya.

Dari kalangan Turki sendiri, pengubahan status Hagia Sophia sempat tidak disetujui dari politisi pihak oposisi; CHP, partai yang didirikan Atatürk. Ibrahim Koboglu, politisi CHP membuat statement penolakan. “Istana Topkapi harus tetap dilestarikan sebagai museum, Hagia Sophia harus tetap dilestarikan sebagai museum, bahkan (masjid) Sultan Ahmet juga seharusnya dijadikan museum, karena itu semua merupakan warisan umum umat manusia saat ini.”

Penyesalan Paus

Selain kaum sekularis, komunitas Kristen memang yang paling meradang saat Hagia Sophia akan dikembalikan menjadi masjid dan azan berkumandang lagi di sana. Beberapa pemimpin Kristen, seperti Uskup Hilarion, yang mengepalai departemen Gereja Ortodoks Rusia untuk hubungan gereja eksternal, menggambarkannya sebagai "pukulan bagi Kekristenan global". Kepala Gereja Ortodoks Athena dan seluruh Yunani, Uskup Agung Ieronymos, mengecam apa yang ia gambarkan sebagai "instrumentalisasi agama untuk tujuan partisan atau geopolitik".

Otoritas Gereja Rusia, Vladimir Legoide, Juru Bicara Gereja Orthodoks Rusia terang-terangan membawa komunitas Kristen sebagai bentuk kekecewaan saat putusan pengadilan mengembalikan Hagia Sophia menjadi masjid. Ia merasa, keprihatinan dari jutaan umat Kristen tidak didengar. Keputusan pengadilan ini menunjukkan bahwa seruan untuk memberikan perhatian yang serius untuk urusan ini menurutnya telah diabaikan.

Dewan Gereja Dunia, yang mewakili 350 gereja Kristen, mengatakan telah menulis surat kepada Erdoğan untuk mengungkapkan "kesedihan dan kecemasan" mereka.

Demikian juga Pemimpin Gereja Katolik Roma, Paus Fransiskus. Pemimpin Vatikan –kini tengah berada di Indonesia sejak 3 sampai 6 September 2024– menyatakan kerisauannya terkait keputusan Turki mengubah museum Hagia Sophia menjadi masjid. Kerisauan Paus Francis ini disampaikan menjelang akhir khotbah tengah hari di Lapangan Santo Petrus, Minggu 12 Juli 2020.

“Aku memikirkan Hagia Sophia, dan aku sangat sedih." Begitu ungkap sang Paus.

Hari ini, Paus Fransiskus masih di Indonesia. Boleh jadi, siaran azan Magrib di televisi hari ini yang diganti dengan running text saat Misa yang dipimpin Paus lahir dari bisikan penganut liberalis sekuler atas dalih toleransi salah kaprah. 

Namun, keganjilan ini bukan hal yang mengejutkan. Bukankah pernah ada penganut liberal mengasosiasikan lantunan azan dengan gonggongan anjing? Bukankah yang membela puisinya Sukmawati yang bersyair: “Suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok, Lebih merdu dari alunan azanmu” adalah dosen liberal yang pernah ditelanjangi pendemo hingga tinggal sempaknya saja yang menempel? 

Jadi, orang yang paling sering menodai agama itu terang benderang pelakunya. Siapa lagi kalau bukan liberalis! Liberalis itu cemen. Azan saja dimusuhi. Bah!

Ciputat, 05 September 2024.
Menjelang mulih.