A homepage subtitle here And an awesome description here!

Rabu, 26 Juni 2024

Menunggu Kehidupan

Berangkat sekolah melintasi sawah. Foto milik Nickie Woopdroof, https://nickiewoodruff.blogspot.com/

Hari ini, Rabu 26 Juni 2024, dua orang yang saya kenal dipanggil Allah. Tadi pagi, pukul 07.07 WIB, khadim Masjid Andalusia, Bapak Salman Abdurrahman kabar kewafatannya saya terima. “Pak Maman” –begitu biasa ia dipanggil warga Madrasah Pembangunan tempat saya mengajar– tutup usia.

Pak Maman itu di antara sedikit orang. Ada banyak orang yang masih hidup, tapi lari menjauh dari masjid. Sementara ia, separuh tarikan napasnya dihabiskan untuk memakmurkan masjid meninggalkan legacy mulia. Betapa bahagianya Pak Maman. Ia datang menghadap Allah setelah mengurus rumah tempat orang-orang bersujud pada-Nya.

Selamat jalan Pak Maman. Ya Allah, ampunilah ia, sayangilah ia, dan maafkanlah ia. Allahummaghfir lahu warhamhu wa ‘aafihi wa’fu ‘anhu.|


Tujuh jam setelah kabar Pak Maman, Mardina juga berpulang hari ini. Mardina teman sekelas saya waktu SD. Mendapati kabar kewafatannya, melempar saya pada masa kecil, masa-masa mengenakan seragam Elementary School.

Mardina satu di antara teman sekelas yang pandai Matematika. Ia, meski sedikit agak judes, namun bila tersenyum lebar sekali. Gelak tawanya juga nyaring. Perawakannya sedikit gemuk, rambutnya keriting kriwil, dan wajahnya bulat. Senyum dan tawa Mardina seakan menghapus kesan judes itu, hilang tak berbekas.

Hari ini, Mardina seperti memutar video masa-masa saya SD. Di pelupuk mata, seketika tampak iringan meniti galengan sawah dan empang. Melintasi kobak Haji Goming yang jernih, teduh, dan sedikit seram tiap berangkat dan pulang sekolah.

Iring-iringan itu berjalan berundak. Mereka yang saya ingat adalah Muhammad Insaf, Husnul Khatimah, Mujahidin, Muhammad Anwar Muttaqin, Iman Istamar, dan saya sendiri. Sekali waktu, teman sekelas dari ujung paling selatan kampung bergabung dengan kami yang di utara berangkat bersama di suatu pagi dan siang. Mereka Gugut Kuntari, Moh. Yamin, dan Maspupah.

Ini kenangan antara tahun 1979 sampai kami lulus pada 1985 dari SD Muhammadiyah Rawadenok, murid-murid KH. M Syamsuddin, Pak Rauf, Bu Habibah, dan guru-guru kami yang lain. Masa-masa di mana kami sudah dibiasakan bangun malam, kuliah Subuh setiap Ahad pagi, dan menyanyikan "Sang Surya".

Di antara kami semua; saya, Mardina, Husnul, dan Gugut memilih jalur pendidikan. Mardina, Husnul, dan Gugut jadi guru SD. Belakangan, Gugut pindah ke jalur birokrasi, mengikuti jenjang kariernya sebagai PNS. Teman-teman yang lain memilih jalurnya masing-masing, jalur yang membuat mereka bahagia, sebahagia kami menjalani profesi guru.

Hari ini, Mardina telah purna. Ia pulang ke haribaan Allah dengan membawa legacy sebagai guru dan aktivis Aisyiyah. Ia aktif mengikuti tabligh-tabligh dan rapat-rapat persyarikatan di samping mengajar. Usia Mardina dihabiskan di sekolah dan mengurus Aisyiyah.

Selamat jalan, Din. Bahagialah di sana, tanpa sakit yang kau derita lagi. Kami yang tersisa tengah menunggu giliran. Ya Allah, ampunilah ia, sayangilah ia, dan maafkanlah ia. Allahummaghfir laha warhamha wa ‘aafiha wa’fu ‘anha.|

Entah siapa yang mengatakan kalimat ini: Nahnu lasna ahya'a nantazir al mawt wa annama amwatun nantaziru al-hayaa. Hidup kita ini bukan untuk menunggu kematian, tapi, mati untuk menunggu kehidupan, begitu kira-kira arti bebasnya.

Boleh jadi, sependek pemahaman saya, bahwa kehidupan sesungguhnya baru dialami manusia setelah ia mati. Sebab, sesudah mati, manusia akan masuk fase kehidupan yang disebut “la nihayata laha”, “unending”, tidak ada kesudahannya.

Alangkah bahagianya, bila sesudah mati, manusia menikmati kebahagiaan yang tiada akhir. Alangkah buruknya bila manusia malah mendapati kesengsaraan hidup yang tiada akhir sesudah kematiannya.

Ada riwayat dari Imam Muslim, kelak ada manusia yang mati membawa segudang pahala. Akan tetapi, pahalanya itu tak bisa menolongnya sebab kezaliman yang ia lakukan sewaktu hidup di dunia. Dialah orang yang muflis, orang yang bangkrut.

Si muflis itu, bila pahalanya sudah habis tak tersisa untuk menebus kezalimannya, dosa-dosa orang-orang yang dia zalimi berpindah ke pundaknya untuk dia tanggung. Apa lacur, sebenarnya sebelah kakinya sudah di depan pintu surga, tapi karena kezalimannya, ia malah dilempar ke neraka.

Kezalimannya itu boleh jadi sepele, tidak seberat yang disebut dalam riwayat Imam Muslim. Akan tetapi, yang sepele itu telah membuat orang tersiksa, tak bisa tidur, tak enak makan, dan tak sedap menyesap air bening. Bila yang sepele itu tidak tuntas di dunia, maka ia akan berlanjut sampai di akhirat. Na’udzu billah.

Ya Allah, selamatkan kami dari kebangkrutan di akhirat.

Depok, 26 Juni 2024.



Kamis, 13 Juni 2024

Aku Bukan Pengidap Post Power Syndrome

Ilustrasi memasuki masa pensiun yang bahagia. Foto Credit, https://www.ayobandung.com

Berjalan dengan seorang sahabat di kegelapan lebih baik daripada berjalan sendirian dalam terang. 
Sedih. Begitulah hari ini ditinggalkan kolega yang memasuki masa pensiun dan resign karena ada tugas baru. Ini sedih yang manusiawi.

Beberapa hari sebelumnya, aura kesedihan sudah merebak. Ucapan selamat memasuki masa purna bakti untuk Bu Eha memenuhi halaman grup WA bagi kolega yang pensiun hari-hari terakhir ini.

Jemari saya sudah bergerak mengetik. Ingin ikut menyampaikan simpati “barakallah” atas kepensiunan kolega ini. Tapi urung, hati seperti tidak rela kolega ini pensiun. Maka, saya tidak ikutan menyampaikan “barakallah”, sebab merasa ia tidak tergantikan dan akan saya biarkan Bu Eha ada di hati saya sebagai kolega.

Namun, dalam nomenklatur kepegawaian, masa pensiun itu seperti “takdir mubram”, takdir yang tidak bisa diubah. Setiap pegawai pasti akan memasuki masa itu, baik baik pensiun dini maupun pensiun “dini hari”.

Saya percaya, Bu Eha bahagia memasuki masa pensiun ini, meskipun ia berat meninggalkan madrasah. Saya tahu, rasa berat itu karena Bu Eha sangat menyintai madrasah ini, anak-anak, dan guru-gurunya. Bu Eha juga punya dedikasi sebagai guru Biologi, punya kapasitas leadership yang kuat saat menjadi Wakakur dan Kepala Madrasah, dan friendly dengan sesama guru dan karyawan. Pribadi serupa ini, memiliki jiwa yang sehat. Apalagi, secara kasat mata, religiusitas Bu Eha juga sangat menonjol.

Memang, ada banyak orang yang memasuki masa pensiun mendadak mengidap post power syndrome. Apalagi bila dahulu pernah menjadi pejabat. Orang dengan gangguan ini masih membayangkan pencapaiannya pada masa lalu dan membandingkannya dengan masa kini. Lalu, rasa percaya dirinya menurun hingga depresi.

Akan tetapi, post power syndrome lebih sering menimpa mereka yang tidak memiliki pasangan hidup atau hidup seorang diri, tidak memiliki aktivitas atau kesibukan lain, tertekan secara finansial, dan memiliki masalah-masalah lain. Boleh jadi, kondisi-kondisi di atas mendorong orang itu “Tidak ingin pensiun” yang semakin menambah tekanan post power syndrome-nya.

Boleh jadi, kolega-kolega Bu Eha lah yang harus belajar dari guru Biologi ini. Bukan belajar bagaimana cara tersenyum Bu Eha yang selalu mengesankan, ini gak bisa ditiru persis karena ia bawaan orok. Tapi, belajar bagaimana saat memasuki masa pensiun dengan bahagia seperti Bu Eha sambil berkata; Aku bukan pengidap post power syndrome!

Pak Misro, guru Akidah Akhlak juga memasuki masa pensiun. Kolega sesama Konsorsium Agama ini termasuk guru senior di Konsorsium Agama. Ada lebih kurang 17 tahun bergaul bersama Pak Misro. Sebagai yang junior, saya banyak belajar, terutama belajar kesabaran. 

Pak Misro pernah mengajar Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), subjek yang saya ampu di Madrasah Pembangunan. Pak Misro sempat sharing saat kali pertama saya menginjakkan kaki di Madrasah Pembangunan mengenai pelajaran yang dianggap pelajaran paling susah di antara rumpun pelajaran agama. Dari Pak Misro saya jadi tahu, mengajar SKI tidak semudah yang dibayangkan, tidak segembira mengajak peserta didik main games atau membaca komik kesukaan mereka.

Ahamdulillah, dari sharing ini, mental untuk mengajar SKI naik sedikit. Hal terpenting, tentu mendorong untuk terus belajar.

Aduh, tapi saya tidak menyangka kolega yang saya yang satu ini, Bu Fairus Qamila. Saya baru tahu hari ini ia resign. Rupanya, gadis Aceh ini juga akan melangkah pergi meninggalkan madrasah. Tentu dengan alasan yang berbeda, sebagai peserta beasiswa LPDP yang tidak mengizinkannya mengajar sambil menikmati beasiswanya. “Kejam” sekali LPDP ini telah memisahkan saya dengan Bu Fairuz. Aiih …

Pilihan Bu Fairus sudah benar. Andaikan saya yang berada pada posisinya, akan saya ambil pula beasiswa itu. Tentu, untuk lolos menjadi penerima beasiswa LPDP itu tidak gampang. Berat syaratnya. Maka, bila Bu Fairuz meninggalkan saya, eh meninggalkan madrasah maksudnya, maka itu pilihan rasional.

Maka, yang tersisa adalah mendoakan. Kepada Bu Eha, Pak Misro, dan Bu Fairus terima kasih sudah memberikan banyak hal buat madrasah. Jangan pikirkan saya ya, Bu Fairus karena saya sudah ada yang mengurus yaitu istri dan anak-anak saya. Hahahahah.

Bu Eha, Pak Misro, Bu Fairus, kata Hellen Keller, “Walking with a friend in the dark is better than walking alone in the light." 

Bahagia terus ya, Bu Eha, Pak Misro, dan Bu Fairus agar tetap menjadi terang buat kami kolega-kolegamu. Dan, selamat datang bagi guru-guru terbaik yang baru bergabung dengan Madrasah Pembangunan hari ini.

Kamis, Ruang Pleno 10 Juni 2024.

Senin, 27 Mei 2024

Muhammadiyah dan Rumput Tetangga

Draft buku "Matahari Terbit di Kampung Kami". Dokumen penulis.

Meski banyak kata saya pujikan untuk NU, tapi saya tetap Muhammadiyah. Saya hanya mencoba jujur melihat realitas, melihat kekurangan sendiri dan mengakui kelebihan orang lain tanpa saling merendahkan. Terima kasih NU!
Paragraf di atas adalah paragraf terakhir tulisan Nurbani Yusuf di https://ibtimes.id/terima-kasih-nu-sebuah-catatan-ramadan/. Judulnya “Terima Kasih NU Sebuah Catatan Ramadan”. Silakan baca sendiri isinya. Belakangan beredar video naratif. Narasinya tulisan Pak Nurbani di atas. Karena di-storytelling-kan, tulisan Pak Nurbani jadi lebih menarik dinikmati. Katanya, video itu viral di kanal-kanal NU.

Antara Nurbani Yusuf dan Mochammad Ali Shodiqin

Bila Pak Nurbani Yusuf yang mengaku orang Muhammadiyah itu memuji-muji NU dalam tulisannya, tujuh tahun yang lalu seorang kader NU “mengkudeta” Muhammadiyah dalam bukunya.

Adalah Mochammad Ali Shodiqin kader NU itu. Ia menulis buku “Muhammadiyah itu NU! Dokumen Fikih yang Terlupakan” dan terbit pada 2014 silam. Buku ini, katanya ditulis berdasar temuan dari kitab Fiqih Muhammadiyah 1924.

Dulu, kata Mas Shodiqin, Muhammadiyah itu melakukan qunut shubuh, tunaikan shalat tarawih 20 rakaat, ajarkan adzan dua kali, doa iftitahnya pun sama dengan NU, melakukan talafudz niat dengan ucapkan ushalli sebelum takbiratul ihram dan seterusnya. Tapi sekarang, semua itu sudah dilupakan Muhammadiyah.

Muhammadiyah telah mengalami proses metamorfosis dalam empat masa di mata Mas Shodiqin. Pertama, masa Syafi’i tahun 1912-1925; kedua, masa pembauran Syafi’i-Wahabi tahun 1925-1967; ketiga, masa Himpunan Putusan Tarjih (HPT) tahun 1967-1995; dan keempat, masa pembauran HPT-Globalisasi tahun 1995 hingga sekarang.

Untuk membahagiakan Mas Shodiqin, biarkanlah dia semringah dengan bukunya itu dan teori metamorfisisnya. Hanya saja, ada kesimpulan ahistoris yang sedikit mengganggu dan patut diselisik ulang.

“Mewahabikan” Muhammadiyah

Mas Shodiqin menilai Muhammadiyah telah menyimpang dari ajaran pendirinya setelah meninggalnya KH Ahmad Dahlan. Generasi Muhammadiyah pada beberapa masa selanjutnya, kata Mas Shodiqin tercampur dengan paham Wahabi sebagai imbas dari kebijakan-kebijakan pemerintahan Ibnu Saud di negeri Arab pada saat itu.

Inilah kesimpulan ahistoris Mas Shodiqin yang saya maksud. Boleh jadi, karena Mas Shodiqin tidak atau belum membaca perjalanan penyelidikan haji Haji Fachrodin pada 1921 dan misi Haji Syuja’ memimpin perjalanan haji sekalian menjelaskan Hakikat Muhammadiyah kepada Syarif Husein pada 1922.

Jadi, Mas Shodiqin, pada 1921 dan 1922 itu, Muhammadiyah sudah dituduh-tuduh sebagai Wahabi dari tanah Jawa. Penuduhnya para ulama nusantara yang menetap di Makkah dan menjadi pembantu-pembantu Syarif Husein.

Pada 1922 itu juga, di tanah air, kembali Muhammadiyah dituduh Wahabi pada arena Kongres Al-Islam pertama di Cirebon. Adalah KH Asnawi, utusan dari Tashwirul Afkar yang melempar tuduhan itu. Mas Shodiqin lebih tahulah, Tashwirul Afkar kelak bermetamorfosis menjadi Nahdlatul Ulama bukan?

Hanya saja, tuduhan Wahabi, baik yang dilontarkan di Makkah maupun di Cirebon ini dipatahkan oleh kakak beradik; Haji Syuja’ dan Haji Fachrodin.

Pada arena Kongres di Cirebon itu, KH Asnawi tidak bisa membantah argumen pembelaan Haji Fachrodin atas tuduhan kolega KH Wahab Chasbullah ini yang menuding KH Ahmad Dahlan itu ulama sesat dan Muhammadiyah adalah Wahabi.

Jadi, bukan pembauran Syafi’i-Wahabi untuk mendukung asumsi Mas Shodiqin bahwa semula Muhammadiyah itu NU, Mas. Tapi, kalangan tradisionalis sudah sejak semula gencar “Mewahabikan” Muhammadiyah di saat KH Ahmad Dahlan masih hayat –KH Ahmad Dahlan wafat pada 23 Februari 1923– dan sebelum kitab Fiqih Muhammadiyah 1924 disusun.

Sama-sama Rumput Tetangga

Bila Ramadhan tiga tahun lalu Pak Nurbani Yusuf berterima kasih pada NU, 7 tahun sebelumnya, Mas Shodiqin menuding Muhammadiyah telah menyimpang dari ajaran pendirinya; KH Ahmad Dahlan. Ini dua fenomena “akhir zaman” yang kontras sekali.

Sebagai sama-sama orang Muhammadiyah dengan Pak Nurbani Yusuf, saya punya satu kesimpulan atas tulisan beliau yang dimuat di ibtimes pada 2021 kemarin. Kepada Mas Mochammad Ali Shodiqin yang NU, saya juga punya kesimpulan yang sama meski berbeda bahasa.

Mereka berdua sedang mengalami apa yang pernah dilantunkan Raymond B. Egan dan Richard A. Whiting pada 1924, "The Grass is Always Greener in the Other Fellow's Yard”. Baik Pak Nurbani Yusuf dan Mas Shodiqin seperti sedang mengenakan kacamata dengan lensa hijau daun. Dalam penglihatan mereka berdua saat itu, "rumput tetangga tampak lebih hijau dari rumput sendiri."

Oleh karena kehijauan rumput Muhammadiyah itu begitu menggoda, Mas Shodiqin harus susah payah menulis buku Muhammadiyah itu NU! Akan tetapi, buku ini tidak lebih dari permisalan ‘gadis NU’ yang sedang puber lalu menciptakan peluang buat mencuri perhatian ‘jejaka Muhammadiyah’ saja.

Muhammadiyah di Kampung Kami

Sudah tujuh tahun draft buku ini tidak kunjung rampung menjadi buku. Isinya mengungkap sisi kearifan para perintis Muhammadiyah di Kampung saya. Di samping soal kelangkaan dokumen, dan hanya tinggal lima orang generasi perintis yang masih hidup, upaya merekonstruksi sejarah Persyarikatan di Kampung saya ini menjadi bertambah berat. Apalagi, generasi kubu sebelah yang menentang sudah semuanya berpulang. Maka, upaya konfirmasi dan validasi informasi menjadi sukar dilakukan. 

Rasanya mau menyerah saja. Biarlah “Matahari Terbit di Kampung Kami” cukup sampai pada ide dan keprihatinan pada sejarah yang terkubur karena ia sukar diwujudkan. Akan tetapi, masih ada generasi pertama yang tersisa, menjadi daya dorong buat draft buku ini dirampungkan sebisa mungkin. 

Hati tersentak. Di tengah upaya keras penyelesaian buku ini, tiga dari lima generasi perintis yang tersisa berpulang; H. Mugenih pada 7 Juni 2023, Syamain pada 10 Januari 2024, dan Madyasin pada 11 Maret 2024. Makin kencanglah ikhtiar untuk segera menyelesaikan “Matahari Terbit di Kampung Kami” sebelum tak tersisa lagi di antara mereka semua.

Boleh jadi, saya adalah kader Muhammadiyah yang amat "cemburu" membaca tulisan Pak Nurbani Yusuf. Cemburu sekali. Sebab, orang-orang tua kami dahulu diperlakukan lebih dari sekadar dipersekusi seperti yang kerap dialami pengajian Salafi hari-hari belakangan ini oleh Barisan Ansor Serbaguna. "Sakitnya tuh, di sini, Pak. Di sini, di balik dada ini."

Akan tetapi, kearifan orang-orang tua kami para Perintis Muhammadiyah menghadapi perlakuan itu, membuat saya bangga dengan Muhammadiyah yang mereka wariskan. Malah, dari mulut mereka saya mendengar, bahwa mereka tidak menyimpan dendam sedikit pun. Ini bahkan lebih membanggakan saya.

Bukan saya tidak setuju pada pujian-pujian Pak Nurbani Yusuf pada NU itu yang kemudian amat disukai kalangan Nahdliyyin. Bukan. Sebab bagi saya, pujian itu ada kadarnya. Dan, yang paling penting, rumput di pekarangan Muhammadiyah di Ranting saya masih hijau di mata saya. Suer!  


***

Ciputat, 27 Mei 2024.

Sabtu, 13 April 2024

Liberalis Tertusuk Duri

Bukti Kicauan Guntur Romli. Bantahan M Khumaini Pakar IT yang menyebut bahwa kicauan Politikus PSI tentang Alquran adalah asli, bukan hoax. Sumber gambar: https://suaranasional.com/

Membaca tulisan Ustaz Budi Nurastowo Bintriman "AROMA LIBERAL, AGNOSTIS, DAN ATHEIS ACARA BUKBER PARA KADER ALUMNI SE SOLO RAYA" cukup mengherankan. Tulisan itu mengulas pikiran nakal berbau liberal.

Inilah yang saya maksud "mengherankan" itu, bukan tulisannya Ustaz Budi. Saya heran, kok masih ada orang yang kepincut pemikiran ini, pemikiran yang lahir dari rahim Kristen hasil pernikahannya dengan Hermeneutika untuk membantu Kristen menjawab problem Bibel vs Sains. Jadi, ibu dan bapak liberalisme adalah Kristen dan Hermeneutika. Tidak habis pikirnya, pemikiran ini belakangan latah diadopsi sarjana Muslim Indonesia. Seakan Islam mengalami problem yang sama, seperti problem Kristen dan Bibel, seakan Alquran dan peradaban Islam pernah bertengkar dengan Sains.

Di negara asalnya pun, liberalisme sudah dianggap gagal. Ia bahkan dituding menjadi biang keladi rusaknya moral kehidupan orang Amerika dan Barat Kristen yang serba bebas. Masyrakat Kristen di sana sudah kehilangan ruh agama serta jiwa Kristus-nya. Orang jadi mudah putus asa, sering bertindak radikal, dan kehilangan kontrol. Beberapa kasus pembantaian di dunia pendidikan di Barat yang selama ini mendengung-dengungkan liberalisme pemikiran adalah contoh paling brutal kegagalan liberalisme agama di sana. Tragedi itu seperti menampar bolak-balik pipi peradaban Barat dengan tangan mereka sendiri. Lihatlah fakta kebrutalan itu di Amerika berikut ini:
  • 1989 terjadi pembantaian di sekolah Stockton California, 5 orang tewas;
  • 1998 di sekolah yang berada di Jonesboro Arkansas, korban 6 orang;
  • 1999 di sekolah Columbine Colorado, 13 orang tewas;
  • 2005 remaja 16 tahun membunuh 5 orang di sekolahnya;
  • 2006 seorang remaja menembaki 11 remaja putri, 5 orang tewas;
  • 2007 32 orang tewas dibantai di Universitas Virginia Tech;
  • 2008 seorang siswi membunuh rekannya sebelum bunuh diri;
  • 14 Februari 2008 18 orang tertembak di Universitas Northern Illinois, 5 orang tewas. 
Di Barat dan Eropa pun demikian. Berikut daftarnya:
  • Pada 1989 di Universitas Montreal Kanada 14 orang tertembak oleh seorang pria termasuk pelakunya bunuh diri;
  • Pada 1996 di Inggris, seorang bersenjata mengamuk di sebuah sekolah dasar di Dunblane, Skotlandia. 16 anak dan guru-guru tewas ditempat setelah ditembaki oleh pria bersenjata itu. Setelah itu, sang pria bunuh diri;
  • Di Freising, Bavaria, Jerman pada Februari 2002, seorang mantan murid menembaki sekolahnya dengan garang. Tiga orang tewas, seorang guru terluka parah, dan si pelaku bunuh diri;
  • Pada 26 April 2002. Seorang pria 19 tahun bernama Robert Steinhauser mulai menembak di Erfurt setelah mengatakan tak ingin mengikuti tes. 12 guru, seorang sekretaris, dua orang murid, dan seorang polisi tewas dalam aksi nekat itu;
  • Pada 1 September 2004, sebuah sekolah di Beslan dikepung, 314 warga sipil, termasuk 186 anak tewas tewas di sekolah kota Beslan di Ossetia Utara, Rusia;
  • 20 November 2006 di Jerman. Seorang mantan murid berusia 18 tahun menembaki sebuah sekolah di barat Emsdetten. Setidaknya 11 orang luka-luka sebelum si pelaku bunuh diri;
  • Pada 7 November 2007, di Finlandia seseorang membunuh 6 murid laki-laki, suster sekolah dan kepala sekolah. Dan lagi-lagi, si pelaku menembak dirinya sendiri setelah beraksi di SMA Jokela yang berada tak jauh dari Helsinki;
  • Peristiwa itu berulang di Finlandia pada 23 September 2008. Seorang murid menembaki sekolahnya di Kauhajoki. 9 Murid dan 1 orang staf sekolah tewas sebelum di pelaku bunuh diri;
  • Pada 2009, aksi penembakan terjadi di sekolah menengah di Winnenden, Jerman. 15 orang tewas dalam peristiwa tersebut;
  • Pada 23 Januari 2009 di Belgia, seorang pria dengan wajah dicat putih dan mata hitam menikam dua bayi dan seorang perempuan di pusat perawatan anak di Belgia;
  • Pada hari yang sama di Norwegia, seorang polisi menembak seorang guru perempuan dan kemudian menembak diri sendiri. Beberapa hari kemudian, sang polisi tewas.
Serem.

Maka, bagi orang Amerika dan Barat Kristen yang masih punya otak dan nurani, liberalisme sudah tidak laku. Boleh jadi, Kristen sebagai ibu kandung liberalisme pun tidak laku lagi. Maka, tidak perlu heran bila banyak Pendeta di Amerika dan negara Eropa kehilangan job khotbah karena gereja-gereja mereka kosong ditinggalkan jemaat. Tidak sedikit kemudian gereja bernasib seperti properti biasa yang dijual atau dilelang lalu dialih fungsi menjadi toko, restoran, atau kedai-kedai kopi. Masih untung bila dibeli komunitas muslim untuk dijadikan masjid sehingga martabat gereja sebagai rumah ibadah tidak terlalu jatuh. Sebaliknya, Islam malah booming di sana. Pertumbuhan para muallaf cukup fantastis.

Karena itu, banyak analisis pakar memperkirakan, liberalisme, khususnya liberalisme agama tinggal menunggu ajal di kampung halaman. Walaupun masih laku, hanya dibeli segelintir peminat di stan-stan loakan. Lha ini, di negara “Konoha” ada 'Insan Mulia', muslim pula dia, masih bergairah mengasong pemikiran ini di acaranya Ustaz Budi di Solo. Qiqiqiqiqiqiqi.

JIL (Jaringan Islam Liberal) sendiri, agen penjual Islam Liberal di Indonesia yang pernah gagah sekali, sejak 2014 boleh dibilang sudah tutup usia. Menurut Abdul Moqsith Ghazali, JIL mulai sekarat sejak mulut-mulut pengasongnya tidak bisa lagi menyusu dari The Asia Foundation (TAF). Selama kurun waktu 2001 hingga 2005, JIL mendapat kucuran dari TAF ini 1,4 miliar rupiah per tahun–Ulil Abshar Abdalla mengakui hal ini. Maka, ketika dana itu distop, ya megap-megap lalu kolaps.

Selain itu, faktor JIL mulai tidak laku dan akhirnya sekarat menurut Moqsith karena tidak lagi mendapat dukungan dari organisasi-organisasi besar seperti NU, Muhammadiyah, dan UIN. Hal ini terjadi karena pemikiran rusak Islam Liberal menuai banyak kritik dan penolakan dari mayoritas masyarakat Muslim.

Makanya, saya ‘gak kebayang, Ustaz Budi dan teman-temannya ditawari "barang loakan" di acara buka bersama itu. Ada yang membeli apa tidak julan itu, tidak dijelaskan. Kalaupun ada yang beli, saya kira  karena brand pemikiran liberal ini barang impor, masih terkesan keren meskipun sudah loakan. Wkwkwkwkwk.

Dalam tulisannya, Ustaz Budi menyebut –pengasong pemikiran liberal itu– dia Kader Alumni Senior. Dia, dengan membandingkan luas alam semesta yang tidak terbatas ini, baik secara tersurat dan tersirat dikandung Al-Qur'an sampai pada kesimpulan bahwa sudah tak ada lagi tempat untuk "meletakkan" surga dan neraka. Bahwa, neraka itu tidak ada katanya dengan alasan karena Allah penuh rahmat.

Ustaz Budi sudah menjawab dengan tulisan serius dan argumentatif khas jawaban seorang pemikir. Saya, juniornya yang punya spirit literasi dengan mubaligh akar rumput ini memang selalu mengikuti tulisan-tulisannya. Saya hafal betul irama tulisan Ustaz Budi yang tajam, lugas, dan kadang menohok. Belakangan, tulisan-tulisan alumnus Shabran ini makin cadas dan paragraf-paragrafnya mengalir seperti air.

Saya yang pernah punya banyak ide dan argumen konyol melawan liberalisme, gatal juga ingin menanggapi dengan genre saya sendiri yang pasti tidak seilmiah tanggapan Ustaz Budi. Sayang, ide-ide konyol itu sudah hampir layu. Susah sekali untuk disegarkan seperti dulu.

Argumen teologis ilmiah dan nasihat spiritual, memang kadang tidak mempan untuk membuat siuman orang yang mabuk pemikiran liberal. Apalagi jika mabuknya sudah terlalu berat. Jangan harap dia cepat siuman. Yang terjadi dia malah makin teler dan gelo. Sungguh amit-amit, karena sudah jadi gelo, khawatir saja bila sampai mati dia masih berakidah liberal, seperti tokoh yang belum lama ini "qoit" sementara pemikiran liberalnya di kanal Youtube masih bisa ditertawakan banyak orang waras.

Kalau sudah begitu, mending diajak kocak-kocakan khas Kyai Adung, tokoh fiksi rekaan saya untuk menertawakan kelucuan omongan pengidap SEPILIS ini. Kyai Adung ini meracik ‘manhaj gembira’ buat melongok isi kepala orang liberal dengan cara yang jenaka.

Namun, meskipun jenaka, Kiyai Adung suka agak-agak sadis menanggapi liberalisme, misalnya kepada liberalis yang tidak beriman pada siksa kubur, surga, dan neraka. "Cepatlah ente mati, biar tahu siksa kubur itu ada apa enggak!" Celetuknya. Qiqiqiqiqi.

Sebenarnya, pemikiran yang menafikan surga, neraka, siksa kubur, atau kebangkitan manusia dari kubur hanya lagu lama yang diputar ulang dari pita kaset yang baru. Dahulu pada masa Nabi SAW, lagu itu amat sering dinyanyikan Abu al-Hakam alias Abu Jahal, Abu Lahab, Umayyah bin Khalaf, dan lain-lain. Mereka-mereka ini pioneer yang sering menuduh Alquran yang mengingatkan tentang kehidupan akhirat hanyalah dongeng belaka, asathirul awwalin.

Guntur Romli, mantan petinggi JIL juga pernah nge-tweet yang kira-kira isinya sama dengan nyanyian Abu Jahal cs. “Oleh karena itu, Quran bukan kitab suci bukan pula menyebabkan kita tabu untuk menggaulinya,” kicau Guntur. Pada lain tweet saat menanggapi @sudjiwotedjo, Guntur menulis “Kekuatan Al-Quran bukan sebagai kitab sejarah, tapi kitab kisah atawa dongeng.” Nah, sama toh?

Ash bin Wail adalah pendahulu pengasong pemikiran Liberal yang menolak surga, neraka, dan keyakinan bahwa manusia yang sudah mati kelak akan dibangkitkan. Ash bin Wail menyebut Nabi SAW sebagai kepala penipu, pengikutnya pun penipu dan pendusta. Saudara ipar Abu Jahal ini tidak percaya bahwa orang yang telah mati akan dihidupkan kembali, ada surga, dan neraka seperti yang disampaikan Nabi SAW. Itu semua menurutnya tidak masuk akal.

Satu kali, tokoh Quraisy dari Bani Sahmin ini mengambil tulang belulang dari lubang dan meremukkannya dengan tangannya. Lalu, ia berkata kepada Rasulullah SAW, “Akankah Tuhan menghidupkan kembali orang ini setelahnya dia dihancurkan?” Tanyanya bermaksud mengejek Nabi SAW. Karena sikap Ash bin Wail ini, turunlah surah Yasin ayat 77-79.

Ash bin Wail memang sudah mati. Jalan pintu kematiannya pun karena kakinya tertusuk duri, sebab yang terhitung sepele. Tapi, efek tusukan duri itu dahsyat yang menyebabkan kaki Ash bin Wail bengkak. Seterusnya Ash bin Wail tidak bisa bergerak dan hanya bisa berbaring saja di tempat tidur. Lama kelamaan, kaki Ash bin Wail mengering. Lalu, kerusakan jaringan otot mulai menjalar ke seluruh tubuhnya hingga beberapa bagian dari dagingnya banyak yang rontok berguguran. Salah seorang putranya, Amr pergi ke Thaif untuk membawa dokter, tapi Ash bin Wail keburu mati sebelum dia tiba.

Ish, ish, ish! Ngeri. 

Ash bin Wail memang sudah mati empat belas abad yang lalu. Akan tapi, spirit penolakannya pada surga dan neraka ternyata masih hidup. Neo-neo Ash bin Wail masih hidup di zaman digital ini. Masih pula rajin bernyanyi lagu paham kebebasan yang sudah usang bernada sumbang.

Depok, Sabtu sore hari ketiga Lebaran 1445 H, 13 April 2024 M.

Selasa, 13 Februari 2024

Wisdom di Transit Manggarai dan Gambir

Saya dan Kiai Miftah. Foto koleksi Kiai Miftah

Pada Sabtu 10 Februari kemarin, di atas Commuterline, kami bertemu. Saya senang sekali. Sesederhana itu bahagia menyeruak. Cukup dengan bertemu setelah hampir tiga puluh tiga tahun tak bersua. Terasa betul, pertemuan yang tidak direncanakan, bahagianya autentik.

Tidak semua perjumpaan sama hangatnya, sama bahagianya. Tidak. Boleh jadi karena sepanjang pengalaman bergaul, ada wisdom di sana meski seberat butiran debu. Sebaliknya, mungkin saja ada perjumpaan yang tidak pernah diharap-harap meski sudah berhadapan muka. Itu karena, boleh jadi ada unwish di masa yang lalu.

Saya sudah mengenali saat kali pertama bersitatap di Commuterline itu. Seulas senyum saya berikan. Tapi, dia belum merespons. Tidak mengapa pikir saya, asalkan dia masih menyimpan wisdom, dia pasti mengenali.

Mungkin karena perubahan fisik dan umur, atau karena takut salah orang, dia bergeming dalam acuh. Memang, waktu kerap menjadikan gerak respons melambat perlahan, apalagi mengidentifikasi segala pengalaman yang bertimbun-timbun lebih dari tiga puluh tahun. Dugaan takut salah orang pun, sering menunda merespon sapaan atau menyapa lebih dahulu.

Tapi saya percaya, feeling saya benar. Sekali lagi saya perhatikan wajahnya. Dan, saat mata kami bertemu pada kali kedua, dia merespons. Saya menangkap sorot mata bersahaja dan gerak bibir yang menyebut nama saya. Benar saja, dia mengenali saya.

Ada yang tidak berubah dari sosoknya, murah senyum yang awet. Satu lagi, tutur katanya yang sopan masih sama seperti dulu. Dialah Kiai Miftah, adik kelas saya di Madrasah Aliyah di pondok milik Allahuyarham KH. Achmad Sjaichu.

Ada pelajaran penting yang saya ambil dari berbincang dengan Kiai Miftah, yakni soal pendampingan pendidikan anak-anak di rumah. Saya catat itu dalam benak, sebab saya punya  banyak titipan mendidik anak-anak di rumah.

Senang sekali bertemu Kiai Miftah meskipun singkat sesingkat jarak tempuh Commuterline di stasiun pemberhentian sepanjang berbincang.|



Pintu Tumur Stasiun Gambir
Senin sore kemarin selepas mengajar, saya bergegas menuju Stasiun Gambir. Saya sangat ingin bertemu sahabat karib sewaktu kuliah. Dia baru menjalani pemeriksaan ke-9 di RS. Pusat Jantung Nasional Harapan Kita. Saya hanya ingin mendengar keluhan, perasaan, dan memastikan keadaannya baik-baik saja.

Pukul 18.04 WIB dia bilang sudah akan naik kereta untuk kembali ke Brebes. Saya kalkulasi saat berkemas di meja kerja, ada waktu lebih kurang tiga jam sebelum jadwal keberangkatannya pulang. Sudah pukul 15.00 WIB usai berkemas. Semoga bisa menjangkau.

Untuk sampai di Gambir pada jam sibuk, butuh waktu kira-kira dua jam dari Madrasah Pembangunan. Tapi, saya masih harus menunggu putri saya beberapa menit menjemput dari mengurus KRS semester akhirnya di UIN lalu mengantarnya pulang ke Depok. Dipotong waktu shalat Ashar dan menunggu kereta, bisa lebih dari dua jam perkiraan. Bisa-bisa, paling cepat sampai di Gambir pukul 17.30 WIB. Artinya, saya butuh 2 jam 30 menit waktu tempuh untuk pertemuan sepanjang tidak lebih dari 30 menit saja.

Akan tetapi, 30 menit itu sangat berharga bagi saya. Sebab dahulu sewaktu kuliah, begitu banyak wisdom di antara kami. Apalagi pertemuan ini bukan pada situasi gembira. 

Pukul 17.17 WIB saya tiba di pintu timur stasiun. Lega. Segera saya menuju ruang tunggu. Saya lihat, dia duduk tertidur. Wajahnya terlihat lelah, lelah sekali. Sengaja tidak saya usik tidurnya. Saya hanya duduk memandanginya beberapa saat.

Matanya berbinar saat saya menyapa. Mengalirlah obrolan kami sambil melepas kangen. Wajah yang kelihatan lelah dan agak pucat itu, berbinar juga seperti matanya.

Ada ketulusan saat dia berkata di sela kami berbincang. Katanya, dia bersyukur karena dia yang harus menjalani semua ini, bukan anak-anaknya.

Bersyukur?

Saya menelan ludah mendengarnya. Dia mengatakan itu seperti tanpa beban. Padahal sepanjang observasi yang tengah dijalani, dia mengaku pernah harus menebus obat seharga 10 juta untuk 99 butir pil.

Begitulah, mahal sekali kesehatan itu. Lebih mahal lagi bersedia bersyukur di kala kesehatan sedang diuji. Bagi saya, ini pertemuan yang membahagiakan. Bukan karena gurih kuah Soto Sulung stasiun Gambir yang kami nikmati sepanjang berbincang, melainkan karena mendapat pelajaran atas kesabaran dan wisdom dari sahabat di saat sempit. Semoga sehat kembali seperti sedia kala.| 

Dalam tiga hari, bertemu dengan teman lama yang berkesan itu adalah rezeki. Rezeki memang tidak melulu materi, tapi bisa berupa refleksi, kesadaran, dan pengalaman berharga.

Kita bisa belajar banyak hal dari sebuah perjumpaan. Ia seperti mutiara hikmah yang berserak. Sedangkan hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang yang beriman. Maka, saat saya menemukannya, saya tidak ingin mengabaikannya begitu saja.|


Depok, 13 Februari 2024.

Minggu, 28 Januari 2024

Saranghaeyo Untuk Si Anak Rantau

Sampul buku "Sukses Merantau Dunia Akhirat". Foto sampul diakses dari aku Facebook Irfanudin Rafiudin.

“Jika kau bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar, maka menulislah!” (Imam al-Ghazali). Kutipan quote Imam al-Ghazali ini saya baca pada akun Facebook Irfanudin Rafiudin, kolega saya di Korps Mubaligh Muhammadiyah Depok–seterusnya saya tulis "Irfan" sebagai rasa kedekatan bahwa saya sudah mengenalnya cukup baik sejak Irfan masih nyantri di Sawangan. Rupanya, ada sesuatu di balik quote itu.

Namun, bukan quote itu saja yang menarik perhatian saya, melainkan sampul buku yang dipasang sebagai foto profil Irfan. Saya sangat appreciate, berbinar-binar, dan berucap syukur baru melihat gambarnya saja.

“Sukses Merantau Dunia Akhirat”, begitulah judul sampul buku itu. Ini judul buku yang simpel, tapi kandungan pesannya, saya rasa–karena saya belum membaca isinya– boleh jadi meluas melebihi jumlah halaman buku itu. Apalagi, kapasitas keilmuan penulisnya, sebagai cendekiawan dan ulama muda, pastilah bertebaran values pada setiap lembar halamannya.

Saya mengenal sang penulis melalui istri saya, Ella. Ya, Ella dan sang penulis sama-sama alumnus Darul Arqam, Sawangan. Ella lebih dulu mondok di sana, Irfan menyusul belakangan. Ella dekat dengan Irfan dan adik-adiknya. Ella juga kenal baik pada keluarga Irfan. Lebih dari sekadar sesama santri Darul Arqam, dari kesan perbincangan, istri saya ini begitu menaruh rasa hormat kepada kedua orang tua Irfan.
 
Pada Jumat malam, 27/01/24, kami berbincang tentang Irfan. Saya lupa, topik apa yang mula-mula membawa kami mengisi istirahat malam pada perbincangan itu. Lalu, saya menyambung saat Ella menyebut Korea. Saya sedikit tahu aktivitas dakwah Irfan belakangan ini.  

Irfan masih di Korea. Berdakwah di Negeri Ginseng dengan segala pernak-perniknya yang unik. Boleh jadi, buku Irfan “Sukses Merantau Dunia Akhirat” adalah rekaman dari kronika dakwah Irfan yang unik itu di sana. Rasa hati ingin segera membaca buku itu. Bila berjodoh buku itu sampai ke tangan saya, saya akan membayarnya plus gratis saranghaeyo seorang kakak pada si Anak Rantau.

Saya selalu senang bila ada karya buku yang ditulis kolega. Pribadi seperti Irfan yang saya kenal, saya harap menulis menjadi kewajiban legacy, seperti quote al-Ghazali yang dikutipnya, bahkan seharusnya menjadi tabiat seperti yang diungkapkan Imam Hambali: “ma'al hibral ilal maqbarah”, bersama pena sampai ke "peristirahatan".

***

Saya pernah belajar menulis pada pegiat literasi perbukuan, Bambang Trim namanya. Bambang Trim penulis produktif dengan karya lebih dari 250 judul buku menurut catatan Linkedin. Buku sebanyak itu masih disanding dengan ratusan artikel/esai dan ratusan karya suntingan yang tersebar di berbagai media.

Dalam satu kesempatan belajar teknik menulis pada Director Lembaga Sertifikasi Profesi Penulis dan Editor Profesional ini, Bambang Trim menyebut, bahwa buku yang bagus itu punya tiga daya: daya pikat, daya gugah, dan daya ubah.

Bila saya tidak keliru menangkap penjelasan Bambang Trim, daya pikat banyak terkait pada judul, perwajahan sampul, layout, dan aspek keterbacaan buku yang mampu memikat pembaca pada pandangan pertama dan sepanjang menyelesaikan membaca. Begitu terpikatnya, pembaca baru akan berhenti membacanya pada halaman terakhir buku itu.

Daya ubah dan daya gugah banyak terkait pada isi buku. Buku dipandang bagus bila isinya mampu mengubah dan menggugah pembacanya. Ia bukan sekadar mengeluarkan pembaca dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak paham menjadi paham, namun sanggup menggerakkan jiwa pembaca, mengubah persepsi, mindset, perilaku, bahkan mengubah keputusan terpenting dalam hidup seseorang setelah membaca buku itu. Jadi, kira-kira, buku itu lalu menjadi “hidayah” karena pesannya begitu menggugah lalu ia mengubah.

Kalau boleh saya menambahkan satu lagi, bahwa buku yang bagus itu punya “daya hibur”. Orang menjadi bahagia setelah membaca sebuah buku. Nah, rasa bahagia ini pada akhirnya bisa memantik orang gemar membaca dari sebelumnya tidak suka membaca karena jiwanya terhibur.

Oh, satu lagi. Ini juga penting. Buku itu punya jodohnya sendiri. Ia akan berjodoh dengan karakter pembacanya. Seberapa pun bagus penilaian seorang pembaca pertama pada sebuah buku, belum tentu menjadi jodoh yang cocok bagi pembaca kedua sebab karakter setiap pembaca cenderung menyukai dan menilai bagus tidaknya sebuah buku berdasarkan karakternya sendiri-sendiri. Begitulah.

Dari judulnya, buku ini sudah punya satu daya dari daya-daya sebuah buku dinilai bagus oleh pembaca yang saya sebut. Karena itu, saya menantikan “Sukses Merantau Dunia Akhirat” sampai ke meja saya. 

Tahniah Irfan. 

Wisma Hijau, Ahad, 28 Januari 2024.

Senin, 22 Januari 2024

Sinyal Nisbi di Museum Mbah Maridjan

Erupsi Merapi 2010. Foto Kompas.com
Hujan

Hujan lebat menemani perjalanan wisata akhir studi tahun ini. Sejak pukul 2 dini hari, hujan sudah tumpah dari atas langit malam yang semakin kelam sepanjang bus melaju ke Goa Pindul dan Sungai Oyo. Sampai menjelang Subuh di Klaten, curahan air langit itu masih turun meski derasnya sedikit mereda.

Lagi, tiba di destinasi Gua Pindul dan Sungai Oyo, hujan rintik menyambut kami. Rupanya, cuaca mendung dan hujan menjadi takdir hari pertama wisata. Sudah hitungan belasan jam sejak dini hari, cuaca kurang bersahabat. 

Matahari sempat bersinar sejenak memberi harapan cuaca akan cerah lepas sarapan. Rasa hati jadi gembira. Namun, ia hanya sejenak saja. Beberapa saat berikutnya, matahari menarik diri lagi. Lalu, hujan kembali turun saat peserta wisata kembali tiba dari sungai dan Gua Pindul. Bahkan, curahnya makin deras beberapa menit menjelang azan Jumat berkumandang.

Hujan memang sedang diharap-harap warga sekitar Gua Pindul. Menurut informasi, hujan belum turun-turun di wilayah ini dan baru mulai turun dua hari yang lalu. Tapi, bagi kami peserta wisata, hujan menjadi yang diharap jangan.

Akan tetapi, hujan tetaplah hujan. Ia tidak butuh izin manusia kapan ia akan mencurah ke bumi dan sampai kapan ia akan bersemayam saja bermalas-malasan bersama mendung. Maka, seharian itu, tiada wisata tanpa hujan.

Saranghaeyo 

Usai makan siang di Gua Pindul, bus melaju menuju destinasi kedua; Heha Sky View Jogja. Hujan masih setia mengguyur. Saat bus baru tiba di wilayah Gunung Kidul, bus berhenti. Sebatang pohon tumbang melintang di bahu jalan. Pak sopir yang sempat melongok ke TKP mengabarkan ada dua pengendara motor tertimpa pohon. Korban segera dievakuasi petugas untuk mendapat pertolongan medis.

Di saat bus tidak bisa bergerak, dari samping kursi saya, seorang guru, masih gadis pula mengeluh. "Pak Abdul, saya pingin be a be," bisiknya dengan suara lirih.

Aduh! Dalam benak, saya meringis, "Lha, emang saya emaknya apa?"  Hihihihih. Tapi, seketika saya turut merasakan "penderitaannya" yang sangat. Tapi, apa yang bisa saya bantu untuk mencegahnya? Itu panggilan alam. Ia jatah setiap insan yang bernyawa.

"Lha, gimana, Bu? Kanan kiri hutan," kata saya seperti membujuk gadis kecil saya yang cantik; Miray Hagia Sophia supaya tidak masuk hutan di kala hujan untuk be a be. Kan, repot bila pas lagi jongkok, tiba-tiba bahu ditepuk macan yang ngomel-ngomel, "Heh, pindah, lo! Tempat tidur gue ditimbun limbah!"

Kan, berabe.

Maka, mau tidak mau, ia harus ditahan sekuat daya dan upaya. Ibu guru ini pun berjuang mati-matian meski mata sedikit berair, muka pucat, dan perasaan gelisah menahan agar bisa menunda hajat yang semakin mendesak-desak. Dia tidak ingin mengambil dua risiko, risiko dapat tepukan di bahu bila nekat be a be di hutan yang bisa saja mengancam keselamatan jiwanya gara-gara limbah, dan risiko bila akhirnya ... Ahahahahah. 

Be a be itu fenomena alamiah, seperti hujan. Dan rasanya, antara hujan dan be a be masih satu frekuensi karena sama-sama disebut air. Oleh karena itu, bila ada orang yang keseringan be a be dalam satu waktu, orang menyebutnya dia sedang "buang-buang air". Bedanya, ba a be masih bisa ditahan-tahan meski yang menahan harus mengerahkan energi karena datang di saat yang tidak diinginkan. 

Meskipun demikian, orang tidak boleh mengutuk be a be hanya karena sinyal kedatangannya melilit-lilit bukan pada saat yang tepat. Biarkan ia datang menyapa, karena di luar sana tidak sedikit orang terpaksa merogoh kocek buat membeli pencahar supaya bisa be a be. Berapa banyak pula pasien berbaring di bangsal-bangsal rumah sakit menjalani perawatan, sebab sudah berhari-hari tidak bisa be a be karena saluran feses-nya macet seperti digembok. Tapi, keseringan be a be karena saluran feses-nya dol juga bisa masuk rumah sakit.

Tips Kuno

Bila saja tidak khawatir disebut orang kolot, ingin rasanya saya berbagi tips, sebuah cara kuno mencegah be a be kepada guru ini saat itu. Ini resep nenek moyang orang kampung saya turun-temurun. Cara ini boleh jadi sudah berusia ratusan tahun. Di kalangan orang kolot, tips ini sudah teruji meskipun tidak seratus persen manjur.

Waktu kecil, seusia SD sampai SMP akhir, saya sering mempraktikkannya jika safar atau hendak bepergian jauh. Lucu juga bila mengingat kembali pengalaman itu sekarang. Ini tipsnya:

Pertama, dengan be a be sebanyak mungkin sebelum berangkat jauh. Ini cara masuk akal dan tidak bercampur unsur khurafat.

Kedua, dengan mengantongi kerikil di saku belakang. Cukup satu buah saja, jangan satu karung. Ukurannya pun jangan sebesar bola futsal, cukup yang sebesar kelereng saja.🤣

Ketiga, nah yang ini agak sedikit konyol. Bila sudah kebelet, ucapkan mantra berikut: "pala pantat, pala pantat, pala pantat". Saat mengucapkan “pala”, peganglah pantat. Saat mengucapkan “pantat”, peganglah kepala. Begitu yang diajarkan para tetua saya.

Bila khawatir dianggap orang stress saat mengucapkan mantra itu didengar orang, ucapkan saja dalam hati. Bila dirasa kurang afdol karena takut kurang manjur, cari tempat menyepi dan ucapkan mantra itu sekeras yang diinginkan.

🤣🤣🤣🤣🤣

Karena zaman yang terus berubah, semakin banyak bergaul, semakin sering ikut ngaji, dan semakin dewasa, berubah pula persepsi saya soal kerikil dan mantara "Pala Pantat" itu. Rasanya, tips primitif itu sudah tak bertuah lagi. 

"Si Jono"

Bersyukur, di hari pertama wisata, meskipun hujan, wisata di Gua Pindul dan Sungai Oyo berjalan mengasyikkan, anak-anak senang, selamat, dan pulang ke hotel dengan sukacita. Hanya saja, kunjungan ke distinasi Heha Sky View Jogja dibatalkan karena alasan cuaca yang makin tidak bersahabat. Mayoritas peserta menginginkan langsung menuju hotel untuk istirahat.

Saat di hotel, sebelum tidur, melintas di pikiran saya, pasti ada yang sedang bermenung-menung di kamar mandi  The Victoria Hotel sambil membayangkan wajah seekor macan yang mengusirnya sambil marah-marah. Hanya saja, di kamar mandi, macan itu berubah genit. Ia dengan jempol dan telunjuknya yang "buntek-buntek" memberi isyarat "saranghaeyo" pada guru itu. Haaa.

Hari kedua wisata cuaca cerah. Ada hujan saat makan siang di kaki Taman Wisata Merapi, tapi hanya sebentar saja. Setelah shalat Zuhur dan Ashar dengan jamak takdim qashar, cuaca cerah lagi. Sesekali matahari moncer dari sela-sela ngarai pelataran taman. Ini pertanda baik. Jeep Lavatour tidak dibayang-bayangi hujan.

Nah, saat makan siang di Taman Merapi ini, ada sedikit keriuhan. Beberapa monyet Merapi mengintip rombongan mengusik kenyamanan. Primata hutan ini datang dari arah atap kedai melongok-longok. Maka, pecahlah keriuhan. Beberapa siswa perempuan histeris saat sang monyet menatapnya tajam seperti hendak memeluknya karena gemes tidak diajak makan.

Seorang pendamping yang suka nenteng-nenteng kamera, dengan wajah semringah memanggil-manggil si monyet: "Bobi! Bobi! Sini!" Dalam hati saya mau ketawa, tapi takut dosa. Ini sungguh terlalu.

Akan tetapi, saya berbaik sangka. Saya tidak menyangka, si Om pendamping ini berhati mulia dengan mengajak si monyet makan siang bersamanya. Mungkin saja karena si Om kameramen ini prihatin dan turut merasakan rasa putus asa si monyet setelah membaca maklumat pengelola wisata berikut:

 
Pengumuman Larangan Memberi Makan Monyet di Taman Wisata Merapi. Foto diambil dari kamera Galaxy A12 oleh Abdul Mutaqin

Di antara yang histeris karena aksi si monyet tadi adalah guru yang masih gadis tadi. Dia bercerita lugas, mengaku masih menyimpan trauma pernah digigit "Si Jono" waktu dia kecil. "Si Jono" adalah monyet dari Aceh, milik tetangganya. Tampaknya "Si Jono" monyet agresif, lebih agresif lagi kepada para gadis semisal guru ini.

Sayang, hidup "Si Jono" berakhir pilu, katanya. "Si Jono" tutup usia ditembak Pak RT yang marah sebab monyet itu menggigit anaknya Pak RT juga. Kasihan "Si Jono". Ia ketiban sial. Kali ini, "Si Jono" telah salah orang. Ia menggigit anak pejabat. Dan, nyawanya pun berpulang ke rahmatullah di ujung bedil pejabat kampung itu.

Erupsi

Cerita tentang "Si Jono" yang nahas bersambung pada pesan di Jeep Lavatour. Saya tidak mengira akan beroleh sakralitas kesan pada Jeep Lavatour lewat jendela metafisik yang tidak kasat mata. Tentu, bukan soal naik jeep menyusuri lokus jalur awan panas sisa-sisa erupsi Merapinya, melainkan pesan kenisbian dunia yang fana. Pesan itu terurai pada dua museum erupsi.

Di sini, di Museum Petilasan Mbah Maridjan, jiwa seakan ditarik pada alam kematian menyaksikan akhir perjalanan hidup seorang Mas Penewu Sukasohargo alias Mbah Maridjan bersama 38 korban erupsi Merapi pada 26 Oktober 2010 silam. Peristiwa itu terekam dalam gambar, narasi, dan benda-benda pribadi si Mbah dengan selimut debu erupsi masih melekat.

Ada prasasti di museum ini yang mengurai kronologi erupsi dan 39 nama korban. Kronologi itu digambarkan sebagai berikut:
26 Oktober 2010 pukul 17.30 Agus Wiarto, Pak Tutur Priyanto (relawan PMI), dan Yuniawan Wahyu Nugroho (wartawan Viva News) tiba di Kinahrejo untuk memberitahu dan membujuk warga agar turun karena telah terjadi erupsi Merapi. Sejak pukul 17.02 mulai terjadi awan panas selama 9 menit. Pukul 18.00 sampai dengan pukul 18.45 terdengar suara gemuruh dari pos pengamatan gunung merapi Jrakah dan Selo. Suara dentuman sebanyak tiga kali terjadi pada pukul 18.10, pukul 18.15, dan pukul 18.25. Pada pukul 18.21 terjadi awan panas besar selama 33 menit. Dari pos pengamatan gunung Merapi Selo terlihat nyala api bersama kolom asap membumbung ke atas setinggi 1,5 km dari puncak Merapi. Sementara luncuran awan panas mengarah ke sektor barat-barat daya dan sektor selatan-tenggara.

Pukul 18.15 sirine meraung-raung ketika warga sedang salat Maghrib. Mobil Suzuki APV menjadi satu-satunya kendaraan untuk mengevakuasi warga. Pukul 18.40 karena masih banyak yang belum terangkut, maka tutur Priyanto dan Yuniawan kembali naik untuk menyelamatkan warga.

Pukul 18.50 dalam upaya menyelamatkan lebih banyak nyawa manusia, Tutur Priyanto dan Yuniawan gugur bersama terbakarnya mobil evakuasi di halaman rumah Mbah Marijan akibat terkena awan panas.
Betapa gelisah rasanya menyaksikan sisa-sisa erupsi, pada pembacaan batin atas narasi foto-foto, dan wujud benda-benda mati milik si Mbah. Semoga ia bukan peristiwa sejarah yang berulang atas kaum-kaum ingkar terdahulu yang dibinasakan Tuhan karena keingkaran mereka semisal Kaum 'Ad, Tsamud, Madyan, atau Shodom dan Gomorah. Semoga bukan!

Museum Kenisbian

Ada pusara di pendopo Museum Petilasan Mbah Maridjan. Tapi, ia bukan kuburan Mbah Maridjan, melainkan tempat Mbah Maridjan ditemukan sudah tak bernyawa dalam posisi bersujud menurut cerita pemandu. Saya tak sempat menyelisik, apakah sujud itu sujud dalam shalat, atau sujud yang lain. Boleh jadi, itu sujud kepasrahan Mbah Maridjan menyerahkan hidupnya atas kehendak Tuhan yang ikhlas dia terima. Dalam kapasitasnya sebagai "pengasuh" Merapi, Mbah Maridjan seolah lebih memilih menadah debu panas erupsi dengan sekujur tubuh ringkihnya daripada pilihan menyingkir menyelamatkan diri. Mahabenar Allah Yang Maha Hidup dengan segala firman-Nya, "Kullu nafsin dzaaiqatul maut", bahwa yang bernyawa pasti akan merasakan mati. 

Di museum ini pula, display properti perabot rumah milik Mbah Maridjan hampir memenuhi sudut-sudut museum. Semua display menyampaikan pesan bahwa Mbah Maridjan sudah mati. Sementara, benda-benda mati miliknya seperti gamelan dan properti yang kecil-kecil seperti ceret, sendok, piring, dan pecah belah perabot dapur yang lain masih "hidup" di museumnya. 

Pada museum yang lain; di Museum Mini Sisa Hartaku, tidak saja dapat disaksikan berbagai barang perabot harta benda yang rusak diterjang erupsi, tapi juga foto-foto kisah memilukan saat korban dievakuasi. Ada foto perempuan setengah melepuh yang meringis-ringis dibopong relawan. Ada foto dua ekor sapi yang masih hidup dengan luka bakar sekujur badan. Sapi nahas itu menjadi sapi panggang yang masih berdiri bernapas melenguh. 

Dua sapi ini selamat dari derita sakaratul maut erupsi, tapi sesungguhnya kondisinya lebih menderita dari sapi-sapi lain yang mati seketika tertimbun abu erupsi. Pemandu bertutur, katanya demi rasa peri kehewanan dalam timbangan pragmatis, kedua sapi itu disuntik mati agar penderitaannya yang pedih berakhir tidak terlalu pedih. Kata si pemandu juga, salahnya sapi-sapi itu tidak mau saat akan dievakuasi. Tiap kali akan dibawa turun, sapi-sapi itu berteriak; "Emooh! Emooh! Emooh!"

Dari kedua museum ini, dari peristiwa erupsi Merapi, banyak pengunjung belajar, betapa nisbi dan fana dunia ini. Dunia dan harta benda bisa punah dalam sekejap, hilang lenyap seperti tidak pernah ada sebelumnya. Lalu, sebagai bagian dari kewaspadaan tanggap bencana, beberapa waktu sudah, wilayah di mana sekarang Museum Petilasan Mbah Maridjan dan Museum Mini Sisa Hartaku berada sudah menjadi Zona Merah. Tidak ada lagi domisili penduduk karena radiusnya sangat dekat dengan Merapi. 

Bagian dari Alquran di museum Sisa Hartaku. Tampak lembaran QS. As-Shaaf mulai ayah ke-5. Foto diambil dari kamera Galaxy A12 oleh Abdul Mutaqin 

Bagi sedikit pengunjung –semoga peserta wisata rombongan saya yang menjadi sedikit itu– dua museum itu menjadi semacam “Museum Kenisbian”. Museum yang memancar dari dalamnya ibrah bahwa kapan saja dunia ini akan punah dengan kepunahan yang lebih dahsyat dari akibat erupsi Merapi.

Maka, bijak sekali pesan pada dinding semen pada Museum Mini Sisa Hartaku yang sempat saya ambil gambarnya. Di atas pesan dindingnya, berserak tulang-belulang sapi yang mati "dimakan" abu panas erupsi.

Prasasti di Museum Sisa Hartaku. Foto diambil dari kamera Galaxy A12 oleh Abdul Mutaqin

Jeep Lavatour memberi sinyal pesan tersembunyi dari sekadar plesir yang lebih tampak senda gurau daripada kontemplasinya. Semoga sinyal pesan tersembunyi itu bisa ditangkap pada setiap mata batin peserta wisata. Sebab faktanya, manusia itu suka berlagak arogan. Padahal, yang berhak arogan cuma Tuhan. Manusia hanya kulit pembungkus daging, tulang, darah, organ, kotoran, kencing, dan kentut. Ia tidak lebih perkasa dari butiran debu erupsi. Bahkan, manusia lebih nisbi dari gamelan Mbah Maridjan yang masih utuh, hidup, dan tetap nyaring ditabuh meski pernah diterjang erupsi Merapi.

The Victoria Hotel, Yogyakarta.
20 Januari 2024.