A homepage subtitle here And an awesome description here!

Jumat, 10 Maret 2023

SEPIRING RINDU GULAI PAKU


Katupek Gulai Paku. Foto Credit Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Pariaman

BILA aku kangen Bunda, aku datang ke lapak Katupek Gulai Paku, Sate Padang, atau warung Nasi Padang sekalian. Dengan cara itu aku dapat dua kepuasan; kangen yang sedikit terobati dan perut kenyang.

Pagi ini, kangen pada Bunda dan keluarga terasa kuat sekali. Ada apa, ya. Kalau sudah begini, aku cuma berharap, semoga Bunda dan Ayah sehat-sehat, anak-anak, dan sanak saudara Bunda juga sehat-sehat. Lalu, ingatan ini terbawa lagi ke Kuranji, rumah Bunda yang bersahaja.

Sambil mengantar Mikal, putri sulungku mampir ke teman kost sebelum latihan di teater kampusnya, sepintas kulihat ada warung Katupek Gulai Paku di sisi kiri jalan Kertamukti, tidak jauh dari seberang jalan depan Gedung Pascasarjana UIN Jakarta. Ah, kebetulan, pikirku. Maka, beres urusan mengantar, aku menepi.

Kali pertama aku menikmati orisinalnya Katupek Gulai Paku itu di Pasar Ateh, Bukittinggi. Aku dan seorang kawan, namanya Lukman Hakim Sidik. Waktu itu, aku dan Lukman tinggal duduk dan makan. Ayah yang traktir. Itu sarapan pagi yang sukar aku cari padanan gembiranya sampai sekarang.

Sedapnya Katupek Gulai Paku di Pasar Ateh yang aku nikmati meresap sampai ke hati. Di lidah, sedapnya kadang masih datang sendiri bila diingat lagi. Seperti pagi ini, tiba-tiba saja air liurku terbit. Ya, bagaimana tidak, sudahlah makannya ditraktir, makannya di pasar bersejarah pula kala itu.

Pasar Ateh memang bersejarah. Ia mewujud dari keringat jasa masyarakat Agam. Pada 1858 M, pemerintah kolonial Belanda mengerahkan tenaga rodi yang berasal dari Agam Tuo, Agam bagian timur untuk mendatarkan puncak tertinggi di Bukittinggi yang kemudian menjadi pasar Loih Galuang atau Pasar Ateh itu.|

AJIB, Katupek Gulai Paku di Kertamukti yang aku nikmati barusan hampir setara sedapnya dengan yang aku nikmati di Pasar Ateh. Aku tanya Uda si penjual, rupanya dia orang Pariaman.

Meski Katupek Gulai Paku merupakan makanan khas Sumatera Barat, di Kota Pariaman makanan ini termasuk urutan paling atas kuliner khas kota kabupaten ini. Kota Pariaman yang bermotto “Saiyo Sakato”, sedap Katupek Gulai Paku-nya seiya sekata dengan lidahku. Kapan waktu, ingin rasanya bisa menikmati seporsi Katupek Gulai Paku di Parit Malintang, Ibukota Kota Pariaman bersama Bunda dan Ayah. Tentu, kalau bisa bersama Pak Lukman lagi, sebab dia urusan pengadaan tiket Jakarta-Padang pulang pergi. Wkwkwkwk.

Suer, asli. Katupek Gulai Paku di Kertamukti ini sedap sekali. Aku pasti datang lagi lain waktu. Jaraknya pun tidak terlalu jauh dari tempat aku mengajar. Tinggal kontak Roni dan Sandy, kawan satu atap tempat aku mencari sesuap nasi di madrasah, gaspoll.

Pada 2017 itu, Roni dan Sandy juga ikut ke rumah Bunda. Dua orang kawan ini wajahnya pucat pasi saat mobil yang dikemudikan Ayah yang mengemudi macam Hiroshi Masuoka pereli legenda Paris-Dakar melintas di kelok Ampek Puluah Ampek. Sementara, Bunda, Adek Uti, dan Uni Santia tenang-tenang saja, seperti tak terjadi apa-apa di antara jantung tiga orang ini yang empot-empotan dan ramai macam suara bedug bertalu-talu di malam lebaran.

Aku yakin, di dalam hati, dzikir Roni dan Sandy juga tak putus-putus sepanjang kelok. Mulut Pak Lukman sendiri kulirik tak henti komat-kamit sepanjang mobil menanjak, menikung, dan menurun sebelum kami sampai di Bukittinggi. Wajah mereka baru kembali semringah saat kami sudah menikmati Puncak Lawang. Hanya aku yang tetap berusaha terlihat tenang, meskipun jantungku lebih ramai degupnya daripada degup jantungnya Roni, Sandy, dan Pak Lukman. |

Gulai paku makanan berkuah dari kaldu udang rebus yang dicampur dengan santan. Rasa gurih santan berpadu dengan pedas cabai, segarnya asam kandis, sedikit aroma dari daun jeruk purut, daun kunyit, dan batang serai yang digeprek.

Hanya saja, seporsi Katupek Gulai Paku yang aku nikmati pagi ini, kangen pada Bunda bukan malah hilang, tapi tambah merindu berat. Bermula dari kebaikan Uda si penjual yang menawarkan sebungkus Gulai pakunya untuk seorang ibu tua, seorang pengemis.

“Uda, biar gulai paku untuk si ibu saya bayar, ya.” Bisik saya, pelan-pelan.

“Tidak, Pak. Tidak usah. Saya juga mau memberi.” Si Uda membalas setengah berbisik.

Dan, aku hanya tertegun. Rindu pada Bunda, orang yang kebaikannya lestari di hatiku tak jua surut. Ia tidak luruh meski sudah aku hibur dengan seporsi gulai paku khas Pariaman.

Bunda dan Ayah, sehat-sehat, ya. Sebentar lagi Ramadhan 1444 H menjelang. Padang Jakarta terlalu jauh di pandang mata. Tapi, ia begitu dekat di hati dengan doa-doa kebaikan.

Salam sayang dari aku, istri, dan anak-anakku.

Jumat, 18 Sya’ban 1444 H/ 10 Maret 2023 M.

Jumat, 24 Februari 2023

KILAU DARI SENTIONG


Dummy Buku Republika, Sutrisno Muslimin Sang Inovator. Gambar sampul desain https://diybookcovers.com/3Dmockups/#.  

HARI ini, di lantai 11 K-LINK TOWER, Jl. Gatot Subroto No. Kav. 59 A, RT.1/RW.4, Kuningan Timur, Kecamatan Setiabudi, Kota Jakarta Selatan, “Kilau Dari Sentiong“  saya raba wujudnya. Sebagai penulis, saya puas sekali dengan tampilan cover-nya, elegan. Saya tidak ingin menyatakan bagus dan puas soal isi. Biarlah, soal itu, akan dinilai oleh pembaca saja. Sedangkan saya, cukup berhenti pada telah mengerahkan daya dan upaya estetik saat menulisnya, paragraf demi paragraf.

“Kilau Dari Sentiong“ hanya satu sub judul dari dummy buku “SUTRISNO MUSLIMIN SANG INOVATOR PENDIDIKAN, DAKWAH, DAN POLITIK”. Secara pribadi, “Kilau Dari Sentiong“ lebih mewakili perasaan saya atas buku itu. Entah, boleh jadi karena ikatan psikologis, tiga kata itu bagi saya “Pak Tris banget”.

Buku Biografi ini selesai saya tekuni dalam waktu tidak lebih dari enam bulan. Bagaimana caranya? Saya tidak ingat lagi detailnya. Yang saya ingat, Awal Februari 2022 kami bertemu, mulai menulis, dan pada Mei 2022 saya sudah menyerahkan draft dalam bentuk sekadar dummy, 527 halaman. Permintaan Pak Tris, kalau bisa buku tiga bulan selesai, sedikit meleset.

Selepas itu, ada beberapa bagian yang perlu ditambah. Cukup panjang. Menemui dan mewawancarai narasumber, mengkonfirmasi, dan merevisi beberapa bagian penting. Persis setahun ketemu Februari, Jumat hari ini, 24 Februari 2023, dummy buku hadir di K-LINK Tower, di Jakarta Bussines School (JBS), institusi pendidikan jenjang Sarjana (S1) yang menyelenggarakan program studi Digital Business, Entrepreneurship, dan International Trade. Tahulah saya, Pak Tris adalah salah seorang dari founder JBS bersama Dato H MD Radzi Bin Saleh dari Malaysia dan Dr Hamdan Zoelva SH MH.

***

Setiap buku ada jodohnya, yakni sasaran pembacanya. Masyarakat umum, dosen, guru, kepala sekolah, da’i, mahasiswa, dan pelajar saya kira menjadi segmentasi pembaca autentik buku ini. Politisi juga dapat, tapi hanya sedikit, tidak sebanyak yang saya sebut sebelumnya.

“Bagaimana buku, sudah bagus, kan?” Pak Tris menanyai saya.

Saya tidak menjawab bagus atau tidak. Karena saya merasa, sebagai penulisnya, saya cukup berhenti pada telah mengerahkan daya dan upaya estetik saat menulisnya, paragraf demi paragraf, seperti yang sudah saya singgung.

Namun, bila meminjam kriteria Bambang Trim, buku dikatakan bagus setidaknya bila memiliki tiga daya; daya pikat, daya gugah, dan daya ubah. Tentu, ia memikat, menggugah, dan mengubah sasaran pembacanya ke arah yang positif setelah menikmati tampilan cover, isi, dan pesan yang disajikan. Maka sekali lagi, buku dinilai bagus atau buruk akan lebih objektif bila datang dari pembaca, bukan dari penulisnya.

Akan tetapi, saya tidak bermaksud mendahului pembaca, buku Pak Tris ini inspiratif. Pada Prakata, ada saya menulis: Membaca perjalanan hidup Dr. Sutrisno Muslimin, M.Si., dalam buku ini bisa jadi menorehkan berupa-rupa kesan. Terlebih bagi saya—yang berkesempatan menuliskan kisah hidup tokoh muda ini secara langsung. Beribu impresi membekas di benak. Meski saya sudah mengenal Pak Tris—begitu ia biasa dipanggil—sebelumnya, namun selalu menemukan sisi lain yang baru dari beliau. Sepanjang halaman pertama buku ini ditulis sampai halaman terakhirnya dibubuhi tanda titik, kesan itu sangat kuat. Pak Tris yang dulu dengan yang sekarang, seperti jarak langit dan dasar sumur. Yang tidak berubah adalah bahwa ia tidak jemawa dengan keadaannya yang sekarang. Ia juga tidak berusaha mengubur lokus dari mana ia dahulu berasal.

***

Buku dengan durasi xviii+438 hlm.; 15,5 x 24 cm ini, nantinya diterbitkan oleh Buku Republika, (imprint Republika Penerbit). Bagi saya, poin ini cukup signifikan bersanding dengan tiga novel dan empat seri buku Kiai Kocak saya yang diterbitkan penerbit Pustaka Al Kautsar, penerbit mayor dengan tagline-nya Penerbit Buku Islam Utama, juga beberapa buku saya yang diterbitkan oleh penerbit minor. Ini seperti hadiah literasi di awal tahun 2023, sejak tiga tahun lalu saya memegang lisensi dari Lembaga Sertifikasi Profesi Penulis dan Editor Profesional, LSP PEP.

Ada Tim Pak Tris yang mengawal finishing buku ini. Nama-nama mereka saya sebut pada Prakata sebagai ungkapan terima kasih. Apalagi di sana ada Pak Irwan Kelana yang mengawal dari sisi konten. Saat dummy harus diperiksa Tim lebih teliti sebelum naik cetak, wartawan senior Republika ini membesarkan hati saya, “Afwan, koreksian mungkin lbh [lebih] pada typo dan caption foto. Kalau naskah, dari segi isi dan bahasa, menurut saya sdh [sudah] sangat bagus.”

Dummy memang dibutuhkan untuk memberi ruang perbaikan. Sambil menunggu ISBN keluar, Kata Pengantar, atau endorsement dari beberapa kalangan, Tim dan editor memang harus jeli menyelisik–jika perlu–kata per kata.

Saat membuka-buka dummy, sekilas mata saya ada menangkap orphan dan widow pada beberapa halamannya. Orphan adalah baris pembuka paragraf yang berdiri sendiri di bagian bawah halaman atau kolom, terpisah dari teks lainnya. Widow adalah baris penutup paragraf yang berdiri sendiri di bagian atas halaman atau kolom, terpisah dari teks lainnya.

Ilustrasi Orphan dan widow . Foto credit: https://thefutur.com/content/crimes-of-typography

Orphan dan widow memang bukan kesalahan fatal pada konten buku, tapi ia mengganggu keterbacaan karena persoalan tata letak. Buku yang baik dari sisi tata letak, harus terhindar dari keduanya. 

Selamat atau tidak selamat sebuah buku dari orphan dan widow, sepenuhnya ada di tangan dua peran; peran editor dan peran layouter. Maka sepatutnya, seorang editor paham tata letak, apalagi layouter. Demikian sependek yang saya tahu, saat dahulu pernah belajar literasi perbukuan kepada Bambang Trim.

Semoga masih ada cukup waktu untuk menyelamatkan buku ini dari orphan dan widow, agar dia berkilau seperti “Kilau Dari Sentiong“ .

Sebagai penulis, saya menunggu kelak buku ini diperbincangkan di berbagai forum literasi. Ia menginspirasi pembacanya karena berdaya pikat, berdaya ubah, dan berdaya gugah. 

Satu lagi, ini bisa jadi bukan sebuah kebetulan buat saya pribadi. Sejak Januari 2023, Koran Republika tidak lagi hadir di Perpustakaan Madrasah Pembangunan. Saya menikmati harian ini secara rutin sejak diposisikan sebagai Kepala UPT Perpustakaan Madrasah Pembangunan, pada Juli 2018 lalu. Per satu Maret nanti, tugas saya selesai di perpustakaan setelah sepanjang Januari-Februari tidak lagi bersua Republika. Aih, rupanya 24 Februari 2023 di K-Link itu, “Kilau Dari Sentiong“ ternyata jadi "dijodohkan" pada Republika. Wah, saya patut bersyukur.

Pak Tris, terima kasih diberi kesempatan menulis buku ini. Juga untuk Tim Pak Tris yang hebat-hebat itu, terima kasih.  

Salam literasi.

Minggu, 19 Februari 2023

Sepeda

SAYA suka sekali mengajak bercanda, berpikir, dan mencerna wacana dan gerakan Islam Liberal melalui narasi. Tentu, dengan kapasitas dan daya saya yang terbatas. Ya, sekelas remah-remah, lah. Belum sampai master, apalagi selevel doktor.


Dahulu, saya pernah menerbitkan novel berjudul “Jalan Islam Badrun Maria”. Novel ini berkisah tentang kehidupan asmara anak muda liberal, pejuang toleransi, pengagum feminisme, dan suka mencela orang sebagai penganut Islam radikal hanya karena orang itu tidak bersedia mengucapkan selamat natal karena alasan teologis. Novel terbit sangat terbatas dan hanya kalangan tertentu yang sudah membaca. Lalu, file naskahnya terlupa, mungkin terlalu rapi disimpan, tak tahu hendak dicari di mana.

Awal Februari kemarin, file itu ketemu, terselip di antara tumpukan file penting saat iseng bongkar-bongkar dokumen. Senangnya seperti menemukan kembali unta merah yang hilang yang membawa perbekalan air di tengah gurun. Saatnya menyediakan waktu, menikmati kembali cerita Badrun Maria.

Aih, banyak yang membuat tersenyum mendapati kalimat tidak efektif, banyak lubang cerita menganga, alur yang datar, dan konflik yang kurang tajam setelah dibaca ulang dengan segenap perasaan. Beberapa bagian harus pula direvisi, dibuang yang kurang relevan, dan ditambah informasi baru untuk mempertajam konflik ideologi dan isu pemurtadan, ide pokok novel ini.

Setengah dari sekitar 400-an halaman naskah sudah selesai disentuh ulang. Cerita lebih mengalir, natural, logis, dan bangunan plot yang kompleks dengan alur maju mundur.

Lalu saya berpikir, naskah ini lebih cocok diberi judul "Liberal Ditinggalin Pacar" saja, mengikat Si tokoh utama yang berpendapat bahwa murtad bukanlah dosa, melainkan proses menemukan kesadaran baru, akhirnya remuk redam karena pacarnya--Maria-- diambil orang dan dipaksa murtad. Sakitnya tuh di sini, kira-kira begitu, sekadar meresume suasana hati tokoh utama novel ini.

Banyak booster saat proses menghaluskan naskah, yaitu kehadiran sosok evangelis Yusuf Manubulu, dan dua pendeta murtadin Saifuddin Ibrahim, dan Muhammad Kace pada channel YouTube mereka masing-masing. Sudah hampir setahun lebih saya mengikuti narasi-narasi mereka soal kekristenan yang bertujuan menjatuhkan Islam.

***

KARENA asyik ada waktu luang pada Sabtu kemarin 18 Februari 2023, tepat pada acara puncak HUT ke-49 Madrasah Pembangunan, saya menunda pulang cepat. Apalagi, di atas panggung masih ada doorprize yang sengaja disimpan panitia di penghujung pesta.

Bila ide sudah mentok, balik ke depan menyimak kalau-kalau nama saya dipanggil naik ke panggung. Ya, biar pun tidak dapat doorprize yang gede, masa sekadar hadiah hiburan tidak dapat. Namun, sampai menjelang zuhur, memang tidak terdengar nama saya disebut-sebut. Apes ini.

Ah, sudahlah, balik lagi ke laptop saja. Tenggelam lagi membaca romantika cinta Badrun-Maria. Saya lupakan doorprize. Barangkali, memang belum jodoh pulang bawa hadiah sambil tetap ngarep. Mungkin tahun depan.

Sampai pada Bab 17 setelah zuhur, saya berhenti. Bukan karena tidak ada ide, tapi ide itu diganggu doorprize. Doorprize lagi, doorprize lagi. Saya sudahi menulis, lalu keluar, duduk bersanding dengan Pak Roni di depan perpustakaan. Saya lihat wajah Pak Roni semringah. O, iya, pantas. Dia baru dapat tiket naik haji dari Sekolah; Calon Haji Saroni. Alhamdulillah. Mabruk alfa mabruk, Pak.

Ustaz Endang Purwanto datang melintas.

“Dapat, doorprize apa, Kiai?” Begitu ustaz serba bisa ini bertanya. Ustaz Endang ini di antara orang “rese” yang memanggil saya dengan panggilan “Kiai”.

“Doa antum buat saya kagak makbul. Nama saya kagak kedengeran dari tadi.” Saya menimpali.

“Lah, doa buat diri sendiri aja kagak makbul, apalagi doa buat Kiai.”

Haaaa.

Tapi, beberapa menit kemudian, nama Ustaz Endang malah dipanggil. Dia berhak mendapat alat buat ngepel, apa itu namanya saya kurang memperhatikan. Berarti, doa Ustaz Endang makbul nih, pikir saya. Ada harapan ini.

Usai Ustaz Endang nyanyi “Sakit Gigi” dan disawer pula dia, dua nama berturut-turut dipanggil naik ke panggung. Nama saya masih juga tidak disebut. Harapan tipis. Tenggorokan sudah makin kering. Mana duit dan kupon belanja sudah habis. Ngapain lagi, nih.

***

MUNGKIN ada benarnya ­ucapan Albert Einstein, bahwa kehidupan itu ­seperti naik sepeda. Untuk menjaga ­keseimbangan, orang harus tetap terus bergerak. “Life is like riding a ­bicycle. To keep your balance, you must keep ­moving.”

Terbukti ucapan Einstein benar. Karena saya bergerak terus, masuk perpustakaan, duduk, mengetik, bangkit lagi dari kursi, keluar perpustakaan lagi, duduk di samping Pak Roni, ngarep-ngarep lagi, begitu terus keep ­moving alias ajag-ijig kagak bisa diem.

Akhirnya, pukul 12.47, malaikat Mikail “turun” juga memberi rezeki. Nama saya dipanggil buat naik panggung untuk menerima satu unit sepeda dari BJB. Dalam hati saya bergumam, “Alhamdulillah, untung Ustaz Endang duluan yang dipanggil. Terima kasih, Ustaz. Hahaha.”

Maka saya berkesimpulan, tips untuk mendapat doorprize sepeda, amalkanlah petuah Albert Einstein; Keep ­moving. Ajag ijig!

Oh, Allah di misericordia, alhamdulillah.

Salam literasi.

Kamis, 16 Februari 2023

The Right Man in The Right Place

Ilustrasi milik: https://id.depositphotos.com/stock-photos/rekomendasi.html

Seorang penulis memang ‘nakal’. Dia sering mengganggu tidur, istirahat, kesenangan, atau bahkan mengganggu proses ‘melahirkan’ alias buang air orang lain lewat tulisannya. Baik karena terkesan atau terusik karena tulisan itu, keduanya sama saja; mengganggu.

Seorang penulis, apalagi bukan penulis kaleng-kaleng, kadang ia terlalu bandel. Ia tidak peduli pada risiko. Sepanjang apa yang ditulisnya itu persoalan substantif, objektif, dan fair, risiko bukan perkara yang ia takutkan. Seorang Bambang Tri Mulyono bahkan kelewat bandel dengan menulis buku "Jokowi Undercover" yang menggugat keaslian ijazah Presiden Jokowi. Ini bukan lagi bandel, tapi “gila”!

***

Tulisan saya: ”Honor And Respect”, rupanya ada juga mengusik orang. Aduh, jadi kasihan. Padahal, itu tulisan ringan sekali. Isinya hanya refleksi sekadar, otokritik biasa. Bila ditakar, isinya tidak sepadat isi perut ‘tahu isi’. Akan tetapi, rasanya seperti sepedas tahu jeletot di hati yang terusik.

Konon katanya, ”Honor And Respect” akan dibawa dan diangkat dalam Rapim di Yayasan yang menaungi lembaga di mana saya mengajar. Ada embel-embel, ”Honor And Respect” jadi pertimbangan saya tidak direkomendasikan untuk posisi Kepala UPT Perpustakaan.

Emang penting bagi saya? Nggak juga.

Maksud saya, sebelum jadi Kepala UPT periode empat tahun kemarin, saya tidak meminta-minta jabatan apa pun. Menjadi Kepala UPT. Perpustakaan Madrasah Pembangunan, pun bukan hasil ‘lobi politik’. Itu ‘ngemis’ namanya. Yang ada, saya dipanggil, diajak bicara, lalu diberi amanah untuk duduk di perpustakaan mengembangkan literasi menulis. Karena literasi menulis adalah tema ‘seksi’ buat saya, tergodalah hati ini. Setelah tiga hari berlalu, waktu yang saya minta untuk menimbang, saya terima tawaran itu. Maka, berang-berang naik pangkat, berangkaaat!

Hari ini, amanah sudah saya tunaikan. Februari 2023 ini, menjadi hari-hari terakhir bagi saya menyumbangkan ide, gagasan, dan karya pengembangan literasi menulis di Madrasah Pembangunan melalui pintu perpustakaan. Peluncuran “Amieru” dan “Chekhov's Gun”, dua karya fiksi ilmiah pertama peserta didik MTs Pembangunan menjadi penutup program literasi saya.

Adapun soal tidak direkomendasikan untuk mengurus perpustakaan lagi karena ”Honor And Respect”, otokritik saya pada acara peluncuran “Amieru” dan “Chekhov's Gun”, apa saya harus nangis bombay? 

***

Seorang leader adalah orang yang paling tahu kekuatan dan kelemahan lembaga yang dipimpinnya. Di samping itu, dia punya visi dan misi yang bisa diterjemahkan pada tataran aksi saat dia bekerja. Daya kreasi dan inovasinya hidup, kedewasaannya menonjol, kemampuan literasinya di atas kebanyakan orang, dan managerial skill dalam prinsip the right man in the right place-nya presisi. Masih banyak lagi. Tidak apa tidak semua kompetensi memimpin dikuasai, asalkan jangan menunjukkan gelagat leader bingung yang tidak tahu harus melakukan apa.

Jadi, sederhana sekali memahami filosofi rekomendasi itu, sesederhana memahami orang yang pandai memasak diberi tugas sebagai koki. Jadi, sekali lagi, bila tidak diberi rekomendasi, itu artinya dipandang tidak cocok ada di situ. Kalau dipandang tidak cocok ada di situ, masa mau maksa tetap nongkrong di situ sambil berharap-harap dikasihani? Mending bangun, berdiri, dan tetap berkarya sesuai passion.

***

Sepanjang menjadi Kepala UPT Perpustakaan, saya bekerja dibantu pustakawan literat, difasilitasi para pimpinan literat, dan didukung mitra gerakan literasi yang konsisten. Lahirlah Pengantin Fort van der Capellen dan Tarawih Terakhir yang mulai saya tulis pada 2017, rampung dan diterbitkan pada 2021. Tahun sebelumnya, pada 2019 Fiksi 8 Jam menjadi buku kenangan yang saya tulis saat membuka dan mengisi Kelas Menulis Fiksi Perpustakaan. Sepanjang mengisi kelas menulis itu, saya juga menulis. Maka, saat peserta kelas menulis melahirkan antologi Melankolia Sepasang Sepatu, diam-diam saya pun melahirkan Fiksi 8 Jam. 


Dua buku lagi, Refleksi dan Alfanumerik menjadi karya saya paling mutakhir selama menjadi Kepala UPT yang terbit pada awal 2023. Sejak mula hingga akhir paragraf dua buku ini ditulis di antara ribuan koleksi perpustakaan MP UIN Jakarta selepas tugas mengajar, di sela istirahat, atau menunda pulang cepat hanya untuk mengikat ide agar tidak kemana-mana.

Karena itu, menjadi atau tidak menjadi apa pun, tetap menulis.

Salam literasi.


Minggu, 05 Februari 2023

Honor And Respect

 



Amieru dan Chekhov's Gun, dua karya fiksi ilmiah pertama peserta didik MTs Pembangunan disambut antusias saat peluncuran pada Literacy Day HUT ke-49 Madrasah Pembangunan UIN Jakarta. Tentu, yang paling antusias adalah para penulis. Rona bahagia tampak dari wajah mereka yang berseri-seri.

Demikian pula orang tua yang mendampingi para penulis. Ayah dari salah seorang penulis, bahkan sempat menitip pesan sebelum pulang agar ia dikabari apabila ada even serupa yang digelar Madrasah Pembangunan meskipun putrinya yang menulis Amieru saat ini sudah bukan lagi peserta didik MTs Pembangunan UIN Jakarta. Sebuah pesan apresiatif dari "orang luar" yang amat mengesankan.

Termasuk yang turut bahagia dan merasa even ini amat berharga adalah alumni para penulis novel dan antologi sebelumnya; Lukisan Ellisa, Standing Next to You, The Batavian, Bayang-Bayang Field Trip, Let' Explore Our Talents, Mata Pribumi, Kala Mentari Terbit, Gadget Yang Terlupa, dan Hezbollah. Juga alumni guru penulis Perpustakaan; Melankolia Sepasang Sepatu dan All About MP.

Panitia secara pribadi menerima beberapa pesan WA melalui sekretaris panitia dari orang tua alumni penulis. Isinya sangat mengharukan. Mereka bahagia masih dikenang bahkan diundang secara khusus menghadiri acara peluncuran karya adik kelas mereka. Sebagai ketua penyelenggara, saya pribadi tidak menyangka, undangan yang saya anggap hal biasa, tapi dimaknai sebagai sebuah penghormatan dari Madrasah. Ini penting sebagai bahan refleksi.

Seorang alumni penulis antologi yang lain merasa tidak beruntung karena masih berada di luar negeri dan tengah mempersiapkan Ujian Akhir Semester. Ia merajuk, diundur saja acara peluncuran Amieru dan Chekhov's sampai ia rampung ujian, liburan, dan pulang ke Indonesia. 🤣

Meskipun disampaikan dengan bercanda rajukan itu, tapi emosi kebanggaan bahwa ia masih diingat sebagai peserta didik yang dahulu meninggalkan legacy literasi menulis saat di MTs, masih menyala-nyala. Terima kasih telah menempatkan rasa hormat untuk dirimu sendiri, guys.

Emosi yang menyala itu cukup menghangatkan. Sahibul bait dari MTs saja yang notabene ini merupakan selebrasi peserta didik mereka sendiri boleh saya nilai menganggap dingin, sedingin sayur kemarin pagi acara ini. Begitulah faktanya.

Akan tetapi, siapa yang peduli? Saya pun tidak. Sedingin salju pun sikap itu, bagi saya tak penting. Bodo amat, emang gua pikirin? Begitu kalau dibahasakan ekspresi bodo amatnya orang Depok.

Di balik itu, saya merasakan kerisauan serius dari salah seorang Direktur Yayasan yang hadir. Bahkan, beliau menyatakan dalam testimoninya harus membatalkan hadir pada acara kajian rutin pada agenda lain hanya untuk menghadiri acara literasi ini. 

Bagi panitia, kehadiran dan apa yang beliau sampaikan adalah honor and respect kepada para penulis, narasumber, dan para undangan, bukan kepada panitia. Sekali lagi bukan, sebab gelaran acara ini memang honor and respect seluruhnya untuk para penulis. Amat pantas diterima para penulis yang masih anak-anak dengan kecerdasan linguistik itu di tengah miskinnya karya literasi, baik karya fiksi maupun nonfiksi tulisan guru-guru mereka sendiri.

Jadi, bisa dimaklum saat Direktur melihat banyak kursi kosong dan menanyakan mana perwakilan siswa dan guru MTs dengan wajah sedikit disenyum-senyumkan pada saya. Tapi, apa mau dikata, saya pun tidak bisa menjawab kecuali mengangguk dengan bibir saya senyum-senyumkan pula.

Tapi kemudian saya kaget, acara belum lagi usai, seorang pimpinan menunjukkan WA berbunyi;

"Ini gambaran kegiatan yg penting, mem[n]ghadirkan narasumber penting tp kita tdk bisa menghadirkan peserta yg ms[a]ksimal sehingga banyak kursi kosong....ingat ini nama baik lembaga".

Sebuah ekspresi yang menampar ulu hati.

Selamat kepada para penulis dan salam literasi.


Jumat, 13 Januari 2023

KIAI "KEPEPET"



Aku dan Kiai Mukhson

Mimpi apa aku semalam. Tiba-tiba didatangi “Kiai Nyentrik” dari Merauke. Bertopi ala anak muda, bercelana jeans, mengenakan kaos coklat yang gambarnya ramai sekali. Tapi, dia Kiai, Kiai Besar yang punya kharisma di tanah Papua.

Waktu kuliah, aku memanggilnya “Mukhson”. Sekarang, aku tidak berani memanggil namanya saja, aku takut kualat. Maka sekarang, aku memanggilnya “Kiai Mukhson”. Memang, dia amat pantas dipanggil dengan gelar itu. Di Merauke, santri yang ngaji padanya sekelas Dandim, Korem, pejabat daerah, dan orang-orang penting di pemerintahan. Ini baru sebagian kecil yang yang aku koleksi dari ceritanya Rabu kemarin, pada 11 Januari 2023.

Kami mengobrol santai ngalor ngidul dengan topik renyah. Pasti, dan selalu begitu. Di antara topik obrolan adalah masa lalu kami. Tentang teman sekelas, satu persatu kami sebut. Tentang teman sekelas yang perempuan, yang di sana ada "getaran" ketika namanya kami sebut. Halagh! Pokoknya, asyik.|

Aku rasa, Kiai Mukhson tidak terlalu memperhatikan. Rabu kemarin itu, dia sedang mengobrol dengan kawannya yang sekarang, bukan yang dahulu yang belum melek literasi menulis. Sekarang, semut kentut saja bisa jadi tulisan. Apalagi seorang Kiai Besar dengan kisahnya yang sangat menarik, unik, dan menghibur.

Setiap kata Kiai Mukhson dari kisah hidupnya yang dia ceritakan, aku catat baik-baik. Lha, sayang toh jika dilewatkan begitu saja. Lagi pula, belum tentu ada kesempatan lagi dia berkunjung. Maka, hari itu, aku bahagia sekali menerimanya di kantor.

Nah, ini. Kiai Mukhson duduk di kursi kerjaku. Duduknya rileks sambil mengobrol dan tertawa lepas. Sepanjang aku duduk di kursi itu sebagai Kepala UPT Perpustakaan Madrasah Pembangunan, belum pernah aku sebahagia ini kursiku diduduki tamu. Mengapa? Aku berharap berkahnya, berkah dari bottom seorang Kiai Besar. Haaaaaaa.|

Allah sudah memilih Mukhson untuk jadi Kiai di Merauke. Itu takdir, siapa yang bisa protes meskipun dengan rendah hati dia mengelak, “Karena kepepet! Hahahahaha." Kiai Mukhson tergelak. Aku juga tergelak.

Tapi, kepepet jadi Kiai itu tetap saja berkah, bukan?

Kata Kiai Mukhson, di Merauke, figur kiai itu solusi dari semua problem umat. Orang sakit perut larinya, ke Kiai. Urusan pacar, larinya ke Kia. Ekonominya seret larinya ya, ke Kiai. Semuanya larinya ke Kiai. 

Barangkali, meski tidak dikatakan secara langsung, Kiai Mukhson sudah sampai pada puncak maqom solusi segala persoalan orang Merauke. Hahahaha, mantap!|

Ada satu cerita Kiai Mukhson kemarin yang menurutku sakral. Namun sebegitu sakralnya, cerita itu dikemasnya jenaka. Begini ceritanya;

Kiai Mukhson pernah diminta oleh anak orang NTT muslim. Ayahnya sedang sakit. Dia sangat ingin bertemu Kiai Mukhson di saat sakitnya. Kiai Mukhson datang menjenguk memenuhi harapan orang itu. Sesampainya di rumah orang itu, tangan Kiai Mukhson dipegangnya erat-erat, lalu dicium takzim sekali. Begitulah, tangan Kiai memang selalu diburu untuk dicium.

“Pokoknya nanti kalau saya mati, saya mau ikut Pak Yai. Nanti kalau saya masuk sorga bersama Pak Yai,” kata orang itu. Pak Ana namanya.

Kiai Mukhson mengaku hanya menjawab iya iya doang. Hahahahaha.

Tapi, Kiai Mukhson akhirnya memberi juga nasihat singkat. Biasa lah, Kiai memang punya tugas memberi nasihat, toh?

“Begini saja Pak Ana. Mudah-mudahan, Pak Ana dan saya dapat syafaat dari kanjeng Nabi sehingga kita bisa masuk sorga bareng. Kita baca shalawat, ya. Nanti Pak Ana lanjutkan dalam hati,” uja Kiai Mukhson. “Nanti minum air dari saya, ya Pak Ana,” lanjut Kiai Mukhson.

Pak Ana lalu meminum air dari Kiai Mukhson yang sudah dilafazkan doa-doa. Setelah minum air dari Kiai Mukhson, Pak Ana mengucap, “Alloohu Akbar” lalu tutup usia, mati.

Kiai Mukhson mengaku menangis. Menangis karena merasa terlalu berani mengajak masuk sorga Pak Ana yang jelas secara kasat mata menutup akhir hayatnya dengan kalimat thayyibah. Sedangkan Kiai Mukhson mengaku, dia masih belum tahu akhir hayatnya bagaimana.

Lalu,  aku iseng tanya, “Itu doa apa yang dibaca untuk air minum Pak Ana, Mas?”

“Ya, sedoa-doanya!”

Hahahahahahaah. Dassar!|

Ada satu kalimat pesan Kiai Mukhson padaku yang rasanya berat untuk aku cerna. Kalimatnya berbau tasawuf tingkat tinggi. ”Kau sadar bahwa kau makhluk, kau bukan Tuhan, selesai.”

Satu saat, jika ada waktu lagi kesempatan bertemu, aku ingin ngaji soal ini. Nasihat di atas adalah label bahwa Kiai Mukhson memang Kiai Besar, bukan ”Kiai Kepepet” seperti pengakuannya.

Semoga bisa berjumpa lagi, Kiai. Sehat selalu, dan I hope you will be more successful in Merauke. Aamiin.

Depok, menjelang tidur, 13 Januari 2023.

Sabtu, 10 Desember 2022

BUKAN SALAH SI BAWANG MERAH

 

Legenda Si Bawang Merah Bawang Putih. Picture Credit Lhimpape


Hati-hati dengan Bu Inggrid!" Delinda mendengus.

Aku bengong. Keningku berkerut.

"Dia itu, orangnya begini-begitu!" Delinda mengatakannya lagi dengan nada ditekan.

Itu hari yang sial buatku.

Aku Skandinavi. Ya, Skandinavi namaku. Guru baru di sekolah megah ini.

Oh iya, soal namaku, nanti aku kasih tahu. Aku sedang tidak mood menjelaskannya. Hatiku sedang berusaha direbut orang. Otakku sedang menimbang. Jadi, aku yang seakan bergemuruh ketika menjelaskan namaku, aku sedang sangat tidak berselera sekarang.

Sebagai orang baru, aku belum juga tahu Inggrid yang mana. “Emangnya kenapa?” Kataku dalam hati. Apakah dia tukang jagal, jawara senior, atau pemakan daging orang sehingga aku di-warning harus hati-hati. Je ne sais pas!

"Eliana!" Aku memekik dalam hati.

Eliana teman yang baik. Delapan tahun lalu, ia merajuk. “Jangan resign Skandi! Di mana pun kamu bekerja, kamu akan menjumpai tipe orang yang sama sampai kamu tidak mendapatkan tempat lagi di mana kamu akan berkarier!”

Bah! Eliana. Aku heran, apakah gadis jangkung dengan kaca mata besar itu seorang peramal? Ini kali kelima aku mendapati kebenaran kata-katanya.

Sudah empat kali aku hengkang dari perusahaan tempatku bekerja. Aku berpikir, aku pasti menemukan tempat baru untuk membangun karier yang nyaman. Maksudku, suasana kerja yang sehat. So, tidak ada senior berwatak "Si Bawang Merah" yang menjual propaganda menjatuhkan sesama karyawan.

Empat kali tidak betah di perusahaan, mendorongku “hijrah” menjadi guru. Dengan pertimbangan sederhana, di sana aku yakin akan bertemu orang-orang bijak. Bukankah guru adalah orang-orang yang kaya akan wisdom?

Aku memang bukan guru formal. Aku tertarik dengan tawaran mengajar ekskul Creative Writing. Tapi, soal wisdom itu, aku ingin belajar dari mereka para guru. Bolehlah aku sebut, "sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui". Sambil mengajar, dapat gaji, dapat wisdom.|


"Aku tidak bisa, Eliana."

"Terus?"

"Aku resign."

"Hanya karena Besty kamu resign?"

"Besty hanya puncak gunung es."

Aku sodorkan surat pengunduran diriku. Eliana bengong, dikiranya aku main-main.

Eliana menahanku. Dikatakannya, posisiku sekarang sedang dipertimbangkan untuk mendapat promosi. Bila aku resign, terlalu mahal harganya. Aku dibujuk lagi, di tempat baru, aku harus melewati masa yang panjang untuk mendapat promosi seperti promosi yang sudah di depan mataku, kata Eliana lagi.

"Tidak, Eliana. Menghindar dari Besty bukan soal promosi jabatan, tapi soal kebahagiaan."

"Ok, Skandi yang keras kepala. Semoga tidak ketemu "Si Bawang Merah" sampai kiamat!"

"Thank's, Eliana."

Eliana memelukku. Ia melepasku pergi meski dengan wajah tidak puas.|

Di perusahaan dahulu aku bekerja, "Si Bawang Merah"-nya matre dan hedon. Paha dan bagian dadanya sedikit terbuka. Itu karena perusahaan memasang standar pakaian ketat, ujung rok harus sejengkal di atas lutut, dan "harus seksi". Ini tidak bisa ditawar-tawar. Termasuk aku. 

Semua hal diukur dengan uang dan barang-barang branded. Tempat hang out paling sopan mereka di cafe-cafe. Selebihnya, ah, tidaklah patut aku sebut. 

Jangan tanya mereka tentang shalat, puasa, atau baca Quran. Meskipun pada KTP Agama-nya Islam, tapi pola hidup mereka tidak ada bedanya dengan orang ateis. 

Di kantor, boro-boro ada pengajian, perayaan hari-hari besar agama, atau divisi rohis yang memfasilitasi urusan ibadah karyawan. Yang ada selebrasi ulang tahun, Valentine's Day, atau perayaan pergantian tahun dengan menyewa villa. Malam tahun baru dihabiskan dengan kembang api, alkohol, dan lalu sesama karyawan laki-laki dan perempuan —sorry, ini terlalu menjijikkan untuk aku sebut— layaknya suami-istri.

Jiwa mereka gersang meranggas karena tidak pernah mendapat siraman rohani dan mencicipi manisnya ibadah serta lembutnya sentuhan Al-Quran. Wajah mereka cantik oleh polesan make up menor, tapi tidak pernah dibasuh sejuk air wudhu. Tubuh molek mereka tidak pernah dibalut mukena untuk khusyuk shalat Duha tiap kali akan memulai bekerja di meja masing-masing. Mengertilah aku. Pantas saja bila jiwa-jiwa "Si Bawang Merah" tumbuh subur mengelilingiku di sana.

Uniknya, pas terjadi gempa, saat ruang kerja mereka bergoyang, mulut-mulut mereka ramai menyebut nama Tuhan seraya meminta perlindungan. Mendadak ada yang mengaji meskipun dengan makhraj yang ngawur. Mengumandangkan azan meskipun keseharian panggilan agung itu dicuekin. Dan banyak lagi bacaan-bacaan yang mencerminkan mereka takut mati, bukan karena mengagungkan Tuhan yang sebenarnya enggan mereka sembah.|

Gila! Ini gila! "Si Bawang Merah" di tempat baru beberapa bulan aku mengajar sukar aku terjemahkan. Mereka rutin mengikuti kajian agama, duhanya tak putus sepanjang pagi sebelum mengajar, tilawahnya bersambung khatam, dan rutin ikut perayaan hari-hari besar agama.

Ungkapan "alhamdulillah", "jazakumullah", "subhanallah", "masya Allah" atau ungkapan-ungkapan kaum agamis tidak pernah sepi, baik dalam obrolan keseharian atau conversation-conversation mereka di grup WA.

Kurang apa lagi?

Tapi, mengapa jiwa "Si Bawang Merah" masih bisa berhasil masuk di sini? Apakah nilai-nilai agama hanya sekadar formalitas? Atau, apa karena level kesaktian "Si Bawang Merah"-nya sudah sampai pada maqam tertinggi?|

Inggrid tidak seseram yang aku kira, tidak seperti narasi miring Delinda. Secara kasat mata, Inggrid itu cerdas, terbuka, pembelajar, dan ini, memang ia kritis. Kritiknya bukan asal ngomong, tapi bernas. Memang, siapa pun orang berotak cupet yang berhadapan dengan Inggrid, kritik Inggrid bikin gerah dan dipersepsi sebagai ingin menjatuhkan orang.

Inggrid bukan guru ABS (Asal Bapak Senang). Harga dirinya terlalu tinggi. Ia tabu memuji-muji top leader, tapi ujungnya berharap-harap imbalan surat tugas ini itu. Inggrid tak pandai bertanam tebu di bibir, apalagi menjatuhkan reputasinya dengan barter urusan dapur.

Sekarang aku mengerti, Inggrid memilih jalannya sendiri. Poin ini bisa jadi yang dipandang Delinda sebagai “begini-begitu”.

Jika kali ini aku mengabaikan Eliana lagi, berarti ini kali kelima aku resign dengan sebab yang sama. Tapi, aku ngeri. Di sini, “Si Bawang Merah”-nya rajin ibadah, beda dengan "Si Bawang Merah" di perusahaan-perusahaan dahulu aku hengkang.

Sebaiknya, aku buru-buru resign. Tapi, ini bukan karena alasan "Si Bawang Merah". Bukan. Ini salahku sendiri yang tidak bahagia berdekatan dengan "Si Bawang Merah".

Aku memutuskan berbisnis saja selepas jadi guru. Tapi lagi-lagi aku sial.

“Asyem! Pelangganku banyak “Si Bawang Merah”!|


Ibuku hamil sebulan setelah pulang dari Norwegia mengikuti ayahku tugas di sana. Ibuku menduga, kehamilannya terjadi saat Norwegia memasuki akhir tahun, di mana malam-malam berlangsung sepanjang hari. Hahaha, kalian pasti paham maksudku, kan? Belum ya?

Tujuh bulan kemudian, Ibuku harus balik lagi ke Skandinavia mendampingi ayahku menggarap proyek pendidikan di Finlandia. Nah, di Finlandia aku lahir. Dan ayahku, memberiku nama bayi mungilnya: Ayesha Skandinavi Layalin.|