A homepage subtitle here And an awesome description here!

Jumat, 17 Maret 2023

DOA UNTUK SAHABAT LITERAT

 

Tempat tidur pasien. Foto credit https://www.istockphoto.com

SAYA mengenalnya sejak kali pertama mengajar di Madrasah Pembangunan, pada 2005. Perawakannya kekar, berkumis tebal, hitam manis, dan suka humor. Senyummya khas. Saya rasa, senyumnya itu jadi daya tariknya yang memesona. Jarang orang yang punya senyum seperti dia. Ya, saya sedang bermain deskripsi seorang Rusli Ishaq. Saya memanggilnya Pak Rusli.

Pak Rusli guru karier yang yang memuncak di Madrasah Pembangunan (MP). Guru ekonomi ini pernah menjadi Kepala MTs, Kepala UPT Perpustakaan, dan Wakil Direktur pada periode Pak Dr. Ahmad sofyan, MA. Tentu, menjadi Wali Kelas pastilah ia lewati juga di MP.

Gaya bicaranya kadang ceplas-ceplos. Asyik diajak dan mengajak bercanda. Meski dalam beberapa sisi Pak Rusli tegas sekali, tapi ia tidak kehilangan sense of humor-nya. Sisi kritisnya juga kuat, menandakan ia orang yang suka berpikir dan mampu menyampaikan gagasan pemikirannya di ranah publik warga MP.

Ia juga literat, sebab banyak bersinggungan dengan dunia literasi perbukuan dan jurnalisme di MP. Menurut cerita Pak Dani, Pak Rusli termasuk yang menyemai dan membesarkan Al Ashri, majalah madrasah yang sempat ia perkenalkan ke seluruh Indonesia melalui pintu Departemen Agama bersama Pak Dani.

Di sinilah kesan pribadi saya melekat pada sosoknya di samping kumis dan senyumnya yang khas itu. Bahkan harus saya akui, karier menulis saya dimulai dari Pak Rusli saat dahulu diajak terlibat projek menulis buku Alquran Hadits untuk kelas 9. Saya lupa itu tahun berapa.

Dapat uang jutaan untuk penulis pemula waktu itu sesuatu banget. Tentu, pengalaman menulis pada kali pertama itu, dapat uang, dan buku diterbitkan meskipun dengan kontrak "Jual putus" itu mewah sekali. Memang, menikmati royaltinya hanya sekali, tapi royalti pengalamannya tetap saya nikmati sampai hari ini. Dan, ini yang mahal, tak cukup berapa pun harga untuk dikonversi.

Kalau boleh, saya mengadu, Pak. Di sini, bukan tadi saat menjengukmu tergolek lemah di bangsal rumah sakit karena saya tak sanggup berucap banyak. Saya ingin katakan, bahwa pengalaman menulis saya yang Pak Rusli semai, masih saya hidupsuburkan. Jemari saya belum berhenti menulis, menulis apa saja yang sekira saya bisa meghibur hati saya di kala penat. Syukur-syukur bila tulisan saya bisa membuat orang bahagia karena terhibur. Hilang pula penat mereka walau sesaat. Tentu, saya jadi bahagia karena tulisan saya jadi obat dan membahagiakan orang.|

HARI ini saat menjenguk, rasa hati tertusuk. Ustadz Mardi yang mengabari keadaannya usai Jum'atan sebelum menjenguk, hati sudah lebih dahulu tertusuk. Tusukan itu mengurai titik embun di pelupuk saat saya menyapa dan memberinya semangat. Sisanya hanya doa-doa lirih semoga ia segera pulih.

Perasaan saya tak nyaman menggambarkan keadaan detail Pak Rusli di sini. Biarlah itu akan jadi milik saya pribadi yang terus memantik doa- doa kebaikan untuknya sampai ia benar benar pulih dan kami bisa bercanda lagi.

Hanya saja, menyeruak juga rona bahagia dari wajah kami di antara masygul yang bergumul-gumul. Pak Rusli masih menyisakan ruang canda yang membuat saya, Pak Sandy, dan Pak Rudi tertawa lebar. Sense of humor-nya masih segar bugar. Ia tersenyum lebar, senyum khas miliknya di kala ia masih sehat. Semoga ini pertanda baik Pak Rusli akan kembali sehat seperti sedia kala. Aamiin.|

"Pak Abdul harus sehat terus, ya. Enggak enak di sini."

Dada rasanya tersedak mendengar pesan Pak Rusli ini. Meski disampaikan dengan suara yang nyaris tenggelam di dasar tenggorokannya karena sakit yang ia tahan, tapi pesan itu jelas di permukaan telinga saya. Hanya sanggup mengangguk sambil  menggenggam erat tangannya yang terbelit selang.

Pikiran pun mengembara ke mana-mana  sampai ke ujung insaf, bahwa manusia, siapa pun dia, tidak selamanya sehat. Manusia tidak selamanya bersuka cita dengan tubuh yang bugar, pikiran yang bahagia, dan jiwa yang segar. Adakalanya, satu waktu, fisik dan jiwa manusia layu karena penyakit.

Sebaliknya, yang sakit biarlah mengeluh sejenak. Itu manusiawi. Sebab, ada masanya jiwa dan raganya akan kembali sehat, seperti bunga yang baru mekar disiram embun pagi yang segar. Maka, tugas yang sehat menjenguknya, mendoakan, dan menghiburnya memerankan embun pagi yang segar itu di samping bangsal hospital.

Bagi jiwa yang melimpah iman, sehat atau sakit sama-sama ujian. Di antara keduanya ada celah menganga yang harus diisi sabar di sana. Orang beriman tidak akan membiarkan celah itu kosong, sebab akan ditempati lupa diri dan putus asa. Akan tetapi, dengan sabar, penyakit menjadi keajaiban, semuanya adalah kebaikan.

Dari Abdurrahman bin Abu Laila dari Shuhaib berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Perkara orang mu`min mengagumkan, sesungguhnya semua perihalnya baik dan itu tidak dimiliki seorang pun selain orang mu`min, bila tertimpa kesenangan, ia bersyukur dan syukur itu baik baginya dan bila tertimpa musibah, ia bersabar dan sabar itu baik baginya." (HR. Muslim)

Lekas sembuh, Pak. Doa kami semua untuk kesembuhan Pak Rusli, doa untuk sahabat literat.

Cirendeu, Pangkalan nyuci motor. Jumat 17 Maret 2023.

Minggu, 12 Maret 2023

SI CANTIK YANG GATAL

SORE INI, Ahad 12 Maret 2023 aku bertemu dengan "Si Cantik" berwajah pink, di sebuah resto di Kota Gudeg. Sungguh beruntung bertemu dengannya di saat yang tepat meski berpisah sore ini juga karena esok pagi aku sudah harus kembali ke Jakarta.

Namanya juga cantik; Cayratia Mollisima. Sekali lagi, Cayratia memang  cantik hingga aku terpesona. Saat kali pertama bertemu itu, ingin kujawil saja tubuhnya yang pink itu. Atau Kucium lembut wajahnya yang bulat atau kecup kelopak matanya saja yang jeli.

Akan tetapi, betapa aku terkejut. Ternyata, Cayratia tak secantik fisiknya. Aku pikir, cantik fisiknya yang pink itu, cantik juga buah cintanya. Nyatanya tidak. Saat aku mencari tahu pada pelayan resto yang sudah mengenal Cayratia sangat dekat beberapa saat setelah aku selesai makan malam, Cayratia ternyata "gatelan". Aku langsung menjulukinya "Si Cantik Yang Gatal". Aku kecewa.|

CAYRATIA berasal dari Singapura. Namun, ia kerap hadir di wilayah Asia Tenggara termasuk Indonesia, Malaysia, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, dan Filipina. Reputasinya sebagai "Si Cantik Yang Gatal" seperti julukan dariku rupanya ia memang suka melanglang buana.

Begitulah dia, The Bush Grape, alias si anggur semak. Dia tumbuh di pekarangan depan resto Pring****, tempat aku makan malam yang sudah aku singgung. Saat itu, dia sedang berbuah lebat, ranum, dan masak.

Akan tetapi, seranum dan semasak lazimnya jenis buah, si anggur semak tak bisa dicicip, apalagi dimakan seperti kita menikmati anggur yang lezat. Bila kita memaksa juga memakannya karena terpesona dengan tampilan fisiknya itu, maka siap-siap saja merasakan gatal di seluruh area mulut dan tenggorokan. Itu karena Cayratia menyimpan racun (kalsium oksalat ) yang tinggi.

Pernah ada tamu resto mendapati Cayratia sedang ranum. Sang tamu langsung memetik dan menikmatinya, tidak minta izin sekadar basa-basi kepada pemilik atau pelayan resto. Maka, drama dimulai. Tamu itu keracunan. Mulut dan tenggorokannya terasa gatal tanpa bisa dia garuk. Sejak itu, pemilik resto menggantung maklumat "Buah Ini Tidak Bisa Dimakan".|

Cayratia Mollisima, Si Anggur Semak. Foto Credit: Abdul

SEBENARNYA, Cayratia bukan buah yang tidak bisa dimakan. Dia bisa dimakan, hanya saja, mulut dan tenggorokan tidak bisa beradaptasi dengan efek racunnya yang kuat. Karena itu, meskipun dia sejenis anggur, tapi dia bukan anggur yang ramah seperi Pinot Noir, Concord, Moon Drops, atau berbagai jenis anggur yang lain yang sedap di mulut dan tenggorokan.

Kodrat Cayratia memang hanya sebatas dipandang. Disentuh masih boleh, asalkan dia jangan dilumat lidah, sebab mulut dan tenggorokan akan menanggung sengsara.

Allah memang menciptakan buah sesuai kodratnya masing-masing. Ada yang hanya cukup sampai di pandangan mata sebagai hiasan, ada buah yang ditakdirkan untuk kelezatan cita rasa pengecap di ujung lidah agar berfungsi ia menerjemahkan manis, kecut, pahit, atau tawar yang segar. Tugas manusia hanya sebatas  mematuhi batas-batas kodrati buah, tidak lebih. Walaupun satu saat, dengan akalnya, manusia bisa saja menghadirkan penawar racun Cayratia yang "kegatelan" itu.|

CAYRATIA Mollisima di resto itu sedang berbuah lebat dan ranum. Siapa saja yang melihatnya pasti jatuh hati, seperti aku yang klepek-klepek. Akan tetapi, ia bukan menawarkan ranum yang sedap. Ia laibun wa lahwun saja. Ia bagian dari perumpamaan dunia yang disebut Alquran sebagai "kesenangan yang menipu".

Namun begitu, Cayratia masih menampilkan sisi baik di samping fisiknya yang memesona, yaitu ibrah. Ibrahnya  sangat pas untuk kolega-kolega saya semisal Pak Eko, Alvian, Wiko, Fauzan, atau Widi yang ganteng-ganteng itu.

Dengarlah nasihat seniormu yang juga lumayan ganteng ini wahai Pak Eko dan sedulur-sedulurnya. Jangan memilih seperti Cayratia, si anggur semak yang cantik, tapi beracun. Pilihlah yang cantik seperti anggur Pinot Noir, Concord, atau Moon Drops yang manis dan aman. Tidak usahlah jauh-jauh melempar pandangan mencari-cari. Mereka dekat sekali dari meja kerjamu. Eaaaaaaa!

Gudlak!

Malioboro, malam Senin yang bersahaja, 12 Maret 2023.


DIENG DAN FILOSOFI KETINGGIAN

Puncak Botorono. Sumber foto:https://www.prodesae.com

KETINGGIAN adalah hal keadaan tinggi. Bisa juga berarti—tempat dan sebagainya—yang lebih tinggi letaknya. Itulah ketinggian.

Ketinggian itu memesonakan, seperti ketinggian Dataran Tinggi Dieng yang dijuluki orang sebagai "negeri di atas awan" di kabupaten Wonosobo. Dan saya, pun terpesona.

Jalan menuju Gunung Dieng saja sudah memesona. Boleh percaya boleh tidak,  bahkan ada yang menjuluki pemandangan di kiri kanan untuk sampai ke puncaknya bak pesona Selandia Baru; New Zealand yang jelita. Tapi, saya belum buru-buru percaya. Sebab, berkunjung ke negara yang berjuluk Negeri Kiwi itu buat membuktikannya sendiri saja tak pernah. Namun, boleh jadi penilaian itu tak jauh meleset. Ah, semoga ada keajaiban berpihak bisa membawa saya rihlah ke sana.

Ada anomali musim antara Wonosobo —khususnya di sekitar Dieng— dengan New Zealand. Anomali itu berlangsung pada Agustus.

Pada Agustus, Dieng sedang berada pada puncak musim panas. Uniknya, pada bulan ini sering muncul embun es. Suhu Dieng menjadi sangat dingin. Di pagi hari, suhu terdingin di Dieng bisa menyentuh minus 1,25 derajat Celsius.

Sementara di New Zealand, Agustus masih musim dingin. Pada 2022 kemarin, suhu rata-rata di sana mencapai 9,8 derajat Celsius dan dinilai sebagai yang terhangat dan terbasah selama musim dingin sepanjang tahun. Sebelumnya, pada 2021, suhu musim dingin menyentuh 1,3 derajat Celsius.|

SAYA tak sempat mencatat nama daerahnya, salah satu kawasan yang diapit lembah Sindoro-Sumbing yang saya lewati di jalur Parakan-Wonosobo, panorama sangat menakjubkan. Awan seperti sejajar dengan badan bus yang saya tumpangi. Bus laiknya sedang melaju terbang di atas awan. Begitulah imajinasi saya membayangkan.

Pada kawasan itu, sesekali wujud rupa  sawah terasering elok meliuk-liuk di beberapa bagian yang curam. Tumbuh rimbun di tiap keloknya itu: padi, sayur mayur, dan palawija.

Di sisi kiri bus yang melaju melambat, di antara lembah yang menggantung searah Gunung Sumbing, ada kawasan menjulang. Pada badan puncaknya, ada tulisan terbaca samar; "Botorono".  Saya duga, karena belum sarapan, "Boto" dibaca "Soto" oleh Pak Agung. Jadilah ia berbunyi  "Sotorono". Itu sekira pukul 08.15 menit, waktunya sarapan yang terlewatkan. Tentu, "Boto" menjadi "Soto" adalah sebuah distorsi.

Selain lapar, mengantuk juga bisa menjadi sebab seseorang melakukan distorsi. Tulisan "OUTLET STORE" di depan Masjid Sabilul Istiqomah di Rest Area KM 379 A Tol Batang-Semarang dibaca "TOILET STORE" oleh Pak Efron saat hendak menuju bus usai shalat Subuh. Haaaa.

"Maklum, masih ngantuk." Pak Efron berkilah sambil tertawa.

Bila saja Pak Agung dan Pak Efron sedang bersungguh-sungguh dalam lapar dan kantuknya, maka, kesimpulan saya: jangan percaya pada dua orang; orang yang sedang lapar dan orang yang masih mengantuk. Besar kemungkinan ada distorsi.|

Saat otak dan bobot tubuh membuat lelah, maka berbaringlah. Foto Credit: M. Agung Sya'ban.

DIENG memang memesona dalam ketinggian fisik. Meski orang harus berlelah-lelah untuk bisa sampai ke puncaknya, ditempuh jua meski jantung kerap bedegup kencang saat bus menanjaki tikungan tajam di sisi jurang yang menganga. Sebenarnya, mahal sekali taruhannya bila pandangan dibuang sampai ke dasar jurang.

Akan tetapi, di balik taruhan yang mahal itu, mata hati yang jernih menemukan kepuasan atas lukisan alam Mahakarya Sang Pencipta yang mengantar pada kekaguman dan tasbih; "rabbana ma khalaqta hadza bathila subhanak".

Begitulah.

Secara psikilogis, dalam bingkai filosofis, ketinggian—jabatan, karier, popularitas, uang, reputasi, bahkan ilmu dan amal— sering melenakan. Tidak jarang, ketinggian psikis dapat menjadikan pemiliknya lupa diri karena merasa di atas segala orang per orang. Ia bisa mengubah perilaku, pola pikir, dan pola hidup. Distorsi yang dihasilkannya jauh lebih merusak.

Distorsi yang paling ringan dari ketinggian psikologis adalah lupa. Orang mudah lupa bahwa tidak ada lagi tangga menuju ke atas sesudah puncak selain harus turun tersuruk ke bawah, suka atau tidak suka. Atau dalam bahasa syair Bang Haji Oma, "Pesta Pasti Berakhir".

Bila tidak mawas diri, jiwa mudah tertipu oleh ketinggian, seperti tertipunya mata dari ketinggian perspektif atas dan bawah. Bukankah saat kita sedang berada di ketinggian, umumnya akan merasa bahwa orang di bawah sana terlihat begitu kecil? Akan tetapi, sadarkah kita, bukankah orang yang berada di bawah sana, pun melihat kita begitu kecil? 

Maka, di mana pun ketinggian itu dipijak, biarkan puncaknya tetap membumi. 

Happy weekend.

Yogyakarta, Sahid Raya Hotel, 11 Maret 2023.

Jumat, 10 Maret 2023

SEPIRING RINDU GULAI PAKU


Katupek Gulai Paku. Foto Credit Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Pariaman

BILA aku kangen Bunda, aku datang ke lapak Katupek Gulai Paku, Sate Padang, atau warung Nasi Padang sekalian. Dengan cara itu aku dapat dua kepuasan; kangen yang sedikit terobati dan perut kenyang.

Pagi ini, kangen pada Bunda dan keluarga terasa kuat sekali. Ada apa, ya. Kalau sudah begini, aku cuma berharap, semoga Bunda dan Ayah sehat-sehat, anak-anak, dan sanak saudara Bunda juga sehat-sehat. Lalu, ingatan ini terbawa lagi ke Kuranji, rumah Bunda yang bersahaja.

Sambil mengantar Mikal, putri sulungku mampir ke teman kost sebelum latihan di teater kampusnya, sepintas kulihat ada warung Katupek Gulai Paku di sisi kiri jalan Kertamukti, tidak jauh dari seberang jalan depan Gedung Pascasarjana UIN Jakarta. Ah, kebetulan, pikirku. Maka, beres urusan mengantar, aku menepi.

Kali pertama aku menikmati orisinalnya Katupek Gulai Paku itu di Pasar Ateh, Bukittinggi. Aku dan seorang kawan, namanya Lukman Hakim Sidik. Waktu itu, aku dan Lukman tinggal duduk dan makan. Ayah yang traktir. Itu sarapan pagi yang sukar aku cari padanan gembiranya sampai sekarang.

Sedapnya Katupek Gulai Paku di Pasar Ateh yang aku nikmati meresap sampai ke hati. Di lidah, sedapnya kadang masih datang sendiri bila diingat lagi. Seperti pagi ini, tiba-tiba saja air liurku terbit. Ya, bagaimana tidak, sudahlah makannya ditraktir, makannya di pasar bersejarah pula kala itu.

Pasar Ateh memang bersejarah. Ia mewujud dari keringat jasa masyarakat Agam. Pada 1858 M, pemerintah kolonial Belanda mengerahkan tenaga rodi yang berasal dari Agam Tuo, Agam bagian timur untuk mendatarkan puncak tertinggi di Bukittinggi yang kemudian menjadi pasar Loih Galuang atau Pasar Ateh itu.|

AJIB, Katupek Gulai Paku di Kertamukti yang aku nikmati barusan hampir setara sedapnya dengan yang aku nikmati di Pasar Ateh. Aku tanya Uda si penjual, rupanya dia orang Pariaman.

Meski Katupek Gulai Paku merupakan makanan khas Sumatera Barat, di Kota Pariaman makanan ini termasuk urutan paling atas kuliner khas kota kabupaten ini. Kota Pariaman yang bermotto “Saiyo Sakato”, sedap Katupek Gulai Paku-nya seiya sekata dengan lidahku. Kapan waktu, ingin rasanya bisa menikmati seporsi Katupek Gulai Paku di Parit Malintang, Ibukota Kota Pariaman bersama Bunda dan Ayah. Tentu, kalau bisa bersama Pak Lukman lagi, sebab dia urusan pengadaan tiket Jakarta-Padang pulang pergi. Wkwkwkwk.

Suer, asli. Katupek Gulai Paku di Kertamukti ini sedap sekali. Aku pasti datang lagi lain waktu. Jaraknya pun tidak terlalu jauh dari tempat aku mengajar. Tinggal kontak Roni dan Sandy, kawan satu atap tempat aku mencari sesuap nasi di madrasah, gaspoll.

Pada 2017 itu, Roni dan Sandy juga ikut ke rumah Bunda. Dua orang kawan ini wajahnya pucat pasi saat mobil yang dikemudikan Ayah yang mengemudi macam Hiroshi Masuoka pereli legenda Paris-Dakar melintas di kelok Ampek Puluah Ampek. Sementara, Bunda, Adek Uti, dan Uni Santia tenang-tenang saja, seperti tak terjadi apa-apa di antara jantung tiga orang ini yang empot-empotan dan ramai macam suara bedug bertalu-talu di malam lebaran.

Aku yakin, di dalam hati, dzikir Roni dan Sandy juga tak putus-putus sepanjang kelok. Mulut Pak Lukman sendiri kulirik tak henti komat-kamit sepanjang mobil menanjak, menikung, dan menurun sebelum kami sampai di Bukittinggi. Wajah mereka baru kembali semringah saat kami sudah menikmati Puncak Lawang. Hanya aku yang tetap berusaha terlihat tenang, meskipun jantungku lebih ramai degupnya daripada degup jantungnya Roni, Sandy, dan Pak Lukman. |

Gulai paku makanan berkuah dari kaldu udang rebus yang dicampur dengan santan. Rasa gurih santan berpadu dengan pedas cabai, segarnya asam kandis, sedikit aroma dari daun jeruk purut, daun kunyit, dan batang serai yang digeprek.

Hanya saja, seporsi Katupek Gulai Paku yang aku nikmati pagi ini, kangen pada Bunda bukan malah hilang, tapi tambah merindu berat. Bermula dari kebaikan Uda si penjual yang menawarkan sebungkus Gulai pakunya untuk seorang ibu tua, seorang pengemis.

“Uda, biar gulai paku untuk si ibu saya bayar, ya.” Bisik saya, pelan-pelan.

“Tidak, Pak. Tidak usah. Saya juga mau memberi.” Si Uda membalas setengah berbisik.

Dan, aku hanya tertegun. Rindu pada Bunda, orang yang kebaikannya lestari di hatiku tak jua surut. Ia tidak luruh meski sudah aku hibur dengan seporsi gulai paku khas Pariaman.

Bunda dan Ayah, sehat-sehat, ya. Sebentar lagi Ramadhan 1444 H menjelang. Padang Jakarta terlalu jauh di pandang mata. Tapi, ia begitu dekat di hati dengan doa-doa kebaikan.

Salam sayang dari aku, istri, dan anak-anakku.

Jumat, 18 Sya’ban 1444 H/ 10 Maret 2023 M.

Jumat, 24 Februari 2023

KILAU DARI SENTIONG


Dummy Buku Republika, Sutrisno Muslimin Sang Inovator. Gambar sampul desain https://diybookcovers.com/3Dmockups/#.  

HARI ini, di lantai 11 K-LINK TOWER, Jl. Gatot Subroto No. Kav. 59 A, RT.1/RW.4, Kuningan Timur, Kecamatan Setiabudi, Kota Jakarta Selatan, “Kilau Dari Sentiong“  saya raba wujudnya. Sebagai penulis, saya puas sekali dengan tampilan cover-nya, elegan. Saya tidak ingin menyatakan bagus dan puas soal isi. Biarlah, soal itu, akan dinilai oleh pembaca saja. Sedangkan saya, cukup berhenti pada telah mengerahkan daya dan upaya estetik saat menulisnya, paragraf demi paragraf.

“Kilau Dari Sentiong“ hanya satu sub judul dari dummy buku “SUTRISNO MUSLIMIN SANG INOVATOR PENDIDIKAN, DAKWAH, DAN POLITIK”. Secara pribadi, “Kilau Dari Sentiong“ lebih mewakili perasaan saya atas buku itu. Entah, boleh jadi karena ikatan psikologis, tiga kata itu bagi saya “Pak Tris banget”.

Buku Biografi ini selesai saya tekuni dalam waktu tidak lebih dari enam bulan. Bagaimana caranya? Saya tidak ingat lagi detailnya. Yang saya ingat, Awal Februari 2022 kami bertemu, mulai menulis, dan pada Mei 2022 saya sudah menyerahkan draft dalam bentuk sekadar dummy, 527 halaman. Permintaan Pak Tris, kalau bisa buku tiga bulan selesai, sedikit meleset.

Selepas itu, ada beberapa bagian yang perlu ditambah. Cukup panjang. Menemui dan mewawancarai narasumber, mengkonfirmasi, dan merevisi beberapa bagian penting. Persis setahun ketemu Februari, Jumat hari ini, 24 Februari 2023, dummy buku hadir di K-LINK Tower, di Jakarta Bussines School (JBS), institusi pendidikan jenjang Sarjana (S1) yang menyelenggarakan program studi Digital Business, Entrepreneurship, dan International Trade. Tahulah saya, Pak Tris adalah salah seorang dari founder JBS bersama Dato H MD Radzi Bin Saleh dari Malaysia dan Dr Hamdan Zoelva SH MH.

***

Setiap buku ada jodohnya, yakni sasaran pembacanya. Masyarakat umum, dosen, guru, kepala sekolah, da’i, mahasiswa, dan pelajar saya kira menjadi segmentasi pembaca autentik buku ini. Politisi juga dapat, tapi hanya sedikit, tidak sebanyak yang saya sebut sebelumnya.

“Bagaimana buku, sudah bagus, kan?” Pak Tris menanyai saya.

Saya tidak menjawab bagus atau tidak. Karena saya merasa, sebagai penulisnya, saya cukup berhenti pada telah mengerahkan daya dan upaya estetik saat menulisnya, paragraf demi paragraf, seperti yang sudah saya singgung.

Namun, bila meminjam kriteria Bambang Trim, buku dikatakan bagus setidaknya bila memiliki tiga daya; daya pikat, daya gugah, dan daya ubah. Tentu, ia memikat, menggugah, dan mengubah sasaran pembacanya ke arah yang positif setelah menikmati tampilan cover, isi, dan pesan yang disajikan. Maka sekali lagi, buku dinilai bagus atau buruk akan lebih objektif bila datang dari pembaca, bukan dari penulisnya.

Akan tetapi, saya tidak bermaksud mendahului pembaca, buku Pak Tris ini inspiratif. Pada Prakata, ada saya menulis: Membaca perjalanan hidup Dr. Sutrisno Muslimin, M.Si., dalam buku ini bisa jadi menorehkan berupa-rupa kesan. Terlebih bagi saya—yang berkesempatan menuliskan kisah hidup tokoh muda ini secara langsung. Beribu impresi membekas di benak. Meski saya sudah mengenal Pak Tris—begitu ia biasa dipanggil—sebelumnya, namun selalu menemukan sisi lain yang baru dari beliau. Sepanjang halaman pertama buku ini ditulis sampai halaman terakhirnya dibubuhi tanda titik, kesan itu sangat kuat. Pak Tris yang dulu dengan yang sekarang, seperti jarak langit dan dasar sumur. Yang tidak berubah adalah bahwa ia tidak jemawa dengan keadaannya yang sekarang. Ia juga tidak berusaha mengubur lokus dari mana ia dahulu berasal.

***

Buku dengan durasi xviii+438 hlm.; 15,5 x 24 cm ini, nantinya diterbitkan oleh Buku Republika, (imprint Republika Penerbit). Bagi saya, poin ini cukup signifikan bersanding dengan tiga novel dan empat seri buku Kiai Kocak saya yang diterbitkan penerbit Pustaka Al Kautsar, penerbit mayor dengan tagline-nya Penerbit Buku Islam Utama, juga beberapa buku saya yang diterbitkan oleh penerbit minor. Ini seperti hadiah literasi di awal tahun 2023, sejak tiga tahun lalu saya memegang lisensi dari Lembaga Sertifikasi Profesi Penulis dan Editor Profesional, LSP PEP.

Ada Tim Pak Tris yang mengawal finishing buku ini. Nama-nama mereka saya sebut pada Prakata sebagai ungkapan terima kasih. Apalagi di sana ada Pak Irwan Kelana yang mengawal dari sisi konten. Saat dummy harus diperiksa Tim lebih teliti sebelum naik cetak, wartawan senior Republika ini membesarkan hati saya, “Afwan, koreksian mungkin lbh [lebih] pada typo dan caption foto. Kalau naskah, dari segi isi dan bahasa, menurut saya sdh [sudah] sangat bagus.”

Dummy memang dibutuhkan untuk memberi ruang perbaikan. Sambil menunggu ISBN keluar, Kata Pengantar, atau endorsement dari beberapa kalangan, Tim dan editor memang harus jeli menyelisik–jika perlu–kata per kata.

Saat membuka-buka dummy, sekilas mata saya ada menangkap orphan dan widow pada beberapa halamannya. Orphan adalah baris pembuka paragraf yang berdiri sendiri di bagian bawah halaman atau kolom, terpisah dari teks lainnya. Widow adalah baris penutup paragraf yang berdiri sendiri di bagian atas halaman atau kolom, terpisah dari teks lainnya.

Ilustrasi Orphan dan widow . Foto credit: https://thefutur.com/content/crimes-of-typography

Orphan dan widow memang bukan kesalahan fatal pada konten buku, tapi ia mengganggu keterbacaan karena persoalan tata letak. Buku yang baik dari sisi tata letak, harus terhindar dari keduanya. 

Selamat atau tidak selamat sebuah buku dari orphan dan widow, sepenuhnya ada di tangan dua peran; peran editor dan peran layouter. Maka sepatutnya, seorang editor paham tata letak, apalagi layouter. Demikian sependek yang saya tahu, saat dahulu pernah belajar literasi perbukuan kepada Bambang Trim.

Semoga masih ada cukup waktu untuk menyelamatkan buku ini dari orphan dan widow, agar dia berkilau seperti “Kilau Dari Sentiong“ .

Sebagai penulis, saya menunggu kelak buku ini diperbincangkan di berbagai forum literasi. Ia menginspirasi pembacanya karena berdaya pikat, berdaya ubah, dan berdaya gugah. 

Satu lagi, ini bisa jadi bukan sebuah kebetulan buat saya pribadi. Sejak Januari 2023, Koran Republika tidak lagi hadir di Perpustakaan Madrasah Pembangunan. Saya menikmati harian ini secara rutin sejak diposisikan sebagai Kepala UPT Perpustakaan Madrasah Pembangunan, pada Juli 2018 lalu. Per satu Maret nanti, tugas saya selesai di perpustakaan setelah sepanjang Januari-Februari tidak lagi bersua Republika. Aih, rupanya 24 Februari 2023 di K-Link itu, “Kilau Dari Sentiong“ ternyata jadi "dijodohkan" pada Republika. Wah, saya patut bersyukur.

Pak Tris, terima kasih diberi kesempatan menulis buku ini. Juga untuk Tim Pak Tris yang hebat-hebat itu, terima kasih.  

Salam literasi.

Minggu, 19 Februari 2023

Sepeda

SAYA suka sekali mengajak bercanda, berpikir, dan mencerna wacana dan gerakan Islam Liberal melalui narasi. Tentu, dengan kapasitas dan daya saya yang terbatas. Ya, sekelas remah-remah, lah. Belum sampai master, apalagi selevel doktor.


Dahulu, saya pernah menerbitkan novel berjudul “Jalan Islam Badrun Maria”. Novel ini berkisah tentang kehidupan asmara anak muda liberal, pejuang toleransi, pengagum feminisme, dan suka mencela orang sebagai penganut Islam radikal hanya karena orang itu tidak bersedia mengucapkan selamat natal karena alasan teologis. Novel terbit sangat terbatas dan hanya kalangan tertentu yang sudah membaca. Lalu, file naskahnya terlupa, mungkin terlalu rapi disimpan, tak tahu hendak dicari di mana.

Awal Februari kemarin, file itu ketemu, terselip di antara tumpukan file penting saat iseng bongkar-bongkar dokumen. Senangnya seperti menemukan kembali unta merah yang hilang yang membawa perbekalan air di tengah gurun. Saatnya menyediakan waktu, menikmati kembali cerita Badrun Maria.

Aih, banyak yang membuat tersenyum mendapati kalimat tidak efektif, banyak lubang cerita menganga, alur yang datar, dan konflik yang kurang tajam setelah dibaca ulang dengan segenap perasaan. Beberapa bagian harus pula direvisi, dibuang yang kurang relevan, dan ditambah informasi baru untuk mempertajam konflik ideologi dan isu pemurtadan, ide pokok novel ini.

Setengah dari sekitar 400-an halaman naskah sudah selesai disentuh ulang. Cerita lebih mengalir, natural, logis, dan bangunan plot yang kompleks dengan alur maju mundur.

Lalu saya berpikir, naskah ini lebih cocok diberi judul "Liberal Ditinggalin Pacar" saja, mengikat Si tokoh utama yang berpendapat bahwa murtad bukanlah dosa, melainkan proses menemukan kesadaran baru, akhirnya remuk redam karena pacarnya--Maria-- diambil orang dan dipaksa murtad. Sakitnya tuh di sini, kira-kira begitu, sekadar meresume suasana hati tokoh utama novel ini.

Banyak booster saat proses menghaluskan naskah, yaitu kehadiran sosok evangelis Yusuf Manubulu, dan dua pendeta murtadin Saifuddin Ibrahim, dan Muhammad Kace pada channel YouTube mereka masing-masing. Sudah hampir setahun lebih saya mengikuti narasi-narasi mereka soal kekristenan yang bertujuan menjatuhkan Islam.

***

KARENA asyik ada waktu luang pada Sabtu kemarin 18 Februari 2023, tepat pada acara puncak HUT ke-49 Madrasah Pembangunan, saya menunda pulang cepat. Apalagi, di atas panggung masih ada doorprize yang sengaja disimpan panitia di penghujung pesta.

Bila ide sudah mentok, balik ke depan menyimak kalau-kalau nama saya dipanggil naik ke panggung. Ya, biar pun tidak dapat doorprize yang gede, masa sekadar hadiah hiburan tidak dapat. Namun, sampai menjelang zuhur, memang tidak terdengar nama saya disebut-sebut. Apes ini.

Ah, sudahlah, balik lagi ke laptop saja. Tenggelam lagi membaca romantika cinta Badrun-Maria. Saya lupakan doorprize. Barangkali, memang belum jodoh pulang bawa hadiah sambil tetap ngarep. Mungkin tahun depan.

Sampai pada Bab 17 setelah zuhur, saya berhenti. Bukan karena tidak ada ide, tapi ide itu diganggu doorprize. Doorprize lagi, doorprize lagi. Saya sudahi menulis, lalu keluar, duduk bersanding dengan Pak Roni di depan perpustakaan. Saya lihat wajah Pak Roni semringah. O, iya, pantas. Dia baru dapat tiket naik haji dari Sekolah; Calon Haji Saroni. Alhamdulillah. Mabruk alfa mabruk, Pak.

Ustaz Endang Purwanto datang melintas.

“Dapat, doorprize apa, Kiai?” Begitu ustaz serba bisa ini bertanya. Ustaz Endang ini di antara orang “rese” yang memanggil saya dengan panggilan “Kiai”.

“Doa antum buat saya kagak makbul. Nama saya kagak kedengeran dari tadi.” Saya menimpali.

“Lah, doa buat diri sendiri aja kagak makbul, apalagi doa buat Kiai.”

Haaaa.

Tapi, beberapa menit kemudian, nama Ustaz Endang malah dipanggil. Dia berhak mendapat alat buat ngepel, apa itu namanya saya kurang memperhatikan. Berarti, doa Ustaz Endang makbul nih, pikir saya. Ada harapan ini.

Usai Ustaz Endang nyanyi “Sakit Gigi” dan disawer pula dia, dua nama berturut-turut dipanggil naik ke panggung. Nama saya masih juga tidak disebut. Harapan tipis. Tenggorokan sudah makin kering. Mana duit dan kupon belanja sudah habis. Ngapain lagi, nih.

***

MUNGKIN ada benarnya ­ucapan Albert Einstein, bahwa kehidupan itu ­seperti naik sepeda. Untuk menjaga ­keseimbangan, orang harus tetap terus bergerak. “Life is like riding a ­bicycle. To keep your balance, you must keep ­moving.”

Terbukti ucapan Einstein benar. Karena saya bergerak terus, masuk perpustakaan, duduk, mengetik, bangkit lagi dari kursi, keluar perpustakaan lagi, duduk di samping Pak Roni, ngarep-ngarep lagi, begitu terus keep ­moving alias ajag-ijig kagak bisa diem.

Akhirnya, pukul 12.47, malaikat Mikail “turun” juga memberi rezeki. Nama saya dipanggil buat naik panggung untuk menerima satu unit sepeda dari BJB. Dalam hati saya bergumam, “Alhamdulillah, untung Ustaz Endang duluan yang dipanggil. Terima kasih, Ustaz. Hahaha.”

Maka saya berkesimpulan, tips untuk mendapat doorprize sepeda, amalkanlah petuah Albert Einstein; Keep ­moving. Ajag ijig!

Oh, Allah di misericordia, alhamdulillah.

Salam literasi.

Kamis, 16 Februari 2023

The Right Man in The Right Place

Ilustrasi milik: https://id.depositphotos.com/stock-photos/rekomendasi.html

Seorang penulis memang ‘nakal’. Dia sering mengganggu tidur, istirahat, kesenangan, atau bahkan mengganggu proses ‘melahirkan’ alias buang air orang lain lewat tulisannya. Baik karena terkesan atau terusik karena tulisan itu, keduanya sama saja; mengganggu.

Seorang penulis, apalagi bukan penulis kaleng-kaleng, kadang ia terlalu bandel. Ia tidak peduli pada risiko. Sepanjang apa yang ditulisnya itu persoalan substantif, objektif, dan fair, risiko bukan perkara yang ia takutkan. Seorang Bambang Tri Mulyono bahkan kelewat bandel dengan menulis buku "Jokowi Undercover" yang menggugat keaslian ijazah Presiden Jokowi. Ini bukan lagi bandel, tapi “gila”!

***

Tulisan saya: ”Honor And Respect”, rupanya ada juga mengusik orang. Aduh, jadi kasihan. Padahal, itu tulisan ringan sekali. Isinya hanya refleksi sekadar, otokritik biasa. Bila ditakar, isinya tidak sepadat isi perut ‘tahu isi’. Akan tetapi, rasanya seperti sepedas tahu jeletot di hati yang terusik.

Konon katanya, ”Honor And Respect” akan dibawa dan diangkat dalam Rapim di Yayasan yang menaungi lembaga di mana saya mengajar. Ada embel-embel, ”Honor And Respect” jadi pertimbangan saya tidak direkomendasikan untuk posisi Kepala UPT Perpustakaan.

Emang penting bagi saya? Nggak juga.

Maksud saya, sebelum jadi Kepala UPT periode empat tahun kemarin, saya tidak meminta-minta jabatan apa pun. Menjadi Kepala UPT. Perpustakaan Madrasah Pembangunan, pun bukan hasil ‘lobi politik’. Itu ‘ngemis’ namanya. Yang ada, saya dipanggil, diajak bicara, lalu diberi amanah untuk duduk di perpustakaan mengembangkan literasi menulis. Karena literasi menulis adalah tema ‘seksi’ buat saya, tergodalah hati ini. Setelah tiga hari berlalu, waktu yang saya minta untuk menimbang, saya terima tawaran itu. Maka, berang-berang naik pangkat, berangkaaat!

Hari ini, amanah sudah saya tunaikan. Februari 2023 ini, menjadi hari-hari terakhir bagi saya menyumbangkan ide, gagasan, dan karya pengembangan literasi menulis di Madrasah Pembangunan melalui pintu perpustakaan. Peluncuran “Amieru” dan “Chekhov's Gun”, dua karya fiksi ilmiah pertama peserta didik MTs Pembangunan menjadi penutup program literasi saya.

Adapun soal tidak direkomendasikan untuk mengurus perpustakaan lagi karena ”Honor And Respect”, otokritik saya pada acara peluncuran “Amieru” dan “Chekhov's Gun”, apa saya harus nangis bombay? 

***

Seorang leader adalah orang yang paling tahu kekuatan dan kelemahan lembaga yang dipimpinnya. Di samping itu, dia punya visi dan misi yang bisa diterjemahkan pada tataran aksi saat dia bekerja. Daya kreasi dan inovasinya hidup, kedewasaannya menonjol, kemampuan literasinya di atas kebanyakan orang, dan managerial skill dalam prinsip the right man in the right place-nya presisi. Masih banyak lagi. Tidak apa tidak semua kompetensi memimpin dikuasai, asalkan jangan menunjukkan gelagat leader bingung yang tidak tahu harus melakukan apa.

Jadi, sederhana sekali memahami filosofi rekomendasi itu, sesederhana memahami orang yang pandai memasak diberi tugas sebagai koki. Jadi, sekali lagi, bila tidak diberi rekomendasi, itu artinya dipandang tidak cocok ada di situ. Kalau dipandang tidak cocok ada di situ, masa mau maksa tetap nongkrong di situ sambil berharap-harap dikasihani? Mending bangun, berdiri, dan tetap berkarya sesuai passion.

***

Sepanjang menjadi Kepala UPT Perpustakaan, saya bekerja dibantu pustakawan literat, difasilitasi para pimpinan literat, dan didukung mitra gerakan literasi yang konsisten. Lahirlah Pengantin Fort van der Capellen dan Tarawih Terakhir yang mulai saya tulis pada 2017, rampung dan diterbitkan pada 2021. Tahun sebelumnya, pada 2019 Fiksi 8 Jam menjadi buku kenangan yang saya tulis saat membuka dan mengisi Kelas Menulis Fiksi Perpustakaan. Sepanjang mengisi kelas menulis itu, saya juga menulis. Maka, saat peserta kelas menulis melahirkan antologi Melankolia Sepasang Sepatu, diam-diam saya pun melahirkan Fiksi 8 Jam. 


Dua buku lagi, Refleksi dan Alfanumerik menjadi karya saya paling mutakhir selama menjadi Kepala UPT yang terbit pada awal 2023. Sejak mula hingga akhir paragraf dua buku ini ditulis di antara ribuan koleksi perpustakaan MP UIN Jakarta selepas tugas mengajar, di sela istirahat, atau menunda pulang cepat hanya untuk mengikat ide agar tidak kemana-mana.

Karena itu, menjadi atau tidak menjadi apa pun, tetap menulis.

Salam literasi.