A homepage subtitle here And an awesome description here!

Kamis, 16 Desember 2021

Ziarah, Uang Gaib, Perdukunan, dan PANDAWA









Foto Credit: https://www.kabarmakkah.com/


HARI Minggu kemarin, 12 Desember, bertemu teman-teman alumni SD. Saya jarang sekali bertepat waktu bisa berkumpul. Selalu saja ada aral, sehingga tidak bisa hadir silaturahim setiap bulan.

Grup alumni SD ini ada WA Grup-nya. Akan tetapi, saya izin mundur dari Grup WA karena soal postingan anggota yang tidak pas dengan saya. Baik-baik saya minta diri. Kepada admin, saya janji akan tetap menjaga silaturahim. Biarlah saya tidak ada di Grup, tapi, tiap kali ngumpul bareng dijadwalkan, lalu tidak ada agenda bersamaan, saya akan hadir seperti hari Minggu kemarin itu.

Pertemuan Minggu kemarin agak berbeda. Meskipun tidak seperti "pengajian resmi", kami membahas materi layaknya kajian, namun dalam kemasan obrolan lepas. Topiknya pun cukup menghentak, gabungan dari pengalaman dan pengetahuan; ziarah, perdukunan, uang gaib, dan saham yang belakangan ramai dibicarakan: PANDAWA.

Dua teman bercerita pengalamannya ziarah. Dua-duanya mengaku diajak grup pengajian yang rutin menyelenggarakan wisata ziarah. Terkuaklah sebagian dari peziarah itu perihal motivasi di balik ziarah yang diikuti. Ada yang karena usaha warungnya sudah mulai seret, maka berangkatlah ia ziarah. Ada yang karena keponakannya sakit menahun, maka berangkat pula ia ziarah. Ada juga yang sekadar ikut-ikutan seperti dua kawan ini. Di mana, di tempat ziarah, dia kebingungan sendiri mau melakukan apa, ia tidak tahu.

Seorang lagi, yang ketiga bercerita menasihati ibunya yang hendak pergi ziarah. Sang ibu harus menjual ayam supaya punya ongkos berangkat.
 
"Mak, kalo mau ziarah, ngapain jauh-jauh. Maksa-maksa harus jual ayam segala buat ongkos. Noh, ziarah ke Kampung Taman. Kan, kuburan orang tua Emak adanya di Taman, bukan di Banten."

Akan tetapi, tak urung, berangkat juga sang Ibu ziarah. Tak apalah kata kawan ini, yang penting ia sudah berusaha mengingatkan.

Giliran saya, saya cerita pengalaman diajak makan ikan bakar di Tanjung Priok. Akan tetapi rupanya, tujuan utamanya adalah ziarah ke makam Mbah Priok. Makan ikan bakar hanya penghantar saja. Walau pada akhirnya saya tidak masuk area dan mengikuti prosesi ziarah di makam, itulah kali pertama saya ikutan ziarah.
 
Sering orang salah persepsi memandang saya "anti ziarah". Mungkin karena tahu afiliasi dari baju yang saya kenakan. Padahal tidak demikian. Pada pertemuan kemarin itu, sebatas pemahaman saya yang minim tentang hukum ziarah kubur, saya sampaikan sekilas.

Saya katakan, ziarah kubur itu baik, bahkan itu perkara sunnah. Nabi juga pernah satu malam mendatangi kuburan Baqi di Madinah untuk berziarah. Hanya saja, supaya ziarah kubur tidak menyimpang dari tujuan pokoknya, ikutilah adab dan tata cara ziarah. Jika ziarah kubur karena membawa motivasi meminta kepada penghuni kubur agar laris dagangan, enteng jodoh, penyakit menahun yang yang tidak kunjung sembuh karena diyakini kuburan yang diziarahi bukan sembarang orang, ini yang belum sepaham dengan saya.

Dalam riwayat yang cukup panjang tentang ziarah kubur, Rasulullah shallaahu 'alihi wa sallam datang malam-malam ke pekuburan Baqi di Madinah. Pada penggalan terakhir riwayat itu, Rasulullah berkata pada Aisyah radhiyallaahu anha: "Jibril berkata kepadaku, "Sesungguhnya Allah memerintahkan kepadaku untuk mendatangi penghuni makam Baqi dan memintakan ampunan bagi mereka."
 
Aisyah berkata, apa yang harus aku ucapkan untuk mereka wahai Rasulullah. Beliau menjawab:

"Ucapkanlah semoga kesejahteraan terlimpahkan kepada penghuni kubur kaum mukmin dan muslim ini. Semoga Allah melimpahkan rahmatnya kepada yang meninggal terlebih dahulu di antara kami. Ataupun yang akan meninggal belakang. Sesungguhnya kami akan menyusul kalian dengan seizin Allah (HR.Muslim).

Jadi, ziarah kubur itu perkara yang dilakukan Rasulullah, dan ini menjadi contoh. Demikianlah seharusnya kita berziarah. Jadi, jangan sampai karena niatnya salah, ziarah kubur bukan menghidupkan sunnah, tapi malah melakukan perkara yang tidak dibenarkan syari'at.

Begitulah obrolan tentang ziarah kubur yang mentradisi di masyarakat. Namun, saya percaya, tidak semua peziarah membawa motivasi seperti yang diceritakan teman pada pertemuan kemarin itu. Pastilah ada di antara rombongan peziarah yang lurus niat ziarah kuburnya.
 
Demikianlah tentang obrolan ziarah kubur. Yang lebih seru obrolan tentang uang gaib, perdukunan, dan PANDAWA. Rupanya, di antara teman ada "alumni" pemain uang gaib. Bersyukurnya ia bisa lepas karena menuruti nasihat mertuanya. Ceritanya keren. 

Depok, 16 Desember 2021.






Komentari


Bagikan





Jumat, 03 Desember 2021

KAYA KALENG KALENG MISKIN AUTENTIK

Foto credit Reza Fauzi Nazar pada https://geotimes.id/

DALAM hidup, kaya dan miskin selalu berdampingan. Di antara kaya dan miskin, stres menyelinap di tengah-tengah. Jadi jangan heran, ada orang miskin yang stres, orang kaya juga ada yang stres.

Lah, kok bisa? Bisa, sebab stres hampir menjadi milik tiap orang, tak peduli miskin atau kaya. Hanya saja, selama ini, stres dipahami sebatas fenomena orang yang sedang tertawa cekikikan sendirian, nyengir-nyengir sendirian, joged-joged di jalan sendirian, ngomong atau marah-marah sendirian, ditambah penampilan yang kusut masai.

“Bocah stres!”

Begitulah kemudian orang menilai.

Stres

STRES itu reaksi, baik reaksi secara fisik maupun emosional (mental/psikis) apabila ada perubahan dari lingkungan yang mengharuskan seseorang menyesuaikan diri. Kondisi demikian itu, lazim dihadapi semua orang dari waktu ke waktu. Bisa jadi satu kali dalam jangka pendek, bisa juga berulang kali dalam jangka panjang.

Begini contoh gampangnya: Saat Anda sedang berbelanja di supermarket, trolly sudah penuh, posisi sudah di depan kasir. Saat giliran anda membayar, dompet Anda tidak ada di tas. Sementara, semua uang dan kartu ATM ada di sana. Apa yang Anda rasakan?

Anda tentu bereaksi. Reaksi yang paling dekat adalah panik atau atau tergagap-gagap berteriak; “dompet saya hilang!” Tubuh pun bereaksi. Keringat dingin mengembun, jantung lebih cepat berdetak, wajah pucat pasi.

Pada keadaan demikian itu, Anda dituntut untuk menyesuaikan diri dengan kondisi yang berubah cepat. Anda harus berpikir keras mencari jalan keluar agar bisa menemukan dompet dan bisa membayar tagihan. Anda juga harus bisa mengatasi tatapan mata orang di sekeliling kasir. Nah, dalam upaya menyesuaikan diri itu, Anda mengalami stres.

Rupanya, dompet Anda bukan pangkal masalah. Anda lupa, dompet bukan ditaruh di dalam tas, tapi di saku celana belakang yang longgar. Masalah Anda selesai. Anda bisa menarik napas lega. Saat masalah sudah teratasi, stres Anda hilang. Ini stres jangka pendek.

Stres jangka panjang biasanya menyangkut relasi dengan orang lain, seperti menghadapi lingkungan kerja yang buruk, kehilangan pekerjaan, tidak ada lagi kecocokan dengan pasangan, atau terkena penyakit tertentu. Kondisi perubahan seperti ini membutuhkan proses penyesuaian jangka panjang. Stresnya pun lebih panjang.

Miskin dan Kaya

Kemiskinan bagi sebagian orang adalah momok, menakutkan, menyedihkan, dan setumpuk stigma buruk. Karena itu, banyak orang berusaha keluar dari kemiskinan.

Akan tetapi, ada pula orang yang tidak peduli pada cap kemiskinan. Bisa jadi, karena ia merasa kaya (baca: merasa cukup), sementara orang menilainya sebagai “orang miskin” dengan ukuran-ukuran kasat mata.

Memang, umumnya orang miskin digambarkan dengan tidak punya rumah. Walaupun punya rumah, rumahnya jelek, sempit, tidak ada perabot bagus, dan berbagai anggapan semisalnya. Atau tidak punya kendaraan, baik roda dua atau roda empat. Itulah umumnya gambaran orang miskin secara kasat mata.

Sebaliknya, bila orang punya rumah bagus dan besar, isi perabotnya mahal, kendaraan pun ada semua, maka ia disebut orang kaya.

Miskin Kaya Stres Juga?

Apakah ada orang stres karena kemiskinan? Ada. Umumnya keadaan ini dialami karena orang tidak siap hidup miskin. Atau salah persepsi tentang kemiskinan. Dikira dengan kemiskinan, hilanglah harga dirinya, lenyaplah kebahagiaannya, dan habislah hidupnya.

Jangan dikira orang kaya tidak mengalami stres. Paling tidak, stresnya orang kaya adalah kebingungan bagaimana caranya menghabiskan uang. Stresnya orang kaya yang lebih kompleks, misalnya menyangkut pengelolaan, pengembangan, dan pengamanan aset. Pendek kata, ia dibikin stres oleh uangnya sendiri.

Ini uniknya dunia stres. Orang kaya stres mikirin belanja apalagi buat menghabiskan uang, orang miskin stres tidak habis-habis hanya sekadar untuk membeli seliter dua liter beras karena tidak punya uang.

Anti Stres

Semakin pandai orang menyikapi urusan dunianya, ia semakin bijak pada kekayaan dan kemiskinan. Semakin pandai orang mengelola urusan akhiratnya, ia semakin mengerti hakikat kekayaan dan kemiskinan. Dan, semakin pandai orang mengelola kehidupan dunia dan akhiratnya, ia semakin menyadari, bahwa kekayaan dan kemiskinan sama-sama ujian. Jadi, ia paham bahwa ia sedang diuji dengan kekayaan atau sedang diuji dengan kemiskinan.

Ada banyak orang miskin yang antri stres. Ia menjalani hidup normal. Mereka tidak banyak menuntut, tapi tetap bersyukur. Tidak mengeluh, tidak juga meminta-minta meskipun ia sangat membutuhkan bantuan. Kadang malah, ia masih sanggup memberi.

Ada banyak orang kaya yang anti stres. Ini orang kaya yang autentik, kaya yang paten, asli, orisinal kaya. Lahiriyahnya dia memang kaya, jiwanya juga kaya. Jadi, ia bukan kaya “kaleng-kaleng”.

Ciri-ciri orang kaya yang autentik tidak ngaku-ngaku “saya orang kaya”, tapi orang banyak tahu bahwa ia kaya. Ia juga dicintai kaum dhuafa. Mereka, orang-orang lemah itu merasa aman, lapang, dan merasa terjamin di sampingnya. Karena itu, bukan hanya rasa cinta orang-orang dhuafa itu bersikap, tapi juga segan dan hormat kepadanya.

Ciri yang lain, orang kaya yang autentik itu pandai menjaga air muka orang miskin. Ia lebih dahulu memenuhi kebutuhan dhuafa sebelum mereka memintanya. Kadang, orang kaya macam ini menyantuni kaum dhuafa itu tidak sebatas memberinya uang atau makan, tapi membekalinya dengan skill agar kelak mereka bisa mandiri dan tidak bergantung pada orang lain lagi.

Orang Kaya Kaleng Kaleng Orang Miskin Autentik

“Gua doain ya, biar lu kaya. Kayak gua.” Kata si orang kaya pada orang yang dipandangnya miskin.
“Terima kasih, Om. Saya mah, nggak perlu kaya.” Jawab si orang yang dipandang miskin.
“Deh, biar lu nggak stres.”
“Kaya juga belum tentu tidak stres. Yang penting cukup aja saya mah.”
“Didoain kaya enggak mau.”
“Kaya juga ribet, Om. Pertanyaan malaikatnya panjang.”
“!#$%#??\\#”

Dialog imajiner di atas, rasanya penting untuk dicermati. Pertama, bisa jadi kita salah memberi identifikasi tentang kaya-miskin. Orang yang kita sangka kaya, ternyata miskin. Dan orang yang kita sangka miskin, ternyata kaya.

Kedua, kesalahan identifikasi ini terjadi karena kaya-miskin terlalu dipandang secara lahiriyah dan mengabaikan sisi batiniyah. Orang disebut kaya jika dilihat ia punya segalanya, dan disebut miskin jika tidak punya apa-apa.

Ketiga, orang kaya autentik cenderung tidak memandang dan mengaku dirinya kaya. Mereka umumnya pribadi low profile, santun, dermawan, dan merasa ia harus dekat dengan orang lemah. Kekayaan miliknya menjadi penghubung dirinya dengan orang-orang miskin. Sebaliknya, orang kaya kaleng-kaleng itu masih butuh pengakuan. Seakan, ia belum sah jadi orang kaya sampai semua tahu bahwa dia kaya. Mereka cenderung tinggi hati, hedonis, pelit dan merasa ia harus bergaul dengan komunitas sendiri yang setara dengannya. Kekayaan menjadi garis demarkasi yang memisah dirinya dengan orang-orang miskin.

Keempat, orang kaya autentik itu jelas kaya lahir batin. Sebaliknya, orang kaya kaleng-kaleng itu hakikatnya orang miskin autentik.

Kelima, stres hanya dialami bagi siapa saja yang tidak mengerti hakikat kaya dan miskin. Karena itu, orang kaya autentik cenderung sehat dan tidak mudah stres. Begitu juga orang yang merasa cukup meskipun dipandang sebagai miskin. 

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,"Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta dunia, akan tetapi kekayaan yang hakiki itu adalah kaya akan jiwa." (HR Al-Bukhari-Muslim).

Jadi, jelas bedanya bukan?

Jum'ah mubarak.

Selasa, 30 November 2021

DOORPRIZE PALING MAHAL





Doorprize Jalan Sehat Milad Muhammadiyah ke-109. Foto credit WA Grup Muhammadiyah Pulo

Doorprize Milad

MILAD Muhammadiyah ke-109 sudah berlalu lebih dari 10 hari sudah. Meriah sekali. PRM Pulo menggelar Jalan Sehat menyambut Milad itu. Ada doorprize-nya. Kulkas, mesin cuci, kipas, dan hadiah-hadiah hiburan yang menarik. 300 kupon doorprize yang disediakan panitia tidak cukup. Warga Muhammadiyah Ranting Pulo yang ikut Jalan Sehat melebihi ekspektasi Panitia. Alhamdulillah, ternyata jamaah Muhammadiyah, Aisyiyah, dan Ortom masih melimpah.

Hari pada Resepsi Milad itu, orang tua, pemuda, dan anak-anak, berbondong-bondong ikut Jalan Sehat. Ada lebih dari lima peserta balita ikut pula dari atas stroller. Tampak, semangat merayakan Milad dari yang paling muda sampai yang paling tua menyala-nyala. Semoga, bukan karena doorprize itu antusiasme jamaah Muhammadiyah tumpah ruah, tapi karena didorong oleh rasa syukur atas nikmat ber-Muhammadiyah yang tidak bisa dibendung.

Milad Effect

TIDAK disangkal, adanya reward (imbalan) memang menjadi motif melakukan sesuatu. Ia bagai suplemen yang mendorong orang jadi punya semangat berlebih untuk melakukan pekerjaan atau menjawab tantangan. Bisa jadi, saat belum dihadirkan reward, ketertarikan orang untuk melakukan pekerjaan atau menjawab tantangan hanya 50 sampai 75 %. Akan tetapi, dengan dihadirkannya reward, tingkat partisipasi bisa mencapai 80 hingga 95%.

Tampaknya, dihadirkannya doorprize bukan satu-satunya alasan PRM Pulo menggelar Resepsi Milad. Doorprize hanya sekadar alat untuk mengukur sejauh mana antusiasme warga Muhammadiyah saat ini. Selanjutnya, apakah antusiasme itu bisa ditransfer pada kegiatan-kegiatan rutin persyarikatan semisal pengajian rutin Malam Senin, kuliah Subuh, atau pengajian Aisyiyah pada setiap Selasa dan Jum’at, tampaknya masih perlu diperjuangkan.

Doorprize dan Muamalah Duniawiyah

JIKA ada angket disebar kepada peserta Jalan Sehat, dan salah satunya ada pertanyaan: “Apakah Bapak/Ibu ikhlas mengikuti Jalan Sehat?” Pasti jawabannya ikhlas. Apa dasar pertimbangannya? Tentulah doorprize. Sebab jika pertanyaan dilanjutkan: “Apakah Bapak/Ibu ikhlas jika mendapat hadiah kulkas saat kupon diundi?” Pasti jawabannya ikhlas.

Karena doorprize termasuk kategori muamalah duniawiyah atau masalah urusan duniawi, maka keikhlasan mengikuti jalan sehat ukurannya adalah kulkas, mesin cuci, kipas angin, atau magic jar. Itu sah dan tidak akan mengurangi nilai dari Milad dan Jalan sehat itu.

Lalu, apakah mengikuti Milad dan jalan sehat itu berpahala?

Tentu, apabila keikhlasan yang dibangun tidak semata-mata karena doorprize itu, melainkan diniatkan untuk syiar dakwah semakin semarak. Apa ukurannya? Dapat atau tidak dapat doorprize sama saja niatnya untuk syi’ar tidak bergeser. Dapat kulkas, itulah bonus. Tidak dapat, anggap saja belum rezeki, dan tetap bersyukur masih bisa menggembirakan syiar Milad.

Pahala dan perkara Ubudiyah

DARI Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khattab radhiyallahu anhu, dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallahu`alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena menginginkan kehidupan yang layak di dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.” (HR. Bukhari).

Shalat Subuh dan ta’lim termasuk urusan ibadah. Maka, niatnya pun sedapat mungkin harus lurus, harus lillah. Maka, shalat Subuh yang lalu dilanjutkan dengan kajian Subuh, akan bisa membelokkan niat apabila disediakan doorprize seperti doorprize Jalan Sehat. Meskipun dengan niat ingin memberi motivasi agar jamaah berbondong-bondong ikut kajian Subuh, sangat mungkin niat akan berubah dari lillah menjadi lil kulkas, lil mesin cuci, atau lil kompor gas.

Cukuplah doorprize shalat Subuh dan kajian Subuh adalah doorprize yang paling mahal. Sedemikian mahal harganya, ia tidak terbeli oleh dunia dan segala isinya. “Dua rakaat shalat sunnah Fajar lebih baik dari dunia dan seluruh isinya.” (HR. Muslim). Inilah doorprize paling mahal itu.

Doorprize dua rakaat sunnah fajar memang tidak kasat mata. Tidak bisa dilihat tampilannya. Ia hanya bisa dirasakan oleh kebeningan hati, kecerdasan akal, dan keikhlasan menjalankannya. Lagi pula, Doorprize dua rakaat sunnah fajar itu tidak diterima sekarang, tapi, nanti saat hidup sudah abadi, akhirat. Yang pasti, Doorprize dua rakaat sunnah fajar tidak dikocok. Siapa pun yang datang berbondong-bondong dengan keikhlasan, akan membawa pulang doorprize-nya masing-masing.

Doorprize dua rakaat sunnah fajar adalah urusan hamba dengan Allah subhanahu wa ta'ala. Manusia tidak bisa ikut campur dalam urusan ini. Yang bisa dilakukan hanya sebatas mengingatkan, menyeru, dan mengajak. Maka, berbahagialah bagi orang yang sudah mengingatkan, menyeru, dan mengajak agar orang berbondong-bondong meraih doorprize Shubuhnya. Berbahagialah orang yang menjawab seruan.

Pada akhirnya, tidak ada seorang muslim yang tidak menginginkan doorprize dari Allah. Setiap hari pun, Allah sudah memberikan doorprize duniawi yang begitu banyak dan mahal harganya. Bukankah hidung masih bisa menghirup udara, mata masih bisa berkedip, lidah masih bisa mengecap, mata masih bisa melihat, telinga masih bisa mendengar, tangan dan kaki masih lentur bisa difungsikan? Tanyakanlah, berapa harganya untuk tetap bisa bernapas?

Semoga Allah tidak bosan memberikan kita doorprize. Aamiin.

Sabtu, 20 November 2021

MBAK UPI; KENANGAN ATAS TUMIS PEPAYA MUDA

 

Tumis pepaya muda./Copyright cookpad.com/Christina Murni Utami

Pagi tadi, kabar duka sampai ke telinga. Mbak Upi berpulang. Memang, sudah cukup lama kehilangan kontak, sejak pertemanan di FB terputus. Saya ingat, kontak terakhir dengan almarhumah di FB itu soal tumis pepaya muda. Tumis sederhana, namun terasa mewah. Mbak Upi menimpali, “Kapan-kapan, kita ngumpul lagi Pak Abdul. Kita makan tumis pepaya bareng-bareng Pak Jabal lagi.”

Saya aminkan saja candaan itu. Namun, seakan waktu jadi belenggu. Kaki tak jua melangkah. Hingga Mbak Upi berpulang, tumis pepaya muda racikan Mbak Upi itu tak akan bisa saya nikmati lagi selamanya.

Tumis pepaya sesedap itu, salah satunya hadir dari racikan dapur rumahnya. Dari bahan sederhana dan biasa-bisa, jadi istimewa. Komposisi rasa gurih, asin, manis, dan pedasnya pas sekali. Ngena betul di lidah.

Saya tak tahu, bagaimana cara Mbak Upi mengolahnya. Apa karena sudah jam makan siang dan perut sudah minta diisi? Bisa jadi. Adakah bumbu rahasia di baliknya? Mungkin. Apa karena gratis, ya? Nah, bisa jadi juga. Sudahlah lapar, dihidangkan gratis, ya, nikmat mana lagi yang harus didustakan?

Tapi, enggak, ah. Itu bukan kali pertama menikmati tumis pepaya muda. Berkali-kali, tak terhitung. Di samping praktis dan murah, tumis pepaya muda boleh dibilang sudah jadi menu familiar orang kampung. Jadi, Mbak Upi memang punya legacy tumis pepaya muda yang oke banget. Bisa jadi, keikhlasan Mbak Upi yang selalu menyiapkan tumis pepaya itu berlebih agar bisa dinikmati bareng teman-teman Pak Jabal di kantor dahulu saat masih membersamai. Makanan yang dihidangkan dengan ikhlas, maka, cita rasanya disukai Sang Pemberi Rezeki.

“Ibun”, begitu Mbak Upi biasa disapa. Oleh anak-anak, keluarga, dan sahabat-sahabatnya. Sesedih apa ditinggal Mbak Upi, mereka-mereka yang dekat pastilah yang merasakannya melebihi saya. Beruntung, masih dapat waktu untuk berdiri menshalatkan jenazah dan mengantarnya ke pemakaman. Itu kesempatan terakhir untuk memberi rasa hormat sebelum urusan kembali pada masing-masing di hadapan Sang Khalik.|

Hari itu, di sela duka, Pak Jabal; suami Mbak Upi masih bisa tersenyum. Saya yang agak kikuk karena terbawa suasana, semula menyangka Pak Jabal tak setegar itu. Ia memang selalu hangat saat kami bertemu, bercanda, melempar joke, lalu tawa kami sama-sama pecah. Namun, itu di saat perjumpaan suka.

“Tertipu oleh Alam” dan “Kantong Macan” adalah topik candaan 16 tahun yang lalu milik kami, milik kami abadi. Sebab, tiap kali bertemu, “Tertipu oleh Alam” dan “Kantong Macan”, tidak pernah ketinggalan. Dan, hanya kami yang paham maksudnya saat keywords itu kami sebut. Biarpun demikian, simpati merasakan berat perasaan ditinggal istri, saya mengerti meski seberapa remuk redamnya hanya Pak Jabal yang merasa. Akan tetapi, “Tertipu oleh Alam” dan “Kantong Macan” masih pula ia singgung-singgung.

Saya harus katakan, persahabatan saya dengan Pak Jabal dan Mbak Upi adalah hubungan yang selalu berusaha merawat hal-hal yang baik. Sebagai manusia, saya dan beliau berdua pastilah mengerti bahwa tidak ada manusia sempurna. Mungkin saja Pak Jabal ada menyimpan kesan tak sedap tentang saya, begitu juga Mbak Upi. Beliau berdua juga pasti menyadari, ada hal yang tidak sedap yang saya simpan mengenai mereka. Itu manusiawi, manusiawi sekali. Akan tetapi, sisi-sisi manusiawi kami, lebih suka merawat dan mengenang yang baik-baik saja. Sebab dengan begitu, pasang surut persahabatan akan selalu membahagiakan.

Saya pun tidak tahu, apakah saya masuk list sahabat Pak Jabal dan Mbak Upi yang membahagiakannya atau tidak. Yang saya rasa, perkara tumis pepaya muda yang dipersembahkan Mbak Upi enam belas tahun lalu itu saja, sudah membahagiakan saya.

Kepergian Mbak Upi dan kepergian saudara kita yang lain sebenarnya sama. Kepergian mereka semua adalah pesan bagi kita yang masih hidup. Cepat atau lambat, antrian akan sampai waktunya pada diri setiap kita. Pintu loket alam barzakh terbuka 24 jam nonstop dan masing-masing kita sudah mengantongi nomor antrian. Hanya saja, jatuh pada antrian nomor berapa, tidak ada yang tahu. Bisa waktunya bersamaan, bisa tidak, di bumi mana kita masuk pintu barzakh, hari ini, besok, atau lusa, semuanya misteri.

Menunggu. Ya, menunggu. Cuma itu sekarang yang tersisa. Hanya saja, saat menunggu itu apakah setiap diri konsisten mencatat laba pahala jadi membengkak, atau malah menumpuk rugi menggunung. Tentu, setiap orang yang cerdas, akan tahu mana yang harus ia pilih.

Lazimnya, nomor antrian umat Muhammad shallallahu alaihi wa sallam itu akan sampai pada kisaran angka 60-an lebih sedikit. Jarang yang melebihi angka itu. Kalaupun ada, semoga itu tambahan keberkahan usia bagi yang mendapatkannya.

Akan tetapi, kita semua tahu, kematian keluar dari hukum angka hitungan manusia. Ia datang tidak memandang usia, tua atau masih muda, dan siap atau belum siap. Kematian itu datang sesukanya, sesuka takdir Yang Maha Pemberi Kehidupan menjatuhkan titah pada malaikal maut menjemput.

Benarlah jika kematian itu adalah pengajaran. Cukuplah ia sebagai pengingat; pengingat dari syirik kepada iman, dari lalai kepada istiqamah, dari salah menjadi salih, dari maksiat menjadi taat, dari dosa kepada taubat, dan dari semua hal yang buruk menuju pada kebaikan. Jika tidak, kerugian ditanggung masing-masing.

Kematian itu mengajarkan supaya manusia jangan terlambat seperti Namrud, Fir’aun, atau Abrahah karena singgasana, seperti Qarun karena harta, atau seperti Haman karena jabatan. Atau terlambat karena ketiganya ada di genggaman. Apalagi, harus terlambat tanpa pernah mencicipi manisnya singgasana, harta, atau jabatan berang sekejap saja.|

Sekecil apa pun kebaikan dihidangkan, mesti ada catatan timbangan beratnya di sisi Allah subhanahu wa ta'ala. Ya Allah, jika tumis pepaya muda yang membahagiakan saya itu menjadi jalan kebahagiaan Mbak Upi di sana, berikan yang terbaik untuk Mbak Upi. Apatah lagi kebaikan-kebaikannya yang lebih besar dari itu. Maafkanlah segala khilaf dan kesalahannya. Allaahummaghfir lahaa warhamha wa ‘afiha wa’fu ‘anha.

Selamat jalan, Mbak. Maafkan saya yang tak sempat memenuhi janji.

Jumat, 19 November 2021

"MISTERI" DI BALIK "TARAWIH TERAKHIR"


Draft "Tarawih Terakhir"
Kita harus mulai berpikir seperti sungai jika ingin meninggalkan warisan keindahan dan kehidupan untuk generasi mendatang." – David Brower.
INI sepenggal kisah. Kisah tentang para pemburu pasir Ciliwung dalam draft buku “Tarawih Terakhir”. Semula, rencana buku ini akan diluncurkan pada 18 November 2021 saat 95 % buku sudah siap pada Agustus 2021. 18 November adalah “waktu keramat”, tepat saat Milad Muhammadiyah ke-109. Bagi warga persyarikatan, Milad itu seperti saatnya berjumpa kekasih. Senang, bahagia, dan semringah jadi satu. Akan tetapi, karena kendala teknis, momentum Milad akhirnya tidak bisa direngkuh. Ia berlalu. Rasanya, seperti ditinggalkan sang kekasih tercinta yang pergi tanpa pesan.

Mengapa Milad?

Ya, karena buku ini punya benang merah yang kuat dengan persyarikatan Muhammadiyah Ranting Pulo. Rekaman para pejuang penggali pasir Ciliwung untuk membangun masjid yang dulunya Langgar Pak Tua Naen. Masjid yang kelak dibangun mereka susah payah harus mereka tinggalkan karena pecah kongsi.

Mungkin bagi sebagian orang, kisah ini tidak penting. Akan tetapi bagi saya, kisah ini teramat penting. Dan, ia tidak boleh terlalu lama dikubur lumpur sejarah. Sebab, semakin lama ia terkubur, semakin jauh ia terpendam dan semakin sulit ia digali. Lalu, ia lenyap dari peradaban persyarikatan karena sudah jauh dilupakan. Itulah takdir sejarah yang tidak dituliskan.

Draft buku ini sudah mulai ditulis pada 2017 sejak wawancara dimulai, bahan dikumpulkan, dokumen dicari ke sana ke mari, konfirmasi data, menafsirkan data, dan menyusunnya menjadi narasi. Editor buku ini menyebutnya “Novel Ilmiah”, sebab ia orang Bahasa dan Sastra Indonesia. Pengantar buku ini; Fikrul Hanif Sufyan, SS., M. Hum menyebutnya “Biografi” sebab ia sejarawan muda Muhammadiyah Payakumbuh, Sumatera Barat. Lalu, apa kata pembaca nanti? Saya tidak tahu.|

Para Pemburu Pasir

BAGI masyarakat Depok sekitar aliran sungai Ciliwung, Ciliwung bagai napas hidup mereka. Sedang bagi jamaah Langgar Isnaen khususnya, Ciliwung adalah napas jihad menggali dan mengangkut pasir.

Isnaen dan jamaah langgarnya mengambil pasir setiap hari Jum'at. ­Mereka orang-orang yang paling jarang absen memikul pasir. Habis subuh, atau ­paling lambat jam tujuh pagi, mereka sudah berangkat berjalan kaki ke pinggir kedung Ciliwung. Nanti, jika pasir sedang melimpah, jam sepuluh pagi, mereka sudah sampai di langgar kembali.

Kedung adalah lubang di tengah sungai seperti ­pusaran air. Pada waktu sungai banjir, air meluap keluar masuk kedung. Saat itulah pasir-pasir meluap ikut terbawa bersama luapan air. Pasir-pasir itu kemudian menepi. Saat itu, pasir-pasir seolah datang sendiri ke tepian sungai ­menjadi rezeki melimpah bagi Keluarga Isnaen dan jamaah langgarnya.

Kadang para pemburu pasir itu tidak sabar menunggu di tepian sungai. Mereka turun ke sungai menjaga jarak aman dari kedung buat menadah luapan pasir. Luapan pasir dengan sendirinya masuk ke dalam wadah. Kira-kira wadah sudah penuh, mereka menepi untuk memindahkan pasir ke tepian sungai. Begitu ­berulang-ulang, sampai keranjang, pengki, atau lengke untuk mengangkut pulang pasir-pasir itu penuh.

Di waktu air sungai surut, pasir-pasir mengendap di dasar kedung. Pasir menjadi langka. Jika sudah begitu, para pemburu pasir itu menggali pasir di tepian sungai dengan ­tangan-tangan mereka. Bisa dibayangkan, tangan-tangan mereka menjadi ­keriput karena air sungai. Kuku-kuku mereka menjadi rusak dan kusam karena pasir. Jika pasir tidak mereka dapat gratis karena sungai sedang kering, mereka membeli di pangkalan pasir. Asalkan mereka tidak pulang dengan tangan kosong, mereka rela membeli dari kocek sendiri berpatungan.

Ada tiga kedung yang menjadi buruan mereka; kedung Plangpo, kedung Jago, dan kedung Petir. Rute ke kedung Plangpo melewati Kampung Pitara, Kampung Baru, Kampung Belimbing, terus ke kedung Plangpo. Sedangkan jika hendak ke kedung Jago, rutenya melalui Kampung Ratu Jaya, Kampung Baru, terus ke kedung Jago.

Namun, yang sering disambangi mereka adalah kedung Petir. Letaknya dekat gereja paling tua di Depok. Untuk sampai ke kedung Petir, rute yang ditempuh Kampung Pitara, Kampung Sengon, pasar Depok Lama, kemudian ke arah Gereja tua, lalu ke Petir.

Petir dilintasi aliran sungai Ciliwung berjarak tujuh sampai delapan kilometer jauhnya dari Langgar Isnaen. Lelah dan letih, pundak yang terasa panas lalu menjadi kapalan karena memikul beban berat tidak mereka hiraukan. Begitulah, semangat jihad untuk sebuah masjid, sampai-sampai letih dan lelah bagaikan ­kesenangan ­menyambut pahala yang Allah janjikan. Pundak mereka yang kapalan seperti tanda pangkat derajat mereka di surga kelak. Semua itu seperti energi ajaib yang membuat pengki mereka yang penuh pasir menjadi terasa ­ringan. Begitulah apabila motivasi beramal hanya mengharap rida Allah, semua bisa dilewati tanpa beban.

Setiap Jum'at mereka berangkat ke Petir. ­Jalan kaki! Pulang pundak memikul pasir! Dan, baru berakhir saat masjid sudah berdiri.

Tentu, jalan kampung yang dilewati sampai ke kedung waktu itu belumlah seperti sekarang yang sudah beraspal, dan mulus. Semuanya masih berupa jalan tanah, sempit, becek, dan licin di kala musim penghujan, penuh rimbunan semak di kiri-kanan jalan, sepi karena jarak antara satu rumah dengan rumah yang lain masih jauh dan jarang, dan tentu masih banyak hutan.

Pendek kata, perjuangan menggali, mengumpulkan, dan memikul pasir dari sungai Ciliwung merupakan sebuah ­pengorbanan berat yang sukar dinilai saat ini. ­Hanya mereka orang-orang yang punya semangat juang yang mau melakukannya.

Sementara, mereka yang tidak punya ruh jihad, lebih memilih diam berpangku tangan sambil menonton, atau menyingkir ­tidak mau tahu seperti apa rasanya kepayahan memikul, jari-jari tangan yang keriput, kuku-kuku yang menghitam, kusam, dan rusak, serta pundak-pundak yang menjadi kapalan.

Adapun para pejuang itu, apakah mereka merasakan putus asa dan menyerah? Tidak!

Mereka sadar, merekalah yang harus berbuat. ­Merekalah yang harus mengukir sejarah. Merekalah yang harus mewujudkan cita-cita memiliki masjid itu meskipun ­biaya, tenaga, ­keringat, dan pundak-pundak mereka sebagai ­bantalan pasir-pasir itu berpindah dari Ciliwung ke langgar leluhur ­mereka menjadi taruhan. Mereka memaknai perjuangan memikul dengan gembira seakan pasir-pasir itu bahan material untuk membangun rumah-rumah ­mereka sendiri di surga.

Begitulah, pasir Ciliwung menjadi kekuatan, semacam ­energi yang membakar niat memiliki masjid tidak pernah ­padam. ­Seperti sifatnya, pasir memang memiliki kekuatan, menjadi elemen perekat bersama semen, kapur, dan batu membentuk tembok yang kokoh, menara yang menjulang, dan lantai yang sejuk.

Lalu, siapa para pejuang penggali pasir itu?|

Tarawih Terakhir

MAKA pada malam kedua Ramadan itu, apa yang ­kemudian terjadi, terjadilah. Tangan-tangan yang bersih dari bekas Pasir Ciliwung itu, tubuh-tubuh yang tidak merasakan dinginnya air ­sungai saat saudara-saudara mereka berendam di kedung Ciliwung menadah pasir itu, tangan-tangan yang tidak merasakan terkelupas oleh ­kerasnya batu Gunung Kapuran itu, tapak-tapak kaki dan betis yang tidak merasakan meluang berjalan berkilo-kilo itu, dan pundak-pundak yang tidak kapalan karena ditindih ­pikulan ­pengki, keranjang, atau lengke, menduduki tempat imam ­tarawih pada malam kedua.

Itulah Tarawih Terakhir.

Keluarga Isnaen dan orang-orang yang merasakan dinginnya air Ciliwung saat ­mengambil pasir harus angkat kaki.
Adakah air mata?
Adakah perlawanan?
Adakah penyesalan?
Adakah dendam?
Lalu, apa yang tersisa?
Tidak!
Yang tersisa adalah perjuangan baru, membuka ladang amal baru, dan membangun jalan ke surga yang baru. Akan tetapi, gesekan-gesekan perjuangan baru, makin berat tantangannya.|

Jangan Sangka

NAMUN, jangan sangka air mata tidak ­mengalir. Ia mengalir, deras mengalir, tapi hanya di dalam jiwa. Jangan sangka tidak ada isak tangis melengking. Ada, tapi diredam di dalam dada. ­Jangan sangka tidak ada keluh-kesah. Ada, tapi ditelan sendiri di alam sepi. ­Jangan pula disangka tidak ada gejolak kecewa yang menggunung. Ada, tapi dirasai sendiri-sendiri.

Catatlah! Air mata itu, isak tangis itu, keluh-kesah itu, dan gejolak kecewa itu, tidak mereka jadikan mesiu untuk membakar persaudaraan. Tidak, karena tak seorang pun yang beruntung bila sudah terperosok pada medan “Menang jadi arang, kalah jadi abu.”

Tunggu kisah lengkapnya dalam “Tarawih terakhir”, persembahan untuk mujahid penggali pasir dari saya kepada pembaca.

Salam ukhuwah.

Minggu, 14 November 2021

TEKOKAK DAN MASA LALU



Foto pribadi. Jepretan Samsung A 12

KAMPUNG ini memang sudah berubah. Sungai-sungai kecilnya tak lagi menjadi rumah bagi ikan-ikan liar. Ikan benter, cere, udang, sepat, atau mujair tak bisa lagi dijumpai di sana. Bukan karena ikan-ikan itu tidak betah lalu bermigrasi mengikuti aliran sungai lalu tidak kembali ke kampung ini, bukan. Ikan-ikan itu lenyap bersama sungai kecilnya yang ditimbun batu, pasir, dan conblock.

Kampung ini memang sudah berubah. Sawah-sawahnya yang dahulu menghampar, tak lagi menjadi lahan subur di mana tumbuh genjer dan gulma yang sedap bila ditumis. Genjer dan gulma itu, kapan saja bisa dipanen cuma-cuma kalau mau. Akan tetapi, genjer dan gulma itu ikut raib bersama ikan-ikan liar dari sungai kecil itu. Bukan karena tanah sawah-sawah itu sudah tidak subur lagi, bukan. Melainkan, sawah-sawahnya juga sudah ditimbun pasir, split, aspal, juga conblock

Kampung ini memang sudah berubah. Burung-burung liar yang selalu datang pagi dan petang, terbang entah kemana. Tak tampak lagi blekok yang putih, mandar dan terkoakan yang kecoklatan, atau ayam-ayaman yang hitam legam, begitu juga emprit dan peking yang ramai saat padi mulai berbiji.

Kawanan burung itu tidak punya harapan lagi di kampung ini. Katak-katak muda tak lagi dijumpai paruh panjang si blekok. Melik dan ikan-ikan kecil tak bisa dipatuk mandar dan terkowakan. Begitu juga peking dan emprit. Kawanan burung mungil ini tak mendapatkan lagi biji padi barang sebulir. 

Burung-burung itu ikut pergi, minggat sejauh sayapnya mengepak, lalu hinggap di ekosistem baru yang masih asri ribuan kilo jauhnya. Sebab, kampung ini tidak lagi menyediakan makanan buat tembolok mereka yang kempis. Lumbung ikan dan rumpun padi tak pernah muncul lagi di air dan sawahnya yang digusur bulldozer. Karena itulah mereka semua terbang dan tak sudi kembali lagi. 

Kampung ini memang sudah berubah. Orang tak bisa lagi memanen karuk saat dahan-dahan durian berkembang lebat. Tak ada lagi pohon durian tumbuh, karena setiap jengkal tanah di kampung ini didahulukan buat membangun pondasi rumah anak cucu. Lalu, karuk tinggal kenangan belaka. Makanya, tak ada lagi ritual mencari karuk. Bahkan boleh jadi, dahulu, para pencari karuk, lebih rela ketinggalan shalat subuh di masjid atau musala kampung daripada ketinggalan memungut karuk.

Kampung ini memang sudah berubah. Tak ada lagi galah asin, kasti, benteng, atau petak umpet menjelang mengaji. Semua kegembiraan, autentik, alami, murah, menyehatkan, dan menyenangkan itu telah dilupakan. Permainan kampung itu hanya tinggal dikenang tanpa dimainkan lagi. Bukan karena orang-orang kampung lupa cara memainkannya, akan tetapi, semua permainan itu tenggelam dilibas zaman smartphone. Sedih, ia dilupakan karena mengaji tidak seramai dahulu. Yang lebih menyedihkan lagi, pengajiannya mati mendahului galah asin, kasti, benteng, dan petak umpet. Pengajian lekar turut surut, istilah "uang minyak" menjadi asing. Untunglah TPA-TPA subur seperti cendawan di musim hujan.

Begitulah. Memang kampung ini sudah berubah. Namun, biarlah ia berubah mengikuti zaman asalkan nilai-nilai luhur, persaudaraan, akhlak, dan tradisi baik tidak turut punah bersama masa lalu.

Dan, di pagi yang mendung ini saya berbinar setelah mengaji. Kaki melangkah melewati sisa-sisa sungai kecil, sawah, dan entah berapa bekas-bekas pokok pohon durian yang telah tumbang. Di sana, di sisa sawah yang tertimbun tanah urug, ada pohon perdu. Ia tumbuh subur di antara bongkahan batu. Buahnya tampak menyembul dari balik dahannya yang berbulu halus. Saya sungguh senang menjumpai marga terung-terungan ini  tumbuh liar menyendiri. Berarti, kampung ini masih menyimpan kekayaan meskipun sedikit. Jika saja ia halal saya ambil, biarlah diunder saja untuk lalapan dengan sambal terasi nanti siang.


Ya, tekokak. Masih ada tekokak tumbuh di kampung ini. Melihatnya secara tidak sengaja, seperti menemukan barang yang hilang bertahun-tahun lamanya.

Ia mirip leunca. Hanya saja aroma tekokak lebih kuat. Teksturnya pun lebih keras. Namun, bagi penyuka lalapan, launca atau tekokak sama-sama nikmat bersanding nasi panas, ikan asin, sayur asem, dan tentu sambal terasi. Jangan lupa, minumnya teh aur panas tanpa gula. Rasanya, keindahan kampung ini seakan kembali seperti dahulu.

Begitulah, kadang hal kecil bisa membangkitkan nostalgia pada masa kalu kampung yang elok, seperti ingatan pada Kampung Pulo 35 tahun yang silam.

Untuk tekokak, alhamdulillah.

Jumat, 12 November 2021

“BAU” SUMANTO DALAM KEKERASAN SEKSUAL


“Bau” Sumanto? Memang, Sumanto bau apa?

Sabar. Pelan-pelan saya jelaskan. Pertama, Sumanto di sini bukan Sumanto pemakan mayat. Ini Sumanto lain. Ini Sumanto “intelek”. Kedua, tentang “Bau”. Ini bukan bau keringat, bau iler, atau bau kentut Sumanto. Akan tetapi, “Bau Pemikiran” Sumanto. Ketiga, kekerasan seksual. Apa Sumanto melakukan kekerasan seksual? Enggak. Jangan salah sangka dulu. Bahkan Sumanto bukan hanya demokratis soal seksual, bahkan cenderung liberal. Karena itu, dia tidak mungkin melakukan kekerasan dimaksud.

Terus, maksud bau di sini apa? Maksudnya, ada bau-bau pemikiran Sumanto tentang kekerasan seksual dalam Permendikbudristek RI Nomor 30 Tahun 2021.

Permendikbudristek

Akhir-akhir ini, sedang ramai dibicarakan Permendikbudristek RI Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi. Permen ini dipermasalahkan sejumlah pihak karena dianggap bermasalah. Titik krusial yang dipersoalkan salah satunya pasal 5 ayat 2 huruf L dan M. Pada pasal itu dinyatakan:

(2) Kekerasan seksual sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:

L. menyentuh, mengusap, meraba, memegang, memeluk, mencium dan/atau menggosokkan bagian tubuhnya pada tubuh Korban tanpa persetujuan Korban;
M. membuka pakaian Korban tanpa persetujuan Korban;

Ormas besar seperti Muhammadiyah pun bereaksi. Ormas Islam yang pada bulan November ini akan genap berusia 109 tahun meminta agar Permendikbud Ristek No 30 itu dicabut (argumentasi Muhammadiyah dapat dilihat pada situs resmi Muhammadiyah di https://muhammadiyah.or.id/muhammadiyah-komitmen-lawan-kekerasan-seksual-penolakan-permendikbud-30-murni-karena-substansi/). Demikian pula MUI melakukan tuntutan yang sama.

Membaca pasal 5 ayat 2 pada Permendikbudristek RI Nomor 30 Tahun 2021 itu, orang awam pun bertanya-tanya, “Apakah jika Korban setuju, maka hal tersebut diperbolehkan dalam pergaulan mahasiswa dan mahasiswi di kampus-kampus Indonesia, Pak Menteri?” Nah?

Bagi para cendekia yang pikirannya masih lurus, pasal ini bermasalah. Di mana masalahnya? Dalam bahasa mereka, Permendikbudristek No. 30 mengandung unsur legalisasi terhadap perbuatan asusila dan seks bebas berbasis persetujuan. Karenanya harus ditinjau ulang.

Jika Muhammadiyah bersikap tegas meminta Permendikbud 30 itu dicabut, tentu hal yang wajar. Ada 166 Perguruan Tinggi dimiliki organisasi ini. Beberapa kampus Muhammadiyah bahkan diakui dalam skala internasional. Di seluruh Perguruan Tinggi Muhammadiyah itu, Muhammadiyah memiliki komitmen menghindarkan mahasiswa dari seks bebas dan berbagai turunannya yang dimasukkan dalam kerangka kurikulum Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK). Karena itu, Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah bebas dari relasi seksual yang haram, yang tidak sejalan dengan ajaran Islam di luar framework rumah tangga atau pernikahan.

KH. Cholil Nafis dari MUI menyebut, Permendikbud 30 itu bermasalah. Pada akun twitternya, beliau menulis, “Permendikbudristek No. 30 thn pasal 5 ayat 2 ttg kekerasan seksual memang bermasalah karena tolokukurnya persetujuan (consent) korban. Padahal kejahatan seksual menurut norma Pancasila adlh agama atau kepercayaan. Jadi bukan atas dasar suka sama suka tapi krn dihalalkan.”

Berbeda dengan Muhammadiyah dan MUI, Permen ini mendapat dukungan Kementerian Agama. Kebijakan Kemendikbud-Ristek terkait Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) di lingkungan perguruan tinggi diaminkan Yaqut Cholil Qoumas. Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas bahkan mengeluarkan Surat Edaran Sekretaris Jenderal Kemenag tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) di Lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN), seperti yang dilansir berita online www.merdeka.com. Menag pun meminta Permendikbud Kekerasan Seksual tidak dimaknai keluar konteks.

Penejelasan Kemendikbudristek

Kemendikbudristek, pihak yang berwenang atas keluarnya Permendikbudristek no. 30 itu menyampaikan penjelasan. Nizam, Dirjen Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi (Diktiristek) membantah anggapan yang mengatakan Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Permendikbudristek) Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) di Perguruan Tinggi dapat melegalkan praktik seks bebas di kampus. Nizam mengatakan anggapan tersebut timbul karena kesalahan persepsi atau sudut pandang. Menurut Nizam dalam keterangan tertulisnya pada Selasa (9/11/2021), tidak ada satu pun kata dalam Permen PPKS ini yang menunjukkan bahwa Kemendikbudristek memperbolehkan perzinaan. Tajuk di awal Permendikbudristek ini adalah ‘pencegahan', bukan ‘pelegalan'.

Nizam mengatakan, salah satu sebab lahirnya aturan itu karena adanya beberapa organisasi dan perwakilan mahasiswa menyampaikan keresahan dan kajian atas kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan perguruan tinggi yang tidak ditindaklanjuti oleh pimpinan perguruan tinggi.

Oleh karena itu, kehadiran Permendikbudristek PPKS menurut Nizam merupakan jawaban atas kebutuhan perlindungan dari kekerasan seksual di perguruan tinggi yang disampaikan langsung oleh berbagai mahasiswa, tenaga pendidik, dosen, guru besar, dan pemimpin perguruan tinggi yang disampaikan melalui berbagai kegiatan. PPKS dirancang untuk membantu pimpinan perguruan tinggi dan segenap warga kampusnya dalam meningkatkan keamanan lingkungan mereka dari kekerasan seksual; menguatkan korban kekerasan seksual yang masuk dalam ruang lingkup dan sasaran Permen PPKS ini; dan mempertajam literasi masyarakat umum akan batas-batas etis berperilaku di lingkungan perguruan tinggi Indonesia, serta konsekuensi hukumnya.

Penjelasan Nizam terkait PPKS ini tampak cukup komprehensif. Masalahnya, saat pertanyaan dilontarkan soal pasal 5 ayat 2 itu, tidak dijelaskan secara detail. Frasa “ tanpa persetujuan Korban” bisa menjadi senjata yang digunakan pelaku seks bebas di kampus dengan alasan perbuatan itu dilakukan atas dasar suka sama suka. Maka, apabila berbicara konteks pencegahan, maka pencegahan itu harus pula mencakup frasa dalam aturan yang sangat mungkin disalahtafsirkan karena maknanya ambigu.

Maka bisa dipahami salah satu kritik Muhammadiyah berangkat dari frasa itu. Frasa "tanpa persetujuan korban" mendegradasi substansi kekerasan seksual, yang mengandung makna dapat dibenarkan apabila ada "persetujuan korban (consent)".

Sumanto dan Pemikiran Kekerasan Seksual

Sekarang beralih ke Sumanto. Asumsi saya, ada bau-bau Sumanto di sana. Sumanto Al Qurtuby PhD, Associate Professor of Anthropology–seterusnya saya tulis namanya dengan Profesor–, Profesor antropologi dan sosiologi di King Fahd University, Arab Saudi. Jelas, ya. Ini bukan orang biasa seperti kita. Pemikirannya pun tidak biasa, tidak seperti kebanyakan orang. Karena itu, bisa jadi, orang-orang biasa tidak akan sanggup memahami pemikirannya.

Salah satu pemikirannya yang tidak biasa itu adalah tentang kekerasan seksual. Silakan buka situsnya terkait topik ini di https://sumantoalqurtuby.com/seksualitas-dan-moralitas/. Di sana Anda akan bisa melihat dan menyelami dengan biji mata dan mata hati telanjang. Setelah itu, silahkan nilai sendiri. Bisa jadi, penilaian Anda berbeda dengan saya.

Dalam situsnya, Profesor ini menguraikan sejarah seksual, khas uraian seorang antropolog. Di akhir-akhir uraiannya, barulah ia memuntahkan pemikirannya. Entah pemikirannya ini orisinal, atau mengekor pendapat Profesor lain, hanya sang Profesor yang tahu.

Berikut:
Saya rasa Tuhan tidak mempunyai urusan dengan seksualitas. Jangankan masalah seksual, persoalan agama atau keyakinan saja yang sangat fundamental, Tuhan—seperti secara eksplisit tertuang dalam Alqur’an—telah membebaskan manusia untuk memilih: menjadi mukmin atau kafir. Maka, jika masalah keyakinan saja Tuhan tidak perduli apalagi masalah seks? Jika kita mengandaikan Tuhan akan mengutuk sebuah praktek “seks bebas” atau praktek seks yang tidak mengikuti aturan resmi seperti tercantum dalam diktum keagamaan, maka sesungguhnya kita tanpa sadar telah merendahkan martabat Tuhan itu sendiri. Jika agama masih mengurusi masalah seksualitas dan alat kelamin, itu menunjukkan rendahnya kualitas agama itu.
Bagaimana?

Ini lagi:
Demikian juga jika kita masih meributkan soal kelamin—seperti yang dilakukan MUI yang ngotot memperjuangkan UU Pornografi dan Pornoaksi—itu juga sebagai pertanda rendahnya kualitas keimanan kita sekaligus rapuhnya fondasi spiritual kita. Sebaliknya, jika roh dan spiritualitas kita tangguh, maka apalah artinya segumpal daging bernama vagina dan penis itu. Apalah bedanya vagina dan penis itu dengan kuping, ketiak, hidung, tangan dan organ tubuh yang lain.
Bagaimana?

Lanjut:
Agama semestinya “mengakomodasi” bukan “mengeksekusi” fakta keberagaman ekspresi seksualitas masyarakat. Ingatlah bahwa dosa bukan karena “daging yang kotor” tetapi lantaran otak dan ruh kita yang penuh noda. Paul Evdokimov dalam The Struggle with God telah menuturkan kata-kata yang indah dan menarik: “Sin never comes from below; from the flesh, but from above, from the spirit. The first fall occurred in the world of angels pure spirit…” (Dosa tidak pernah datang dari bawah; dari daging, tetapi dari atas, dari roh. Kejatuhan pertama terjadi di dunia malaikat roh murni).
Sampai di sini, bila Anda puyeng membaca pemikiran sang Profesor, sudah, berhenti saja membaca. Jangan diteruskan. Tapi jika ingin tuntas dan penasaran, lanjutkan.

Ini lagi:
Bahkan lebih jauh, ide tentang dosa sebetulnya adalah hal-hal yang terkait dengan sosial-kemanusiaan bukan ritual-ketuhanan. Dalam konteks ini maka hubungan seks baru dikatakan “berdosa” jika dilakukan dengan pemaksaan dan menyakiti (baik fisik atau non fisik) atas pasangan kita. Seks jenis inilah yang kemudian disebut “pemerkosaan”. Kata ini tidak hanya mengacu pada hubungan seks di luar rumah tangga tetapi juga di dalam rumah tangga itu sendiri.
Nah, sampai di sini, apakah Anda sudah mencium bau-bau pemikiran sang Profesor pada pasal 5 Permendikbudristek No. 30? Kalau belum, mungkin aromanya memang belum menyengat.

Teruskan:
Lalu bagaimana hukum hubungan seks yang dilakukan atas dasar suka sama suka, “demokratis”, tidak ada pihak yang “disubordinasi” dan “diintimidasi”? Atau bagaimana hukum orang yang melakukan hubungan seks dengan pelacur (maaf kalau kata ini kurang sopan), dengan escort lady, call girl dan sejenisnya? Atau hukum seorang perempuan, tante-tante, janda-janda atau wanita-wanita kesepian yang menyewa seorang gigolo untuk melampiaskan nafsu seks?

Jika politisi biasa “menjual kebohongan” lewat mulut mereka supaya bisa tetap eksis di dunia politik, atau seorang dosen atau penulis boleh “menjual” otaknya untuk mendapatkan honor, atau seorang dai atau penghotbah yang “menjual” mulut untuk mencari nafkah, atau penyanyi yang “menjual” suara atau bahkan pantat dan pinggul untuk mendapatkan uang, atau seorang penjahit atau pengrajin yang “menjual” tangan untuk menghidupi keluarga, apakah tidak boleh seorang laki-laki atau perempuan yang “menjual” alat kelaminnya untuk menghidupi anak-istri/suami mereka? Kenapa mereka hanya mempermasalahkan “mereka” bukan “mereka”?
Beginilah menurut sang Profesor soal seks. Dengan sangat vulgar ia menjelaskan kriteria seks pemerkosaan dan seks atas dasar suka sama suka. Bagi saya, aromanya sangat kuat pada hidangan pasal 5 Permendibudritsek No. 30. Akan tetapi sekali lagi, ini berdasar penciuman hidung saya. Yang jelas, sang Profesor sudah lebih dahulu melontarkan pemikirannya itu sebelum Permendibudritsek No. 30 ramai dipermasalahkan.

Apakah Permendibudritsek No. 30 menyontek ide sang Profesor?

Tak ada yang tahu siapa menyontek siapa, kecuali para perumus Permen itu. Pemikiran sang Profesor menyontek siapa, pun hanya dia yang tahu, meskipun indikasi dia mengutip tercium juga baunya. Pertama, soal hubungan dosa dan daging, ini mirip dengan Galatia 5:16-25:

Hidup menurut daging atau Roh
5:16 Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. 5:17 Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging --karena keduanya bertentangan--sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki. 5:18 Akan tetapi jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat. 5:19 Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, 5:20 penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, 5:21 kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu--seperti yang telah kubuat dahulu--bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. 5:22 Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahteran, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, 5:23 kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. 5:24 Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. 5:25 Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh.
Kedua, tentu Paul Evdokimov dan bukunya The Struggle with God yang dikutip Profesor yang menurutnya kata-kata Evdokimov indah dan menarik: “Sin never comes from below; from the flesh, but from above, from the spirit. The first fall occurred in the world of angels pure spirit…”

Begitulah. Selebihnya, terserah Anda menilai.

Allahumma shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad.

Jum’ah penuh berkah.

Jumat, 22 Oktober 2021

Kuota Umur Dan Sinyal Uban


Hikmah


Hikmah itu, barang milik orang Mukmin yang hilang. Kadang, ia ditemukan pada tempat yang tidak diduga. Maka, orang Mukmin seperti para pencari hikmah dan mengambilnya di mana saja ia menemukannya.

Di masjid, musala, panti asuhan, rumah sakit, bahkan di kuburan hikmah itu berserakan. Di lingkungan rumah dan tetangga kiri kanan, hikmah mudah ditemukan. Bahkan di mall, tempat kerja, di cafe, dan tempat-tempat hiburan, hikmah masih mungkin tergeletak. Hanya saja, sinyal buat menemukan hikmah itu berbeda-beda statusnya.

Di masjid dan musala, hikmah berwajah ketaatan dan ketundukkan mudah sekali ditemukan. Bisa jadi karena sinyal di sini sangat kuat (very strong).

Di panti asuhan, di rumah sakit atau kuburan, sinyal hikmah juga sangat kuat. Di tempat-tempat ini, hikmah dalam wujud qanaah, syukur, sabar, dan insyaf bahwa kapan saja orang bisa jatuh sakit dan mati kenceng dari ujung ke ujung.

Di lingkungan rumah dan tetangga kiri kanan, sinyal hikmah masih kuat (strong). Orang masih mikir-mikir karena masih ada anak, istri, dan tetangga kiri kanan. Masih menaruh rasa malu dilihat orang-orang dekat bila begini atau begitu, bila tidak begini atau tidak begitu.

Nah, umumnya, di mall, di tempat kerja, di cafe, dan tempat-tempat hiburan, sinyal hikmah mulai putus-putus, timbul tenggelam. Kadang statusnya lemah (week), kadang bisa sangat lemah (very week). Bisa jadi karena di tempat-tempat ini hikmah sulit masuk. Hikmah hampir tidak kebagian tempat di sini. Seakan-sakan tiket masuk sudah diborong oleh kesenangan duniawi.

Namun, tidak berarti orang bisa dikatakan tidak akan mendapat hikmah saat ia sedang ngopi-ngopi di cafe. Tidak juga. Semua kembali pada diri tiap orang.

Sinyal

Zaman sekarang, orang lebih merasa miskin bila kehilangan sinyal internet daripada kehilangan sinyal hikmah. Sedih bila Whatsapp, Instagram, Facebook, atau YouTube-nya cuma muter-muter saja. Padahal belum tentu Whatsapp, Instagram, Facebook, atau YouTube-nya membawa kebaikan. Yang sering terjadi, platform media sosial itu merampas waktu ibadah, menyisihkan tilawah, dan mengajak menunda-nunda kebaikan tanpa disadari.

Selain itu, sebagian besar media sosial hanya menjadi ajang kesenangan semu, leyeh-leyeh seperti tidak ada kerjaan, tabarruj selfie-selfie dengan mulut dimonyong-monyongin sambil nunjukin dua jari, sharing berita atau gambar yang tidak semua orang merasa nyaman, memperpanjang penyebaran berita bohong (hoaks), dan lain sebagainya.

Tidak sedikit yang memanfaatkan medial sosial sebagai sarana hiburan dan berita. Apa saja dijadikan hiburan dan diberitakan. Lagi i’tikaf, habis sembayang Magrib, lagi nyiapin buka puasa, ke salon dulu mao malam Jumat, ketiduran abis Tahajud Subuh ketinggalan jamaah, lagi madang, lagi suntuk, habis berantem, semuanya dibuat status dan diberitakan. Sering berita itu diiringi dengan joke atau gambar jenaka. Banyak yang terhibur. Banyak juga yang mengernyitkan dahi.

Seharusnya, kuota dan sinyal internet digunakan untuk maslahat (kebaikan). Seharusnya, pemegang gawai sedih apabila Whatsapp, Instagram, Facebook, atau YouTube-nya tidak bisa digunakan untuk kebaikan karena masalah sinyal atau kehabisan kuota. Seharusnya begitu. Sekali lagi, masih sedikit yang open mengemas media sosial untuk maslahat, meskipun kuotanya unlimited dan sinyalnya very strong.

Masih sedikit orang memanfaatkan media sosial untuk mengumpulkan dan mengunduh hikmah, menyambung silaturahim, menjadi media dakwah yang mencerahkan, serta menjadikannya sebagai karunia yang bisa menyelamatkan, baik keselamatan dunia dan akhirat. Saya percaya, Anda adalah orang ingin menjadi bagian yang sedikit ini.

Sinyal dan Kuota Alami


Tiap orang sudah dibekali kuota alami dan sinyal yang melekat di dalam diri sejak ia mewujud jadi manusia. Kuota itu adalah umur. Sinyalnya pengalaman hidup.

Ada orang yang kuotanya panjang, ada yang pendek. Ada yang sangat panjang dan baru habis di atas 90 tahun atau lebih. Ada yang kuotanya normal, antara 60 sampai 65 tahun. Ada juga yang sangat pendek, yang kuotanya sudah habis sejak masih di dalam kandungan.

Kuota itu selalu berhadapan dengan masalah sinyal. Saat lahir, sinyal hidup sangat lemah seperti lemahnya bayi, perlahan menguat karena memasuki fase kanak-kanak yang senang bermain, menjadi kuat karena memasuki usia remaja yang energik, lalu mencapai puncak kekuatan sinyal saat memasuki masa dewasa yang produktif, mulai menurun lagi menjadi lemah saat memasuki usia senja, lalu kembali sangat lemah saat sudah tua nyanyuk, beberapa di antaranya bahkan mengalami kepikunan. Kalau sudah pikun, ibarat sinyal hidup hanya tinggal satu garis.

Semua orang mengalami masalah sinyal sesuai jatah kuota masing-masing. Adakalanya sinyal begitu lemah, kuat, dan sangat kuat, lalu sinyal benar-benar mati mengikuti jatah kuota yang habis. Akan tetapi, sebelum jatah kuota hidup habis, sinyal sudah datang tiap hari. Sakit-sakitan, panca indera yang melemah, tenaga yang mulai loyo, atau karena sebab yang tidak harus menunggu tanda-tanda sinyal melemah seperti sinyal internet yang tiba-tiba hilang karena cuaca buruk atau mati listrik.

Umur dan pengalaman hidup adalah kuota dan sinyal paling berharga. Tinggal tiap orang bisa memanfaatkannya untuk kebaikan dunia akhirat atau tidak.

Uang dan Ketenangan

Kemarin, saya menemukan hikmah. Saat ganti oli mesin dan gardan selesai, hujan menahan saya dari segera pulang. Saat itulah barang hilang itu jatuh di hadapan, menetes seperti rinai hujan menjelang sore. Ya, di bengkel. Hikmah itu berkilauan di antara hitamnya sisa-sisa oli pemilik bengkel.

Sebelumnya, pemilik bengkel mengaku hidupnya tak tenang. Seperti ada yang hilang yang selalu dicari-cari, tapi sukar sekali ia temukan. Padahal, usaha bengkelnya tidak pernah sepi. Warung kecilnya laris manis dengan omzet 3 juta sehari. Akan tetapi, ia merasa hidupnya begini-begini saja. Lalu, apa yang hilang dari pemilik bengkel itu sebenarnya?

Rupanya, ia kehilangan Islamic Worldview (pandangan hidup Islami). Itulah barang hilang yang sekarang ia temukan. Ia menemukannya sejak mengaji, majlis di mana sinyal kebaikan sangat kuat.

Ia tetap membuka bengkel dan berdagang kecil-kecilan. Akan tetapi, hati dan pikirannya berubah. Ia merasakan ketenangan setelah mengaji dan mengerti bagaimana Islam mendidik orang cara mendapatkan uang yang benar. Ia berubah. Perubahan itu ia rasakan lebih kekal, lebih menghujam.

Warung kecilnya menjual obat-obatan. Sejak mengaji, obat-obatan yang mengandung alkohol diturunkan. Rokok juga diturunkan dari etalase. Sejak itu, warungnya bersih dari produk beralkohol dan rokok. Omzetnya menurun drastis. Akan tetapi, ketenangan hidupnya naik tajam. Tahulah ia, uang bukan segalanya.

Pola layanan bengkelnya pun berubah. Ia mulai menerapkan layanan baru. Ada maklumat di bengkelnya:
Pelanggan YTH. Barang Bekas Gantian Apapun Bisa dibawa Pulang dan Mintalah. Jika barang tersebut tidak diambil, berarti anda telah memberikan kepada kami. Hormat Kami. Harto Motor.
Begitu bunyi maklumat itu.

Pemilik bengkel itu menyadari, usaha bengkel adalah usaha rawan mengambil barang milik orang. Ia menjelaskan sambil menunjukkan sebuah baut. “Ini milik Bapak. Barang ini kecil. Tapi kalau saya ambil, berarti saya mengambil barang yang bukan hak saya.”

Saya termenung. Rupanya, pengumuman yang ia pasang semacam izin apabila pelanggan tidak membawa pulang barang-barang ganti servis atau oli bekas.

Katanya lagi, oli bekas itu ada nilainya. Satu liter dihargai Rp1000 dari pengepul. Saya bisa membawa pulang oli bekas karena itu milik saya. “Silakan dibawa pulang. Kalau tidak diminta dan tidak dibawa pulang, pengumuman itu sudah mewakili izin saya.” Katanya.

Keren, kata saya dalam hati.

Soal untung dagang, ia juga disiplin. Pemilik bengkel ini pantang berkata: “Yah, modalnya saja belum dapet” hanya untuk mendapatkan untung lebih sedikit dari tawaran pelanggan. Padahal harga tawaran pelanggan itu sudah ada selisih sebagai untung. “Itu gharar. Itu nipu. Bilang aja belom dapat.”

Ini juga keren.

Sebelum saya pamit pulang karena hujan sudah reda, pemilik bengkel itu mengaku sering takut mati. Ia takut saat malaikal maut datang menjemput, ia tidak sedang dalam ketaatan.

Ini lebih keren.

Saya meraba diri. Sadar bahwa kuota hidup makin menipis, sedangkan sinyal sudah dekat di kepala. Uban. Ya, uban di kepala ini. Semoga rambut putih ini seperti sabda Nabi shallalaahu alaihi wa sallam; “Barangsiapa memiliki sehelai uban di jalan Allah (dia muslim), maka uban tersebut akan menjadi cahaya baginya pada hari kiamat.” Kemudian ada seseorang yang berkata ketika disebutkan hal ini: “Orang-orang pada mencabut ubannya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Siapa saja yang mau, silahkan dia hilangkan cahayanya (baginya di hari kiamat).” (HR. Ahmad)

Allahu a’lam|

Selasa, 19 Oktober 2021

Jalan Atatürk Di Jakarta Seperti Bertemu Atatürk di Taksim Square


Taksim Square, Foto Credit Ante Samarzija. Unspalsh. com


SAYA pernah “bertemu” Mustafa Kemal Atatürk di alun-alun Taksim, Taksim Square, dalam bahasa Turki disebut Taksim Meydanı. Taksim Square termasuk kawasan kehidupan malam, belanja, dan makan malam yang sibuk di Turki. Lokasinya di Istanbul, Turki bagian Eropa. Persisnya di Gumussuyu Mahallesi, 34437 Beyoglu/Istanbul, Turki.

Taksim Square merupakan stasiun utama jaringan Istanbul Metro. Tramvay kuno lalu lalang di sini hampir setiap menit. Ia merupakan warisan moda transportasi massal di Istanbul yang beroperasi sejak 17 Januari 1875. Tramvay itu melintasi jalanan di sepanjang Istiklal Caddesi, jalan khusus pejalan kaki yang dikelilingi oleh bangunan-bangunan abad ke-19, landmark jaringan belanja internasional, bioskop, dan cafe.

Setiap hari, jutaan manusia berkunjung keluar masuk bar, toko barang antik, dan restoran di puncak gedung dengan pemandangan Selat Bosphorus yang menawan di kawasan ini. Wajarlah, karena Taksim Square merupakan jantung kota Istanbul modern. Kawasan ini mulai dibangun sejak tahun 1800-an.

Taksim Square dikelilingi berbagai landmark. Bangunan yang menjulang tinggi di ujung jalan, itu Atatürk Kültür Merkezi (Pusat Kebudayaan Atatürk). Di sebelah alun-alun yang menjadi zona hijau, disebut Taksim Park. Beberapa hotel seperti Ceylan International Hotel, Hyatt Regency, dan Marmara Hotel ada di kawasan ini. 

Jika Anda berkunjung ke sini, meeting point yang sering dijadikan patokan jika Anda kehilangan rombongan biasanya Republic Monument, Burger King, atau Kedutaan Perancis. Taksim Square sendiri merupakan meeting point populer dan tempat yang ideal untuk melakukan tur jalan kaki kota Istanbul yang menyenangkan dari Taksim.

Tentu, Atatürk Kültür Merkezi sangat menonjol sebagai salah satu landmark yang menjadi ikon pusat budaya dan gedung opera di Taksim. Gedung ini contoh penting arsitektur Turki dari sejak 1960-an. Pertunjukan teater, opera dan balet, konser Orkestra Simfoni Negara Bagian dan Paduan Suara Istanbul, Modern Folk Music Ansambel, dan Paduan Suara Musik Turki Klasik, serta Festival Musim Panas Seni dan Budaya merupakan pertunjukan yang digelar di sini. 

Akan tetapi, seni bukan hak mutlak Atatürk Kültür Merkezi saja. Taksim Square di malam hari adalah panggung pertunjukan para musisi jalanan yang berbakat. Jalanan semakin hidup dengan seni grafiti lokal yang mempercantik Taksim.

Selain Atatürk Kültür Merkezi, Republic Monument cukup penting di Taksim Square. Ia adalah prasasti, peringatan Republik Turki yang terbentuk di tahun 1923. Terbuat dari perunggu dan batu. Beratnya sekitar 84 ton. Dengan menggunakan kapal, monumen ini diangkut dari Roma ke Istanbul. Dibangun atas inisiasi Majelis Nasional Grand Turki dari biaya patungan rakyat Turki. Monumen setinggi 11 meter ini dirancang oleh pematung Italia terkenal; Pietro Canonica. Pietro juga yang merancang Patung Atatürk Izmir yang dibuat pada 1923 di Alsancak Republic Square dan patung Atatürk Ankara yang dibuat pada 1927.

Monumen ini menampilkan tokoh revolusioner seperti Atatürk dan İsmet İnönü. Yang menarik, ada Mikhail Frunze dan Kliment Voroshilov, dua Jenderal Uni Soviet yang divisualisasikan di belakang Atatürk. Dari sini saya tahu bahwa militer Uni Soviet turut membantu Perang Kemerdekaan Turki yang pecah pada 1919–1923 dan sukses menggulingkan khilafah Turki Utsmani. Atatürk bersekutu dengan Yahudi dan Soviet untuk menghabisi khilafah yang amat dia benci.

Nah, di Taksim Square ini, saya “bertemu” Mustafa Kemal Atatürk yang punya nama sebenarnya Ali Rıza oğlu Mustafa, orang yang disebut Bapak Turki Modern yang tergila-gila dengan demokrasi Barat Kristen. Dari mulutnya ia pernah terucap, “No country is free unless it is democratic.” []
 
İstiklal Caddesi, ya İstiklal Caddesi, nama jalan ini tidak bisa dipisahkan dari Taksim. Ia adalah jalanan Istanbul yang selalu ramai sepanjang dari Taksim Square hingga menuju Menara Galata. Bayangkan, sekitar 3 juta orang lalu-lalang setiap harinya di sini. Di İstiklal Caddesi ini pula, nanti, saya bertemu perempuan berusia sekitar 60 tahunan setelah makan malam di restoran Korea. Meski sudah berumur, tapi dia masih cantik. Pertemuan dengan perempuan cantik ini akan saya turunkan pada catatan berikutnya. Kalau Anda tahu, saya masih deg-degan saja jika mengingat pertemuan itu sekarang.

İstiklal Caddesi seperti mall terbuka yang amat besar. Seandainya Anda mampir ke sini, berapapun uang yang Anda bawa tidak akan cukup untuk membayar belanja dan berwisata ke butik, galeri seni, musik dan toko buku, bioskop, teater, cafe, bar, restoran, pub, kedai kopi, patisseries, chocolateries, atau ke perpustakaan dan pusat teknologi yang tersebar di İstiklal setelah puas berbelanja. Bila ingin nonton film, di sini ada Atlas atau Beyoglu, bioskop bersejarah di İstiklal Caddesi. Jika Anda peminat sejarah, Anda bisa berkunjung ke Hazzopulo, Suriye, dan Çiçek. Kalau iseng ngin mencoba masuk ke gereja, heee, di sana ada Gereja St Antoine dan Santa Maria. Lengkap. Di sini juga pengunjung bisa menemukan gedung konsulat, galeri seni inovatif seperti SALT Beyoğlu, ARTER, Mısır Apartments, bangunan dengan arsitektur Neo Klasik dan Art Nouveau abad 19 yang mengagumkan.

Sebutan İstiklal Caddesi (Independence Street) mulai dipopulerkan sejak Republik Turki terbentuk. Dahulu di era Turki Utsmani, jalan ini dinamai Cadde-i Kebir (Grand Avenue) dan sudah menjadi tempat favorit buat jalan-jalan kaum intelektual.

Terus, bagaimana ceritanya saya “bertemu” Atatürk?

Di Taksim Square ini, saya melihat bendera raksasa bergambar Atatürk, besaaar sekali. Matanya menatap saya tajam dan sinis. Barangkali, Atatürk sedang bergumam, “Ngapain itu orang kolot radikal datang ke sini?” Haaaa. Itulah pertemuan saya dengan Atatürk.
 
Sampai pada 2013, saat saya sempat menikmati Taksim Square dan kehilangan rombongan, pengaruh Atatürk begitu kuat di hati anak-anak muda Turki. Tadinya, saya ingin banyak menggali sisi Atatürk dari Hakan. Hakan adalah guide asli Turki yang memandu selama saya di sana. Akan tetapi, Bayu membisiki saya, “Hati-hati, Pak. Membicarakan Atatürk termasuk perkara sensitif, apalagi pengaruhnya sangat kuat bagi orang Turki seperti Hakan.”

Wah, enggak jadi, dah. Daripada jadi perkara.

Benarlah kata Bayu, secara tidak sengaja Hakan membuka bagaimana sikapnya saat saya candai mengajaknya ikut umrah setelah Tour Istanbul berakhir. Hakan tersenyum. Berceritalah dia soal ibunya yang muslim dan sering berdoa di gereja.

Saya melongo.

Kata Hakan, Tuhan bisa dijumpai di mana saja. Jadi, apa yang salah bila orang muslim berdoa memohon kepada Tuhan di gereja?

Lha? Pusing, kan?

Akhirnya, saya sampai pada kesimpulan bahwa Hakan tidak lain adalah anak muda Turki penjaga ajaran Atatürk.

Namun begitulah, tak usah pusing. Itulah watak sekulerisme, pluralisme, dan liberalisme yang menganggap semua agama sama, tak ada bedanya. Jangankan cuma status muslim yang masuk dan berdoa di gereja, menurut “agama liberal”, orang boleh beragama, murtad gonta-ganti agama, bahkan tidak beragama pun, tidak masalah. Dan bagi penganut pluralisme, yang jadi masalah, justru jika orang beragama meyakini bahwa agamanya lah yang paling benar.

Nah, tambah pusing, kan?

Maka, menjadi jelaslah apa yang dibisikan Bayu itu bagi saya. Saya abaikan saja niatan semula. Lalu, saya lebih memilih menikmati secangkir coklat hangat di sebuah kedai yang nyaman. Sekali dua kali, saya tengok lagi gambar raksasa Atatürk di sela mengobrol dengan Hakan dan Bayu. Dalam bahasa Turki yang diterjemahkan Bayu untuk saya, Hakan sekali lagi mengaku bahwa orang tuanya adalah muslim yang taat, tapi dirinya berbeda dari orang tuanya. Hakan terus terang bahwa ia biasa menenggak minuman keras.

Surprise. Soal agama dan minuman keras itu, Hakan persis seperti pengakuan Atatürk. Ini kedekatan Hakan dan Atatürk yang sangat mencolok.

Kata Atatürk:
I have no religion, and at times I wish all religions at the bottom of the sea. He is a weak ruler who needs religion to uphold his government; it is as if he would catch his people in a trap.  
I have a reputation for drinking a lot. Indeed, I drink quite much. However, I give it up when I wish to do so. I never, ever drink while on duty. The drinking is only for my pleasure. I do not remember neglecting my duties because of drinking even once. 
Demikian Hakan dan Atatürk. Seakan saya bertemu dua Atatürk di Taksim Square.[]

KONON, akan ada rencana di Jakarta akan dibuat nama jalan Atatürk. Atatürk adalah simbol sekularisme. Dalam kasus Turki, Bagi Atatürk, Turki hanya akan menjadi negara maju dan modern apabila meniru Barat habis-habisan dengan membuang semua budaya Islam dari hati dan kehidupan orang Turki sampai ke akar-akarnya. Maka tidak heran kalau Atatürk berkolaborasi dengan Yahudi dan Uni Soviet memberangus khilafah dan mencabut akar tradisi Islam dan syari’at dari hati rakyat Turki. Menjadilah rakyat Turki manusia-manusia sekuler yang anti syari’at.

Terus, rencana membuat nama jalan Atatürk di Jakarta itu untuk apa?[]

Bila ingin membaca lebih kengkap tentang keseruan Istanbul, silakan baca buku versi ebook saya "Berdecak di Baah Kubah Hagia Sophia". Salsabila, Pustaka Al-Kautsar.



Sabtu, 16 Oktober 2021

Silaturahim di Subuh Hari



Foto kiriman dari Gugut Kuntari

Generasi Baru

Saya termasuk generasi yang lahir pada dekade 70-an. Graeme Codrington dan Sue Grant-Marshall menyebutnya “Generasi X”, generasi yang lahir tahun 1965-1980. Generasi ini lahir pada tahun-tahun awal dari penggunaan PC (personal computer), video games, tv kabel, dan internet. Oke, istilah-istilah tidak terlalu penting dalam tulisan ini.

Bila Anda juga termasuk dalam generasi ini, berarti kita sama-sama menjalani masa-masa remaja di era 90-an dan memasuki masa dewasa di era tahun 2000. Dalam catatan saya, kita cenderung tidak mengalami masa-masa “krisis ukhuwah” yang tajam. Yang saya maksud dengan masa-masa “krisis ukhuwah”, adalah renggangnya persaudaraan sesama muslim karena persoalan khilafiyah, yaitu masa-masa sesama orang Islam bersitegang hanya karena ushalli dan tidak ushalli, qunut tidak qunut, 11 atau 23 rakaat Tarawih, dan sebagainya masalah khilafiyah yang sudah masyhur.

Generasi yang mengalami “krisis ukhuwah”, kebanyakan adalah generasi Baby Boomer yang lahir tahun 1946 – 1964, atau yang lahir lebih tua dari tahun itu. Generasi ini lahir setelah Perang Dunia II. Dianggap sebagai orang lama yang mempunyai pengalaman hidup. Salah satu pengalaman hidup itu “krisis ukhuwah” yang saya sebut. Maka, bersyukurlah kita semua sebagai generasi baru.

Generasi Paling Baru

Tidak dipungkiri, orang-orang tua kita pernah mengalami “krisis ukhuwah” yang tajam itu. Setajam apa, coba tanyakan bagi yang masih bersanding dengan mereka. Hanya saja, gali informasi dari mereka tentang krisis itu bukan dengan maksud membuka luka lama. Akan tetapi, jadikanlah ibrah atau pelajaran. Bahwa krisis itu sudah terjadi, biarlah dia menjadi catatan sejarah, tidak perlu ditutup-tutupi, apalagi berusaha dihapus jejaknya. Orang bijak tidak takut pada sejarah masa lalu, sepahit apa pun. Orang bijak adalah orang yang mampu mengambil pelajaran sejarah pahit masa lalu untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Hari ini, anak-anak kita adalah mereka yang tergolong sebagai “Generasi Z”. Mereka anak-anak yang lahir tahun pada era 1995-2010. Tebak, sekarang mereka pada jenjang sekolah apa. Mereka disebut iGeneration, generasi net atau generasi internet. Mereka anak-anak yang pandai mengaplikasikan semua kegiatan dalam satu waktu seperti nge-tweet menggunakan ponsel, browsing dengan PC, dan mendengarkan musik menggunakan headset. Banyak berhubungan dengan dunia maya. Sejak kecil mereka sudah mengenal teknologi dan akrab dengan gadget.

Di bawah mereka, anak-anak “Generasi Alpha” yang lahir tahun 2011 ke atas. Generasi ini lahir sesudah "Generasi Z". Mereka generasi yang sangat terdidik karena masuk sekolah lebih awal dan banyak belajar.

Generasi mereka ini sering disebut generasi milenial, generasi paling baru. Mereka yang akan melanjutkan membangun peradaban.

Warisan Peradaban

Ciri generasi muslim hari ini memiliki cara pandang baru. Mereka sudah menyadari, mereka terikat dalam tali persaudaraan sebagai saudara seiman, apa pun latar belakangnya. Mereka memiliki karakter critical thinking, terbuka, rasional, dan berpandangan jauh ke depan.

Persoalan khilafiyah yang dahulu menjadi pangkal “krisis ukhuwah” orang-orang tua mereka karena tidak tepat dalam menyikapi persoalan tersebut, dipandang tidak ­layak lagi dipertahankan, apalagi menerima warisan krisis tersebut untuk dilestarikan. Mereka sudah sampai pada kesadaran baru, bahwa sudah bukan saatnya lagi masih memelihara sikap sinis, memelihara nostalgia hanya karena persoalan khilafiyah. Gelombang “krisis ukhuwah” sudah tamat bagi mereka, kecuali sisa-sisa dari mereka yang masih terbelakang dalam hal literasi peradaban maju.

Pihak-pihak yang memiliki kepentingan untuk mengakhiri gelombang “krisis ukhuwah” itu adalah ormas-ormas Islam. Mereka punya tanggung jawab langsung membangun sikap menerima hakikat khilafiyah.

Menerima hakikat khilafiyah yang saya maksud yaitu memahami bahwa khilafiyah akan tetap ada dan terus terjadi. Selama sebagian berpegang pada dalil atau qaul yang diyakini sebagai landasan suatu amalan ­beribadah dikerjakan, sementara sebagian yang lain tidak meyakininya demikian, maka sepanjang itu pula ­khilafiyah itu akan hidup di tengah-tengah umat.

Jadi, jangan pernah ­berandai-andai qabliyah jumat itu akan ditinggalkan selama yang mengamalkan masih berpegang pada dalil dan qaul tentang amaliyah tersebut. Atau ­sebaliknya, juga tidak mungkin memaksa yang lain supaya mengerjakan qabliyah jumat sementara mereka tidak menjadikan dalil dan qaul yang sama sebagai landasannya. Begitu juga persoalan qunut dan tidak qunut Subuh, 11 atau 23 rakaat shalat Tarawih, ushalli atau tidak usahalli, dan lain-lain masalah khilafiyah yang sudah masyhur.

Maka, yang terpenting adalah saling memberi ruang dalam ­kesadaran beramal sesuai dalil yang dipegang ­masing-masing. Selama perbedaan itu baru menyentuh masalah furu’, maka tidak layak persaudaraan dikorbankan. Itu saja.

Pendidikan, dialog, dan literasi tentang khilafiyah menjadi kunci untuk sampai pada sikap menerima hakikat khilafiyah itu. Apabila proses pendidikan, dialog, dan literasi tentang khilafiyah tidak terbangun dengan baik, maka fanatisme akan selalu berada di atas ukhuwwah sampai kapanpun.

Sinergis

Pagi ini, Masjid Al Huda Ranting Muhammadiyah Pulo menerima kunjungan. Saya percaya, kunjungan itu bukan sekadar untuk menikmati nasi uduk dan semur jengkol yang sedap kreasi ibu-ibu Aisyiyah Ranting Pulo di akhir acara. Ada hal yang paling mendasar, dan dalam timbangan hemat saya, kunjungan itu sangat penting untuk membangun dan menguatkan literasi persaudaraan warga Muhammadiyah dan Aisyiyah dengan MUI, DMI, dan pemerintah.

Forum ini sangat strategis untuk membangun kesepahaman bahwa tantangan dan bahaya umat Islam hari ini jauh lebih besar dari pada persoalan meributkan khilafiyah yang sudah basi itu. Tantangan umat Islam hari ini adalah penyakit sosial yang makin menggila (seks bebas, narkoba, miras, dan apatis atau sikap masa bodoh pada agama), pendangkalan akidah dalam wajah pemurtadan, paham Pluralisme, Liberalisme, dan Sekularisme Agama yang sudah difatwa MUI sebagai paham sesat, Syi’ah, dan problem bidang pendidikan dan ekonomi.

Yang mencengangkan dari temuan saya pada akhir-akhir ini, ternyata secara diam-diam, ada orang yang berusaha keras menyebarkan ajaran Syi’ah di Kampung Pulo. Upaya ini sudah cukup lama berjalan, lebih dari dua puluh tahun. Memang, hasilnya hampir tidak kelihatan. Boleh dikata, upaya penyebaran Syiah ini “gatot” alias gagal total. Namun, kegagalan itu bukan berarti upaya penyebaran itu harus dianggap sudah selesai atau berhenti. Belum tentu.

Ini pekerjaan rumah Muhammadiyah Ranting Pulo, NU, MUI, DMI, dan Pemerintah. Oleh karena itu, sinergitas gerakan antar elemen dakwah perlu dipikirkan, dirumuskan, dan dieksekusi. Maka, secara pribadi dan sebagai warga Muhammadiyah, saya sampaikan salam hormat kepada Ketua MUI Kecamatan Pancoran Mas, Ketua DMI Kecamatan Pancoran Mas, Pak Camat Kecamatan Pancoran Mas, dan Pak Lurah Rangkepan Jaya Lama atas silaturahim pagi ini.

Karena itu, silaturahim pada Subuh tadi sangat penting untuk merancang peta jalan dakwah bersama dalam menghadapi tantangan umat Islam akhir zaman di Pancoran Mas, Rangkepan Jaya Lama khususnya, dan lebih spesifik Kampung Pulo.

Subuh memang berat. Mata lebih lengket dari waktu lainnya. Semoga silaturahim Subuh mendatang, lebih semarak lagi. Mata sudah tidak lengket lagi. Masjid Al-Huda lebih makmur lagi. Aamiin.[]


Sabtu, 09 Oktober 2021

Seminar Menulis di Bawah Flamboyan


Flamboyan di IAIN

Siapa yang ingat flamboyan di halaman kampus IAIN (sekarang UIN) Jakarta?

Tentu, alumni IAIN tahun 1995 ke belakang pasti masih ingat. Saya termasuk alumni yang tidak bisa melupakan flamboyan itu. Apalagi saat ia mekar, merah menyala. Saya bahkan sempat menuliskan syair lagu karena begitu menikmati saat ia berbunga. Hanya saja, saya sudah lupa liriknya kecuali hanya beberapa kalimat saja. Catatannya pun, entah raib kemana.
Wahai kau burung penyanyi
jangan dulu engkau dendangkan
tunggulah sampai ia datang
memberiku seikat kembang
Wahai kau bunga flamboyan
jangan dulu gugur ke bumi
Tunggulah sampai ia datang
memberiku sekeping hati
Hemm. Terasa terlempar lagi ke masa-masa kuliah dulu.
Akan tetapi, flamboyan itu sudah tidak ada lagi. Ia hanya hidup dan berbunga di benak saya yang kian menua pada setiap musim.

Sahidup dan Program Konversi

Sahidup, kawan seiring saya di kampus. Kami sama-sama mahasiswa konversi dari program Diploma II ke jenjang Strata 1 Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam. Seingat saya, Sahidup bersama Mas Tohari, Yadi Setiadi, Mukhson, dan beberapa teman yang lain gigih memperjuangkan agar mahasiswa Diploma bisa melanjutkan ke jenjang S-1 setelah lulus nanti. Berkat lobi-lobi Dekan (waktu itu Prof. DR. Salman Harun, MA), Rektor IAIN, Prof. Dr. Quraish Shihab, MA menerbitkan Surat Keputusan yang mengizinkan mahasiswa Diploma untuk melanjutkan studi pada 1995 melalui program konversi.

Keputusan itu tentu sangat menggembirakan. Kakak kelas yang sudah lulus, merasakan berkahnya. Beberapa dari mereka kemudian ikut mendaftar mengambil program konversi ini. Sedangkan adik kelas, tinggal mengikuti tanpa mereka harus ikut tes masuk IAIN lagi. Saya sendiri tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Karena itu, bagi saya, Prof Dr. Quraish Shihab bukan saja Rektor yang mengantarkan saya bisa menikmati kuliah di program S-1, melainkan yang menyambung nasihat ayah agar saya tetap mencoba peruntungan masuk IAIN.

Pada 1993, saya keluar dari sebuah kampus setelah duduk satu semester. Saya keluar karena sejak semula memang ingin masuk IAIN. Hanya karena kampus yang saya masuki pada 1991 itu kampus baru dan menawarkan biaya murah, niat masuk IAIN tahun itu urung. Akan tetapi, apa lacur, saya tidak betah dan keluar di kampus murah itu. Dan belakangan, ternyata itu kampus abal-abal, kampus bermasalah.

Lalu, pada 1993 saya mendaftar IAIN dan ditolak. Bagian pendaftaran mengatakan, ijazah saya sudah lewat dua tahun, tidak bisa untuk mendaftar S-1, kecuali mendaftar untuk program Diploma II. Saya tidak tertarik. Saya memilih menarik berkas, sebab tujuan saya bukan kuliah program Diploma.

Pulang dengan wajah lesu membawa sesal. Menyesal, mengapa dulu saya tergiur masuk kampus baru. Akan tetapi, ayah memberi saran yang masuk akal.

“Kalau kamu ngotot ingin kuliah S-1 di sana, selamanya kamu tidak bisa masuk IAIN. Ambil saja program Diploma itu. Lagi pula, kamu sudah mengajar di MI. Ijazah Diploma, kan untuk program MI. Kalau nanti kamu diterima, ya syukuri saja, akhirnya kamu bisa kuliah di IAIN.”

Begitulah. Akhirnya, saya ambil program Diploma dan bisa konversi ke S-1. Pada 1999, saya lulus IAIN. Tahun 2000 wisuda. Sementara Sahidup, teman yang mengantarkan riset saya dan lulus, belum lulus-lulus. Beruntung, Sahidup pun akhirnya lulus. Karirnya makin moncer di kampung halaman sebagai PNS dan Kepala Sekolah.

Di Bawah Flamboyan

Sahidup, mahasiswa asal Brebes teman akrab sekelas di Kampus Pembaharu. Duduk berdekatan saat kuliah, memilih dosen S2 atau S3 untuk mata kuliah tertentu di mana ada banyak teman malah menghindar dari dosen tersebut, teman diskusi sebelum maju membawakan makalah, dan banyak hal selama kuliah. Sahidup pula yang mengongkosi riset saya ke Garut. Ini momen yang tidak bisa saya lupakan. Karena, riset itu adalah penentu studi saya selesai di IAIN.

Satu kali, di bawah pohon flamboyan, saat kami menuju ruang kelas, Sahidup menemukan sesuatu. Bukan dompet, bukan uang, atau barang berharga lainnya. Akan tetapi, Sahidup tampak sangat senang menemukannya. Diberikannya sesuatu itu pada saya.

Hanya sebuah ID Card. Bisa jadi, pemiliknya tidak sadar ID Card-nya jatuh saat melintas atau sedang terburu-buru menuju rapat atau urusan penting di kampus. Kami sama-sama beruntung menemukan sesuatu itu. Hanya saja, belakangan saya sedikit menyesal, mengapa bukan kami berdua saja yang mengantarkan kepada pemiliknya waktu itu. Kami memilih menyerahkan pada Satpam untuk disampaikan kepada sang pemilik. Padahal bisa saja, jika kami yang mengantarnya langsung dan diterima di kantornya, kami punya kesempatan untuk berbincang meskipun tentulah beliau sangat sibuk.

Saya tidak pernah melupakan nama yang tertera pada ID Card tersebut: M. Quraish Shihab.

Ke Kampus Lagi

Selasa 12 Oktober 2021 esok, saya mendapat undangan sebagai pembicara pada acara Seminar Ketrampilan Menulis Efektif dan Produktif Bagi Calon Alumni. Seminar bertema “Kiat Menulis Efektif dan Produktif di Era Pandemi” dijadwalkan mulai pukul 10.00 sampai dengan 12.00 WIB bertempat di Gedung Kemahasiswaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Ini kali kesekian saya ke kampus setelah lulus. Memang, semuanya serba berbeda dari IAIN yang dulu. Kampus ini sudah berganti nomenklatur menjadi UIN (Universitas Islam Negeri) Syarif Hidayatullah Jakarta. Gedungnya yang berubah megah, tidak lagi pantas diejek sebagai kampus yang lebih mirip “Pabrik Kaos” oleh Daoed Joesoef–seperti cerita dosen saya sewaktu kuliah–sebagai bentuk sikap memandang sebelah mata kampus Islam. Tentu saja, saya tidak akan menjumpai lagi flamboyan di sini, kecuali kenangannya yang tetap merah menyala.

Diundang almamater sebagai narasumber untuk berbagi pengalaman, tentu berbeda dari datang sebagai bekas mahasiswa yang mengurus legalisir atau urusan administrasi kampus. Bila dirasa detak jantung pelan-pelan, hari ini pun sudah terasa detaknya sedikit lebih cepat dari sebelum mendapat undangan. Sebab, saya merasa masih belum bisa move on dari flamboyan. Membayangkan menjadi pembicara tamu pada Selasa esok pun, laiknya membawakan “Seminar Menulis di Bawah Flamboyan”.

Semoga dimudahkan. Allahumma yassir wa laa tu'assir.[]

Senin, 04 Oktober 2021

Bukan Novel Biasa









Hari ini, melegakan sekali. Bukan karena pesan bombastis yang masuk ke nomor saya mengabari: “Anda mendapatkan subsidi Pemerintah Rp.180.000.000 KODE (717747)...” beneran saya terima. Belakangan, ada lebih dari sepuluh kali SMS itu masuk ke nomor saya. Duit sebanyak itu, cukuplah buat beli laptop yang kompatibel modal menulis dan layout. Bagaimana hati tidak lega?

Halagh! Bukan! Itu halu tingkat dewa. Lagipula, pemerintah mana yang mau memberi saya subsidi sebesar itu? Pemerintah Majapahit? Saya lega karena kerja tim saya di perpustakaan yang menangani Pesta Literasi hampir selesai. Selebihnya, tinggal menyisir akhir naskah, acc, naik cetak, dan launching.

Pesta Literasi Perpustakaan Madrasah Pembangunan 2020 memang sedikit telat. Apalagi, kalau bukan karena pandemi Covid-19 alasannya. Pandemi mengubah semua agenda tahunan program literasi perpustakaan yang saya inisiasi sejak 2018 itu. 

Akan tetapi, keterlambatan itu akan segera lunas terbayar dimulai dari suksesnya rangkaian acara sejak webinar penulisan, gelaran tantangan menulis, dan hasilnya, dua naskah novel terbaik tantangan menulis segera terbit. Tiga naskah terbaik tantangan menulis buku nonfiksi, akan segera menyusul proses layout.

Hari ini, dua naskah pracetak novel hasil Pesta Literasi Perpustakaan Madrasah Pembangunan ada di tangan saya. Benar-benar melegakan.

Bina Satu Hari Bersama Ayah
Kehadiran novel Bina memberikan angin segar untuk para remaja, di tengah gempuran novel remaja yang sarat dengan kehidupan pergaulan bebas. Bina membuktikan bahwa masih banyak hal-hal positif dalam kehidupan remaja yang bisa dieksplorasi menjadi sebuah novel. Jalinan kasih antara Bina dengan sang Ayah tercipta dalam dialog-dialog yang natural dan berhasil dinikmati dengan asyik. Pada akhirnya novel Bina akan mengajak kita mencintai kedua orang tua kita tanpa syarat apa pun. Selamat menikmati irisan-irisan kisah yang menghanyutkan.
Paragraf di atas milik seorang novelis hebat. Belakangan, karyanya diangkat ke layar lebar. Memang, dia benar-benar seorang novelis yang karyanya pantas difilmkan. Sebelumnya, novelis ini mengaku hampir ‘gantung pena’. Saya tak tahu alasan mengapa ia hendak mundur dari dunia menulis. Akan tetapi, niatnya itu urung. Menulis adalah dunianya.

Saat saya sodorkan padanya novel “Bina”, dengan sedikit ragu apakah dia bersedia meng-endorse, saya tidak terlalu berharap karena reputasinya itu. Akan tetapi, nama besar tidak membuat novelis ini tinggi hati. Dia bahkan bukan saja bersedia, melainkan juga memberi apresiasi lebih dari sekadar endorse; pujian dan motivasi.

Satu hal yang saya catat dari novelis ini. Dia tidak pernah mau menulis adegan tidak patut, meskipun novelnya berkisah tentang cinta, tentang asmara, layaknya novel-novel percintaan. Itulah dia, novelis dengan karakter yang sangat kuat.

Baca saja sekali lagi kalimat pertama endorse novelis ini: “Kehadiran novel Bina memberikan angin segar untuk para remaja, di tengah gempuran novel remaja yang sarat dengan kehidupan pergaulan bebas.” Ini bukan kalimat biasa; kalimat klise. Ini kalimat berkarakter yang lahir dari kebersihan worldview apa yang seharusnya ditulis seorang novelis.

Harus saya katakan, aura novel “Bina”, begitu hidup, seperti pasang surut kehidupan tokoh Bina dan Arsa dalam novel ini yang “malu-malu tapi rindu”. Apalagi, dihantarkan oleh endorsement novelis hebat.

Q Generations
Novel identik dengan bacaan yang menghibur di kala senggang. Karena memiliki nyawa seakan semua yang hadir di dalamnya terasa hidup. Sejak awal membaca novel Q-Generations–kisah perjuangan keluarga penghafal Quran, hati saya bilang "Wah ini bukan sekadar menghibur" tetapi banyak sekali muatan ilmu, semangat, dan perlu dibaca para orangtua agar bisa merasakan pergolakan emosi menghidupkan Al-Quran di hati anak anak. Salah satu kutipan dalam novel ini, yang berhasil membuat perenungan mendalam adalah, "Ingat, anda bukan sedang mengatasi masalah, anda sedang membesarkan seorang manusia." (Kittie Franz)
Saya sendiri menikmati betul “Q-Generations” selama proses editing. Sama seperti kalimat endorsement dari novelis yang pernah mendapat undangan dari Kedutaan Besar Maroko untuk Indonesia. Novelis ini bisa jalan-jalan ke Rabat, ibukota Maroko dan beberapa kota di sana, negara di Afrika yang memiliki garis pantai yang sangat panjang di Samudera Atlantik ini. Sependek yang saya tahu, novelis ini mendapat penghargaan istimewa itu karena sebuah novelnya yang sangat edukatif, sarat akan nilai kebudayaan, religiusitas, hubungan diplomatik Indonesia–Maroko dan Hubb atau cinta yang memiliki integritas. Semoga saya tidak keliru.

Saya juga harus sepakat dengan novelis ini, bahwa membaca “Q Generations” bukan sekadar menghibur. Bagi saya, ada hal yang menonjok ulu hati, betapa tokoh utama “Q Generations” seperti ‘menyentil’ para orang tua yang kadang merasa kasihan untuk membangunkan anak-anak mereka untuk shalat Subuh karena alasan masih kecil. Sementara, tokoh utama novel ini sudah membimbing anak-anaknya yang baru usia anak SD dan PAUD menjadi hafiz dan hafizah, bahkan sudah membiasakan mereka yang sekecil itu untuk bangun shalat Tahajud. Bayangkan!

Lebih dari dua keistimewaan novel di atas, saya memang benar-benar beruntung bertemu dua novelis dengan karakter rendah hati, karya mereka yang luar biasa, dan akhirnya meng-endorse, serta persahabatan yang manis.

Sebagai pembelajar, sebagai yang pernah menulis novel, saya senang atas kehadiran novel “Bina” dan “Q Generations”. Senang, karena kedua novel ini masing-masing ditulis seorang guru, seperti saya. Sebagai editornya, ada sedikit sentuhan saya dalam novel ini. Namun, bukan itu poinnya, melainkan saya bisa terus belajar dari dua penulis sehebat novelis di atas, serta novelis “Bina” dan “Q Generations”.

Bukan Novel Biasa

Toni Morrison, seorang penulis Afrika-Amerika yang Romannya “Beloved” mengantarkannya memenangkan Pulitzer pada 1988, dianugerahi Hadiah Nobel dalam bidang Sastra pada 1993, tokoh pertama Afro-Amerika yang menerima penghargaan itu, pernah berkata: “If there’s a book that you want to read, but it hasn’t been written yet, then you must write it.”

Kalau boleh saya ibaratkan, kata-kata Morrison itu dibuktikan oleh dua penulis “Bina” dan “Q Generations”. Boleh dikata, seakan Morrison memang berkata kepada mereka berdua, “Jika buku yang ingin Anda baca, tetapi belum ditulis, maka Anda harus menulisnya.”

Kedua penulis telah mendahului kita menulisnya, seperti yang dikatakan Morrison. Untuk membaca buku yang belum ditulis tentang lompatan tahun 2041 dengan alur mundur Pandemi Covid 19 seperti novel "Bina" dan cerita tentang anak PAUD dibangunkan untuk tahajud seperti dalam novel "Q Generations", maka saya dan Anda terlambat! 

Maka, bolehlah saya katakan, dua novel ini bukan novel biasa. Tunggu sampai keduanya terbit, dan nikmatilah.[]