A homepage subtitle here And an awesome description here!

Senin, 02 November 2020

MACRON, CHARLIE HEBDO DAN KACANG LUPA KULITNYA



Tidak ada itu karikatur Nabi.
Memangnya tahu wajah Nabi spt apa?
Terus, orang lain bkin karikatur dan diklaim itu karikatur Nabi, kalian percaya? Lantas marah-marah? Penghinaan?
Sekali lagi, emangnya yg bikin 
karikatur dan kalian pada tahu
wajah Nabi spt apa?
Mbok ya mikirrrr
BAGINDA Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bukan Nabi “Pemarah”. Beliau rahmatan lil alamin. Beliau itu pemaaf, pengasih, dan penyayang.

MEMANG benar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam itu pemaaf, pengasih, dan penyayang. Jangankan pengikutnya, orang kafir Quraisy Mekah juga mengakui. Boleh jadi, kafir Quraisy lah yang paling tahu betapa pemaaf, pengasih, dan penyayangnya beliau daripada orang Islam hari ini yang seolah-olah mengambil posisi “pembela” para penista Rasulullah.

Hanya mengangkat sifat pemaaf, pengasih, dan penyayangnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah narasi timpang. Itu tidak menggambarkan keutuhan dari perilaku beliau yang agung. Tidak terelakanlah kecurigaan atas sikap membela para penista itu. Jangan-jangan, mereka memang sengaja dipasang atau memasangkan diri untuk mewartakan sifat-sifat itu di saat baginda dilecehkan.

Narasi timpang dalam menilai kepribadian Nabi shallallahu alaihi wa sallam merupakan bentuk ketidakadilan dalam ekspresi cinta kepada beliau. Sedangkan cinta yang seimbang membutuhkan penerimaan pada kelembutan dan ketegasannya sekaligus. Bukankah menyembunyikan ketegasan beliau sama saja dengan perilaku para penghina? Perbedaannya hanya soal terang-terangan menghina dan retorika saja. Para penghina secara vulgar menggambarkan beliau dengan bahasa karikatur misalnya, sementara para pembela penghina itu bermain kata, “Nabi saja pemaaf, kok.” Seolah mereka saja yang pandai bergaya bahasa model puisi.

Rahmatan lil Alamin

ISLAM dan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam adalah rahmat bagi alam semesta. Karena sebagai rahmat bagi alam semesta, Islam bersifat universal, dan beliau Nabi universal. Islam hadir untuk segala bangsa. Beliau Rasul untuk segala bangsa. Jadi, rahmatan lil alamin merupakan satu kesatuan dua karakter; karakter ajaran Islam dan karakter Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Sebagai rahmat, Islam tidak untuk membebani manusia, tetapi justru untuk menghilangkan beban, menawarkan kemudahan dan kebijaksanaan, serta membawa pada kemaslahatan. Sebagai rahmat, di sini Islam benar-benar menunjukkan wataknya yang insaniyyah. Ia diturunkan untuk manusia dan satu-satunya agama yang cocok dengan fitrah manusia. Tidak ada satu pun ajaran Islam yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Karena karakternya yang insaniyyah itu, maka Islam bersifat waqi’iyyah atau realistis dan kontekstual. Artinya, Islam merupakan agama yang ajaran-ajarannya dapat direalisir dalam kehidupan manusia sehari-hari. Islam dapat diamalkan oleh manusia meskipun mereka berbeda latar belakang dalam segala sisi; bangsa, budaya, suku, adat, warna kulit, strata sosial, gender, dan sebagainya. Watak insaniyyah dan waqi’iyyah ini sudah cukup untuk memahami mengapa Allah menjadikannya sebagai rahmatan lil alamin di samping lima karakter Islam lainnya sebagaimana dijelaskan Dr. Yusuf Qardhawi yakni; Robbaniyyah (bersumber dari Tuhan dan terjaga otentisitasnya), Syumuliyah (universal dan konfrehensif), Al Wasathiyah (seimbang), Al Wudhuh (kejelasan konsep), dan Al-am’u baina ats-Tsabat wa al-Murunnah (harmoni antara perubahan hukum dan ketetapannya).

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam adalah rahmat bagi alam semesta, pembawa penunjuk jalan keselamatan untuk umat manusia baik manusia memilih beriman atau kafir. Keselamatan adalah rahmat bagi yang mengikuti seruannya. Penundaan azab secara langsung—seperti yang pernah terjadi pada umat-umat terdahulu yang mengingkari nabi mereka—adalah rahmat bagi yang memilih tetap pada kekafiran. Inilah makna “rahmat” yang bermakna “al-riqqah wal al-ta’aththuf”, artinya "belas kasihan" dan "iba". Kehadiran Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dalam bingkai kenabian adalah wujud belas kasih Allah SWT kepada umat manusia, rahmatan lil alamin.

Sebagai rahmat bagi alam semesta, Nabi Muhammad adalah contoh sempurna, hadiah terbesar bagi umat manusia yang merindukan akhlak dan keagungan budi pekerti. “Sesungguhnya aku adalah rahmat yang dihadiahkan (untuk seluruh alam).” (HR. Bukhari). Begitu sempurna akhlak yang disandangnya, pernah satu kali beliau dimintai seorang untuk menyumpah orang-orang musyrik. “Ya Rasulullah, sumpahilah atas orang-orang musyrik.” Namun dengan lembut dan bijak, beliau menjawab: “Sesungguhnya aku tidak diutus sebagai orang yang melaknat, aku diutus hanya sebagai rahmat.”

Terlalu banyak contoh untuk dihadirkan betapa beliau adalah cerminan dari akhlak mulia yang membawa pesan sebagai rahmatan lil alamin.

Ketegasan Sang Pemaaf

TIDAK perlu diragukan akhlak Nabi Muhamad yang pemaaf, pengasih, dan penyayang. Hanya saja, pemaaf, pengasih, dan penyayang bukanlah sifat-sifat tunggal dalam diri beliau. Bila sifat-sifat itu tidak dipisahkan dari sifatnya yang juga tegas, maka keagungan akhlak beliau itu seperti yang diwartakan QS. Al-Qalam [68]: 4, bahwa kepribadian beliau adalah cermin budi pekerti yang agung. Keagungan beliau adalah padu padan warna kelembutan dan ketegasan, bahkan beliau juga bisa marah. Kesatupaduan sifat itulah yang mengantarkan dakwah Islam yang diembannya melahirkan peradaban mulia di tengah-tengah masyarakat.

Akan tetapi, apa benar Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga dapat marah?

Jika kita percaya bahwa beliau pun punya sisi manusiawi seperti manusia yang merasakan lapar, haus, ngantuk, sakit, bahkan wafat, maka tidak perlu merasa aneh jika beliau juga bisa marah. Hanya saja, ekspresi marah beliau hampir jarang berkaitan dengan persoalan pribadi yang diusik. Beliau marah bukan semata karena pribadi beliau dihinakan meski para sahabat terdekat sudah menghunus pedang buat menebus kemarahan beliau, melainkan beliau pasti marah apabila Islam dan syariah dihinakan.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga marah, tapi bukan marah “kaleng-kaleng”. Beliau marah pada perkara substansial yang apabila beliau tidak mengambil sikap tegas akan menjadi preseden buruk bagi dakwah dan wibawa Islam di belakang hari. Kasus-kasus pengusiran Kelompok Yahudi Madinah sepanjang fase dakwah setelah hijrah (622 M) menjadi contoh konkret. Akan tetapi, tentu pengusiran itu ada sebabnya. Bagaimana mungkin Nabi yang pemaaf, pengasih, dan penyayang itu mengusir orang?

Pada peristiwa Perang Badar (624 M), Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah mengampuni seorang kafir Quraisy bernama Abu Azza Jamahi yang tertawan. Karena dibebaskan, Abu Azza berjanji tidak akan bergabung lagi dengan pasukan kaum musyrikin menentang Islam. Namun dalam perang Uhud, Abu Azza terjun kembali dalam barisan kaum musyrikin dan kembali tertawan. Tak ada ampun, Nabi yang pemaaf itu menjatuhkan hukuman mati pada laki-laki itu.

Piagam Madinah sebagai rumusan hidup bernegara di Madinah yang plural itu, ada menyebutkan toleransi Islam yang amat luar biasa. “Orang-orang Yahudi hendaknya berpegang pada agama mereka, dan orang-orang Islam pun hendaknya berpegang pada agama mereka pula.” Demikian salah satu bunyi Piagam Madinah yang diabadikan Husain Haekal dalam Sejarah Hidup Muhammad. Nyatanya, isi dan praktik piagam yang setoleran itu, dikhianati kaum Yahudi. Tak pelak, Yahudi Bani Qainuqa diusir dan kemudian menetap di wilayah Syam (Suriah). Yahudi Bani Nadhir juga diusir karena mengkhianati perjanjian. Mereka tidak mau bergabung dalam Perang Uhud (625 M) untuk mempertahankan Madinah. Malah mereka memprovokasi penduduk Madinah agar tidak ikut turun dalam perang Uhud. Hukuman paling keras diberikan kepada Yahudi Bani Quraizhah sebab mereka bersekutu membangun aliansi dan menikam kaum Muslimin dari belakang dalam perang Ahzab (627 M). Setelah ditaklukkan, Bani Quraizhah memilih Sa’ad bin Mu’adz sebagai hakim untuk memutuskan hukuman buat mereka. Keputusan Sa’ad sangat tegas, “Menghukum mati seluruh laki-laki dewasa, menjadikan tawanan wanita dan anak-anak, dan merampas harta benda mereka sebagai rampasan perang.” Bagaimana sikap Nabi shallallahu alaihi wa sallam atas keputusan Sa’ad? “Sungguh, kamu telah menghukum mereka dengan hukum Allah.” Nasib Yahudi Khaibar lebih baik dari komunitas Yahudi di atas. Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak mengusir mereka dari Madinah. Mereka dibiarkan untuk merawat kebun kurma. Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga mengembalikan kitab Taurat yang menjadi bagian dari harta rampasan perang saat orang-orang Yahudi meminta Taurat itu dikembalikan.

Ketegasan Nabi yang lain, misalnya dalam kasus penghancuran masjid Dhirar (630 M) setelah peristiwa Tabuk. Masjid Dhirar dibangun atas prakarsa orang munafik bernama Abu Amir Ar-Rohib. Pada masa jahiliyah, laki-laki ini beragama Nasrani. Dia yang melobi orang-orang kafir Quraisy mengajak memerangi Rasulullah dan kaum Muslimin di Madinah sehingga pecah perang Uhud. Rasulullah SAW berkata kepada para sahabat, “Pergilah kalian ke masjid yang didirikan oleh orang-orang dzalim (masjid Dhirar), kemudian hancurkan dan bakarlah!” kata beliau waktu itu.

Fathu Makkah (Pembebasan Mekah) pada 630 M barangkali menjadi peristiwa yang paling emosional dalam konteks Nabi shallallahu alaihi wa sallam sebagai pribadi pemaaf dan tegas. Sebelum beliau memasuki Mekah, beliau telah menginstruksikan kepada para komandan pasukan untuk tidak memerangi atau membunuh kaum musyrikin kecuali dalam keadaan terpaksa. Selain itu, beliau juga menyampaikan “daftar hitam” orang musyrik yang paling memusuhi Islam untuk dibunuh meskipun mereka berlindung di bawah dinding Ka’bah. Mereka adalah Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarah, Abdullah bin Khathal, Huwairitz bin Nuqaiz, Miqyas bin Shababah, Ikrimah bin Abi Jahal, Hubar Ibnul Aswad, Sarah, Shafwan bin Umayyah, Hindun binti Utbah (istri Abu Sufyan), Harits bin Hisyam, Zubair bin Umayyah, Ka’ab bin Zuhair, Wahsyi bin Harb, dan dua orang penyanyi milik Abdullah bin Khathal.

Dari semua orang yang masuk “daftar hitam” itu, mayoritas mereka diampuni dan lolos dari hukuman mati, kecuali beberapa orang yang tingkat kejahatannya pada Islam, Nabi dan kaum Muslimin sudah sangat melampaui batas. Bukankah ini bukti keagungan Nabi shallallahu alaihi wa sallam dengan segala kelembutan dan ketegasannya?

Para Penghina di Setiap Zaman

MUHAMMAD shallallahu alaihi wa sallam akan selalu dicintai. Akan tetapi, beliau juga akan diusik para pembenci. Sejak dahulu, saat beliau menjadi rasul dan mulai berdakwah, para pembenci bermunculan. Mereka datang dari kaumnya sendiri, bahkan dari keluarga dekatnya sekalipun. Segala tuduhan dan penghinaan keji sampai pada perlakuan kasar yang menyerang fisik. Beliau dihinakan dalam narasi syair-syair, sumpah serapah, dianggap sebagai gila, dilempari batu dan kotoran, hingga akan dibunuh .

Hari ini, zaman di mana katanya perlindungan hak-hak azasi manusia lebih terbuka, penghinaan kepada pribadi beliau tetap dan terus terjadi. Era Abu Jahal dan Abu Lahab memang boleh berlalu. Keduanya pun sudah mati meninggalkan kedegilan sejarah penghinaan kepada beliau yang tidak mungkin terhapus. Akan tetapi, spirit dedengkot kafirin itu untuk menghina keagungan Muhammad shallallahu alaihi wa sallam tetap hidup. Bila dahulu Abu Jahal dan Abu Lahab melakukannya karena “kedunguan” pada nubuwwat, zaman kini melakukannya atas nama kebebasan berekspresi. Hanya saja substansinya tetap sama; ekspresi kebencian berwajah Islamophobia.

Novel karya Salman Rushdie, The Satanic Verses (Ayat-Ayat Setan) yang terbit pada 1989 adalah yang paling saya ingat setelah era jahiliyah bahwa penghinaan atas keagungan Muhammad shallallahu alaihi wa sallam tidak mengenal kata berakhir. Saat itu masa SMA, masa sudah mulai respek membaca dinamika masalah sensitif kasus yang digulirkan Abu Jahal modern seperti Salman Rushdie meskipun tidak pernah membaca novel tersebut. Namun, membaca sinopsis The Satanic Verses yang ditulis seorang kompasioner, memang membuat panas hati. Seorang muslim wajar bertanya, bagaimana seorang Salman Rushdie bisa sejahat itu menghina Islam dan pribadi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam

Reaksi bergulir bak bola salju. The Satanic Verses banyak dibakar pada demonstrasi di Britania Raya. Novel itu juga menyulut kerusuhan di Pakistan pada tahun 1989. Fatwa bunuh untuk Salman Rushdie di mana saja dia berada dikeluarkan pemimpin Revolusi Iran Ayatollah Khomeini. Salman Rushdie dinyatakan telah murtad (keluar dari Islam). Sejak itu, Salman Rushdie hidup di pengasingan dengan nama palsu. Dia baru berhenti menggunakan nama palsu pada 11 September 2001 ketika Teheran mengatakan ancaman eksekusi padanya sudah berakhir.

Penghinaan pribadi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam tidak surut oleh reaksi kaum Muslimin pada kasus The Satanic Verses. Jyllands-Postens, surat kabar terbesar di Denmark memublikasikan 12 karikatur Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam karya kartunis Kurt Westergaard pada 30 September 2005. Organisasi Konferensi Islam (OKI) angkat bicara, memerotes keras konten penghinaan itu.

Lagi. Kali ini datang dari Belanda. Film muncul dokumenter berjudul Fitna. Film karya politisi Belanda Geert Wilders, pemimpin Partij voor de Vrijheid (PVV) dirilis. Film ini berisi pandangan negatif Wilders terhadap Islam, Al-Qur’an, dan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Film berdurasi 15 menit ini penuh dengan adegan teror berupa pengeboman, pembakaran dan pembunuhan ras kulit putih, dan Yahudi yang dikatakan dilakukan oleh umat Islam.

Saya tidak ingin mengulas konten film manipulatif yang mengundang emosi itu di sini, tetapi menutupnya dengan hadiah manis dari Allah subhanahu wa ta'alaa kepada Arnoud van Doorn, politisi Partij voor de Vrijheid (PVV), orang yang terlibat dalam pembuatan film itu masuk Islam pada 2013. Belakangan, Iskander Amien De Vrie, putra Arnoud van Doorn, akhirnya mengikuti jejak sang ayah menjadi seorang Muslim. Hidayah terus merangsek. Pada 26 Oktober 2018 giliran Joram van Klaveren, mantan orang kepercayaan Geert Wilders memilih masuk Islam. Klaveren dikenal pengikut garis keras Geert Wilders yang kerap melontarkan kalimat penistaan terhadap Islam. Klaveren lah orang yang sering menyebut “Islam adalah kebohongan”, “Muhammad adalah penjahat”, “Al-Quran adalah racun” dan tak kenal lelah mengulang-ulang Islam adalah ideologi teror, kematian, dan bencana.

Di Indonesia pun, penghinaan kepada sosok mulia Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam melalui media bukan tidak pernah terjadi. Tabloid Monitor yang pernah merilis angket "Kagum 5 Juta"pada akhir 1990 tentang siapa tokoh yang paling dikagumi, menyeret penulisnya diganjar 4 tahun penjara. Tabloid itu dianggap menghina sosok mulia orang yang paling dihormati Muslimin, mayoritas penduduk Indonesia. Hasil polling itu menempatkan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam pada pada urutan ke-11 tokoh yang paling dikagumi, satu tingkat berada di bawah permrakarsa angket itu, dan jauh di bawah Pak Harto yang berada pada urutan pertama. Belakangan, sebelum meninggal, mendiang pemrakarsa angket itu pernah menyatakan penyesalannya telah melukai umat Islam pada ANTARA News. Hasil angket dimaksud bisa Anda lihat di sini: https://id.wikipedia.org/wiki/Kontroversi_angket_Majalah_Monitor

Prancis, Charlie Hebdo dan Kacang Yang Lupa Kulitnya

LAGI, dan lagi majalah satir Charlie Hebdo memantik kemarahan. Seorang guru di Prancis tewas ditikam siswanya karena menampilkan majalah Charlie Hebdo berisi karikatur Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dengan dalih kebebasan berekspresi. Empat belas tahun yang lalu, pada 2006, Charlie Hebdo juga membuat karikatur yang sama yang menyulut gelombang protes kaum Muslimin. “Kebebasan berkespresi” sudah menjadi “agama” baru yang dijunjung tinggi Charlie Hebdo . Ia terus mengulang-ulang mengolok-olok Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam melalui karikaturnya mengabaikan perasaan kaum Muslimin dan dampak yang mungkin ditimbulkannya.

Pesan sang editor Laurent "Riss" Sourisseau pun jelas: "Kami tidak akan pernah tunduk. Kami tidak akan pernah menyerah," dalam editorial yang dipajang bersama gambar karikatur. Majalah satir itu menegaskan bahwa gambar tersebut adalah "milik sejarah, dan tidak bisa dihapus atau ditulis ulang," seperti dirilis https://www.kompas.com/global/read/2020/09/02/063755870/majalah-charlie-hebdo-umumkan-bakal-cetak-ulang-karikatur-nabi-muhammad?page=all .Belakangan, Charlie Hebdo memuat karikatur Erdogan Singkap Gaun Perempuan Berhijab. Bisa jadi, karikatur itu dirilis untuk membalas sikap pemerintah Turki yang selama ini paling keras menanggapi satir Charlie Hebdo.

Membaca pesan Laurent dan sikap resmi pemerintah Prancis atas kasus Charlie Hebdo terbaru, seakan mereka lah yang berusaha melupakan sejarah. Mungkin Laurent malu, Prancis punya hutang sejarah yang terlalu mahal untuk dibayar lunas pada Turki Utsmani. Hutang sejarah itu tetap menjadi hutang, tidak bisa dihapus atau ditulis ulang.

Pada peperangan Pavia, 24 Februari 1522 M, Raja Prancis I (1494-1547 M) ditawan Raja Jerman. Prancis merasa terhina. Tentaranya tidak dapat membebaskan sang raja dari penawanan. Ibunda sang raja lalu menulis surat kepada Khalifah Utsmaniyah, Sultan Sulaiman Al-Qanuni guna meminta bantuan buat membebaskan putranya. Prajurit yang diutus, Jean Frangipani, menyampaikan surat itu kepada Sultan Sulaiman. Surat tersebut lalu dibacakan juru terjemah.
Hingga saat ini, kami selalu berharap ada seseorang yang berkenan membantu kami menyelamatkan anak kami. Ternyata harapan-harapan itu selalu berbuah kekecewaan. Buktinya hingga saat ini anak kami hidup hina di bawah kekuasaan Raja Jerman. Seluruh dunia kenal akan kebesaran, kemuliaan, dan kehormatan Paduka. Karena itulah, kami menghaturkan surat ini kepada Paduka yang mulia untuk ikut membantu melepaskan anak kami. 
Sultan kemudian menulis dua pucuk surat; surat pertama ditujukan kepada Raja Perancis I dan surat kedua ditujukan kepada ibunda Raja Perancis. Surat Sultan yang dikirmkan kepada Raja Perancis sebagai berikut:
Kepada Yang Mulia Raja Perancis I. Kami telah menerima surat yang diberikan oleh utusan Tuan. Dari situ kami tahu bahwa musuh telah menyerang negara Tuan menyebabkan Tuan menjadi tawanan hingga saat ini. Ibunda Tuan penduduk Perancis meminta kami untuk membebaskan Tuan dari tawanan. Memang, bukan hal yang aneh bila seorang raja ditawan dan dipenjara. Karena itu, kami harap Tuan jangan bersedih. Kami akan membantu Tuan. Pedang-pedang kami senantiasa siap siaga siang dan malam. Semoga takdir baik Allah bersama kami dan Tuan.
Bukankah kebaikan Sultan Sulaiman, pendahulu Erdogan yang lebih pantas disebut sejarah yang tidak bisa dihapus dan ditulis ulang? Kebaikan macam apa yang bisa ditunjukkan Laurent dan pemerintah Prancis buat menghapus kemurahan hati penguasa Turki Utsmani dan kaum Muslimin itu? Akan tetapi, rupanya islamophobia akut yang diderita Laurent "Riss" Sourisseau atau Macron  telah menjadikannya lupa kacang pada kulitnya. Mereka membalas sejarah itu dengan olok-olok karikatur Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Muhammad Gharib Gaudah, merekam pengakuan beberapa ilmuan Barat tentang peran Islam dan dunia Arab bagi perdaban Eropa. Berikut yang dipaparkan Gaudah: 
Claude Varir, Guru Besar Fakultas Bahasa Timur di Du France College. Claude berkata: “Cukuplah seorang mengingat apa yang terjadi pada Prancis. Kalau bukan karena Islam yang proaktif, bijaksana, cerdas, dan toleran-karena Islam memiliki ini semua-niscaya kita tidak akan mendengar lagi nama Prancis sebagai negara kita.
Emmanuel Macron, presiden Prancis tak terusik dengan olok-olok Charlie Hebdo dan membela bahwa kartun itu wujud kebebasan berespresi yang dihormati di negaranya. Namun yang menggelikan, Macron marah besar pada presiden Brazil, Jail Borsonaro saat menanggapi unggahan foto di Facebook yang membandingkan penampilan istri presiden Brazil, Michelle (37 tahun) dengan Brigitte (66 tahun) istri Macron. Briggitte tampak sangat tua dibandingkan dengan Michelle yang konon disebut-sebut sebagai istri pemimpin paling cantik di dunia dalam foto itu. “Jangan mempermalukan pria itu hahahahah,” tulis Bolsonaro. Macron bereaksi mengutuk komentar Bolsonaro. Tak pelak, kasus ini meningkatkan ketegangan antara Macron dan Bolsonaro.

Ada yang tidak kalah menggelikan dari sikap Macron atas presiden Brazil. Dialah orang Islam yang menilai sikap kaum muslimin berlebihan menanggapi karikatur Charlie Hebdo. Orang Islam disuruh mikir karena tidak ada yang tahu wajah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam itu seperti apa. Jadi, maksudnya, tidak ada itu olok-olok.

Bisa jadi, orang Islam yang menilai respon berlebihan kaum Muslimin itu tampak “keren” meskipun lebih pantas dikatakan sebagai pendapat “tidak tahu diri”. Bagaimana mungkin sosok Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, sosok yang dicintai seorang muslim melebihi cintanya pada diri sendiri dijadikan sebagai bahan olok-olok dan kaum Muslimin disarankan sebaiknya jangan marah?

Memang, tidak ada orang zaman ini mengenal persis seperti apa wajah Nabi shallallahu alaihi wa sallam secara fisik. Namun bukan tidak mungkin, kartunis Charlie Hebdo yang menggambar beliau itu sudah membaca terjemahan kitab Asy-Syamail al-Muhammadiyyah karya Imam Turmudzi yang mendeskripsikan secara jelas seperti apa wajah dan ciri-ciri fisik Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.  Ayolah! Janganlah jadi orang Islam yang lupa kacang pada kulitnya, lupa kebaikan baginda Muhammad shallallahu alaihi wa sallam  Sang Penyelamat yang diharap syafaatnya di hari kiamat. Anda tidak mungkin minta syafaat pada Macron dan Charlie Hebdo, buka? Mikir!

Semoga awak Charlie Hebdo mendapat hidayah menyusul Arnoud van Doorn.

Depok, 02 November 2020.



Sabtu, 17 Oktober 2020

KUOTA DAN LUKISAN PELANGI

Rizano benar-benar seperti terlempar keluar dari planet bumi dan bergabung dengan “Suku Maya”.


RIZANO teman kecil Binar. Sejak TK sampai SMA, mereka satu sekolah. Saat TK, keduanya hobi mewarnai. Tapi, karena persoalan warna pula, Rizano kapok gara-gara ditertawakan teman sekelasnya. Pasalnya, anak itu mewarnai matahari dengan warna hitam, warna yang dianggap aneh untuk matahari. Semua teman-teman Rizano memberi warna kuning dengan sinarnya yang terang atau langit dengan warna biru. Binar termasuk yang turut menertawakan. Maka, sejak itu Rizano tak pernah mau lagi mewarnai.

“Kenapa mataharimu kamu kasih warna hitam, Zano?” Tanya Binar saat mereka keluar kelas.

“Ya terserah aku. Itu kan matahari aku,” jawab Rizano dengan muka ditekuk. Dia sebal. Teman baiknya ikut menertawakan.

“Tapi kan, yang namanya matahari, warnanya kuning.”

Rizano berhenti. Matanya menatap tajam Binar.

“Matahari aku kan, sedang gerhana. Di mana-mana, gerhana matahari kan gelap, tahu!”

Binar mengerling. Rizano berlari meninggalkan Binar yang masih mengerling.

“Zano! Tunggu!”

Rizano tak perduli. Dia terus berlari meninggalkan Binar. Dia benar-benar marah. Esoknya, marah Rizano baru reda oleh sebungkus cokelat Binar, oleh-oleh bapaknya yang baru tugas dari luar negeri. Cokelat itu lalu mengikat mereka sampai SMA. Selepas SMA, mereka baru pisah sekolah. Rizano melanjutkan kuliah menjadi guru, Binar mengambil sekolah seni. Akan tetapi, Binar tidak betah kuliah. Baru dua semester, dia hengkang.

Selanjutnya, Binar mengikuti hobinya bertualang. Meskipun anak orang kaya, dia lebih suka menggelandang dengan bekal seransel cat dan kuas. Dia bergabung dengan seniman jalanan dan berpindah-pindah. Makan dan tidurnya dari lukisan yang dia jual. Satu saat, Binar benar-benar meninggalkan rumah dan tak pernah kembali karena kecewa. Binar bahkan bersumpah tidak akan pernah meminta bantuan orang tuanya seumur hidup gara-gara Denok disebut perempuan pembawa sial bagi keluarga Binar.

“Hartaku adalah Denok, Zano.” Kata Binar saat mereka bertemu tak sengaja di Blok M, tiga tahun selepas SMA.

Rizano mengerti. Dia tahu kisah cinta Binar pada Denok sejak mereka SMA. Denok gadis panti asuhan, yatim piatu. Kecantikan fisik dan hati Denok, meluluhkan sukma anak orang kaya seperti Binar. Binar amat menyintai Denok. Cinta sejati. Begitu sejatinya, Binar lebih memilih Denok meskipun orang tuanya mengusirnya dan mengancam menghapus namanya dari hak waris. |


PELANGI menyembul di tengah senja. Ia hadir lagi ketika cahaya matahari terkena air hujan. Memang, sejak sehabis Ashar sore itu, hujan merintik belum reda. Diam-diam, pembiasan sinar matahari berlangsung, luput dari mata penikmat awam pelangi.

Rizano Sandywan tahu betul itu. Mata seorang guru sains seperti dia, kognisinya langsung bisa membaca fenomena alam, tidak seperti mata Binar yang cuma sekadar berbinar saat pelangi ada di langit kampung mereka; Kampung Utan. Maka, kuas Binar lah yang bekerja saat dia melihat pelangi. Tunggu saja beberapa saat, pelangi itu akan sempurna dia pindahkan ke atas kanvas hasil kecerdasan otak kanannya. Dan seperti biasanya, di sudut bawah sebelah kanan kanvas, ada tanda tangan yang mudah dibaca: Mataku Binar.

Binar memang bukan guru sains. Dia pelukis jalanan dengan kemampuan profesional. Karya-karyanya banyak lahir di emperan ruko pasar Blok M, Malioboro, Pasar Comboran Malang, atau emperan pertokoan Yakaya Rungkut Surabaya. Baru satu setengah tahun dia mangkal di Blok M. Maka, saat Rizano kengan pada teman kecilnya itu, dia pasti melangkah ke Blok M.

“Pelangi itu terjadi saat cahaya matahari itu dibelokkan. Berpindah arah dari perjalanan satu medium ke medium lainnya. Pelakunya adalah tetesan air yang ada di atmosfer. Perbedaan panjang gelombang dan sudut ketika sinar matahari dibiaskan, menyebabkan warna-warna pada sinar matahari menyebar dan terpisah. Di sanalah lengkungan pelangi dengan jutaan warna kau jumpai.” Rizano berkomentar panjang saat lukisan itu belum lagi kering.

“Apa pentingnya kuliahmu buatku?”

“Aku memberitahumu, seniman. Agar saat kau ditanya bagaimana pelangi itu mewujud, kau bisa menjawab. Jadi, kau tidak sekadar pandai melukisnya.”

“Di hadapan murid-muridmu, kau boleh ngoceh ilmiah, Zano. Di hadapanku, berapa pembeli berani membayar pelangiku, itu yang penting. Biar dapurku tetap mengepul.”

“Memangnya, berapa mau kau lepas?”

“Tiga bulan honormu.”

“Mahal sekali?”

“Berapa tiga bulan honormu? O, pasti tinggi, ya. Aku dengar, kabar burung sih, guru-guru di sekolahmu sejahtera. Syukurlah. Paling tidak, kawanku bukan guru nonorer yang kere.”

Rizano tersenyum kecut. Dia sadar sedang dijebak sahabatnya.

“Ah, tak perlu lah kau tahu berapa honorku.”

“Kalau begitu, carikan saja pembeli pelangiku. Kamu dapat sepuluh persen.”

“Berapa sepuluh persennya?”

Binar menyebutkan angka. Rizano terhenyak. Mahal. Bahkan sepuluh persen itu melangkahi gajinya tiga bulan.|


TEH poci masih mengepul. Hujan belum tiris sejak subuh. Padahal, hari masih pagi, masih pukul enam. Langit masih setengah gelap dan bertambah gelap karena cuaca mendung. Sepagi itu, Rizano sudah berkutat dengan tugas-tugas kelas online yang menumpuk sepanjang hujan belum reda. Matanya saja masih berat. Tadi malam, dia baru tidur pukul setengah dua belas usai memeriksa tugas fisika kelas dua belas pertemuan terakhir sebelum PTS. Jam setengah tiga dia sudah bangun lagi untuk meneruskan pekerjaan sekolah.

Sejak pandemik dan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh), Rizano lebih sibuk. Urusan sekolahnya tidak kenal bel. Laptopnya kalau bisa menyala 24 jam. WA-nya tidak pernah capek memberitahu soal keluhan siswanya meskipun dia sedang di kamar kecil. Kadang, orang tua sampai turun tangan menelepon saat dia sedang membantu istrinya menggoreng kerupuk hanya untuk memberi tahu: “Pak, tugas Si Mumut sudah saya emailkan, ya. Maaf, pake email kantor. Sekalian mao tanya, Pak. Bisa enggak sekolah tidak perlu ada PTS? Diganti tugas saja. Masalahnya, Si Mumut yang mao PTS, saya yang pusing.”

Pagi itu, setelah shalat Subuh, Rizano harus menginput nilai dan menulis laporan rencana pembelajaran pekan depan. Setelah itu, dia harus menulis modul, menyiapkan soal di google form, membuat video animasi, mengisi konten google site, dan merancang 60 butir soal persiapan Penilaian Semester. Rizano benar-benar seperti terlempar keluar dari planet bumi dan bergabung dengan “Suku Maya”.

Saraswati, istrinya menghampiri. Wajahnya tampak kelam, sekelam mendung pagi yang belum beranjak pergi. Saraswati duduk di samping suaminya. Sesaat, perempuan itu memegang bahu Rizano. Mengelusnya pelan seperti menoreh beban.

“Mas, barusan aku dikabari, Ibu dirawat. Butuh biaya rumah sakit.”

Rizano menolah. Matanya meninggalkan laptop menjumpai mata istrinya yang sembab seperti baru habis menangis.

Inna lillahi. Pakai saja tabungan kita.”

“Jangan, Mas. Itu uang buat beli buku-buku kuliah Si Kakak.”

“Tapi, hanya itu sisa uang yang kita punya.”

“Beras di dapur juga tinggal untuk sore ini.”

“Uang honor menulis yang kemarin, masih sisa, kan?”

“Masih. Tapi, sudah aku alokasikan untuk beli kuota Si Kakak dan Jaziila seminggu ke depan. Si Kakak sudah mulai kuliah online. Jaziila sudah mulai PTS.”

“Sisa beras, bikin bubur saja, biar cukup sampai besok pagi.”

“Ibu bagaimana?”

Rizano menekur. Diseruputnya teh pocinya yang tinggal seteguk. 

Air mata Saraswati meleleh.  Saraswati terisak karena tahu suaminya bingung dari mana mendapat biaya perawatan ibunya. Persis, saat itu, kuota Rizano habis pada isakan Saraswati terakhir sebelum dia berhenti meratap. Untunglah pula hari itu hari Sabtu, hari bebas PJJ. Rizano tidak membayangkan kalau itu terjadi saat dia mengajar. Tiba-tiba wajah menghilang dari layar Zoom Meeting karena kehabisan kuota, adalah aib seorang guru saat PJJ.|


BINAR duduk memeluk lutut. Dia beranjak saat melihat kedatangan Rizano dengan dua perempuan asing berwajah Arab. Rizano memperkenalkannya pada Binar. Binar menyapanya ramah. Ramla balas menyapa sambil mengucap salam. Fathiya hanya mengangguk.

Rizano memperkenalkan Binar pada Ramla dan Fathiya. Binar hanya melongo saat Rizano bercakap dengan bahasa Arab, sesekali dengan bahasa Inggris. Binar mengerti saat Rizano, Ramla, dan Fathiya berbincang dengan bahasa Inggris. Namun, Binar sama sekali tidak tahu apa yang sedang mereka bincangkan selain na'am dan laa. Di telinga Binar, mereka bertiga terdengar seperti sedang  ratiban.

“Ramla dan Fathiya mahasiswa pascasarjana dari Mesir. Sudah setahun penelitian di sekolahku. Dua hari lagi dia balik ke Kairo.”

“Terus, apa hubungannya denganku?”

“Ramla kolektor. Dia ingin lihat lukisanmu.”

“Oh. Kau datang di saat yang tepat, Zano. Dapurku sedang sekarat. Pelangganku habis gara-gara Corona.”

“Aku bilang, kamu punya lukisan pelangi. Dia ingin melihatnya.”

“Astaga!”

“Kenapa?”

Binar menepuk jidat. Lukisan itu sudah ditukarnya seminggu yang lalu sebagai jaminan dua bulan menunggak biaya sewa kontrak rumah kepada pemilik kontrakan.

“Sebanding kira-kira sebulan honormu, Zano,” kata Binar berkelakar.

Rizano mencibir. Dia tidak suka soal honornya dibandingkan lagi dengan harga lukisan Binar. Apalagi sekarang, harganya dibanting seukuran honornya satu bulan. Lagi pula, memang Binar tahu berapa besar honornya?

Sorry, Zano. Lupakan soal honormu. Aku punya banyak koleksi selain pelangi. Tawarkan saja. Aku kasih murah.”

“Ramla ingin yang pelangi.”

“Tak bisakah yang lain?”

“Tergantung dia.”

Rizano menawarkan lukisan Binar yang lain. Ramla menggeleng. Dia hanya menginginkan pelangi.

Qawsun fujah, Rizano. Ghayruh, laa.” Ucap Ramla.

Rizano menelan ludah. Dia sudah kadung berharap mendapat komisi sepuluh persen seperti janji Binar sebulan yang lalu. Dia sedang butuh sekali uang itu. Namun, harapan itu pupus. Ramla hanya mau melihat lukisan pelangi itu, bukan yang lain. Lukisan pelangi itu pun, belum tentu dibeli Ramla.

“Ramla hanya ingin yang pelangi, Bin. Yang lainnya, nggak mau.”

Binar tampak kecewa.

Dalam pada itu, seorang laki-laki dan seorang perempuan paruh baya datang ke lapak Binar. Dia membawa bingkai tertutup rapat. Binar mengenal keduanya. Binar minta izin Rizano dan dua perempuan Mesir itu buat menemui keduanya. Rizano menggunakan kesempatan itu menemani Ramla dan Fathiya melihat-lihat lukisan Binar yang lain. Siapa tahu ada yang diminati Ramla atau Fathiya.

Binar memesan kopi menemani tamunya berbincang. Rupanya, orang itu adalah pemilik rumah kontrak yang Binar tempati. Esok dia akan terbang ke luar kota. Dia ditugaskan ke Kalimantan selama setahun. Dia minta tolong Binar untuk merawat rumahnya selama dia di Kalimantan. Sebagai imbalannya, Binar dibebaskan biaya sewa rumah selama setahun ke depan.

“Bin, saya tidak punya sanak saudara di Jakarta. Kamu sudah seperti keluarga saya. Saya titip rumah, ya. Kalau butuh kendaraan, pakai saja.”

Laki-laki itu lalu menyerahkan bingkai tertutup itu pada Binar.

“Taruh saja di sini. Kalau ada yang minat, jual. Ambil semua harga penjualannya.”

Binar membuka bungkus bingkai itu. Mata Binar berbinar, lalu menitik.|


PAGI masih kelam, lebih kelam dari kemarin. Rizano menunduk sedih. Saraswati tak berhenti sesenggukan selepas kabar kewafatan ibunya diterima tadi subuh. Hanya selang dua hari dikabari ibunya dirawat, kabar duka datang menyusul. Hati Saraswati remuk redam membaca kabar sebab kewafatan sang Bunda: COVID.

“Cukup Raswa. Ibu sudah tenang. Jangan lagi ditangisi. Semoga beliau dapat pahala syahid karena wabah.”

Saraswati mengelap air matanya.

Rizano menyerahkan amplop cokelat.

“Gunakan untuk membantu biaya perawatan ibu.”

“Tidak usah, Mas. Perawatan ibu sudah diurus Mas Wawan.”

“Barangkali cukup buat urusan tahlilan.”

“Tidak ada tahlilan. Tidak boleh ada kumpul-kumpul di kampung sejak kasus ibu. Mas Wawan malah transfer ke rekeningku untuk biaya kuliah si Kakak hasil panen sawah ibu tahun ini. Mas Zano kembalikan saja amplop itu.”

“Kembalikan?”

“Mas Zano pasti dapat dari pinjam, kan?”

Rizano menggeleng.

Rizano berkata amplop itu titipan dari Binar. Kemungkinan komisi sepuluh persen lukisan pelangi Binar yang dibeli Ramla. Dia sendiri belum membuka dan menghitung berapa jumlahnya.

“Hitunglah. Semoga cukup untuk urusan kuota saya, Si Kakak, dan Jaziila selama PJJ.”

Saraswati membuka amplop, menghitungnya, dan memekik.

“Sembilan juta, Mas Zano!”

Rizano menekur. Diraih HP-nya. Dikirim pesan pada Binar mengucap terima kasih. Binar membalas. Dia katakan, dialah yang harus berterima kasih. Ramla tanpa menawar berani membayar pelangi miliknya seharga 90 juta. Pelangi yang sesungguhnya sudah menjadi milik orang, kembali kepadanya.

“Kamu yang membawa Ramla padaku, kan? Oh, iya. Aku titip dua amplop. Nikmatilah rezekimu, guru honorer.”

Rizano memeriksa amplop cokelat itu. Dia tidak lagi memedulikan cap guru honorer, kelakar Binar yang sebenarnya menjengkelkan. Rizano sering memaki nasib. Sebutan guru honorer dan guru PNS dipandangnya seperti kasta Hindu kelima dan keenam. Cukuplah Brahmana, Ksatria, Waisya, dan Sudra saja. Toh, tidak ada siapa yang lebih berat timbangannya dalam tugas-tugas mengajar. Bisakah disebut "guru" saja tanpa embel-embel?

Benar saja. Ada amplop kedua. Ada tulisan tangan Binar pada secarik kertas. “Hadiah dariku untuk biaya kuliah Kalila selama dua semester. Hari ini aku semakin percaya kata-katamu saat kau meyakinkanku pada Denok. Kau bilang waktu itu, “mengurus anak yatim” Allah tak akan membiarkanmu berjalan sendirian.”

Rizano kelu. Matanya basah. Urusan kuotanya selesai di tangan Mata Binar.|

Sabtu, 19 September 2020

PETI MATI DI ATAS ROLLER COSTER

Allah ya Rabb, biarkanlah wabah ini berlalu. Mohon perlindungan-Mu Ya Rabb. Kami benar-benar seperti di atas roller coaster sambil memandangi peti mati.


INI soal rasa. Sejak akhir Agustus sampai petang ini, rasa seperti menaiki roller coaster. Jantung nyut-nyutan, pandangan rasa jungkir balik, adrenalin naik turun tidak karu-karuan. Akan tetapi, ini bukan seperti rasa roller coaster di Dufan yang histeria bahagia tegang. Ini histeris sedih tegang.

Akhir Agustus kemarin itu, dapat WA dari sahabat karib. Minta doa terbaik buat ibundanya yang sedang dirawat. Deg! WA, saya balas normatif. Doa mengalir, semoga Ibunda lekas pulih, begitu saya penuhi. Pikiran liar ke sana ke mari menunggu kabar berikutnya. Jeda hampir sepuluh menit. Dan, kecemasan terjawab. Ibundanya positif Covid.

Pukul empat pagi empat hari kemudian, WA saya terima lagi. Sahabat karib ini mengirim pesan suara. Isinya rekaman via handphone dia pada sang Bunda. Pesan suara yang sangat menyentuh:
Assalamualaikum, Ma. Ini ***. Mama jam segini, biasanya sedang tahajud, loh. Ayo, Ma, lakukan kebiasaan Mama semampunya meski hanya dengan isyarat. Dari rumah, *** bantu doa agar Mama lekas sembuh.
Setiap kalimat sapaan dalam pesan suara itu direspon sang Bunda. Tidak jelas kalimat respon apa yang diucapkannya. Hanya suara seperti dengkuran tiap kali dia disapa. Dan, jam empat pagi hari itu, air mata saya jatuh. Ingat orang tua sendiri yang sudah sepuh.

Siang harinya, hanya berselang tujuh jam, sekitar pukul sebelas, kabar duka menutup semua pesan. Ibunda berpulang. Diurus dan dimakamkan dengan protokol Covid. Inna lillahi wa inna ilayhi rajiun.

Delapan September, sahabat karib ini kembali kirim pesan. “Hasil swabnya, saya positif covid ustadz. Laa hawla wala quwwata illa billah. Klo misal sy duluan, tolong lihat²in haafidz ustadz jika lagi senggang.”

Haafidz putra sahabat karib, bocah tiga tahun. Pesan ini, rasa ingin menjerit membacanya.

Sejak saat itu, hampir setiap hari, WA saya kirimkan buat menguatkannya menjalani isolasi mandiri. Meskipun jawabannya selalu menggembirakan, “Alhamdulillah saya sehat dan kuat InsyaAllah.” Akan tetapi, dalamnya laut, siapa yang bisa mengukur. Bagaimana rasa dan warna jiwa sahabat ini, saya tidak tahu. Namun, karena kasat mata saya tahu pengamalan agamanya baik, apa yang dia katakan, itulah dirinya.

Sebelas September, teman sekelas sewaktu SD, kolega saya; Pimpinan Ormas, Ketua Kampung Siaga Covid-19, jamaah pada kajian rutin Ahad petang yang saya isi, hasil swabnya positif Covid. Duh, orang-orang dekat yang saya kenal baik, satu lagi masuk dalam daftar yang memacu detak jantung berakrobat laiknya sedang naik roller coaster.

Pukul tujuh pagi tadi, saya menemani istri membeli sayuran di dekat komplek Depok Maharaja. Saat menunggu istri, bertemu lagi teman lain sewaktu SD. Asyik sekali kami mengobrol bertukar kabar. Namun, keasyikan itu terhenti saat teman ini mengabarkan. “Keponakan saya, murid ente dulu waktu Ibtidaiyah, positif Covid. Sekarang, lagi isolasi mandiri. Semua keluarganya sementara mengungsi ke sini.”

Sejenak, wajah anak yang ganteng itu, berpostur tinggi sedang, berkulit putih, berhidung mancung, murah senyum, yang begitu hormat saat bertemu saya, berkelebat. Dalam ingatan saya sekarang, dia sedang murung. Keluarganya, pasti pula sedang gelisah dan cemas.

Allah ya Rabb.

Saya pikir sudah selesai. Telah cukup guncangan macam roller coaster itu. Belum. Pukul satu siang tadi, sahabat, guru, dan editor buku saya; Kiai Kocak VS Liberal, editor senior pada penerbit buku saya itu dirilis, positif Covid. Kabar saya terima melalui akun Facebook sahabat saya juga; Editor in Chief pada penerbit yang sama mereka bekerja. Saat ini, sang editor sedang menjalani isolasi di Wisma Atlet. Rasa benar-benar ingin menjerit.|


Saya tidak tahu, apa kita semua akan bisa bertahan atau tidak menghadapi wabah ini. Rasa cemas mengejar-ngejar bukan karena persoalan sakit dan kematian, tapi “lelah” melihat arogansi penguasa saat mula pertama wabah ini merebak. Bukan sigap menyelamatkan jiwa anak bangsa, tapi ramai-ramai melawak dengan tema Corona yang “garing”.

Dimulai dari pernyataan Presiden dengan sangat confident yang menyebut virus Corona tidak masuk ke Indonesia merespon Corona sudah merenggut korban meninggal 1.018 di Cina Daratan seperti yang disiarkan Kompas TV pada 11 Februari 2020. Pernyataan presiden ini seperti draft naskah komedi yang diturunkan menjadi dialog ketoprak humor yang diperankan para pembantu. "[Ini] guyonan sama Pak Presiden ya. Insya Allah [virus] Covid-19 tidak masuk ke Indonesia karena setiap hari kita makan nasi kucing, jadi kebal," ujar Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.

"Corona [Masuk Batam]? Corona kan sudah pergi.... Corona mobil?" ujar Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan.

"Katanya virus corona enggak masuk ke Indonesia karena izinnya susah," kata Bahlil Lahadalia, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

"Corona itu seperti istrimu, ketika kamu mau mengawini kamu berpikir kamu bisa menaklukan dia. Tapi sesudah menjadi istrimu, kamu tidak bisa menaklukkan istrimu," kata Mahfud MD.

Setali tiga uang, wakil rakyat yang menulis buku “Saya Bangga Jadi Anak PKI” juga genit, latah mengambil peran, "Itu tadi dijabarkan sama ahli paru di Metro TV kalau enggak salah saya lihat. Ini lebih bahaya MERS dan SARS dibanding itu daripada si corona, kecuali [maksudnya] 'komunitas rondo mempesona'...Bapak-bapak kalau kena korona yang itu ngeri kita. Itu korona beneran itu, korona yang membahayakan itu, komunitas rondo mempesona," ujar Anggota Komisi IX DPR RI Ribka Tjiptaning.

Apakah mereka telah kehilangan sense of disaster? Saya tidak tahu. Bisa jadi, it’s about leadership capacity, integrity. Lingkaran positif jadi makin mengecil. Begitu kata teman-teman saya dalam obrolan ringan di Telegram.

Apa mau dikata. Begitulah suara dari mulut orang-orang “berkasta” pejabat di atas yang terlanjur mereka muntahkan, polos seperti robot yang tak kenal rasa akan dosa. Bagi saya, lelucon mereka itu adalah legacy buruk sejarah bangsa ini. Entah, apakah saat ini mereka menyesalinya atau tidak, sementara korban Covid 19 terus bertumbangan setiap hari.

Lima bulan lalu, artikel bertajuk "Dying doctors. To many coffins. Indonesia late in battle against coronavirus” dimuat Los Angeles Times pada Jumat (24/4) seperti dilaporkan https://dunia.rmol.id. Sekarang, para dokter sekarat. Terlalu banyak peti mati. Indonesia terlambat berperang melawan virus corona sedang tayang di pelupuk mata.

Allah ya Rabb, biarkanlah wabah ini berlalu. Mohon perlindungan-Mu Ya Rabb. Kami benar-benar seperti di atas roller coaster sambil memandangi peti mati.

Depok, 19 September 2020.









Kamis, 17 September 2020

MUTUALISME SECANGKIR KOPI DAN SEBARIS ESAI

Bila naluri aksara sudah mulai bekerja, otak akan memerintah. Kata demi kata diurai. Antar kalimat dicarikan jodohnya. Tentu, beberapa kalimat harus diganti diksi baru. Bahkan, ada di antaranya yang tidak bisa diselamatkan. Dengan berat hati, ia harus dibuang. Kalimat utama dengan kalimat penjelasnya dipasangkan serasi. Jadilah ia paragraf sejoli yang berjalan mesra bergandengan tangan. Dan, sesapan kopi menutupnya. Sempurna.



NGOPI di perpustakaan bukan sembarang “ritual”. Bukan sekadar memenuhi selera lidah. Bukan pula hirupan relaksasi dari aromanya yang kuat an sich. Akan tetapi, ngopi di perpustakaan adalah sumber inspirasi. Imajinasi otak dan jemari. Lebih dari itu, sesapannya bagai mantra yang menggerakkan. Seduhan hasil gilingan biji dari pohon pendek berbuah kecil-kecil yang konon ditemukan pertama kali oleh penggembala kambing di Ethiopia pada abad ke-9 itu, sanggup menjadi energi buat menjadikan esai yang bisu mampu berbicara.

Pada hitungan entah yang keberapa kali, sesapannya ampuh meredakan sakit kepala. Syaraf-syaraf dan otot di sekitar leher yang kaku seakan turut pula mengendur. Mata yang seakan sudah keruh, cerah lagi. Huruf-huruf yang tampak bertumpukan di pelupuk, seolah menata sendiri posisinya di mana dia berada. Memang, obatnya bukan tablet pereda nyeri, tapi cukup secangkir kopi panas. Jari jemari lah yang kemudian mengeksekusi. Dan, lihat hasilnya. Paragraf yang semula membuat kening berkerut-kerut, menjadi bermakna meskipun sumber masalahnya hanya soal silap membubuhkan tanda baca.

Jangan ditanya bila masalahnya bukan sekadar titik dan koma. Hampir-hampir saja, secangkir kopi gagal mengurai maksud dari susunan kalimat panjang yang melelahkan. Atau pendek, tapi membingungkan. Meskipun sudah berkali-kali dibaca, pelan-pelan, tetap saja tak mengubah kejelasan. Hurufnya sama, kalimatnya pun tidak ada yang baru, tapi efeknya seperti mantra membuat lupa. Semakin ia dibaca berulang-ulang, semakin jauh tersesat tak tahu jalan pulang.

Jika sudah begitu, masalahnya bukan pada kopi, tetapi pada paragraf dan peminum kopi yang sudah kelelahan. Kopi pun ditambah dosisnya. Disesap lagi sehirupan demi sehirupan sambil mengambil jeda. Sementara, tukar suasana dulu dari meja yang kaku. Pergi sejenak buat melempar pandangan ke luar jendela. Jika pas suasana sedang hujan, itu pertanda baik. Sebab, biasanya, memandangi tetesan air dari langit itu kadang ampuh mengembalikan mood. Suara gemuruhnya jadi terapi otak yang mulai jenuh. Sejenak menikmati suasana hujan dengan gembira, bak camilan pendamping kopi. Sabar menunggu beberapa menit, sampai naluri aksara akan bekerja lagi.

Bila naluri aksara sudah mulai bekerja, otak akan memerintah. Kata demi kata diurai. Antar kalimat dicarikan jodohnya. Tentu, beberapa kalimat harus diganti diksi baru. Bahkan, ada di antaranya yang tidak bisa diselamatkan. Dengan berat hati, ia harus dibuang. Kalimat utama dengan kalimat penjelasnya dipasangkan serasi. Jadilah ia paragraf sejoli yang berjalan mesra bergandengan tangan. Dan, sesapan kopi menutupnya. Sempurna.

Esai itu singkat, ringan, dan bebas. Sesingkat merenung, seringan menikmati kopi, dan sebebas merefleksi. Hanya saja, saat ia dituliskan menjadi wacana di atas kertas, di sinilah masalah bermula. Secangkir kopi panas tidak akan bisa menolong mewujudkannya apabila belum pernah sekalipun serius menulis karangan bebas. Memang demikian. Orang boleh berkata berkali-kali bahwa menulis itu gampang, tetapi tak segampang menyeduh kopi. Gampang dalam konteks ini berlaku bagi pembelajar, yang keras berlatih, dan membiasakan menulis. Menyeduh kopi pun bila dilakukan sembarangan, bisa jadi citarasanya rusak tak senikmat hasil racikan tangan orang yang terlatih.

Esai itu tulisan gembira seperti gembiranya perasaan saat menikmati secangkir kopi. Orang dengan esainya merdeka menganalisis dari sudut pandang pribadi. Leluasa menilai sesuatu dari kearifan reflektif yang menyeruak dari pikirannya tanpa beban. Ia bukan tulisan semacam makalah, bukan pula tulisan laiknya skripsi yang bertebaran ratusan kutipan, rujukan, teori, atau bukti literatur autentik yang berbaris-baris pada catatan kaki dengan pola mekanis. Tidak, tidak demikian. Bolehlah sekali dua kali mengutip, tapi biarkan suara hati bekerja lebih sering daripada terikat dengan kutipan yang membelenggu.

Esai itu lentur. Gaya penulisannya tidak kaku. Jadi, jangan tergoda menulis yang terlalu teoretis dengan sering mengutip data-fakta atau informasi yang tidak perlu. Jika terjebak pada kutipan tak perlu, penulisan menjadi bertele-tele dan terkesan menggurui. Tulisan jadi melebar kemana-mana. Sekali lagi, esai itu tulisan opini yang sifatnya sangat subjektif. Penulisnya bebas menulis apa pun dari sudut pandang pemikiran dan pemahamannya.

Oleh karena esai adalah hasil perenungan dalam bentuk wacana, apakah penulisnya mesti merenung dulu? Betul, dan apa susahnya merenung. Adakah orang yang tidak pernah merenung seumur hidupnya? Rasanya hampir tidak ada. Manusia itu makhluk berpikir, maka setiap orang pasti pernah merenung. Meskipun sepintas saja, tetaplah disebut merenung. Memang tidak harus lama. Sesuai kadar objek yang direnungkan saja. Harap juga dibedakan antara merenung dan menghayal.

Namun, jangan berhenti hanya merenung lalu selesai sambil manggut-manggut. Duduklah yang rileks di depan piranti menulis. Tuangkanlah segera. Ikat ia dengan kata, kalimat, dan paragraf. Lalu, susun dengan alur berpikir yang menunjukkan kejelasan, keringkasan, ketepatan, kepaduan, dan ketuntasan. Syarat-syarat itu sudah cukup membuat tulisan dipahami pembaca. Nanti kalau sudah terbiasa, tambahkan lagi efeknya bukan saja sekadar pembaca mengerti, tapi buatlah pembaca terhibur.

Kata seorang maestro ilmu menulis, tulisan yang bagus itu punya tiga daya; daya gugah, daya ubah, dan daya pikat. Entah, apakah tiga daya itu bisa “dicicil” atau merupakan paket komplit di mana ketiganya menjadi syarat sebuah tulisan dikatakan bagus. Akan tetapi, karena sasaran tulisan adalah hati, pikiran, dan emosi pembaca, memang dia harus menggugah, mengubah, dan memikat, sekecil apapun daya-daya itu memengaruhi pembaca.

Kata maestro yang sama, para penulis itu sejatinya merdeka. Paling tidak pikiran dan perasaannya. Kalau belum merdeka, pasti ia sedang terbelenggu kepentingan: beras, bensin, dan benci. Para penulis itu sejatinya pejuang. Paling tidak mereka sedang memperjuangkan kebahagiaan. Kalau tidak berbahagia, berarti mereka tengah didera kepandiran.

Membaca dan memperbaiki naskah pun, butuh kemerdekaan pikiran dan perasaan. Dia juga harus bahagia. Kalau tidak merdeka dan bahagia, bagaimana nasib naskah yang diperbaikinya nanti. Jadi, bukan saja penulis yang harus bahagia, merdeka perasaan dan pikirannya, editor pun demikian. Seorang editor yang belum merdeka dan tidak bahagia, sebaiknya merdeka dan berbahagialah dahulu, baru mengedit naskah. Kemerdekaan dan kebahagiaan itu juga kadang tidak mahal, cukup dengan secangkir kopi panas dengan uapnya yang mengepul menebar aroma unik.

Kopi, menulis, dan editor kadang seperti saudara kembar—tentu, tentu saja ini berlaku bagi penulis atau editor penyuka kopi. Ia seperti membebaskan pikiran dan perasaan dari “ketakutan” menyusun kata, kalimat, dan paragraf. Memang, salah satu kendala tak mau tergerak untuk menulis adalah ketakutan: takut jelek, takut salah, dan takut dibaca orang. Apalagi jika tulisan itu dilombakan, daftar ketakutan biasanya bertambah panjang.|



Baiklah. Jadi, saya sedang bahagia. Kemarin, dami buku kumpulan tulisan dari hasil lomba menulis di lingkup Madrasah Pembangunan saya terima dan sedang saya baca ulang. Lomba ini digagas Perpustakaan Madrasah Pembangunan pada event Pesta Literasi 2019. Pesta Literasi 2019 mengangkat tema All About MP menyambut HUT Ke-46 MP. Pada mulanya, karangan yang dilombakan tulisan berbentuk esai. Akan tetapi, tulisan yang masuk lebih dari sekadar esai. Esai plus, begitulah kira-kira.

Saya berterima kasih kepada dua tokoh yang kami mintakan kesediaannya untuk menilai naskah yang kami terima; Bapak Bambang Trimansyah, Direktur Lembaga Sertifikasi Profesi Penulis dan Editor Profesional (LSP PEP) dan Dr. Tantan Hermansah, M.Si., dosen Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Ketua Bidang Inovasi dan Pengembangan Pendidikan pada Yayasan Syarif Hidayatullah Jakarta. Kedua beliau ini, sudah tidak asing dalam dunia literasi tulis menulis. Naskah Bapak dan Ibu yang memenangi lomba ini, seratus persen rekomendasi dari nilai kedua juri yang kami terima. Tidak ada campur tangan panitia lomba, apalagi kuasa buat memindah-mindah posisi siapa yang harus juara dan siapa yang harus mengalah. Dengan alasan apa pun, oleh siapa pun, dan dengan motivasi apap pun, tidak bisa. Sayembara memang mendidik kita untuk siap menang, lebih ksatria untuk siap kalah.

Ada keterlambatan rencana terbit buku ini dari jadwal semula. Sejak Covid 19 merebak, tak pelak, rencana berubah, agenda ditunda, bahkan ada agenda Perpustakaan Madrasah Pembangunan yang dibatalkan. Urusan yang lebih mendesak harus didahulukan, terutama persiapan strategi pembelajaran di masa pandemik yang banyak menyita perhatian pada persiapan penerbitan buku ini.

Sekarang, buku ini sudah ada di tangan. Jangan lupa, nikmatilah sambil minum kopi jika Anda penyuka kopi.

Salam literasi.


Sabtu, 05 September 2020

TILIK DAN LITERASI DIGITAL HARI INI

Bila dari sudut ini TILIK ditelisik, jauh-jauh hari, hiburan televisi di rumah tangga kita sudah bertabur konten gibah gila-gilaan. 

TILIK merebut perhatian banyak kalangan. Sebuah film pendek yang diproduksi pada 2018 itu menuai berbagai penilaian. Ramai di jagat medsos, TILIK dinilai dari sudut kreativitas, kebebasan berekspresi, sampai pada penilaian dari sudut moral sebuah karya sinema. Tentu, ragam penilaian itu berangkat dari standar nilai masing-masing penilai. Pada akhirnya, pro-kontra atas TILIK menjadi pertunjukkan kedua setelah Bu Tejo.

Setelah menonton TILIK, “kolom opini” di kepala saya pun muncul begitu saja. Kesimpulan saya, hampir tidak ada yang baru yang ditawarkan TILIK. Bila dipandang sebagai kreativitas, kebebasan berekspresi, bahkan dinilai dari sudut moral pun, rasa-rasanya, TILIK bukan yang pertama dan terakhir. Ambil sudut moral misalnya, TILIK tidak bisa mengelak dinilai sebagai tontonan gibah. Bila dari sudut ini TILIK ditelisik, jauh-jauh hari, hiburan televisi di rumah tangga kita sudah bertabur konten gibah gila-gilaan.

Namun, ada hal yang perlu dicermati, yakni soal literasi digital. Entah, apakah Bu Tejo dan kawan-kawannya satu truk itu memang benar-benar disetting untuk mengungkap fakta ini atau tidak, hanya Wahyu Agung Prasetyo; sang sutradara yang tahu. Akan tetapi, disetting atau tidak sama saja, fakta kelemahan literasi digital orang Indonesia sangat mengkhawatirkan.

Beberapa poin dari TILIK yang menggambarkan lemahnya literasi digital itu sangat penting untuk dikurikulumkan sebagai mata ajar kehidupan. Bahkan, bisa jadi sudah sampai pada kondisi darurat apabila kelahiran TILIK semacam bayi kembar kelahiran “buzzer pekok” yang kerap melempar informasi salah dengan maksud diterima masyarakat sebagai suatu kebenaran.

Rasanya, memang tidak ada yang berani menyangkal bahwa penemu internet mestilah orang pintar. Begitulah argumen yang dibangun Bu Tejo buat meyakinkan ibu-ibu satu truk— “kebetulan” semuanya berkerudung, kok bisa ya?— soal Dian yang mereka gosipkan. Bu Tejo menjadikan kepintaran penemu internet untuk menguatkan tesisnya bahwa informasi dari internet pasti benar karena internet buatan orang pintar.

Ini masalah pertama. Tidak perlu diperdebatkan bahwa penemu internet adalah orang pintar, namun pengguna internet tidak semuanya pintar. Pengguna internet yang pintar pun tidak semuanya lurus. Tidak sedikit pengguna internet pintar yang bermental “buzzer pekok” tadi. Di tangan mereka, informasi kebohongan dikemas sedemikian rupa menjadi berkilau-kilau. Kalau sudah begini, korbannya adalah orang-orang seperti Bu Tejo yang menganggap apa pun informasi dari internet pasti benar karena buah dari kepintaran penemunya.

TILIK memang gurih menyajikan kesalahpahaman Bu Tejo soal internet. Soal informasi internet pasti benar dikuatkannya dengan bukti konkret semisal foto atau gambar. Ini masalah kedua. 

Di zaman teknologi audio visual sudah sedemikian maju hari ini, gambar atau foto, bahkan video tidak bisa otomatis absah sebagai bukti konkret sebuah isu. Hari ini, apa pun bisa direkayasa. Jangankan cuma gambar atau foto, video, bahkan suara bisa diedit alias direkayasa. Maka foto, video, atau suara tidak serta merta menjadi bukti valid sebuah informasi dinyatakan benar dan konkret.

Masalah ketiga soal ukuran ramainya persoalan dibincangkan di medsos. Jadi, makin ramai medsos membicarakan suatu perkara, Bu Tejo meyakininya sebagai kebenaran. Bayangkan, bila ini yang terjadi, maka orang begitu mudahnya digiring memercayai kepalsuan sebagai keaslian dan keaslian sebagai kepalsuan. Yang kaya adalah si “buzzer pekok”. Semakin ramai postingan yang dilemparnya ke medsos, di-reshare dan di-like ratusan bahkan ribuan Bu Tejo, makin kaya dia. Sementara korbannya semakin miskin literasi sambil membayar kuota internet untuk konten bohong yang mereka telan. Rasanya, buzzer bayaran sudah gentanyangan sejak beberapa tahun belakangan saat kontestasi politik membutuhkan kehadiran mereka sudah jadi rahasia umum.

Masalah keempat, soal komentar dan komentator yang dianggap sebagai saksi. Jadi, makin bayak komentar, makin banyak saksi suatu peristiwa bagi Bu Tejo. Logikanya, makin banyak saksi, makin kuat sebuah isu dianggap benar.

Di medsos, dalam batas-batas tertentu komentar bersifat bebas dan sangat terbuka. Tidak ada ukuran validitas. Semua orang bebas berkomentar. Tidak penting dia mengerti atau sama sekali tidak mengerti tentang hal yang dikomentari. Semua punya kesempatan yang sama. Lagi pula, banyak komentar bisa bersumber dari satu orang yang punya seribu akun palsu. Apalagi, akun palsu itu memang sengaja diplot buat meramaikan sebuah isu di medsos. Di sini, “buzzer pekok” adalah ahlinya.  

Masalah kelima. Nah, ini yang paling krusial. 

Didasari keyakinan bahwa sumber internet pasti benar dengan didukung foto, ramai dibincangkan, dan dikomentari banyak orang, maka sharing informasi yang belum valid tidak disadari sebagai bukan kesalahan. Begitulah yang terjadi dalam keseharian di akun-akun medsos, grup-grup What’sApp, Twitter, Youtuber, atau Instagram. Orang dengan entengnya membagikan postingan yang belum jelas validitasnya atau mengambil validitas milik orang lain lalu diaku sebagai karyanya. Ini terjadi, mungkin di luar kesadaran karena kemiskinan literasi digital, bukan karena niat yang tidak baik.

Pekerjaan rumah yang cukup berat. Kita patut “berterima kasih” kepada Bu Tejo dan TILIK yang menyadarkan lagi bahwa buta literasi digital masih diidap umumnya penikmat internet. Biarlah itu diidap orang awam. Masalahnya, apabila persepsi dalam pemeran “Bu Tejo-Bu Tejo” itu berprofesi sebagai pendidik. Ini kecelakaan sejarah.

Allahu a’lam. 
Sumber gambar: https://www.bobobox.co.id/blog/tempat-wisata-cantik-yang-bisa-kamu-kunjungi-di-lokasi-film-tilik/




Jumat, 21 Agustus 2020

PAK MOKO DAN MIMPI YANG TERTUNDA

Saya sudah tidak kuat, kayaknya ini buku terakhir saya.
Ustadz Insan LS Mokoginta telah wafat. Kepergiannya menyisakan duka. Umat Islam kehilangan lagi tokoh kristolog setelah sebelumnya Kodiran bin Saiun Atmoduryo juga berpulang pada 16 April 2020. Keduanya menyusul guru para kristolog Indonesia; KH. Abdullah Wasi’an, kristolog yang disegani para pendeta dan tokoh kristen.

Ustadz Insan LS Mokoginta—Saya memanggilnya “Pak Moko”—meninggalkan kesan khusus buat saya meski hanya dua kali bertemu dan berbincang. Pertama kali bertemu di rumah beliau di Kelapa Dua, Depok, untuk silaturahim, belajar, dan membincangkan rencana menulis buku seri "Kiai Kocak". Saya terbersit ingin mengangkat isu kristenisasi untuk seri "Kiai Kocak Ronde#5". Rasanya, saya memang harus berguru langsung kepada Pak Moko untuk mendalami topik yang akan saya kemas dengan style khas Kiai Adung. Kali kedua bertemu Pak Moko di Universitas Muhammadiyah Jakarta, Cempaka Putih, saat beliau mengisi seminar kristologi. Selebihnya saya “bergaul” dengan Pak Moko melalui membaca buku-buku atau menonton rekaman perdebatannya dalam tajuk debat Islam Vs Kristen.

Pak Moko—selain dikenal sebagai dai, pendebat ulung, dan kristolog— adalah juga pegiat literasi. Beliau penulis produktif. Puluhan judul buku telah ditulisnya, terutama buku-buku bertema kristologi dan pembelaan terhadap Islam. Selain bagai “singa” di meja debat, boleh dikata, Pak Moko adalah pendekar pena di medan literasi.

Buku Pak Moko terbaru berjudul “Pembelaan Spektakuler Muallaf Untuk Islam” setebal 535 halaman menjadi best seller. Namun rupanya, seperti yang pernah dinyatakan Pak Moko, buku ini menjadi buku terakhirnya. “Saya sudah tidak kuat, kayaknya ini buku terakhir saya,” ujar Abu Mumtaz—penulis Kata Pengantar buku itu menirukan keluhan Pak Moko karena faktor kesehatan yang menurun.

Pada 20 Desember 2016, itu kali pertama saya berjumpa Pak Moko di kediamannya. Setelah bertukar pesan kapan beliau bisa menerima saya berkunjung, malam itu saya datang diantar kawan; Uda Fajri.

Saya mengabari bahwa saya sudah di depan gerbang. Pak Moko yang membukakan, menyambut, dan menyilakan masuk. Aduh, begitu rendah hati beliau. Saat menanyakan kabar, suaranya sama persis dengan suara dalam VCD-VCD debatnya. Saya hafal betul karakter suara beliau. Berarti, saya sudah benar-benar berjumpa Pak Moko.

Pak Moko lalu membawa saya ke ruang tamu. Beliau meminta saya menunggu. Rupanya sedang ada “pasien”. Pak Moko telah siap dengan presentasi berisi ulasan tentang Injil. Wah, kebetulan. Saya minta izin bergabung. Hitung-hitung kuliah kristologi. Hampir satu setengah jam saya dan Uda Fajri menikmati kuliah kristologi Pak Moko. Saya tercengang. 

Belakangan, setelah sesi gadis itu selesai, Pak Moko mengatakan bahwa gadis itu sedang goyah imannya setelah mendapat doktrin tentang keselamatan versi Injil. Tampaknya, sebatas gembira raut wajah gadis itu saat pamit pulang, presentasi Pak Moko telah mengembalikan keyakinan gadis tersebut. Allahu a’lam, bagaimana kemudian jalan hidup gadis itu, saya tak pernah tahu.

Saat mengutarakan maksud kedatangan saya, Pak Moko sangat senang. Beliau menyilakan saya untuk datang berdiskusi kapan saja saya merasa memerlukannya. Apalagi saat saya tunjukkan empat seri buku "Kiai Kocak VS Liberal" yang kemudian saya hadiahkan untuk beliau, antusiasme Pak Moko begitu terasa dari raut wajahnya. Sebenarnya Pak Moko baru pulang dari safar. Tentu masih lelah. Namun, saat isi buku "Kiai Kocak VS Liberal" saya sampaikan secara singkat, perbincangan bersambung lagi. 

Saya harus tahu diri. Saya tidak ingin berlama-lama. Sudah saatnya Pak Moko istirahat. Sudah pukul sembilan malam. Namun, Pak Moko mengajak saya ke ruang perpustakaan pribadinya sebelum saya minta diri. Waw! Perpustakaan itu penuh dengan koleksi VCD debat dan buku-buku karyanya. Lalu, Pak Moko membalas pemberian saya dengan dua buku kristologi versi komik. Entah itu bukunya yang ke berapa, saya lupa, nanti saya periksa lagi. Jadilah kami saling berbagi cenderamata.

Sekarang, pemberi cenderamata itu telah berpulang. Pada Jum’at, 2 Muharram 1442 H, 21 Agustus 2020 kemarin, Pak Moko tutup usia. Beliau wafat pada waktu, tempat, dan gerak tubuh kematian yang paling dirindukan setiap muslim. Ya, proses Pak Moko berpulang saat shalat sunnah ba'diyah Maghribnya belum lagi selesai. Rencana buku Kiai Kocak yang pernah kami bincangkan pun belum pula saya sentuh. Waktu dan kesibukan membelokkan saya pada tanggung jawab literasi yang lebih berat sampai tak ada kesempatan lagi buat saya dan Pak Moko berbincang. Kiai Kocak Ronde#5 menjadi mimpi yang tertunda. Entah sampai kapan. Lalu, kepada siapa lagi saya harus meminta ilmu?

Selamat jalan Pak Moko. Semoga Bapak sudah menikmati indahnya taman-taman surga, pengantar surga yang sesungguhnya.

Depok, 21 Agustus 2020.

Rabu, 12 Agustus 2020

CINTA SEKADAR

Soal cinta adalah soal berterima seperti air dengan air, bukan seperti air dengan minyak. 
JARANG sekali saya membaca pesan semendasar ini. Si pengirim, sahabat saya ini memang pembelajar, bukan sekali dua kali dia mengirim pesan menanyakan sesuatu. Sering pula saya yang memulai bertukar kabar, sekadar menyapa, sahut-sahutan canda, dan membicarakan hal yang enteng-enteng. Akan tetapi, kali ini tidak. Pesan yang dikirimnya sangat menyentak.

Senja sempurna baru saja pergi, naik ke langit untuk bertukar shift. Magrib menipis. Setengah jam lagi masuk waktu isya. Teh poci---ritual sore--- di mug belum pula tandas. Tilawah paman saya dari mushalla Pak Mi'in pengantar Maghrib menuju Isya masih melantun. Pada waktu demikian itulah pesan saya terima.

Pesan itu berisi soal cinta yang menggebu. Ya, sahabat saya ini bertanya soal cinta yang dirasanya sudah sukar dia kendalikan. Dia sedang jatuh cinta untuk yang kesekian kali. Bahkan cinta kali ini lebih dahsyat dari cinta-cinta yang sebelumnya, cinta yang sukar dia lupakan jika bukan karena kesadaran mumpuni bahwa soal cinta adalah soal berterima seperti air dengan air, bukan seperti air dengan minyak. Cinta kali ini benar-benar telah memperdayakannya. Rasionalitasnya seakan redup. Dia berubah naif karena begitu takut akan ditinggalkan.

Saya tak berdaya memberinya jawaban masuk akal, sebab saya juga mengalaminya. Bisa jadi saya lebih takut ditinggalkan, lebih tidak siap bila sewaktu-waktu cinta itu direnggut dari genggaman, sementara cinta itu begitu kuat mencengkram. Bahkan saat pertanyaan itu saya terima, saya sedang terlena. Saya sendiri masih menyembunyikan rasa cinta ini dari jangkauan istri saya, saya takut dia tidak siap menerima bahwa saya telah jatuh cinta lagi.

Akan tetapi, pesan sahabat saya ini teramat penting. Tidak semestinya diabaikan. Bisa jadi, ada baiknya kami saling berterus terang bahwa kami memang sedang jatuh cinta, sedang begitu takut jika tiba-tiba ditinggalkan.

Pesan itu seperti hentakkan keras yang membangunkan lamunan. Saya tersadarkan, rasa ini tidak boleh diperturutkan menjadi liar tak terkendali, hingga jika waktunya benar-benar tiba harus berpisah, jiwa akan hancur karena ketidaksiapan.

Ya, semuanya hanya titipan. Semuanya akan kembali ke asalnya. Memang, cinta adalah fitrah, naluri yang tidak bisa dibunuh. Wajar bila suatu saat rasa takut kehilangan menghantui karena cinta yang terlalu dalam.

Manusia memang lebih siap menerima---bukan tidak siap--- daripada kehilangan, manusiawi. Sebenarnya, yang demikian itu hanya harus diseimbangkan saja. Porsinya saja yang ditakar. Jiwa harus siap menerima dan kehilangan seberapapun tinggi cinta mendekapnya.

Selain Allah, semuanya adalah "Si Fana". "Si Fana" artinya, hilang, lenyap, rusak, dan semua arti yang menunjuk pada makna kenisbian. Anak-anak kita yang amat kita sayangi melebihi diri kita itu adalah juga "Si Fana". Kapan saja dia akan meninggalkan kita. Bahkan, diri kita juga adalah "Si Fana" yang akan hilang di saat anak-anak dan istri kita merasa amat takut kita tinggalkan. Jadi, antara "Si Fana" dengan "Si Fana" akan saling meninggalkan.

Ya, benar. Ini soal rasa cinta kepada anak yang kadang tidak terkendali. Lucu, menggemaskan, pintar, pewaris ketampanan atau kecantikan, benar-benar membuat cinta menggebu-gebu. Kita sadar, kita tahu betul bahwa kehadiran mereka adalah titipan. Namun, jiwa kadang terseret seakan tidak siap bila titipan itu diambil pada saatnya nanti.

Tidak ada tips untuk mengatasi rasa takut kehilangan kecuali menyintai sekadarnya cinta. Cuma harapan, ya Allah, kumpulkan saya dengan pasangan dan anak-anak saya di surgamu kelak.

Begitulah. Tidak ada yang lain lagi.

Depok, 12 Agustus 2020

Minggu, 09 Agustus 2020

HEI KITA SUDAH TUA!

Orang-orang setua kita, hanya tinggal tersisa dua stasiun hidup, yaitu kuburan dan akhirat. Masa-masa bayi, kanak-kanak, remaja, dan dewasa sudah pergi, sudah kita habiskan, kita bagi-bagi dari jatah 49 tahun yang lalu. 
"Orang-orang setua kita, hanya tinggal tersisa dua stasiun hidup, yaitu kuburan dan akhirat. Masa-masa bayi, kanak-kanak, remaja, dan dewasa sudah pergi, sudah kita habiskan, kita bagi-bagi dari jatah 49 tahun yang lalu."
36 tahun bukan waktu yang sebentar. Pada 1979, kita masuk SD. 1985 kita lulus, berpisah, dan memilih jalan sekolah atau jalan hidup masing-masing. Hari ini, kita bersua lagi setelah sekian lama dalam kebermasing-masingan. Namun, masa sepanjang itu, rasanya berlangsung dalam sekejap saat kita bertemu. Tahu-tahu, kita sudah menua.

Tanda-tanda menua begitu tampak, tapi saya tidak ingin membicarakannya. Biarlah itu menjadi semacam kekayaan hidup masing-masing Maspupah, Nuryahati, Sa’diyah, Maryamah, Napsiah, Siti Kotijah, Dayati, Azhari, Ujang, Syamsuddin, Sukardi, Muhammad Insyaf, dan Gugut Kuntari. Hanya saja, jiwa-jiwa kita masih saja merasakan muda. Mungkin, merasa semuda usia tiga belas atau empat belas tahunan saat dulu kita baru lulus SD.

Selain yang hadir hari ini, catatan memori saya masih menyimpan nama Siwi Purbandiyah, Husnul Khotimah, Ida Farida, Mardina, Syarifah, Mujahidin, M. Yamin, Nijomuddin, Mahyudin Arif, Sutisna, Rahmat Hidayat, Ahmad Sainin, Muhammad Anwar Muttaqin, Saiful Anwar, Wawan Kurniawan, Mailudin, Januar Rahman, dan Iman Istamar. Tentu, kita merindukan mereka. Hanya saja, waktu belum mengizinkan bisa bersama-sama kita hari ini. Yang penting, semoga mereka semua sehat-sehat dan melimpah berkah.

Bila tidak keliru, ada satu lagi nama yang saya ingat; Ateh. Allahyarham, guru kita, H. Muhammad SF, memberinya tambahan nama menjadi; Siti Nur Ateh. Belakangan, Ateh memang tidak menyelesaikan masa SD-nya bersama kita.

Reuni kecil hari ini seperti kantong Doraemon di rumah Dayati. Ia membawa saya berkelana menjumpai masa kanak-kanak dalam kemasan usia yang sudah menua. Ia seperti mengembalikan kesegaran memori, harta yang paling berharga untuk merekonstruksi perjalanan hidup yang tercecer. Maka, yang pertama kali saya ingat adalah hal spesial di antara alumni yang hadir.

Memang, long term memory menyimpan hal-hal spesial. Tidak ada yang bisa membantahnya. Rasanya, begitulah hukum alam berlaku, baik memori masing-masing individu, maupun memori kolektif di mana kita semua sepakat pada satu hal yang kita pandang spesial tanpa perdebatan.

Nurhayati—kami memanggilnya Yati— adalah contoh hal spesial itu. Yati mungkin tidak menyadari bahwa dia telah berhasil membuat kita semua terperangah, terpesona saat dia berlaga di lintasan lari. Kecepatannya mengayun kaki saat pelajaran Orkes (Olahraga dan Kesehatan), membuat kita sulit melupakannya. Yati yang mungil, tapi speed-nya tak terkalahkan meskipun oleh Sa'diyah yang jangkung. Sejak itu, kecepatan Yati berlari, menjadi memori kolektif kita yang permanen. Dus, Yati identik dengan kecepatan. Hari itu, saat berjumpa lagi di usia menjelang 50, yang kita kenali adalah kecepatan larinya.

Tentu, dan maafkan teman-teman, Yati saya sebut untuk melengkapi kebahagiaan kita hari ini. Tentu, kita semua menyimpan setiap hal spesial, diakui atau tidak, dikenang atau tidak, dituliskan atau tidak, itu cuma soal prosedur saja. Yang pasti, setiap ciptaan Tuhan, menyatu dengan sifat spesialnya sendiri-sendiri.

Saya sungguh beruntung ada teman yang berperan mengumpulkan alumni. Dia yang telaten melacak nomor, menemui teman yang bisa dijangkau, dan menghimpunnya dalam group WA sampai pertemuan sudah berjalan tiga kali. Semoga semuanya bisa bergabung, bisa bersua, dan yang terpenting bisa berbagi keberkahan.

Menilik umur, rasanya sudah sampai bagi kita semua untuk berpikir bahwa kita memang sudah tua. Orang-orang setua kita, hanya tinggal tersisa dua stasiun hidup, yaitu kuburan dan akhirat. Masa-masa bayi, kanak-kanak, remaja, dan dewasa sudah pergi, sudah kita habiskan, kita bagi-bagi dari jatah 49 tahun yang lalu. Sudah ada pula anak-anak, bahkan menantu dan cucu. Memang, masing-masing kita punya cara sendiri, punya penghayatan sendiri, dan punya takaran sendiri pada hidup yang kemarin, yang sudah lewat itu. Tapi sekarang, untuk dua pengalaman lagi yang sedang kita tunggu, yaitu kuburan dan akhirat, kita semua sama, sisa umur kita hanya buat “ngumpulin” bekal hidup sesudah mati.

Lha, kok, jadi bicara mati?

Ya, karena kita hidup, maka tidak mungkin tidak bicara mati. Jangan lupa, pasangan hidup yang abadi adalah mati. Hidup sudah dan sedang kita nikmati, mati akan kita “nikmati”, entah kapan. Suka atau tidak suka, dua-duanya harus diterima sebagai anugerah sebagaimana kita menikmati masa muda dan pasangannya yaitu tua, kenyang dan lapar, terang dan gelap, manis dan pahit, sehat dan sakit, dan seterusnya. Dan, di antara kita masih diberi waktu, sudah tiga alumni yang berpulang mendahului; Jaka Mardaya, Suryati, dan Dewi Sartika.

Mari lengkapi kebahagiaan hari ini dengan mengingat juga jasa guru-guru kita. Ustadz H.M. Syamsuddin (Kepala Sekolah), Pak Mad Rauf, dan Pak H. Muhammad yang sudah tiada. Doa terbaik bagi guru-guru kita itu atas jariah ilmu, aksara, dan angka yang kita terima.

"Allah ya Rabb, ampunilah mereka, sayangilah mereka, maafkanlah segala khilaf dan kelalaian mereka. Allah ya Rabb, terimalah amal-amal baik mereka selama hidup. Sampaikanlah doa-doa dari kami dan orang-orang yang menyintai mereka."

Yang tidak terlupakan, Ibu Habibah. Ibu Habibah masih sehat, hanya sudah mengundurkan diri dari mengajar karena usia. Kapan waktu, bisa kita sambung tali kasih dengan beliau. Juga guru-guru yang lain yang pernah mengajar kita yang luput saya sebut di sini.

Sehat selalu teman-teman.

Salam.
Depok, 9 Agustus 2020..

KELAS TAKHASSUS

Tidak terlalu penting juga sih mencatat nama masjid itu di benak. Masjid, ya masjid. Cukup. Yang penting bukan "Masjid Dhirar". 

Bahagia kadang begitu sederhana. Kali ini, cukup dengan bertemu kelas kecil. Memang ada air kemasan, pisang, jeruk, semangka, dan roti bolu dihidangkan di atas meja. Juga ada bakwan, tahu, dan keripik tempe lengkap dengan sejumput cabe rawit yang menggoda lidah bergoyang. Tentu, hidangan itu untuk saya nikmati. Akan tetapi, bukan itu yang membahagiakan. Bukan.
Saya sebut kelas kecil karena pesertanya hanya belasan. Mereka santri senior MBS Kibagus Hadikusumo. Tahun ini mereka lulus. Namun, mereka belum diizinkan pulang karena diharuskan mengambil Kelas Takhassus selama satu tahun.

Kelas Takhassus ini, seperti penjelasan yang saya dapat dari Abah, dipersiapkan MBS Kibagus sebagai kelas pendalaman bahasa dan turats. Tentu, sebagai lembaga pesantren, penguasaan bahasa Arab dan kitab klasik dalam berbagai disiplin, seperti akidah, tafsir, fikih, ushul fikih, hadits dan ulumul hadits, tarikh, dan tasawuf menjadi standar calon ulama. Jadi, nanti saat santri selesai mengikuti program ini, mereka sudah matang secara keilmuan.

Mengapa harus ada Kelas Takhassus? Bukankah mereka sudah menyelesaikan masa studi? Apakah masa tiga tahun belum cukup mumpuni bagi mereka menguasai ranah keilmuan di atas?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak sesederhana seperti menyantap hidangan di meja itu. Lagi pula, memang bukan porsi saya buat mengurai jawabannya di sini. Saya cukup mencerna penjelasan Abah sebagai jawaban otoritatif. Secara pribadi, penjelasan yang saya dengar itu amat logis dan argumentatif.

Lalu, mengapa ada kebahagiaan dari kelas kecil yang sedang saya bicarakan ini?

Jawabannya, karena kelas kecil itu memang kelasnya santri-santri bahagia. Jika tidak bahagia, mana mau mereka "membuang" waktu setahun lagi di pondok? Nah, bertemu, bercengkerama, dan berbagi tips pada orang-orang bahagia itu, tidak mungkin tidak bahagia. Kalau saya tidak bahagia, berarti ada yang salah pada diri saya.

Sejak berangkat dari rumah buat bertemu kelas kecil itu, saya sudah bahagia. Sempat mampir di lesehan sederhana untuk makan siang dengan menu favorit; ikan gabus kering, sayur asem, tempe dan tahu goreng, dan ini; sambal dan lalapan. Tambah sempurna rasa bahagia itu. Allah masih memberi rezeki favorit, masa tidak bahagia?

Selesai makan siang, waktu zuhur tiba. Azan mulai berkumandang. Beruntung, baru beberapa puluh meter meninggalkan lesehan, ada masjid mungil dan cukup asri di pinggir jalan. Mampir lagi. Tiba saatnya buat bersyukur dalam irama ruku dan sujud.

Saya tidak sempat membaca papan nama masjid itu. Tidak terlalu penting juga sih mencatat nama masjid itu di benak. Masjid, ya masjid. Cukup. Yang penting bukan "Masjid Dhirar". Hanya saja, kesan positif sangat dominan atas masjid itu usai menumpang shalat dan melihat-lihat sekilas kondisinya.

Sisa-sisa gerah, efek sambal bawang belum hilang di badan meskipun di bibir sudah tuntas sejak basuhan wudhu terakhir. Sekadar bermaksud merapikan pakaian, sekali lagi saya pergi ke tempat wudhu sebelum melanjutkan perjalanan ke MBS.

Saya terkesan sekali lagi, seperti kali pertama masuk. Tempat wudhunya bersih, wangi, dan tampak terawat dengan baik. Tidak ada bau-bau kurang sedap dari kamar kecil yang menyentuh hidung. Tidak ada pula keset dari kain yang basah berwarna keruh tanda belum diganti berhari-hari. Bagi orang dengan tapak kaki sensitif, menginjak keset seperti itu sudah cukup menanam kutu air sampai tiba masanya sela-sela jari kaki memutih berjamur.

Alhasil, di tempat wudhu masjid itu, tidak ada penampakkan kesan kurang bersih di semua sudutnya. Pasti, petugas di bagian belakang ini menghayati benar pesan "an nazhafatu minal iman". Begitulah pula keadaan yang saya jumpai di kamar kecil, bukan WC, lebih mirip ruang ganti pakaian.

Dalam kegerahan, melihat air jernih dan sejuk melimpah di kamar kecil itu, saya tergoda. Mata saya mencari-cari, adakah maklumat "Dilarang Mandi". Tidak ada. Yang saya jumpai maklumat bernada simpatik, "Gunakan Air Secukupnya".

Secukupnya itu, sesuai kebutuhan. Untuk wudhu, seukuran wudhu. Untuk istinja, seukuran istinja. Sekadar buat berkumur, ya seukuran untuk berkumur. Begitu pula jika hendak mandi. Pasti seukuran air cukup untuk mandi, toh?

Artinya, boleh mandi! Siapa suruh kolamnya penuh.

Mandilah saya sekadar "Mandi koboy", tapi manjur mengusir gerah, cukup menjadikan badan segar kembali. Terus, nikmat Tuhan mana lagi yang harus didustakan?

Beberapa menit tiba di MBS, kelas dimulai. Kelas berlangsung serius. Namanya juga Kelas Takhassus, meskipun bidang yang saya share tentang kepenulisan, bukan al Arabiyyah atau qira'atul kutub.

Di sinilah kelebihannya mengelola kelas kecil. Full interaktif, fokus, dan mudah dikontrol. Tujuan pembelajaran pun sangat terukur sesuai target; terampil menyusun paragraf dan produk outline calon buku mereka.

Singkat cerita, kebahagiaan itu sampai pada ujungnya. Kelas menulis usai. Beberapa paragraf untuk berlatih berhasil direkonstruksi. Separuh draft outline rampung.

Tepat pukul lima sore saya pamit. Esok atau lusa, kelas dibuka lagi. Entah, cerita apalagi yang dituturkan melengkapi kebahagiaan berbagi. Bisa jadi, bahagianya itu akan terus hadir sampai jemari tak mampu bergerak menuliskannya lagi.

Salam literasi.

Depok, 8 Agustus 2020.