A homepage subtitle here And an awesome description here!

Rabu, 12 Maret 2025

Antara Ikhtilaf Ukhuwah dan Eksistensi

Ilustari kembang warna-warni: Sumber gambar: Hidayatullah.com

 

Sebab ikhtilaf itu sesuatu yang niscaya, maka tugas semua muslim menyikapi agar ikhtilafu ummati rahmatun, menjadikan ikhtilaf itu sebagai rahmat, bukan sebagai laknat. Sebab bukan rahasia lagi, setiap jamiyyah dan manhaj punya naluri bawaan untuk melestarikan esksistensi. 

Keniscayaan Ikhtilaf

Ikhtilaf atau perbedaan pendapat dalam perkara fiqih ibadah itu perkara biasa. Orang tertentu saja yang kadang menganggapnya sebagai perkara yang “luar biasa". Seolah-olah, orang yang berbeda dalam satu sisi ibadah dengannya sebagai pelaku bid’ah yang “tersesat” sehingga perlu diselamatkan.

Seorang pendatang jadi juru dakwah di suatu kampung. Dia serius sekali ngajak ngobrolin soal sunnah-bid’ah, soal firqah an-najiyah, ngenalin “ustaz sunnah”, ngingetin jangan berkumpul dengan ahlul bid'ah, dan banyak lagi kepada orang-orang tertentu. Hasilnya, acara Halal bi Halal yang sekian lama dikerjakan masyarakat kampung itu dan lain-lain seperti kultum di malam Ramadhan saja disebut amalan bid’ah.

Sementara, ada orang kampung itu yang pernah ngaji fikih, ushul fiqh, fiqh ikhtilaf, al-fiqh ‘ala mazahib al-arba’ah, fiqh muqaran, dan belajar berbagai pendapat para ulama zaman klasik dalam masalah fikih. Sedikit-sedikit, bisa pula orang kampung itu baca kitab kuning yang tulisan Arabnya gundul. Maka, dirasanya labeling bid’ah itu pada perasaan orang kampung itu terlalu berlebihan. Pengalamannya ngaji subjek fiqh di atas, tahulah dia, bahwa ikhtilaf itu hanya perkara biasa.

Orang kampung itu belajar juga risalah-risalahnya Sheikh Albani rahimahullah dan pandangan-pandangan kritisnya. Itu sudah lama, waktu mengambil mata kuliah Ulum al-Hadits sepanjang dua semester. Dari mata kuliah ini, orang kampung ini tahu metodologi bagaimana men-takhrij hadits meskipun tidak mahir, juga tahu bahwa suatu hadits ada yang mesti dipahami dengan pendekatan tekstual dan yang mesti dengan pemahaman kontekstual.

Oleh beberapa pembelajar hadits, Sheikh Albani dikenal tasahul (bermudah-mudah) dalam men-dhaif-kan suatu hadits. Tidak heran, Sheikh Albani sanggup menilai beberapa hadits riwayat Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dipandangnya dha’if. Ini termasuk bahasan yang sering didiskusikan di kelas dan di luar kelas si orang kampung tadi.

Jadi, Syaikh AlBani berbeda pendapat soal kesahihan dengan men-dha’if-kan beberapa riwayat yang dipandang sahih Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab Shahihain dengan argumentasi yang ilmiah. (Silakan baca: fatawa: hal dha’afa al-Sheikh al-bani ahadits fii sahih al-bukhari?” di: https://alalbani.info/alalbany_misc_0038.php)

Kasus Shalat Ashar

Jangankan manusia di zaman akhir ini, sejak masa sahabat saja, ikhtilaf sudah terjadi sedangkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam masih ada di tengah-tengah mereka. Coba buka kitab sirah, bila sabar sedikit, mesti akan menemukan kasusnya dikutip di berbagai kitab yang membahas ikhtilaf.

Misalnya soal kasus shalat Ashar di Bani Quraizhah. Dikisahkan, setelah terjadi perang Ahzab pada tahun ke-5 Hijriyah (627 M), sehari setelah kepulangan Rasulullah menuju Madinah, Rasulullah meletakkan senjatanya dan hendak mandi di rumah Ummu Salamah untuk bersiap shalat Zuhur. Saat itu, datang malaikat Jibril menemui Rasulullah dan memintanya jangan meletakkan senjata dulu.

Jibril mengatakan, bahwa ia dan para malaikat belum meletakkan senjata dan belum berhenti berperang. Jibril lalu memerintahkan Rasulullah segera berangkat ke perkampungan Bani Quraizhah, memerangi mereka untuk memberi pelajaran atas pengkhianatan salah satu klan Yahudi Madinah itu karena memihak pada musuh di perang Ahzab.

Setelah Zuhur, Rasulullah segera memerintahkan pasukan berangkat untuk memerangi Yahudi Bani Quraizhah. Rasulullah berpesan “laa yushalliyanna ahadun al-’ashra illa fii banii quraizhah”. “Janganlah (ada) satu pun yang shalat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah.” Kisah ini ada dalam riwayat Imam al-Bukhari.

Di tengah perjalanan, masuk waktu Ashar. Beberapa sahabat dari pasukan muslimin berhenti, lalu melaksanakan shalat. “Kita shalat di sini,” kata mereka.

Sementara sebagian pasukan yang lain meneruskan perjalanan dan tidak shalat sesuai instruksi Rasulullah. “Kita jangan shalat sebelum sampai di Bani Quraizhah,” kata mereka melihat sebagian dari pasukan berhenti untuk shalat (Al-Khalili, Fiqh al-Ikhtilaf Mabadiuhu wa Dhawabituhu, tt, h. 92).

Siapa yang benar di antara dua sikap kelompok sahabat di atas?

Sikap Rasulullah

Mengapa ada perbedaan sikap sahabat dalam kasus shalat Ashar padahal instruksi Rasulullah sangat jelas? Apakah Rasulullah kemudian menyalahkan salah satu dari mereka karena dianggap telah menyelisihi beliau?

Boleh jadi, mereka yang berhenti untuk shalat Ashar memahami maksud dalil dari instruksi Rasulullah di atas agar mereka bersegera supaya bisa mengejar waktu shalat Ashar di perkampungan Bani Quraizhah. Nyatanya, waktu Ashar sudah masuk sedangkan mereka masih di perjalanan dan tidak mungkin mereka shalat Ashar tepat waktu di kampung Bani Quraizhah, malah bisa-bisa waktu Ashar sudah jauh berlalu.

Adapun pasukan yang terus melanjutkan perjalanan memahami sesuai instruksi Rasulullah apa pun risikonya termasuk bila waktu Ashar sudah habis. Sebagian riwayat mengatakan, bahkan ada di antara mereka yang baru melaksanakan shalat Ashar di perkampungan Bani Quraizhah setelah Isya.

Bolehlah kita tengok penjelasan Imam an-Nawawi dalam soal perbedaan ini. Kata Imam Nawawi, “Mereka yang berhenti untuk shalat karena khawatir waktu shalat Ashar akan terlewat bila harus menunggu sampai di Quraizhah. Pemahaman mereka ini berdasarkan pertimbangan makna, bukan sekadar lafaz (literal). 'Tidak ada yang boleh shalat Zuhur atau Ashar kecuali di Bani Quraizhah' mereka pahami maksudnya yaitu agar mereka segera pergi ke sana dan tidak sibuk dengan hal lain. Jadi, bukan maksudnya dengan menunda shalat itu sendiri karena harus segera ke sana.

Sementara, sahabat yang lain memahami dengan mengikuti zahir (literal) lafaz dan maknanya, sehingga mereka menundanya dan baru shalat Ashar di Bani Quraizhah.” (Al-Imam Yahya bin Syaraf an-Nawawi, Shahih Muslim bi-Syarh an-Nawawi, 2017, h. 83).

Tampaklah dari penjelasan Imam Nawawi di sini ada dua model pemahaman sahabat atas satu teks hadits soal shalat Ashar di Bani Quraizhah itu; pertama pemahaman tekstual; dan kedua pemahaman kontekstual.

Faktanya, setelah hal itu disampaikan kepada beliau, Rasulullah tidak menyalahkan salah satu di antara mereka (Al-Khalili, Fiqh al-Ikhtilaf Mabadiuhu wa Dhawabituhu, tt, h. 93).

Kalau begitu, berarti kedua-duanya sudah sesuai sunnah, dong? Ya.

Lapang Dada

Bila perbedaan pendapat di antara para sahabat itu bisa terjadi ketika Rasulullah masih hidup, apalagi setelah beliau wafat. Peluang perbedaan pendapat tentu lebih terbuka. Jangankan perbedaan di antara para ulama mazhab yang empat, yang satu manhaj saja bisa berbeda pendapat. Coba bandingkan pendapat Ustaz Yazid bin Abdul Qadir Jawas rahimahullah (https://www.youtube.com/watch?v=PvQlIKmC9nY) dan pendapat Ustaz Khalid Basalamah (https://www.youtube.com/watch?v=9MotjnczP2Y) soal hukum memberi sedekah kepada pengemis, berbeda tajam. Terus, apa Ustaz Yazid harus dikecam sebagai telah menyelisihi sunnah sebab pendapatnya berbeda dengan zahir hadits yang dibawakan Ustaz Khalid? Ya, 'nggak juga.

Beda pendapat soal hukum memberi sedekah pengemis, antara diberi atau tidak diberi ini tidak terlalu penting, tidak masalah. Kalo pengemisnya malah ditabokin, nah, itu baru ada masalah hukum.

Beda pendapat sesama Manhaj Salaf dalam lapangan ibadah yang lebih sensitif juga terjadi. Sebagai contoh kecil, misalnya dalam shalat berjamaah, mana yang sesuai sunnah, apakah makmum memberi salam setelah salam imam pertama, atau salam yang kedua pada rakaat terakhir?

Apa kata Sheikh Albani? “Haadza laysa aslun, haadza laysa aslun fi sunnati abadan …,” "Ini tidak memiliki dasar, ini tidak memiliki dasar dalam sunnah sama sekali,” saat Sheikh Albani menjawab pertanyaan: Hal al-ma’muumu yusallimu ba’da al-taslimati al-tsaniyah li al-imam am ba’da al-taslimah al-ula?

Dengan tegas Sheikh Albani menjawab: “... jika imam memberi salam, maka berikanlah salam. Menunggu (salam kedua-pen) seperti ini hanya sah jika kita berpendapat bahwa setiap salam adalah syarat atau rukun dari rukun shalat." (https://www.al-albany.com/audios/content/6079/هل-المأموم-يسلم-بعد-التسليمة-الثانية-للإمام-أم-الأولى

Jadi, yang sunnah menurut Sheikh Albani, makmum mengucap salam setelah salam imam yang pertama.

Berbeda dengan Sheikh Utsaimin rahimahullah. Kata beliau: "Yang lebih baik bagi makmum adalah tidak memberikan salam dari shalat hingga imam selesai dari salam keduanya.”

Sheikh Utsaimin mengutip pendapat Imam al-Nawawi rahimahullah dalam al-Majmu' (3/463): "Imam al-Baghawi berkata: Disunnahkan agar tidak memulai salam hingga imam selesai dari kedua salamnya, dan ini adalah pendapat yang terang dari teks al-Syafi'i dalam al-Buwayti sebagaimana yang disampaikan oleh al-Baghawi, beliau berkata: 'Barang siapa yang berada di belakang imam, maka setelah imam selesai dari salamnya, barulah ia memberi salam ke kanan dan kiri.'"

Sheikh Utsaimin menegaskan dalam al-Syarh al-Mumti' (4/267): 'Para ulama mengatakan: Makruh bagi seorang makmum untuk memberi salam bersama imam, baik salam pertama maupun kedua. Adapun jika ia memberi salam pertama setelah salam pertama, dan salam kedua setelah salam kedua, maka tidak ada masalah dalam hal itu, tetapi yang lebih baik adalah tidak memberi salam kecuali setelah kedua salam.'" (https://islamqa.info/ar/answers/75977/متى-يشرع-الماموم-بالتسليم-عن-اليمين)

Sheikh Bin Bazz rahimahullah dengan bahasa yang lebih halus namun tegas menjawab masalah ini. Kata beliau: "Sunahnya adalah imam memberikan salam dua kali, kemudian para makmum memberikan salam setelahnya. Inilah yang sesuai dengan sunah. Namun, apa yang dilakukan oleh mereka ini adalah sah, shalat mereka sah jika mereka memberikan salam pertama setelah salam pertama, dan salam kedua setelah salam kedua; tidak ada masalah dalam hal itu, tetapi itu bertentangan dengan sunah, bertentangan dengan yang lebih utama. Bahkan, sunahnya adalah mereka menunggu hingga imam mereka memberikan kedua salam, kemudian mereka memberi salam setelahnya. Inilah yang sesuai dengan sunah, dan ini adalah yang dikenal dari perbuatan Nabi ﷺ dan para sahabat sebagaimana yang sampai kepada kita. Namun, jika mereka memberikan salam setelah salam pertama, kemudian memberikan salam setelah salam kedua, shalat mereka tetap sah dan tidak ada yang salah, karena mereka tidak mendahului imam dengan suatu apa pun." (https://binbaz.org.sa/fatwas/10356/)


Bila para masyayikh Manhaj Salaf saja perbedaan itu tidak terhindarkan, maka, umat yang baca Qur’an saja masih belepotan, tidak perlu ikut-ikutan ‘berfatwa’ segala. Lapang dada saja dengan perbedaan pendapat itu. Amalkan saja yang diyakini paling menentramkan hati. Beres.

Belajar dari Imam Malik dan al-Qadhi Abu Ya’la

Ada contoh yang elegan dari Imam Malik bin Anas (93-179 H), gurunya Muhammad bin Idris as-Syafi’i atau Imam Syafi’i (150-204 H. Imam Malik pernah melarang khalifah memaksakan penduduk untuk mengikuti satu pendapat saja, yakni pendapat Imam Malik sendiri.

Satu kali, Imam Malik bin Anas menasihati khalifah Abu Ja’far al-Mansur yang menginginkan agar kaum muslimin semuanya mengikuti Muwattha'-nya Imam Malik. "Ya Amirul Mukminin, janganlah engkau lakukan itu, karena orang-orang telah memiliki pendapat-pendapat yang telah mereka dengar, dan mereka telah meriwayatkan hadits-hadits serta mengikuti apa yang telah sampai kepada mereka. Setiap kelompok telah mengikuti apa yang mereka yakini dan amalkan dari perbedaan pendapat di kalangan para sahabat Rasulullah ﷺ dan lainnya. Sesungguhnya, memaksa mereka untuk meninggalkan apa yang mereka yakini adalah hal yang sulit. Oleh karena itu, biarkanlah orang-orang dengan apa yang mereka yakini, dan biarkanlah setiap penduduk daerah memilih apa yang mereka anggap terbaik bagi diri mereka sendiri." (As-Sulami, Syarh Gharib al-Muwattha’, 2011, h. 8)

Lain lagi kisah al-Qadhi Abu Ya’la al-Hanbali. Satu kali, "Seorang faqih datang kepadanya untuk mempelajari mazhab Ahmad. Al-Qadhi menanyakan tentang asal-usul sang faqih. Setelah mengetahui asal-usulnya, al-Qadhi bertanya: 'Orang-orang di kampungmu semuanya mengikuti mazhab Syafi'i, lalu mengapa engkau beralih ke mazhab kami?' Sang faqih menjawab: 'Saya beralih ke mazhab ini karena keinginan untuk mengikuti Anda.' Al-Qadhi kemudian berkata: 'Ini tidaklah tepat; karena jika engkau tetap mengikuti mazhab Ahmad sementara orang-orang di kampungmu mengikuti mazhab Syafi'i, engkau tidak akan menemukan seseorang yang mau mengulang bersama engkau atau belajar bersamamu. Bahkan, engkau justru akan memicu perselisihan dan perdebatan. Oleh karena itu, tetaplah mengikuti mazhab Syafi'i seperti yang diyakini oleh penduduk kampungmu, karena itu lebih baik.’” (Syihabuddin, Al-Musawwadat fi Ushul al-Fiqh, tt. h. 541-542)

Bijak Lebih Menentramkan

Pengalaman perbedaan pendapat para sahabat dalam kasus Shalat Ashar di Bani Quraizhah dan sikap Rasulullah, pelajaran dari Imam Malik, dan al-Qadhi Abu Ya’la di atas sudah cukup bagi generasi hari ini mengambil sikap. Selama masih ada dalil-dalil yang menunjukkan keragaman (ikhtilaf fi al-Tanawwu’), maka bersikaplah bijak.

Namun, harus pula memperhatikan kapasitas. Bagi orang awam, sebaiknya sekadar menyebut “ini lebih afdhal” pikirlah dulu. Lebih-lebih diucapkan panutan umat, karena boleh jadi bagi kalangan awam yang lain, ungkapan ini akan membuatnya ragu atas amalannya sendiri. Orang awam jadi bimbang, apakah tetap meneruskan amalannya sementara ada yang menyebut: “ini lebih afdhal”.

Begini, ya. Selama kedudukan “lebih afdhal” itu bukan keluar dari pernyataan Rasulullah, maka masing-masing orang akan meyakini apa yang diamalkannya itulah yang “lebih afdhal”. Hanya saja, kan tidak semua orang paham soal ini.

Dalam kasus Tarawih, maaf maaf kata, orang awam macam saya ini yang bacaan kitabnya terbatas, belum menemukan ada riwayat tegas dari Rasulullah yang menyebut jumlah rakaat Tarawih yang ini “lebih afdhal” dari yang itu, yang itu “lebih afdhal” dari yang ini.

Lha, jangankan yang sesama 11 rakaat, yang melaksanakan 23 rakaat saja mereka meyakini “lebih afdhal”. Kiai Idrus Ramli bahkan berani menyebut Tarawih 11 rakaat empat empat tiga itu "Tarawih KW", yang "ori" yang 23, dan Arrazy Hasyim menyebut Tarawih 11 rakaat itu "tidak ada dalilnya".

Tentu, pendapat ini malah lebih aneh kata yang pengamal Tarawih 11. Tapi, ya seaneh-anehnya Kiai Idrus Ramli dan Arrazy dalam masalah ini, ya orang lain mau apa? Memang masing-masing keduanya yakinnya begitu. Ini terlepas dari Kiai Idrus Ramli hanya sekadar bergurau atau serius.

Salah paham soal “lebih afdhal kurang afdhal” ini kerap mendorong sekelompok orang tafarruq (memisahkan diri) dari masjid yang selama ini mereka ikut shalat berjamaah di situ. Alasannya karena jamaah masjid itu mengamalkan Tarawih yang dinilainya tidak “lebih afdhal”. Sekali lagi, ini masalah biasa. Akan tetapi, sikap ini menimbulkan pertanyaan yang tidak terhindarkan, terutama bagi jamaah dan takmir masjid. Maka, seringkali keluar ungkapan kurang elok dari jamaah: "Mendingan bikin aja masjid sendiri.”

Sekali lagi, ungkapan seperti itu kurang elok. Masjid itu milik umat meskipun dibangun dan dikelola oleh jam’iyyah tertentu. Maka, muslim siapa saja, yang sepaham atau tidak, yang menyumbang harta untuk menopang dakwah di masjid itu atau tidak menyumbang, punya hak untuk ikut shalat berjamaah.

Maka, mari kita saling bijak dalam memilih amaliyah mana yang diyakini untuk diamalkan tanpa harus menimbulkan polemik tidak berkesudahan. Sebab, bersikap bijak lebih menentramkan semua.

Keluar Dari Polemik

Andaikata sudah terlanjur muncul ketidaknyamanan karena persoalan ikhtilaf, maka keluar dari polemik lebih penting daripada klaim-klaim sepihak yang menimbulkan satu pihak tidak nyaman. Bila diilustrasikan secara hierarkis, beribadah dengan nyaman dan tidak nyaman itu seperti ini:
  1. Beribadah di masjid dan mengelola berbagai aktivitas keagamaan di bawah satu jam’iyyah atau manhaj. Tidak ada silang pendapat dalam satu amaliyah. Sama-sama mengamalkan nash berdasar dalil-dalil yang shahih sebagai keputusan resmi jam'iyyah. Ini sangat ideal.
  2. Semua jamaah yang terdiri dari tuan rumah dan tamu tetap sama-sama beribadah dalam keragaman di masjid yang sama meskipun berbeda pengajian, berbeda paham agama (masih dalam ikhtilaf al-Tanawwu’), dan masing-masing lebih memilih mengamalkan keputusan-keputusan resmi jam’iyyah atau manhaj masing-masing yang secara nash berdasar dalil-dalil yang shahih. Namun, sebagai tamu ia lapang dada menghormati tuan rumah dengan menyesuaikan diri dengan tata cara ibadah tuan rumah. Maka, tuan rumah pun merasa lapang dada dan nyaman menerima tamu seperti ini. Di sini, baik tuan rumah maupun tamu tetap merasa nyaman karena sama-sama berlapang dada. Ini ideal.
  3. Semua jamaah yang terdiri dari tuan rumah dan tamu tetap sama-sama beribadah dalam keragaman di masjid yang sama meskipun berbeda pengajian, berbeda paham agama (masih dalam ikhtilaf al-Tanawwu’), dan masing-masing lebih memilih mengamalkan keputusan-keputusan resmi jam’iyyah atau manhaj masing-masing yang secara nash berdasar dalil-dalil yang shahih. Namun, sang tamu keukeuh dengan cara-cara ibadah yang diyakini jamiyyah atau manhaj dengan alasan lebih mendekati sunnah. Maka, tuan rumah merasa kurang nyaman dengan tamu yang seperti ini meskipun memahami ini hanya persoalan ikhtilaf al-Tanawwu’. Ini kurang ideal.
  4. Semua jamaah yang terdiri dari tuan rumah dan tamu tetap sama-sama beribadah dalam keragaman di masjid yang sama meskipun berbeda pengajian, berbeda paham agama (masih dalam ikhtilaf al-Tanawwu’), dan masing-masing lebih memilih mengamalkan keputusan-keputusan resmi jam’iyyah atau manhaj masing-masing yang secara nash berdasar dalil-dalil yang shahih. Namun, sang tamu keukeuh dengan cara-cara yang diyakini jamiyyah atau manhaj dengan alasan lebih mendekati sunnah. Tidak sampai di situ, di belakang tuan rumah, sang tamu kerap memberi penilaian-penilaian semisal hizbiyyah (kelompok) yang dipandang sebagai bid’ah, menyimpang, atau tidak sesuai sunnah. Mulai pula satu demi satu jamaah tuan rumah dipengaruhi dengan pemahaman dan cara-cara beribadah sesuai manhaj-nya. Nah, bila sudah sampai seperti ini, situasinya sudah kurang sehat dan bisa memancing reaksi tuan rumah. Tuan rumah bukan saja merasa tidak nyaman dengan tamu yang seperti ini, bahkan sudah merasa diusik. Ini tidak ideal.
  5. Karena situasi pada poin empat terus berlangsung, tuan rumah benar-benar bereaksi dengan mempersilakan sang tamu dengan cara baik-baik untuk pulang saja ke rumah masing-masing, kembali ke lingkungan jam’iyyah atau rumah manhajnya yang sepaham, dan berjamaah di masjid sendiri. Ini bukan saja tidak ideal, melainkan juga kurang bijak bila dikembalikan bahwa masjid itu milik umat.
  6. Karena situasi pada poin empat terus berlangsung, sudah kesal pula tuan rumah, akhirnya mengusir sang tamu dengan cara yang kasar supaya pulang saja ke rumah masing-masing. Tuan rumah menyuruh mereka kembali ke lingkungan jam’iyyah atau manhajnya yang sepaham,  berjamaah di masjid sendiri, dan mengancam mereka dengan emosi untuk tidak usah lagi berjamaah di masjid mereka. Ini jangan sampai terjadi. Sebab kalau ini terjadi, ini sangat tidak ideal dan tidak beradab.
  7. Karena merasa paling sunnah, sang tamu mengusir tuan rumah dan menguasai masjidnya karena dianggap akan membebaskan masjid dari segala perbuatan bid’ah bila dikelola tuan rumah. Ini su’ul adab, tidak Islami sebagai sesama muslim, dan tidak mencerminkan jiwa Pancasilais sebagai sesama anak bangsa.
Ayyuhal ikhwah! Bila jenengan adalah tuan rumah, bersikaplah bijak. Asalkan sikap itu tetap bisa menjaga keutuhan jamaah, keutuhan umat, dan ukhuwah tetap utuh, maka, sepahit apa pun sikap itu harus diambil.

Ayyuhad dhuyuuf! Jadilah tamu yang baik. Mengertilah, menjaga keutuhan jamaah, keutuhan umat, memelihara ukhuwah tetap utuh adalah juga bagian dari sunnah. Maka, bersikaplah bijak, minimal jenengan bersikap seperti pada poin dua di atas.

Apabila ada opsi dari jenengan yang melegakan semua. Tuan rumah merasa lega karena kenyamanannya kembali seperti tahun-tahun awal di mana generasi tua mereka masih hayat dan jenengan pun merasa lega karena bebas melaksanakan cara-cara beribadah sesuai manhaj sendiri tanpa harus memikirkan risiko atas sikap orang lain, ambilah opsi itu. Jadi, dua pihak sama-sama nyaman. Syukur alhamdulillah. 

Tuan rumah juga sangat mengerti, jenengan sulit masuk pada poin satu. Namun, mengertilah juga, tuan rumah tidak ingin situasi poin, tiga, empat, lima terus berlangsung. Apalagi poin enam dan tujuh akan terjadi, tidak ingin. Sekali lagi tidak ingin. Poin enam dan tujuh itu sangat mahal harganya bagi ukhuwah nasabiyah dan ukhuwah Islamiyah. Lagi pula, tuan rumah itu hanya punya kewajiban menjamu tamu selama tiga hari. Setelah tiga hari, tamu yang baik sudah maklum bagaimana ia harus membawa diri.

Semoga kita semua bisa tetap bijak di bulan yang penuh hikmah ini. Sebab ikhtilaf itu sesuatu yang niscaya, maka tugas semua muslim menyikapi agar ikhtilafu ummati rahmatun, menjadikan ikhtilaf itu sebagai rahmat, bukan sebagai laknat. Sebab bukan rahasia lagi, setiap jamiyyah dan manhaj punya naluri bawaan untuk melestarikan esksistensi. Wallahu a’lam.

Rabu, 12 Maret 2025.
Sambil menunggu Maghrib Ramadhan hari ke-12.

Jumat, 21 Februari 2025

Jiwa-jiwa yang Tenang

Gambar milik sudir_kaligrafer. https://www.instagram.com/sudir_kaligrafer/p/C3NO6MnN3vO/

Kalaupun bicara, tidak semua ia bicarakan kecuali hanya yang penting-penting saja, seperti orang yang banyak tahu, tapi sedikit omong, bukan yang tahu sedikit, tapi banyak omong.

Jum’at malam, yang saya dengar kabar ia akan berangkat ke Malang bersama suami untuk sima’an. Putri pertama mereka akan menuntaskan hafalan 30 juznya di pondok tempatnya nyantri. Masya Allah.

Akan tetapi, Allah berkehendak memanggilnya lebih dahulu. Kamis siang, 20 Februari 2025 ia berpulang, sementara mahkota yang kelak akan dipakaikan para penghafal Al-Qur'an kepada orang tuanya tengah menanti kedatangannya. Ini bikin iri para orang tua.

Perempuan yang telah melahirkan hafizhah itu berpulang membawa senyum, kalem, santun, dan pribadinya yang menyenangkan. Siapa saja yang mengenalnya, tahu betul pribadi perempuan ini.

Saya, kali pertama mengenalnya pada 2005, saat sama-sama melamar dan akhirnya diberi kesempatan mengajar di sini, di Madrasah Pembangunan (MP). Itu berlalu 19 tahun 8 bulan yang lalu. Kini, ia telah pergi meninggalkan segala kebaikan pada dirinya yang akan dikenang sebatas ingatan masing-masing orang yang mengenalnya.

Kepergiannya sangat mengejutkan. Begitulah yang terlintas di benak setiap kita manakala menerima kabar kematian sedangkan yang berpulang itu sedang baik-baik saja. Perasaan pun ingin berkata tidak, telinga berharap ia salah dengar, dan rasa cinta seakan menolak kenyataan yang sudah ditakdirkan itu.

Barangkali, begitulah gemuruh di dada suami, anak-anak, dan keluarga dekat yang ditinggalkan perempuan ini. Saya percaya, teman dan kolega-kolega di sekolah tempatnya mengajar pun merasakan hal yang sama. Hanya saja, sabar telah meredam semuanya. Ia dilepas pergi dengan hati lapang, rida atas takdir, dan iringan doa yang sambung menyambung. Rumahnya banjir pelayat, jenazahnya dishalatkan banyak orang.

Dini hari sebelum siang harinya ia berpulang, ia masih berjibaku di dapur menyiapkan makan sahur untuk suami dan putrinya. Boleh jadi, kebiasaan ini dirawatnya sejak ia berumah tangga, sejak hidup mendampingi suami yang dawam puasa sunnah Senin dan Kamis. Atau, bisa jadi juga menyambung kebiasaannya semasa masih gadis remaja. Rupanya, di malam Kamis kemarin itu, menjadi kesempatan terakhir baginya menyajikan hidangan sahur untuk sang suami. Barakallah.|

Setiap perempuan mukminah itu istimewa. Percayalah, bahkan ia sudah istimewa sejak lahir. Memang sudah fitrahnya perempuan itu istimewa. Maka, para pendaku 'pejuang' kesetaraan gender, LSM yang ‘belagu’ seolah memperjuangkan hak-hak perempuan, hakikatnya sedang ngelindur di siang bolong. Ia sedang bermimpi dengan terengah-engah seperti sedang mengangkat beratnya derajat perempuan. Padahal, Allah SWT sendiri sudah mengangkat derajat perempuan mukminah itu. Jadinya, para 'pejuang' kesetaraan gender dan LSM itu seperti sedang menggarami lautan di depan anak-anak nelayan.

Dalam Islam, siapa pun perempuan itu, apalagi seorang istri yang berbakti pada suami, sudah membuka jalan mencapai maqam tertinggi. Tengok saja hadits dari sahabat Abdurrahman bin ‘Auf yang diriwayatkan Imam Ahmad, Nabi SAW menegaskan: Iżā ṣallat al mar'atu khamsahā wa ṣāmat syahrahā wa ḥa ḥafiẓat farjahā wa aṭā`at zauzahā qīla lahā udkhulī al jannata min ayyi abwāb al jannati syi'ti.

Jika seorang wanita shalat lima waktu, berpuasa di bulan ramadhan, menjaga kehormatannya, dan mentaati suaminya, (di hari kiamat) dikatakan kepadanya, masuklah ke dalam surga dari pintu mana saja yang kamu mau.” |

Saya sedang membicarakan Ibu Nurhidayatiningsih. Di MP, ia dipanggil Bu Ida. Bu Ida mengajar matematika, mengampu ilmu yang dahulu dipopulerkan oleh Abu Ja'far Muhammad ibn Musa Al-Khwarizmi (780-850 M).

Al-Khawarizmi ilmuwan muslim era keemasan Islam, peringkat terdepan dalam jajaran matematikawan sepanjang masa. Ia menyusun karya-karya tertua mengenai aritmatika dan aljabar. Karya-karyanya itu menjadi sumber utama pengetahuan matematika selama berabad-abad di Timur dan Barat. Begitulah Al-Khawarizmi seperti ditulis Steven G. Krantz dalam bukunya An Episodic History of Mathematics Mathematical Culture Through Problem Solving mengutip Mohammad Kahn.

Ibu Ida jelas bukan Al-Khawarizmi. Matematikanya tidak melampaui ilmuan kelahiran Uzbekistan itu. Akan tetapi, Bu Ida sudah menempatkan dirinya sebagaimana fitrahnya perempuan. Boleh jadi, kelak di akhirat sosoknya berada di dalam barisan para perempuan yang kepadanya menggema seruan: “masuklah ke dalam surga dari pintu mana saja yang kamu mau”. Masya Allah. Semoga demikian.|

Bu Ida sudah tidak lagi bisa tahu, bahwa ada guru matematika yang lain seangkatannya di MP yang iri kepadanya. Kepada saya ia berkeluh kesah, “apakah jenazah saya bisa sebagus seperti jenazahnya Bu Ida yang saya saksikan setelah kematiannya?” katanya.

Deg!

Sebuah keluhan yang menggetarkan rasa. Rasa jiwa seperti ditonjok. Sebab, semua jiwa akan pulang, menyusul Bu Ida yang sudah tenang. Masalahnya, apakah jiwa-jiwa ini termasuk jiwa-jiwa pilihan yang pulang dengan tenang itu? Jiwa-jiwa yang diseru: "yâ ayyatuhan-nafsul-muthma'innah. irji‘î ilâ rabbiki râdliyatam mardliyyah. fadkhulî fî ‘ibâdî. wadkhulî jannatî."

Sedikit saya berbincang dengan guru matematika yang berkeluh kesah ini. Jadi, kami sama-sama berkeluh kesah soal bagaimana nanti kematian kami masing-masing. Ini dialog yang singkat, tapi kepikiran terus. Pertanda apa ini? Semoga ini bukan keluh kesah biasa yang profan, tapi cermin kesadaran bahwa kami ingin  sama-sama meninggalkan dunia dengan legacy kebaikan yang transenden.

Karena sesama perempuan dan guru matematika pula, ia lebih banyak tahu siapa Bu Ida ketimbang saya. Saya hanya mendengarkan saja. Namun, apa yang dikatakannya bertemu sepakat di hati saya. Katanya, Ibu Ida perempuan yang tidak banyak bicara. Kalaupun bicara, tidak semua ia bicarakan kecuali hanya yang penting-penting saja, seperti orang yang banyak tahu, tapi sedikit omong, bukan yang tahu sedikit, tapi banyak omong.

Dalam hati, saya hanya bergumam. Siapa pun orang dengan kepribadian seperti ini, cenderung selamat dan menyelamatkan dirinya dan orang lain.

Lain waktu, dari orang berbeda, saya mendengar cerita tentang kepribadian Bu Ida. Mendengar cerita itu, saya berkesimpulan Bu Ida orang dengan otak dan hati selaras. Bila mendengar berita sumbang tentang seseorang yang ia tahu sifat-sifatnya, Bu Ida tidak mudah percaya. Nalarnya bekerja mengaitkan informasi itu dan mencocokkannya dengan pengalaman empirik, lalu mengambil kesimpulan.

Bisa jadi, memang begitu umumnya karakter guru matematika dengan critical thinking-nya yang kuat. Orang dengan spesifikasi soft skill demikian nalarnya mendahului prasangka. Otaknya bekerja dahulu, baru mengambil kesimpulan, bukan kesimpulan dulu, baru menyusun argumen belakangan.|

Selamat jalan Bu Ida. Semoga engkau rida kembali kepada penciptamu, dan Allah rida menerimamu. Do’a terbaik dari kami para sahabat yang menunggu waktu menyusul.

Depok, usai Maghrib 21 Februari 2025.
Dari teman yang bertemu kali pertama meniti karier di Madrasah Pembangunan.

Senin, 17 Februari 2025

Ngaji di Majelis Mas Izzul Muslimin



Buku untuk Mas Izzul Muslimin. Foto milik PRM Ranting Rawadenok

Bila Paus Fransiskus dalam khotbahnya saat peringatan Hari Lingkungan Hidup sedunia tahun 2023 menyebut membuang makanan sama saja dengan mencuri makanan orang miskin, Al-Qur’an QS. 17 :27 lebih menusuk dengan menyebut “Innal-mubażżirīna kānū ikhwānasy-syayāṭīn,” bahwa "Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudaranya setan …

Saya termasuk kader "kendang", alias kenal sekandang doang. Ketemunya kebanyakan cuman sesama pengurus Ranting Muhammadiyah Pulo, jauhkan dikit dengan pengurus Cabang. Lebih jauhan dikit dengan pengurus PDM, dengan Pak Ali dan selinting temen-temen di MPI Daerah bareng Mas Raihan, Mas Soleh, dan lain-lain. Udah. Jadi, main di persyarikatannya kurang jauh.

Maka, saat Pimpinan Ranting Muhammadiyah Rawadenok menggelar Pengajian Qabla Ramadhan menghadirkan Mas Izzul Muslimin pada Ahad 16 Februari kemarin, meskipun tidak diundang secara khusus, hadirlah saya dengan semringah. Secara mana, nama Izzul Muslimin sudah lama saya dengar. Sekarang, saatnya ketemu dan salaman.

Dapat bocoran dari internet. Loh, bulan dan tahun kelahiran saya dan Mas Izzul ternyata semasa. Ah, rupanya saya seumuran dengan Mas Izzul. Mas Izzul lebih tua sikit, tapi hanya sekitar 168 jam saja lebih tuanya dari saya. Namun begitu, Mas Izzul sudah kemana-mana, saya belum juga kemana-mana. Itulah takdir saya dan Mas Izzul meski sama-sama anak Muhammadiyah dan sama-sama lahir pada bulan April.

Sebelum Mas Izzul bicara, Pak Ali, Ketua PDM memantik semangat. Pak Ali memang biasa jadi “tukang bakar”. Tak bosan dia membakar semangat bermuhammadiyah warga Persyarikatan. “Ranting itu penting! Cabang harus berkembang! Masjid, makmur memakmurkan….!” dan seterusnya.

Memang harus begitu, semangat bermuhammadiyah harus dibakar terus. Jangan sampai semangat bermuhammadiyah jadi redup, apalagi padam seperti lampu colen kehabisan minyak. Tabligh, pengajian umum, penguatan ideologi, dan sosialisasi Putusan Tarjih menjadi bahan bakar agar nyala Muhammadiyah tetap terang.

Saya menikmati betul uraian Mas Izzul. Beberapa poin penjelasannya pas banget dengan realita. Misalnya, bahwa puasa itu harus bisa menjadi bulan menahan diri. Uniknya, justru banyak orang yang gagal mengendalikan diri di bulan ini.

Contoh sederhana dalam urusan belanja dan pola makan. Secara matematis, pola makan sehari tiga kali akan berkurang karena ditahan. Saat puasa, pola makan hanya sekali di waktu berbuka dan sekali di waktu sahur. Seharusnya, biaya belanja untuk kebutuhan makan itu menyusut satu porsi tiap individu.

Tapi, mengapa budget belanja malah kadang jauh lebih besar kebutuhannya di saat Ramadhan? Tampaknya, budget satu porsi makan itu diduga pindah untuk budget rupa-rupa menu takjil—kolak, bubur sum-sum, rujak timun suri, gorengan, lontong, atau es buah dan lain-lain menu. Nah, urusan belanja takjil, tidak sedikit dari orang yang puasa tak tahan menjadi kalap menyiapkan beragam takjil.

Rasanya, berlatih menahan diri dari makan dan minum baru sekadar memindahkan waktunya dari siang ke waktu malam, sedangkan volumenya tidak berkurang. Jadi, belum pada tahap menahan diri secara ikhlas dari memanjakan perut di waktu siang dengan berbagai ragam makanan.

Ada fakta ironi yang disampaikan Mas Izzul. Orang Indonesia itu punya kebiasan buruk menyisakan hampir sepertiga makanan dari piring mereka tiap kali makan bila dirata-ratakan. Sepertiga makanan itu terbuang menjadi sampah dan mubazir. Ini menunjukkan moralitas pangan dan tanggung jawab terhadap makanan masih rendah. Boleh jadi, kita menjadi tidak tercengang oleh data yang dirilis Bapanas dari tahun 2000 hingga 2019, di mana jumlah sampah makanan mencapai 23 sampai 48 juta ton di Indonesia. Jadi, kalau dirata-rata per kepala, membuang makanan antara 115 hingga 184 kilogram per kapita per tahun.

Bila Paus Fransiskus dalam khotbahnya saat peringatan Hari Lingkungan Hidup sedunia tahun 2023 menyebut membuang makanan sama saja dengan mencuri makanan orang miskin, Al-Qur’an QS. 17 :27 lebih menusuk dengan menyebut “Innal-mubażżirīna kānū ikhwānasy-syayāṭīn,” bahwa "Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudaranya setan …”.

Ramadhan memberi ruang untuk melakukan tiga hal berpahala dalam konteks makanan; hindari tabzir, belanja proporsional, dan sedekahkan makanan—apalagi makanan berlebih. Bila menurut Nabi SAW bersedekah dengan sebutir kurma saja bisa menjauhkan pelakunya dari api neraka, apatah lagi sedekah seporsi untuk berbuka puasa.

Berbagi pangan memang sangat kontekstual untuk memaknai Ramadhan sebagai bulan solidaritas. Hanya saja, terkadang terlalu aktraktif bila diterjemahkan dalam bentuk “berbagi takjil” di jalan raya yang akurasi tepat sasaran pada orang yang berpuasa lebih sukar diukur.

Puasa itu ibadah rahasia. Bila di masjid saja sukar untuk mendeteksi mana-orang yang benar-benar puasa dan membutuhkan menyegerakan berbuka dan mana yang tidak, apalagi di jalan raya? Tentu, ini berbeda bila kemasan programnya “Sedekah Jajanan Sore” tanpa embel-embel takjil. “Sedekah Jajanan Sore” tidak menanggung beban moral. Tidak pula ada sekat-sekat ideologis karena sifatnya universal. Maka, yang puasa atau tidak, muslim atau nonis, semua orang bisa menikmati dengan semringah.😉

Ada satu poin Mas Izzul yang membuat jamaah tertegun. Saya juga tertegun. Kita kadang luput soal sosok Kiai Dahlan di akhir hayat beliau pada momen Februari. Bukan untuk mengkultuskan Kiai Dahlan, bukan. Soal kultus-kultusan sudah selesai di Muhammadiyah. Ini hanya soal merawat ingatan pada kebaikan, pada legacy pendiri Muhammadiyah.

Pada 15 Februari 1923, Kiai Dahlan meresmikan klinik kesehatan Muhammadiyah yang sekarang menjadi rumah sakit PKU Muhammadiyah. Sebulan sebelumnya, Kiai Dahlan meresmikan Rumah Singgah untuk orang miskin. Dan, 23 Februari 1923 Kiai Dahlan wafat. Jadi, ada dua hal besar yang ditinggalkan Kiai Dahlan pada garis akhir hayat beliau. Artinya, menjelang kewafatannya saja, Kiai Dahlan masih menyisakan solidaritas untuk kemanusiaan sebagai ekspresi penghayatan beliau pada Islam yang rahmatan lil alamin.

Sungguh beruntung Kiai Dahlan yang telah menerjemahkan QS. 3. 104: “Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung” dalam wajah Persyarikatan Muhammadiyah dengan ribuan amal usaha yang dinikmati manfaatnya oleh umat bangsa sampai hari ini.

Sungguh singkat usia Kiai Dahlan yang hanya terhitung 55 tahun saja—1868-1923. Akan tetapi, legacy Kiai Dahlan sudah dirasakan kehadirannya sepanjang 113 tahun dalam hitungan Miladiyah.

Allah ya Rabb, Engkaulah sebaik-baik pemberi balasan. Hanya kepada Engkaulah kami mohonkan balasan terbaik untuk Kiai Dahlan.

Makasih Mas Izzul. Moga pula berkenan membaca “Matahari Terbit di Kampung Kami” dan “Sutrisno Muslimin”.

Ciputat, 17 Februari 2025.
Menjelang pulang dari mencari sesuap nasi.

Sabtu, 01 Februari 2025

Kesiangan



Jadi, begini ya. Foto milik Kamila Insan Cita.

Memang, akan datang masanya shalat menjadi tersisih, benar-benar sepi dari kehidupan seseorang. Apa sebabnya? Karena Subuh kesiangan, Zuhur kerepotan, Ashar di perjalanan, Maghrib kecapekan, dan Isya ketiduran.

RAJAB sudah 2 hari berlalu. Hari ini hari kedua di bulan Sya’ban. 28 hari ke depan sudah masuk Ramadhan. Subhanallah, cepat sekali rasanya waktu berputar.

Menutup Rajab di awal Sya’ban, Yayasan Kamila Insan Cita ngajakin sharing, mengulas makna Isra’ Mi’raj. Tema yang disodorkan berat sebenarnya,“Perbaiki Shalatmu, Allah Akan Perbaiki Hidupmu“. Rasanya gimana gitu. Namun, oleh keramahan dan serius keluarga besar Kamila menyimak materi sharing, sekat psikologis “ngeri” yang saya bawa dari rumah lepas begitu saja. Sepanjang materi sharing, karakter good listener audiens tampak kasat mata. Kelas terdidik memang beda saat hadir di forum stadium general seperti pengajian umum seperti ini.

Rajab itu identik dengan Isra’ Mi’raj, peristiwa agung, di mana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menerima perintah shalat lima waktu yang dibawa dari sidratul muntaha. Meskipun terjadi ikhtilaf di kalangan ulama kapan persis terjadi peristiwa ini, mayoritas ulama mengira, peristiwa agung ini berlangsung pada 27 Rajab, seperti pendapat yang dikemukakan Al-Allamah Al-Manshur Fauri.

Ada kalangan yang menyatakan, Isra Mi'raj berlangsung pada tahun pertama, kelima, dan kesepuluh kenabian. Pendapat pada tahun pertama kenabian dikemukakan oleh Imam Ath-Thabari, pendapat pada tahun kelima dikemukakan Imam An-Nawawi dan Imam Al-Qurthubi, dan pendapat pada tahun kesepuluh dikemukakan oleh Al-Allamah Al-Manshur Fauri.

Ibnu Saad dalam "Thabaqat Al-Kubra" tampaknya cenderung kepada pendapat bahwa Isra’ Mi’raj itu terjadi 18 bulan sebelum hijrah Nabi shallallahu alaihi wa sallam ke Madinah. Pendapat lebih logis berdasar analisis yang disepakati ulama bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj berlangsung setelah Ibunda Khadijah radhiyallahu ‘anha yang wafat pada tahun kesepuluh kenabian dan sebelum shalat lima waktu disyariatkan.

Memang, agak sulit memastikan persis kapan terjadinya Isra dan Mi’raj sebagaimana yang dikemukakan Al-Mubarakfuri di dalam sirahnya “Ar-Rahiq Al-Makhtum”. Al-Mubarakfuri hanya menyatakan cenderung kepada pendapat yang terakhir, yaitu Isra Mi’raj itu terjadi hanya terpaut setahun saja sebelum hijrah Nabi SAW ke Madinah.|

Isra dan Mi’raj sudah berlalu hampir 15 abad silam. Memikirkan kapan persis terjadinya, bukan perkara mendasar untuk diselisik sampai berpeluh-peluh. Cukuplah mengikuti sikap sahabat mulia Abu Bakar radhiyallahu anhu dalam riwayat Imam al-Hakim saat menjawab pertanyaan dari musyrikin Makkah yang bermaksud mengejek saat itu. "Apakah engkau membenarkannya bahwasanya dia pergi malam tadi ke Baitul Maqdis dan sudah pulang sebelum subuh?" Abu Bakar menjawab: "Ya, sungguh aku membenarkannya (bahkan) yang lebih jauh dari itu. Aku membenarkannya terhadap berita langit (yang datang) di waktu pagi maupun sore." Selesai, habis perkara.

Sikap Abu Bakar yang membenarkan peristiwa Isra dan Mi'raj dengan pendekatan imani inilah yang patut diteladani. Sebab, sikap beliau ini pula, Abu Bakar digelari sebagai “as-Siddiq”. Maka, tidak penting mempersoalkan kapan waktunya Isra Mi’raj di tengah ikhtilaf yang tidak berkesudahan itu, tapi lebih penting memperhatikan pesan tentang shalat: “ḫâfidhû ‘alash-shalawâti wash-shalâtil-wusthâ wa qûmû lillâhi qânitîn”. Peliharalah semua salat (fardu) dan salat Wusṭā. Berdirilah karena Allah (dalam salat) dengan khusyuk. Demikian bunyi pesan QS. Al-Baqarah [2] : 238. Jadi, pesan mendasar dari peristiwa agung ini adalah menjaga mati-matian shalat lima waktu, bukan pada polemik yang tidak berujung sampai "mati".

Jangan juga begitu bersemangat memperingati Isra dan Mi’raj, mendirikan shalatnya awang-awangan. Rajin shalatnya saat kepepet, saat jatuh susah karena merasa butuh Allah. Atau, shalatnya kenceng saat duit di dompet sedang penuh sesak, saat merasa Allah begitu sayang. Jadi, shalat ditegakkan seingatnya, seingat susah atau seingat senang. Selebihnya lebih banyak tidak ingatnya. Dalam “bahasa Arab” ajam, shalat seperti ini disebut dengan istilah “blentang-blentong”.|


Bersama Ketua Yayasan Kamila Insan Cita, Drs. Achmad Djubaedi, M.BA. dan Kepala-kepala Sekolah di lingkungan Yayasan. Foto milik Kamila Insan Cita.

Dari sisi duniawi, shalat berefek positif pada kejiwaan. Maka, semakin kompleks kehidupan, semakin orang membutuhkan shalat. Perbaikan kejiwaan misalnya, shalat berefek memperkecil ketergantungan jiwa pada materialisme. Selain itu, jiwa manusia yang tidak terhubung dengan Allah akan merasakan kesepian dan kehampaan. Kehampaan sering mendorong jiwa putus asa, gelisah, dan semakin menjauh dari Allah. Namun, dengan shalat yang menghilangkan kesepian, ketakutan, kesedihan, dan kehampaan jiwa, hidup menjadi sehat (tahsin al-nafsiyyah).

Efek tahsin al-Nafsiyah menjadikan jiwa optimis. Jiwa optimis mempermudah urusan sebagai prasyarat mendapatkan kenyamanan, rahmat, dan peluang meraih rezeki. “Dan sungguh Kami mengetahui bahwa dadamu sempit karena apa yang mereka katakan, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah di antara orang-orang yang bersujud)". [Al-Hijr: 97-98]. Demikian jaminan Allah kepada Nabi shallallaahu alaihi wa sallam, kepada umatnya yang beriman dan giat bersujud.|

Bersama civitas akademika Sekolah Islam Kamila Insan Cita. Foto milik Kamila Insan Cita.

Akan datang masanya, shalat akan ditinggalkan, dilalaikan dari kehidupan umat. QS. Al-Maun [107]: 3-4 sudah mengabarkan hal itu 15 abad yang lalu. Bersyukurlah, di sini shalat masih ditegakkan. Masjid dan musala di kampung masih ramai setiap Maghrib dan Isya, agak sepi di kala Subuh, dan sedikit lengang pada Zuhur dan Asar.

Bayangkan bila Anda tinggal di suatu kota yang damai selama bertahun-tahun, namun tidak ada seorang muslim pun di sana. Tidak ada masjid, tidak terdengar suara azan dan iqamah dikumandangkan, dan tidak ada suara orang takbiratul ihram yang ditutup salam. Jiwa Anda yang taat tetap mengumandangkan azan dan iqamah dengan lirih. Anda tetap berdiri, takbiratul ihram, dan mengucap salam ke kanan dan ke kiri di rumah yang sepi, menyendiri saja. Tiba-tiba, ada sekelompok orang dari luar datang berkunjung, lalu nekat mengumandangkan Azan di tengah kota saat tiba waktu shalat. Banyak orang tercengang bertanya-tanya, kalimat apa itu. Apa yang Anda rasakan? Pasti ada sesuatu yang memberontak dari jiwa Anda sebab rindu yang terpuaskan.

Bayangkanlah sebaliknya. Dahulu kota tempat tinggal Anda yang damai itu ramai dengan kumandang azan dan iqamah. Berduyun-duyun saban waktu shalat orang berangkat ke masjid-masjid mengenakan sarung, koko, dan kopiah. Perempuan-perempuannya menjadi gelombang putih oleh balutan mukena penutup tubuh. Tiba-tiba semuanya lenyap, azan dan iqamah menghilang, masjid-masjid menjadi sepi dan lengang. Yang tersisa hanya kenangan oleh masjid yang sudah berubah jadi bangunan tua, menjadi rumah hantu, dan tempat singgah kelelawar. Pastilah jiwa Anda akan sedih merasa kehilangan yang sangat.

Jangan cemas. Entah kapan keadaan itu terjadi, sunnatullah akan berlaku. Kata Nabi shallallaahu alaihi wa sallam, “Ikatan-ikatan Islam akan terburai satu per satu, setiap kali satu ikatan terburai orang-orang bergantungan pada ikatan selanjutnya. Yang pertama kali terburai adalah al-hukm (kekuasaan/pemerintahan) dan yang terakhir adalah shalat.” Demikian hadits riwayat Imam Al-Hakim.

Maafkan saya, dan jangan tersinggung. Memang, akan datang masanya shalat menjadi tersisih, benar-benar sepi dari kehidupan seseorang. Sebagai tiangnya agama ia sudah runtuh. Apa sebabnya? Karena Subuh kesiangan, Zuhur kerepotan, Ashar di perjalanan, Maghrib kecapekan, dan Isya ketiduran. Jadilah sepanjang hayat tidak pernah menginjakan lantai masjid. Sekalinya masuk ke masjid bukan untuk shalat, melainkan untuk dishalatkan. Lalu, jiwa menyesal tanpa kesudahan.

Jadi, memang akan datang masa di mana orang tidak lagi memedulikan shalat. Ia akan jadi barang asing, seperti asingnya kain penutup aurat bagi sebagian kecil muslimah yang suka membuka auratnya untuk dilihat kepada sembarang orang di zaman ini. Paha ayam saja masih dibandrol meskipun hanya 5000 perak sepotong. Tapi, banyak paha perempuan muslimah sengaja dipamerkan di mana saja Anda sudi mau melihat sampai mata Ande pedes. Anda membayar untuk “menikmati” pahanya perempuan itu? Tidak. Gratis!

Begitulah. Rasanya, tema “Perbaiki Shalatmu, Allah Akan Perbaiki Hidupmu“ selalu relevan dibincangkan setiap bulan Rajab meskipun ia sudah berlalu. Dan, membincangkan Isra’ Mi'raj di awal Sya’ban pada Sabtu pagi ini amat berkesan. Semoga, forum ini menjadi berkah untuk seluruh civitas akademika Sekolah Islam Kamila Insan Cita. Berkah karena merawat tiangnya agama tetap tegak, menjadikan shalat sebagai substansi yang mewarnai proses pembelajaran di kelas-kelas mereka semarak sepanjang waktu. Semoga.

Depok, menjelang Maghrib, 01 Februari 2025.

Minggu, 29 Desember 2024

Ngaji “Sepilis” di Cimanggis Tapos





Pluralisme Agama. Ilustrasi milik: https://annursungaiduri.id/pluralisme-agama-sejarah-dan-konsep-2/

Kelas menjadi hening. Untuk beberapa saat saya juga tercengang. Ketercengangan saya baru buyar saat mendengar pintu dibanting seorang mahasiswa yang meninggalkan kelas sambil berteriak: “Dosen kafir!

Topik Berat

Pagi ini, Ahad, 29 Desember 2024 membawakan topik: "Membentengi Akidah dari Paham Sepilis (Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme)”. Dua minggu sebelumnya, seorang anggota PCA menghubungi, menawarkan, dan meminta saya membawakan topik ini pada Pengajian Cabang Aisyiyah dan Muhammadiyah Cimanggis-Tapos.

Tentu, agak terkejut juga diminta ngomongin topik “Sepilis” ini. Ini topik berat, njlimet, dan agak-agak sensitif di sebagian kecil kalangan Muhammadiyah—boleh jadi, karena dalam skala nasional ada beberapa sosok penting dari Muhammadiyah yang sangat dihormati ditengarai menjadi penumpang dari gerbong pengusung paham ini.

Sepengetahuan saya, “Sepilis” bukan pula topik populer pada pengajian-pengajian Muhammadiyah di sini. Umumnya, pengajian di lingkungan Muhammadiyah Depok lebih banyak membahas penguatan ideologi Muhammadiyah—merujuk pada MKCH, HPT, PHIWM, Tafsir At Tanwir—atau tema-tema kajian lepas yang dihubungan dengan nilai-nilai keislaman dan kemuhammadiyahan. Maka, saat diharap bisa membahas topik ini, agak bergidik juga untuk menyanggupi.

Dosen dari Mc. Gill

Saya mengenal model pemikiran “Sepilis” dari dua kutub yang berseberangan. Pertama, saat menjadi mahasiswa UIN Jakarta di mana kesempatan sangat terbuka bagi saya bergaul dengan pemikiran ini melalui beberapa kegiatan, dialog, stadium general, buku, jurnal, dan menyerap materi kuliah di kelas. Tentu, pengalaman yang terakhir menjadi pengalaman yang paling membekas, bahkan menyadarkan saya pada kekeliruan paham ini di belakang hari.

Adalah seorang dosen muda yang baru lulus dari McGill University mengisi kelas Sejarah Aliran Modern Dalam Islam. Menikmati mata kuliah ini menjadi puncak kekaguman saya pada pemikiran berbasis sekularisme, pluralisme, dan liberalisme saat itu. Bukan saja karena dosennya yang handsome, muda, dan cerdas, melainkan juga kepiawaiannya menjelaskan topik kuliah dengan sangat menarik, logis, dan menantang.

Asli, mata kuliah ini dan dosennya keren. Saya seperti anak kecil yang kegirangan karena dibelikan mainan baru tiap kali menyimak sajian tentang jilbab sebagai budaya Arab belaka, soal natal dan dibolehkannya mengucapkan selamat natal, kebebasan beragama termasuk kebebasan untuk tidak beragama, HAM, gender equality, rekonstruksi tafsir klasik dengan pendekatan hermeneutika, tema-tema Islam progresif, dan kebebasan berpikir. “Inilah yang saya cari”, begitu kata hati saat itu. Akan tetapi, dari mulut dosen lulusan McGill University ini pula saya mulai mencurigai ada yang tidak beres pada pemikiran “Sepilis” ini.

Malaikat dan Mukjizat

Satu kali—saya lupa entah itu pertemuan kuliah yang ke berapa—dosen ini membuka wacana diskusi soal-soal keimanan. “Anda percaya Malaikat?” begitu dosen ini bertanya memulai diskusi. Jawaban dan argumentasi normatif dari mahasiswa bersusulan bahwa malaikat itu ada dan merupakan salah satu pilar dari rukun iman. Tentu, saya termasuk yang menjawab dengan jawaban normatif itu dan menegaskan percaya malaikat merupakan perkara pokok keimanan.

Dan, alangkah saya terkejut saat dosen ini merespons, “Tidak ada itu malaikat. Malaikat itu mitos belaka. Mana ada malaikat peniup sangkakala. Emangnya Kenny G!” ujar dosen ini dengan sangat meyakinkan.

Kelas menjadi hening. Untuk beberapa saat saya juga tercengang. Ketercengangan saya baru buyar saat mendengar pintu dibanting seorang mahasiswa yang meninggalkan kelas sambil berteriak: “Dosen kafir!”

Kecurigaan saya semakin kuat saat diskusi seputar keharusan merasionalkan dogma yang disebut dosen ini sebagai ajaran yang mematikan nalar. Katanya, Islam adalah agama rasional, ajarannya masuk akal. Katanya lagi, umat Islam sudah terlalu lama terjebak pada dogma berupa mitos-mitos yang terus dihidupkan dan menggiring umat Islam lebih percaya pada hal-hal ajaib yang tidak jelas. Percaya dan meyakini kebenaran pada mitos-mitos inilah yang bikin umat Islam tidak maju-maju. Maka, segala hal dari ajaran Islam yang tidak rasional—termasuk perkara mukjizat yang memang di luar nalar—harus ditafsir ulang sebagaimana Barat menafsir ulang dogma Kristen. Tafsir ulang atas dogma Kristen inilah yang kemudian mendorong kemajuan dan peradaban mereka.

Disajikanlah contoh kisah Nabi Ibrahim as. yang meminta penegasan bagaimana Allah kuasa menghidupkan dan mematikan—kisah ini dimuat dalam surat Al-Baqarah [2]: 260. Allah kemudian mempertanyakan sikap Ibrahim as. ini apakah belum yakin bahwa Allah Maha menghidupkan dan mematikan. "Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)," ujar Ibrahim.

"Kalau demikian tujuanmu, ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. Letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera," firman Allah menjawab permintaan Ibrahim as.

Nabi Ibrahim as. pun segera melaksanakan titah itu. Beliau mencincang-cincang empat ekor burung dan menempatkannya di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian dagingnya. Saat Ibrahim as. memanggil bagian-bagian daging cacahan itu, ia datang merespons panggilan Ibrahim as. dalam bentuk sempurna burung sebab Allah telah menghidupkannya kembali seperti semula.

“Pemahaman yang benar atas ayat itu bukan “cincanglah” burung itu, tapi “latihlah” burung itu agar jinak. Nanti, setelah burung itu dilatih dan jinak, kapan saja dia dipanggil burung itu akan datang menghampiri.” Begitu sang dosen berkesimpulan menguatkan tafsir hermeneutika-nya.

Exactly right! Begitu juga kata hati saya. Itu rasional dan logis. Akan tetapi, bukan itu poin tafsirannya. Poinnya adalah soal kuasa menghidupkan dan mematikan, bukan perkara menjinakkan dan memanfaatkan kejinakan burung itu menurut saat ia dipanggil.

Maka, kemerdekaan berpikir saya pun berkata, “Kalau cuma sekadar melatih burung supaya jinak dan bisa dipanggil pulang, jangan kata Allah, anak kampung yang tidak sekolah juga bisa melakukannya.” Sedangkan bagi Allah, menghidupkan dan mematikan bukan perkara yang tidak masuk akal, bahkan ia sangat mudah dan sangat rasional namun begitu ajaib dan menakjubkan bagi manusia. Bertambahlah keyakinan dan iman manusia atas kuasa Allah yang Mahamenghidupkan dan mematikan dari kasus ini.

Dosen ini berpindah pada mukjizat Mabi Musa as. Menurutnya, Nabi Musa as. dan pengikutnya bukan menyeberangi Laut Merah saat dikejar-kejar Fir'aun dan bala tentaranya, melainkan sedang berlari dengan melintasi rawa-rawa kering. Pada bagian-bagian dari rawa yang kering itulah Musa as. dan pengikutnya melompat dari satu gundukan ke gundukan yang lain di dasar rawa dan selamat sampai ke tepian. 

Ajib! 

Sayangnya, dosen ini tidak menjelaskan bagaimana nasib Fir'aun sesudah itu. Sungguh, ini pemaknaan baru atas mukjizat yang dipaksa harus masuk akal. Namun, hasilnya malah tidak rasional. Kesimpulan saya, pemikiran liberal sedang mendegradasi autentisitas mukjizat yang dikisahkan Al-Qur'an dan berusaha membuangnya dari keyakinan umat Islam.  

Bersikap Adil dan Kritis Pada “Sepilis”

Pengalaman bergumul dengan pemikiran “Sepilis” yang kedua saya dapati saat rutin mengikuti kajian di INSISTS (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations) di Kalibata. Bertemulah saya dengan pemikiran beberapa akademisi yang kritis pada “Sepilis” semisal Hamid Fahmi Zarkasyi, Adian Husaini, Adnin Armas, Anis Malik Thoha, Syamsuddin Arif, Nirwan Syafrin, Henri Salahuddin, juga Dinar Dewi Kania dan beberapa cendekiawan muda yang lain termasuk Fahmi Salim. Umumnya, mereka adalah akademisi murid-murid langsung Syed Muhammad Naquib al-Attas di ISTAC (International Institute of Islamic Thought and Civilization) Kuala Lumpur Malaysia yang menguasai Sejarah Peradaban Islam dan expert pada disiplin ilmu-ilmu syariah, menguasai diskursus liberalisme dan sekularisme, mendalami pemikiran dan peradaban Barat Kristen, dan penguasaan atas Islamic Worldview yang sangat matang.

Selain mengikuti kajian, diskusi, dan acara-acara rutin INSISTS, membaca jurnal dan buku-buku tulisan ber-genre counter-liberalism sangat membantu saya memahami “Sepilis” secara lebih adil dan akademis. Hingga sampailah kesadaran dan kesimpulan bahwa memang paham ini bermasalah. Terlebih saat mengikuti gagasan-gagasan liberal kelompok JIL (Jaringan Islam Liberal) yang mendestruksi syariat secara terang-terangan—silakan akses tautan https://www.canva.com/design/DAGZ4bQbl4M/rzv6P0h-DUHzOfhtf1vxMQ/edit?utm_content=DAGZ4bQbl4M&utm_campaign=designshare&utm_medium=link2&utm_source=sharebutton untuk memberi sedikit gambaran gagasan-gagasan pengusung “Sepilis”.

Kiprah JIL yang terang-terangan menyebarkan pemikiran—meminjam kesimpulan Adian Husaini— yang: (1) menghancurkan aqidah Islam dengan menyebarkan paham pluralisme agama, (2) meruntuhkan bangunan syariat Islam dengan program “kontekstualisasi ijtihad” dan penggunaan metodologi interpretasi hermeneutika terhadap al-Qur’an, (3) membongkar konsep al-Qur’an sebagai wahyu Allah, lafdhan wa ma’nan minallah, yang suci dari kesalahan, (4) membongkar konsep-konsep dasar Islam seperti makna iman, kufur, murtad, Islam dan sebagainya, (5) meruntuhkan otoritas ulama dalam pemahaman Islam dan (6) mendukung kerusakan akhlak, dengan berpegang pada paham liberalisme dan relativisme moral, cukuplah sudah bagi saya untuk say no to liberalisme.

Pengajian Anti Mainstream
 
Ngaji Sepilis di PCA dan PCM Cimanggis Tapos, Ahad 29 Desember 2024 di musala Nururrohman. Foto kiriman Annisa Nur Balqis.

Anggota PCA Cimanggis Tapos pada Pengajian bulanan, Ahad 29 Desember 2024 di musala Nururrohman. Foto kiriman Annisa Nur Balqis.

Saya harus berkomentar bagaimana saat PCA dan PCM Cimanggis Tapos tertarik dan menyimak topik ini pada pengajian tadi pagi, speechless. Speechless, mereka warga Persyarikatan di Depok yang menaruh minat pada topik berat dan njlimet ini. 

Saya sendiri menyebut “Sepilis” sebagai “Khurafat Milenial” dari Barat Kristen. Daya rusak khurafat jenis ini lebih dahsyat dari khurafat dan tahayul jahiliyah yang diberantas Kiai Dahlan pada masa-masa awal Muhammadiyah digerakkan. Menyatakan dan mendukung bahwa LGBT itu hal yang fitrah, kodrati, dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam seperti yang disebarkan kelompok “Sepilis” misalnya, itu lebih menyesatkan dan daya rusaknya lebih dahsyat dari sekadar meyakini khurafat “bila mimpi gigi tanggal akan ada kerabat yang meninggal”.

Bukankah demikian?

Lepas dari itu, beneran, pengajian pagi tadi itu pengajian anti mainstream.

Depok, Ahad, 29 Desember 2024.
Catatan di ujung senja dari kader biasa.

Jumat, 20 Desember 2024

Leadership dan Daya Pikat Seorang Leader

Sudirman Said, Hamdan Zoelva, dan Sri Nurhidayah moderator pada diskusi panel bertajuk: Character and Leadership Education: “Preparing Future Leaders with Values and Integrity. Kamis, 19 Desember 2024 di Aula Ki Hajar Dewantara Sekolah Bakti Mulya 400. Foto milik Chairul Latif. 

Soal sertifikasi guru, sebenarnya itu tanggung jawab negara sebab ia adalah amanat undang-undang. Setiap guru dengan kualifikasi dan syarat terpenuhi berhak mendapatkannya. Masalahnya, Pak Tris ini selalu menyimpan rasa “cemburu” bila tidak turun tangan mengambil peran mengisi kekosongan untuk guru-guru di bawah binaannya melalui sertifikasi internal.

Pada tulisan yang lalu —Pak Tris di Mataku— kesanku pada Sutrisno Muslimin belum beranjak dari dominasi masa kecil, satu-satunya referensiku yang terawat berbilang tahun. Biografinya —Sutrisno Muslimin Sang Inovator— yang merekam tiga daya Pak Tris sebagai sosok guru dan leader tak jua mengalihkan aku pada masa kecil itu. Sekarang, kesan itu sudah bergeser, benar-benar bergeser.

Kemarin, Kamis 19 Desember 2024 sekolah BM 400 menggelar Kick Off Meeting Sekolah Bakti Mulya 400 Tahun 2025 dan Peluncuran School Leadership Program. Ada diskusi panel bertajuk Character and Leadership Education: “Preparing Future Leaders with Values and Integrity” sebagai core dari acara ini. Sudirman Said dan Hamdan Zoelva dihadirkan untuk bicara leadership. Bolehlah, bagiku diajak menyerap energi leadership dari kedua tokoh ini aku sebut sebagai keberuntungan yang menyenangkan. Atas undangan Pak Tris, aku hadir membaur, nyempil di antara guru-guru Bakti Mulya 400 menikmati paparan dua narasumber berkelas ini.

Aku dan Mbak Anisa "nyempil" di antara para guru BM 400 pada diskusi panel bertajuk: Character and Leadership Education: “Preparing Future Leaders with Values and Integrity. Kamis, 19 Desember 2024 di Aula Ki Hajar Dewantara Sekolah Bakti Mulya 400. Foto milik Chairul Latif. 

Mbak Anisa, Pak Irwan Kelana, dan Rahma—Tim yang turut menangani Sutrisno Muslimin Sang Inovator— juga hadir. Mas Irul tak usahlah aku sebut hadir sebab dia bagian dari acara ini. Mbak Anisa duduk di sebelahku, Pak Irwan di depan. Kabar angin dari Mas Irul menyebut, Rahma juga hadir duduk di belakang. Ah, mungkin Rahma lagi marah padaku dan enggan mendekat. Bangku yang disediakan di sebelah Mbak Anisa untuknya jadi kosong tak berpenghuni.

Mbak Anisa lebih familiar di sini. Banyak kolega yang dia kenal di BM 400. ‘Gak kebayang bila aku tanpa dia kemarin. Blash! Pastilah aku laksana penyendiri di tengah keramaian. Memang, ada juga wajah-wajah petinggi BM 400 yang aku simpan gambarnya di benak yang mengenalku sedikit saat peluncuran Sutrisno Muslimin Sang Inovator setahun yang lalu. Tapi, itu bukan alasan dan tidak akan menutup kesepianku bila tidak ada Mbak Anisa.

Mencerahkan

Character and Leadership Education: “Preparing Future Leaders with Values and Integrity” disajikan dua narasumber dengan santai bernas. Hamdan Zoelva, praktisi hukum dan mantan Hakim Konstitusi di Mahkamah Konstitusi memberikan wawasan hukum dan kaitannya dengan leadership.

Beliau yang juga Ketua Umum Sarekat Islam (SI) sempat sedikit me-review SI dengan apik dan kontekstual. Disebutnya SI itu rumah leadership Indonesia. Dari rumah Haji Oemar Said Tjokroaminoto yang sempit lahir tokoh-tokoh besar. Rupanya, Tjokroaminoto pendiri SI adalah guru langsung Founding Fathers dan inspirator bagi tokoh-tokoh penggagas pendidikan tanah air yang melegenda seperti KH Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah.

Setahuku, SI dan KH Ahmad Dahlan memang punya hubungan khusus. Pada “Statuten Perhimpoenan Centraal Sarekat Islam” yang dibuat di Surabaya pada 26 Juli 1915, ada nama Ahmad Dahlan. Pada susunan pengurus, tertulis bahwa Ahmad Dahlan sebagai penasihat. Nama dia dilengkapi dengan profesinya sebagai guru agama. Nanti, pada 1913 —sebagaimana laporan Engelenberg, A.P.E. Korver— Ahmad Dahlan sudah menjadi komisaris dalam kepengurusan Centraal Sarekat Islam.

Di sini, aku menggulung panjang benar merah sejarah. Sebagai guru Sejarah Kebudayaan Islam, poin ini terasa seperti sup daging yang lezat dan segar kuahnya. Aku tidak tahu, apakah audiens pada forum ini seperti citarasaku menikmati sajian Hamdan Zoelva.

Dalam konteks kekinian, Hamdan Zoelva sampai pada kesimpulan bahwa nilai-nilai luhur leadership bangsa yang diwariskan para pendahulu seperti Tjokroaminoto sudah dirusak oleh kepentingan politik pragmatis. Ah, ini poin sangat menarik. Aku serius sekali menyimak.

Boleh jadi, watak Agus Salim, Hatta, Kartosuwiryo, Tan Malaka, Soekarno, dan lain-lain tokoh yang pernah berguru pada Tjokroaminoto seakan tidak bernilai lagi hari ini bagi para petualang politik. Politik untuk kemakmuran rakyat yang diperjuangkan para pendiri bangsa di atas telah dibelokkan skenarionya oleh mereka hanya untuk menambah pundi-pundi kekayaan dan melanggengkan kekuasaan segelintir orang.

Hamdan Zoelva menyebut, ada banyak pemangku kepentingan sudah kehilangan keadaban bernegara. Dalam bahasaku —boleh jadi yang dimaksud Hamdan Zoelva— moral etik tidak lagi menjadi cermin untuk mengontrol kekuasaan politik. Moral etik sudah dibuang, diganti tipu daya untuk mengatur strategi mengawetkan uang dan kekuasaan.

Paparan Hamdan Zoelva ini satu napas dengan temuan penting Syed Muhammad Naquib al-Attas mengenai loss of adab (keruntuhan atau hilangnya adab), kebingungan (kerancuan) ilmu (confusion of knowledge) dan konsep kepemimpinan. al-Attas menyebut problem ini sebagai “dilema” umat Islam dan bangsa kita hari ini. Dampaknya mengerikan. Dari loss of adab lahir kebingungan dan kerancuan ilmu; dari kerancuan ilmu dan loss of adab lahirlah para pemimpin palsu, yaitu para pemimpin yang tidak memiliki identitas dan integritas.

Sudriman Said MBA dan Dr. Hamdan Zoelva, SH. MA, narasumber diskusi panel bertajuk: Character and Leadership Education: “Preparing Future Leaders with Values and Integrity. Kamis, 19 Desember 2024 di Aula Ki Hajar Dewantara Sekolah Bakti Mulya 400. Foto milik Chairul Latif. 

Bahasan leadership, Sudirman Said menyampaikannya secara sistematis. Bahasanya yang mengalir menjadikan penjelasan topik ini enak disimak poin per poin. Terasa seperti sedang mendengarkan seorang profesor idola mengajar di kelas kuliah. Aku benar-benar menikmatinya, namun tidak ingin mengulasnya di sini. Cukuplah menelaah handout Pak Dirman yang dibagikan Mas Irul atau menyimak rekaman videonya untuk menyerap penjelasan Pak Dirman biar tetap dapat sisi ilmiah dan autentisitasnya.

Tiga Daya

Dr. H. Sutrisno Muslimin, M.Si. Ketua Pelaksana Harian Sekolah Bakti Mulya 400 saat membuka diskusi panel bertajuk: Character and Leadership Education: “Preparing Future Leaders with Values and Integrity. Kamis, 19 Desember 2024 di Aula Ki Hajar Dewantara Sekolah Bakti Mulya 400. Foto milik Chairul Latif. 

Sekarang aku kembali kepada Pak Tris. Di benakku, bukan lagi soal pengalaman autentik masa kecil kami mengejar layangan putus yang selalu kukenang. Itu sudah selesai. Sorry, sudah bergeser.

Memang, dia tidak pernah lelah menghadirkan inovasi. Rupanya, sejak Sutrisno Muslimin Sang Inovator diluncurkan, inovasinya masih terus dia gulirkan. Menggelinding dari waktu ke waktu. Baginya, setiap saat harus ada inovasi baru sebagai legacy bahwa dia pernah ada. Energinya untuk ini seperti tidak habis-habis. Makan dan minum apa orang ini.

Inovasi yang paling kasat mata pada acara kemarin tentu School Leadership Program. Lagi-lagi Pak Tris menunjukkan bagaimana cara dia bekerja dan berpikir. Langkahnya selalu dilandasi filosofi yang kuat. Menghadirkan Sudirman Said dan Hamdan Zoelva bicara soal kepemimpinan, tentu upaya Pak Tris memberikan landasan filosofis School Leadership Program itu.

Program sertifikasi internal guru BM 400, ini juga mengejutkan —setidaknya buatku sebagai outsider teacher. Soal sertifikasi guru, sebenarnya itu tanggung jawab negara sebab ia adalah amanat undang-undang. Setiap guru dengan kualifikasi dan syarat terpenuhi berhak mendapatkannya. Masalahnya, Pak Tris ini selalu menyimpan rasa “cemburu” bila tidak turun tangan mengambil peran mengisi kekosongan untuk guru-guru di bawah binaannya melalui sertifikasi internal. Seakan-akan, Pak Tris ingin bersaing dengan negara untuk urusan pendidikan dan kesejahtaeraan guru. Boleh jadi, karena Pak Tris adalah leader yang berangkat dari dapur seorang guru, paham betul asam garamnya kehidupan mereka. 

Teringatlah aku pada pelajaran menulis yang aku dapat dari Bambang Trim. Aku ingin memakai analogi Bambang Trim soal buku untuk memotret Pak Tris. Pak Tris itu leader seperti buku bagus. Buku bagus itu selalu menyimpan tiga daya: daya pikat, daya ubah, dan daya gugah.

Daya pikat Pak Tris ada pada saat dia berorasi. Kemarin, aku tercengang. Benarlah, aku seperti terhipnotis, seperti khalayak di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terkagum-kagum oleh khutbahnya dua orang laki-laki yang diceritakan Ibnu Umar. Khutbah dua laki-laki ini amat memikat, sehingga Rasulullah berkata: “Inna ba’dho al-bayaani sihrun”, sesungguhnya sebagian dari bayan (penjelasan) itu adalah sihir.

Daya pikat Pak Tris tidak berhenti pada keterpukauan orang pada orasinya saja, bukan pada wacana yang dia lempar semata. Namun, bagaimana orasi itu diterjemahkan menjadi program yang dinikmati buahnya oleh komunitas di bawah otoritasnya bekerja. Begitulah, daya pikat ini melekat pada diri Pak Tris meskipun boleh jadi dia menampiknya.

Daya kedua dan ketiga, yakni daya ubah dan daya gugah. Aku rasa, orang-orang dekat Pak Tris dan orang-orang yang bekerja di bawah kepemimpinannya langsung lebih peka dariku soal ini. Tentu, Mbak Anisa, Rahma, atau Mas Irul termasuk orang yang secara atraktif menangkap dua daya ini secara terus menerus sepanjang mereka berinteraksi. Atau Pak Irwan Kelana yang kerap mengulas berita soal Pak Tris di media massa. Biar mereka saja lah yang bertutur.

Selamat, Pak Tris.

Selamat berbahagia guru-guru BM 400. Ini catatan dari pengalaman berharga di Hari Bela Negara, 19 Desember 2024 di forum Kick Off Meeting kemarin. Mbak Dian, terima kasih undangannya. Mas Irul, terima kasih bukunya.

Depok, 20 Desember 2024.
Jumat pagi yang selalu berkah.

Minggu, 15 Desember 2024

Kecerdasan Tauhid

Kepala Sekolah menyampaikan pengantar pada acara pembukaan Tes Pemetaan PPDB. Didampingi anggota PRM dan Komite Sekolah. Poto koleksi penulis.


Kepala sekolahnya bukan malaikat, guru-gurunya juga bukan peri yang suka menolong, tenaga penunjang kependidikannya pun bukan pangeran tampan dan dayang-dayang jelita seperti karakter kisah di dunia dongeng. Ini juga, gedungnya pun tidak menyerupai eloknya Fairy Garden atau istana kerajaan di dunia peri. Ah, entahlah.

Tahun Ajaran Baru

Menjelang Tahun Ajaran Baru, sekolah sangat sibuk menjaring calon peserta didik. TIM PPDB dibentuk. Promosi, open house, beasiswa, program unggulan, atau tawaran biaya rendah tapi fasilitas keren banyak ditawarkan. Ya, tentu saja agar dapat murid.

Banyak sekolah yang berhasil. Peserta didik baru melebihi kuota. Ada sekolah yang bersyukur masih dapat mempertahankan kuota tahun lalu. Ada sekolah yang mulai gelisah sebab kuota tidak terpenuhi. Ada sekolah yang terpuruk karena hanya dapat setengah kuota saja. Ada pula sekolah yang bercucuran air mata karena tidak mendapat murid sama sekali.

Ada banyak faktor keberhasilan atau kegagalan sekolah mendapat peserta didik baru. Berbagai analisis untuk membaca peluang dan gejala-gejalanya dilakukan sekolah. Kadang, ia begitu rumit sehingga sulit ditemukan formula untuk mengatasinya. Namun, dengan kesungguhan dan strategi cerdik problem itu bisa dipecahkan.

Kadang problem kuota begitu sederhana, hanya saja diabaikan karena dianggap bukan faktor yang mengancam. Akan tetapi, faktor sederhana yang diabaikan itu menjadi begitu mematikan di belakang hari. Puluhan kelas kosong melompong karena tidak dapat murid. Kelas-kelas yang beberapa tahun ke belakang selalu ramai, tiba-tiba senyap, menjadi seperti kontrakan yang ditinggalkan penyewanya. Ini menyakitkan.

Maka bagi sebagian kalangan di sekolah, menjelang tahun ajaran baru di akhir semester ganjil, ia bisa menjadi waktu menikmati liburan, atau jantung terasa copot karena detaknya mengikuti ritme grafik naik atau turun kuota PPDB. 

Kecintaan Alumni

Tidak sedikit SDM dikerahkan, biaya juga banyak dianggarkan untuk mengelola PPDB. Di beberapa sekolah masih pula mengalokasikan biaya cetak banner, spanduk, dan brosur untuk menarik minat mata masyarakat. Hanya saja banner, spanduk, dan brosur kadang kurang efektif memengaruhi masyarakat menjatuhkan pilihan.

Ada promosi rendah biaya. Boleh jadi, malah tidak ada sesen pun biaya yang dikeluarkan sekolah untuk mendapatkan murid dengan promosi ini. Apa itu? Mengikat hati alumni.

Kecintaan alumni pada almamater itu berkah. Ia bisa menjadi jalan promosi alami paling murah, tapi digdaya menjaring murid. Sekolah cukup menyediakan hati untuk merawat mereka. Ikat mereka agar terus mencintai almamater. Bila cinta sudah melekat, maka peluang sekolah mendapat murid baru secara turun temurun cukup terbuka.

Jalan mengikat cinta alumni memang panjang. Namun, asalkan pola pendidikan sekolah memberi kesan, pola interaksi dan komunikasi warga sekolah pun memberi kesan cinta bisa tumbuh bak cendawan di musim hujan. Bila cinta sudah melekat, cinta itu akan menarik mereka ingin kembali lagi ke sekolah dengan memasukkan adik, saudara, keponakan, sepupu, anak-anak, bahkan cucu mereka juga.

Jangan lupa merawat cinta itu dengan melibatkan mereka secara berkelanjutan. Boleh jadi, dari alumni yang masih menyimpan rasa cinta itu ada yang sudah menjadi menteri, anggota dewan, dokter, dosen, insinyur, pengusaha, pilot, diplomat, artis, pengacara, presenter, Polisi, TNI, ah, banyak lagi. Sekali dua kali, undanglah mereka. Beri ruang untuk sharing pengalaman dan kesuksesan kepada siswa sekolah. Kebayang tidak efeknya?

Intinya, jangan kecewakan aset alami lumbung murid baru seperti mereka. Bila mereka kecewa, selesai sudah. Ironi yang mengenaskan, apabila alumni malah merusak reputasi sekolahnya sendiri. Lalu tanpa bersalah mereka bersulang dengan menularkan perilaku tak terpuji itu kepada adik-adik kelasnya, kepada mereka yang masih belajar di kelas-kelas yang dahulu mereka duduk di dalamnya. Ini ironi di atas ironi.

Daftar Inden

Lha, sepertinya kan tidak lucu, ya. Masa bayi baru berusia 4 bulan sudah didaftarkan orang tuanya masuk ke sebuah SD di Yogyakarta untuk tahun ajaran 2030/2031 pada 29 Juni 2024 kemarin —sila browsing di YouTube atau Tik Tok, wa akhwatuha. Jadi, daftarnya enam tahun sebelum anaknya masuk sekolah nanti. 

Ada juga sekolah setingkat SMP atau MTs yang sudah membuka pendafataran untuk calon peserta didik yang masih duduk di kelas 4 dan 5 SD. Banyak yang daftar dan kuotanya sudah habis di semester ganjil. Ini apa-apaan?

Saya masih “kucek-kucek mata” —seperti orang yang belum percaya pada apa yang dilihat— dengan fenomena kebijakan suatu sekolah yang sudah menjalankan program daftar inden ini. Apa resepnya, apa formulanya, dan apa daya tarik yang bisa membuat para orang tua bersedia mengikuti permainan ini. Apakah karena rahasia pendidikan langit sudah mereka pecahkan sehingga peminat pendidikan di bumi seolah bersimpuh di hadapannya? Halagh!

Otak saya yang tempurungnya hanya untuk space menjadi guru biasa, terseok-seok untuk menganalisis. Faktanya, memang ada sekolah yang demikian itu. Kepala sekolahnya bukan malaikat, guru-gurunya juga bukan peri yang suka menolong, tenaga penunjang kependidikannya pun bukan pangeran tampan dan dayang-dayang jelita seperti karakter kisah di dunia dongeng. Ini juga, gedungnya pun tidak menyerupai eloknya Fairy Garden atau istana kerajaan di dunia peri. Ah, entahlah.

Akan tetapi, boleh jadi, meskipun jasad fisik mereka bukanlah tokoh-tokoh itu, jiwa-jiwa mereka seperti jiwa-jiwa “malaikat”, jiwa “peri penolong”, dan jiwa-jiwa “pangeran” dan “dayang-dayang” yang begitu memikat para orang tua. Bukan mustahil, muatan pendidikan dan layanan yang mereka tawarkan itu manusiawi dan memenuhi harapan. Bukan saja manusiawi kepada para orang tua dan siswa, melainkan juga memanusiakan siapa saja yang tetes keringatnya turut menyertai membesarkan sekolah itu.

Tes Pemetaan 

Pada sekolah-sekolah tertentu, tes pemetaan calon peserta didik kerap dilakukan. Umumnya berlaku pada sekolah-sekolah yang tidak terlalu dipusingkan dengan problem kuota peserta didik baru terpenuhi atau tidak. Jadi, sekolah macam ini sudah selesai untuk urusan peminat.

Persoalannya, apakah pemetaan itu substansial atau administratif saja sifatnya. Jadi, masalahnya ada di sini. Asalkan pemetaan itu bukan sekadar untuk mendapat kesimpulan apakah calon peserta didik bisa direkomendasikan diterima atau tidak diterima, itu substansial. Namun, bila tes pemetaan itu hanya berhenti di situ —sebatas keputusan diterima atau tidak— ini hanya administrasi saja, tidak substansial, tidak berefek.

Apakah tes pemetaan itu memang penting? Penting. Asli penting. Sebab, proses ini menjadi layanan pendidikan yang berkorelasi langsung dengan proses belajar.

Sebatas teoretis ilmu pedagogik, tes pemetaan merupakan proses untuk menggali potensi dan kesiapan belajar calon peserta didik. Ini substansinya. Nanti, hasil pemetaan ini akan dibaca guru dan menjadi dasar pertimbangan mereka merancang proses pembelajaran di kelas.

Kecerdasan Unik

Setiap calon peserta didik memiliki kesiapan belajar yang berbeda-beda, potensi yang berbeda-beda, juga ragam kecerdasan yang unik. Itulah titik-titik yang menjadi sketsa hasil pemetaan yang akan diterjemahkan dalam aktivitas belajar. Bila pemetaan diarahkan demikian, ini keren.

Sketsa yang saya maksud adalah setiap wali kelas dan guru mendapat salinan hasil tes pemetaan bahwa calon peserta didik bernama A adalah auditori, B visual, C kinestetik, D visual kinestetik —penelitian terbaru belakangan, teori ini sudah dianggap usang—, dan seterusnya. Sketsa ini menjadi pertimbangan bagi guru dalam merancang pembelajaran —menetapkan metode, pendekatan, penilaian, alat bantu belajar— yang menjangkau diferensiasi peserta didik sesuai kebutuhan mereka.

Dari pemetaan itu juga akan terbaca bahwa calon peserta didik memiliki kecerdasan yang paling menonjol di antara beragam kecerdasan seperti teorinya Howard Gardner. Jadi, bila diilustrasikan, begini kira-kira: bila calon peserta didik diketahui memiliki potensi menjadi elang, dengan pendampingan belajar yang tepat, potensi elangnya diberi ruang untuk tumbuh dan berkembang, maka peserta didik ini akan menjadi elang. Dia akan bisa terbang tinggi sekali layaknya elang.

Akan tetapi, bila potensi itu tidak terbaca lalu salah pendampingan, boleh jadi dia tetap bisa terbang. Hanya saja, kemampuan terbangnya rendah, sekelas terbang burung emprit atau burung sejenis emprit. Tragedi yang lebih menyedihkan, apabila kesalahan pendampingan itu malah membuat sayap-sayap modal terbang itu dibuat patah atau lumpuh. 

Apalah artinya elang bila tidak sanggup mengepakkan sayap. Kasihan. Elang yang hanya mampu berjalan menginjak tanah sambil mematuk remah-remah, hilang wibawanya di dunia burung karena tidak sanggup mengudara. Lha, kok ke sono?😂

Visi Kecerdasan

Sabtu kemarin 14/12/24, sempat menghadiri pembukaan proses Tes Pemetaan PPDB di suatu sekolah. Saya kenal baik beberapa guru di sini. Kenal baik juga Kepala Sekolahnya. Sebelum acara pembukaan dimulai, menyempatkan berbincang dengan “The Young Principal” ini. Asyik dan nyambung.

Meskipun tidak mengikuti proses pemetaannya, saya percaya pemetaan yang dilakukan sekolah ini dilakukan untuk mendapatkan sketsa kesiapan belajar calon peserta didik baru esok. Saya kira, reputasi sekolah ini memang harus melakukan pemetaan yang diarahkan pada tujuan menunjang keberhasilan belajar peserta didiknya.

Sebagai sekolah yang bercirikan Islam yang kuat, fokus pada kecerdasan tertinggi, yakni kecerdasan spiritual atau kecerdasan tauhid cukup diperhatikan. Sementara kecerdasan Spasial – Visual, Linguistik, Interpersonal, Intrapersonal, Musikal, Kinestetik, dan kecerdasan Logis – Matematis ada juga dikembangkan pada ragam ekstra kurikuler yang disediakan.

Muara pendidikan Islam itu adalah kecerdasan tauhid. Ia bertujuan menyadarkan siswa untuk apa dia hidup di dunianya masing-masing. Jadi, visinya adalah akhirat. Inilah yang membedakan pendidikan Islam dengan pendidikan sekuler yang tidak mau menghubungkan urusan dunia dengan agama, apalagi terkoneksi langsung dengan akhirat.

Bagi kita, anak boleh jadi apa saja yang baik-baik sesuai cita-cita dan kecerdasan masing-masing. Akan tetapi, menjadi apa saja yang baik-baik itu harus menyadarkan mereka bahwa capaian-capaian itu hanya sarana untuk kebahagiaan akhiratnya.

Apalah artinya jadi elang yang bisa terbang tinggiii sekali, namun tidak tahu ke mana dia akan pulang dan di dahan mana akan hinggap. Ini seperti dokter, insinyur, dan apalah semua yang gemerlap itu yang fasih pada urusan dunia, tapi gagap bila sudah menyangkut urusan ibadah. Sedih tidak, bila murid sudah sukses dunianya, tapi tidak tahu caranya bersuci, tidak paham wudhu, dan tidak bisa membedakan mandi wajib dan mandi biasa?

Baiklah bapak “The Young Principal”, tetaplah menjadi nakhoda yang mengantarkan guru dan siswa bapak meraih kecerdasan tertinggi, kecerdasan tauhid. Cara bapak membangun kepercayaan diri peserta didik seperti yang saya lihat kemarin, itu detail yang tidak bisa dianggap sepele. Maturnuwun sanget.

Happy weekend.

Depok, 15 Desember 2024.
Di sela Ahad yang sibuk.