A homepage subtitle here And an awesome description here!

Minggu, 15 Desember 2024

Kecerdasan Tauhid

Kepala Sekolah menyampaikan pengantar pada acara pembukaan Tes Pemetaan PPDB. Didampingi anggota PRM dan Komite Sekolah. Poto koleksi penulis.


Kepala sekolahnya bukan malaikat, guru-gurunya juga bukan peri yang suka menolong, tenaga penunjang kependidikannya pun bukan pangeran tampan dan dayang-dayang jelita seperti karakter kisah di dunia dongeng. Ini juga, gedungnya pun tidak menyerupai eloknya Fairy Garden atau istana kerajaan di dunia peri. Ah, entahlah.

Tahun Ajaran Baru

Menjelang Tahun Ajaran Baru, sekolah sangat sibuk menjaring calon peserta didik. TIM PPDB dibentuk. Promosi, open house, beasiswa, program unggulan, atau tawaran biaya rendah tapi fasilitas keren banyak ditawarkan. Ya, tentu saja agar dapat murid.

Banyak sekolah yang berhasil. Peserta didik baru melebihi kuota. Ada sekolah yang bersyukur masih dapat mempertahankan kuota tahun lalu. Ada sekolah yang mulai gelisah sebab kuota tidak terpenuhi. Ada sekolah yang terpuruk karena hanya dapat setengah kuota saja. Ada pula sekolah yang bercucuran air mata karena tidak mendapat murid sama sekali.

Ada banyak faktor keberhasilan atau kegagalan sekolah mendapat peserta didik baru. Berbagai analisis untuk membaca peluang dan gejala-gejalanya dilakukan sekolah. Kadang, ia begitu rumit sehingga sulit ditemukan formula untuk mengatasinya. Namun, dengan kesungguhan dan strategi cerdik problem itu bisa dipecahkan.

Kadang problem kuota begitu sederhana, hanya saja diabaikan karena dianggap bukan faktor yang mengancam. Akan tetapi, faktor sederhana yang diabaikan itu menjadi begitu mematikan di belakang hari. Puluhan kelas kosong melompong karena tidak dapat murid. Kelas-kelas yang beberapa tahun ke belakang selalu ramai, tiba-tiba senyap, menjadi seperti kontrakan yang ditinggalkan penyewanya. Ini menyakitkan.

Maka bagi sebagian kalangan di sekolah, menjelang tahun ajaran baru di akhir semester ganjil, ia bisa menjadi waktu menikmati liburan, atau jantung terasa copot karena detaknya mengikuti ritme grafik naik atau turun kuota PPDB. 

Kecintaan Alumni

Tidak sedikit SDM dikerahkan, biaya juga banyak dianggarkan untuk mengelola PPDB. Di beberapa sekolah masih pula mengalokasikan biaya cetak banner, spanduk, dan brosur untuk menarik minat mata masyarakat. Hanya saja banner, spanduk, dan brosur kadang kurang efektif memengaruhi masyarakat menjatuhkan pilihan.

Ada promosi rendah biaya. Boleh jadi, malah tidak ada sesen pun biaya yang dikeluarkan sekolah untuk mendapatkan murid dengan promosi ini. Apa itu? Mengikat hati alumni.

Kecintaan alumni pada almamater itu berkah. Ia bisa menjadi jalan promosi alami paling murah, tapi digdaya menjaring murid. Sekolah cukup menyediakan hati untuk merawat mereka. Ikat mereka agar terus mencintai almamater. Bila cinta sudah melekat, maka peluang sekolah mendapat murid baru secara turun temurun cukup terbuka.

Jalan mengikat cinta alumni memang panjang. Namun, asalkan pola pendidikan sekolah memberi kesan, pola interaksi dan komunikasi warga sekolah pun memberi kesan cinta bisa tumbuh bak cendawan di musim hujan. Bila cinta sudah melekat, cinta itu akan menarik mereka ingin kembali lagi ke sekolah dengan memasukkan adik, saudara, keponakan, sepupu, anak-anak, bahkan cucu mereka juga.

Jangan lupa merawat cinta itu dengan melibatkan mereka secara berkelanjutan. Boleh jadi, dari alumni yang masih menyimpan rasa cinta itu ada yang sudah menjadi menteri, anggota dewan, dokter, dosen, insinyur, pengusaha, pilot, diplomat, artis, pengacara, presenter, Polisi, TNI, ah, banyak lagi. Sekali dua kali, undanglah mereka. Beri ruang untuk sharing pengalaman dan kesuksesan kepada siswa sekolah. Kebayang tidak efeknya?

Intinya, jangan kecewakan aset alami lumbung murid baru seperti mereka. Bila mereka kecewa, selesai sudah. Ironi yang mengenaskan, apabila alumni malah merusak reputasi sekolahnya sendiri. Lalu tanpa bersalah mereka bersulang dengan menularkan perilaku tak terpuji itu kepada adik-adik kelasnya, kepada mereka yang masih belajar di kelas-kelas yang dahulu mereka duduk di dalamnya. Ini ironi di atas ironi.

Daftar Inden

Lha, sepertinya kan tidak lucu, ya. Masa bayi baru berusia 4 bulan sudah didaftarkan orang tuanya masuk ke sebuah SD di Yogyakarta untuk tahun ajaran 2030/2031 pada 29 Juni 2024 kemarin —sila browsing di YouTube atau Tik Tok, wa akhwatuha. Jadi, daftarnya enam tahun sebelum anaknya masuk sekolah nanti. 

Ada juga sekolah setingkat SMP atau MTs yang sudah membuka pendafataran untuk calon peserta didik yang masih duduk di kelas 4 dan 5 SD. Banyak yang daftar dan kuotanya sudah habis di semester ganjil. Ini apa-apaan?

Saya masih “kucek-kucek mata” —seperti orang yang belum percaya pada apa yang dilihat— dengan fenomena kebijakan suatu sekolah yang sudah menjalankan program daftar inden ini. Apa resepnya, apa formulanya, dan apa daya tarik yang bisa membuat para orang tua bersedia mengikuti permainan ini. Apakah karena rahasia pendidikan langit sudah mereka pecahkan sehingga peminat pendidikan di bumi seolah bersimpuh di hadapannya? Halagh!

Otak saya yang tempurungnya hanya untuk space menjadi guru biasa, terseok-seok untuk menganalisis. Faktanya, memang ada sekolah yang demikian itu. Kepala sekolahnya bukan malaikat, guru-gurunya juga bukan peri yang suka menolong, tenaga penunjang kependidikannya pun bukan pangeran tampan dan dayang-dayang jelita seperti karakter kisah di dunia dongeng. Ini juga, gedungnya pun tidak menyerupai eloknya Fairy Garden atau istana kerajaan di dunia peri. Ah, entahlah.

Akan tetapi, boleh jadi, meskipun jasad fisik mereka bukanlah tokoh-tokoh itu, jiwa-jiwa mereka seperti jiwa-jiwa “malaikat”, jiwa “peri penolong”, dan jiwa-jiwa “pangeran” dan “dayang-dayang” yang begitu memikat para orang tua. Bukan mustahil, muatan pendidikan dan layanan yang mereka tawarkan itu manusiawi dan memenuhi harapan. Bukan saja manusiawi kepada para orang tua dan siswa, melainkan juga memanusiakan siapa saja yang tetes keringatnya turut menyertai membesarkan sekolah itu.

Tes Pemetaan 

Pada sekolah-sekolah tertentu, tes pemetaan calon peserta didik kerap dilakukan. Umumnya berlaku pada sekolah-sekolah yang tidak terlalu dipusingkan dengan problem kuota peserta didik baru terpenuhi atau tidak. Jadi, sekolah macam ini sudah selesai untuk urusan peminat.

Persoalannya, apakah pemetaan itu substansial atau administratif saja sifatnya. Jadi, masalahnya ada di sini. Asalkan pemetaan itu bukan sekadar untuk mendapat kesimpulan apakah calon peserta didik bisa direkomendasikan diterima atau tidak diterima, itu substansial. Namun, bila tes pemetaan itu hanya berhenti di situ —sebatas keputusan diterima atau tidak— ini hanya administrasi saja, tidak substansial, tidak berefek.

Apakah tes pemetaan itu memang penting? Penting. Asli penting. Sebab, proses ini menjadi layanan pendidikan yang berkorelasi langsung dengan proses belajar.

Sebatas teoretis ilmu pedagogik, tes pemetaan merupakan proses untuk menggali potensi dan kesiapan belajar calon peserta didik. Ini substansinya. Nanti, hasil pemetaan ini akan dibaca guru dan menjadi dasar pertimbangan mereka merancang proses pembelajaran di kelas.

Kecerdasan Unik

Setiap calon peserta didik memiliki kesiapan belajar yang berbeda-beda, potensi yang berbeda-beda, juga ragam kecerdasan yang unik. Itulah titik-titik yang menjadi sketsa hasil pemetaan yang akan diterjemahkan dalam aktivitas belajar. Bila pemetaan diarahkan demikian, ini keren.

Sketsa yang saya maksud adalah setiap wali kelas dan guru mendapat salinan hasil tes pemetaan bahwa calon peserta didik bernama A adalah auditori, B visual, C kinestetik, D visual kinestetik —penelitian terbaru belakangan, teori ini sudah dianggap usang—, dan seterusnya. Sketsa ini menjadi pertimbangan bagi guru dalam merancang pembelajaran —menetapkan metode, pendekatan, penilaian, alat bantu belajar— yang menjangkau diferensiasi peserta didik sesuai kebutuhan mereka.

Dari pemetaan itu juga akan terbaca bahwa calon peserta didik memiliki kecerdasan yang paling menonjol di antara beragam kecerdasan seperti teorinya Howard Gardner. Jadi, bila diilustrasikan, begini kira-kira: bila calon peserta didik diketahui memiliki potensi menjadi elang, dengan pendampingan belajar yang tepat, potensi elangnya diberi ruang untuk tumbuh dan berkembang, maka peserta didik ini akan menjadi elang. Dia akan bisa terbang tinggi sekali layaknya elang.

Akan tetapi, bila potensi itu tidak terbaca lalu salah pendampingan, boleh jadi dia tetap bisa terbang. Hanya saja, kemampuan terbangnya rendah, sekelas terbang burung emprit atau burung sejenis emprit. Tragedi yang lebih menyedihkan, apabila kesalahan pendampingan itu malah membuat sayap-sayap modal terbang itu dibuat patah atau lumpuh. 

Apalah artinya elang bila tidak sanggup mengepakkan sayap. Kasihan. Elang yang hanya mampu berjalan menginjak tanah sambil mematuk remah-remah, hilang wibawanya di dunia burung karena tidak sanggup mengudara. Lha, kok ke sono?😂

Visi Kecerdasan

Sabtu kemarin 14/12/24, sempat menghadiri pembukaan proses Tes Pemetaan PPDB di suatu sekolah. Saya kenal baik beberapa guru di sini. Kenal baik juga Kepala Sekolahnya. Sebelum acara pembukaan dimulai, menyempatkan berbincang dengan “The Young Principal” ini. Asyik dan nyambung.

Meskipun tidak mengikuti proses pemetaannya, saya percaya pemetaan yang dilakukan sekolah ini dilakukan untuk mendapatkan sketsa kesiapan belajar calon peserta didik baru esok. Saya kira, reputasi sekolah ini memang harus melakukan pemetaan yang diarahkan pada tujuan menunjang keberhasilan belajar peserta didiknya.

Sebagai sekolah yang bercirikan Islam yang kuat, fokus pada kecerdasan tertinggi, yakni kecerdasan spiritual atau kecerdasan tauhid cukup diperhatikan. Sementara kecerdasan Spasial – Visual, Linguistik, Interpersonal, Intrapersonal, Musikal, Kinestetik, dan kecerdasan Logis – Matematis ada juga dikembangkan pada ragam ekstra kurikuler yang disediakan.

Muara pendidikan Islam itu adalah kecerdasan tauhid. Ia bertujuan menyadarkan siswa untuk apa dia hidup di dunianya masing-masing. Jadi, visinya adalah akhirat. Inilah yang membedakan pendidikan Islam dengan pendidikan sekuler yang tidak mau menghubungkan urusan dunia dengan agama, apalagi terkoneksi langsung dengan akhirat.

Bagi kita, anak boleh jadi apa saja yang baik-baik sesuai cita-cita dan kecerdasan masing-masing. Akan tetapi, menjadi apa saja yang baik-baik itu harus menyadarkan mereka bahwa capaian-capaian itu hanya sarana untuk kebahagiaan akhiratnya.

Apalah artinya jadi elang yang bisa terbang tinggiii sekali, namun tidak tahu ke mana dia akan pulang dan di dahan mana akan hinggap. Ini seperti dokter, insinyur, dan apalah semua yang gemerlap itu yang fasih pada urusan dunia, tapi gagap bila sudah menyangkut urusan ibadah. Sedih tidak, bila murid sudah sukses dunianya, tapi tidak tahu caranya bersuci, tidak paham wudhu, dan tidak bisa membedakan mandi wajib dan mandi biasa?

Baiklah bapak “The Young Principal”, tetaplah menjadi nakhoda yang mengantarkan guru dan siswa bapak meraih kecerdasan tertinggi, kecerdasan tauhid. Cara bapak membangun kepercayaan diri peserta didik seperti yang saya lihat kemarin, itu detail yang tidak bisa dianggap sepele. Maturnuwun sanget.

Happy weekend.

Depok, 15 Desember 2024.
Di sela Ahad yang sibuk.

Selasa, 10 Desember 2024

RAYYA Bag. 12





Perawan

Seketika Umi bangun dari duduknya. Umi yang kukenal sabar, lembut, dan tenang, saat itu wajahnya berubah tegang dan keras. Mata Umi yang biasa teduh dan menyejukkan, jadi berkilat-kilat seperti tatapan singa betina yang terluka.

Cobaan hidupku belum berhenti saat haid sudah aku dapatkan. Saat Umi dan Ayahku begitu bergembira karena haidku sudah normal, saat duka hati mereka mulai terbasuh karena puteri mereka sudah memasuki gerbang sebagai gadis setengah sempurna, saat itu pula, palu godam menghantam. Umiku yang paling terpukul menghadapi semuanya. Seolah kebahagiaan yang tengah ia rasakan tenggelam ditelan kabar bahwa Rayya, putrinya sudah tidak perawan. Setelah aku mengerti, tahulah aku, tidak perawan adalah momok memalukan bagi perempuan yang belum menikah di kampungku. Entah siapa yang mulai menyebarkan berita itu.

Di kali lain, aku menjumpai Umi dan Ayah duduk mematung di meja makan. Wajah Umi murung. Saat ditanya Ayah mengapa Umi murung, Umi tidak segera menjawab. Umi hanya menunduk saja. Sesekali Umi bicara. Tidak jelas apa yang tengah dibicarakan Umi. Ayah lebih banyak mendengar saja tanpa banyak menimpali. Mungkin Ayah bingung bagaimana harus bersikap. Beberapa menit kemudian Umi menangis terisak-isak.

“Loh, kok nangis?”

Umi tidak menjawab. Dengan masih menangis, Umi malah bergegas mengunci diri di kamar. Ayah menyusul. Cukup lama Ayah mengetuk pintu kamar.

“Umi, ada apa? Tolong buka pintunya, Mi,” pinta Ayah.

Umi membuka pintu. Aku lihat mata Umi memerah.

Di kamar mereka berbincang lagi diselingi isak tangis Umi yang bersambung. Aku dengan jelas menangkap apa yang tengah mereka bicarakan. Aku dengar, Umi seperti tengah menumpahkan rasa kesal. Umi mengaku malu mendengar omongan para tetangga. Omongan itu sampai ke telinga Umi. Rupanya sudah ramai para tetangga membincangkan bahwa aku sudah tidak perawan lagi karena operasi yang aku jalani.

“Rasanya Umi ingin mati saja, Ayah.”

“Kok tiba-tiba minta mati?”

“Umi ‘nggak kuat.”

Saat itulah aku menangkap semua pembicaraan Umi tentang keperawananku. Yang paling membuat Umi sakit hati adalah masalah jodohku. Kata para tetangga itu, gadis yang tidak perawan sulit mendapat jodoh, lebih sulit dari jodoh seorang janda yang jelas-jelas sudah tidak perawan.

“Jika semua orang tahu bahwa Rayya sudah tidak perawan lagi, nanti siapa laki-laki yang akan bersedia menikahinya, Ayah?” keluh Umi.

Ayah tidak menjawab.

“Mengapa penderitaan Rayya tidak kunjung putus?”

Umi terus mengadu, mengeluh, dan menumpahkan segala emosinya di depan Ayah. Sampai pada titik putus asa, Umi menyesali dirinya sendiri. Sampai keluar pernyataan dari mulutnya bahwa Umi merasa sangat berdosa telah melahirkan aku dengan segala penderitaan yang kualami. Umi merasa telah gagal menjadi ibu yang sanggup memberikan segala kebahagiaan buatku. Gagal memberikan kenyamanan pada anak gadisnya. Gagal memberikan keriangan dan keceriaan karena ketidaksempurnaan rahimku.

“Umi takut jika Rayya mendengar sendiri cibiran dari para tetangga itu.”

“Ayah mengerti, tapi kita juga tidak bisa menyumbat setiap mulut tetangga.”

“Mereka seperti menghukum Rayya dan Umi. Apa salah Umi? Apa salah Rayya?”

“Umi, istighfar. Tidak ada yang salah dengan kita.”

“Tapi mengapa Umi, Rayya yang harus menanggung semua ini?”

“Kita sedang diuji, Mi.”

“Tapi ujian ini terlalu berat buat Umi, Ayah.”

Tangis Umi makin menjadi. Kudengar Ayah berusaha menenangkan Umi. Umi seperti meronta. Ayah mulai bersikap tegas mengingatkan Umi.

“Umi, dengar! Tidak ada ujian Allah yang melampaui batas kemampuan. Ini bukan ujian Umi dan Rayya. Ini ujian Ayah juga. Ujian keluarga kita!” tegas Ayah.

Saat itulah tanpa aku sadari Umi keluar dari kamar dan menjumpaiku tengah berada di balik pintu. Umi hanya menatapku dengan air mata yang masih berurai. Lalu dengan masih ingin terisak, Umi memelukku. Didekapnya tubuhku seperti seorang ibu yang baru pertama kali menemukan putrinya yang hilang. Dibelainya rambutku seolah ingin menghapus segala sial yang menimpa kepalaku. Umiku semakin merasa ngenes, hal yang selama ini ingin disembunyikan dariku, akhirnya sia-sia.

Selang beberapa minggu setelah obrolan Umi dan Ayah, satu kali aku mengadu pada Umi. Dengan keluguan anak kelas enam, aku bicara tanpa beban. Mengadukan apa yang dikatakan salah seorang tetanggaku saat aku bermain di rumah mereka. Aku jadi ingat bahwa Umi dan Ayah pernah membicarakan hal ini.

“Umi, memang aku tidak perawan lagi ya? Perawan itu apa, Mi?”

“Rayya, siapa yang bilang begitu, Nak?!”

“Mamanya Dewi,” kataku.

“Apa lagi yang dikatakan mama Dewi, Rayya?”

“Eee, apa ya?”

“Katakan Rayya!”

“Katanya, jodohku bakalan susah, Mi.”

"Astaghfirullah!"

“Kenapa, Mi?”

Umi tidak menyahut. Seketika Umi bangun dari duduknya. Umi yang kukenal sabar, lembut, dan tenang, saat itu wajahnya berubah tegang dan keras. Mata Umi yang biasa teduh dan menyejukkan, jadi berkilat-kilat seperti tatapan singa betina yang terluka. Rupanya batas kesabaran Umi sudah habis. Selama ini Umi hanya menahan segala cibiran dan menelan saja semuanya. Nasehat Ayah agar Umi bersabar menghadapi tajamnya lidah para tetangga sudah tidak mempan mengerem sakit hati yang sekian lama ditelannya sendiri.

Umi beranjak pergi. Tahulah aku setelah mendengar ribut-ribut di luar rumah. Rupanya Umi pergi untuk memberi pelajaran pada mamanya Dewi. Para tetangga yang lain terkejut. Semuanya tidak menyangka, Hanifah, Umiku bisa semarah itu. Saat itu, Umi berhasil memaksa mama Dewi meminta maaf pada Umi.

Beberapa hari kemudian, mamanya Dewi dan beberapa tetangga yang lain datang ke rumahku untuk meminta maaf sekali lagi. Mereka menyadari kekeliruan atas apa yang telah mereka katakan dan gunjingkan mengenai keperawananku. Ayah yang saat itu ada di rumah tidak mau mencampuri. Meskipun Ayah juga merasakan pedih atas apa yang dilakukan para tetanggaku itu, cukuplah Umi yang menyelesaikan.

Umi menunjukkan jiwa besarnya. Mamanya Dewi dan yang lain diterima dengan baik. Tidak tampak lagi sorot mata Umi yang kemarin. Lalu semuanya berakhir dengan saling memaafkan. Semuanya berjanji untuk menjaga perasaan masing-masing. Alhamdulillaah, sejak saat itu sampai menjelang aku kelas tiga SMP, tidak terdengar lagi tetangga menggunjingkan keperawananku. Namun kenangan tentang ucapan Mama Dewi tetap membekas, seolah dia tidak mau pergi dari ingatanku.

Saat aku telah benar-benar mengerti soal keperawanan, aku seperti terdakwa oleh paradigma keperawanan berdasar persepsi masyarakat yang bersifat menghukum. Aku pun akhirnya maklum mengapa Umi benar-benar merasa terpukul waktu itu. Memang di mana tempat, seorang perempuan yang kehilangan keperawanannya tidak lagi mendapatkan tempat yang baik di mata para tetangga dan laki-laki.

Mungkin tidak keliru pandangan demikian jika diartikan sebagai peringatan bahwa seorang gadis harus benar-benar bertanggung jawab menjaga kesucian dan keperawanannya. Namun masalahnya, pandangan itu tidak memilah-milah, mana keperawanan yang hilang karena sebab asusila, mana keperawanan yang hilang karena faktor seperti takdir atas diriku.[]

 


Kain Ihram Anak Kampung

Cover Kain Ihram Anak Kampung. https://www.kautsar.co.id/detail/kain-ihram-anak-kampung





Penulis : Abdul Mutaqin

ISBN : 9786021695197

Cover : Soft Cover

Halaman : 376 Halaman

Berat : 500 gr

Ukuran : 13.5 x 20.5 cm


Rahadian Muhajir Yastriba, seorang anak kampung yang miskin. Meski begitu, kemiskinan tak menjadi penghalang bagi Rahadian untuk mewujudkan mimpi terbesarnya, menjadi tamu Allah di Baitullah. Lewat perantara Pak Guru Mahfudz, guru agama di sekolahnya, Rahadian mengenal setiap jengkal Baitullah melengkapi gambaran dalam impiannya. Begitu lihainya beliau menceritakan detai perjalanan yang dilakukan oleh jamaah haji dan umrah, hingga seolah-olah Rahadian bisa merasakan harumnya tanah haram, nikmatnya kalimat talbiyah, indahnya tawaf juga lezatnya air Zamzam.

Demi mewujudkan cita-citanya itu, Rahadian harus bersabar menghadapi olok-olok dan caci maki dari keempat temannya, Tatan, Sulong, Ghaafir, dan Ginanjar, juga orangtua mereka. Rupanya kekayaan yang mereka miliki saait itu telah menutup mata hati mereka sehingga dengan mudahnya memandang rendah orang lain. Tidak hanya kemiskinan Rahadian yang tak bosan-bosannya dicerca, namun impiannya juga berusaha dikoyak oleh Sulong dan ketiga temannya. Tapi Rahadian bergeming, tetap teguh menggenggam impiannya. Baginya tidak ada yang tidak mungkin selama dia berusaha dan yakin, yakin akan rahmat dan kuasa Allah.

Roda kehidupan berputar, Allah selalu bersama orang-orang yang berserah diri kepadaNya. Dua puluh delapan tahun kemudian, Rahadian bertemu kembali dengan ketiga temannya di masa lalu, Sulong, Ghaafir dan Ginanjar secara terpisah. Akankah Rahadian memaafkan kesalahan mereka di masa lalu? Peristiwa apa saja yang terjadi setelah pertemuan Rahadian dengan ketiga temannya itu? Bisakah tali persahabatan mengikat kembali Rahadian dengan ketiga temanya itu dalam indahnya ukhuwah Islam? Berhasilkah Rahadian membuktikan bahwa semua perkataan temannya itu tidak benar?

Novel tentang perjuangan meraih impian, kesabaran, keteguhan dan integritas. Mengharukan!



Depok, 10 Desember 2024

Senin, 09 Desember 2024

Pak Tris di Mataku

Aku, Mbak Anisa, Irwan Kelana, Sutrisno Muslimin, dan Rahma sebelum acara peluncuran dan bedah buku Sutrisno Muslimin Sang Inovator Pendidikan, Dakwah, dan Politik di auditorium Ki Hajar Dewantara SMP Bakti Mulya (BM) 400 Jakarta, Senin (10/4/23). Foto koleksi penulis.

Tumbuh dari bawah, matang karena pengalaman. Buku ini merekam jejak seorang pendidik yang selalu haus ilmu dan kaya kreasi. Daya dorong itu yang ingin kita pelajari dari buku ini.
_Rocky Gerung, Filsuf dan Akademisi.

TIDAK ada Orang Sentiong, bahkan sekampung kelahirannya yang menyangka, Sutrisno Muslimin–Orang Sentiong memanggilnya “Tris”–menjadi sosok ’berkilau’ dengan legacy miliknya saat ini. Kecuali ibundanya; Sopiah. Sopiah pernah membisikkan nalurinya lewat mimpi Sutrisno, bahwa kelak “Emak ngeliet elu, naik tinggii sekali. Sampe emak ‘nggak bisa liat lu lagi.” Sopiah mengatakan itu dengan segenap jiwanya yang tegar.

Siapa itu Sopiah, aku sangat mengenalnya. Bagaimana karakternya, aku juga mengenalnya meskipun pengenalanku pada Sopiah tidak sefasih Sutrisno mengenal perempuan tangguh itu. Ini pun bukan suatu kebetulan. Aku dekat dengan aksara, sedekat aku pada Sopaih dan Sutrisno Muslimin. Meskipun bukan penulis besar, aku tidak asing dengan dunia literasi, dengan dunia perbukuan. Boleh jadi karena alasan ini, jemariku diberi rangsangan buat menuliskan kisahnya, kisah Sutrisno Muslimin sebatas yang aku kenal. 

Sepanjang halaman pertama buku ini aku tulis sampai halaman terakhirnya kububuhi tanda titik, kesan pada laki-laki ini mengantarku pada tegalan, sawah, rumput, dan kegembiraan anak-anak kampung seperti kami gembira saat berebut layangan putus. Aku gagal mengalihkannya pada yang lain, apalagi pada sosok Sutrisno Muslimin yang sekarang. Meskipun kisah kesuksesan Sutrisno Muslimin sudah kuserap melalui wawancara, melalui berita yang aku baca, juga mempelajari draft buku tentang dia yang hampir naik cetak, tetap saja ingatanku kembali ke tegalan, sawah, rumput, dan berebut layangan putus. 

Di mataku, di sanalah lokus hidup Sutrisno Muslimin kecil banyak dihabiskan. Dan aku membersamainya dalam satu dua kesempatan kami mengejar layang-layang itu. Bagiku, pengalaman di tegalan, sawah, rumput, dan berebut layangan putus bersama Sutrisno Muslimin itu autentik, seperti emas 24 karat. Justru, dari lokus-lokus itulah kilau wajah Sutrisno Muslimin hari ini punya sisi autentisitasnya yang genuine.

Aku tidak akan mengulang apa yang aku tulis pada "Sutrisno Muslimin Sang Inovator Pendidikan, Dakwah, dan Politik" di sini. Buka saja, dan bacalah halaman demi halaman buku itu untuk menyelami kisahnya. Aku tidak juga bermaksud membanggakan buku ini, tidak juga membanggakan Sutrisno Muslimin. Aku hanya bahagia karena aku pernah melewati masa kecil bersama Sutrisno Muslimin dan menyaksikan dirinya menjadi seperti yang sekarang.

Bila Anda seorang pendidik dan pemegang otoritas lembaga pendidikan, buku ini sharing keberhasilan pengalaman bagaimana tangan Sutrisno Muslimin menyentuh lembaga pendidikan dan menempatkannya pada level tertentu. Bila Anda adalah siswa atau mahasiswa dengan keterbatasan ekonomi sehingga mimpi pun Anda tidak berani, buku ini akan mengubah persepsi Anda bahwa keterbatasan ekonomi bisa menjadi kekuatan meraih mimpi. Bila Anda seorang ayah atau ibu, buku ini menempatkan citra seorang ayah dan ibu mengantar asa dan doa untuk keberhasilan anaknya.

Buku berdurasi 400-an halaman ini aku selesaikan dalam tiga bulan (Februari-Maret-April 2022). Tiga bulan itu terbilang cepat untuk durasi buku setebal ini. Memang, proses pematangan naskah di tangan Tim yang menerbitkan memakan waktu cukup lama. Irwan Kelana, Mbak Anisa, Rahma, dan Irul Tim yang cukup intens berkomunikasi denganku hingga buku ini diluncurkan. Tengkyu semua. Kepada Buku Republika yang menerbitkan buku ini, tentu menoreh kesan tersendiri bagiku.

Sutrisno Muslimin Sang Inovator Pendidikan, Dakwah, Dan Politik. Tangkapan layar dari Ibrahim Aji, https://www.youtube.com/@IbrahimAjiOk

Semoga menginspirasi.

Ciputat, 09 Desember 2024.


Minggu, 08 Desember 2024

Orang Depok Logat Minang

Itiak lado Ijo Ngarai Sianok. Nikmatnya awet. Foto koleksi pribadi.

Dalam hati aku berkata, kebanyakan kita jatuh pada kesalahan karena sedikit tahu, tapi bicara banyak seolah menjangkau semua hal.

Masih diberi kesempatan menikmati sarapan itu rezeki di akhir bulan yang patut disyukuri saat dompet sudah hampir tiris. Harga sarapannya sih standar, sekira 13 ribu-an dengan menu soto Madura. Bila minta tambahan ceker atau tulangan, sedikit lebih mahal dua sampai tiga ribu rupiah bergantung sebanyak tambahan yang diminta.

Kuah soto mengepul uapnya. Aroma rempah merebak, menusuk hidung membangkitkan selera, khas sekali. Saat soto diaduk, seluruh udara seakan beraroma soto, beraroma gurih.

Perasan jeruk nipis, sedikit kecap, juga sambal, cita rasa sotonya tambah kuat. Berpadulah di atas mangkuk rasa gurih, asam, manis, dan pedas. Sarapan jadi bergairah, terasa istimewa.

Tentu, bila uang masih cukup, kerupuk menjadi penyerta sarapan makin sedap. Tekstur kerupuk yang renyah dan gurih cocok di segala hidangan. Apalagi dengan soto, hmmm. Nikmat Allah yang mana lagi yang tidak membahagiakan?

Bila sarapan pada Jum'at pagi minggu lalu itu dinikmati bersama sahabat karib, pastilah bertambah hangat. Namun tak apa, kekariban itu fleksibel sesuai arah angin berembus. Kadang dia lentur seperti karet, kadang ada masanya dia harus kaku seperti batang tusuk sate.|


Seorang laki-laki —barangkali usianya sepuluh atau dua belas tahun di atasku— menyapa sambil menunggu pesanannya dihidangkan. Wajahnya ganteng, putih. Sorot matanya tampak bersahabat. Senyumnya mengembang.

Aku merespons, balik menyapa seramah yang aku punya. Begitulah aku diajarkan orang tua untuk membalas sapaan orang sepadan dengan sapaannya. Bila dirasa perlu, balaslah dengan keramahan lebih dari yang diterima.

Sejenak, kami asyik berbincang. Kadang bertatap saat saling merespons. Entahlah, keakraban mengalir begitu saja seperti serbuk sari dipertemukan pada putik bunga oleh angin dalam anemogami.

Hingga aku agak surprise saat laki-laki ini menyebutku sebagai orang Minang. Oh, tidak.

“Saya Depok asli, Pak.”
“Betawi Depok. Tapi, logat bicaranya khas Minang.”
“O, gitu?”
“Ya. Saya puluhan tahun di Sijunjung mengurus transmigrasi,” katanya yang mengaku sangat paham logat Minang.
“Maaf, Bapak orang Minang?” tanyaku membalas.
“Bukan. Saya asli Bandung.”

Lah.|

Minang mengalihkan obrolanku pada ingatan sosok Bunda—semoga Bunda selalu melimpah berkah di Kuranji. Pada Desember tujuh tahun lalu, Bunda memberiku ruang menikmati secuil dari keelokan Sumatera Barat. Dengan bentang alamnya yang rimbun, pantainya yang indah, kulinernya yang bikin nagih, tentu keramahan Bunda dan keluarganya yang membekas sampai ke dasar hati. Pantaslah Bunda berkata, “seminggu bukan waktu yang cukup untuk menikmati keelokan Sumatera Barat, Abdul.”

Biarlah, meminjam kaidah ushul: maa laa yudroku kulluh laa yutroku kulluh. Andaikan tidak menjangkau semua, jangan tinggalkan semua dalam seminggu. Maka dalam seminggu itu, Bunda dan keluarga mengajakku menjangkau keelokan Bukittinggi: Mandeh, Ombilin, Danau Singkarak, Danau Maninjau, tentu Teh Talua-nya yang sedap, Museum Buya Hamka, Rumah Gadang, Kelok Sembilan, Lembah Harau, Rumah Gadang, Jam Gadang, dan Itiak Lado Ijo Ngarai Sianok yang mengundang keringat. Ah, sedapnya masakan Itiak itu menyisakan liur yang selalu terbit saat ia diingat-ingat lagi.

Apakah logat bicaraku menjadi agak Minang terpengaruh hanya dalam hitungan waktu tujuh hari?

Terpengaruh atau tidak itu tidak penting, tapi sejujurnya aku sangat menikmati saat berbincang dengan Bunda dengan logat Minangnya yang kental saat kami sarapan atau di waktu-waktu senggang kami berbincang di ruang tengah. Bahkan aku sudah kadung mempersonifikasikan dialog karakter Amak dalam novelku “Pengantin Fort van der Capellen" itu adalah Bunda. Itu cara paling tepat menuntunku menyelesaikan cerita asmara Urang Rantai dalam novel “Pengantin …." Nah, sebenarnya pengaruh logat Minang padaku mungkin lebih kuat terbaca pada novel ini.|

Sisa sarapanku tinggal satu dua suapan saja. Kuah soto pun sudah tinggal suam-suam kuku rasanya. Tapi, obrolan kami makin panas, naik levelnya saat laki-laki ini mengaku sebagai penyuka sejarah, sedangkan sebelumnya aku mengaku guru Sejarah Kebudayaan Islam di madrasah saat mengenalkan profesiku.

“Saya tidak paham dengan fenomena Khawarij. Empat khalifah, tiga wafat karena terbunuh,” katanya.

Deg! Wah, ribet ini.

Jadilah di penghujung sarapan soto Madura pagi itu kental dengan nuansa Sejarah Islam. Kami berbincang seputar konflik di akhir kekhalifahan Sayyidina Utsman bin Affan radhiyallahu anhu sampai akhir kekhalifahan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu meskipun hanya potongan-potongan major konflik itu dibincangkan. Tampak laki-laki itu kurang puas dengan jawaban-jawabanku.

Aku menangkap, dia cukup menguasai topik yang kami bincangkan, berbanding lurus dengan pengakuannya sebagai penyuka sejarah. Atau jangan-jangan, dia itu “Guru Besar Sejarah Islam” yang menyamar, mengaku-ngaku sebagai bekas pegawai yang mengurus urusan transmigrasi di Sijunjung. Ah, biarlah.

Aku menutup perbincangan dengan statemen bahwa kita tidak akan bisa sepenuhnya memahami konflik yang melibatkan para sahabat mulia itu lalu menyatakan bahwa mereka telah berbuat keliru. Sekali-kali tidak bisa.

“Terlalu sedikit latar belakang terjadinya konflik itu yang kita ketahui hanya dari informasi buku sejarah yang kita baca. Kita tidak hadir saat konflk itu pecah. Sementara, situasi dan peristiwa yang banyak dan tidak tertulis di baliknya boleh jadi menjadikan kita keliru dalam mengambil sebuah kesimpulan tentang mereka,” kataku.

Dalam hati aku berkata, kebanyakan kita jatuh pada kesalahan karena sedikit tahu, tapi bicara banyak seolah menjangkau semua hal.

Konflik yang melibatkan para sahabat mulia yang terjadi pada masa itu adalah fakta. Akan tetapi, larangan mencela para sahabat bukan sekadar fakta, melainkan adab kepada generasi terbaik itu yang diajarkan baginda Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Aku tatap wajah laki-laki itu. Aku lempar senyum, berusaha agar tetap meninggalkan kesan hangat di akhir perbincangan. Dia membalasnya sambil mengangguk.|

Depok, Ahad 08 Desember 2024.
Akhir pekan yang basah, sibuk, dan teringat Bunda tiap Desember hadir dengan guyuran hujan.

Rabu, 04 Desember 2024

Persahabatan dan Tragedi Moral Rousseau



Persahabatan. Ilustrasi dari : https://darussalam.id/

Meskipun begitu, Rousseau tetap dipuji sebagai tokoh besar. Begitulah nilai yang berlaku di Barat di mana kesesuaian ilmu dan akhlak pada diri seseorang bukan hal yang terlalu penting untuk dibincangkan dan dipersoalkan.

***

Teringat lagi pada satu peristiwa kecelakaan. Ditolong oleh orang yang sangat aku kenal. Waktu itu hari Sabtu, hari pengambilan raport pada pukul 08.00 pagi. Namun, ada Wali Murid minta bertemu lebih pagi dari jadwal karena ada keperluan lain. Qadarullah, karena kecelakaan itu agenda bertemua Wali Murid di sekolah dibatalkan.

Bersyukur sekali saat kecelakaan itu terjadi ditolong orang yang sangat aku kenal. Hanya saja dia yang menolong, sama sekali belum “ngeh” siapa orang yang sedang ditolongnya. Barulah setelah beberapa saat saling menatap dan aku menyapanya, dia kaget, lalu berseru sambil menyebut namaku.

“Ya Allah!“ pekiknya kemudian.

Dulu, kami satu almamater. Sama-sama punya minat pada seni tilawah. Hanya beda kelas saja. Juga beda dalam supel. Dia pandai membaur dengan siapa saja teman seangkatan, sedang orang yang ditolongnya ini agak kurang pandai.

Sejak lulus pada 1991, nyaris tidak pernah bertemu. Mungkin ada sekali dua kali pertemuan itu. Hanya saja terlupakan di mana ia berlangsung karena tertimbun kesibukan yang susul menyusul. Tapi, kebaikannya pada saat kecelakaan itu tidak bisa dilupakan. Bagaimana mungkin melupakan kebaikan orang pada diri kita apalagi kebaikan dari sahabat karib?

Rousseau pernah berkata dan dikutip banyak orang. “What wisdom can you find that is greater than kindness?” Kebijaksanaan apa yang dapat Anda temukan yang lebih besar daripada kebaikan? Demikian bila kata-kata Rousseau itu diterjemahkan soal kebijaksanaan dan kebaikan.|


Boleh jadi banyak orang mengenal bahwa Jean Jacques Rousseau (1712 - 1778) adalah seorang filsuf, penulis, dan komposer asal Republik Geneva (Swiss modern). Namun, boleh jadi belum banyak yang tahu bahwa Rousseau punya catatan kelam soal moral.

Dalam buku “Intellectuals”, Paul Johnson —dikutip Adian Husaini dalam “Wajah peradaban Barat” —menyebut Rousseau sebagai “manusia gila yang menarik” (an interesting man). Saat berusia 15 tahun, pada 1728, Rousseau rela menukar agamanya menjadi Katolik agar dapat menjadi peliharaan Madame Françoise-Louise de Warens.

Meskipun begitu, Rousseau tetap dipuji sebagai tokoh besar. Begitulah nilai yang berlaku di Barat di mana kesesuaian ilmu dan akhlak pada diri seseorang bukan hal yang terlalu penting untuk dibincangkan dan dipersoalkan.

Boleh juga disinggung sedikit siapa Françoise-Louise de Warens itu. Pada laman en.wikipedia.org, Françoise-Louise de Warens digambarkan sebagai dermawan dan kekasih dari Jean-Jacques Rousseau (mistress of Jean-Jacques Rousseau). Meskipun awalnya Warens adalah seorang guru bagi Rousseau, mereka terlibat secara seksual setelah secara terbuka Warens memperkenalkan Rousseau pada urusan cinta dan "keintiman".

Warens penganut Protestan. Pada 1726 ia memilih menjadi seorang Katolik Roma demi uang pensiun gereja. Uang pensiun itu dimanfaatkan untuk meningkatkan penyebaran Katolik Roma di sekitar Jenewa yang saat itu merupakan benteng Protestan. Sementara, Rousseau memilih menjadi Katolik untuk berkhidmat sebagai “Madam's pet man”-nya Françoise-Louise de Warens.|


Boleh jadi, ungkapan “What wisdom can you find that is greater than kindness?” terdengar kontradiktif sebab quote itu diucapkan seorang Rousseau. Akan tetapi, sulit untuk menyangkal bahwa kebaikan memang kebijaksanaan yang paling besar. Bagaimana mengukurnya?

Sederhana, putarlah memori di mana Anda pernah merasakan kebaikan orang. Adakah kebijaksanaan yang lebih besar dari nilai sebuah kebaikan yang Anda rasakan saat itu?|


Senin sore kemarin, masuk pesan WA mengabarkan ada teman sedang sakit. Terkejut juga membaca kabar soal sakitnya. Seberat itukah? Saat itu juga, ingatan pada kecelakaan sepuluh tahun lalu seperti suara bisikan di bibir telinga.

Gerimis masih belum reda. Rinai-rinai hujan yang diameternya hanya sepanjang 0.5 mm itu, tak urung pula membasahi tanah. Barangkali, tanah pun merasa nyaman dimanjakan rinai senyaman kita merasakan usapan pada punggung di kala lelah.

Angin menjelang Isya berembus mengiring titisan rinai. Rasanya ingin menarik selimut dan berkemul saja karena dingin dan titisan itu mengundang kantuk. Tapi, bayangan dia yang tergolek tidak bisa menunda untuk menjenguknya.

Maka, selepas menunaikan urusan umat, kebahagiaan pada sepuluh tahun yang lalu itu berulang saat kami bertemu meskipun malam sudah mulai larut. Dia yang terbaring dan aku duduk sama-sama merasakan bahwa persahabatan dan kebaikan itu melegakan meskipun rasanya dunia ini semakin sempit. Mungkin ada benarnya ucapan Maria Shriver: “When the world is so complicated, the simple gift of friendship is within all of our hands,” bahwa, “Ketika dunia begitu rumit, hadiah sederhana berupa persahabatan ada di tangan kita semua.”

Lekas pulih ya, Bang Ustaz sahabat saya. Biar bisa "goes" lagi. Selamat menikmati Biografi Sang Inovator, seniormu saat di Tsanawiyah dahulu. Siapa tahu jadi motivasi mempercepat kepulihanmu, harapanku dan semua sahabatmu. Aamiin.

Ciputat, Rabu, 04 November 2024.

Jumat, 01 November 2024

Hilf al-Fudhul di Tanah Jawa; Refleksi Milad Ke-122 Muhammadiyah

Tokoh Muhammadiyah, Tokoh Pergerakan, dan Pahlawan. Sumber gambar: https://www.unisayogya.ac.id/

Melintas Zaman

Pada 18 November 2024 tahun ini, Muhammadiyah genap berusia 112 tahun menurut hitungan kalender Miladiyah. Dalam perjalanan sejarah bangsa ini, Muhammadiyah sudah melintas zaman. Organisasi ini tetap kokoh seperti batu karang. Meski diterpa empasan angin politik, budaya, modernisme, dan berbagai paham yang mengepung masyarakat bangsa, Muhammadiyah bergeming dari jati dirinya yang autentik sebagai gerakan dakwah amar ma'ruf nahi munkar sepanjang usianya sekarang.

Muhammadiyah lahir di era Penjajahan dan Kolonialisme (1700-1945), terus bertumbuh pada era Pergerakan (1908-1928), tetap berkembang pada masa Pendudukan Jepang (1943-1945), semakin berkibar di era Mempertahankan Kemerdekaan (1945-1949), tidak luntur di era RIS dan Demokrasi Liberal (1949-1959), tetap istiqomah di Zaman Demokrasi Terpimpin (1959-1966), semakin menggembirakan anak bangsa di Zaman Orde Baru (1966-1998), dan tetap setia pada khittah-nya di era Reformasi dengan semangat berkemajuan yang diusungnya.

Umumnya, nama-nama besar seperti Ir. Soekarno, Jenderal Soedirman, Ir Djoeanda, KH Fachrudin, Buya Hamka, Gatot Mangkoepradja, KH Mas Mansoer, Ki Bagus Hadikoesoemo, Kasman Singodimedjo, Abdul Kahar Muzakkir, dan banyak lagi nama-nama besar itu disebut dalam sejarah Pergerakan Nasional di lingkungan Persyarikatan. Mereka membawa spirit jihad KH Ahmad Dahlan, menjadi wakaf Muhammadiyah untuk negeri yang sudah disemai pendirinya pada 1912.

Akan tetapi, tentu para da’i Muhammadiyah di garis depan tidak kalah besar perannya. Mereka turut “mengawetkan” Muhammadiyah di ranting-ranting melintas zaman. Meskipun nama-nama mereka tidak tertulis dalam lembaran sejarah pergerakan, namun militansi menjadi penghubung transmisi pergerakan Muhammadiyah sejak masa kolonialisme tidak terputus hingga sekarang. Lagi pula, tertulis atau tidak nama sendiri bukan perkara penting bagi mereka asalkan api dakwah Muhammadiyah tetap menyala.

Hilf al-Fudhul

Dalam Sirah Nabawiyah, Hilf al-Fudhul menjadi poin menarik disinggung untuk menjawab keraguan sebagian warga Persyarikatan yang menjadi korban infiltrasi dari manhaj yang mengharamkan organisasi sebab ia dianggap barang bid’ah. Alasannya simpel betul: “pada masa Nabi SAW tidak ada organisasi”. Ya, sekilas tampak betul alasan itu, betul. Akan tetapi sadarkah pikiran kita, bahwa prinsip-prinsip atau tata kerja layaknya organisasi hidup berdampingan dengan Rasulullah sepanjang era kenabian. Did the Prophet Muhammad shallallahu alaihi wa sallam not organize during the battles of Badr, Uhud, or Khandaq?

Hilf al-Fudhul semacam persyarikatan yang dibentuk kabilah dari Bani Hasyim, Bani Al-Muthalib, Bani Asad bin Abdul ‘Uzza, Bani Zuhrah bin Kilab, dan Bani Taim bin Murrah pada 591 M. Hampir tidak ada kitab sirah yang tidak menyinggung soal Hilf al-Fudhul ini. Dideklarasikan di rumah Abdullah bin Jud’an at-Taimi. Orang-orang Quraisy itu saling berjanji dan berikrar bahwa tidak akan ada seorang pun yang teraniaya di Makkah, baik penduduk asli maupun orang yang datang dari luar, kecuali mereka akan berdiri di sisinya dan mendukungnya hingga haknya dikembalikan kepadanya.

Bermula dari seorang pria asing yang datang ke Makkah membawa barang dagangan. Barang dagangan tersebut dibeli oleh Al-‘As bin Wa’il, namun al-‘As bin Wa’il menolak memberikan pembayaran yang seharusnya. Pria asing itu pun meminta bantuan penduduk Makkah; sebagian dari mereka menolongnya, sementara yang lain tidak. Mereka yang mendukungnya kemudian pergi menemui Al-‘As bin Wa’il dan mengambil kembali hak pria tersebut darinya. Setelah itu, beberapa kabilah Quraisy berkumpul di rumah Abdullah bin Jud’an dan berjanji untuk menolong siapa pun yang tertindas di Makkah, dari mana pun asalnya, dan memastikan agar keadilan ditegakkan untuk mereka.

Perjanjian ini dianggap sebagai salah satu perjanjian yang paling mulia dan terhormat yang dikenal oleh bangsa Arab. Dideklarasikan pada bulan Dzulqa’dah, salah satu bulan suci dari bulan-bulan Haram. Al-Zubair bin Abd al-Muththalib adalah yang pertama kali mengajak dan menyerukan perjanjian ini. Quraisy menamai perjanjian ini dengan nama Hilf al-Fudhul (Perjanjian Keutamaan).

Keterlibatan Nabi Muhammad SAW

Hilf al-Fudhul berlangsung sebelum bi’tsah. Muhammad berusia 20 tahun saat itu dan belum diutus sebagai rasul. Beliau hadir di rumah Abdullah bin Jud’an saat deklarasi pada 591 M. KH. Moenawar Chalil menyebut beliau menjadi anggota Hilf al-Fudhul. Bahkan, dalam buku Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad ï·ș, jilid 1 halaman 78, Kiai Chalil menyebut Hilf al-Fudhul sebagai ”Organisasi”.

Setelah era kenabian, Abdurrahman bin ‘Auf memberi kesaksian sebagaimana riwayat Imam Ahmad. Kata Nabi shallallahu alaihi wa sallam, “Aku menyaksikan hilf al-Fudhul bersama paman-pamanku sedangkan aku masih kecil. Tidaklah aku sukai bila aku mempunyai unta merah, tapi harus membatalkan sumpah ini”.

Demikian pula dalam riwayat Imam al-Baihaqi, Ibnu Katsir, dan al-Qurtubi, Nabi shallallahu alaihi wa sallam menyatakan: ”Aku menyaksikan Hilf al-Fudhul di rumah Ibnu Jud'an. Ini lebih aku sukai daripada mendapatkan unta merah. Jika aku diajak seperti itu di saat islam sudah ada, maka akan aku penuhi.”

Dari beberapa keterangan tentang Hilf al-Fudhul dari kitab-kitab sirah serta riwayat-riwayat yang diketengahkan tentang persekutuan ini di dalam sirah, maka anggapan bahwa organisasi merupakan barang bid’ah sebab pada masa Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak ada organisasi menjadi gugur dengan sendirinya.

Hilf al-Fudhul di Tanah Jawa

Muhammadiyah didirikan KH Ahmad di tanah Jawa, tepatnya Kauman, Yogyakarta. Hasil dari interaksi, renungan, dan penghayatan KH Ahmad Dahlan pada ajaran Islam yang sebenar-benarnya dalam bidang sosial melahirkan apa yang dikenal di belakang hari dengan gerakan atau Teologi Al-Maun. Gerakan Al-Ma’un yang digagas KH Ahmad Dahlan benar-benar menggerakkan jiwa sosial untuk pemberdayaan fakir miskin yang fokus pada pemeliharaan dan pendidikan pada kaum dhuafa. Kelak, tafsir-tafsir demikian itu mengkristal dalam jiwa gerakan Muhammadiyah.

Pengajaran dari tafsir gerakan Al-Ma’un KH Ahmad Dahlan saat itu bersifat aktual, aplikatif, dan kontekstual. Beliau menafsirkan makna kemiskinan tidak sebatas pada kemiskinan sandang, pangan, dan papan, tetapi juga kemiskinan ilmu, perhatian atas kasih sayang, dan kesehatan kaum dhuafa. Tafsir model ini melahirkan sistem pendidikan baru dan lembaga-lembaga pendidikan yang digagas KH Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyah-nya sejak zzaman kolonialisme. Panti-panti asuhan, rumah jompo, dan layanan kesehatan pun berdiri di bawah PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem) pada 15 Februari 1923. Sebulan sebelumnya, tepatnya pada 13 Januari 1923, Muhammadiyah lebih dahulu mendirikan rumah pelayanan bagi orang miskin dan terlantar.

HM Soedja’, salah satu murid kepercayaan KH Ahmad Dahlan adalah sosok di balik hadirnya layanan-layanan di atas. Ia menjadi capaian tertinggi peninggalan terakhir jejak pembaharuan KH Ahmad Dahlan karena tidak lama setelah itu, pada tanggal 23 Februari 1923 KH Ahmad Dahlan berpulang ke haribaan Allah Yang Maha Tinggi.

Bila di Makkah ada Al-Zubair bin ‘Abd al-Muththalib yang tidak suka pada kezaliman bangsawan Makkah yang semena-mena sehingga melahirkan Hilf al-Fudhul, di tanah jawa ada KH Ahmad Dahlan yang juga tidak bisa berpangku tangan menyaksikan dampak feodalisme di tanah Jawa dan melahirkan Muhammadiyah, 1321 tahun setelah deklarasi Hilf al-Fudhul di rumah Abdullah bin Jud’an at-Taimi di Makkah. Ada Muhammad muda saat deklarasi Hilf al-Fudhul. Sementara KH Ahmad Dahlan mengambil nama “Muhammadiyah” untuk gerakan pembaharuannya.

Maka, bolehlah Muhammadiyah itu disebut Hilf al-Fudhul di Tanah Jawa yang memiliki kesamaan cita-cita pada perlindungan orang-orang yang lemah dan terzalimi secara politik, ekonomi, dan budaya. Organisasi ini dideklarasikan Pada 18 November 1912 di sebuah rumah di Kampung Kauman yang populer disebut orang “Pendopo Tabligh”. Pendopo Tabligh sering digunakan tempat berkumpul masyarakat Kauman yang mendukung pemikiran dan gagasan-gagasan KH Ahmad Dahlan.

Hari ini, dengan daya tahan yang luar biasa, Muhammadiyah bahkan sudah menjelma menjadi Hilf al-Fudhul nusantara bahkan Hilf al-Fudhul dunia dengan lahirnya Cabang-cabang Istimewa Muhammadiyah di seantero dunia, termasuk Saudi Arabia tempat kali pertama lahirnya organisasi Hilf al-Fudhul.

Selamat Milad ke-112 Muhammadiyah.

Ciputat, 01 November 2024.
Dari Bilik Renungan Kader Biasa Saja.