A homepage subtitle here And an awesome description here!

Minggu, 18 Agustus 2024

Muhammadiyah Dalam Buku Yudian Wahyudi

Buku Gerakan Wahabi Di Indonesia. Sumber gambar : Wira Bachrun dalam https://www.facebook.com/


“Penjual” Wahabi

Yudian Wahyudi banyak dibincangkan lagi sebab kasus jilbab Paskibraka 17 Agustus 2024 kemarin. Tulisan ini bukan untuk mengangkat lagi soal jilbab Paskibraka. Tapi soal lain. 

Rupanya, Yudian Wahyudi sempat jualan Wahabi selain "ngusilin" jilbab, cadar, dan agama yang ditudingnya musuh Pancasila. Jualan Wahabinya ini bisa dibaca pada Bukunya berjudul “Gerakan Wahabi Di Indonesia (Dialog dan Kritik)”.

Memang, dalam buku itu Yudian tidak sendirian. Ini buku keroyokan di mana Yudian berperan sebagai editor dan pemrakarsa penelitian. Kontributornya ada Agus Moh Najib, M.Ag., DR. Hamidah, M.A, Mansur, M.Ag, Khairul Anam, M.SI, Syaifudin Zuhri, M.A, dan Kasinyo Harto.

Sewaktu melamar untuk menjadi dosen di Tuft University Massachuset, Yudian mengaku mempresentasikan karya ilmiah berjudul "The Waves of Wahhabism in Indonesia" di hadapan dewan penguji. Artinya, jualan Wahabi Yudian sampai jauh, sampai ke Amerika, 25. 697 km dari Jakarta untuk jualan Wahabi.

Dalam bukunya “Gerakan Wahabi Di Indonesia (Dialog dan Kritik)” yang terbit pada 2009 ini, Yudian menyebut bahwa gerakan Wahabi di Indonesia diwakili oleh: Sarekat Islam, Muhammadiyah, Persatuan Islam, dan Al Irsyad (hlm. 234-235). Sedangkan Muhammadiyah dicapnya sebagai Wahabi karena Muhammadiyah tidak tahlil dan tidak Barzanji (hlm. 84-125).

Tesis dan asumsi Yudian dan Tim-nya menggelikan. Katanya, Wahabisme itu ancaman bagi NKRI. Wahabi “dinyanyikan” seolah-olah ia negara api yang berpotensi menghanguskan negara dan bangsa ini. Berarti, Muhammadiyah ancaman NKRI dong? Alasannya karena Muhammadiyah tidak tahlil dan tidak Barzanji. Sesimpel itu?

Muhammadiyah memang tidak membaca tahlil, dalam arti melakukan ritual “tahlilan” dan "Barzanjenan". Akan tetapi, sejak kapan Muhammadiyah mengancam NKRI? Kok, kesannya tidak tahlilan dan tidak Barzanjenan seolah perbuatan makar?

Pengalaman Haji Fahcrodin dan Haji Syuja’

Dituduh Wahabi, Muhammadiyah sih woles saja. Jauh sebelumnya, Muhammadiyah memang sudah dicap Wahabi. Jadi sudah kebal. Yudian hanya memutar ulang kaset lama saja. Kaset lama itu biasanya pitanya gampang kusut. Bila diputar, suara biduannya "mberekbek".

Pada 1921, Haji Fachrodin mendapat tugas dari Hoofdbestuur (Pengurus Besar) Muhammadiyah untuk menyelidiki kondisi perjalanan jamaah haji dari tanah air. Di Makkah, utusan Muhammadiyah ini dibawa menghadap Syarif Husein, penguasa Makkah saat itu. Buat apa? Buat ditanya-tanya untuk mencocokkan tuduhan bahwa Muhammadiyah adalah Wahabi.

Selama di Makkah ini, tahulah Haji Fachrodin bahwa Muhammadiyah sudah dituduh sebagai gerakan Wahabi dari tanah Jawa oleh kiai-kiai nusantara yang sudah lama mukim di Makkah dan menjadi pembantu Syarif Husein. Dan, sebagai jurnalis, Haji Fachrodin tidak melewatkan pengalaman uniknya ini. Ia merekam perjalanan dan pengalamannya selama di Makkah dalam catatan “Verslag Saja Selama Bepergian ke Mekkah.”

Setahun kemudian pada 1922, giliran Haji Syuja’ mendapati hal yang sama. Selain diutus untuk urusan haji oleh KH Ahmad Dahlan, Haji Syuja’ mengemban misi memberi penjelasan kepada para ulama di tanah suci tentang gerakan Muhammadiyah.

Selama di Makkah, Haji Syuja’ tinggal di rumah KH Muh. Baqir ibnu Noor, keponakan KH Ahmad Dahlan yang telah lama menetap di Makkah. Saat itulah datang KH Abdul Muhid menemui Haji Syuja’ di rumah Kiai Baqir.

KH Abdul Muhid ini kiai kelahiran Sidoarjo, bermazhab Syafi’i, dan telah sepuluh tahun menetap di kampung Syamiyyah. Kiai ini salah satu dari pembantu Syarif Husein. Kedatangannya menemui Haji Syuja’ rupanya bermaksud menyelidik paham keagamaan Muhammadiyah, apakah sejalan dengan paham Wahabi atau tidak. Sebab dalam pandangannya, Muhammadiyah telah keluar dari mazhab yang empat (al-madzahib al-arba’ah).

Sadarlah Haji Syuja’ bahwa KH Abdul Muhid itu bagian dari mata-mata pemerintah Makkah yang sedang menyelisik lagi soal Muhammadiyah. Lalu, Haji Syuja’ menyodorkan Statuten (Anggaran Dasar) Muhammadiyah untuk menjelaskan hakikat Muhammadiyah.

Tuduhan Di Arena Konggres

Pada 31 Oktober hingga 2 November 1922, digelar Konggres Al-Islam Hindia pertama. Konggres diselenggarakan di Cirebon. Bagi Haji Fachrodin, Konggres ini menjadi ajang pembelaannya kepada KH Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah.

Pada Konggres ini, lagi, Muhammadiyah dituduh sebagai Wahabi. Tuduhan itu datang dari KH Asnawi, salah satu tokoh ulama tradisional yang hadir berdua bersama KH Abdul Wahab Chasbullah mewakili Taswirul Afkar dari Surabaya.

KH Asnawi menuding nama Dahlan sebagai tokoh sesat sebagaimana yang katanya termaktub dalam kitab karangan Kyai Bisri Solo. Selain menuduh pendiri Muhammadiyah sebagai ulama sesat, KH Asnawi juga menuduh Muhammadiyah sebagai gerakan Wahabi yang pada saat itu tengah tumbuh di tanah suci.

Haji Fachrodin yang menjadi utusan Muhammadiyah menyangkal tuduhan-tuduhan itu dengan bukti-bukti yang tidak terbantahkan. Tokoh Muhammadiyah ini menyodorkan kitab karangan Kiai Bisri Solo ke hadapan KH Asnawi, kitab yang disebut KH Asnawi menjadi dasar tuduhan sesat kepada KH Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah. Dimintalah kiai dari Kudus ini menunjukkan pada bab apa dan halaman berapa tuduhan itu bisa ditemukan dalam kitab itu.

Blas! KH Asnawi tidak dapat menunjukkan bab dan halaman yang menjelaskan kesesatan KH Ahmad Dahlan dan ke-Wahabi-an Muhammadiyah. Selanjutnya, Haji Fachrodin mengambil kesempatan itu untuk menjelaskan kepada peserta vergadering (rapat) bahwa tuduhan yang dialamatkan kepada pendiri Muhammadiyah itu adalah omong kosong belaka.

Saudara kandung Haji Syuja’ ini merekam pembelaannya dalam laporan yang dimuat dengan judul “Verslag Oetoesan ke Cirebon Perloe Mengoendjoengi al-Islam Congres” oleh Soewara Moehammadijah no. 12/Th. ke-3/1922.

Wahabi Dekat dengan Yahudi

Bila Muhammadiyah dituduh Wahabi, Wahabi dituduh sebagai anak kandung Yahudi. Berarti, bila kacamata Yudian Wahyudi dipakai untuk menyelisik genealogi Muhammadiyah, kesimpulannya Muhammadiyah itu cicit Yahudi. Kan, begitu relasinya.

Isenglah jemari ini mengetik keyword “Wahabi Yahudi” di YouTube. Serta merta, video ceramah yang menyebut demikian lumayan banyak. Ya, sudahlah, benar tidaknya itu urusan yang menuduh dan yang dituduh.

E tapi, media memberi tahu bahwa yang menjalin hubungan dengan Yahudi bukan Wahabi. Siapa-siapa yang menyambangi dan menjabat erat tangan Zionis di saat rakyat Palestina dibantai adalah mereka yang kerap membaca tahlil dan Barzanji. Ini yang salah pasti media, ni. Pasti si media!

Rekam Jejak

Simon Wiesenthal Center, LSM internasional yang didirikan untuk melindungi umat dan kepentingan Yahudi di seluruh dunia pernah memberi medali penghargaan kepada Gus Dur, Medal Of Valor. Haaretz, media berbasis Israel sempat menggambarkan kehebatan Gus Dur dengan mengatakan, "Teman Israel di Dunia Islam". Gus Dur jelas bukan Wahabi.

Pada 2018, Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya juga pergi ke negeri Zionis bersalaman dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Kedatangan Gus Yahya menurut pengakuannya memenuhi undangan menjadi pembicara di The David Amar Worldwide North Africa Jewish Heritage Center untuk membela kepentingan Palestina.

Kehadiran Gus Yahya ini konon difasilitasi American Jewish Committee (AJC), organisasi advokasi Yahudi tertua, dekan organisasi Yahudi Amerika. Gus Yahya juga jelas bukan Wahabi.

Bulan kemarin Zainul Maarif, Munawir Aziz, Sukron Makmun, Nurul Bahrul Ulum, dan Izza Annafisah Dania kader dari sayap-sayap organisasi Gus Yahya juga berkunjung ke Israel bertemu Presiden Israel Isaac Herzog pada pada 3 Juli kemarin. Keberangkatan mereka, konon juga difasilitasi AJC.

Di saat yang bersamaan kunjungan Zainul dan sedulurnya, Israel masih gencar melancarkan genosida yang membunuhi ribuan penduduk Gaza, Palestina. Jelas, kelima orang ini bukan Wahabi. Pastilah juga rajin tahlil dan membaca Barzanji.

Jadi, kan menggelikan. Sebenarnya, siapa sih yang dekat dengan Yahudi itu?

Musuh Wahabi

Wahabi memang dilabeli banyak stigma. Satu waktu disebut kelompok radikal, lain waktu fundamentalis, berikutnya kelompok garis keras. Intinya sama, Wahabi itu musuh bagi pihak yang tersinggung dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab.

Tidak dipungkiri, salah satu alasan mengapa Wahabi disebut garis keras karena Wahabi “mengganggu” kepentingan pemuja kuburan, pengamal khurafat, pengagum tahayul, dan pelaku bid’ah. Ini salah satu faktor saja. Wahabi memang keras dalam urusan ini.

Lalu, siapa musuh Wahabi sebenarnya? 

Buya HAMKA menyebut, musuh Wahabi ada yang datang dari dalam kalangan Islam sendiri, yakni Kerajaan Turki, Kerajaan Syarif di Makkah, dan Kerajaan Mesir bila dilihat pada kurun awal abad 20. Kok bisa begitu? Ya, bisa saja.

Muhammad bin Sa’ad Asy-Syuwai’ir dalam bukunya "Wahabi Dan Imperialisme" menyebut kolonialisme termasuk musuh Wahabi. Para penjajah memanfaatkan isu Wahabi untuk melemahkan kaum muslimin dengan menanamkan kebencian kepada dakwah tauhid Muhammad bin Abdul Wahhab. Maka, tidak heranlah kita bila Kolonialis Inggris menggulirkan isu Wahabi di India, Perancis menggulirkan isu Wahabi di Afrika Utara, dan Italia mengipaskan tuduhan Wahabi di Libya.

Di Indonesia juga demikian. Belanda menuduh Imam Bonjol yang mengobarkan perang Paderi sebagai kelompok yang beraliran Wahabi. Isu ini digunakan tidak lain untuk membendung pengaruh Wahabi yang mengobarkan jihad melawan imperialisme di masing-masing negeri Islam. Demikian analisis Asy-Syuwai’ir. 

Lalu, yang paling empuk tentu Saudi. Saudi dituding sebagai negeri Wahabi. Sebenarnya ini dendam sejarah, sebab Syarif Husein yang benci Wahabi turun takhta ditumbangkan Ibnu Saud –buyut moyang raja Saudi Arabia yang sekarang– pada 1924. Dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab memang diberi ruang gerak oleh Ibnu Saud. Jadilah Saudi ikut-ikutan dibenci banyak orang karena Wahabi, Wahabi itu antek Yahudi, dan seterusnya. 

Akan tetapi, wkwkwkwkwkwk. Giliran ibadah haji atau umrah, orang yang getol mencela dan menyudutkan Wahabi pun, datangnya ke Saudi juga.

Ah, itu tidak penting. Yang penting Muhammadiyah itu Wahabi. Titik! Begitulah buku Yudian Wahyudi berbicara.

Depok, 18 Agustus 2024.
Tulisan iseng Malam Senin usai ngaji bareng PRM Pulo.

Kamis, 15 Agustus 2024

Berisik Soal Jilbab Paskibraka

Ilustrasi Paskibraka. Sumber gambar : https://id.pinterest.com/

Dalam konteks ini, anggapan bahwa Al-Qur’an itu suci adalah keliru. Kesucian yang dilekatkan pada Al-Qur’an (juga kitab lain) adalah “kesucian palsu” –psudo sacra. Tidak ada teks yang secara ontologis itu suci.
Yudian Wahyudi dan Kontroversi
BPIP, atau Badan Pembinaan Ideologi Pancasila dikepalai Yudian Wahyudi. Ingat Yudian Wahyudi, ingat polemik sebuah disertasi doktor di UIN Sunan Kalijaga tentang konsep "Milk al-Yamin". "Milk al-Yamin" adalah konsep keabsahan hubungan seksual non-marital atau di luar pernikahan yang digagas Syahrur.

Dewan penguji meluluskan disertasi yang ditulis Abdul Aziz ini dengan nilai sangat memuaskan. Namun, bukan berarti serta merta sepakat konsep "Milk Al-Yamin" bisa diterapkan di Indonesia. Oleh Yudian Wahyudi, konsep ini dianggap tidak cocok diterapkan di Indonesia, khususnya Umat Islam atau bangsa Indonesia secara keseluruhan. Terus, di luar Umat Islam Indonesia cocok begitu?

Sewaktu masih menjabat Rektor UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta –selain soal disertasi Abdul Aziz– pada medio 2018, Yudian Wahyudi pernah membuat kebijakan melarang penggunaan cadar bagi mahasiswinya di kampus. Sepertinya, mahasiswi bercadar di UIN Sunan Kalijaga di mata Yudian Wahyudi dikategorikan mahasiswi yang butuh penanganan khusus. Rektor UIN ini telah membentuk tim konseling atau pendampingan bagi mahasiswi bercadar dalam tujuh tahapan untuk mengawal aturan yang dikeluarkannya.

Dalam catatan media, BPIP di tangan Yudian Wahyudi pun sering membuat kontroversi. Sasarannya, lagi-lagi menusuk jantung keyakinan. Entah sampai kapan lembaga ini digunakan untuk memainkan isu-isu sensitif, terutama keyakinan umat Islam atas nama Pancasila.

Pada Februari 2020, Yudian Wahyudi menyampaikan pernyataan tendensius. Ia mengatakan ada kelompok yang mereduksi agama sesuai kepentingannya sendiri yang tidak selaras dengan nilai-nilai Pancasila. Pernyataannya, “musuh terbesar Pancasila itu ya agama, bukan kesukuan” menuai kontroversi karena dianggap membenturkan agama dengan Pancasila dengan mengambil kasus paham Islam minoritas.

Pada momen memperingati Hari Santri Nasional 2021, BPIP kembali berulah. Lembaga ini mengadakan lomba penulisan artikel dengan mengangkat dua tema yakni 'Hormat Bendera Menurut Hukum Islam' dan 'Menyanyikan Lagu Kebangsaan Menurut Hukum Islam' dengan dalih pentingnya nilai-nilai keagamaan dalam menyikapi cinta tanah air.

Lomba ini memicu polemik dari berbagai kalangan. Buya Anwar Abbas gusar. Dengan kritik keras khasnya, Buya menilai lembaga pimpinan Megawati Soekarnoputri itu tidak memiliki kepekaan sosial di tengah pandemi Covid-19. Buya menyarankan agar BPIP dibubarkan saja.

Kali ini, jilbab Paskibraka jadi sasaran mainan isu BPIP. Anggota Paskibraka HUT ke-79 RI diminta melepas jilbab. Tak pelak, kebijakan ini memancing reaksi. BIP banjir kritik. Muhammadiyah bersuara. Aisyiyah bersuara. MUI dan berbagai Ormas juga bersuara keras. Dalih BPIP menggelikan, katanya pelepasan jilbab itu demi keseragaman.

Jilbab Dalam Pusaran Liberalisme
Dalam sejarah, aturan yang melarang mengenakan jilbab tidak lepas dari ideologi liberal alias paham kebebasan. Aneh memang. Liberal, tapi melarang kebebasan orang berjilbab. Pada kasus Turki menjadi negara sekuler misalnya, menggambarkan kasus ini sangat vulgar. Turki pada masa khilafah Utsmani, laki-laki muslim mengenakan Fez atau topi Turbus. Para muslimahnya mengenakan jilbab dan cadar. Namun, kebebasan berpakaian keagamaan itu berubah saat Atatürk yang nasionalis sekuler berkuasa pada rentang 29 Oktober 1923 hingga 10 November 1938.

Pada 3 Desember 1924, politisi dari Cumhuriyet Halk Partisi (Partai rakyat Republik) ini melarang perempuan Turki mengenakan jilbab dan cadar. Atatürk secara terang-terangan menyerang cara berpakaian perempuan Turki. Dalam setiap pidatonya, Atatürk secara terbuka menganjurkan agar para perempuan Turki mengenakan rok mini dan pakaian ala Barat. Rok mini dan pakaian ala Barat ini dipandangnya sebagai suatu keharusan. Bagi Atatürk, bangsa Turki modern tidak hanya harus berpikir rasional seperti orang Barat, tetapi juga harus meniru tatacara berperilaku dan berpakaian persis seperti orang Barat berperilaku dan berpakaian.

Keluarlah Undang-Undang yang melarang berpakaian agama oleh orang yang tidak memiliki jabatan agama. Undang-undang ini juga mewajibkan semua pegawai negeri sipil mengenakan pakaian stelan ala Barat. Lebih tegas lagi, Undang-undang yang dikeluarkan pada November 1925, di mana laki-laki Turki diwajibkan memakai topi dan pemakaian Fez atau Turbus dinyatakan sebagai sebuah kejahatan.

Virus Atatürk
Pasca reformasi di Indonesia, pada 2001 muncul kelompok liberal JIL (Jaringan Islam Liberal). Para pengasong JIL seperti terjangkit virus Atatürk yang getol sekali menawarkan liberalisme pemikiran, termasuk pemikiran sekuler yang menyentuh ranah agama.

Di antara produk pemikiran JIL dalam konteks jilbab, jilbab dipandang bukan syariat. Ia hanya budaya Arab. Maka, jilbab pun tidak wajib dikenakan muslimah. Ada lah, saya dengar dari kawan alumnus UIN Jakarta yang pernah sekelas dengan pentolan JIL ini di kampus. Di Jakarta jilbabnya dibuka. Pas pulang ke kampung bertemu orang tuanya yang kiai, jilbabnya dipasang lagi. Ini pentolan JIL, tapi liberalnya setengah hati. ’Gak liberal kaaffah.

Memang, terdapat ikhtilaf soal hukum jilbab ini. Itu soal lain. Melarang mengenakan jilbab itu soal yang lain pula. Siapa pun perempuan yang memegang pendapat jilbab bukan wajib seperti pendapat pangasong JIL, terserah. Mau lepas pasang seperti pentolan JIL itu, juga silakan. Itu sebuah pilihan. Tanggung jawab, urusan pribadi masing-masing.

Akan tetapi, melarang perempuan mengenakan jilbab, atau memerintahkan perempuan itu melepaskan jilbabnya, ini merenggut kebebasan berkeyakinan. Bagi bangsa kita, tindakan ini jelas bertentangan dengan Pancasila yang berdasar Ketuhanan serta prinsip Bhinneka Tunggal Ika.

Apabila dalih pelarangan itu adalah keseragaman, Bhinneka Tunggal Ika-nya di mana? Penyeragaman dengan berdalih semangat Bhinneka Tunggal Ika, pun keliru. Kebhinekaan menjamin keragaman, bukan? Maka, bila dalam satu komunitas ada yang berjilbab, ada yang tidak, itulah keragaman sebagai ekspresi keyakinan masing-masing.

Ada Sumanto di Paskibraka
Membaca postingan Sumanto Al-Qurtuby, kok seolah pengaruh paham liberal dalam kasus jilbab Paskibraka 2024 ini boleh dibilang tidak terlalu samar. Ya, karena salah satu alasannya ada kehadiran Sumanto Al-Qurtuby di sana. Dalam jagat liberalisme, siapa yang tidak kenal orang ini?

Pada laman Facebooknya tertanggal 15 Juli, liberalis dan penulis buku “Lubang Hitam Agama” ini menulis status: “Rasa capek belum hilang habis acara workshop dan diskusi maraton di Jogja langsung diminta BPIP untuk “menggemblung” eh “menggembleng” adik-adik Paskibraka, yang akan bertugas 17 Agustus nanti, di Cibubur, Jawa Barat. Urip kuwi jebule mung mampir ndobos.”

Rasanya, bila Sumanto “menggemblung” eh “menggembleng” soal teknik formasi baris-berbaris 68 anggota anggota Paskibraka Kelompok 17, Kelompok 8, dan Kelompok 45, kurang bisa meyakinkan publik. Apa orang yang mendaku antropolog ini mahir melatih formasi baris berbaris 17-8-45? Rasanya tidak. Lebih meyakinkan apabila Sumanto punya peran “menggemblung” eh “menggembleng” dari sisi ideologi.

Pemikiran Sumanto ini banyak dibincangkan rusaknya di kalangan kontra liberalisme. Bukunya Lubang Hitam Agama sarat dengan pemikiran liberal yang “menggemblungkan” kewarasan pemikiran. Kata Sumanto dalam buku itu; “Jika kelak di akhirat, pertanyaan di atas diajukan kepada Tuhan, mungkin Dia hanya tersenyum simpul. Sambil menunjukkan surga-Nya yang mahaluas, di sana ternyata telah menunggu banyak orang, antara lain, Jesus, Muhammad, Sahabat Umar, Ghandi, Luther, Abu Nawas, Romo Mangun, Bunda Teresa, Udin, Baharudin Lopa, dan Munir!” 

Entah, surga yang mana yang dimaksud Sumanto ini.

Pemikiran Sumanto yang lebih “menggemblungkan” saat terang-terangan menyerang Al-Qur’an. Ia menganggap Al-Qur’an hasil konspirasi jahat antara Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu dengan para penulis dan Al-Quran dianggap sebagai barang rongsokan yang sudah usang. Lebih “menggemblungkan” lagi, Sumanto mengarang bebas dengan narasi, “Dalam konteks ini, anggapan bahwa Al-Qur’an itu suci adalah keliru. Kesucian yang dilekatkan pada Al-Qur’an (juga kitab lain) adalah “kesucian palsu” –psudo sacra. Tidak ada teks yang secara ontologis itu suci.”

Seperti saya, boleh jadi Anda melongo membaca buah pikir Sumanto pada tulisannya yang lain. Misalnya soal seks bebas. Tulisannya berjudul ”Agama, Seks, dan Moral” yang dimuat dalam sebuah buku berjudul Jihad Melawan Ekstrimis Agama, Membangkitkan Islam Progresif (terbit pertama Oktober 2009) bisa-bisa membuat kening berkerut sambil berujar “kesambet setan apa ini orang.”

Kata Sumanto, “Saya rasa Tuhan tidak mempunyai urusan dengan seksualitas. Jangankan masalah seksual, persoalan agama atau keyakinan saja yang sangat fundamental, Tuhan – seperti secara eksplisit tertuang dalam Al-Qur'an – telah membebaskan manusia untuk memilih: menjadi mukmin atau kafir. Maka, jika masalah keyakinan saja Tuhan tidak perduli, apalagi masalah seks? Jika kita mengandaikan Tuhan akan mengutuk sebuah praktek ”seks bebas” atau praktek seks yang tidak mengikuti aturan resmi seperti tercantum dalam diktum keagamaan, maka sesungguhnya kita tanpa sadar telah merendahkan martabat Tuhan itu sendiri. Jika agama masih mengurusi seksualitas dan alat kelamin, itu menunjukkan rendahnya kualitas agama itu.

Katanya lagi, "Demikian juga jika kita masih meributkan soal kelamin –seperti yang dilakukan MUI yang ngotot memperjuangkan UU Pornografi dan Pornoaksi– itu juga sebagai pertanda rendahnya kualitas keimanan kita sekaligus rapuhnya fondasi spiritual kita. Sebaliknya, jika roh dan spiritualitas kita tangguh, maka apalah artinya segumpal daging bernama vagina dan penis itu. Apalah bedanya vagina dan penis itu dengan kuping, ketiak, hidung, tangan dan organ tubuh yang lain. Agama semestinya ”mengakomodasi” bukan ”mengeksekusi” fakta keberagaman ekspresi seksualitas masyarakat. Ingatlah bahwa dosa bukan karena ”daging yang kotor” tetapi lantaran otak dan ruh kita yang penuh noda. Paul Evdokimov dalam The Struggle with God telah menuturkan kata-kata yang indah dan menarik: ”Sin never comes from below; from the flesh, but from above, from the spirit. The first fall occurred in the world of angels pure spirit…”

Ini yang lebih "menggemblungkan", katanya, "Lalu, bagaimana hukum hubungan seks yang dilakukan atas dasar suka sama suka, “demokratis”, tidak ada pihak yang “disubordinasi” dan “diintimidasi”? Atau bagaimana hukum orang yang melakukan hubungan seks dengan pelacur (maaf kalau kata ini kurang sopan), dengan escort lady, call girl dan sejenisnya? Atau hukum seorang perempuan, tante-tante, janda-janda atau wanita kesepian yang menyewa seorang gigolo untuk melampiaskan nafsu seks? Jika seorang dosen atau penulis boleh “menjual” otaknya untuk mendapatkan honor, atau seorang dai atau pengkhotbah yang “menjual” mulut untuk mencari nafkah, atau penyanyi dangdut yang “menjual” pantat dan pinggul untuk mendapatkan uang, atau seorang penjahit atau pengrajin yang “menjual” tangan untuk menghidupi keluarga, apakah tidak boleh seorang laki-laki atau perempuan yang “menjual” alat kelaminnya untuk menghidupi anak-istri/suami mereka?"

Nah, orang dengan isi kepala seperti Sumanto ini diberi porsi untuk “menggemblung” eh “menggembleng” mental dan ideologi anggota anggota Paskibraka ini. Memang, belum tentu Sumanto yang meminta 18 anggota Paskibraka perempuan itu buat melepas jilbab mereka. Belum tentu, meskipun corak “gemblungannya” eh “gemblengannya” kuat diduga beraroma liberal seperti pemikirannya.

Akan tetapi, Paskibraka Aprilliya Putri Dwi Mahendra dari Maluku, Siti Janeeta Abdul Wahab dari Gorontalo, Zahra Aisyah Aplizya dari Sulawesi Tengah, Alysia Noreen Ramadhani dari kalimantan Tengah, Zahratushyta Dwi Artika dari Kalimantan Barat, Keynina Evelyn Candra dari DIY, Mutia Al Vanie dari Lampung, Amanda Aprillia dari Bengkulu, Kamilatun Nisa dari Riau, Rahma Azzahra dari Jambi, Maulia Permata Putri dari Sumatera Barat, Mutiara Wasilah dari Sulawesi Barat, Della Selfavia Azahra dari Kalimantan Selatan, Amna Kayla dari NTB, Indri Marwa Delvita Ahek dari Papua Barat, Sofia Sahla dari Jawa Barat, dan Dzawata Maghfura Z dari Aceh harus merasakan “gemblungnya” paham liberal yang menggusur jilbab mereka.

Efek Berisik di Medsos
Tekanan, kritik, dan efek berisik di Medsos efektif mempengaruhi sebuah kebijakan. Pengurus Pusat Purna Paskibraka Indonesia (PPI) termasuk yang paling keras mengkritik. Bahkan, Kesbangpol (Kesatuan Bangsa dan Politik) Aceh meminta menarik Paskibraka dari daerahnya. Hasilnya, BPIP tidak bergeming.

Boleh jadi, ada orang yang berpikir tidak sesimpel afektif atau tidak cara ini. Soal jilbab Paskibraka ini dipandangnya sebagai skenario kecil untuk melahirkan pahlawan. Sang pahlawan diyakini akan hadir di saat kegaduhan sudah memuncak. Siapa lagi kalau bukan sosok otoritatif. Ia berada pada barisan paling depan memihak para pengkritik dan turut meramaikan berisiknya Medsos. Ini soal lain, soal pikiran yang out of the box.

Siang ini, https://toraja.tribunnews.com/ merilis berita “Kontroversi soal Paskibraka Lepas Hijab, Kepala BPIP Minta Maaf”. Dalam beritanya, Kepala Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP), Yudian Wahyudi diberitakan mengizinkan anggota Paskibraka mengenakan jilbab saat bertugas pada Upacara HUT Ke-79 RI di Ibu Kota Nusantara (IKN). Yudian juga mengungkapkan permintaan maaf atas keputusan sebelumnya yang melarang Paskibraka mengenakan jilbab selama pengukuhan dan upacara kenegaraan. Syukurlah.

Efek berisik di Medsos sebagai bagian dari peran citizen journalism kerap memang mujarab. Ia penting untuk mengontrol kebijakan, termasuk kebijakan negara yang bertentangan dengan nilai-nilai keadilan, kesetaraan, dan kebebasan berekspresi yang bersumber dari ekspresi beragama dan berkeyakinan. Di sinilah pentingnya kekuatan kontrol dari citizen journalism ini. Maka boleh jadi, bila Medsos sunyi senyap dan semua orang tiarap, 18 Paskibraka itu benar-benar direnggut jilbabnya saat bertugas nanti.

Citizen journalism sebagai jurnalisme yang dilakukan oleh orang-orang yang bukan merupakan jurnalis profesional, perlu pula mengedepankan etika jurnalistik. Menghindari komentar yang bernuansa provokatif di Medsos atas sebuah peristiwa menjadi nilai standar yang harus diperhatikan. Meskipun geram kepada Yudian Wahyudi sudah sampai ubun-ubun, tahanlah jemari dari mengetik pesan provokatif. Maka, teruslah berisik di Medsos dengan baik untuk melawan kezaliman.

Depok, dua hari menjelang 17 Agustus 2024.
Dituntaskan sepulang dari Fatmawati.

Sabtu, 27 Juli 2024

Orang Pintar Yang Tidak Pintar

Jimat. Ilustrasi milik https://www.lines.id/


Elu mah, dikerjain orang ini tong!
Hari-hari ini terasa amat berat dijalani dia yang sedang sakit. Bagaimana tidak, sakit memakan fisik dan psikisnya berganti-ganti. Dia hanya mengeluh, merasakan nyeri, disertai sabar seraya berharap segera sehat kembali, ingin agar penyakit itu segera enyah dan tidak kembali lagi. Pengobatan terus diupayakan, namun tanda-tanda kesembuhan seakan mendekat sangat lambat. 

Adalah manusiawi, bahwa tidak ada dari manusia yang ingin jatuh sakit. Baik ringan, apalagi sakit yang berat. Begitu juga dia. Akan tetapi, sakit itu sunnatullah seperti juga sehat adalah sunnatullah. Karena itu, hampir tidak ada orang di dunia ini yang kebal dari sakit. Tidak pula mustahil, bahwa orang bisa sehat lagi seperti sedia kala. Begitulah sunnatullah fil kaun berlaku.

Kadang, penyakit itu datangnya secepat angin. Ia menempel pada tubuh setiap orang tanpa orang itu menyadari sebelumnya. Tahu-tahu, kekuatan tubuhnya melemah perlahan, nafsu makannya berkurang, dan cahaya wajahnya meredup. Bila yang sakit itu orang yang beriman, dosa-dosa yang melekat pada dirinya juga sedang ditarik satu demi satu.

Bila sudah sampai waktunya Allah berkehendak menyembuhkan, maka kesembuhan itu pun datang secepat embusan angin. Kekuatan tubuh si sakit dikembalikan seperti semula. Begitu juga nafsu makannya kembali normal. Cahaya wajahnya berseri-seri lagi mengiringi kesembuhan. Hanya satu yang tidak dikembalikan Yang Maha Penyembuh kepada si sakit yaitu dosa-dosanya. Dosa-dosanya diangkat, tidak dikembalikan lagi, diganti pengampunan sebagai balasan dari kesabaran menjalani penyakit yang telah menyiksanya siang dan malam.

Sebagaimana riwayat Imam al-Bukhari dan Imam Muslim, “Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau khawatir, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya, melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya.” Jadi, betapa Allah sedang menyayangi penderita sakit meski penyakit itu ringan atau sangat berat ditanggung badan, lelah diratapi jiwa seperti tidak berkesudahan.

Hanya saja, kehadiran penyakit itu rentan. Ia rentan memancing keluh kesah, sedih, tangis sedu sedan, bahkan putus asa yang timbul tenggelam di antara usaha pengobatan. Bukan saja rentan bagi si penderita, melainkan rentan juga bagi keluarganya yang merawat. Dapatlah dibayangkan, bila saja tidak ada kesabaran sama sekali, akan begitu mudahnya si sakit atau keluarganya tergelincir sampai kemudian istighfar mengingatkan kembali bahwa ujian memang masih berlangsung.

Seringkali di penghujung istighfar, ada anak kalimat yang mengiringi, “Ya Rabb, kapan ujian ini akan berlalu. Jika memang Engkau belum berkehendak menyembuhkan, ringankanlah.” Itu karena begitu berat ujian sakit, sehingga apabila kesembuhan masih di ujung langit, berharap diringankan sudahlah cukup.

Salah satu obat yang meringankan dari ujian sakit itu adalah simpati atau perhatian. Ia hadir karena nurani. Nurani itu peka, mudah tersentuh bila mendapati penderitaan sedang ditanggung orang yang dikenal. Maka, teman, handai tolan, tetangga, apalagi dari kerabat dekat silih berganti memberi perhatian baik penghiburan atau sekadar saran. Tentu, semua itu sedikit banyak membahagiakan bagi penderita dan keluarga.

Hanya saja, dari semua perhatian, bila bentuknya adalah saran, adakalanya ia harus ditimbang. Berobat itu, kan layaknya mengonsumsi makanan. Ada makanan yang halal, mubah, makruh, dan haram. Begitu juga berobat, ada berobat yang diharamakan seperti yang dipesankan baginda Nabi SAW. Bukan sok bijak. Bukan. Karena memang, lain orang lain sikapnya. Lain pula keyakinannya. 

Saran untuk mendatangi orang pintar –sering disebut juga dengan “orang pinter”– misalnya, belum tentu pas pada semua orang. Seperti memberi hadiah baju, belum tentu sedeng dipakai pada orang yang diberi. Bajunya sedeng dipakai, tapi belum tentu juga model, warna dan coraknya sedeng di badan.

Bolehlah baju itu sedeng untuk diri sendiri, sebagaimana orang pintar itu sedeng dan cocok pada kita. Namun, bila dipikir sedikit saja, memberi perhatian dengan saran, hendaknya saran yang sehat dan rasional. Jangan karena merasa cocok dengan orang pintar, lalu cara itu dianggap cocok pula untuk diterapkan kepada keluarga si penderita sakit.

“Coba ke orang pinter. Yang namanya orang kerja …” begitu bunyi saran si A, si B, atau si C.

Boleh jadi, saran seperti ini diniatkan sebagai bentuk perhatian. Akan tetapi bagi orang tertentu, saran ini dirasa salah alamat, bikin “ilang feeling”. Alih-alih saran yang sehat yang didapat, malah menambah beban penyakit bila dituruti. Timbulah nelangsa, “Gua, kan bukan elu.”

Saran seperti itu mudah ditebak ke mana arahnya. Pertama, buka saja https://kbbi.lektur.id/. Ketik “Orang Pintar KBBI”. Dalam sekejap, kbbi.lektur.id sudah memberi informasi.

Kata lektur, orang pintar berasal dari kata dasar orang. Arti dari orang pintar dapat masuk ke dalam jenis kiasan sehingga penggunaan orang pintar dapat bukan dalam arti yang sebenarnya. Maka, orang pintar menurut KBBI itu;
1. Dukun;
2. Paranormal.

Nah!

Kedua, anak kalimat dari saran “Yang namanya orang kerja …” kuat sekali aroma buruk sangka di sana. Bila diteruskan, saran seperti itu bisa begini, “Yang namanya orang kerja, ada aja yang iri, ada aja yang nggak suka, ada aja yang pengen jatuhin kita.” Ya, apa ya? Nah, semua pertanyaan-pertanyaan itu, secara implisit oleh si penganjur bisa diselesaikan orang pintar, alias dukun, alias paranormal.

Maaf-maaf kata, salah satu karakter dukun atau paranormal itu “sok serba tahu”. Padahal kebanyakan yang dijual mereka hanya duga-duga, nebak-nebak, atau dalam bahasa orang kampung saya kali-kali bae. Duga-duga, nebak-nebak, dan kali-kali bae ini menjadi perangkat buat mendiagnosis penyakit, rezeki, jodoh, peruntungan, atau masa depan orang. Memang begitu cara kerja orang sok tahu itu.

Ini pengalaman. Pada 1995, saya mengalami muntah darah. Para tetangga yang menjenguk, rupa-rupa memberi saran. Pas pada kali ke sekian saya muntah darah, seorang tetua yang sedang menjenguk berkata, “Elu mah, dikerjain orang ini tong!”

Saat itu, sakit ini terasa bertambah-tambah. Sakit badan yang menakutkan, jiwa pun menjadi lebih sakit karena dihantui prasangka, “siapa yang ngerjain saya?” “Tetangga sendiri, apa teman kuliah?’ “Apa tujuannya?” “Saya salah apa sama dia?” Dan sederet pertanyaan-pertanyaan yang tidak berujung pangkal kecuali hanya memupuk kecurigaan sana-sini. Saking curiganya sampai merasa linglung  bertambah kalut. Jiwa dan raga sakit dua-duanya.

Sementara hasil diagnosis rumah sakit, pemeriksaan penyakit dalam, dan foto rontgen menunjukkan paru-paru sebelah kanan saya bocor. Sejak itu, jiwa mulai tenang. Obat untuk mengatasi kebocoran sudah bisa diresepkan. Selebihnya minum obat, sabar, dan banyak berdoa berharap sembuh. Sebab, hanya Allah yang punya hak memberi sembuh.

Butuh 15 hari rawat inap, tiga kantong darah transfusi, dan 24 botol cairan infus disuntikkan ke tubuh saya. Setelah itu, saya dinyatakan bisa pulang. Selebihnya menjalani rawat jalan dan enam bulan rutin minum obat. Setahun berikutnya, perlahan kesehatan semakin membaik. Alhamdulillah pulih.

Lalu, bagaimana soal yang katanya saya dikerjain orang? Ah, biar saja. Itu bukan urusan saya, sebab saya lebih sayang pada shalat dan ibadah saya. Buat apa shalat jumprit-jumprit, ngaji seminggu tiga kali, tapi masih percaya dukun. Sedangkan Nabi pernah mengingatkan dari jauh-jauh abad, “Barang siapa yang mendatangi tukang ramal (dukun), lalu ia bertanya kepadanya tentang sesuatu hal, maka tidak diterima shalatnya selama empat puluh malam.” (HR. Muslim).

Hadits riwayat Imam Ahmad dari Abu Hurairah dan al-Hasan lebih serem lagi. “Barang siapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia mempercayai hasil ramalannya, maka sungguh ia telah kafir terhadap apa yang telah diturunkan kepada Muhammad SAW.” (HR. Ahmad).

Al-Kahanah atau perdukunan konsekuensinya syirik. Orang yang paham, syirik itu sebenarnya lebih ganas dari tumor yang menggerogoti kesehatan. Ia melalap habis amal salih seperti api yang memakan kayu bakar, hangus tak tersisa. Na’uzubillah.

Namun juga jangan salah. Berobat kepada dokter itu sifatnya ikhtiar dengan pendekatan medik. Kesembuhan tetap diserahkan kepada Yang Maha Penyembuh, seperti keyakinan setiap yang taat pada Allah, “wa idzaa maridhtu fahuwa yasyfiin”. Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku. Begitu kira-kira maknanya.

Maka, untukmu yang sedang terbaring sakit, bersabarlah, bertawakallah, dan berobatlah. Biarlah badanmu sakit, asalkan imanmu tidak jatuh pada perbuatan syirik. Jangan terpesona pesan ingin cepat sembuh dengan cara keliru. Semoga kesembuhan semakin mendekat.

Wallahu a’lam.

Depok, 27 Juli 2024.







Jumat, 05 Juli 2024

Kurikulum yang Memerdekakan


Different types of learning styles. Foto credit  https://thethaiger.com/

Kemarin pagi, pada 4 Juli 2024, diberi kesempatan berbagi pengalaman pada Small Workshop Implementasi Kurikulum Merdeka. Acara yang semula dirancang berakhir pukul 12.00 WIB, baru usai pukul 14.30 WIB. Ini asik sekali.

Pada sesi pembuka, Kepala Madrasah (KAMAD) penyelenggara mengingatkan para guru peserta. Kata Pak KAMAD, “Guru yang berhenti belajar, sebaiknya berhenti mengajar”. Pesan singkat yang menghentak, menohok, dan tajam.

Pesan yang sama pernah saya dengar dari Komaruddin Hidayat (Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah 2006-2010 dan 2010-2015) saat memberikan wawasan pedagogik di Madrasah Pembangunan. Pesan sang Rektor dikutip menjadi quote, dibingkai, dan dipajang pada satu area dinding Madrasah Pembangunan. Tiap kali melintasi area tempat saya mengajar itu dan membaca quote-nya, aduh, rasanya gimanaa gitu.

Pak Bahruddin, Pengawas yang juga turut memberi pengantar workshop –bila saya tidak salah tangkap– ada menyinggung sedikit soal tantangan mendidik di masa kini. Pembelajaran hari ini kata Pak Bahruddin, berbeda dengan pembelajaran di masa lalu.

Pesan ini juga tidak kalah memukau bila saja direnungi dalam-dalam. Nyatanya memang begitu. Peserta didik sekarang berbeda sekali dengan guru-guru mereka yang hari ini mengajar mereka di kelas. Perbedaannya sepanjang “era kolonial” sampai era digital, “bayna al-samaa wa al-sumuur”, laksana jarak antara langit dan dasar bumi. 😂

Boleh jadi, Pak Pengawas pernah menyimak nasihat Socrates (hidup sekitar 470 SM–399 SM) kepada para orang tua. Kata Socrates “Jangan paksakan anak-anakmu mengikuti jejakmu, mereka diciptakan untuk kehidupan di zaman mereka, bukan zamanmu”.

Imam al-Ghazali (1058-1111 M) juga pernah menyampaikan pesan senada. Bahkan, kata penulis Ihya Ulumiddin ini, belajar itu menjadi adab orang alim (guru) yang tidak boleh ia tinggalkan. Guru itu harus memelihara spirit “luzum al-ilm”, tidak berhenti menuntut ilmu.

Legacy Guru

Berbagi pengalaman bukan seperti berbagi sedikit roti. Sedikit pengalaman yang dibagi-bagi, maka ia menjadi banyak. Sejujurnya, pun masih sedikit yang saya tahu soal Implementasi Kurikulum Merdeka. Sempat ragu juga saat akhirnya bersedia berbagi dengan guru-guru Muhammadiyah yang militan itu. Biarlah sedikit pengalaman yang dibagikan asalkan penting dan berarti, sebab yang saya lakukan bukan sedang berbagi roti.

Berbekal sedikit, berarti saya datang tidak dengan have no experience soal Kurikulum Merdeka. Ada seminar, workshop yang saya simak, dan penerapannya dalam pembelajaran di kelas saya. Ada juga partner di Madrasah Pembangunan teman diskusi, curhat, dan ngobrol ringan soal “kegagapan” bagaimana harus menerjemahkan kurikulum ini di kelas. Karena itu, bolehlah saya sedikit optimis telah keluar dari frame “faaqidu al-sya’i laa yu’thih”, bahwa orang yang tidak punya sesuatu, tidak bisa memberi.

Harus diakui, banyak hal dari kurikulum ini yang belum tuntas di benak para guru. Soal titel “Guru Penggerak” saja, programnya Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Indonesia yang diperkenalkan pada 2020 sebagai program pendidikan kepemimpinan bagi guru, bersifat transformasi dan beririsan dengan Kurikulum Merdeka, seolah bikin cemburu. Ya, seakan ada garis demarkasi yang dipasang melintang memisah mereka yang Penggerak dan bukan Penggerak. Padahal esensinya bukan pada titel itu, tapi pada paradigma. Bahwa harus ada yang di depan, ini juga harus dipahami. 

Saya tidak berada pada maqom “Guru Penggerak”. Ini terlalu berat buat saya pikul. Akan tetapi, bukan pula penyandang “Guru Pendiam”, meskipun ada juga yang menyebut saya “Guru Penyendiri”. Ealah, biarlah itu tidak penting, itu soal persepsi saja.

Begini, asalkan setiap guru mengerti kapan ia harus bergerak, kapan memilih diam, dan menepi mengambil waktu menyendiri untuk sebuah legacy yang dinikmati manfaatnya bagi banyak orang, itu sudah cukup. Begitulah peradaban guru dibangun meskipun gerak tiap guru tidak sama intensitasnya.

Dengan kekuatan Kurikulum Merdeka, Michrophone bisa berdiri. Foto Credit Suprihatiningsih
Paradigma Belajar

Nah, kebanyakan kegagapan guru di sini, soal bagaimana mengelola pembelajaran berbasis Kurikulum Merdeka. Ini kegagapan rasional dan empirik merespons perubahan kurikulum. Sebaiknya, memang kegagapan ada di sini menurut saya, bukan pada perangkat.

Perangkat bisa menggunakan model yang disediakan pemerintah, dibuat lewat jalan pintas serupa ATM (Amati, Tiru, dan Modifikasi), atau perintah saja AI (Artificial Intelligence) untuk menyelesaikannya. Di era serba digital sekarang, jangan dianggurin lah, si AI ini. Kasihan dia bila diabaikan bertepuk sebelah tangan. Maka, jangan kehadirannya malah menjadi kemubaziran digital sebab tidak dimanfaatkan untuk edukasi. Bukankah si AI memang direkayasa untuk menjadi "Pembantu Digital"? 

Coba sesekali mengunjungi si Gemini AI misalnya. Baru halaman pertama saja, si Gemini sudah menawarkan layanan: “Halo. Ada yang bisa saya bantu?” Nah, tunggu apa lagi? Jadikan saja dia asisten pribadi. "Gauli" si AI ini dengan makruf.

Asalkan gurunya lebih cerdas memanfaatkan kecerdasan si AI-nya, tidak masalah. Jujur ya, peserta didik hari ini, jauh lebih canggih memanfaatkan teknologi ini daripada guru-gurunya. Ngaku aja lah, kita. Apalagi saya, lelaki Gen X yang terperangkap di zaman Baby Boomers. Otak dan tubuh saya harus tertatih-tatih merespons perubahan zaman Gen-Z yang serba cepat.  

Maka, kali pertama mendapat pesan apa yang harus saya sampaikan pada obrolan bareng guru Muhammadiyah itu, lebih baik saya fokuskan pada paradigma belajar, pada esensi kurikulum yang memerdekakan, bukan pada perangkat yang terkesan mekanis.

Fokus saja pada yang baju item. Foto Credit Suprihatiningsih

Paradigma Diferensiasi

Paradigma belajar hari ini berorientasi pada kesiapan, potensi, minat, dan kecerdasan peserta didik yang tidak sama. Simpelnya, kekuatan belajar tiap individu ada yang auditori, visual, kinestetik, dan pengalaman membaca dan menulis yang intens. Karena perbedaan kekuatan belajar ini memerlukan strategi, pendekatan, dan metode yang berbeda tiap individu, maka ia menuntut kesiapan sungguh-sungguh.

Problemnya, bagaimana mengelola perbedaan itu dalam proses pembelajaran di kelas agar menjangkau semua potensi peserta didik, alat bantu apa yang bisa dimaksimalkan, dan bagaimana pula model asesmennya. Ini lebih penting dari sekadar urusan kelengkapan administrasi.

Maka, proses asesmen awal amat ditekankan pada paradigma belajar sekarang. Efeknya panjang. Itu tadi, proses ini bukan saja langkah untuk memetakan di mana kekuatan belajar setiap peserta didik, melainkan untuk memutuskan strategi pembelajaran yang bagaimana yang akan digunakan dan asesmen model apa yang disajikan. Di sinilah letak pembelajaran berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka harus ada jejaknya.

Akan tetapi, soal perangkat bukan berarti tidak penting. Dia harus ada sebagai rekam jejak, tanda patuh pada aturan dan undang-undang, nilai kredit, dan nama baik institusi. Bila ini diabaikan, bisa ditegur birokrasi dua hari dua malam.

Suka atau tidak suka, guru juga harus tunduk pada institusi tempatnya mengajar. Dia harus buat RPP atau Modul Ajar di mana paradigma diferensiasi proses pembelajaran harus dibunyikan di sana. Bikin modul, e-modul, bahan ajar, banyak dah pokoknya. Pusing, kan? Apalagi saya.

Ya, sudah. Istirahat dulu sambil menyesap secangkir kopi. Yang penting, bahagia menjalani peran. Bila bahagia, tidak ada tantangan yang tidak bisa dijawab. Bukan begitu, Bu Fitriyanti penerus Al-Khawarizmi?😄


Foto di akhir sesi. Semoga tetap semringah menjawab perubahan paradigma mengajar. Foto Credit Suprihatiningsih.

Depok, 5 Juli 2027.

Rabu, 03 Juli 2024

Hilf Al-Fudhul Catatan Untuk Peserta Baitul Arqam

"Ngaji Muhammadiyah" Program Kuliah Subuh PRM Ranting Pulo. Foto credit: Abdul Mutaqin

Pentingnya Identitas

Sebagai muslim, Islam menjadi identitas utama yang tidak tergantikan dengan ideologi apa pun. Maka, “inna ad-dina ‘indallah al-islaam” menjadi harga mati, yakni sebagai keyakinan yang akan dibawa sampai seorang muslim itu mati.

Dalam konteks hubungan sosial, manusia memerlukan identitas primordial yang diikat oleh nilai agama, kebangsaan, suku, ras, atau bahasa. Mereka memerlukan identitas itu untuk memudahkan komunikasi di antara mereka.

Bahkan ada identitas yang lahir dari sekedar hobi, seperti hobi memelihara burung. Ada Kediri Free Flight Community (FFC) misalnya. “Persyarikatan” ini hadir menjadi sarana bagi komunitas atau kumpulan para penghobi burung yang bisa terbang dan kembali pada pemiliknya.

Orang-orang Depok yang suka “memelihara” golok, konon juga punya komunitas, punya identitas, punya “persyarikatan”. Namanya Golok Depok. Untuk menguatkan identitas dan ideologi komunitas ini, Golok Depok merasa perlu menggelar seminar sejarah Golok Depok pada milad ke-2 mereka, Minggu 17 Maret 2019 silam.

Boleh jadi benar apa yang dikatakan ilmuwan muslim kelahiran Saragossa, Spanyol, Abu Bakar Muhammad Ibn Al-Sayigh atau populer dengan panggilan Ibnu Bajjah. Ibnu Bajjah menyebut manusia sebagai ”makhluk sosial”, makhluk yang senang berkumpul, senang “berpersyarikatan”.

Jadi, komunitas itu memang hal yang menyatu dalam kehidupan manusia, seperti fitrah bawaan sejak lahir. Manusia tidak mungkin “meniru” mitologi Tarzan, menyendiri hidup di hutan menjauh dari keramaian. Tarzan saja, pada akhirnya menyatu dalam komunitas hutan bersama monyet wa akhwatuha.

Organisasi Orang Quraisy

Bila sementara ada saudara muslim anti organisasi, yang berpendapat bahwa organisasi itu perkara bid’ah, bisa jadi benar secara semantik. Hanya saja perlu ditegaskan, bid’ahnya organisasi adalah perkara baru pada ranah sosial, ranah mu’amalat duniawiyah, bukan pada perkara ibadah mahdhah yang terlarang.

Tapi, kan bid’ah itu sesat. Betul. Tapi, bid’ah pada ranah sosial atau mu’amalat duniawiyah meskipun tersesat, insya Allah “tersesat ke jalan yang benar, ke jalan shiratal mustaqim”.

Dahulu, kira-kira pada 519 M, Muhammad SAW pernah menjadi anggota organisasi. Nama organisasinya Hilf al-Fudhul. Saat itu usia beliau baru sekira 19 atau 20 tahun. Artinya, Muhammad SAW belum diangkat menjadi nabi.

Hilf al-Fudhul dibentuk pemuka Quraisy karena ulah Ash bin Wail al-Sahmi. Dikisahkan, seorang laki-laki dari Zabid datang ke Makkah dengan membawa barang dagangan, lalu Ash bin Wail membelinya. Akan tetapi, Ash bin Wail menahan hak laki-laki itu. Laki-laki itu lalu meminta pembelaan kepada para sekutu dari Bani Abd al-Dar, Bani Makhzum, Bani Jumah, Bani Sahm, dan Bani 'Ady. Hanya saja mereka tidak mengindahkan permintaan laki-laki ini.

Laki-laki dari Zabid ini kemudian mendaki Jabal Abu Qubais. Di atas gunung ini, dengan suara keras ia meneriakkan syair-syair mengadukan kezaliman yang menimpanya. Zubair bin al-Mutalib yang mengetahui hal itu menghampiri laki-laki ini dan berkata: "Apakah hal ini akan dibiarkan?" Lalu, berkumpul orang-orang mengikat perjanjian. Setelah itu, mereka mendatangi Ash bin Wail dan mengambil paksa hak laki-laki Zabid itu darinya.

Dari peristiwa ini Hilf al-Fudhul dibentuk di rumah Abdullah bin Jud’an at-Taimy. Ia semacam perjanjian beberapa kabilah dari Bani Hasyim, Bani Al-Muthalib, Bani Asad bin ‘Abdul ‘Uzza, Bani Zuhrah bin Kilab, dan Bani Taim bin Murrah pada 591 M.

Hilf al-Fudhul dan Keanggotaan Muhammad SAW

Cita-cita bersama dari Hilf al-Fudhul berupa kesepakatan untuk berdiri di samping tiap orang yang teraniaya di Makkah serta membelanya. Tiap orang yang berbuat zalim, kezalimannya harus dibalaskan.

Hilf al-Fudhul sendiri artinya ‘perjanjian yang disertai sumpah yang utama’. Nama ini diambil pemuka Quraisy untuk mengenang perserikatan atau persekutuan yang pernah dibentuk oleh tiga orang moyang mereka dari keturunan Jurhum yang masing-masing bernama Fadhal; Fadhal bin Fudhalah; Fadhal bin Wada’ah; dan Fadhal bin al-Harits. Mereka bertiga membentuk persekutuan atau persyarikatan bertujuan untuk membela dan menolong orang yang teraniaya. Hanya saja seiring waktu, persyarikatan itu dilupakan generasi sesudah mereka.

KH. Moenawar Chalil dalam bukunya “Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad ﷺ", hal 78, Hilf al-Fudhul disebut sebagai organisasi. Tulis Kiai Chalil, “Perlu diuraikan lebih dahulu sebab timbulnya organisasi yang dinamakan Hilful Fudhul ini agar jelaslah mengapa organisasi ini timbul dalam lingkungan masyarakat Quraisy di Makkah pada masa itu.”

Setelah diangkat menjadi rasul, Muhammad SAW memberikan kesaksian. Dalam Thabaqat Ibn Sa’ad–saya kutip dari handout IQRO Foundation, Sydney, Australia– dari Jubair bin Muth’im berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidaklah unta merah lebih aku senangi daripada peristiwa Hilf al-Fudhul yang aku turut serta di rumah Ibnu Jud’an. Jika aku diajak lagi untuk melakukannya, maka akan aku penuhi.”

Dalam riwayat al-Baihaqi, Ibn Katsir, dan al-Qurtubi Rasulullah ﷺ bersabda: “Aku menyaksikan peristiwa Hilf al-Fudhul di kediaman Ibnu Jud’an. Ini lebih aku sukai daripada mendapatkan unta merah. Jika aku diajak untuk seperti itu pada saat Islam telah ada, maka akan aku penuhi.”

Hilf al-Fudhul Abad 20

Boleh jadi, bukan sekadar terinspirasi QS. Ali Imran [3] : 103 dan 104 KH Ahmad Dahlan mendirikan persyarikatan Muhammadiyah, tapi beliau sudah khatam membaca soal Hilf al-Fudhul di atas. Kiai Dahlan melihat, kaum muslimin Kauman, dan umumnya muslim nusantara saat itu sedang teraniaya secara ekonomi, politik, agama, dan budaya yang harus ditolong.

Keterjajahan umat yang teramat parah tentu penjajahan budaya. Umat Islam mencampuradukkan praktik ibadah dengan tradisi agama yang sudah ada sebelumnya, terutama animisme. Sehingga animisme ditambah tahayul dan khurafat itulah yang dipandang sebagai ajaran Islam. Menurut catatan Haji Muhammad Syuja’, hanya shalat lima waktu dan puasa saja yang masih merupakan sifat agama Islam yang asli saat itu.

KH Dahlan dibantu murid-murid dan kolega-koleganya bergerak menolong. Pada 1911, saat rapat pembentukan di rumah KH Sangidu, digagaslah komunitas, persyarikatan, atau organisasi agar gerakan teratur rapi bernama "Muhammadiyah". Pengusul nama ”Muhammadiyah” juga tidak lain adalah KH Sangidu sendiri.

Menantu Protagonis

Kiai Sangidu itu siapa? Beliau adalah Kiai Haji Muhammad Sangidu atau Kanjeng Raden Penghulu Haji Muhammad Kamaluddiningrat,Kepala Penghulu Kesultanan Yogyakarta ke-13. Kiai Sangidu dilantik pada 1914 untuk menggantikan penghulu sebelumnya, K.R.P.H. Muhammad Khalil Kamaluddiningrat, mertua Kiai Sangidu yang wafat saat masih menjabat sebagai Penghulu.

Dalam catatan sejarah Muhammadiyah, mertua Kiai Sangidu inilah yang memerintahkan Langgar Kidul dirobohkan sebab arah kiblatnya tidak sama dengan masjid Gedhe Kauman sebagai ekses dari aksi anak-anak muda yang membuat garis putih saf-saf baru di masjid ini. Uniknya, 14 tahun setelah peristiwa perobohan Langgar Kidul itu, rapat pembentukan Muhammadiyah dilangsungkan di rumah menantunya.

Muhammadiyah bergerak menolong kaum mustadh’afin dengan teologi al-Maun-nya. Ia ibarat Hilf al-Fudhul abad 20. Bolehlah setipis ari kita berandai, bila Hilf al-Fudhul yang diapresiasi Muhammad SAW itu ‘sekufu’ dengan Muhammadiyah, maka Nabi terakhir ini mestinya tidak sungkan menjadi anggota Muhammadiyah.

Jadi, warga persyarikatan tidak perlu risau bila organisasi dianggap bid’ah oleh sekelompok orang. Teruslah kuatkan ideologi Muhammadiyah seperti mengikuti Baitul Arqam yang kerap diselenggarakan Persyarikatan.|

Depok, 3 Juli 2024.
Sambil menyesap kopi pagi menghabiskan libur



Rabu, 26 Juni 2024

Menunggu Kehidupan

Berangkat sekolah melintasi sawah. Foto milik Nickie Woopdroof, https://nickiewoodruff.blogspot.com/

Hari ini, Rabu 26 Juni 2024, dua orang yang saya kenal dipanggil Allah. Tadi pagi, pukul 07.07 WIB, khadim Masjid Andalusia, Bapak Salman Abdurrahman kabar kewafatannya saya terima. “Pak Maman” –begitu biasa ia dipanggil warga Madrasah Pembangunan tempat saya mengajar– tutup usia.

Pak Maman itu di antara sedikit orang. Ada banyak orang yang masih hidup, tapi lari menjauh dari masjid. Sementara ia, separuh tarikan napasnya dihabiskan untuk memakmurkan masjid meninggalkan legacy mulia. Betapa bahagianya Pak Maman. Ia datang menghadap Allah setelah mengurus rumah tempat orang-orang bersujud pada-Nya.

Selamat jalan Pak Maman. Ya Allah, ampunilah ia, sayangilah ia, dan maafkanlah ia. Allahummaghfir lahu warhamhu wa ‘aafihi wa’fu ‘anhu.|


Tujuh jam setelah kabar Pak Maman, Mardina juga berpulang hari ini. Mardina teman sekelas saya waktu SD. Mendapati kabar kewafatannya, melempar saya pada masa kecil, masa-masa mengenakan seragam Elementary School.

Mardina satu di antara teman sekelas yang pandai Matematika. Ia, meski sedikit agak judes, namun bila tersenyum lebar sekali. Gelak tawanya juga nyaring. Perawakannya sedikit gemuk, rambutnya keriting kriwil, dan wajahnya bulat. Senyum dan tawa Mardina seakan menghapus kesan judes itu, hilang tak berbekas.

Hari ini, Mardina seperti memutar video masa-masa saya SD. Di pelupuk mata, seketika tampak iringan meniti galengan sawah dan empang. Melintasi kobak Haji Goming yang jernih, teduh, dan sedikit seram tiap berangkat dan pulang sekolah.

Iring-iringan itu berjalan berundak. Mereka yang saya ingat adalah Muhammad Insaf, Husnul Khatimah, Mujahidin, Muhammad Anwar Muttaqin, Iman Istamar, dan saya sendiri. Sekali waktu, teman sekelas dari ujung paling selatan kampung bergabung dengan kami yang di utara berangkat bersama di suatu pagi dan siang. Mereka Gugut Kuntari, Moh. Yamin, dan Maspupah.

Ini kenangan antara tahun 1979 sampai kami lulus pada 1985 dari SD Muhammadiyah Rawadenok, murid-murid KH. M Syamsuddin, Pak Rauf, Bu Habibah, dan guru-guru kami yang lain. Masa-masa di mana kami sudah dibiasakan bangun malam, kuliah Subuh setiap Ahad pagi, dan menyanyikan "Sang Surya".

Di antara kami semua; saya, Mardina, Husnul, dan Gugut memilih jalur pendidikan. Mardina, Husnul, dan Gugut jadi guru SD. Belakangan, Gugut pindah ke jalur birokrasi, mengikuti jenjang kariernya sebagai PNS. Teman-teman yang lain memilih jalurnya masing-masing, jalur yang membuat mereka bahagia, sebahagia kami menjalani profesi guru.

Hari ini, Mardina telah purna. Ia pulang ke haribaan Allah dengan membawa legacy sebagai guru dan aktivis Aisyiyah. Ia aktif mengikuti tabligh-tabligh dan rapat-rapat persyarikatan di samping mengajar. Usia Mardina dihabiskan di sekolah dan mengurus Aisyiyah.

Selamat jalan, Din. Bahagialah di sana, tanpa sakit yang kau derita lagi. Kami yang tersisa tengah menunggu giliran. Ya Allah, ampunilah ia, sayangilah ia, dan maafkanlah ia. Allahummaghfir laha warhamha wa ‘aafiha wa’fu ‘anha.|

Entah siapa yang mengatakan kalimat ini: Nahnu lasna ahya'a nantazir al mawt wa annama amwatun nantaziru al-hayaa. Hidup kita ini bukan untuk menunggu kematian, tapi, mati untuk menunggu kehidupan, begitu kira-kira arti bebasnya.

Boleh jadi, sependek pemahaman saya, bahwa kehidupan sesungguhnya baru dialami manusia setelah ia mati. Sebab, sesudah mati, manusia akan masuk fase kehidupan yang disebut “la nihayata laha”, “unending”, tidak ada kesudahannya.

Alangkah bahagianya, bila sesudah mati, manusia menikmati kebahagiaan yang tiada akhir. Alangkah buruknya bila manusia malah mendapati kesengsaraan hidup yang tiada akhir sesudah kematiannya.

Ada riwayat dari Imam Muslim, kelak ada manusia yang mati membawa segudang pahala. Akan tetapi, pahalanya itu tak bisa menolongnya sebab kezaliman yang ia lakukan sewaktu hidup di dunia. Dialah orang yang muflis, orang yang bangkrut.

Si muflis itu, bila pahalanya sudah habis tak tersisa untuk menebus kezalimannya, dosa-dosa orang-orang yang dia zalimi berpindah ke pundaknya untuk dia tanggung. Apa lacur, sebenarnya sebelah kakinya sudah di depan pintu surga, tapi karena kezalimannya, ia malah dilempar ke neraka.

Kezalimannya itu boleh jadi sepele, tidak seberat yang disebut dalam riwayat Imam Muslim. Akan tetapi, yang sepele itu telah membuat orang tersiksa, tak bisa tidur, tak enak makan, dan tak sedap menyesap air bening. Bila yang sepele itu tidak tuntas di dunia, maka ia akan berlanjut sampai di akhirat. Na’udzu billah.

Ya Allah, selamatkan kami dari kebangkrutan di akhirat.

Depok, 26 Juni 2024.



Kamis, 13 Juni 2024

Aku Bukan Pengidap Post Power Syndrome

Ilustrasi memasuki masa pensiun yang bahagia. Foto Credit, https://www.ayobandung.com

Berjalan dengan seorang sahabat di kegelapan lebih baik daripada berjalan sendirian dalam terang. 
Sedih. Begitulah hari ini ditinggalkan kolega yang memasuki masa pensiun dan resign karena ada tugas baru. Ini sedih yang manusiawi.

Beberapa hari sebelumnya, aura kesedihan sudah merebak. Ucapan selamat memasuki masa purna bakti untuk Bu Eha memenuhi halaman grup WA bagi kolega yang pensiun hari-hari terakhir ini.

Jemari saya sudah bergerak mengetik. Ingin ikut menyampaikan simpati “barakallah” atas kepensiunan kolega ini. Tapi urung, hati seperti tidak rela kolega ini pensiun. Maka, saya tidak ikutan menyampaikan “barakallah”, sebab merasa ia tidak tergantikan dan akan saya biarkan Bu Eha ada di hati saya sebagai kolega.

Namun, dalam nomenklatur kepegawaian, masa pensiun itu seperti “takdir mubram”, takdir yang tidak bisa diubah. Setiap pegawai pasti akan memasuki masa itu, baik baik pensiun dini maupun pensiun “dini hari”.

Saya percaya, Bu Eha bahagia memasuki masa pensiun ini, meskipun ia berat meninggalkan madrasah. Saya tahu, rasa berat itu karena Bu Eha sangat menyintai madrasah ini, anak-anak, dan guru-gurunya. Bu Eha juga punya dedikasi sebagai guru Biologi, punya kapasitas leadership yang kuat saat menjadi Wakakur dan Kepala Madrasah, dan friendly dengan sesama guru dan karyawan. Pribadi serupa ini, memiliki jiwa yang sehat. Apalagi, secara kasat mata, religiusitas Bu Eha juga sangat menonjol.

Memang, ada banyak orang yang memasuki masa pensiun mendadak mengidap post power syndrome. Apalagi bila dahulu pernah menjadi pejabat. Orang dengan gangguan ini masih membayangkan pencapaiannya pada masa lalu dan membandingkannya dengan masa kini. Lalu, rasa percaya dirinya menurun hingga depresi.

Akan tetapi, post power syndrome lebih sering menimpa mereka yang tidak memiliki pasangan hidup atau hidup seorang diri, tidak memiliki aktivitas atau kesibukan lain, tertekan secara finansial, dan memiliki masalah-masalah lain. Boleh jadi, kondisi-kondisi di atas mendorong orang itu “Tidak ingin pensiun” yang semakin menambah tekanan post power syndrome-nya.

Boleh jadi, kolega-kolega Bu Eha lah yang harus belajar dari guru Biologi ini. Bukan belajar bagaimana cara tersenyum Bu Eha yang selalu mengesankan, ini gak bisa ditiru persis karena ia bawaan orok. Tapi, belajar bagaimana saat memasuki masa pensiun dengan bahagia seperti Bu Eha sambil berkata; Aku bukan pengidap post power syndrome!

Pak Misro, guru Akidah Akhlak juga memasuki masa pensiun. Kolega sesama Konsorsium Agama ini termasuk guru senior di Konsorsium Agama. Ada lebih kurang 17 tahun bergaul bersama Pak Misro. Sebagai yang junior, saya banyak belajar, terutama belajar kesabaran. 

Pak Misro pernah mengajar Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), subjek yang saya ampu di Madrasah Pembangunan. Pak Misro sempat sharing saat kali pertama saya menginjakkan kaki di Madrasah Pembangunan mengenai pelajaran yang dianggap pelajaran paling susah di antara rumpun pelajaran agama. Dari Pak Misro saya jadi tahu, mengajar SKI tidak semudah yang dibayangkan, tidak segembira mengajak peserta didik main games atau membaca komik kesukaan mereka.

Ahamdulillah, dari sharing ini, mental untuk mengajar SKI naik sedikit. Hal terpenting, tentu mendorong untuk terus belajar.

Aduh, tapi saya tidak menyangka kolega yang saya yang satu ini, Bu Fairus Qamila. Saya baru tahu hari ini ia resign. Rupanya, gadis Aceh ini juga akan melangkah pergi meninggalkan madrasah. Tentu dengan alasan yang berbeda, sebagai peserta beasiswa LPDP yang tidak mengizinkannya mengajar sambil menikmati beasiswanya. “Kejam” sekali LPDP ini telah memisahkan saya dengan Bu Fairuz. Aiih …

Pilihan Bu Fairus sudah benar. Andaikan saya yang berada pada posisinya, akan saya ambil pula beasiswa itu. Tentu, untuk lolos menjadi penerima beasiswa LPDP itu tidak gampang. Berat syaratnya. Maka, bila Bu Fairuz meninggalkan saya, eh meninggalkan madrasah maksudnya, maka itu pilihan rasional.

Maka, yang tersisa adalah mendoakan. Kepada Bu Eha, Pak Misro, dan Bu Fairus terima kasih sudah memberikan banyak hal buat madrasah. Jangan pikirkan saya ya, Bu Fairus karena saya sudah ada yang mengurus yaitu istri dan anak-anak saya. Hahahahah.

Bu Eha, Pak Misro, Bu Fairus, kata Hellen Keller, “Walking with a friend in the dark is better than walking alone in the light." 

Bahagia terus ya, Bu Eha, Pak Misro, dan Bu Fairus agar tetap menjadi terang buat kami kolega-kolegamu. Dan, selamat datang bagi guru-guru terbaik yang baru bergabung dengan Madrasah Pembangunan hari ini.

Kamis, Ruang Pleno 10 Juni 2024.