A homepage subtitle here And an awesome description here!

Minggu, 10 Desember 2023

Julid Fi Sabilillaah

Ilustrasi Tentara Netizen Indonesia dari akun @mas_gunadwii 

Perang Julid

Beberapa minggu terakhir ini, ada dua segmen julid yang gencar di sosmed. Pertama, julid fi sabilillah. Kedua, julid diimokroothiyyah. Keduanya sama-sama mengganggu mental orang. Saya lebih tertarik julid yang pertama, julid fi sabilillah. Ada kepuasan melihat mental tentara Israel, politisi Israel, jurnalis Israel, atau pendukung Israel terganggu karena efek serangan pada akun-akun medsos mereka.

Julid fi sabilillah, salah satunya grup TNI (Tentara Netizen Indonesia) yang digawangi akun @mas_gunadwii. Akun ini sudah diikuti 10,6 orang. Ada tiga tujuan serangan TNI, pertama, REAKSI SI TARGET, AKUN DI PRIVATE. Kedua, TARGET BUAT TESTIMONI SERANGAN DARI KITA. Dan ketiga, AKUN TARGET HILANG. Bila salah satu atau ketiga-ketiganya terjadi, misi dinyatakan berhasil.

Efektif? Ya, efektif.

Sudah tidak terhitung akun tentara Israel, publik figur, dan pendukung Israel tumbang. Lebih banyak lagi yang di-private. Tidak sedikit dari mereka membuat testimoni dan bahkan meminta maaf kepada netizen Indonesia. Sebagai contoh presenter asal Israel, Shai Golden.

Golden menjadi bulan-bulanan warganet Indonesia usai pernyataannya yang kontroversial dan sering menghina Palestina. Akun Instagram pribadi miliknya @shaigoldenofficial diserbu dan dirujak oleh warganet yang marah.

Dengan tagar #JulidFiSabilillah, netizen Indonesia tampak memenuhi kolom komentar pada akun Instagram pribadi milik Golden. Belakangan, tak hanya akun media sosial sang presenter, netizen Indonesia menyerang akun media sosial keluarga Golden.

Mental Shai Golden down. Dia mengaku menerima lebih dari 7.000 panggilan telepon, 15.000 halaman dari seluruh media sosialnya, dan 200.000 komentar jahat dari netizen Indonesia. Bayangkan, apa ‘nggak stress?

Golden meradang mengiba, seperti pada tangkapan layar di bawah ini:

Tangkapan layar dari akun netizen Indonesia


Belakangan, gerakan julid mengganggu mental komunitas Israel ini merambah ke OmeTV. Di OmeTV, aksi julid lebih seru. Reaksi marah, down, dan histeris komunitas Israel lebih konkret, sebab OmeTV teknologi audio visual. Siapa penjulidnya, Israel yang dijulidi, gambar dan suara mereka betul-betul konkret. Puas sekali melihat muka orang Israel itu shock di depan kamera. Netizen Indonesia memang tiada dua.

Adab Perang

Beliau seorang da’i. Saya mengikuti akun Facebooknya. Menurut analisis beliau, “Julid fi Sabilillah” termasuk ranah jihad dengan pena. Status beliau soal ini, tampaknya untuk menanggapi pendapat seorang da’i yang menyatakan, "Gaboleh ngejulidin pasukan Israel, itu bukan adab kita. Senjata ampuh kita hanya doa."

Lha, kok begitu? 

Ini situasi perang. Betul, perang ada adabnya. Do’a juga bagian dari senjata perang. Namun, di balik adab dan do’a, ada siasat. Lagi pula soal adab, mana ada sepanjang perang, Israel menerapkan adab. Malah, mereka menggunakan segala siasat keji dengan membunuhi bayi, anak-anak, dan perempuan. Ini bukan lagi perang, melainkan genocide. Sebaliknya, mana ada Hamas membunuh anak-anak, bayi, dan perempuan?

Dalam perang, Hamas lebih paham, baik soal do’a dan adab-adabnya. Bahkan, Hamas tidak pernah lepas dari doa’, adab, dan siasat di medan jihad Palestina. Ikuti saja seruan dan nasihat Abu Ubaidah pada tentaranya yang berseliweran di internet. Seruan dan nasihat Abu Ubaidah sangat gamblang bagaimana seharusnya mereka berjihad di medan Gaza.

Soal siasat perang, di medan Badar, Nabi SAW juga bersiasat. Bahkan, medan Badar menjadi salah contoh konkret perpaduan seni perang antara pertempuran, doa, dan siasat. “Huwa ar-ra'yu, wa-al-harbu, wa-al-makidah” kata Nabi SAW saat menerima saran laki-laki dari Bani Sulaim agar Nabi memindahkan pasukan pada posisi yang lebih strategis dekat dengan sumber mata air Badar.

Julid dan Siasat Jihad dengan Pena

Satu riwayat dikutip di laman Facebook da’i yang mendukung “Julid fi Sabilillah”. Riwayat dimaksud dinukil dari kitab karya Ibn an-Nuhas al-Dimasyqi al-Dumyathi. Dikatakan, an-Nuhas adalah mujahid yang syahid dalam satu episode Perang Salib pada 814 H/ 1411M di kawasan Damietta (Dumyat), di utara Mesir.

an-Nuhas sempat menulis kitab beberapa tahun sebelum kesyahidannya, “Masyari’ al-'asywaq 'iilaa mashori’i al-Usysyaq”. Kitab ini berisi tentang hukum jihad, kelebihan, dan seruan melaksanakan jihad. an-Nuhas membawakan hadits dari Anas bin Malik RA, ”Jaahiduu al-musyrikiina bi-amwalikum, wa-anfusikum, wa-alsinatikum.” Perangilah kaum musyrikin itu dengan harta kalian, jiwa kalian, dan lidah kalian. an-Nuhas mengatakan, maksud dengan lidah adalah “perdengarkan kepada mereka hal yang mereka benci”, “membuat mereka tertekan berupa hija` (syair hinaan)”, atau kata-kata kasar dan semisalnya”.

Menggetarkan hati musuh termasuk strategi perang. Itu bisa dilakukan dengan menyerang secara fisik, mengancam mereka, membongkar propaganda kebohongan mereka, dan termasuk menjulidi mereka. Maka, boleh jadi, menyerang akun tentara Israel yang menjadikan mereka stress termasuk pengamalan konkret hadits ini sebagaimana pendapat an-Nuhas. Rasanya, pendapat an-Nuhas ini lebih masuk akal dan kontekstual.

Jadi, dalam jagat perang maya, “Julid fi Sabilillah” boleh jadi juga termasuk isyarat “Huwa ar-ra'yu, wal-alhrbu, wa-al-makidah” bahwa perang itu tipu muslihat seperti saran Al-Khabab bin Al-Mundzir yang mengusulkan kepada Rasulullah untuk menjalankan strategi perang Badar yang membuat pasukan Islam yang berkekuatan kecil bisa memenangkan pertempuran bersejarah ini.

Ikutan Julid

Meskipun TNI hanya menggerakkan perang maya, tapi pola pergerakannya diatur rapi, tidak sembarangan, dan satu komando. Para anggota diarahkan bagaimana menyerang, kapan serangan dilakukan, dan apa tindak lanjut sesudah melakukan serangan. Di sini @mas_gunadwii telaten sekali membimbing pasukannya, menyusun target, dan menginstruksikan penyerangan. Keren.

Bahkan @mas_gunadwii terus mengawal dan merespons setiap perkembangan di lapangan, termasuk soal adanya deteksi dari pergerakan perlawanan atau penyusup dari channel cyber operasi khusus.

Luar biasa, ini seperti perang darat di dunia nyata. Karena itu, @mas_gunadwii selalu mengingatkan agar Mujahid Cyber Army wajib bertaqwa kepada Allah, meluruskan niat, hindari perdebatan, bersabar dan terus berdoa. Tentu, ini penting sebagai bagian dari jihad meskipun mungkin nilai jihadnya tidak lebih besar dari sebutir debu yang menempel di ujung sepatu Abu Ubaidah dan para pejuang Hamas.

Malam ini, dua rudal julid saya tembakkan ke akun milik boaz_bismuth sesuai terget yang direkomendasikan @mas_gunadwii. Satu target lagi tidak bisa saya serang karena lebih dulu sudah di-privat pemiliknya, yaitu sharrenhaskel, politikus Israel. Rupanya, sharrenhaskel sudah kena mental lebih dahulu sebelum saya ikutan nyerang akunnya.

Di akun boaz-bismuth, komentar saya begini:

חשבתי שישראל נהדרת, כנראה שזה היה רק ​​צבא של סיסים שהרגו ילדים ולכדו תינוקות. אבל, אני עדיין מתפלל בשבילך, שהמלאכים יהיו איתך. מלאך המוות אני מתכוון.

Artinya kira-kira, “Kukira Israel hebat, rupanya hanya tentara para banci yang membunuhi anak-anak dan menangkapi bayi-bayi. Tapi, aku masih mendoakanmu, semoga malaikat bersamamu. Malaikat maut maksudku."

Komentar kedua

היי כלבי גיהנום! שים את החיתול שלך!

“Hei anjing neraka! Pakai popokmu!”

Setelah menyerang, saya laporkan akun boaz-bismuth, sebagai akun penyebar kebencian atau alasan lain.




Bayangkan, bila dalam satu aksi seluruh anggota TNI melakukan serangan, dalam hitungan jam, bahkan hanya hitungan menit, tentara Israel itu kena mental. Selanjutnya, mereka akan mem-private akun sehingga tidak bisa diserang lagi. Bisa jadi mereka melaporkan balik serangan. Nah, yang paling menyenangkan bila akun mereka tumbang karena diblokir Instagram.

Bila serangan berhasil, selalu ada report yang diunggah di grup Telegram milik TNI. “Mission Complete. Good Job Team. Uraaaaaaa!”

Tangkapan layar dari akun Tentara Netizen Idonesia

Julid Diimokroothiyyah

Ini julid urusan demokrasi yang kadang menjadi bumerang atas nama kebebasan berekspresi. Julid yang ini saya tidak ikutan. Di samping buang-buang waktu, julid ini kurang berfaedah. Lagi pula, hanya menambah beban psikologis target. Tidak dijulidi saja sudah kasihan lihat wajahnya. Tentu, tambah kasihan bila kapasitasnya menjadi objek julid dari Sabang sampai Merauke.

Sebelum soal asam sulfat, memang sudah banyak celah orang menjulidi sosok ini. Terutama dari mereka yang berseberangan dalam pilihan politik. Tambahan lagi, saat dia mengingatkan ibu hamil jangan sampai kekurangan asam sulfat pada satu forum dialog kaum milenial, dia dijulidi habis-habisan. Bayangkan, masa orang hamil harus dikasih asam sulfat? Itu, kan bahan kimia keras?

Entah memang kapasitas soal asam-asaman yang minim atau keseleo lidah, kontan lontaran soal asam sulfat ini menjadi ramai di jagad julid.

Tidak semua orang gampang memberi maklum. Bisa saja si masnya sedang keseleo lidah. Mungkin yang dia maksud adalah asam folat, bentuk sintetik dari vitamin B9 yang mudah larut dalam air. Vitamin B9 juga dikenal sebagai folat atau folacin.

Asam folat berperan penting dalam pembentukan sel darah merah, mendukung daya tahan tubuh, dan menunjang proses tumbuh kembang janin. Bagi ibu hamil, manfaat asam folat memang sangat penting untuk mencegah neural tube defect (cacat tabung saraf), seperti anensefali (janin tidak memiliki otak), dan spina bifida (janin tidak memiliki sumsum tulang belakang).

Sudah barang tentu, kandungan asam folat sangat penting bagi ibu hamil. Ia membantu perkembangan otak dan sumsum tulang belakang janin, membantu pembentukan plasenta, dan membantu mencegah preeklamsia, yaitu kondisi serius yang dapat terjadi pada kehamilan.

Karena itu, di samping konsumsi susu dan telur, untuk memenuhi kecukupan asam folat, ibu hamil dianjurkan mengkonsumsi sayuran hijau, buah-buahan, dan kacang-kacangan. Susu dan telur, sayuran hijau, buah-buahan, dan kacang-kacangan merupakan bahan yang banyak mengandung asam folat. Jadi, bukan H 2SO 4, alias asam sulfat yang dibutuhkan ibu hamil.

Sadisnya Netizen Indonesia

Sadisnya netizen Indonesia itu tidak ketulungan. Asam sulfat jadi menu julid paling gila sepanjang suhu pilpres semakin naik. Status, meme, dan sindiran di dunia maya seperti air bah yang susul menyusul. Gibran Rakabuming Raka, si “pencetus” asam sulfat itu menuai julid berjilid-jilid.

Dalam satu meme berjudul “Asyiknya Jadi Gibran”, ditampilkan tiga panel dengan ilustrasi gambar dan dialog. Panel pertama berisi: “Bila Gibran makan rendang yang kegigit lengkuas, BPOM segera tetapkan lengkuas berbahaya dan harus dimusnahkan”. Panel kedua berisi: “Gibran kena tilang Ganjil Genap. Ganti hari kalender jadi Minggu semua.” Panel ketiga berisi: “Nilai Matematika Gibran dapet 5. Dikbud Hapus Matematika dari kurikulum.”

Apa enggak sadis ini?

Akun Instagram dan twitter milik Gibran pun diserang. Dari sindiran yang berasa asam, asin, sampai yang pahit mampir berdesak-desakan. Boleh jadi Gibran santai-santai saja, akan tetapi, sedikit atau banyak, efek psikologisnya bagi Gibran pasti ada.

Asam folat dan asam sulfat itu terlalu jauh meskipun sama-sama disebut asam. Di era informasi terbuka seperti hari ini, perpustakaan maya terbuka 24 jam, sebenarnya tidak sukar sekadar mengulik dulu informasi sebelum bicara, apalagi bicara di forum resmi. Sebab, sekali salah bicara di dunia maya, nggak bisa di-tipe-ex. Alih-alih ingin merebut citra, malah panen julid dari netizen.

Boleh saya duga, para pengusung atau pihak yang selama ini memuji-muji Gibran pun, merasa gerah mentalnya. Gerah karena tokoh idola yang diusungnya salah ucap, dan gerah bagaimana harus menutupi soal asam sulfat itu karena sudah kadung sang pencetus diidolakan dan didukung.  

Begitulah hal yang lumrah saat ini. Namun, daripada julidin asam sulfat, lebih baik julidin Israel. Uraaaaa!

Happy weekend.

Sabtu, 09 Desember 2023

Naskah Pentigraf MTs Pembangunan 2023 yang Lolos Seleksi




MTs Pembangunan kembali menggelar event menulis. Dimulai dari rangkaian kegiatan Field Trip, kemudian dilanjutkan dengan event menulis Pentigraf. Tim Editor yang bekerja sejak akhir Oktober 2023, telah menyelesaikan 100 % proses naskah seleksi dan editing.

Pengumuman hasil seleksi telah dimuat di situs ini secara berkala setiap Sabtu, dimulai Sabtu, 09 Desember 2023 sampai dengan Sabtu, 23 Desember 2023. Hari ini, Sabtu, 23 Desember 2023 adalah pengumuman tahap terakhir naskah yang lolos seleksi. Kepada para penulis yang naskahnya belum lolos seleksi, tetap semangat menulis untuk mengikuti event-event menulis berikutnya,

Keputusan Tim editor bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

Selamat kepada penulis yang naskahnya sudah dinyatakan lolos TIM Editor berikut ini:

  1. Akbar Diawur. Judul pentigraf "Kehidupan di Masa Depan".
  2. Athaya Juneeta. Judul Pentigraf "Warisan Nenek".
  3. Binar Bening Embun. Judul Pentigraf "Mukidi".
  4. M. Akhtar Ziyad. Judul Pentigraf "02.09".
  5. Malvin Samih Rahman. Judul Pentigraf "Ibu Yang Tak Kunjug Pulang".
  6. Masogi Anugerah Kasih Rabbi. Judul Pentigraf "Burung Raksasa".
  7. Muhamad Bassel Daniyal AlFaruq. Judul Pentigraf "Pemulung".
  8. Nadira Azka Ramadhani. Judul Pentigraf "Kejutan".
  9. Queenshi. Judul Pentigraf "Teror Desa".
  10. Raja Edra Akbar. Judul Pentigraf "Faiq Si Penolong".
  11. Raisa Apna. Judul Pentigraf "Siapa Itu".
  12. Zyannisa Nabila Azzahra. Judul Pentigraf "Revolusi".
  13. Kenzie Kayana Zhafif. Judul Pentigraf "Persahabatn di Hutan yang Ajaib".
  14. Afkar Muzakky Adnan. Judul Pentigraf "Penyesalan".
  15. Muhammad Rasya Abbas. Judul Pentigraf "Rumah di Ujung Desa".
  16. Haseena Ismail Effendi. Judul Pentigraf "Melodi Cinta di Bawah Pohon Willow".
  17. Chloe Renata Putri. Judul Pentigraf "Mimpi Buruk".
  18. Arulintang Syabana. Judul Pentigraf "Misteri Lemari Es Kosong".
  19. Nasywa Alifiatama Andarieska. Judul Pentigraf "Sekolah Sepi".
  20. Fabian Akmal Muhammad. Judul Pentigraf "Berlibur ke Rumah Nenek".
  21. Jevan Atallah Vireindra. Judul Pentigraf "Insiden Bandung".
  22. Dhiya Nayla Azka. Judul Pentigraf "Kembali".
  23. Syahrazade Aqila Omar. Judul Pentigraf "Bandung dan Misterinya".
  24. Amanda Syafira Putri Feliza. Judul Pentigraf "Every Summertime".
  25. Gita Salsabillah Fitriana. Judul Pentigraf "Hotel".
  26. Sofia Latifa Diyarsyah. Judul Pentigraf "Usaha Mencari Jodoh".
  27. Akmal Khairy Hanifa. Judul Pentigraf "Dalam Ingatan".
  28. Cleophil Ayersa Fidelia Haris. Judul Pentigraf "Seblak dan Kencurnya".
  29. Almira Hana Imtinan. Judul Pentigraf "18 A".
  30. Muhammad Faiq Athallah Triatmoko. Judul Pentigraf "Peristiwa di Bandung".
  31. Adinda Fayza Mashur. Judul Pentigraf "Berlibur ke Rumah Kakek".
  32. Aisha Noor Aqeela. Judul Pentigraf "Bintangku". 
  33. Amirah Tsurayya Fauziyah. Judul Pentigraf "Hujan yang Menemani". 
  34. Aqilah Khairil Azkia. Judul Pentigraf "Hilang". 
  35. Averil Adilah Azhar. Judul Pentigraf "15 Mei 2022". 
  36. Azzahra Rachmi Khairussyifa. Judul Pentigraf "Bandung". 
  37. Dzaky Prawira Nugroho. Judul Pentigraf "Makhluk Ajaib Penjaga: Lembah Cintaku". 
  38. Erfina Syafira Ramadhani. Judul Pentigraf "Forget ".
  39. Fathan Jannatu Akbar. Judul Pentigraf "Penjaga Hutan". 
  40. Fina Nailatul Izzah. Judul Pentigraf "Sang Penjaga Hutan".
  41. Janeeta Raissa. Judul Pentigraf "Kota Bandung".
  42. M. Fadhil Alfairuzabadi. Judul Pentigraf "Kembaran Alam Ghaib".
  43. Maliq Al Rassya. Judul Pentigraf "Si Bajak Laut". 
  44. Mazaya Aleisha Vega. Judul Pentigraf "Melukis Celengan".
  45. Muhammad Fauzi Al Rasyid. Judul Pentigraf "Perjalanan ke Dunia Ajaib".
  46. Nanda Arsyad Abdurrachman. Judul Pentigraf "Field Trip ke Bandung". 
  47.  Nazhwa Aurelia Pahlevi. Judul Pentigraf "Tetap Sahabat".
  48. Prama Putra Iwara. Judul Pentigraf "Hotel Angker". 
  49. Quinta Nabila Pramidhita. Judul Pentigraf "Kesalahan di Rumah Nenek". 
  50. Radinka Rahardhika Ramadhan. Judul Pentigraf "Hutan Misterius". 
  51. Raihannah Fatihah Mecca. Judul Pentigraf "Hari Ulang Tahun". 
  52. Rasyad Ali Firmansyah. Judul Pentigraf "Maya Si Ilustrator Muda". 
  53. Sakatama Athallah Devano. Judul Pentigraf "Suara Misterius". 
  54. Sher Yardan Didier Daulat. Judul Pentigraf "Museum Geologi". 
  55. Fathan Atallah Zhafar. Judul Pentigraf "ChronoSphere". 
  56. Khanza Aira Putri. Judul Pentigraf "Kejadian Aneh di Museum". 
  57. Abdurrahman Aliy. Judul Pentigraf "Tertinggal".
  58. Aysha Cheryl Fauzi. Judul Pentigraf "Bermain Dalam Hujan". 
Disampaikan kepada peserta menulis Pentigraf 2023 MTs yang naskahnya lolos seleksi untuk mengikuti tahap kelengkapan administrasi. Kelengkapan administrasi dapat diakses di situs https://s.id/duniapentigraf

Jakarta, 23 Desember 2023.

TIM Editor

Senin, 27 November 2023

Panti Yatim Literat

Lintang Aulia Madani, salah satu kontributor Antologi Janji Surga Tertinggi dan Lezatnya Kesabaran

Menemukan quote Toni Morrison yang ini: “If there's a book that you want to read, but it hasn't been written yet, then you must write it,” jadi merenung. Kata Morrison, jika ada buku yang ingin kamu baca, tetapi belum ditulis, maka kamu harus menulisnya.

Ini gimana? Tapi, iya juga, sih.

Masalahnya, menulis itu tidak mudah. Ia bukan keterampilan cepat saji seperti memasak mie instan yang cuma butuh 2 sampai 4 menit saja mie sudah bisa dinikmati. Sedangkan menulis untuk melahirkan karya buku, prosesnya panjang dan melelahkan.

Menulis juga butuh ‘banyak’ modal; modal banyak baca, banyak jalan-jalan, banyak riset, banyak berlatih, dan banyak mengamati topik yang sedang hangat dibincangkan. Peka pada momentum juga penting sebagai modal menulis. Jadi, tidak sesederhana yang diucapkan Morrison.

Boleh jadi, bagi Morrison menulis itu sederhana, sesederhana penulis Afro-Amerika ini memasak mie instan. Wajar sih, dia memang penulis kawakan. Romannya; Beloved mengantarkannya memenangkan Pulitzer Prize pada 1988. Pada 1993, Morrison dianugerahi Hadiah Nobel dalam bidang Sastra. Ia menjadi tokoh pertama Afro-Amerika yang menerima penghargaan ini.|

Setahun lalu, pada 18 November 2022, sehari sebelum ikut hadir di arena menggembirakan Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Surakarta, saya menginap di Panti Asuhan Yatim ‘Aisyiyah 03 Banyudono, Boyolali. Bukan suatu kebetulan, ustaz dan ustazah Pengasuh panti ini dulunya berkhidmah pada Pondok Pesantren Muhammadiyah Darul Arqam, Sawangan, Depok tempat istri saya mondok.

Saya senang, Pengasuh panti menaruh perhatian besar pada literasi menulis. Beliau ingin anak-anak asuhnya melek literasi, punya skill menulis, salah satu keterampilan untuk menjawab kebutuhan abad 21. Saya pikir ini sosok Pengasuh panti yang “langka”. Gagasannya langka pula untuk dunia panti, meskipun pada panti di bawah pembinaan Muhammadiyah atau Aisyiyah. Ini sesuatu banget.

Maka, saya penuhi keinginan Pengasuh. Saya bersedia sharing tips menulis meskipun dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Jadilah small workshop menulis. Saya ajak penghuni panti memulai menulis yang enteng-enteng; cerpen dan pentigraf berbasis pengalaman keseharian. Filosofinya sederhana, yakni menulis hal-hal ringan dari pengalaman keseharian jauh lebih mudah dituangkan dalam narasi daripada murni berbasis imajinasi sebagai sifat dari karya fiksi.

Sebagaimana sudah dimaklum, Muhammadiyah dan Aisyiyah mengusung tagline “berkemajuan” dan “mencerahkan”. Tentu saja, salah satu poin dari makna di balik tagline “berkemajuan” dan “mencerahkan” adalah kemampuan berliterasi. Satu dari sekian kemampuan berliterasi itu adalah literasi menulis di samping literasi membaca.

Dari sini, bolehlah disimpulkan, bahwa salah satu ciri dari karakter berkemajuan dan mencerahkan ada pada aktivitas membaca dan menulis. Semakin intens aktivitas membaca dan menulis, semakin tampak jelas karakter berkemajuan dan mencerahkan itu. Sebaliknya, bila tidak ada aktivitas membaca menulis, bahkan terkesan senyap karena tidak menaruh perhatian sedikitpun, karakter berkemajuan dan mencerahkan seperti rasa masakan tanpa garam.

Seharusnya, geliat aktivitas membaca dan menulis dalam konteks melahirkan produk pada sekolah-sekolah dan pondok-pondok pesantren Muhammadiyah menjadi aktivitas dominan di semua tingkatan. Bila perlu, keterampilan menulisnya menjadi distingsi dan mendapat perhatian serius. Karena kita tahu, lembaga-lembaga pendidikan Muhammadiyah merupakan basis persemaian kader persyarikatan. Orang boleh kurang setuju, tapi bagi saya ini penting, bahwa kader persyarikatan harus fasih lidah dan “fasih” penanya.

Menulis itu bukan bakat, melainkan keterampilan. Keterampilan itu perlu dilatih. Semakin dilatih, semakin terampil. Karena kemampuan menulis itu sebuah keterampilan, maka siapa pun harus berlatih. Semakin intens ia berlatih menulis, semakin mahir dia menulis. Boleh jadi, benarlah tips menulis yang diberikan Kuntowijoyo. Kata budayawan Muhammadiyah ini, kunci supaya mahir menulis hanya tiga. Pertama, menulis. Kedua, menulis. Dan ketiga, menulis.|

Sebenarnya, saya menyimpan tulisan ini sejak setahun lalu, saat pulang dari Panti Asuhan Yatim ‘Aisyiyah 03 Banyudono, Boyolali itu. Bagaimanapun, saya tahu kerepotan melahirkan karya buku. Apalagi, gagasan besar ini diusung Panti Asuhan Yatim dengan segala keterbatasannya. Jadi, andaikata tidak ada karya yang lahir dari small workshop menulis dari jemari anak-anak panti, permakluman saya lebih besar dari harapan saya yang menggunung.

Rupanya, pendampingan terus dilakukan Pengasuh panti selepas saya pulang. Pengasuh selalu memompa semangat menulis anak-anak asuhnya hingga lahir karya antologi cerpen dan pentigraf perdana mereka “Lezatnya Kesabaran” dan “Janji Surga Tertinggi” dalam dua wajah pada satu format buku. Ini benar-benar mengubah stigma panti yang cenderung dipandang sebagai “mustad’afin” di beberapa lini hidup mereka.

Tentu, saya malu sendiri dengan asumsi saya di muka, bahwa keterbatasan panti akan menghambat mereka berkarya. Nyatanya tidak. Di tangan saya sekarang antologi itu bisa saya raba. Tekstur paragraf, penokohan, diksi, alur, konflik, dan ending cerita sudah saya baca separuh. Ini patut disambut gembira segembira menyandang sebutan “berkemajuan” dan “mencerahkan” dalam kumpulan narasi yang dibukukan. Adakah panti Muhammadiyah atau Aisyiyah lain yang sudah melangkah sejauh ini?|

“Lezatnya Kesabaran” dan “Janji Surga Tertinggi” lahir dari rekaman hidup yang diawetkan. Anak-anak Panti Asuhan Yatim ‘Aisyiyah 03 Banyudono, Boyolali lah yang telah mengawetkan alur hidup mereka melalui karya ini. Para penulisnya telah membuktikan diri sebagai penghuni Panti Asuhan Yatim Literat. Capaian ini belum tentu bisa digapai lembaga yang sama, baik proses maupun produknya.

Saya maklum, segala sesuatu belum akan sempurna tiba-tiba. Begitu juga sebuah cerita. Cerita yang menarik, dibangun dari ide, penokohan, alur, konflik, dan ending yang menarik. Yang tidak kalah penting adalah cara menyajikan cerita yang unik, genunie, dan natural. Jalan ke sana memang masih panjang. Akan tetapi, apabila jalan itu sudah berani diretas, setengah dari pertarungan sudah dimenangkan para pejuang.

Melahirkan karya literasi memang rumit. Namun, kerumitan itu pasti akan terurai seiring waktu, seiring banyak berlatih, seiring karya-karya berikutnya datang menyusul. Bila ritme ini bisa dipelihara Pengasuh, saya percaya, akan lahir dari anak-anak Panti Asuhan Yatim ‘Aisyiyah 03 Banyudono, Boyolali setelah “Lezatnya Kesabaran” dan “Janji Surga Tertinggi” karya berikutnya. Saya menantikannya sebagai penebus rasa bersalah menunda tulisan ini setahun berlalu.

Satu frasa dari saya untuk Panti Asuhan Yatim ‘Aisyiyah 03 Banyudono, Boyolali; “Panti ini sudah menemukan distingsinya”. Tanpa perlu meminta izin Toni Morrison, saya modifikasi quote-nya yang keren itu. “Jika ada panti yang ingin punya distingsi literasi, tetapi ia belum memulai, maka kalianlah yang telah memulainya.”

Salam literasi.
Depok, 27 November 2023.


Kamis, 23 November 2023

Gaji Guru dan Konflik di Ruang Dapur


Ilustrasi Gandum. FOTO/iStockphoto

Catatan ini berangkat dari citra guru pada era keemasan Islam. Sedikit capek menyelisik beberapa jurnal berbahasa Arab dan mengikuti ulasan seorang Kiai Muda dengan wawasan sejarah peradaban Islam yang keren, catatan ini hadir mendahului Hari Guru yang akan jatuh pada Sabtu, 25 November 2023 esok. Karena itu, catatan ini juga agak panjang. Tidak seperti catatan-catatan saya yang lain.

Tidak mengapa catatan ini mendahului Hari Guru yang substansinya juga belum jelas untuk apa. Akan tetapi, substansi dari peradaban Islam yang menempatkan guru begitu terhormat, seolah nasib guru hari ini mundur ribuan tahun. Coba simak pelan-pelan catatan ini sambil ngopi-ngopi dengan kakanda atau adinda di rumah.

Pada masa peradaban Islam, gaji guru –ini salah satu poinnya–bikin ngiler. Andaikata zaman ini bisa diputar ulang –seperti cerita sinetron Lorong Waktu-nya Deddy Mizwar– banyak guru akan menekan tombol “Masa Khilafah Islam”, terlempar dan mendarat di pusat Madinah, Baghdad, Damaskus, atau Andalusia, lalu mendaftar menjadi guru atau dosen untuk mencicipi manisnya buah peradaban yang tinggi di sana.

Berangan-angan, boleh dong. Namun boleh jadi, berangan-angan masuk ke lorong waktu untuk bisa nyicipin gaji guru di masa khilafah itu bisa dicap halu di siang bolong. Guru berprestasi bukan, malah jadi ‘guru halu’. Haaaaaa.

Akan tetapi, masih bahagia guru halu ketimbang guru ngenes. Se-halu-halu-nya guru halu, masih bisa tidur nyenyak. Guru halu masih bisa senyum meskipun itu senyum utopis. Sedangkan guru ngenes, senyumnya saja senyum breakdown, apalagi tangisannya.

Link Provokasi

Kemarin, ada teman yang berbaik hati menyodorkan link berita soal kasus guru di gorontalo.tribunnews. Saya tahu maksudnya, dia ‘mancing-mancing’ agar muncul tulisan saya ala kadarnya menanggapi. Teman ini tahu betul kelemahan saya yang mudah diprovokasi bila sudah berurusan dengan menulis.

gorontalo.tribunnews memuat akar konflik guru vs yayasan di sebuah sekolah. Seperti umumnya konflik dua entitas sekolah ini meletup, lagi-lagi pangkalnya adalah urusan kesejahteraan atau urusan honor. Ini masalah klasik. 19 tahun yang lalu saya mengalami hal ini.

Kasus-kasus seperti yang diangkat gorontalo.tribunnews ini selalu berulang. Ada yang kasusnya diekspos, ada yang disenyapkan. Boleh jadi, kasus yang disenyapkan tidak terhitung intensitasnya karena terlalu sering dan senyap.

Silakan browsing saja di internet untuk membaca lebih jelas beritanya. Ketik saja keyword “Yayasan Al-Azhar Gorontalo” pada search engine Google Chrome Anda.

Martabat Guru di Era Khalifah Rasyidah

Hampir seribu tahun lalu di era khilafah, profesi paling bergengsi adalah guru. Potensi intelektual dan aktivitas mengajar mereka benar-benar ditempatkan pada maqam terhormat. Besaran gaji mereka pada masa itu benar-benar mencitrakan guru sebagai pahlawan dengan tanda jasa.

Meskipun gaji bukanlah segala-galanya, penguasa dan masyarakat menjaga muruah guru dengan memberikan gaji yang cukup. Penguasa dan masyarakat sangat mengerti bahwa waktu guru lebih banyak untuk berkhidmat kepada ilmu dan mengajar. Maka, tidak ada penghormatan bagi guru secara materi selain memberikan mereka gaji yang cukup sebanding dengan sumbangsihnya mencerdaskan umat.

Ibnu Abi Syaibah mengisahkan soal kisaran gaji seorang guru di Madinah pada masa khulafaurrasyidin. “Di Madinah ada tiga orang guru yang mengajar anak-anak. Umar memberi masing-masing mereka gaji sebesar lima belas setiap bulan.” kata Ibnu Abi Syaibah.

15 apa? Dinar atau dirham? Kita selisik saja keduanya. Lalu timbang, yang mana yang lebih masuk akal.

Standar Dinar adalah emas, dan standar Dirham adalah perak. Satu Dinar di masa Nabi SAW setara dengan harga satu ekor kambing kualitas super. Patokan ini berdasar riwayat Imam Bukhari bahwa Nabi SAW pernah memberi Urwah satu Dinar untuk dibelikan seekor kambing.

Anggaplah hari ini seekor kambing kualitas super harganya Rp. 2.950.000. Bila harga ini dijadikan patokan Dinar, artinya gaji yang diberikan Khalifah Umar RA yang sebesar 15 Dinar kepada guru anak-anak di Madinah itu setara Rp. 44.250.000.

Ah, masa iya gaji guru untuk mengajar anak-anak sebesar itu. Boleh jadi banyak di antara kita terheran heran dan bertanya demikian. Boleh jadi pula keheranan itu lahir dari pengalaman praktis melihat atau merasakan gaji guru hari ini.

Oke lah. Mungkin gaji sebesar itu tidak rasional. Angkanya terlalu fantastis. Gaji sebesar itu, bikin guru halu bertambah halu saja. Kita konversi saja dengan ukuran 15 Dirham.

Pada masa Khalifah Umar, 1 ekor kambing kualitas super harganya 6 dirham. Bila patokan harga 1 Dirham yang dipakai adalah Rp. 491.000, berarti harga seekor kambing seharga Rp. 2.950.000. Iya, kan? Nah, bila dikalikan dengan 15 Dirham, maka besaran gaji guru anak-anak di masa Umar RA sebesar Rp.7.366.500 per bulan.

Tampaknya, angka ini lebih rasional bila dicocokkan dengan struk gaji guru di suatu madrasah di negeri antah berantah.

15 Dinar atau 15 Dirham?

kanzunqalam.com sempat menurunkan tulisan yang meluruskan kekeliruan soal gaji guru anak-anak di masa Umar RA ini. Menurutnya, yang benar bukan 15 Dinar, melainkan 15 Dirham. Namun, 15 Dinar menurut saya lebih tepat daripada 15 Dirham. Berikut alasannya.

Pertama, sudah dimaklumi, pada masa khalifah Umar RA, kebijakan perluasan wilayah Islam meraih sukses gilang gemilang. Negara di bawah khalifah Umar mencakup Jazirah Arabia, Palestina, Syria, sebagian besar wilayah Persia dan Mesir. Oleh Khalifah Umar RA, administrasi pemerintah dibagi menjadi delapan wilayah provinsi: Makkah, Madinah, Syria, Jazirah, Basrah, Kufah, Palestina dan Mesir. Konsekuensinya, wilayah Islam yang membentang sangat luas itu berpengaruh signifikan pada pendapatan negara dari berbagai sumber keuangan.

Kedua, Khalifah Umar RA adalah penguasa pertama yang menetapkan kebijakan keuangan dalam Islam. Umar lah khalifah pertama yang mengatur pendapatan dan pengeluaran keuangan, bagian-bagiannya, dan mengatur pembukuannya masing-masing.

Ketiga, khalifah Umar RA mengatur distribusi Baitul Mal kepada tiap-tiap golongan dengan besaran yang berbeda-beda, sebagai berikut:
Kepada Aisyah RA dan Abbas bin Abdul Muthalib RA masing-masing diberikan 12.000 dirham;
Para istri Nabi selain Aisyah RA masing-masing diberikan 10.000 dirham;
Ali, Hasan, Husain, dan para pejuang Badr masing-masing diberikan 5.000 dirham;
Para pejuang Uhud dan migran ke Abyssinia masing-masing diberikan 5.000 dirham;
Kaum muhajirin sebelum peristiwa Fathu Makkah masing-masing diberikan 3.000 dirham;
Putra-putra para pejuang Badr, orang-orang yang memeluk Islam ketika terjadi peristiwa Fathu Mekah, anak-anak kaum muhajirin dan anshar, para pejuang perang Qadisiyyah, Uballa, dan orang-orang yang menghadiri perjanjian Hudaibiyyah masing-masing diberikan 2.000 dirham.
Orang-orang Makkah yang bukan termasuk kaum Muhajirin mendapat tunjangan 800 dirham, warga Madinah 25 dinar, kaum muslimin yang tinggal di Yaman, Syria dan Irak memperoleh tunjangan sebesar 200 hingga 300 dirham, serta anak-anak yang baru lahir dan yang tidak diakui masing-masing memperoleh 100 dirham;
Di samping itu, kaum muslimin memperoleh tunjangan pensiun berupa gandum, minyak, madu, dan cuka dalam jumlah yang tetap. Kualitas dan jenis barang berbeda-beda di setiap wilayah.
Dengan catatan di atas, rasanya, gaji guru pada pada masa Khalifah Umar RA sebesar 15 Dinar, atau setara dengan Rp. 44.250.000 per bulan itu sangat masuk akal. Dengan kebijakan keuangan negara yang difokuskan khalifah Umar RA untuk kesejahteraan rakyat, termasuk guru, boleh jadi 15 Dinar bukan angka fantastis.

Kasus Perang Badar dan Upah Mengajar Calistung

Pada peristiwa Perang Badar –17 Ramadan 2 H/13 Maret 624 M–, 68 orang dari musyrikin Makkah menjadi tawanan perang. Nabi SAW menetapkan, harga tebusan tawanan saat itu nilainya 1.000 sampai 4.000 Dirham sesuai tingkat kekayaan masing-masing tawanan.

Yang menarik, bagi tawanan yang tidak sanggup membayar tebusan karena kemiskinan dan dia pandai baca tulis, dia dibebaskan dengan syarat. Syaratnya dia harus mengajar sepuluh anak-anak Madinah keterampilan menulis.

Catat, jika satu Dirham senilai Rp. 491.000 itu dikonversi dengan harga tebusan yang terendah yaitu 1.000 Dirham, itu artinya, harga satu tawanan Badar nilainya Rp. 491.000.000. Bila angka itu dibagi 12 sebagai ukuran gaji per bulan, nilainya Rp. 40.916.000.

Waw! Angka ini mendekati gaji per bulan mengajar menulis anak Madinah di masa Umar RA yang 15 Dinar per bulan.

Insentif Guru di Era Khilafah

Di era khalifah Umar bin Abdul Aziz, gaji guru tak ada ada obat. Cicit dari Umar bin Khattab RA, khalifah ke-8 Daulah Bani Umayyah ini pernah menginstruksikan para gubernurnya untuk mendata orang-orang yang berprofesi sebagai guru. Khalifah kemudian memerintahkan para gubernur memberikan setiap guru sebesar 100 Dinar dari kas negara. Alasan khalifah, karena guru sudah terlalu sibuk mengajar hingga tidak punya waktu banyak untuk mengurus urusan dapur mereka.

Di era Daulah Bani Abbas pada masa Harun al-Rasyid memerintah, khalifah ke-5 yang naik tahta pada usia 20 tahun menggantikan kakaknya, Abu Muhammad Musa al-Hadi (764-786 M) mengeluarkan kebijakan bikin ngiler. Guru dan ulama benar-benar dimuliakan karena aktivitas dan karya kreatif di bidang literasi ilmiah. Karya tulis guru dan ulama, baik karya sendiri maupun terjemahan ditimbang. Seberapa pun berat buku karya mereka dihargai dengan emas seberat bobot timbangan buku atau karya terjemahan mereka.

Saat Daulah Ayyubiyah berkuasa, Ayyubiyah fokus membangun angkatan perang dan program-program militer guna menghadapi pasukan salib yang menjajah sebagian wilayah kaum muslimin termasuk menguasai al-Quds. Meskipun demikian, menurut laporan Imam Suyuthi rahimahullah, Sultan Shalahuddin al-Ayyubi tetap memperhatikan pendidikan. Gaji guru pada masa itu bikin bengong sambil ngiler guru di suatu madrasah di negeri antah berantah.

Di madrasah yang didirikannya –Madrasah Ash-Shalahiyyah– Sultan memberikan gaji guru sebesar 40 dinar setiap bulan. Ini setara dengan Rp. 156.000.000. Gaji juga diberikan masing-masing sekitar 10 dinar atau sekitar Rp. 39.000.000 untuk pengelola madrasah. Selain gaji pokok, Sultan juga memberikan tunjangan makanan pokok sebesar 60 rithl Mesir – kurang lebih 10 kg– setiap hari kepada para guru dan pengelola madrasah.

Di zaman ini, gaji guru untuk mengajar anak-anak pada masa Umar RA yang sebesar Rp. 40.916.000 per bulan, itu bukan fakta yang musykil diterima. Tengoklah Austria. Gaji guru di negara yang terletak di bagian tengah Eropa Utara ini adalah gaji guru paling rendah di antara 10 negara dengan gaji guru tertinggi di dunia. Meskipun angkanya paling rendah, gaji rata-rata guru di Austria adalah US$ 50.000 per tahun atau setara Rp. 715.000.000 atau Rp. 56.500.000 per bulan.

Angka Rp. 56.500.000 gaji guru di Austria per bulan hari ini, selisihnya hanya Rp.15.584.000 lebih tinggi dari gaji yang diberikan Umar RA 1.379 tahun yang lalu.

Rasa-rasanya, Khalifah Umar RA lebih paham soal kedudukan ilmu dan kemuliaan guru daripada pemerintah Austria. Maka, 15 Dinar gaji guru untuk mengajar anak-anak di Madinah yang diberikan Umar RA menjadi masuk akal.

Rp. 44.250.000 per bulan untuk menggaji guru memang cukup berat untuk ukuran negeri antah berantah di mana tingkat korupsi dan kebocoran anggaran negaranya sangat tinggi. Apalagi, 1% orang terkaya di negeri antah berantah itu menguasai 46% kekayaan penduduk negeri. Ya, bagaimana bisa menggaji guru anak-anak bangsa Rp. 44.250.000 per bulan?

Dilema Antara Muruah dan Gaji

Mengajar yang dijalani guru di kelas lebih banyak berpaut pada urusan hati daripada urusan uang. Guru selalu senang menjalani hari-hari bersama peserta didik. Apalagi bila kehadiran guru selalu dirindukan murid, seketika itu juga batin guru sudah terpuaskan. Guru menjadi lupa, berapa angka gaji yang diterimanya tiap bulan saking bahagianya.

Akan tetapi, bila guru sudah di rumah, berkumpul dengan anak dan istri, lalu menengok dapurnya, maka urusan kepuasan hati di kelasnya tadi pagi, saat itu juga sudah dilupakan. Mengapa? Karena di tengah-tengah keluarga, jiwa guru sudah masuk dimensi materi. Urusannya bukan lagi kepuasan batin di kelas, melainkan soal isi dompet untuk menghidupi keluarga. Seindah apa pun cerita pengalaman mengajar yang menyenangkan di kelasnya tadi pagi tidak bisa dipakai untuk membeli nasi dan lauk pauk.

Maka, bila dapur guru sudah tidak mengepul karena logistik sudah habis, tidak ada pilihan, guru akan mencari pekerjaan sampingan untuk menyambung hidup. Tidak heran, ada banyak guru honorer yang nyambi jadi ‘pilot’ ojek online dan beragam pilihan pekerjaan halal meskipun batinnya meronta-ronta. Pernahkah Anda membayangkan perasaan seorang guru yang mengantar pesanan Goofood? Dan, anak remaja tanggung yang menerima pesanana itu bergumam seakan tidak percaya: "Eh, Pak Guru?"

Pada kondisi demikian, profesi guru bukan lagi menara gading yang harus dipertahankan muruahnya di tengah-tengah keterbatasan ekonomi. Saat itu, yang diperjuangkan guru adalah merebut menara pengintai untuk melihat peluang mendapatkan uang buat menambal gaji yang bertahan hanya sampai tanggal 15 tiap bulan. Di sini, konflik di ruang dapur guru akan selalu berlangsung tiap bulan. 

Tentu, problem seperti ini dialami kebanyakan guru honorer bergaji kecil. Mereka guru-guru yang tidak mendapat tunjangan jabatan, tidak pula tunjangan kesehatan, atau tunjangan beras, atau mereka guru-guru hebat yang padat dengan job kepanitiaan yang sambung menyambung. Bukan pula guru-guru dengan latar belakang finansial keluarga yang mapan. Juga bukan guru penerima sertifikasi yang tidak pernah tahu berapa saldo tunjangan profesi itu di rekeningnya karena belum pernah sekalipun dibelanjakan sejak kali pertama sertifikasi dicairkan pemerintah.

Dilema-dilema seperti di atas sering menimbulkan problem mendasar guru bergaji kecil di negeri antah berantah ini. Maklumlah, kesenjangan penghasilan masih menganga di antara mereka. Dan, problem dilematik menyedihkan seperti ini rasanya tidak dialami para guru era Khlalifah Rasyidah atau di era keemasan Islam pada abad pertengahan.

Kembali ke Jiwa Guru

Di mana pun, konflik kerap terjadi dalam skala yang berbeda-beda kadarnya. Ada konflik yang selesai dengan diam seiring waktu berjalan. Ada konflik yang diselesaikan dengan musyawarah kekeluargaan. Ada konflik yang baru bisa diatasi bila salah satu pihak mengalah lalu menarik diri. Namun, ada juga konflik yang baru bisa diselesaikan lewat jalur hukum.

Di lembaga pendidikan, tempat proses pendewasaan peserta didik berlangsung, konflik juga kerap terjadi, baik konflik ringan atau berat. Konflik seperti yang diberitakan gorontalo.tribunnews sudah termasuk konflik berat yang dipicu soal ketidakpuasan guru pada yayasan dalam pengelolaan keuangan.

Konflik yang menyangkut urusan keuangan di lembaga pendidikan sebenarnya bisa ditekan. Syaratnya cuma satu; kembali ke jiwa guru yang autentik. Guru yang autentik adalah jiwa yang lebih fokus pada proses transmisi pengetahuan, pendewasaan, dan penciptaan kesadaran belajar berkelanjutan pada peserta didik. Di situlah energi guru dihabiskan. Akan tetapi, bila jiwa autentik guru sudah berjalin berkelindan dengan urusan keuangan, dari sinilah percikan-percikan potensi konflik kerap meletup kapan saja.

Apakah ini bererti guru tidak boleh dilibatkan dalam pengelolaan keuangan sekolah?

Boleh-boleh saja asalkan ada batasannya. Batasannya itu adalah teori “asalkan”. Asalkan mencerminkan keadilan distribusi, asalkan tidak ada campur tangan leader yang terlalu jauh kepada tim yang ditugaskan mengelola satu kegiatan dalam soal pembiayaan dan fee, asalkan formulasi honorarium diberikan sesuai beban kerja, asalkan prinsip akuntabilitas dan transparansi dijalankan, dan asalkan-asalkan yang lain yang sesuai prinsip-prinsip pengelolaan keuangan. Bila teori “asalkan” ini dijalankan, meskipun gaji guru belum setara pada masa khalifah Umar RA, jiwa autentik guru akan tetap lestari. 

Selamat menjelang Hari Guru.

Ruang Guru, Kamis, 23 November 2023.

Jumat, 10 November 2023

Marwah

Word of Honorable. https://thesaurus.plus/synonyms/honorable

Ada sahabat Facebook saya dari Surabaya; Mas Agung Prihandoko. Mas Agung merespons status WA saya hari ini. “Terungkap aja masih ngeri,” tulis Mas Agung yang dikirim ke nomor saya. Ini kali yang ke sekian Mas Agung ‘open’ dengan status WA saya.

Saya suka sekali mengoleksi keyword penting. Ia saya petik dari mendengar, menyimak, mengamati, bahkan sering saya pisahkan dari obrolan ringan dengan siapa saja. Lalu, keyword itu saya ikat jadi status WA seperti status WA saya hari ini.

Keyword dan status WA saya itu ide tulisan tersimpan. Karena status WA itu umurnya hanya 24 jam, maka sebelum status itu “mati” esok hari, saya sempatkan mengembangkannya menjadi narasi yang cukup untuk dibaca sekali duduk. Apalagi respons Mas Agung di atas jadi pemantik. Cepat-cepatlah ide itu diabadikan.

Adalah cerita Pak Tanenji; Kasubdit PAUD Yayasan Syarif Hidayatullah saat beliau menyampaikan sambutan dan membuka acara “Ngaji Bareng” di aula Masjid Andalusia Madrasah Pembangunan pada 10/11/23 selepas Jumatan. Ada dari sekian butir dari pesan beliau yang sayang bila hanya didengar lalu dilupakan.

Tentu, tidak cukup ruang dan waktu menurunkan cerita Pak Tanenji itu di sini untuk efisiensi narasi. Inti cerita Pak Tanenji adalah tidak mudahnya orang tua meluluhkan hati anak bila sudah bertemu simpul dengan guru. Bila orang tua memandang ada hal yang keliru dari anaknya dan ingin meluruskan, seringkali anak mengelak dengan bahasa kepatuhan pada gurunya, “Kata Bu guru emang begini!” Kalau sudah demikian –meminjam istilah Ustaz Zaki al-Hafiz– ruwet, ruwet.

Bila kesalahan itu substansial seperti kesalahan bacaan Alquran, boleh jadi kesalahan itu akan melekat selamanya pada jiwa anak. Maka, beruntung bila sejak awal orang menyadarinya dan kesalahan itu terungkap. Kalimat yang saya miringkan, itulah keyword Pak Tanenji yang saya gubah jadi status WA: “Bayangkan bila kesalahan itu tidak pernah terungkap…. Dalem, ngeri.”

Karena Pak Tenaneji sedang membawakan cerita faktual dan beliau ini dosen yang panjang akal, beliau memberi saran jitu pada orang tua sang anak untuk meluruskan kekeliruan itu, bukan dari mulutnya karena kemungkinan akan sia-sia. Dan, cukup lima menit saja, kekeliruan itu selesai melalui guru si anak itu sendiri. Nah, kecerdikan membangun komunikasi awal kepada guru itu untuk mengubah kesalahan persepsi anak, ini mahal.

***

Ngaji Bareng hari ini bertajuk Bacaan Gharib dan Musykilat. Saking gharib dan musykil-nya, pernah belajar, tapi karena jumlah kata-kata gharib dan musykil itu sedikit dari sebanyak 77.845 kata dalam Alquran, jadi sering lupa bila sendirian menemukan bacaan itu dalam mushaf.

Ngaji seperti ini penting pake “banget”. Apalagi bagi guru madrasah, tak peduli apakah itu guru Sains, PJOK, IPS, Bahasa Inggris, PKn, atau guru Seni dan Budaya. Membaca Alquran dengan benar memang bukan khusus untuk guru Quran Hadits, Fikih, atau guru Tahfizh. Guru vokal pun apabila dia muslim, Fardu Ain hukumnya membaca Alquran sesuai tajwid.

Nah, dari ngaji tadi siang itu, kami para guru disegarkan lagi dengan Saktah, Imalah, Isymam, Naql, Tashil, dan aneka musykilaat perubahan suara bacaan. Aduh, rasanya masih banyak hal tercecer dari Alquran yang belum dikuasai, seperti ada huruf sin dalam satu kalimat yang bisa dibaca dengan suara huruf shad dan sebaliknya. Nah, kondisi tercecer ini khususnya berlaku bagi pribadi saya.

Ngaji Bareng tadi siang ini sejuk. Jiwa terasa disiram embun oleh suara merdu narasumber saat memberi contoh perihal bacaan Gharib dan Musykil. Masya Allah. Andai orang bisa meminta suara merdu seperti itu sesaat dia “brojol” ke dunia, bolehlah saya orang pertama yang merengek diberi. Apalah daya, pita suara saya sudah bawaan pabriknya tak semerdu milik narasumber.

Suasana Ngaji Bareng juga terasa segar dengan pertanyaan-pertanyaan unik, tapi penting ala Pak Dry yang kadang terkesan Anti Mainstream. Oh, iya, suara Pak Dry juga merdu saat mengaji atau mengimami shalat Jumat. Ini valid. Kombinasi sempurna antara merdu suara dan Anti Mainstream. Usai foto-foto hendak shalat Ashar, saya candai Pak Dry. “Untung tadi Pak Dry tidak bertanya, Pak Kiai, itu nun mati, siapa yang bunuh?”

***

Beberapa hari yang lalu, di WA grup MTs dibagikan tulisan Dr Fauzan. Judulnya“Mengembalikan Marwah Pendidikan”. Ada di dalamnya disinggung karakter guru sebagai “Al-Muzakki”, yakni guru yang menunjukkan dirinya sebagai pribadi bersih, suci dari hal kemaksiatan, sosok yang selalu menjadi cermin kebaikan peserta didik. Juga karakter “Al-Muaddib” yang dapat dipahami sebagai sosok yang berperan dalam proses pembentukan nilai keadaban, budi pekerti, dan akhlak peserta didik melalui pembiasaan.

Terus terang ini berat, berat sekali. Boleh jadi, marwah pendidikan akan runtuh bila guru sendiri tidak punya marwah karena gagal menunjukkan karakter “Al-Muzakki” dan “Al-Muaddib” di hadapan peserta didik. Di sinilah bertemu koneksi cerita faktual Pak Tanenji dengan tulisan Dr Fauzan dalam persepsi saya hari ini meskipun konteksnya tidak sama.

Sedangkan marwah guru harus juga dijaga bukan hanya di hadapan peserat didik, tapi juga di hadapan sesama guru. Kalau boleh dipertegas, guru yang memegang jabatan, lebih mahal harga marwahnya dari harga marwah guru biasa dalam konteka relasi kepemimpinan pedagogik di suatu lembaga. Keduanya punya kewajiban untuk saling menjaga marwah masing-masing.

Uang sering menjadi Jebakan Batman. Marwah guru bisa terancam hilang disapu angin tergoda uang yang bertalian dengan posisi jabatan. Bila itu terjadi –seperti kasus penyelewengan dan BOS yang ramai di medosos misalnya–hilang pula marwah guru dan marwah pendidikan sebab jabatan itu sudah dijadikan sebagai mesin uang yang mencoreng marwah.

Oleh karena itu, jangan sungkan-sungkan betindak bila ada dari kolega guru sejawat mulai “miring-miring” masuk Jebakan Batman. Harus ada kolega yang mengingatkan sejawat itu agar marwah guru dan pendidikan tidak jatuh terjerembab karena ulahnya. Jangan setali tiga uang dengan membiarkan, apalagi ikut masuk Jebakan Batman karena manisnya uang yang semanis madu.

Dalam konteks ini, boleh juga dibongkar filosofi tulisan Dr Fauzan itu. Apakah tulisan beliau merupakan refleksi dari marwah pendidikan yang memang sudah hilang hingga dia harus dikembalikan. Atau sekadar warning agar guru benar-benar kuat mental mempertahankan karakter “Al-Muzakki” dan “Al-Muaddib” sebagai yang digugu dan ditiru.

Bila marwah guru telah jatuh dan marwah pendidikan telah hilang, hancurlah peradaban. Sosiolog dan pemikir Maroko Dr. Mehdi El Manjra (1933-2014) meskipun mengutip pendapat seorang Orientalis, boleh juga disinggung ungkapannya di sini karena cukup relevan, yakni soal jalan rusaknya peradaban. 

Kata Mehdi:

”Idza aradta an tahdim hadaarat, fa hunaaka tsalaatsu wasaail; hadmi al-usrah, hadmi al-ta’lim, isqaat al-qudwah.” Bila Anda ingin menghancurkan sebuah peradaban, ada tiga caranya: dengan merusak rumah tangga; merusak pendidikan, dan merusak panutan.

Di lain segmen, cerita Pak Tanenji tadi siang, mengingatkan pada kisah Iskandar Dzul Qarnain dan penghormatan Raja Agung itu pada sang guru. Dikisahkan, Iskandar Dzul Qarnain pernah ditanya mengapa dia begitu menghormati gurunya lebih dari menghormati kedua orangtuanya.

“Li anna abi anzalani min al-sama ila ‘l-ardhi, wa ustadzi yarfa’uni min al-ardhi ila ‘s-samai.” Karena orangtuaku telah menyebabkan aku turun dari langit ke bumi, sementara guruku mengangkat aku dari bumi ke langit. Demikian jawaban Iskandar Dzul Qarnain menempatkan guru sebagai orang yang patut dihormati sebagaimana menghormati orang tua. Sudah pasti, guru yang dihormati Iskandar Dzul Qarnain adalah guru dengan marwah mulia.

Ini berat, berat sekali. Semoga marwah masih tegak di pusat peradaban dibangun.| 

Minggu, 05 November 2023

Pizaro Citizen Journalism dan Palestina

Saya dan Pizaro saat launching salah satu seri buku saya "Kiai Kocak". Foto milik Lukman Hakim Sidik 

Namanya Pizaro Gozali Idrus. Saya memanggilnya Pizaro. Nama yang keren. Usianya lebih muda 10 tahun dari saya. Tapi, semua orang tahu, usia bukan ukuran lebih tua lebih berbobot. Begitu juga antara saya dan Pizaro. Bolehlah saya lebih tua darinya 10 tahun, namun kapasitas Pizaro lebih “tua” bertahun-tahun dari saya.

Awal mula kenal Pizaro dari Facebook, lalu membaca novelnya "The Brain Charger". Beberapa kali mengikuti kelasnya yang menarik; “Zionisme Internasional”, topik yang berat tapi menggemaskan. Setidaknya bagi saya begitu.

Di mata saya, Pizaro itu humble. Dia dengan rendah hati pernah bersedia membincangkan buku saya; “Kiai Kocak” di satu forum bedah buku. Padahal waktu itu, honornya sebagai pembicara kecil. Saking kecilnya, kalau sekarang saya tanya, dia pasti lupa. Wkwkwkwk.

Pada 2017, Pizaro menjadi Redaktur Anadolu Agency, kantor berita yang bermarkas di Ankara, Turki. Setahu saya, Anadolu termasuk kategori jurnalisme perang. Pizaro naik kelas lagi dengan menyandang Jurnalis Internasional.

Pizaro cerdas, itu sudah pasti. Sekarang, cerdasnya dia bikin mata saya berkunang-kunang saat membaca aktivitasnya. Dia Senior Fellow Asia Middle East Centre for Research and Dialogue, Kuala Lumpur. Juga anggota Palestine International Forum for Media. Dan, Kandidat Ph.D pada bidang Policy Research and International Studies, Universiti Sains Malaysia.

Sebagai anggota Palestine International Forum for Media, Pizaro kerap menulis tentang Palestina. Tulisannya termasuk produk jurnalistik yang paling jernih menggambarkan Palestina dan HAMAS. Tak heran, hari-hari ini, tulisan dan pembicaraannya tentang Palestina dan HAMAS sering menjadi rujukan pemerhati Palestina. Yang bukan beneran pemerhati Palestina seperti saya, pun merujuk Pizaro.

Saya termasuk yang baru tahu, bahwa agresor Israel sudah menjatuhkan 18.000 ton bom ke Gaza. Jumlah sebanyak itu setara 1,5 kali lipat lebih banyak dari bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima pada 6 Agustus 1945. Saya tahu soal ini dari salah satu status Pizaro di akun Facebooknya.

Ada salah satu tulisan Pizaro yang sangat menarik. Tulisan ini berisi guidance utamanya menurut saya untuk Citizen Journalism dengan istilah-istilah kunci saat mereka akan menulis tentang Palestina. Karena Citizen journalism adalah kegiatan jurnalis yang dilakukan oleh orang-orang yang bukan dari kalangan jurnalis profesional, saya memandang tulisan Pizaro penting diperhatikan Citizen Journalism mengindahkan keyword dari Pizaro supaya tidak keliru saat mendeskripsikan persoalan Palestina hari ini.

Begini kata Pizaro:

Pertama, hindari menulis kata “Konflik Palestina-Israel” karena yang terjadi di tanah Palestina bukan konflik, tapi penjajahan struktural. Istilah konflik tidak menggambarkan realitas sesungguhnya di Palestina yang mengalami kolonialisme sistematis oleh zionis. Istilah konflik tentunya juga tidak menggambarkan agresi dan ketidakadilan Israel terhadap masyarakat adat Palestina.

Kedua, media-media juga lebih memilih untuk menulis “bentrokan antara warga Palestina dan tentara Israel”. Berita-berita ini mengaburkan akar kekerasan Israel yang seolah-olah peristiwa ini hanya insiden sementara dan bukan kekerasan sistematis yang dilakukan penjajah Zionis sejak lama.

Ketiga, hindari menulis kata-kata “teroris Hamas”, “Teroris Palestina”, dan “tentara Israel”. Istilah ini mengesankan Hamas dan kelompok perlawanan Palestina lainnya adalah entitas ilegal, sedangkan Zionis adalah negara resmi dan tentara resmi. Padahal yang terjadi adalah sebaliknya. Zionis saat ini menduduki tanah curian yang menjadi hak sah bangsa Palestina.

Keempat, dalam menyebut kelompok perlawanan, langsung saja sebut Hamas. Menggunakan istilah “militan Hamas” sama saja mengabaikan fakta bahwa mereka memenangkan pemilu secara demokratis sejak tahun 2006.

Kelima, hindari menulis perlawanan bangsa Palestina tanpa konteks. Jelaskan dalam penulisan akar masalah mengapa bangsa Palestina melakukan perjuangan. Karena mereka mengalami penindasan secara panjang, tidak bebas menjalankan agamanya, hidup blokade, boikot ekonomi, kemiskinan, dll akibat penjajahan.

Keenam, pastikan konsistensi dalam menggambarkan korban Palestina sebagai “terbunuh”, bukan “meninggal/tewas”. Hindari penggunaan kalimat pasif saat mendeskripsikan peristiwa. Dalam judul, sebutkan siapa yang melakukan tindakan tersebut, bukan hanya di mana tindakan tersebut terjadi, untuk menghindari ambiguitas dalam penulisan.

Ketujuh, berikan konteks penuh terhadap peristiwa-peristiwa tersebut, termasuk peristiwa-peristiwa sebelumnya yang telah menyebabkan kekerasan. Hindari menyiratkan bahwa tanggung jawab atas kekerasan hanya ada pada bangsa Palestina. Mereka adalah “korban” bukan “pelaku”. Jangan sampai yang terjadi dalam penulisan adalah sebaliknya.

Nah, ini keren. Bila Anda adalah bagian dari Citizen Journalism dan ingin menulis tentang Palestina, guidance dari Pizaro patut diperhatikan. Yang paling penting lagi, jangan jadi Citizen Journalism corong Zionis Yahudi yang kerap menuduh HAMAS adalah Syiah dan antek Yahudi.

Terima kasih, Pizaro. One day, Palestine will be free.

Sabtu, 14 Oktober 2023

Anda Guru Tidak Pantas Untuk Pekerjaan Ini


Review kerja kelompok guru kelas 4 Workshop Asesmen Sumatif KKG MI Cipayung. Foto Credit: Suprihatiningsih

TIGA puluh satu tahun lalu menginjakkan kaki di sekolah ini. Waktu itu baru lulus Madrasah Aliyah. Masih segar, energik, dan idealis. Tiap hari jalan kaki lebih kurang 1 km pergi mengajar. Honorarium tidak seberapa. Tidak dapat uang transport, tidak uang makan, tidak pula uang tunjangan. Akan tetapi, energi selalu penuh.

Semula, tidak pernah terpikir menjadi guru. Mendengar kata orang, gaji guru itu kecil bila hanya honorer. Ia masih kalah dengan upah kuli bangunan. Di belakang hari, ada benarnya kata orang soal gaji guru itu. Jadi, sempat kaget saat menerima honor bulan pertama mengajar. Saat itu, upah minimum buruh di Jakarta saja memang baru Rp18.200 per bulan.

Ayah memberi nasihat yang menohok soal honor pertama itu. Katanya, “Bila semua orang berpikir dan berbuat seperti yang kamu pikirkan, maka tidak akan ada orang yang mau mengajar. Semua memilih jadi kuli bangunan saja. Lalu, siapa yang akan mengajar anak-anak di madrasah?”

Jleb!

Per Januari 2023, upah minimum buruh di Jakarta sudah Rp 4.901.798. Senang rasanya jadi buruh bila fokusnya pada upah. Tapi, dada terasa sesak. Kesenjangan penghasilan guru honorer di beberapa daerah pinggiran Jakarta masih sama dengan pengalaman 31 tahun lalu.

***

Sharing teknik penyusunan soal Pilihan Ganda, Isian, dan Jawaban Singkat Asesmen Sumatif KKG MI Cipayung. Foto Credit: Suprihatiningsih

HARI ini begitu bermakna. Kebermaknaan itu sebab bertemu komunitas guru madrasah yang peduli dengan kekuatan kolaborasi, sharing, dan mau belajar di madrasah tempat dahulu saya memulai karier mengajar. Mereka guru-guru yang sadar pada perubahan yang harus dijawab dengan kesadaran belajar. Seperti ingin menjawab sindiran, “Guru yang berhenti belajar, sebaiknya berhenti mengajar” mereka mengundang untuk sesi sharing pengalaman, fokus pada perencanaan asesmen, membuat indikator soal, dan merancang kisi-kisi persiapan asesmen sumatif pada Desember esok.

Penggagasnya Kelompok Kerja Guru (KKG) Madrasah Ibtidaiyah Kelurahan Cipayung, Depok. Ketua KKG-nya siswa MI saat kali pertama menjadi guru 31 tahun lalu. Siswa ini termasuk siswa cerdas saat dulu saya mengajar. Setelah tamat dari Muallimat, dia mengambil studi Jurusan bahasa Arab di UIN Jakarta. Pernah menjadi Kepala Madrasah, karier tertinggi seorang guru. Salut.

Surprised! Sekretaris KKG-nya siswa saya Jurusan Akuntansi pada 2003. Posturnya yang mungil masih saya ingat. Juga senyum serta sopan santunnya sejak di SMK tidak berubah. Ah, bahagia sekali, hari ini kedua siswa saya menjadi motor penggerak.

***

AWALUDIN, sang sekretaris KKG tak mengira akan menjadi guru. Cita-citanya ingin jadi akuntan. Namun, rencana masuk Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) kandas karena faktor ekonomi. Seperti saya yang orang kampung, Awal –begitu saya memanggilnya– lalu bekerja apa saja untuk meringankan beban hidup orang tua selepas lulus SMK. Tapi, Awal lebih gigih daripada saya soal melakukan segala pekerjaan. Hingga satu waktu, ada orang yang meminta Awal mengajar olahraga di sebuah madrasah.

Awal memang punya skill olahraga yang baik. Dia punya kecerdasan Kinestetik sangat menonjol sejak masih SMK. Kakinya begitu lincah menggocek 'si kulit bundar'. Tangannya seperti ‘bertuah’ bila sudah memegang raket. “Ha? Jadi guru olah raga badan kecil begini?” Begitu Awal bercerita berseloroh pada saya tadi siang.

Pesan sang ibu memantapkan Awal memilih profesi guru. Dia dinasihati supaya fokus mengajar saja meskipun honor tidak seberapa. Namun, Awal sempat berhenti mengajar dan melakukan apa saja pekerjaan halal asalkan punya penghasilan lebih besar dari honor mengajar. Pada akhirnya, Awal memutuskan kembali menjadi guru mendengar sindiran rekan kerja yang menohok waktu itu, “Anda guru. Tidak pantas untuk pekerjaan ini.” 

Jebred! Teringat kembali Awal pada pesan ibu.

Saya antusias mendengarkan cerita Awal sepenuh jiwa. Pada penggalan cerita bagaimana saat dia menyempatkan waktu susah payah kuliah malam mengambil gelar Sarjana Pendidikan, ada keharuan menyeruak. Awal merasa belum absah mengajar sebelum mengantongi lisensi. Dari sini saya menemukan pembuktian lagi, bahwa pada dasarnya jiwa seorang guru adalah jiwa pembelajar. Kali ini saya dapat dari siswa sendiri yang sudah setara dengan saya; sebagai guru.

***

Berpose bersama peserta usai acara Workshop Asesmen Sumatif KKG MI Cipayung. Foto Credit: Suprihatiningsih

TERSAMBUNG lagi dengan Awal bukan sebuah kebetulan. Rupanya, dia pernah mengikuti sesi workshop di Madrasah Pembangunan empat tahun ke belakang. Diajak oleh koleganya dan semringah mengetahui salah satu pembicaranya adalah gurunya sewaktu SMK.

Moderator ada menyinggung dua alasan rekomendasi sesi sharing hari ini menyasar saya. Pertama, soal di mana saya mengajar. Jadi, poin pertama ini lebih pada soal reputasi Madrasah Pembangunan. Kedua, soal literasi menulis yang saya geluti. Moderator menyebut buku-buku karya saya sebagai guru penulis.

Dua alasan ini menjadi pertimbangan KKG menghadirkan saya untuk berbagi. Saya no comment. Soal lembaga, ada banyak guru Madrasah Pembangunan yang lebih mumpuni, lebih legitimate, dan lebih kredibel dengan posisi sebagai leader yang pantas dirujuk soal asesmen daripada saya. Apalah awak ini.

Lepas dari itu semua, ada poin perbincangan Awal selepas shalat Zuhur yang saya pikirkan terus sampai tulisan ini jadi. Soal nasihat rekan kerja Awal yang berkata: “Anda guru. Tidak pantas untuk pekerjaan ini.”

Alamak! Ucapan itu sepadan dengan:

“Anda guru. Tidak pantas berpolah laku begini.”
“Anda guru. Tidak pantas berucap begini.”


Bagi saya, itu satu kalimat sejuta interpretasi makna.

Thank’s Awal, telah bebagi cerita berharga. Teruslah menjadi guru penggerak!

Depok, Sabtu ceria, 14 Oktober 2023.

Rabu, 04 Oktober 2023

Generasi Baper

Baper. Resource https://tirto.id/

SEJAK internet mendunia, smartphone jadi personal device, dan media sosial jadi diary, orang bisa membaca isi hati dan isi pikiran orang lain melalui status, notes, atau video reels yang diposting melalui akun media sosial masing-masing.

Dunia jadi lebih ramai dengan loncatan efisiensi waktu yang tidak terkira. Dalam hitungan detik, guru di sebuah sekolah di Ciputat misalnya, bisa tahu seorang temannya yang tinggal di luar Jawa sedang makan di restoran mewah menikmati menu ‘Pecak Oncom’ dari unggahan video di Instagram miliknya.

Guru di Ciputat itu terbit air liurnya sebab unggahan itu dilihatnya di saat jam makan siang. Sayangnya, dia sedang tidak punya uang untuk membeli nasi karena tanggal tua. Jadilah dia guru baper dan menganggap postingan itu ‘tidak manusiawi’. Lalu, dorongan baper itu menuntun jarinya memberi komentar : “UNFAEDAH!”. Ditulis dengan CapsLock. Di-bold pula. Diikuti tanda seru (!). 

Dan, ‘perang’ dimulai.

Unggahan Pecak Oncom itu hanya ilustrasi. Akan tetapi, begitu banyak fakta kasus serupa terjadi. Kasus baper sebenarnya, tapi kadang berujung di pengadilan. Gara-gara status, video atau foto unggahan, baper bermain, orang berkelahi di media sosial, dan berlanjut pertarungan itu di Meja Hijau. Ini baper membawa sengsara. Padahal, mental anti baper adalah salah satu saham utama literasi digital dalam transaksi di media sosial.

Orang baperan itu seperti orang yang ketakutan tidak kebagian oksigen. Otak dan dadanya jadi sempit. Orang nge-share video atau foto, disangka sedang menggurui dia. Apa pun status orang yang dia baca, seolah itu khusus ditujukan pada dirinya. Membaca quote milik teman sebelah, disangka sedang menyindir. Membaca notes yang beririsan dengan pengalaman pribadi, disangka sedang menguliti aibnya. Lha?

Jadi, apa pun unggahan orang di akun media sosial, semua dipersepsikan sebagai tengah menunjuk batang hidungnya. Semua pesan itu dijustifikasi sebagai ‘ini gue banget’ dalam konotasi negatif. Ini baper level paling kacau dalam komunitas media sosial.

Orang baperan itu lupa, setiap pengguna media sosial dengan segala konten yang mereka unggah,  itu punya kepentingan masing-masing dan sangat subjektif sifatnya. Itu hak dia, subjektivitas dia.

Hanya saja, memang, dan ini karakter dunia maya yang tanpa batas, subjektivitas itu menjadi area terbuka di mana setiap orang akan menafsirkan sesuai dengan subjektivitasnya masing-masing juga. Lha, kalo baper jadi modal analisis untuk menafsirkan status atau konten orang lain, sampai kucing berjengger pun hidup dalam komunitas medsos tidak akan pernah bisa tenang.

Akan tetapi faktanya, hari ini medsos memang selalu 'hamil' dan melahirkan jutaan generasi baper.  Perangkat teknologi jadi bukan membuat hidup mereka menjadi mudah, malah menambah susah hati, susah tidur, susah makan, susah be a be, susah napas, akhirnya susah sosialisasi.

Baperan itu tidak ada obatnya, kecuali ojo baperan. Supaya punya sikap ojo baperan, pahami saja nasihat Grand Syeikh Al-Azhar Asy Syarif, Dr. Muhammad Sayyid Thanthawi.

Kata Syaikh: ”Likulli syakhsin nazhratuh, fa laa ta’tab nafsaka lituhsina ‘inda al-aa’khariin”. Jadi, “Pada akhirnya, setiap orang memiliki pandangannya masing masing, maka tak usah berlelah-lelah agar tampak baik di mata orang lain”.

Begitu kata Syeikh Thantawi yang diangkat menjadi Mufti Negara Mesir pada 28 Oktober 1986, diangkat sebagai Syekh Universitas Al-Azhar pada 1996 menggantikan Syekh Jad al-Haq Ali Jad al-Haq, dan wafat pada Rabu pagi, 10 Maret 2010 waktu Saudi Arabia. Syeikh Thantawi wafat di Saudi dalam usia 82 tahun akibat serangan jantung.

Salam anti baper.

Ruang Guru. Rabu, 4 Oktober 2023.

Senin, 02 Oktober 2023

Refleksi Maulid for Teenager

Ilustrasi generasi milenial. Resource dari https://news.unair.ac.id/

KALI ini ada rasa ‘gregetan’ dengan penceramah undangan yang isi ceramahnya out of context. Berharap dapat pencerahan baru bagaimana meneladani akhlak Nabi shallallahu alaihi wa sallam, malah miskin dari nilai cerah. Alih-alih ingin membuat suasana segar, penceramah malah melempar pantun bernuansa dewasa. Itu konten belum cukup umur untuk peserta didik tingkat Tsanawiyah. Ini poin pertama.

Berharap dapat refleksi dari ‘orang luar’, mendatangkan penceramah sebenarnya strategi bagus. Memang harus dipilih cara ini agar anak-anak dapat nuansa baru. Kalau tiba-tiba guru mereka sendiri –misalnya Pak Abdul– yang naik panggung ceramah, bisa-bisa mereka nyeletuk, “Dia lagi dia lagi”. Jadi, meskipun values atau isi ceramah itu sama saja dengan guru mereka sendiri, kejenuhan bisa dihindarkan.

Hanya saja, bila penceramah luar itu tidak well prepare, ceramah akan tidak efektif. Sangat mungkin pada waktu yang bersamaan, peserta didik asyik ngobrol dengan kiri-kanan, penceramah asyik sendiri dengan ceramahnya. Itulah yang terjadi pada acara maulid Jumat (28/9) kemarin.

Ujung-ujungnya, tidak kurang dari 30 menit penceramah sudah turun panggung, ceramah usai, zonk values, peserta didik ‘gak dapat apa-apa. Alasan penceramah bikin geli, karena anak-anak ‘gak fokus dengerin. E, busye?

Orang yang punya sense of critical thinking tentu bertanya, mengapa anak-anak ‘gak fokus dengerin? Tentu jawaban yang paling masuk akal bukan karena anak-anak ‘gak mau dengerin, tapi karena isi ceramah tidak menarik. Ditambah lagi dengan kegagalan penceramah merebut perhatian anak-anak.

Ini risiko mendatangkan penceramah luar yang tidak populer. Lain soal bila penceramah yang diundang  sekelas Dennis Liem. Kalau sudah Dennis Liem yang turun, rasa-rasanya, dia mau ngomong apa saja, pada suka semua. Jangankan peserta didiknya, guru-guru mereka yang perempuan juga betah berlama-lama dengerin Dennis Liem ceramah. Eheheheheh. Itu karena Dennis Liem punya tiga modal yang sangat kontekstual; popularitas, ganteng, dan da’i milenial.

Akan tetapi, populer tidak populer figur penceramah bukan satu-satunya kunci ceramah menjadi menarik. Misalnya, sebelum naik panggung, penceramah harus mau melakukan riset, meskipun hanya riset kecil-kecilan. Penceramah luar –populer atau belum– wajib tahu bagaimana kebiasaan audiens, dari kelas mana mereka datang, apa umumnya hobi mereka, bagaimana kondisi jika mereka mendengarkan ceramah dari penceramah luar sebelumnya, mana yang lebih kondusif antara ceramah dengan media indoor atau outdoor.

Ini resources yang harus diolah untuk mengemas materi ceramah. Rumit, ya. Ya, memang rumit, tapi kan sepadan dengan kemampuan menghadirkan ceramah yang memikat. Lagi pula, data-data itu bisa digali dari Wakasis. Wakasis punya semuanya. Jadi, ‘gak rumit, tinggal minta bocoran saja, selesai.

Naik panggung tanpa persiapan cukup, atau menyamakan dengan audiens di tempat lain, belum tentu presisi untuk segmentasi murid sekolah. Bila nekat, ini sama saja dengan ‘bunuh diri’. Apalagi untuk audiens sekelas peserta didik Madrasah Pembangunan. Ceramah tanpa well prepare di sini, sama saja masuk medan tempur tidak bawa senjata. Ujung-ujungnya penceramah minder sendiri karena merasa ceramahnya kurang mendapat respons. Ini poin kedua.

Masih ada cara alamiah untuk mengatasi lost focus audiens. Di sini, volume jam terbang dan pengalaman sangat menentukan. Jika merasa audiens sudah tidak memberi perhatian cukup, mengapa tetap stay di panggung? Cobalah turun. Dekati mereka. Libatkan mereka dalam ceramah. Ini efektif untuk merebut perhatian audiens. Tentu, mereka akan tersentak dan lalu memberi perhatian. Tinggal, pertahankan perhatian mereka itu dengan pesan-pesan yang menyentuh. Ini jauh lebih bermakna ketimbang membiarkan mereka tidak memberi perhatian dengan tetap ngomong di atas panggung. 

Hal berikutnya adalah konten maulid yang 'sekufu' dengan usia mereka. Ada banyak bahan ceramah maulid yang bisa digali untuk peserta didik di zaman milenial ini. Bawakan saja kisah masa kecil Nabi yang sudah menggembala kambing sebagai bentuk kerja keras untuk memenuhi sedikit keperluan beliau. Ini penting untuk menanamkan karakter sabar dan kerja keras kepada anak-anak milenial atau generasi Z hari ini yang lebih suka pada hal-hal yang bersifat instan, maunya serba cepat, dan cenderung malas menjalani proses yang rumit. Kalau mengaku cinta Nabi, ya harus mau kerja keras. Itu poinnya tu.

Bawakan juga kisah masa kecil Nabi sampai beliau dewasa sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rasul yang tidak secuil pun terpengaruh tradisi jahiliyah dengan segala potret negatif cermin kemerosotan moral, etika, dan akhlak masyarakat Arab waktu itu. Bangun narasi kontekstual dengan dampak negatif dunia digital hari ini, tantangan terbesar generasi milenial dan generasi Z yang akrab dengan gadget karena begitu mudahnya mereka mengakses konten negatif melalui layar ponsel mereka. Katakan kepada mereka, sebesar apa pun bahaya era digital, seberapa sering pun menggunakan gaway, mereka tetap setia pada nilai-nilai akhlakul karimah warisan Sang Nabi. Keren, kan?

Ah, ya wis. Jangan diambil hati. Ini tulisan sembarang menunggu jam bubar sekolah.

Senin, 2 Oktober 2023.

Jumat, 29 September 2023

Bayi di Musim Bunga

Kaligrafi Muhammad. Source: https://artikula.id/

Musim Bunga

HARI pada 571 M yang silam, lahir sang pembawa rahmat bagi alam semesta, Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Beliau diutus untuk menggugah kesadaran umat manusia, mengusir kabut hitam (az-Zhulumat) peradaban jahiliyah mereka, dan mengajak hidup dalam naungan cahaya hidayah (an-Nur).

Dalam kalender Hijriyah, pada Rabu kemarin, selepas matahari tenggelam sampai Magrib di hari kamis, tepat hari itu jatuh tanggal 12 Rabiul Awwal. Pada tanggal itu baginda Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dilahirkan, bertepatan pada April 571 M.

Konon, Rabi’ berarti 'musim bunga'. Awwal, berarti 'yang pertama'. Jadi, Rabi’ul Awwal, sebagaimana lazim berlaku adalah bulan di mana bermulanya musim bunga bagi tanaman. Tiap Rabiul Awwal menjelang, di jazirah Arab buah-buahan mulai berbunga dan kemudian berbuah.

Bertepatan dengan Rabi’ul Awal saat beliau dilahirkan, berlangsung April dalam kalender Masehi. Anda pasti tahu, April adalah Spring, musim semi yang merupakan peralihan dari musim dingin kembali menuju musim panas. So, Anda juga pasti tahu pada bulan itu–April sampai Mei– bunga-bunga sedang mekar di wilayah-wilayah yang berlaku empat musim–Spring, Summer, Autumn, dan Winter. Cobalah misalnya, Anda ke Turki pada April tahun depan. Anda pasti menikmati ragam tulip yang sedang mekar memesona.

Momentum Cinta

Maka, sebagian kalangan merayakan momen Rabi’ul Awal ini dengan maulid sebagai bentuk cinta pada beliau. Momentum ini seperti harum bunga yang sedap. Dan, keharuman baginda Muhammad shallallahu alaihi wa sallam melalui syari’at Islam yang beliau sampaikan adalah keharuman yang harumnya bisa dihirup sampai ke negeri akhirat.

Ada banyak ragam ekspresi cinta kepada baginda Nabi. Asalkan ekspresi cinta itu tidak bertentangan dengan syari’at, boleh-boleh saja, bahkan menjadi keharusan, seperti bershalawat dan memperbanyaknya pada hari Jum’at.

Puncak dari ekspresi cinta Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam adalah dengan beriman kepadanya, beriman kepada syari’atnya, dan menjadikan beliau sebagai jalan untuk sampai pada derajat cinta tertinggi, yakni cinta kepada Allah.

Cinta Separuh Hina

Akan tetapi, salah satu esensi penting dari bentuk kecintaan kepada beliau adalah menjaga kehormatan. Ini tidak kalah penting dari bershalawat, sekedar pengakuan cinta Nabi, dan merayakan kelahiran beliau. Karena itu, tidak patut orang yang gemar melantunkan shalawat dan menyanjung-nyanjungnya di hari maulid, tapi di saat bersamaan merendahkan kehormatan beliau. Cela n'a aucun sens.

Karena itu, akal sehat siapa pun akan melawan bila ada orang yang mengatakan masa kecil Nabi itu ‘rembes’ –tidak terurus dengan baik– karena sempat hidup dalam asuhan kakek, Abdul Muthalib. Lebih tak elok lagi menyamakan masa kecil Nabi mulia ini dengan masa kecil anak-anak kampung nusantara yang nakal. Seandainya di negeri Arab ada pohon jambu, katanya, Nabi kecil juga ikutan nyuri jambu.

Ini apa?

Katanya sekadar guyon penyegar. Canda pelipur bosan yang monoton. Namun, pantaskah peri hidup Sang Nabi dijadikan bahan guyonan dan candaan tidak bermutu yang sekelas kaleng-kaleng?

Sekali lagi, patutkah orang yang gemar melantunkan shalawat dan menyanjung-nyanjungnya di hari maulid, tapi di saat bersamaan merendahkan kehormatan beliau sedemikian itu. Ini namanya cinta separuh hina.

Kasih Sayang Kakek

Muhammad shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah memilih sendiri dan mempersiapkan dirinya menjadi rasul. Tuhan lah yang mempersiapkan, memilih, dan menjadikannya terhormat sejak sebelum beliau lahir sebagai rasul. Adapun tuduhan yang merendahkan beliau, itu lain soal, itu urusan manusia degil.

Karena kehormatan yang absolut yang dilihat tanda-tandanya oleh sang kakek, dinamailah beliau “Muhammad”. Artinya “yang terpuji di langit dan di bumi” meskipun nama itu asing, alias tidak lazim di sekitar penduduk Makkah waktu itu.

Maka, amat sayanglah Abdul Muthalib pada sang cucu. Sang kakek hanya mau makan dan tidur bila berdampingan dengan Muhammad kecil. Kepada Ummu Ayman, budak peninggalan ayah bunda Nabi yang kemudian dimerdekakan dan sempat merawat beliau setelah Aminah wafat, Sang Kakek pernah berpesan, “Wahai Barakah! Janganlah engkau lalai menjaga anakku. Karena sesungguhnya, para Ahli kitab memperkirakan bahwa anakku akan menjadi Nabi umat ini”. Kelak, Nabi menyanjung Barakah atau Ummu Ayman sebagai perempuan ahli surga. Nabi bahkan menyebutnya sebagai ibu. “Ummu Ayman ummii ba’da ummii”, Ummu Ayman adalah ibuku sesudah ibuku, begitu kata beliau.

Abdul Muthalib bukan orang biasa. Dia orang terhormat yang amat disegani di kalangan Quraisy. Di Masjidil Haram, di dekat Ka’bah, Abdul Muthalib punya tempat istimewa, hamparan dari permadani tempat Abdul Muthalib duduk, menerima tamu, dan bercengkrama dengan anak-anak serta kerabatnya. Sebagai penghormatan kepada Abdul Muthalib, tidak ada satu pun dari mereka, termasuk anak-anak Abdul Muthalib yang berani menginjak atau duduk di sisinya di atas hamparan itu.

Satu kali, di saat Abdul Muthalib sedang berbincang kepada anak-anaknya yang meminta nasihat, Muhammad kecil datang menghampiri. Beliau ingin bergabung bersama sang kakek duduk di sisinya. Namun, sebelum beliau menginjak hamparan, anak-anak Abdul Muthalib menyambar tangan beliau, mencegahnya dari menginjak hamparan itu. Akan tetapi, bagaimana respons Abdul Muthalib. ”Da’au ibni innahu liya’tiina milkan”. Biarkan anakku ini. Sesungguhnya dia akan dianugerahi kemuliaan, kata sang kakek.

Rupanya, sedemikian besar cinta Sang kakek kepada Muhammad sejak beliau kecil. Lalu, dari mana asal-usul cerita bahwa nabi itu rembes saat diasuh Abdul Muthalib?

Manusia Terbaik

Muhammad shallallahu alaihi wa sallam adalah manusia terbaik. Pada riwayat Imam Ahmad, beliau menyebut bahwa Allah menciptakan makhluk (manusia), kemudian menjadikan beliau dalam sebaik-baik ciptaan-Nya. Allah menjadikan beberapa kabilah, lalu menjadikan beliau dari kabilah terbaik. Allah menjadikan mereka beberapa rumah, dan menjadikan beliau dari dalam rumah terbaik dan paling baik jiwanya.

Dalam riwayat Imam Muslim, beliau menegaskan bahwa Allah telah memilih Kinanah dari anak Ismail, dan memilih Quraisy dari Kinanah, kemudian memilih Hasyim dari Quraisy, dan memilih beliau dari Bani Hasyim.

Memang, beliau lahir dari tengah-tengah kaum yang suka berzina, suka mabuk, suka mencuri, merampok dan menyamun, suka mengubur bayi perempuan hidup-hidup, serta kebiasan lain-lain dari perilaku jahiliyah yang rendah. Akan tetapi, Allah memelihara jiwa beliau hingga tidak pernah bersentuhan dengan tradisi jahiliyah, tidak pula jiwa beliau dipengaruhi sekecil apa pun pengaruh jahiliyah itu. Tidak pula beliau pernah melakukan dosa sebab bersujud kepada berhala seperti yang dilakukan kaumnya kepada Laat, Manaat, Uzza, dan Hubal.

Bersih dari Pengaruh Setan

Ada kisah dada beliau dibelah Jibril. Kisah ini terjadi saat beliau berada di bawah pengasuhan perempuan dari Bani Sa’d bin Bakr bernama Halimah, sekira usia beliau 4 atau 5 tahun. Peristiwa ini direkam pada riwayat Imam Muslim. Pada riwayat itu, Jibril mengeluarkan suatu gumpalan dari dalam hati beliu seraya berkata “Hadza hazzhus syaithaani minka”. Ini adalah bagian setan yang ada padamu. Kemudian Jibril mencuci gumpalan itu dengan air zam-zam dari bejana emas, lalu mengembalikan bagian itu ke dalam dada Nabi seperti semula.

Dari riwayat ini, Muhammad kecil dari sejak usia 4 atau 5 tahun, sudah lepas jiwanya dari pengaruh setan yang dapat mendorongnya kepada perbuatan dosa (ishmah) dan tercela. Lalu, dari embusan angin apa pengandaian dibuat bila waktu itu di negeri Arab ada pohon jambu, Nabi kecil juga ikutan nyuri jambu bersama anak-anak seusianya yang umumnya bandel?

Allahul musta’an.
Allahumma shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad.


Depok, 14 Rabiul Awwal 1445 H