A homepage subtitle here And an awesome description here!

Minggu, 21 Desember 2025

Dari Diksi Sampai Integrasi

Ilustrasi berbagai pelayan pribumi di rumah orang Eropa sekitar tahun 1870. Foto Gambar-gambar Nederlandsch-Indische Prenten, Leiden, 1879/ Buku Jakarta: Sejarah 400 Tahun karya Susan Blackburn. Sumber gambar: https://www.alinea.id/nasional/kekejaman-majikan-dan-para-budak-yang-memberontak-b2feM9Bfy
Jangan “membenci majikan lama-mu” takut nanti “tidak betah” atau bermasalah dg majikan baru-mu. Dunia itu seperti roda, selalu berputar kawans.
Tidak ada yang salah dengan redaksi kalimat di atas. Maknanya sangat jelas. Andaikan tidak menggunakan tanda petik dua (“…”) pada frasa “membenci majikan lama-mu” dan “tidak betah”, pun sudah cukup jelas. Rasanya, tanda petik dua (“…”) pada kalimat di atas jadi kurang efektif bila maksudnya memberi makna pada fungsi selain dimaksudkan sebagai penekanan pada frasa yang “dipetik” itu. Demikian kata putri saya.

Kata “majikan” menurut KBBI, pun jelas menguraikan. Kata ini diartikan sebagai "orang atau organisasi yang menyediakan pekerjaan untuk orang lain berdasarkan ikatan kontrak". Ini arti yang pertama dari kata “majikan”. Arti yang kedua adalah "orang yang menjadi atasan (yang kuasa memerintah bawahan)".

Begitulah soal diksi “majikan” pada redaksi kalimat yang sedang saya bincangkan. Akan tetapi, boleh jadi saya lah yang salah paham, sedang terlalu sensitif sehingga memandang segala sesuatu sedang menuding saya berlebihan.

Meskipun rajin menulis, tapi soal teknis bagaimana menempatkan tanda baca pada satu kalimat atau kata dengan tepat, saya kerap merujuk agar tidak keliru. Beruntunglah di samping saya ada Mikal, putri pertama saya yang alumnus Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Jakarta jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Dari Mikal, saya jadi lebih melek soal fungsi tanda petik dua (“…”) pada frasa di atas yang menurut Mikal lebih tepat dimaksudkan sebagai penekanan.

Penekanan menurut kamus bermakna: "menggambarkan suatu proses, cara, perbuatan menekan atau menekankan". Maka, dalam konteks “membenci majikan lama-mu” dan “tidak betah” pada frasa yang “dipetik” pada kalimat di atas dimaksudkan hal yang benar-benar harus diperhatikan sebagaimana secara alami mata sudah menyorot tanda petik dua (“…”) saat ia dibaca.

Sekali lagi, tidak ada yang salah dengan kalimat di atas. Bila pun ada, itu hanya soal rasa bahasa yang kurang elok saja. Kekurangelokan itu karena diksi “majikan”. Andaikata diksi yang digunakan adalah “atasan” atau “pimpinan”, akan lain cita rasa bahasa yang disesap pembaca.

Berikut ini saya kutip komentar seorang guru yang mengajar subjek warisan ilmuwan muslim Al-Khawarizmi.
Bahkan membaca kata majikan aja kesel banget, kasar .... jongos apa kita? 😞😭. Jadi memang selama ini memposisikan diri sebagai majikan yaaa ... pantas, wkwkwk.
Umumnya, guru pewaris ilmu Al-Khawarizmi itu jarang yang “bermental sastrawi” yang peka soal diksi dibanding guru bahasa. Boleh jadi, karena bahasa itu bukan semata soal grammar, melainkan juga soal rasa. Soal rasa ini penting dalam pola komunikasi, baik komuniasi lisan maupun tulisan.

Dari Mikal saya juga diberi tahu, bahwa “majikan” bukanlah satu-satunya kata untuk makna menurut KBBI. Kata ini banyak sinonimnya. Di sinilah bermain rasa bahasa agar ia menjadi elok didengar atau dibaca sesuai konteksnya.

Bolehlah di sini saya beri contoh sedikit saja. Kata “majikan” bisa diganti dengan diksi “atasan” untuk menggambarkan pola hubungan dengan bawahan. Ada juga diksi “bos”, namun dalam konteks pendidikan, diksi ini masih mungkin dipertimbangkan sebab relasinya lebih dekat pada anak buah. “Atasan” atau “pemimpin” lebih recommended untuk menggambarkan pola hirarkis yang bersifat edukasi.

Adapun diksi “juragan”, “majikan”, atau “tuan” umumnya dipasangkan untuk pemaknaan relasi kepada abdi, babu, bayu, bedinda, benduan, budak, bujang, hamba, jongos, kacung, kawula, khadam, peladen, pembantu, peon, pesuruh, pramuwisma, sahaya, atau tambi.

Jadi, begitulah penjelasan putri saya, tanpa saya beritahu untuk apa diksi ini saya pertanyakan.|

Beberapa hari yang lalu soal “majikan” ini hangat diperbincangkan, sebab ia hadir bukan pada ruang hampa. Saya yang hadir dalam perbincangan, merasa kalimat ini jadi menarik karena dua hal: siapa yang menulis kalimat di atas; dan sikap civitas akademika Madrasah Pembangunan terkait proses integrasi dengan UIN Jakarta yang masih berlangsung dan sedikit banyak mengganggu stabilitas yayasan yang dikelola “majikan” yang lama. 

Lebih dari itu, perbincangan bukan semata soal diksi, melainkan pada hal yang lebih penting dari soal pilihan kata. Kesimpulan dari perbincangan pun bukan pada person to person, melainkan kepada kebijakan. Taruhlah kata “benci” dan diksi “majikan” itu harus diterima dengan berat hati, namun yang perlu Tuan dan Puan pahami, bahwa yang “dibenci” bukanlah person sang “majikan”, melainkan kebijakan “majikan” lama yang selama ini banyak dipertanyakan dalam hati kami masing-masing.

Jum’at kemarin, 19 Desember 2025, sekian banyak kebijakan “majikan” lama sudah diidentifikasi. Saya memang tidak menuliskan satu butir pun keluhan. Bukan berarti tidak punya keluhan, tapi karena keluhan saya sudah diborong teman-teman. Saya sempat membaca draf mentah butir-butir itu. Ada butir-butir yang sangat krusial yang harus menjadi agenda prioritas pemangku kebijakan yang baru.

Kalaulah boleh disebut butir-butir keluhan itu sebagai “dosa-dosa” “majikan” lama, semoga teman-teman memaafkan, meskipun permaafan itu dipermaklumkan dalam diam. Bilamana Tuan dan Puan “majikan” baru membuat betah, memang itu yang diharapkan. Yang perlu ditegaskan, jangan buka pintu gejala oportunis untuk masuk agar “dosa-dosa” masa lalu tidak berulang, agar semua pihak tidak terperosok pada lubang yang sama dua kali.|

Di akhir tulisan ini, saya menggunakan diksi “pimpinan” sebagai konsekuensi dari memilih cita rasa dan selera bahasa saya meskipun masih juga saya pakai diksi “majikan” di penghujungnya.

Sikap kritis yang beretika harus mendapat ruang dalam relasi antara atasan dan bawahan. Sikap ini sangat penting, di samping agar kemaslahatan madrasah dan civitas akademika lembaga tidak menyimpang dari garis cita-cita semula yang autentik karena dikalahkan oleh kepentingan pribadi yang terhubung pada persoalan jabatan, primordialisme yang berujung pada sikap oportunisme, ia juga penting sebagai bahan refleksi dan perbaikan.

Saya punya hipotesis, gejala oportunisme memang tumbuh secara alami bila budaya kritis itu tidak diberi ruang yang wajar. Sadar atau tidak, gejala ini berdampak tidak sehat bagi relasi di antara teman sejawat. Ambil saja cara sederhana dengan membuat tabel distribusi ke mana saja aliran uang—di luar gaji pokok dan tunjangan—berbasis program atau kegiatan selama satu tahun ajaran, misalnya. Bila transparansi data pendukung memungkinkan untuk dibuka, diolah dengan cara yang benar, rasanya, persentase atau rank itu bisa didapat dalam waktu yang tidak terlalu lama. Tidak harus pula jadi analis ahli banget untuk membuat grafik persentase atau rank itu untuk dibaca dan disajikan dari angka yang paling besar sampai yang paling kecil.

Tuan dan Puan, dalam tata kerja pada sebuah sistem yang terorganisir, hampir tidak ada orang yang paling berjasa. Semuanya saling terkoneksi pada peran masing-masing yang sama penting, sama-sama menggerakkan meskipun tetap dibatasi oleh hierarki sebagai instrumen ukuran prinsip keadilan diterapkan. Maka, Insentif Beban Kerja (IBK) dalam kepanitiaan—teridentifikasi pada butir-butir keluhan—yang pernah diterapkan sebenarnya sudah cukup baik. IBK itu sistem yang mendekati keadilan dalam hal distribusi rezeki.

Rasanya, imbauan Kepala Madrasah Tsanawiyah Pembangunan kepada para guru untuk mengawal proses integrasi dalam rapat pleno, pada Senin 15 Desember 2025 kemarin harus pula dibarengi kesadaran akan kesetaraan dalam menikmati rasa keadilan dalam soal rupiah, perkara yang sensitif. Lagi-lagi, soal uang bukan semata soal sensitif, bukan soal dapat banyak atau sedikit, melainkan soal berkah atau tidak berkah rupiah itu dibelanjakan.

Harapan besar pada integrasi itu ada. Sebab, secara historis, Madrasah Pembangunan lahir dari rahim UIN—dahulu IAIN—dan Departemen Agama. Ada blog Madrasah Pembangunan jadul memuat Sejarah Madrasah Pembangunan dengan narasi cukup jernih. Bagus juga sebagai bahan rekonstruksi menemukan benang merah sebagai pembanding memahami proses integrasi ini. Bahasanya ringkas dan historical point of view-nya dapat. Blog yang saya maksud ada di alamat ini: https://mpuinjkt.wordpress.com/sejarah/. Maka—sekadar berseloroh—kata saya, proses integrasi itu seperti jalan pulang untuk mengembalikan madrasah ini dari “Ibu yang Tertukar”.

Saya—berdua dengan guru olahraga—satu kali “diajak ngobrol” seorang wali peserta didik. Ada banyak pertanyaan dan pernyataan seputar integrasi yang sedang berlangsung dilontarkan kepada kami. Sejujurnya, pertanyaan-pertanyaan wali peserta didik ini membuat kami merasa kurang nyaman. Alasannya, karena persoalan integrasi ini bukan domain guru untuk menjelaskan secara legal formal. Lagi pula, informasi yang akurat seputar proses ini sangat terbatas bagi guru biasa seperti saya. Apatah lagi banyak dari guru biasa telah mengalami tekanan psikologis menjelang Sabtu 22 November 2025. Ada juga lah sedikit trauma mengenang hal itu. Ini jadi dilema buat saya dan Pak Guru olahraga. Tidak dijawab, khawatir mengecewakan wali peserta didik sebab ia punya hak mendapatkan layanan termasuk layanan informasi. Dijawab, juga takut salah. Maka, saya jawab jugalah tipis-tipis sambil menegaskan sikap di mana kami berdua berdiri dalam perkara integrasi.

Soal beberapa pernyataan wali peserta didik ini yang menyebut bahwa dengan integrasi MP akan dinegerikan, bahwa integrasi hanyalah cara untuk menempatkan para pensiunan UIN tetap punya peran, bahwa wali peserta didik ini mengaku sebagai teman seangkatan Dirpen di UIN, dan banyak lagi yang lupa saya catat cukup menyentak jantung hati saya. Supaya tidak tampak gagap, saya menanggapi, bahwa semua itu bukan urusan guru. Saya kunci sikap saya pada tugas utama guru saja, yakni menjalankan peran untuk menjamin agar KBM tetap berlangsung kondusif dalam situasi seperti ini. Menjaga kondusivitas KBM ini merupakan amanat, baik amanat YSH maupun UIN. Apakah tanggapan saya salah?

Sekali lagi, semoga integrasi akan membawa maslahat yang signifikan bagi madrasah dan civitas akademikanya dalam semua aspek pengelolaan Madrasah Pembangunan ke depan. Menjawab pula seliweran semua keragu-raguan dan asumsi yang ngeri-ngeri sedap di kalangan guru dan Tendik selama ini. Dan, seberapa tegang pun hubungan YSH dan UIN karna integrasi, tak patut terus menerus memainkan psikologis guru dengan narasi-narasi yang saling menjatuhkan.

Allāhumma arinī al-ḥaqqa ḥaqqan wa-rzuqnī ittibā‘ahu, wa-arinī al-bāṭila bāṭilan wa-rzuqnī ijtinābahu. Āmīn.

Selamat menikmati libur semester ganjil di antara speed rinai hujan yang tinggi.|

Depok, 21 Desember 2025
Ahad, di penghujung tahun yang penuh harapan.

Jumat, 12 Desember 2025

Orang Munafik dan Kawanan Kambing

Shaun the Sheep. Gambar sekadar pemanis. Foto credit: https://hai.grid.id/


Ratusan guru dan Tendik Madrasah Pembangunan secara psikologis boleh jadi belum bersih benar dari residu proses integrasi Madrasah Pembangunan dengan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang cukup menyita perhatian. Saya yang minim resources untuk membaca fakta dan situasi madrasah yang berkembang sejak sebelum tanggal 22 November 2025, pada akhirnya menikmati setiap jengkal cerita yang sampai ke telinga saya. Apalagi menjelang tanggal 22 November itu, rupanya cerita di balik itu seru sekali. Ada tokoh antagonis dan protagonisnya, tema, alur, setting, konflik, koda, dan ending semua ada. Plot twist-nya juga banyak. Ini keren.

Jadi, bila jiwa novelis yang bersemayam di dada ini saya panggil lagi untuk duduk serius merangkai peristiwa menjelang dan sesudah Sabtu 22 November 2025 itu, ia bisa jadi novel inspiratif. Sebab, “syarat” dan “rukun” untuk membangun sebuah novel menjelang dan sesudah Sabtu 22 November 2025 sudah terpenuhi. Tokoh utamanya biar saya simpan dulu. Yang pasti, kolega-kolega saya yang hadir saat itu, pastilah akan jadi tokoh pembantu. Minimal, namanya saya sebutlah meskipun hanya sekali.

Sehari setelah Selasa 18 November 2025 dan sehari menjelang Sabtu 22 November 2025, itu isinya konflik psikologis semua. Saya percaya, siapa pun yang pada akhirnya melangkahkan kaki memasuki Aula Harun Nasution untuk memenuhi undangan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta adalah mereka yang berhasil memenangkan konflik batin mereka sendiri sebelum memilih untuk memenuhi undangan. Pilihan loh ya, bukan paksaan.

Maka, sejak hari Sabtu 22 November 2025 itu, bagi saya, setiap hari Sabtu seperti a day full of meaning and purpose. Tapi, ini hanya subjektivitas saya saja, sih. Boleh jadi, ada di antara kolega saya malah menganggap Sabtu hari itu it's meaningless.

Besok, 13 Desember 2025 adalah hari Sabtu. Ini juga Sabtu yang bukan hari tanpa risiko. Saya percaya, malam ini menjelang pagi menyingsing esok hari, ada kalkulasi-kalkulasi, perenungan-perenungan, diskusi-diskusi, atau obrolan-obrolan ringan sesama kolega. Boleh jadi, kalkulasi, perenungan, diskusi, atau obrolan itu sudah riweuh sejak dua hari lalu.

Saya adalah bagian dari orang-orang yang sudah selesai dalam konteks ini. Artinya, kalkulasi, perenungan, diskusi, dan obrolan menyikapi Sabtu esok sudah selesai sejak Sabtu 22 November 2025 yang lalu. Saya bukanlah pionir pada Sabtu 22 November 2025 saat itu. Sang pionir adalah orang yang memberi saya pemahaman logis tentang duduk perkara integrasi dengan kalkulasi dan perenungan yang pas dengan hati, otak, dan sikap sendiri.

Saya sebut Sabtu esok bukan hari tanpa risiko, karena boleh jadi ada jiwa-jiwa yang menjadi gamang pada dua hari kemarin sampai malam ini. Kalau bukan karena telah membaca dengan cermat surat edaran Plt. Direktur Badan Usaha Sekolah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta nomor B-10317/BUS/PP.00.11/12/2025, kegamangan itu bisa mengubah haluan karena hidangan upah yang disodorkan surat edaran Nomor: 152/K-YSH/12/2025 dengan segala klausul-klausulnya.

Surat edaran YSH ini memicu tafsiran liar. Bagi mereka yang kurang mempertimbangkan faktor integritas, ia akan berkata: “Ya, kalau dikasih, ya ambil.” Artinya, datang mengambil upah sesuai edaran.

Nah!

YSH—entah karena gamang atau sedang memainkan strategi mendapati anggota Grup YSH keluar beramai-ramai sejak edaran soal upah diposting—akhirnya secara otomatis membatalkan klausul-klausul dalam edaran Nomor: 152/K-YSH/12/2025 karena upah itu akhirnya ditransfer malam Sabtu ini. Dampaknya secara psikologis, transfer itu seperti ‘syubhat yang menyambar-nyambar’. Jiwa memang gampang gamang bila digoda dengan uang. Sampai ada kejelasan hukum soal transfer dan uang itu, hati-hati adalah pilihan terbaik.|

Bukan sebuah kebetulan, malam Senin kemarin saya ngaji Tafsir Ibnu Katsir ayat 143 dari QS. An-Nisa. Ayat ini menjelaskan tentang karakter orang-orang munafik yang dijelaskan Imam Ibnu Katsir sebagai “muḥayyirīna bayna al-īmāni wa al-kufri”, orang-orang yang dalam keadaan bingung antara iman dan kekafiran.

Namun, bagi saya bukan poin ini yang menohok, melainkan satu riwayat yang dikutip Imam Ibnu Katsir mengenai kambing sebagai perumpamaan orang-orang munafik. Hampir semua orang yang pernah ngaji, tahu lah karakter orang munafik itu seperti apa. Namun perumpamaan kambing untuk orang munafik, terus terang saya baru tahu dari tafsir ini.

Riwayat ini dari sahabat Ibnu Umar. Demikian kutipannya:

Perumpamaan orang munafik sama dengan seekor kambing yang mengembik sendirian di antara dua kumpulan ternak kambing. Ia melihat sekumpulan kambing di atas tempat yang tinggi, lalu ia datang kepadanya dan bergabung dengannya, tetapi ia tidak dikenal. Kemudian ia melihat sekumpulan ternak kambing yang lain di atas tempat yang tinggi, lalu ia mendatanginya dan bergabung dengannya, tetapi ia tidak pula dikenal.
Ah, tentu setiap kita tidak ingin menjadi seekor kambing yang digambarkan riwayat di atas.

Jum’at, 12 Desember 2025.
Have a nice weekend.

Sabtu, 06 Desember 2025

Membasuh Rindu Masa Kecil


Wader, Foto credit: UPT Laboratorium Kesehatan Ikan dan Lingkungan UPT PBAT Umbulan, Pasuruan, Jawa Timur, https://pbatumbulan.blogspot.com/

Meski tanpa Ustaz Budi, pertemuan kami tetap hangat. Umi, Laskar, Lintang, dan Zaki mewakili sosok Ustaz Budi yang tetap saya rindukan datang berkunjung. Apatah lagi ada oleh-oleh ikan wader masakan Umi dan buku dari laskar. Amboi sedapnya, meskipun Liukan, Liga, juga istri Laskar absen.

Ella istri saya, santri Ustaz Budi dan Umi. Mikal putri saya, juga santri Ustaz Budi dan Umi. Dua perempuan di samping saya ini melestarikan transmisi santri-kiai di antara mereka. Sedangkan saya kecipratan berkah dari hubungan mereka yang kuat.

Saya pun tahu, Ustaz Budi “sendirian” saat itu. Ia menempuh jalan sunyi.
Dahulu, Ustaz Budi orang yang “sendirian”, maksud saya sendirian menghidupkan nyala api literasi di pondok yang diasuhnya. Saya tahu pula perjuangan Ustaz Budi di komunitas pondok Muhammadiyah. Ustaz Budi pernah berupaya agar pondok-pondok Muhammadiyah bernaung dalam satu Majelis resmi seperti Majelis yang memayungi sekolah-sekolah dan universitas-universitas Muhammadiyah. Salah satu poin yang ingin dinyalakan beliau adalah literasi menulis harus hidup di pondok-pondok pesantren milik Persyarikatan.

Meskipun sendirian, upaya Ustaz Budi agar santri menaruh minat pada literasi menulis tidak pernah mati. Di Pondok Muhammadiyah Asy-Syifa, Bantul, saat ia masih menjadi pengasuh, saya sempat digandeng mewujudkan mimpinya. Saya pun tahu, Ustaz Budi “sendirian” saat itu. Ia menempuh jalan sunyi. Ya, literasi menulis memang masih dianggap tidak penting, bahkan oleh lembaga ilmu yang berpayung di bawah jargon Islam Berkemajuan sekalipun.


Kesunyian di Asy-Syifa akhirnya menjadi gegap gempita. Lahirlah satu antologi dari Asy-Syifa; Sang Juara. Saya merasakan, betapa bahagianya Ustaz Budi saat itu sebab mimpinya terwujudkan. Saya tidak tahu lagi, apakah nyala api yang ditinggalkan ustaz Budi masih menyala atau telah redup, masih menyisakan bara, atau sudah mati yang asapnya sudah tidak tersisa.


Pada ranah literasi menulis inilah saya tersambungkan dengan beliau. Maka, saya percaya, selain amal ibadahnya yang menyertai sebab beliau sudah berpulang, perhatian dan kesungguhannya menanamkan budaya menulis pada santri-santrinya dahulu akan bernilai di sisi Allah SWT, zat yang bersumpah atas nama pena dan apa yang dituliskan; Nūn wal-qalami wa mā yasṭurūn. Boleh jadi, gagasan literasi dan upayanya diabaikan di bumi pondok sendiri, tapi di atas langit cita-citanya dihargai penguasa langit dan bumi.

Laskar sudah jadi penulis. Ia menghadiahi saya buku Berburu Takjil Sampai ke Roma. Meskipun bukan buku solo, judul Berburu Takjil Sampai ke Roma saya duga diambil dari esai Laskar berjudul “Iktikaf di Roma” pada buku ini. Saya yang juga pernah menangani buku kumpulan—esai, cerpen, dan puisi—atau populer disebut antologi kerap menempuh cara ini. Tentu, mengambil salah satu judul dari sekian banyak konten sebagai judul buku antologi sudah melalui pertimbangan-pertimbangan khusus.

Sebagai buku kumpulan esai tentang puasa, Berburu Takjil Sampai ke Roma fokus mengulas pernak-pernik Ramadhan. Ada refleksi, opini, dan isi hati para penulis seputar indahnya bulan puasa di buku ini. Keren lah pokoknya. Saya kurang tahu, ini debut buku antologi ke berapanya Laskar. Yang jelas saya berbinar, Laskar meneruskan spirit menulis Ustaz Budi lewat buku ini. Eh, rupanya, buku ini besutan Mas Soleh dan Irfani. Ini kejutan kedua. Mas Soleh itu kolega saya di Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Depok.

“Pepet terus Mas Soleh, Le. Ambil skill menulis darinya.”

Laskar sudah punya modal menulis, tinggal konsisten dan terus mengasah skill dengan “jangan berhenti menulis”. Bila perlu buat agenda khusus, misal; sehari satu halaman.

Nah, ini, ikan wader hadiah dari Umi.

Umi menyambungkan masa kecil saya dengan wader. Wader—dahulu saya menyebutnya ikan benter—itu potret ikan imut yang paling saya suka. Pokoknya, benter seperti cinta pertama saya pada ikan. Bukan hanya anatomi dan warna tubuh benter yang memesona bagi saya, melainkan cita rasanya yang gurih.

Ikan ini melimpah di sawah, empang, bahkan di selokan kecil berair jernih di kampung saya dahulu. Saking jernih airnya, dari pinggir galengan, kawanan benter itu bisa dipandangi sampai hati merasa puas. Begitulah.

Zaman berganti. Masa kecil itu telah hilang. Sekarang, tak ada lagi barang seekor jua benter-benter itu berenang di selokan kecil. Ia lenyap dari air kampung saya, seiring lenyapnya sawah-sawah dan selokan yang ditimbun komplek. Bila benter-benter itu hilang karena bermigrasi, biarlah ikan favorit saya itu tetap lestari pada ekosistem sawah atau selokan yang baru. Namun, bila ia hilang karena mati terkubur adukan semen, ini musibah.

Saat Ustaz Budi masih hayat, saya pernah bercanda ingin berkunjung ke Boyolali dan minta dibuatkan wader balado. Ustaz Budi menanggapi serius. “Saya selalu bahagia dikunjungi Ustaz Abdul. Lebih bahagia saat Ustaz lahap menyantap hidangan yang kami sajikan,” begitu katanya. Karena itu, bagaimana saya bisa melupakan kebersahajaan Ustaz Budi? Allāhummaghfir lahu warḥamhu wa ‘āfihi wa‘fu ‘anhu.

Sekarang, “hutang” wader sudah dilunasi Umi. Bahkan saya dapat bonusnya; Berburu Takjil Sampai ke Roma. Duh, bahagianya dikunjungi Umi dan anak-anak Ustaz Budi. Semoga silaturahim ini bisa terus tersambung. Rindu pada masa kecilku luruh dengan Berburu Takjil Sampai ke Roma dan Wader chrispy.
Aku, Berburu Takjil Sampai ke Roma, dan Wader, Foto credit Mikal.


Sabtu, 06 Desember 2025.
Sabtu pagi yang elok dengan matahari dan suara burung yang menciap di samping balkon.


Rabu, 03 Desember 2025

Tidak Ada Pesta yang Abadi

Pesta Pasti Berakhir. Ilustrasi milik saifulianjabbar; https://www.instagram.com/p/C0fuPOevAAq/?utm_source=ig_web_copy_link


Seperti kata bibi saya, tidak ada pesta yang tidak berakhir

SORE tadi dapat kabar, bahwa beberapa unit usaha Koperasi Guru dan Karyawan (KGK) MP UIN Jakarta kembali ke khittah-nya, kembali ke pangkuan “Ibu Pertiwi” di tangan para kawula. Mendadak teringat lagu Bang Haji Rhoma; “Pesta Pasti Berakhir”.

Sebentar, bila Anda tidak suka musiknya Bang Haji, atau karena berpegang pendapat ulama yang mengharamkan musik, baca lirik “Pesta Pasti Berakhir”-nya saja. Aman, Anda tidak akan kena delik hukum fiqih keharamannya musik. Bila Anda memegang pendapat sebaliknya, silakan nikmati lirik dan musiknya sekalian sambil nyeruput kopi. Lirik lagu itu seperti “bertuah” sore ini.

Tadinya, saya kira hanya Bang Haji Rhoma yang berdendang bahwa pesta pasti berakhir. Rupanya, Agnes Davonar dalam bukunya: “Oei Hui Lan: Kisah Putri Sang Raja Gula dari Semarang” juga bicara itu. Pada Kata Pengantar buku biografi ini, Oei King Yan mewakili keluarga menulis: “Seperti kata bibi saya, tidak ada pesta yang tidak berakhir. Kalimat itulah yang membuat kami menyadari bahwa pesta kami mungkin telah usai, tapi kenangan akan pesta itu tidak akan pernah terhapus sekarang dan selamanya.”

Makna leksikal dari “pesta” adalah perjamuan makan minum (bersuka ria dan sebagainya). Maka, tidak salah bila pesta itu identik dengan kesenangan karena di sana ada perjamuan. Tidak pula mengherankan bila suatu individu atau kelompok cenderung menyukai pesta, menyukai perjamuan. Bila perlu, setiap kesempatan dikemas sebagai pesta, sebagai kesempatan menikmati perjamuan.

Pesta dan perjamuan itu mahal. Akan tetapi, sensasi, relaksasi, dan kepuasan dari sebuah pesta memang kerap diperjuangkan mati-matian segelintir orang. Karena itu, tidak ada harga yang mahal untuk sebuah perjamuan sepanjang kesempatan itu terbuka, aturan bisa dibuat, dan situasi bisa dikendalikan. Maka meskipun mahal, diongkosi juga pesta dan perjamuan itu. Toh, pada hakikatnya bukan mereka yang membayar berapa pun mahal bill yang harus dilunasi.

Sebenarnya, asalkan uang untuk membayar pesta dan perjamuan itu legal; halalan thayyiban, sah-sah saja pesta itu digelar. Lain cerita bila pesta itu digelar hanya untuk dinikmati segelintir orang dari kaum elit. Mereka mengambil hak mayoritas para kawula yang sebenarnya berpeluh-peluh guna membiayai pesta dan perjamuan mereka di hotel-hotel, di rumah-rumah makan berkelas, atau di tempat-tempat wisata yang memesona.

Bila curah pendapat yang disisipkan dalam setiap pesta dan perjamuan itu berdampak signifikan bagi kesejahteraan yang merata dirasakan manisnya bagi semua kawula, boleh jadi doa-doa terima kasih keluar dari lisan para kawula. Jangan sepelekan doa. Ia bisa tembus ke langit, memberi restu memperpanjang pesta perjamuan.

Namun, bila para kawula cuma mencium harumnya perjamuan, hanya liur yang menetes, doa-doa para kawula bisa berubah menjadi sumpah serapah. Sumpah serapah dan doa-doa kawula  yang teraniaya 
juga tembus ke langit. Ia sama manjurnya, bergantung yang mana lebih dahulu mendapatkan momentum.

“Makan-minumlah senang-senanglah
Dalam pesta kehidupan dunia
Tapi ingatlah gunakan pikir
Bahwa pesta pasti ‘kan berakhir.”


Demikian dendang Bang Haji Rhoma mengingatkan.

Chang kemudian mengatakan sesuatu pada saya.
“Kamu pernah mendengar sebuah pepatah China yang paling menyedihkan?”
“Apa itu?” ujar saya bingung.
“Tidak ada pesta yang abadi.”

Demikian kutipan dari biografi “Oei Hui Lan: kisah putri Sang Raja Gula dari Semarang”.

Hidup memang seperti pendulum.|

Depok, 03 Desember 2025.
Berbinar menyongsong sokoguru ekonomi kembali pulang.