A homepage subtitle here And an awesome description here!

Kamis, 12 Maret 2026

Kedegilan AS Israel dan Psikologis Calon Jemaah Haji 2026

Suasana Madinah hari ini. Screenshoot layar Streaming Madinah Live Today, Ar Rahman. Live Streaming  mulai 7 Maret 2026.

Lu pikir, di tengah lautan itu selalu aman? Meskipun kagak perang, kalo ade badai, terus kapal yang gue tumpangin tenggelem, ape bedanye kapal tenggelem karena dihantem badai, ato sebab ditembak pelor? Same aje, Sadeli!

Pada April 2021, novel “Pengantin Fort van der Capellen; Romansa Tanah Batavia & Padangsche Bovenlanden” terbit. Ini novel keenam yang saya tulis dengan durasi cukup panjang, sepadan dengan waktu penulisannya yang hampir lima tahun sejak 2017. Ruh novel sepanjang 505 halaman ini adalah religiusitas, patriotisme, pluralitas etnik, dan tentu saja hal yang paling menarik dari sebuah novel, yaitu asmara dan percintaan.

Setting waktu novel ini tahun 1896-1917, saat Perang Dunia I masih berkecamuk. Saya menemukan momentum kontekstual dari satu paragraf pada halaman 436. Ada dialog karakter pembantu yang membuat saya ngilu dengan invasi AS dan Israel atas Iran yang memicu perang hari ini dan sudah memasuki hari ke-12. Banyak pihak yang khawatir, invasi ini akan memicu Perang Dunia III. Mengerikan. Bagaimana dengan jamaah haji yang akan berangkat tahun ini?

“Lu pikir, di tengah lautan itu selalu aman? Meskipun kagak perang, kalo ade badai, terus kapal yang gue tumpangin tenggelem, ape bedanye kapal tenggelem karena dihantem badai, ato sebab ditembak pelor? Same aje, Sadeli!”

Paragraf di atas adalah sepenggal dialog Haji Dullah dengan adiknya Sadeli, dua karakter pembantu dalam novel ini. Sadelih menjelaskan kondisi urusan haji saat itu. Perang Dunia I yang melibatkan koalisi Turki-Jerman membuat De Kongsie Tiga—sebuah perusahaan perjalanan haji yang mengatur pengangkutan serta pelayanan jamaah haji dari Hindia Belanda menuju ke Hijaz—maskapai laut yang dinaungi Pemerintah Hindia Belanda tidak berdaya mendapat ultimatum pemberhentian sementara pelayanan angkutan.

Akan tetapi, Haji Dullah yang keras kepala tetap ingin berangkat haji pada 1917 itu. Sadeli hanya mengeluh, keras kepala abangnya itu tidak berubah sejak dahulu. Apa saja hal kebenaran yang sudah diyakini, pantang dia surut ke belakang. Kalau sudah begitu, tidak ada kata-kata yang mempan buat mengubah tekad Haji Dullah.

Pada 1817, Perang Dunia I—28 Juli 1914 – 11 November 1918—belum berakhir. Konflik global ini meletus setelah pembunuhan Archduke Franz Ferdinand dari Austria-Hungaria dan melibatkan Blok Sentral—Jerman, Austria-Hungaria, Ottoman—melawan Blok Sekutu—Inggris, Prancis, Rusia, dan AS—baru berakhir dengan gencatan senjata pada 1918. 

Perang Dunia I berdampak bagi jamaah haji Indonesia. Pada bulan Haji 1333 H/Oktober 1915 M, tidak ada umat Islam Indonesia yang datang ke Makkah untuk berhaji. Pada 1335 H/1916-1917 M, hanya ada 70 orang jamaah haji dari Indonesia dan 48 orang jamaah haji pada musim haji tahun 1336 H/1917-1918 M yang berlayar dari dari Malaka.

Saat novel ini ditulis, saya tidak membayangkan selintasan pun situasi yang sama yang dialami karakter Haji Dullah bakal terulang pada 2026 ini. Memang, sebagai penulis, saya berusaha masuk dalam konflik batin sang karakter menghadapi situasi itu sewaktu menarasikan pendirian Haji Dullah yang tegar. Tapi, dunia Haji Dullah adalah dunia novel, bukan dunia nyata, meskipun Perang Dunia I dalam setting cerita Haji Dullah adalah fakta sejarah. Sebagai penulis, saya lupa memprediksi dalam narasi bilamana situasi yang sama terjadi untuk 109 tahun kemudian pada musim haji tahun 1447 H/ 2026 M ini.

Memang, musim haji tahun ini masih tersisa sekitar dua bulan dari sekarang dalam hitungan tahun Qamariyah. Sementara belum ada jaminan konflik AS dan Israel dengan Iran berakhir dalam satu atau dua bulan ke depan. Malah, eskalasi perang rudal dari pihak yang bertikai makin meningkat. |

Tidak terbayang perasaan calon jamaah haji tahun ini. Apalagi di tengah arus informasi perang yang serba cepat dan bisa diakses dalam hitungan detik. Ironisnya, perang hari ini ingin melibatkan negara-negara Timur Tengah, termasuk Saudi di mana satu-satunya lokus ibadah Haji hanya ada di Makkah dan Madinah. Allahu Akbar.

Memang, belum ada berita yang sampai bahwa kondisi Makkah dan Madinah chaos. Kekhawatiran sempat naik saat Aramco, kilang minyak Saudi di Ras Tanura, Provinsi Timur, Arab Saudi
diserang drone hingga terbakar. Namun, dua Tanah Haram masih aman dari dampak perang. Hanya berita jamaah Umrah dari Indonesia tertahan kepulangannya karena situasi penerbangan yang belum sepenuhnya kondusif.|

Membaca hasil Rapat Kerja Komisi VIII DPR RI dengan Menteri Haji dan Umrah RI dengan agenda "Pembahasan terkait Persiapan Menghadapi Keadaan Darurat dalam Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1447 H/2026 M serta Isu-isu Aktual" tidak juga membuat hati belum sepenuhnya tenang.

Di tengah eskalasi di Timur Tengah, hasil rapat merancang tiga skenario. Skenario 1: Jemaah haji tetap berangkat di tengah konflik dengan melakukan mitigasi jalur udara, yakni pengalihan rute penerbangan ke jalur yang lebih aman, melakukan diplomasi keamanan untuk mendapatkan jaminan koridor aman bagi jemaah haji Indonesia sebagai non-kombatan, serta penerapan protokol evakuasi darurat pada saat pelaksanaan ibadah haji;

Skenario 2: Indonesia membatalkan keberangkatan meskipun Pemerintah Arab Saudi tetap membuka pelaksanaan ibadah haji secara normal. Jika skenario ini yang ditetapkan, maka Menteri Haji dan Umrah RI harus bernegosiasi agar biaya layanan yang telah dibayarkan tidak hangus;

Skenario 3: Pemerintah Arab Saudi menutup pelaksanaan ibadah haji sehingga Indonesia juga tidak memberangkatkan jemaah. Pada skenario ini, fokus utama pada pengamanan berbagai dana yang telah dibayarkan untuk dapat kembali utuh 100%.

Berharap kemuliaan Ramadhan dan berkah Lailatul Qadar yang Allah izinkan, saya ingin setegar Haji Dullah, sambil berharap situasi Timur tengah kembali normal. Kedegilan pemerintah AS dan Israel kepada kaum Muslimin dan negara-negara Islam Timur di Tengah memang menjengkelkan. Mereka tidak peduli sudah menganggu psikologis event besar seperti haji yang menyakiti kaum muslimin di seluruh dunia. Catat! Kedegilan mereka tidak akan pernah berhenti sampai para pemimpin ambisius dan Zionis itu semua mencium tanah. 

Ḥasbunallāhu wa ni‘mal-wakīl, ni‘mal-mawlā wa ni‘man-naṣīr. Cukuplah Allah menjadi penolong kami, dan Dia sebaik-baik pelindung. Dia sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.|

Depok, 12 Maret 2026.


Irkab Ma‘anā dan Sekeranjang Rutob

 

Kurma Rutob. (Sumber: Halo Doc)

Sekarang kita sudah berada di perahu yang sama. Irkab ma‘anā.
Kemarin, Rabu 11 Maret 2026, acara buka puasa bersama guru dan karyawan Madrasah Pembangunan berlangsung di sela rintik hujan. Suasana puasa yang teduh, jadi tambah adem dan khidmat.

Sebelum azan berkumandang, tidak ada yang berani berbuka duluan meskipun ngumpet-ngumpet selain menyimak sambutan, wejangan, dan pengantar berbuka. Barulah setelah adzan mengalun, teh dan air putih diseruput, lontong dan kurma dieksekusi. Sesederhana itu sebuah kedisiplinan yang dibangun melalui puasa.

Akan tetapi meskipun sederhana, ini pola yang mengagumkan. Ada nilai-nilai karakter di mana kesadaran menjaga diri dari perkara yang dilarang betul-betul dijaga sampai datang waktunya ia diperkenankan. Hanya Islam yang punya aturan main ini yang diterima setiap muslim dengan sikap “sami’na wa atho'na”.

Apabila kedisiplinan ini diterjemahkan dalam lingkungan kerja, terbayang, akan luar biasa dampaknya bagi ketaatan pada regulasi, kedisiplinan dan keterbukaan penggunaan anggaran, dan sudah barang tentu kedisiplinan akan melekat pada setiap individu di lingkungan kerja masing-masing.

Dalam sambutannya sebelum berbuka, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menyinggung soal kepatuhan ini dengan istilah “profesional”. Rektor menyebut MP sebagai kapal yang jangkarnya sudah dipasang kembali di UIN sebagai induknya supaya ajeg. Secara terbuka, Rektor menyatakan tidak memasang jangkar itu di halaman rumahnya, sebab MP bukan milik individu Rektor dan kelompok orang perorang lalu disambung dengan mengutif frasa “irkab ma‘anā”. 

Wah, sebatas nalar saya yang bisa-biasa saja, rasanya, ini pesan paling lugas sepanjang sambutan Pak Rektor. Irkab ma‘anā itu, bukan perumpamaan sekadar soal perahu dan jangkar an sich. Ini soal pesan moral seorang ayah yang sangat sayang kepada anaknya.

Karena tergelitik, di rumah, iseng membuka tafsir Ibnu Katsir untuk memuaskan rasa penasaran karena kutipan Pak Rektor atas kisah Nabi Nuh dan putranya ini.

Wa hiya tajrī bihim fī maujin kal-jibāli, wa nādā Nūḥu ibnahu wa kāna fī ma‘zilin yā bunayya irkab ma‘anā wa lā takun ma‘a al-kāfirīn.

“Bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung-gunung. Nuh memanggil anaknya, sedang dia (anak itu) berada di tempat (yang jauh) terpencil, “Wahai anakku, naiklah (ke bahtera) bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir.” (QS. Hud [11]: 42)

Oleh Ibnu Katsir, ayat ini ditafsirkan sebagai: “Hādzā huwa al-ibnu ar-rābi‘u, wa-ismuhu “Yām”, wa kāna kāfiran, da‘āhu abūhu ‘inda rukūbi as-safīnah an yu’mina wa yarkaba ma‘ahum wa lā yaghraqa mitsla mā yaghraqu al-kāfirūn.”

Kira-kira, artinya sebagai berikut:” Ini adalah putra yang keempat, namanya adalah 'Yam'versi lain namanya Kan'an. Ia adalah seorang yang kafir. Ayahnya (Nabi Nuh) mengajaknya ketika hendak naik ke kapal untuk beriman dan ikut naik bersama mereka agar tidak tenggelam sebagaimana tenggelamnya orang-orang kafir."

Semula dahi berkerut. Apa iya? Saat ajakan Pak Rektor itu dilontarkan, berarti saya masih dianggap “kafir” atau “pembangkang”, dong? Kan, saya sudah salaman di kalender. Heee …

Saya ingat-ingat kembali penggalan kalimat Pak Rektor pada bagian ini. Payah juga mengurai satu-satu tumpukan memori meskipun belum 24 jam sambutan itu berlalu. 

“Sekarang kita sudah berada di perahu yang sama. Irkab ma‘anā.” 

Naaah. Dapat!

Alhamdulillah. Clear. Pak Rektor sedang menyeru saya dan yang hadir kemarin sebagai orang-orang yang sudah masuk perahu MP, “umat”nya yang sudah patuh pada khittah MP yang sekarang.

Jadi, dalam konteks kemarin, seruan Pak Rektor itu bukan ditujukan untuk yang belum naik, atau yang enggan naik perahu MP bersama Rektor, seperti Yam yang menolak saat diajak naik bahtera bersama ayahnya agar selamat. Bukan. Lagi pula dalam sambutannya kemarin, Pak Rektor tidak sekali pun menyebut: “Hai, kamu Kan’an!” 

Legalah hati ini. Apalagi THR sudah cair. Pas, memang lagi kepengen sekeranjang rutob. Mantap Pak Agung!

Semoga penumpang perahu MP semakin profesional dan sejahtera seperti harapan Pak Rektor dan kita semua. Aamiin.

-------

Kamis, 13 Maret 2026. Hari ke-23 Ramadhan bagi saya dan hari ke-22 bagi Syaikhuna Ustaz Zaki al-Hafidz dan Ustaz H. Romli yang jenaka. Ah, bahagianya menikmati harmoni dalam selisih ganjil-genap. Mohon maaf lahir batin.